Rabu, 26 Maret 2014

JARINGAN KEKUASAAN DAN PENDUKUNG... PARA SUPERPOWER DUNIA... MENGGURITA.. DI TIMUR TENGAH... ??? KINI SEDANG BERGEJOLAK.. KARENA .. AGENDA2 PERANG DAN PENDUDUKAN.. DAN PENJAJAHAN DAN PENYEBARAN TERORIS....??? PERANG DAN MENGACAUKAN.. YANG DIANGGAP BUKAN KAWAN SEJALAN DAN SEIRING... UNTUK KEPENTINGAN PARA TUAN2 BESAR PARA SUPERPOWER.. DAN KAUM SUPERKAYA DUNIA...???>>> .. BENARKAH MEREKA ADALAH TAMBANG EMAS DAN ENERGY KEKUATAN SUPERPOWER DUNIA.. YANG INGIN MEMBANGUN THE NEW WORLD ORDER... UNTUK REZIM SERAKAH.. DAN KAUM ARIA.. YANG MERASA MEMILIKI KEDUDUKAN DAN MARTABAT LEBIH TINGGI DARI YANG LAIN2NYA..??? ...>>> THE SUPER-ETHNICS AND SUPER-RICHMEN...???>>... ???>> WHO IS WHO...??? .... ....Friksi yang timbul di antara anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) dipengaruhi oleh krisis Suriah, karena pemerintah Qatar pasca proses transisi kekuasaan dari Sheikh Hamad kepada putranya Sheikh Tamim telah mengubah kebijakannya dalam krisis Suriah dari intervensi aktif ke arah intervensi yang berhati-hati. Hal ini telah mengakibatkan ketidakpuasan anggota P-GCC lainnya khususnya Arab Saudi....>> ...Pengaruh krisis Suriah terhadap KTT ini baik itu sebelum maupun ketika sidang para pemimpin Arab ini digelar sangat kentara. Para pemimpin negara-negara anggota Liga Arab sebelum sidang resmi telah menggelar pertemuan tertutup dan sepakat untuk tidak membahas friksi antar negara-negara Arab kawasan Teluk Persia...>>> ... Pertemuan para menlu negara anggota Liga Arab itu juga dihadiri Lakhdar Brahimi, wakil khusus PBB dan Liga Arab urusan Suriah yang menyampaikan laporan mengenai kondisi terbaru mengenai Suriah. Ahmad Jarba, pemimpin Koalisi Nasional Suriah juga hadir menyampaikan pidato dalam pertemuan yang berlangsung di Kuwait itu. Sebelumnya, Liga Arab memutuskan untuk menyerahkan kursi Suriah kepada oposisi pemerintah Damaskus.Tapi hingga kini tetap kosong. Sebab di tubuh anggota Liga Arab sendiri masih berselisih mengenai pihak mana yang akan mengisi kekosongan tersebut. Menlu negara-negara anggota Liga Arab Ahad (23/3) gagal meraih kesepakatan terkait kursi Suriah yang kosong di organisasi ini. Dalam pertemuan tersebut, delegasi Irak, Aljazair dan Mesir menentang penyerahan kursi Suriah kepada kubu Aliansi Anti pemerintah Damaskus dan menilainya bertentangan dengan prinsip serta ketentuan Liga Arab. Di sisi lain, Khalid al-Atiyah, menteri luar negeri Qatar dalam sidang pendahuluan menyerukan dukungan logistik dan senjata kepada teroris Suriah...>> ... Dalam hal ini laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) yang dirilis Juni 2013, kelima negara yang dikenal sebagai negara nuklir tengah menempatkan atau membuat senjata serta sistem pelontar nuklir. Bahkan mereka berencana melakukan tindakan tersebut. Dalam laporan ini ditekankan bahwa lima negara nuklir dunia (Cina, Perancis, Rusia, Inggris dan Amerika) memutuskan untuk mempertahankan gudang senjata nuklirnya untuk selamanya. SIPRI menyatakan, sejak awal tahun 2013, Amerika Serika, Rusia, Perancis, Inggris, Cina, India, Pakistan serta Rezim Zionis Israel memiliki sekitar 4400 senjata nuklir. Masih menurut SIPRI, jika seluruh hulu ledak nuklir dihitung maka negara tersebut memiliki sekitar 17.265 senjata nuklir. Padahal penandatangan NPT di mana anggota tetap Dewan Keamanan PBB juga termasuk didalamnya, menyatakan komitmennya untuk melucuti senjata nuklirnya...>> ...Gelombang aksi pemogokan massal yang dilakukan para diplomat dan staf kementerian luar negeri rezim Zionis menyebabkan perwakilan Israel di seluruh dunia ditutup.Juru Bicara kementerian Luar Negeri Israel, Yigal Palmor mengatakan aksi pemogokan yang dilakukan sebagai bentuk protes terhadap rendahnya upah tersebut menyebabkan seluruh perwakilan Israel yang berjumlah 102 di seluruh dunia diliburkan. Menurut Palmor, pemogokan yang dimulai sejak 5 Maret lalu itu telah menyebabkan tertundanya kunjungan pemimpin katolik dunia, Paus Franciscus ke Israel. Sebelumnya, kantor perdana menteri Israel mengungkapkan bahwa lawatan Benyamin Netanyahu ke Amerika Latin juga ditunda akibat aksi pemogokan di kementerian luar negeri Israel. meski telah dilancarkan berbagai ancaman terhadap pelakunya oleh para pejabat teras kemenlu rezim Zionis, hingga kini pemogokan yang diikuti lebih dari 1200 orang tersebut belum diketahui kapan akan berakhir...>> ...Di saat Tel Aviv berambisi melanjutkan kebijakan migrasi Yahudi dari berbagai negara ke Israel, tapi fakta yang terjadi justru sebaliknya. Orang-orang Yahudi yang berada di Israel melakukan eksodus meninggalkan Palestina pendudukan menuju benua Amerika dan Eropa akibat memburuknya kondisi ekonomi dan sosial, terutama melonjaknya pengangguran dan rendahnya upah. Para analis menilai berlanjutnya kondisi yang memicu kekhawatiran besar para pejabat teras Tel Aviv, terutama Netanyahu ini, akan menyeret Israel menuju tepi jurang kehancurannya yng dimulai dari dalam.(IRIB Indonesia/PH)..>> ..Muhammad Fethullah Gülen atau yang akrab disapa Hocaefendi, merupakan sosok ulama kharismatik dan paling berpengaruh di Turki bahkan di seluruh dunia saat ini dalam sebuah pernyataan Rabu, 26/03/14, mengakui bahwa posisi dukungan kepada Suriah adalah benar. "Sheikh al-Bouti benar posisinya mengenai krisis Suriah", demikian menukil laporan Syria 24, Rabu. Fethullah Gülen sebelumnya adalah tokoh spritual utama Erdogan yang kini berubah menjadi musuh utama Perdana Menteri Turki tersebut. Sebelumnya, pada Sabtu, 21/12/13, enam orang angggota kelompok Takfiri bersenjata yang berafiliasi dengan Front al-Nusra mengaku melakukan pembunuhan terhadap Sheikh Syahid Mohammad Said Ramadhan al-Bouti, Ulama Sunni kharismatik, di Masjid al-Iman di Damaskus, Suriah pada 21 Maret 2013 setelah diperintahkan oleh pemimpin tinggi gerakan Takfiri tersebut....>>



Bayang-bayang Krisis Suriah di KTT Liga Arab

 

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab yang digelar Selasa (25/3) di Kuwait rupanya tak lepas dari pengaruh krisis Suriah. KTT Liga Arab ke 25 rencananya digelar selama dua hari mulai 25-26 Maret.
 
Pengaruh krisis Suriah terhadap KTT ini baik itu sebelum maupun ketika sidang para pemimpin Arab ini digelar sangat kentara. Para pemimpin negara-negara anggota Liga Arab sebelum sidang resmi telah menggelar pertemuan tertutup dan sepakat untuk tidak membahas friksi antar negara-negara Arab kawasan Teluk Persia.
 
Friksi yang timbul di antara anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) dipengaruhi oleh krisis Suriah, karena pemerintah Qatar pasca proses transisi kekuasaan dari Sheikh Hamad kepada putranya Sheikh Tamim telah mengubah kebijakannya dalam krisis Suriah dari intervensi aktif ke arah intervensi yang berhati-hati. Hal ini telah mengakibatkan ketidakpuasan anggota P-GCC lainnya khususnya Arab Saudi.
 
Ketidakpuasan Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain atas kinerja baru Qatar sangat serius. Bahkan ketiga negara ini tak segan-segan menarik duta besar mereka dari Doha.
 
KTT Liga Arab di Kuwait saat digelar benar-benar terpengaruh oleh krisis yang tengah berkobar di Suriah. Sabah Ahmad al-Sabah, emir Kuwait yang memimpin sidang ke 25 Liga Arab secara tak langsung mengkritik intervensi negara-negara Arab dalam krisis Damaskus dan memperingatkan siapa saja yang berpikir terhindar dari dampak krisis Suriah benar-benar berada dalam kekeliruan. Hal ini dikarenakan dampak dari krisis Suriah kini telah melampaui negara ini.
 
Sheikh Tamim bin Hamad, emir Qatar dalam pidatonya hanya mengisyaratkan secara singkat krisis Suriah dan sikap tersebut mengidikasikan bahwa ia lebih memilih bersikap lebih berhati-hati dalam menyikapi krisis Damaskus supaya jangan sampai bernasib seperti ayahnya.
 
Fokus emir Qatar terhadap isu Palestina secara tidak langsung mengindikasikan penentangannya terhadap kinerja Arab Saudi dalam krisis Suriah sehingga friksi antara Riyadh dan Doha dalam KTT ini semakin tampak jelas. Berbeda dengan strategi emir Qatar dan Kuwait, Pangeran Salman bin Abdulaziz, pangeran mahkota Arab Saudi dalam pidatonya kembali menekankan urgensitas dukungan terhadap kelompok teroris dan kubu oposisi Suriah.
 
Meski demikian Pangeran Salman mengakui keseimbangan kekuatan di Suriah menguntungkan negara ini. Sebelumnya, solidaritas dan kesamaan visi di antara negara-negara Arab terkait krisis Suriah sangat kuat, namun keberhasilan militer Sudiah di medan tempur, kejahatan nyata dan brutalitas kelompok teroris, korban besar akibat krisis ini serta kekalahan opsi militer dalam krisis Damaskus telah mendorong munculnya friksi di antara anggota Liga Arab.
 
Kini Arab Saudi dan mitra-mitranya mulai terkucil dalam KTT Liga Arab, bahkan friksi di antara negara anggota pun semakin tajam. Perbedaan dan friksi tersebut akibat krisis Suriah. Dalam hal ini, Arab Saudi dan negara yang sehaluan dengan Riyadh gagal menyerahkan kursi Suriah di Liga Arab kepada kelompok oposisi Suriah. Dan sampai saat ini kursi Suriah di Liga Arab masih tetap kosong. (IRIB Indonesia/MF/NA)

Krisis Internal Mengoyak Israel

 



Gelombang aksi pemogokan massal yang dilakukan para diplomat dan staf kementerian luar negeri rezim Zionis menyebabkan perwakilan Israel di seluruh dunia ditutup.Juru Bicara kementerian Luar Negeri Israel, Yigal Palmor mengatakan aksi pemogokan yang dilakukan sebagai bentuk protes terhadap rendahnya upah tersebut menyebabkan seluruh perwakilan Israel yang berjumlah 102 di seluruh dunia diliburkan. Menurut Palmor, pemogokan yang dimulai sejak 5 Maret lalu itu telah menyebabkan tertundanya kunjungan pemimpin katolik dunia, Paus Franciscus ke Israel.
 
Sebelumnya, kantor perdana menteri Israel mengungkapkan bahwa lawatan Benyamin Netanyahu ke Amerika Latin juga ditunda akibat aksi pemogokan di kementerian luar negeri Israel. meski telah dilancarkan berbagai ancaman terhadap pelakunya oleh para pejabat teras kemenlu rezim Zionis, hingga kini pemogokan yang diikuti lebih dari 1200 orang tersebut belum diketahui kapan akan berakhir.
 
Bersamaan dengan berlanjutnya aksi pemogokan diplomat dan staf kementerian luar negeri rezim Zionis, terjadi aksi serupa yang dilakukan para pegawai kementerian perguruan tinggi, medis, tranportasi dan layanan publik. Aksi tersebut diikuti oleh puluhan ribu orang sebagai bentuk protes terhadap kebijakan ekonomi kabinet Netanyahu. Mereka juga menuntut kenaikan upah dan pemulihan kondisi ekonomi.
 
Selama beberapa tahun terjadi lonjakan biaya hidup, krisis properti, peningkatan kesenjangan sosial, kejahatan yang semakin merajalela, pengangguran yang meroket serta berbagai masalah sosial lainnya yang memicu kemarahan warga Israel. Bahkan sebagian dari mereka memutuskan untuk meninggalkan palestina pendudukan.
 
Para analis ekonomi menilai kebijakan Netanyahu dalam beberapa tahun ini menyebabkan Israel semakin terkucil di tingkat regional dan internasional. Sanksi terbaru yang dijatuhkan Uni Eropa yang memprotes berlanjutnya pembangunan distrik ilegal Israel di wilayah Palestina menyebabkan posisi Tel Aviv kian terpojok dan berakibat memburuknya kondisi ekonomi rezim Zionis.
 
Di saat Tel Aviv berambisi melanjutkan kebijakan migrasi Yahudi dari berbagai negara ke Israel, tapi fakta yang terjadi justru sebaliknya. Orang-orang Yahudi yang berada di Israel melakukan eksodus meninggalkan Palestina pendudukan menuju benua Amerika dan Eropa akibat memburuknya kondisi ekonomi dan sosial, terutama melonjaknya pengangguran dan rendahnya upah. Para analis menilai berlanjutnya kondisi yang memicu kekhawatiran besar para pejabat teras Tel Aviv, terutama Netanyahu ini, akan menyeret Israel menuju tepi jurang kehancurannya yng dimulai dari dalam.(IRIB Indonesia/PH)


Menyimak KTT Keamanan Nuklir di Den Haag

 


Penyelenggara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Keamanan Nuklir atau Nuclear Security Summit (NSS) yang digelar Senin (24/3) di kota Den Haag Belanda menytakan sekitar 58 pemimpin dunia mengikuti KTT ini. Presiden Amerika Serikat dan Cina termasuk kepala negara yang hadir dalam KTT tersebut.
 
Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte akan mewakili tuan rumah. Sedangkan Angela Merkel, kanseli Jerman, Shinzo Abe, PM Jepang dan David Cameron, perdana menteri Inggris dilaporkan juga termasuk perserka yang mengikuti KTT Keamanan Nuklir yang ketiga ini. Selain itu, hadir juga 17 wakil presiden dan 13 menteri. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov akan hadir di Den Haag mewakili Presiden Vladimir Putin.
 
Ini merupakan KTT Keamanan Nuklir yang ketiga. KTT pertama digelar di Washington, Amerika pada tahun 2010 dan kedua di Seoul, Korea Selatan pada tahun 2012. Berdasarkan berbagai laporan, agenda utama KTT kali ini membahas isu terorisme nuklir. Terorisme nuklir tercatat sebagai modus terorisme baru dan paling berbahaya. Kemungkinan munculkan terorisme nuklir membuat dunia sangat khawatir.
 
Aksi terorisme nuklir dapat disebut sebagi penggunaan bahan serta senjata nuklir terhadap person atau pemerintah serta juga mengandung unsur perilaku ilegal terhadap bahan serta instalasi nuklir. Oleh karena itu, dalam dokumen internasional, terorisme nuklir bukan sekedar tindak kekerasan nuklir atau ancaman terhadap pemerintah atau person. Menurut dokumen internasional, aksi terorisme nuklir juga mencakup, penyediaan, kepemilikan, pembelian dan penjualan, penyelundupan serta penggunaan bahan-bahan radioaktif dan senjata nuklir. Bahkan juga sekedar permintaan pun dapat dikategorikan sebagai terorisme nuklir.
 
Dalam hal ini di KTT Den Haag diupayakan pencapaian mekanisme guna mencegah kelompok teroris memiliki bahan-bahan radioaktif dan senjata nuklir. Dengan demikian keamanan nuklir tidak akan terganggu.
 
Meski pembahasan terorisme nuklir memiliki urgensitas tersendiri, namun realitanya adalah keamanan dunia dewasa ini lebih terancam oleh kekuatan-kekuatan nuklir yang kebetulan para pemimpinnya menghadiri KTT ini, ketimbang oleh kelompok teroris. Meski ada upaya internasional untuk mengurangi timbunan senjata nuklir khususnya Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT),  kekuatan besar nuklir dunia masih tetap memodernisasi senjata nuklirnya.
 
Dalam hal ini laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) yang dirilis Juni 2013, kelima negara yang dikenal sebagai negara nuklir tengah menempatkan atau membuat senjata serta sistem pelontar nuklir. Bahkan mereka berencana melakukan tindakan tersebut.
 
Dalam laporan ini ditekankan bahwa lima negara nuklir dunia (Cina, Perancis, Rusia, Inggris dan Amerika) memutuskan untuk mempertahankan gudang senjata nuklirnya untuk selamanya. SIPRI menyatakan, sejak awal tahun 2013, Amerika Serika, Rusia, Perancis, Inggris, Cina, India, Pakistan serta Rezim Zionis Israel memiliki sekitar 4400 senjata nuklir.
 
Masih menurut SIPRI, jika seluruh hulu ledak nuklir dihitung maka negara tersebut memiliki sekitar 17.265 senjata nuklir. Padahal penandatangan NPT di mana anggota tetap Dewan Keamanan PBB juga termasuk didalamnya, menyatakan komitmennya untuk melucuti senjata nuklirnya.
 
Sepertinya kecil kemungkinan bahwa negara-negara pemilik senjata nuklir sejatinya berniat melepas gudang senjata nuklirnya. Program jangka panjang modernisasi negara-negara ini mengindikasikan bahwa senjata nuklir dalam pandangan mereka merupakan indeks dan parameter kekuatan serta citra internasional.
 
Dengan demikian dunia masih saja menyaksikan keberadaan gudang-gudang senjata nuklir yang bukannya berkurang, namun malah terus bertambah atau penimbunan terus menerus senjata nuklir baru di gudang senjata tersebut. Pada akhirnya kondisi ini hanya akan mengancam keamanan dan perdamaian dunia. (IRIB Indonesia/MF)

Fethullah Gülen: "Sheikh al-Bouti dalam Posisi Benar"
Islam Times- 
http://www.islamtimes.org/vdcgxn9wyak93y4.1ira.html
 
"Sheikh al-Bouti benar posisinya mengenai krisis Suriah", demikian menukil laporan Syria 24, Rabu.
 
Muhammad Fethullah Gülen
Muhammad Fethullah Gülen

Muhammad Fethullah Gülen atau yang akrab disapa Hocaefendi, merupakan sosok ulama kharismatik dan paling berpengaruh di Turki bahkan di seluruh dunia saat ini dalam sebuah pernyataan Rabu, 26/03/14, mengakui bahwa posisi dukungan kepada Suriah adalah benar.

"Sheikh al-Bouti benar posisinya mengenai krisis Suriah", demikian menukil laporan Syria 24, Rabu.

Fethullah Gülen sebelumnya adalah tokoh spritual utama Erdogan yang kini berubah menjadi musuh utama Perdana Menteri Turki tersebut.

Sebelumnya, pada Sabtu, 21/12/13, enam orang angggota kelompok Takfiri bersenjata yang berafiliasi dengan Front al-Nusra mengaku melakukan pembunuhan terhadap Sheikh Syahid Mohammad Said Ramadhan al-Bouti, Ulama Sunni kharismatik, di Masjid al-Iman di Damaskus, Suriah pada 21 Maret 2013 setelah diperintahkan oleh pemimpin tinggi gerakan Takfiri tersebut.


"Setelah Sheikh al-Bouti mengkritik operasi Jabhat (Front) al-Nusra di Suriah, kami diperintahkan untuk membunuhnya, karena fatwa dari pejabat umum legislatif Jabhat al-Nusra yang bernama Abu Khadijeh al-Ordoni," kata salah satu anggota Takfiri sesuai dengan pengakuannya yang disiarkan oleh TV Suriah pada hari Sabtu, 21/12/13.

Anggota Takfiri itu mengatakan sebelumnya, pembunuhan Sheikh al-Bouti itu direncanakan di al-Hamidiyyeh Souk setelah ia selesai khotbah Jumat di Masjid Umayyah sementara mobilnya melewati wilayah Souk.

"Namun, rencana itu akhirnya berubah setelah kita mendapatkan informasi bahwa Sheikh al-Bouti mengadakan pelajaran agama setiap hari Kamis di Masjid al-Iman sehingga pembunuhan itu berlangsung di Masjid itu," kata para Takfiri Salafi.

Mereka lebh lanjut mengatakan, rencana untuk menyerang Sheikh al-Bouti juga dilakukan dengan memakai bom mobil bunuh diri dengan memakai sabuk peledak, namun rencana itu diubah karena dikhawatirkan, mobil yang membawa Sheikh berlapis baja. [IT/Onh/Ass]

"Ular Krisis" yang Membelit Liga Arab

 





Menjelang digelarnya KTT Liga Arab ke-25, para menteri negara-negara arab bertemu di Kuwait untuk membahas persiapan sidang tersebut. Pertemuan tingkat pemimpin negara Arab yang digelar hari Selasa (25/3) ini akan membahas berbagai isu terpenting mengenai masalah regional. Pertemuan pembukaan telah digelar hari Minggu (23/3) yang membicarakan masalah perundingan damai antara Palestina dan Israel, krisis Suriah dan hasil konferensi Jenewa 2. Selain itu, pertemuan tingkat menteri luar negeri Liga Arab juga membicarakan tranfomasi terbaru di Lebanon dan Yaman.
 
Pertemuan para menlu negara anggota Liga Arab itu juga dihadiri Lakhdar Brahimi, wakil khusus PBB dan Liga Arab urusan Suriah yang menyampaikan laporan mengenai kondisi terbaru mengenai Suriah. Ahmad Jarba, pemimpin Koalisi Nasional Suriah juga hadir menyampaikan pidato dalam pertemuan yang berlangsung di Kuwait itu.
 
Sebelumnya, Liga Arab memutuskan untuk menyerahkan kursi Suriah kepada oposisi pemerintah Damaskus.Tapi hingga kini tetap kosong. Sebab di tubuh anggota Liga Arab sendiri masih berselisih mengenai pihak mana yang akan mengisi kekosongan tersebut.
 
Menlu negara-negara anggota Liga Arab Ahad (23/3) gagal meraih kesepakatan terkait kursi Suriah yang kosong di organisasi ini. Dalam pertemuan tersebut, delegasi Irak, Aljazair dan Mesir menentang penyerahan kursi Suriah kepada kubu Aliansi Anti pemerintah Damaskus dan menilainya bertentangan dengan prinsip serta ketentuan Liga Arab. Di sisi lain, Khalid al-Atiyah, menteri luar negeri Qatar dalam sidang pendahuluan menyerukan dukungan logistik dan senjata kepada teroris Suriah.
 
Sementara itu, Sheikh Sabah Khalid Al-Hamad Al-Sabah, menteri luar negeri Kuwait memandang solusi militer tidak tepat bagi krisis Suriah. Menlu Kuwait menilai satu-satunya solusi untuk mengakhiri krisis Suriah adalah jalur diplomatik dan dialog antara pemerintah dan kubu oposisi.
 
Selain itu, sejumlah masalah lain seperti perselisihan mengenai perbatasan terotorial antarnegara Arab sendiri dan perebutan pengaruh yang sangat kental di antara para pemimpin negara-negara Arab, terutama antara Qatar dan Arab Saudi yang didukung sejumlah negara lainnya, semakin memperuncing konflik antara negara anggota Liga Arab.
 
Selama tiga tahun terakhir ini negara-negara Arab menghadapi transformasi baru seiring berhembusnya musim semi Arab yang mengubah piramida kekuasaan sejumlah negara di kawasan. Pada saat yang sama, situasi dan kondisi pun justru semakin tidak menentu. Meningkatnya aksi terorisme di sejumlah negara Arab dan perselisihan yang semakin memanas di antara sesama anggotanya sendiri menambah daftar panjang masalah yang dihadapi Liga Arab. Mampukah Liga Arab menghadapi "ular krisis" yang membelit dirinya ? Parameter untuk mengukurnya, kita lihat saja seberapa jauh mereka bisa kompromi antarsesama anggotanya sendiri.(IRIB Indonesia/PH

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar