Sabtu, 24 Desember 2011

Membongkar Pengkhianatan Para Penguasa Negara Islam....???>>> ...Pengkhianatan Penguasa Saudi (Dulu dan Kini)..... >> Palang Merah: "Tubuh Taliban tidak membusuk!"... >>> Analis: Perang Irak Kesalahan Terbesar dalam Sejarah Militer AS...>>> Taliban bantah adakan pembicaraan rahasia dengan AS....

Palang Merah: "Tubuh Taliban tidak membusuk!"

Saif Al Battar
Kamis, 22 Desember 2011 14:51:30

Oleh: Doktor Muhammad Andar. 

Komite Palang Merah Amerika telah mengeluarkan laporan dalam lamanwebnya mengenai mayat-mayat (syuhada) Taliban dibandingkan mayat pasukan asing. Komite tersebut yang memiliki tugas mengambil dan mengubur mayat di provinsi Mazar Sharif Afghanistan, menunjukkan keheranannya mengapa tubuh mayat Taliban tidak rusak maupun mengeluarkan bau busuk?!

Laporan tersebut mengatakan bahwa investigator awalnya mengira bahwa karena cuaca dinginlah adanya fenomena itu, hanya saja teori tersebut hancur berkeping-keping karena tubuh pasukan dari sekutu utara yang tergeletak di area yang sama telah rusak dan mengeluarkan bau yang menjijikkan.

Laporan tersebut terus menyatakan bahwa mereka ingin melakukan penelitian tentang makanan yang dimakan oleh pejuang Taliban! Para peneliti juga ingin mencari tahu apakah adanya korelasi antara makanan dan darah karena darahnya beberapa Taliban tetap hangat walau setelah kematiannya!
(Sumber: Al-Misryoon, Ana Muslim dan beberapa website lainnya)

Adalah hadiah dari Allah SWT apabila musuh mengakui di depan teman-temannya mengenai mukjizat yang ditunjukkan melalui syuhada Taliban karena pembantaian pasukan salib. Harus dikemukakan bahwa jika semua peneliti maupun ilmuan biologi di planet ini mau bergabung dan meneliti seumur hidupnya, mereka tidak akan pernah menemukan jawabannya terhadap kasus yang membingungkan ini. Tanpa kita ketahui, bisa jadi mereka malah mencoba untuk menemukan tubuh Ibrahim AS yang penuh berkah dan mempelajari struktur biologinya sehingga mereka bisa membuat baju anti api untuk para prajuritnya.

Teringat pidato dari ulama terkenal, Ustaz Yasir, pada saat pemakaman komandan terbaik dari Imarah Islam, Syahid Mullah Abdul Manaan Ahmad rahimahullah: “Di sini saya akan memberikan sedikit contoh yang dapat dimengerti semua orang dan tidak ada yang bisa mengingkari tentang kenapa Taliban adalah di sisi yang benar dan rezim Kabul di sisi yang bathil; Kenapa mayat kami tidak rusak dan mengeluarkan bau busuk sedangkan mayat oposisi kami membusuk dan baunya sangat menyengat?!”

Berhubung aroma dari syahid Mullah Abdul Manaan terus-terusan semerbak, ustad yang disegani itupun menambahkan: “Saya tantang semua orang untuk datang! Mari ambil satu mayat dari sisi kami dan satu dari sisi musuh yang terbunuh pada saat bersamaan dan oleh senjata yang sama. Kita akan meninggalkan mereka dalam kondisi fisik dan kimia yang sama. Lalu mari kita perhatikan, bahwa mayat dari sisi kami mewangi seperti misik dan tampa lebih indah dan mayat lainnya menggembung dan mulai rusak dan baunya busuk! Sekarang biarkan spesialis dunia dalam bidang sains dan kimia menginvestigasi dan temukan alasannya.”

Kita juga jangan lupakan salah satu faktor desersi dalam pasukan Kabul adalah karena mukjizat yang ditunjukkan melalui para syuhada Taliban. Satu kelompok prajurit ANA (Afghan National Army) di provinsi Nangarhar, distrik Ghani Khel yang meninggalkan tugasnya memberitahukan alasan dari desersi mereka yaitu: “Satu ketika kita bertarung hadap-hadapan dengan Taliban di provinsi Kandahar,  Taliban mundur sedangkan mayat dari sisi kami dan mereka tergeletak di medan perang. Lalu kami diperintahkan untuk berdiam di area tersebut pada malam hari. Waktu pun berlalu, mayat kami mulai rusak dan mengeluarkan bau sangat menyengat yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Di sisi lain, mayat Taliban mulai mengeluarkan bau yang asing tapi harum dan indah. Saat itu juga, teman-teman kami meninggalkan mayat temannya dan duduk di sebelah mayat syuhada Taliban”. Prajurit itu menambahkan: “Jadi pada pagi harinya, aku dan teman-temanku mengemas barang-barang pribadi kami dan meninggalkan semuanya, padahal tinggal dua atau tiga hari lagi mendapatkan gaji dan pulang!!”

Satu buku tentang mukjizat yang ditunjukkan melalui syuhada dalam jihad melawan soviet telah dirangkum oleh ulama syahid terkenal Syaikh Abdullah Azzam rahimullah dalam sebuah judul “Ayat ar Rahmaan fi Jihad al Afghan” yang dalamnya ratusan insiden telah disampaikan. Jadi semoga Allah memberikan ulama zaman ini keteguhan untuk menyingsingkan lengan bajunya dan menulis tentang mukjizat-mukjizat yang ditampakkan dalam medan perang dan oleh para syuhada dalam jihad saat ini, sehingga manusia dapat membedakan antara kebenaran dan kebathilan dan akhirnya akan bergabung dengan kebenaran.

Akhir kata, saya memohon dengan sangat kepada seluruh pembaca agar dengan ikhlas mendoakan saya untuk dapat melaksanakan jihad dan pada akhirnya mendapatkan karunia sebagai syuhada, sebuah status yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan diimpikan oleh beliau.
Imarah Islam Afghanistan
(ibnusyahin/arrahmah.com)

Read more:  
 
Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Pengkhianatan Penguasa Saudi
(Dulu dan Kini)

Dalam pidato pembukaan KTT Liga Arab yang dilangsungkan di Riyadh tanggal 28 Maret 2007, Raja Abdullah Ibnu Saud mengatakan bahwa kesengsaraan yang dialami bangsa Arab adalah akibat perselisihan yang kerap terjadi di antara para penguasa Arab. Padahal mereka hanya dapat mencegah “kekuatan asing untuk merumuskan masa depan wilayah itu”  jika mereka bersatu. Kemudian dia melanjutkan pidatonya tentang  sejarah Liga Arab, “Pertanyaannya adalah, apa yang telah kita lakukan dalam tahun-tahun belakangan ini untuk menyelesaikan semua permasalahan itu? Saya tidak ingin menyalahkan Liga Arab karena ia adalah sebuah entitas yang mencerminkan kondisi kita secara menyeluruh. Kita seharusnya menyalahkan diri kita sendiri; kita semua; pemimpin bangsa-bangsa Arab. Perbedaan-perbedaan kita yang permanen, penolakan kita untuk mengambil jalan persatuan, semuanya itu menyebabkan negara-negara Arab kehilangan kepercayaan diri dan kredibilitas serta kehilangan harapan pada masa kini dan masa depan kita.” 

Dia lalu menggambarkan beberapa persoalan yang dihadapi oleh Dunia Islam, “Di Irak yang kita cintai, pertumpahan darah terjadi di antara saudara-saudara kita, dibayangi oleh pendudukan asing yang ilegal, dan kebencian sektarianisme yang menjurus pada perang saudara…Di Palestina, banyak orang menderita karena penindasan dan pendudukan. Sangat mendesak untuk mengakhiri blokade yang diberlakukan atas bangsa Palestina sehingga proses perdamaian dapat terus berjalan dalam kondisi tanpa penindasan.”
Apa yang digarisbawahi oleh Raja Abdullah dalam pidato pembukaanya tentang problem masa kini yang dihadapi kaum Muslim sudah sangat dimengerti oleh kaum Muslim di seluruh dunia. Namun, Dia melupakan peran yang telah dimainkannya, juga peran keluarga Saudi dalam menciptakan dan memperpanjang isu-isu semacam itu. Keluarga Saudi memiliki riwayat panjang terkait dengan pengkhianatan mereka terhadap umat. Mereka justru telah memainkan peran pentingnya dalam mencegah persatuan di Dunia Islam.
Mulai awal tahun 2006, Raja Abdullah telah mencetuskan inisiatif perdamaian yang akan mengakui Israel jika negara itu mengembalikan tanah yang dirampasnya pada perang tahun 1967. Untuk itu, Raja Abdullah bersedia menjadi perantara pada perjanjian antara Pemerintahan Hamas dan Fatah. Raja Abdullah menunjukkan sikap yang sebenarnya ketika Israel menginvasi Libanon pada bulan Juli 2006. Saat itu, pada pertemuan KTT Liga Arab dia bersama Yordania, Mesir, beberapa negara Teluk dan Otoritas Palestina, menghukum Hizbullah atas tindakannya yang dianggap tidak diharapkan, tidak pantas dan tidak bertanggung jawab. Menlu Arab Pangeran Saud al-Faisal pada saat itu mengatakan, “Tindakan itu akan membawa keseluruhan wilayah ini kembali beberapa tahun mundur ke belakang. Kami tidak bisa menerima hal itu.”
Saudi Arabia, bahkan meminta Sheikh terkemuka, Abdullah bin Jabrin, untuk mengeluarkan fatwa yang menyatakan tidak sahnya dukungan, bantuan dan doa bagi Hizbullah.
Keluarga Saudi sering dalam beberapa kesempatan, bersama dengan kekuatan penjajah Barat, bahu-membahu dalam menyediakan dukungan aktif. Dalam Perang Teluk yang pertama, Raja Fahd dengan resmi memerintah-kan penggelaran pasukan Amerika di tanah Saudi. Kerajaan itu menjadi tuan rumah bagi 600,000 pasukan Sekutu hingga kas negara mengalami defisit. Amerika mengeluarkan $60 miliar pada Perang Teluk pertama. Kuwait membayar separuhnya dari anggaran itu. Saat ini, 5000 tentara AS masih bercokol di kerajaan itu sejak akhir Perang Teluk. Sejak 1999, kehadiran mereka telah menimbulkan kejengkelan bagi warga Saudi hingga dikeluarkannya “Memorandum Nasihat” setebal 46 halaman oleh 107 pemuka kelompok Wahabi kepada Raja Fahd. Memorandum tersebut mengkritik pemerintah atas korupsi dan pelanggaran lainnya serta  kebijakan pemerintah yang tetap membiarkan kehadiran tentara AS di tanah Saudi.
Namun, jawaban yang diambil oleh Raja Fahd adalah menangkap mereka.

Sejarah Pengkhianatan al-Saud  
Pengkhiatan telah berakar dalam di tubuh Kerajaan Saudi, yakni sejak keluarga Saudi memainkan peran langsungnya atas kehancuran Khilafah dan pembentukan negara Israel. Kantor Kementerian Luar Negeri Inggris melakukan kontak-kontak dengan Ibnu Saud tahun 1851 untuk berhubungan dengan pihak-pihak yang dianggap pantas untuk menjadi penentang Khilafah yang beribukota di Istanbul. Keluarga Saudi pada saat itu adalah segerombolan bandit yang terlibat dalam percekcokan kesukuan, namun dengan uang dan senjata dari Inggris. Ibnu Saud mampu mengkonsolidasikan posisinya di wilayah-wilayah kunci di semenanjung Arab dan akhirnya di seluruh semenanjung itu. Ini terlihat pada perjanjian yang ditandatangani oleh Inggris tahun 1865.
Ketika itu Inggris menginginkan sekutunya di wilayah itu untuk memberikan pijakan pada wilayah Kekhalifahan Usmaniah yang sedang sekarat. Sebagai imbalannya, Ibnu Saud menginginkan bantuan logistik dan militer Inggris untuk mengacaukan Kekhalifahan dari dalam.

Inggris memberikan Ibnu Saud sedikit subsidi yang dipakai untuk memperluas dan mempertahankan pasukan Wahabi. Pasukan ini adalah tulang punggung pasukan Ibnu Saud untuk melawan Khilafah. Ibnu Saud berusaha untuk memperoleh legitimasi dengan memakai gerakan Wahabi, pengikut Muhammad ibnu Wahab, yang berkeyakinan bahwa tanah Arab perlu dibersihkan dengan opini Islamnya. Ibnu Wahab menggunakan Wahabi untuk memberikan kredibilitas agama atas kebijakan pro-Inggrisnya. kaum Wahabi melihat kesempatan ini untuk melihat interpretasinya atas Islam agar menjadi mazhab yang dominan di wilayah itu.

Tahun 1910 keluarga al-Saud menjadi orang-orang yang lebih penting lagi bagi Inggris ketika mereka memberontak terhadap Kekhalifahan Usmani, dengan dukungan Inggris, dengan menyerang saudara sepupunya Ibnu Rashid yang mendukung Khilafah. Subsidi yang tadinya kecil menjadi bertambah dan sekomplotan penasihat dikirim untuk membantu gerakan Ibnu Saud.
Pemberontakan Arab (1916-1918) diawali oleh Syarif Hussein ibnu Ali dengan restu penuh Inggris. Tujuannya adalah untuk memisahkan semenanjung Arab dari Istanbul. Perjanjian ini diakhiri pada bulan Juni 1916 setelah dilakukan surat-menyurat dengan Komisi Tinggi Inggris Henry McMahon yang mampu meyakinkan Syarif Hussein akan imbalan yang diterimanya atas penghianatannya terhadap Kekhalifahan, yakni berupa tanah yang membentang dari Mesir dan Persia; dengan pengecualian penguasaan kerajaan  di wilayah Kuwait, Aden, dan pesisir Syria.
Pemerintah Inggris di Mesir langsung mengirim seorang opsir muda untuk bekerja bersama orang Arab. Orang itu adalah Kapten Timothy Edward Lawrence, atau yang dikenal dengan nama Lawrence dari Arab.
Setelah kekalahan Kekhalifahan Usmani tahun 1918 dan keruntuhan sepenuhnya tahun 1924, Inggris memberikan kontrol penuh atas negara-negara yang baru terbentuk, yakni Irak dan Trans-Jordan, kepada anak laki-laki Syarif Hussein yaitu Faisal dan Abdullah seperti yang sebelumnya dijanjikan. Keluarga al-Saud berhasil membawa seluruh Arab di bawah kontrolnya tahun 1930. Pandangan Inggris atas nasib Arab menyusul kekalahan Khilafah tercermin pada kata-kata Lord Crewe bahwa ia menginginkan, “Arab yang terpecah menjadi kerajaan-kerajaan di bawah mandat kami.” Untuk peran itu, keluarga Saudi menerimanya dengan senang hati.
Keluarga Saudi langsung bersekongkol dengan Inggris untuk menghancurkan Khilafah. Jika tidak terlalu buruk keluarga Saud juga akan langsung bersekongkol dengan Zionis untuk mendirikan Israel.
Raja Abdullah 1 dari Trans-Jordan yang diciptakan Inggris mempelajari kemungkinan itu dengan David Ben Gurion (Perdana Menteri Israel yang pertama) di Istanbul tahun 1930-an. Abdullah menawarkan untuk menerima pendirian Israel. Sebagai imbalannya, dia akan menerima Jordania di bawah kontrol penduduk Arab di Palestina. Tahun 1946 Abdullah mengungkapkan minatnya untuk menguasai wilayah Arab di Palestina. Dia tidak berniat untuk menentang atau menghalangi pembagian Palestina dan pendirian negara Israel, seperti yang digambarkan oleh seorang sejarawan.
Saudaranya Raja Faisal dari Irak bahkan melebihi pengkhiatan Abdullah. Ketika itu, pada tahun 1919 Faisal menandatangani Perjanjian Faisal-Weizmann, dengan Dr. Chaim Weizmann, Presiden organisasi Zionis Dunia; dialah yang menerima dengan syarat Deklarasi Balfour berdasarkan janji yang dipenuhi oleh Inggris pada masa perang untuk kemerdekaan Arab.
Sejak tahun 1995 Saudi Arabia telah mengimpor $64.5 miliar dalam bentuk persenjataan, yang jauh melebihi pengimpor kedua terbesar, Taiwan, yang melakukan transaksi hanya sebesar $20.2 untuk persenjataan. Namun, tidak satu pun senjata-senjata itu yang digunakan untuk pertahanan bagi kaum Muslim atau di area konflik tempat kaum Muslim ditindas. Satu-satunya saat bagi Saudi ikut terlibat perang adalah ketika terjadi Perang Teluk. Saat itu, dia terlibat dalam mendukung koalisi terhadap Irak dan selama PD I.
Pembatalan yang baru-baru ini dilakukan antara Saudi dan Inggris menunjukkan, bahwa keluarga Saudi tidak pernah berkeinginan untuk membela kepentingan kaum Muslim. Mereka hanya membeli persenjataan untuk memastikan berlanjutan industri persenjataan tuan-tuannya di Barat, sementara mereka tetap mengkhianati umat.
 
Membongkar Pengkhianatan
Para Penguasa Negara Islam


Katakanlah kepada Dr. Herzl, Palestina  bukanlah harta pribadiku; ia adalah milik semua uamt Islam di dunia. Karena itu, aku tidak akan menyerahkan bagian manapun dari wilayah tersebut, walaupun itu harus merenggut nyawaku.” Itulah yang diucapkan Sultan Abdul Hamid II ketika orang-orang Yahudi berusaha membujuknya untuk menjual tanah Palestina kepada Yahudi. Padahal saat itu Khilafah Ustmaniyah yang dipimpinnya sedang lemah. Beberapa wilayah Khilafah telah dicaplok oleh penjajah. Pemberontakan terjadi di beberapa tempat. Berbagai gerakan yang ingin menghancurkan Khilafah pun menyebar di kalangan militer dan elit politik.  Namun, Sultan Abdul Hamid II tetap bersikap tegas; tidak berani mengkhianati negaranya. Sikap inilah yang hampir tidak ada pada para pemimpin negeri Islam saat ini. Sebagian besar pemimpin negeri Islam saat ini justru berkhianat kepada negaranya dan umat Islam.
Di bidang politik pengkhianatan yang paling besar dilakukan oleh Kemal Attartuk, saat dia bekerjasama dengan Inggris meruntuhkan Khilafah Islamiyah. 
Pada 20 November 1922 dibukalah Perjanjian Lausanne.
Atas nama kemerdekaan Turki, delegasi Ankara yang mewakili Kemal menyetujui syarat-syarat Inggris yang dipimpin Lord Curzon  tentang empat hal:
(1) Penghapusan  Khilafah secara total;
(2) Pengusiran Khilafah sampai keluar batas negara;
(3) Penyitaan kekayaan Khilafah;
(4) Sekularisasi negara. Sebagai implementasi dari perjanjian itu, pada 3 Maret 1924, Majelis Nasional yang banyak diisi orang-orang Kemal mengumumkan persetujuan penghapusan Khilafah.
Sementara itu, penguasa Saudi berkolaborasi dengan Inggris untuk mempercepat keruntuhan Khilafah Islam. Pada 1902 Dinasti Saud di bawah pimpinan Abdul Azin bin Abdurrahman menyerang dan merebut kota Riyadh dengan membunuh wali Khalifah lewat bantuan Inggris
Kerjasama Dinasti Saud dan Inggris tampak pada perjanjian umum Inggris-Saudi di Jeddah (20 Mei 1927). Clayton, wakil Inggris, menegaskan kembali pengakuan Inggris atas ’kemerdekaan’ Ibnu Saud dan hubungan persahabatan Saudi-Inggris.
Mengingat kerjasama mereka yang sangat erat ini Inggris memberikan gelar kebangsawanan ’sir’ untuk Abdul Aziz bin Abdurrahman.
Sekularisasi pun semakin kokoh di Dunia Islam. Hampir seluruh negeri Islam mengadopsi hukum sekular. Di Indonesia, produk undang-undang semakin pro liberal dan kapitalis. Upaya menghilangkan pornografi lewat undang-undang ditentang habis-habisan kelompok sekular. Pemred majalah porno Playboy malah dibebaskan. Ratifikasi UU pro-Kapitalisme semakin menguat.

Penguasa Komprador
Pasca keruntuhan Khilafah, negeri Islam terpecah-belah menjadi beberapa negara-bangsa yang berasas sekular. Penjajahan berlanjut lewat sistem sekular yang dipaksakan di Dunia Islam. Negara-negara Barat mengokohkan penjajahan mereka lewat para penguasa yang menjadi kaki tangan mereka di negeri Islam. Hampir di sebagian besar negeri Islam, penguasa yang muncul dalam sistem sekular berada di bawah pengaruh negara-negara kolonialis. 

Tidaklah aneh, para penguasa negeri-negeri Islam sangat represif terhadap gerakan-gerakan Islam yang menginginkan tegaknya syariah Islam.  Pasalnya, penegakan syariah Islam akan menghentikan penjajahan negara-negara kolonialis atas Dunia Islam. Hal ini jelas tidak sejalan dengan kepentingan  negara kolonialis yang menjadi ’tuan besar’ mereka. Gerakan Islam juga terus membongkar persekongkolan penguasa negeri Islam dengan para penjajah secara lantang di hadapan masyarakat. 
Di Suriah, ribuan aktivis Islam, baik dari Ikhwanul Muslimin maupun Hizbut Tahrir, ditangkap, disiksa, dan dipenjara tanpa bukti kuat. Pada April 2007, puluhan aktivis Hizbut ditangkap dan dipenjarakan petugas keamanan Suriah. Pasalnya, Hizbut Tahrir Suriah membongkar perkongkolan pemerintah Suriah dengan AS saat menerima  Frank Wolf, anggota Kongres Amerika dari partai Republik, pada 1 April 2007 dan kunjungan delegasi Nancy, ketua Senat Amerika, pada 3 April 2007. 

Di Mesir, pemerintah sekular banyak menangkap aktivis Islam dengan tuduhan ingin mendirikan Negara Islam. Dengan tajuk, “Demokrasi Kaum Islamis”, majalah New York Times mengupas perkembangan politik dan HAM di Mesir. Menurut laporan majalah itu dalam edisi pekan ini, di Mesir telah terjadi penangkapan massal terhadap lawan-lawan politik penguasa dan mereka ditahan di dalam penjara. Namun,  menurut makalah yang ditulis oleh James Traweb, itu bukan hal baru bagi Mesir. Perguliran kekuasaan di Mesir beberapa kali sebelumnya, sejak tahun 1952, sudah menerapkan tradisi serupa. Mubarak sebagai penguasa Mesir menyebut anggota Al-Ikhwan sebagai kelompok fundamentalis yang merencanakan revolusi untuk mengganti sistem sekular Mesir menjadi negara agama (Eramuslim, 4/5/2007). Hal yang sama terjadi di beberapa negeri Islam seperti Tunisia, Aljazair, Arab Saudi, Pakistan, Banglades, termasuk Indonesia.
Pengkhianatan  para penguasa negeri Islam ini semakin jelas dengan melihat sikap mereka terhadap manuver negera-negara kolonialis. Alih-alih mencegah serangan Amerika ke Irak, penguasa Saudi malah mempermudah AS membunuh nyawa kaum Muslim Irak dengan mempersilakan negara itu untuk membangun pangkalan militer di Saudi. Turki, tidak jauh beda; lapangan terbangnya juga digunakan oleh AS untuk menyerang negeri-negeri Muslim. Di Pakistan, Musharraf malah bangga membantu Amerika Serikat memerangi pejuang Islam di Afganistan.
Para penguasa negeri Islam pun tidak banyak berbuat melihat pembunuhan yang dilakukan negara kolonialis. Tidak ada langkah pembelaan yang kongkret terhadap rakyat Irak yang dijajah AS. Padahal sudah lebih dari 650 ribu rakyat sipil terbunuh. Bahkan seruan yang tegas agar AS keluar dari Irak pun nyaris tidak terdengar, kecuali hanya basa-basi. Ketika Lebanon Selatan diserang Israel, Husni Mubarak malah melarang tentaranya untuk membantu kaum Muslim Lebanon. “Mesir untuk Mesir,” ujarnya.
Sikap yang sama ditunjukkan oleh para penguasa Muslim terhadap krisis Palestina. Meskipun di depan mata Israel secara sistematis mengusir, membunuh, dan menghancurkan sarana vital masyarakat Palestina, mereka cenderung berdiam diri. Yang lebih menyedihkan, para penguasa negeri Islam malah berlomba-lomba melakukan hubungan diplomatik dengan Israel. Yang malu-malu, berkerjasama dengan Israel di belakang layar lewat hubungan-hubungan rahasia.
Ketundukan para penguasa negeri-negeri Islam kepada AS dan sekutunya semakin jelas dalam perang melawan terorisme yang dipimpin negara Paman Sam ini. Ancaman Bush yang hanya memberikan dua pilihan, “Anda ikut teroris atau ikut AS,” disikapi oleh para penguasa negeri-negeri Islam dengan berlomba-lomba berkerjasama dengan AS dalam propaganda global perang melawan terorisme.

Menjual Negara
Pengkhianatan para penguasa negeri-negeri Islam juga terlihat dari  ketundukan mereka terhadap kebijakan ekonomi negara kapitalis. Bisa disebut, hampir semua penguasa negeri-negeri Islam tunduk kepada negara-negara kapitalis. Negara-negara Timur Tengah yang kaya minyak seperti Saudi, Kuwait dan Bahrain membiarkan kekayaan minyak negeri itu dieksploitasi perusahaan-perusahaan asing. Padahal kekayaan alam seperti minyak adalah milik rakyat yang keuntungannya harus diserahkan kepada rakyat, bukan kepada perusahaan asing atau dimonopoli keluarga.
Di Saudi pada 29 Mei 1933, Standart  Oil Company (perusahaan AS) memperoleh konsesi selama 60 tahun. Perusahaan ini kemudian berubah nama menjadi Arabian Oil Company (Aramco) pada 1934. Untuk kepentingan minyak, wakil perusahaan Aramco, James W. Moffet, menjumpai Presiden Roosevelt (April 1941) agar memberikan pinjaman/utang kepada Saudi. Utang inilah yang menjadi  alat bagi AS untuk mengontrol Saudi. Konsesinya, pada 1943 AS dibolehkan memanfaatkan pangkalan udara Saudi selama tiga tahun. Namun, hingga kini perjanjian ini masih berlangsung. Pangkalan udara Dhahran pernah menjadi pangkalan militer AS yang paling lengkap di Timur Tengah. Pangkalan inilah yang menjadi basis militer AS untuk menyerang Irak, negara tetangga Saudi. 
Kondisi yang sama terjadi di Indonesia. Disahkannya UU Penanaman Modal beberapa waktu yang lalu merupakan salah satu bentuk pengkhianatan penguasa terhadap rakyat. UU itu semakin mengokohkan ekploitasi terhadap kekayaan alam Indonesia. Tanpa UU ini pun kekayaan negeri ini sudah dijarah habis-habisan dari Sabang sampai Marauke. Di Aceh LNG Arun (Pertamina, Exxon Mobile, Japan Indonesia LNC) mengeruk cadangan 17,1 triliun kubik gas; hingga 2002 sudah 70% cadangan gas yang dikuras. Di Papua, Indonesia hanya mendapat royalti sekitar 9,4% plus pajak, padahal total pendapatan Free Port tahun 2005 US 4,2 miliar dolar (Kompas, 21/11/2006). Ini pendapatan yang dilaporkan secara resmi. Diperkirakan, pendapatan sebenarnya jauh di atas angka itu. Lebih menyedihkan lagi, di Kepulauan Natuna Indonesia ‘hanya’ mendapat 0%.
Program privatisasi pun terus bergulir. Program ‘menjual aset-aset strategis Indonesia’ ini merupakan bentuk kepatuhan kepada IMF. Saham Telkom pun dijual ke Singapura. Padahal semua tahu, telekomunikasi merupakan aset srategis; bukan hanya ekonomi, keamanan negara pun bisa terancam.
Negara semakin tidak berdaulat karena harus tunduk kepada negara donor. Jeratan utang luar negeri ini membuat penguasa harus menerima segala tekanan dan kebijakan asing. Jeratan utang ini semakin menggurita. Menurut anggota Komisi XI DPR, Dradjad Wibowo, data Statistik Ekonomi dan Keuangan BI pada 2001 utang luar negeri sebesar 71,4 miliar dolar AS, namun hingga triwulan I 2006 telah menjadi 83,6 miliar dolar AS/ RP 752 triliun. (Republika, 28/8/2006).

Menelantarkan Rakyat
Pengkhianatan penguasa  berbuah penderitaan rakyat. Penguasa yang seharusnya menjadi rĂ¢‘in  (penggembala/pengurus rakyat) malah membuat kebijakan yang menambah derita rakyat. Karena ketundukan kepada IMF yang mensyaratkan minimalisasi subsidi, Pemerintah mengurangi  ’subsidi’ BBM. Dampaknya sangat serius, kenaikan BBM menambah kemiskinan masyarakat.
Kenaikan BBM juga tidak bisa dilepaskan dari tekanan asing yang menginginkan harga BBM Indonesia disesuaikan dengan harga internasional. Kebijakan ini dibuat untuk kepentingan  investor asing. BBM yang murah akan membuat investor asing kurang berminat bermain di sektor ini. “Liberalisasi sektor hilir migas membuka kesempatan bagi pemain asing untuk berpartisipasi dalam bisnis eceran migas…Namun, liberalisasi ini berdampak mendongkrak harga BBM yang disubsidi Pemerintah. Sebab, kalau harga BBM masih rendah karena disubsidi, pemain asing enggan masuk.” (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro, Kompas, 14/5/2003). Lagi-lagi, Pemerintah lebih mengikuti tekanan asing ini daripada memperhatikan kesejahteraan rakyat.
Pengkhianatan penguasa kepada rakyat semakin bertambah saat diberlakukan kebijakan liberalisasi di berbagai sektor strategis seperti air, listrik, kesehatan,  dan pendidikan. Atas nama liberalisasi dan privatisasi,  UU SDA (Sumber Daya Air) membolehkan perusahaan asing untuk menguasai air Indonesia. Seperti pengalaman PAM Jaya saat dimiliki asing, harga air pun meningkat. Sebaliknya, pelayanan kepada masyarakat bawah sangat rendah. Hal yang sama terjadi di dunia pelistrikan. Mahalnya listrik semakin menambah beban hidup masyarakat.
Di bidang kesehatan, privatisasi membuat biaya kesehatan meningkat. Kesehatan menjadi barang mahal. Rakyat lebih memilih menahan sakit akibat biaya yang membengkak.
Kondisi yang sama terjadi di dunia pendidikan. Atas nama otonomi sekolah, otonomi kampus, BHMN, dan BHP, biaya pendidikan meningkat menajam. Orang miskin ’sepertinya’  dilarang sekolah.
Para penguasa negeri Islam pun banyak mengabaikan hak-hak masyarakat. Jaminan keamanan semakin sulit, ditandai dengan tingkat kriminalitas yang tinggi. Transportasi yang bermutu juga sulit dijangkau karena mahal. Itu pun belum tentu aman. Pelayanan transportasi yang bobrok membuat rakyat semakin menderita dan tidak aman. Transportasi seakan menjadi ‘senjata pemusnah massal’ yang siap menunggu korban berikutnya.
Semua ini semakin menunjukkan jatidiri para penguasa negeri Islam, yang seperti jongos, tunduk begitu saja pada tekanan negara imperialis. Pilihan buruk ini tetap diambil, meskipun bukan hanya menambah derita rakyat, tetapi secara sistematis membunuh rakyatnya sendiri.
Walhasil, saatnyalah kita kembali pada Islam. Saatnyalah kita menegakkan Khilafah Islam dan mengangkat seorang khalifah yang amanah, yang akan menerapkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan.

Jumat, 23/12/2011 16:21 WIB | Arsip | Cetak

Seorang analis pertahanan terkemuka AS menggambarkan perang Irak sebagai "kesalahan terbesar" dalam sejarah militer AS pada saat bagian terakhir pasukan Amerika keluar dari Baghdad.

Perang Irak dan pendudukan berikutnya akhirnya dapat dianggap sebagai kesalahan bahkan lebih besar dari perang Vietnam, kata sebuah artikel yang ditulis oleh analis industri pertahanan Loren Thompson, yang diterbitkan oleh Forbes. Ia juga mengatakan perang telah gagal mengumpulkan dukungan domestik, yang menyebabkan "kekalahan mencolok" dari strategi Amerika di negara itu.

Mengacu pada tuduhan palsu Barat bahwa Baghdad memiliki senjata pemusnah massal (WMD) sebagai alasan untuk perang, artikel mengatakan bahwa tidak ada WMD dan hal tersebut hanyalah ilusi.
"Kami segera menetapkan bahwa alasan lain untuk pergi berperang di Irak, sebagian besar adalah imajiner," kata Thompson.
Thompson menambahkan bahwa pasukan Amerika meninggalkan Irak tidak akan pergi jauh dari negara tetangga Kuwait.

Dia menunjukkan bahwa Washington kemungkinan besar akan tetap menjaga kehadiran militer yang luas di kawasan itu untuk memastikan bahwa Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki memiliki kemampuan untuk mengendalikan banyak faksi politik Irak.

Thompson mengatakan Pentagon telah menghabiskan ratusan miliar dolar pada teknologi baru, pelatihan dan taktik untuk memerangi pemberontakan. Namun, pemberontak di Irak, katanya, berhasil dalam mendorong mesin besar militer Amerika ke ambang kekalahan.(fq/prtv)

Taliban bantah adakan pembicaraan rahasia dengan AS

Siraaj
Selasa, 20 Desember 2011 08:25:39

PESHAWAR (Arrahmah.com)

Komandan senior Taliban Afghanistan, dikabarkan membantah telah mengadakan pembicaraan rahasia dengan pejabat Amerika Serikat hingga mencapai titik kesepakatan.

“bagaimana mungkin pembicaraan sampai kepada titik kesepakatan, sementara pembicaraan belum dimulai”, kata komandan mujahidin kepada Reuters saat diwawancarai melalui telepon, sebagai respon atas klaim pejabat AS yang mengatakan telah mengadakan pembicaraan rahasia selama sepuluh bulan terakhir hingga mencapai titik kesepakatan.

“posisi kami pada pembicaraan tetap sama. Semua pasukan asing harus meninggalkan Afghanistan, kemudian kita dapat berbicara”, tegas komandan dari tempat yang tidak diketahui.

(siraaj/arrahmah.om)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar