Selasa, 14 Agustus 2012

.KERAJAAN SAUDI ARABIA ADA APA..DAN MENGAPA ..??? ........Kepala Inteligent Kerajaan Saudi Arabia...Pangeran Bandar Tewas.....????>>....>>....Harga Bagi Sebuah Pengkhianatan..???.>>..Pangeran Bandar baru saja dilantik menjadi Ketua Dinas Intelijen Saudi pada 24 Juli: promosi yang disebut-sebut sebagai hadiah karena keberhasilannya mengorganisir serangan di Damaskus pada 18 Juli lalu. Dinas Intelijen Saudi, dengan dukungan logistik dari CIA, berhasil meledakkan Markas Keamanan Nasional Suriah yang sedang menggelar pertemuan darurat membahas krisis..>> Operasi itu bersandi “Damascus Volcano” yang menjadi sinyal untuk serangan massif kelompok-kelompok pemberontak menuju ibukota oleh para teroris asing khususnya yang berasal dari Yordania..>>...Jenderal Assef Chaoukat, Daoud Rajha dan Hassan Tourkmani tewas ditempat. Jenderal Amin Hicham Ikhtiar meninggal tak lama karena parahnya luka yang diderita....>>..Pembalasan langsung oleh Suriah... Al-Fajr Press melaporkan, pada tanggal 26 Juli, terjadi ledakan di Markas Intelijen Arab Saudi dan disebutkan bahwa Wakil Ketua Dinas Intelijen Arab Saudi tewas di tempat. Voltaire Network menyebutkan bahwa Bandar bin Sultan bin Abdul Aziz, juga menjadi target dalam pengeboman tersebut. Dia mengalami luka parah dan meninggal dunia...>>...Bandar adalah orang kepercayaan mendiang Raja Fahd. Bandar menjabat sebagai Duta Besar Arab Saudi di Washington (1983-2005). Ia sangat akrab dengan George H. Bush (kala itu Wakil Presiden Amerika Serikat), dan bahkan yang menganggapnya sebagai “anak angkat.” Bush bahkan mendorong dunia pers AS menjulukinya “Bandar Bush”...>>...Hal menarik dari pengalaman pribadinya adalah bahwa berurusan dengan politisi itu sangat sulit. Katanya lain di mulut ketika bicara di publik, lain pula ketika bicara private. Misalnya para pemimpin Arab bilang tidak mendukung serbuan ke Irak tapi ketika bicara secara pribadi lain lagi bunyinya. Tak mengherankan ketika Perang Irak banyak negara sekitar Irak menyediakan pangkalan militer dan ijin terbang pesawat tempur Amerika dkk guna menghajar Irak...>>..Meraih political power sangat kokoh memasuki jaman Presiden Bill Clinton, Goerge HW Bush dan Goerge H Bush. Hubungan istimewanya dengan keluarga Bush sudah seperti keluarga sendiri. Tak heran muncul julukan “Bandar-Bush”, “House of Bush house of Saud”, dll. Tak hanya urusan damai Israel-Palestina, bahkan perang Irak pun tak luput dari “nasihat” Pangeran bandar. Saddam Husein di mata Pangeran Bandar adalah sosok berbahaya setelah terindikasi akan mencaplok Saudi ketika menyerbu Kuwait. Maka dia sangat antusias untuk menggulingkan Saddam. Dengan pertimbangan bahwa bagi orang-orang seperti Saddam adalah pasti menyimpan rencana untuk mengeyahkan siapapun yang mempermalukannya di Perang Teluk. Maka “sebelum dibunuh, bunuh duluan”, kira-kira seperti itu pandangan Bandar atas issue Irak-Saddam...>>...“Pada akhirnya siapa yang mampu menyerahkan dialah yang memenangkan pertempuran*), ” kata Sultan Bandar kepada Elia Walsh untuk menjelaskan perannnya sebagai negosiator kelas satu antar pemimpin dunia dengan mengantongi kartu 5 presiden Amerika...>>.... Semua lupa bahwa ....masa yang suatu saat akan berakhir juga...siapapun dia..???

Pangeran Bandar Tewas Harga Bagi Sebuah  Pengkhianatan


http://satuislam.wordpress.com/2012/08/03/pangeran-bandar-tewas-harga-bagi-sebuah-pengkhiantan/
Meskipun belum dikonfirmasikan oleh pemerintah Saudi, kematian Pangeran Bandar bin Sultan bin Abdulaziz al-Saud dibenarkan oleh Voltaire Network mengutip sumber-sumber tidak resmi.

Pangeran Bandar baru saja dilantik menjadi Ketua Dinas Intelijen Saudi pada 24 Juli: promosi yang disebut-sebut sebagai hadiah karena keberhasilannya mengorganisir serangan di Damaskus pada 18 Juli lalu. Dinas Intelijen Saudi, dengan dukungan logistik dari CIA, berhasil meledakkan Markas Keamanan Nasional Suriah yang sedang menggelar pertemuan darurat membahas krisis.

Jenderal Assef Chaoukat, Daoud Rajha dan Hassan Tourkmani tewas ditempat. Jenderal Amin Hicham Ikhtiar meninggal tak lama karena parahnya luka yang diderita.

Operasi itu bersandi “Damascus Volcano” yang menjadi sinyal untuk serangan massif kelompok-kelompok pemberontak menuju ibukota oleh para teroris asing khususnya yang berasal dari Yordania.

Al-Fajr Press melaporkan, pada tanggal 26 Juli, terjadi ledakan di Markas Intelijen Arab Saudi dan disebutkan bahwa Wakil Ketua Dinas Intelijen Arab Saudi tewas di tempat.

Voltaire Network menyebutkan bahwa Bandar bin Sultan bin Abdul Aziz, juga menjadi target dalam pengeboman tersebut. Dia mengalami luka parah dan meninggal dunia.

Hingga kini belum ada pejabat Saudi yang membenarkan atau menepis pemberitaan tersebut.
Voltaire Network pada tanggal 29 Juli dalam sebuah laporan analisanya mengutip sumber-sumber tidak resmi telah mengkonfirmasikan kematian Bandar bin Sultan. Akan tetapi Voltaire Network tidak menyebutkan identitas sumbernya.

Voltaire menulis, “Para pejabat Saudi hingga kini tidak memberikan pernyataan tentang hal ini, akan tetapi Voltaire Network melalui kanal tidak resmi yakin bahwa Bandar bin Sultan mati.”

Pangeran Bandar bin Sultan, 63 tahun, memiliki kepribadian sinis. Dia adalah putra Pangeran Sultan (menteri pertahanan yang tidak tergantikan dari tahun 1963 hingga kematiannya pada tahun 2011).

Bandar adalah orang kepercayaan mendiang Raja Fahd. Bandar menjabat sebagai Duta Besar Arab Saudi di Washington (1983-2005). Ia sangat akrab dengan George H. Bush (kala itu Wakil Presiden Amerika Serikat), dan bahkan yang menganggapnya sebagai “anak angkat.” Bush bahkan mendorong dunia pers AS menjulukinya “Bandar Bush”.

Bandar disebut-sebut memiliki kejeniusan luar biasa dalam aksi-aksi spionase. Dia pula yang menjadi yang menjadi broker kesepakatan senjata al-Yamamah, dan meraup keuntungan lebih dari satu miliar pound, menurut sumber pejabat Inggris. Dia kemudian menggunakan uang tersebut dan dana yang dimilikinya untuk membiayai aktivitas kelompok-kelompok jihad di berbagai dunia, termasuk AlQaeda.

Pada awal 2010, Pangeran Bandar berusaha menggulingkan Raja Abdullah untuk mengantarkan ayahnya ke atas tahta. Plotnya gagal dan ia diasingkan dari kerajaan. Namun kesehatan Raja Abdullah memburuk dan ia kembali ke Arab Saudi setahun kemudian.(IRIB Indonesia/MZ)
http://indonesian.irib.ir/fokus/-/asset_publisher/v5Xe/content/pangeran-bandar-bin-sultan-tewas-akibat-pembalasan-suriah

Tokoh Lobi Amerika Pangeran Bandar Kepala Intelijen Saudi

 
Pangeran Bandar bin Sultan ditunjuk sebagai Kepala Intelijen Arab Saudi yang baru. Pangeran Bandar bin Sultan, yang pernah menduduki pos di Washington, sebagai duta besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat ini, selanjutnya akan menjadi orang yang sangat penting di negeri yang kaya minyak itu.
Pangeran Bandar bin Sultan anak mendiang Pangeran Sultan, yang baru saja meninggal. Pangeran Sultan yang menjadi putera mahkota Arab Saudi itu, meninggal di Amerika Serikat, dan kemudian disusul Pangeran Salman yang juga meninggal.

Pangeran Bandar bin Sultan, sangat dikenal di kalangan pejabat-pejabat puncak Amerika Serikat, termasuk para pejabat di Gedung Putih. Bandar bin Sultan, memiliki lobbi yang luas, termasuk dibidang intelijen Amerika, CIA, dan selama ini menjadi “jembatan” antara Saudi dengan Washington. Penunjukkan Bandar bin Sultan, ditengah-tengah krisis antara Amerika Serikat, Israel dengan Iran, serta meluasnya konflik di Suriah, termasuk memuncaknya pengaruh Syiah di Yaman.

Bandar bin Sultan, yang nampak ramah, kini berumur 63, dan menghilang sejak meninggalkan Washington, dipanggil pulang oleh Raja Abdullah pada 2005. Bandar bin Sultan, tidak main-main, tokoh yang sudah menjadi Dubes di Washington selama lebih 22 tahun, dan dengan diangkatnya Bandar bin Sultan, maka tokoh baru dibidang intelijen akan segera masuk dalam kancah krisis yang akan mengubah permainan Timur Tengah. Ini akan semakin paralel antara kepentingan Amerika Serikat dan Arab Saudi dengan situasi regional di Timur Tengah.

“Dia hanya orang yang tepat untuk saat yang tepat di Saudi. Dia memiliki kebijakan luar negeri lebih hawkish (keras), dan dia adalah elang terkemuka pusat kekuasaan Arab Saudi,” kata David Ottaway, penulis biografi Bandar dan sarjana senior di Woodrow Wilson Center di Washington.

Bandar bin Sultan dinilai sebagai sekutu terdekat Amerika Serikat, dan pendukung kuat dari pemberontak Suriah, yang sekarang berjuang merebut Damaskus, dan menggulingkan Presiden Bashar al-Assad. Bandar bin Sultan memperbaiki hubungan dengan Washington setelah perselisihan atas pemberontakan Arab tahun lalu.

“Bandar cukup agresif, sama sekali tidak seperti seorang diplomat Saudi khas berhati-hati. Jika tujuannya adalah untuk membawa Bashar segera turun, dia akan memiliki kekuasaan dan kemampuan yang kuat untuk melakukan apa yang dia pikir perlu. Ia suka menerima perintah dan melaksanakannya saat ia melihat waktu yang tepat, “kata Jamal Khashoggi, seorang komentator Saudi berpengaruh.

Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Saud al-Faisal telah dijelaskan mempersenjatai para pemberontak sebagai “ide yang sangat bagus.”

Seperti krisis Suriah memasuki tahap akhir dari usaha penggulingan terhadap BAshar al-Assad, yang Syiah Alawiyyin, dan Amerika Serikat, nampaknya tidak lagi sabar, dan ingin segera Bashar al-Assad pergi. Keputusan Raja Abdullah mengangkat Pangeran Bandar bin Sultan sebagai kepala intelijen Saudi, sebagai langkah yang sangat menentuk terhadap situasi politik di Suriah.

Kematian tokoh-tokoh penting dibidang keamanan Suriah, seperti menteri pertahanan, Jenderal Daoud Rajiha, Wakil Menteri Pertahanan Assef Shawqat, yang merupakan ipar dari Presiden Bashar al-Assad, serta mantan menteri pertahan Suriah, Jenderal Turkomani, serta menteri dalam negeri, Ibrahim Shaar, menandakan akan akhir perjalanan kekuasaan Assad. Bersamaan dengan pergantian kepala intelijen Arab Saudi, yang sekarang diduduki Pangeran Bandar bin Sultan.
http://untukbangsa.com/2012/07/22/tokoh-lobi-amerika-pangeran-bandar-kepala-intelijen-saudi/

Tewasnya Juragan Teroris

Suriah Hanya Butuh Satu Minggu untuk Tewaskan Bandar bin Sultan

 
Operasi teroris ini, yang disebut “Damaskus Volcano” adalah sinyal untuk serangan di ibukota yang dilakukan oleh segerombolan tentara bayaran, terutama mereka yang berasal dari Yordania.
Meskipun belum diumumkan secara resmi oleh pemerintah Saudi, namun kematian Pangeran Bandar bin Sultan bin Abdulaziz Al Saud telah dikonfirmasi oleh Jaringan situs tidak resmi Voltaire yang berbasis di Paris, Perancis.

Pangeran Bandar yang baru saja ditunjuk menjadi kepala intelijen kerajaan Saudi pada 24 Juli lalu sebagai hadiah dan promosi karena telah mengorganisir serangan mematikan di Damaskus pada 18 Juli lalu. Pemerintah Saudi, dengan dukungan logistik dari CIA, berhasil meledakkan markas besar National Security Suriah dalam pertemuan penting pejabat Suriah. Dalam pemboman yang diotaki oleh Bandar bin Sutan itu, Jenderal Assef Chaoukat, Daoud Rajha dan Hassan Tourkmani tewas seketika. Sementara Jenderal Amin Hicham Ikhtiar meninggal tak lama setelah mengalami luka-luka parah. Operasi teroris ini, yang disebut “Damaskus Volcano” adalah sinyal untuk serangan di ibukota yang dilakukan oleh segerombolan tentara bayaran, terutama mereka yang berasal dari Yordania.

Pangeran Bandar sendiri menjadi sasaran serangan bom pada 26 Juli lalu dan kemudian tewas karena luka-luka parah yang dideritanya.

Dalam situs Voltaire Bandar 63 tahun disebut-sebut sebagai orang yang berkepribadian cemerlang dan sinis. Dia adalah anak dari Pangeran Sultan (menteri pertahanan yang tewas pada tahun 2011). Sebagai orang kepercayaan Raja Fahd waktu itu, Bandar menjadi duta besar untuk Washington selama pemerintahan Fahd (1983-2005). Ia menjadi teman dekat George H. Bush (waktu itu Wakil Presiden Amerika Serikat), yang menganggap dia sebagai “anak angkat,”. Karena kedekatan inilah mendorong pers AS menjuluki dia sebagai “Bandar Bush”.

Dia termasuk pangeran yang jenius dan luar biasa dalam berbagai aksi rahasia, ia juga terlibat dalam skandal suap ratusan juta dollar AS dari kontraktor Inggris dengan sepengetahuan penuh Kementerian Pertahanan Inggris. BBC mengungkapkan skandal tersebut memalukan untuk pertama kalinya itu pada tahun 2007. Dia juga menjadi otak dan sumber finansial kegiatan kelompok-kelompok teroris di seluruh dunia, termasuk Al Qaeda.

Pada awal 2010, Pangeran Bandar berusaha menggulingkan Raja Abdullah untuk menempatkan ayahnya sendiri sebagai raja. Namun kudeta tersebut gagal dan ia dibuang dari lingkar kerajaan, tetapi karena kesehatan raja semakin menurun memungkinkan dia untuk kembali ke Arab Saudi setahun kemudian. Sejak kematian Pangeran Sultan, ayahnya pada Oktober 2011, ia menjadi pemimpin de facto klan Sudairi, sayap hawkish dalam keluarga kerajaan.

Berita kematiannya kini merupakan pukulan serius untuk seluruh sistem operasu rahasia Barat di dunia Muslim. Dan Suriah hanya butuh satu minggu untuk membalas operasi pembalasan spektakuler. [Islam Times/on]
http://www.islamtimes.org/vdcjttevmuqeomz.bnfu.html

Misteri kematian kepala intelijen Saudi

Misteri kematian kepala intelijen Saudi
Pangeran Bandar bin Sultan bersama Presiden Amerika Serikat George Walker Bush. (wikipedia.org)
Reporter: Faisal Assegaf

http://www.merdeka.com/dunia/misteri-kematian-kepala-intelijen-saudi.html

Washington DC, Tel Aviv, dan ibu-ibu kota di Timur Tengah kini kasak-kusuk mencari tahu kebenaran berita kepala intelijen Arab Saudi Pangeran Bandar bin Sultan terbunuh. Sampai saat ini, pihak Kerajaan Saudi masih bungkam.

Bahkan, menurut situs debka.com, Selasa (31/7), pemerintah Negeri Petro Dolar itu juga berhasil mengunci rapat-rapat peristiwa ledakan bom di markas intelijen mereka di Ibu Kota Riyadh, Senin pekan lalu. Insiden itu menewaskan Wakil Kepala Intelijen Saudi Mashaal al-Qarni. Sejak itu, Pangeran Bandar tidak ketahuan nasibnya.

Sebuah laporan belum bisa dibuktikan kebenarannya mengungkapkan Pangeran Bandar cedera serius dalam ledakan itu. Tim dokter yang merawat dia akhirnya pasrah. Nyawa lelaki 63 tahun ini tidak tertolong lagi.

Kematian pangeran bandar ini terkait dengan serangan bunuh diri di kantor Kementerian Dalam Negeri Suriah di Ibu Kota Damaskus, 18 Juli lalu. Kejadian itu menewaskan empat orang dekat Presiden Basyar al-Assad, termasuk saudara iparnya.
Sehari setelah insiden itu, Raja Abdullah bin Abdul Aziz menunjuk Pangeran Bandar buat memimpin dinas intelijen. Empat hari setelah pengangkatan itu, mantan duta besar Saudi buat Amerika serikat ini menjadi korban dan akhirnya terbunuh akibat ledakan di kantornya.

Saudi pun berhasil mengunci rapat-rapat peristiwa ledakan itu dari endusan media. Tak satu pun media-media besar internasional memberitakan kematian Pangeran Bandar dan ledakan di markas intelijen Saudi.

Sejumlah pihak menuding itu merupakan serangan balasan dari Suriah. Namun pihak intelijen Israel sangsi tim pembunuh dari Suriah bisa mendekati lokasi terkenal sangat ketat pengamanannya itu.

Seperti biasa, rezim Zionis itu menunjuk Iran sebagai dalang. Maklum saja, Negeri Mullah itu selama ini menyokong rezim Assad dari sekte Syaih Alawite. Misi balasan itu dilakoni dengan menyewa pengebom bunuh diri dari jaringan Al-Qaidah.

Teka-teki masih belum terjawab soal kematian Pangeran Bandar. Riyadh masih mengunci rapat-rapat informasi sangat penting itu. Yang pasti, ledakan 18 Juli di Damaskus telah membuat konflik bersenjata di Suriah melebar ke luar hingga Saudi, Iran, dan Turki.
[fas]

Kepala Intelijen Saudi Arabia Tewas, Suriah Makin Membara?

REP | 01 August 2012 | 18:37
http://luar-negeri.kompasiana.com/2012/08/01/kepala-intelijen-saudi-arabia-tewas-suriah-makin-membara/

Dari berbagai situs dunia, informasi tidak resmi yang datang  BUKAN dari pemerintahan kerajaan Arab Saudi (KSA) menyebutkan bahwa pangeran Bandar (63) yang dituduh oleh Suriah sebagai otak dibalik serangan 18 Juli di Damaskus telah terbunuh oleh jaringan Suriah di pusat markas Intelijennya sendiri di Riyadh pada 26 Juli 2012 atau berselang seminggu setelah peristiwa “Damascus Volcano.”

Siapakah Pangeran Bandar?

Pangeran Bandar bin Sultan adalah anak kandung salah satu menteri pertahanan sejati KSA yaitu Sultan bin Abdul Aziz  yang menjadi Menteri Pertahanan KSA  hampir lima dekade, dari 1963 - 2011 sampai kematiannya pada usia 80 tahun di sebuah rumah sakit terkenal di New York, AS.

Sultan bin Abdul Azis adalah salah satu menteri yang paling dipercaya dan loyal terhadap kepemimpinan raja Fahd. Posisi dan kepercayaan ini tidaklah heran mengingat sebenarnya Sultan bin Abdul Azis adalah saudara tiri Raja KSA sekarang, Raja Abdullah. Karena itu juga tak heran, Sultan bin Abdul Azin mendapat gelar pangeran.

Entah ada kaitannya dengan hal itu apa tidak, ternyata posisi loyal Pangeran Sultan juga berimbas ke Bandar, anaknya. Karena turunan dari ayahnya, ia juga mendapat gelar pangeran sehingga disebut dengan pangeran Bandar bin Abdul Aziz al Saud.

Perjalanan karier pangeran Bandar memang merambat sangat cepat. Ia akrab dengan dunia Barat terutama dengan AS tak lepas dari kehangatan hubungan kerjasama petinggi dan pejabat AS dengan ayahnya Menteri Pertahanan (abadi) KSA dari era raja Faisal hingga raja Abdullah.

Awal melejitnya Bandar terutama pada masa pemerintahan almarhum raja Fahd, ketika ia dipercayakan untuk melobi AS  terhadap persetujuan pembelian sejumlah pesawat tempur canggih AS (F-15) pada tahun 1978. Kala itu, Jimmy Carter menaruh perhatian besar terhadap peranan pangeran ini dalam percaturan politik AS dan kariernya hingga menyetujui minat KSA membeli pesawat tempur tersebut.

Setelah sukses menjadi pelobi AS, berikutnya pada tahun 1982 raja Fahd memberi kepercayaan padanya sebagai atase militer di Kedutaan Besar KSA untuk AS.

Baru setahun jadi atase militer, setahun kemudian ia dinobatkan sebagai dutabesar luar biasa dan penuh KSA  untuk AS pada 1983 - 2005. Pada jabatan hampir abadi ini, ia menjadi dutabesar untuk AS hampir 5 dekade lamanya. Dengan demikian, pangeran Bandar telah berinteraksi dengan 5 presiden AS dari Jimmy Carter ke Ronald Reagen hingga Barack Obama sebelum akhirnya ia ditunjuk sebagai Sekjen Dewan Keamanan Nasional pada 16 Oktober 2005 oleh raja Fahd hingga 2009.

Kiprah pangeran Bandar selanjutnya adalah dalam kaitan pelatihan dan pembentukan jaringan Al-Qaeda di beberapa tempat di Timur Tengah. Selain itu, peranan pangeran Bandar terhadap kepentingan program Globalisasi AS baik dalam kawasan regional di timur tengah maupun dunia bukanlah rahasia umum lagi.

Sejak itu, berbagai rumor tentang pangeran bandar datang silih berganti. Kedekatannya dengan George W Bush terjadi sejak Bush menjabat wapres AS. Begitu dekatnya mereka sehingga George HW Bush (Bush Senior) saat menjabat sebagai presiden AS menyebut pangeran ini sebagai anak angkatnya. Tak heran, pangeran Bandar mendapat sebutan akrab yang baru “Bandar Bush.”

Performa pangeran Bandar telah umum diketahui di KSA, misalnya tatkala ia memalsukan tahun kelahirannya. Selain itu tatkala masuk akademi angkatan udara KSA ia juga sempat diperdebatkan usianya, namun akhirnya bisa masuk dan sukes menjalani pendidikan dan latihan pada akademi bergengsi tersebut.

Pangeran Bandar juga terkenal memiliki kemampuan bernegosiasi yang amat baik. Tak heran kawan dan lawan pun bisa didekatinya dalam kondisi apapun. Untuk hal ini, kompasianer kita “kang Ragile” menurunkan tulisan bergizinya tentang sosok atraktif tersebut, di sini : pangeran-bandar-maestro-perang-dan-damai-modern-dari-saudi/

Melihat reputasinya yang cemerlang dalam dunia intelijen dan lobi khusus, ia pun dinobatkan sebagai Direktur Jendral Badan Intelijen Saudi mulai 19 Juli 2012 atau tepat sehari setelah peristiwa Volcano Damascus yang menewaskan kapala intelijen Suriah dan sejumlah petinggi lainnya.
Kuat dugaan yang santer terdengar dari beberapa media massa dan portal berita di dunia maya tentang sosok ini bahwa penunjukan pangeran Bandar sebagai kepala intelijen KSA erat kaitannya dengan program pembantaian massal terhadap petinggi militer Suriah adalah andil dan kerjasama yang rapi dan rahasia  antara logistik CIA dengan sejumlah pasukan bayaran dari Yordania yang diketuai oleh pangeran Bandar. Keterkaitan ini disampaikan oleh salah satu situ berita Israel “Ibrani Mako” berbahasa Jewish dan sebuah situs berita lainnya,  Voltairenet. (sumber : http://www.voltairenet.org/Syria-reportedly-eliminated-Bandar).

Peristiwa serangan bom bunuh diri yang diduga dilakukan oleh jaringan Suriah terhadap pangeran Bandar  di markas besar inteleien Saudi yang memiliki sejumlah reputasi hebat dan luar biasa punya jaringan keamanan dengan berbagai kalangan itu terjadi hanya selang seminggu dari peristiwa di Damascus.

Pemerintah KSA sendiri hingga hari ini masih menutup rapat informasi tersebut, bahkan beberapa portal berita dunia yang sering menjadi acuan berita internasional pun seperti The NY Times, Herald Tribune, The Guardian, CNN dan lainnya tidak ditemukan konfirmasi berita yang beredar tentang nasib  tragis pangeran Bandar tersebut.

Jika serangan balasan oleh jaringan Suriah ini benar-benar terjadi, ini artinya Arab Saudi sudah masuk secara terang-terangan dalam perangkap perang Suriah setelah Turki. Setelah itu masuklah  Iran dengan terang-terangan dan di susul sejumlah negara Arab lainnya yang didominasi oleh kaum Sunni.

Sementara itu dari dataran tinggi Golan yang menjadi matanya Israel, sejumlah wisatawan Israel bahkan Menteri Pertahanan Ehud Barak dilaporkan menyaksikan pandangan mata langsung pertempuran di perbatasan terdekat di sekitar dataran tinggi Golan. (Sumber : Di sini).
Jadi sebenarnya  siapa yang berpengaruh di tanah yang terus begolak dari masa ke masa itu dari jaman para nabi-nabi sejak dahulu kala?
Salam Kompasiana
abanggeutanyo

Pangeran Bandar: Maestro Perang dan Damai Modern dari Saudi

HL | 29 December 2010 | 00:10
http://politik.kompasiana.com/2010/12/29/pangeran-bandar-maestro-perang-dan-damai-modern-dari-saudi 
Bandar Bin Sultan (wikipedia)
Bandar Bin Sultan (wikipedia)

Pada akhirnya siapa yang mampu menyerahkan dialah yang memenangkan pertempuran*), ” kata Sultan Bandar kepada Elia Walsh untuk menjelaskan perannnya sebagai negosiator kelas satu antar pemimpin dunia dengan mengantongi kartu 5 presiden Amerika.

Nama sosok sentral power game dan power broker ini kurang begitu dikenal. Namun perannya sangat dashsyat dalam kurun waktu puluhan tahun sejak 1983-2005. Ketika kebanyakan menyorot figur sentral Amerika, Inggris dan Israel, pengeran dari Arab Saudi ini nyaris tak terjamah media. Kekuatan lobby, cash money dan minyak Arab diyakini mampu melindunginya dari cecaran papparazi.

Perjalanan hidupnya tergolong unik. Bernama lengkap Pangeran Bandar bin Sultan binAbdul Aziz Al-Saud lahir  2 Maret 1949 di Taif , Arab Saudi . Dilahirkan dari kandungan ibunya, Khizaran,  seorang hamba milik ayahnya, Pangeran Sultan Bin Abdul Aziz Al-Saud. Khizaran adalah hamba berkulit gelap dari Afrika. Pangeran Bandar menyebut ibunya istri selir. Bandar kecil tinggal bersama ibu dan bibinya, dan setelah usia 11 tahun baru gabung di istana. Dialah anak tunggal Khizaran yang dinikahi sang ayah ketika masih gadis usia 16 tahun.

Bandar diakui sebagai keluarga kerajaan  karena sang ayah mengakuinya dan sang kakek yang memberinya nama Sultan Bandar. Perlu dicatat bahwa dalam tradisi Arab Saudi semua anak lelaki baik anak sah maupun “tidak sah” tetap diakui dan dinafkahi sepenuhnya oleh sang ayah.

Untuk menyenangkan sang ayah, Bandar pergi ke Inggris di akhir remaja untuk belajar di Royal Air Force College, Cranwell . Dia ditugaskan sebagai letnan di Royal Saudi Air Force , di mana dia menjabat selama tujuh belas tahun. Kemudian Dia menjadi  pilot tempur terlatih, dan telah menerbangkan sejumlah pesawat tempur . Ia menerima pelatihan tambahan di Maxwell Air Force Base dan Industri College Angkatan Bersenjata. Kemudian menyandang gelar Master Internasional Kebijakan Publik di Paul H. Nitze School of Advanced International Studies di Johns Hopkins University.

Karir Bandar  sebagai pilot itu berakhir pada tahun 1977, ketika ia mendaratkan jet hingga menabrak dan mengalami cedera punggung yang parah. 

Mulanya Pangeran Bandar mengakui bahwa dirinya sangat buta politik. Namun sejak mendapat tugas dari Raja Saudi untuk menjadi utusan khusus di Amerika menemukan bahwa dunia politik sangat mengagumkan dan membuatnya ketagihan. Mula-mula dia bersentuhan dengan Presiden Jimmy Carter untuk menggolkan penjualan pesawat F15 untuk Saudi yang terhalang Kongress. Karirnya meningkat menjadi atase militer Dubes Saudi untuk Amerika. Jaman Presiden Ronald Reagen di Amerika dan Raja Fahd di Saudi mengukuhkan peran pentingnya sebagai negosiator, lobbyist, dan diplomat ulung. Para analis bahkan menempatkan pangeran Bandar sebagai Raja Saudi secara de facto. Mengingat nyaris semua perkara penting global jatuh pada keputusan Pangeran Bandar.

Pengaruhnya tidak terbatas di Amerika tapi meluas sampai ke Inggris, Rusia, China, apalagi Timur Tengah. Pembelian pesawat tempur siluman AWACS untuk Saudi pun lolos dari sergapan kongres dan Israel berkat kecanggihan Bandar. Malah pernah nekad beli senjata berkepala nuklir dari China dengan mengelabuhi CIA. Juga terlibat skandal penjualan senjata Iran-Contra di mana Bandar mengatur aliran fulus kepada kelompok Contra Nikaragua.

Meraih political power sangat kokoh memasuki jaman Presiden Bill Clinton, Goerge HW Bush dan Goerge H Bush. Hubungan istimewanya dengan keluarga Bush sudah seperti keluarga sendiri. Tak heran muncul julukan “Bandar-Bush”, “House of Bush house of Saud”, dll. Tak hanya urusan damai Israel-Palestina, bahkan perang Irak pun tak luput dari “nasihat” Pangeran bandar. Saddam Husein di mata Pangeran Bandar  adalah sosok berbahaya setelah terindikasi akan mencaplok Saudi ketika menyerbu Kuwait. Maka dia sangat antusias untuk menggulingkan Saddam. Dengan pertimbangan bahwa bagi orang-orang seperti Saddam adalah pasti menyimpan rencana untuk mengeyahkan siapapun yang mempermalukannya di Perang Teluk. Maka “sebelum dibunuh, bunuh duluan”, kira-kira seperti itu pandangan Bandar atas issue Irak-Saddam.

Hal menarik dari pengalaman pribadinya adalah bahwa berurusan dengan politisi itu sangat sulit. Katanya lain di mulut ketika bicara di publik, lain pula ketika bicara private. Misalnya para pemimpin Arab bilang tidak mendukung serbuan ke Irak tapi ketika bicara secara pribadi lain lagi bunyinya. Tak mengherankan ketika Perang Irak banyak negara sekitar Irak menyediakan pangkalan militer dan ijin terbang pesawat tempur Amerika dkk guna menghajar Irak.

Demikian pula soal Ossma bin Laden dengan Al-Qaeda. Di mata Washington mereka lebih merupakan ancaman bagi Saudi daripada ancaman untuk Barat. Mengingat target utama Ossama dkk adalah mendongkel dinasti Saudi yang dianggap sangat pro Amerika sementara rakyat Saudi anti Amerika. Namun kesamaan kepentingan memadukan Riyadh dengan Washington untuk menghabisi Ossama dan konco-konconya.

Tinggal di Amerika, setidaknya Bandar sudah kenyang pengalaman melakukan deal politik  kelas berat dengan 5 Presiden Amerika, para Sekretaris Negara, Penasehat Keamanan, Penguasa media dan ratusan politisi serakah di Amerika. Kenyang pula melanglang buana dari satu negara ke negara lainnya untuk melakukan deal politik dengan para pemimpin negara, deal-deal politik di belakang layar untuk memutuskan “perang atau damai” di seluruh wilayah dunia.

Jabatan resmi Pangeran Bandar adalah Atase Militer sebelum nanjak jadi Dubes Saudi untuk Amrika 1983-2005.  Pasca Tragedi 11 September dan Perang Irak membawanya mudik ke Saudi. Kemudian  diangkat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional oleh Raja Abdullah bin Abdul Aziz Al-Saud pada tanggal 16 Oktober 2005. Lalu diperpanjang 4 tahun sejak 3 sep 2009. Jabatan Dubes untuk Amerika diganti oleh Pangeran Turki.


The Prince by William Simpon (jashanmalbooks.com)
The Prince by William Simpon
(jashanmalbooks.com)
Kontroversi dan Spekulasi. Kepulangannya yang mendadak dengan undur diri dari jabatan Dubes Amerika menimbulkan reaksi beragam. Kebetulan Raja Fahd sakit keras dan ayah Pangeran Bandar yaitu Pangeran Sultan adalah salah satu calon pengganti raja. Mengingat pendiri Saudi yaitu Raja Abdul Aziz mewasiatkan agar jabatan raja digilir untuk anak-anaknya sebelum jatuh ke cucu-cucu. Spekulasi umum adalah bahwa Pangeran Bandar berambisi untuk meraih jabatan Raja mengingat ayahnda dan paman-pamannya sudah berusia di atas 80 tahun.

Ketika Pengeran Abdullah naik jadi raja menggantikan Raja Fahd mucul rumor baru. Kebetulan sejak 2008 Pangeran Bandar lenyap dari publik. Berita dari Teheran meyakini bahwa Pangeran Bandar dikenakan tahanan rumah atas tuduhan makar melakukan upaya kudeta. Analis barat menyakini bahwa Bandar “dibuang” ke rumah sakit di Amerika untuk berobat dengan alasan sakit yang tak pernah dijelaskan.

Yang lebih menyesakkan adalah bahwa Pangeran Bandar dikejar Inggris atas skandal korupsi dari perjanjian Al-Yamamah dengan perusahaan negera Inggris di mana dia dituding mencatut milyaran dollar ke kantong pribadi untuk beli jet pribadi Airbus A340.

Penutup. Untuk menilik sisi lain dari dan sepak terjang serta manuver politik kelas berat ala Pangeran Bandar bisa Anda baca pada buku yang berjudul “The Prince: The Secret Story of the World’s Most Intriguing Royal, Prince Bandar bin Sultan ” oleh William Simpson. Si Penulis adalah teman sekelasnya   the Royal Air Force College, Cranwell.
*) Teks asli Sultan Bandar: “At the end of the day, who can deliver is who wins the battle.
***
Salam Tuljaenaks,
RAGILE 29des2010

Prince Bandar: From a Pilot’s G-Suit to a Political Three-Piece

August 4, 2012
http://politik.kompasiana.com/2010/12/29/pangeran-bandar-maestro-perang-dan-damai-modern-dari-saudi
Abdulateef Al-Mulhim | Arab News
Abdulateef Al-Mulhim
Abdulateef Al-Mulhim, Commodore, Royal Saudi Navy (Retired)

The first time I met Prince Bandar bin Sultan was in 1982 at the Naval Amphibious Base in Norfolk, Virginia. He was the Saudi defense attaché and was visiting some Saudi Navy ships before they sailed to Saudi Arabia. Since then, I have met him twice more and it is very hard not to admire him.

He was born in Taif on March 2, 1949. In 1968, he graduated from the British Royal Air Force College at Cranwell, England. He had flown numerous fighter aircraft for the Royal Saudi Air Force. During his 17-year career, he attended several postgraduate schools in the United States, taking courses at Maxwell Air Force Base in Montgomery, Alabama, and also at the Industrial College of the Armed Forces at Fort McNair in the Washington D.C. area.  Later on, he received his Master’s degree from John Hopkins University School of Advanced International Studies in Washington D.C. in 1980.

Prince Bandar started to become a politician while wearing the air force uniform when carrying out special assignments during the debates between the U.S. administration and Congress concerning the sale of F-15s in 1978 and AWACs in the 1980′s to Saudi Arabia.

In 1982 he was assigned to Washington D.C. as the Kingdom’s defense attaché. About one year later he was appointed the Saudi ambassador to Washington and presented his credentials to President Ronald Reagan on October 24, 1983.

In time he became the “dean of the diplomatic corps.” His talent as a diplomat, his discipline as a former military man, his style, his sense of humor, his straight arrow approach to matters and unaccented English gave him an edge in the political field.

On one occasion I heard his name being mentioned even though he had nothing to do with the event in question  It was during a visit by Irish Sinn Fein leader Gerry Adams to the US in December 2001. So, what does the Irish politician has to do with Prince Bandar? I heard the answer from an Irish politician who I met in Dubai many years later.

During the time Prince Bandar was in Washington, he had more TV interviews than any other ambassador. And he used his talent as speaker to catch the ear of American audiences from every political party. His English was very clear and unaccented.

A short time later Adams was in the US to resolve some political issues and to gauge the US reaction to the IRA’s decision to stop its violent activities. Sinn Fein needed the American public to listen to them. During one of Adams’ TV interviews, many in the audience had difficulty understanding the Irishman even though his native language is English. If memory serves me right, some of his speeches were subtitled because many Americans and other audiences couldn’t understand his Irish accent. On the same US trip he announced his intention to visit Cuba. This decision wasn’t welcomed in America, England and Ireland.

Years later when I met the Irish diplomat in Dubai, he said many observers wished they could have had Prince Bandar as the US media spokesman because of his English language capability and his public relations skills.

And, the diplomat added, it was embarrassing to see a Saudi prince being understood by the American audience in comparison to Adams, whose shared mother tongue wasn’t understood.  He also said he wished Adams had Prince Bandar’s experience in how to manage the Washington political minefield and avoid the Cuba fiasco. Prince Bander had solved many issues and was able to do it in a very smooth way.

One of the most challenging issues was the Lockerbie incident. He gave guarantees at the time to the Libyan people and leadership that the country’s integrity would not be harmed regardless of the outcome of the mediation efforts. Many Libyan officials didn’t believe Prince Bandar could deliver, but he did. And with the efforts of Saudi Arabia and South Africa, the Libyan people were freed from the agony of the incident.

Now Prince Bandar has been appointed by Custodian of the Two Holy Mosques King Abdullah as the new Saudi intelligence chief. With this appointment, the Saudi government will force many of the so-called expert analysts in Saudi affairs to re-examine their earlier analyses of Prince Bandar. We heard many reports and questions from the outside. Can any Saudi prince take a break from the work routine? Why can’t a royal take some time off to be with his family and children?

We saw some very popular papers in Europe ask the question: Where is Bandar? All they had to do is watch Saudi TV and they would see Prince Bandar among other royals and officials chatting with each other when receiving the king.

If we Saudis can see him, then why can’t the Western think tanks see him? Prince Bander was never out of the Saudi political picture; isn’t he the new Saudi intelligence chief?

— Abdulateef Al-Mulhim is a Commodore (Retired), Royal Saudi Navy. He is a frequent contributor to the SUSRISblog. He can be contacted at: almulhimnavy@hotmail.com




1 komentar:

  1. ANEH...ANEH...
    ADA APA DENGAN ISI KEKUASAAN KERAJAAN SAUDI..???
    BANYAK RAHASIA...???

    Ada keanehan bagi umat Islam, khususnya bagi orang awam... Kerajaan Arab Saudi adalah selalu diidentikan dengan ajaran Islam dan perjuangan umat Islam...

    Tapi dalam sepak terjangnya... seperti banyak melakukan pembunuhan terhadap Umat Islam yg sedang berjuang untuk Kemerdekaan dan Kejayaan Umat Islam..
    Irak ketika perang terhadap Iran-setelah kejatuhan Syah Reza Phahlevi[dukungan AS], terkesan Saudi sepertinya sangat menyokong Irak dan Sadam Husein di-gadang2 sebagai pahlawan Arab Saudi dan dunia Arab?? Ada apa??... Konon issue syiah-sunny mulai di-hembus2kan..?? Padahal zaman Syah Reza..[yg juga rakyatnya tetap syiah]...Dan Raja2 Saudi sangat bersahabat dengan Raja Iran itu, bahkan mereka sering melakukan pertemuan2...??.. lalu ada apa..?? Kok setelah sang Raja Iran dienyahkan... kok Raja2 Arab.. men-dorong2 Irak dgn Sadam Husein sbg pemimpinnya kok didorong perang dengan Iran [yg sudah dipimpin Khomaini]..??
    Dahulu [zaman Syah Reza...issue Syiah vs Sunny gk pernah ada..] .. Tapi setelah Syah Reza tersingkir makin di-besar2kan...sampai kini..?? Bahkan kini semakin meluas disekitar kawasan Dunia Arabia..??
    Lihat Libya..Aljazair.. mereka Sunny.., tetapi Kuwait-Saudi Arabia berkomplot dengan Pemberontak menjatuhkan Khadafi..?? Tentu dibelakang ada tangan2 AS-NATO..?
    Tapi di Yaman dan Tunisia dan Mesir.. ada terkesan Saudi membela Penguasanya..

    Lain lagi di Syria- ada tangan2 Saudi-Kuwait-Turki-AS-Israel-NATO...??
    Lihat permaian maut dan korban uamt Islam di Afghanistan.. Tentara2 NATO-AS-Israel-Australia-Jepang-Korea-Jordania-Turki-Saudi vs Taliban..??
    Sungguh semakin ANEH...

    Konon Israel bisa masuk Palestina..selain memang tangan2 AS-Inggris-Eropa..juga ada tangan2 Kerajaan Saudi ikut disitu..??
    Ada apa yah dengan Kerajaan Saudi..??
    Siapa sebenarnya Penguasa Kerajaan Saudi itu..??
    Benarkah mereka yang seharusnya memimpin Saudi atau ada Tangan2 Kotor terselubung ikut berperan aktif di Negara Kerajaan Saudi itu..???
    Siapa2 mereka..??
    ANEH...ANEH...ANEH...???
    Sejarah akan membuktikan Kebenaran..Siapa2 Penjahat terhadap Umat Islam ini..
    Waspadalah..Umat Islam...

    BalasHapus