Sabtu, 28 Juli 2012

GEJALA PERANG DUNIA III..??? >> ..Hal ini sesuai salah satu strategi dan tujuan membentuk New World Order (Tatanan Dunia Baru), dengan membatasi gerak Cina dan Rusia serta mencegah munculnya tantangan apapun bagi kekuasaan AS di kawasan itu. Marshall menyebutnya sebagai “Revolusi Warna”. Ia mengisyaratkan bahwa revolusi yang kini berlangsung merupakan awal Perang Dunia (PD) III. Pertanyaanya ialah, apakah AS dan sekutu menginginkan meletus PD III sebagaimana isyarat Marshall di atas?..>>...Tak gentar sedikitpun, kendati titik bidik superpower dan sekutu mengarah ke Jalur Sutra (Timur Tengah dan Afrika Utara), terutama fokus bidikan kini ada di Syria dan Iran. ..>>....Kembali ke gejala PD III, bahwa tema sentral yang ditabuh adalah nuklir dengan Iran sebagai lakon sekaligus “kambing hitam”, sedang banyak negara juga memproduksi nuklir namun tak menjadi masalah apa-apa...>>....Paling fenomenal lagi menyentak kita semua mungkin geliat Jepang dan Cina. Ya, kedua negara seolah-olah kompak “menolak US dollar” dalam setiap transaksinya. Itu berarti perusahaan di Cina dan Jepang dapat mengkonversi mata uangnya secara langsung, tanpa terlebih dahulu mengkonversi ke dolar AS. Luar biasa. Sikap tersebut diperkirakan mampu menimbulkan gelombang imitasi global, ditiru oleh negara-negara lain, baik karena efek langsung maupun tak langsung, atau oleh sebab snawball process alami. Maknanya, bahwa tidak lama lagi bakal muncul “tsunami dolar”. Ya. Dolar akan mudik menerjang negeri asalnya, menjadi tumpukan kertas-kertas tidak berharga....??.>>....asumsi Tony Cartalucci dari Central for Research on Globalization (CRG), Kanada, mengilhami para pengambil kebijakan di Gedung Putih, yakni: “Matikan Timur Tengah, anda mematikan Cina dan Rusia, maka anda akan menguasai dunia”...???>>....bahwa AS memiliki rekor tertinggi sebagai agresor dalam sejarah perang modern. Ia mengungkap, bahwa AS pasca kemerdekaan dekade 1776-an justru aktif menciptakan gelombang pertempuran serta mengobarkan sembilan perang besar. Sekitar 200-an kali bahkan mungkin lebih invasi militer yang ia ciptakan. Dan terhitung semenjak 1977 - 1993 telah menyerbu 32-an wilayah di luar negaranya....>>...tidak termasuk sinergi smart dan hard power-nya yang dimulai dari Tunisia, Yaman, Mesir, Libya dan seterusnya berkedok “Musim Semi Arab”. >>.....dalam desain global militer di Pentagon bertajuk “Penaklukan Dunia” sesuai paparan Jenderal Wesley Clark (2005) mantan Komandan NATO benar-benar mengancam perdamaian dunia....>>...The Globalizaton of War: The “Military Roadmap” to World War III, di www.globalresearch.ca), menggambarkan jika perang nuklir diluncurkan, seluruh Timur Tengah/Asia Tengah akan masuk ke dalam suatu kebakaran besar!..>>.....diluar dugaan, timbul “kebangkitan Islam” sebagai fenomena yang mencengangkan bahkan membuat babak-belur AS dan sekutu karena misinya tidak juga memetik hasil. Misalnya, perlawanan maha dahsyat dari Taliban dan tentara lokal di Irak dan Afghanistan ---dalam konsep militer modern, mereka cuma sekelas pengacau keamanan, atau sejenis insurgent--- selama kurang lebih 10 tahun, dan ternyata mengakibatkan AS dan sekutu (sekitar 42 negara) tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara/NATO dan International Security Assistance Force (ISAF), terpaksa menarik mundur pasukan tanpa membawa hasil apa-apa kecuali khabar tentang tentara tewas, gila, cacat permanen dan yang vital adalah krisis ekonomi bagi negara-negara yang terlibat perang dan sharing saham!..>>.....Akhirnya tibalah pada retorika dari catatan singkat ini, yakni manakala AS dan sekutunya bernafsu mengobarkan PD III dengan tujuan jahat memulihkan sistem kapitalis yang telah bangkrut, apakah roadmap itu merupakan kecerdasan, kebandelan, kebodohan, atau cermin keputus-asaan dari para elit kapitalis yang meremote jalannya perang dari kejauhan; bukankah di Jalur Sutra kini banyak fenomena yang tidak pernah ditemui sewaktu pecah PD II doeloe? ..>>...tesis Bung Karno, Proklamator Indonesia: “Kapitalisme yang terjebak krisis akhirnya membuahkan fasisme, sedang fasisme ialah perjuangan penghabisan para monopolis kapitalis yang terancam bangkrut”...>>....Bagi AS dan sekutu, secara formal modal awal yang diperlukan dalam PD III adalah Resolusi PBB untuk Syria. Dan sepertinya ia tak bakal terbit selama veto Cina dan Rusia menghadang. Belum lagi permasalahan tuntutan kedua adidaya untuk penyelidikan secara mendalam soal kebenaran mengenai ada atau tidaknya pelanggaran HAM berat oleh rezim Gaddafi di Libya. Hal ini menjadi persoalan tersendiri bagi PBB...>>...Maka ada dua pilihan pasti, yakni PD III yang diinginkan AS dan sekutu guna memulihkan sistem kapitalis global, jangan-jangan justru Holocaust yang menyapu Israel. Manusia boleh saja berencana, tapi Tuhan yang menentukan. Siapa menebar duka bakal memetik sengsara! ..>>


Analisis

03-01-2012
Gejala Perang Dunia III: Mencermati Perubahan Musim dan Pola Shock and Awe di Jalur Sutra
Author : M Arief Pranoto, Research Associate Global Future Institute (GFI)  
http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=en&id=6854&type=4
Paling fenomenal lagi menyentak kita semua mungkin geliat Jepang dan Cina. Ya, kedua negara seolah-olah kompak “menolak US dollar” dalam setiap transaksinya. Itu berarti perusahaan di Cina dan Jepang dapat mengkonversi mata uangnya secara langsung, tanpa terlebih dahulu mengkonversi ke dolar AS.  Luar biasa. Sikap tersebut diperkirakan mampu menimbulkan gelombang imitasi global, ditiru oleh negara-negara lain, baik karena efek langsung maupun tak langsung, atau oleh sebab snawball process alami. Maknanya, bahwa tidak lama lagi bakal muncul “tsunami dolar”. Ya. Dolar akan mudik menerjang negeri asalnya, menjadi tumpukan kertas-kertas tidak berharga.

Kembali ke gejala PD III, bahwa tema sentral yang ditabuh adalah nuklir dengan Iran sebagai lakon sekaligus “kambing hitam”, sedang banyak negara juga memproduksi nuklir namun tak menjadi masalah apa-apa. 

Tak gentar sedikitpun, kendati titik bidik superpower dan sekutu mengarah ke Jalur Sutra (Timur Tengah dan Afrika Utara), terutama fokus bidikan kini ada di Syria dan Iran. 

Tatkala  timbul pertanyaan kenapa dipilih Jalur Sutra, kemungkinan besar asumsi Tony Cartalucci dari Central for Research on Globalization (CRG), Kanada, mengilhami para pengambil kebijakan di Gedung Putih, yakni: “Matikan Timur Tengah, anda mematikan Cina dan Rusia, maka anda akan menguasai dunia”.

Buku Killing Hope: US Military and CIA Intervention Since World War II  karya dari William Blum menyebut, bahwa AS memiliki rekor tertinggi sebagai agresor dalam sejarah perang modern. Ia mengungkap, bahwa AS pasca kemerdekaan dekade 1776-an justru aktif menciptakan gelombang pertempuran serta mengobarkan sembilan perang besar. Sekitar 200-an kali bahkan mungkin lebih invasi militer yang ia ciptakan. Dan terhitung semenjak 1977 - 1993 telah menyerbu 32-an wilayah di luar negaranya.
Data dalam buku Blum tersebut, tidak termasuk sinergi smart dan hard power-nya yang dimulai dari Tunisia, Yaman, Mesir, Libya dan seterusnya berkedok “Musim Semi Arab”. 

Itulah potret kembara militer AS sejak kemerdekaan hingga kini. Akan tetapi gerakannya kali ini sungguh membuat cemas bersama, karena dalam desain global militer di Pentagon bertajuk “Penaklukan Dunia” sesuai paparan Jenderal Wesley Clark (2005) mantan Komandan NATO benar-benar mengancam perdamaian dunia. Tak kurang Michel Chossudovsky, Pendiri dan Direktur CRG dan Finian Cunningham, peneliti pada CRG (The Globalizaton of War: The “Military Roadmap” to World War III, di www.globalresearch.ca), menggambarkan jika perang nuklir diluncurkan, seluruh Timur Tengah/Asia Tengah akan masuk ke dalam suatu kebakaran besar!

Ya, sepertinya AS hendak memaksakan grand design-nya di Jalur Sutra. Entah kenapa. Indikasi terlihat dari penyebaran militer secara bersamaan di berbagai belahan dunia. Maka harap maklum ketika kini banyak bertebar stigmaisasi dan dalih-dalih pembenar mengawali pagelaran perang, termasuk gerakan tambahan oleh AS Cs dalam rangka ‘pemanasan’. Sebagai contoh, Iran dianggap ancaman untuk Israel, AS dan dunia; atau tuduhan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat kepada rezim Bashar al Assad; ataupun sanksi diplomasi, finansial dan ekonomi terhadap Iran agar ia tidak bisa menjual minyak, dan sebagainya. Dan agaknya, sanksi terakhir ini justru dibalik oleh Iran dengan ancaman penutupan Selat Hormuz sehingga menyulut pro-kontra dunia mengingat betapa vitalnya selat tersebut dalam skema distribusi (minyak) kargo baik antar negara maupun antar benua.

Menyimak hal di atas, sepertinya skenario yang tengah dijalankan Paman Sam mirip atau bahkan persis tatkala George W. Bush dulu memblokade ekonomi Irak sekitar 10-an tahun, sebelum akhirnya Saddam Husain diserbu (2003), kemudian digantung (2007); atau blokade ekonomi selama 18 bulan oleh Israel terhadap Palestina yang berujung Perang Gaza dekade 2008-an (baca: Pesta Kabaret di Gaza, di www.theglobal-review.com), demikian seterusnya. Ya. Ada semacam shock and awe untuk langkah awal, sebagai permulaan. Disinyalir, begitulah pola tetap yang sering ia mainkan sebelum menggelar suatu peperangan --- artinya “sasaran target” dibuat lemah terlebih dahulu dari sisi internal, baru kemudian diserang habis-habisan!

Tambahan lain yang layak dicermati ialah penciptaan destabilisasi politik melalui perang sipil atau pemberontakan. Fase ini digelar ketika methode smart power ala “Musim Semi Arab” gagal membuat lengser rezim yang ditarget. Hal ini tergambar di Libya dan Syria. Artinya untuk methode di kedua negara tadi memang berbeda dengan pola-pola di Tunisia, Yaman dan Mesir yang cukup melalui gerakan massa secara terus menerus, sehingga membikin gerah para elit “boneka” seperti Ben Ali, Abdullah dan Mobarak pun terbirit turun takhta.

Namun diluar dugaan, timbul “kebangkitan Islam” sebagai fenomena yang mencengangkan bahkan membuat babak-belur AS dan sekutu karena misinya tidak juga memetik hasil. Misalnya, perlawanan maha dahsyat dari Taliban dan tentara lokal di Irak dan Afghanistan ---dalam konsep militer modern, mereka cuma sekelas pengacau keamanan, atau sejenis insurgent--- selama kurang lebih 10 tahun, dan ternyata mengakibatkan AS dan sekutu (sekitar 42 negara) tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara/NATO dan International Security Assistance Force (ISAF), terpaksa menarik mundur pasukan tanpa membawa hasil apa-apa kecuali khabar tentang tentara tewas, gila, cacat permanen dan yang vital adalah krisis ekonomi bagi negara-negara yang terlibat perang dan sharing saham!

Agaknya kisah “kebangkitan” di Irak dan Afghnaistan terulang lagi, meski dengan kemasan berbeda. Setidak-tidaknya di Yaman, Tunisia dan Mesir yang dianggap “Musim Semi”-nya kepentingan-kepentingan Barat oleh media mainstream, niscaya berubah 180 derajat menjadi “Musim Gugur” bagi AS dan sekutunya. Betapa gelombang kedua revolusi kembali marak di jalan-jalan bertajuk “perubahan sistem”, tak cuma sekedar ganti rezim sebagaimana target “revolusi warna”-nya CANVAS (baca: Melacak Revolusi Warna, Virus Ganti Rezim di Berbagai Negara, di Global Future Institute (GFI), www.theglobal-review.com).  

Isyarat Hugo Chaves, bahwa perang kolonial yang ditebar AS hendak memulihkan sistem kapitalis yang cenderung bangkrut (baca: Modus dan Seri Baru Perang kolonial, Waspada buat Indonesia, di GFI, www.theglobal-review.com), maka menyamakan tata cara pemulihan suatu sistem dengan menjiplak pola pemulihan Great Depression (1930) via PD, merupakan gebyah uyah dan cermin generalisasi tindakan yang lahir dari kerangka logika teramat panik. Saya jadi teringat tesis Bung Karno, Proklamator Indonesia: “Kapitalisme yang terjebak krisis akhirnya membuahkan fasisme, sedang fasisme ialah perjuangan penghabisan para monopolis kapitalis yang terancam bangkrut”.

Akhirnya tibalah pada retorika dari catatan singkat ini, yakni manakala AS dan sekutunya bernafsu mengobarkan PD III dengan tujuan jahat memulihkan sistem kapitalis yang telah bangkrut, apakah roadmap itu merupakan kecerdasan, kebandelan, kebodohan, atau cermin keputus-asaan dari para elit kapitalis yang meremote jalannya perang dari kejauhan; bukankah di Jalur Sutra kini banyak fenomena yang tidak pernah ditemui sewaktu pecah PD II doeloe? Silahkan kita semua mencermatinya.
Terimakasih. (Dari berbagai sumber)
Analisis

27-12-2011
Perang Sipil di Syria, Pancingan Perang Dunia III atau Holocaust?
Author : M Arief Pranoto, Research Associate Global Future Institute (GFI)
http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=en&id=6792&type=4

Setidaknya pasca gagal terbitnya Resolusi PBB bagi Syria karena terjegal oleh veto Cina dan Rusia, maka ibarat “memakan bubur panas” ia memulai dari pinggir-pinggirnya. Disinilah letak kesamaan pola. Seperti halnya di Libya, sebelum terbit resolusi 1973 --- AS dan sekutu juga mengobarkan dulu pemberontakan atau perang sipil. Demikian pula di Syria, kegagalan gerakan massa melalui ‘musim semi Arab’ guna menerbitkan resolusi PBB, menjadikan perang sipil sebagai alternatif terakhir.
Sasaran antara yang ingin diraih ialah intervensi massiv militer Syria terhadap perang sipil. Setelah fase ini maka bisa ditebak, niscaya gelombang laporan berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) “komprador” lokal ingin ada intervensi internasional dan hadirnya pasukan asing di Syria melalui resolusi PBB. Itulah skenario yang dapat dibaca.

Tak boleh dielak, bahwa saat ini telah ada pengepungan berasal dari tiga negeri tetangga saling berbatas teritori dengan Syria. Misalnya, perbatasan Jordan-Syria via al Mafraq. Lalu Turki bersumber dari kota Hakkari (baca: Genderang Perang Syria: Konspirasi dari Jordan dan Turki, oleh Dina Y. Sulaeman dan M Arief Pranoto, di www.indonesian.irib.ir). Sedang dari Lebanon melalui daerah Ersal. Tak kurang Menteri Pertahanan Lebanon, Fayez Gessen mengkonfirmasi data terkait dengan keberadaan operasi penyelundupan senjata dan masuknya teroris al - Qaeda untuk Suriah, yang mengaku menjadi anggota oposisi Suriah, pada titik-titik perbatasan ilegal antara Suriah dan Lebanon, khususnya melalui daerah perbatasan ERSAL (SANA, 20/12/2011). Syria tengah dikepung!

Mencermati tahapan di atas, sepertinya AS dan sekutu ingin memaksakan grand design penaklukan dunia sebagaimana paparan Wesley Clark, mantan Komandan NATO lima tahun lalu (2005) di Pentagon, yang dimulai dari Irak, Suriah, Lebanon, Libya, Iran, Somalia, Sudan dan seterusnya.
Secara kuantitatif, roadmap penaklukan cuma tinggal dua langkah lagi, yakni Syria dan Iran; tetapi dari sisi kualitatif sejatinya mengalami banyak kegagalan. Fakta menyatakan, bahwa kekalahan-kekalahan militer AS dan sekutu jarang bahkan tak pernah diekspos. Para media mainstream senantiasa melakukan edit dan counter berita atas kegagalan superpower dan sekutunya. Sebagai contoh kekalahan di medan tempur Irak, Afghanistan, dan terakhir kemarin di Libya merupakan data riil. Kedok atau dalihnya mirip-mirip, yakni penarikan pasukan melalui skenario tayangan video kematian tokoh sentral. Untuk penarikan di Irak dan Afghanistan berdalih “kematian Osama”, sedang penarikan pasukan di Libya berdalih “kematian Gaddafi”, sementara di medan laga perlawanan rakyat lokal dan tentara (setempat) masih berlangsung sengit, massiv lagi dahsyat.

Kembali ke Syria, perang sipil  yang kini meletus di Baba, kota terbesar ketiga di Syria, sejatinya merupakan pancingan agar militer Bashar al Assad turut campur tangan lebih dalam. Selanjutnya jika merujuk isyarat Andrew Gavin Marshal, peneliti serta kontributor di Central for Research on Globalization (CRG), Kanada, bahwa gejolak yang terjadi kini merupakan taktik politik rahasia untuk memperluas pengaruh NATO dan AS ke perbatasan Rusia dan Cina. 

Hal ini sesuai salah satu strategi dan tujuan membentuk New World Order (Tatanan Dunia Baru), dengan membatasi gerak Cina dan Rusia serta mencegah munculnya tantangan apapun bagi kekuasaan AS di kawasan itu. Marshall menyebutnya sebagai “Revolusi Warna”. Ia mengisyaratkan bahwa revolusi yang kini berlangsung merupakan awal Perang Dunia (PD) III.  Pertanyaanya ialah, apakah AS dan sekutu menginginkan meletus PD III sebagaimana isyarat Marshall di atas?

Jika merujuk sinyalemen Hugo Chaves, Presiden Venezuela kepada PBB: "Ada ancaman yang sangat serius terhadap perdamaian dunia. Sebuah seri baru perang kolonial yang dimulai di Libya dengan tujuan jahat untuk memulihkan sistem kapitalisme global" (Lizzie Phelan, 2011), maka jawaban pertanyaan tadi adalah: YA! Pertanyaan berikut yang menyeruak, apa motivasi utama AS dan sekutu mengobarkan PD III di tengah krisis ekonomi dan bencana negeri yang tak kunjung usai; tidak gentarkah ia dengan Rusia, Cina, Iran dan negeri-negeri lain di belakang Syria?

Sesuai isyarat Chaves di atas bahwa perang kolonial seri baru bertujuan memulihkan sistem kapitalisme. Dan agaknya para elit kekuasaan Paman Sam ingin menjiplak model pemulihan Great Depression dekade 1930-an doeloe di AS melalui PD. Terbukti 10 tahun pasca PD II ekonomi AS memang kembali pulih. Dan meletusnya PD III bakal menaikkan oplah dan lapangan pekerjaan, terutama industri peralatan tempur, senjata, para kontraktor perang dan bidang-bidang lain di sekelilingnya. Ya, PD III bakal memulikan kembali sistem kapitalisme yang kini tengah sekarat lagi cenderung bangkrut.

Bagi AS dan sekutu, secara formal modal awal yang diperlukan dalam PD III adalah Resolusi PBB untuk Syria. Dan sepertinya ia tak bakal terbit selama veto Cina dan Rusia menghadang. Belum lagi permasalahan tuntutan kedua adidaya untuk penyelidikan secara mendalam soal kebenaran mengenai ada atau tidaknya pelanggaran HAM berat oleh rezim Gaddafi di Libya. Hal ini menjadi persoalan tersendiri bagi PBB.

Selanjutnya senada dengan ancaman Bashar al Assad, jika Syria diserang pihaknya akan
membombardir Israel dengan berbagai senjata dan roket-roket yang ia persiapkan lama. Maka ada dua pilihan pasti, yakni PD III yang diinginkan AS dan sekutu guna memulihkan sistem kapitalis global, jangan-jangan justru Holocaust yang menyapu Israel. Manusia boleh saja berencana, tapi Tuhan yang menentukan. Siapa menebar duka bakal memetik sengsara!
 

(Dari berbagai sumber)

Analisis

18-12-2011
Holocaust Segera Terjadi di Israel
Author : M Arief Pranoto / Pemerhati Masalah Internasional dari Global Future Institute
http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=en&id=6700&type=4

Adalah Salim Hatom, seorang mayor yang gagal melakukan kudeta terhadap Presiden Suriah Nureddin al-Atassi dan Salah Jadid dekade 1968-an, kemudian melarikan diri ke Jordan dan mendirikan kamp-kamp militer di Al Mafraq. Dari tempat ini pula, ia memulai karir politiknya sebagai pemberontak terhadap rezim syah di Syria (1970-1980).

Tampaknya kisah Hatom meskipun tak sukses, mengilhami Ikhwanul Islam, kelompok atau semacam organisasi massa di Syria meniru pola dan kiprahnya. Ya. Berbekal pola-pola sama, bersama sayap milter ‘Al-Taleah al-Islamiyah al-Muqatilah’-nya melakukan perjuangan ---jika tidak boleh disebut pemberontakan--- militer kepada Hafez Assad, Presiden Syria (1971- 2000).

Konspirasi terlihat, ketika mereka semua dilatih oleh militer Jordan dan intelijen Israel. Modusnya turun di jalanan kota-kota di Syria melakukan kekacauan, merusak fasilitas umum bahkan kalau perlu melakukan pembunuhan terhadap orang-orang tidak bersalah. Tujuannya, tidak lain ialah menciptakan destabilisasi politik dalam negara. Maka harap maklum ketika unjuk rasa dan demostransi mengatasnamakan gejolak rakyat tetapi mampu menyerang markas militer menggunakan roket-roket di Damaskus. Retorikanya, adakah demonstrasi massa di negeri manapun berani menyerang kamp-kamp militer? Kalau membakar mobil dan kantor polisi mungkin banyak terjadi.

Agaknya peristiwa tempo doeloe bakal terulang lagi. Dimulai sejak musim semi lalu, banyak pelarian serdadu Syria ditampung dalam kamp-kamp di sebelah barat kota Salt, Jordan, kemudian diinvestigasi oleh intelijen militer Israel (AMAN), dibawah pengawasan militer Jordan. Sasarannya mencari informasi tentang isue-isue terkait perkembangan terbaru baik persenjataan, pelatihan, personel maupun hal-hal lain yang dimiliki Syria, terutama kemajuan teknologi militer dekade 2006-an ke atas.
Hal di atas, tampaknya sejalan dengan rumor yang berkembang, bahwa ada pejabat Barat meminta Raja Jordan mendirikan stasiun mata-mata elektronik di wilayah dekat perbatasan Syria guna mengakses info dan melakukan kontak dengan perwira tinggi Syria, untuk meyakinkan agar melakukan kudeta militer atau setidaknya memberontak terhadap rezim.
Beberapa tahun terakhir ini memang bersliweran banyak militer asing di perbatasan Jordan-Syria. Diperkirakan jumlahnya mencapai ratusan menyebar di sekitar Al Mafraq. Mereka bicara dengan bahasa luar selain Arab, dan hilir - mudik antara Pangkalan Udara Raja Hussein hingga desa-desa di wilayah perbatasan, menggunakan kendaraan-kendaraan militer.
Ketika dilacak lebih dalam, berdasarkan “posting katak”-nya Nizar dan James Corbett Nayouf, kontributor Centre for Research on Globalization, Kanada, ditulis begini:
“Kamis lalu, beberapa pasukan Amerika Serikat (AS) yang meninggalkan basis udara Ain al-Assad di Irak, tidak kembali ke AS atau Jerman, namun dipindahkan ke Jordan pada malam hari” (Global Research, 12 Desember 2011).
Posting katak tersebut, diperkuat pula hasil wawacara Nizar dengan seorang karyawan yang berbasis di London. Ia mengatakan:
“Setidaknya satu pesawat AS yang membawa personel militer mendarat di Pangkalan Udara Pangeran Hassan, terletak sekitar 100 km ke arah timur kota Al-Mafraq”  (Global Research, 12 Desember 2011).

Kenyataannya, gelombang penarikan pasukan AS dan sekutu memang tengah berlangsung tahap demi tahap di Irak dan Afghanistan. Inikah mengecoh langit menyeberangi lautan? Itu data-data yang bisa dicatat. Masalah valid, akurat atau tidak, mutlak harus diuji terlebih dahulu. Artinya nyambung atau tidak tentang sejarah serta informasi konspirasi Al Mafraq terkait berbagai peristiwa yang telah, sedang dan diperkirakan bakal terjadi. Tak bisa tidak.
Situasi terakhir “musim semi Arab” di negerinya al-Assad memang semakin panas. Ternyata sangsi untuk Syria melalui resolusi pun gagal terbit, ketika Cina dan Rusia kembali menggunakan hak vetonya di sidang PBB. Lalu merapatnya kapal perang Rusia memasuki laut Syria merupakan indikasi kuat, bahkan dianggap sebagai isyarat Moskow siap melindungi sekutu dekatnya dari unsur luar (asing) yang akan campur tangan di internal Syria. Hipotesa pun bertebar, salah satunya adalah kegagalan NATO dan sekutu melakukan “intervensi fisik” via jalur perairan ---oleh sebab kapal induk AS, USS George H Bush pun sebenarnya telah standby pula di perairan sama--- maka harus segera diubah strategi, atau jika tidak bakal ada perang terbuka antara para adidaya mengambil lokasi di Syria sebagai proxy war (lapangan tempur).

Ya. Sepertinya Paman Sam hendak memaksakan roadmap-nya di lintasan Jalur Sutra (Timur Tengah dan Afrika Utara) sebagaimana paparan Clark, mantan Komandan NATO doeloe (baca: Peta Serangan ke Iran, Bagian Penaklukan Dunia oleh Amerika, di www.theglobal-review.com). Apaboleh buat, barangkali sudah tidak ada alternatif lain. Grand desaign penaklukan dunia oleh Pentagon telah terbuka. Kepak dan denyut rencana sering terlihat serta dirasakan oleh publik secara nyata. Tak ada pilihan lain, pantang bila kuku-kuku elang “superpower” ditarik kembali.

Tanda-tandanya jelas. Tatkala beberapa pejabat terkait mengatakan bahwa rezim Assad bakal tumbang dalam beberapa minggu kedepan. Maka merujuk uraian di muka, pernyataan tadi mengisyaratkan bahwa “Konspirasi Al Mafraq” ialah titik awal tergelarnya perang darat antara AS Cs versus Pemerintah Syria. Inilah yang akan terjadi esok. Dan sesuai janji Bashar al Assad jika Syria diserang, akan membombardir Israel dengan berbagai senjata dan roket-roket yang telah ia persiapkan lama. Ya, Holocaust atau pembataian-pembataian jilid II bagi Israel tinggal menunggu waktu!  

*) Analisa ini dirangkum dari berbagai sumber, terutama web di Global Future Institute, Jakarta dan Central for Research on Globalization, Kanada.

Analisis

05-01-2012
"Prakiraan Politik Global 2012 Versi GFI"
Author : Tim Redaksi Global Review

 http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=en&id=6875&type=4
Adapun prakiraan tersebut adalah sebagai berikut:

(1) Syria dan sekitarnya bakal menjadi pemicu sekaligus proxy war (lapangan tempur) Perang Dunia (PD) III di Abad XXI antara AS dan sekutu (NATO, ISAF, P-GCC dst) Versus Syria, Iran dibantu oleh Rusia, Cina, Venezuela, Kuba dan lainnya;

(2) Israel bakal hancur lebur, bahkan mungkin terhapus dari peta dunia, lalu digantikan oleh Hamas-Fatah, atau Pemerintahan Palestina Baru yang lebih kondusif dan konstruktif bagi Dunia Arab dan sekitarnya;

(3) US Dollar tak lagi dipercaya dan tidak digunakan oleh dunia. Uniqnya, sikap "menolak dolar" ini justru dipelopori Cina dan bahkan Jepang itu sendiri selaku sekutu dekat AS di Asia (aneh dan fenomenal?). Dolar mudik atau pulang basamo ke negeri asalnya. Inilah “tsunami dolar” yang diperkirakan menjadi momentum munculnya revolusi sosial di Paman Sam. Skenario keruntuhan Dinasti Amerika ditandai dengan merebaknya rusuh massa dimana-mana, dan niscaya AS terpecah - belah menjadi beberapa negara merdeka sebagaimana ramalan Igor Panarin doeloe, ilmuwan politik Rusia, oleh sebab ada beberapa “kekuatan luar” yang masuk juga berkepentingan dalam revolusi tersebut;

(4) Uni Afrika semakin kokoh membentuk kekuatan tersendiri (new emerging force) yang mempunyai bargaining position tinggi di dunia, terutama terhadap Dunia (Uni) Eropa dan sekitarnya dalam koridor lain serta kepentingan selain militer (asimetris);

(5) Keruntuhan AS mengakibatkan hubungan antar negara di Asia khususnya Asia Tenggara lebih mesra dan soft dibanding era sebelum-sebelumnya baik formal maupun forum non formal, terutama pihak Malaysia tak lagi berani menebar “provokasi”-nya di perairan Indonesia dikarenakan pudarnya peran International Security Assistance Force (ISAF), andalannya beberapa dekade lalu;

(6) Sikap Singapura pun berubah “sopan” sebab keangkuhannya selama ini ternyata didukung oleh superpower dan para adidaya Barat, serta menganggap seolah-olah dirinya adalah “Israel”-nya Asia;

(7) Bagaimana dengan Ibu Pertiwi tercinta? Niscaya bakalan bangkit. Entah dengan cara apa dan bagaimana. Maka ibarat putri raja bangun dari tidur panjang, melengang tanpa bersolek pun tetap mempesona dunia. Apalagi setelah ia tanggalkan segala ujud dan bentuk kemasan (ideologi) kapitalisme yang pernah melingkarinya. Di awal kebangkitan, Indonesia mutlak bersikap keras lagi tegas, terutama terhadap organisasi massa (ormas) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang selama ini gencar mempromosikan isue aktual (demokrasi, korupsi, HAM, kebebasan, legalisasi narkoba dan lainnya) tetapi menginduk kepada luar negeri/negara lain, ataupun terikat jaringan LSM asing. Diyakini akan ada langkah-langkah audit oleh negara cq pemerintah secara ketat, cermat lagi teliti atas aliran dana yang selama ini dinikmati oleh segelintir oknum individu, ormas dan LSM ‘komprador’ justru di atas serta mengakibatkan lemahnya sifat kegotong-royongan, hancur nilai persatuan dan kesatuan bangsa, serta leburnya nilai-nilai musyawarah mufakat milik bangsa ini.

Akan tetapi, ramalan tetaplah ramalan. Hukumnya sunah, boleh percaya boleh tidak. Artinya jangan sekali-kali diyakini sepenuh hati.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar