Selasa, 07 Agustus 2012

.....Putri yang saat itu tengah hamil menderita luka-luka karena tembakan Densus 88 yang mengenai paha kirinya. Penderitaan Putri tak sampai disitu. Ia harus menjalani persidangan lantaran dituduh terlibat kasus terorisme membantu menyembunyikan Noordin M Top. Padahal saat itu ia sama sekali mengenalnya. Tugasnya sehari-sama seperti ibu rumah tangga lainnya seperti menyiapkan makanan untuk sang suami termasuk para tamu yang berkunjung ke rumahnya. Kamis (29/7/2010) Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis zalim 3 tahun penjara untuk Putri Munawaroh. Menjalani masa tahanan, Putri Munawaroh harus melahirkan sang bayi di penjara yang diberi nama Muhammad Ahsanu Syuhada...>>...Ketua Forum Umat Islam (FUI) Bogor, Ustadz Iyus Khaerunnas Malik dalam Lokakarya & Silaturahim Ulama, Habib dan Tokoh Masyarakat di Villa Baladegana, Gunung Geulis, Bogor, mengaku prihatin dengan kondisi di negeri ini, yang semakin hari dilanda kezaliman di berbagai bidang, mulai dari kezaliman politik, ekonomi, social, pendidikan, budaya, hukum, pertahanan dan keamanan. Menjadi tugas ulama untuk memberi pencerahan kepada umat agar tidak menjadi ikut-ikutan zalim ..>>> ...upaya untuk menjadikan Bogor bersyariah, tidak dihalang-halangi oleh siapapun. Jika tidak ada yang setuju, maka jangan ada yang saling menggembosi, apalagi menolak gerakan ukhuwah. “Ukhuwah yang kita jalin ini bukan ukhuwah semu, ini serius,” kata Iyus...>>..“Ada modus, oknum aparat justru memberi informasi kepada laskar, terkait beroperasinya tempat maksiat di bulan Ramadhan. Sepertinya, ada oknum aparat yang memanfaatkan moment untuk mencari prestasi atau naik pangkat dari aksi sweeping ini. Laskar yang punya semangat amar marif nahi mungkar kemudian bergerak. Kalau kita lihat, dilokasi sudah ada wartawan yang meliput,” kata Munarman kepada Voa-Islam disela-sela Pra Kongres Umat Islam se Bogor Raya di Villa Baladegana-Bogor, ketika ditanya soal sweeping tempat maksiat di bulan Ramadhan. Dikatakan Munarman, jika sudah mengetahui informasi adanya tempat hiburan malam yang beroperasi selama Ramadhan, seharusnya yang membersihkan dan menertibkan tempat maksiat itu adalah aparat sendiri, bukan malah memberi umpan kepada laskar agar dilakukan razia. Itu sudah menjadi tugas aparat...>>



Inilah Pesan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir untuk Putri Munawaroh

JAKARTA (voa-islam.com) - 
Para aktivis, khususnya para akhwat pasti mengenal sosok mujahidah Putri Munawaroh. Putri -sapaan akrabnya- yang masih muda belia itu menjadi saksi hidup detik-detik terakhir gugurnya para mujahid; Noordin M Top, Urwah, Aryo Sudarso  dan Adib (suami Putri Munawaroh), saat penyerangan Densus 88 pada hari Rabu (16/9/2009) dini hari di Kampung Kepohsari, Jebres, Mojosongo, Solo, Jawa Tengah.

Putri yang saat itu tengah hamil menderita luka-luka karena tembakan Densus 88 yang mengenai paha kirinya. Penderitaan Putri tak sampai disitu. Ia harus menjalani persidangan lantaran dituduh terlibat kasus terorisme membantu menyembunyikan Noordin M Top. Padahal saat itu ia sama sekali mengenalnya. Tugasnya sehari-sama seperti ibu rumah tangga lainnya seperti menyiapkan makanan untuk sang suami termasuk para tamu yang berkunjung ke rumahnya.

Kamis (29/7/2010) Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis zalim 3 tahun penjara untuk Putri Munawaroh. Menjalani masa tahanan, Putri Munawaroh harus melahirkan sang bayi di penjara yang diberi nama Muhammad Ahsanu Syuhada.

Akhirnya, hari Ahad (22/7/2012) menjadi hari yang istimewa bagi mujahidah asal Solo ini. Putri Munawaroh bisa menghirup udara bebas setelah menjalani vonis zalim 3 tahun penjara. Para ummahat yang sejak persidangan menemani Putri, turut menjemputnya di LP Wanita Kelas IIA Tangerang.

Usai dibebaskan Putri sempat menyampaikan testimoni di masjid Munawaroh, Perumahan Witanaharja, Pamulang. Lalu pada hari Selasa (24/7/2012) bersama para ummahat ia menyempatkan diri untuk bersilaturahmi ke sel Bareskrim Mabes Polri menemui ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Seperti biasa, ustadz Abu selalu menyampaikan taushiyah kepada para pembesuk. Namun, saat mengetahui jika ada Putri Munawaroh yang telah bebas dan membesuknya, ustadz Abu Bakar Ba’asyir kemudian menyampaikan pesan kepadanya.

Ia berpesan kepada Putri Munawaroh agar tetap istiqomah menegakkan tauhid sambil menyitir sebuah ayat Al Qur’an.   

“Supaya istiqamah dalam menegakkan tauhid, sebab ada ayat Allah:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (Q.S. Fushilat : 30). Orang yang istiqamah itu saat mati ia diberikan kabar gembira,” jelas ulama sepuh tersebut.

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sepertinya juga telah mengetahui jika Putri Munawaroh telah menikah kembali dengan seorang mujahid yang kini masih menjalani masa tahanan di sebuah LP di Jawa Timur. Ustadz Abu kemudian menanyakan apakah Putri sudah membesuknya? Putri pun menjawab belum.

Sambil berseloroh ustadz Abu berkata; “Mestinya sana dulu,” ujarnya disambut tawa para ummahat. Ia juga menitipkan salam kepada Putri Munawoh untuk suaminya. “Titip salam untuk suaminya,” kata ustadz Abu.
Waktu besuk pun usai, Putri bersama para ummahat lalu berpamitan. Keesokan harinya, Rabu (25/7/2012) Putri Munawaroh berangkat menuju Bandung untuk bersilaturahmi dengan mertuanya. [El Raid]

Silaturahim Ulama dan Habaib se-Bogor Raya: Rezim Ini 

Sudah Zalim!!

Bogor (VoA-Islam) – Ketua Forum Umat Islam (FUI) Bogor, Ustadz Iyus Khaerunnas Malik dalam Lokakarya & Silaturahim Ulama, Habib dan Tokoh Masyarakat di Villa Baladegana, Gunung Geulis, Bogor, mengaku prihatin dengan kondisi di negeri ini, yang semakin hari dilanda kezaliman di berbagai bidang, mulai dari kezaliman politik, ekonomi, social, pendidikan, budaya, hukum, pertahanan dan keamanan. Menjadi tugas ulama untuk memberi pencerahan kepada umat agar tidak menjadi ikut-ikutan zalim

“Fungsi dan tugas ulama tidak hanya ngajar ngaji di majelis taklim, atau pun tukang doa, tapi juga masuk kepada fungsi khalifah, dakwah, amar maruf nahi mungkar. Kita mengajak masyarakat untuk diberi arahan, dengan menjadikan masjid sebagai basis, “kata Ustadz Iyus.

Dijelaskan Iyus, pertemuan para ulama, habaib dan aktivis Islam yang  berlangsung selama dua hari (31 Juli-1 Agustus 2012) di Villa Baladegana, Bogor, Jawa Barat, bertujuan untuk menjalin silaturahim dan ukhuwah antar ulama dan tokoh masyarakat yang pesertanya terdiri dari utusan dari wilayah-wilayah daerah se-Kota dn Kabupaten Bogor, Depok, Cianjur, Bandung dan Sukabumi.  Diharapkan, dengan silaturahim ini dapat membangun komunikasi dan saling memberi informasi terkait kegiatan dakwah di wilayahnya masing-masing.

“Kami ingin menjadikan Bogor Bersyariah. Gerakan ini  jangan disebut makar. Umat Islam se-Bogor Raya justru mendorong terwujudnya NKRI. Tanpa umat Islam, tidak akan terwujud NKRI. Umat Islam Indonesia lah yang selama ini menjadi perekat Nusantara.  Namun sayang, peran umat Islam dalam catatan sejarah sengaja dihilangkan. Ditambah lagi, media massa menciptakan stigma negatif, sehingga masyarakat menjadi apatis. Umat Islam pun dinina-bobokan agar tak berperan dalam percaturan politik, berbangsa dan bernegara,” jelas Iyus.

Kegiatan Lokakarya yang dihadiri oleh 200 peserta ini merupakan Pra Kongres Umat islam se-Bogor Raya dan Keresidenan yang rencananya akan digelar pada saat bulan Muharam 1434 H mendatang. “Insya Allah, peserta yang hadir mencapai 1.000 orang. Selama bulan, dari bulan Syawal, Zulhijah, dan Zul Qaidah, kita akan mensosialisasi rencana digelarnya Kongres Umat Islam di Bogor.

“Dengan ukhuwah dan persaudaraan, Islam akan menang. Kita akan menghimpun dana dari umat. Alhamdulillah, kita sudah membuat program Infaq Rp. 1000 Sehari. Kita mulai dari grass root. Kalau umat sudah kita pegang, maka pemimpinnya, maka Walikota dan Gubernurnya yang tampil, Insya Allah yang pro syariah,” ujar Iyus yang optimis 5 tahun ke depan akan terwujud apa yang dicita-citakannya.

Iyus berharap, upaya untuk menjadikan Bogor bersyariah, tidak dihalang-halangi oleh siapapun.  Jika tidak ada yang setuju, maka jangan ada yang saling menggembosi, apalagi menolak gerakan ukhuwah. “Ukhuwah yang kita jalin ini bukan ukhuwah semu, ini serius,” kata Iyus.

Mencetak Kader Ulama


Sementara itu, tokoh ulama KH. Didin Hafidhuddin dalam pernyataan tertulisnya mengatakan, salah satu masalah penting dalam pembangunan umat adalah melahirkan dan menumbuhkembangkan kader-kader umat untuk menjadi “Mutafaqqih fi ad-Din, yaitu kader-kader yang memiliki pemahaman agama yang komprehensif, yang memiliki akhlakul karimah, serta siap melakukan kegiatan dakwah dalam membangun masyarakat.

Kader-kader umat bisa diarahkan menjadi kelompok Ulul Albab atau menjadi kader ulama. Pendidikan kader ulama bisa dilakukan denga kegiatan formal atau non-formal. Adapun materi pokok dalam kegiatan kaderisasi ulama ini, meliputi: Al Qur’an dan ilmu-ilmunya, menghafal dan berinteraksi dengan Al Qur’an, memahami hadits dan ilmunya, bahas Arab, Fiqih Dakwah, Sejarah Nabi dan para sahabat, serta Fiqh Jihad.

Tak kalah penting, kata KH. Didin, adalah mempraktekkan pengamalan Islam dalam kehidupan sehari-hari, seperti shalat Tahajud, shalat Dhuha, dan shalat sunnah lainnya, juga tadarus al Qur’an, berdzikir dan berdo’a.  Desastian


Aksi Sweeping: Ada Modus, Oknum Aparat Beri Informasi 

pada Laskar

JAKARTA (VoA-Islam) – Sangat disayangkan, aparat yang seharusnya menindak beroperasinya tempat maksiat di sejumlah tempat, justru memberi “umpan” berupa informasi kepada laskar ormas Islam agar melakukan sweeping saat bulan suci Ramadhan. Ada usaha rekayasa, untuk memanfaatkan Ramadhan, untuk tujuan meraih prestasi kenaikan pangkat bagi oknum aparat yang bersangkutan.

“Ada modus, oknum aparat justru memberi informasi kepada laskar, terkait beroperasinya tempat maksiat di bulan Ramadhan. Sepertinya, ada oknum aparat yang memanfaatkan moment untuk mencari prestasi atau naik pangkat dari aksi sweeping ini. Laskar yang punya semangat amar marif nahi mungkar kemudian bergerak. Kalau kita lihat, dilokasi sudah ada wartawan yang meliput,” kata Munarman kepada Voa-Islam disela-sela Pra Kongres Umat Islam se Bogor Raya di Villa Baladegana-Bogor, ketika ditanya soal sweeping tempat maksiat di bulan Ramadhan.  

Dikatakan Munarman, jika sudah mengetahui informasi adanya tempat hiburan malam yang beroperasi selama Ramadhan, seharusnya yang membersihkan dan menertibkan tempat maksiat itu adalah aparat sendiri, bukan malah memberi umpan kepada laskar agar dilakukan razia. Itu sudah menjadi tugas aparat.

Menurut juru bicara FPI ini, sweeping itu sebenarnya tidak melanggar hukum. Justru selama ini, FPI lah yang menginformasikan kepada aparat tentang beroperasinya tempat hiburan malam selama Ramadhan. Dan itu sudah menjadi kebijakan FPI.

“Lagipula, yang menindak tempat hiburan malam itu, sebenarnya bukan tugas polisi, tapi Satpol PP, karena terkait perizinan. Kalau Pemda setempat berani memberi sanksi dan bertindak tegas, maka menimbulkan efek jera kepada pihak pengelola yang nakal.”

Aksi sweeping, bukan persoalan menyerahkan wewenang kepada polisi, ini merupakan tanggungjawab masyarakat jika ada yang melihat kemaksiatan di depan mata. Jika ada yang tertangkap tangan, warga berhak menegurnya . Idealnya, Satpol PP yang betindak agar menutup  total tempat hiburan malam selama Ramadhan.

Munarman menilai, Operasi Pekat yang digelar aparat keamanan di bulan Ramadhan, begitu-begitu saja, tidak ada yang istimewa. Dari tahun ke tahun, tak ada perubahan yang berarti. Tak ada gunanya  miras disita, tapi pabrik miras dan perizinannya malah dibiarkan. Ini menjadi tidak tuntas. Kita harus fokus dan mengusahakan adanya UU yang melarang miras. “

Ketika ditanya, tentang maraknya aksi sweeping tempat maksiat di bulan suci Ramadhan yang dilakukan oleh sejumlah ormas di berbagai tempat, Munarman memberi apresiasi kepada masyarakat yang menolak kemasiatan di wilayahnya. “Ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat, betapa moralitas masih dijunjung tinggi, sehingga kemaksiatan dianggap sebagai hal yg buruk, kemungkaran dan bentuk kebatilan yang harus diperangi.”Desastian


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar