Selasa, 11 Maret 2014

PERANG DAN PERANG....DAN KONON KINI.... DIAMBANG PERANG AS+ EURO VS RUSSIA....??? KRISIS UKRAINA.. DAN PENGUASAAN CRIMEA... OLEH RUSSIA...???>> APAKAH NATO MAU PERANG BARU SETELAH ARAB SPRINGS -IRAQ DAN AFGHANISTAN... YANG JUGA BELUM BENAR2 SELESAI...???>> DISENGAJAKAH PERANG TERUS DILANJUTKAN DENGAN BERBAGAI DALIH... DAN MEMBIARKAN PARA POLITISI ABSURD DAN KONON KEKUASAAN .DAN LEGITIMASI SEDANG DIMAINKAN... UNTUK KONON ..... SAH ATAU TIDAKNYA PERANG AKAN SEGERA DI MULAI....???>>> SUDAH BERAPA BANYAK PEMUDA DAN RAKYAT AMERIKA MATI DAN CACAT AKIBAT PERANG DI ARAQ-AFGHANISTAN-LIBYA-MESIR-SURIAH...?? >>> OOOHHH... TIDAK.. .. TIDAK ADA .....PERANG ATAU HANYA JUALAN SENJATA.. DAN MEMBIARKAN SEMUA SALING MEMBUNUH DAN HANYA KORBAN KECIL2.. SAJA... ???>>> SEMUA ITU HANYA MAIN2..SAJA...???>>> KORBAN MATI DAN MEMBIARKAN SERDADU DAN RAKYAT DI ADUK2...??? >>> UNTUK APA.. DAN DENGAN TUJUAN APA...YAH.. MEREKA PARA INDUSTRIAWAN DAN POLTIKUS.. SELALU MENDORONG DAN MEMBUAT PEPERANGAN...???>>> HAYYOOLAH... KITA PERANG-PERANGAN.... BAWA BEDIL DARI PELEPAH PISANG...???>> PAKE TOPI BAJA DARI DAUN TALAS... ???>>> PERANG-PERANGAN.. HANYA SENI DAN PERUMPAMAAN... UNTUK ANAK-ANAK YANG SEDANG MAIN PETAK UMPET... UNTUK LUCU-LUCUAN...???>>> PERANG LAGI... DAN PERANG LAGI...???>> HAYYOO PERANG AGAR KITA BANYAK YANG MATI... DAN CACAT ATAU PINCANG.. KARENA KORBAN ..PERANG... ???>>> INILAH PARA PEMEGANG KONSEP.. PERANG-DAN DAGANG SERTA INDUSTRI SENJATA DAN BAHAN PANGAN...???>>> HAYYOO BUAT MATI YANG BANYAK AGAR UMMAT MANUSIA SEMAKIN SEDIKIT... DAN MEMBIARKAN ORANG2 KAYA.. SEMAKIN KAYA... SEDANG YANG MISKIN... HANYA UNTUK JADI SERDADU.. DAN RAKYAT MISKIN.. SEMAKIN MISKIN... YANG AKHIRNYA HARUS DIMATIKAN DENGAN RENCANA PERANG DAN ATAU KEKACAUAN..ATAU BAHKAN KONON BISA DIBUAT VIRUS2 BARU AGAR MANUSIA2 TAK BERGUNA BANYAK YANG MATI... SEHINGGA LELUASALAH KAUM KAYA MEMAINKAN UANG DAN HARTANYA...??>> AHHHHHH...... PERANG LAGI ..... DAN PERANG LAGI..??? AYYYOOO KITA PERANG... LAGIII...... >>> MAJULAH DAN MUNDURLAH... TAPI NANTI KITA SAMA2 MENDAPATKAN UNTUNG DAN LABA YANG LUMAYAN BISA NAMBAH KOCEK KITA...DI REKENING BANK... ???>>> KITA INI BANGSA SUPER.. UNTUK BISA MEMBUNUH SIAPA SAJA YANG TIDAK SEJALAN...???>>> DENGAN BERBAGAI CARA... SAH ATAU TIDAK....???>>> PERANG DAN PERANG LAGI..??>>>...TAK ADA KEMANUSIAAN... DAN TAK ADA SAYANG DAN KASIH.... SEMUANYA... HANYA MAINAN... SENI DAN SENANG-SENANG..... DAN MENAMBAH ..... KEUNTUNGAN....??? Tidak jelas apa pertimbangan Obama sehingga mengambil resiko terjadinya konflik terbuka dengan Putin yang saat ini menjabat sebagai Perdana Menteri Rusia. Yang jelas, Putin di mata masyarakat Rusia merupakan sosok seorang pemimpin yang berkarisma dan dinilai berhasil dalam membangkitkan kembali negara Beruang Merah tersebut dari keterpurukan menyusul runtuhnya Negara Komunis Uni Soviet. Inilah yang tidak masuk dalam pemikiran Obama. Bahwa dalam perpektif Putin, masalahnya bukan soal melestarikan pola pandang Perang Dingin, tapi bagaimana membangkitkan kembali martabat dan kebanggaan rakyat Rusia dari keterpurukan pasca runtuhnya Uni Soviet. Salah satu hasilnya, postur pertahanan Rusia kembali bangkit dan diperhitungkan oleh negara-negara NATO di Eropa Barat....>>> ...Pasukan Rusia mulai memasuki Ukraina, setelah Permintaan Vladimir Putin disetujui Parlemen (photo: Reuters) Majelis atas parlemen Rusia menyepakati permintaan Presiden Vladimir Putin agar pasukan Rusia digunakan di Ukraina. Putin meminta agar pasukan Rusia dikerahkan “sampai kondisi politik di negara itu normal.” Armada Laut Hitam Rusia bermarkas di Krimea, Ukraina, merupakan tempat banyak etnik Rusia tinggal. Atas tindakan Vladimir Putin itu, pemerintahan baru Ukraina memperingatkan kemungkinan perang dan menempatkan pasukannya dalam siaga tinggi serta meminta bantuan NATO....>> ...“Sikap dan pernyataan Presiden Putin jelas menunjukkan Rusia sepertinya punya pilihan untuk menyerang kita di arena pertempuran sebagai balasan bagi AS karena kita menghantam sekutu kuat mereka di Timur Tengah,” ujar Holding. Menjawab kekhawatiran itu, Jenderal Dempsey menolak untuk memberikan jawaban, Ia hanya berharap hal itu tidak akan terjadi, meski peluang Rusia terlibat dalam perang cukup terbuka. “Rusia memiliki kemampuan seperti perang asimetris, termasuk cyber dan akhirnya bisa berujung pada senjata nuklir strategis. Tapi saya tidak mau berspekulasi dulu soal itu,” pungkas Dempsey. ..>>> ...“Pesan kami adalah, jika Anda menyerang sekutu kami, maka kami mungkin akan datang,” tegas Putin. Pernyataan terkeras Putin itu ditanggapi serius oleh Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS, Jenderal Martin Dempsey. Dilansir FoxNews, Pentagon telah memprediksi bahwa serangan militer AS ke Suriah bisa berubah menjadi perang asimetris antara AS dan Rusia. “Kemungkinan terjadi baku tembak dengan tentara Rusia sangat terbuka, karena kita menyerang sekutu mereka,” jelas Dempsey. Kongres AS juga terkejut mendengar ancaman Putin. Anggota Kongres dari Partai Republik, George Holding, dalam pertemuannya dengan para jenderal Pentagon, mengatakan jika pilihan serangan militer ke Suriah dilakukan, harus dipikirkan apa yang akan dilakukan AS jika Rusia memutuskan untuk ikut menyerang....>>>

Analisis

09-07-2009
Rusian-AS
“Mantra Obama” Tidak Mempan di Rusia
Penulis : Hendrajit






















Berbeda ketika berpidato di Universitas Kairo, Mesir, yang mendapat sambutan gegap gempita dan mengundang tepuk tangan audiens berkali-kali, di Rusia pidato Obama disambut dingin-dingin saja. Bahkan, tidak disiarkan langsung oleh televisi utama Rusia.

Nampaknya pernyataan Obama seminggu sebelum kunjungannya ke Rusia Selasa (7/7) lalu, telah mengundang antipati berbagai elemen masyarakat Rusia.  Dalam pernyataannya, Obama mengecam mantan Presiden Vladimir Putin sebagai orang yang salah satu kakinya masih tertinggal di masa lalu, yaitu di masa Perang Dingin.

Tidak jelas apa pertimbangan Obama sehingga mengambil resiko terjadinya konflik terbuka dengan Putin yang saat ini menjabat sebagai Perdana Menteri Rusia. Yang jelas, Putin di mata masyarakat Rusia merupakan sosok seorang pemimpin yang berkarisma dan dinilai berhasil dalam membangkitkan kembali negara Beruang Merah tersebut dari keterpurukan menyusul runtuhnya Negara Komunis Uni Soviet.

Inilah yang tidak masuk dalam pemikiran Obama. Bahwa dalam perpektif Putin, masalahnya bukan soal melestarikan pola pandang Perang Dingin, tapi bagaimana membangkitkan kembali martabat dan kebanggaan rakyat Rusia dari keterpurukan pasca runtuhnya Uni Soviet. Salah satu hasilnya, postur pertahanan Rusia kembali bangkit dan diperhitungkan oleh negara-negara NATO di Eropa Barat.


Di bawah kepemimpinan Putin, perekonomian Rusia bangkit kembali. Sehingga Rusia berhasil memodernisasikan kembali Angkatan Bersenjatanya secara bertahap sesuai dengan pola ancaman yang dihadapi dan strategi yang diterapkan. Bahkan di era kepresidenan Dmitry Medveded sekarang, Rusia terus mengembangkan kekuatan militernya, termasuk memproduksi rudal dan kapal selam berkapasitas nuklir generasi baru.

Moskow juga siap mengucurkan dana US$ 140 miliar untuk anggaran militernya hingga 2011. Suatu jumlah anggaran yang cukup fantastis dan tertinggi sejak runtuhnya Uni Soviet.


Mei 2007 lalu, Rusia berhasil menguji coba RS-24 rudal generasi baru yang mampu merontokkan tameng rudal Amerika Serikat, Bahkan menurut informasi, Presiden Medvedev berencana untuk mengerahkan rudal jarak pendek untuk menandingi tameng rudal Amerika di Polandia.

Postur pertahanaan Rusia semakin disegani lawan-lawannya dari Eropa Barat ketika pada April 2007 salah satu dari 12 kapal selam kelas Borel baru (proyek 955) diluncurkan. Kapal selam yang kemudian mulai dioperasikan seja November 2008 itu akan dilengkapi dengan 12 rudal Bulava baru. Yang mana satu rudal mampu membawa enam hulu ledak.

Fakta inilah yang akhirnya berhasil memicu ketakutan negara-negara NATO, sehingga Sabtu (27/6) negara-negara anggota pakta pertahanan Eropa Barat tersebut sepakat untuk kembali menjalin kerjasama militer dengan Rusia setelah sempat terhenti selama sepuluh bulan.

Ini suatu bukti nyata bahwa reputasi Rusia di Eropa Timur masih tetap disegani dan diperhitungkan sebagai lawan yang cukup berbahaya. Rupanya NATO berangapan bahwa merangkul Rusia dalam jalinan kerjasama strategis akan mencegah Rusia untuk memainkan skemanya sendiri di kawasan Eropa Timur.


Serangan militer Rusia ke Georgia untuk melindungi dua provinsi yang bermaksud melepaskan diri dari Georgia yaitu Ossetia Selatan dan Abkhazia. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov telah mendesak NATO untuk menghargai aspirasi kedua provinsi di Georgia tersebut untuk memisahkan diri dari Georgia sebagaimana ketika Georgia dahulu melepaskan diri dari Uni Soviet.

Selain itu, Rusia sepertinya juga tidak takut-takut untuk memprotes mitranya dari eropa barat atas keputusannya untuk menerima keanggotaan Ukraina dan Georgia sebagai negara-negara anggota NATO. Masuknya kedua negara bekas bagian Uni Soviet tersebut memang bikin Rusia tidak nyaman. Maklum, Georgia dan Ukraina sepertinya memang bermaksud menantang Rusia, dan terang-terangan mengundang dukungan dan bantuan dari Amerika dan sekutnya dari Eropa Barat.

Bahkan, bertepatan dengan hari kemenangan Angkatan Bersenjata Soviet menghancurkan Jerman pada Perang Dunia Kedua, Amerika dan NATO sepertinya sengaja memprovokasi Rusia dengan menggelar latihan militer bersama di negara Georgia yang berbatasan langsung dengan wilayahn kedaulatan Rusia.

Bukan itu saja. Bahkan Rusia mengecam rencana pembangunan tameng rudal Amerika di Republik Ceko dan Polandia. Semua ini dinilai Rusia tidak saja merupakan provokasi terhadap Rusia,  tapi juga bisa membahayakan kedaulatan wilayah Rusia secara keseluruhan.

Karena itu, ketika Georgia ada gelagat akan menghancurkan Ossetia Selatan dan Abkhazia karena bermaksud memerdekakan diri dari Georgia, dengan serta merta Rusia langsung mengirim pasukan militernya menggempur Georgia.

Inilah untuk kalim pertama Rusia mengerahkan pasukannya ke luar negeri sejak pasca keruntuhan Uni Soviet pada 1991. Dan NATO, nampaknya berpikir dua kali untuk memenuhi seruan Georgia agar membantu membalas serangan militer Rusia.

Tapi apa mau di kata, Rusia sejak di bawah kepemimpinan Putin dan Medvedev ternyata telah kembali memulihkan reputasinya sebagai negara adidaya di bidang militer.

Karena itu, pernyataan konfrontatif Obama menyerang Putin sebagai sosok pemimpin yang salah satu kakinya masih berada di era Perang Dingin, nampaknya justru tidak banyak membantu dalam mencairkan komunikasi politik antara Amerika dan Rusia.


Beberapa Agenda Strategis yang di Bahas Amerika-Rusia

Masih belum bisa dipastikan apa yang sudah berhasil dicapai oleh kedua negara adidaya melalui momentum pertemuan Obama, Medvedev dan Putin. Namun kedua negara bersepakat untuk menyepakati perlunya kontrol terhadap kepemilikan senjata nuklir bagi kedua negara.

Kedua negara nampaknya juga bersepakat untuk mempcepat negosiasi mengenai traktat senjata nuklir untuk menggantikan START I yang sudah kadaluarsa pada Desember 2009.

Sementara itu, ada beberapa isu yang nampaknya tetap sulit untuk disepakati oleh Amerika maupun Rusia. Rusia menentang keras rencana bergabungnya Georgia dan Ukraina ke NATO. Rusia juga tetap bersikeras untuk mempetahankan pasukan militernya di Ossetia Selatan dan Abkahzia, dan menolak hadirnya misi pengawasan damai PBB.

Dan yang paling penting dari semua itu, Rusia menentang keras rencana NATO membangun tameng rudal di Eropa dan menilai hal itu sebagai faktor penghambar ke arah baru hubungan Rusia-Amerika-NATO.

Dan yang paling krusial dari itu semua, Washington bersikeras barat tidak bisa menerima gaya kepemimpinan Soviet ala Putin. Namun Putin pun sejak masa kepresidenan yang dia pimpin sebelumnya, juga mendesak Amerika untuk tidak menjadi kekuatan tunggal yang mendominasi dunia. Karena menurut Putin, hegemoni Amerika justru bakal membawa dunia ke dalam  ketidakseimbangan.

Bisa jadi, inilah yang membuat ”mantra Obama” di Rusia menjadi tidak mempan sama sekali. Kecaman Obama bahwa Putin masih berpikir dalam kerangka Perang Dingin,  di mata masyarakat Rusia justru menunjukka bahwa Putin memiliki kepekaan intuitif dalam membaca konstalasi politik internasional.

Putin sepertinya bisa membaca gelagat bahwa di balik retorika Obama agar Rusia melepaskan diri pola pikir Perang Dingin, sebenarnarnya tersembunyi sebuah agenda untuk menata-ulang hegemoni Amerika di pentas dunia internasional.   

Penulis adalah Direktur Eksekutif Global Future Institute, dapat dikontak di hendrajit@yahoo.com

  

 

Vladimir Putin Ancam Balik Barack Obama

 http://jakartagreater.com/vladimir-putin-ancam-balik-barack-obama/
 
Presiden Vladimir Putin dan Barrack Obama di sela-sela Forum G20, st Petersburg Rusia (photo:theage.com.au)
Presiden Vladimir Putin dan Barack Obama di sela-sela Forum G20, st Petersburg Rusia (photo:theage.com.au)

Suasana tegang menyelimuti pertemuan  pemimpin dunia di forum G20, St Petersburg, Rusia.  Presiden Rusia, Vladimir Putin secara terbuka mengancam Presiden Amerika Serikat Barack Obama soal Suriah. Dilansir Russia Today, Jumat (06/09/2013), usai memastikan Obama membatalkan pertemuan empat mata, Presiden Putin mengatakan Rusia mungkin akan datang untuk membantu Suriah menyerang AS.


“Pesan kami adalah, jika Anda menyerang sekutu kami, maka kami mungkin akan datang,” tegas Putin.

Pernyataan terkeras Putin itu ditanggapi serius oleh Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS, Jenderal Martin Dempsey. Dilansir FoxNews, Pentagon telah memprediksi bahwa serangan militer AS ke Suriah bisa berubah menjadi perang asimetris antara AS dan Rusia.

“Kemungkinan terjadi baku tembak dengan tentara Rusia sangat terbuka, karena kita menyerang sekutu mereka,” jelas Dempsey.

Kongres AS  juga terkejut mendengar ancaman Putin. Anggota Kongres dari Partai Republik, George Holding, dalam pertemuannya dengan para jenderal Pentagon, mengatakan jika pilihan serangan militer ke Suriah dilakukan, harus dipikirkan apa yang akan dilakukan AS jika Rusia memutuskan untuk ikut menyerang.

“Sikap dan pernyataan Presiden Putin jelas menunjukkan Rusia sepertinya punya pilihan untuk menyerang kita di arena pertempuran sebagai balasan bagi AS karena kita  menghantam sekutu kuat mereka di Timur Tengah,” ujar Holding.

Menjawab kekhawatiran itu, Jenderal Dempsey menolak untuk memberikan jawaban, Ia hanya berharap hal itu tidak akan terjadi, meski peluang Rusia terlibat dalam perang cukup terbuka.
“Rusia memiliki kemampuan seperti perang asimetris, termasuk cyber dan akhirnya bisa berujung pada senjata nuklir strategis. Tapi saya tidak mau berspekulasi dulu soal itu,” pungkas Dempsey. (jurnal3.com).

Rusia dan Ukraina di Ambang Perang

http://jakartagreater.com/rusia-dan-ukraina-di-ambang-perang/

 
Pasukan Rusia mulai memasuki Ukraina, setelah Permintaan Vladimir Putin disetujui Parlemen (photo: Reuters)
Pasukan Rusia mulai memasuki Ukraina, setelah Permintaan Vladimir Putin disetujui Parlemen (photo: Reuters)
Majelis atas parlemen Rusia menyepakati permintaan Presiden Vladimir Putin agar pasukan Rusia digunakan di Ukraina. Putin meminta agar pasukan Rusia dikerahkan “sampai kondisi politik di negara itu normal.” Armada Laut Hitam Rusia bermarkas di Krimea, Ukraina, merupakan tempat banyak etnik Rusia tinggal.
Atas tindakan Vladimir Putin itu, pemerintahan baru Ukraina memperingatkan kemungkinan perang dan menempatkan pasukannya dalam siaga tinggi serta meminta bantuan NATO.

Pernyataan terbuka Putin tentang hak untuk mengirim pasukan ke negara berpenduduk 46 juta di Eropa Tengah itu menciptakan konfrontasi terbesar antara Rusia dan Barat sejak Perang Dingin.

Perdana Menteri Ukraina, Arseny Yatseniuk, yang memimpin pemerintahan setelah mengambil alih kekuasaan dari sekutu Moskwa -Viktor Yanukovich- yang melarikan diri minggu lalu, mengatakan tindakan militer Rusia itu “akan menjadi awal perang dan akhir dari setiap hubungan Ukraina dan Rusia”.

Penjabat Presiden Ukraina, Oleksander Turchinov, memerintahkan pasukan untuk ditempatkan pada siaga tempur tinggi. Menteri Luar Negeri Andriy Deshchytsya mengatakan, ia telah bertemu dengan para pejabat Eropa dan AS dan mengirim permintaan kepada NATO untuk “mengkaji segala kemungkinan untuk melindungi integritas teritorial dan kedaulatan Ukraina”.

Pasukan Rusia akan berada di Ukraina sampai kondisi politik negara itu dinyatakan normal (photo: BBC)
Pasukan Rusia akan berada di Ukraina sampai kondisi politik negara itu dinyatakan normal (photo: BBC)

Langkah Putin itu merupakan penolakan langsung terhadap para pemimpin Barat yang berulang kali mendesak Rusia untuk tidak melakukan intervensi, termasuk Presiden AS Barack Obama, yang sehari sebelum menyampaikan pidato di televisi guna memperingatkan Moskwa soal “ongkos” jika Rusia beraksi.
Pasukan tanpa lencana di seragam mereka tetapi diyakini tentara Rusia, beberapa menggunakan kendaraan dengan nomor plat Rusia, telah menyerbu Crimea, sebuah semenanjung terpencil di Laut Hitam di Armada Laut Hitam Rusia bermarkas. Pihak berwenang baru di Kiev tidak berdaya untuk menghentikan mereka.

Presiden Barack Obama telah menyampaikan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa Rusia telah melanggar hukum internasional dengan mengirimkan pasukan ke Ukraina. Dalam sebuah pembicaraan telepon selama 90 menit pada Sabtu, Gedung Putih mengatakan Obama “menyatakan keprihatinan yang mendalam terkait pelanggaran nyata Rusia terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina itu.”

Gedung Putih mengatakan, AS menangguhkan persiapan bagi sebuah pertemuan negara-negara industri di Rusia pada Juni mendatang. “AS menyerukan kepada Rusia untuk meredakan ketegangan dengan menarik kembali pasukannya ke pangkalan di Krimea dan menahan diri dari campur tangan di wilayah lain di Ukraina,” tegas pernyataan Gedung Putih.

Obama memperingatkan bahwa pelanggaran kedaulatan Ukraina “akan berdampak negatif pada posisi Rusia dalam komunitas internasional,” dan bahwa AS “akan menangguhkan partisipasi dalam pertemuan untuk G-8 mendatang,” kata pernyataan itu.

Rusia Raih Kontrol

Pasukan Rusia memperkuat kontrol mereka atas Crimea dan kerusuhan menyebar ke wilayah lain Ukraina, Sabtu. Para demonstran pro-Rusia bentrok dengan para pendukung pemerintah baru Ukraina dan mengibarkan bendera Rusia di atas gedung-gedung pemerintah di beberapa kota.
“Ini mungkin situasi yang paling berbahaya di Eropa sejak Soviet menginvasi Cekoslowakia tahun 1968,” kata seorang pejabat Barat yang tidak mau disebut namanya. “Secara realistis, kita harus mengasumsikan Crimea berada di tangan Rusia. Tantangannya sekarang adalah untuk mencegah Rusia mengambil alih wilayah berbahasa Rusia di Ukraina timur.”
Putin meminta parlemen untuk menyetujui penggunaan pasukan “terkait situasi luar biasa di Ukraina, ancaman terhadap kehidupan warga Federasi Rusia, rekan-rekan kita” dan untuk melindungi Armada Laut Hitam di Crimea.
Majelis tinggi parlemen Rusia secara cepat dan dengan suara bulat menyatakan “setuju” atas permintaan itu. Hal itu ditayangkan langsung di televisi.
Negara-negara Barat pun bergegas memberi tanggapan tetapi hal itu sebatas pada kata-kata. Seorang pejabat AS mengatakan, Menteri Pertahanan Chuck Hagel telah berbicara dengan mitra Rusia-nya, Sergei Shoigu. Pejabat itu mengatakan, sejauh itu belum ada perubahan dalam postur militer AS.
Kepala urusan luar negeri Uni Eropa, Catherine Ashton, mendesak Moskwa untuk tidak mengirim tentara. Menteri Luar Negeri Swedia, Carl Bildt, mengatakan itu “jelas melanggar hukum internasional”. Presiden Ceko, Milos Zeman, menyamakan krisis itu dengan invasi tahun 1968 ke Cekoslowakia.
“(Ada) kebutuhan mendesak untuk meredakan ketegangan di Crimea,” kata Sekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen, lewat kicauan di Twitter. “Para sekutu NATO terus berkoordinasi secara erat.”

Pasukan Rusia resmi memasuki Ukraina setelah permintaan Vladimir Putin disetujii Parlemen

Pasukan Rusia resmi memasuki Ukraina setelah permintaan Vladimir Putin disetujui Parlemen

Sementara itu, Putin mengatakan, permintaannya terkait otorisasi penggunaan kekuatan di Ukraina akan berlangsung “sampai terjadi normalisasi situasi sosial-politik di negara itu”.

Justifikasinya, yaitu kebutuhan untuk melindungi warga Rusia, sama seperti yang ia gunakan saat melancarkan invasi ke Georgia tahun 2008.

Sejauh ini belum ada tanda-tanda aksi militer Rusia di Ukraina di luar Crimea, satu-satunya wilayah negara itu yang berpenduduk mayoritas etnis Rusia, dan sudah sering menyuarakan niat untuk memisahkan diri.

Sementara itu di Independence Square di pusat kota Kiev, di mana para demonstran telah berkemah selama berbulan-bulan saat melawan Yanukovich, sebuah film Perang Dunia II tentang Crimea sedang ditampilkan di layar raksasa, ketika Yuri Lutsenko, mantan menteri dalam negeri, menyela untuk mengumumkan keputusan Putin. “Perang telah tiba,” kata Lutsenko. Ratusan warga Ukraina di alun-alun itu pun bernyanyi, “Kemuliaan bagi para pahlawan. Kematian bagi para penjajah”. (Kompas.com).



Analisis

01-05-2009
AS

Memahami Recana Besar Obama 2012

Penulis : Hendrajit
http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=157&type=4#.Ux7aE86JmSo












Sejak memasuki Gedung Putih, Presiden Amerika Serikat Barrack Obama memang segera melakukan beberapa gebrakan dengan merubah beberapa kebijakan dan langkah strategis yang secara fundamental berbeda dengan pendahulunya mantan Presiden George W. Bush.

Mukadimah
Mari kita telusur satu-persatu. Menghentikan semua proses hukum atas para tawanan di Guantanamo. Bahkan sekaligus mencanangkan penutupan penjara Guantanamo. Berkaitan dengan hubungan Amerika-Cina yang berada dalam situasi penuh ketegangan semasa pemerintahan Bush, Obama telah memberi isyarat ke arah hubungan yang lebih harmonis, dengan mengedepankan hubungan ekonomi.

Berkaitan dengan dengan negara-negara Uni Eropa yang selama 8 tahun terakhir dibuat jengkel dengan kebijakan  poliitik luar negeri Amerika yang unilateral(sepihak), Obama pun menyerukan hubungan harmonis baru Trans-Atlantik.

Dengan negara-negara Islam, nah ini dia yang juga tak kalah menarik. Doktor ilmu hukum alumni Universitas Harvard ini juga memberi sinyal positif untuk merangkul dunia Islam. Indikasinya, melakukan kunjungan ke Turki dan menawarkan dialog tanpa syarat kepada Iran.

Dalam menyikapi isu konflik Israel-Palestina, Obama secara aktif memainkan peran sebagai mediator dengan memprakarsai lahirnya sebuah blueprint (Cetak biru) sebagai sebuah model hubungan yang berdampingan secara damai antara Pelestina dan Israel.

Mengenai isu perseteruan historis antara Amerika versus Kuba di kawasan Amerika Latin yang mulai memuncak semasa kepresidenan John F Kennedy di awal 1960-an, Obama secara mengagetkan telah mengeluarkan kebijakan mengizinkan pengiriman uang dan pergerakan warga Amerika-Kuba.

Dan yang tak kalah spektakuler, mengirik sinyal positif mengenai keinginannya membuka hubungan baru yang bersahabat dengan Amerika Latin, bahkan termasuk dengan pemimpin sayap kiri.

Jangan Percaya Sihir Dunia ObamaKalau menyimak beberapa progress report Obama di awal tulisan tadi, memang seluruh warga dunia dibuat berdecak kagum atas beberapa gebrakan Obama dalam bidang keamanan nasional politik luar negeri.

Namun ketika membaca sebuah buku karya Weal Aheon bertajuk Membongkar Rencana Besar Obama 2012, sontak kita dipaksa untuk mengkaji ulang sepak-terjang Obama yang bikin dia populer dan mengundang puja-puji dari seluruh warga dunia.

Betapa tidak. Dalam cover buku ini saja, penulis sudah memprovokasi pembaca dengan pertanyaan kunci, ”Apakah ia sang juru selamat resesi dunuia? Benarkah kekuatan Yahudi di Belakangnya? Bagaimana ia mendapat dana kampanye US$58 juta dalam waktu 6 bulan?

Dari pertanyaan provokatif di awal tulisan, Weal Aheon, sudah menggiring pembaca pada opini bahwa krisis global yang melanda dunia menjelang pemilihan presiden Amerika November lalu, merupakan by-design untuk menghantarkan kemunculan Obama ke pentas politik dunia internasiona.

Sayangnya di bukunya ini pembaca tidak punya gambaran yang jelas mengenai jati diri si penulis karena tidak ada riwayat hidup atau rekam jejak karir si penulis di bagian akhir buku.

Namun terlepas dari kejanggalan tersebut, beberapa analisisnya cukup membuat orang terhenyak.

Weal Aheon mulai dengan mengemukakan satu keanehan menyusul kemenangan Obama atas John McCain. Obama memenangi pertarungan dengan meraih 349 electoral vote dibanding McCain yang hanya meraih 162.  Sedangkan ”Suara Rakyat” (popular vote) Obama meraih 52,3% sedangkan McCain 46,4%. Jelas dari fakta ini Obama menang telak.

Lalu dimana keanehannya? Populasi Afro-Amerika(bangsa Amerika keturunan Afrika) di Amerika hanya berkisar 15 percen. Namun hasil penelitian orang kulit putih yang memberikan suara kepada Obama sekitar 45 persen. Sedangkan McCain 55 persen.

Sedangkan kulit hitam yang memilih McCain tidak sampai 4 persen. Bagi si penulis buku fakta ini merupakan keanehan yang menakjubkan alias mission impossible.

Ada satu lagi keanehan. Dalam waktu 21 bulan, Obama telah berhasil memobilisasi dana kampanye sebesar US$ 700 juta atau sekitar 7,7 triliun rupiah.

Ini jelas menakjubkan di kala Amerika justru sedang dilanda krisis. General Motor, salah satu perusahaan otomotif di Amerika Serikat menuju keadaan pailit. Betapa tidak. Krisis finansial menghancurkan Wall Street pada Juli 2007 ketika pasar saham dunia bergolak akibat gagal bayar kredit perumahan (subprime mortage).

Bank investasi dan jasa sekuritas yang berusia 158 tahun dan terbesar keempat di Amerika Serikat, Lehman Brothers, telah menyatakan bangkrut pada September 2008.

Bank lain yang mengalami kebankrutan adalah Bears Stearns, Northren Rock, Fannie Mae, Freddie Mac, Washington Mutual Inc(Wamu) dan perusahaan broker terbesar di Amerika Merril Lynch &Co.

Iniliah sisi aneh dari kemenangan Obama, termasuk kisah keberhasilan dirinya menggalang dana triliunan rupiah di tengah krisis finansial global. Ini jelas jadi pertanyaan dari mana dia dapat dana sebesar itu?

Negara-negara Eropa terkena dampak dari resesi yang terjadi di Amerika. Lalu ketika para konglomerat Amerika lagi pada bangkrut dan negara-negara Eropa dan bahkan Cina maupun  Jepang pun mengalami kemacetan ekonomi akibat dampak krisis finansial global, lalu darimana Obama dapat galang dana sebesar itu?

Weal Aheon hanya punyan satu jawaban, adanya dukungan dana dari Yahudi yang berada dalam kendali jaringan Freemason dan Iluminati yang telah merger alias dilebur jadi satu, yaitu Zionisme Internasional.

Kelompok yang tergabung dalam Zionisme Internasional inilah yang konon telah menguasai dan mengatur lebih dari 70 persen ekonomi dan keuangan dunia.

Ini menarik. Karena di bagian lain bukunya, Aheon menginformasikan bahwa Lehman Brothers yang sudah bangkrut pada 2008 lalu itu, ternyata didirikan oleh seorang Yahudi Jerman, yang beremigrasi ke Amerika pada 1844. Dialah Henry Lehman.

Usaha bisnis kelompok Yahudi Jerman ini berkembang dan menuai akhir perjalanannya saat lembaga itu di bawah seorang CEO, Richard Fuld, yang bergabung sejak 1969.

Zionisme Internasional sebagai jaringan komunitas pelaku bisnis asal Yahudi, diyakini oleh berbagai kalangan berada dalam orbit pengaruh Freemason dan Iluminati.

Ternyata di Freemason dan Iluminati ini ada tiga lingkaran. Di lingkaran Supranatural/Metafisik yang memberi dukungan alam gaib terhadap misi politik dan ekonomi kelompok ini, yang bermain di arena pemerintahan dan sektor bisnis seperti pertanian, industri dan perbankan.

Inilah yang diyakini penulis buku telah menjadi kekuatan terselubung (invisible hand) dalam memangi Obama. Alhasil, penulis buku yakin bahwa Obama pada hakekatnya telah berhutang sebesar Rp 7,7 triliun kepada para pendonor dana kampanyenya tersebut.

Karena itu, masuk akal jika kita ingin tahu apa agenda tersembunyi kelompok Zionisme Internasional tersebut.

Satu Tatanan Dunia Baru Dalam Satu Pemerintahan

Pada dasarnya, program kerja Zionisme Internasional adalah gabungan dari rencana kerja Freemason dan Iluminati. Namun selalu disesuaikan dan disempurnakan sesuai dengan perkembangan zaman. Namun tujuan utamanya tetap sama.

Sekadar informasi, Zionisme Internasional tujuan akhirnya bukan mendirikan negara Israel yang sudah terwujud pada 14 Mei 1948. Melainkan membuat rencana berskala internasional untuk menguasai dunia seluruhnya. Dan metode yang ditempuh tidak selalu harus melalui invasi militer seperti yang dilakukan oleh Bush ke Afghanistan dan Irak. Berbagai cara-cara diplomatik, intelijen maupun pendekatan-pendekatan non-militer, menjadi suatu hal yang lebih prioritas.

1.  Menghapus indentitas Agama dan menggantinya dengan Spiritual Universal sebagai Agama tunggal internarnasional.
2.   Mengutamakan Sekularisme atau faham keduniawian.
3. Memunculkan aliran-aliran kebatinan/okultisme yang tidak jelas basis syariat keagamaannya seperti Islam, Kristen atau Agama Tauhid Yahudi yang merujuk pada Nabi Ibrahim.
4.    Menguasai politik, untuk membentuk Tatanan Dunia Baru(New World Order).
5.  Globalisasi Bidang Keuangan, dengan tujuan menyatukan mata uang dunia, atau System Moneter dunia.
6.    Memberi pinjaman uang dengan syarat yang mengikat.
7.    Monopoli perdagangan dunia melalui kemajuan teknologi.
8.    Pengaturan pendidikan berkesinambungan, sejak anak-anak.
9.    Penguasaan di bidang budaya.
10.   Mendukung dan mengondisikan pandangan mengenai Sex Bebas.
11.   Hak hidup bersama antara pria dan wanita, tanpa ikatan sebuah pernikahan atau keluarga.
12.    Hak melakukan pencegahan kehamilan, baik pasangan suami-istri yang sah maupun tidak.
13.    Aborsi disahkan.
14.    Euthanasia atau membunuh dengan alasan perikemanusiaan lewat kedokteran dibenarkan.
15.    Bunuh diri lewat dokter atau obat(suntik) adalah hak azasi manusia.
16.    Perceraian adalah hak masing-masing pribadi.
17.    Homosex dan Lesbi, adalah pilihan perorangan yang perlu dihormati.
18.    Hak reproduksi perempuan. Artinya perempuan berhak menolak untuk hamil dan melahirkan. Juga berhak untuk melakukan hubungan sex, sekaligus memiliki hak untuk melakukan sex dengan pria lain.

Sebenarnya masih ada enam pasal lagi yang tercakup dalam 24 pasal utama Zionisme Internasional. Namun berkaaitan dengan agenda besar Obama 2012 sebagaimana menjadi landasan pemikiran buku ini, praktis yan harus dicermati adalah 9 pasal pertama. Sedangkan yang ke 10 dan selanjutnya adalah beberapa aspek  yang berkaitan dengan moral dan ahlak manusia. Sedangkan 9 pasal pertama berkaitan dengan panduan bagi kelompok ini sebagai pijakan dalam menyusun kebijakan strategis di bidang politik, ekonomi-bisnis, pertahanan dan kebudayaan.

Waspadai Pasal 8 dan 9 Dalam Mempengaruhi Keluarnya UU BHP

Berkaitan dengan Indonesia, dengan menyimak 9 pasal pertama, maka keluarnya UU Badan Hukum Pendidikan menjadi relevanj, karena di pasal 8 dan 9. Karena di situ ditekankan perlunya pengaturan pendidikan berkesinambungan, sejak anak-anak. Dan pasal 9 yang menaruh prioritas pada pentingnya penguasaan di bidang kebudayaan.

Jika kita cermati strategi kebudayaan Freemason dan Iluminati yang tercermin di beberapa pasal awal Zionisme Internasional, maka lingkaran Supranatural dari jaringan inilah yang sangat memainkan peranan besar.

Fenomena kebatinan dan okultisme di Indonesia belakangan semakin marak. Bahkan acara-acara televisi pun banyak membuat acara beraroma alam gaib yang bertumpu pada aliran ilmu hitam/black magic. Suatu aliran yang ditentang oleh para Ulama dan Kyai Tasawuf karena menafikan ketentual Allah SWT dalam menentukan takdir manusia dan alam semesta.

Selain itu, dalam mendukung strategi kebudayaan Zionisme Internasional ini, Demokrasim dan Hak-hak azasi manusia menjadi perangkat utama mereka.

Caranya, lewat lembaga-lembaga independen serta lewat pemerintahan yang berada dalam kendali jaringan terselubung dari Zionisme Internasional.

Garis-Garis Besar Tujuan Rahasia Freemason dan Iluminati

Puncak target dari Kelompok Zionisme Internasional ini tercantum dalam Garis-Garis Besar Tujuan Rahasia Freemason dan Iluminati.
1.    Pemerintahan Negara dikuasai.
2.    Hak Milik Pribadi/Keluarga dihapus.
3.    Meniadakan Harta Warisan orang tua.
4.    Mengikis habis rasa Patriotisme.
5.    Memusnahkan semua Agama dan Mendirikan Spiritual Universal.
6.   Keberadaan keluarga ditiadakan, dengan cara menghapuskan hukum pernikahan., sekaligus menganjurkan sex bebas.
7.    Membentuk satu pemerintah
an dunia.

Penguasaan dunia di bidang ekonomi, keuangan, politik, senjata dan agama kiranya perlu dicermati secara intensif. Termasuk berbagai produk hukum yang lahir di Indonesia melalui DPR selama periode 2004-2009 maupun 2009-2014. Terbukti bahwa dalam pembuatan berbagai UU, para pakar dari USAID maupun beberapa NGO asing, terlibat secara aktif sebagai konsultan para anggota DPR di berbagai komisi dalam perumusan beberapa UU seperti MIGAS, Badan Hukum Pendidikan dan UU lainnya yang berkaitan dengan bidang Ekonomi dan Bisnis.

Berkaitan dengan membentuk pemerintahan dunia maupun penguasaan pemerintahan negara, maka blueprint dan roadmap Obama dalam menata ulang konstalasi di kawasan Timur Tengah menjadi isu strategis yang harus dimonitor secara terus-menerus.

Maka bukan tidak mungkin pintu masuk Obama untuk menata ulang Timur Tengah secara geopolitik dan geostrategis adalah dengan memainkan peran aktif sebagai mediator antara Palestina dan Israel.

Dalam skema besar Zionisme Yahudi yang mana pembentukan negara bangsa Israel bukanlah tujuan utama melainkan penguasaan pemerintahan dunia melalui Amerika, maka tidak masalah bagi kelompok ini untuk mengorbankan Israel dalam mewujudkan agenda tersembunyi mereka di Timur Tengah. Dengan memberi kesan bahwa Obama lebih condong mendukung aspirasi Palestina dibanding Israel, namun Obama justru menggunakan kesempatan ini untuk mewujudkan agenda strategis Zionisme Internasional di Timur Tengah, yaitu penguasaan sumber-sumber minyak yang berlokasi di negara-negara Arab yang beragama Islam.

Dan ini logis, karena beberapa waktu yang lalu dalam suatu pertemuan di Yogyakarta Maret 2008, penyumbang dana kampanye Obama terbesar berasal dari perusahaan korporasi yang bergerak dalam Industri perminyakan. Salah satunya adalah ExxonMobile.

Suatu fakta penting yang memperkuat anggapan umum bahwa Amerika akan semakin memperkuat kepentingannya untuk menguasai Timur Tengah.

Benarkah kekhawatiran Amien Rais bahwa Obama jangan-jangan bakal menjadi perwujudan dari American Imperium with blakc face?
 

Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)]

Barrack Obama dan Watak Dasar Politik Luar Negeri Amerika
Penulis : A.S. Laksana


Sejauh mana Barack Obama akan membawa Amerika? Ini pertanyaan yang terus mengusik saat kita mencermati langkah-langkah yang ia lakukan di masa-masa awal kepemimpinannya.
http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=170&type=4#.Ux7cSc6JmSo 

Sejauh mana Barack Obama akan membawa Amerika? Ini pertanyaan yang terus mengusik saat kita mencermati langkah-langkah yang ia lakukan di masa-masa awal kepemimpinannya: ia memerintahkan penutupan penjara-penjara bawah tanah NATO di Eropa, menutup penjara Guantanamo yang menjadi tempat penyiksaan, mendeklasifikasi memo presiden George W. Bush yang mengizinkan “penyiksaan” terhadap para tawanan, dan ia menawarkan komunikasi yang lebih waras dan lebih produktif dengan negara-negara lain yang sejauh ini masuk dalam kategori musuh-musuh Amerika. Ia cakap dan percaya diri dalam menjalankan keputusan-keputusannya. Dan ia pintar berkomunikasi. “Anda bisa mengharapkan upaya tak kenal lelah dari pemerintahan ini untuk meningkatkan kemakmuran dan keamanan kita pada seratus hari kedua, seratus hari ketiga, dan seluruh hari sesudahnya,” katanya pada Rabu (29/4) lalu dalam pidato 100 hari pertamanya memimpin pemerintahan. Rakyat Amerika menaruh keyakinan pada langkah-langkahnya; jajak pendapat paling akhir oleh Gallup memberi persetujuan kepada Obama sebesar 65 persen.
Sebelumnya, di masa kampanye, ia telah menunjukkan dirinya sebagai seorang komunikator hebat yang berhasil meyakinkan mayoritas warga Amerika untuk memilih dirinya dan mempercayakan kursi kepresidenan kepadanya. Itu proyek mahabesar bagi seorang warga negara keturunan Afrika yang menyandang nama “lucu”—istilah yang digunakannya sendiri dalam buku yang ditulisnya—sebuah nama yang menyiratkan akar keislaman dari pihak ayahnya, dan ia berhasil secara gemilang dalam proyek tersebut. Dan keberhasilannya menjadi orang nomor satu di Gedung Putih, bagaimanapun, telah membangkitkan sensasi dan harapan tertentu dalam dunia kepolitikan Amerika hari ini dan itu meluas hingga ke berbagai belahan dunia.
Dalam masa seratus hari pertamanya, dunia melihat penampilan seorang presiden Amerika yang jauh berbeda dari presiden sebelumnya, George Walker Bush, yang mengkhayalkan dirinya sebagai pemimpin “Perang Salib” modern saat menggaungkan perang melawan terorisme—apa pun yang ia namakan terorisme itu. Obama membuka komunikasi. Bush mengesankan dirinya sebagai orang yang hanya mau tahu apa yang ada dalam benaknya sendiri, apa yang ia inginkan, dan bagaimana itu diwujudkan apa pun alasannya, bahkan ketika alasan itu pun terbukti ketidakbenarannya. Dan Bush bukan satu-satunya presiden Amerika yang seperti itu. Kita mengenal nama Lyndon B. Johnson yang membuat alasan palsu untuk menggempur Vietnam dan Laos, Nixon untuk Cile dan Kamboja, Reagan untuk Nikaragua dan El Salvador, dan sebagainya.1) Ada puluhan manuver dan intervensi Amerika dan itu sering melibatkan alasan palsu oleh pemerintahan yang sedang berkuasa.
Sampai berakhirnya abad kedua puluh, Amerika tercatat telah mengirimkan lebih dari 250 juta serdadunya untuk berperang di negara-negara lain; dan dalam rentang waktu setelah PD II hingga saat ini, AS adalah negara yang paling banyak mengobarkan peperangan di negara lain. Jumlah itu tentunya telah bertambah lagi dengan perang yang dikobarkan George Walker Bush di Afghanistan dan Irak di awal abad ke-21.
Kini kita melihat Obama yang menawarkan “bahasa” yang berbeda dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa lain. Obama seperti memiliki kesediaan untuk berkomunikasi dengan bahasa yang digunakan oleh lawan bicaranya dan membawa pembicaraan ke tingkat yang lebih konstruktif. Karenanya tidak mengherankan bahwa kita bisa mengharapkan munculnya babak baru dalam hubungan Amerika dengan negara-negara seperti Kuba, Venezuela, dan bahkan arah yang membaik dalam diplomasi dengan Iran.
Setidaknya Obama menawarkan sebuah pola komunikasi yang tidak kita jumpai pada beberapa pendahulunya yang gemar menempatkan diri sebagai pusat penilaian “baik-buruk”, yang karena itu cenderung melakukan campur tangan dan mengirimkan pasukan untuk berperang. Obama memiliki kemampuan luar biasa untuk membangun kedekatan dengan siapa pun ia berbicara; ia memiliki kecakapan sebagai seorang komunikator ulung yang mampu mengubah perilaku orang lain. Jika kita melihat bagaimana Presiden Venezuela, Hugo Chavez, menyodorkan jabat tangan kepadanya, maka di sana kita melihat bagaimana Tuan Presiden telah membuat dirinya bisa diterima oleh pihak yang semula menegaskan sikap kerasnya kepada Amerika.
Apakah Obama sebuah anomali? Sejauh ini, ya. Terutama jika kita melacak jauh ke belakang riwayat sepak terjang Amerika di berbagai negara di hampir seluruh belahan bumi, yang dimulai dengan manuver CIA pada mulanya, dilanjutkan kemudian dengan pengiriman tentara setelah “alasan” ditemukan, dan diakhiri dengan terbentuknya pemerintahan baru di negara bersangkutan yang menopang kepentingan Amerika. Jika intervensi gagal melahirkan pemerintahan baru, maka Amerika akan melakukan berbagai upaya untuk menjatuhkan sanksi dan pengucilan kepada negara yang bersangkutan.

Tiga Pilar Amerika
Intelijen, militer, dan industri. Itulah tiga pilar yang sejauh ini melandasi kepentingan Amerika dengan politik luar negeri yang dijalankannya, terutama yang berkaitan dengan negara-negara Dunia Ketiga. Dan itu adalah tiga pilar yang selalu memerlukan musuh. Militer dan CIA memerlukan musuh sebagai alasan bagi keberadaan mereka. Industri, terutama kontraktor pertahanan, memerlukannya karena musuh harus diperangi, dengan persenjataan canggih dan sistem pertahanan udara; dan musuh dari musuh mereka harus dipersenjatai.
Kekayaan korporasi ini menjadi melambung, melebihi kekayaan sejumlah negara di dunia. Para eksekutif korporasi-korporasi ini menikmati kelimpahan berkat penunjukan diri sendiri sebagai polisi dunia. Kekayaan dan pengaruh mereka, didampingi dengan ketundukan media yang diperlukan untuk memelihara dan mengekalkan ketakutan, dulu terhadap “komunisme” dan kini “terorisme”, telah berlangsung berpuluh tahun dan makin menguat. Tiga pilar itu mengandung sifat alami yang menyebabkan intervensi terhadap musuh-musuh tidaklah terhindarkan.
Dalam kasus-kasus seperti Grenada, El Salvador, dan Nikaragua, sekalipun target intervensi tidak menjanjikan kesempatan ekonomi yang berlimpah bagi multinasional Amerika, CIA dan angkatan perang Amerika merasa tetap wajib turun tangan. Retorika dan program sosialis-revolusioner selalu merupakan ancaman yang harus disetop demi memelihara prinsip, dan juga sebagai peringatan bagi yang lain. Kasus-kasus dengan negara-negara kecil itu, yang terjadi berulang-ulang, menunjukkan betapa takutnya Amerika terhadap munculnya “contoh baik” dari Dunia Ketiga: lahirnya sebuah masyarakat mandiri yang tidak terikat pada Washington.
Di masa perang dingin, setiap pemerintahan dan gerakan yang mencanangkan program dan retorika semacam itu jelas tidak bisa menjadi sekutu Amerika. Negara yang tidak bisa dijadikan sekutu dalam Perang Dingin dengan segera dinyatakan sebagai “komunis”. Untuk memerangi itu diciptakanlah kemudian istilah tandingannya, yakni “keamanan nasional”. Ini sebuah gerak meliuk yang semata-mata bertolak dari pepatah: jika komunis tidak ada, Amerika harus menemukannya.
Dengan frase “keamanan nasional” sebagai alasan, kosakata “komunis” (dan juga “Marxis”) telah dimanfaatkan secara berlebihan, dan diselewengkannya sedemikian rupa, oleh pemimpin-pemimpin Amerika dan media massa sehingga menjadi benar-benar tidak bermakna. Kita sendiri sendiri pernah mengalami periode seperti itu di masa Orde Baru, yakni ketika segala ekspresi kekecewaan atau diskusi buku bisa diteriaki: “Komunis!” Musuh memang perlu diberi nama, dan juga ciri-ciri, dan dengan menyerukannya setiap waktu—entah komunis atau tukang sihir—maka rasa takut bisa dikondisikan dan kita menjadi meyakini keberadannya.
“Kita harus melawan mereka,” kata para petinggi Amerika. Dan “mereka” bisa berarti para petani di Filipina, pelukis mural di Nikaragua, perdana menteri yang terpilih dalam pemilu di Guyana Inggris, intelektual Eropa, orang-orang Kamboja yang netral, dan kaum nasionalis Afrika, dan siapa saja yang dikehendaki oleh Amerika. Mereka menjadi bagian dari konspirasi sepihak, dan dicitrakan sebagai ancaman bagi pandangan hidup bangsa Amerika. Pada masa perang dingin, tidak ada ancaman lain yang lebih menakutkan kecuali “ancaman komunis”. Pada masa sekarang, tidak ada yang lebih mengerikan ketimbang “ancaman teroris”, sehingga George Walker Bush sampai menyerukan perang salib dan menimpakan kehancuran Irak dan Afghanistan. (Di tulisan lain nanti, kita akan melihat alasan bohong di balik misi penyerbuan Amerika kepada dua negara tersebut.)

Mentalitas Konspirasi
Berkenaan dengan “komunisme”, ketika nama sudah diberikan dan ketakutan ditingkatkan, langkah selanjutnya adalah menemukan ciri-ciri umum mereka yang pantas diperangi. Maka, kita tiba pada pertanyaan selanjutnya: apa kesamaan pada setiap negara yang kemudian menjadi target gempuran dan patut dihujani bom oleh negara paling kuat di dunia itu?
Dalam setiap kasus di Dunia Ketiga, mereka pantas dijadikan sasaran ketika membuat Amerika tidak nyaman dengan kebijakan “berdiri di atas kaki sendiri”. Kita pernah mencatat suatu masa ketika negara Dunia Ketiga dikobarkan oleh gairah dan semangat untuk memerdekakan diri dari kolonialisme Barat dan ingin berdiri bebas di antara dua kekuatan yang sedang bersitegang. Itu semangat zaman yang menampilkan manifestasi umumnya dalam bentuk: (1) ambisi untuk memerdekakan diri dari ketergantungan ekonomi dan kepatuhan politis kepada Amerika, (2) keengganan untuk meminimalisasi hubungan dengan blok sosialis, atau keengganan untuk menekan kaum kiri di negeri sendiri, atau penolakan untuk membuka diri terhadap instalasi militer AS di negeri mereka, (3) munculnya upaya untuk mengganti pemerintahan yang tidak menjalankan semua cita-cita ini.
Amerika memiliki tafsirnya sendiri dalam menghadapi negara-negara yang mengembangkan gairah seperti ini: mereka adalah anti-Amerika. Dalam cara pandang seperti ini, kecenderungan untuk menjaga netralitas oleh sebuah negara sudah bisa melahirkan tudingan pro-komunis. Sepanjang berlangsungnya perang dingin, berulang kali AS menunjukkan ketidaksiapan dirinya untuk menghadapi sikap netral yang ditunjukkan oleh pemimpin negara-negara Dunia Ketiga, dan juga ketidaksenangannya terhadap retorika dan gerakan revolusioner di negara-negara tersebut. Mossadegh dari Iran, Soekarno dari Indonesia, Nkrumah dari Ghana, Sihanouk dari Kamboja, semuanya—menurut AS—harus menyatakan diri secara tegas berada di pihak “Free World”—dunia bebas yang dikomandani oleh Amerika. Ada konsekuensi serius jika mereka menolak ajakan itu.
Terhadap tekanan dari pihak Barat ini, Kwame Nkrumah, presiden Ghana tahun 1960-1966, menyatakan pendapatnya sebagai berikut: “Eksperimen yang kami coba di Ghana pada intinya adalah membangun negara dalam kerjasama dengan dunia secara keseluruhan. Begitulah yang sebenarnya diserukan oleh non-blok. Kami tidak memusuhi negara-negara sosialis sebagaimana yang dilakukan oleh negeri-negeri bekas penjajah. Harap anda ingat, sementara Inggris mencoba mengembangkan hubungan damai dengan Uni Soviet, hal yang sama tidak boleh dilakukan oleh negeri-negeri bekas jajahannya. Buku tentang sosialisme, yang diterbitkan dan dijual bebas di Inggris, dilarang di negeri-negeri koloninya. Dan setelah Ghana menjadi negara merdeka, asumsi tersebut tak pernah berubah. Ghana yang merdeka diharuskan terus melakukan pendekatan ideologis yang restriktif seperti sebelumnya. Ketika kami melakukan hal yang sama dengan Inggris dalam berhubungan dengan negara-negara sosialis, kami dituduh sebagai pro-Rusia dan membawa ide-ide yang sangat berbahaya bagi Afrika.”
Situasi Dunia Ketiga yang digambarkan oleh Nkrumah itu mengingatkan kita pada situasi kelam bagian selatan Amerika di abad ke-19. Pada waktu itu banyak sekali budak-budak yang disengsarakan dan mereka kemudian memilih bergabung dengan teman-teman mereka di utara dalam perang saudara. Orang-orang kulit putih di selatan terus saja mempertahankan pemikiran bahwa orang-orang hitam itu seharusnya berterima kasih atas apa yang telah dilakukan oleh para majikan kulit putih mereka, dan mereka seharusnya berbahagia akan hal itu. Seorang dokter dari selatan, Samuel Cartwright, menyatakan bahwa banyak budak pada waktu itu yang menderita sakit jiwa, yang ia namakan “drapetomania”. Menurut diagnosanya, itu adalah penyakit jiwa yang disebabkan oleh hasrat tak terkendalikan untuk membebaskan diri dari perbudakan.
Di paruh kedua abad ke-20, penyakit yang sama dinamakan “komunisme”. Dan di permulaan abad ke-21, penyakit itu mungkin bernama “terorisme”.
Masih berkenaan dengan komunisme, di tahun 1960-an muncul laporan jenaka yang disampaikan oleh Komisi Nasional tentang Sebab-Musabab dan Pencegahan Tindak Kekerasan. Komisi ini melaporkan bahwa J. Edgar Hoover, seorang kriminolog yang bertahun-tahun menjabat sebagai direktur FBI, telah membantu menyebarluaskan pandangan di kalangan polisi bahwa protes massa, apa pun bentuknya, selalu punya hubungan dengan konspirasi yang digerakkan oleh para penghasut, dan tentu saja yang disebut penghasut ini adalah orang-orang komunis “yang gemar membuat penyesatan untuk menyenangkan publik.”
Kunci laporan itu ada pada frase terakhir, satu hal yang menunjukkan mentalitas konspirasi di kalangan pemegang kekuasaan. Mereka selalu beranggapan bahwa tidak seorang pun, kecuali berada di bawah pengaruh musuh, bisa menggerakkan protes massa. Protes terjadi pastilah karena hasutan dari luar, dari kaum komunis, yang mencoba menyesatkan mereka.
Yang patut anda beri perhatian, mereka lupa melihat bahwa selama ini CIA-lah yang paling banyak menebar hasutan di berbagai negara untuk membuat situasi tidak menentu dan pelbagai upaya penggulingan kekuasaan. Seluruh arsip negara yang sudah dideklasifikasi—bisa anda lihat pada situs Nastional Security Archive (NSA)—menunjukkan betapa gamblang dan kasarnya manuver-menuver yang dilakukan oleh CIA dalam membuat situasi sebuah negara karut-marut. Jika Reagan mengakui bahwa rakyat El Salvador memiliki alasan kuat untuk memberontaki nasib buruk mereka, maka kita patut mempertanyakan tuduhan yang ia sampaikan mengenai persekutuan Uni Soviet, Kuba, dan Nikaragua yang telah menghasut mereka. Dan dengan alasan itulah ia kemudian melakukan intervensi di El Salvador, dengan operasi-operasi pendahuluan oleh CIA untuk menyiapkan kebohongan ekstra-legal demi mendudukkan orang yang didukungnya di kursi puncak pemerintahan.

Petualangan Pasca Perang Dingin
Perang dingin praktis berakhir ketika Uni Soviet, yang oleh Ronald Reagan disebut “Evil Empire”, bubar di tahun 1991, sekitar 5 tahun setelah Mikhail Gorbachev, pemimpin Soviet, meluncurkan kebijakan Glasnost (keterbukaan) dan Perestroika (restrukturisasi). Maka, dunia menyaksikan bermulanya sebuah era baru yang tak lebih menenteramkan: era Polisi Dunia. Implikasinya sama saja; ketika musuh tak ada, Amerika harus menemukannya. Dan alasan harus selalu tersedia bagi Amerika untuk melanjutkan petualangan.
Di paruh akhir 1990-an, Washington sibuk melibatkan diri dalam upaya serius untuk mengendalikan pemilihan umum di negara-negara yang sebelumnya adalah blok Uni Soviet: Rusia, Mongolia, dan Bosnia. Di tahun 1999, mereka mengebom rakyat Serbia dan Kosovo selama 78 hari, yang terasa selama-lamanya. Perang Balkan telah meluluhlantakkan negeri-negeri di sana. Dan puncaknya, Republik Federasi Sosialis Yugoslavia, yang oleh Whasington disebut sebagai “komunis terakhir”, terpecah belah menjadi enam negara kecil-kecil.
Setelah episode Balkan, AS melakukan petualangan lainnya di musim gugur 2001 dengan ikut campur secara terang-terangan dalam pemilu di Nikaragua untuk menghambat kemenangan kelompok kiri. Pada saat yang sama, ia membombardir Afganistan, dan melanjutkan petualangannya dengan memberi kehancuran pada Irak.
Sambil melanjutkan kebiadaban terhadap Afganistan, Washington menyempatkan diri, di tahun 2002, untuk menyewa para pendukung yang ia butuhkan dalam upaya penggulingan Hugo Chavez dan pemerintahan populisnya di Venezuela. Sepanjang tahun-tahun itu, masih sambil mencekik Kuba setelah seabad berlalu pendudukan imperialis, AS menolak mengosongkan pangkalan militer Guantanamo. Ia mengubahnya menjadi kamp tahanan bagi tawanan ilegal dan malang, juga bagi sejumlah orang yang diculik dari berbagai tempat di seluruh dunia, dalam apa yang disebut-sebut sebagai Perang melawan Terorisme.
Tidak ada perdamaian setelah perang dingin usai. Selama hampir setengah abad para petinggi mencekoki rakyat mereka dengan indoktrinasi Perang Dingin, dan memaksa rakyat memerangi penduduk-penduduk negara lain dengan alasan yang tidak jujur. Anggaran militer membengkak begitu besar demi satu hal yang terus-menerus ditanamkan ke benak warga negaranya, yakni bahwa mereka sedang bertempur untuk memerangi ancaman yang sama: Konspirasi Komunis Internasional, markas besarnya di Moskow.
Tetapi Uni Soviet kemudian remuk. Pakta Warsawa juga lenyap. Negara-negara satelit Eropa Timur sudah menjadi negara merdeka. Bekas-bekas komunis itu bahkan sudah berubah haluan menjadi kapitalis.Tetapi sampai berakhirnya masa pemerintahan George Walker Bush, tidak ada yang berubah dengan politik luar negeri Amerika.
Bahkan NATO, pakta pertahanan yang didirikan untuk—konon—melindungi Eropa Barat dari serbuan Soviet, masih tetap tegak. Pasukan dan persenjataannya makin besar, dan ia menjadi kendaraan yang dilumasi terus-menerus sehingga bisa menggelinding mulus ke mana saja politik luar negeri Washington mengarahkannya. Amerika dan sekutu NATO-nya bertindak sebagai pemerintah pengganti atas negara-negara Balkan sebagai wilayah protektorat. AS juga memanfaatkan piagam perjanjian NATO sebagai alasan pembenar bagi para anggotanya untuk bergabung dengan AS dalam menyerbu Afganistan.
Di saat Rusia menutup basis-basis Perang Dingin mereka di Eropa Timur, Vietnam, dan Kuba, AS membuka pengkalan militer di wilayah-wilayah bekas Uni Soviet dan di negara-negara lainnya. Sementara Rusia menutup stasiun radio intelijennya di Lourdes, Kuba, AS membangun stasiun penyadap yang canggih di Latvia, tepat di perbatasan Rusia, sebagai bagian dari sistem penyadapan global Washington.
Segalanya menjadi permainan yang penuh tipuan. Uni Soviet dan apa yang disebut komunisme tidak pernah menjadi, dan memang sejauh ini bukan, objek serangan-serangan global Washington. Konspirasi Komunis Internasional adalah sihir yang diciptakan oleh Amerika. Musuh sebenarnya bagi Amerika selalu saja pemerintahan atau gerakan, atau bahkan perorangan, yang dianggap menghalangi ekspansi Imperium Amerika—apa pun sebutan yang diberikan oleh Amerika terhadap mereka: komunis, negara penjahat, pedagang narkoba, teroris, intelektual, artis, dan sebagainya. Anda ingat, John Lennon, pentolan grup musik The Beatles, adalah orang yang selama bertahun-tahun, dan sampai matinya, terus dikuntit oleh FBI.
Jadi, sampai sejauh mana Obama akan membawa Amerika? Ini menjadi pertanyaan serius, sebab ia sendiri telanjur “menjanjikan” dengan beberapa langkah dan pendekatan yang dilakukannya dalam 100 hari pertama. Keberhasilan atau kegagalannya dalam 100 hari kedua, ketiga, dan seterusnya, terutama dalam membangun pergaulan antarbangsa dan antarnegara yang lebih sehat, tampaknya akan sangat ditentukan mula-mula oleh seberapa jauh ia mampu atau tidak mampu me-reframe watak dasar politik luar negeri Amerika. Persoalannya, sejarah panjang mereka dalam mencampuri urusan negara lain dan mengirimkan tentara untuk mewujudkan apa yang mereka kehendaki bahkan telah memberikan kebanggaan yang sewenang-wenang dan narsisistik pada diri para pemujanya.
Robert Kagan, orang terkemuka yang memantapkan politik luar negeri Amerika, dengan penuh kepercayaan diri mengungkapkan: “Faktanya adalah bahwa hegemoni-baik-hati yang dijalankan oleh AS adalah sesuatu yang baik bagi sebagian besar penduduk bumi. Ini tentunya merupakan alternatif terbaik dan realistis ketimbang semua alternatif yang mungkin ada.” Dan pendapat ini diamini oleh sejumlah orang lainnya, termasuk Michael Hirsch, editor majalah Newsweek, yang beranggapan bahwa privilese AS dalam menjalankan politik luar negerinya adalah sesuatu yang diterima sebagai “rasa syukur atas keuntungan historis mereka yang telah dilindungi oleh sebuah kekuatan yang bisa dibilang murah hati.”
Dengan cara itulah mereka menyepakati politik luar negeri Amerika dan bisa hidup tentaram dengannya. Dan implikasinya bisa sangat mencemaskan: AS boleh melakukan apa saja dan jika AS terpaksa harus berperang, itu pasti dilakukan dengan cara yang berperikemanusiaan. Dan berapa juta korban berjatuhan oleh “kekuatan yang murah hati” itu?

---------------------------------

Daftar
Rujukan  Buku
Agee, Philip. Inside the Company: CIA Diary, Bantam; edisi cetakan kedua, Januari, 1984
Blum, William.  Killing Hope: U.S. Military and CIA Interventions Since World War II.  Monroe, ME: Common Courage, 1995.  ____. Rogue States: The Rule of Force in World Affairs. South End, 2000. 
Kornbluh, Peter.  Nicaragua, The Price of Intervention: Reagan’s War Against the Sandinistas.  Washington, DC: Institute for Policy Studies, 1987. 
Kwitny, Jonathan.  Endless Enemies: The Making of an Unfriendly World.  New York: Congdon & Weed, 1984.  ____. 
The Guerrilla Wars of Central America: Nicaragua, El Salvador, and Guatemala.  New York: St. Martin’s, 1994.  
Quigley, John. The Ruses for War: American Interventionism Since World War II.  Buffalo: Prometheus, 1992. 
Stockwell, John. In Search of Enemies: a CIA Story. W.W. Norton, 1978.
White, Richard.  The Morass: United States Intervention in Central America.  New York: Harper, 1984.
Woodward, Bob. Veil: The Secret Wars of the CIA 1981-1987. New York: Simon and Schuster, 1987
Dokumen
Dokumen-dokumen rahasia yang dideklasifikasi bisa dilihat antara lain di:
The National Security Archive, George Washington University -
http://www.gwu.edu/~nsarchiv/ Situs Forgotten History -
http://www.lossless-audio.com Departemen Luar Negeri AS -
http://foia.state.gov Encarta Encyclopedia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar