Minggu, 22 Juli 2012

Einstein dan Islam....???>>>.....Dalam sebuah debat dengan seorang mullah terpelajar dari Iran, penentang saya mengutip sebuah pernyataan yang ia klaim berasal dari Albert Einstein. “Quran bukanlah sebuah buku Aljabar atau geometri, melainkan sebuah kumpulan aturan-aturan yang membimbing manusia kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang bahkan para filsuf sekalipun tidak sanggup untuk menolaknya.”....>>>....Saya melakukan sebuah pencarian dan menemukan bahwa pernyataan di atas dikutip di banyak situs-situs Islam. Namun demikian, pernyataan itu secara menyesatkan dikaitkan dengan Einstein. Padahal pandangan Einstein tentang Tuhan dan agama secara radikal bertentangan dengan Islam. Di bagian berikut ini, ia menjelaskan keyakinannya: “Kapasitas untuk memahami misteri kehidupan, meskipun dibarengi oleh ketakutan, juga telah menjadi sebab bangkitnya agama. Untuk mengetahui bahwa apa yang tidak dapat menembus diri kita benar-benar eksis, yang memanifestasikan dirinya sebagai hikmat tertinggi dan keindahan yang bersinar, dimana para pengajar kita yang kurang memiliki ketertarikan hanya bisa memahaminya dalam bentuknya yang paling primitif – pengetahuan ini, perasaan ini, ada di pusat religiositas yang benar, dan hanya pada perasaan ini saja aku menjadi bagian dari orang-orang religius yang saleh. Aku tidak bisa membayangkan satu sosok Tuhan yang memberikan upah dan menghukum obyek-obyek yang Ia sendiri ciptakan, yang mana tujuan-tujuan mereka adalah untuk menjadi model dari apa yang mereka miliki – satu sosok Tuhan yang hanya merupakan refleksi dari kelemahan manusia. Aku pun tidak bisa mempercayai bahwa ada individu yang bisa menyelamatkan tubuhnya yang mati, meskipun jiwa-jiwa yang telah kehilangan kekuatannya mempunyai pemikiran seperti itu melalui ketakutan atas kebodohan yang menyerap diri mereka sendiri”..>> SAYANGNYA PENULIS INI TIDAK MENYADARI... BETAPA PUN DIA MERASA PINTAR...DAN KONON SANGAT TIDAK SUKA DENGAN AJARAN AGAMA TERLEBIH KEPADA ISLAM....???...DENGAN SEGALA PROPAGANDANYA DAN KATA2 YANG SARAT DAN BENAR2 SANGAT MEMBENCI AGAMA ISLAM...BAHKAN NABI MUHAMMAD SAW.. SANGAT DIHINAKANNYA...??? ...>> TAPI DIA TIDAK BISA MEMBANTAHNYA... BAHWA SEJARAH DAN PERKEMBANGAN AJARAN ISLAM SERTA CAHAYA ISLAM SEMAKIN NYATA DAN SEMAKIN BERKEMBANG DARI ZAMAN-KEZAMAN....>>> SIAPAKAH YANG LEBIH TOLOL..DAN LEBIH TIDAK BERAKAL...APAKAH SDR ALI SINA.......ATAUKAH JUTAAN MANUSIA YANG SENANTIASA ..MENDAPAT HIDAYAH ALLAH DENGAN KEBENARAN ISLAM... SEBAGAI KEBENARAN AJARAN ALLAH.SWT...???>>> SAYANGNYA... KALAU HANYA DENGAN PEMIKIRAN SAJA.. SEPANDAI ATAU SEPINTAR APAKAH MANUSIA ITU...??? DAPATKAH DIA LEPAS DARI MAUT...??? ADAKAH AKAL SEHAT MEMBANTAH TENTANG ADANYA ALAM GHAIB... ALAM YANG TIDAK BISA DITERANGKAN DENGAN FISIK...??? ADAKAH FAHAM ATAU PEMIKIRAN ITU SUATU FISIK... ATAUKAH BAGIAN DARI TANDA2 GHAIB...???..KALAU MASALAH MATI... DAN ALAM SETELAH MATI.....TIDAK BISA DILMIYAHKAN.. ATAU DIBUKTIKAN...SECARA FISIK...ADAKAH YANG SANGGUP MEMBERI BUKTI BAHWA ALAM ITU TIDAK ADA..??? >>> INI ADALAH PROSES PERKEMBANGAN HASRAT MANUSIA UNTUK MEMAHAMI DIRINYA..DAN AKAN MENUNTUN KEPADA SIAPA PENCIPTA ALAM SEMESTA.. DAN ALAM GHAIB..YANG INSYA ALLAH KITA AKAN KESANA SEMUANYA...>>> AGAMA ISLAM BUKAN MENGAJARKAN KEBODOHAN ATAU KEBENCIAN...ATAU KEJAHTATAN... YANG KONON SEMUA DIMULAI OLEH SUATU HASRAT HAWA NAFSU MANUSIA YANG TAK TERKENDALIKAN DAN MEMILIKI TUJUAN HIDUP YANG MEYAKINKAN... TENTANG ADANYA PERTANGGUNG JAWABAN...INDIVIDU..PENEGAKAN KEADILAN YANG HAKIKI... >> SEMUA ITU ADA DALAM AJARAN ISLAM YANG SEMPURNA..LENGKAP DAN TENTU MUDAH DIFAHAMI..SEKALIPUN OLEH AWAM..SESUAI KEMAMPUAN SETIAP INDIVIDU...>>> MEMANG ADA YANG TERTUTUP MATA HATINYA..JUGA MENJADI TULI DAN BUTA...HATINYA.. WALAUPUN MUNGKIN SECARA FISIK NAMPAK SEMPURNA... TAPI JIWANYA SAKIT..DAN HATINYA PENUH KEDENGKIAN...DAN JIWANYA SERAKAH...>>>INILAH PANGKAL... KERUSAKAN.. PADA DIRINYA.. DAN ITU TIDAK MENJADIKAN.. ALLAH ITU RENDAH DAN NABI MUHAMMAD MENJADI TAK MULIA....DAN AJARAN ISLAM MENJADI TAK BERMAKNA....>>> AJARAN MUHAMMAD SECARA AKAL SEHAT DAN AJARANNYA TELAH DIAKUI SECARA FAKTUAL DAN ILMIYAH DISELURUH DUINIA SECARA BERABAD-ABAD.... INSYA ALLAH...>>... DAN HAL INI TELAH BANYAK DIBUKTIKAN OLEH ORANG2 YANG BERAKAL SEHAT... DAN BENAR2 MENCARI KEBENARAN...HAKIKI...YANG MEYAKINKAN.. BAIK SECARA ILMU, PENELITIAN, DAN KEBENARAN YANG SESUNGGUHNYA...>>> KEPADA SDR .."Ali-Sina", JIKA MASIH MUNGKIN MAU MENCOBA.. COBALAH TENANGKAN JIWA ANDA-BENINGKAN HATI...DAN BERDOA ATAU MEMINTA DENGAN SUNGGUH2... KEPADA ALLAH... PETUNJUK BUKTI... DENGAN CARA APAPUN..BAHWA ALLAH ITU ADA..DAN BENAR....TUHAN RABBUL ALAMIEN...>> INSYA ALLAH ANDA AKAN MENDAPAT PETUNJUK SESUAI KEMAMPUAN KEFAHAMAN ANDA...>>> ANDA BUKANLAH MANUSIA SUPER... >> COBALAH..SENDIRI... ATAU MUNGKIN ANDA BACA TERJEMAHAN ALQUR'AN..TERBITAN DEPARTEMEN AGAMA RI ATAU TERBITAN MEKKAH..AL MUKAROMAH..INSYA ALLAH ANDA AKAN MENEMUKAN YANG ANDA CARI ATAU MUNGKIN YANG ANDA SAMA SEKALI TAK INGINKAN..SEKALIPUN...>>> INI ANJURAN SAYA..YANG AWAM...>>> LIHATLAH ARTIKEL SELANJUTNYA DARI BANI SYIAH.. >>> Dunia sains modern di awal abad ke-20 M dibuat takjub oleh penemuan seorang ilmuwan Jerman bernama Albert Einstein. Fisikawan ini pada 1905 memublikasikan teori relativitas khusus (special relativity theory). Satu dasawarsa kemudian, Einstein yang didaulat majalah Time sebagai tokoh abad XX itu mencetuskan teori relativitas umum (general relativity theory). Teori relativitas itu dirumuskannya sebagai E=mc2. Rumus teori relativitas yang begitu populer menyatakan bahwa kecepatan cahaya adalah konstan. Selain itu, teori relativitas khusus yang dilontarkan Einstein berkaitan dengan materi dan cahaya yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi . Sedangkan, teori relativitas umum menyatakan, setiap benda bermassa menyebabkan ruang-waktu di sekitarnya melengkung (efek geodetic wrap). Melalui kedua teori relativitas itu, Einstein menjelaskan bahwa gelombang elektromagnetis tidak sesuai dengan teori gerakan Newton. Gelombang elektromagnetis dibuktikan bergerak pada kecepatan yang konstan, tanpa dipengaruhi gerakan sang pengamat..>>...Karena kebenaran Alquran itu, konon di akhir hayatnya, Einsten secara diam-diam juga telah memeluk agama Islam. Dalam sebuah tulisan, Einstein mengakui kebenaran Alquran. “Alquran bukanlah buku seperti aljabar atau geometri. Namun, Alquran adalah kumpulan aturan yang menuntun umat manusia ke jalan yang benar. Jalan yang tak dapat ditolak para filosof besar,” ungkap Einstein. Wallahualam. Si Jenius dari Abad IX Al-Kindi atau Al-Kindus adalah ilmuwan jenius yang hidup di era kejayaan Islam Baghdad. Saat itu, panji-panji kejayaan Islam dikerek oleh Dinasti Abbasiyah. Tak kurang dari lima periode khalifah dilaluinya, yakni Al-Amin (809-813), Al-Ma’mun (813-833), Al-Mu’tasim, Al-Wasiq (842-847), dan Mutawakil (847-861)....>>...“Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya”. (Einstein)Einstein diyakini beragama Islam syi’ah melalui surat2 nya kepada Ayatollah Al-Udzma Sayid Hossein Boroujerdi Einstein dalam makalah terakhirnya bertajuk Die Erklarung (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relatifitas lewat ayat-ayat Al-Quran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as dalam kitab Nahjul Balaghah.Dalam makalahnya itu, Einstein menyebut penjelasan Imam Ali as tentang perjalanan miraj jasmani Rasulullah ke langit dan alam malakut yang hanya dilakukan dalam beberapa detik sebagai penjelasan Imam Ali as yang paling bernilai...>>

Einstein dan Islam


Posted by admin On August 18th, 2011 / Comments (517)
Einstein dan Islam
Diposkan oleh Ali Sina pada tanggal 15 Agustus
http://indonesian.alisina.org/?p=923
Mullah Iran mengatakan bahwa Einstein berpaling pada Islam dan menjadi pemeluk Islam Syiah.
Dalam sebuah debat dengan seorang mullah terpelajar dari Iran, penentang saya mengutip sebuah pernyataan yang ia klaim berasal dari Albert Einstein.
“Quran bukanlah sebuah buku Aljabar atau geometri, melainkan sebuah kumpulan aturan-aturan yang membimbing manusia kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang bahkan para filsuf sekalipun tidak sanggup untuk menolaknya.”
Saya melakukan sebuah pencarian dan menemukan bahwa pernyataan di atas dikutip di banyak situs-situs Islam. Namun demikian, pernyataan itu secara menyesatkan dikaitkan dengan Einstein. Padahal pandangan Einstein tentang Tuhan dan agama secara radikal bertentangan dengan Islam. Di bagian berikut ini, ia menjelaskan keyakinannya:
“Kapasitas untuk memahami misteri kehidupan,  meskipun dibarengi oleh ketakutan, juga telah menjadi sebab bangkitnya agama. Untuk mengetahui bahwa apa yang tidak dapat menembus diri kita benar-benar eksis, yang memanifestasikan dirinya sebagai hikmat tertinggi dan keindahan yang bersinar, dimana para pengajar kita yang kurang memiliki ketertarikan hanya bisa memahaminya dalam bentuknya yang paling primitif – pengetahuan ini, perasaan ini, ada di pusat religiositas yang benar, dan hanya pada perasaan ini saja aku menjadi bagian dari orang-orang religius yang saleh. Aku tidak bisa membayangkan satu sosok Tuhan yang memberikan upah dan menghukum obyek-obyek yang Ia sendiri ciptakan, yang mana tujuan-tujuan mereka adalah untuk menjadi model dari apa yang mereka miliki – satu sosok Tuhan yang hanya merupakan refleksi dari kelemahan manusia. Aku pun tidak bisa mempercayai bahwa ada individu yang bisa menyelamatkan tubuhnya yang mati, meskipun jiwa-jiwa yang telah kehilangan kekuatannya mempunyai pemikiran seperti itu melalui ketakutan atas kebodohan yang menyerap diri mereka sendiri”
Di sini jelas bahwa Einstein tidak mempercayai satu sosok Tuhan yang personal, yang memberikan upah dan menjatuhkan hukuman, seperti ia sendiri pun tidak mempercayai hidup sesudah mati. Konsep-konsep ini adalah hal yang fundamental bagi Islam. Tanpa satu sosok Tuhan yang personal, dan tanpa Hari Penghakiman, maka sebuah firdaus yang penuh dengan hawa nafsu dan sebuah neraka Islam yang penuh dengan siksaan, menjadi tidak berarti.
Secara keseluruhan, Islam didasarkan pada ketakutan. Tak ada kata yang lebih sering diulang dalam Quran daripada kata “neraka” dan “Hari Penghakiman”. Saya telah berdebat dengan ribuan orang-orang Muslim, banyak dari mereka yang sangat terdidik, tetapi banyak juga yang tidak. Nada dari perdebatan-perdebatan ini selalu tentang penghukuman Tuhan yang tengah menanti saya. Ketakutan inilah yang telah melumpuhkan orang-orang Muslim dan menyebabkan mereka hidup tanpa harapan. Selama ketakutan ini tetap ada, mereka tidak akan pernah bisa meragukan Islam dan tidak akan sanggup membebaskan diri mereka sendiri dari cengkeramannya.
Einstein percaya bahwa agama adalah produk dari kebodohan dan ketakutan. Komentar-komentar mengenai Islam secara menyesatkan dikaitkan dengan dirinya. Tetapi hal itu sama sekali tidak mengejutkanku. Hampir semua hal yang dikatakan oleh orang-orang Muslim adalah kebohongan. Sungguh tidak bisa dipercaya bahwa seseorang tidak dapat menemukan satu pun kebenaran di dalam agama ini.
 
Hal yang mengejutkan saya adalah bahwa Mullah yang berpengetahuan luas ini, dalam pesan yang ia sampaikan sebelumnya pada saya, telah memposkan sebuah daftar panjang dari semua kutipan yang berasal dari beberapa orang anti-Semit seperti Gustav Le Bon dan lainnya; yang melukiskan bahwa orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang paling jahat dan licik dari semua bangsa yang ada dalam dunia, dan dengan demikian men-dehumanis mereka dan menyebut mereka sebagai keturunan Setan. Teori-teori Le Bon mengenai ras dan manusia sangat mempengaruhi Hitler dalam tulisannya Mein Kampf, dan disebutkan bahwa Mussolini menyimpan buku Le Bon di samping tempat tidurnya.
Orang yang terdidik ini percaya bahwa Allah telah merubah orang-orang Yahudi menjadi babi-babi dan monyet-monyet. Sungguh menakjubkan melihat apa yang telah dilakukan oleh Islam kepada otak manusia. Dan ketika aku telah membuktikan bahwa dia itu salah, mengingatkannya akan begitu banyak hal-hal besar yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi bagi umat manusia, maka ia berkata, “aha! Sekarang kami tahu bahwa engkau adalah seorang Yahudi.” Meskipun demikian, dari semua orang, ia memilih Albert Eistein, seorang Yahudi, dan secara menyesatkan mengkaitkan kata-kata pujian terhadap Islam itu kepadanya.
Jika Einstein secara rasial inferior, sebagaimana yang dikatakan oleh Le Bon, dan juga sebagaimana yang dikatakan oleh Quran, mengapa mengutipnya? Jika sebagai seorang Yahudi, dia itu sama sekali tidak ada harganya, mengapa pandangannya mengenai Islam dianggap sebagai hal yang penting? Kebodohan pemikiran orang-orang Muslim tak pernah berhenti membuatku takjub.
Untuk bisa sepenuhnya memahami pemikiran delusional dari orang-orang Muslim ini, saya ingin menginformasikan pada para pembaca bahwa para mullah di Iran mengklaim bahwa Einstein telah menjadi pemeluk Islam Syiah. Pemerintah yang mengontrol situs SobheSadegh.ir mengatakan bahwa menurut seorang ulama yang tidak diketahui namanya, dan yang telah menyampaikan sebuah kotbah di sebuah mesjid di Teheran, ahli fisika nuklir Albert Einstein, dikatakan (tanpa bukti) telah menjadi seorang pemeluk Islam Syiah melalui usaha yang dilakukan oleh Ayatollah Agung Boroujerdi, yang juga telah mendesak Einstein untuk merahasiakan perpalingannya pada Islam, supaya ia tidak dibunuh.
Namun demikian, jauh dari berpaling menjadi seorang pemeluk Islam atau memuji agama ini, sebagai seorang Yahudi, Einstein memiliki pandangan yang berbeda mengenai Yesus. Di bawah ini adalah sebuah klip wawancara dari the Saturday Evening Post, October 26, 1929:
“Sejauh mana engkau dipengaruhi oleh Kekristenan?”
Sebagai seorang anak, aku menerima instruksi baik dari Alkitab dan juga dari Talmud. Aku adalah seorang Yahudi, tetapi aku pun adalah seorang yang sangat tertarik dengan figur yang penuh kemuliaan dari orang Nazareth itu (Yesus).
Apakah kau sudah membaca buku Emil Ludwig mengenai Yesus?
Buku Emil Ludwig mengenai Yesus kurang dalam. Yesus terlalu kolosal bagi pena seorang penulis buku. Tak ada seorang pun yang bisa menghilangkan Kekristenan dengan sebuah kata-kata yang indah.
Apakah engkau menerima eksistensi Yesus sebagai sebuah peristiwa yang historis?
Itu tidak perlu lagi dipertanyakan! Tak seorang pun dapat membaca Injil tanpa merasakan kehadiran Yesus yang sebenarnya. PersonalitasNya menyebar di setiap kata. Tak ada kisah mitos yang bisa diisi dengan kehidupan seperti itu.”
“Ludwig Lewisohn, dalam salah satu bukunya yang terakhir, mengklaim bahwa banyak dari ucapan-ucapan Yesus merupakan pengulangan dari apa yang pernah dikatakan oleh nabi-nabi lainnya.”
Jawab Einstein,”Tak seorang pun bisa menyangkali fakta bahwa Yesus benar-benar eksis, juga tak ada yang dapat membantah bahwa ajaran-ajarannya itu indah. Bahkan meskipun beberapa dari yang Ia ajarkan itu sebelumnya sudah pernah disampaikan oleh orang lain, tak seorang pun yang pernah mengekspresikannya sedemikian ber-otoritas Ilahi sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus.”

Situs-situs Islam ini memposkan beberapa kutipan dari orang-orang terkenal seperti Napoleon Bonaparte, Gandhi, Leo Tolstoy, Bernard Shaw, dan orang-orang lainnya yang memuji Islam. Mengutip pendapat orang-orang terkenal sebagai bukti akan kebenaran sebuah agama adalah sebuah kekeliruan yang logis. Bahkan orang-orang terkenal pun bisa salah, tetapi fakta bahwa tak ada dari orang-orang ini yang merupakan sarjana Islam atau telah membaca kitab suci Muslim atau sejarahnya, menyebabkan pendapat mereka tentang Islam menjadi tak ada nilainya.
Hitler pun memuji-muji Islam. Pendapat Hitler-lah satu-satunya yang perlu kita pertimbangkan secara serius, sebab Hitler memahami Islam dengan sangat baik. Masihkah orang-orang tetap memuji Islam setelah mereka tahu bahwa Muhammad itu adalah seorang perampok, pembunuh massal, pemerkosa dan orang yang mempromosikan perbudakan? Fakta-fakta ini baru menjadi perhatian publik sejak satu dekade yang lalu. Saat aku mulai menulis mengenai hal ini, tak ada yang mempercayaiku. Aku kedengaran bagi mereka seperti seorang gila. Benar-benar tidak masuk akal bagaimana seorang kriminal disembah oleh 1,5 milyar manusia. Tetapi inilah fakta yang dihadapi oleh dunia.
Orang-orang terkenal ini, yang berbicara meninggikan Islam, mengucapkannya dari ketidaktahuan mereka. Dengan memuji Islam menyebabkan orang-orang Muslim menjadi sangat senang. Orang-orang Muslim secara terus-menerus mencari persetujuan dari orang-orang yang berwenang, dan bagi orang yang tidak waspada ini adalah cara yang mudah bagi mereka untuk disukai oleh orang-orang Muslim. Sedihnya, pujian yang mereka berikan menyebabkan orang-orang Muslim menjadi bebal dan menjadikan mereka lebih fanatik, dan sebagai hasilnya menjadikan mereka lebih banyak lagi melakukan kekerasan.
Inti dari pesan Muhammad adalah jihad. Jika anda menyatakan persetujuan anda terhadap Islam, maka anda mensahkan semua ajaran-ajarannya yang jahat, termasuk jihad, dan mendorong terorisme. Jika sekarang kebenaran itu telah disingkapkan, tak seorang pun boleh memuji Islam lagi hanya demi menyenangkan orang-orang Muslim. Kebodohan tak lagi bisa menjadi alasan. Memuji Islam adalah sebuah pengkhianatan terhadap kemanusiaan.
Pihak berwenang lainnya yang dikutip oleh orang-orang Muslim adalah Novelis Rusia Leo Tolstoy. Ia diklaim telah mengatakan, “Quran berisi hal-hal yang riil serta prinsip-prinsip yang jelas, dan umat manusia bisa menggunakannya  secara umum.” Meskipun demikian, Tolstoy juga berpendapat bahwa Islam telah dikorupsi dan memuji Bab, Baha-u-llah, dua orang yang merupakan pendiri dari Iman Bahai. Kedua nabi ini ditolak oleh orang-orang Muslim. Beberapa bulan sebelum kematiannya, Tolstoy menulis:
“Aku sudah lama mengenal Babis, dan selalu tertarik dengan ajaran-ajaran mereka. Aku memandang bahwa ajaran-ajaran ini, dan juga semua ajaran religius sosial rasionalistis yang muncul belakangan, keluar dari ajaran asli Brahmanisme, Budhisme, Yudaisme, Kristen dan Islam, yang didistorsi oleh para imam. Agama-agama ini memiliki masa depan yang baik dimana pada suatu hari nanti agama-agama ini tidak akan terpecah-pecah lagi melainkan akan menjadi satu agama bagi seluruh umat manusia.”
Tolstoy juga menyebut gerakan Ahmadiyah di Lahor dan gerakan Mahdi di Afrika dan berkata,
“Kedua ajaran religious ini tidak berisi hal-hal yang baru, juga pandangan mereka tentang manusia serta hubungan di antara manusia juga tidak berubah, sebagaimana yang diajarkan oleh Babiisme. Karena itu dengan segenap hati aku merasa simpati dengan Babiisme sebab ia mengajarkan persaudaraan dan kesetaraan manusia dan bagaimana manusia seharusnya mengorbankan kehidupan material sebagai pelayanan kepada Tuhan.
Ajaran-ajaran Babis yang datang pada kita bersumber dari ajaran-ajaran Bahaullah yang secara bertahap dikembangkan dan sekarang ada di hadapan kita dengan ajaran keagamaan yang paling tinggi dan murni.”
Jadi aku mau bertanya kepada orang-orang Muslim yang mengutip “pihak yang memiliki otoritas” untuk membuktikan bahwa Islam adalah kebenaran, mengapa mereka mengabaikan pihak yang sama yang memiliki otoritas, saat mereka memuji iman-iman yang lain, khususnya iman Babi dan Baha’i, yang oleh Muslim dianggap sebagai bidat? Jika pendapat Tolstoy mengenai Muhammad itu valid, demikian juga pendapatnya mengenai Bab dan Bahaullah.
Bersandar pada “pihak yang punya otoritas” sebagai bukti kebenaran, secara logis adalah sebuah penyesatan. Ini disebut argumentum ad verecundiam. Kebenaran dari sebuah agama hanya bisa ditentukan dengan menganalisa ajaran-ajarannya dan siapa yang menuliskannya. Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Yesus, melalui buah-buahnya.
Ketika kita menganalisa Islam, kita menemukannya sebagai agama yang mempromosikan kebencian, sebuah agama yang disebarkan melalui tipu daya, menganjurkan kekerasan dan mendorong perseteruan dan penumpahan darah. Ketika kita mengamati para pengikutnya, kita bisa melihat bahwa mereka mundur ke belakang, suka melakukan kekerasan, bebal dan tidak beradab. Inilah buah-buah pahit yang berasal dari pohon yang ada di neraka.
Einstein adalah seorang Atheis Yahudi dan seorang Zionis. Ia adalah semua hal yang dibenci oleh orang-orang Muslim. Einstein tidak percaya dengan satu sosok Tuhan yang personal. Pemikirannya secara diametris bertentangan dengan Islam. Ia juga tidak menjadi pemeluk Islam dan sama sekali tidak pernah memujinya. Ia memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada Yesus, tetapi bukan kepada Muhammad. Muhammad tidak patut untuk dihormati. Dengan memahami bagaimana Muhammad hidup, dan warisan kehancuran yang ia tinggalkan di belakang, Muhammad layak menerima cemoohan dari kita.



Albert Einstein seorang islam syi’ah

oleh ustad Husain Ardilla

Dalam sebuah dokumen yang dirahasiakan, terungkap sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relatifitas yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut Islam Syiah Imamiyah.
Hal ini berdasarkan laporan situs Mouood.org, Einstein pada tahun 1954 dalam suratnya kepada Ayatollah Al-Udzma Sayid Hossein Boroujerdi, marji besar Syiah kala itu, menyatakan, “Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatollah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam”.
Tapi ada satu hal yang bisa kita cermati. Kita, umat muslim, harus kembali untuk mempelajari sumber-sumber asli agama ini, mulai dari bidang kesehatan, ekonomi, politik, dan sebagainya. Bukankah umat muslim pernah merasakan era keemasan saat Eropa masih dalam kegelapan? Entahlah… tapi yang pasti, saya menemukan gambar “ayatullah” Einstein

 TERNYATA ALBERT EINSTEIN ISLAM


Dunia sains modern di awal abad ke-20 M dibuat takjub oleh penemuan seorang ilmuwan  Jerman bernama Albert Einstein. Fisikawan ini pada 1905 memublikasikan teori relativitas khusus (special relativity theory). Satu dasawarsa kemudian, Einstein yang didaulat majalah Time sebagai tokoh abad XX itu mencetuskan teori relativitas umum (general relativity theory). Teori relativitas itu dirumuskannya sebagai E=mc2. Rumus teori relativitas yang begitu populer menyatakan bahwa kecepatan cahaya adalah konstan. Selain itu, teori relativitas khusus yang dilontarkan Einstein berkaitan dengan materi dan cahaya yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi

.
Sedangkan, teori relativitas umum menyatakan, setiap benda bermassa menyebabkan ruang-waktu di sekitarnya melengkung (efek geodetic wrap). Melalui kedua teori relativitas itu, Einstein menjelaskan bahwa gelombang elektromagnetis tidak sesuai dengan teori gerakan Newton. Gelombang elektromagnetis dibuktikan bergerak pada kecepatan yang konstan, tanpa dipengaruhi gerakan sang pengamat

.
Inti pemikiran kedua teori tersebut menyatakan, dua pengamat yang bergerak relatif akan mendapatkan waktu dan interval ruang yang berbeda untuk kejadian yang sama. Meski begitu, isi hukum fisik akan terlihat sama oleh keduanya. Dengan ditemukannya teori relativitas, manusia bisa menjelaskan sifat-sifat materi dan struktur alam semesta.
“Pertama kali saya mendapatkan ide untuk membangun teori relativitas, yaitu sekitar tahun lalu 1905. Saya tidak dapat mengatakan secara eksak dari mana ide semacam ini muncul. Namun, saya yakin, ide ini berasal dari masalah optik pada benda-benda yang bergerak,” ungkap Einstein saat menyampaikan kuliah umum di depan mahasiswa Kyoto Imperial University pada 4 Desember 1922

.
Benarkah Einstein pencetus teori relativitas pertama? Di Barat sendiri, ada yang meragukan teori relativitas itu pertama kali ditemukan Einstein. Sebab, ada yang berpendapat bahwa teori relativitas pertama kali diungkapkan oleh Galileo Galilei dalam karyanya bertajuk Dialogue Concerning the World’s Two Chief Systems pada 1632

.
Teori relativitas merupakan revolusi dari ilmu matematika dan fisika. Sejatinya, 1.100 tahun sebelum Einstein mencetuskan teori relativitas, ilmuwan Muslim di abad ke-9 M telah meletakkan dasar-dasar teori relativitas, yaitu saintis dan filosof legendaris bernama Al-Kindi yang mencetuskan teori itu.
Sesungguhnya, tak mengejutkan jika ilmuwan besar sekaliber Al-Kindi telah mencetuskan teori itu pada abad ke-9 M. Apalagi, ilmuwan kelahiran Kufah tahun 801 M itu pasti sangat menguasai kitab suci Alquran. Sebab, tak diragukan lagi bahwa ayat-ayat Alquran mengandung pengetahuan yang absolut dan selalu menjadi kunci tabir misteri yang meliputi alam semesta raya ini.
Aya-ayat Alquran yang begitu menakjubkan inilah yang mendorong para saintis Muslim di era keemasan mampu meletakkan dasar-dasar sains modern. Sayangnya, karya-karya serta pemikiran para saintis Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah ditutup-tutupi

.
Dalam Al-Falsafa al-Ula, ilmuwan bernama lengkap Yusuf Ibnu Ishaq Al-Kindi itu telah mengungkapkan dasar-dasar teori relativitas. Sayangnya, sangat sedikit umat Islam yang mengetahuinya. Sehingga, hasil pemikiran yang brilian dari era kekhalifahan Islam itu seperti tenggelam ditelan zaman.
Menurut Al-Kindi, fisik bumi dan seluruh fenomena fisik adalah relatif. Relativitas, kata dia, adalah esensi dari hukum eksistensi. “Waktu, ruang, gerakan, dan benda, semuanya relatif dan tak absolut,” cetus Al-Kindi. Namun, ilmuwan Barat, seperti Galileo, Descartes, dan Newton, menganggap semua fenomena itu sebagai sesuatu yang absolut. Hanya Einstein yang sepaham dengan Al-Kindi

.
“Waktu hanya eksis dengan gerakan; benda dengan gerakan; gerakan dengan benda,” papar Al-Kindi. Selanjutnya, Al-Kindi berkata, “… jika ada gerakan, di sana perlu benda; jika ada sebuah benda, di sana perlu gerakan.” Pernyataan Al-Kindi itu menegaskan bahwa seluruh fenomena fisik adalah relatif satu sama lain. Mereka tak independen dan tak juga absolut.
 
Gagasan yang dilontarkan Al-Kindi itu sama dengan apa yang diungkapkan Einstein dalam teori relativitas umum. “Sebelum teori relativitas dicetuskan, fisika klasik selalu menganggap bahwa waktu adalah absolut,” papar Einstein dalam La Relativite. Menurut Einstein, pendapat yang dilontarkan oleh Galileo, Descartes, dan Newton itu tak sesuai dengan definisi waktu yang sebenarnya.
Menurut Al-Kindi, benda, waktu, gerakan, dan ruang tak hanya relatif terhadap satu sama lain, namun juga ke objek lainnya dan pengamat yang memantau mereka. Pendapat Al-Kindi itu sama dengan apa yang diungkapkan Einstein

.
Dalam Al-Falsafa al-Ula, Al-Kindi mencontohkan, seseorang melihat sebuah objek yang ukurannya lebih kecil atau lebih besar menurut pergerakan vertikal antara bumi dan langit. Jika orang itu naik ke atas langit, dia melihat pohon-pohon lebih kecil. Jika dia bergerak ke bumi, dia melihat pohon-pohon itu jadi lebih besar

.
“Kita tak dapat mengatakan bahwa sesuatu itu kecil atau besar secara absolut. Tetapi, kita dapat mengatakan bahwa itu lebih kecil atau lebih besar dalam hubungan kepada objek yang lain,” tutur Al-Kindi. Kesimpulan yang sama diungkapkan Einsten sekitar 11 abad setelah Al-Kindi wafat.
Menurut Einstein, tak ada hukum yang absolut dalam pengertian hukum tak terikat pada pengamat. Sebuah hukum, papar dia, harus dibuktikan melalui pengukuran. Al-Kindi menyatakan, seluruh fenomena fisik, seperti manusia menjadi dirinya, adalah relatif dan terbatas.
 
Meski setiap manusia tak terbatas dalam jumlah dan keberlangsungan, mereka terbatas; waktu, gerakan, benda, dan ruang yang juga terbatas. Einstein lagi-lagi mengamini pernyataan Al-Kindi yang dilontarkannya pada abad ke-11 M. “Eksistensi dunia ini terbatas meskipun eksistensi tak terbatas,” papar Einstein
.
Dengan teori itu, Al-Kindi tak hanya mencoba menjelaskan seluruh fenomena fisik. Namun, juga dia membuktikan eksistensi Tuhan. Karena, itu adalah konsekuensi logis dari teorinya. Di akhir hayatnya, Einsten pun mengakui eksistensi Tuhan. Teori relativitas yang diungkapkan kedua ilmuwan berbeda zaman itu pada dasarnya sama. Namun, penjelasan Einstein telah dibuktikan dengan sangat teliti

.
Bahkan, teori relativitasnya telah digunakan untuk pengembangan energi, bom atom, dan senjata nuklir pemusnah massal. Sedangkan, Al-Kindi mengungkapkan teorinya untuk membuktikan eksistensi Tuhan dan keesaan-Nya. Sayangnya, pemikiran cemerlang sang saintis Muslim tentang teori relativitas itu itu tak banyak diketahui. Sungguh sangat ironis, memang.
Relativitas dalam Alquran

Alam semesta raya ini selalu diselimuti misteri. Kitab suci Alquran yang diturunkan kepada umat manusia merupakan kuncinya. Allah SWT telah menjanjikan bahwa Alquran merupakan petunjuk hidup bagi orang-orang yang bertakwa. Untuk membuka selimut misteri alam semesta itu, Sang Khalik memerintahkan manusia agar berpikir.

 
Berikut ini adalah beberapa ayat Alquran yang membuktikan teori relativitas itu.”…. Sesungguhnya, sehari di sisi Tuhanmu seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung.” (QS Alhajj: 47). “Dia mengatur urusan langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS Assajdah: 5).
“Yang datang dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS 70: 3-4). “Dan, kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya. Padahal, ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Annaml: 88)

.
“Allah bertanya, ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari. Maka, tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman, ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’.” (QS 23: 122-114)

.
Karena kebenaran Alquran itu, konon di akhir hayatnya, Einsten secara diam-diam juga telah memeluk agama Islam. Dalam sebuah tulisan, Einstein mengakui kebenaran Alquran. “Alquran bukanlah buku seperti aljabar atau geometri. Namun, Alquran adalah kumpulan aturan yang menuntun umat manusia ke jalan yang benar. Jalan yang tak dapat ditolak para filosof besar,” ungkap Einstein. Wallahualam.

Si Jenius dari Abad IX
Al-Kindi atau Al-Kindus adalah ilmuwan jenius yang hidup di era kejayaan Islam Baghdad. Saat itu, panji-panji kejayaan Islam dikerek oleh Dinasti Abbasiyah. Tak kurang dari lima periode khalifah dilaluinya, yakni Al-Amin (809-813), Al-Ma’mun (813-833), Al-Mu’tasim, Al-Wasiq (842-847), dan Mutawakil (847-861).

 
Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan. Khalifah juga mempercayainya untuk berkiprah di Baitulhikmah yang kala itu gencar menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa, seperti Yunani
.
Ketika Khalifah Al-Ma’mun tutup usia dan digantikan putranya, Al-Mu’tasim, posisi Al-Kindi semakin diperhitungkan dan mendapatkan peran yang besar. Dia secara khusus diangkat menjadi guru bagi putranya. Al-Kindi mampu menghidupkan paham Muktazilah. Berkat peran Al-Kindi pula, paham yang mengutamakan rasionalitas itu ditetapkan sebagai paham resmi kerajaan

.
Menurut Al-Nadhim, selama berkutat dan bergelut dengan ilmu pengetahuan di Baitulhikmah, Al-Kindi telah melahirkan 260 karya. Di antara sederet buah pikirnya itu telah dituangkan dalam risalah-risalah pendek yang tak lagi ditemukan. Karya-karya yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al-Kindi adalah seorang yang berilmu pengetahuan yang luas dan dalam

.
Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang, seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik, dan meteorologi. Bukunya yang paling banyak adalah geometri sebanyak 32 judul. Filsafat dan kedokteran masing-masing mencapai 22 judul. Logika sebanyak sembilan judul dan fisika 12 judul.

Penemuan Albert Einstein

Tidak dapat dipungkiri bahwa Albert Einstein adalah salah seorang ilmuwan terkemuka abad 20. Salah seorang genius Fisika Teori penemu Teori Relativitas yang sangat terkenal itu. Teori ini membuat Hukum Newton yang telah berusia 300 tahun itu menjadi usang.
Selain itu dia juga mengembangkan teori lain. Beberapa di antaranya belum selesai dirumuskan ketika dia meninggal. Misalnya Teori Medan Terpadu. Teori yang memadukan antara hukum pergerakan planet dan pergerakan partikel atom ini hingga sekarang terkatung-katung nasibnya karena belum ada yang tampil untuk menyelesaikannya.
Pada kesempatan lain dia pernah melontarkan pernyataan paradoksal yang berpotensi mengantarkannya pada penemuan terbesarnya. Namun pernyataan ini pun terhenti di tengah jalan. Dia menyatakan :
“Hal yang paling tidak dapat dipahami tentang dunia adalah bahwa dunia dapat dipahami.”
Dengan pengetahuan yang dimilikinya dia dapat menghitung gerak benda-benda angkasa dengan akurat. Dia bisa dengan rinci menjelaskan perilaku partikel. Dia menemukan energi yang sangat dahsyat hanya dengan perhitungan di atas kertas. Hal ini menunjukkan bahwa dia dapat memahami dunia ini dengan lebih baik daripada kebanyakan orang.
Artinya dia bisa memahami berbagai hukum yang berlaku di alam semesta ini. Bintang-bintang yang seolah diletakkan secara acak itu ternyata terikat oleh hukum yang mengatur pergerakannya. Komet yang seolah tidak menentu kehadirannya itu ternyata melintasi garis edar yang bisa dihitung persamaannya..
Singkat kata alam semesta yang menakjubkan ini ternyata terikat oleh hukum yang bisa dipahami. Apalagi oleh orang-orang seperti Einstein ini. Hukum yang dalam Islam biasa disebut sebagai sunnatullah.

Memahami Alam Semesta

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencipatakan alam semesta ini dengan keseimbangan yang sangat presisi. Seluruh benda langit melintas pada garis edarnya dengan tertib selama jutaan tahun. Ini bisa terjadi karena keseimbangan yang berlaku atasnya sebagaimana telah dinyatakan didalam Al-Qur’an yang mulia :
“Dialah yang telah menciptakan 7 langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ? Kemudian lihatlah lagi dan lagi, pandanganmu akan lelah dalam mencari sesuatu yang tidak seimbang.” [QS. Al-Mulk : 3-4]
Bayangkan kita sedang naik sepeda. Kalau kita tidak mampu menjaga keseimbangan, maka hanya dalam dua atau tiga kayuhan sepeda sudah akan rubuh. Namun begitu kita bisa menjaga sepeda tetap seimbang, maka kita bisa menempuh berpuluh-puluh kilometer dan tetap tegak.
Bisa kita bayangkan betapa seimbang alam semesta ini yang bisa bertahan selama berjuta-juta tahun. Seandainya keseimbangan itu terganggu sedikit saja niscaya akan runtuhlah alam semesta ini. Keseimbangan inilah yang mungkin telah memukau Einstein sehingga meluncurlah pernyataan sebgaimana tertulis di atas.
Pertanyaan berikutnya adalah : bagaimana hal ini bisa terjadi ?
Pembahasan tentang masalah ini telah begitu sering dilakukan. Saya khawatir akan membuat Anda bosan bila mengulanginya lagi. Kita lagnsung saja mengembalikannya kepada Al-Qur’an.
“Sekiranya ada di langit dan di bumi  tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Masa Sucilah Allah, pemilik ‘Arsy, dari segala yang mereka sifatkan kepada_Nya.” [QS. Al-Anbiyaa' : 22]
Kesimpulan saya, Einstein hanya membutuhkan satu langkah lagi untuk mencapai penemuan terbesarnya. Yaitu untuk menemukan Tuhannya yang Maha Esa. Yang bersendirian dalam menciptakan dan mengatur makhluknya.
Kemungkinan lain adalah dia sebenarnya telah menempuh langkah itu dan menemukan_Nya. Akan tetapi tidak diutarakan. Untuk suatu alasan yang tidak diketahui.
http://syiahali.files.wordpress.com/2011/08/einstein.jpg?w=234
Kantor berita Iran IRIB (24/9) baru-baru ini melansir sebuah berita yang menyatakan bahwa ilmuwan Albert Einstein adalah seorang penganut Syiah. Irib mengutip sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relatifitas itu, yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut madzhab Islam tersebut.
Berdasarkan laporan situs Mouood.org, Einstein pada tahun 1954 dalam suratnya kepada Ayatollah Al-Udzma Sayid Hossein Boroujerdi, marji besar Syiah kala itu, menyatakan, “Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatollah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam”.
Einstein dalam suratnya itu menjelaskan bahwa Islam lebih utama ketimbang seluruh agama-agama lain dan menyebutnya sebagai agama yang paling sempurna dan rasional. Ditegaskannya, “Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya”.
Einstein dalam makalah terakhirnya bertajuk Die Erklarung (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relatifitas lewat ayat-ayat Al-Quran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as dalam kitab Nahjul Balaghah.
Dalam makalahnya itu, Einstein menyebut penjelasan Imam Ali as tentang perjalanan miraj jasmani Rasulullah ke langit dan alam malaikat yang hanya dilakukan dalam beberapa detik sebagai penjelasan Imam Ali as yang paling bernilai.
Ketika media-media zionis berusaha mencegah peningkatan jumlah pemeluk baru Islam di kalangan masyarakat Barat dan berusaha mencoreng citra agama cinta damai dan keadilan ini, terungkap sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relatifitas yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut Islam Syiah Imamiyah
.
Berdasarkan laporan situs Mouood.org, Einstein pada tahun 1954 dalam suratnya kepada Ayatollah Al-Udzma Sayid Hossein Boroujerdi, marji besar Syiah kala itu, menyatakan, “Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatollah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam”.Einstein dalam suratnya itu menjelaskan bahwa Islam lebih utama ketimbang seluruh agama-agama lain dan menyebutnya sebagai agama yang paling sempurna dan rasional. Ditegaskannya, “Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya”.
Salah satu hadis yang menjadi sandarannya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Allamah Majlisi tentang mikraj jasmani Rasulullah saw. Disebutkan, “Ketika terangkat dari tanah, pakaian atau kaki Nabi menyentuh sebuah bejana berisi air yang menyebabkan air tumpah. Setelah Nabi kembali dari mikraj jasmani, setelah melalui berbagai zaman, beliau melihat air masih dalam keadaan tumpah di atas tanah.” Einstein melihat hadis ini sebagai khazanah keilmuan yang mahal harganya, karena menjelaskan kemampuan keilmuan para Imam Syiah dalam relativitas waktu. Menurut Einstein, formula matematika kebangkitan jasmani berbanding terbalik dengan formula terkenal “relativitas materi dan energi”.E = M.C² >> M = E : C²Artinya, sekalipun badan kita berubah menjadi energi, ia dapat kembali berujud semula, hidup kembali.Dalam suratnya kepada Ayatullah al-Uzma Boroujerdi, sebagai penghormatan ia selalu menggunakan kata panggilan “Boroujerdi Senior”, dan untuk menggembirakan ruh Prof. Hesabi (fisikawan dan murid satu-satunya Einstein asal Iran), ia menggunakan kata “Hesabi yang mulia”. Naskah asli risalah ini masih tersimpan dalam safety box rahasia London (di bagian tempat penyimpanan Prof. Ibrahim Mahdavi), dengan alasan keamanan.Risalah ini dibeli oleh Prof. Ibrahim Mahdavi (tinggal di London) dengan bantuan salah satu anggota perusahaan pembuat mobil Benz seharga 3 juta dolar dari seorang penjual barang antik Yahudi. Tulisan tangan Einstein di semua halaman buku kecil itu telah dicek lewat komputer dan dibuktikan oleh para pakar manuskrip.

Pendapat Albert Einstein tentang Islam ?

“Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya”. (Einstein)Einstein diyakini beragama Islam syi’ah melalui surat2 nya kepada Ayatollah Al-Udzma Sayid Hossein Boroujerdi
Einstein dalam makalah terakhirnya bertajuk Die Erklarung (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relatifitas lewat ayat-ayat Al-Quran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as dalam kitab Nahjul Balaghah.Dalam makalahnya itu, Einstein menyebut penjelasan Imam Ali as tentang perjalanan miraj jasmani Rasulullah ke langit dan alam malakut yang hanya dilakukan dalam beberapa detik sebagai penjelasan Imam Ali as yang paling bernilai.

Rincian tambahan

Einstein seorang Yahudi yang pada akhirnya memilih Islam syi’ah
… Einstein juga disebut sebagai manusia paling cerdas ke dua setelah Nabi Muhammad SAW

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar