Rabu, 07 November 2012

Obama Menang, Donald Trump "Berkicau"..??!!.>>....Donald Trump, merasa tidak puas dengan kemenangan Obama. Dia menumpahkan kekesalannya melalui Twitter dan menyebut hasil pemilihan presiden itu sebagai sebuah "parodi" dan "ketidakadilan yang menjijikkan". "Kita harus datang ke Washington dan menghentikan parodi ini. Negara kita sudah terpecah," demikian tulis raja properti ini melalui akun Twitternya...>>....Jangan pernah ragu mengatakan bahwa pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) akan selalu berlangsung pada hari Selasa pertama pada bulan November. Pemilihan presiden yang berlangsung setiap empat tahun itu akan berlangsung pada Selasa, 6 November 2012...>>....Namun harus diingat juga, hari Selasa pertama itu setelah ada hari Senin pertama pada bulan November. Mengapa selalu hari Selasa pertama setelah hari Senin pertama dalam bulan November? Penentuan soal hari Selasa pertama ini diputuskan pada tahun 1845. Pada tahun 1875, hari Selasa pertama ini juga diputuskan sebagai hari pemilihan anggota DPR AS. Pada tahun 1914, hari Selasa pertama ini juga ditetapkan pemilu Senat AS...>>....12 "Battleground States"...>>.......Barack Obama Terpilih Lagi Menjadi Presiden AS....>>>....Electoral College: Penentu Kemenangan Kandidat Presiden AS...>>.....Dubes Scot Marciel: Sistem Pemilihan di AS Memang Rumit..>>>



Barack Obama Terpilih Lagi Menjadi Presiden AS

Washington (voa-islam), http://www.voa-islam.com/news/world-world/2012/11/07/21569/barack-obama-terpilih-lagi-menjadi-presiden-as/
Pertarungan yang sangat melelahkan itu, dan berlangsung sangat dahsyat antara Presiden Barack Obama dan Mitt Romney berakhir dengan kemenangan Barack Obama, di mana Obama mendapatkan angka 275 electoral vote, sedangkan Mitt Romneya hanya mendapatkan 204 electoral vote.
Penghitungan suara telah usai, dan telah diumumkan oleh seluruh media di Amerika Serikat, kemenangna Obama yang  berhasil menggulung calon dari Partai Republik Mitt Romney, yang pada awalnya diunggulkan. Mitt Romney yang sangat konservatif, dan beragama Mormon itu, gagal mengungguli Obama.
Mitt Romney dengan gigih mengecam kegagalan Obama kebijakan ekonomi. Obama dinillai oleh Romney tidak mampu mengatasi masalah ekonomi Amerika yang stagnan, dan berlanjutnya pengangguran. Tetapi, Presiden Barack Obama, kembali menegaskan sesungguhnya, kelamnya ekonomi Amerika Serikat itu, akibat petualangan militer yang dilakukan zamannya Presiden Bush.
Amerika Serikat tenggelam dalam utang yang jumlahnya lebih dari $ 16 triliun dollar Amerika, akibat perang, dan terus mengalami defisit anggaran, lebih dari $ 2 triliun dollar setiap tahunnya. Di masa pemerintah Obama itu, kebijakan perang ditinjau kembali. Obama seperti janjinya dalam kampanye menarik pasukan Amerika Irak, yang sudah terjebak dalam rawa-rawa perang di Irak, yang banyakmenimbulkan kematian. Obama juga akan menarik pasukan dari Afghanistan, di tahun 2014.
Namun, seperti dikatakan oleh Muslim Amerika, sejatinya baik Obama dan Mitt Romney, sama saja, tak yang beda, hanya "style", yang berbeda. Kedua berada di bawah bayang rezim Iluminati dan Zionis. Ketua Tim Pemenangan Kampanye Barack Obama, tokoh Yahudi, David Axelorld, yang sekarang berhasil mengangkat kembali Obama ke Gedung Putih.
Barack Obama, saat  pertama pemerintahannya, tahun 2008, mengangkat orang yang paling penting di Gedung Putih, yang menjadi Kepala Staf Gedung Putih, seorang tokoh Yahudi Ramm Emmanuel, dan sekarang menjadi Walikota Chicago. Obama atau Mitt Romnye sama saja. Hanya gayanya saja yang beda, substansinya sama. Sama-sama bagian dari rezim Iluminati dan Zionsi. af

Obama Wins Election – Four More Years!

On Tuesday, November 6th, 2012 in Elections by Brandon Jones.
http://obama.net/obama-wins-election-2012/


Consensus projections are that Barack Obama has won the 2012 presidential election! With the majority of states reported, Barack Obama has locked in 275 electoral votes to Mitt Romney’s 203. As you know it takes 271 electoral college votes to win.

Interestingly enough, Mitt Romney leads the popular vote as of this moment, 45,899,639 to 45,709,932. If Romney’s general vote lead holds up this will be the second time a president was elected by winning the electoral college but losing the general populous vote.
Congratulations to President Obama. Let’s make positive changes over the next four years!

 

Perbedaan Suara Obama-Romney Setipis Silet


TEMPO.CO, Washington - Barack Obama dan penantang dari Partai Republik, Mitt Romney, bersaing ketat dalam memperebutkan suara menuju Gedung Putih. Pemungutan suara telah resmi ditutup.
Romney, mantan Gubernur Massachusetts, memenangkan pemilihan di beberapa negara bagian. Kemenangannya tercatat di Kentucky, West Virginia, South Carolina, Indiana, Oklahoma, dan Tennessee. Obama memenangkan pilihan di negara bagian asal Romney di Massachusetts dan tujuh negara lainnya ditambah District of Columbia. Dia juga menang di negara bagian asalnya, Illinois, serta negara bagian asal Joe Biden, Delaware.
Banyak media menyebut, perbedaan suara antara Obama dan Romney setipis silet. Perolehan suara mereka susul-menyusul. Posisi terakhir, Obama 123 suara dan Romney 153 suara. Dibutuhkan 270 suara untuk memenangkan pencalonan.
Jajak pendapat dari pemilih di negara-negara kunci menunjukkan ekonomi adalah masalah utama di benak pemilih. Jelas bahwa Obama tidak akan melakukan sebaik yang dia lakukan pada tahun 2008, ketika ia menang dengan margin 7,3 persen dari suara rakyat.
Jajak pendapat lain menunjukkan Romney yang menang antara laki-laki dengan dua digit. Obama menang di kalangan perempuan, yang merupakan fokus dari banyak kampanyenya, namun dengan margin yang lebih kecil dari empat tahun yang lalu.
Obama menunggu hasil pemungutan suara diumumkan di Chicago dan Romney berada di Massachusetts, setelah 17 bulan dan lebih dari US$ 2 miliar dihabiskan oleh masing-masing calon presiden.
"Cara yang kasar. Semua orang ingin seseorang untuk disalahkan," kata Frank Robles, 45 tahun, yang mempekerjakan 15 orang di rumahnya yang menjadi toko sepatu di Las Vegas Utara. Namun Robles yang mendukung Obama, mengatakan dia tidak bukan penyebab krisis ekonomi. "Orang perlu untuk memberinya kesempatan."
Di Ohio, ajang pertempuran utama bagi kedua belah pihak, suasana di beberapa tempat pemungutan suara sangat santai dan akrab, meskipun kampanye intens dan rentetan iklan TV negatif.
"Terlalu banyak iklan, fitnah terlalu banyak," kata Nancy Manion.
BBC | TRIP B

Electoral College: Penentu Kemenangan Kandidat Presiden AS


Stephanie Pappas, Penulis Senior LiveScience
http://id.berita.yahoo.com/electoral-college-penentu-kemenangan-kandidat-presiden-as.html

Selasa malam waktu AS (atau Rabu siang di Indonesia), hasil penghitungan suara pemilihan presiden akan diumumkan -- kecuali ada kekacauan penghitungan atau seri dalam electoral college.

Seperti yang terjadi pada 2000, suara Electoral College akan berpengaruh pada pemilihan presiden. Bagaimana caranya?

Ternyata, saat seorang pemilih di AS mencoblos kandidat Barack Obama atau Mitt Romney, mereka tak langsung memilih kandidat presiden mereka itu. Mereka memilih para elector, atau sekumpulan orang (yang biasanya ditunjuk oleh partai politik) yang kemudian memilih kandidat mereka. Setiap negara bagian mendapat satu 'elector' untuk setiap perwakilan mereka di House of Representatives atau DPR AS, dan dua 'elector' untuk setiap perwakilan senator.

Karena perwakilan di DPR berdasarkan populasi, begitu juga dengan Electoral College. Dengan 55 suara electoral, maka California yang populasinya besar memiliki suara terbanyak. Sementara negara-negara bagian seperti Wyoming, Alaska dan the Dakota, yang penduduknya sedikit, masing-masing hanya mendapat 3 suara electoral, begitu juga dengan Distric of Columbia.

Totalnya ada 538 elector yang bisa diperebutkan dalam Electoral College. Setiap kandidat setidaknya membutuhkan 270 suara electoral untuk bisa memenangkan kursi kepresidenan.

Di kebanyakan negara bagian, kandidat yang meraih suara terbanyak (popular vote) juga mendapat suara Electoral College di negara bagian tersebut. Namun negara bagian seperti Maine dan Nebraska membagi suara electoral mereka secara proporsional, maka suara electoral tersebut bisa terbagi. 

Sejarah Electoral College

Kandidat yang memenangkan suara terbanyak dalam sistem electoral bisa tak terpilih sebagai presiden. Seperti yang terjadi pada 2000, saat Al Gore memenangkan suara terbanyak (popular vote) dengan 50,99 juta suara dibanding George W. Bush pada 50,45 juta. Namun Bush mendapat suara electoral yang lebih banyak dengan 271 (setelah penghitungan suara ketat di Florida), sementara Gore hanya mendapat 266 suara electoral.

Pada 1876, Rutherford B. Hayes juga kalah suara dibanding Samuel J. Tilden, namun Hayes bisa menjadi presiden karena unggul satu suara Electoral College. Sementara Benjamin Harrison kalah 90 ribu suara pemilih dibandingkan Grover Cleveland pada 1888, namun bisa unggul jauh di Electoral College, mendapat 233 suara dibanding 168 yang diperoleh Cleveland.

Meski begitu, John Quincy Adams kalah suara populer dan suara electoral pada 1824, namun tetap bisa menjadi presiden. Alasannya, saat itu Adams dan lawannya, Andrew Jackson, sama-sama mendapat 131 suara electoral. Maka keputusannya jatuh pada DPR, yang memenangkan Adams. Adams pun langsung menunjuk Ketua DPR Henry Clay sebagai Menteri Luar Negeri. Jackson pun menuduh keduanya melakukan 'politik dagang sapi korup'.

Persaingan suara electoral tahun ini Sistem elektoral yang sifatnya 'sapu habis' membuat para kandidat memfokuskan energi pada negara-negara bagian yang bisa berubah-ubah atau 'swing state'. Maka kampanye terakhir para kandidat tak berhenti di Texas yang pasti mendukung Republik, tapi Colorado yang cenderung 'swing state' penuh dengan para kandidat.

Menurut ABC News, Obama dan Wakil Presiden Joe Biden berencana menghabiskan 96 jam terakhir sebelum pemilihan dengan berpidato di Ohio, Wisconsin, Iowa, Virginia, New Hampshire, Colorado, dan Florida. Sementara Romney dan calon wapresnya Paul Ryan akan berkunjung ke New Hampshire, Iowa, Colorado, Ohio, Pennsylvania, Florida, Virginia, Minnesota, Nevada, dan Wisconsin.

Kebanyakan analis politik memperkirakan Colorado, Iowa, Wisconsin, Florida, Ohio, Virginia, dan New Hampshire sebagai 'swing state'. Jika digabungkan, negara-negara bagian tersebut memiliki 89 suara electoral yang bisa diperebutkan.

Updated: Wed, 07 Nov 2012 05:54:01 GMT

Pilpres AS, Ketatnya Sejarah Persaingan Antarkandidat



Pilpres AS, Ketatnya Sejarah Persaingan Antarkandidat

Pilpres AS, Ketatnya Sejarah Persaingan Antarkandidat
REPUBLIKA.CO.ID,Pertarungan pemilihan presiden antara calon Partai Demokrat Presiden Barack Obama dan penantangnya dari Partai Republik Mitt Romney memang berlangsung sengit. Di AS, kemenangan satu calon tidak ditentukan dengan berdasarkan suara terbanyak, tetapi melalui suara Electoral Collegeyang diperoleh masing-masing kandidat.

Seorang kandidat membutuhkan 270 dari 538 Electoral Collegejika ingin memenangkan pemilihan.
Elektoral terdiri atas keanggotaan DPR AS 435, keanggotaan senat 100, dan tambahan tiga elektor dari distrik Kolombia. Jumlah elektoral per negara bagian adalah jumlah penduduknya. Dengan demikian, mereka yang memiliki suara terbanyak belum tentu memenangi pemilihan, seandainya raihan elektoralnya kecil.

Seperti pada 2000 ketika George W Bush mengalahkan Al Gore yang mempunyai suara lebih besar.
Dalam sejarah pemilihan presiden di AS, terdapat sejumlah pertarungan sengit antara kandidat Partai Republik dan Partai Demokrat. BBC mengungkapkan lima persaingan kandidat dengan perbedaan suara tipis.
Pertama, yakni pada 1916 antara Woodrow Wilson (Demokrat) dan Charles Hughes (Republik). Pemilihan terjadi di saat berkecamuknya Perang Dunia I di Eropa. Janji Woodrow Wilson agar AS tetap netral sangat populer di antara rakyat Amerika. Wilson akhirnya memenangkan pemilihan dan mengamankan jabatan periode keduanya dengan raihan suara 9,12 juta dan raihan suara elektoral 277 berbanding 254.

Pada 1960, pertarungan sengit juga terjadi antara John F Kennedy (Demokrat ) dan Richard Nixon (Republik). Persaingan keduanya merupakan salah satu yang paling ketat sepanjang sejarah pemilihan AS.
Saat itu John Kennedy mendapatkan suara 49,7 persen dibandingkan Nixon 49,6 persen. Sementara itu, secara elektoral Kennedy unggul 303 berbanding 219. Keme- nangan Kennedy tak terlepas dari kepercayaan diri dan kekharismatikannya saat berdebat dan berpidato.

Pertarungan ketat juga terjadi pada 1976 antara Jimmy Carter dan Gerald Ford. Saat itu Carter yang berasal dari Partai Demokrat berhasil unggul dengan 50,1 persen suara. Carter mendapatkan 297 suara elektoral. Sementara Gerald Ford hanya mendapatkan 48 persen dengan raihan 240 suara elektoral.

Sementara itu, pemilihan tahun 2000 juga tak bisa terlupakan. Saat itu kursi Gedung Putih diperebutkan antara George W Bush (Republik) dan kandidat Partai Demokrat Al Gore. Al Gore berhasil memperoleh suara terbanyak dengan 48,38 persen suara. Unggul dari Bush yang hanya meraih 47,87 persen. Meski demikian, Bush yang merupakan mantan gubernur Texas berhasil mendapatkan suara elektoral lebih besar, yakni 271 suara, dibandingkan Al Gore 266 suara elektoral. Ke- menangan Bush tak terlepas dari perintah Mahkamah Agung untuk menghitung ulang suara di Florida.

Bush unggul tipis dengan 537 suara dari total 6 juta pemilih. Kemenangannya membuat ia memperoleh tambahan 25 suara elektoral. Terakhir, yakni persaingan antara George W Bush dan John Kerry pada 2004.

Bush berhasil unggul dengan 50,7 persen berbanding 48,3 persen suara yang diraih Kerry. Bush juga unggul mutlak dengan perolehan 286 suara elektoral. Bush menang karena isu keamanan nasional.


Dubes Scot Marciel: Sistem Pemilihan di AS Memang Rumit


TRIBUNNEWS.COM - 
 http://id.berita.yahoo.com/dubes-scot-marciel-sistem-pemilihan-di-memang-rumit-025421838.html

Duta Besar (Dubes) Amerika Serikat (AS), Scot Marciel, mengakui jika sistem pemilihan presiden (pilpres) memang terbilang sulit. Karena itu, ia meminta kepada undangan untuk mengunjungi stan-stan yang ada di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski.
"Sistem pemilihan di Amerika Serikat memang termasuk rumit karena ada yang disebut electoral college," katanya saat membuka acara siaran langsung hasil pemungutan suara, Rabu (7/10/2012). Electoral College adalah sistem pemilihan tidak langsung yang dirancang pada tahun 1787. Hal ini dimaksudkan untuk mengalokasikan kepada pemerintahan nasional  dalam sistem federal  yang mewakili tidak hanya rakyat namun juga negara bagian.
Electoral College mensyaratkan kandidat presiden mempunyai reputasi nasional dan juga daya tarik yang luas di berbagai daerah. "Satu di antaranya konsekuensi dari Electoral College adalah sistem yang menyulitkan partai ketiga, faksi-faksi regional, atau hanya sedikit tokoh-tokoh yang bisa meraih kursi kepresidenan," demikian kata John C Frontier, penulis dari After People Vote.
Para elector yang memberikan suara di Electral College pada bulan Desember hampir selalu memilih cara yang sama seperti yang dilakukan pada pemilihan populer di bulan November. Kandidat yang menang pada Electoral College hampir selalu memenangkan pemilihan populer secara nasional.

Israel Ancam Serang Suriah

Kamis, 08 November 2012, 01:10 WIB
http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/12/11/07/md4n6n-israel-ancam-serang-suriah


Israel Ancam Serang Suriah
Asap pekat membubung di sejumlah apartemen yang terkena serangan bom di kawasan Distrik Saif Ad-Daulah di Aleppo, Suriah.


REPUBLIKA.CO.ID, Rezim Zionis mengancam akan melancarkan serangan militer ke Suriah dan. Peringatan Israel tersebut disampaikan melalui 'UN Disengagement Observer Force' (UNDOF) di Dataran Tinggi Golan. Demikian dilaporkan Debkafile, Selasa, (6/11), seperti dikutip Islamtimes.

Ancaman rezim Zionis tersebut datang setelah negara-negara pendukung kerusuhan di Suriah termasuk Turki, Arab Saudi, Qatar, dan AS gagal melemahkan pemerintah Suriah.

Sebagaimana diberitakan, AS, melalui Menlu Hillary Clinton secara tegas mengatakan teroris Tentara Oposisi Suriah gagal merebut kota terbesar kedua Suriah, Aleppo.

Koran Word Tribune pada Ahad (4/11) juga menulis kekalahan Tentara Oposisi Suriah, yang menurut koran tersebut pukulan dan bencana bagi negara-negara pendukung Dewan Nasional Suriah (SNC).


Ahmadinejad Ditolak Meninjau Penjara
Senin, 22 Oktober 2012 | 15:33 WIB

Ahmadinejad Ditolak Meninjau Penjara  
AFP PHOTO / HO / PRESIDENT.IR Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menyambut para pendukungnya di Pulau Abu Musa pada 11 April 2012. 
http://internasional.kompas.com/read/2012/10/22/15332728/Ahmadinejad.Ditolak.Meninjau.Penjara

DUBAI, KOMPAS.com —


 Kejaksaan Iran menolak permintaan Presiden Mahmoud Ahmadinejad untuk mengunjungi penjara Evin di Teheran, tempat salah seorang penasihat kepresidenan ditahan.
Ali Akbar Javanfekr, penasihat pers Ahmadinejad dan kepala kantor berita Iran IRNA, dikirim ke Evin pada September lalu untuk menjalani hukuman penjara selama enam bulan karena menerbitkan berita yang dianggap melanggar norma-norma masyarakat.

Javanfker juga dinyatakan bersalah menghina Pemimpin Spiritual Ayatollah Ali Khamenei dalam situs web pribadinya meskipun tidak jelas bagaimana dan kapan hal itu terjadi.

Permintaan kunjungan Ahmadinejad itu terungkap di publik bulan ini, dipandang oleh media dan komentator Iran terkait penahanan Javanfekr meskipun belum ada konfirmasi resmi.

Kejaksaan menolak permintaan itu pada Minggu (21/10/2012) dengan mengatakan, kunjungan itu bukan hal penting bagi negara yang tengah menghadapi krisis dan pihak yang berseberangan di parlemen menuduh pemerintahan Ahmadinejad salah mengurus negara.

"Kita harus memberi perhatian pada masalah-masalah besar," kata jaksa agung Gholam-Hossein Mohseni-ejei, seperti dikutip Mehr, Minggu.
"Meninjau penjara pada situasi seperti ini hanya masalah kecil," lanjutnya. "Jika kita memikirkan kepentingan negara, kunjungan (ke penjara) saat ini tidaklah pantas."

Pengaruh Ahmadinejad di Iran terus memudar menyusul pertentangan dengan Khamenei pada 2012. Peseteruan antara pemimpin terpilih dan yang ditunjuk pecah tahun lalu setelah Khamenei, yang memegang kekuasaan mutlak, mengangkat kembali menteri intelijen Heydar Moslehi, yang dipecat oleh Ahmadinejad.

Kubu konservatif, yang menjadi rival Ahmadinejad di parlemen, mengatakan, pemerintahannya salah mengurus krisis mata uang dan masalah ekonomi lainnya akibat sanksi Barat terkait program nuklir Iran.
Menurut konstitusi, Ahmadinejad tidak diperbolehkan mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga pada pemilu presiden Juni 2013 mendatang.
Sumber :
Bali Democracy Forum
Dari Bali Ahmadinejad Kritik Pemilu AS
Kamis, 8 November 2012 | 13:43 WIB

http://internasional.kompas.com/read/2012/11/08/13430413/Dari.Bali.Ahmadinejad.Kritik.Pemilu.AS

Dari Bali Ahmadinejad Kritik Pemilu AS  
ADEK BERRY / AFP Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyambut Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad yang hadir dalam Bali Democracy Forum 2012.

DENPASAR, KOMPAS.com - Hari pertama Bali Democracy Forum, Kamis (8/11/2012), sudah diwarnai pernyataan keras Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad.

Hanya sehari setelah Barack Obama terpilih kembali menjadi presiden AS untuk masa jabatan kedua, Ahmadinejad menjuluki pemilu AS sebagai "medan tempur para kapitalis".

"Sebuah pemilu, sebagai salah satu cara manifestasi keinginan rakyat, telah menjadi medan tempur para kapitalis. Sebuah pembenaran untuk pengeluaran uang yang sangat besar," kata Ahmadinejad yang tidak berkomentar langsung soal terpilihnya kembali Obama.

Selain mengkritik pemilu AS, Ahmadinejad juga mengkritik negara-negara yang menganggap diri mereka sebagai pejuang demokrasi.

Para analis ekonomi di AS memperkirakan pemilihan presiden yang baru saja berakhir menghabiskan biaya sebesar 6 miliar dollar atau sekitar Rp 57,6 triliun. Sehingga pemilu presiden AS 2012 dianggap sebagai pemilu termahal sepanjang sejarah AS.

"Mereka tetap saja mereka melanjutkan perbudakan, kolonialisme dan kekerasan terhadap umat manusia," lanjut Ahmadinejad.

Ahmadinejad, yang terpilih kembali dalam pemilihan umum 2009 yang banyak dituding penuh kecurangan, untuk pertama kalinya hadir dalam ajang Bali Democracy Forum yang sudah lima kali digelar ini.

Namun, sejumlah kalangan menilai, Teheran menggunakan ajang ini sebagai cara untuk keluar dari isolasi yang diberlakukan kepada Iran terkait program nuklirnya yang oleh sejumlah negara dianggap mengancam perdamaian dunia.
 
Sumber :
AFP
Editor :
Ervan Hardoko


Pemilu AS
Kesal Obama Menang, Donald Trump "Berkicau" di Twitter
Rabu, 7 November 2012 | 21:10 WIB
http://internasional.kompas.com/read/2012/11/07/21102117/Kesal.Obama.Menang.Donald.Trump.Berkicau.di.Twitter
 

Kesal Obama Menang, Donald Trump "Berkicau" di Twitter  
Reuters Pengusaha Donald Trump.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com — Kandidat presiden Partai Republik Mitt Romney sudah berbesar hati menerima kekalahannya dan telah memberi selamat kepada Barack Obama yang memenangkan pemilihan presiden AS, Rabu (7/11/2012).

Namun, pengusaha terkenal, Donald Trump, merasa tidak puas dengan kemenangan Obama. Dia menumpahkan kekesalannya melalui Twitter dan menyebut hasil pemilihan presiden itu sebagai sebuah "parodi" dan "ketidakadilan yang menjijikkan".

"Kita harus datang ke Washington dan menghentikan parodi ini. Negara kita sudah terpecah," demikian tulis raja properti ini melalui akun Twitternya.

Sudah sejak lama Trump tidak menyukai Obama dan tahun ini dia secara terang-terangan menyatakan dukungan untuk Mitt Romney.

"Mari berjuang dan menghentikan ketidakadilan yang menjijikkan ini! Dunia menertawakan kita," kicauan lain dari Trump.

Namun, kicauan yang menyebut Obama meraup suara lebih sedikit dari Romney dan seruan "revolusi" kemudian dicabut. Pasalnya, hitungan akhir menunjukkan Obama juga meraup suara lebih banyak dari Romney.

Selama masa kampanye, Trump pernah menantang Obama untuk menunjukkan catatan pendidikan dan paspornya sebagai imbalan donasi amal sebesar 5 juta dollar AS.

Trump juga menjuluki Obama sebagai "Presiden AS paling tidak transparan sepanjang sejarah".

"Pemilihan kali ini benar-benar memalukan dan sebuah parodi. Kita tidak menjalankan demokrasi," masih kicauan Trump.

Donald Trump dikenal sebagai tokoh utama yang mencuatkan apa yang disebut "konspirasi tanah kelahiran". Teori konspirasi ini adalah Obama lahir di Kenya, bukan di Hawaii seperti yang selama ini diketahui banyak orang.

Karena lahir di Kenya, Obama seharusnya tidak bisa mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat. Teori ini akhirnya meredup setelah Gedung Putih merilis sertifikat kelahiran Obama yang menunjukkan bahwa dia benar-benar lahir di Hawaii.
 
Sumber :
Sky News
Editor :
Ervan Hardoko
Romney Akrabi Politik dan Agama sejak Kecil
 
Senin, 5 November 2012 | 08:16 WIB
 
Romney Akrabi Politik dan Agama sejak Kecil  
AFP PHOTO/Emmanuel DUNAND Calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik Mitt Romney berkampanye di Englewood, Colorado, Sabtu (3/11/2012).

 
KOMPAS.com
http://internasional.kompas.com/read/2012/11/05/08162887/Romney.Akrabi.Politik.dan.Agama.sejak.Kecil
Willard Mitt Romney dilahirkan di rumah yang kental dengan politik dan agama. Kedua tema itu menjadi pusat kehidupannya hingga kini.

Romney merupakan putra termuda George Romney, seorang eksekutif sebuah industri mobil, dengan istrinya Lenore. Mitt tumbuh di tengah diskusi tentang kebijakan publik dan Mormonisme.
Mitt Romney sangat mengidolakan ayahnya, yang menjabat sebagai bos American Motors Corporation sebelum menjadi Gubernur Michigan. Kecintaan ayahnya pada mobil menular padanya, begitu juga dengan pandangan konservatifnya.

Romney mulai kuliah di Stanford University pada 1965, tetapi dia hanya bertahan selama setahun sebelum memutuskan pindah ke Perancis untuk menjadi misionaris Mormon.

Pada 1968, George Romney meramaikan bursa pencalonan presiden AS di Partai Republik, tetapi kampanyenya gagal setelah dia mengatakan dalam wawancara televisi bahwa dia telah "dicuci otak" oleh para jenderal untuk mendukung Perang Vietnam.

Bukan cuma sang ayah yang gagal dalam pencalonan untuk menduduki jabatan publik. Ibunya, Lenore Romney, juga gagal terpilih menjadi Senator AS pada 1970. Kegagalan kedua orangtuanya ternyata cukup membekas di benak Romney muda.

Pada usia 21 tahun, Mitt Romney menikah dengan Ann Davies, putri seorang imigran Wales. Keduanya bertemu di SMA dan terus menjalin kontak waktu Romney berada di luar negeri.

Setelah lulus dari Brigham Young University, institusi pendidikan Mormon di Utah, Romney pindah ke Boston dan kuliah di sekolah hukum dan bisnis Harvard.

Romney kemudian bekerja pada Bain & Company, sebelum kemudian mendapat tugas baru, mendirikan perusahaan ekuitas Bain Capital pada 1984. Di bawah kepemimpinan Romney, Bain Capiltal mendulang keuntungan besar melalui perusahaan-perusahaan seperti Staples dan Domino's Pizza.
Menjadi pengusaha bukan berarti ambisi politiknya meredup. Pada 1994, dia menantang Ted Kennedy untuk kursi Senat AS. Namun, dia kalah.

Romney kembali menunjukkan naluri bisnisnya yang tajam dengan menjadi CEO Olimpiade Musim Dingin 2002 di Salt Lake City, Utah.

Berbekal sukses itu, Romney membidik jabatan Gubernur Massachusetts pada 2002. Setelah menyelesaikan masa jabatan pertama sebagai Gubernur, Romney tidak tertarik untuk mencari masa jabatan kedua karena dia ingin menduduki kursi yang lebih tinggi, yakni Presiden AS.

Pada 2006 dia mulai merintis langkahnya untuk meramaikan bursa capres di Partai Republik sebagai persiapan pemilu 2008. Sayangnya, dia kalah di tingkat partai setelah tiket Republik direbut John McCain, yang kemudian menantang capres Partai Demokrat, Barack Obama.

Romney kembali meramaikan bursa capres untuk Republik pada pemilu 2012. Kali ini dia terpilih menjadi menjadi capres Republik untuk berhadapan dengan presiden petahana, Barack Obama.
Pada Agustus 2012, dia memilih Paul Ryan, seorang anggota Kongres dari Wisconsin sebagai calon wakil presiden.
Sumber :
Editor :
Kistyarini
 

Reaksi Pasar atas Tugas Berat Presiden 

Obama

Kamis, 8 November 2012 | 00:22 WIB
http://internasional.kompas.com/read/2012/11/08/00225636/Reaksi.Pasar.atas.Tugas.Berat.Presiden.Obama 
 
 
Reaksi Pasar atas Tugas Berat Presiden Obama
 
BBC
Pedagang saham di Jerman mengikuti siaran langsung berita kemenangan Presiden Barack Obama.
 
KOMPAS.com — Bursa saham sempat turun pada Rabu 7 November menanggapi terpilihnya Presiden Barack Obama yang harus berjuang meloloskan anggaran dari Kongres AS.
Pasar Wall Street di New York saat dibuka langsung turun 1,3 persen pada 13.069, sedangkan S&P 500 turun 1,4 persen pada 1.408.
Sementara indeks FTSE di London turun 0,8 persen dan di Jerman indeks DAX turun 1,5 persen, sedangkan indeks CAC-40 di Prancis turun 1,5 persen.
Masalah yang paling besar dihadapi pemerintahan Obama mendatang adalah yang disebut dengan "tebing fiskal" yang merupakan kombinasi dari pajak tinggi dengan pemotongan anggaran pemerintah yang akan langsung terjadi jika tidak dicapai kesepakatan anggaran baru dengan Kongres AS pada 1 Januari 2013.
Para ekonom sudah memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan dalam anggaran baru bisa memukul perekonomian AS kembali masuk ke dalam resesi.
"Reaksi awal yang mendukung sudah menguap dengan tugas berat untuk mengatasi tebing fiskal yang membayangi optimisme awal," tutur Andrew Wilkonson dari perusahaan konsultan ekonomi, Miller Tabak & Co, kepada kantor berita AP.

Tugas ekonomi Obama
Turunnya bursa saham di Amerika Serikat dan Eropa juga didorong oleh prakiraan yang dikeluarkan Komisi Eropa bahwa perekonomian negara-negara pengguna Euro akan menyusut 0,4 persen tahun ini dan hanya tumbuh 0,1 persen pada tahun mendatang.

Sejak memerintah tahun 2009 lalu, tugas terberat Presiden Obama adalah menangani perekonomian Amerika Serikat yang menderita resesi terburuk sejak zaman "Depresi Besar" tahun 1930-an.

Di masa jabatan kedua ini, selain masalah "tebing fiskal", masalah lain yang harus ditangani Obama adalah tingginya pengangguran yang tetap tinggi pada tingkat 9,7 persen.

Pertumbuhan ekonomi masih tetap lamban, sekitar 2 persen untuk kuartal ketiga yang jelas bukan berita baik untuk negara dengan perekonomian terbesar di dunia.

Sementara itu, program tunjangan kesehatan Medicare—untuk warga Amerika yang berusia 65 tahun ke atas dan penderita cacat—diperkirakan akan segera kehabisan dana pada tahun 2024.

Tugas Obama itu dibayang-bayangi dengan upaya diplomasi yang tidak mudah dengan Kongres Amerika Serikat dengan Senat yang dikuasai oleh Partai Demokrat, sementara mayoritas di Dewan Perwakilan Rakyat dipegang oleh Partai Republik.

Ikuti perkembangan pemilihan presiden AS dalam topik pilihan "Pemilu Amerika"
Bagaimana presiden AS dipilih? 

Baca artikel-artikel berikut:
- Pilpres Amerika, Langsung atau Tak Langsung
- 270, Angka Sakti Pilpres AS
- Mengenal Ke-12 "Battleground States"
- Apa Itu "Swing States" dan "Split Vote"
- Mengapa Pemilu Presiden AS Hari Selasa Pertama November?

Sejarah
 
Mengapa Pemilu Presiden AS Hari Selasa 
 
Pertama November?
 
Penulis : Pieter P Gero | Sabtu, 3 November 2012 | 00:01 WIB


Mengapa Pemilu Presiden AS Hari Selasa Pertama November?  
Reuters/Rick Wilking Seorang warga di Denver, Colorado, memasukkan kertas suara pada pemilu yang diadakan lebih awal (25/10).

WASHINGTON, KOMPAS.com --

Jangan pernah ragu mengatakan bahwa pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) akan selalu berlangsung pada hari Selasa pertama pada bulan November. Pemilihan presiden yang berlangsung setiap empat tahun itu akan berlangsung pada Selasa, 6 November 2012.

Namun harus diingat juga, hari Selasa pertama itu setelah ada hari Senin pertama pada bulan November. Mengapa selalu hari Selasa pertama setelah hari Senin pertama dalam bulan November? Penentuan soal hari Selasa pertama ini diputuskan pada tahun 1845. Pada tahun 1875, hari Selasa pertama ini juga diputuskan sebagai hari pemilihan anggota DPR AS. Pada tahun 1914, hari Selasa pertama ini juga ditetapkan pemilu Senat AS.

Mengapa juga pemilu ini harus dilakukan pada awal November? Semuanya tak lepas dari komposisi profesi dan pekerjaan penduduk AS. Pada tahun 1845, komposisi warga AS sangat didominasi para petani. Karena mereka petani, maka bulan November adalah bulan paling memungkinkan bagi para petani untuk beramai-ramai mendatangani kotak-kotak suara untuk memberikan suara mereka.

Pada bulan November biasanya masa panenan sudah usai. Mulai masuk musim gugur. Para petani di AS punya waktu luang termasuk bersantai, termasuk bisa bepergian. Karenanya mereka juga punya waktu untuk menggunakan hak suaranya dengan mendatangi kotak-kotak suara.

Petani di AS biasanya sibuk menanam pada musim semi dan musim panas adalah masa mengelola tanaman, menyiangi dan memupuki, serta memanen. Pada musim gugur, cuaca masih dianggap bersahabat bagi warga untuk bepergian, termasuk menuju tempat-tempat pemungutan suara. Kondisi AS pada waktu itu tidak sebaik sekarang ini. Jalan-jalan di pedesaan relatif rusak dan becek.

Kondisi infrastruktur yang masih buruk ini yang membuat hari pemilu selalu dilaksanakan di setiap hari Selasa. Saat itu, warga AS harus menempuh jarak yang relatif jauh untuk memilih. Hari Senin dianggap kurang tepat. Sebab kalau jatuh pada hari Senin, maka sejak hari Minggu warga AS sudah harus pergi dari desa atau rumah mereka untuk memilih. Padahal, warga AS pada hari Minggu masih harus ke gereja untuk bersyukur. Jadi hari Selasa yang paling tepat.

Lantas apa alasan lain mengapa pemilihan selalu dilakukan hari Selasa setelah Senin pertama pada bulan November? Tokoh masyarakat dan politisi AS menghindari agar hari pemilu itu tidak jatuh pada tanggal 1 November. Rupanya, para tokoh dan politisi ini memperhatikan Hari Semua Orang Kudus (All Saints Day) yang diperingati setiap 1 November yang merupakan hari libur bagi pemeluk agama Katolik. Apabila 1 November jatuh pada hari Selasa, maka pemilu tidak akan dilakukan pada hari itu. Karena hari Selasa pada tanggal ini bukanlah hari Selasa setelah hari Senin pertama pada bulan November.

Pertimbangan lain, hampir semua pedagang di AS pada saat itu umumnya sibuk melihat rekening pembukuan mereka pada tanggal 1 setiap bulan. Politisi AS mempertimbangkan bahwa sukses atau kegagalan bisnis pada

Pilpres Amerika, Langsung atau Tak Langsung
 
Penulis : Iskandar Zulkarnaen | Senin, 5 November 2012 | 11:55 WIB
http://internasional.kompas.com/read/2012/11/05/11550452/Pilpres.Amerika.Langsung.atau.Tak.Langsung?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=Bagaimana%20Presiden%20As%20Dipilih 

 
Pilpres Amerika, Langsung atau Tak Langsung 
 
AFP PHOTO/Paul J. Richards Warga memasukkan suara di tempat pemungutan suara darurat di gedung pengadilan Ocean County di Toms River, New Jersey, Minggu (4/11/2012). Pemungutan suara dini ini memungkinkan warga di wilayah-wilayah yang kena terjangan Badai Sandi untuk bisa memilih.
KOMPAS.com — Sistem pemilihan presiden Amerika Serikat cukup unik. Bahkan sangat unik, melihat dari betapa tuanya sistem ini diterapkan di sebuah negara demokratis terbesar di muka bumi.

Saat berkunjung ke Amerika Serikat dalam rangka mengikuti program pertukaran International Visitor Leadership Program (IVLP 2012) selama Agustus-September 2012 lalu, saya menangkap kesan beragam terhadap sistem pemilihan presiden AS.

Beberapa warga setempat yang saya temui di lebih dari lima negara bagian mengemukakan pendapat yang berbeda-beda. Bagi masyarakat umum yang kurang memahami kompleksitas sistem pemilu, mereka menganggap pilpres di Amerika berlangsung demokratis. Setiap orang berhak untuk memilih pasangan capres yang diinginkan, juga berhak untuk tidak menggunakan hak pilihnya.

Namun, para pengamat dan akademisi di bidang politik yang memiliki pemahaman lebih seputar mesin pemilu di Amerika Serikat, termasuk bagaimana Electoral College menjalankan perannya sebagai penentu kunci presiden berikutnya, meyakinkan saya bahwa pelaksanaan pemilu di Amerika tidak sesederhana yang tampak di layar kaca atau di koran-koran.

Sebagian dari mereka menilai sistem pemilu tidak cukup adil karena kekuasaan rakyat dalam memilih presiden menjadi semu. Sementara sebagian lain menganggap mekanisme pemilihan presiden yang sudah berjalan sejak kemerdekaan Amerika Serikat ini sangat demokratis, bahkan sempurna. Tetapi, dengan catatan, sistem ini hanya cocok diterapkan di Amerika Serikat.

Langsung atau tidak langsung?
Untuk mengetahui bagaimana sebenarnya sistem pemilu di "Negara Paman Sam", sebaiknya dimulai dengan menjawab pertanyaan, apakah rakyat Amerika Serikat memilih calon presiden mereka secara langsung atau tidak?

Bila menganggap pemilu di Amerika Serikat adalah pemilu langsung, Anda salah. Dan faktanya, di Amerika sendiri, banyak warga yang tidak sadar bahwa mereka memiliki persepsi yang salah seperti Anda.

Yang mereka tahu bahwa hari ini mereka mencoblos si A sebagai presiden, maka suaranya itu akan langsung diterima oleh si calon. Mereka tidak tahu kalau ternyata calon presiden pilihan mayoritas rakyat belum tentu menjadi presiden berikutnya.

Namun, bila Anda menganggap pilpres Amerika Serikat menggunakan sistem tidak langsung, jangan bayangkan sistem ini berjalan sesederhana pilpres Indonesia di era Orde Baru, rakyat memilih anggota DPR, lalu anggota DPR memilih presiden dengan cara musyawarah ataupun dengan pemungutan suara di gedung rakyat.

Bila Anda memiliki kesempatan berdiskusi dengan warga Amerika seputar sistem pemilihan presiden, niscaya mereka akan merasa iri dengan sistem pilpres Indonesia pascakejatuhan Orde Baru yang benar-benar dijalankan secara langsung.

Iri karena warga Indonesia benar-benar memilih calon yang mereka inginkan, sedangkan mereka seolah-olah memilih seorang kandidat secara langsung, tetapi secara teknis, presiden terpilih bukanlah pilihan mereka.

"Electoral college"
Pemilihan presiden di Amerika Serikat menggunakan sistem electoral college, yaitu sebuah sistem yang menjadi penentu akhir presiden berikutnya. Dalam sistem ini, presiden terpilih tidak diangkat berdasarkan pilihan rakyat lewat pemungutan suara di TPS, tetapi oleh electoral votes (suara pemilu) yang tersebar di 51 negara bagian.

Setiap negara bagian memiliki jatah electoral votes yang berbeda. Jatah ini ditentukan oleh banyaknya alokasi kursi Senat dan DPR yang dimiliki tiap-tiap negara bagian. Alokasi kursi Senat dan DPR sendiri bisa berubah berdasarkan populasi penduduk yang ditetapkan oleh sensus sepuluh tahunan.

Saat ini terdapat 538 electoral votes. Jumlah itu ditetapkan berdasarkan 435 kursi DPR (House of Representatives), 100 kursi Senat, ditambah tiga jatah electoral votes untuk ibu kota Washington DC—meskipun kota pemerintah federal ini tidak memiliki wakil di Senat.

Untuk memenangi pemilu, seorang calon presiden harus mendapatkan minimal 270 dari 538 electoral votes. Oleh karena itu, dalam setiap pemilu, para politisi selalu membidik negara bagian yang memiliki jumlah electoral votes terbanyak, seperti California (55), Texas (34), Florida (27), dan Illinois (21).

Setelah pemungutan suara selesai, para electors (orang yang memiliki mandat atas electoral votes) akan menggelar konvensi di ibu kota negara bagian untuk memberikan suara mereka. Dalam pertemuan yang berlangsung pada bulan Desember inilah pilpres benar-benar digelar secara langsung. Mereka akan memilih satu dari dua pasangan capres yang sedang bertarung menuju Gedung Putih.

Lantas bagaimana "elector" ditetapkan?
Pemegang electoral votes diangkat oleh dewan pimpinan partai di tingkat negara bagian. Penetapannya dilakukan dengan mempertimbangkan loyalitas kepada partai dan diyakini tidak akan mengkhianati suara rakyat dan suara partai yang diwakilinya.

Para elector dipilih oleh partai sebelum pemilu berlangsung, waktu persisnya berbeda di masing-masing negara bagian. Masa jabatannya pun berbeda. Dan, satu hal, tidak ada pengumuman resmi dari partai terkait proses penetapan atau pengangkatan elector.

Itulah sebabnya, ketika warga Amerika ditanya soal elector, electoral votes ataupun electoral college, banyak dari mereka yang bingung dan balik bertanya, “Pertanyaan macam apa itu?” Tetapi, ada juga negara nagian yang mengumumkannya dan mencantumkan nama-nama mereka di kertas suara.

Setiap partai yang ikut pemilu, yakni Demokrat dan Republik, mengangkat elector sejumlah alokasi electoral votes di negara bagian masing-masing.

Misalnya, Wisconsin memiliki 10 electoral votes, maka partai di negara bagian ini masing-masing mengangkat 10 elector. Tetapi, hanya partai yang memenangi pemilu yang bisa mengirimkan elector-nya ke konvensi. Istilahnya, the winner take it all. Pemenang meraup semua jatah electoral votes di tingkat negara bagian.

Dengan sistem semacam itu, ada kesan bahwa pilpres empat tahunan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat pada Selasa minggu pertama bulan November (tahun ini jatuh pada tanggal 6 November 2012) tidak digelar untuk memilih presiden, tetapi memilih partai mana yang akan menguasai electoral votes di tiap-tiap negara bagian.

"Popular vote vs electoral vote"
Sampai di sini, keunikan sistem pemilu AS belum seberapa. Saat konvensi electoral college berlangsung, ada beragam muslihat yang mungkin terjadi. Pasalnya, tidak ada ketentuan yang mewajibkan elector memberikan pilihan yang sama dengan amanat partai dan konstituennya.

Dalam electoral college, negara bagian boleh meminta dan boleh tidak meminta para elector memilih berdasarkan hasil pilpres. Dan, setiap elector bisa saja memilih capres yang berbeda dari capres pilihan mayoritas rakyat di tingkat negara bagian.

Esensi dari sistem pilpres di AS adalah pertarungan antara 51 negara bagian (termasuk Washington DC). Selain itu, pilpres di negara ini menggunakan sistem pemilu tidak langsung karena perolehan suara terbanyak tidak bisa memutuskan siapa presiden berikutnya sehingga, dalam sejarahnya, pilpres Amerika mengalami beberapa peristiwa di mana presiden pilihan rakyat tidak bisa menjabat di Gedung Putih.

Mereka adalah Andrew Jackson menang dalam pemungutan suara pilpres 1824, tetapi di electoral college dia kalah dari John Quincy Adams. Samuel Tilden menang dalam pemungutan suara pilpres 1876, tetapi di electoral college dia kalah dari Rutherford B Hayes. Grover Cleveland menang dalam pemungutan suara pilpres 1888, tetapi di electoral college dia kalah dari Benjamin Harrison.

Dan, kasus paling hangat adalah ketika Al Gore menang dalam pemungutan suara pilpres 2000, tetapi akhirnya George W Bush yang menjadi presiden setelah berhasil mencundangi lawannya di electoral college.

Hasil seri
Bagaimana jika hasil perolehan suara electoral college berimbang, dengan perolehan 269 untuk Obama dan 269 untuk Romney?

Bila ini terjadi (dan mungkin terjadi karena total electoral votes adalah bilangan genap), pemilihan presiden berpindah ke lembaga DPR (House of Representatives), berdasarkan Amandemen ke-12 UUD.

Namun, berbeda dengan sistem electoral college di mana satu suara mewakili satu pilihan, pemilihan presiden di DPR ini diwakili oleh 51 suara berdasarkan jumlah negara bagian plus Washington DC. Artinya, setiap negara bagian (yang diwakili oleh sejumlah anggota DPR) hanya memiliki satu suara untuk satu calon presiden.

Pemilihan juga tidak dilakukan dalam satu paket seperti sebelumnya. Calon presiden dan calon wakil presiden menghadapi dua pemilihan yang berbeda.

Capres yang pertama kali meraih 26 suara dari total 51 suara, dinyatakan terpilih sebagai presiden yang baru. Proses pemilihan presiden ini harus selesai paling lambat tanggal 4 Maret.

Setelah itu, lembaga Senat akan memilih calon wakil presiden dengan cara satu orang Senator memiliki satu suara. Cawapres yang meraih 51 suara dari total 100 suara ditetapkan sebagai wakil presiden, mendampingi presiden hasil pemilihan di lembaga DPR.
Editor :
Kistyarini
 
Pemilu AS
 
Apa Itu "Swing States" dan "Split Vote"
 
Selasa, 6 November 2012 | 16:47 WIB
http://internasional.kompas.com/read/2012/11/06/16475747/Apa.Itu.Swing.States.dan.Split.Vote?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=Bagaimana%20Presiden%20As%20Dipilih 
 
 

Apa Itu "Swing States" dan "Split Vote"  
Reuters/Rick Wilking Seorang warga di Denver, Colorado, memasukkan kertas suara pada pemilu yang diadakan lebih awal (25/10).

Berikut adalah sejumlah istilah yang familiar dalam penyelenggaraan Pemilu Presiden AS yang digelar pada Selasa (6/11) ini.
RACE TO 270

Presiden Amerika tidak dipilih berdasarkan suara rakyat terbanyak, tetapi oleh electoral college. Jumlah suara electoral college per negara bagian proporsional dengan jumlah populasi negara bagian itu. Negara Bagian California adalah yang terbesar, dengan 55 suara. Secara total ada 538 suara electoral college. Maka, untuk  mengamankan kursi Gedung Putih, seorang calon harus meraih 269 suara plus satu demi kemenangan mayoritas.  Itulah yang disebut Race to 270.

Partai Demokrat memulai pemilihan kali ini dengan keuntungan karena banyak negara bagian yang padat  penduduk, seperti California dan New York, yang merupakan basis Partai Demokrat. Menurut analisis situs Real Clear Politics, Partai Demokrat dari Presiden Barack Obama memulai kampanye dengan 201 suara. Penantang dari Partai Republik, Mitt Romney, mengantongi 191 suara.

SWING STATES

Dengan hitungan di atas, berarti tinggal 11 negara bagian yang diperebutkan (swing states). Dari 11 negara bagian itu, yang paling berharga adalah negara bagian dengan suara eletoral terbanyak tempat para calon bersaing ketat. Tahun ini, Negara Bagian Ohio, Florida, dan Virginia adalah yang paling penting, serta North Carolina, Pennsylvania, Wisconsin, Iowa, dan New Hampshire.

SPLIT VOTE

Hal ini juga berarti bahwa ada kemungkinan untuk kalah dalam meraih suara rakyat, tetapi tetap memenangi pemilu. Dengan Obama memimpin perhitungan suara electoral college sejauh ini, tetapi bersaing ketat dalam berbagai jajak pendapat nasional, banyak orang menduga hal itu akan bisa terjadi tahun ini (kalah dalam meraih suara rakyat tetapi tetap memenangi kursi Gedung Putih).

KONGRES

Orang AS tidak hanya memilih presiden mereka pada Selasa pagi ini (Selasa malam waktu Indonesia). Sekitar sepertiga dari anggota Senat akan dipilih, serta semua anggota DPR. Sejumlah prediksi awal menunjukkan, Partai Demokrat akan mempertahankan kontrol mereka di Senat, sebaliknya Partai Republik akan mempertahankan cengkeramannya di DPR. Hal itu memicu kekhawatiran bahwa gridlock di legislatif seperti saat ini berlanjut, tak peduli siapa pun yang akan meraih kursi Gedung Putih.

TRANSFER OF POWER

Jika Romney memenangi pemilu, ia segera akan menjadi presiden terpilih, tetapi tidak memiliki kekuasaan eksekutif resmi sampai dilantik. Dia akan dilantik dan mengambil sumpah jabatan di Washington DC pada siang hari tanggal 20 Januari 2013.

Untuk menjalankan roda pemerintahan antara terpilihnya presiden baru dan pelantikan, presiden terpilih secara tradisional akan menunjuk seorang pemimpin transisi guna mengelola tugas-tugas administrasi selama masa transisi kekuasaan. Seorang kepala staf Gedung Putih akan diumumkan dan sekretaris kabinet akan dicalonkan  meskipun mereka harus disetujui oleh suara mayoritas di Senat AS yang tidak dapat terwujud hingga tahun baru.

STATE BY STATE


Warga Amerika juga akan melakukan pemungutan suara pada sejumlah referendum, serta bagi negara bagian, daerah, dan bahkan untuk sejumlah posisi dewan sekolah. Diperkirakan sejumlah orang butuh waktu 45 menit hanya untuk mengisi surat suara mereka.
Sumber :
Sydney Morning Herald
Editor :
Egidius Patnistik
 
 
Pilpres AS
 
Mengenal Ke-12 "Battleground States"
 
Senin, 5 November 2012 | 19:34 WIB
http://internasional.kompas.com/read/2012/11/05/19343721/Mengenal.Ke12.Battleground.States?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=Bagaimana%20Presiden%20As%20Dipilih 
 
 
Mengenal Ke-12 "Battleground States"  
 
VOA Presiden AS Barack Obama dan penantangnya dari Partai Republik, Mitt Romney.
KOMPAS.com - Dalam sistem pemilihan presiden AS, ada yang disebut sebagai Battleground States, atau bisa dikatakan sebagai negara-negara bagian yang suara pemilihnya menjadi rebutan para kandidat calon presiden.

Ada 12 negara bagian yang masuk katagori battleground states ini, yang secara tradisional negara-negara bagian ini bukanlah ladang kemenangan bagi Demokrat atau Republik. Namun, seringkali negara-negara bagian ini menjadi penentu kemenangan seorang kandidat.

Berikut, Kompas.com mengulas profil ke-12 battleground states, peluang kedua kandidat plus hasil jajak pendapat yang dilakukan realclearpolitics.com:

TIGA BESAR

1. Negara Bagian Ohio (18 suara elektoral)

Ohio mungkin menjadi negara bagian paling krusial di antara 12 battleground states. Di saat industri Ohio sedang terpuruk, nampaknya suara negara bagian ini cenderung akan diberikan kepada Barack Obama. Pada 2004, Ohio memberikan suaranya kepada George W BUsh (Republik). Jajak pendapat realclearpolitics.com mengunggulkan Obama 2,3 persen dari Romney.

2. Negara Bagian Florida (29 suara elektoral)

Negara bagian berjuluk Sunshine States ini tak hanya terkenal dengan pantai dan mataharinya. Florida juga menjadi idola para kandidat calon presiden AS. Dengan suara elektoral terbesar, maka Florida menjadi magnet utama. Pada pilpres 2000, Florida yang menentukan kemenangan George W Bush. Jajak pendapat realclearpolitics.com mencatat keunggulan Romney 1,2 persen di atas Obama.

3. Negara Bagian Virginia (13 suara elektoral)

Pada pilpres 2008 untuk pertama kalinya Virginia memilih capres Demokrat sejak 1964. Negara bagian yang terletak di sebelah utara Washington DC menjadi biru empat tahun lalu. Namun, kini pertarungan sesungguhnya terpusat di sekitar Norfolk, lokasi sejumlah pangkalan militer besar. Dengan kebijakan pengetatan anggaran militer di masa Obama, maka Romney akan unggul tipis di sini. Jajak pendapat realclearpolitics, Romney ungguli Obama dengan selisih 0,5 persen.

PERTARUNGAN KETAT

4. Negara Bagian Colorado (9 suara elektoral)

Colorado dibanjiri pendatang dari California dan tempat-tempat lain. Negara bagian pegunungan yang biasanya memihak Republik kini lebih cenderung mengikuti Demokrat. Colorado memberikan suaranya untuk Obama pada 2008. Tahun ini, sang petahana nampaknya agak sulit mempertahankan basis pendukungnya. Sehingga dia hanya unggul tipis 0,5 persen dari Romney.

5. Negara Bagian New Hampshire (4 suara elektoral)

Dengan kondisi berimbang seperti saat ini, maka suara dari negara bagian kecil seperti New Hampshire menjadi sangat berharga. Obama sudah berkampanye di New Hampshire setidaknya enam kali, sementara Romney delapan kali. Keunggulan tipis masih ada di tangan Obama dengan selisih hanya 1 persen.

6. Negara Bagian Iowa (6 suara elektoral)

Pada pemilu 2008, Iowa memberikan pilihannya untuk Barack Obama. Di sini Obama unggul dengan perbedaan 1,3 persen.

7. Negara Bagian Nevada (6 suara elektoral)

Ibukota judi Amerika Serikat ini tengah didera angka pengangguran tinggi dan krisis kredit macet. Di saat angka pengangguran nasional menurun, jumlah pengangguran di Nevada tetap tinggi. Obama berhasil meraup dukungan dari warga keturunan Spanyol, namun sebagian besar warga Nevada menilai Obama tak cukup cepat memperbaiki kondisi ekonomi. Meski demikian, Obama masih unggul 2,4 persen.

8. Negara Bagian North Carolina (15 suara elektoral)
Pada 2008 lalu, di Negara Bagian yang cenderung mendukung Republik ini, Obama memenangkan pertarungan dengan selisih beberapa ribu suara saja. Obama sempat mendukung pernikahan gay tahun ini, namun warga North Carolina menolaknya. Akibatnya Obama tertinggal 3,8 persen dari Romney.

9. Negara Bagian Wisconsin (10 suara elektoral)

Keberadaan sang gubernur yang berasal dari Partai Republik, ternyata sangat berpengaruh. Mesin politik Republik di negara bagian ini berputar kencang. Akibatnya, dukungan untuk Obama menurun. Apalagi, pasangan Romney, Paul Ryan berasal dari negara bagian ini. Meski demikian, Obama diprediksi masih unggul dengan selisih 4 persen.

POTENSIAL MENGEJUTKAN

10. Negara Bagian Pennsylvania (20 suara elektoral)
Berbagai jajak pendapat di Pennsylvania, seperti halnya di Iowa, menunjukkan dukungan untuk Obama sangat tinggi setidaknya hingga enam pekan lalu. Namun, kini kekuatan kedua kandidat berimbang. Pada 2010, Pennsylvania memilih gubernur dan senator dari Republik. Selain itu dukungan untuk Romney cukup besar di sini. Meski begitu, Obama masih unggul 4,6 persen.

11. Negara Bagian Michigan (16 suara elektoral)

Michigan belum pernah memenangkan presiden dari Partai Republik sejak 1988 dan Obama masih menjadi favorit di sini. Namun, dalam sejumlah jajak pendapat terbaru jumlah dukungan Obama dan Romney seimbang. Keputusan Obama memberikan dana talangan untuk dua perusahaan otomotif raksasa GM dan Chrysler, ditentang Romney. Namun keputusan itu dinilai sebagai langkah tepat menyelamatkan salah satu industri terpenting Michigan. Faktor ini bisa menjadi penentu. Obama unggul 3 persen di Michigan.

12. Negara Bagian Minnesota (10 suara elektroral)
Satu jajak pendapat terbaru memberikan hasil yang cukup mengejutkan, Obama hanya unggul tiga angka atas Romney di negara bagian yang biasanya menjadi lahan kemenangan Demokrat ini. Ada dugaan, Minnesota mulai cenderung bergerak ke tengah dari kiri liberal selama ini. Namun, "Tanah 10.000 Danau" ini belum pernah memilih presiden dari Republik sejak Richard Nixon pada 1971. Obama unggul jauh 5 persen dari Romney.
 
Sumber :
AFP
Editor :
Ervan Hardoko
 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar