Jumat, 17 Agustus 2012

KA' BAH DAN KEUNIKANNYA......>> ..Ka'bah merupakan kiblat salat bagi seluruh umat muslim di dunia. Ka'bah terdapat dalam area Masjidil Haram yang terletak di kota Makkah, Arab Saudi. Setiap tahunnya, jutaan muslim dari berbagai penjuru dunia datang ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah serta berziarah ke sejumlah tempat bersejarah di sana....>>>...Spesifikasi pintu Ka’bah saat ini. Pintu Ka’bah berada di bagian timur Ka’bah. Sekarang pintu Ka’bah terletak 222 cm di atas permukaan tanah. Tinggi pintu Ka’bah itu sendiri 318 cm, sedangkan lebarnya 171 cm. Pintu Ka’bah agak menjorok ke dalam sekitar 0,5 cm...>>


Fakta tentang Pintu Ka’bah

9 March 2012 | Kategori: Pernik
http://www.jurnalhaji.com/category/pernik-haji

Ka'bah di Masjidil Haram, Makkah. Foto: AP

Spesifikasi pintu Ka’bah saat ini. Pintu Ka’bah berada di bagian timur Ka’bah. Sekarang pintu Ka’bah terletak 222 cm di atas permukaan tanah.

Tinggi pintu Ka’bah itu sendiri 318 cm, sedangkan lebarnya 171 cm. Pintu Ka’bah agak menjorok ke dalam sekitar 0,5 cm.

Pintu Ka’bah yang saat ini terpasang merupakan pintu Ka’bah kedua yang pengerjaannya dilakukan atas perintah Raja Khalid. Rangka pintu Ka’bah ini dikerjakan sedemikian rupa dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi muthakhir untuk memastikan kekuatan dan keindahannya.

Rangka Pintu Ka’bah yang didesain oleh dua orang ahli ini pun tidak memerlukan perawatan lagi. Desainnya sudah diatur sedemikian rupa sehingga sangat tahan terhadap perubahan cuaca yang sangat ekstrim sekalipun, baik cuaca yang sangat panas maupun dingin.

Jika hujan mengguyur Kota Makkah, bagian dalam bangunan Ka’bah dipastikan tidak akan dimasuki air kerena dua bagian pintu Ka’bah didesain dapat tertutup dengan sangat rapat. Di pintu Ka’bah ini juga terdapat semacam batangan tongkat yang digunakan untuk mengunci kedua bagian pintu saat tertutup.
Redaktur: Chairul Akhmad

Reporter: Hannan Putra
Sumber: Situs resmi Gerbang Dua Kota Suci, Atlas Haji dan Umrah

Fakta Keajaiban Kabah

http://www.indospiritual.com/artikel_fakta-keajaiban-kabah.html

Ka'bah merupakan kiblat salat bagi seluruh umat muslim di dunia. Ka'bah terdapat dalam area Masjidil Haram yang terletak di kota Makkah, Arab Saudi. Setiap tahunnya, jutaan muslim dari berbagai penjuru dunia datang ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah serta berziarah ke sejumlah tempat bersejarah di sana.

Dalam Ka'bah tidak terdapat benda apapun. Meskipun demikian, Ka'bah memiliki arti yang sangat penting bagi umat muslim. Berdasarkan sebuah riwayat, Ka'bah merupakan bangunan pertama yang diciptakan sejak penciptaan bumi.

Ka'bah memiliki rahasia tersembunyi, bahkan tempat-tempat sekitar ka'bah termasuk depan pintu Multazam merupakan tempat mustajab untuk berdoa.

Namun, tahukah Anda jika ternyata ada banyak fakta unik di balik kesucian bangunan Ka'bah?

1. Planet bumi mengeluarkan semacam radiasi, yang kemudian diketahui sebagai medan magnet. Penemuan ini sempat mengguncang National Aeronautics and Space Administration (NASA), badan antariksa Amerika Serikat, dan temuan ini sempat dipublikasikan melalui internet. Namun entah mengapa, setelah 21 hari tayang, website yang mempublikasikan temuan itu hilang dari dunia maya.

Namun demikian, keberadaan radiasi itu tetap diteliti, dan akhirnya diketahui kalau radiasi tersebut berpusat di kota Makkah, tempat di mana Ka'bah berada. Yang lebih mengejutkan, radiasi tersebut ternyata bersifat infinite (tidak berujung). Hal ini terbuktikan ketika para astronot mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih tetap terlihat. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka'bah di planet bumi dengan Ka'bah di alam akhirat.



2. Zero Magnetism Area

Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila seseorang mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.

Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Makkah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu, ketika mengelilingi Ka’ah, maka seakan-akan fisik para jamaah haji seperti di-charge ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.

3. Tekanan Gravitasi Tinggi

Ka'bah dan sekitarnya merupakan sebuah area dengan gaya gravitasi yang tinggi. Ini menyebabkan satelit, frekuensi radio ataupun peralatan teknologi lainnya tidak dapat mengetahui isi di dalam Ka'bah. Selain itu, tekanan gravitasi tinggi juga menyebabkan kadar garam dan aliran sungai bawah tanah tinggi. Inilah yang menyebabkan salat di Masjidil Haram tidak akan terasa panas meskipun tanpa atap di atasnya.

Tekanan gravitasi yang tinggi memberikan kesan langsung kepada sistem imun tubuh untuk bertindak sebagai pertahanan dari segala macam penyakit.

4. Tempat ibadah tertua

Pembangunan Ka'bah telah dilakukan sejak zaman Nabi Adam AS. Ada pula sumber yang menyebutkan, Ka'bah telah dibangun semenjak 2000 tahun sebelum Nabi Adam diturunkan. Pembangunannya pun memerlukan waktu yang lama karena dilakukan dari masa ke masa.

Menurut sebagian riwayat, Ka'bah sudah ada sebelum Nabi Adam AS diturunkan ke bumi, karena sudah dipergunakan oleh para malaikat untuk tawwaf dan ibadah. Ketika Adam dan Hawa terusir dari Taman Surga, mereka diturunkan ke muka bumi, diantar oleh malaikat Jibril. Peristiwa ini jatuh pada tanggal 10 Muharam.

5. Ka'bah memancarkan energi positif

Ka'bah dijadikan sebagai kiblat oleh orang yang salat di seluruh dunia, karena orang salat di seluruh dunia memancarkan energi positif apalagi semua berkiblat kepada Ka'bah. Jadi dapat Anda bayangkan energi positif yang terpusat di Ka'bah, dan juga menjadi pusat gerakan salat sepanjang waktu karena diketahui waktu salat mengikuti pergerakan matahari. Itu artinya, setiap waktu sesuai gerakan matahari selalu ada orang yang sedang salat. Jika sekarang seseorang di sini melakukan salat Dhuhur, demikian pula wilayah yang lebih barat akan memasuki waktu Dhuhur dan seterusnya atau dalam waktu yang bersamaan orang Indonesia salat Dhuhur orang yang lebih timur melakukan salat Ashar demikian seterusnya.

Memandang Ka'bah dengan ikhlas akan mendatangkan ketenangan jiwa. Aturan untuk tidak mengenakan topi atau kepala saat beribadah haji juga memiliki banyak manfaat. Rambut yang ada di tubuh manusia dapat berfungsi sebagai antena untuk menerima energi postif yang dipancarkan Ka'bah.

Pemimpin Masjidil Haram Pra-Islam: Abdul Muthalib

30 July 2012 | Kategori: Pernik
http://www.jurnalhaji.com/pernik-haji/pemimpin-masjidil-haram-pra-islam-abdul-muthalib.html

Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi. Foto: AP.
REPUBLIKA.CO.ID –
Setelah Qusay bin Kilab, tampuk pemerintahan diberikan kepada Abdul Muthalib yang diberi julukan Abu Harits, sementara nama aslinya adalah Syaibah Al-Hamd dan Amir. Anak-anaknya adalah Abu Thalib, Abdullah, Abbas, Hamzah, Abu Jahal dan Harits.
Abdul Muthalib adalah orang yang mempunyai derajat dan kedudukan yang paling tinggi di kalangan suku Quraisy, dan dia adalah orang yang beragama Hanif.
Dia telah melarang penyembahan terhadap patung-patung dan mengajak untuk menyembah Allah yang satu.
Di masa jahiliyah, dia telah membuat sunah-sunah yang baik yang telah ditetapkan oleh Rasulullah sebagai sunah dalam Islam. Seperti memenuhi nazar dan janji, membayar humus (20%), melarang menikahi mahram (sedarah), memotong tangan pencuri, melarang penguburan hidup-hidup anak perempuan, dan menghukum orang yang berzina.
Dalam sebuah hadis Nabi bersabda, “Allah akan mengumpulkan kakekku Abdul Muthalib di Mahsyar, sedang dalam dirinya ada tanda-tanda para nabi dan keagungan raja-raja.”
Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra
Sumber: Sejarah Kota Makkah

Pemimpin Masjidil Haram Pra-Islam: Qusay bin Kilab (1)

30 July 2012 | Kategori: Pernik

Ka'bah di Masjidil Haram, Makkah Al-Mukarramah, Arab Saudi. Foto: WordPress.com.

REPUBLIKA.CO.ID – Qusay bin kilab adalah kakek Nabi yang tercinta. Ia mempunyai beberapa anak laki-laki; Abdu Manaf, Abdu Ad-Dar, Abdu Al-Uzza dan Abdu Qusay.
Namanya adalah Zaid dan julukannya Abdul Mughiroh atau Mujamma’ (julukan ini diberikan karena tanggung jawabnya mengurusi Ka’bah).
Setelah ayahnya mening­gal dunia, ibunya yang bernama Fatimah dikawini oleh Ra’biah bin Harun Al-Udhri, lalu Qusay dibawa ke kota ayah tirinya. Usaha menjauhkan Zaid dari kampung aslinya inilah sehingga ia disebut Qusay yang berarti ‘di ujung sana’.
Ketika berusia 25 tahun, ia pergi ke Makkah di bulan Haram bersama para jamaah haji Qodhoah untuk melaksanakan haji. Sejak itu, bertambah tinggilah derajat dan kemuliaannya. Dia dikaruniai anak yang banyak.
Pengurusan Ka’bah pada waktu itu berada pada kekuasan Qabilah Khuza’ah setelah terjadi pengusiran orang-orang Jurhum. Dan pelaksanaan ibadah haji pada waktu itu atas izin dari Qabilah Shufah (anak Ghoust bin murib).
Qusay membangkang pada Shufah, yang berujung pada pertikaian yang lama sekali, yang pada akhirnya dimenangkan oleh Qusay. Ketika Bani Khuza’ah dan Bani Bakr melihat bahwasanya Qusay sangat membahayakan bagi mereka, maka mereka menyingkirkannya.

Setelah terjadi peperangan yang sangat dahsyat, mereka mengusulkan adanya perdamaian (sulh) lalu mereka memilih Ya’mur bin Auf bin Ka’ab sebagai penengah, hanya saja dia berpihak pada Qusay, akhirnya mereka memberi nama Syaddah (berpaling dari tujuan).

Sejak itu Qusay memegang tali kendali Makkah dan urusan Ka’bah. Sementara Khuza’ah tidak lagi mempunyai kekuasaan atas Makkah. Dengan demikian, Qusay telah mengangkat derajat kaumnya dan meningkatkan kehormatannya dan dia juga sebagai pemerintah orang-orang Arab.
Qusay adalah orang pertama kali menjadi hakim (pemimpin) kaumnya dan penanggung jawab rifadah (pemberi makan) dan pemberi minnm jamaah haji.
Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra

Pemimpin Masjidil Haram Pra-Islam: Qusay bin Kilab (2-habis)

30 July 2012 | Kategori: Pernik
http://www.jurnalhaji.com/pernik-haji/pemimpin-masjidil-haram-pra-islam-qusay-bin-kilab-2-habis.html

Ka'bah di Makkah, Arab Saudi. Foto: WordPress.com.

REPUBLIKA.CO.ID – Suku Quraisy manganggap sirah (perjalanan hidup Qusay) adalah seperti hukum syar’i yang harus diikuti karena dia adalah pertama kali yang mengangkat derajat orang-orang arab dan dia pula yang mengharuskan suku Quraisy untuk menjamu para jamaah haji.

Qusay membagi-bagi tugas kepada anak-anaknya. Abdu Manaf sebagai pemberi minum, Abdu-Dar sebagai penjaga rumah, Abu Uzza sebagai (rifadah) penjamu tamu dengan menyodorkan makanan yang telah disiapkan orang-orang Quraisy setiap tahun.

Abdu Qusay sebagai penjaga dua tepi lembah, Qusay adalah orang yang beragama Islam (hanif) itu terlihat dari syi’ir- syi’irnya yang mengajak menyembah Allah dan melarang menyembah berhala-berhala.
Kemudian di satu pihak, setiap orang dari Bani Sa’ad bin Abdil Uzza, Bani Zuhra bin Kilab, Bani Tamin bin Murroh dan Bani Haris bin Fihr telah mengadakan aliansi (kerjasama) dengan Bani Abdu Manaf, dan mereka mengadakan perjanjian yang diberi nama Perjanjian Al-Muthoyyibin.

Di pihak lain, Bani Mahzum, Bani Sahm, Bani Lamakh, Bani Uday telah mengadakan aliansi dengan Bani Abdu Dar. Mereka ini dinamai Al-Ahlaf dengan demikian tumbuhlah benih-benih permusuhan antara kabilah-kabilah Quraisy.

Akan tetapi setelah terwujudnya perdamaian antara kedua belah pihak, mereka sepakat untuk memberikan tugas siqoyah (memberi minum) dan rifadah (memberi makanan) kepada Abdu Dar.

Lalu Hasyim yang berasal dari Bani Abdu Manaf, memangku jabatan sebagai rifadah dan siqoyah yang bertugas memberi makan jamaah haji yang berada di Makkah, Mina, Arafah, dan Masy’ar, oleh karenanya diberi nama Hasyim (yang berarti memotong-motong roti yang diberi kuah).

Hasyim adalah orang yang pertama kali menetapkan perjalanan musim panas dan dingin bagi orang-orang Quraisy sebagaimana disinyalir dalam Alquran Surah Quraisy, “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu mereka bepergian pada musim dingin dan panas, maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah (Ka’bah) ini.”

Di waktu musim dingin mereka akan pergi ke Yaman dan Habasyah, sementara di musim panas mereka pergi ke Syam (Suriah, Palestina, Lebanon) dan Irak. Hasyim wafat dalam satu perjalanannya ke Syam di Kota Ghazah. Setelah itu, wafatlah kakeknya Abdu Syams dari Bani Umayyah.

Setelah itu, tampuk pemerintahan diberikan kepada Abdul Muthalib yang diberi julukan Abu Harits, sementara nama aslinya adalah Syaibah Al-Hamd dan Amir. Anak-anaknya adalah Abu Thalib, Abdullah, Abbas, Hamzah, Abu Jahal dan Harits.
Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar