Rabu, 22 Februari 2012

“Seorang Ayah Menggendong Mayat Anaknya Dari RSCM Ke Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulan...>>> Dikuburkan adalah Hak Si Mayit [siapapun dia] dan Memandikan-Mengkafani-Manyolatkan-Mengantarkan Kekubur-Manguburkan adalah Kewajiban yang Hidup [siapapun dia].>> Sayang seribu sayang.. Masyarakat kita- Aparat kita- Pejabat kita- yang konon Pancasilais... sangat bermartabat dan terhormat.. telah membiarkan seorang ayah terpaksa membawa jenazah anaknya tercinta.. untuk dibawa ke Bogor dari Jakarta... seakan tanpa bantuan apa2 dari para Tokoh2 dan Pemimpin Dinegeri ini...>>> Kepolisisan yang bijaksana.. tidak hanya menyuruh harus ke RSCM.. tetapi seyogianya merekomendasikan dengan kelembagaannya terhadap RSCM agar merawat dan mengurusnya dengan selayajnya.. jenazah seorang manusia Anak Negeri Republik Indonesia ini.. yang konon adalah dihuni oleh makhluk2 mulia.. yang beragama-bermoral luhur-berperikemanusiaan yang beradab...dan selalu mendengungkan memperjuangkan Keadilan...>>> Namun peristiwa ini.. seakan ..menjadi pertanyaan besar..... Dimana ... jiwa Kebangsaan Indonesia...???!!! Konon adalah pendekar Perjuangan anak2 negeri dan Pembela kaum melarat... bagi anak2 Negeri yang terlantarkan...???? ...>>> Apakah... tiada sedikitpun tersentuh hati dan jiwa2.. para aparat dan para petinggi negeri ini....>>> Beberapa waktu yang lalu dimana-mana..di radio- TV- dan masmedia diexpose berhari-hari.. Kematian sang Penyanyi dunia..??? betapapun kita tak kenal dia..???




Saturday, February 18, 2012

“Seorang Ayah Menggendong Mayat Anaknya Dari RSCM Ke Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulan... !!” http://robotikmtr.blogspot.com/2012/02/seorang-ayah-menggendong-mayat-anaknya.html


“Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh”

Kisah Nyata ..!!!
Terjadi Di Jakarta !!!
“Seorang Ayah Menggendong Mayat Anaknya Dari RSCM Ke Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulan !!
Penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) jurusan JakartaBogor pun geger minggu (5/6). 
Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anaknya, Khaerunisa (3 thn).”


“Supriono akan memakamkan si kecil di kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa (KRL). Tapi di stasiun tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan.
Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber.
Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.”

“Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber.
Dia sudah membawa khaerunisa untuk berobat ke puskesmas kecamatan Setiabudi.
“Saya hanya sekali bawa khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari..” Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu.

Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.”

“Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan Sang Ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau.
Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya.
Supriono dan muriski termangu.
Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans.
Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan mendorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke stasiun tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di kramat, Bogor.
Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.“

“Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di stasiun tebet.
Yang tersisa hanya-lah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang tercinta nya itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap sang Khalik. 
Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika (KRL) jurusan bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang (KRL) yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet.
Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.”

“Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM.
Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. 
Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. 
Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.”

Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.”

“Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut, karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. 
“Peristiwa itu adalah dosa, masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. 
Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap.
Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia,” Ujarnya...
“Astaghfirullah,,, dimana hati Nurani Manusia,,,???”

“Silahkan share dan sebarkan kisah ini,
Agar pemerintah mengetahui Nasib Rakyat yang tidak mampu,,!!”
 Papuq Gapuki  

Alangkah bedanya dengan yang ini????????!!!!
Kamis, 23/02/2012 12:33 WIB

Pegawai Hotel Hilton Dipecat Setelah Whitney Houston Meninggal

Kiki Oktaviani - wolipop


img

dok. Radar Online



Jakarta - 

Setelah kematian tragis Whitney Houston di Hotel Baverly Hilton hampir dua minggu lalu, hotel mewah itu memutuskan untuk memecat beberapa stafnya. Apa alasannya?

Seperti dilansir Radar Online, Hotel Beverly Hilton memutuskan hubungan kerja dengan beberapa karyawannya karena berbicara kepada media tentang tragedi kematian Whitney Houston. Pelantun 'I Will Always Love You' meninggal pada 11 Februari 2012 di hotel yang terletak di Beverly Hills, Amerika itu setelah mengonsumsi xanax, valium dan alkohol. 

Pasca kejadian itu, ratusan orang berada di lokasi kejadian, termasuk tim paramedis, pemadam kebakaran dan polisi. Para media pun langsung bertadangan ke hotel tempat diadakan acara pre-Grammy Party tersebut. 

Para media mendapat beberapa informasi seputar kematian Whitney lewat para pegawai hotel. Beberapa pegawai yang memberikan informasi dan berbicara kepada media langsung mendapat teguran dari pihak hotel. Tidak lama dari itu, para staff yang buka suara kehilangan pekerjaannya karena dipecat. 

"Para pekerja di hotel yang berbicara kepada media dipecat karena mereka melanggar peraturan hotel. Mereka tidak berwenang. Pihak hotel pun memang tidak ingin membicarakan tentang kematian Whitney," ujar sumber kepada Radar Online. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar