Senin, 12 Desember 2011

KRISIS KEUANGAN DAN EKONOMI DUNIA-DAN PERKEMBANGAN TERBARU....??? .>> Kita melihat akar masalahnya adalah memanfaatkan fasilitas Utang2 yang Besar yang tidak dikelola cermat.... sesuai kebutuhan pokok setiap Negara...??? Lalu Bagaimana dengan RI... yang konon para Penguasanya dan Menteri2-nya... selalu bangga dan merasa terhormat atau merasa paling sukses... bilamana dapat guyuran utang2 besar.dari Negara2 Donor......??? hehehe.... Nah lihatlah... apa yang terjadi ... sekalipun Negara2 Eropa dan AS adalah kampiun2 ekonomi dan keuangan internasional.....??? Akan tetapi bilamana rakus dan sangat bangga dengan kemampuan dirinya yang hebat2 itu... Toh mereka mengalami Krisis juga... >>> RI belajarlah dengan Cina.... dan kembalilah dengan basis bisnis riil yang nyata... membangun usaha2 dan produksi....oleh rakyat secara nyata.. dimanapun diseluruh Indonesia... diperbatasan2 negara dll......dan mengandalkan kemampuan diri sendri...dan tidak menjadikan rakyat itu kuli2 dinegeri orang.. apalagi menjadi TKI2 legal dan terselubung... bahkan ada yang menjadi mucikari... dls... Nah stop ini semuanya... dan bangunkan kompetensi bangsa sesuai tahapan terencana yang kongkrit dan konsisten... serta memiliki sasaran dan target2 yang jelas dan bertanggung jawab... (awas jangan asal2-an dan malahan dikorupsi...???)..dan membangun lapangan pekerjaan dinegeri sendiri......>>> Jangan harus malu dinilai .....ketinggalan oleh Singapura atau Malaysia... >>> Nah....... cobalah simak: ...... INI MENYOAL KRISIS DAN DEPRESI DI SEKTOR KEUANGAN EROPA...>>> Masyarakat Uni Eropa kini tengah berada di tubir penderitaan yang dalam apabila mata uang tunggal mereka, yakni euro, hancur karena tak lagi dipercaya sebagai alat pembayaran resmi baik di kalangan Uni Eropa maupun internasional. Ini semua dipicu krisis utang sejumlah negara Uni Eropa, sebut saja Yunani, Italia, Portugal, Spanyol, dan Irlandia (disingkat GIPSI) yang diperkirakan sulit untuk diselesaikan dalam waktu singkat. >>>. Spanyol harus merogoh kocek tambahan sebesar 1,8 miliar euro atau sekitar USD2,4 miliar per tahun. Sementara Italia, menurut hitungan Barclays Capital, setiap kenaikan 1% imbal hasil harus mengeluarkan biaya tambahan sebesar 6 miliar euro atau sekitar USD8 miliar per tahun. Alhasil, mau tidak mau, negara-negara Eropa ini akan memangkas anggaran untuk menambal biaya tambahan tersebut.>>Dana Moneter Internasional (IMF) harus memainkan peran petugas pemadam kebakaran dalam ekonomi global.??? >>> Mencari Solusi Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) telah memiliki Presiden baru. Mario Draghi, terhitung mulai 1 November 2011 resmi menduduki puncak tertinggi otoritas moneter Eropa menggantikan seniornya yaitu Jean-Claude Trichet. Pria berkebangsaan Italia ini lahir di Roma pada 3 September 1947. >> ....... segera melakukan peluncuran Fasilitas Stabilitas Keuangan Eropa (EFSF). Menurutnya, program EFSF harusnya sudah meluncur sejak lama dan resesi finansial tidak berlarut-larut seperti sekarang. Lamanya penerapan EFSF ini membuat beberapa negara di Uni Eropa menderita lebih parah. Draghi juga mengingatkan semua pihak bahwa tahun depan, Uni Eropa tidak bisa mengelak dari perlambatan ekonomi. Perekonomian sebagian besar negara maju melambat seiring buruknya proyeksi ekonomi. Demi mengurangi penderitaan para pesakitan, ECB membeli obligasi milik Italia dan Spanyol. Tujuannya agar menekan imbal hasil atau yield sehingga negara-negara tersebut bisa menyambung hidup saat menunggu keputusan Uni Eropa. Setali tiga uang, Perancis juga mendesak ECB lebih agresif menerapkan kebijakan untuk mengintervensi beberapa negara yang terkena resesi. >>> Tujuannya adalah agar akar krisis tersebut tak menular ke negara-negara lainnya.>> Prancis menekan ECB karena posisi >>> Mempertahankan nilai Euro Dollar dan dukungan ekonomi sebagai mesin uangnya.. adalah persoalan dasar...??? .....>>Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) telah memiliki Presiden baru. Mario Draghi, terhitung mulai 1 November 2011 resmi menduduki puncak tertinggi otoritas moneter Eropa menggantikan seniornya yaitu Jean-Claude Trichet. Pria berkebangsaan Italia ini lahir di Roma pada 3 September 1947. Draghi sudah malang melintang di dunia perbankan. Jabatan terakhir sebelum menjadi Presiden ECB adalah Gubernur Bank Sentral Italia dari tahun 2006 hingga akhir Oktober 2011. Draghi langsung membuat keputusan ekstrim saat baru tiga hari melangkah di ECB. Suku bunga acuan Eropa yang bertahun-tahun ditahan pada level 1,5% langsung dipangkas 25 basis poin (bps) menjadi 1,25%. ..>>

MENYOAL KRISIS DAN DEPRESI DI SEKTOR KEUANGAN EROPA

6 DECEMBER 2011 
Jakarta, 1 Desember 2011 (Business News)
Masyarakat Uni Eropa kini tengah berada di tubir penderitaan yang dalam apabila mata uang tunggal mereka, yakni euro, hancur karena tak lagi dipercaya sebagai alat pembayaran resmi baik di kalangan Uni Eropa maupun internasional. 

Ini semua dipicu krisis utang sejumlah negara Uni Eropa, sebut saja Yunani, Italia, Portugal, Spanyol, dan Irlandia (disingkat GIPSI)  yang diperkirakan sulit untuk diselesaikan dalam waktu singkat.

Jadi benar bahwa kini dunia kian tergiring ke arah kelesuan ekonomi sebagai akibat dari krisis utang Eropa dan krisis ekonomi Amerika Serikat (AS). 
Kondisi makin menakutkan karena China sebagai raksasa ekonomi saat ini mengaku ketar-ketir karena resesi global berada di level kronis.

Jadi benar bahwa kini dunia kian tergiring ke arah kelesuan ekonomi sebagai akibat dari krisis utang Eropa dan krisis ekonomi Amerika Serikat (AS). Kondisi makin menakutkan karena China sebagai raksasa ekonomi saat ini mengaku ketar-ketir karena resesi global berada di level kronis.

Tidak sendirian, Singapura sebagai ‘kiblat’ baru investasi juga ‘kepanasan’ terimbas krisis global. Negara Singa ini mengeluhkan perlambatan ekonomi, dengan tingkat pertumbuhan hanya di kisaran 1%-3% pada tahun 2012.

Di pasar domestik, Cina tengah menajamkan kewaspadaan terkait dengan kemungkinan efek domino krisis. Kondisi ini membuat pasar takut, karena sebelumnya China diharapkan menjadi ”penyelamat” bagi perekonomian Eropa.
Satu hal yang mesti China yakini adalah resesi ekonomi dunia yang diakibatkan oleh krisis keuangan internasional akan semakin parah. Inilah mendorong dikeluarkannya kebijakan ekonomi China yang berorientasi pada pertumbuhan domestik.

Sebagaimana diketahui, pemerintah China meluncurkan paket stimulus raksasa sebesar USD650 miliar (Rp5,8 juta triliun) pada tahun 2008 lalu untuk mengantisipasi akibat buruk dari krisis keuangan global.
Sementara, Singapura yang menghadapi perlambatan ekonomi mulai memperlihatkan kepanikan juga. Pertumbuhan tahun 2012 diperkirakan 1%-3% tentu saja jauh lebih rendah dibandingkan proyeksi semula yang sebesar 5% untuk pertumbuhan tahun 2012.

Perlambatan ekonomi Singapura terutama berkaitan dengan melambatnya ekspor dunia. Bahkan situasi bisa lebih buruk lagi karena krisis finansial di negara-negara maju bisa meledak setiap saat. Seandainya risiko ini menjadi material, pertumbuhan ekonomi Singapura pada tahun tahun 2012 bisa lebih rendah dari ekspektasi.
Diperkirakan industri elektronik Singapura dan sektor lain yang sangat bergantung pada permintaan luar negeri akan tetap mendapatkan tekanan, meski ada dukungan dari perekonomian Asia yang kinerjanya lebih baik.
Sayangnya ini belum cukup memitigasi dampak pelemahanan ekonomi di negara-negara maju. Bahkan sektor finansial diperkirakan terkena pengaruh oleh ketidakpastian lingkungan eksternal yang semakin memburuk.
Perekonomian Singapura bernilai 284,6 miliar dolar Singapura (219 miliar dolar AS) pada tahun 2010, tumbuh 14,5% dibandingkan resesi yang dialami negara tersebut pada 2009 ketika perekonomian menyusut 0,8%.
Proyeksi tahun 2012 itu dirilis setelah data menunjukkan perekonomian Singapura tumbuh 6,1% pada kuartal III-2011, yang merupakan perbaikan jika dibandingkan pertumbuhan 1% pada kuartal II-2011.
Perubahan Politik dan Gejala Stres
Efek buruk krisis global yang berawal dari ancaman gagal bayar atau default utang zona Eropa meluas. Tidak hanya perekonomian melambat karena seretnya perdagangan maupun manufaktur, tapi juga mulai mengguncang kejiwaan pelaku usaha.
Di London dikabarkan kalangan bankir stres, depresi dan insomnia menghadapi tekanan akibat krisis dan akhirnya memilih untuk mengundurkan diri. Kondisi ini diprediksi akan merembet ke benua lain, terutama Amerika yang mengalami permasalahan serupa.
Peta perpolitikan juga ikut memperkeruh suasana, terutama ketika partai oposisi lantas mendesak dilakukannya perubahan-perubahan mendasar secara mendadak. Bila beberapa negara Yunani dan Italia perdana menterinya mundur, di Spanyol Partai Rakyat menang pemilu yang merupakan sejarah pertama dalam 29 tahun. Ini diperkirakan karena kepercayaan masyarakat terhadap partai berkuasa– Partai Sosialis menipis seiring krisis.
Pimpinan Partai Rakyat Spanyol Mariano Rajoy memenangkan kursi mayoritas di Spanyol. Partai Rakyat memenangkan 186 dari 350 kursi di Kongres. Sementara, kandidat Partai Sosialis Alfredo Perez Rubalcaba hanya memenangkan 110 kursi. Perolehan kursi tersebut merupakan yang terburuk bagi Partai Sosialis sejak Spanyol memberlakukan demokrasi pada 1978 silam.
Rajoy mengajak rakyat Spanyol untuk bersama-sama memerangi krisis utang Spanyol. Dalam pidato kemenangannya dia mengatakan Spanyol akan berhenti menjadi masalah dan akan menjadi bagian dari solusi kembali.
Rajoy (56) juga berjanji untuk memangkas defisit anggaran dan mampu mendapatkan level peringkat utang AAA. Sekadar informasi, saat ini, perekonomian Spanyol tumbuh stagnan dengan tingkat pengangguran mencapai 23%. Selain itu, beban biaya pinjaman Spanyol saat ini kembali ke masa disaat Spanyol belum bergabung di kawasan euro.
Sementara itu, partai berkuasa Sosialis menjadi pemerintah kelima yang jatuh akibat krisis utang Eropa. Sebelumnya, Italia dan Yunani sudah menunjuk Perdana Menteri yang baru. Sedangkan pemilih Irlandia dan Portugal menurunkan pimpinan mereka setelah kedua negara tersebut mencari dana bailout.
Catatan saja, tingkat yield obligasi Spanyol berjangka waktu 10 tahun menanjak ke level 6,78% pada 17 November lalu. Ini merupakan level tertinggi sejak negara tersebut bergabung ke euro.
Dalam pada itu, fenomena bankir-bankir stres dan depresi makin nyata di London. Salah satunya adalah yang dialami chief executive Lloyd Banking Group, Antonio Horta-Osario yang mengumumkan pengunduran diri dari posisinya pada akhir tahun karena ”pertimbangan medis.”

Berbagai laporan menunjukkan, direktur kelahiran Portugal yang bergaji 1 juta poundsterling atau sekitar Rp11 miliar per tahun itu menderita kelelahan setelah enam bulan memegang jabatan tertinggi di bank yang di-bailout itu.
Pengumuman yang mengejutkan itu muncul berbarengan dengan sektor finansial yang berjuang dengan perkembangan terakhir dari krisis utang kawasan Eropa, meningkatnya kegelisahan investor dan membuat saham bank raksasa itu anjlok.
Kasus Horta-Osario itu semakin memperkuat tren yang mengkhawatirkan diantara para bankir. Seorang dokter kejiwaan kenamaan di London mengaku telah merawat pasien dari kantor-kantor di City and Canary Wharf yang merupakan pusat bisnis kedua di London.
Jelas sekali ada kenaikan jumlah pasien berkaitan dengan stres dan depresi. Kalangan medis dengan mudahnya menuduh gejolak ekonomi terkini sebagai penyebab meningkatnya kasus sakit yang berhubungan dengan stres, yang dapat menyebabkan berbagai gejala psikis termasuk sakit kepala, sakit punggung, kondisi jantung dan insomnia. Sejak resesi ekonomi, segala sesuatu telah berubah dramatis.
Studi terbatu dari institut riset Centre for Economics and Business Research (CEBR) menambah kekhawatiran para pekerja sektor finansial. CEBR memperkirakan lebih banyak tenaga kerja sektor finansial yang diputus hubungan kerjanya (PHK) pada tahun ini, sehingga jumlah pekerjanya akan turun hingga lebih rendah dari era 1998.
Krisis memang menyebabkan sejumlah bank-bank besar di Inggris melakukan PHK. Yang terbaru adalah bank terbesar Italia, UniCredit mengumumkan rencananya untuk mem-PHK 5.200 karyawannya dalam beberapa tahun ke depan.
Kepanikan Yang Memperburuk Keadaan
Karena panik terus melanda Eropa, maka sebagian besar investor melepas surat utang negara-negara dan korporasi-korporasi dalam kawasan Eropa, khususnya GIPSI. Tindakan investor global yang menjual surat utang negara-negara dan korporasi Eropa ini memicu risiko pembatasan kredit. Bila pembatasan kredit ini terjadi, bakal ada efek lanjutan yang memperburuk kondisi perekonomian Eropa.
Penjualan surat utang Eropa bakal mendorong biaya penerbitan surat utang naik, pemangkasan anggaran yang lebih besar dan pertumbuhan ekonomi akan semakin melambat. Jika tren ini terus berlangsung, yang akan paling terkena dampaknya adalah bank-bank Eropa karena mereka kesulitan memperoleh dana pembiayaan sesuai target. Para investor global mulai melepas dan menjauhi surat utang negara dan bank Eropa.
Tindakan ini dipicu atas kekhawatiran negara dan perusahaan Eropa tidak mampu melunasi surat utang yang jatuh tempo. Salah satu aksi jual dilakukan oleh Kokusai Asset Management, perusahaan investasi asal Jepang.
Pada awal November 2011 ini, Kokusai telah melepas surat utang Italia sebesar USD1 miliar. Tindakan ini juga diikuti oleh Royal Bank of Scotland dan lembaga dana pensiun di Belanda. Dalam beberapa hari terakhir, kedua institusi tersebut sangat agresif menjual surat utang negara-negara Eropa.
Pada saat bersamaan, institusi Amerika Serikat juga menarik kembali pinjaman kepada bank-bank Eropa yang telah jatuh tempo. Vanguard misalnya. Perusahaan ini memutuskan pinjaman uangnya ke Rabobank di Belanda sebesar 300 juta dolar AS berakhir dan kemudian memindahkan uang itu keluar dari Eropa. Padahal, peringkat utang Rabobank adalah AAA- dan dianggap sebagai salah satu bank terkuat di dunia.
Penarikan pinjaman ini lantaran krisis utang Eropa sangat sensitif. Ibarat bermain sepakbola, ketika suara semakin keras, maka lebih baik melihat dari pinggir lapangan ketimbang tetap berada dalam arena permainan.
Alhasil, aksi menjauh para investor global ini melambungkan imbal hasil (yield) surat utang negara-negara Eropa. Imbal hasil surat utang Spanyol yang bertenor 10 tahun misalnya hampir mencapai 7%. Angka ini merupakan tertinggi selama ini.
Kenaikan imbal hasil ini otomatis memperbesar biaya penerbitan surat utang. Spanyol harus merogoh kocek tambahan sebesar 1,8 miliar euro atau sekitar USD2,4 miliar per tahun.
Sementara Italia, menurut hitungan Barclays Capital, setiap kenaikan 1% imbal hasil harus mengeluarkan biaya tambahan sebesar 6 miliar euro atau sekitar USD8 miliar per tahun. Alhasil, mau tidak mau, negara-negara Eropa ini akan memangkas anggaran untuk menambal biaya tambahan tersebut.
Jika mengabaikan respon pasar surat utang itu, negara-negara Eropa ini bakal kesulitan memperoleh pinjaman dan membayar utang mereka. Yang pasti, penghematan anggaran belanja ini akan memicu kontraksi ekonomi lanjutan di dalam negeri negara-negara tersebut. Jadi inilah efek spiral yang mengerikan itu.
Masalah ekonomi di Eropa, jika tidak ditangani serius dan segera, dapat menyebabkan konsekuensi “besar” di AS karena keterkaitan yang kuat antara kedua negara besar. Dengan kata lain, membiarkan Eropa jatuh, maka konsekuensi negatif yang besar akan menimpa perekonomian negara-negara lainnya, termasuk AS.
Maklum, sekitar 20% dari ekspor AS ditujukan ke Eropa. Juga ada hubungan sangat kuat antara bank-bank AS dan bank-bank Eropa. Ada banyak karyawan Eropa yang dipekerjakan oleh perusahaan-perusahaan AS, dan sebaliknya ada banyak karyawan AS yang dipekerjakan oleh perusahaan-perusahaan Eropa.
Pandangan itu mengemuka karena AS skeptis tentang bantuan kepada zona euro yang bermasalah. Di sinilah Dana Moneter Internasional (IMF) harus memainkan peran petugas pemadam kebakaran dalam ekonomi global.
Mencari Solusi
Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) telah memiliki Presiden baru. Mario Draghi, terhitung mulai 1 November 2011 resmi menduduki puncak tertinggi otoritas moneter Eropa menggantikan seniornya yaitu Jean-Claude Trichet. Pria berkebangsaan Italia ini lahir di Roma pada 3 September 1947.

Draghi sudah malang melintang di dunia perbankan. Jabatan terakhir sebelum menjadi Presiden ECB adalah Gubernur Bank Sentral Italia dari tahun 2006 hingga akhir Oktober 2011. Draghi langsung membuat keputusan ekstrim saat baru tiga hari melangkah di ECB. Suku bunga acuan Eropa yang bertahun-tahun ditahan pada level 1,5% langsung dipangkas 25 basis poin (bps) menjadi 1,25%.
Tidak hanya itu saja gebrakan Draghi. Karena krisis semakin berkepanjangan membuat gerah para petinggi ECB, maka Draghi menekan para petinggi Uni Eropa segera melakukan peluncuran Fasilitas Stabilitas Keuangan Eropa (EFSF).
Menurutnya, program EFSF harusnya sudah meluncur sejak lama dan resesi finansial tidak berlarut-larut seperti sekarang. Lamanya penerapan EFSF ini membuat beberapa negara di Uni Eropa menderita lebih parah.
Draghi juga mengingatkan semua pihak bahwa tahun depan, Uni Eropa tidak bisa mengelak dari perlambatan ekonomi. Perekonomian sebagian besar negara maju melambat seiring buruknya proyeksi ekonomi.
Demi mengurangi penderitaan para pesakitan, ECB membeli obligasi milik Italia dan Spanyol. Tujuannya agar menekan imbal hasil atau yield sehingga negara-negara tersebut bisa menyambung hidup saat menunggu keputusan Uni Eropa.
Setali tiga uang, Perancis juga mendesak ECB lebih agresif menerapkan kebijakan untuk mengintervensi beberapa negara yang terkena resesi. Tujuannya adalah agar akar krisis tersebut tak menular ke negara-negara lainnya.
Sebelumnya, Perancis juga mengutarakan keinginan agar EFSF memiliki lisensi perbankan. Jika ini dilakukan, EFSF dimungkinkan untuk meminjam dana dari ECB sehingga berikan amunisi ekstra untuk memererangi krisis utang Eropa. Perancis ingin EFSF memiliki lisensi perbankan demi mencegah penularan krisis lebih lanjut.
Prancis menekan ECB karena posisi peringkat yang dimiliki yaitu AAA bisa dipangkas lantaran imbal hasil atau yield obligasi negara terus meningkat. Peran ECB adalah memastikan stabilitas euro dan menjaga stabilitas keuangan Eropa. Diyakini ECB tidak akan diam saja dengan desakan ini. Dengan cara ini, tingkat stres dan depresi para pelaku industri keuangan di Eropa dan AS dapat menyusut.   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar