Jumat, 16 Desember 2011

....... Sam Biddle, akhirnya mencoba mengorek lebih jauh lagi perihal kematian Usamah. Benarkah negaranya terlibat dan sejauh mana bukti-bukti yang ada........>>> ....Dephan AS Ternyata tak Punya Bukti Kalau Usamah bin Ladin Tewas.... ??? Ahhh... Republika ini main2..... yah...??? Gak Mungkin Gak ada Bukti2....??? Emangnya.. ini.. Bohong2an...??? .. Usama Bin Ladin Khan Orang Al Qaeda No 1 dan Musuh AS paling dicari...dengan Harga paling mahal.....??? Hidup atau Mati..??? ..Ini mempermainkan Presiden Obama..???... Buat apa Mengirimkan Prajurit AS ke Afghanistan dengan 100 ribu Tentara lebih....??? Dan Dana Rakyat dan Pajak AS yang Ber-ratus milyar...??? Bom2.. Tentara... Senapan.. Agen2 CIA.. .. Pembunuh Bayaran...?? Dan Semua jaringan ... komunikasi canggih... satelit... pesawat2 canggih.. dan semuanya.. dengan dana Besar...??? !!! Gak Mungkin... Awas yah Republika..???!!!... Tahu kamu2 semua... Korban para perajurit AS dan Sekutu2nya.. juga tidak seddikit... baik yang mati maupun yang Cacat seumur hidup....??? .. Masa iyah.. sih Presiden AS Obama dan Menlu AS Madam Rodham Clinton... main2...??? Khan mereka para kepercayaan... para Tuan2 Besar AS sejak dahulu... yakni Tuan2 Besar Super Kaya dan Super Kuat... Keluarga Besar Tuan Rotschields.. dan Group Kaum Kaya Raya AS-Eropa-Raja2 Inggris-Belanda-Luxemburg-Australia.. dan Para Bankers Super Kaya...??? Pasti tidak main2...??? ... Mau di Kennedy -kan.. atau di Abraham Lincoln-kan...??? Awas yah jangan main2... ??? Peristiwa 911 WTC 2001 dan Peristiwa Pendudukan dan Penjajahan Iraq-Pembunuhan Sadam Husein- dan Pemburuan Pemimpin Al Qaeda... adalah target dan tujuan pasti..dan utam...>>> Itulah sebabnya... Timur Tengah ditaklukan... >> Raja2 Arab Saudi..dan Negara2 Teluk dibekuk dan di taklukan....!!!.. Mereka semuanya sudah menyembah AS-NATO... dan semuanya bersujud kepada Tuan2 Besar AS-Eropa.. yang dipimpin oleh Presiden Barak Husen Obama....!!!.. >>> Dan juga penghancuran Ghadafi... dan kini menggincang Suriah...>>> Semuanya dalam target... AS dan Israel dan Eropa... dengan legitimasi PBB dan penyokong... Raja2 Arab- dan Negara2 Teluk... dan Tokoh2 Timur Tengah....???>> Hmmhh.. Awas ini berita permainan.. belaka...!!!..??? .. Ini permainan politik DE VIDE ET IMPERA UMAT ISLAM....gaya baru bung...!!!??? >> Awas jangan tolol... hai kamu2... cendekiawan Islam...???>>> hehe... Hati2 kamu.. semua... Bersatulah.. dan hayyooo temukan Kebenaran Islam... dan Semangat Islam... Persatuan Islam... dan Umat Islam...>>> Hayyo bangkitkan Persaudaraan dan Solidaritas Islam dan Umat Islam....!!! Hayyoo Bangkitlah wahai Umat Islam secara utuh dan kaffah...!!!..... Jihad..!!! Jihad..!!! Jihad..!!! untuk Kejayaan Agama Allah ... Agama Islam dan Umat Islam secara utuh menyeluruh...>>> Tegakan hukum2 Islam secara Benar-Adil-dan Aman....serta sentausalah Umat Manusia seluruhnya... !!!...>>> Allahu akbar... Allahu Akbar.. Allahu Akbar..>>!!.

Gizmodo
Gizmodo
Mengejutkan! Dephan AS Ternyata tak Punya Bukti Kalau Usamah bin Ladin Tewas
Mainan yang menggambarkan Presiden AS Barack Obama dan Usamah bin Ladin

TERKAIT :


Mengejutkan! Dephan AS Ternyata tak Punya Bukti Kalau Usamah bin Ladin Tewas

Jumat, 16 Desember 2011 15:02 WIB


REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON

Usamah bin Ladin tewas pada 1 Mei lalu. Namun rupanya warga AS pun ada yang tak puas dengan keterangan pemerintah AS terhadap kematian Usamah.

Redaktur laman gaya hidup Gizmodo, Sam Biddle, akhirnya mencoba mengorek lebih jauh lagi perihal kematian Usamah. Benarkah negaranya terlibat dan sejauh mana bukti-bukti yang ada.

Biddle menggunakan jalur Freedom of Information Act (FOIA).

Ia meminta akses data ke Dephan AS yaitu Pentagon soal bukti-bukti lengkap yang menyatakan pemerintah AS terlibat atau memiliki dokumen soal tewasnya Usamah. Lewat jalur FOIA, pemerintah AS wajib menjelaskan serinci mungkin permintaan yang diajukan oleh warga negaranya. Bahkan kalau tak puas dengan jawabannya, warga negara masih bisa mendesak Dephan untuk banding informasi itu.

Apa hasilnya dari permintaan Biddle?

Cukup mengejutkan. Ternyata pemerintah AS tak memiliki selembar dokumen pun, termasuk foto dan atau video, atau cuplikan video terkait pemakaman Usamah di laut maupun operasi itu.

William T Kammer, kepala divisi Freedom on Information Direktorat Jasa Eksekutif Dephan AS, mengatakan pada Biddle bahwa ia tak menemukan satu bukti pun soal Usamah tewas!

Kammer meminta informasi ini ke sejumlah pihak di dalam Dephan AS.

[1] Pertama, ia meminta ke Office of the Chairman of the Joint Chief Staff (OCJC). "Kami telusuri ke Direktorat Operasi Global yang biasanya menyimpan seluruh dokumen soal operasi, kami mencari hard copy maupun data elektronik. Tapi tak ada catatan satupun tentang itu. Kami juga mencari data dari email Ketua Joint Chiefs of Staff AS Admiral Mike Mullen, hasilnya pun nihil. Kami mencari dalam server maupun hard disk lainnya, juga tidak ada rekaman soal tewasnya Usamah," demikian Kammer. Pencarian itu dibatasi oleh jangka waktu 1 Mei-31 Mei 2011.

[2] Kammer mencoba jalan lain. Ia ke US Special Operations Command (USSOCOM). Tugas komando ini adalah untuk menghancurkan setiap ancaman teroris yang ada. Artinya, setiap ada operasi khusus yang melibatkan angkatan bersenjata AS, maka USSOCOM mengetahuinya. Hasilnya pun serupa. "USSOCOM mencari dokumen di markas dan di sejumlah tempat lain, tak ada rekaman apapun terkait permintaan Anda soal Usamah bin Ladin. Kami mencari lewat sistem pencarian spesifik maupun hard copy dan data elektronik termasuk email, tetap tidak ada!" kata Kammer. 

Dua jalan buntu. Kammer mencoba alternatif ketiga. Dengan asumsi Usamah, sesuai pernyataan AS bahwa dikubur di laut, maka USS Carl Vinson harusnya mengetahui operasi tersebut. Kammer meminta data ke USS Carl Vinson. Komando AL Armada Pasifik menegaskan tak ada satupun prajurit AS yang merekam, memfoto, penguburan Usamah ke laut. Kammer juga sempat memeriksa sistem email kapal induk tersebut, siapa tahu ada yang berdiskusi soal Usamah, ternyata tak ada satupun hasilnya. 

Pernyataan Dephan ini tentu saja aneh. Karena operasi khusus membunuh Usamah adalah operasi tingkat tinggi. Bahkan detik-detik penggerebakannya disaksikan oleh Presiden AS Barack Obama dan Menlu Hillary Clinton.

"Lha, kalau tidak ada satupun di militer AS yang punya bukti Usamah telah tewas, apakah ia benar-benar tewas? Atau bagaimana?" tanya Biddle dengan gusar. 

Anda pilih percaya yang mana? Usamah tewas atau ternyata....
Redaktur: Stevy Maradona
Sumber: Gizmodo

STMIK AMIKOM



Defense News

Michael G Vickers

TERKAIT :

Mengenal 'Sang Pembunuh' Usamah bin Ladin (3), Mata-Mata yang Seperti Pustakawan

Minggu, 04 September 2011 20:13 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON--
Lazimnya seorang intelejen, sosok Michael G Vickers, sangat berbeda jauh dari gambaran agen-agen rahasia di film Hollywood. 

Vickers malah lebih mirip dengan seorang pengacara yang rapi, dengan jas hitam, kemeja putih, dan kacamata. Bukan seseorang yang mengerti tentang rudal Stinger atau senjata AK-47.

Adik Vickers, Richard, yang bekerja sebagai pegawai rumah sakit, mengatakan, "Tiap kali saya mengenalkan kakak saya ke teman-teman, mereka selalu mengatakan dia sangat sopan. Mereka kira dia kerja di perpustakaan."

Dalam buku Charlie Wilson's War, yang diangkat menjadi film oleh Hollywood, Vickers digambarkan sebagai sosok agen intelejen yang romatis dan doyan film-film James Bond.

Vickers bersekolah di Hollywood High School. Dia tadinya bermimpi jadi atlet. Namun gagal dan banting setir jadi anggota pasukan khusus Baret Hijau pada 1973 di usia 19 tahun. "Saat itu jadi Baret Hijau kedengerannya sangat keren," kata dia. 

Selama 10 tahun berikutnya, Vickers belajar menjadi agen intelejen yang mumpuni. Ia bisa terjun payung dengan membawa senjata nuklir. Belajar mengenai persenjataan Uni Sovyet, dan ikut serta dalam pembebasan sandera di Honduras. 

Pada 1983, Vickers bergabung dengan CIA unit paramiliter. Dia dikirim ke Lebanon untuk mengumpulkan data intelejen terkait pemboman barak militer marinir AS di Beirut pada 1983. Tak lama kemudian, Vickers mulai berurusan dengan hal ihwal Mujahidin di Afghanistan. 

Vickers hengkang dari CIA pada 1986. Selama 20 tahun setelah itu ia sibuk dalam sejumlah lembaga penelitian dan universitas (Vickers lulus master dari Wharton School dan doktoral dari John Hopkins School of Advanced International Studies). 

Presiden George W Bush terkesan dengan keahlian Vickers saat ia diundang untuk rapat terkait situasi terkini di Irak. Vickers kemudian masuk ke dalam tim Menhan Robert Gates dan berlanjut ke pemerintahan Presiden Obama.

"Vickers adalah satu satunya orang yang mengerti soal bisnis (Alqaidah) ini," kata Wakil Direktur CIA Michael J Morell saat penyerbuan ke rumah Usamah, Mei lalu. 

Jauh hari sebelum penyerbuan ke markas Usamah di Abbottabad, Vickers sudah mengurusi tetek bengek laporan intelejen dari Pakistan. Vickers yang mengusulkan agar AS mengirimkan tim Navy Seal ke rumah Usamah. Sementara banyak petinggi Departemen Pertahanan dan Pentagon AS keberatan dengan rencananya itu karena terlalu berisiko.

Kini, 10 tahun setelah peristiwa 9/11 yang menghancurkan menara kembar World Trade Center, Vickers masih terus berjibaku dengan Alqaidah. Ia disebut-sebut bakal jadi direktur CIA di masa depan. Namun ia tak mengendorkan pengintaiannya atas Alqaidah, "Mereka masih sangat berbahaya," kata dia.
Redaktur: Stevy Maradona
Sumber: New York Times



Charlie Wilson War
Mengenal 'Sang Pembunuh' Usamah bin Ladin (2), Sosok Vickers Pernah Difilmkan Hollywood
Sosok Michael Vickers (kanan) beradu akting dengan Tom Hanks (kiri) dalam film Charlie Wilson's War

TERKAIT :

Mengenal 'Sang Pembunuh' Usamah bin Ladin (2), Sosok Vickers Pernah Difilmkan Hollywood

Minggu, 04 September 2011 17:40 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON--Sosok Michael G Vickers sebagai intelejen sebagai 'pembunuh Usamah bin Ladin' rupa-rupanya pernah difilmkan. Pada 2007, Hollywood merilis film Charlie Wilson's War yang dibintangi Tom Hanks dan Julia Roberts.

Di film itu, Hanks yang menjadi Charlie Wilson anggota Kongres AS bekerja sama dengan Julia Roberts untuk meminta dana pada pemerintah AS. Dana itu akan mereka gunakan untuk mempersenjatai warga Afghanistan dari serangan Uni Sovyet.

Lobi mereka berhasil. Malah mereka bisa mendatangkan Presiden Pakistan Zia Ul Haq ke Amerika untuk mau bekerjasama menampung para pejuang Afghanistan. Kongres AS setuju mengucurkan dana ratusan juta dolar AS untuk mempersenjatai Mujahidin.

Nah untuk mengetahui kondisi di lapangan, Charlie Wilson bekerjasama dengan seorang agen CIA. Agen inilah, Michael G Vickers, yang saat itu masuk dalam seksi Afghanistan-Pakistan CIA. Vickers digambarkan jago bermain catur dan eksentrik, namun jenius merancang operasi intelejen. 

Selama masa pemerintahan Presiden Ronald Reagan, Vickers menjadi dalang bagi pasokan senjata ke Afghanistan. Senjata, yang di film tersebut dibeli dari Israel, mengalir bagi pejuang Afghanistan pimpinan Gulbuddin Hekmatyar dan Jalaluddin Haqqani. 

"Ya, kebanyakan kolega saya waktu itu kini sudah beralih ke sisi 'gelap'" kata Vickers. "Ketika itu (perang Afghanistan-Sovyet) kami (CIA) sadar mereka (mujahidin) bukanlah sekutu yang sempurna. Tapi Anda harus bersepakat dengan 'setan' untuk mengalahkan 'setan' lainnya," tegas dia. 

Bagi Vickers, setan saat ini adalah Alqaidah. Dan Vickers lebih berhati-hati ketimbang Leon Panetta untuk menyusun langkah penghabisan Alqaidah. Ia memperkirakan, masih ada empat tokoh penting Alqaidah yang masih hidup di Pakistan. Dan masih ada 10-20 tokoh lainnya di Pakistan, Yaman, dan Somalia. 

Bagaimana kalau AS berhasil membunuh semua anggota Alqaidah? Vickers mengaku tak bisa 'membunuh' tuntas organisasi yang awalnya bertujuan membantu mujahidin Pakistan itu. "Anda tak bisa membunuh ide tentang Alqaidah," kata dia. 

"Anda tak bisa menghilangkan ide Alqaidah. Tapi Anda bisa melumpuhkan kemampuan terorisme mereka. Jadi ya, sangat mungkin menghancurkan Alqaidah tapi butuh waktu lama," sambung Vickers panjang lebar.
Redaktur: Stevy Maradona
Sumber: New York Times


AP

Mengenal Michael Vickers 'Sang Pembunuh' Usamah bin Ladin (1)
Michael G Vickers














Michael G Vickers

Mengenal Michael Vickers 'Sang Pembunuh' Usamah bin Ladin (1)

Minggu, 04 September 2011 16:53 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON-— "Saya hanya ingin membunuh mereka (Alqaidah)," lata Michael G Vickers (58), mantan agen Badan Intelejen AS (CIA) yang berhasil melancarkan operasi membunuh Usamah bin Ladin, beberapa bulan lalu. 

New York Times menurunkan artikel khusus membahas soal Vickers, pada 3 September lalu. Vickers, mantan anggota pasukan khusus Baret Hijau, hidupnya hanya berkutat soal Alqaidah. Saban hari dia mendapat laporan berapa banyak anggota senior Alqaidah yang sudah tewas. 

Beberapa waktu terakhir, laporan yang masuk sudah bertumpuk-tumpuk di meja kerjanya. Ini terlihat dari berita tewasnya orang nomor dua di Alqaidah dalam serangan CIA, akhir bulan lalu. Kemudian anggota senior Alqaidah juga dibunuh pada Juni kemarin, dan puncaknya saat operasi CIA di Abbottabad yang menewaskan Usamah.

"Hidup saya hanya untuk melumpuhkan Alqaidah," kata dia lagi. Vickers bertugas dibawah Menhan AS Leon E Panetta sebagai staf khusus. Panetta adalah mantan direktur CIA, tempat Vickers bertugas sebelumnya. 

Selain melumpuhkan Alqaidah, Vickers juga bertanggungjawab atas pergerakan Taliban Afghanistan. Amerika Serikat, yang mempersenjatai pejuang mujahidin Afghanistan saat negeri mereka diserbu Uni Sovyet. Sebuah tulah bagi AS bertahun-tahun kemudian. 

Sumber di pemerintahan mengatakan, peran Vickers sangat sentral dalam operasi memburu teroris. Ia yang meyakinkan mantan menhan Robert M Gates untuk terus fokus memburu Usamah. Vickers juga jadi dalang operasi penyamaran AS di Suriah dan Pakistan, yang menewaskan puluhan anggota Alqaidah. Vickers juga yang berperan bagi Panglima AS Jenderal Stanley A McChrystal di Afghanistan untuk melanjcarkan operasi khusus Alqaidah di Irak dan Afghanistan. 

"Kami punya seorang predator dan kami membangun armada perang di sekitar dia," kata McChrystal yang kini sudah pensiun, saat ditanya soal peran Vickers. "Dia benar-benar sosok yang penting."
Redaktur: Stevy Maradona
Sumber: New York Times


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar