Selasa, 18 Oktober 2011

Marie Elka Titipan Asing, Tak Mungkin Diganti....>>> Dari 34 menteri di jajaran Kabinet Indonesia Bersatu Jilidi II, Menteri Perdagangan yang dijabat dua periode Mari Elka Pangestu termasuk dalam salah satu menteri yang paling banyak dikeluhkan. BUKTINYA, dalam beberapa bulan terakhir, terdapat tiga menteri yang mengeluhkan kebijakan mantan dosen UI ini. Ketiganya adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Menteri Pertanian Suswono, serta Menteri Perindustrian MS Hidayat......>> Mari Elka Pangestu (bahasa Tionghoa: 冯慧兰; lahir di Jakarta, 23 Oktober 1956; umur 54 tahun) adalah Menteri Perdagangan Indonesia sejak 21 Oktober 2004. Ia adalah wanita Tionghoa-Indonesia pertama yang memegang jabatan sebagai menteri di Indonesia.....>>> Mari Elka Pangestu Menteri Indonesia yang Aneh....>>>Direktur Eksekutif Econit Advisory Group, Hendri Saparini, nasionalisme Mari Elka Pangestu yang sudah dua periode menjadi Menteri Perdagangan, memang patut dipertanyakan. Secara umum kebijakan Mari Elka menghancurkan basis industri dalam negeri dan di saat bersamaan menciptakan pengangguran yang merupakan basis kemiskinan yang meluas......>>> ...Menurut Hendri yang dihubungi beberapa saat lalu (Sabtu, 14/5) bukti paling dekat dari nasionalisme Mari yang patut dipertanyakan itu adalah saat dia menjadi ketua delegasi Indonesia dalam forum renegosiasi China Asean Free Trade Agreement (CAFTA) bulan April tahun lalu. Ketika itu ada 228 pos tarif yang sedang diperbincangkan. Renegoisasi tersebut sangat krusial karena kalau gagal dapat mengancam kehidupan sembilan subsektor industri dalam negeri. Tetapi, Mari Elka Pangestu seakan berpihak kepada RRC dengan menyatakan Indonesia siap menerima barang China dalam jumlah yang lebih banyak. Hasil pembicaraan antara Mari Elka Pangestu dan Menteri Perdagangan China, Chen Deming, di Jogja itu dituangkan dalam tujuh butir kesepakatan...>>...Tjipta Lesmana: Mari Elka Pangestu Geblek!...?? ... Pengamat Komunikasi Politik dari UI, Effendi Gazali mengaku sangat geli melihat proses tarik ulur perombakan kabinet dalam pemerintahan SBY. “Ini seperti sinetron politik dan belum pernah saya lihat di negara mana pun,” tutur Effendi....>> ...Sumber Daya Alam yang melimpah, dikuras, bahkan mampu membangun sebuah negara yang mengeruknya, APBN yang luar biasa besar dengan angka2 yang fantatstis dari tahun ke tahun,Sumber Daya Manusia yang unggul dengan stock yang sangat banyak pinter dan cerdas2,seruan kebijakan yang selalu dinyanyikan dengan merdu dari generasi ke generasi sehingga mampu membuat rakyat tidur dalam buainya, konglomerat dan pengusaha yang se abreg yang lahir dari rahim ibu pertiwi, semuanya ternyata belum nyambung dengan harapan Rakyat, seolah-olah tidak ada hubungnya. Hingga hari ini kita masih menyaksikan bagaimana kemiskinan masih mudah untuk di tonton dan dirasakan,antrean ‘pengemis’ sembako di berbagai daerah menandakan bahwa supaya dapur ngebul ‘berasap’ masih mahal, pendidikan berkualitas yang katanya murah dan gratis tidak sesuai dengan impian rakyat tetap memerlukan pengeluaran yang mahal, demikian pula anggaran untuk sehat bagi si sakit jauh api dari panggang dan selalu menguras ekonomi keluarga. ...>> Bebaskan Indonesia dari sandera !!! Pertanyaan dasar dan sederhana siapa yang melakukan sandera tersebut? Apa bahayanya Kalau membiarkan penyanderaan ini berlarut-larut, siapa yang di rugikan? Apa dasarnya usaha untuk membebaskan Indonesia dari sandera.Yang melakukan sandera adalah para pengambil kebijakan dan perangkatnya yang memiliki wewenang untuk menakhodai kapal Indonesia,wewenang karena amanah yang di berikan oleh Rakyat sesuai dengan kesepakatan melalui UU, sandera terjadi karena para pengambil kebijakan tersebut tidak menjalankan amanah yang di titipkan,mereka menafsirkan nasib rakyat berdasarkan kepentingnya,mengutamakan kelompok dan keluarganya,menjual wewenangnya terhadap para cukong dan calo sehingga menguntungnya cukong dan ‘tuanya’..... >>


Fadel Ditendang, Mari Elka Dipertahankan Karena Sukses

Tribunnews.com - Selasa, 18 Oktober 2011 21:17 WIB



Fadel Ditendang, Mari Elka Dipertahankan Karena Sukses
/Tribun Manado/Rizky Adriansyah
Menteri Perdagangan RI, Mari Elka Pangestu.









TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden SBY menganggap Mari Elka Pangestu sukses membangun ekonomi kreatif di Indonesia selama ini.
Karena itu, SBY pun memindahkan Mari Elka dari jabatannya di Kementerian Perdagangan ke jabatan baru sebagai Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif.
"Selama ini Saudari Mari Elka Pengestu saya anggap sukses membangun ekonomi kreatif di Indonesia," kata SBY saat pidato pengumuman reshuffle kabinet di Istana Negara, Selasa (18/10/2011) malam.
SBY melepaskan fungsi kebudayaan dari kementerian Pariwisata. Kebudayaan digabungkan ke Kementerian Pendidikan. Selanjutnya SBY menambahkan fungsi baru yakni ekonomi kreatif yang digabungkan dengan Kementerian Pariwisata yang rencananya dipimpin oleh Mari Elka Pangestu. Jero Wancik yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pariwisata dan Kebudayaan dipindahkan SBY menjadi Menteri ESDM.
Nama Mari Elka memang beberapa kali diramalkan para pengamat bakal terdepak dari kabinet. Kebijakan impornya selama memimpin Kementerian perdagaangan dianggap terlalu pro barat. Beberapa waktu lalu bahkan mencuat soal perseteruan Fadel Muhammad dan Mari Elka. Keduanya berseteru karena masalah garam impor.
Namun ternyata SBY beranggapan lain. Mari Elka dianggap sukses dan tetap ditempatkan dalam kabinet. Sementara mantan seterunya, Fadel Muhammad, malah ditendang dari kabinet.
Fadel Muhammad mengaku terkejut begitu mendengar pernyataan resmi Presiden SBY yang mendepak dirinya sebagai Menteri Perikanan dan Kelautan. Meski legowo, Fadel mengaku masih bertanya-tanya apa dasar dirinya diganti.
"Apa salah saya? Sejauh ini, saya tak punya masalah-apa-apa. Tapi, saya menerima keputusan Pak Presiden, dari awal saya sudah katakan berada di dalam atau di luar, saya bisa bekerja untuk negara," kata Fadel kepada Tribun, Selasa (18/10/2011).

Penulis: Prawira Maulana  |  Editor: Prawira Maulana
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com

Reshuffle, Amankan Kepentingan Demokrat dan Neolib

Besok, Selasa (18/10/2011), sekitar pukul 20.00 WIB, Presiden SBY akan mengumumkan kabinet baru di Istana Negara. Sedangkan pelantikannya, akan digelar pada Rabu (19/10/2011), juga di Istana. Sejumlah menteri sudah dipastikan keluar dari kabinet atau bergeser ke pos lain.
MENTERI yang sudah pasti diganti antara lain Menteri Negara BUMN, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Hukum dan HAM, Menteri Perdagangan (Mari Pangesti pindah pos ke Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan), dan Menteri ESDM, Menteri Perhubungan, Menteri PAN, Menteri Kelautan dan Perikanan, dan Menteri Riset dan Teknologi.
Melihat komposisi dari orang-orang yang akan menduduki menteri hasil reshuffle, tampak ada keanehan. Tampaknya SBY tetap mengedepankan kepentingan politis dan ideologis di lingkarannya belaka, ketimbang kepentingan yang lebih besar, yakni seluruh rakyat Indonesia. Sebut saja Kementerian ESDM, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Perdagangan.
Sejumlah posisi penting, seperti Kementerian ESDM dan Kementerian Hukum dan HAM di-takeover oleh kader demokrat. Ada kemungkinan, posisi Kementerian ESDM ini bertujuan untuk mengamankan aset-aset asing dan roda usaha investor asing yang selama ini sudah merasa nyaman mengeruk kekayaan alam Indonesia. Salah satunya adalah mengamankan aset Freeport dari ancaman karyawannya sendiri.
Yang lebih krusial lagi, adalah Kementerian Hukum dan HAM. Banyaknya kader Partai Demokrat yang tersangkut hukum merupakan persoalan yang perlu dibentengi. Tujuannya tentu saja, agar nama Demokrat tidak turun di mata rakyat. Sebab, jika banyak kadernya yang masuk bui, maka dapat dipastikan suara partai berlambang mercy ini akan terjun bebas di Pemilu 2014.
Paling aneh lagi, SBY masih tetap mempertahankan Mari Elka Pangestu sebagai pembantunya. Padahal, sudah jelas di pelupuk mata, kinerja menteri yang satu ini benar-benar membuat marah sebagian besar penduduk bangsa ini. Terutama ketika membuka kran impor selebar-lebarnya, khususnya impor dari China. Termasuk importasi garam dan kentang.
Mari, adalah sosok yang jelas-jelas Neolib. Karena faktor itulah, SBY pun mempertahankannya sebagai menteri. Padahal, jika tidak ada cantolan kuat seperti itu, bisa dipastikan Mari pun akan didepak dari kabinet, seperti halnya Patrialis, yang hanya punya cantolan partai politik.
Bahkan, orang yang menggantikan Mari di Kementerian Perdagangan pun dikenal sebagai orang Neolib. Dia adalah Gita Wirjawan. Seorang profesional yang sudah menikmati enaknya kue Neolib. Sehingga, diprediksi, kebijakannya akan tetap sama seperti Mari Pangestu,  yakni hanya berpihak kepada asing, pengusaha besar, dan mematikan sektor usaha rakyat.
Sementara posisi lainnya tak lebih dari sekedar mengakomodir kepentingan politik dari partai koalisi. Misalnya dari PAN, yang salah satu kadernya didepak, lalu digantikan oleh kader lain, yang kini akan menduduki Menteri Pendayagunaan Aparatu Negara, Azwar Abubakar. Memang, tersiar kabar, masuknya Azwar  untuk mengakomodir sebagian rakyat Aceh, setelah salah satu kader Serambi Mekah itu, Mustafa Abubakar, dicopot dari Menteri Negara BUMN.
Kebijakan terhadap Azwar ini mirip dengan penempatan Bert Kambuaya yang mengakomodir kepentingan wilayah Papua, setelah Fredy Numberi dicopot dari jabatannya sebagai Menteri Perhubungan, yang diambil alih oleh kader Demokrat, EE Mangindaan.
Karena itulah, seorang Pengamat Komunikasi Politik dari UI, Effendi Gazali mengaku sangat geli melihat proses tarik ulur perombakan kabinet dalam pemerintahan SBY. “Ini seperti sinetron politik dan belum pernah saya lihat di negara mana pun,” tutur Effendi.
Menurut Effendi, tarik ulur reshuffle kabinet antara presiden dan partai koalisi akan semakin menggerus sistem pemerintahan Indonesia yang di atas kertas menganut sistem presidensial. “Ini semakin menggerus sistem presidensial kita,” tegas pakar komunikasi politik Universitas Indonesia (UI) ini. Presiden SBY dinilai terlalu memberikan ruang lebih bagi partai dalam tawar-menawar komposisi kabinet. “Ini menimbulkan kesan Presiden membiarkan dirinya tersandera,” katanya.
■  Syarif/Analisis



Marie Elka Titipan Asing, Tak Mungkin Diganti



Penulis: Achsin   
Senin, 17 Oktober 2011 10:24
http://www.indonesiatoday.in/politik/2178-marie-elka-titipan-asing-tak-mungkin-diganti
Marie Elka Pangestu (IST)Marie Elka Pangestu (IST)
itoday – Posisi Marie Elka Pangestu masih aman dalam reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II karena yang bersangkutan titipan asing.
“Marie Elka aman dari reshuffle kabinet karena titipan asing,” kata mantan penasehat PM Thailand, Thaksin Sinawatra, Liem Siok Lan atau Justiani kepada itoday, Senin (17/0).
Menurut Justiani, jika SBY tidak mempertahankan Marie Elka Pangestu posisi SBY akan disingkirkan oleh asing. “Kalau mau bertahan sampai 2014, SBY harus mempertahankan Menteri Marie Elka maupun menteri yang mempunyai kebijakan pro asing,” ujarnya.
Kata Justiani, selama menjabat Menteri Perdagangan, Marie Elka Pangestu mengeluarkan kebijakan impor yang membunuh para petani dan para pengusaha kecil. “Untuk urusan impor, Marie Elka Pangestu penjaga gawangnya,” papar Justiani.
Justiani juga mengatakan, reshuffle yang dilakukan SBY kali ini tidak akan mengubah kebijakan yang pro asing. “Para menteri yang diangkat masih mengedepankan kebijakan pro asing,” pungkasnya. 

Mari Elka Pangestu (bahasa Tionghoa冯慧兰; lahir di Jakarta23 Oktober 1956; umur 54 tahun) adalah Menteri Perdagangan Indonesia sejak 21 Oktober 2004. Ia adalah wanita Tionghoa-Indonesia pertama yang memegang jabatan sebagai menteri di Indonesia.
Mari Pangestu adalah anak dari ekonom terkenal Indonesia, J. Panglaykim. Ia memperoleh gelar Bachelor dan Master of Economics dari the Australian National University, serta gelar Ph.D. dalam bidang Perdagangan Internasional, Keuangan, dan Ekonomi Moneter dari Universitas California, Davis pada tahun 1986. Sebelum menjabat sebagai Menteri Perdagangan, Mari Pangestu telah lama aktif dalam berbagai forum perdagangan seperti PECC dan adalah salah seorang peneliti ekonomi terpandang di Indonesia. Mari Pangestu juga dulunya aktif mengajar di Fakultas Ekonomi UniversitasIndonesia. Selain itu ia juga adalah seorang ekonom dari CSIS. Pada tanggal 18 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Mari Elka Pangestu dipindah tugaskan sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggantikan Jero Wacik [1].
Mari Pangestu menikah dengan Adi Harsono dan memiliki dua orang anak, Raymond dan Arya.

Mari Elka Pangestu Menteri Indonesia yang Aneh
Sabtu, 14 Mei 2011 , 15:36:00 WIB
Laporan: Ihsan Dalimunthe

MARI EP/IST
  

Menurut hemat Direktur Eksekutif Econit Advisory Group, Hendri Saparini, nasionalisme Mari Elka Pangestu yang sudah dua periode menjadi Menteri Perdagangan, memang patut dipertanyakan. Secara umum kebijakan Mari Elka menghancurkan basis industri dalam negeri dan di saat bersamaan menciptakan pengangguran yang merupakan basis kemiskinan yang meluas.

RMOL.
Kecelakaan pesawat Merpati di Kaimana, Papua, pekan lalu, kembali membuka catatan mengenai berbagai keanehan kebijakan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu yang sepintas lebih sering memberikan keuntungan kepada partner dagang Indonesia, dalam hal ini Republik Rakyat China.
Menurut Hendri yang dihubungi beberapa saat lalu (Sabtu, 14/5) bukti paling dekat dari nasionalisme Mari yang patut dipertanyakan itu adalah saat dia menjadi ketua delegasi Indonesia dalam forum renegosiasi China Asean Free Trade Agreement (CAFTA) bulan April tahun lalu.
Ketika itu ada 228 pos tarif yang sedang diperbincangkan. Renegoisasi tersebut sangat krusial karena kalau gagal dapat mengancam kehidupan sembilan subsektor industri dalam negeri. Tetapi, Mari Elka Pangestu seakan berpihak kepada RRC dengan menyatakan Indonesia siap menerima barang China dalam jumlah yang lebih banyak.
Hasil pembicaraan antara Mari Elka Pangestu dan Menteri Perdagangan China, Chen Deming, di Jogja itu dituangkan dalam tujuh butir kesepakatan.
Menurut Hendri kesepakatan Jogja itu jelas merugikan Indonesia. Misalnya butir kelima yang menggarisbawahi peningkatan kredit ekspor dan impor serta kredit buyer.
“Kebijakan ini jelas merugikan industri dalam negeri, karena akibatnya importir-importir Indonesia harus tetap mengimpor barang-barang dari Cina lebih banyak,” ujar Hendri.
Dalam kesepakatan itu, juga disebutkan bahwa Indonesia dan China akan menekan defisit perdagangan kedua negara. Menurut hemat Hendri, dari pasal ini saja terlihat betapa Mari Elka Pangestu tidak berfikir lebih jauh mengenai dampak negatif yang akan terjadi di Indonesia, setelahnya.
“Indonesia ditekan untuk selalu megekspor bahan mentah dan bahan baku. Sedangkan China mengimpor barang-barang jadinya. Ini kan aneh. Jelaslah China sangat senang dan untung kalau dapat banyak bahan mentah dan baku dari Indonesia,” ujar Hendri lagi.
Di sisi lain, kehadiran mass product China ke pasar domestik merusak industri dalam negeri. Dengan demikian, dapat dipahami bila kalangan yang akhirnya menilai bahwa kebijakan Mari Elka Pangestu selama ini anti ekonomi domestik.
Hendri juga mencatat Mari Elka Pangestu sebagai figur yang sangat agresif untuk memberikan keuntungan kepada bangsa lain.
Sikap ini juga terlihat dalam penyusunan kesepakatan Free Trade antara Uni Eropa dan Asean. Berbeda dengan negara Asean lain yang membutuhkan waktu untuk membangun sistem yang dapat memperkuat perekonomian dalam negeri mereka, Mari Elka malah sangat mendorong, agar kesepakatan itu terwujud secepatnya. 
Hendri menuding Mari tidak pernah mempertimbangkan manfaat kesepakatan perdagangan bebas. Menurutnya, menteri tersebut sangat agresif di satu sisi, namun tidak memperhatikan solusinya di sisi lain. Mari seharusnya memperkuat industri dalam negeri dengan mempersiapkan strategi yang matang dan membangun iklim kompetisi dalam negeri yang kuat.
“Tetapi faktanya Mari justru lebih agresif dalam membela kepentingan asing sehingga industri dalam negeri kita terpukul. Dan itu dibiarkannya,” demikian Hendri. [guh]

[sunting]Pranala luar

Tjipta Lesmana: Mari Elka Pangestu Geblek!


Tjipta Lesmana
Sabtu, 15 Oktober 2011 , 12:59:00 WIB
Laporan: Ihsan Dalimunthe

RMOL. Reshuffle sudah masuk tahap finalisasi. Meski demikian, desakan publik agar menteri Mari Elka Pangestu dicopot dari posisinya sebagai Menteri Perdagangan masih kencang disuarakan publik.

Adalah pengamat politik Tjipta Lesmana yang menyampaikannya. Dalam hemat Tjipta, pertengkaran di hadapan publik yang disuguhkan Mari Elka Pangestu terhadap Menteri Perindustrian MS Hidayat dan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dalam kebijakan impor rotan dan garam menjadi bukti Mari Elka Pangestu berperangai tidak baik.

"Perangai dan sikap Marie sudah keterlaluan," kata Tjipta di Warung Daun, Menteng, Jakarta (Sabtu, 15/10).

Pertengkaran yang digemboskan Mari Elka terhadap dua menteri lainnya, kata Tjipta telah mencederai pemerintah, dan karenanya sangat baik untuk diganti.

Alasan lain, sambung Tjipta, Mari Elka Pangestu benar-benar pro asing. Kerjaannya hanya mengimpor. Impor garam yang dilakukan Mari Elka, benar-benar tidak masuk akal, mengingat negara ini negara kelautan dan kepulauan terbesar.

"Mari Elka Pangestu itu geblek. Semoga dia mendengar hujatan saya ini," tandasnya.[dem]

http://www.rakyatmerdekaonline.com/r...gestu-Geblek!-

Indonesia yang Disandera

OPINI | 22 August 2011 | 06:11l
Sumber Daya Alam yang melimpah, dikuras, bahkan mampu membangun sebuah negara yang mengeruknya, APBN yang luar biasa besar dengan angka2 yang fantatstis dari tahun ke tahun,Sumber Daya Manusia yang unggul dengan stock yang sangat banyak pinter dan cerdas2,seruan kebijakan yang selalu dinyanyikan dengan merdu dari generasi ke generasi sehingga mampu membuat rakyat tidur dalam buainya, konglomerat dan pengusaha yang se abreg yang lahir dari rahim ibu pertiwi, semuanya ternyata belum nyambung dengan harapan Rakyat, seolah-olah tidak ada hubungnya.

Hingga hari ini kita masih menyaksikan bagaimana kemiskinan masih mudah untuk di tonton dan dirasakan,antrean ‘pengemis’ sembako di berbagai daerah menandakan bahwa supaya dapur ngebul ‘berasap’ masih mahal, pendidikan berkualitas yang katanya murah dan gratis tidak sesuai dengan impian rakyat tetap memerlukan pengeluaran yang mahal, demikian pula anggaran untuk sehat bagi si sakit jauh api dari panggang dan selalu menguras ekonomi keluarga.

Anak jalanan, pengemis dan gelandangan dan fakir miskin yang di lindungi UUD 45 benar2 di lindungi dan di berdayakan tetap ada bahkan berkembang biak,sedangkan Koruptor,Mafia anggaran berhasil melakukan ideologisasi pancasila dalam arti melakukan penyelesaianaya melalui musyawarah mufakat.ujungnya melahirkan warna kontras antara Rakyat yang semakin bergelut dengan kemiskinanya dengan elite bangsa yang berenang dalam koleksi kemewahan hidup tanpa batas.

Pancasila sebagai Ideologi negara sedang di sandera,NKRI sebagai tujuan mulia dan kesepatan anak bangsa juga di sandera,UUD 45 sebagai Rel dan aturan main disandera,kemerdekaan hakiki sebagai kebersamaan hati anak bangsa di sandera,ikatan kebangsaan dan rasa hidup bersama di sandera,masa depan Rakyat,bangsa dan negara di sandera.

Politik luar negri Indonesia yang bebas aktif di sandera sehingga Indonesia yang seharusnya bisa menauladani lalu litas hubungan antar negara di sandera untuk hidup secara sejajar dan berdampingan sebaliknya, penjahahan secara halus dalam berbagai bidang kepentingan nasional di rumah tangga dunia masih terus terasa,sumber daya alam untuk kemakmuran rakyat di sandera bahkan di bajak oleh kekuatan asing,sumber daya manusia disandera oleh hilangnya tauladan dan matinya tujuan,Harapan Rakyat di sandera oleh segelintir anak bangsa yang merelakan dirinya di sandera oleh kerakusan,keangkuhan dan kekufuran dan menghamba ‘tuan-tuan kebodohan’ yang berhasil mematikan rasa,komitmen,integritas dan rasa kebangsaan.

Bebaskan Indonesia dari sandera !!!
Pertanyaan dasar dan sederhana siapa yang melakukan sandera tersebut? Apa bahayanya Kalau membiarkan penyanderaan ini berlarut-larut, siapa yang di rugikan? Apa dasarnya usaha untuk membebaskan Indonesia dari sandera.Yang melakukan sandera adalah para pengambil kebijakan dan perangkatnya yang memiliki wewenang untuk menakhodai kapal Indonesia,wewenang karena amanah yang di berikan oleh Rakyat sesuai dengan kesepakatan melalui UU, sandera terjadi karena para pengambil kebijakan tersebut tidak menjalankan amanah yang di titipkan,mereka menafsirkan nasib rakyat berdasarkan kepentingnya,mengutamakan kelompok dan keluarganya,menjual wewenangnya terhadap para cukong dan calo sehingga menguntungnya cukong dan ‘tuanya’.

Bahaya dari penyanderaan ini adalah memufuk terputusnya harapan rakyat,kebersamaan,kepercayaan pada pemegang amana dan terakhir mematikan keyakinan hidup bersama dalam satu ikatan,di jejaring sosial kita mulai menemukan ungkapan-ungkapan yang membuat miris bagaimana rasa kebersamaan sebagai bangsa mulai tergerogoti,pancasila sebagai Ideologi negara kehilangan tauladan dan penegaknya,NKRI nyata-nyata terancam dan gejolak timur tengah menjadikan cermin yang sangat bening,bagaimana reaksi masyarakat Libya ketika negaranya di serang kekuatan asing,satu masyarakat mengorbankan nyawanya sampai titik darah penghabisan karena bagian dari Rezim khadafi,satu masyarakat cuek bahkan menjadi Turis ke Bali dll,satu masyarakt malah menyambut kedatangan kekuatan asing tersebut,dan tentu saja yang menjadi penonton dan tetap beraktifitas lebih banyak seolah-oleh perang itu bukan perangnya.
Pertanyaan selanjutnya bukan memperdebatkan apakah Indonesia menuju negara gagal,negara bangkrut sehingga perlu dilakukan Revolusi atau reformasi jilid II,atau memperdebatkan apakah pemilu di percepat sehingga pemerintahan yang sah saat ini harus di hentikan di tengah jalan,maka harapan yang sebetulnya di impikan bukan itu, ungkapan itu hanya jebakan baru para penyendera yang selalu memanfaatkan situasi untuk kepentingan kelompok dan agendanya sendiri, ungkapan2 tersebut juga tidak secara otomatis menjawab harapan rakyat yang tersandera,dalam alam demokrasi,dan beberapa dekade perubahan yang di lalui bangsa ini,rakyat sudah sangat matang bagaimana membebaskan diri dari sandera tanpa terjebak pada propaganda ‘broker’ yang tidak pernah berkarya untuk kemajuanya,tapi hanya memenuhi ambisi dan satragegi merebut kekuasaan saja.
Gerakan pembebasan diri dari sandera adalah mengembalikan Indonesia pada Khitahnya,mengembalikan Indonesia kepada cita-cita awal pendirianya,bahasa Kang Agus Mudya bahwa Indonesia harus melakukan transformasi kemerdekaanya,melakukan runutan ulang atau menata kembali tatanan yang sudah di acak-acak oleh Prilaku segelintir elite yang kerasukan setan ‘bule’ atau ‘Jin baghdad’ dalam berpolitik dan bernegara sehingga lupa pada kulit bangsanya yang lugu.
Gerakan pembebasan itu adalah membebaskan pancasila dari penyanderaan kaum menengah dan elite politik yang rakus dan kemaruk, dari para koruptor yang berhasil melakukan kaderisasi,membebaskan NKRI dari ancaman Desintegrasi, dari pengerukan Sumber daya alam yang tidak menguntungkan Rakyat,dari rasa kebersamaan sebagai anak bangsa dan dari semangat kembangsaan yang kering dengan tauladan dan keiklasan,gerakan pembebasan UUD 45 dari ketidak konsistenan yang terus di pelihara dan dianggap biasa, gerakan Pembebasan untuk memujudkan harapan sekaligus membayar utang budi elite bangsa terhadap rakyat.
Gerakan pembebasan itu adalah menggelorakan Rakyat untuk tetap bekerja keras mewujudkan harapanya,supaya mandiri,sejahtera, adil dan makmur baik lahir maupun bathin,tetap mewujudkan harapanya untuk berkarya,bersabar dan bertawekal dalam badai ujian yang menerpa NKRI,tetap berdoa dengan tulus dan iklas supaya bangsa ini selalu berada dalam bimbingan tuhan yang Mahakuasa sehingga Rahmat dan Hidayah selalu menyertainya,tetap bangga sebagai bangsa Indonesia dengan kelebihan dan kekuranganya,sehingga bangga tersebut selalu melahirkan rasa cinta yang terbungkus iman dan keyakinan.
Ilmunya para ulama,Penguasa yang adil, Kejujuran para pengusaha, Kemurahan hati orang kaya , Doa orang miskin , Disiplin para pekerja adalah langkah kecil pembebasan Sandera Negara ini dari kaum kecil yang melakukanya.

Usai Reshuffle Semoga Tak Ada Lagi Menteri Berseteru


Insaf Albert Tarigan - Okezone
Sabtu, 15 Oktober 2011 10:20 wib

JAKARTA - 
Anggota Kabinet Indonesia Bersatu II diharapkan lebih solid dan menghindari pertengkaran terbuka di depan publik, usai dirombak oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Perselisihan antara Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad serta dengan Menteri Perindustrian MS Hidayat karena perbedaan kebijakan tidak boleh terjadi lagi.



“Presiden harus panggil itu menteri di ruangan tertutup. Tanya apa maunya si Mari Elka,”
 kata Guru Besar Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan Tjipta Lesmana dalam diskusi Sindo Radio di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (15/10/2011).



Perselisihan antara Mari dengan Fadel terkait dengan kebijakan impor garam yang tak disetujui Fadel. Adapun dengan MS Hidayat, Mari Elka berbeda pendapat soal ekspor rotan. “Jika dibiarkan, kabinet ini kesannya tidak solid,” kata Tjipta.

Oleh karena itu, dia mengusulkan agar Presiden Yudhoyono meniru mantan Presiden Soeharto yang pernah menegur Siswono Yudho Husodo karena menyebut ada menteri yang komunikasi politiknya jelek.

Sekretaris Divisi Komunikasi Publik Partai Demokrat Hinca Panjaitan setuju dengan Tjipta. “Dalam hal ini saya setuju dengan Pak Tjipa, kurang pas bila ada menteri yang berbeda pendapat di depan publik. Saya sepakat menteri yang bersangkutan harus dipanggil. Hal yang sangat prinsip tadi, akan menjadi catatan besar ke depan,” ujar Hinca.

(ful)

http://news.okezone.com/read/2011/10...teri-berseteru

Ada Kekuatan di Belakang (Invisible Power), Mari Elka Dipertahankan SBY

Ada Kekuatan di Belakang, Mari Elka Dipertahankan SBY
Thursday, September 29, 2011, 22:03
http://www.kaskus.us/showthread.php?p=520777868#post520777868

Dari 34 menteri di jajaran Kabinet Indonesia Bersatu Jilidi II, Menteri Perdagangan yang dijabat dua periode Mari Elka Pangestu termasuk dalam salah satu menteri yang paling banyak dikeluhkan.

BUKTINYA, dalam beberapa bulan terakhir, terdapat tiga menteri yang mengeluhkan kebijakan mantan dosen UI ini. Ketiganya adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Menteri Pertanian Suswono, serta Menteri Perindustrian MS Hidayat.

Suswono, akhir Juli 2011 lalu, menyebut Mari tidak berempati pada petani. Pasalnya, harga pembelian pemerintah (HPP) yang ditetapkan mengakibatkan lonjakan harga beras di pasaran. Saat itu HPP gabah ditetapkan sebesar Rp 3.345 per kilo gram (kg) dan beras Rp 5.060 per kg. Bagi Suswono HPH tersebut tidak relevan.

Dikritik sesama koleganya, Mari membantah tidak berempati kepada petani dan rakyat miskin. “Bukan tidak empati kepada petani, tapi saya juga harus memikirkan harga yang terjangkau untuk konsumen, termasuk menjaga keseimbangan harga,” kata Mari.

Tak genap sebulan, Mari juga membuat berang Fadel Mohammad. Gara-garanya, soal impor garam. Fadel yang sudah menggelontorkan Rp 97 miliar untuk meningkatkan produksi garam petani akhirnya sia-sia, karena Mari justru mengizinkan impor garam hingga 900.000 metrik ton.

“Mereka (Kementerian Perdagangan) hanya berpikir bagaimana izin-izin ekspor dan impor saja,” kritik Fadel.

Terakhir, Mari Elka juga bersitegang dengan MS Hidayat soal larangan ekspor rotan. Hingga saat ini, kasus ini masih terus berproses. Di luar tiga menteri itu, Mari juga dikeluhkan banyak kalangan. Mereka antara lain DPR, Serikat Petani, Dewan Tani, Kamar Dagang dan Industri (Kadin).

Semua sepakat, kebijakan Mari dinilai tidak pro rakyat dan sebaliknya membuat pengusaha raksasa semakin sejahtera. Pertanyaannya, kenapa Menteri Mari tetap dipakai Presiden SBY selama dua periode pemerintahannya?

Hal ini perlu ditelisik lebih mendalam. Seberapa besarkah jasa Menteri Mari kepada SBY? Konon, kuatnya pertahanan Mari juga didukung taipan-taipan kaya. Sederhananya, Mari saat ini dibeking pengusaha kaya yang siap memberikan dukungan apabila mendapatkan tekanan sana-sini. Termasuk juga, seperti isu beredar, para taipan itu juga setiap saat menjaga nama baik Mari di hadapan SBY.

Maka tak heran, Menteri Mari bisa bertahan sampai saat ini. Bukankah luar biasa, satu orang menteri bisa berseberangan pendapat dengan tiga orang menteri? Hebatnya lagi, serangan tiga menteri tersebut seolah layu sebelum berkembang. Ujung-ujungnya, jawaban atas pertanyaan ini tentunya berada di tangan penguasa saat ini. Kalau memang tidak pro rakyat, kenapa Menteri Mari tetap bertahan selama dua periode? Aneh bin ajaib.
http://monitorindonesia.com/?p=51376

--------------

Bukannya situs Wikileaks dokumen berkode 09JAKARTA1773 belum lama ini sudah mengungkapkan dengan gamblang, berdasarkan info kawat Kedubes AS di Jakarta, siapa-siapa saja menteri KIB II yang dianggap bisa menjadi menteri-mneteri 'sekutu' AS di Indonesia? Nah, tinggal membuktikan saja, apa laporan Wikileaks itu betul atau HOAX. Itu tentunya tugas lembaga keamanan Indonesia ...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar