Minggu, 16 Oktober 2011

...Protes di Wall Street Menjadi Gerakan Nasional... >>> ...Protes meluas di seluruh kota Amerikas Serikat, Jumat. Sementara itu, pasukan polisi berjuang membubarkan demonstran dari taman kota dan plaza di kota Manhattan, New York. Mereka membangun gerakan protes secara nasional, sebagai bentuk penolakan mereka terhadap siatuasi ekonomi di Amerika Serikat, yang dikuasai oleh orang-orang kaya yang jumlahnya hanya 1%...... >>... Gerakan di Wall Street Menjadi Gerakan Global ...>>> .. Ada apa ini....???? Semua System dengan dasar Dusta dan Kebohongan ... pada akhirnya akan membuat ... Madharat bagi Ummat Manusia.... karena Dasar 2... Dusta dan Zhalim dan Keserakahan itu adalah Tidak Bermoral dan tidak Adil serta sangat sarat terhadap Kezholiman terhadap Kemanusiaan itu sendiri....>>> Dalam Perjudian itu ada Dusta... dan Manipulasi... >> Dan Liberalisme dan Neo Liberal itu adalah konsep dan system yang jiwanya adalah Keserakahan sekelompok Regime.. yang didukung oleh orang2 Kaya2 Serakah juga...>>> .... Insya Allah semua yang jahat akan hancur karena benar2 bertentangan dengan Peri Keadilan dan Peri-Kemanusiaan yang murni...>>> Insya Allah dengan UU Anti MOLIMO [Maling-Madat-Mabok-Maen-Madon] dan UU Anti Gharar-Riba-Maisir... Maka Keserakahan dan Dusta2 Manipulatif akan segera dikikis ..dan dieliminasi semaksimalnya... Sehingga Umat Manusia akan merasakan Keadilan dan Kesejahteraan secara merata... Amin..>>




Sabtu, 15/10/2011 06:17 WIB | Arsip | Cetak
http://www.eramuslim.com/berita/dunia/gerakan-protes-di-wall-street-menjadi-gerakan-nasional.htm
 Gerakan Protes di Wall Street Menjadi Gerakan Nasional


Protes meluas di seluruh kota Amerikas Serikat, Jumat. Sementara itu, pasukan polisi berjuang membubarkan demonstran dari taman kota dan plaza di kota Manhattan, New York. Mereka membangun gerakan protes secara nasional, sebagai bentuk penolakan mereka terhadap siatuasi ekonomi di Amerika Serikat, yang dikuasai oleh orang-orang kaya yang jumlahnya hanya 1%.
Puluhan demonstran ditangkap di Denver, Seattle, San Diego dan New York. Sementara demonstrasi serupa akan direncanakan berlangsung di Washington, Orlando dan Atlanta. IReporters CNN dikirim dalam foto dan video dari gerakan protes yang "menduduki" di beberapa kota di Amerika.
Di San Diego, CNN mengambil gambar, bagimana polisi menahan demonstran saat mereka berkumpul di tengah tenda dan terpal yang berserakan alun-alun pusat kota.

Para pengunjuk rasa tampaknya menolak untuk meninggalkan daerah itu, duduk di di atas terpal plastik dan berteriak "kami tetap turun", dan sebagai polisi mencoba untuk membubarkan mereka.
Di Denver, pihak berwenang mengatakan 24 orang ditahan sebagaimana yang disiarkan CNN, dan polisi menahan pengunjuk rasa di bagian pusat kota.
Jurubicara polisi negara bagian Colorado, Mike Baker mengatakan para demonstran dapat diidentifikasi sebagai dua kelompok yang berbeda: Yang pertama adalah bagian dari apa yang dia digambarkan sebagai kelompok lokal, yang mempertahankan komunikasi dengan penegak hukum selama demonstrasi. Yang kedua, katanya, adalah faksi yang lebih "radikal". "Ini yang menjadi masalah bagi polisi hari ini," kata Baker.
Kebanyakan dari mereka ditangkap di Denver didakwa melawan hukum negara, katanya, sementara satu orang lainnya didakwa dengan melakukan serangan. Demonstran lain ditangkap karena menghambat lalu lintas.

Di Seattle, polisi menangkap 41 demonstran yang berkumpul di sebuah taman kota, kata juru bicara polisi Renee Witt.
Di New York, Wakil Komisaris Polisi Paul Browne mengatakan petugas menangkap 14 demonstran, mereka duduk di jalan raya untuk memblokir lalu lintas, membalikkan tempat, menabrak polisi dan melemparkan botol.
Mahasiswa Universitas Wesleyan, Ben Doernberg, yang menghadiri protes Jumat di distrik keuangan Manhattan, ditangkap dan dibawa ke tanahan oleh polisi.
"Saya melihat sejumlah orang lain yang mendorong atau didorong dengan tongkat," kata Doernberg. "Saya melihat petugas lain meninju orang."

Polisi New York membantah klaim bahwa orang itu telah digilas oleh kendaraan polisi. Saksi independen dari New York Daily News dan The Associated Press melihat pria itu sengaja kakinya di bawah motor polisi, ujar Browne.
Sementara itu, demonstrasi telah berlangsung di seluruh negara bagia Amerika Serikat, tanpa diketahui kapan akan berakhir aksi mereka.
Gerakan demonstrasi yang sekarang berlansung sebagai bentuk perlawanan terhadap keserakahan orang-orang kaya, yang mendapatkan perlakkuan istimewa pemerintah dan merekan tidak membayar pajak, dan bahkan mereka mendapat dana talangan. (mh/cnn)

Selasa, 11/10/2011 06:48 WIB | Arsip | Cetak

Mahasiswa Amerika Serikat Memelopori Aksi Protes di Wall Street



Mahasiswa bergabung dengan Serikat Pekerja di Boston, yang meneriakkan pekerjaan, dan mahalnya biaya kuliah oleh Universitas. Para mahasiswa mengajak pengunjuk rasa mendatangi bahk-bank besar di Amerika Serikat. Al Sharpton mengatakan bahwa gerakan yang mereka lakukan untuk "99% rakyat Amerika", tukasnya.

Aksi protes yang menduduki Wall Street dan berkembang di seantero Amerika Serikat itu, gerakan yang menolak dan menentang keserakahan korporasi, kebodohan politik dan kekuasaan yang dimiliki oleh orang terkaya di Amerika Serikat.
"Kita di sini hari ini, karena kita setuju mereka yang hanya 1%, tidak boleh mengendalikan kekayaan (bangsa)," kata Sharpton pada program radio sindikasi nasionalnya dari Zuccotti Park di Lower Manhattan. "Ini (demonstran) adalah orang-orang biasa yang mencoba untuk memberi makan keluarga mereka, mencoba membayar sewa mereka dan hipotek, mencoba bertahan hidup."

Para aktivis hak-hak sipil vokal yang bergabung Senin, di mana para demonstran telah berkemah selama 24 hari. Mereka akan terus bertahan di taman-taman di Wall Street. Ikut dalam gerakan itu, penyanyi terkenal seperti Russell Simmons, pendiri Def Jam Recordings dan Phat Farm, dan banyak tokoh terkemuka Amerika yang ikut bergabung dalam gerakan itu.

"Bahkan saat bank harus digelontor dengan digelontor dana talangan triliun dollar, anak-anak Amerika telah menyaksikan orangtua mereka keluar terusir dari rumah mereka dan kehilangan pekerjaan mereka. Anak-anak sekolah kehilangan seni, musik dan pendidikan fisik," kata website gerakan. "Sekarang anak-anak kita dapat melihat aktivis memerhatikan isu ini ke jalan dalam sebuah forum demokratis di Menempati Wall Street."

Mahasiswa memainkan peran besar dalam demonstrasi Senin terkait dengan gerakan di Boston. seperti Boston College, Boston University, Harvard, Massachusetts Institute of Technology, Tufts dan sekolah lain di antara mereka diwakili - bersama dengan anggota beberapa serikat buruh dan kelompok lain yang telah aktif dalam gerakan itu.
Di manapun selalu buruh dan mahasiswa menjadi ujung tombak gerakan melakukan perubahan yang terjadi. (mh/tm



Kamis, 06/10/2011 12:14 WIB | Arsip | Cetak

Serikat Pekerja di AS akan Bergabung dengan Para Demonstran di Wall Street




Aksi menduduki Wall Street nampaknya bakal berlanjut sampai beberapa minggu ke depan. Sejumlah serikat pekerja di AS menyatakan mendukung aksi tersebut dan akan bergabung dengan para demonstran yang sudah mengepung Wall Street selama dua minggu ini.
“Sederhana saja, anak-anak muda ini di Wall Street menyuarakan persoalan yang dihadapi para pekerja di AS selama beberapa tahun belakangan ini,” kata Larry Hanley, presiden Amalgamated Transit Union yang memiliki 20.000 anggota di wilayah New York saja.

“Anak-anak muda ini bersuara untuk mewakili mayoritas rakyat Amerika yang frustasi dengan kelakuan para bankir dan makelar yang mengeruk keuntungan dibalik kerja keras para pekerja,” tukas Hanley.
“Sementara kami berjuang keras dari hari ke hari, bulan ke bulan, tapi para jutawan dan milyarder di Wall Street duduk tenang—tak tersentuh—dan menceramahi kami soal pengorbanan,” sambung Hanley.
Serikat buruh dari Transport Workers Union Local 100 juga menyatakan akan ikut berdemonstrasi di Wall Street. Juru bicaranya, Jim Gannon mengatakan, gerakan “Menduduki Wall Street” yang mengecam tidak etisnya sistem finansial dan terinspirasi dari revolusi “Musim Semi Arab” di Afrika dan Timur Tengah, juga mengedepankan isu-isu yang secara khusus menjadi persoalan bagi serikat pekerja. Oleh sebab itu, mereka memberikan dukungan pada gerakan anti-Wall Street.

“Tujuan mereka adalah tujuan kami juga. Mereka mengangkat isu-isu yang kami yakini sejak lama hingga kini ... bahwa Wall Street penyebab pertama meledaknya krisis ekonomi, dan kami para pekerja dan banyak orang lainnya yang dipaksa menanggung akibatnya,” tukas Gannon.
Presiden United Federation of Teachers—yang memiliki 200.000 anggota di New York—Michael Mulgrew juga menyatakan bangga bisa mendukung gerakan “Menduduki Wall Street” di New York dan di tempat-tempat lainnya di AS.

“Cara para pemimpin di AS mengatasi kondisi rakyat, 99 persen tidak berhasil. Maka, ketika gerakan anti-Wall Street dimulai, mereka memberikan dukungan dan mereka berhasil menjadikan persoalan ini sebagai perbincangan nasional yang seharusnya sudah dilakukan bertahun-tahun yang lalu,” tukas Mulgrew.
Gerakan anti Wall Street dimulai sejak tiga minggu lalu. Para aktivis ini menyeruka warga AS—dengan target 20.000 orang—untuk datang ke Wall Street dan menduduki ikon perekonomian AS itu selama beberapa bulan. (kw/cnn)

Rabu, 12/10/2011 13:25 WIB | Arsip | Cetak

Otorita Keuangan New York: 10.000 Pekerja Wall Street akan Jadi Pengangguran



Sekira 10.000 orang yang bekerja di industri sekuritas Wall Street akan jadi pengangguran sampai akhir tahun 2012. Juru bicara pengawas keuangan negara bagian New York, Eric Sumberg mengatakan, puluhan ribu yang bekerja di Wall Street terancam jadi pengangguran karena industri surat berharga itu tidak lagi menghasilkan keuntungan.
Siaran pers yang kantor pengawas keuangan negara bagian New York menyebutkan, "Saat ini, profit nampaknya akan merosot tajam, orang yang akan kehilangan pekerjaannya akan terus bertambah, dan jumlah bonus akan lebih kecil dari tahun sebelumnya. Perkembangan ini akan menimbulkan efek beriak dalam perekonomian dan berdampak pada pendapatan pajak pemerintah kota dan negara bagian."
Dalam siaran pers itu, kantor pengawas keuangan negara bagian New York yang sekarang dipimpin oleh Thomas DiNapoli menuding krisis utang di negara-negara Eropa sebagai penyebab suramnya masa depan perekonomian AS, selain faktor lain berupa lesunya perekonomian domestik, situasi pasar modal yang tak menentu dan perubahan kebijakan ekonomi yang digulirkan pemerintah.

Kantor DiNapoli menyatakan, posisi Wall Street cukup kuat saat pembukaan di awal tahun 2011. Namun simbol supremasi perekonomian AS itu selanjutnya melemah dan diprediksi akan terus berlanjut sampai akhir tahun berikutnya. Pada Januari 2010 sampai April 2011, Wall Street membuka peluang kerja bagi 9.900 orang. Tapi setelah itu, sampai Agustus kemarin, 4.100 orang yang bekerja di Wall Street kehilangan pekerjaannya.

Masih menurut laporan itu, hilangnya lapangan kerja di Wall Street akan terus berlanjut seiring dengan menurunnya profit dan pengumuman pemutusan hubungan kerja oleh sejumlah perusahaan. Dipekirakan total pemutusan hubungan kerja di Wall Street periode Januari 2008 sampai akhir tahun 2012 mencapai 32.000 orang.

Perusahaan-perusahaan sekuritas di Wall Street masih mendapatkan keuntungan 9,3 miliar USD di kuartal pertama tahun ini. Tapi memasuki kuartal kedua, keuntungan mulai menurun tajam dan diproyeksikan penurunan keuntungan sepanjang tahun ini mencapai 18 miliar USD.
Kondisinya bertambah buruk karena jatuhnya harga saham bank-bank di Wall Street, sebagai reaksi atas aksi protes anti-Wall Street dan kegamangan perusahaan-perusahaan karena menurunnya pendapatan pada kuartal kedua tahun ini.

Pemerintah AS mengklaim perekonomiannya mulai pulih sejak resesi ekonomi melanda negeri itu, karena sudah mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi lebih dari 2 juta orang, dari 8,6 juta orang yang telah kehilangan pekerjaannya. Meski demikian, tingkat pengangguran di AS saat ini masih tinggi, sebesar 9,1 persen. (kw/cnn)



Jumat, 14/10/2011 17:54 WIB | Arsip | Cetak

Setelah AS, Kanada akan Digoyang Gerakan "Anti-Wall Street"





Gerakan Anti-Wall Street di AS menjalar ke Kanada. Hari Sabtu (15/10), warga Kanada akan menggelar aksi besar-besaran yang mereka sebut gerakan "Occupy Canada" sebuah gerakan yang sama dengan gerakan "Occupy Wall Street" di AS.

Sejauh ini, 15 kota di Kanada menyatakan berpartisipasi dalam gerakan tersebut, dan akan menggelar aksi massa serentak hari Sabtu besok. Gerakan ini disebarkan melalui situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter, dan saat ini 20 kota sudah memiliki laman facebook sendiri untuk mendukung gerakan tersebut.
Sampai hari Kamis kemarin, 12.000 orang mengklik "like" laman "Occupy Canada" di Facebook dan lebih dari 17.000 orang terlibat dalam diskusi tentang gerakan ini. Beberapa kota yang siap menggelar aksi massa serentak hari Sabtu besok antara lain Toronto, Montreal, Vancouver, Ottawa, Edmonton dan Calgary.
Para pengamata di Kanada mengatakan, gerakan ini bisa berpotensi menciptakan perubahan di sektor perekonomian, terutama pola pikir pemerintah dan perusahaan korporasi.
Kelompok-kelompok yang mengorganisir gerakan ini mengatakan bahwa aksi massa besok adalah aksi tanpa kekerasan dan murni gerakan rakyat, tidak ada "tokoh pemimpin" dalam gerakan ini.
"Saya tidak mengerti, mengapa di negara yang kaya ini, banyak orang yang harus memilih antara memiliki rumah atau bisa makan," kata Marlee Cameron, mahasiswa di kota Charlottetown. Di kota ini, aksi massa akan digelar di taman kota yang berhadapan dengan gedung Province House.
Peserta aksi lainnya, Katie Harris, mahasiswa doktoral mengatakan, "Kami ingin berkumpul bersama untuk mengatakan bahwa di dunia yang serba kaya ini, seharusnya tidak perlu ada disparitas ekonomi. Tidak perlu ada banyak orang yang miskin," ujarnya.
CBC Online menanyakan pendapat warga masyarakat, apakah mereka akan hadir dalam aksi massa gerakan "Occupy Canada" besok. Sebagian besar warga memberikan jawaban dengan emosional.
"Gerakan ini mengindikasikan bahwa banyak orang yang tidak puas dan frustasi dengan status quo di dalam pemerintahan dan sektor korporasi," kata seorang warga.
Sedangkan seorang warga lainnya menyatakan tidak akan ikut aksi massa tersebut. "Saya tidak pergi, saya punya pekerjaan. Kalau saya tidak kerja dan tidak membayar pajak, maka kesejahteraan akan memburuk," ujarnya.
Gerakan "Occupy Canada" mendapat perhatian dari para pakar ekonomi di negeri itu. Armine Yalnizyan, ekonom senior di Canadian Centre for Policy Alternatives mengatakan, jika gerakan ini mendapat dukungan penuh dari rakyat, dan para pelaku bisnis serta pejabat pemerintah, bisa mendorong terjadinya perubahan yang penting, meski tidak dalam satu malam.
"Ini sebuah kebangkitan. Gerakan ini, jika sukses, sepertinya akan membuka kesempatan kedua bagi pembicaraan yang tidak bisa kita lakukan di saat terjadi resesi ekonomi tahun 2008," kata Yalnizyan.
Ia melanjutkan, "Gerakan masyarakat sipil dan kalangan feminis telah mengubah pemikiran sosial. Jika gerakan ini benar-benar menjadi gerakan yang riil, maka akan mengubah pola pikir kita tentang hubungan antara si kaya dengan warga masyarakat biasa seperti kita."
Menurut Yalnizyan aksi protes seperti yang terjadi di Wall Street sangat relevan jika juga dilakukan di Kanada. "Orang kaya yang jumlahnya cuma satu persen di Kanada, telah mengambilalih semua keuntungan ekonomi dari resesi yang terjadi sebelumnya," tukasnya.
Sementara itu, organisasi Democracy Watch merekomendasikan gerakan "Occupy Canada" untuk mengedepankan 15 aksi yang harus dilakukan pemerintah, yang telah disepakati jauh sebelum ini oleh 140 organisasi kemasyarakatan di Canada terkait perbaikan sosial dan ekonomi.
Diantara 15 aksi itu antara lain, pembentukan lembaga pemantau sipil untuk mengawasi aktivitas perusahaan korporasi di setiap sektor perekonomian, menjatuhkan sanksi hukum dan denda yang lebih berat bagi perusahaan korporasi yang menjalankan bisnisnya secara legal, memberikan perlindungan hukum bagi para pekerja yang menjadi sumber informasi rahasia, dan mewajibkan perusahaan untuk secara legal mewakili bukan hanya para pemegang sahamnya, tapi juga semua pekerja, konsumen, masyarakat dan lingkungan pada umumnya.
Democracy Watch juga menghimbau agar aksi massa dilakukan dengan damai tanpa kekerasan, agar pesan yang ingin disampaikan bisa diterima dan mendapat dukungan dari masyarakat luas. (kw/cbc)

Selasa, 11/10/2011 06:08 WIB | Arsip | Cetak

Aksi Protes di Wall Street Menyerukan Rakyat Menutup Account Mereka di Bank-Bank Besar



Peserta gerakan protes di Wall Street semakin tak terkontrol, semakin besar, yang dapat menenggelamkan Amerika Serikat ke jurang kehancuran total, di mana gerakan protes itu merupakan gabungan serikat buruh di seantero Amerika Serikat, dan kini mereka berbaris Broadway, New York City.

Para peserta gerakan protes itu menumpahkan kemaraha mereka yang ditujukan kepada bank-bank Amerika Serikat, terutama bank-bank besar yang mengambil dana talangan federal reserve (Bank Sentral Amerika Serikat), dan yang sangat mengakawatirkan, gerakan mereka telah sampai klimaknya, dan melakukan kampanye melalui Facebook secara massive, yang mendesak rakyat Amerika Serikat menutup account mereka di bank-bank besar dan memindahkan uang mereka ke rekening-rekening baru yang dibuka oleh Serikat, mulai 5 November. Jika seruan ini berhasil, maka bank-bank besar akan gulung tikar.
Gerakan di Wall Street, yang sekarang menduduki New York dan kota-kota lain di seluruh Amerika Serikat, mengklaim bahwa gerakan, "Kami adalah 99%", dan mereka membuat seruan dan agenda di seluruh negeri dengan, "Hari Transfer Bank", lewat halaman Facebook - berlangsung di seluruh negeri. Mereka bergerak dengan fokus, mendorong rakyat Amerika Serikat segera memindahkan account mereka dari bank-bank besar, yang membuat mereka sengsara

Hari Transfer Bank dimulai oleh pemilik pemilik galeri yang sudah berumur 27 tahun, yaitu Kristen Kristen, di Los Angeles. Dia bilang dia tidak berafiliasi dengan pengunjuk rasa yang menduduki Wall Street, tapi banyak dari mereka yang merasa simpati dan mendukung gerakan demonstrasi itu.
Betapa Amerika Serikat sekarang menghadapi kebangkrutan yang menyeluruh dari aksi yang digalang oleh para organisasi buruh di New York. (mh/tm)

Minggu, 16/10/2011 11:16 WIB | Arsip | Cetak
 Gerakan di Wall Street Menjadi Gerakan Global


Gerakan demosntrasi yang menduduki Wall Street menjadi gerakan global, Sabtu. Gerakan yang mula-mula hanya di Wall Street, Manhattan, New York, sekarang menyeruak menyeberangi Atlantik, dan berkobar ke kota-kota Eropa. Di mana kota-kota di selulruh Eropa menghadapi aksi ribuan demonstran.
Di banyak kota di Eropa, para demonstran dengan menggenggam tangan, mengenakan masker, menggambar wajah mereka, tersenyum sinis dengan kumis hitam, janggut runcing, dan bibir tipis yang diambil dari film "V for Vendetta", tentang seorang pahlawan bertopeng yang berperang melawan totalitarianisme.


Berikut gerakan aksi demonstrasi di beberapa negara di Eropa, yang sekarang melakukan gerakan yang mirip seperti di Wall Street:
Italia :
Sebuah protes awalnya damai berlangsung di pusat Roma, Sabtu. Kemudian berbalik menjadi aksi yang penuh dengan kekerasan, serta anarkis - setelah beberapa orang memakai topeng yang disebut kelompok "Black Bloc" - lalu membakar mobil, memecahkan jendela dan bentrok dengan polisi. Kelompok "Blaci Bloc" yang melakukan kekerasan juga berjuang dengan pengunjuk rasa lainnya, yang berusaha melepaskan kaum anarkis yang sangat anarkis di jalan-jalan.


Batu, botol dan tabung gas air mata terbang, dan sebuah gedung kementerian dalam negeri terbakar saat terjadi kekacauan. Pemadam kebakaran berjuang memadamkan api di tempat pertemuan utama, Piazza San Giovanni, yang berubah menjadi medan pertempuran antara polisi dengan para demosntran yang menggunakan meriam air, dan kelompok anarkis bersenjatakan pisau, kelelawar, bom molotov dan kembang api melawan polisi, ujar koresponden Newsweek koresponden Barbie Nadeau.
Italia, mengalami pukulan yang keras oleh krisis ekonomi global, dan berjuang dengan masalah utang berpotensi melumpuhkan negeri pizza itu. Bulan lalu, Standard & Poor menurunkan rating standard kredit Italia rating, dan mengatakan melemahnya pertumbuhan ekonomi nasional dan ketidakpastian politik telah menghantam stabilitas keuangan. Italia menghadapi utang setara dengan 120% dari produk domestik bruto (PDB) negeri itu.

Spanyol :


Lebih dari 10.000 demonstran berkumpul secara damai, dan gerakan itu diikuti dari segala usia, dan memadati de Madrid Plaza Cibeles, Sabtu . Gerakan aksi demonstran itu berjalan menuju ke Puerta del Sol, ujar koresponden CNN Al Goodman. "Gerakan 15 Mei" yang mulai lima bulan lalu, mereka menentang langkah-langkah penghematan dan pengangguran yang tinggi.
Beberapa demonstran mengatakan mereka protes terhadap pemerintah Spanyol yang gagal menghadapi pengaruh krisis utang global, dan gerakan itu menyatakan dunia telah bergabung dengan gerakan di Wall Street. Surat kabar El Pais mengutip polisi yang mengatakan sekitar 60.000 pengunjuk rasa di Barcelona, yang meneriakkan ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah.
Seperti yang dialami Italia, Spanyol ikut terpukul oleh krisis utang, dan mengakibatkan kesengsaraan rakyat Uni Erop. Zona Erupa telah mengumumkan langkah-langkah baru yang dimaksudkan untuk mengurangi defisit. Meskipun investor tetap melihat negara di Zona Eropa menghadapi prospek suram. Standard & Poor menurunkan peringkat kredit Spanyol Jumat. Ini melihat pertumbuhan ekonomi dan sektor perbankan yang buruk.


Spanyol adalah salah satu yang disebut "PIIGS," sekelompok negara yang tertekan oleh fiskal yang mencakup Portugal, Italia, Irlandia dan Yunani.

Britania Raya :
Julian Assange ikut dalam aksi yang disebut "Menduduki London", ketika pendiri WikiLeaks, mempimpin demosntran yang disertai dengan lagu-lagu protes di depan Katedral St Paul, yang merupakan pusat keuangan London. Ribuan orang berbaris di jalan-jalan memprotes pemotongan penghematan, dan mengkritik para bankir yang sangat dimanjakan pemerintah yang mendapatkan dana talangan (bailtout).
Menteri Keuangan Inggris, George Osborne, mengatakan kepada anggota parlemen pada bulan Agustus bahwa jalan menuju pemulihan ekonomi di Inggris akan "lebih lama dan lebih sulit daripada yang telah diharapkan" serta memerlukan komitmen yang kuat dengan melakukan pengurangan defisit program pemerintah. Osborne mencatat bahwa ketidakstabilan keuangan di pasar uang Inggris telah memberi sumbangan terhadap harapan negara menurunnya pertumbuhan ekonomi.

Belgia :
Sekitar 7.000 orang berpawai melalui ibukota Uni Eropa di Brussel, Sabtu. Menurut polisi, "Ada kekerasan, beberapa orang telah diperiksa, tetapi kemudian dibebaskan, dan seseorang ditangkap, karena menyerang polisi, tapi kondisi tetap tenang," ujar Christianne de Ridder, juru bicara polisi Brussel mengatakan kepada CNN.
Utang Belgia diperkirakan hingga 85% dari PDB pada tahun 2015, menurut Dana Moneter Internasional (IMF).

 

Jerman :
Ribuan turun ke jalan di depan Bank Sentral Eropa di Frankfurt dan juga di kota-kota besar lainnya, termasuk ibukota Berlin. Di mana demonstran berbaris ke Kantor Kanselir. Pengunjuk rasa mengangkat mengutuk kekuasaan korporasi dan menuntut penguatan demokrasi dan keadilan sosial.
Jerman, lokomotif ekonomi kawasan Zona Eropa, melaporkan peningkatan mengalami sedikit (0,1%) kuartal kedua produk domestik bruto (PDB), dibandingkan dengan (1,3%) pada kuartal pertama. Namun, para ekonom mengatakan Jerman masih berada di jalur pertumbuhan moderat pada tahun 2011.
Perekonomian Jerman sangat bergantung pada ekspor dan telah mendapatkan manfaat dari pertumbuhan yang cepat di negara berkembang seperti Cina. Namun, prospek nampaknya ekonomi Jerman terus meredup. Perlambatan ini menimbulkan pertanyaan tentang prospek jangka panjang Zona Euro.

 

Swedia :
Sekelompok kecil demonstran berkumpul di Stockholm, dan bergabung dengan geralam yang "Menduduki" kota Stockholm. Sekitar 400 demonstran berkumpul di alun-alun pusat di Stockholm, kemudian "pindah ke Bank Swedia, di mana mereka melakukan aksi protes, dan kemudian mereka pulang," kata seorang juru bicara polisi. Swedia dikenal memiliki sistem sosial dan demokrasi yang kuat, dan menyediakan banyak kebutuhan warganya serta melindungi stabilitas pekerjaan Swedia.


Julian Assenge (Wikileak), memimpin aksi protes di London.
Tidak seperti beberapa anggota lainnya dari Uni Eropa, Swedia dapat menghindari pukulan resesi di seluruh dunia. Swedia memiliki minat membantu Zona Euro tetap sehat secara ekonomi. Tahun lalu, Swedia menawarkan pinjaman senilai $ 1.5 milyar dollar kepada Irlandia. Swedia juga tergantung pada kekuatan dari mitra dagangnya, seperti Jerman, yang menyumbang sekitar 11% dari ekspor Swedia dan 18% dari impor.
Zona Eropa menghadapi badai yang sekarang menggulung kota New York, yang menjadi pusat bisnis global, yang diamuk para demonstran, yang menentang keserakahan orang-orang kaya, yang menyebabkan mereka menjadi sengsara. Gerakan di Wall Street ini juga berlangsung diibukota Tokyo. (mh/tm)



Kamis, 13/10/2011 05:47 WIB | Arsip | Cetak

Gerakan Protes Wall Street Menduduki Rumah Milyader Amerika




"JP Morgan, anda orang jahat! Amerika memerlukan Robin Hood!" Beberapa orang meneriakkan di depan apartemen mewah yang merupakan rumah Jamie Dimon, Kepala Ekskutif JP Morgan Chase.
Ratusan orang berbaris di kawasan Wall Street, Manhattan, mereka melakukan aksi protes di depan pintu rumah para konglomerat terkaya di Amerika Serikat.

Sekitar 500 orang berbaris melewati Upper East Side Manhattan, melewati bangunan bertingkat yang tinggi, di mana banyak eksekutif hidup disitu. Diantaranya adalah Paulson, raja media global Rupert Murdoch, kepala ekskutif JPMorgan Chase Jamie Dimon, dan David Koch, pendiri perusahaan energi Koch Industries.
Para pengunjuk rasa meneriakkan "Bank harus di bail oout (ditalangi), kami terjual habis", dan "Hei anda miliarder, anda harus membayar, dan berbuat adil", dan mereka membawa poster dan panflet yang g berbunyi, "Hentikan merampok harta kelas menengah untuk membayar orang kaya", dan "Kami adalah 99 persen, "Orang kaya yang hanya 1 persen yang menguasai atas Amerika terlalu banyak", cetus mereka.
Mustafa Ibrahim, 23, seorang insinyur yang ikut berbaris pada "Tour Miliarder" itu dalam kunjungan ke New York dari Kairo, di mana ia mengatakan menangkap persis seperti pemberontakan rakyat tahun ini yang menggulingkan diktator Mesir Hosni Mubarak.

"Ini cukup banyak hal yang sama seperti Mesir," kata Ibrahim. "Masalahnya adalah orang kaya terus mendapatkan kekayaan dan yang miskin semakin miskin."
Sejak 17 September demonstran telah berkemah di sebuah taman di Lower Manhattan dekat Wall Street, unjuk rasa terhadap dana talangan untuk bank-bank selama resesi, yang memungkinkan mereka untuk mendapatkan keuntungan besar.

Sementara itu rakyat Amerika menderita, dan pengangguran yang tinggi serta ketidakamanan pekerjaan dengan hanya mendapatkan sedikit bantuan. (mh/tm)





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar