Minggu, 21 Agustus 2011

Penelitian Angkatan Laut AS telah berhasil menguji zat jenis baru dengan kepadatan tinggi untuk digunakan dalam rudal yang memiliki kemampuan memberikan dampak yang lebih drastis dari rudal-rudal yang sudah ada....>>...ini merupakan campuran antara logam dan polimer – sebagai pengoksidasi – untuk membuat ledakan kimia yang berdampak besar dan kuat. Namun ilmuwan Angkatan Laut AS, seperti dikutip BBC, tidak bisa menjamin bahwa bahan peledak ini tidak akan membantai warga sipil yang tidak bersalah....>> Clifford Bedford, seorang peneliti yang terlibat dalam pengembangan HDRM, mengatakan, “Dalam kasus ini, rudal baja yang diluncurkan akan menuju target dan semua energi kinetik didisipasikan pada target.” “Dengan rudal bahan reaktif, anda memiliki ledakan permulaan yang sama. Namun, ia terurai dalam target dan membebaskan energi kimia, dan gabungan energi kinetik kimia ini akan memberikan efek yang berkali-kali lipat,” tambahnya.>>>...UNICEF menyatakan lebih dari 300.000 anak menderita kekurangan nutrisi yang parah dan sedang menghadapi resiko kematian akibat bencana kekeringan dan kelaparan terburuk yang melanda wilayah Afrika dalam beberapa dekade belakangan ini....>>> Hati kita terbagi dua: satu sisi ada manusia2 yang selalu menebar teror maut dan meningkatkan daya dan kekuatan mereka... disisi hati yang lain ada banyak manusia yang berjuang untuk dapat bertahan hidup dari kesengsaraan yang dibuat oleh ulah manusia2....serakah...??? ... Sesungguhnya siapakah dibalik ini semua.....????

22 Ramadhan 1432 H / 22 Agustus 2011
WASHINGTON (Arrahmah.com) – 

AS memiliki mesin pembunuh baru

Althaf
Sabtu, 20 Agustus 2011 12:00:00
Hits: 2432
WASHINGTON (Arrahmah.com) – 
Kantor Penelitian Angkatan Laut AS telah berhasil menguji zat jenis baru dengan kepadatan tinggi untuk digunakan dalam rudal yang memiliki kemampuan memberikan dampak yang lebih drastis dari rudal-rudal yang sudah ada.
Jenis baru bahan peledak yang diuji pada hari Jumat (19/8/2011) ini merupakan campuran antara logam dan polimer – sebagai pengoksidasi – untuk membuat ledakan kimia yang berdampak besar dan kuat. Namun ilmuwan Angkatan Laut AS, seperti dikutip BBC, tidak bisa menjamin bahwa bahan peledak ini tidak akan membantai warga sipil yang tidak bersalah.
High-Density Reaktif Materials (HDRM) meledak hanya ketika proyektil menghantam target, dan sangat tahan lama. Kondisi ini meningkatkan efek ledakan secara signifikan dan meningkatkan kemungkinan terjadinya sebuah “bencana pembunuhan”, menurut para ilmuwan militer.
Clifford Bedford, seorang peneliti yang terlibat dalam pengembangan HDRM, mengatakan, “Dalam kasus ini, rudal baja yang diluncurkan akan menuju target dan semua energi kinetik didisipasikan pada target.”
“Dengan rudal bahan reaktif, anda memiliki ledakan permulaan yang sama. Namun, ia terurai dalam target dan membebaskan energi kimia, dan gabungan energi kinetik kimia ini akan memberikan efek yang berkali-kali lipat,” tambahnya.
Para ilmuwan yang bekerja pada proyek mengatakan pengembangan materi baru sudah memakan proses selama lebih dari lima tahun.
Bedford menyatakan, “Mudah-mudahan, dengan hulu ledak reaktif HDRM, kami hanya tinggal menembakkan sekali, mengamati, dan memastikan target, dan kemudian, mesin pembunuh itu akan memperlihatkan kemampuannya. Sebenarnya kami masih memiliki pilihan untuk menembakkan yang kedua. Tapi kami ingin menghemat banyak biaya. Jika Anda dapat mengambil target dengan satu rudal, mengapa harus menggunakan dua atau tiga rudal?” (althaf/arrahmah.com)

300.000 anak menderita kelaparan di negara-negara Tanduk Afrika

Althaf
Sabtu, 20 Agustus 2011 10:54:44
Hits: 557
MOGADISHU (Arrahmah.com) – 
UNICEF menyatakan lebih dari 300.000 anak menderita kekurangan nutrisi yang parah dan sedang menghadapi resiko kematian akibat bencana kekeringan dan kelaparan terburuk yang melanda wilayah Afrika dalam beberapa dekade belakangan ini.
Direktur eksekutif UNICEF, Anthony Lake, mengatakan pada hari Jumat (19/8/2011) bahwa krisis di negara Tanduk Afrika ini merupakan bencana kemanusiaan, dilansir AP.
Di Somalia saja, sekitar 1,4 juta anak menderita, 390.000 di antaranya menderita kekurangan gizi, dan hampir 140.000 anak di wilayah selatan menghadapi kematian yang cepat akibat malnutrisi akit, tambah Lake.
Menurut PBB, puluhan ribu orang telah tewas di Somalia, Kenya, Ethiopia, Djibouti, dan Eritrea, dan lebih dari 12 juta orang di wilayah ini sangat membutuhkan bantuan pangan.
UNICEF pun menyatakan bahwa kombinasi dari gizi buruk, sangat terbatasnya air bersih, dan sanitasi yang buruk, bersama dengan berdatangannya masyarakat dari daerah pedalaman ke ibukota Somalia, Mogadishu, untuk mencari makanan, memiliki konsekuensi yang mengerikan.
“Seorang anak tidak perlu meninggal hanya karena menderita penyakit diare. Namun ini merupakan realita yang memilukan bagi seorang anak di Somalia yang menderita kekurangan gizi akut. Ini merupakan kombinasi kondisi yang mematikan,” tambah perwakilan UNICEF untuk Somalia, ROzanne Chorlton. (athaf/arrahmah.com)
http://arrahmah.com/read/2011/08/20/14812-300000-anak-menderita-kelaparan-di-negara-negara-tanduk-afrika.htmlAlthaf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar