Senin, 24 Oktober 2011

Kennedy dan Sukarno Dihabisi oleh Antek2 Kapitalis dan Kolonialis??? >> Konon ada rangkaian ceritanya.. Freeport-CIA-Orde Baru-Reformasi Neo Liberalis ??? - >> .... Maret 1965, Augustus C. Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Augustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di Negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend. ..>> satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jendral Suharto akan mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya. Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi terbunuhnya sejumlah perwira loyalis Soekarno, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah Freeport sudah siap mengekplorasi gunung emas di Irian Barat. Wilson jelas kaget. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport? ...>>> ..Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka....>>> ..... Sebab itulah, ketika UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didektekan Rockefeller, disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Suharto adalah Freeport!. Inilah kali pertama kontrak pertambangan yang baru dibuat. Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah merugikan Indonesia. Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport mengandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978...>>>.... Prof Dr Hubungan Internasional dari Universitas Princeton Bradley R Simpson mengatakan serangkain undang-undang yang dibuat rezim Soeharto disusun dengan pengaruh kuat Amerika Serikat. Namun sebagai orang kecil dan masyarakat awam pasti kita akan menjawab tak mungkin itu sudah jaman lalu saat Orde Baru. Sekarang ini sudah berubah kita memilih Presiden dan Wakil Presiden secara langsung dan demokratis? Buktinya Partai Demokrat menang besar dan semua rakyat memilih SBY dan Budiono.??? ...>> ... pada tahun 1973, Presiden Soeharto memberikan konsesi tambang emas di Papua kepada PT.Freeport MC Moran US senilai US$ 1 Triliyun. Sekarang MC Moran menjadi salah satu penentu pasar emas Internasional, sementara rakyat Papua tetap hidup dalam kemiskinan. Selanjutnya di tahun 1998 Soeharto mensubsidi para konglomerat sebesar Rp 144,5 triliun (dana BLBI) untuk mengatasi krisis moneter. Akibatnya rakyat menanggung beban subsidi tersebut Rp 65 triliun per tahun. Subsidi kepada kaum kapitalis hitam ini disetujui DPR RI dari semua partai yang berkuasa termasuk partai yang menggunakan identitas Islam. Tidak ada tetesan kekayaan yang diberikan kaum kapitalis kepada rakyat, malahan rakyat yang menanggung beban keserakahan mereka. Tahun 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan konsesi minyak di Blok Cepu kepada Exon Mobil USA dengan cadangan minyak 10 milyar barel setara dengan US$ 166 Milyar. Kemudian Presiden tersebut menaikkan harga BBM 30% untuk rakyatnya dan tunduk kepada pasar minyak Internasional dengan harga US$ 70-110 per barel. Antara tahun 2002-2004, Presiden Megawati Soekarno Putri banyak menjual asset milik rakyat kepada kapitalisme asing diantaranya PT.Indosat Tbk. Selanjutnya Presiden SBY akan meneruskan tradisi mengundang penjajah kapitalis dengan rencana melego PT. Telkom Tbk, PT.PLN Tbk, PT.Krakatau Steel Tbk, PT.Perkebunan Nusantara III, IV dan VII dengan memberikan keuntungan besar kepada para kapitalis tersebut. ...>>> ..Keterlibatan CIA di PT FI dan Pemerintahan Orde Baru pernah ditulis pula oleh Lisa Pease dalam artikelnya JFK, Indonesia dan Freeport di majalah Probe (1996) yang tersimpan di National Archieve, Washiongton DC. Tulisan ini jelas membukakan mata kita bahwa raksasa bisnis asing mampu mempengaruhi kebijakan politik dan ekonomi di Indonesia..>> .. Laporan Dozy sangat penting karena mengungkapkan tentang kandungan biji tembaga yang terhampar luas di kawasan Gunung Ertsberg atau Gunung Bijih Timur. Mendengar laporan Dozy, sontak Forbes Wilson kaget mendengar laporan tersebut. Wilson bertekad melakukan ekspedisi ke lokasi tanh Papua yang masih menjadi sengketa antara Pemerintah Belanda dan Pemerintah Indonesia. Dalam bukunya yang berjudul The Conquest of Cooper Mountain, ia terperanjat menyaksikan kekayaan bijih tembaga yang terhampar luas di permukaan tanah. Inilah keajaiban alam yang tak mungkin bisa ditemukan di belahan dunia lain. Proses mineraliasasi terjadi pada ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut terdapat sekitar 40 sampai 50 persen bijih besi, dan tiga persen tembaga, serta masih terdapat perak dan emas. Menurut Forbes Wilson, angka tiga persen saja sudah cukup menguntungkan bagi industri tambang.....>> Jadi sebenarnya ... ada kemungkinan besar bahwa Sukarno sudah mencium gelagat Kapitais AS yang sangat serakah itu.. terutama setelah berteman baik dengan JF Kennedy... >> Karena keduanya bersahabat dalam tukar pikiran sebagai Negarawan bisa jadi saling mengingatkan akan kepentingan Negara dan Bangsa untuk bisa membangun secara baik.... >>> Sayangnya... baik Kennedy maupun Sukarno dihabisi terlebih dahulu oleh orang2 disekitarnya... terutama oleh para Antek2 Kpitalis dan Kolonialis Serakah..itu.. Ya di Indonesia oleh Suharto dkk dan di AS oleh Johnson dkk... hmmh.. Memang dalam politik konon Tiada Yang Kebetulan.. Pastinya ada yang merencanakan... Inilah mungkin bukti2nya..>>> ...Jika merujuk data 1995, eksekutif Freeport menyebut, di areal ini tersimpan cadangan tembaga sebesar 40,3 milyar pon dan emas 52,1 juta ons. Deposit ini mempunyai nilai jual 77 milyar dolar AS. Hingga 45 tahun ke depan penambangan di Grasberg masih sangat menguntungkan. Dalam buku Grasberg menyebutkan, biaya produksi tambang emas dan tembaga di Indonesia (Grasberg) yang termurah di dunia.Saham terbesar dalam perusahaan Freeport McMoran &Gold Inc yang berkedudukan di New Orleans, USA. Perusahaan ini menguasai 85,4 % dari seluruh saham PT FI. Pemerintah Indonesia melalui kontrak karya PT FI memperoleh 10 % saham, dan sisanya dikuasai oleh sebuah perusahaan Jerman sebanyak 4 % saham dan pemegang saham Indonesia lainnya menguasai 0,6 %. Selanjutnya 1991, ketika PT FI memperpanjang kontrak karya untuk masa 30 tahun lagi, komposisi kepemilikan sahamnya berubah. PT freeport Mc Moran menguasai lebih dari 80 % yaitu 81, 28 %. Pemerintah Republik Indonesia menguasai 9,36 % lalu PT Indocopper Investama menguasai 9,36 % sisanya. Di dalam saham PT Indocopper Investama, Bakrie Brothers Group memiliki 49 % saham dan Freeport Indonesia memiliki 49 % lainnya, selebihnya (2%) dikuasai investor lain.....>>> ... Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(QS. 2: 208). ....>> “Muslimin bersekutu dalam tiga hal: Air, rerumputan, dan api”. Demikianlah kata Nabi Muhammad SAW. Rerumputan berarti lahan beserta pertanian yang merupakan kebutuhan hidup orang banyak, Api berarti energi, Air berarti sumber-sumber kehidupan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. >>> Lihatlah para Antek2 Kapitalis dan Kolonialis itu hidup dan bersekutu..... Semua konsesi asset milik rakyat yang diberikan oleh penguasa (pejabat) kepada kaum kapitalis hanya membuat kejayaan bagi para elite pemeras negeri kita. Jabatan menjadi sumber kekayaan dan prestise, dan memang dimana-mana hampir tidak ada pejabat yang tidak kaya di tengah-tengah kemelaratan bangsanya.>> ..Menolak pemberlakuan Syari`at Islam berarti (1) memberi peluang terbentuknya tradisi memuaskan individu-individu pemilik modal atau kaum kapitalis. Terjadi penumpukan kekayaan di tangan sekelompok pengusaha sehingga hanya sedikit orang mendapat banyak dan banyak orang mendapat sedikit. Seperti yang pernah terjadi di zaman Jahiliyah, tuan-tuan pemilik budak berkuasa atas hidup orang banyak dan diantara mereka yang berkuasa saling berebut kekayaan dan mengeksploitasi para budak dalam kehidupan ekonomi dan peperangan sesama kaum bangsawan. (2) Para pembesar negeri mengatur Negara untuk para tuan tanah dan pemilik modal dengan imbalan upeti. (3) Kaum Cendekiawan hidup dalam kejumudan dan kegelapan, suka memberikan jasa pembenaran berdasarkan ilmunya kepada tuan-tuan feodal dan pemilik modal untul sekedar mendapat uang mengisi perut yang tak pernah puas akibat dahaga kehormatan. Suara kaum Cendekiawan itu selalu terdengar nyaring-senyaring suara perut dan piringnya. INGAT DAN BACALAH SEJARAH DENGAN AKAL SEHAT DAN JIWA YANG TERANG….. Tiga ratus enam puluh tahun rakyat Indonesia berada dalam kegelapan, keterhinaan, melawan fitrah sendiri dan Syari`at Islam. Dimulai sejak tahun 1646 ketika Raja Amangkurat I dari Mataram membuat perjanjian dengan Gubernur Jendral VOC Belanda Cornelis Van De Lijn yang memberikan kekuasaan monopoli kepada Belanda di seluruh Nusantara. Sejak itu, para pembesar negeri terbiasa menjual harta dan tenaga rakyat kepada kaum kapitalis dan menolak pemberlakuan Syari`at Islam. Maka tenggelamlah rakyat Indonesia dalam masa kegelapan dan jahiliyah serta dijahili. Maka dari itu….. [1] Pada masa kegelapan ini, negaralah yang bertanggung jawab membuat peraturan yang melegitimasi kekuasaan kapitalisme atas asset-asset milik rakyat. Undang-undang PMA, MIGAS, dan Ketenagakerjaan menguntungkan para kapitalis itu. [2] Pemerintah yang menggerakkan roda organisasi Negara sebagai amanah yang diberikan rakyat, justru memperkaya orang lain atau kaum kapitalis (asing). Kita tidak perlu terkejut dan heran, bahwa Pemerintah telah melakukan tindak pidana korupsi terhadap harta dan tenaga rakyat. [3] Hanya dengan Syari`at Islam Pemerintah dapat dihukum atas kecurangan yang dilakukan terhadap jutaan penduduk Indonesia selama bertahun-tahun. Akan tetapi, sejarah penegakan Syari`at Islam selalu melalui tahapan krisis kehidupan manusia dimana sebagian penduduk mengidentifikasi dirinya sebagai orang tertindas dan terhina serta tahu apa dan siapa penindasnya. ..>> >

SHARE : NEGARA AMERIKA SERIKAT DIBANGUN DARI EMAS PAPUA

MINGGU, 27 FEBRUARI 2011

 

NEGARA AMERIKA SERIKAT DIBANGUN DARI EMAS PAPUA

Freeport adalah pertambangan emas terbesar di dunia! Namun termurah dalam biaya operasionalnya. Sebagian kebesaran dan kemegahan Amerika sekarang ini adalah hasil perampokan resmi mereka atas gunung emas di Papua tersebut. Freeport banyak berjasa bagi segelintir pejabat negeri ini, para jenderal dan juga para politisi busuk, yang bisa menikmati hidup dengan bergelimang harta dengan memiskinkan bangsa ini. Mereka ini tidak lebih baik daripada seekor lintah!

Akhir tahun 1996, sebuah tulisan bagus oleh Lisa Pease yang dimuat dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah “JFK, Indonesia, CIA and Freeport.”

Walau dominasi Freeport atas gunung emas di Papua dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di negeri ini sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Dalam tulisannya, Lisa Pease mendapatkan temuan jika Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959.

Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan.

Ditengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan membacanya.

Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya diseluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada disekujur tubuh Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.

Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah disekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari.

Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak!! Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD MOUNTAIN, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal. Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut.

Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.

Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah spertinya mendukung Soekarno. Kennedy mengancam Belanda, akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.

Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut.

Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin Freeport jelas marah besar. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan!

Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan penembakan Kennedy merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika.

Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil sikap yang bertolak belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya. Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport.

Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California).

Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini.

Augustus C.Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya. Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus C.Long juga aktif di Presbysterian Hospital di NY dimana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.

Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu yang di Indonesia dikenal sebagai masa yang paling krusial.

Pease mendapatkan data jika pada Maret 1965,  Augustus C. Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Augustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri.

Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di Negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.

Salah satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jendral Suharto akan mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya.

Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi terbunuhnya sejumlah perwira loyalis Soekarno, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah Freeport sudah siap mengekplorasi gunung emas di Irian Barat. Wilson jelas kaget. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport?

Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka.

Sebab itulah, ketika UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didektekan Rockefeller, disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Suharto adalah Freeport!.

 Inilah kali pertama kontrak pertambangan yang baru dibuat. Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah merugikan Indonesia.

Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport mengandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978.

Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik “Jim Bob” Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun.

Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A.Maley, menulis sebuah buku berjudul “Grasberg” setelab 384 halaman dan memaparkan jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki deposit terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya menempati urutan ketiga terbesar didunia.

Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih tembaga sebesar 40,3 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan 45 tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar di dunia yang ada di Irian Barat itu merupakan yang termurah di dunia!!

Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya menyesatkan dan salah. Seharusnya EMASPURA. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga mengandung tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka Freeport tinggal memungutinya dan kemudian baru menggalinya dengan sangat mudah. Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu dan membangun pipa-pipa raksasa dan kuat dari Grasberg-Tembagapura sepanjang 100 kilometer langsung menuju ke Laut Arafuru dimana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika. Ini sungguh-sungguh perampokan besar yang direstui oleh pemerintah Indonesia sampai sekarang!!!

Kesaksian seorang reporter CNN yang diizinkan meliput areal tambang emas Freeport dari udara. Dengan helikopter ia meliput gunung emas tersebut yang ditahun 1990-an sudah berubah menjadi lembah yang dalam. Semua emas, perak, dan tembaga yang ada digunung tersebut telah dibawa kabur ke Amerika, meninggalkan limbah beracun yang mencemari sungai-sungai dan tanah-tanah orang Papua yang sampai detik ini masih saja hidup bagai di zaman batu.

Freeport merupakan ladang uang haram bagi para pejabat negeri ini, yang dari sipil maupun militer. Sejak 1967 sampai sekarang, tambang emas terbesar di dunia itu menjadi tambang pribadi mereka untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Freeport McMoran sendiri telah menganggarkan dana untuk itu yang walau jumlahnya sangat besar bagi kita, namun bagi mereka terbilang kecil karena jumlah laba dari tambang itu memang sangat dahsyat. Jika Indonesia mau mandiri, sektor inilah yang harus dibereskan terlebih dahulu.

Sumber : blogdetik.
 east java    


Kapitalisme adalah tradisi kehidupan ekonomi yang berdasarkan prinsip mencapai kepuasan dan ketenangan individual. Alat-alat produksi dan keuntungan dikuasai oleh pemilik modal. Tradisi ini dilegitimasi oleh liberalisme yang menyatakan bahwa apabila setiap individu diberi kebebasan berkembang dalam mengejar keuntungan individual, maka akan tercapai kemakmuran bersama. Membesarkan usaha swastanisasi sampai ke tingkat konglomerasi akan memberikan tetesan kekayaan sampai ke tingkat masyarakat lapisan bawah (trickle down effect).

Selama kurang dari 65 tahun Indonesia merdeka, kapitalisme berhasil memiskinkan 140 juta orang dengan tingkat pendapatan US$ 2/hari (Rp. 540.000/bulan), dan melahirkan ratusan orang kaya dengan rata-rata kekayaan minimal US$ 120 juta,- = Rp 1 Triliyun.

Contohnya: pada tahun 1973, Presiden Soeharto memberikan konsesi tambang emas di Papua kepada PT.Freeport MC Moran US senilai US$ 1 Triliyun. Sekarang MC Moran menjadi salah satu penentu pasar emas Internasional, sementara rakyat Papua tetap hidup dalam kemiskinan. Selanjutnya di tahun 1998 Soeharto mensubsidi para konglomerat sebesar Rp 144,5 triliun (dana BLBI) untuk mengatasi krisis moneter. Akibatnya rakyat menanggung beban subsidi tersebut Rp 65 triliun per tahun. Subsidi kepada kaum kapitalis hitam ini disetujui DPR RI dari semua partai yang berkuasa termasuk partai yang menggunakan identitas Islam. Tidak ada tetesan kekayaan yang diberikan kaum kapitalis kepada rakyat, malahan rakyat yang menanggung beban keserakahan mereka.

Tahun 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan konsesi minyak di Blok Cepu kepada Exon Mobil USA dengan cadangan minyak 10 milyar barel setara dengan US$ 166 Milyar. Kemudian Presiden tersebut menaikkan harga BBM 30% untuk rakyatnya dan tunduk kepada pasar minyak Internasional dengan harga US$ 70-110 per barel.

Antara tahun 2002-2004, Presiden Megawati Soekarno Putri banyak menjual asset milik rakyat kepada kapitalisme asing diantaranya PT.Indosat Tbk. Selanjutnya Presiden SBY akan meneruskan tradisi mengundang penjajah kapitalis dengan rencana melego PT. Telkom Tbk, PT.PLN Tbk, PT.Krakatau Steel Tbk, PT.Perkebunan Nusantara III, IV dan VII dengan memberikan keuntungan besar kepada para kapitalis tersebut.

“Muslimin bersekutu dalam tiga hal: Air, rerumputan, dan api”. Demikianlah kata Nabi Muhammad SAW. Rerumputan berarti lahan beserta pertanian yang merupakan kebutuhan hidup orang banyak, Api berarti energi, Air berarti sumber-sumber kehidupan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Semua konsesi asset milik rakyat yang diberikan oleh penguasa (pejabat) kepada kaum kapitalis hanya membuat kejayaan bagi para elite pemeras negeri kita. Jabatan menjadi sumber kekayaan dan prestise, dan memang dimana-mana hampir tidak ada pejabat yang tidak kaya di tengah-tengah kemelaratan bangsanya.

Pemberian konsesi itu juga melepaskan ikatan rakyat dari persekutuan penguasaan asset milik orang banyak. Hal ini berarti sumber daya ekonomi hanya memuaskan individu-invidu pemilik modal yang mana hal ini bertentangan dengan fitrah manusia atau Syari`at Islam. Akibatnya, kemiskinan, gizi buruk, putus sekolah, sempitnya lapangan kerja, biaya hidup mahal, korupsi, kriminalitas meningkat, bunuh diri akibat tidak kuat menahan penderitaan, mejadi bagian dari kenyataan hidup sehari-hari. Jutaan rakyat Indonesia berebut tulang sisa makanan kaum kapitalis dan para pembesar negeri.

Untuk mengatasi kemiskinan itu, ribuan anak muda angkatan kerja, pergi ke luar negeri menjadi kuli, budak nafsu yang diperdagangkan, dan manusia terakhir (babu). Bangsa asing memandang bangsa kita sebagai bangsa kuli, babu, lengkap dengan hinaan dan penindasannya. Sementara kita mengatakan dengan bodoh, bahwa mereka adalah “pahlawan devisa”.
Contoh, ali dan kawan-kawan (kaum buruh), wajib menafkahi diri dan keluarganya. Mereka bekerja di pabrik dan Majikan (pemilik modal) meminjamkan mesin-mesin pabrik kepadanya untuk menghasilkan barang yang dapat diujal ke pasar.

Hasil bersih kerja Ali dan kawan-kawan bernilai 100, tetapi yang mereka peroleh 10 bagian, majikan mendapat 40 bagian, dan 50 bagian lagi diambil management perusahaan sebagai Riba (kelebihan akibat exploitasi) yang notabene dikuasai majikan.

Kapitalis memeras Ali dan kawan-kawan 5 kali pendapatannya atau exploitation de l`home par l`home sebesar 50% dari total pendapatan bersih perusahaan. Padahal pabrik adalah organisasi ekonomi yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Akan tetapi, di situ tidak ada perusahaan berdasarkan azas kekeluargaan dan efesiensi yang berkeadilan (UUD 45 pasal 33 ayat d).

Yang ada, kaum kapitalis memeras buruhnya yang terhutang dan mengambil riba dari hasil pinjaman yang diberikan.

Alasan majikan mengambil Riba tersebut adalah bahwa buruh pantas menerima bagiannya itu sesuai dengan upah minimum Provinsi/Kabupaten/Kota (UM P/K).
Di alam nyata, upah minimum tersebut adalah biaya hidup pas-pasan (subsistensi) kaum buruh agar tetap dapat berproduksi (Labour Cost of Production).

Selama buruh hanya memperoleh upah minimum tanpa mendapat bagian hasil dari keuntungan perusahaan berdasarkan sistim bagi hasil, maka praktis buruh tidak mendapatkan apapun kecuali KERJA RODI (Perbudakan). Dalam hal ini, atas nama Undang-undang, pemerintah dan kaum kapitalis telah berhasil mengikuti langkah-langkah syaitan dalam menghisab riba dari kemiskinan rakyat dan memberlakukan sistim kerja perbudakan.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(QS. 2: 208).

Selanjutnya, Pemerintah mengutip pajak dan si kapitalis membayar pajak tersebut dari kelebihan uang pendapatan si buruh tadi yang tidak pernah dibayarkan majikan hingga keringat sang buruh kering kerontang. Maka lengkaplah penderitaan kaum buruh (rakyat) yang berperan sebagai tiang penyangga kekayaan dan kemewahan hidup kaum kapitalis dan pejabat negeri.

Seharusnya, tinggalkan Riba Insya Allah para kapitalis itu akan mendapatkan kapital-kapitalnya plus keuntungan tanpa dosa pemerasan dan penindasan. Allah mengharamkan Riba dan menghalalkan jual beli. Artinya, hubungan produksi harus dalam kesetaraan antara buruh dengan pemilik modal. Tradisi kemanusiaan mengajarkan pola bagi hasil 60% buruh: 40% pemilik modal. Tardisi batak Toba di Sumatra Utara mensyaratkan pola 50% : 50% yang mereka sebut sistim bagi hasil Bola Pinang. Masyarakat Sunda mengatakannya Maparo. Inilah nilai kepribadian bangsa Indonesia dalam sistim produksi yang merupakan penjelmaan syari`at islam.

Menolak pemberlakuan Syari`at Islam berarti
(1)    memberi peluang terbentuknya tradisi memuaskan individu-individu pemilik modal atau kaum kapitalis. Terjadi penumpukan kekayaan di tangan sekelompok pengusaha sehingga hanya sedikit orang mendapat banyak dan banyak orang mendapat sedikit. Seperti yang pernah terjadi di zaman Jahiliyah, tuan-tuan pemilik budak berkuasa atas hidup orang banyak dan diantara mereka yang berkuasa saling berebut kekayaan dan mengeksploitasi para budak dalam kehidupan ekonomi dan peperangan sesama kaum bangsawan.
(2)    Para pembesar negeri mengatur Negara untuk para tuan tanah dan pemilik modal dengan imbalan upeti.
(3)     Kaum Cendekiawan hidup dalam kejumudan dan kegelapan, suka memberikan jasa pembenaran berdasarkan ilmunya kepada tuan-tuan feodal dan pemilik modal untul sekedar mendapat uang mengisi perut yang tak pernah puas akibat dahaga kehormatan. Suara kaum Cendekiawan itu selalu terdengar nyaring-senyaring suara perut dan piringnya.

INGAT  DAN  BACALAH SEJARAH DENGAN AKAL SEHAT DAN JIWA YANG TERANG…..

Tiga ratus enam puluh tahun rakyat Indonesia berada dalam kegelapan, keterhinaan, melawan fitrah sendiri dan Syari`at Islam. Dimulai sejak tahun 1646 ketika Raja Amangkurat I dari Mataram membuat perjanjian dengan Gubernur Jendral VOC Belanda Cornelis Van De Lijn yang memberikan kekuasaan monopoli kepada Belanda di seluruh Nusantara. Sejak itu, para pembesar negeri terbiasa menjual harta dan tenaga rakyat kepada kaum kapitalis dan menolak pemberlakuan Syari`at Islam. Maka tenggelamlah rakyat Indonesia dalam masa kegelapan dan jahiliyah serta dijahili.

Maka dari itu…..

[1] Pada masa kegelapan ini, negaralah yang bertanggung jawab membuat peraturan yang melegitimasi kekuasaan kapitalisme atas asset-asset milik rakyat. Undang-undang PMA, MIGAS, dan Ketenagakerjaan menguntungkan para kapitalis itu.

[2] Pemerintah yang menggerakkan roda organisasi Negara sebagai amanah yang diberikan rakyat, justru memperkaya orang lain atau kaum kapitalis (asing). Kita tidak perlu terkejut dan heran, bahwa Pemerintah telah melakukan tindak pidana korupsi terhadap harta dan tenaga rakyat.

[3] Hanya dengan Syari`at Islam Pemerintah dapat dihukum atas kecurangan yang dilakukan terhadap jutaan penduduk Indonesia selama bertahun-tahun. Akan tetapi, sejarah penegakan Syari`at Islam selalu melalui tahapan krisis kehidupan manusia dimana sebagian penduduk mengidentifikasi dirinya sebagai orang tertindas dan terhina serta tahu apa dan siapa penindasnya.



CIA dan PT Freeport Indonesia

SATURDAY, 19 FEBRUARY 2011 20:37
ADMINISTRATOR  HITS: 1442




Jubi--Terkadang keterlibatan badan intelejen di negara lain sulit dibuktikan tapi  kemustahilan biasanya menjadi ideologi baku bagi setiap dinas intelijen termasuk Central Intelligence Agency (CIA) di Indonesia. Meski biasanya yang menjadi alasan kehadiran  CIA di Indonesia untuk menciptakan stabilitas  dan perdamaian  tetapi sejatinya adalah menguntungkan kepentingan nasional satu-satunya negara adidaya tersebut.

Atau yang lazimnya dikenal dalam khazanah ilmu poiitik adalah,” tak ada kawan atau lawan yang abadi,yang ada hanya kepentingan nasional yang abadi.”  Jadi jangan kaget ketika ada  kebijakan ekonomi dan undang-undang  jaman Orde Baru yang banyak menguntungkan kepentingan Amerika Serikat.

Prof Dr Hubungan Internasional dari Universitas Princeton Bradley R Simpson mengatakan serangkain undang-undang yang dibuat rezim Soeharto disusun dengan pengaruh kuat Amerika Serikat.  Namun sebagai orang kecil dan masyarakat awam pasti kita akan menjawab tak mungkin itu sudah jaman lalu saat Orde Baru. Sekarang ini sudah berubah kita memilih Presiden dan Wakil Presiden secara langsung dan demokratis? Buktinya Partai Demokrat menang besar dan semua rakyat memilih SBY dan Budiono.

Namun tiba-tiba Gayus bersuara usai sidang dan mengeluarkan testimoni ada keterlibatan CIA di dalam kasus mafia pajak. Apa benar CIA melakukan itu? Lepas dari benar atau tidaknya jika kita menengok sejarah dan peran CIA di Indonesia sebenarnya bukan sesuatu hal yang baru.

Sejarahwan Bradley R Simpson memberikan contoh kasus Undang-udang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing(PMA). Rangkaian undang-undang dan kehadiran PT Freeport di Papua merupakan langkah awal intervensi pemeritah AS saat Presiden Soeharto memerintah di Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI).

Hal ini terungkap dalam buku yang ditulis Prof dr Bradley R Simpson berjudul Economists with Guns : Amerika Serikat, CIA dan Munculnya Pembangunan Otoriter Rezim Orde Baru terbitan Gramedia Pustaka Utama. (Kompas, Sabtu, 22 Januari 2011.)

Menyimak pendapat Prof Dr Bradley R Simpson tentang keterlibatan CIA di dalam rezim Orde Baru maka tak heran kalau banyak pihak termasuk warga Papua mulai menuntut perlu menggugat kembali Pepera dan PT Freeport Indonesia. Bayangkan UU Kontrak Karya 1967 dilakukan dua tahun sebelum pelaksanaan Pepera 1969 di Tanah Papua.

Keterlibatan CIA di PT FI dan Pemerintahan Orde Baru pernah ditulis pula oleh Lisa Pease dalam artikelnya JFK, Indonesia dan Freeport di majalah Probe (1996) yang tersimpan di National Archieve, Washiongton DC. Tulisan ini jelas membukakan mata kita bahwa raksasa bisnis asing mampu mempengaruhi kebijakan politik dan ekonomi di Indonesia.

Artikel ini kemudian dikutip kembali dalam Kompas 24 September 2001 berjudul, Freeport Mc Moran, Soekarno dan Rakyat Irian. Lisa Pease secara gamblang menyebutkan bagaimana riwayat Freeport Sulphur yang hancur lebur gara-gara peralihan pemerintahan di Cuba, 1959. Pemerintahan Fidel Castro di Cuba menumbangkan kekuatan rezim Batista, dan setelah berkuasa Fidel Castro menasinalisasikan seluruh perusahaan asing di Cuba termasuk Freeport Shulpur ikut pula terkena imbas.

Beruntung ketika UU No.1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) disahkan pemerintah Orde Baru pada 1967.  Perusahaan asing yang kontraknya ditandatangani oleh mantan Presiden Soeharto adalah Freeport.

Sebelumnya Agustus 1959, Direktur Freeport Sulphur Forbes Wilson bertemu dengan Jan Van Gruisen, Direktur Pelaksana East Borneo Company, perusahaan pertambangan. Forbes Wilson sangat tertarik dengan cerita Gruisen tentang laporan mengenai Gunung Erstberg di Bumi Amungsa di irian Barat.

Laporan Dozy sangat penting karena mengungkapkan tentang kandungan biji tembaga yang terhampar luas di kawasan Gunung Ertsberg atau Gunung Bijih Timur. Mendengar laporan Dozy, sontak Forbes Wilson kaget mendengar laporan tersebut. Wilson bertekad melakukan ekspedisi ke lokasi tanh Papua yang masih menjadi sengketa antara Pemerintah Belanda dan Pemerintah Indonesia.

Dalam bukunya yang berjudul The Conquest of Cooper Mountain, ia terperanjat menyaksikan kekayaan bijih tembaga yang  terhampar luas di permukaan tanah. Inilah keajaiban alam yang tak mungkin bisa ditemukan di belahan dunia lain. Proses mineraliasasi terjadi pada ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut  terdapat sekitar 40 sampai 50 persen bijih besi, dan tiga persen tembaga, serta masih terdapat perak dan emas. Menurut Forbes Wilson, angka tiga persen saja sudah cukup menguntungkan bagi industri tambang.

Alamarhum  Guru Moses Kilangin dalam kisahnya yang termuat dalam bukunya berjuduk Moses Kilangin Uru Me Ki menyebutkan  pada 5 April 1967, pemerintah Indonesia yang diwakili Menteri Pertambangan, Slamet Bratanata dan Perwakilan Freeport menandatangi kontrak karya untuk waktu selama 30 tahun (1967-1997). Sebuah kontrak karya pertama di atas tanah Papua yang masih menjadi sengketa antara pemerintah Belanda dan Indonesia. Bahkan kontrak karya  ini dilakukan sebelum pelaksanaan Pepera 1969. Namun sebelum kontrak karya itu berakhir diperpanjang lagi untuk kontrak karya kedua selama 20 tahun lagi(1997-2017). Bahkan areal yang akan ditambang juga semakin luas.

Forbes  Wilson kemudian melakukan kalkulasi tentang tambang di Erstberg terdapat 13 juta ton bijih tembaga di permukaan tanah dan 14 juta ton di bawah tanah dengan kedalaman 100 meter. Jika untuk  memproses 5.000 ton bijih tembaga per hari dibutuhkan investasi 60 juta dolar AS, dengan rincian biaya produksi 16 sen per pon, sementara harga jual 35 sen per pon, maka dalam tempo tiga tahun saja investasi itu sudah breake event point alias sudah balik modal.

Namun kenyataannya kelak mereka justru lebih tercengang lagi, karena angka deposit bijih tembaga itu ternyata jauh lebih besar dari kalkulasi Wilson. Bahkan dalam buku George A Nealey berjudul Grasberg  menyebutkan saat ini Freeport Mc MoRan merupakan  tambang tembaga yang mempunyai deposit ketiga terbesar di dunia. Sedangkan untuk emas menempati urutan pertama.

Jika merujuk data 1995, eksekutif Freeport menyebut, di areal ini tersimpan cadangan tembaga sebesar 40,3 milyar pon dan emas 52,1 juta ons. Deposit ini mempunyai nilai jual 77 milyar dolar AS. Hingga 45 tahun ke depan penambangan di Grasberg masih sangat menguntungkan. Dalam buku Grasberg menyebutkan, biaya produksi tambang emas dan tembaga di Indonesia (Grasberg) yang termurah di dunia.Saham terbesar dalam perusahaan Freeport McMoran &Gold Inc yang berkedudukan di New Orleans, USA. Perusahaan ini menguasai 85,4 % dari seluruh saham PT FI. Pemerintah Indonesia melalui kontrak karya PT FI memperoleh 10 % saham, dan sisanya dikuasai oleh sebuah perusahaan Jerman sebanyak 4 % saham dan pemegang saham Indonesia lainnya menguasai 0,6 %. Selanjutnya 1991, ketika PT FI memperpanjang kontrak karya untuk masa 30 tahun lagi, komposisi kepemilikan sahamnya berubah. PT freeport Mc Moran menguasai lebih dari 80 % yaitu 81, 28 %. Pemerintah Republik Indonesia menguasai 9,36 % lalu PT Indocopper Investama menguasai 9,36 % sisanya. Di dalam saham PT Indocopper Investama, Bakrie Brothers Group memiliki 49 % saham dan Freeport Indonesia memiliki 49 % lainnya, selebihnya (2%) dikuasai investor lain.

Pada 1995, Freeport Mc MoRan Inc, pemilik saham Freeport McMoRan Copper &Gold melepas 18 % sahamnya kepada RTZ Corporation PLc, sebuah perusahaan pertambangan terbesar di dunia yang berkantor di Inggris.

Ketika PT FI baru berinvestasi 1967, modalnya sebesar US$75 juta dengan luas areal Kontrak Karya seluas 100.000 hektar. Kini modal PT Freeport sudah membengkak menjadi US$ 3 milyar dengan luas areal konsesi yang sudah berlipat 260 kali menjadi 2,6 juta hektar berdasarkan KK yang ditandatangani 1991.

Melihat kondisi investasi tambang di Indonesia, Fadjroel Rachman yang juga Direktur Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara mengatakan seharusnya Presiden SBY tidak takut untuk membicarakan renegoisasi kontrak Freeport yang sudah merugikan negara dalam pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. " Harus ada renegosiasi terkait persoalan Migas dan PT. Freeport , terlebih pemerintah hanya menguasai  9,23% sementara Freeport sendiri menguasi  90,77% dari penguasaan saham di PT. Freeport. Bahkan Fadjroel Rachman justru berpendapat kedatangan Obama ke Indonesia merupakan bentuk pengamananan investasi Amerika di Indonesia.

Belum lagi penguasaan  Minyak dan Gas (Migas) sebesar 60% oleh Chevron yang merupakan salah satu perusahaan  Amerika," tambah Fadjroel.

Lebih lanjut Fadjroel juga mengatakan bahwa sebenarnya Indonesia bisa melakukan renegosiasi terlebih Indonesia mempunyai kekayaan alam yang berlimpah.
(Dominggus A Mampioper dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar