Kamis, 08 Desember 2011

Astronom Ma’rufin Sudibyo dalam posting di jejaring sosialnya, Minggu (4/12/2011) lalu, mengatakan, “Gerhana mulai terjadi pada pukul 18.35 WIB ditandai dengan mulai bersentuhannya cakram Bulan terhadap penumbra”. ....>>> ...Sementara menurut Kepala Observatorium Bosscha, Hakim L. Malasan, peristiwa ini akan bisa disaksikan dengan mata telanjang mulai pukul 18.33 WIB. Puncak gerhana diprediksi berlangsung pada pukul 21.06 WIB-21.57 WIB....>> "Totalitas, yakni tertutupinya cakram Bulan secara sepenuhnya oleh umbra, terjadi pukul 21.07 hingga 21.57 WIB, selama 50 menit, dengan puncak gerhana pukul 21.32," tutur Ma'rufin. ..>>.. ...dianjurkan untuk melakukan shalat kusuf yang merupakan sunnat mua’kad. Seperti diriwayatkan oleh Asy-Syaikhan bawha Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua (tanda) dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut maka hendaklah kalian berdo’a kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah...>>>


Jum'at, 14 Muharram 1433 H / 9 Desember 2011

Gerhana bulan malam ahad

Siraaj
Kamis, 8 Desember 2011 21:55:47

JAKARTA (Arrahmah.com) – 
Malam ahad nanti, Sabtu (10/12/2011) diperkirakan akan terjadi gerhana bulan total. Gerhana bulan ini akan menjadi gerhana bulan terakhir di tahun 2011. 

Astronom Ma’rufin Sudibyo dalam posting di jejaring sosialnya, Minggu (4/12/2011) lalu, mengatakan, “Gerhana mulai terjadi pada pukul 18.35 WIB ditandai dengan mulai bersentuhannya cakram Bulan terhadap penumbra”. 

Seperti yang dilansir kompas.com

Sementara menurut Kepala Observatorium Bosscha, Hakim L. Malasan, peristiwa ini akan bisa disaksikan dengan mata telanjang mulai pukul 18.33 WIB. Puncak gerhana diprediksi berlangsung pada pukul 21.06 WIB-21.57 WIB.

Gerhana bulan terjadi saat sebagian atau keseluruhan penampang bulan tertutup oleh bayangan bumi. Fenomena ini terjadi bila Bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama. Karena posisi itu, sinar matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh Bumi, saat totalitas terjadi Bulan akan berwarna kemerahan.
Tak seperti gerhana Matahari, gerhana Bulan aman disaksikan tanpa alat dan pelindung karena terjadi tak terlalu malam. Pada malam Ahad itu, masyarakat di seluruh Indonesia bisa menyaksikan gerhana bulan total yang akan berlangsung selama 51 menit 8 detik. “Berbeda dengan gerhana bulan total pada Juni lalu yang berlangsung selepas tengah malam, masyarakat bisa menikmati fenomena gerhana bulan total kali ini karena waktunya berlangsung sebelum jam tidur.

Sebagai umat islam, kita memiliki tuntunan pada saat terjadinya fenomena alam gerhana bulan, yaitu dianjurkan untuk melakukan shalat kusuf yang merupakan sunnat mua’kad. Seperti diriwayatkan oleh Asy-Syaikhan bawha Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua (tanda) dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut maka hendaklah kalian berdo’a kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah.” 
 (siraaj/arrahmah.com)

Malam Minggu, Gerhana Bulan Terakhir Tahun Ini
Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Kamis, 8 Desember 2011 | 13:24 WIB



SHUTTERSTOCK
TERKAIT:
·                     Citra Bimasakti di Tengah Gerhana Bulan
·                     Ada "Live Streaming" Gerhana Bulan Total
·                     Kamis Subuh, Bulan Purnama Warna Merah
·                     Tiga Hari Lagi Gerhana Bulan Total

JAKARTA, KOMPAS.com — 

Malam minggu nanti, Sabtu (10/12/2011), langit malam di Indonesia akan dihiasi oleh gerhana Bulan. Gerhana ini cukup istimewa sebab menjadi Gerhana Bulan Total terakhir pada tahun 2011.
Astronom Ma'rufin Sudibyo dalam posting di jejaring sosialnya, Minggu (4/12/2011), mengatakan, "Gerhana mulai terjadi pada pukul 18.35 WIB ditandai dengan mulai bersentuhannya cakram Bulan terhadap penumbra."

Namun, Ma'rufin menjelaskan bahwa tahap awal gerhana akan sulit dilihat secara kasatmata. Gerhana baru bisa dilihat jelas sekitar pukul 19.46 WIB, saat bulan bersentuhan dengan umbra.

"Totalitas, yakni tertutupinya cakram Bulan secara sepenuhnya oleh umbra, terjadi pukul 21.07 hingga 21.57 WIB, selama 50 menit, dengan puncak gerhana pukul 21.32," tutur Ma'rufin.

Saat totalitas terjadi, jangan dikira Bulan akan lenyap. Bulan akan "berdarah", berwarna kemerahan seperti yang sering diperlihatkan dalam film tentang manusia serigala.

Tak seperti gerhana Matahari, gerhana Bulan aman disaksikan tanpa alat dan pelindung. Karena terjadi tak terlalu malam,  gerhana Bulan kali ini pas dinikmati sambil minum kopi atau bercengkerama bersama teman.

Jangan lupa, Anda pun bisa menyiapkan kamera DSLR untuk mengabadikan momen gerhana ini. Membuat serangkaian foto gerhana dari tahap awal hingga akhir patut dicoba.

Ada yang unik dari gerhana kali ini. Saat totalitas terjadi, Bulan akan tampak berada di depan Bimasakti. Jadi, jika dilihat, di belakang Bulan berdarah akan tampak kabut tipis. 

Bimasakti adalah galaksi tempat Bumi bernaung. Ma'rufin mengatakan, Bimasakti juga "monster" yang telah menelan galaksi-galaksi kecil lain serta merupakan salah satu galaksi tertua di semesta.

Bulan berdarah juga akan memiliki beberapa pendamping malam Minggu nanti. Salah satunya Jupiter, yang sejak beberapa waktu lalu terus-menerus tampak dan bisa dilihat dengan mata telanjang.

Selain itu, bintang Sirus yang menjadi bintang paling terang setelah Matahari juga akan terlihat. Ada juga gugus tujuh bintang bersaudara atau Pleiades. Galaksi Awan Magellan Kecil dan Besar juga akan terlihat.

Semua benda langit yang terlihat saat gerhana menjanjikan pemandangan yang menarik pada malam Minggu nanti. Akan tetapi, semua bisa lenyap tak terlihat apabila langit berawan dan hujan. Jadi, berdoa saja hal itu tak terjadi. 

Gerhana kali ini bisa dilihat oleh masyarakat di seluruh Indonesia. Indonesia juga beruntung karena berpeluang menyaksikan seluruh tahap gerhana. Amerika Selatan, Afrika barat, dan seluruh wilayah Atlantik tak bisa menikmati gerhana ini. 

Gerhana Bulan Total terjadi saat Bumi, Matahari, dan Bulan berada di satu garis lurus. Bulan akan ada di umbra (bayang-bayang inti) dan penumbra (tambahan) Bumi. Gerhana Bulan Total adalah salah satu fenomena alam yang telah dinikmati selama ribuan tahun, yang diterjemahkan menjadi makna yang berbeda di setiap kebudayaan


Keindahan Langit
Citra Bimasakti di Tengah Gerhana Bulan
Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Kamis, 16 Juni 2011 | 23:15 WIB

KOMPAS.com — Dalam pengamatan gerhana bulan total yang berlangsung pada Kamis (16/6/2011) dini hari, astronom amatir dari Kebumen, Ma'rufin Sudibyo, berhasil menjepret citra Bimasakti di tengah bulan yang memerah atau mengalami gerhana bulan total.

"Saya lihat Bimasakti saat gerhana. Meski langit sudah terpolusi cahaya, tapi tahapannya masih rendah, jadi bisa terlihat," katanya saat dihubungi Kompas.com lewat jejaring sosial hari ini.

Ia menambahkan, Bimasakti tampak persis di samping bulan, tepatnya di sebelah timur atau samping kiri. "Tampak seperti awan putih tipis yang berarah utara selatan. Sangat tipis," terangnya lagi.

Dalam pengamatannya dari Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, ia juga berhasil menangkap citra obyek angkasa lainnya. Misalnya, planet Venus dan Jupiter yang tampak pada tahapan akhir gerhana.
Pengamatan di Gombong dipusatkan di RS PKU Muhammadyah wilayah itu. Ma'rufin mengatakan, sekitar 50 orang terlibat dalam pengamatan tersebut. Awan sesekali mengganggu pengamatan dengan melintas cepat.

Ma'rufin juga menangkap citra meteor saat gerhana. "Ada dua meteor. Satu pas sebelum total dan satu lagi pas total. Meteor sporadic. Sepertinya dari debu pecahan asteroid," kata Ma'rufin.
Beberapa obyek langit yang disaksikan Ma'rufin juga terlihat dari pengamatan di Planetarium Jakarta. Meski berawan, menjelang pukul 05.00 WIB tadi, Jupiter menampakkan diri dalam warna putih di arah timur.

Gerhana bulan total dini hari tadi merupakan salah satu gerhana yang periode totalnya terpanjang dalam 100 tahun terakhir karena mencapai 100 menit. Masyarakat Indonesia masih mempunyai kesempatan menyaksikan gerhana bulan pada Desember tahun ini, diperkirakan terjadi dari sore hingga malam hari.

JAKARTA, KOMPAS.com — Flashback.....Asyiknya Lihat Gerhana di Planetarium

Gerhana Bulan total yang terjadi pada Kamis (16/6/2011) dini hari tadi menarik minat masyarakat untuk turut menyaksikan. Planetarium Taman Ismail Marzuki menjadi salah satu tempat yang dituju. Ratusan orang memadati tempat ini sejak sebelum tengah malam.

Kegiatan pengamatan gerhana Bulan total di planetarium dikoordinir oleh Himpunan Astronom Amatir Jakarta (HAAJ). Empat teleskop dipersiapkan untuk memberi fasilitas pengamatan bagi masyarakat, sementara 1 teleskop lagi dipakai untuk tujuan astrofotografi.

"Gerhana totalnya itu mulai sekitar pukul 01.30 WIB. Kalau puncaknya sekitar pukul 02.30 WIB. Pukul 04.05 WIB, totalitas pun berakhir dan Bulan mulai menampakkan dirinya. Akhirnya, menjelang pukul 06.00 WIB, gerhana pun berakhir," kata Muhammad Rayhan, koordinator HAAJ.

Rayhan menjelaskan, saat gerhana total, Bulan tampak blur. Jadi, kurang bisa membandingkan bagian gelap dan terang. Saat fase gerhana di mana Bulan tertutup setengah dengan fase Bulan separuh pun akan berbeda. Saat fase gerhana setengah tetap akan lebih blur karena Bulan tertutup Bumi.

Lebih lanjut, Rayhan menjelaskan bahwa saat terjadi gerhana, Bulan, Bumi, dan Matahari terletak dalam satu garis lurus. Saat gerhana Bulan total, seluruh permukaan Bulan benar-benar tertutup oleh Bumi. Meskipun demikian, Bulan tidak akan berwarna gelap seperti Matahari ketika mengalami gerhana.

"Ini karena Bulan bukan merupakan sumber cahaya. Bulan adalah benda langit yang terangnya karena sinar Matahari. Jadi walaupun tertutup Bumi, cahaya Matahari yang ada di balik Bumi tetap bisa menerangi Bulan," ungkap Rayhan ketika berbincang dengan Kompas.com di sela pengamatan, dini hari tadi.

Menguraikan sebab lain, Rayhan mengatakan bahwa Bulan berwarna merah karena pengaruh atmosfer. "Merah ini karena pengaruh atmosfer. Ini bisa jadi juga indikator polusi. Kalau polusinya makin tinggi,  warna merahnya makin pekat," ujar Rayhan yang dalam pengamatan juga bertugas mengambil foto.

Mengamati selama berjam-jam, Rayhan dibantu anggota HAAJ lainnya berhasil memotret tahapan gerhana. Dalam foto-foto jepretannya, tampak tahapan di mana Bumi menutupi Bulan, tahapan di mana Bulan benar-benar berwarna merah hingga saat Bulan mengintip keluar menampakkan dirinya kembali.
Di tahap akhir gerhana, kejutan datang. Planet Jupiter menampakkan dirinya. "Ayo yang sudah bosan ngamat Bulan bisa lihat Jupiter," katanya pada anggota HAAJ lainnya. Jupiter tampak di timur dengan warna putih walaupun tampak sangat kecil. Satelit Jupiter pun terlihat dalam pengamatan lebih detail.
Rayhan mengaku cukup senang dengan antusiasme masyarakat melihat gerhana meski akhirnya harus antre memakai teleskop. Tentang aktivitas shalat gerhana, ia berkomentar, "Ini bisa jadi indikasi mereka sudah aware dengan fenomena ini."

Satu hal yang disesalkan cuma awan yang beberapa kali menghalangi pengamatan. Rayhan mengatakan, masyarakat yang saat ini belum bisa mengamati gerhana karena halangan awan bisa menunggu lagi Desember tahun ini.

"Nanti akan lebih ramai pasti karena terjadinya sore sampai malam. Apalagi nanti kejadiannya pas malam Minggu, planetarium harus siap-siap juga. Semoga nanti bisa lihat," tuturnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar