Selasa, 25 Maret 2014

.DEVIDE ..ET IMPERA.... DI UKRAINA... ??? .... DENGAN BERBAGAI CARA BISA .... DITERAPKAN PADA SETIAP TEMPAT DAN KEADAAN....??? .. PARA ORATOR...DAN AHLI GERAKAN MASSA... DAN MUNGKIN ... INTELIGEN...DAN AHLI PROVOKASI... BISA MELAKUKAN APAPUN DENGAN KEAHLIAN .... DAN .... TENTU JARINGAN2... MEDIA ... DAN.. PARA KOLABORATOR.. DAN ANTEK2NYA...YANG SUDAH TERKONSEP.. DENGAN AGENDA-ORIENTASI-DAN PROVOKASI2....>>> .... BEBAGAI KEJADIAN... SEPERTI MUNGKIN KINI DI UKRAINA..ITU... NAMUN... SECARA FAKTA ADA GERAKAN KEMIRIPAN2... DAN POLA2.. YANG MEMANG DIPERSIAPKAN...???>>> INVESTASI... INVESTASI.... PROFIT.. PROFIT.... DIVIDEN2... DLL.... ??>> ..... LALU ADA APA INI .... DI UKRAINA...??? CRIMEA...???>>> .... LAIN DI MESIR-DI LYBIA-DI SURIAH-DI SUDAN-DI INDONESIA... DAN DIMANA SAJA KAUM KAPITALIS YANG MEMANG SELALU ADA KEPENTINGAN... BIZ-KEKUASAAN... DAN DOKTRIN2 ...TENTANG KEBEBASAN... KEMAKMURAN... DAN KEKAYAAN.... DAN MIMPI2 INDAH DENGAN BUDAYA HEDON... DAN APA SAJA YANG... DIANGGAP ... BAGIAN YANG BISA MEMBAKAR EMOSI... DAN KEINGINAN2 ... YANG BISA DIBAWA MIMPI.... POPILARITAS-YANG UJUNG2NYA AKAN DIJUAL DENGAN ELEKTIBILTAS.??? ATAU ... TUNTUTAN2 INI DAN ITU... DARI .... HAK... HAK.... HAK... .... WALAUPUN ..... AKHIRNYA HARUS .... DAN MESTI... SALING MEMBUNUH DAN PERANG SAUDARA...SESAMA SATU BANGSA... BAHKAN TAK PEDULI ... BERASAL... SATU KELUARGA... SATU KLAN.... SATU BANGSA... SATU AGAMA ..... YANG KONON MENGANUT.... AJARAN SUCI DAN LUHUR... DAN TUNTUNAN AKHLAKNYA... NAN... SANGAT MULIA... ... DAN KONON ... MALAH SATU INDUK KEBUDAYAAN ... DAN... NENEK MOYANG... NYA MUNGKIN DAHULUNYA MASIH ADA KAITAN DARAH ATAU SUKU ATAW APAPUN YANG MASIH TERIKAT PERSAUDARAAN DAN KEKELUARGAAN... ????>>> INILAH KOBARAN HASRAT ... DAN DORONGAN... AMBISI DAN HAWA NAFSU MATERIIL.. YANG SANGAT MENGGODA... DAN BAHKAN SALING BUNUH DAN SALING MENGHANCURKAN....????>>> INILAH MODEL.. DEMOKRASI.. LIBERAL ALA... BARAT... . YANG KONON LIBERAL BAR-BAR.. DAN MENGHALALKAN SEGALA CARA.. DEMI UNTUK... MIMPI2... KEBEBASAN-KEMAKMURAN-KEKAYAAN-HAK2 INDIVIDU.. DAN MIMPI2... HEDON... YANG MEMPESONA... DIATAS SEGALANYA...??>>> NAMUN AKHIRNYA SEMUA AKAN MENYESAL.. SEPERTI APA YANG TERJADI DI AFGHANISTAN- IRAQ-MESIR-LIBYA DAN JUGA SURIAH YANG SEMUANYA PORAK PORANDA..DAN HANCUR-HANCURAN...???>>> KINI UKRAINA DAN RUSSIA DIAMBANG PERANG... BAHKAN PERANG BESAR... ATAU BISA JADI PERANG SUPER BESAR.... ???>>> DAN SEMUA YANG DIUNTUNGKAN TENTU ADALAH PIHAK AS-NATO..DIMANA INDUSTRI2 PERANGNYA.. AMAN.. ?? PABRIK KAPAL DAN SENJATA JAUH DARI HIRUK PIKUK PERANG DAN KEHANCURAN..??? SEDANG MEREKA YANG TERLIBAT PERANG LANGSUNG... SUDAH TAK BISA MEMILIH JALAN.. KARENA MASING2 ... SEDANG DIAMUK .... NAFSU.. AMARAH DAN KEKEJIAN...???>>> PERANG-PERANG-PERANG.... DAN MARI KITA BIZ...BIZ..DAN MENGUNTUNGKAN... BANYAK INDUSTRI ENERGY DIRAMPAS.. ATAU ..DAN DIKUASAI.. ?? ... LALU... SIAPA DIBELAKANG INI SEMUA... YANG MEMAINKANNYA.... ???>>> TENTU KAUM SUPERKAYA.. DAN AHLI2 POLITIK PERANG DAN PERPECAHAN SERTA AHLI PENGUASAAN DAN PENJAJAHAN...???>>> HAYYOOO KEMBALI KEPADA KESADARAN DAN WASPADA DAN ELING...DULUR.....???>>> WASPADA-WASPADA-WASPADA- DAN ELING-ELING-ELING...>>> KUATKAN PERSAUDARAAN DAN PERSATUAN.. DAN JAUHKAN DARI SALING MENDENGKI DAN PERPECAHAN...!!!! SAUDARAKU BANGSAKU.. SELAMATKAN ANAK2 DAN GENERASI BANGSA.. DARI BUDAYA HEDON-LIBERAL BARBAR..DAN BEBASKAN DIRI DARI KAUM NEOLIBS-NEOKONS-NEKOLIM...DAN PARA PENJAJAH KRIMINALGLOBAL ... YANG SANGAT SERSKSH..DSN MENDENGKI..DENGSN BERBSGSI CARA2 TERSELIBUNG SEKAN MANIS.. DAN INDAH DAN MEMPESONA... ??? AWAS KEDUSTAAN DAN KESERAKAHAN SELALU MENJADI CARA2 DAN TUJUAN MEREKA..???>> WASPADA DAN ELIING.... DULUR...!!!??? .... Skenario di Suriah dan Ukraina sedemikian mirip, sama miripnya dengan berbagai aksi penggulingan rezim di berbagai negara lain, baik yang berhasil, ataupun gagal. Terlepas bahwa pemimpin di negara-negara itu pantas atau tidak digulingkan, terlalu naif bila kita mengabaikan begitu saja kemiripan skenario ini. Ukraina adalah negara yang sangat subur, lumbung pangan Eropa, dan tengah membangun kekuatan industri. Tak heran bila Uni Eropa sangat menginginkannya. AS pun menggunakan kekacauan Ukraina untuk melemahkan Rusia, rivalnya di Suriah....>>> .... Bahkan Menlu Kanada juga mengakui telah memberikan sumbangan ‘luar biasa' pada sebuah LSM di Ukraina untuk rumah sakit darurat dan peralatan medis. Bantuan itu diberikan tepat sehari sebelum kelompok oposisi bersenjata menyerbu Maidan dan mengakibatkan jatuhnya banyak korban, termasuk tewasnya sejumlah polisi, pada 18/2. Di Suriah, dengan alasan ‘melawan kebrutalan rezim', para pemberontak angkat senjata, dan senjata disuplai dari luar negeri. Tak beda jauh, demonstran Ukraina pun angkat senjata. Sebelum terang-terangan angkat senjata, kelompok oposisi di dua negara ini sama-sama menggunakan taktik penembak gelap. Korbannya rakyat sipil, dan dengan segera di-blow up media massa; disebut sebagai korban kebrutalan polisi....>>> Gaya para demonstran antipemerintah di Damaskus dan Kiev pun mengikuti ‘cetakan' yang sama dengan gaya demonstrasi oposisi Mesir, Tunisia, Venezuela, Belarus, Georgia, atau Iran. Mereka memprovokasi polisi, serta menyerang gedung-gedung pemerintah, yang tentu saja mendatangkan reaksi keras dari polisi. Tak heran, karena mentor mereka pun sama: CANVAS, perusahaan konsultan revolusi yang membina kaum oposan di lebih dari 40 negara. Pentolan CANVAS adalah Srdja Popovic, arsitek gerakan penggulingan Slobodan Milosevic (Serbia) pada tahun 2000. Para pendukung dana CANVAS adalah lembaga-lembaga terkemuka seperti United States Institute for Peace (USIP) yang didanai Kongres AS, New Tactics (didanai Ford Foundation dan Soros Foundation), dan lain-lain. Foreign Policy melaporkan, selama enam bulan pertama tahun 2012, 40 aktivis oposisi Syria mengadakan pertemuan di Jerman yang dikoordinir oleh USIP untuk merancang bentuk dan agenda pemerintahan pasca-Assad.Tak jauh beda, demonstran Ukraina pun dididik oleh tangan-tangan Amerika. Pengakuan dari Asisten Menteri Luar Negeri Amerika, Victoria Nuland, memberikan buktinya. Nuland mengatakan, Amerika telah menginvestasikan $5 milyar untuk ‘mengorganisir jaringan guna memuluskan tujuan Amerika di Ukraina'selain untuk memberikan ‘masa depan yang layak bagi Ukraina.' ....>>> ... Kehadiran tokoh Yahudi-Prancis, Bernard Henri Levy, di depan lautan manusia yang memenuhi Maidan --singkatan dari Maidan Nezalezhnosti atau Lapangan Kemerdekaan—di Kiev, menjadi simbol utama kesamaan template itu. Levy dulu memprovokasi masyarakat Barat untuk ‘membantu' rakyat Suriah menggulingkan Assad (bahkan sebelumnya, juga hadir di Libya, di depan para demonstran anti-Qaddafi). Kini di Kiev, dia berpidato berapi-api, menyeru rakyat Ukraina, "Les gens de Maidan, vous avez un rêve qui vous unit. Votre rêve est l'Europe!"(wahai orang-orang Maidan, kalian punya mimpi yang mempersatukan kalian. Mimpi kalian adalah Eropa!) Ya, Ukraina memang tengah diadu-domba dengan menggunakan isu Uni Eropa. Sebagian rakyat setuju bergabung dengan UE, sebagian lagi menolak. Pengalaman Yunani yang bangkrut akibat bergabung dengan UE membuat banyak orang sadar, UE dan pasar bebas Eropa bukanlah gerbang kemakmuran bagi rakyat banyak. Hanya segelintir yang diuntungkan,dan para kapitalis kelas kakap Eropalah yang jauh lebih banyak mengeruk laba....>>> ...L’Ukraine Est Une Autre Syrie...>>> .... Dalam banyak kasus di Indonesia, buah getir dari agenda tersembunyi itu memasuki berbagai sektor, termasuk proses pembuatan undang-undang di DPR. Badan Intelejen Negara (BIN) melaporkan bahwa proses pembuatan 79 undang-undang di DPR dikonsep oleh konsultan asing (beritasatu,2001). Menurut anggota DPR, Eva Sundari, kebanyakan undang-undang yang menjadi sasaran intervensi asing di sektor migas, energi dan pertanian. Mungkin inilah yang disebut Noreena Hertz sebagai "Silent Takeover". Kekayaan bangsa-bangsa dunia, termasuk sumber daya alam negara kita yang kaya raya, diambilalih diam-diam oleh korporasi multinasional itu. Tapi, kita acapkali tidak menyadarinya!(IRIB Indonesia/Liputan Islam) ....>>>> .... Keserakahan korporasi menyebabkan dunia timpang, karena mereka menguasai pasar seluruh kebutuhan pokok masyarakat dunia. Tampaknya, Noreena Hertz benar, "Pasar yang tidak diatur, keserakahan korporasi, dan lebih lagi lembaga keuangan akan memiliki konsekuensi global yang serius terutama berdampak buruk bagi warga biasa". Cengkeraman korporasi multinasional di dunia memanfaatkan kelemahan demokrasi Liberal yang dipaksakan penerapannya di berbagai negara dunia, tanpa memerdulikan kearifan lokal. Korporasi raksasa multinasional juga memanfaatkan lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia untuk menekan kebijakan pemerintah sasaran pasar, termasuk Indonesia agar memuluskan jalan bagi mereka untuk mendulang pundi-pundi kekayaan di seluruh dunia. Model "Democracy without Adjectives" yang berkembang dewasa ini tidak lain dari cara korporasi multinasional membenamkan cakarnya di seluruh dunia tanpa mengenal batas dan rambu-rambu, bahkan aturan negara. Saking mengguritanya korporasi multinasional di dunia, Hertz (1999) menyebut korporasi multinasional menjelma menjadi institusi dominan yang mengalahkan negara dari sisi kekuasaan dan pengaruhnya di dunia. ...>>>... Bertebarannya korporasi multinasional di Indonesia mengeruk kekayaan bangsa ini dan hanya sedikit saja kontribusinya bagi negara kita, ternyata bukan hanya fenomena yang menimpa Tanah Air saja. Di tingkat global, segelintir korporasi multinasional menguasai hajat hidup publik dunia, bahkan kebutuhan pokok seperti pangan dunia pun berada dalam kendalinya...>>> ...Khudori (2011) mengutip laporan South Center (2005) menunjukkan bahwa sekitar 85-90 persen perdagangan pangan dunia dikontrol hanya lima korporasi multinasional. Sekitar 75 persen perdagangan serelia dikuasai oleh dua korporasi multinasional. Dua korporasi raksasa menguasai 50 persen perdagangan dan produksi pisang. Tiga korporasi multinasional menguasai 83 persen perdagangan kakao. Tiga korporasi menguasai 85 persen perdagangan teh. Lima korporasi mengendalikan 70 persen produksi tembakau. Tujuh korporasi menguasai 83 persen produksi dan perdagangan gula. Empat persen mengendalikan hampir dua pertiga pasar pestisida. Sedangkan empat korporasi raksasa menguasai seperempat bibit (termasuk paten) dan hampir seratus persen pasar global bibit transgenik....>> .... Dari kepingan laporan ekonomi Indonesia tersebut ada beberapa hal yang bisa dicermati lebih jauh. Pertama, berbagai data ini menunjukan ketidakadilan distribusi pendapat yang bertumpuk di kalangan tertentu saja. Perekonomian Indonesia, terutama sumber produksinya ternyata dikendalikan oleh segelintir orang yang menguasai hajat hidup orang banyak. Dewasa ini hampir seluruh kebutuhan pokok masyarakat dikendalikan oleh korporasi raksasa, dengan menguasai begitu banyak sektor strategis, dari bahan bakar, jalan tol hingga air minum. Besarnya pengaruh korporasi raksasa terhadap kehidupan masyarakat menyebabkan mereka mampu mendiktekan kepentingan ekonominya terhadap masyarakat bahkan negara. Akibatnya segelintir konglomerat terus "menggemukkan" pundi-pundi hartanya, sedangkan jutaan rakyat yang miskin dan hampir miskin semakin jauh dari sejahtera. Kedua, populasi penduduk Indonesia yang besar menjadi pasar potensial bagi perusahaan raksasa termasuk incaran korporasi multinasional. Laporan BPS menunjukkan bahwa struktur PDB tahun 2013 masih didominasi oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga yang tumbuh 55,82 persen. Hingga kini berbagai korporasi asing beroperasi di Indonesia dengan mendulang emas dari besarnya jumlah penduduk yang dijadikannya sebagai pasar konsumtif. Ketiga, meskipun amanat UUD 1945 Pasal 33 menyatakan, "Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat", tapi realisasinya masih jauh panggang dari api. Hal tersebut ditegaskan hasil survei yang dilakukan Indo Survey dan Strategy yang menunjukkan bahwa sebanyak 53,3 persen masyarakat tidak percaya terhadap pelaksanaan Pasal 33 UUD 1945 tersebut. (Kompas,20/10/2013)...>>.... November lalu, Forbes Asia merilis daftar 50 orang terkaya di Indonesia tahun 2013. Beberapa milyarder justru menambah pundi-pundinya yang semakin membengkak ketika perekonomian Indonesia cenderung bergejolak. Meski laju pertumbuhan ekonomi masih bertengger di atas lima persen, tapi nilai tukar rupiah terhadap valuta uang asing jeblok hingga 19 persen dibandingkan tahun lalu. Harian Kompas (22/11/2013) melaporkan, jumlah harta 50 orang terkaya di Indonesia mencapai $95 miliar atau Rp.1.111,5 triliun, dengan asumsi kurs ketika itu sebesar Rp.11.700 perdolar. Nilai ini setara dengan setengah dari utang pemerintah Indonesia pada akhir Oktober 2013 sebesar Rp.2.273 triliun. Jumlah tersebut naik 1,1 persen dibandingkan tahun lalu...>> ..."Putin sedang menghentikan 'destruksi kreatif' New World Order di Suriah dan Ukraina. Dia adalah bagian dari koalisi yang berkembang menentang NWO- bukan hanya tradisionalis agama, melainkan pula kekuatan-kekuatan anti- globalisasi progresif, termasuk [Venezuela almarhum Presiden] Hugo Chavez yang menjadi inspirasi anti-imperialis di Amerika Latin," tutur Barrett....>>>..... ADA SEMACAM.... GERAKAN GRILYA2.... DILAUT BALTIK DAN LAUT HITAM.. DIMANA KAPAL UKRAINA.. DISERGAP.. OLEH KONON KELOMPOK SERDADU PRO RUSIA...DAN PRO CRIMEA...???>>> ...Sekelompok orang bersenjata pro-Rusia menangkap sebuah kapal dari Armada Laut Hitam Ukraina di pelabuhan Sevastopol Crimea menyusul dikuasainya fasilitas militer Ukraina di semenanjung Laut Hitam itu oleh pasukan Rusia . Kementerian Pertahanan Ukraina pada Sabtu (22/3) mengumumkan bahwa pasukan pro-Rusia telah menyita kapal Slavutich yang terblokir di Sevastopol, sebuah kota di barat daya Crimea. Sementara pada hari yang sama, pasukan pro-Rusia menyerbu sebuah pangkalan udara Ukraina di Crimea. Tembakan dan ledakan terdengar di pangkalan udara Belbek, di luar Sevastopol, setelah kendaraan lapis baja pengangkut personel militer mendobrak gerbang pasca berakhirnya ultimatum yang diberikan Rusia kepada pasukan Ukraina...>>>>> ....Presiden Rusia Vladimir Putin melawan agresi Barat bertujuan untuk benar-benar menghancurkan negara-negara tradisional dan nilai-nilai serta menciptakan kediktatoran global melalui Tatanan Dunia Baru (New World Order), demikian kata analis. Upaya Barat yang sedang bergulir untuk mengacaukan Ukraina, Suriah dan Iran serta negara-negara lainnya adalah "contoh terbaru dari pola agresi yang telah berusia bebera dekade" yang dilawan Presiden Rusia, kata Kevin Barrett , seorang profesor Studi Timur Tengah dan Islam dalam sebuah artikel untuk situs Press TV. "Singkatnya, New World Order - sebuah kelompok bayangan perbankan oligarki global bertekad membangun kediktatoran terpadu di dunia - sedang mencoba untuk menggulingkan setiap pemimpin yang menolak. Presiden Rusia Putin menolak. Itulah mengapa mesin propaganda Barat mengangkat namanya," kata Barrett....>>> ...Organisasi negara-negara BRICS (Brasil, Rusia, India, Cina dan Afrika Selatan)menolak sanksi Barat terhadap Rusia dan "bahasa bermusuhan" yang diarahkan kepada Moskow atas krisis di Ukraina. Para menteri luar negeri negara-negara anggota BRICS dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Senin (24/3) mengatakan, "Eskalasi bahasa bermusuhan, sanksi dan kontra-sanksi, dan kekuatan tidak memberikan kontribusi dalam memberikan solusi damai dan berkelanjutan sesuai dengan hukum internasional, termasuk prinsip-prinsip dan tujuan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa." ...>>> ....Taktik ini disarankan Jenderal (pur.) Angel Vivas, yang telah menjadi pahlawan kontrarevolusi atas pembangkangan bersenjata terhadap upaya pemerintah untuk menangkapnya menyusul kematian pengendara sepeda motor itu. "Bersamaan dengan itu, AS telah memberlakukan sanksi terhadap Rusia dan mengancam eskalasi militer dalam menanggapi 'serangan' ke Crimea," paparnya. Sejarah, lanjut Piascik, mendokumentasikan pelbagai agresi langsung dan rentetan kejahatan AS lainnya yang dilakukan lewat pembiayaan bantuan senjata, dan dukungan diplomatik terhadap negara-negara klien. "Karena terlalu banyak, mari kita batasi semua itu hanya dalam 14 tahun pada abad ini," ujarnya. Pada 2001, AS menginvasi Afghanistan, seolah-olah untuk menanggapi serangan 9/11, padahal tak seorang pun warga Afghanistan yang terlibat, sementara sebagian besarnya (pelaku yang terlibat) adalah warga Saudi. "AS tak mungkin menginvasi Arab Saudi karena ia sekutu setia dan sangat penting," tegas Piascik....>>> ...."Saat pertanyaan itu diajukan dalam jajak pendapat internasional beberapa dekade terakhir, jawabannya tak lain dari AS. Bukan Iran, Korea Utara, Suriah, Kuba, Venezuela, Rusia, atau salah satu dari banyak negara lain yang dijelek-jelekkan kelas penguasa dan media korporasi di sini secara teratur, tapi Amerika Serikat," ujarnya. Orang-orang di negara-negara Selatan, kata Piascik, juga tahu betul tentang hal ini dari sejarah panjang dan brutal kebijakan luar negeri AS. "Karena kita hidup dalam masyarakat tertutup seperti itu, bagaimanapun, di mana analisis kritis terhadap imperialisme secara harfiah dikecualikan dari diskusi di Washington dan media nasional, warga di sini harus mencari informasi tersebut dengan penuh kesulitan dan dalam waktu lama," imbuh kritikus kekaisaran AS ini....>>> ...Seorang anggota Parlemen Iran mengecam campur tangan AS dan Barat di Ukraina dan mencatat bahwa usaha mereka akan gagal di negara yang dilanda krisis itu. "Amerika dan Barat pasti tidak akan memperoleh apa-apa di Ukraina karena masyarakat dalam peristiwa tersebut [referendum] telah menentukan nasib mereka sendiri. Mereka [Barat] akan gagal mencapai tujuan mereka," kata Mohammad Esmail Kowsari pada hari Senin (24/3/14). Menurut Kowsari, campur tangan AS di Ukraina berakar dari arogansi Washington. "Upaya intimidasi dan campur tangan negara-negara Barat tidak mengenal batas dan mereka mengatakan bahwa semua wilayah harus berada di bawah dominasi mereka," tambah legislator Iran itu....>>>

Putin Merusak Ketenangan New World Order

 





Presiden Rusia Vladimir Putin melawan agresi Barat bertujuan untuk benar-benar menghancurkan negara-negara tradisional dan nilai-nilai serta menciptakan kediktatoran global melalui Tatanan Dunia Baru (New World Order), demikian kata analis.
 
Upaya Barat yang sedang bergulir untuk mengacaukan Ukraina, Suriah dan Iran serta negara-negara lainnya adalah "contoh terbaru dari pola agresi yang telah berusia bebera dekade" yang dilawan Presiden Rusia, kata Kevin Barrett , seorang profesor Studi Timur Tengah dan Islam dalam sebuah artikel untuk situs Press TV.
 
"Singkatnya, New World Order - sebuah kelompok bayangan perbankan oligarki global bertekad membangun kediktatoran terpadu di dunia - sedang mencoba untuk menggulingkan setiap pemimpin yang menolak. Presiden Rusia Putin menolak. Itulah mengapa mesin propaganda Barat mengangkat namanya," kata Barrett.
 
Dia mencatat bahwa Rusia dan Iran keduanya berhasil menolak kediktatoran New World Order.
 
Analis ini berpendapat bahwa pembentukan Republik Islam Iran merupakan peristiwa penting yang menandai berakhirnya "gelombang militan sekularisme dan ateisme abad ke-20. Dan kebangkitan agama tradisional."
 
Dikatakannya, Presiden Rusia menikmati popularitas yang luar biasa di negaranya atas pembelaannya terhadap nilai-nilai keagamaan tradisional.
 
"Putin sedang menghentikan 'destruksi kreatif' New World Order di Suriah dan Ukraina. Dia adalah bagian dari koalisi yang berkembang menentang NWO- bukan hanya tradisionalis agama, melainkan pula kekuatan-kekuatan anti- globalisasi progresif, termasuk [Venezuela almarhum Presiden] Hugo Chavez yang menjadi inspirasi anti-imperialis di Amerika Latin," tutur Barrett.
 
Ditambahkannya,  dunia saat ini sedang menghadapi perjuangan epik antara mereka yang mendukung nilai-nilai sakral seperti keadilan dan kesantunan dan pihak-pihak yang ingin menghancurkan semua nilai-nilai tersebut.(IRIB Indonesia/MZ)

BRICS Tolak Sanksi terhadap Rusia

 

 Organisasi negara-negara BRICS (Brasil, Rusia, India, Cina dan Afrika Selatan)menolak sanksi Barat terhadap Rusia dan "bahasa bermusuhan" yang diarahkan kepada Moskow atas krisis di Ukraina.

Para menteri luar negeri negara-negara anggota BRICS dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Senin (24/3) mengatakan, "Eskalasi bahasa bermusuhan, sanksi dan kontra-sanksi, dan kekuatan tidak memberikan kontribusi dalam memberikan solusi damai dan berkelanjutan sesuai dengan hukum internasional, termasuk prinsip-prinsip dan tujuan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa."
 

BRICS sepakat bahwa tantangan yang ada di dalam wilayah negara-negara anggota kelompok tersebut harus ditangani dalam kerangka PBB dan dengan cara yang tenang dan kepala dingin.

Sebelumnya Amerika Serikat pada Senin menyatakan bahwa Presiden Barack Obama dan para pemimpin dari Inggris, Kanada, Perancis, Jerman, Italia dan Jepang memutuskan untuk mengakhiri peran Rusia dalam G8 atas krisis di Ukraina dan status Crimea.

Tujuh kekuatan ekonomi utama tersebut (G7) juga mencerca pertemuan yang direncanakan, di mana Presiden Rusia Vladimir Putin akan menjadi tuan rumah di kota Sochi pada bulan Juni.

G7 menyatakan bahwa mereka akan mengadakan pertemuan di Brussels tanpa Rusia, bukan KTT G8. Mereka juga mengancam akan menerapkan sanksi lebih keras terhadap Moskow. (IRIB Indonesia/RA)

Senat AS Ajukan Paket Bantuan $ 1 Milyar untuk Ukraina 
(PADAHAL RUSIA MENJANJIKAN DONASI DAN PAKET BANTUAN $ 17 MILYAR...??? ALANGKAH JAUHNYA...BEDA TERSEBUT..??? LALU DIMANA KONSEP PEMIKIRAN PARA PEMIMPIN YANG PRO EROPA ITU..??)
 
Islam Times - http://www.islamtimes.org/vdcdzk0sxyt09k6.lp2y.html
 
"Isu paling penting adalah meluluskan UU ini sesegera mungkin. Isu-isu lain yang kurang penting [bisa dibahas] di kemudian hari," kata Senator John McCain menjelang pemungutan suara.
 
Senat AS
Senat AS

Senat AS mengajukan RUU bantuan keuangan untuk Ukraina dan pemberian sanksi terhadap Rusia.

Para senator AS dengan 78 suara akhirnya memutuskan hal itu hari Senin (24/3/14). Sekitar 20 senator dari kubu Republik bergabung dengan kubu Demokrat dengan mendukung usulan tersebut.

"Isu paling penting adalah meluluskan UU ini sesegera mungkin. Isu-isu lain yang kurang penting [bisa dibahas] di kemudian hari," kata Senator John McCain menjelang pemungutan suara.

RUU itu akan memberi bantuan $ 1 milyar pada pihak berwenang baru di Kiev dan  $ 100 juta untuk 'mempromosikan demokrasi dan keamanan' di negara itu.

RUU yang didukung oleh Presiden AS Barack Obama itu bisa digolkan akhir pekan ini. RUU itu juga akan menjatuhkan sanksi terhadap tokoh-tokoh yang diduga terlibat dalam reintegrasi Crimea ke Rusia baru-baru ini.

Sementara Moskow mengatakan sanksi yang dijatuhkan hanya akan mempersulit situasi.

Kelompok G8 juga mengancam akan meningkatkan langkah-langkah terhadap Rusia terkait krisis Ukraina. Dalam pernyataan yang dikeluarkan setelah pembicaraan krisis di Den Haag pada hari Senin (24/3/14), mereka siap mengintensifkan sanksi terkoordinasi terhadap Moskow. Mereka juga menyeru Rusia agar meredakan situasi politik yang memanas.

Bahkan G8 membatalkan rencana pertemuan di resor kota Laut Hitam, Sochi pada bulan Juni dan mengataka, mereka akan mengadakan pertemuan di Brussels tanpa Rusia. Dan G8 yang terbentuk tahun 1998 dan terdiri dari Amerika, Inggris, Kanada, Perancis, Jerman, Jepang, Italia dan Rusia menjadi G7 tanpa kehadiran Rusia.

Baru-baru ini, Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Eropa dan Eurasia, Victoria Nuland mengungkapkan bahwa Washington telah menginvestasikan sekitar $ 5 milyar dalam upaya 'mempromosikan demokrasi ' di Ukraina dalam dua dekade terakhir.[IT/r]
Pejabat Iran: AS dan Barat akan Kalah di Ukraina
 
Islam Times - 
"Amerika dan Barat pasti tidak akan memperoleh apa-apa di Ukraina karena masyarakat dalam peristiwa tersebut [referendum] telah menentukan nasib mereka sendiri. Mereka [Barat] akan gagal mencapai tujuan mereka," kata Mohammad Esmail Kowsari pada hari Senin (24/3/14).
 
Esmail Keswari
Esmail Keswari

Seorang anggota Parlemen Iran mengecam campur tangan AS dan Barat di Ukraina dan mencatat bahwa usaha mereka akan gagal di negara yang dilanda krisis itu.

"Amerika dan Barat pasti tidak akan memperoleh apa-apa di Ukraina karena masyarakat dalam peristiwa tersebut [referendum] telah menentukan nasib mereka sendiri. Mereka [Barat] akan gagal mencapai tujuan mereka," kata Mohammad Esmail Kowsari pada hari Senin (24/3/14).

Menurut Kowsari, campur tangan AS di Ukraina berakar dari arogansi Washington.
"Upaya intimidasi dan campur tangan negara-negara Barat tidak mengenal batas dan mereka mengatakan bahwa semua wilayah harus berada di bawah dominasi mereka," tambah legislator Iran itu.

Kowsar juga mencatat, meski Amerika dan sekutu Baratnya mengklaim bahwa mereka sangat komitmen pada proses demokrasi tapi pada saat yang sama mereka mengabaikan opini publik di Ukraina.

Ukraina dicengkeram krisis politik sejak November 2013 setelah Presiden Ukrainia, Viktor Yanukovych yang menolak penandatanganan Perjanjian Asosiasi dengan Uni Eropa digulingkan.[IT/r]

Analis: Saatnya Jatuhkan Sanksi untuk Amerika Serikat!
 
Islam Times- http://www.islamtimes.org/vdchwmnxv23n-id.yrt2.html
 
 
Kekerasan AS tidak terbatas pada negara lain. "Di dalam negeri, contoh terbaik diilustrasikan oleh pemenjaraan besar-besaran warga Amerika keturunan Afrika (berkulit hitam)," ujar Piascik.
 
Boikot Amerika (http://www.amerikaos.com)
Boikot Amerika (http://www.amerikaos.com)

Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi pada Rusia dan akan melakukan yang sama pada Venezuela. Dalam hal ini, penting dicatat, negara mana sebenarnya yang paling merusak dan berbahaya di dunia saat ini? Demikian ungkap analis internasional, Andy Piascik.

"Saat pertanyaan itu diajukan dalam jajak pendapat internasional beberapa dekade terakhir, jawabannya tak lain dari AS. Bukan Iran, Korea Utara, Suriah, Kuba, Venezuela, Rusia, atau salah satu dari banyak negara lain yang dijelek-jelekkan kelas penguasa dan media korporasi di sini secara teratur, tapi Amerika Serikat," ujarnya.

Orang-orang di negara-negara Selatan, kata Piascik, juga tahu betul tentang hal ini dari sejarah panjang dan brutal kebijakan luar negeri AS. "Karena kita hidup dalam masyarakat tertutup seperti itu, bagaimanapun, di mana analisis kritis terhadap imperialisme secara harfiah dikecualikan dari diskusi di Washington dan media nasional, warga di sini harus mencari informasi tersebut dengan penuh kesulitan dan dalam waktu lama," imbuh kritikus kekaisaran AS ini.

Bila informasi semacam ini meresap dalam arus utama, ujar Piascik, maka pihak elit yang berkuasa akan segera menjelek-jelekkan dan menutup-tutupinya, sama seperti mereka menjelek-jelekkan tokoh internasional yang mereka anggap musuh.

Menurut Washington, lanjutnya, sanksi sedang dipertimbangkan terhadap Venezuela karena tindakan represif dan kekerasan yang disandangkan nyaris secara khusus kepada pemerintah. "Pada kenyataannya, kaum kontrarevolusionerlah yang seharusnya bertanggung jawab atas sebagian besar mereka yang tewas, termasuk setidaknya kematian seorang pengendara sepeda motor yang dipenggal oleh kawat yang tergantung di jalan," kata Piascik dengan tegas.

Taktik ini disarankan Jenderal (pur.) Angel Vivas, yang telah menjadi pahlawan kontrarevolusi atas pembangkangan bersenjata terhadap upaya pemerintah untuk menangkapnya menyusul kematian pengendara sepeda motor itu. "Bersamaan dengan itu, AS telah memberlakukan sanksi terhadap Rusia dan mengancam eskalasi militer dalam menanggapi 'serangan' ke Crimea," paparnya.

Sejarah, lanjut Piascik, mendokumentasikan pelbagai agresi langsung dan rentetan kejahatan AS lainnya yang dilakukan lewat pembiayaan bantuan senjata, dan dukungan diplomatik terhadap negara-negara klien. "Karena terlalu banyak, mari kita batasi semua itu hanya dalam 14 tahun pada abad ini," ujarnya.

Pada 2001, AS menginvasi Afghanistan, seolah-olah untuk menanggapi serangan 9/11, padahal tak seorang pun warga Afghanistan yang terlibat, sementara sebagian besarnya (pelaku yang terlibat) adalah warga Saudi. "AS tak mungkin menginvasi Arab Saudi karena ia sekutu setia dan sangat penting," tegas Piascik.

Pada 2002, lanjutnya, kaum reaksioner yang mewakili kelas super kaya Venezuela menerima dana puluhan juta dolar dari CIA, USAID, National Endowment for Democracy, dan sumber-sumber AS lainnya untuk digunakan menggulingkan pemimpin yang terpilih secara demokratis dan sangat populer, mendiang Hugo Chavez. "Rakyat Venezuela segera bangkit dan menggagalkan kudeta, namun dana, sabotase, dan subversi terus berlanjut," terang Piascik.

Kaum oligarki lama, lanjutnya, diliputi kemarahan dan frustrasi akibat kekalahan terus-menerus dalam pemilu dan di jalan-jalan. "Mereka membangkang tanpa dukungan internasional selain dari AS dan tetangganya, Kolombia," ungkap Piascik. Kekerasan baru-baru ini sejak bulan lalu menjadi momen paling serius di Venezuela sejak kudeta gagal 2002, dan kendati sudah sepenuhnya mengisolasi, AS tetap menggenjot propaganda perangnya selama 15 tahun terhadap Revolusi Bolivarian.

Pada 2003, AS secara ilegal menyerbu Irak dan menghancurkan negara itu. "Argumen yang digunakan untuk membenarkan invasi itu adalah bahwa pemimpin Irak waktu itu, Saddam, menjadi ancaman besar karena memiliki senjata pemusnah massal," imbuh Piascik.

AS tahu betul, katanya, senjata semacam itu tak ada dan invasi telah menghasilkan apa yang disebutkan beberapa laporan internasional, kematian lebih dari satu juta warga Irak. "Di tengah kehancuran, kini Irak diganggu pertempuran internal yang pahit. Pusat pertempuran itu adalah al-Qaeda, yang sama sekali tidak hadir di Irak namun sekarang menjadi kekuatan tangguh berkat invasi [AS]," tegas Piascik.

Setelah menekan Muammar Qaddafi selama beberapa dekade untuk menyerahkan senjata Libya, lanjutnya, AS secara ilegal menginvasi negara itu pada 2011, tak lama setelah ia memenuhi [tuntutan AS] itu. "Setidaknya 50 ribu orang tewas sebagai hasilnya, termasuk Qaddafi, dan Libya telah jatuh dalam kekacauan yang terus berlanjut sampai hari ini," papar Piascik.

Di tempat lain di Timur Tengah, tutur Piascik, AS terus mendukung pendudukan "Israel" yang terus meluas atas wilayah Palestina dan kembali menemukan dirinya berada di pihak yang sama dengan al-Qaeda dan teroris lainnya di Suriah saat berupaya melakukan sesuatu yang sama dengan yang diupayakan di Irak, Libya, dan Afghanistan.

Sejak 1990-an, AS mendukung pembunuh massal Paul Kagame di Rwanda seraya menggambarkannya sebagai pahlawan. "Kenyataannya, perang di Rwanda dimulai dengan invasi pada 1990 dari Uganda oleh Front Patriotik Rwanda, pasukan Kagame yang segera menjadi pimpinan," ungkap Piascik.

Mantan Sekretaris Jenderal PBB, Boutros Gali (mengutip Robin Philpot dari Counterpunch) menyalahkan AS atas dukungannya terhadap Kagame dan RPF, yang menurut beberapa laporan, bertanggung jawab atas lebih dari satu juta, bahkan mungkin beberapa juta, kematian di Rwanda. "Genosida Rwanda 100 persen tanggung jawab AS," tegasnya.

Di Amerika Latin, lanjut Piascik, selain mendukung kaum kontrarevolusi di Venezuela, AS terus melancarkan Perang Melawan Narkoba di Kolombia yang kenyataannya merupakan perang melawan rakyat yang dirancang untuk menghancurkan oposisi terhadap dominasi modal global. "Dan pada 2009, AS nyaris sendirian mengakui pemerintahan kudeta yang berkuasa di Honduras setelah menggulingkan pembaharu yang terpilih secara demokratis, Manuel Zelaya," paparnya.

Kekerasan AS tidak terbatas pada negara lain. "Di dalam negeri, contoh terbaik diilustrasikan oleh pemenjaraan besar-besaran warga Amerika keturunan Afrika (berkulit hitam)," ujar Piascik.

Dengan tingkat penahanan tertinggi di dunia dan sebagian besar tahanan berkulit hitam serta kekerasan polisi yang makin hakim sendiri dan kini terus berlangsung nyaris secara khusus ditujukan pada warga kulit hitam, AS tidak jauh beda dari Afrika Selatan di masa apartheid. "Mungkin diperlukan sanksi internasional untuk mengubah AS menjadi negara pariah, dan mengisolasinya secara diplomatik guna membantu negara paling berbahaya di dunia itu mendapatkan dosis peradaban," kata Piascik dengan geram.

Dan rakyat AS memikul tanggung jawab khusus untuk menentang agresi pemerintahnya maupun pendanaan dan upaya mereka mempersenjatai orang-orangnya yang terlibat dalam teror di seluruh dunia. (IT/GR/rj)

Pasukan Pro-Rusia Tangkap Sebuah Kapal Ukraina

 


Sekelompok orang bersenjata pro-Rusia menangkap sebuah kapal dari Armada Laut Hitam Ukraina di pelabuhan Sevastopol Crimea menyusul dikuasainya fasilitas militer Ukraina di semenanjung Laut Hitam itu oleh pasukan Rusia .

Kementerian Pertahanan Ukraina pada Sabtu (22/3) mengumumkan bahwa pasukan pro-Rusia telah menyita kapal Slavutich yang terblokir di Sevastopol, sebuah kota di barat daya Crimea.

Sementara pada hari yang sama, pasukan pro-Rusia menyerbu sebuah pangkalan udara Ukraina di Crimea. Tembakan dan ledakan terdengar di pangkalan udara Belbek, di luar Sevastopol, setelah kendaraan lapis baja pengangkut personel militer mendobrak gerbang pasca berakhirnya ultimatum yang diberikan Rusia kepada pasukan Ukraina.

Sebelumnya, militer Rusia mengepung pangkalan udara itu dan mengeluarkan ultimatum kepada pasukan yang berada di dalamnya untuk menyerahkan senjata mereka dan meninggalkan pangkalan tersebut, namun Ukraina menolak untuk mengizinkan mereka masuk.

Menurut komandan pangkalan udara Belbek, Yuliy Mamchur, satu warga Ukraina terluka dalam pengambilalihan pangkaaln tersebut.

Pangkalan udara Belbek adalah salah satu fasilitas militer terakhir di Crimea yang masih di bawah kontrol Ukraina.(IRIB Indonesia/RA)

Gurita Korporasi Multinasional

 





Oleh: Purkon Hidayat
Kesejahteraan ekonomi bagi pengusung Trickle Down Effect ibarat tetesan air dari atas ke bawah. Para pengusungnya meyakini bahwa kemakmuran akan tercapai dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tanpa perlu memperhitungkan pemerataan ekonomi. Dalam pandangan teori ini, ekspansi ekonomi, termasuk peningkatan jumlah orang kaya, akan berdampak pada multiplier effect terhadap pelaku ekonomi di bawahnya, sehingga akan berimbas terhadap kemakmuran. Tidak heran, jika kalangan ini begitu bangga dengan prestasi pertumbuhan jumlah orang kaya di Indonesia yang dinobatkan termasuk tertinggi di Asia.

November lalu, Forbes Asia merilis daftar 50 orang terkaya di Indonesia tahun 2013. Beberapa milyarder justru menambah pundi-pundinya yang semakin membengkak ketika perekonomian Indonesia cenderung bergejolak.  Meski laju pertumbuhan ekonomi masih bertengger di atas lima persen, tapi nilai tukar rupiah terhadap valuta uang asing jeblok hingga 19 persen dibandingkan tahun lalu.

Harian Kompas (22/11/2013) melaporkan, jumlah harta 50 orang terkaya di Indonesia mencapai  $95 miliar atau Rp.1.111,5 triliun, dengan asumsi kurs ketika itu sebesar Rp.11.700 perdolar. Nilai ini setara dengan setengah dari utang pemerintah Indonesia pada akhir Oktober 2013 sebesar Rp.2.273 triliun. Jumlah tersebut naik 1,1 persen dibandingkan tahun lalu.

Selain itu, pertumbuhan orang kaya Indonesia juga dilihat dari pemilik aset di atas $1 juta yang mencapai 25 persen per tahun. Staf Ahli Asosiasi Perusahan Ritel Indonesia (Aprindo) Yongki Susilo Kamis (16/1/2014) mengungkapkan bahwa peningkatan ini menempatkan Indonesia di deretan negara yang paling besar pertumbuhan orang kayanya di Asia. Meski demikian, jumlahnya masih lebih kecil dibandingkan Cina. (Metrotv,16/1/2014).

Tentu saja, deretan angka fantastis tersebut memberikan kontribusi terhadap data rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia secara kumulatif tumbuh 5,78 persen di tahun 2013. Produk domestik bruto (PDB)  per kapita atas dasar harga berlaku di tahun 2013 mencapai Rp.36,5 juta, atau senilai $3.499,9, yang meningkat 8,88 persen dibandingkan PDB per kapita tahun 2012.
Tapi, di tengah gebyar naiknya jumlah orang kaya Indonesia di tahun 2013, awal Januari lalu,  BPS  merilis data tingkat kemiskinan Indonesia yang mengkhawatirkan. Kepala BPS Suryamin Kamis (2/1/2014) mengungkapkan jumlah orang miskin di bulan September 2013 sebesar 28,55 juta atau berkisar 11,47 persen dari total penduduk Indonesia. Jumlah tersebut bertambah sebanyak 0,48 juta orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2013 sebanyak 28,07 juta orang,  atau 11,37 persen.
Lebih parah lagi, laporan BPS juga mengungkapkan bahwa indeks kedalaman kemiskinan (poverty gap index) Maret-September 2013, terjadi kenaikan dari 1,75 persen menjadi 1,89 persen. Tidak hanya itu, indeks keparahan kemiskinan (poverty severity index) juga naik dari 0,43 persen menjadi 0,48 persen. Laporan BPS tersebut menunjukan bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia semakin parah bukan hanya dari jumlah dan prosentase saja. Tapi, tingkat kedalaman dan keparahan pun kian mengkhawatirkan. 
Kedua indeks tersebut menunjukkan semakin tingginya  tekanan hidup yang dihadapi penduduk miskin. Melambungnya harga kebutuhan pokok akibat kenaikan harga BBM menyebabkan daya beli penduduk miskin semakin menurun, tapi di sisi lain tingkat pendapatan mereka tidak mengalami peningkatan. Akibatnya kehidupan mereka semakin jauh dari sejahtera. Data tersebut belum termasuk penduduk "hampir miskin" yang jumlahnya semakin meningkat melebihi jumlah penduduk miskin. Tampaknya, data BPS tersebut masih fenomena gunung es yang tidak mencerminkan realitas kemiskinan sebenarnya di luar deretan angka. Belum lagi banyak pihak yang keberatan dengan standar kemiskinan yang ditetapkan BPS sekitar Rp 211 ribu per kapita per bulan, bahkan standar ini berbeda dengan ukuran Bank Dunia.
Potret kontras yang menampilkan realitas kesenjangan sosial meningkatnya jumlah orang kaya yang segelintir dengan aset begitu besar, dan jumlah penduduk miskin yang semakin membengkak di tanah air memicu pertanyaan besar; ketimpangan. 
Indonesia mendapat pujian dari berbagai kalangan karena mampu menampilkan indikator makro ekonomi  yang berkilau, seperti laju pertumbuhan ekonomi yang bertengger rata-rata 5,85 persen dalam kurun waktu 2008-2013. Tapi, di sisi lain tingkat ketimpangan juga semakin mengkhawatirkan. Data Indeks Gini Indonesia dari tahun 2004 hingga tahun 2013 memperlihatkan tren yang meningkat, bahkan pada tahun 2013 menunjukkan angka 0,413.

Dari kepingan laporan ekonomi Indonesia tersebut ada beberapa hal yang bisa dicermati lebih jauh.
 
Pertama, berbagai data ini menunjukan ketidakadilan distribusi pendapat yang bertumpuk di kalangan tertentu saja. Perekonomian Indonesia, terutama sumber produksinya ternyata dikendalikan oleh segelintir orang yang menguasai hajat hidup orang banyak. Dewasa ini hampir seluruh kebutuhan pokok masyarakat dikendalikan oleh korporasi raksasa, dengan menguasai begitu banyak sektor strategis, dari bahan bakar, jalan tol hingga air minum. Besarnya pengaruh korporasi raksasa terhadap kehidupan masyarakat menyebabkan mereka mampu mendiktekan kepentingan ekonominya terhadap masyarakat bahkan negara. Akibatnya segelintir konglomerat  terus "menggemukkan" pundi-pundi hartanya, sedangkan jutaan rakyat yang miskin dan hampir miskin semakin jauh dari sejahtera.
 
Kedua, populasi penduduk Indonesia yang besar menjadi pasar potensial bagi perusahaan raksasa termasuk incaran korporasi multinasional.  Laporan BPS menunjukkan bahwa struktur PDB tahun  2013 masih didominasi oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga yang tumbuh 55,82 persen. Hingga kini berbagai korporasi asing beroperasi di Indonesia dengan mendulang emas dari besarnya jumlah penduduk yang dijadikannya sebagai pasar konsumtif.

Ketiga, meskipun amanat UUD 1945 Pasal 33 menyatakan, "Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat", tapi realisasinya masih jauh panggang dari api. Hal tersebut ditegaskan hasil survei yang dilakukan Indo Survey dan Strategy yang menunjukkan bahwa sebanyak 53,3 persen masyarakat tidak percaya terhadap pelaksanaan Pasal 33 UUD 1945 tersebut. (Kompas,20/10/2013).

Bertebarannya korporasi multinasional di Indonesia mengeruk kekayaan bangsa ini dan hanya sedikit saja kontribusinya bagi negara kita, ternyata bukan hanya fenomena yang menimpa Tanah Air saja. Di tingkat global, segelintir korporasi multinasional menguasai hajat hidup publik dunia, bahkan kebutuhan pokok seperti pangan dunia pun berada dalam kendalinya.

Khudori (2011) mengutip laporan South Center (2005) menunjukkan bahwa sekitar 85-90 persen perdagangan pangan dunia dikontrol hanya lima korporasi multinasional. Sekitar 75 persen perdagangan serelia dikuasai oleh dua korporasi multinasional. Dua korporasi raksasa menguasai 50 persen perdagangan dan produksi pisang. Tiga korporasi multinasional menguasai 83 persen perdagangan kakao. Tiga korporasi menguasai 85 persen perdagangan teh. Lima korporasi mengendalikan 70 persen produksi tembakau. Tujuh korporasi menguasai 83 persen produksi dan perdagangan gula. Empat persen mengendalikan hampir dua pertiga pasar pestisida. Sedangkan empat korporasi raksasa menguasai seperempat bibit (termasuk paten) dan hampir seratus persen pasar global bibit transgenik.

Keserakahan korporasi menyebabkan dunia timpang, karena mereka menguasai pasar seluruh kebutuhan pokok masyarakat dunia. Tampaknya, Noreena Hertz benar, "Pasar yang tidak diatur, keserakahan korporasi, dan lebih lagi lembaga keuangan akan memiliki konsekuensi global yang serius terutama berdampak buruk bagi warga biasa".

Cengkeraman korporasi multinasional di dunia memanfaatkan kelemahan demokrasi Liberal yang dipaksakan penerapannya di berbagai negara dunia, tanpa memerdulikan kearifan lokal. Korporasi raksasa multinasional juga memanfaatkan lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia untuk menekan kebijakan pemerintah sasaran pasar, termasuk Indonesia agar memuluskan jalan bagi mereka untuk mendulang pundi-pundi kekayaan di seluruh dunia. Model "Democracy without Adjectives" yang berkembang dewasa ini tidak lain dari cara korporasi multinasional membenamkan cakarnya di seluruh dunia tanpa mengenal batas dan rambu-rambu, bahkan aturan negara. Saking mengguritanya korporasi multinasional di dunia, Hertz (1999) menyebut korporasi multinasional menjelma menjadi institusi dominan yang mengalahkan negara dari sisi kekuasaan dan pengaruhnya di dunia. 

Hertz sejalan dengan tesis Leftwich (1993), Gibson (1993), Hadenius dan Uggla (1990) yang menunjukkan model baru demokrasi yang diadopsi saat ini sebagai cara baru korporasi multinasional mengintervensi negara-negara dunia. Inilah kemasan paling ampuh Kapitalisme global untuk memasukkan agenda tersembunyi ke negara tujuan dengan menggusur peran negara dan menggantikannya dengan pasar.

Dalam banyak kasus di Indonesia, buah getir dari agenda tersembunyi itu memasuki berbagai sektor, termasuk proses pembuatan undang-undang di DPR. Badan Intelejen Negara (BIN) melaporkan bahwa proses pembuatan 79 undang-undang di DPR dikonsep oleh konsultan asing (beritasatu,2001). Menurut anggota DPR, Eva Sundari, kebanyakan undang-undang yang menjadi sasaran intervensi asing di sektor migas, energi dan pertanian. Mungkin inilah yang disebut Noreena Hertz sebagai "Silent Takeover". Kekayaan bangsa-bangsa dunia, termasuk sumber daya alam negara kita yang kaya raya, diambilalih diam-diam oleh korporasi multinasional itu. Tapi, kita acapkali tidak menyadarinya!(IRIB Indonesia/Liputan Islam)
 

L’Ukraine Est Une Autre Syrie

 

Oleh: Dina Y. Sulaeman*
 
Membaca berbagai berita tentang Ukraina, terasa bagai deja vu. Terlepas dari perbedaan besar isu penyebab konflik di kedua negara, kerusuhan di Ukraina terlihat jelas menggunakan template atau cetakan yang sama dengan Suriah. L'Ukraine est une autre Syrie. Ukraina adalah Suriah yang lain.
 
Kehadiran tokoh Yahudi-Prancis, Bernard Henri Levy, di depan lautan manusia yang memenuhi Maidan --singkatan dari Maidan Nezalezhnosti  atau Lapangan Kemerdekaan—di Kiev, menjadi simbol utama kesamaan template itu. Levy dulu memprovokasi masyarakat Barat untuk ‘membantu' rakyat Suriah menggulingkan Assad (bahkan sebelumnya, juga hadir di Libya, di depan para demonstran anti-Qaddafi). Kini di Kiev, dia berpidato berapi-api, menyeru rakyat Ukraina, "Les gens de Maidan, vous avez un rêve qui vous unit. Votre rêve est l'Europe!"(wahai orang-orang Maidan, kalian punya mimpi yang mempersatukan kalian. Mimpi kalian adalah Eropa!)
 
Ya, Ukraina memang tengah diadu-domba dengan menggunakan isu Uni Eropa. Sebagian rakyat setuju bergabung dengan UE, sebagian lagi menolak. Pengalaman Yunani yang bangkrut akibat bergabung dengan UE membuat banyak orang sadar, UE dan pasar bebas Eropa bukanlah gerbang kemakmuran bagi rakyat banyak. Hanya segelintir yang diuntungkan,dan para kapitalis kelas kakap Eropalah yang jauh lebih banyak mengeruk laba.
 
Sebagaimana polisi Suriah yang habis-habisan diberitakan brutal oleh media Barat dan para pengekornya, Berkut (polisi) Ukraina pun mengalami nasib yang sama. Tak ada yang peduli bahwa polisi memang bertugas mengamankan gedung dan para pejabat negara dari aksi-aksi anarkis. Tak ada yang mencatat (kecuali jurnalis independen) bahwa baik Assad maupun Yanukovich  melarang polisi menggunakan senjata mematikan dalam menghadapi demonstran, dan akibatnya banyak polisi yang jadi korban, dipukuli atau kena lemparan batu dan molotov para demonstran.
 
Gaya para demonstran antipemerintah di Damaskus dan Kiev pun mengikuti ‘cetakan' yang sama dengan gaya demonstrasi oposisi Mesir, Tunisia, Venezuela, Belarus, Georgia, atau Iran. Mereka memprovokasi polisi, serta menyerang gedung-gedung pemerintah, yang tentu saja mendatangkan reaksi keras dari polisi. Tak heran, karena mentor mereka pun sama: CANVAS, perusahaan konsultan revolusi yang membina kaum oposan di lebih dari 40 negara.  Pentolan CANVAS adalah Srdja Popovic, arsitek gerakan penggulingan Slobodan Milosevic (Serbia) pada tahun 2000. Para pendukung dana CANVAS adalah lembaga-lembaga terkemuka seperti United States Institute for Peace (USIP) yang didanai Kongres AS, New Tactics (didanai Ford Foundation dan Soros Foundation), dan lain-lain.
 
Foreign Policy melaporkan, selama enam bulan pertama tahun 2012, 40 aktivis oposisi Syria mengadakan pertemuan di Jerman yang dikoordinir oleh USIP untuk merancang bentuk dan agenda pemerintahan  pasca-Assad.Tak jauh beda, demonstran Ukraina pun dididik oleh tangan-tangan Amerika. Pengakuan dari  Asisten Menteri Luar Negeri Amerika, Victoria Nuland, memberikan buktinya. Nuland mengatakan, Amerika telah menginvestasikan $5 milyar untuk ‘mengorganisir jaringan guna memuluskan tujuan Amerika di Ukraina'selain untuk memberikan ‘masa depan yang layak bagi Ukraina.' 
 
Bahkan Menlu Kanada juga mengakui telah memberikan sumbangan ‘luar biasa' pada sebuah LSM di Ukraina untuk rumah sakit darurat dan peralatan medis. Bantuan itu diberikan tepat sehari sebelum kelompok oposisi bersenjata menyerbu Maidan dan mengakibatkan jatuhnya banyak korban, termasuk tewasnya sejumlah polisi, pada 18/2.
 
Di Suriah, dengan alasan ‘melawan kebrutalan rezim', para pemberontak angkat senjata, dan senjata disuplai dari luar negeri. Tak beda jauh, demonstran Ukraina pun angkat senjata. Sebelum terang-terangan angkat senjata, kelompok oposisi di dua negara ini sama-sama menggunakan  taktik penembak gelap. Korbannya rakyat sipil, dan dengan segera di-blow up media massa; disebut sebagai korban kebrutalan polisi.
 
Bila di Suriah, ada Turki yang menikam dari belakang, di Ukraina ada Polandia. Tentu bukan kebetulan bila Polandia dan Turki sama-sama anggota NATO, dan bahkan sama-sama negara yang menyediakan wilayahnya untuk pangkalan militer AS. Turki membuka perbatasannya untuk suplai dana, senjata, dan pasukan jihadis dari berbagai penjuru dunia menuju Suriah; serta merawat para pemberontak yang terluka. Pada 20/2, PM Polandia menyatakan negaranya telah merawat pemberontak bersenjata dari Kiev, dan bahkan sudah memerintahkan militer dan Kementerian Dalam Negeri untuk mempersiapkan rumah sakit agar bisa menolong lebih banyak lagi.
 
Suriah terjebak dalam konflik berdarah-darah, yang entah kapan berakhir. Kelompok-kelompok radikal merajalela di berbagai penjuru negeri, menggorok leher orang-orang atas nama Tuhan dan menentengnya dengan bangga di depan kamera. Gedung-gedung bersejarah, pasar-pasar kuno, dan warisan budaya berusia ribuan tahun hancur lebur.
 
Ukraina tak jauh beda, sebuah negeri dengan keindahan alam yang mengagumkan, menyimpan gedung-gedung kuno eksotis Eropa Timur, dan bahkan ada jejak-jejak panjang kehadiran Islam di sana. Yanukovich memang sudah terguling, tapi konflik belum selesai. Perang saudara sudah di ambang mata. Bila di Suriah, yang maju ke depan untuk ‘berjihad' adalah kelompok Islam radikal, di Ukraina ada kelompok-kelompok ultra-kanan. Salah satu kelompok demonstran di Maidan, Ukrainian People's Self-Defense (UNA-UNSO, organisasi ‘turunan' NAZI), diketahui dilatih kemiliteran di kamp NATO di Estoniapada 2006.Mereka diajari membuat peledak dan menembak.
 
Skenario di Suriah dan Ukraina sedemikian mirip, sama miripnya dengan berbagai aksi penggulingan rezim di berbagai negara lain, baik yang berhasil, ataupun gagal. Terlepas bahwa pemimpin di negara-negara itu pantas atau tidak digulingkan, terlalu naif bila kita mengabaikan begitu saja kemiripan skenario ini. Ukraina adalah negara yang sangat subur, lumbung pangan Eropa, dan tengah membangun kekuatan industri. Tak heran bila Uni Eropa sangat menginginkannya. AS pun menggunakan kekacauan Ukraina untuk melemahkan Rusia, rivalnya di Suriah.
 
Dan jangan lengah. Alam Indonesia jauh lebih kaya dari Ukraina. Skenario yang sama, dengan isu berbeda, sangat  mungkin akan melanda negeri ini dalam waktu dekat.  Kecerdasan melihat mana kawan, mana lawan, adalah satu-satunya cara untuk melindungi keselamatan bangsa kita. Persatuan adalah kata kuncinya. Jangan biarkan Indonesia menjadi une autre Syrie.[IRIB Indonesia/PH]
 
*mahasiswi Program Doktor Hubungan Internasional Unpad, peneliti di Global Future Institute
(referensi utama: www. voltairenet.org)

Washington landslide death toll rises to 14

Scene of mudslide. 24 March 2014 
 Rescuers believe some people may have been trapped in cars
http://www.bbc.com/news/world-us-canada-26726746 

Related Stories

Authorities in the US state of Washington have found six more bodies after Saturday's huge landslide, bringing the number known to have been killed to 14, say police.
Officials now say as many as 176 people may remain unaccounted for after the 177ft (54m) wall of mud hit near the town of Oso, north of Seattle.
Search crews have worked day and night, using helicopters and laser imaging.
But officials admit they have little hope of finding survivors.
President Barack Obama has declared an emergency in Washington state and ordered federal authorities to co-ordinate the disaster relief effort.
Speaking earlier after surveying the area from the air, Washington Governor Jay Inslee said it was "devastation beyond imagination".
He said the slide "basically cut a mountain in two" and deposited it on the town below. Nothing in the path of the slide was still standing.
"It's that absolute devastation that causes us all real pain," he said.


Authorities confirm that 108 people have been reported missing
Family members and volunteers were using chainsaws and their bare hands to shift the wreckage and try to find those missing.
Cory Kuntz, helped by others, worked with chainsaws to cut through the roof of his uncle's house, which was swept about 450ft (137m) from its location.
He said his aunt, Linda McPherson, had been killed. He and the others pulled files and personal effects from the house.
"When you look at it, you just kind of go in shock," he said.
Half a town gone
 
Gail Moffett, a retired firefighter, said she knew about 25 people who were missing, including entire families with young children.
At a news conference on Monday evening, Snohomish County emergency management director John Pennington said the official list of the missing stood at 176.
But he said he did not think the final death toll would be so high, because some of those listed as unaccounted for would be found to be alive, and other names would prove to be duplicates.
But he said authorities no longer expected to find survivors in the debris.
"We as a community, we as a county, are beginning to realise that we are moving toward a recovery operation," he said.
"There is an awful lot of grieving."

Aerial photo of landslide. 24 March 2014  
The size of the landslide became evident from aerial photographs
Rescue workers in Washington on 24 March 2014  
Rescue workers, shown here with a dog, have had their efforts hindered by the unstable, water-logged mud and debris that buried the town
 
A general view of the area affected by the landslide. Photo: 22 March 2014 
 The thick mud covered a square mile and was up to 40ft (12m) deep in places
A man walks across the rubble on the east side of the mudslide near Oso, Washington, on 23 March 2014  
The wreckage of a home after the mudslide
The Stillaguamish river pushes through the dam of mud and debris (24 March 2014)  
The Stillaguamish river has begun to push through the dam of mud and debris, relieving the risk of a catastrophic flood, geologist Dave Norman said
The hillside that gave way and collapsed near Oso. Photo: 22 March 2014  
The authorities say the landslide was caused by recent heavy rain
 
Oso Community Church displays a sign reading "pray with us for our community" in Oso, Washington, on 24 March 2014  
Oso Community Church displays a sign reading "pray with us for our community"
 
A man walks across the rubble on the east side of the mudslide near Oso, Washington, on 23 March 2014  
A man walks across the rubble on the east side of the mudslide
The landslide left behind a cliff known as a head scarp 600ft high, Washington state geologist Dave Norman told reporters on Monday afternoon.
"This is one of the biggest landslides I've seen," Mr Norman said.
Authorities have continued their search-and-rescue operations amid a tangled, water-logged field of mud and debris, using rescue dogs, aerial photography and laser imaging to help the search.

Stable
Officials said the conditions were treacherous, and the threat of further landslides on Monday forced the authorities to pull rescue workers back from the scene briefly until scientists determined there was no further risk.


BBC Weather's Elizabeth Saary looks at how heavy rain caused the landslide
"Right now it's stable, it's in good shape, and the good news is the rescue can continue," said Steve Tomsen, Snohomish County public works director.
More than 30 homes were destroyed and more than half the town of Oso is missing - a recent census put its population at 180.
The landslide cut off the city of Darrington and clogged the north fork of the Stillaguamish River.
Mr Norman said the river had begun to flow over the debris, relieving the water pressure in the part of the river blocked behind the landslide and lessening the chances of a catastrophic flood if the water should break through all at once.
The authorities say the landslide was caused by recent heavy rain, although Mr Norman said the area's terrain was made up of unstable glacial sediment and had been subject to landslides since the last ice age.
He said landslides occurred in the area in 2006 and 1969.

Map of Oso, Washington
Have you been affected by the landslide? Email your experiences to haveyoursay@bbc.co.uk with the subject heading 'US landslide' or fill in the form below.

If you are happy to be contacted by a BBC journalist please leave a telephone number that we can contact you on. In some cases a selection of your comments will be published, displaying your name as you provide it and location, unless you state otherwise. Your contact details will never be published. When sending us pictures, video or eyewitness accounts at no time should you endanger yourself or others, take any unnecessary risks or infringe any laws. Please ensure you have read the terms and conditions.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar