Jumat, 06 Juli 2012

....Wali Songo Semaikan Islamisasi Nusantara....>>...Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura. Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah....>>...Dia-lah yang mengenalkan istilah "Mo Limo" (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk "tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina."...>>>...SEYOGIANYA... SUDAH SATNYA...SEKARANG... PEMERINTAHAN NKRI INI MEMBUAT UU MO LIMO- ATAU MOH LIMO.. ATAU TABU UNTUK LIMA M = (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk "tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, mabok2an..dan tidak berzina."...>>


Ajaran Wali Songo Semaikan Islamisasi Nusantara


Ajaran Wali Songo Semaikan Islamisasi Nusantara

Masjid Sunan Giri di Gresik,Jawa Timur.




REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- 
Perjalanan Islamisasi di Nusantara penuh sentuhan sejarah dan mistik. Tonggak terpenting penyebaran Islam di Jawa dan Nusantara ditandai sejak abad ke-7 Masehi dan makin berkembang pesat sejak abad ke-14 Masehi dengan keberadaan Wali Songo. Sayangnya, ada sebentuk penghilangan sejarah akibat pengaruh sastra Eropa.

"Adalah tindakan ahistoris kalau tidak boleh dikatakan naif ketika kaum intelektual membincang Islam Indonesia tanpa menyertakan Wali Songo di dalamnya dengan pertimbangan beda paham dan aliran,"ungkap penulis buku Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto saat launching bukunya di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kamis (5/7).

Diakuinya, buku yang terbit medio Juni silam ini lahir dari sebuah keterpaksaan. Manakala dia menyimak buku Ensiklopedia Islam terbitan Ikhtiar Baru Van Hoeve yang tidak menyebut satu kalimat pun tentang Wali Songo. Berikut khazanah kekayaan budaya Islam di Jawa saat pertengahan abad ke-15 silam.

Argumen yang jauh dari nilai ilmiah dituturkan pula oleh penulis Sjamsudduha dalam bukunya Walisanga Tak Pernah Ada?. Agus menilai, dua penilaian tadi sebagai usaha sistematis dari golongan minoritas untuk mengurangi peran penganut paham ahlussunah waljamaah. Padahal secara sosiokutural-religi, penganutnya bervariasi mulai dari santri, priyayi, dan abangan yang diwakili golongan nahdliyin.

Agus pun menyimpulkan, ada pula peran orang Eropa dalam literatur yang hanya memaknai sesuatu sebagai obyek tunggal. Otoritas pengetahuan Eropa itu menganggap sejarah dari sekelompok wali Allah tidaklah ada.  "Kita tak bisa seterusnya mengikuti pandangan Eropa seluruhnya, karena mereka terbatas memaknai kajian sejarah Nusantara yang beragam," papar Agus.

Sadar pentingnya makna keberadaan Wali Songo dalam dakwah Islam, Agus memulai penelitiannya dengan memadukan aspek sejarah dan arkeologi dari peninggalan jejak di situs-situs Jawa yang tersebar di pantai utara. Data material berupa prasasti yang ditulis saat para Wali Songo kesana atau beberapa saat setelah mereka meninggal disambangi oleh Agus. 

Dia pun menemukan bukti otentik jika ajaran Wali Songo tak menghilangkan nilai-nilai sosial dan aturan dalam perilaku kehidupan rakyat lokal. Ini terlihat dari pemakaian istilah lokal yang persuasif seperti sembahyang (sembah Hyang), puasa (apuwasa),  maupun pesantren. "Munafik kalau peran Wali Songo disingkirkan dalam sejarah Islamisasi Nusantara dalam waktu dakwahnya yang lebih dari setengah abad karena banyak bukti histografisnya," tegas Agus.  Redaktur: Dewi Mardiani. Reporter: Indah Wulandari

Sunan Ampel : Tanamkan Ajaran "Mo Limo" 
[ Moh limo =Tabu lima M]  
Nusantara
SELASA, 08 SEPTEMBER 2009 08:14
http://www.adangdaradjatun.com/berita/nusantara/1397-sunan-ampel-tanamkan-
ajaran-qmo-limoq
Sunan Ampel pada masa kecilnya menurut 
Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, 
bernama Raden Rahmat, lahir pada tahun
1401 di Champa.  Nama Ampel sendiri, 
diidentikkan dengan nama tempat dimana 
ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau 
Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi 
bagian dari Surabaya ( kota Wonokromo 
sekarang)
Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa 
Raden Rahmat adalah putra Maulana 
Malik Ibrahim. Menurut beberapa riwayat, nama Maulana Malik 
Ibrahim juga dikenal sebagai Ibrahim Asmarakandi yang berasal 
dari Champa dan menjadi raja di sana. Ibrahim Asmarakandi.
Sunan Ampel memiliki silsilah hingga sampai ke Nabi Muhammad 
SAW, yaitu :
    * Sunan Ampel @ Raden Rahmat @ Sayyid Ahmad Rahmatillah bin
    * Maulana Malik Ibrahim @ Ibrahim Asmoro bin
    * Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Khan bin
    * Ahmad Jalaludin Khan bin
    * Abdullah Khan bin
    * Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin
    * Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
    * Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)
    * Ali Kholi' Qosam bin
    * Alawi Ats-Tsani bin
    * Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
    * Alawi Awwal bin
    * Ubaidullah bin
    * Ahmad al-Muhajir bin
    * Isa Ar-Rumi bin
    * Muhammad An-Naqib bin
    * Ali Uraidhi bin
    * Ja'far ash-Shadiq bin
    * Muhammad al-Baqir bin
    * Ali Zainal Abidin bin
    * Imam Husain bin
    * Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra bin Muhammad
Jadi, Sunan Ampel memiliki darah Uzbekistan dan Champa dari 
sebelah ibu. Tetapi dari ayah leluhur mereka adalah keturunan 
langsung dari Ahmad al-Muhajir, Hadhramaut. Bermakna mereka 
termasuk keluarga besar Saadah BaAlawi.
Sejarah dakwah
Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau 
Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. 
Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. 
Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik.
Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari 
Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja 
Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.
Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban yang 
bernama Arya Reja, putrinya yaitu Nyi Ageng Manila. Dari 
perkawinannya itu dia dikaruniai beberapa putera dan puteri, yaitu: 
Putri Nyai Ageng Maloka, Maulana Makdum Ibrahim (Sunan 
Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat) dan Syarifah, yang merupakan 
ibu dari Sunan Kudus.
Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) 
hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam 
pertama di Jawa itu. Dia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, 
putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak 
tahun 1475 M.
Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan 
Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. 
Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan 
Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang 
sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara.
Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. 
Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke 
berbagai pelosok Jawa dan Madura. Sunan Ampel menganut 
fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya 
memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada 
penanaman akidah dan ibadah.
Dia-lah yang mengenalkan istilah "Mo Limo" (moh main, 
moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). 
Yakni seruan untuk "tidak berjudi, tidak minum minuman 
keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan 
tidak berzina."
Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama 
di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra 
dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak
 tahun 1475 M. Dan kemudian pada 1479, Sunan Ampel 
mendirikan Mesjid Agung Demak.
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 di Demak 
dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.
(tim adangdaradjatun.com/dari berbagai sumber)


Sebuah Kajian Sejarah Awal Mula Islam Masuk Di Nusantara[*]
Oleh : M. Dikyah Salah Salaby Maarif[†]
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka terdapat pengajaran bagi orang-ortang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukan cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman (QS Yusuf 12:111)
  1. Pendahuluan
Islam adalah Din yang rahmatan lil alamin. Dengan pengertian bahwa hanya dengan nur islamlah manusia akan terlepas dari segala bentuk belenggu (kejahiliahan) yang mengekangnya. Tentunya belenggu-belenggu itulah yang memposisikan manusia menjadi lebih terpuruk hingga derajatnya lebih rendah dari hewan sekalipun. Sesuai dengan fungsinya, rahmatan lil alamin, islam tidaklah terbatas pada segelintir manusia atau hanya sebatas teritori tertentu di sebagian kecil dunia ini. Namun ia adalah seperangkat sistem yang syumul yang menyentuh fitrah manusia kapanpun dan di belahan dunia manapun tanpa memandang warna kulit, suku, ras dan bahasa.
Dari konsep inilah kita akan bisa merunut sejarah masuk islamnya sebagian besar (mayoritas) penduduk nusantara yang notabene banyak bedanya dari pada persamaannya dengan bangsa arab dari segi karakter, adat, perilaku dsb. Islam masuk di nusantara dan di tempat-tempat lainnya selalu menggunakan jalur dakwah yang damai tanpa melalui kekerasan.
Beberapa literatur menyebutkan bahwa islam masuk di Indonesia melalui banyak periferi yang sampai saat ini masih terdapat perbedaan pendapat dikalangan ilmuwan terkait dengan awal mula kedatangn Islam. Lebih lanjut, Mustafa Kamal dalam makalah Sejarah islam di Indonesia, membagi kedalam lima babak proses islamisasi kehidupan yang dilakukan di Indonbesia.
Babak pertama, sekitar abad VII Masehi, adalah interaksi raja-raja nusantara dengan para pedagang muslim yang melalui jalur sutra. Babak kedua, yaitu abad XIII, dakwah islam mulai masuk pada wilayah siyasi dengan di islamkannya raja-raja. Pada fase ini terdapat fenomena walisongo di tanah jawa yang menjadi majlis syuro bagi pengembangan dakwah dan kepemimpinan raja. Babak ketiga, abad XVII, pada saat kedatangan kolonialis barat, kantong-kantong kader da’wah berubah menjadi basis mujahid yang terjun disahatul ma’rokah (medan pertempuran) untuk meninggikan kalimat islam dan menjaga izzatul islam wal muslimin. Babak ke empat, abad XX, gerakan islam mengarah kepada perlawanan organisasional ketika kolonial belanda menerapkan politik etis. Oraganisasi dakwah islam yang pertama muncul adalah Syarikat Islam yang berdiri tahun 1905 dibawah pimpinan HOS Cokroaminoto pada saat berusia 25 tahun. Babak kelima, abad XX-XXI, adalah fase dakwah dengan ciri globalisasi. Tandzim yang dibangun bersifat alami (mendunia) tanpa sekat-sekat geografis. Fase ini oleh beberapa ulama ditetapkan sebagai fase kebangkitan umat.
Pembabakan ini sengaja ditulis pada pendahuluan dengan harapan kita mendapat sekilas gambaran yang utuh tentang proses masuk dan berinteraksinya Islam diwilayah nusantara. Namun, Kajian kali ini dibatasi pada babak pertama dan kedua.
  1. Teori-Teori Tentang Kedatangan Islam
Ada pertanyaan yang sampai saat ini masih menggelanyut diotak para akademisi yang mendalami studi sejarah islam di indonesia. Setidaknya pertanyaan tersebut adalah dari mana islam datang, kapan waktunya dan siapa yang membawanya? Pertanyaan ini sangat wajar karena memang sulit melacaknya baik itu dari literatur yang ada ataupun dari prasasti yang ditinggalkan.
Maka tidak mengherankan ketika ada beberapa pendekatan/teori tetang proses masuknya Islam di Indonesia. Azyumardi Azra (1999) dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan kepulauan nusantara abad 17 dan 18 menyebutkan terdapat beberapa pendekatan untuk melacak masuknya Islam di nusantara. Diantara sekian teori yang paling terkenal adalah “Teori Batu Nisan”.
Sejumlah sarjana menyatakan bahwa Islam masuk ke nusantara berasal dari Anak Benua India, bukan Persia atau Arabia. Teori ini pertama dikenalkan oleh Pijnappel, sarjana ahli dari Leiden, daerah Gujarat dan Malabar dijadikan asal muasal kedatangan karena kesamaan madzhab yang dianut mayoritas penduduk. Teori ini dikuatkan oleh Snouck Hourgronje yang berpendapat bahwa begitu Islam berpijak kokoh di beberapa kota pelabuhan Anak Benua India baru kemudian datang kedunia Melayu-Indonesia. Tapi ia menyebutkan abad duabelas sebagai periode yang paling mungkin dari permulaan penyebaran islam di nusantara.
Sarjana lainnya Marquette menyebutrkan tempat asal Islam di nusantara adalah daerah Gujarat. Kesimpulan ini berdasar pengamatannya terhadap batu nisan di Pasai, kawasan utara Sumatra yang bertanggal 17 Dzul Hijjah 831 H/27 September 1428 M. Batu nisan tersebut mirip dengan Nisan Maulana Malik Ibrahim (822/1419) di Gresik Jatim yang ternyata sama bentuk dengan nisan yang terdapat di Cabay, Gujarat.
Namun pendapat ini ditentang oleh Fatimi, ia menyatakan bahwa batu nisan Malik Al Shalih berbeda sepenuhnya dengan batu nisan yang berada di Gujarat dan batu nisan lain yang ditemukan di nusantara. Ia berpendapat batu itu mirip dengan yang ada di Bengal, maka dari sanalah Islam di nusantara berasal. Pendapat fatimi ini tak urung mendapat kritik mengigat Bengal adalah daerah Bermadzhab Hanafi.
Ternyata teori tentang Gujarat sebagai tempat asal Islam nusantara terbukti mempunyai kelemahan. Morrison mematahkan teori Gujarat/Bengal dengan temuannya bahwa pada masa islamisasi Samudra-Pasai, raja pertama wafat pada tahun 698/1297, Gujarat masih merupakan kerajaan hindu, baru satu tahun berikutnya. Morrison mendukung pendapat Arnold yang menyatakan bahwa Islam dibawa ke nusantara antara lain juga dari Coromandel dan Malabar, Namun ia menyatakan bahwa itu (Coromandel dan Malabar) bukan satu-satunya tempat asal Islam di nusantara tapi juga dari Arabia. Dalam pandangannya para pedagang arab juga menyebarkan Islam ketika mereka dominan dalam perdagangan Barat-Timur sejak awal abad Hijriyah/Abad ke 7 dan 8 masehi. Memang tidak terdapat catatan yang jelas tentang kegiatan mereka terkait dengan penyebaran islam.
Ada beberapa rujukan yang menguatkan bahwa kedatangan Islam sejak abad pertama hijriah. Setidaknya sebuah karya Al ‘Ajaib Al Hind yang ditulis pada tahun 1000 oleh Syahrial Al Ramhurmuzi dan catatan-catatan dari China. Lebih mencengangkan lagi, Hamka dalam bukunya sejarah umat Islam mengungkapkan bahwa pada tahun 674-675 duta dari orang-orang Ta Shih (Arab) untuk China tak lain adalah sahabat Rosul Muawiyah bin Abu Sufyan, diam-diam melakukan perjalanan ke pulau Jawa. Muawiyah menyamar sebagai pedagang untuk melakukan observasi dan menyelidiki tanah jawa saat itu. Dan tidak mengherankan ketika jawa kemudian menjadi kekuatan islam yang cukup besar dan mampu berpengaruh ke pulau-pulau lainnya.
  1. Islamisasi di Jawa
Jika kita berbicara tentang islamisasi di pulai jawa, maka konsentrsasi kita tidak akan bisa lepas pada sekelompok tim syuro’ yang perannya tidak bisa ditinggalkan. Tim tersebut lebih dikenal dengan istilah wali songo. Sebenarnya cikal bakal perkembangan Islam di Jawa sudah sejak zaman Majapahit. Ketika Majapahit dibawah kepemimpinan Prabu Brawijaya yang terakhir, ia mempunyai seorang istri dari wanita china yang terkenal dengan nama putri campa. Purwadi (2004) dalam bukunya Sejarah Joko Tingkir mengisahkan putri cempa ratu dwarawati adalah wanita utama yang bisa momong para priyagung Jawa. Dari rahimnyalah kemudian lahir seorang yang berjiwa agung dan berbudi pekerti luhur yang nantinya turut serta membangun peradaban Jawa. Ratu Dwarawati sudah masuk islam, meskipun begitu, suaminya yang masih beragama budha tidak begitu mempermasalahkannya.
Dengan adanya akses ke pusat birokrasi inilah dakwah islam di pulau jawa semakin kokoh dan secara de jure menjadi agama yang legal untuk bergerak karena raja tidak melarangnya. Kesempatan inipun tidak disia-siakan, tahun 1445 M Raden Rahmatullah atau Sunan Ampel dari Campa bersama dua orang saudaranya, Ali Murtadho dan Abu Hurairoh datang ke jawa. Raden Rahmatullah adalah saudara dari putri campa. Sang rajapun menerimanya sebagaimana keluarga dan memberinya tnah perdikan di daerah ampel denta. Dari sinilah rahmat mengembangkan pesantren dan pusat keilmuan untuk pembinaan budi bangsawan dan rakyat majapahit yang sedang merosot. Ketika di Majapahit terjadi kudeta oleh rajasawardhana, rahmat segera mengatur strategi dakwahnya mengingat raja baru tidak suka dengan Islam.
Dalam majalah Sabili edisi khusus Sejarah Emas Muslim Indonesia diungkapkan strategi yang dilakukan sunan ampel adalah dengan menyebar para dai ke sembilan titik yang tersisa dibawah kekuasaan majapahit. Mereka adalah sunan ampel sendiri, Raden Ali Murtadho, Abu Hurairoh, Syekh Yaqub, Maulana Abdullah, Kiai Banh Tong, Khalif Husayn Dan Usman Haji. Dalam versi lain, masih pada sumber yang sama, dewan wali songo dibentuk tahun 1474 M oleh raden rahmat membawahi raden Hasan, Makhdum Ibrahim (sunan Bonang), Qosim (Sunan Drajat), Usman Haji (Ayah Sunan Kudus), Raden Ainul Yaqin (Sunan Gresik), Syekh Suta Maharaja, Raden Hamzah dan Raden Mahmud. Beberapa tahun kemudian Syarif Hidayatullah dari Cirebon bergabung. Sedang Sunan Kalijaga dipercaya sebagai Dai Keliling. Sebenarnya masih banyak lagi dai yang berada dibawah koordinasi sunan ampel, namun walisongo lebih terkenal dengan karya-karya dakwah mereka yang sangat monumental.
Sebut saja Maulana Malik Ibrahim, seorang ahli pertanian yang berdakwah melalui profesi taninya. Ia adalah peletak dasar konsep pendidikan pesantren. Raden Rahmat (Sunan Ampel) ia adalah mufti dari Campa yang bermadzhab Hambali dan mengembangkan pesantren kearah yang lebih rapi. Wejangan Anti Molimo merupakan hasil kreatifitas beliau. Raden Ainul Yaqin (Sunan Giri) ia adalah seorang ahli falaq dan seorang yang sangat fakih sehingga ia menggantikan sebagai mufti Jawa pasca Sunan Ampel. Sunan Bonang adalah putra sunan ampel, karya beliau adalah Suluk Bonang, Primbon I, dan Primbon II yang isinya menggambarkan watak dakwah para wali. Raden Syahid (Sunan Kaljaga) ia paling banyak menghasilkan karya seni seperti macapat, wayang kulit dan cerita wayang hindu yang diislamkan.
Secara garis besar terdapat corak yang cukup berbeda antara pola dakwah pada daerah pesisir dengan daerah pedalaman. Pada daerah pesisir, yang sejak awal abad hijriyah telah terbiasa dengan interaksi dengan pihak luar, tidak terlalu kesulitan dalam melogikakan sesuatu ketika mendapatkan hal-hal baru. Termasuk didalamnya ajaran agama. Berbeda dengan masyarakat pesisir, masyarakat pedalaman lebih tertutup dan lebih sulit menerima sesuatu yang baru. Dari sinilah mengapa sunan Kalijaga banyak melakukan ijtihad dalam melakukan manufer dakwahnya.
  1. Penutup
Dari berbagai macam sumber informasi yang diperoleh mengenai masuknya islam diwilayah nusantara, terdapat satu fenomena yang tidak dapat dipungkiri bahwa proses islamisasi di nusantara ada yang melalui Arabia langsung. Ini berarti dapat diindikasikan bahwa dakwah di indonesia telah di planning oleh khalifah pada masa Bani Umayyah. Atau dengan kata lain, mereka yang berdagang itu adalah para dai yang khusus dikirim untuk berdakwah diwilayah Nusantara. Sedang berdagang adalah salah satu upaya mempertahankan hidup dan kelangasungan dakwah, mengingat ia tidak meminta biaya hidup dari khalifah yang berkuasa. Ini mengingatkan kita pada doktrin Nahnu Duat Qobla Kulli Syaiin.
Sedang pola aktifitas dakwah khusus di pulau jawa yang di gagas oleh sunan Ampel dkk terdapat suatu nuansa tertib amal (marotibul Amal) yang sangat sesuai dengan manhaj islam. Dengan kesungguhan /jiddiyah, pengorbanan/tadlhiyah, komitmen/intima’ mereka mampu mengislamkan mayoritas penduduk jawa baik yang pedalaman ataupun pesisir. Semoga kita bisa melanjutkan dakwah mereka pada tahapan-tahapan berikutnya. Amin

[*] Disampaikan Pada Diskusi Islamic Social School, KAMMI UIN SUNAN KALIJAGA, 6 Maret 2006
[†] Penulis adalah Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Keuangan Islam 2005-2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar