Sabtu, 24 Desember 2011

ALAM ROH: Dua Jam Mati Hidup Kembali (Aslina)....>> Mati syahid besar ganjarannya.... >>>


PERJALANAN ALAM ROH: Dua Jam Mati Hidup Kembali (Aslina)

02 Jul
>
Tanbihul Ghafilin (Peringatan bagi yang lupa)

Dengan nama Allah s.w.t. yang Maha Agung, Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun dan segala Puji-pujian serta Kebesaran yang selayak dengan Kekuasaan-Nya yang mengandungi Keberkatan, Kelazatan, Kemanisan, Ketenangan dan Ketenteraman yang tidaklah tersembunyi kepada orang yang pernah menyebut nama yang suci itu dan pernah mencintai-Nya buat beberapa lama.

Sabda junjungan Agung kita semua umat Islam Baginda Rasulullah s.a.w: “Ballighu anni walau aayah” (Sampaikanlah apa yang kamu dapat daripadaku walau hanya satu ayat)
kisah benar bukti kekuasaan ALLAH tentang peristiwa luarbiasa iaitu kematian seorang wanita Indonesia yang berumur 25 tahun bernama Aslina

Beliau yang mengalami sakit tenat dan telah mendapatkan rawatan di Hospital Swasta di Melaka telah meninggal dunia selama 2 jam dan koma selama 2 hari 2 malam dan hidup kembali selepas itu. Dalam masa beliau telah diistihar mati oleh doktor, beliau telah mengalami beberapa kejadian luar biasa semasa beliau dalam
keadaan koma.
Beliau menceritakan pengalaman beliau bagaimana diawal saat malaikat mencabut nyawanya melalui kanan dan menceritakan betapa sakitnya beliau ketika nyawanya dicabut. Aslina juga menceritakan bagaimana beliau telah didatangi oleh 2 malaikat yang memimpin dan membawanya ke Alam Barzakh. Aslina telah menyaksikan dan melihat ramai manusia telah diseksa mengikut amalan dosa yang dilakukan oleh mereka.
Ianya telah menjangkau diluar kotak fikiran manusia yang normal seperti kita.
Itulah kekuasaan ALLAH pada Hambanya Dan Satu Petunjuk Agar Hambanya Insaf Menuju Kejalan Allah.
Diperlihatkan Berbagai Kejadian di Akhirat (Versi Indonesia)

Sempat dinyatakan meninggal dunia, Aslina alias Iin (25) ternyata mengalami mati suri selama dua jam dan koma dua hari dua malam. Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Bengkalis itu mengaku selama mati suri, ia diperlihatkan berbagai kejadian alam barzah dan akhirat, serta beberapa kejadian yang menyangkut amal dan perbuatan manusia selama di dunia.

Di hadapan sekitar 50-an orang, terdiri dari pegawai honor tenaga kesehatan Bengkalis, warga masyarakat serta sejumlah wartawan, Aslina, Rabu (3/9) kemarin, di aula studio TV Sri Junjungan Televisi (SJTV) Bengkalis, mengisahkan kejadian ghaib yang dialaminya itu.

Menurut penuturan Iin yang didampingi pamannya, Rustam Effendi, sejak tiga tahun lalu ia menderita penyakit kelenjar gondok alias hiper teroid. Karena penyakitnya itu, Pada 25 Agustus silam, gadis ini ditemani Rustam Effendi berobat ke rumah sakit Mahkota Medical Center (MMC) Malaka. Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, dokter mengatakan operasi baru bisa dilakukan setelah tiga bulan, karena waktu itu tekanan darah tinggi.

Namun pada Sabtu (26/8) tengah malam, kondisi anak sulung tiga bersaudara ini kritis, koma. Sang paman sempat memandunya membaca dua kalimat syahadat dan kalimat toyibah (Lailahailallah) sebanyak dua kali.
Waktu ajal menjemput, tutur sang paman, Aslina sempat melafazkan kalimat toyibah dan syahadat. Secara perlahan-lahan gadis yang bekerja sebagai honorer di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Bengkalis ini tak bernafas. Tepat pukul 02.00 waktu Malaysia, indikator monitor denyut jantung terlihat kosong atau berupa garis lurus.

Tak pelak situasi ini membuat Rustam sedih, kemudian beberapa dokter MMC Malaka terlihat sibuk memeriksa dan mengecek kondisi Aslina. Waktu itu dia sempat menghubungi keluarganya di Bengkalis untuk memberitahu kondisi terakhir Aslina. Untungnya setelah dua jam ditangani dokter, monitor terlihat kembali bergerak yang menandakan denyut jantung gadis yatim ini berdenyut lagi. Untuk perawatan lebih lanjut, Aslina dimasukan ke ruang ICU dan baru dua hari dua malam kemudian ia dinyatakan melewati masa kritisnya.

Bertemu Sang Ayah
Menurut pengakuan Aslina, dia melihat ketika nyawanya dicabut oleh malaikat. Waktu itu, nyawanya dicabut dari kaki kanan oleh malaikat. “Rasanya sangat sakit, kulit seperti disayat, dibakar dengan minyak,”tuturnya.
Setelah roh berpisah dengan jasad, dia menyaksikan orang-orang yang masih hidup dan jasadnya terbaring di tempat tidur. Kemudian dibawa dua malaikat menuju ke suatu tempat. Aslina mempunyai keinginan untuk bertemu dengan ayahnya yang sudah lama meninggal, bernama Hasan Basri. 

“Wahai ayahku bisakah aku bertemu denganmu. Aku sangat rindu, oh ayah,” ucapnya.
Memang di tempat itu Aslina bertemu dengan sosok pria muda berusia 17 tahun dengan wajah bersinar dan berseri-seri. Melihat sosok pria muda tersebut, Aslina tetap ngotot ingin bertemu dengan sang ayah. Kemudian, kedua malaikat memperkenalkan bahwa pria muda tersebut adalah ayahnya. Tentunya dia tidak menyangka karena waktu meninggal dunia, ayahnya berusia 55 tahun.

Kemudian sang ayah bertanya kepada Aslina, maksud kedatangannya. Dia menjawab kedatangannya semata-mata memenuhi panggilan Allah SWT. Sang ayah menyuruh Aslina tetap pulang untuk menjaga adik-adiknya di dunia. Namun Aslina menjawab bahwa dirinya ke sini, memenuhi panggilan Allah. Waktu itu juga, dia menyebut rukun Islam satu persatu.

Setelah berdialog dengan ayahnya, dua malaikat tadi membawa Aslina ke suatu tempat yang dipenuhi wanita memakai baju rapi dan berjilbab. Di situ, dia disalami dan dicium pipi kanan-kiri oleh wanita-wanita Muslimah tersebut. Tidak hanya itu, Aslina juga bertemu dengan 1.000 malaikat dengan wajah berseri dan seluruhnya sama.

Di tempat itu, Aslina duduk di kursi yang sangat empuk. Bila di dunia empuk kursi tersebut seakan dilapisi delapan busa. Ketika duduk, tiba-tiba sosok wanita berseri mirip dengan dirinya menghampiri. Dia bertanya kepada sosok wanita tersebut. “Saya adalah roh dan amal ibadah mu selama di dunia,” kata wanita tersebut.
Kemudian Aslina ditemani amalnya (sosok wanita, red) dan dua malaikat menyaksikan beberapa kejadian di akhirat. Di antaranya, ada seorang pria berpakaian compang-camping, badannya bernanah dan bau busuk.
Tangan dan kaki dirantai sementara di atasnya memikul besi seberat 500 ton. Melihat kejadian itu, Aslina bertanya kepada amalnya. Rupanya pria tersebut semasa hidupnya suka membunuh dan menyantet (teluh) orang.

Kejadian selanjutnya yang ia lihat, seorang yang disebat dengan rotan panjang sehingga kulit dan dagingnya mengelupas dari badan. Ternyata orang tersebut selama hidup tak pernah sholat bahkan menjelang ajal menjemput pun tak pernah menyebut sahadat.

Aslina juga melihat, dua pria saling membunuh dengan kapak. Menurut keterangan amalnya, rupanya orang tersebut suka menodong dan memeras orang lain.
Kemudian gambaran, seorang ustadt yang dihantam dengan lahar panas yang mendidih. Kembali Aslina bertanya. Ustad tersebut selama hidup suka berzina dengan istri orang lain.
Kejadian berikutnya, seorang ditusuk dengan pisau sebanyak 80 kali. Ini menunjukan orang tersebut suka membunuh dan tidak pernah dipertanggungjawabkan selama di dunia.
Kejadian terakhir, seorang ibu tua dihempaskan berkali-kali ke lantai. Di lantai tersebut terdapat pisau tegak dan dia tersungkur lalu mengenai tubuhnya, hingga mati. Gambaran tersebut menunjukan, selama hidupnya wanita tersebut merupakan anak durhaka, yang tidak mengakui ibunya yang pikun. Bahkan dia malu kepada orang lain.

Kisah tentang mati suri dan berbagai pengalaman ghaib yang dialami Aslina alias Iin (23), membuat heboh masyarakat Bengkalis, khususnya warga desa Pematang Duku, kecamatan Bengkalis, yang antara percaya dan tidak dengan cerita dalam mati suri itu. Berikut lanjutan kisah ‘perjalanan ghaib’ yang dituturkan Aslina Rabu silam di aula studio SJTV Bengkalis.

Menurut Aslina, setelah dirinya diperlihatkan dengan kejadian dan gambaran manusia, ia kemudian dibawa melewati malam yang sangat gelap gulita. Saking gelapnya, dia tidak bisa melihat amalnya dan dua malaikat yang mendampingi. Ketika kakinya berjalan tiga langkah, terdengar suara orang berzikir. Kemudian sang amal menyuruhnya untuk cepat menangkap suara tersebut. Tapi Aslina tidak bisa menangkap. Tiba-tiba waktu itu, lehernya dikalungi seutas rantai. Setelah dipegang ternyata rantai tersebut berupa tasbih sebanyak 99 butir.
Terdengar suara yang memerintahkan Aslina untuk berzikir selama dalam perjalanan. Dia berjalan lagi sepanjang tujuh langkah, namun waktunya sama dengan 10 jam waktu di dunia. Ketika sampai pada langkah ke tujuh, dia melihat wadah menyerupai tapak sirih berisi cahaya yang terpancar melalui lobang-lobangnya. Berkat cahaya tapak sirih tersebut, dia bisa melihat dan membaca tulisan Arab, berbunyi ‘Husnul Khotimah’.
Di belakang tulisan itu terlihat gambar Ka’bah. Ketika melihat tulisan dan gambar Ka’bah seketika, dia dan amalnya tersenyum seraya mengucapkan Alhamdulillah.

Aslina mendekati cahaya itu dan mengambilnya, kemudian disapukan ke mukanya. Ketika malam yang gelap gulita itu menjadi terang benderang.

Nabi Muhammad
Setelah berjalan sekian jauh, dia mendengarkan suara azan yang suaranya tidak seperti di Indonesia, namun bernada Mekkah. Kepada amalnya, dia meminta waktu untuk menunaikan sholat. Setelah mengerjakan sholat, roh Aslina hijrah ke tempat lain dengan perjalanan 40 hari. Tempat yang dituju kali ini adalah Masjid Nabawi di Madinah. Di masjid itu dia menyaksikan makam Nabi Muhammad dan sahabatnya. Di makam Nabi ada pintu bercahaya, terlihat sosok Nabi Muhammad sedang memberi makan fakir miskin.

Tidak hanya itu di Masjid Nabawi, dia kembali diperlihatkan kejadian menakjubkan. Tiba-tiba cahaya ‘Husnul Hotimah’ yang ada di tangannya lepas, kemudian mengeluarkan api yang menerangi seluruh ruangan sehingga makam Nabi terlihat jelas. Waktu itu dari balik makam Nabi, dia melihat sosok manusia, berwajah ganteng menyerupai malaikat, kulit langsat, mata sayu, pandangan luas terbentang dan tajam. “Raut muka seperti orang Asia (oval, red) namun tidak kelihatan kepalanya. Tapi saya yakin sosok manusia tersebut adalah Nabi Muhammad,” katanya.

Melihat peristiwa itu, lantas Aslina bertanya kepada malaikat dan amalnya. “Kenapa cahaya tersebut menerangi Nabi Muhammad, sehingga saya bisa melihat.
Dan kenapa wajah Nabi bercahaya?” Dijawab bahwa Anda adalah orang yang mendapat syafaat dan hidayah dari Allah. Mengenai wajah nabi yang bercahaya, karena selama mengembangkan agama Islam selalu mendapat tantangan.

Perjalanan tidak di situ saja, Aslina dan pengawalnya berbalik arah untuk pulang. Rupanya ketika dalam perjalanan pulang dia kembali menyaksikan, jutaan umat manusia sedang disiksa dan menderita di sebuah lapangan. Orang-orang tersebut meronta dan berdoa minta agar kiamat dipercepat. Karena sudah tak tahan lagi dengan siksaan. Mereka mengaku menyesal dan minta dihidupkan kembali agar bisa bertaubat. “Jarak Aslina dengan mereka hanya lima meter, namun tak bisa memberikan pertolongan,” ujarnya.
Selama melihat kejadian itu, Aslina membaca Al Quran 30 juz, Hafis (hafal) dan khatam tiga kali. Kemudian membaca surat Yasin sebanyak 1000 kali dan shalawat kepada seluruh nabi (Adam sampai Muhammad). Aslina berlari sepanjang Arab Saudi atau sepanjang Sabang sampai Marauke seraya menangis melihat kejadian tersebut.

Aslina juga ingin diperlihatkan apa yang terjadi pada dirinya dikemudian hari. Namun sebelumnya dia diminta oleh malaikat untuk berzikir. Lamanya zikir yang dilakukan Aslina selama dua abad dan dua pertukaran zaman. Hal ini ditandai dengan 1 Syawal yang jatuh pada tanggal 31 Desember. Selesai berzikir, Aslina mendengar suara yang seperti ditujukan kepadanya.
“Sadarlah wahai umat-Ku, kau sudah Ku matikan.
Sampaikan kepada umat-Ku, apa yang Ku perlihatkan.
Sampaikan kepada umat-Ku, umat-Ku, Umat-ku.”

Kejadian Aneh
Usai pengambilan gambar dan wawancara, terdapat kejadian aneh di gedung SJTV Bengkalis. Saat itu, Aslina sudah keluar dari ruangan menuju gedung Radio Pemda yang berjarak 25 meter. Ketika krew SJTV hendak mematikan monitor, ternyata tak bisa dimatikan. Namun anehnya muncul sosok bayangan putih bertubuh tegap dengan rambut terurai hingga ke pusar dan kepalanya bertanduk. Tentunya hal ini membuat para krew dan orang-orang yang menyaksikan heran, lantas momen ini diabadikan pengunjung dan krew SJTV.

Setelah Aslina keluar dari ruangan Radio Pemda, ditanyakan apakah sosok tersebut. Dia menjawab bahwa sosok tersebut merupakan jin. Menutup pengalaman ghaib anak penakik getah itu, sang Paman Rustam Effendi kepada wartawan menyebutkan, selama ini Aslina merupakan sosok yang pendiam dan kurang percaya diri (PD). Namun setelah kejadian ini banyak hal-hal yang berubah, mulai dari penampilan hingga tingkah laku. Bahkan dari warna kulitnya saat ini lebih bersih dan berseri. Mengenai amalannya, “Selama ini dia memang rajin mengerjakan shalat tahajud dan membaca Al Quran setiap hari,” kata sang paman menutup kisah tersebut. ***
——-

Adi Sutrisno, Wartawan Riau Mandiri

Mati syahid besar ganjarannya

By mfrstudio
Orang yang mati syahid memperoleh ganjaran yang besar di sisi Allah SWT.


AL-MARAGHI berkata: Dalam ayat sebelum ini, Allah SWT menerangkan tentang orang musyrikin yang menakut-nakutkan orang Islam yang berjihad dengan menyebut akibat-akibat buruk dan boleh terbunuh seperti yang mereka alami di Uhud. 

Sedangkan persoalan terbunuh itu merupakan perkara yang tidak disukai oleh orang. 

Allah SWT menyusul pula dengan penjelasan bahawa seseorang itu terbunuh kerana sudah ditakdirkan-Nya seperti halnya dengan kematian. Sesiapa yang sudah ditakdirkan mati terbunuh, dia tidak mampu menghindari dan demikianlah sebaliknya. Oleh itu, mereka tidak perlu takut untuk berjihad.
Iktibar dan fiqh ayat ke-169
*Ibnu Kathir berkata: Allah SWT memberitahu mengenai keadaan orang yang mati syahid bahawa mereka itu hanya mati di dunia tetapi roh mereka tetap hidup dan mendapat rezeki di akhirat. Dalam kitab Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim dan kitab-kitab yang lain telah ditegaskan bahawa ayah Jabir iaitu Abdullah bin Amr bin Haram al-Ansari r.a terbunuh dalam perang Uhud sebagai syahid.

*Menurut riwayat Ibnu Abbas r.a pula, yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad, bahawa Raslullah SAW bersabda: "Tatkala kawan-kawanmu telah tewas di Uhud itu, maka roh mereka disimpan oleh Allah SWT di dalam rongga burung hijau. Terbang dan hinggap di sekitar sungai-sungai syurga, makan daripada buah-buahan dan hinggap pada ranting-ranting emas yang tergantung di bawah naungan 'arasy".

*Al-Maraghi berkata: Janganlah kamu menyangka wahai orang yang mendengar ucapan kaum munafik, iaitu golongan yang mengingkari dan meragukan hari kebangkitan dan mengutamakan dunia dari akhirat, bahawa orang yang mati syahid pada jalan Allah SWT itu telah kehilangan kehidupan dan tidak bererti lagi. Kehidupan yang dinyatakan oleh al-Quran mengenai kaum syuhada adalah kehidupan di alam ghaib, hakikatnya tidak diketahui oleh kita. Sebab itu, kita tidak perlu mengada-adakan cerita di luar batasan wahyu.

lHamka berkata: Iman orang mukmin yang telah teguh, sedia mati mempertahankan agama Allah SWT, sekarang mendapat sambutan dan ketentuan daripada Allah SWT. Orang yang mati dalam peperangan kebenaran itu tidak mati. Mereka tetap hidup dan tetap mendapat rezeki daripada Allah SWT. 

*Quraish Shihab berkata: Sekali-kali janganlah engkau wahai Muhammad atau siapapun yang dapat ditujukan kepadanya pesanan ini, mengira apatah lagi menduga keras atau yakin bahawa orang-orang yang gugur di jalan Allah SWT baik dalam perang Uhud itu mahupun selainnya adalah orang yang telah mati. Sekarang ini bahkan mereka itu hidup dengan kehidupan yang berbeza dengan kehidupan kamu. Kerana hidup mereka di sisi Tuhan mereka yang Maha Agung dalam keadaan mereka dianugerahkan rezeki yang sesuai dengan alam tempat mereka kini berada, dan sesuai pula dengan nilai perjuangan mereka dan kebesaran serta kemurahan Allah SWT.
*Al-Sonhaji berkata: Ayat ini diturunkan kepada para syuhada yang gugur di medan perang Badar yang berjumlah 14 orang. Enam daripadanya kaum Muhajirin dan lapan kaum Ansar. Tetapi kebanyakan ahli tafsir mengatakan: Ayat ini ditujukan kepada para syuhada yang terbunuh dalam perang Uhud.
Iktibar dan fiqh ayat ke-170
*Al-Qurtubi berkata: Ayat ini menjadi dalil besarnya pahala orang yang terbunuh pada jalan Allah SWT dan mendapat syahid sehingga ia dapat mengkifarahkan semua dosa.
*Al-Suddi berkata: Orang yang mati syahid akan didatangkan sebuah kitab yang di dalamnya tercatat, akan datang kepadamu fulan pada hari ini dan akan datang kepadamu fulan pada hari ini. Maka bergembiralah dia atas kedatangannya, sebagaimana penduduk dunia bergembira dengan ketidakhadiran mereka, apabila ia datang.

*Sa'id bin Jubair berkata: Ketika mereka memasuki syurga dan menyaksikan kemuliaan yang disediakan untuk para syuhada, mereka berkata: Seandainya saudara-saudara kami yang masih hidup di dunia mengetahui kemuliaan yang kami saksikan ini, maka apabila ada peluang untuk berperang, nescaya mereka langsung menyambutnya dengan sendiri sehingga mereka mati syahid dan mendapatkan sebagaimana yang kami peroleh daripada kebaikan. Maka Rasulullah memberitahu mengenai keadaan mereka serta kemuliaan yang mereka terima. Dan Allah SWT memberitahu mereka: Sesungguhnya Aku telah menurunkan dan memberitahu Nabimu mengenai keadaan kamu dan apa yang kamu peroleh, maka bergembiralah atas itu.
*Al-Maraghi berkata: Mereka diberi khabar gembira mengenai teman-teman mereka yang keluar berjihad dan terselamat bahawa mereka akan menyusul di belakangnya (mati syahid). Maksud ayat ini ialah mereka akan tetap hidup sesudah mereka, meskipun mereka mendahului teman-temannya.

lHamka berkata: Sukacita sebagaimana yang telah dibayangkan oleh Rasulullah SAW yang sentiasa berkata benar tentang hidup bahagia di dalam syurga itu. Dengan demikian syuhada yang telah merasa bahagia dan gembira dalam hidup yang kekal di sisi Allah, berpesan pula dengan perantaraan ayat ini, sebab Allah sendiri yang berjanji hendak menyampaikan menurut hadis Ibnu Abbas tadi bahawa teman seperjuangan yang tinggal tidak usah takut, tidak usah berdukacita, teruskanlah perjuangan dan janganlah takut tewas di medan jihad. Sebab perpindahan dari hidup yang fana kerana memperjuangkan cita-cita menuju hajat yang kekal hanya dipisahkan oleh maut yang sebentar sahaja. Sesudah itu, di alam lain, di alam syurga jannah al-naim. Tersedialah hidup bahagia dan rezeki yang kekal abadi.

Iktibar dan fiqh ayat ke 171
*Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: Ayat ini mengambil orang-orang Mukmin secara keseluruhan baik yang mati sebagai syuhada mahupun tidak. Allah SWT tidak sedikitpun memberitahu kurnia dan pahala yang diberikan kepada para Nabi, maka Allah juga menyebutkan apa yang diberikan-Nya kepada orang yang beriman.

lMuhammad bin Ishaq berkata: Mereka merasa senang hati atas apa yang diperolehi melalui apa yang telah dijanjikan, serta pahala yang besar yang diberikan kepada mereka.
*Al-Maraghi berkata: Maksud nikmat di sini ialah ganjaran pahala yang akan diberikan kepada seseorang sebagai balasan terhadap amalannya. Kurniaan yang dimaksudkan di sini adalah kurniaan Allah SWT kepada hamba-Nya yang taat lagi patuh kepada-Nya. Ayat ini mengandungi galakan agar berjihad, mendorong agar mencari syahid dan merangsang mereka menambahkan lagi rasa taat serta khabar gembira kepada orang beriman bahawa mereka akan memperolehi kemenangan yang lebih besar.
*Hamka berkata: Mereka itu baik syuhada yang telah pergi terlebih dahulu atau yang mengikuti jejak mereka, meneruskan perjuangan, sehingga ada pula yang syahid, hanya di dunia ini mungkin agak bimbang kerana tarikan kehidupan dunia, tetapi bila mereka bertemu dengan syurga, bertemulah keadaan yang sama sekali tidak disangka. Kebahagiaan abadi, nikmat dan kurnia yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengari oleh telinga, dan tidak pernah terlintas di dalam hati manusia ketika hidup didunia. Kerana memang ganjaran untuk orang yang beriman itu tidak disia-siakan oleh Allah SWT.

*Quraish Shihab berkata: Setelah dalam ayat yang lalu dijelaskan tentang kegembiraan para pahlawan yang gugur di jalan Allah SWT atas kurniaan yang mereka dapat dan akan didapatkan oleh teman-teman seangkatan dengan mereka. Maka sekali lagi dalam ayat ini mengulangi pernyataan yang lalu untuk memberi isyarat bahawa apa yang mereka perolehi itu, adalah semata-mata anugerah daripada Allah SWT. Mereka bergembira dengan nikmat dan kurniaan yang besar daripada Allah SWT dan Allah SWT tidak mensia-siakan pahala orang-orang yang beriman sama ada mereka yang gugur di Uhud atau selainnya. Bahkan yang gugur mahupun yang meninggal secara normal.

Iktibar dan fiqh ayat ke-172
*Al-Qurtubi berkata: Ayat ini dikatakan diturunkan kepada dua lelaki di kalangan Bani Asy'al dan seorang bertongkat atas sahabatnya untuk meneruskan perjuangan menentang golongan musyrikin.
lMuhammad bin Ishaq berkata: Peristiwa perang Uhud itu terjadi pada hari Sabtu pertengahan bulan Syawal. Dan pada keesokan harinya iaitu hari Ahad, penyeru Rasulullah SAW menyeru kepada khalayak untuk mengejar musuh. Selain itu, penyeru itu juga menyerukan agar tidak seorang pun keluar bersama mereka kecuali mereka yang hadir dalam perang Uhud. Kemudian Jabir bin Abdullah bin Amr bin Haram memberitahu kepada Rasulullah SAW: "Ya Rasulullah, ayahku mengamanahkan kepadaku untuk menjaga saudara-saudara perempuanku seramai tujuh orang, dan ayahku berkata: Hai anakku, tidak seharusnya aku dan engkau meninggalkan para wanita bersendirian tanpa adanya seorang lelaki di tengah-tengah mereka, dan kau bukanlah orang yang mengutamakanmu untuk berjihad bersama Rasulullah SAW atas diriku sendiri. Tinggallah bersama saudara perempuanmu. Maka aku tinggal bersama mereka". Maka Rasulullah SAW membenarkannya dan akhirnya ia berangkat bersama beliau. Beliau keluar dengan maksud untuk menakut-nakutkan musuh dan menyampaikan kepada mereka bahawa beliau keluar dengan maksud mencari mereka, agar dengan cara itu mereka menduga beliau masih mempunyai kekuatan dan apa yang menimpa beliau bersama sahabatnya tidak menyebabkan mereka menjadi gentar menghadapi musuh.

*Al-Maraghi berkata: Orang mukmin adalah orang yang menerima segala seruan Allah SWT menjawab panggilan-Nya dan melaksanakan setiap perbuatan dengan sebaik-baik mungkin serta takut menghadapi dosa kerana kelemahan mereka. Ini kerana sewaktu dalam perang Uhud mereka telah menyebabkan Nabi SAW mendapat luka dan menanggung penderitaan. Mereka akan mendapat ganjaran pahala yang besar kerana mereka telah melaksanakan tugas dan tanggungjawab dengan baik. 

*Hamka berkata: Ayat ini sebagai lanjutan ayat yang sebelumnya iaitu pujian kepada orang-orang yang beriman itu yang bergembira dengan nikmat kurniaan Allah SWT dan janji Allah SWT. Bahawa Dia tidak akan mensia-siakan ganjaran bagi mereka. Kemudian diberikan pujian istimewa kepada seluruh angkatan perang yang menyertai peperangan Uhud. Sebagaimana yang diketahui, selepas selesai perang, mereka kembali ke Madinah. Mereka kembali sesudah meninggalkan kawan-kawan yang syahid di medan Uhud seramai 70 orang itu dan yang pulang itu ramai di kalangan mereka yang tercedera. Abul Rahman bin Auf menderita luka-luka hingga 20 liang luka di badannya. Tetapi hanya satu malam sahaja mereka dapat berehat di rumah dengan badan yang penat. Sedangkan esok paginya, penyeru perang telah menyorakkan perintah Rasulullah SAW supaya segera berangkat mengejar musuh musyrikin di bawah pimpinan Abu Sufyan itu. Penyeru perang menyampaikan perintah bahawa yang boleh ikut hanyalah mereka yang menyertai perang Uhud sahaja. Yang lain tidak perlu ikut. Maka diujilah mereka dalam ayat ini kerana mereka telah menyambut seruan Allah SWT dan Rasul, padahal mereka dalam keadaan yang parah. Hal ini tidak akan terjadi jika bukan kerana semangat iman yang berkobar-kobar. Dan dalam penilaian terhadap ilmu perang, ini adalah satu taktik perang yang amat tinggi. Sebab di dalam suatu peperangan, semangat yang tinggi dalam menghadapi musuh, adalah syarat yang mutlak. Selain mengangkat senjata terhadap musuh. Hendaklah diikhtiarkan pula berbagai-bagai cara untuk meruntuhkan semangat mereka.
Kesimpulan

Ayat ini mengajar kita supaya sentiasa bergantung kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya kerana Dialah sebaik-baik pelindung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar