Kamis, 09 Agustus 2012

Perundingan Suriah.>>...Menteri Luar Negeri Ali Akbar Salehi, seperti disiarkan televisi nasional pemerintah, membuka pertemuan itu dengan menyerukan "dialog nasional antara oposisi Suriah, yang mendapat dukungan banyak pihak, dan pemerintah Suriah untuk menciptakan ketenangan dan keamanan." ..>>...Iran menyatakan tidak mengundang Barat dan negara teluk Arab pada pertemuan Teheran. Pasalnya mereka dianggap telah memberikan dukungan ketentaraan bagi pemberontakan berdarah hampir 17 bulan itu untuk menggulingkan Presiden Suriah Bashar al Assad. ...>>>...menteri luar negeri Irak, Pakistan dan Zimbabwe hadir...dan...Afghanistan, Aljazair, Armenia, Benin, Belarusia, China, Kuba, Ekuador, Georgia, India, Indonesia, Yordania, Kazakstan, Kirgizstan, Maladewa, Mauritania, Nikaragua, Oman, Rusia, Srilanka, Sudan, Tajikistan, Tunisia, Turkmenistan dan Venezuela. Wakil dari Perserikatan Bangsa-Bangsa juga hadir. ..>>....Isaac Hertzog, seorang anggota parlemen dari Partai Buruh, juga mendesak Tel Aviv menyalurkan dukungan dan bantuan lebih banyak kepada kelompok-kelompok pemberontak Suriah. Hertzog juga mengungkap hubungan Israel dengan seorang pemimpin oposisi Burhan Ghalyoun dan menegaskan bahwa sejumlah tokoh oposisi Dewan Transisi Nasional Suriah bahkan menyatakan untuk berdamai dengan rezim Zionis. Nama-nama tokoh oposisi yang menginginkan perdamaian dengan Israel itu menurut Hertzog, tidak mungkin dipublikasikan karena alasan keamanan...>>...Para perusuh dan kelompok teroris bersenjata Suriah beraksi sejak Maret 2011 dengan dukungan sejumlah negara Barat, Arab, dan Israel. Hingga kini ribuan orang tewas termasuk aparat keamanan negara ini...>>..Juru bicara Menlu Zionis, Tzachi Moshe mengatakan, "Israel dapat menyalurkan bantuan kepada kelompok-kelompok bersenjata di Suriah melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa atau lembaga-lembaga internasional lain."..>>...Seorang pengamat hubungan strategis Suriah, Salim Harba, juga mengungkap dimensi lain dari makar rezim Zionis Israel dan negara-negara Barat. Ditambahkannya bahwa oknum-oknum teroris dari negara-negara Teluk Persia, Irak, Lebanon, Afghanistan, Turki, dan Perancis, yang dibekuk dalam operasi militer Suriah di wilayah Baba Amr, mereka semua diatur oleh Barat dan Israel.>>..Harba menegaskan bahwa dibentuk kantor khusus di Qatar yang mengurusi operasi kelompok-kelompok teroris di Suriah yang koordinasinya ditangani langsung para agen-agen Dinas Rahasia Amerika Serikat (CIA) dan Israel (Mossad). Di sisi lain, Qatar juga menandatangani kontrak pembelian senjata dengan perusahaan-perusahaan senjata Amerika Serikat dan Israel untuk melengkapi senjata para perusuh di Suriah...>>

Iran Tuan Rumahi Perundingan Suriah

Kamis, 09 Agustus 2012, 22:10 WIB
Iran Tuan Rumahi Perundingan Suriah
Suriah Iran. Ilutrasi

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -  
http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/12/08/09/m8hu4k-iran-tuan-rumahi-perundingan-suriah
Iran menjadi tuan rumah pertemuan 29 negara yang berencana membahas konflik Suriah pada Kamis (9/8). Pertemuan itu bertujuan menghentikan pertumpahan darah dan meningkatkan peran Teheran sebagai pialang perdamaian bagi Suriah.

Menteri Luar Negeri Ali Akbar Salehi, seperti disiarkan televisi nasional pemerintah, membuka pertemuan itu dengan menyerukan "dialog nasional antara oposisi Suriah, yang mendapat dukungan banyak pihak, dan pemerintah Suriah untuk menciptakan ketenangan dan keamanan." Ia menambahkan kalau Iran siap menjadi tuan rumah untuk dialog tersebut.

Salehi juga menyatakan Iran menentang campur tangan asing juga militer dalam menyelesaikan kemelut Suriah dan mendukung upaya Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon.
Ia menyatakan Iran telah mengirim bantuan kemanusiaan ke Suriah untuk menebus hukuman antarbangsa terhadap Damaskus. Hukuman itu menurutnya  bukan untuk kepentingan rakyat Suriah dan justru menambah penderitaan mereka.

Iran menyatakan tidak mengundang Barat dan negara teluk Arab pada pertemuan Teheran. Pasalnya mereka dianggap telah memberikan dukungan ketentaraan bagi pemberontakan berdarah hampir 17 bulan itu untuk menggulingkan Presiden Suriah Bashar al Assad. 

Media pemerintah menyatakan menteri luar negeri Irak, Pakistan dan Zimbabwe hadir. Sejumlah diplomat tingkat bawah, sebagian besar duta besar, mewakili negara undangan lain juga ikut serta. 

Negara negara itu, kata Salehi, adalah Afghanistan, Aljazair, Armenia, Benin, Belarusia, China, Kuba, Ekuador, Georgia, India, Indonesia, Yordania, Kazakstan, Kirgizstan, Maladewa, Mauritania, Nikaragua, Oman, Rusia, Srilanka, Sudan, Tajikistan, Tunisia, Turkmenistan dan Venezuela. Wakil dari Perserikatan Bangsa-Bangsa juga hadir. 

Kuwait dan Libanon, yang juga diundang, sebelum pertemuan itu telah menyatakan absen dan tidak akan mengirim wakil mereka.


Redaktur: Yudha Manggala P Putra
Sumber: AFP
 Minggu, 04 Maret 2012
http://www.ipabionline.com/2012/03/siapa-sebenarnya-penjahat-di-suriah.html
IPABIonline.com - Berbagai laporan mengkonfirmasikan peran luas rezim Zionis Israel dalam instabilitas di Suriah sejak Maret 2011. Dalam hal ini, Menteri Luar Negeri Israel, Avigdor Lieberman mengatakan, "Israel siap untuk mengirim bantuan kepada kelompok-kelompok pemberontak di Suriah."

Juru bicara Menlu Zionis, Tzachi Moshe mengatakan, "Israel dapat menyalurkan bantuan kepada kelompok-kelompok bersenjata di Suriah melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa atau lembaga-lembaga internasional lain."

Para perusuh dan kelompok teroris bersenjata Suriah beraksi sejak Maret 2011 dengan dukungan sejumlah negara Barat, Arab, dan Israel. Hingga kini ribuan orang tewas termasuk aparat keamanan negara ini.

Kesiapan Israel untuk menyalurkan bantuan lebih banyak kepada kelompok teroris Suriah dikemukakan di saat sebuah kelompok yang menamakan diri (Dewan Transisi Nasional Suriah, telah menyatakan kesiapannya untuk menjalin hubungan persahabatan dengan Israel jika pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad terguling.

Isaac Hertzog, seorang anggota parlemen dari Partai Buruh, juga mendesak Tel Aviv menyalurkan dukungan dan bantuan lebih banyak kepada kelompok-kelompok pemberontak Suriah. Hertzog juga mengungkap hubungan Israel dengan seorang pemimpin oposisi Burhan Ghalyoun dan menegaskan bahwa sejumlah tokoh oposisi Dewan Transisi Nasional Suriah bahkan menyatakan untuk berdamai dengan rezim Zionis. Nama-nama tokoh oposisi yang menginginkan perdamaian dengan Israel itu menurut Hertzog, tidak mungkin dipublikasikan karena alasan keamanan.

Publikasi berita tentang hubungan kelompok oposisi dengan rezim yang bahkan memusuhi dan menjajah sebagian wilayah Suriah itu, semakin mengungkap esensi dan identitas kelompok oposisi Suriah yang menjadi boneka pihak-pihak asing.

Seorang pengamat hubungan strategis Suriah, Salim Harba, juga mengungkap dimensi lain dari makar rezim Zionis Israel dan negara-negara Barat. Ditambahkannya bahwa oknum-oknum teroris dari negara-negara Teluk Persia, Irak, Lebanon, Afghanistan, Turki, dan Perancis, yang dibekuk dalam operasi militer Suriah di wilayah Baba Amr, mereka semua diatur oleh Barat dan Israel.

Harba menegaskan bahwa dibentuk kantor khusus di Qatar yang mengurusi operasi kelompok-kelompok teroris di Suriah yang koordinasinya ditangani langsung para agen-agen Dinas Rahasia Amerika Serikat (CIA) dan Israel (Mossad).

Di sisi lain, Qatar juga menandatangani kontrak pembelian senjata dengan perusahaan-perusahaan senjata Amerika Serikat dan Israel untuk melengkapi senjata para perusuh di Suriah.

Masalah-masalah tersebut mengindikasikan fakta bahwa Suriah saat ini memang menghadapi gelombang makar dari Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel, yang juga dibantu oleh negara-negara Arab.

Upaya Israel mengobarkan instabilitas di Suriah dan bahkan menyulut perang sipil di negeri itu adalah dalam rangka menyimpangkan perhatian rakyat dan pejabat Suriah dari penjajahan rezim Zionis atas wilayah-wilayah Suriah serta untuk mematenkan aksi ilegal mereka itu.

Namun pelaksanaan referendum amandemen konstitusi yang diprakarsai pemerintah Damaskus telah menjadi garis pembeda pihak-pihak yang terlibat dalam instabilitas di Suriah. Jika sebelumnya masyarakat dunia membentur keambiguan dalam menyikapi krisis Suriah. Maka pasca referendum, terungkap jelas identitas para perusuh dan apa tujuan mereka.

Hampir 60 persen dari warga yang berhak memilih ikut ambil bagian dalam referendum Ahad (26/2), dengan 7.490.319 orang (89,4 persen) mendukung dan 753.208 orang (9 persen) menolak.

Referendum tersebut merupakan bukti dukungan rakyat terhadap pemerintah Assad dan tekad mereka untuk menjaga kedaulatan dan persatuan negara. Yang jelas, dua acuan itu bertentangan dengan apa yang dituju oleh kelompok-kelompok perusuh melalui berbagai aksi brutal mereka. Lalu siapa penjahat sebenarnya? Bagaimana menurut Anda? (IPABI Online/IRIB Indonesia)

Pasukan Oposisi Suriah Tidak Tampak di Aleppo
http://www.hidayatullah.com/read/24248/09/08/2012/pasukan-oposisi-suriah-tidak-tampak-di-aleppo.html
Kamis, 09 Agustus 2012 


Pecahan roket di dalam ruangan sebuah rumah di Aleppo.

Hidayatullah.com—Pasukan oposisi Suriah dilaporkan telah meninggalkan pos-pos mereka di distrik Shalahuddin kota Aleppo.

Dilansir oleh Euronews (8/8/2012), wartawan-wartawan Reuters melaporkan bahwa sejumlah pos pemeriksaan yang dijaga oleh tentara oposisi di beberapa distrik terlihat kosong. Padahal sebelumnya, terjadi pertempuran sengit di daerah itu, menyusul pasukan loyalis Bashar Al Assad bersumpah akan merebut seluruh kota.

Di Al Shahharah sekitar 25km dari Aleppo, penduduk setempat mengatakan bahwa pasukan pemerintah menyisir kota sambil menembaki bangunan-bangunan.

Sementara sebagian besar warga telah mengungsi, seorang pria memutuskan bertahan meskipun suplai makanan telah menipis.

“Penembakan berlangsung terus. Lebih dari 60 roket sehari. Sehingga banyak orang yang tewas. Sebagian dari mereka kehilangan kaki, tangan, bahkan kepalanya,” kata orang itu.

Sementara itu pertempuran terus berlangsung di berbagai tempat di Suriah. Syrian Observatory for Human Rights melaporkan, lebih dari 240 orang terbunuh pada hari Selasa kemarin.

Saat terjadi serangan, penduduk yang masih bertahan harus bersusah-payah mencari kebutuhan dasar seperti roti. Di banyak tempat hanya ada satu toko roti yang masih buka.*

Rep: Ama Farah
Red: Dija

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar