Selasa, 25 Oktober 2011

Ada apa dengan MUI Pusat..??? MUI Pusat itu sangat Aneh!!!....>>> Ada Apa dgn SBY ??? Ada Apa Dgn Pers..??? Ada Apa.. Dgn DPR ??? Ada Apa Dgn LSM ..??? ...Siapa yang sebenarnya Bermain dengan Konflik ini ?? Stigma Adu Domba dan mengorbankan Muslim Ambon..?? Hayyooo SBY-DPR-MUI...Jawabbbb...????!!!!... Umat Muslimin Bersatulah... Mereka tak peduli kepada Umat Islam... !!!! Maka dari itu UMAT ISLAM BERSATULAH.. Semuamya... !!! Bersatulah dan Bangkitlah Untuk Membangun Umat Islam sendiri... Dan Hayyooo Umat Islam Membangun Untuk Kejayaan dan Kemuliaannnya sendiri... Tegakkan Syariah Islam dengan Kaffah...!!! Kembalilah kepada Dekrit 5 Juli 1959....Laksanakan pesan utama dalam butir menjiwai UUD 1945...yakni.. dengan kewajiban melaksanakan syariah Islam bagi pemeluknya.......>>> ...dan Jangan mengharapkan kepada mereka itu... para Pejabat Negara dan aparat Negara yang penuh Dusta...dan Kezholiman...!!! Mereka hanya cinta Keserakahan Dunia..dan membuat semakin berdarahnya Tanah-air Indonesia ini oleh Darah2 Muslim Ambon...yang dizholimi kaum Kresten Ambon yang dibantu Antek2 Penjajah Kriminal Internasional... yang bercokol di Indonesia dan Luar Negeri... >>> Mereka para Pendusta..dan Serakah..!!! Umat Islam Bersatulah..dengan Istiqomah.. Kuatkan Jiwa dan raga... dan Kuatkan Iman dan Ketaqwaan...!!! Bangun UU dan Peraturan Umat Islam untuk Mandiri... !!! Hayyoooo Bangkitlah Umat Islam.!!! ..... .... Menurut AC Manullang, kerusuhan Ambon ini akan membuktikan pernyataan AS bahwa wilayah tersebut menjadi sarang teroris. ”Saya melihat ada upaya AS yang memunculkan Ambon sebagai sarang teroris dengan memunculkan kerusuhan terlebih dulu,” paparnya. ”Skenario yang akan dilakukan, Ambon rusuh, dan kelompok-kelompok Islam membantu, dan muncullah stigma teroris di Ambon,” tambahnya Manullang...>>Cholil menyarankan, dalam kasus Ambon, agar informasi dari kepolisian tidak sepenuhnya dipercaya. Sehingga MUI Pusat harus membentuk tim investigasi sendiri. "Pembentukan tim investigasi ini adalah suatu keniscayaan", tandasnya. ...>>.. Kalangan ulama di Indonesia rupanya geram juga dengan sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menanggapi secara berlebihan atas kejadian bom di Solo baru-baru ini. Sikap Presiden yang begitu reaktif dan cepat itu sangat berbeda ketika terjadi Tragedi Ambon, 11 September lalu. Saat itu tak ada konferensi pers dari SBY, apalagi sampai meminta agar dilakukan pengusutan dan perlindungan terhadap rakyat. SBY seolah diam seribu bahasa. ....>>...Ada yang “bermain’ dalam Konflik Ambon?...>>> Tragedi Ambon Berdarah 9/11 yang menzalimi umat Islam sudah berlalu 45 hari, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat baru akan menggelar rapat membahas kasus Ambon hari ini. Padahal Dubes Vatikan untuk Indonesia sudah mengunjungi umat Kristen Ambon sepekan lalu. Masih belum pupus dalam ingatan kita, dalam insiden 11 September 2011 itu umat Islam di Ambon mengalami penzaliman yang luar biasa oleh kelompok mayoritas Kristen. Dalam konflik bernuansa SARA tersebut, masjid jami’ dan ratusan rumah umat Islam hangus dibakar habis. Buntut kebengisan Salibis RMS, tercatat sebanyak 98 rumah Muslim dibakar dan dirusak berat. Puluhan pemuda Muslim terluka parah tertembak peluru tajam, beberapa di antaranya tewas terkena bom. Buntutnya, ribuan warga Muslim harus mengungsi karena kampungnya dibakar Salibis........>>>



Ketua MUI: SBY Islam, Tapi Tidak Berpihak Pada Umat Islam

altJakarta (SI ONLINE) - 

Kalangan ulama di Indonesia rupanya geram juga dengan sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menanggapi secara berlebihan atas kejadian bom di Solo baru-baru ini. Sikap Presiden yang begitu reaktif dan cepat itu sangat berbeda ketika terjadi Tragedi Ambon, 11 September lalu. Saat itu tak ada konferensi pers dari SBY, apalagi sampai meminta agar dilakukan pengusutan dan perlindungan terhadap rakyat. SBY seolah diam seribu bahasa.

Sikap ulama itu disampaikan oleh Ketua MUI Pusat, KH Ahmad Cholil Ridwan dalam forum audiensi antara MUI Pusat dengan Forum Umat Islam (FUI) di Kantor MUI, Jl. Proklamasi, Jakarta, Selasa (27/9).

"Saya heran dengan sikap SBY. Ketika terjadi bom di Solo, langsung muncul di TV. Tapi saat Tragedi Ambon, tidak ada komentar apa-apa. Presiden kita ini beragama Islam, tetapi tidak berpihak pada umat Islam", kata Kiyai Cholil yang diamini sejumlah pengurus MUI lainnya.

Selain heran terhadap sikap SBY, Cholil Ridwan juga mencatat beberapa keanehan dari Tragedi Ambon. Pertama, peristiwa itu terjadi bertepatan dengan Tragedi WTC, 9/11. "Kenapa kok tanggalnya persis dengan Kasus WTC", tanya Cholil.

Kedua, ditengarai di tubuh kepolisian saat ini ada masalah soal kekuatan jaringan kelompok Kristen. "Sejak zaman kemerdekaan kelompok Kristen sudah membangun kekuatan jaringan di kepolisian, tetapi Islam tidak. Jenderalnya memang muslim, tapi Kombes ke bawah banyak yang non muslim", kata penggasuh PP Husanayain itu.

Karena itu Cholil menyarankan, dalam kasus Ambon, agar informasi dari kepolisian tidak sepenuhnya dipercaya. Sehingga MUI Pusat harus membentuk tim investigasi sendiri. "Pembentukan tim investigasi ini adalah suatu keniscayaan", tandasnya. 








Selasa, 25 Oct 2011

Sudah Dua Bulan Muslim Ambon Dibantai, MUI Baru Mau Rapat Hari ini


AMBON (voa-islam.com) – 

Tragedi Ambon Berdarah 9/11 yang menzalimi umat Islam sudah berlalu 45 hari, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat baru akan menggelar rapat membahas kasus Ambon hari ini. Padahal Dubes Vatikan untuk Indonesia sudah mengunjungi umat Kristen Ambon sepekan lalu.
Masih belum pupus dalam ingatan kita, dalam insiden 11 September 2011 itu umat Islam di Ambon mengalami penzaliman yang luar biasa oleh kelompok mayoritas Kristen. Dalam konflik bernuansa SARA tersebut, masjid jami’ dan ratusan rumah umat Islam hangus dibakar habis.
Buntut kebengisan Salibis RMS, tercatat sebanyak 98 rumah Muslim dibakar dan dirusak berat. Puluhan pemuda Muslim terluka parah tertembak peluru tajam, beberapa di antaranya tewas terkena bom. Buntutnya, ribuan warga Muslim harus mengungsi karena kampungnya dibakar Salibis.
Perlengkapan senjata api dan bom di pihak Kristen itu bukan isapan jempol. Berdasarkan data resmi Rumah Sakit Umum Al-Fatah Ambon, beberapa korban dari pihak Muslim meninggal akibat bom dan peluru senjata api.
Dalam daftar Nama Pasien-Pasien Korban Bencana Konflik yang meninggal di RSU Al-Fatah Ambon tanggal 11 September 2011, terpampang dua di antaranya meninggal karena bom dan peluru senjata api.
Ismail Samal (20), warga Batu Merah tercatat meninggal dengan diagnosa: “Robek daerah abdomen karena bom sampai kena isi abdomen.”
Sedangkan Sahroni Ely (20), warga Asilulu, tercatat meninggal dengan diagnosa: “Luka peluru dari dagu tembus belakang kepala, kena otak.”
Selain dari korban meninggal, RSU Al-Fatah juga mencatat 62 orang korban luka berat dan 42 korban luka akibat peluru senjata api, di antaranya: Yamin (29), warga Suabali, rawat jalan di RSU Al-Fatah dengan diagnosa: “Luka tembak tembus perut, dioperasi tanggal 12/9/2011.”
Korban lainnya, Irfan Talakua (29), warga Batu Merah, rawat jalan di RSU Al-Fatah dengan diagnosa: “Luka tembak tembus pada paha di kemaluan.” Sementara Akbar Sila (30), warga Belakang Mesjid, rawat jalan di RSU Al-Fatah dengan diagnosa: “Luka tembak di kepala bagian kiri.” Dan masih banyak lagi.
Meski sedemikian teraniaya, reaksi mayoritas tokoh Islam dan pemimpin yang mayoritas Islam ini biasa-biasa saja. Tak ada kutukan para tokoh bangsa dan pemerintah terhadap perusuh Kristen yang membakar masjid dan ratusan rumah umat Islam itu. Juga tak ada tudingan teroris dan radikal yang dialamatkan kepada perusuh Salibis. Sampai berita ini diturunkan, aparat belum memburu teroris Kristen RMS yang memakai senjata api dan bom tersebut.  Juga tak ada media yang menayangkan puing-puing masjid jami’ dan ratusan rumah yang hangus dibakar salibis. Padahal mereka semua notabene mayoritas Muslim.
Tak heran jika warga Muslim Ambon sangat kecewa dengan sikap MUI yang sama sekali tidak memperhatikan nasib mereka. Kekecewaan itu disampaikan warga kepada delegasi voa-islam.com ketika menyampaikan bantuan dana pembaca voa-islam.com, Ahad (23/10/2011).
“Selama ini kaum muslimin yang  ada di Maluku kurang sekali memperhatikan kami di antaranya seperti MUI sendiri seng pernah memperhatikan kami,” ujar salah seorang Ketua RT di Kampung Waringin Ambon yang rumahnya ludes dibakar Salibis.
MUI bukan tidak tahu terhadap penderitaan umat Islam Ambon. Sebulan lalu, voa-islam.com bersama Forum Umat Islam (FUI) memaparkan data-data kerusuhan Ambon di hadapan seluruh pengurus MUI Pusat.
Usai mendengar pemaparan fakta dan data pembantaian Salibis terhadap umat Islam Ambon, Ketua MUI KH Ma’ruf Amin dengan sangat geram mengutuk umat Kristen yang melakukan kebiadaban dan kejahatan kemanusiaan. “Kalau umat Kristen melakukan ya kita kutuk, karena dia melakukan tindakan destruktif. Jadi MUI tegas saja,” ujarnya kepada voa-islam.com di kantor MUI Jalan Proklamasi Jakarta, (27/9/2011).
MUI juga berjanji akan membentuk Tim Investigasi secepatnya untuk mencarai fakta-fakta langsung ke Ambon. “Semua informasi itu kita terima, kemudian kita akan lakukancheck and recheck, kita tabayyun. Dalam tabayyun itu kita akan bentuk tim investigasi untuk mencari fakta. Kita juga akan meminta laporan dari MUI Maluku dan MUI Ambon untuk memperoleh informasi itu. Kita akan cari tahu dulu posisinya seperti apa, kejadiannya seperti apa, penyebabnya apa, korban yang terjadi seperti apa. Kita akan melakukan penelitian,” tandas Ma’ruf Amin.
Sampai saat ini, sudah satu bulan berlalu, namun kutukan MUI terhadap perusuh Kristen Ambon tak berbekas. Juga janji membentuk Tim Investigasi tak kunjung terbukti.
Senin (24/10/2011), voa-islam.com mempertanyakan janji MUI Pusat untuk membentuk Tim Investigasi insiden Ambon 9/11 yang menzalimi umat Islam. Dengan tenang, KH Ma’ruf Amin mengakui bahwa sampai saat ini MUI Pusat belum membentuk Tim Investigasi. Rencananya MUI baru akan rapat hari ini (Selasa, 25/10/2011).

Uskup Vatikan Lebih Tanggap

Lambannya MUI dalam merespon permasalahan umat ini sangat disayangkan warga Muslim Ambon. Pasalnya, sikap yang reaktif cepat justru dilakukan oleh pihak Kristen, padahal posisi mayoritas Kristen Ambon bukan korban.
Dengan tanggap, Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Uskup Agung Antonio Guido Filipazzi berkunjung selama 3 hari ke Ambon untuk membuktikan bahwa provinsi Maluku masih aman. Dalam lawatannya pada tanggal 15-18 Oktober 2011, Filipazzi melakukan  pemberkatan dan peresmian Sekolah tinggi pendidikan agama Katolik (STPAK) Santo Yohanes dan Seminari Tinggi Santo Fransiskus Xaverius, di Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon.
Uniknya, setelah Uskup Vatikan berkunjung untuk memastikan bahwa Ambon aman,  besoknya (20/10/2011) terjadi penyerangan pihak Salibis kepada wilayah Muslim di Jalan Baru Ambon. Sedikitnya tiga rumah warga Muslim ludes dibakar Salibis, pasca kunjungan Uskup Dubes Vatikan untuk Indonesia. [taz/dbs]

Ada yang “bermain’ dalam Konflik Ambon?


September 16, 2011

Pada Minggu, 11 September 2011, konflik pecah di tiga titik di Kota Ambon, di depan kampus PGSD Universitas Pattimura, Tugu Trikora, dan Waringin. Rusuh dipicu kematian seorang tukang ojek, Darfin Saimen.
Ricuh di Kota Ambon yang terjadi Minggu, 11 September 2011 menimbulkan keprihatinan banyak pihak.bahkan ada yang menduga ada by design dari orang orang yang tidak bertanggung jawab ,sebagaimana disampaikan salah satu anggota DPD dari maluku John Pieris yang menyatakan konflik di Ambon, Maluku, adalah by design oleh oknum yang tak bertanggung jawab. Ia menilai selama ini masyarakat setempat sangat plural, namun mudah diprovokasi.saat dalam diskusi “Menjaga NKRI, Mencegah Perpecahan Daerah : Jangan Ulang Tragedi Ambon” di Gedung DPD RI, Jakarta, Rabu (14/9).yang dilangsir oleh Metronews.com,
sementara itu pengamat intelijen AC Manullang, Minggu (11/9) sebagaimana yang diberitakan Eramuslim.com
Kerusuhan Ambon yang bertepatan dengan peringatan peristiwa ambruknya Gedung WTC tidak bisa dilepaskan peringatan dari Pemerintah AS akan adanya serangan teroris.
Peringatan AS akan adanya serangan teroris juga ditujukan kepada negara-negara lain, dan Ambon dijadikan target skenario itu dengan memunculkan kerusuhan yang bernuansa SARA,” kata pengamat intelijen AC Manullang, Minggu (11/9).
Menurut AC Manullang, kerusuhan Ambon ini akan membuktikan pernyataan AS bahwa wilayah tersebut menjadi sarang teroris.
”Saya melihat ada upaya AS yang memunculkan Ambon sebagai sarang teroris dengan memunculkan kerusuhan terlebih dulu,” paparnya.
”Skenario yang akan dilakukan, Ambon rusuh, dan kelompok-kelompok Islam membantu, dan muncullah stigma teroris di Ambon,” tambahnya Manullang.

Polisi didesak melakukan pengusutan terkait meninggalnya tukang ojek yang jadi pemicu konflik?
Polisi didesak melakukan pengusutan terkait meninggalnya Darfin Saiman, tukang ojek, yang belakang disebut-sebut sebagai penyebab awal bentrok di Ambon.
Sulaiman Latupono, salah seorang keluarga Darfin, menilai pengusutan ini harus dilakukan karena keluarga menduga Darfin tewas bukan karena kecelakaan, namun akibat dibunuh.
Pria yang juga Ketua Aliansi Maluku Bersatu ini menambahkan jika kematian Darfin ini tidak segera diungkap, maka akan menjadi ancaman bagi perdamaian di bumi Maluku.
Pada kesempatan yang sama Ketua Koordinator Masyarakat Sulawesi Tenggara di Maluku, La Suryadi, meminta pemerintah daerah lebih memperhatikan warga yang rumahnya terbakar saat kerusuhan.
Dia juga meminta pemerintah daerah akan mengembalikan ratusan kepala keluarga ke wilayah tersebut, dan dibangun sebuah pos keamanan yang permanen di wilayah tersebut.
Tokoh Pemuda Ambon Minta Warga Tak Terhasut
Ketua Pemuda Maluku Indonesia Bersatu (PMIB) Ronald A Syuta menyatakan prihatin atas apa yang terjadi di kota Ambon. Pihaknya menghimbau kepada seluruh masyarakat Maluku, baik yang berada di Maluku maupun di luar Maluku agar bisa menahan diri dan tidak mudah terprovokasi situasi yang berkembang dan memecah belah persatuan warga.
“Kami mengharapkan Gubernur, para bupati, tokoh agama, tokoh masyarakat untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar bisa menahan diri tidak mudah terprovokasi,” ujarnya saat ditemui di Senayan, Jakarta Pusat. Minggu, 11 Agustus 2011.
Ia meminta agar aparat mengusut kejadian di Ambon dan mengantisipasi kejadian serupa. Pihaknya juga mendesak agar presiden tetap menjaga kondisi Maluku yang damai dan aman.
“Jika perlu kami akan menghadap kepada Presiden bersama dengan tokoh Ambon yang berada di Jakarta,” tambahnya.
Bentrok warga pecah usai pemakaman tukang ojek bernama Darfin Saiman di kawasan Mangga Dua. Massa yang marah kemudian melempar batu dan membakar kendaraan.{vivanews)
Presedium MER-C :Keputusan diturunkannya pasukan dari luar Ambon adalah langkah yang tepat,
Keputusan pemerintah menerjunkan pasukan keamaanan dari luar Ambon dinilai tepat. Hal itu dikatakan Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), dr. Jose Rizal Jurnalis.
Jose yang pernah bertugas pada konflik Ambon di tahun awal tahun 2000-an mengatakan, selama ini aparat keamaanan setempat selalu berpihak kepada salah satu kelompok. “Maka, dengan diturunkannya pasukan dari luar Ambon (400 personel Brimob dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur) adalah langkah yang tepat,” kata Jose.
Menurut Jose, hal tersebut menandakan pemerintah telah belajar dengan baik dari kasus-kasus kerusuhan Ambon yang terjadi sebelumnya.
Namun dia mengingatkan, agar pemerintah tidak hanya menggunakan pendekatan aparat keamaanan saja. Rencana sweeping, dan penangkapan-penangkapan malah akan menimbulkan resistensi dari warga setempat yang memang berwatak keras.
“Mereka itu enggak takut dengan bedil, kok,” tukas Jose.
Jose mengatakan, hingga saat ini MER-C belum ada rencana untuk pergi ke Ambon.Dia berharap kerusuhan yang terjadi Ahad (11/9) tidak berkepanjangan.
Komnas Ham tengah menelusuri penyebab konflik
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) tengah menelusuri penyebab terjadinya kericuhan di Ambon, Maluku, pada Ahad (11/9) lalu. Ditemukan ada lima faktor yang diduga ikut memicu konflik berdarah tersebut.
“Komnas HAM telah menerjunkan timnya ke Ambon pascakericuhan tersebut. Tim mendapatkan sejumlah informasi yang layak untuk didalami demi mengungkap akar penyebab terjadinya peristiwa tersebut,” kata Komisioner Komnas HAM Saharuddin Daming, di Jakarta, Rabu (14/9).
Yang ditemukan antara lain dugaan adanya orang yang memanfaatkan peristiwa kematian warga bernama Darfing Saeman (tukang ojek) untuk kepentingan yang belum jelas. Juga ada provokator yang tidak puas dengan penyelesaian konflik pada 1999. Selain itu, dugaan adanya usaha pengalihan isu terutama isu daerah dan adanya dugaan kepentingan militer untuk tetap berada di Ambon.
“Serta adanya dugaan kelambanan yang disengaja dari aparat,” katanya.
Terlebih, dengan kondisi psikologi warga yang mudah terbakar. “Mana yang benar dan yang relevan, masih sedang didalami atau diuji di lapangan,” papar Daming.
Peristiwa kericuhan yang terjadi pada Ahad (11/9) lalu itu dipicu meninggalnya tukang ojek Darfing di Gunung Nona yang tidak jelas proses hukumnya. Permasalahan yang sekarang berkembang di Ambon, lanjut Daming, adalah mencari tahu penyebab peristiwa kematian Darfing yang diikuti aksi pembakaran dan penyerangan.(METRONEWS)
Mantan Wapres Jusuf Kala :pemerintah bersikap tegas untuk meredam kerusuhan di Ambon. Dia yakin konflik bisa segera teratasi.
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta pemerintah bersikap tegas untuk meredam kerusuhan di Ambon. Dia yakin konflik bisa segera teratasi.
“Saya berharap pemerintah  tegas dan masyarakat juga jangan cepat terpancing dengan isu,” katanya usai memberikan orasi ilmiah pada acara Dies Natalis Universitas Syiah Kuala Banda Aceh ke 50, Senin, 12 September 2011.
Menurut Kalla kerusuhan yang kembali terjadi di Ambon itu dipicu karena cepatnya beredar isu yang tidak benar. Untuk itu dia meminta semua pihak tak terpancing. “Saya rasa itu kasusnya sama seperti di London, kerusuhan itu karena kecepatan isu yang timbul,” ujarnya.
Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) itu juga yakin kerusuhan itu tak berlangsung lama jika masyarakat tidak terpancing dengan isu. Pemerintah juga diminta bertindak cepat agar kerusuhan tak menjalar. “Setelah kesalahpahaman itu diatur, saya yakin selesai,” katanya.
Dalam kesempatan itu,  Kalla juga bercerita seputar usahanya dalam mewujudkan perdamaian di Aceh dan Ambon. Sebagai pengusaha, kata Kalla, dia juga mengunakan trik dagang untuk menyelesaikan konflik di dua wilayah itu.”Trik dagang itu sangat berguna, dan dapat digunakan dalam keadaan apa saja,” ujarnya.
Komisi III akan meminta pertanggungjawaban aparat kepolisian
Komisi III akan meminta pertanggungjawaban aparat kepolisian menangani kerusuhan tersebut. “Kita akan minta penjelasan soal penyebab konflik di Ambon dan upaya Kapolri meredamnya,” kata Saan.
“Kita akan minta pertanggungjawaban Kapolri. Rapim komisi akan jadwalkan pemanggilan kapolri,” tambah Saan.
Korban tewas bertambah
Korban tewas akibat bentrok massa di Ambon, Maluku, yang meletup sejak Minggu 11 September 2011 tercatat bertambah menjadi tujuh orang. Meski demikian, Mabes Polri yang mengecek jumlah korban sampai Selasa kemarin, mengatakan situasi Ambon kini membaik.
“Korban meninggal bertambah. Kalau kemarin tiga orang, sekarang jadi tujuh orang,” kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Polisi Anton Bachrul Alam di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa 13 September 2011.
Korban luka akibat bentrok massa itu tercatat sekitar 64 orang. Dua orang di antaranya adalah anggota Polri, sedangkan lainnya warga sipil.  Korban tewas dan luka, menurut Anton, disebabkan oleh banyak hal. “Ada yang kena luka tembak, kekerasan, lempar batu dan sebagainya,” ujar mantan Kapolda Jawa Timur ini.
Situasi Ambon, menurut Mabes Polri, kini membaik. “Alhamdulillah kondusif. Masyarakat sudah bisa melakukan kegiatan mencari ekonomi, berdagang dan sebagainya,” kata Anton.
Di Ambon, dilaporkan kerusuhan yang sempat mencekam seluruh Ambon itu,  juga membuat sejumlah warga mengungsi. “Berdasarkan data yang masuk, pengungsi kota Ambon mencapai 2000 jiwa,” ujar Sekda Provinsi Maluku, Ros Far-Far, Selasa 13 September 2011.
Para pengungsi berasal dari daerah Mardika, Batu Gantung, Tanah Lapang Kecil (Talake) dan Waringin. Gelombang pengungsian juga terjadi di desa Rumahtiga, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon. Warga mengungsi karena rumah dan harta benda hangus dibakar saat bentrok terjadi, dan juga dibayangi trauma sebagai korban konflik 1999 lalu.
Dinas Sosial Kota Ambon telah menyalurkan bantuan kepada para pengungsi berupa beras dan mie instan di sejumlah titik lokasi pengungsian. Pengungsi asal desa Rumahtiga, M. Latuny, 61 tahun, berharap masyarakat Kota Ambon belajar dari pengalaman sebelumnya. “Permusuhan hanya timbulkan penderitaan yang berkepanjangan,” ujarnya
Ketua PBNU :Mari Bersama-sama Jadikan Ambon Aman
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) KH Said Aqil Siradj berharap, situasi kondusif yang mulai tercipta di Ambon, Maluku, pasca terjadinya kerusuhan antarwarga beberapa hari lalu bisa terus dipertahankan.
Said Aqil juga meminta, semua pihak proaktif memberikan sumbangsih nyata, agar kerusuhan yang sama tidak lagi terulang di waktu mendatang.
“Sebisa mungkin kerusuhan (kemarin) itu yang terakhir. Jangan sampai ada lagi kerusuhan di Ambon. Mari bersama-sama kita membantu, agar harapan Ambon terus aman di waktu mendatang menjadi kenyataan,” seru Said Aqil melalui pesan singkat, di sela kegiatannya menghadiri International Meeting for Peace di Jerman, Selasa, 13 September 2011.
Untuk terciptanya situasi kondusif di Ambon secara terus-menerus, Said Aqil meminta semua pihak yang memiliki kerenggangan hubungan di masa lampau menahan diri. Seluruh elemen masyarakat di Ambon juga diminta tak mudah terprovokasi, terhadap munculnya isu-isu yang tak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
“Untuk menciptakan Ambon yang aman, bukan hanya mereka yang dulu terlibat konflik yang harus pro aktif menahan diri atas munculnya isu. Semua lapisan masyarakat, termasuk yang di luar Ambon juga harus ikut menjaga agar kerusuhan benar-benar tak lagi terulang,” urai Said Aqil mengenai pemikirannya menjadikan Ambon kembali aman.
Hal penting yang juga disampaikan Said Aqil mengenai harapan Ambon benar-benar aman adalah dipupuknya kerukunan antar umat beragama. Pemerintah pusat dan pimpinan di Ambon didorong untuk terus mempertahankan dan memunculkan terobosan baru guna terjaganya hubungan harmonis antar umat beragama.
“Syukur Nahdliyin di Ambon bisa membantu secara nyata. Itu akan menguatkan citra NU sebagai civil society yang mengajarkan Islam itu damai,” tegasnya.
Said mewaikili institusi PBNU juga mendukung upaya aparat kepolisian sebagai penegak hukum untuk terus melakukan penjagaan, sampai Ambon benar-benar aman. Namun, kepolisian juga diingatkan tak berlaku semena-mena saat melakukan pengamanan, agar tidak memicu munculnya kebencian masyarakat, yang dikhawatirkan justru menjadi penyebab terjadinya kerusuhan baru.
“Tidak hanya melakukan pengamanan dengan baik. Polisi juga harus secepatnya memberlakukan proses hukum yang adil, apabila hasil analisa kerusuhan (kemarin) itu memang ada pihak yang patut dipersalahkan. Berikan masyarakat kepuasan, polisi memang bisa bekerja dengan baik untuk keamanan di Ambon,” tutur Said Aqil. Laporan: M Arief Hidayat (Vivanews)
Sekretaris DPP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti :Faktor keadilan sosial sangat erat kaitannya dengan konflik horisontal
Sekretaris Dewan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti menilai, akar konflik kerusuhan yang muncul di beberapa wilayah Indonesia seperti Ambon dan Papua secara pasti belum dapat dijelaskan. Namun demikian, dia mengatakan faktor keadilan sosial sangat erat kaitannya dengan munculnya konflik-konflik horizontal di dalam masyarakat.
“Masyarakat bagai rumput kering, sekecil apapun persoalan yang memicu, dapat tersulut api dan dengan mudah terprovokasi,” katanya dalam diskusi  “Kerusuhan Ambon dan Papua; Akar Penyebab dan Pemecahannya,” di Menteng, Jakarta Pusat, Kamis 15 September 2011.
Mu’ti melihat akar masalah di Ambon tidak jelas, lebih mengarah pada anomali namun secara nyata terdapat fakta masyarakat saling curiga dan konfliknya terasa sampai sekarang. Dia menjelaskan pada awalnya muncul anggapan bahwa agama, isu gerakan separatis Republik Maluku Selatan (RMS), dan rivalitas politik menjadi pemicu.
“Ternyata bukan isu agama, tapi agama bisa ditarik dalam sebuah konflik. Eksistensi RMS, di sana tidak populer lagi. Rivalitas politik ternyata juga tidak benar,” jelasnya.(vivanews)
Pernyataan Sikap Majelis Mujahidin Indonesia
BARU SEPULUH hari berlalu, umat Islam merayakan Idul Fitri 1432 H, terjadi lagi rusuh SARA di Ambon, mengingatkan kita pada rusuh SARA sebelumnya di Hari Idul Fitri 1421 H (19 Januari 1999 M) lalu. Modusnya sama, pembunuhan warga Muslim oleh warga Kristen, lalu pihak Muslim menuntut balas, sehingga terjadi konflik horizontal yang menelan banyak korban.
Kerusuhan yang terjadi pada 10 September 2011 ini, bersamaan dengan momentum peringatan Bom WTC 11/9/2011 di Amerika, seakan merupakan rentetan duka kaum Muslim di daerah-daerah yang didominasi aparat atau pemerintahan Non Islam di dunia. Betapa tidak, kerusuhan yang menurut polisi dipicu oleh kecelakaan tunggal Si Tukang Ojek Darkin Saiman di daerah yang mayoritas Kristen, dengan cepat merebak menjadi kerusuhan bernuansa SARA.
Kepala Bareskrim Polri, Komjen (Pol) Sutarman menjelaskan: “Ada seorang tukang ojek (Darkin Saiman) yang sebenarnya kecelakaan tunggal, tapi malah dipukuli kelompok tertentu (Kristen), sehingga terjadi balas dendam setelah upacara pemakaman,” ujar Sutarman di Mabes Polri, Jakarta, (11/9/2011).
Senada dengan itu, kabar dari pihak keluarga korban menyatakan, “Helm milik Darkin Saiman, tukang ojek yang tewas itu dalam keadaan utuh, tapi kepalanya pecah karena adanya benturan pukulan. Begitu juga ada luka tusuk di punggungnya.”
Jelas, kerusuhan dipicu adanya penganiayaan terhadap tukang ojek Muslim di daerah Kristen yang menyebabkan kematiannya. Bukan kecelakaan tunggal atau akibat provokasi. Tetapi aparat keamanan atau pemerintah Daerah, tidak segera menangkap pelaku penganiayaan/pengeroyokan, malah mengalihkan perhatian dengan mengancam provokator SMS. Berdasarkan fakta di atas, maka Majelis Mujahidin menyampaikan pernyataan sikap sbb:
Pertama, Polisi dan aparat keamanan supaya bertugas melindungi kepentingan rakyat, baik Islam dan Non Islam, bukan menjadikan agama sebagai komoditas politik dan alat adu domba.
Kedua, segera menangkap pelaku penganiayaan dari pihak Kristen, bukan mengalihkan perhatian publik dengan menjadikan ekses sebagai obyek penyelesaian konflik. Apalagi mengancam ‘provokator penyebar SMS’, sementara korban dari warga Muslim terus berjatuhan, dan para pihak yang terlibat atas kematian Darkin Saiman tidak tersentuh hukum. Hal ini pasti akan menjadi pemicu konflik baru. Kesaksian Komjen (Pol) Sutarman, pihak keluarga, dan foto korban penganiayaan sudah cukup bagi polisi untuk melakukan tindakan tegas dan cepat
Ketiga, melakukan investigasi forensik terhadap korban-korban meninggal yang terkena timah panas. Siapa yang menembak, aparat keamanan atau sipil bersenjata? Jika dari pihak sipil dari mana mereka dapatkan senjata, dan bagaimana mereka mendapatkan senjata tersebut? Jika dari aparat maka tidak mungkin dia bertindak sendiri tanpa komando atasannya, yang berarti aparat tidak lagi netral dan adil menangani masalah di lapangan, maka perlu diadakan sweeping dan screening dikalangan aparat ataupun sipil bersenjata.
Keempat, mengurangi dominasi aparat keamanan beragama Kristen maupun pemerintah Daerah di Ambon agar tidak menimbulkan diskriminasi sosial, politik dan keamanan.
Kelima, memberitahukan kepada kaum Muslimin Indonesia, manakala kasus ini direkayasa kearah permusuhan terhadap kaum Muslim Ambon, akibat sikap diskriminatif dari oknum-oknum polisi dan keamanan. Maka Majelis Mujahidin menyerukan Jihad melawan siapa saja yang melakukan penyerangan kepada kaum Muslim Ambon. Kesiagaan kaum Muslimin untuk membantu saudaranya di Ambon supaya dipersiapkan.
Demikian pernyataan ini kami sampaikan sebagai kontribusi penyelesaian kasus di Ambon secara tuntas dan bermartabat, tanpa intervensi politik dan sentimen agama.
Yogyakarta, 15 Syawal 1432 H/ 13 September 2011 M
Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin
Irfan S. Awwas
Ketua
M. Shabbarin Syakur
Sekretaris
Drs. Muhammad Thalib
Amir Majelis Mujahidin
(sumber :eramuslim.c

Ironis..ada Perbedaan sikap Pejabat terhadap Bom Solo dan Konflik Ambon

Warga di Ambon yang diserang dan rumahnya dibakar punya kedudukan yang sama dengan jemaat gereja disolo yang mendapat serangan bom punya kedudukan yang sama yaitu sama sama RAKYAT INDONESIA, maka sepantasnya para pejabat negara maupun media yang mengedapankan kepentingan nasional harus memperlakukan hal yang sama. Kalau pada kasus ambon diupayakan untuk tidak mengekspos FAKTA YANG TERJADI, maka seruan tersebut harus juga berlaku pada kasus bom solo. Tetapi kalau Kasus Bom solo dibenarkan mengekspos besar besaran sedemikian rupa maka pada kerusuhan Ambon harus diperlakukan hal yang sama.
Warga ambon yang diserang dan jemaat Solo sama sama sebagai pihak yang terzalimi oleh para penyerang, padahal mereka bisa jadi adalah orang yang tidak tahu terhadap persoalan yang sedang terjadi.
Kalau tujuan mengekspos Bom solo dan sejenisnya untuk memberi efek jera, perlu diusut tuntas hingga ke akar akarnya maka pada kasus kerusuhan Ambon juga harus diperlakukan hal sama, siapapun yang melakukan kezaliman, pelanggaran hukum harus ditindak tegas tidak peduli siapa dia dan dari kelompok mana dia.
Kalau korban Bom solo mendapat perhatian yang sangat serius oleh para pejabat negara dan media, maka seharusnya Korban kerusuhan Ambon juga diperlakukan hal yang sama, dan dalam hal ini tidak membeda bedakan latar belakang Korban apakah ia dari kelompok minoritas maupun kelompok mayoritas.
Sekali lagi pertimbangannya adalah atas dasar nilai-nilai kemanusiaan dan hukum mereka punya kedudukan yang sama.
Dan kita lihat realitanya.
1.Tentang seruan agar Media/pers berhati hati dalam pemberitaan

Ketika Konflik Ambon yang terjadi semua pihak ,baik pihak pengelola Negara maupun media skala Nasional berusaha meredam  peristiwa tersebut ,agar peristiwa tersebut tidak berkelanjutan (baca Ada yang “bermain’ dalam Konflik Ambon?),bahkan beberapa Pejabat maupun Anggota lembaga Negara lainnya memperingatkan kepada media agar hati hati memberitakan peristiwa tersebut. dan seruan tersebut dimuat diberbagai Media skala Nasional, cobalah gunakan searchengine  DENGAN KEYWORD :


“media harus hati hati beritakan konflik ambon”

BANDINGKAN DENGAN keyword :

media harus hati hati beritakan BOM SOLO


hasilnya pada keyword : ‘media harus hati hati beritakan konflik ambon’ hasilnya banyak media menyampaikan seruan agar memberitakan secara hati hati,tetapi ketika dengan kata kunci yang kata ‘konflik ambon’ diganti dengan Bom Solo,tak ada seruan dari pejabat ataupun lembaga Negara yang media tertarik untuk menyampaikan seruan berhati hati dalam memberitakannya,justru hasil yang didapat idak jauh berbeda dengan menggunakan keyword pertama


2.Perbandingan Sikap Pejabat Negara setelah 2 peristiwa terjadi
Peledakan Bom yang terjadi di Gereja Bethel Injil Solo membuat pihak pemerintah panik. Baru beberapa jam ledakan terjadi, SBY langsung menggelar konferensi pers. Secara lantang, SBY menginstrusikan polisi membongkar jaringan terorisme ini.
“Saya instruksikan agar investigasi lanjutan dilakukan secara intensif untuk mengetahui dan membongkar habis rangkaian jaringan pelaku teror di Cirebon dan Solo,” katanya dalam konferensi pers, Minggu (25/9).
Tapi hal berbeda justru terjadi pada kasus Ambon. Tidak sebersit pun membuat SBY siaga menyiapkan aparatnya untuk mengusut tuntas kasus tersebut. SBY pun tidak terlihat lantang berbicara untuk meminta polisi dan Densus mengungkap habis jaringan Kristen yang membantai umat muslim, “Padahal jumlah korban (umat muslim di Ambon, red) lebih banyak,” kata Direktur Lembaga Pengkajian Syariat Islam, Fauzan Al Anshari sebagaimana yang dilangsir oleh Eramuslim.com, senin pagi, (26/9)
Ketimpangan inilah yang menjadi bukti bahwa SBY tidak adil dalam menyikapi dua kasus dari dua agama berbeda ini. Dalam kasus Solo, belum saja pengusutan tuntas dilaksakanakan, Dewan Pembina Partai Demokrat itu langsung menunjung hidung kejadian Solo terkait dengan jaringan Cirebon yang notabene banyak umat Islam menjadi tertuduh.
“Investigasi sementara yang dilakukan, pelaku pembom bunuh diri ini adalah anggota dari jaringan teroris Cirebon dan kelompok itu melakukan aksi terorisme di Cirebon,” katanya di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Minggu (25/9) sore.
Hal ini lagi-lagi berbeda dengan yang dialami warga muslim Ambon. Sampai sekarang umat muslim masih tinggal di barak pengungsian. Rumah mereka hangus dibakar. Lima orang Nashrani yang membunuh lima orang muslim pun belum tertangkap. “Bayangkan kasus Ambon saja belum ditemukan siapa pembunuh Darmin (Tukang Ojek Muslim, red). Tapi untuk Bom Solo, sudah dikaitkan ke jaringan Cirebon,” tukas Fauzan Al Anshari.
Menurut Fauzan, SBY diuntungkan dalam kasus Solo. Masyarakat tidak akan banyak mendapatkan informasi mengenai kasus Korupsi yang menimpa partainya. “Karena pasti media akan mengalihkan berita ke Solo,” ujarnya.
Sebaliknya, umat Muslim lagi-lagi bagai petikan lama yang kembali tersudutkan. Terorisme bagai paku mati yang hanya bisa menancap di tubuh umat muslim, tapi tidak untuk kaum Kristiani, tutur Fauzan.
Hal inlilah yang membuat umat takut untuk berIslam secara kaffah. “Saya sudah dapat laporan di beberapa mesjid banyak jama’ah khawatir, mereka takut menyuarakan tentang Syariat.” ujarnya prihatin.
3.Perbandingan kepedulian terhadap korban 2 peristiwa tersebut.
kita lihat data korban dua peristiwa tersebut
A. DATA KORBAN KONFLIK AMBON
Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon secara resmi menetapkan jumlah pengungsi korban konflik antarwarga 11 September 2011 sebanyak 485 Kepala Keluarga (KK) atau 1.899 jiwa.
“Jumlah pengungsi berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan resmi ditetapkan sebanyak 485 KK atau 1.899 jiwa, karena tidak memiliki tempat tinggal,” kata Ketua Posko penanggulangan pengungsi Ambon, Jan Haumasse saat pertemuan dengan Komisi I DPRD kota Ambon, di Ambon, Rabu (21/9,warta kota).
Dia mengatakan, ribuan warga lainnya yang saat ini mengungsi karena merasa tidak aman dan bukan berstatus pengungsi, akan dipulangkan ke rumah masing-masing, mulai Rabu (21/9).
Sedangkan jumlah rumah yang terbakar, rusak berat dan ringan tercatat sebanyak 268 unit yakni 226 unit terbakar, rusak berat 26 unit serta 16 lainnya rusak ringan.
B.DATA KORBAN BOM SOLO
Bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, Jawa Tengah mengakibatkan korban luka sebanyak 24 orang. 10 Di antaranya kini sudah pulang dari Rumah Sakit dr Oen, Kandang Sapi, Solo. Sedangkan 14 orang lainnya masih dirawat.
“14 Orang masih dirawat. Semuanya sudah dioperasi untuk mengambil sesuatu dari dalam tubuh. Semuanya sadar. Tapi masih dalam pemulihan. Jadi ada 24 orang totalnya,” kata Sekretaris PMI Solo, Sumartono Hadinoto saat dihubungi detikcom, Senin (26/9/2011).
ketika Bom Solo meledak banyak pejabat Negara ataupun mantan pejabat Negara menunjukan perhatian dan kepedulian serius terhadap korban bom solo.
berbagai media memberitakan para pejabat maupun mantan pejabat mengunjugi mereka dirumah sakit,menyemangati mereka para Korban bom solo.
semua tindakan yang menunjukan kepedulian tersebut memang tidak ada yang salah,tetapi justru menjadi pemandangan yang sangat miris ada bagian yang merka juga Rakyat Indonesia,korban kezaliman,mereka juga bagian anak bangsa tidak mendapat perlakuan yang sama.
Bahkan lebih miris lagi Para Korban Konflik Ambon harus nekat ‘mencegat’ mereka kesal karena beberapa kali kunjungan menteri tidak pernah meninjau langsung kelokasi rumah mereka yang hancur akibat konflik.
Puluhan warga korban konflik Ambon ini nekad menghadang iring-iringan rombongan Menko Kesra dikawasan Waringin. Mereka mendesak Menko Kesra Agung Laksono untuk turun melihat kondisi rumah mereka yang hancur akibat konflik.  Namun aksi warga ini tidak berlangsung lama, setelah Menko Kesra Agung Laksono memenuhi permintaan warga turun melihat langsung ke rumah mereka yang hancur.
artinya sejak awal tidak diagendakan kunjungan langsung kepada Korban konflik Ambon sebagaimana mereka para Pengelola Negara menunjukan kepedulian yang besar terhadap para korban Bom Solo.
dan untuk lebih jelas lagi,agar kita semua bisa melihat perbandingan ini secara realita bisa menggunakan Searchengine dengan kata kunci “korban bom solo” dan “korban Konflik Ambon “untuk memperbandingkan bagaimana Sikap Para penyelenggara Negara dan para pejabat lembaga Negara dalam menyikapi 2 peristiwa yang semuanya sebenarnya sama sama memilukan,mengoyak oyak nilai nilai kemanusiaan.
Dan setelah menyaksikan realita ini tetap sebagai Muslim,kita tidak boleh menyikapi persoalan ini dengan sikap sikap Anarkhis,karena cara cara Anarkhis sama sekali tidak menyelesaikan masalah tetapi justru sebaliknya cara cara tersebut justru memperkeruh persoalan dan tindakan anarkhis bisa berbuah menjadi bumerang pada diri sendiri.
maka kalau Anda adalah Muslim dan serius menjadikan Al Qur’an sebagai petunjuk hidup kita,maka siapapun anda,sedang berposisi sebagai Pejabat pengelola Negara,sebagai pengelola media ataupun sebagai rakyat biasa maka kita harus berusaha dengan sungguh sungguh menyikapi segala persoalan secara Adil,dan kalaupun menjadi saksi adalah saksi yang adil.
walaupun kepada sekelompok orang yang anda benci ataupun orang orang yang sangat anda cintai sebagaimana Firman Allah swt ini :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاء لِلّهِ وَلَوْ عَلَى أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِينَ إِن يَكُنْ غَنِيّاً أَوْ فَقَيراً فَاللّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلاَ تَتَّبِعُواْ الْهَوَى أَن تَعْدِلُواْ وَإِن تَلْوُواْ أَوْ تُعْرِضُواْ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيراً
[4:135] Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia361 kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
[5:8] Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakuadillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Maha benar Allah dengan segala firmanNya




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar