Jumat, 09 Desember 2011

KHALID BIN WALID (PEDANG ALLAH) (584 – 642)...>>> Selanjutnya Khalid kembali berjuang sebagai mujahid tanpa memperdulikan statusnya yang “turun pangkat”. Ketika ditanya beliau menjawab : “aku berperang bukan untuk Umar tapi karena Allah SWT”. Khalid bin Walid wafat dengan hanya meninggalkan kuda perang dan pedang. Sungguh kita bisa belajar keikhlasan dalam berjuang darinya. Setiap gerak langkah kehidupan selalu ditujukan untuk penghambaan kepada Allah semata....>>>


Khalid Bin Walid( Pejuang berhati Mulia).

Posted by Bustamam Ismail on February 11, 2010

 

Nama Khalid Bin Walid r.a identik dengan keahlian yang luar biasa dalam bidang kemiliteran terutama strategi perang, Khalid mendapatkan julukan Saifullah atau “pedang Allah” . Khalid adalah suku Quraisy, sejak kecil Khalid di didik ilmu ketangkasan keprajuritan yang lazim pada zaman itu; berkuda, menggunakan berbagai jenis senjata, bergulat. Maka tidak heran Khalid tumbuh menjadi pemuda yang memiliki karakter keprajuritan yang kuat.

1. Awal masuk Islam
Jika melihat sejarah memang aneh, saat Rasulullah SAW menyampaikan awal dakwah di Mekah Khalid belum tergerak untuk memasuki Islam. Khalid merupakan musuh Kaum Muslimin saat itu, musuh yang paling diperhitungkan karena kemampuan bertempurnya yang mumpuni. Bahkan saat Perang Uhud (perang lanjutan setelah Perang Badar), perang antara kaum Muslimin dengan Musyrikin Quraisy, Khalid sendiri yang memimpin pasukan berkuda kaum Quraisy dan memberikan pukulan yang telak kepada kaum muslimin, dengan menyergap secara tiba-tiba dari garis belakang pertempuran saat pasukan panah kaum muslimin meninggalkan posnya.
Akhirnya hidayah pun datang kepadanya, selepas masa Perang Uhud Khalid datang ke Kota Madinah untuk menyatakan ikrarnya masuk Islam di hadapan Rasulullah SAW. Subhanallah Allah memberikan petunjuk dan hidayah kepada siapapun yang Dia kehendaki. Khalid telah bertransformasi menjadi mukmin dan ada dialog yang menarik dalam proses awal keislamannya. Khalid : “Ya Rasulullah mohon minta ampunkan untukku terhadap semua tindakan masa lalu ku yang menghalangi perjuangan di jalan Allah……”. Rasulullah menjawab :”Sesungguhnya keislaman itu telah menghapus segala perbuatan yang telah lampau”. Khalid :” Sekalipun demikian ya Rasulullah……”. Maka Rasulullah SAW berdoa :” Ya Allah aku mohon engkau ampuni dosa Khalid ibnul Walid terhadap tindakannya yang menghalangi jalan-Mu di masa lalu”. Keislaman Khalid saat itu diikuti juga oleh Amr bin Ash dan Utsman bin Thalhah. Selepas prosesi masuk Islam Khalid maka Khalid bergabung menjadi pendukung perjuangan menegakkan Al Islam bersama barisan Rasulullah SAW.
Kontribusi Khalid dalam perjuangan Islam terutama di medan jihad qittal, pertempuran untuk menjaga keagungan panji Islam layaknya sudah menjadi rumah bagi dirinya. Dalam Perang Mut’ah melawan kekaisaran Romawi Timur Khalid bin Walid berhasil memimpin pasukan Muslimin terhindar dari kehancuran melawan pasukan Romawi yang berjumlah puluhan kali lipatnya. Dengan strateginya Khalid berhasil membawa pasukan Muslimin yang telah dikepung rapat untuk undur dari medan peperangan setelah sebelumnya membuat kerusakan dalam barisan pasukan Romawi. Dalam peristiwa Futuh Mekah (pembebasan Kota Mekah) Khalid termasuk salah seorang sahabat yang ditunjuk Rasulullah untuk memimpin pasukan Muslimin.Dengan ijin Allah SWT pasukan Muslimin dapat membebaskan Mekah dari Kaum Musyrikin Quraisy tanpa pertumpahan darah.

2. Khalid panglima perang yang tangguh
Sepeninggal Rasulullah SAW, kepemimpinan umat Islam diserahkan kepada sahabat Abu Bakar Ashidiq r.a. Kemurtadan dan nabi palsu merajalela, pemberontakan yang paling kuat dipimpin oleh Musailamah yang juga mengaku dirinya Nabi di bagian Yamamah. Pertempuran pun tidak bisa terelakan antara pemberontak kaum murtad di pihak Yamamah dengan pasukan Muslimin di pimpin oleh Khalid Bin Walid. Awalnya pasukan Muslimin terpojok oleh pasukan Musailamah yang berjumlah besar, dengan kesigapan Khalid dan analisis militernya yang tajam atas ijin Allah SWT Khalid mampu membalikkan keadaan menjadi kemenangan di pihak Kaum Muslimin. Khalifah Abu Bakar Ashidiq di Madinah langsung melakukan sujud syukur atas nikmat kemenangan yang Allah SWT berikan ditengah kegentingan perpecahan umat Islam.
Tugas dan amanah yang diberikan kepadanya senantiasa dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan kedisiplinan tinggi. Karakter kepemimpinan yang tegas tapi jauh dari kedzaliman merupakan karakter dari Khalid bin Walid. Dalam setiap pertempuran beliau selalu ingat pesan Rasulullah SAW untuk tidak menyakiti penduduk sipil, hanya memerangi orang-orang yang memerangi kaum muslimin. Peperangan yang di lakukan senantiasa mengedepankan keagungan nilai-nilai islam. Peperangan untuk menjaga dan mengagungkan panji Islam bukan untuk ambisi kekuasaan dan ketamakan pribadi.
Khalid bin Walid dapat menyelesaikan tugas yang diembannya dengan sukses. Atas ijin Allah SWT melalui tangan Khalid kemenangan demi kemenangan dapat dicapai pasukan Kaum Muslimin dalam peperangan melawan musuh Islam. Persia melaui komandonya dapat ditaklukan. Selanjutnya menyusul Kekaisaran Romawi Timur. Kunci keberhasilan Khalid bin Walid dalam setiap peperangan adalah “tsabat” artinya tetap tabah dan disiplin. Pandangannya ketidak disiplinan satu atau dua orang, lari dari peperangan dapat merusak keutuhan suatu barisan pasukan. Sikapnya terhadap hal ini sangat tegas, hukumannya adalah hukuman mati.
Setelah Persia takluk, konfrontasi dan peperangan dengan Romawi pun tidak terelakkan. Perang Yarmuk berkobar. Khalid kembali ditunjuk menjadi Panglima pasukan muslimin bersama Abu Ubaidah dan Ikrimah. Pasukan Muslimin dengan startegi Khalid bin Walid berhasil menguasai jalannya pertempuran walaupun dengan jumlah yang lebih sedikit. Hidup mulia dan mati syahid menjadi semboyan masing-masing prajurit muslim. Kekuatan apa yang bisa mengalahkan orang-orang yang bertempur mencari kematian atas dasar keimanan ?.

3. Dari panglima tinggi menjadi prajurit biasa
Saat pertempuran menjelang akhir sampai seorang utusan kepada Khalid Bin Walid. Utusan tersebut dating dari Khalifah yang baru, Umar Bin Khattab r.a yang menggantikan Abu Bakar r.a yang telah wafat. Surat itu isinya pemberhentian Khalid dari jabatannya sebagai panglima perang dengan Abu Ubaidah sebagai pengganti. Dengan tenang Khalid bin Walid membaca surat dan meminta kepada kurir untuk tidak memberitahukan isi surat kepada siapapun sampai peperangan berakhir. Pertimbangan Khalid saat itu adalah khawatir instruksi dari Khalifah ini dapat memecah konsentrasi pasukan muslimin. Pertempuran terus berlanjut sampai akhirnya pasukan muslimin dapat mencapai kemenangan. Setelah perang usai Khalid menjumpai Abu Ubaidah untuk menyampaikan pesan pengangkatannya sebagai panglima pengganti Khalid.
Adapun pemecatan Khalid oleh Umar Bi Khattab bukan sama sekali dilandasi ketidaksukaan terhadap Khalid atau iri. Tapi lebih didasarkan atas pandangan Umar untuk menyelamatkan aqidah umat dan Khalid. Kemenangan demi kemenangan yang dicapai Khalid dalam pertempuran menjadikannya namanya harum semerbak. Bahkan ada kecenderungan pengkultusan oleh beberapa orang. Khalifah Umar khawatir umat terperosok dan Khalid pun akan mendapatkan fitnah yang besar.

Selanjutnya Khalid kembali berjuang sebagai mujahid tanpa memperdulikan statusnya yang “turun pangkat”. Ketika ditanya beliau menjawab : “aku berperang bukan untuk Umar tapi karena Allah SWT”. Khalid bin Walid wafat dengan hanya meninggalkan kuda perang dan pedang.  Sungguh kita bisa belajar keikhlasan dalam berjuang darinya. Setiap gerak langkah kehidupan selalu ditujukan untuk penghambaan kepada Allah semata.
Sumber literatur: Karakteristik 60 Sahabat Rasulullah

Khalid bin Walid ra. Berda’wah di medan tempur kepada Jarjah Panglima Musyrik Romawi.

Posted by Bustamam Ismail on February 11, 2010
Menurut Al-Waqidi dan lainnya, mereka berkata: Satu peristiwa, pada pertempuran Yarmuk, keluarlah dari barisan musuh seorang panglima besar musyrik, lalu dia menyeru Khalid bin Al-Walid untuk keluar dari barisan kaum Muslimin. Khalid pun keluar dengan kuda tangkasnya, hingga hampir-hampir kedua kuda itu berlaga kerana ketangkasannya. Maka berkatalah panglima pasukan musyrik itu yang bernama Jarjah:
.Jarjah“Engkaukah yang dikenal Khalid, panglima pasukan ini?”.
“Ya, aku Khalid pedang Allah!” jawab Khalid.
“Khalid, pedang Allah?” tanya Jarjah lagi
“Ya”"Dan engkau siapa?”, jawab Khalid. “Aku Jarjah, panglima perang!”
“Apa maksudmu memanggil aku ke sini?” tanya Khalid.
Jarjah “Hai Khalid! Bicaralah yang benar, dan jangan berdusta!  Sebab orang yang merdeka itu tidak berdusta. Dan jangan pula engkau menipuku, kerana orang yang berkedudukan seperti engkau ini tidak akan menipu yang lain, apa lagi bila hal itu ada pertaliannya dengan Allah!” jarjah ingin menguji kejujuran Khalid.”Baiklah”, jawab Khalid. “Aku akan berkata benar dan menjawab sesuai dengan kehendakmu!”
“Engkau mengaku diri sebagai pedang Allah, bukan?” tanya Jarjah.
“Ya”, jawab Khalid pendek

“Apakah Allah telah menurunkan pedang itu dari langit kepada Utusan kamu, lalu dia menyerahkan pedang itu kepadamu, dan engkau tidak akan menghunuskan kepada sesiapa pun, melainkan engkau akan mengalahkannya?” Jarjah meminta penerangan dari Khalid.
“Tidak!” jawab Khalid pendek lagi.
“Oh, tidak?!” “Jadi bagaimana engkau dipanggil sebagai pedang Allah?Jarjah mengejek.
Bukankah itu ajaib sekali?!” Jarjah menambah lagi.
“Tidak ajaib, jika engkau mendengar cerita yang sebenarnya!” jawab Khalid.
“Kalau begitu ceritakanlah kepadaku!” pinta Jarjah.
“Sekarang dengarlah ceritanya: Sesungguhnya Allah telah mengutus kepada kita UtusanNya, lalu Beliau mengajak kami memeluk Islam, tetapi kami menjauhkan diri darinya, dan kami sekalian menyingkirkannya. Meskipun begitu ada juga setengah dari kami yang mempercayainya dan mengikutnya, manakala yang lain mendustakannya dan menentangnya, dan jika engkau ingin tahu aku adalah di antara orang-orang yang mendustakannya dan menentangnya”, Khalid menceritakan dirinya dengan jujur.
“Sesudah itu?” tanya Jarjah yang mendengar dengan penuh minat.
“Kemudian Allah telah melembutkan hati kami, dan membukakan pemikiran kami, lalu kami diberiNya petunjuk untuk memeluk Islam, dan kami pun memberikan kesetiaan kami kepadanya“, Khalid berdiam sebentar mengenang dirinya di masa lalu.
“Kemudian, apa yang berlaku?” tanya Jarjah lagl
‘Kerana aku memeluk Islam itulah, maka beliau berkata kepadaku: Hai Khalid! Engkau ini adalah pedang dari pedang-pedang Allah, yang dihunuskan Allah ke atas kaum musyrik, dan beliau mendoakan bagiku dengan kemenangan!” jelas Khalid.
“Sebab itulah engkau dikenal dengan pedang Allah?!” tanya Jarjah.
“Ya, aku rasakan itu, dan aku orang yang paling keras di antara pasukan Islam ke atas kaum musyrik”, ‘jelas Khalid lagi.
“Baiklah”,. “Engkau membawa pasukanmu ke sini itu, untuk apa?” tanya Jarjah
Aku datang ke sini untuk menyeru orang-orang seperti kamu kepada Islam, dan mempercayai Tuhan yang Satu!” jawab Khalid.
“Tuhan yang Satu?” tanya Jarjah.
“Ya, dengan menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwasanya Muhammad itu adalah Utusan Allah, serta meyakini bahwa apa yang dibawa Muhammad itu adalah dari Allah yang Maha Mulia”, terang Khalid.
Jarjah.“Kalau kami tidak mahu menerimanya?”
Khalid.“Bayar upeti, dan kami akan melindungi kamu!”
Jarjah “Kalau kami tidak mahu membayar upeti itu?”
Khalid“Kami akan memerangi kamu habis-habisan!”
Jarjah “Baiklah, apa kedudukan orang yang mengikut seruanmu itu, dan yang mendampingkan diri dalam apa yang engkau seru itu?”
Khalid.‘Kedudukannya dengan kami sama tentang apa yang difardhukan Allah ke atas kami sekalian, baik dia orang berpangkat atau orang yang rendah, yang pertama memeluk Islam dan yang kebelakangan! Yakni siapa yang mengikut Muhammad sekarang ini akan memperoleh pahala yang sama dengan siapa yang telah mengikutnya lama sebelum ini, iaitu balasannya dan kelebihannya?!”
“Bagaimana itu?” Jarjah meminta penjelasan.
“Ya”, jawab Khalid, “bahkan boleh jadi lebih utama lagi”.
“Bagaimana sampai begitu? Bagaimana agamamu menyamakan orang-orang ini dengan kamu, padahal kamu sudah mendahului mereka?” tanya Jarjah.

“Mudah saja!” jawab Khalid. “Kita orang-orang yang terdahulu memeluk Islam secara terpaksa, kerana kita telah menentangnya sebelum itu. Kemudian kita memberikan kesetiaan kami kepadanya sedang dia hidup di sisi kita, berita-berita langit sedang turun kepadanya, dia memberitahu kita tentang firman-firman Allah itu serta dibuktikannya dengan keterangan-keterangan yang tidak dapat diragukannya lagi”,
“Jadi, apa alasannya?” tanya Jarjah lagi.
Khalid “Jadi orang-orang seperti kita ini sudah melihat semua bukti-bukti itu, dan kami mendengar sendiri darinya, sudah seharusnyalah kami mengikutnya dan menganut kepercayaannya. Tetapi kamu tidak seperti kami, kamu tidak melihat apa yang kami lihat, dan kamu tidak mendengar seperti apa yang kami dengar dan berbagai keajaiban dan bukti-bukti yang membenarkan seruan dan dakwaannya. Jadi barangsiapa yang mengikut perkara ini di antara kamu dengan kebenaran dan niat yang baik, tentulah dia lebih utama dari kami”.

Jarjah terharu dengan penerangan Khalid itu, lalu dia berkata: “Demi Allah, aku yakin engkau telah mengatakan yang benar, dan engkau tidak menipuku!”
“Demi Allah, aku telah berkata yang benar, tiada suatu pun yang aku sembunyikan, dan Allah telah membantuku untuk menjawab soalan-soalanmu itu dengan yang benar”, terang Khalid.
“Kalau begitu, apa gunanya lagi aku menyandang perisai ini”, kata Jarjah, dia lalu melepaskannya, sambil memeluk Khalid dan berkata: “Hai Khalid! Ajarkanlah aku agama Islam itu!” pinta Jarjah.
Khalid Ialu mengajak Jarjah datang ke kemahnya, lalu disiramkan ke atasnya dengan qirbah air (kulit kambing yang dibuat untuk mengisi air), kemudian diajaknya Jarjah bersembahyang dengannya dua rakaat.
Akhirnya pasukan Romawi kecewa apabila Jarjah tidak kembali lagi kepada mereka. Lalu mereka memulai penyerangannya kepada pasukan Islam, dan pada mulanya mereka merasa bangga dengan kemenangan kecil di mana mereka dapat mematahkan sayap-sayap pasukan Islam, kecuali yang sedang dipertahankan oleh lkrimah bin Abu jahal ra. dan Al-Harits bin Hisyam ra.
Khalid bin Walid ra. pun keluar ke medan peperangan untuk menyelamatkan pasukan Islam, dan keluar bersamanya Jarjah yang baru memeluk Islam. Keduanya pun memimpin pasukan Islam di tengah-tengah pasukan Romawi yang mencoba mengepung pasukan Islam. pasukan Islam pun berteriak semangat dan menggempur di belakang panglimanya, si pedang Allah, sehingga akhirnya pasukan Romawi tidak mampu bertahan lagi, dan mereka pun mundur kebarisan mereka yang asal. Khalid terus berjuang pedang dengan pedang bersama-sama pasukan Islam yang telah kembali semangat perjuangannya, sedang Jarjah turut berjuang sebelah-menyebelah dengan pasukan Islam dari sejak tengahari hingga matahari akan terbenam, dan masuk waktu maghrib. pasukan Islam bersembahyang shalat Dzhuhur dan Asar secara menunduk-nunduk saja kerana hebatnya pertarungan yang berlaku di antara dua pihak itu. Akhimya Jarjah, moga-moga Allah merahmatinya, gugur syahid setelah mendapat luka-luka berat, dan dia tidak bersembahyang kepada Allah selain dua rakaat yang dikerjakannya dengan Khalid ra. ketika dia memeluk Islam itu
(Al-Bidayah Wan-Nibayah 7:12 – Menurut Abu Nu’aim dalam “Dalaa’ilun Nubuwah”, nama panglima Romawi itu ialah jarjir bukan jarjah.)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar