Rabu, 12 Oktober 2011

Habib Rizieq Syihab: "Deradikalisasi tak hanya lenyapkan jihad dan syariat, tapi ingin merubah agama".......>>>...langkah deradikalisasi yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) berdasarkan hasil penelitian Setara Institute sangat membahayakan. Alih-alih mengaku ingin meredam aksi terorisme, langkah Deradikalisasi ini justru ingin merubah agama. “Deradikalisasi bukan saja melenyapkan jihad, tapi juga melenyapkan syariat dan ingin merubah agama.” Kata Habib Rizieq Dalam kuliah umum ilmiah bertema “Memerangi Syariat Islam dengan Deradikalisasi” di Masjid Muhammad Ramadhan, pada Ahad (9/10/2011).....>>> Umat Islam Khususnya... dan Bangsa Indonesia seluruhnya pada umumnya yang Cinta Bangsa dan Negara secara Benar.... harus menolak UU Inteligen dan Program Deradikalisasi ala BNPT yang konon didukung oleh Dana Asing yang besar dan sekelompok organisasi yang menamakan diri Tokoh NU... yang haus Uang dan Serakah.. Jabatan... kekuasaan... seakan-akan mendukungnya... ???.. Sungguh tokoh yang konon setuju dan menyiapkan rekening untuk menampung dana Yahudi-Zionist itu.. benar2 mempermainkan ketokohannya untuk menjual darah dan nyawa.. umat Islam ini.. sangat memalukan.. menjadi menyembah uang dan kerakusan... >>> Umat Islam teguhkan Iman dan Ketakwaan dan Jiwa2 Islam Yang Benar dan Kokoh untuk terus menegakkan Al Qur'an-Syariah Allah SWT dan Sunnah Rasulullah SAW secara Kaffah dan Menyeluruh demi tegaknya Kebenaran dan Keadilan ..serta Kemakmuran bagi seluruh Bangsa Indonesia secara utuh menyeluruh... Bermartabat dan Berdaulat-Mandiri dan Berjiwa Merdeka... dengan Semangat Proklamasi dan Anti Penjajahan.. Anti Kolonialisme anti Imperialisme Kriminal Barbar...>>> Awaslah dengan issue jahat yang haus darah dan nyawa Umat Islam... yang didesign oleh Tangan2 Jahat dan Kotor dari para Kolaborator dan Antek2 Penjajah Kriminal Internasional.. yang telah banyak merenggut nyawa Umat Islam dan Anak2 Bangsa Indonesia sejak 1945 hingga kini... >>> Awaslah terhadap para Antek2 Penjajahan Kriminal Internasional dalam segala bentuknya dan manifestasinya... dan slogan2 dan issue2 Dusta...ala Neo Liberal Barbar... dan Politik Manipulatif dan Menghalalkan segala cara...>> Secara authentik nyata2... telah memanipulasi UUD 1945... dan memprivatisasi Perusahaan Negara dan menjualnya.. kepada pihak2 yang tidak bertanggung jawab... merampas Harta dan Kekayaan Negara.. ala Kekuasaan Orba yang kejam... membunuh jutaan Rakyat dan Anak2 Bangsa... dan Pembunuhan Karakter Patriot2 Bangsa... dengan tindakan2 Kriminal...Jahat.. dan menggunakan Aparat2 Negara untuk menindas Umat Islam dan Anak2 Bangsa.lainnya.....>> Hanya para Penjilat dan Kolaborator dan Antek2nya sajalah yang benar2 manikmati rayahan dari Hutangan2 dan Dana2 Kotor dan jahat dari LN yang dibiarkan membunuh Rakyat dan Umat Islam dan Anak2 Bangsa..yang cinta Kebenaran dan Keadilan...>> ... Lihatlah.. Sampai kini siapa yang menikmati.. dan menguasai Tambang2 dan Industri2 Migas Negara kita.. Tambang2 Emas-Tembaga-Uranium-Berylium..-Hutan2 dan kayu2- Negara kita... Tanah2 luas dan subur milik anak2 bangsa ini... telah dipindah tangankan menjadi Proyek2 Perumahan Mewah dan Pusat2 Perdagangan Multi Nasional Asing...yang menjadikan Rakyat kita yang rendah Kemampuan modalnya dihancurkan dan menjadi buruh2 murah dan menjadi TKW dan BMI di LN dengan upah rendah dan kehinaan....>> Inikah hasil Pemikiran BNPT dan para politsi culas di DPR dan Pemerintahan kita... >> bangkitlah Bangsa Indonesia dan kaum terpelajar Umat Islam .. Jangan mau dijadikan orang2 tolol dan bodoh menjadi budak2 para Penjajah Kriminal Internasional .. yang terbukti menzholimi Umat Islam di Palestina-Iraq-Afghanistan- Libya-dan juga di Ambon-Poso dll....bahkan bila kita simak kebelakang.. apa yang terjadi di Rawagede-Surabaya-Makasar-Bandung-Aceh-Poso-Ambon-Lampung-Tanjung Priok-Ciherang-Komando Jihad- Tukang Santet-Petrus..... dll....>>> Mereka yang telah menjual nyawa dan darah Rakyat serta kekayaan Negara kepada bangsa Asing dan menjadi Antek2 Asing.. adalah sebenarnya mereka itu Penjahat.. dan Pengkhianat Bangsa...dan terhadap mereka itu harus dilakukan Tuntutan Hukum secara Hukum yang benar- dan organisasinya harus dibubarkan dan Hukum ini harus digantikan dan diperbaiki dengan UU dan Hukum yang Benar dan Adil.. yaitu Hukum dan UU yang berdasarkan Kebenaran-Keadilan-dengan referensi yang mutlak .. [bukan asal2an] .. dan bukan pula dengan pemikiran2 berdasarkan Kemunafikan-Manipulatif dan haus Kekuasaan dan Keserakahan seperti ajaran2 hawa syahwat nafsu Syaithan..>>.Kebenaran itu adalah Allah SWT dan Firmannya dalam al Qur'an adalah Konsepsi dan Petunjuk yang Benar untuk Umat Manusia.. yang ingin terpelihara.. yakni Taqwa.. dan juga sebagai Furqon = yakni Pembeda, Pengecek, Pembanding mana Benar mana Salah- dengan Pelaksana dan pemegang Amanah yang harus benar berjiwa amanah-terpercaya-jujur-openmind dan commonsense...>>.. Awaslah... Ulama2 palsu.. yang mengaku sebagai pentolan2 Islam padahal dia penjual ayat2 Allah untuk kerakusan akan harta dan kekuasaan zhalim... dan penuh kesewenang-wenangan..Dan cara zhalim itulah yang memuaskan nafsu2 serakah mereka..dengan dalih Kebebasan..barbar.. berbuat tanpa moralitas agama... .>> Hayyoo.. tegakan UU anti MOLIMO- dan Anti Gharar-Riba dan Maisir-... untuk mencegah perbuatan2 a-moral yang menghancurkan Anak2 dan Pmimpin Bangsa kita..>>>Teguhkan iman dan ketakwaan dengan kaffah dan ikhlash... kepada Allah SWT saja.. memohon berkah-maslahah-dalam rahmat Allah Maha Mulia .. Amin..>> >

Habib Rizieq Syihab: "Deradikalisasi tak hanya lenyapkan jihad dan syariat, tapi ingin merubah agama"

Rasul Arasy
Rabu, 12 Oktober 2011 13:17:53
Hits: 324



















BEKASI (Arrahmah.com) 

Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab mengungkapkan langkah deradikalisasi yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) berdasarkan hasil penelitian Setara Institute sangat membahayakan. Alih-alih mengaku ingin meredam aksi terorisme, langkah Deradikalisasi ini justru ingin merubah agama.
“Deradikalisasi bukan saja melenyapkan jihad, tapi juga melenyapkan syariat dan ingin merubah agama.” Kata Habib Rizieq Dalam kuliah umum ilmiah bertema “Memerangi Syariat Islam dengan Deradikalisasi” di Masjid Muhammad Ramadhan, pada Ahad (9/10/2011).
Tolak ukur poin yang dijadikan kriteria fundamentalis dari kacamata Setara Institute adalah fundamentalis berarti berpedoman kepada Al Qur’an, padahal itu bagian dari kewajiban umat muslim.
“Dari laporan setara Institute, umat Islam yang menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman disebut fundamentalis,” tambahnya.
Dalam pemaparannya diungkapkan bahwa Setara Institute juga menuding penafsiran para ulama salaf adalah pemicu dari munculnya tindak kekerasan atas nama agama. Maka tidak heran salah satu butir yang diambil BNPT dalam program deradikalisasi adalah menindak dengan tegas pelaku kekerasan atas nama agama.
Konyolnya, satu kriteria yang terdengar lucu dari riset yang dibiayai lembaga dari Amerika, United States Agency for International Development (USAID) itu bahkan memperhitungkan penamaan. Diungkapkan penamaan kelompok, organisasi, jama’ah muslim yang jelas-jelas mengambil dari Al Qur’an masuk ke dalam kategori fundamentalis.
“Berarti menurut Setara Institute, Muhammadiyyah juga fundamentalis, karena nama Muhammad diambil dari Al Qur’an. Tapi kalau pakai nama Setara Institute tidak radikal, termasuk Forum Homoseks,” kata Habib disambut tawa para Jama’ah.
Maka itu tujuan dari deradikalisasi ini memang akan merubah agama. Deradikalisasi nanti tidak akan lagi mempersoalkan atheisme dan murtad, karena itu bagian dari kebebasan beragama.
Selain itu, Habib Rizieq juga menyepakati wacana yang diungkapkan Munarman terkait diperlukannya mujahidin menyusun daftar pencarian orang (DPO) terhadap orang-orang yang berbahaya bagi Islam, dimana daftar list tersebut harus disusun oleh ulama yang berkompeten berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah.
Para mujahidin itu saat ini seharusnya sudah membuat daftar list. Siapa sih sebetulnya musuh-musuh Islam? Siapa sih sebetulnya orang-orang yang darahnya untuk ditumpahkan? Siapa sih orang-orang yang harus dihabisi? Tapi tentunya kita tidak sembarangan membuat daftar itu, sesui dengan dalil-dalil Al-Qur’an maupun As-Sunnah,” tegasnya.
Lebih lanjut Habib Rizieq juga memaparkan, berdasarkan dalil-dalil shahih dalam Al-Qur’an dan Sunnah, orang-orang yang halal darahnya untuk ditumpahkan antara lain: para penghina Allah SWT, penghujat Nabi SAW, penghina Al-Qur’an, pembunuh ulama dan pembantai umat Islam.
Dalam menghadapi orang-orang berbahaya tersebut, Habib Rizieq mengimbau agar umat Islam tidak tercerai-berai dan menyibukkan diri dengan permusuhan karena khilafiyah. Umat Islam harus merapatkan shaff ukhuwah Islamiyah dan fokus menghadapi musuh bersama umat Islam.
“Jadi kita mestinya harus lebih fokus, betul-betul lebih fokus, kita bidikkan senjata dan amunisi kita kepada orang-orang yang betul-betul nyata sudah menjadi musuh Allah dan Rasul-Nya,” tandasnya.
Bahkan Habib mengingatkan para musuh Islam agar jangan semena-mena menzalimi dan memusuhi Islam. Bila musuh-musuh Islam itu bisa main culik, hantam dan bunuh terhadap aktivis Islam, maka mujahidin pun tidak pernah takut untuk berbuat sama.
“Jadi jangan pernah kita takut, kalau mereka bisa culik kita, kita juga bisa kok culik mereka. Mereka bisa bunuh kita, kita juga bisa kok bunuh mereka. Mereka bisa hantam kita, kita juga bisa kok hantam mereka. Mereka bisa angkat senjata, menodongkan senjata ke arah kita, kita juga bisa menodongkan senjata ke arah mereka. Bukan mereka saja yang bisa lakukan itu saudara,” ujarnya di hadapan seribuan jamaah kajian yang diadakan oleh Majelis Ilmu Ar-Royyan itu.
“Ini pesan yang Allah Ta’ala sampaikan dalam surat An-Nisa ayat 104, Jangan kau merasa rendah di hadapan musuh-musuhmu! Kalaupun kau sakit, mereka juga sakit seperti kamu sekalian, bahkan sakitnya mereka lebih daripada kita. Karena Allah nyatakan di dalam surat Ali Imran ayat 139, wa antumul a’launa, engkau lebih tinggi, lebih bagus, lebih istimewa dibandingkan musuh-musuhmu sekalian,” tegasnya. (dbs/arrahmah.com)

RUU Intelejen bertentangan dengan demokrasi yang dikoar-koarkan Indonesia

Rasul Arasy
Selasa, 11 Oktober 2011 15:05:40
Hits: 1152
















JAKARTA (Arrahmah.com) – 
http://arrahmah.com/read/2011/10/11/15711-ruu-intelejen-bertentangan-dengan-demokrasi-yang-dikoar-koarkan-indonesia.html

Isi draft RUU Intelijen yang tumpang tindih merupakan bentuk arogansi yang akan menciptakan kekuasaan tanpa batas yang justru bertentangan dengan demokrasi yang dikoarkan-koarkan oleh bangsa Indonesia, demikian yang diungkapkan Ketua Dewan Pembina Tim Pengacara Muslim (TPM) Muhammad Mahendradatta.
RUU Intelijen tidak mencerminkan negara yang demokratis. Indonesia yang mengaku demokrasi, seharusnya tidak membuat UU yang membolehkan menangkap orang tanpa pengadilan.
“Dalam RUU ini pengadilannya ditutup, orang bisa menangkap siapa saja tanpa pengadilan. Ini artinya, demokrasi yang mereka agung-agungkan itu Cuma lips service alias omong kosong,” tandasnya.
Lebih lanjut Mahendradatta mengatakan bahwa tidak perlu ada UU Intelijen yang memberikan wewenang kepada intel untuk menangkap, menyadap atau membunuh.
“Intel dimana-mana di seluh dunia, setiap aksinya selalu rahasia. Bila sampai ketahuan, maka itu kebodohan intelijen. Bahkan ada satu negara yang menyatakan, kalau kamu sampai ketahuan, maka negara akan menolak keterlibatan I dalam operasi seorang intel. Kerja intel itu seperti siluman, Lha, ini malah mau dipamer, diundang-undangkan. Ini jelas proyek saja,” ujarnya.
Terkait hal tersebut, Mahendradatta meminta BIN untuk membaca UU Terorisme dengan lebih seksama, pasalnya tidak ada lagi UU yang lebih keras melebihi UU tersebut saat ini. Bahkan pasal dalam UU Terorisme pada dasarnya adalah pasal karet, sehingga Ustadz Abu Bakar Ba’asyir bisa terjerat.
‘Hanya’ dengan UU Terorisme saja, aparat sudah bisa main comot sana-sini semaunya, bahkan setelah Ustadz Abu ditangkap, tetap saja bom marak dimana-mana.
“Jadi apa gunanya Ustadz Abu ditangkap? Katanya dituduh sebagai otak? Kalau dianggap otaknya sudah ditangkap, seharusnya kan selesai. Tapi, nyatanya, pengeboman itu justru banyak terjadi disaat Ustadz Abu berada di dalam tahanan. Sebagai contoh, Ustadz Abu dituduh sebagai otaknya bom Bali. Begitu Ustadz Abu ditangkap, pemboman bukannya selesai, tapi tetap terus terjadi,” paparnya.
Sementara itu, anggota DPD RI AM Fatwa berpendapat, RUU Intelijen yang sekarang dinilai sudah bersifat kompromi. Sejak Sembilan tahun lalu (pasca Bom Bali I September 2002), pemerintah mengajukan RUU ini, namun ditolak oleh DPR karena dianggap mengandung banyak unsur-unsur represif.
“Saat ini, masih ada sekitar 25 persen pasal yang represif. Namun, pasal represif itu saya kira sudah dihilangkan dari RUU ini. Cuma yang perlu diantisipasi, pelaksanaan RUU ini masih orang-orang yang berparadigma Orde Baru. Sebaik apapun UU-nya, kalau para pelaksana intelijen di lapangan itu produk lama, agak sulit meninggalkan kebiasaan lamanya” ungkapnya.
Lebih lanjut AM Fatwa menjelaskan bahwa intelijen saat ini masih banyak dari hasil didikan paradigma intelijen Orde Baru.
“Saya sendiri termasuk korban produk intelijen lama. Saya ditangkap sewenang-wenang tanpa surat penangkapan. Saya sampai pernah diadili dan dituntut penjara seumur hidup, lantas dijatuhi hukuman penjara selama 18 tahun. Barulah setelah mau disidangkan, dibuatkan surat penangkapan dengan tanggal dimundurkan. Semua itu sulit saya tentang, karena posisi saya lemah sebagai seorang tahanan,” kenangnya.
Makanya, ketika eksekusi, AM Fatwa tidak mau tanda tangan, Itu merupakan sebagai bentuk perlawanan. Tapi, eksekusinya tetap saja jalan. Akibat kerja intelijen di masa Orde Baru dengan paradigma otoriter, banyak korban yang meninggal di dalam tahanan. (voaI/arrahmah.com)


Kuliah Umum MIAR : Ummat Islam bersatu hadapi deradikalisasi

M. Fachry
Selasa, 11 Oktober 2011 10:37:10
Hits: 1528



BEKASI (Arrahmah.com) – 
Alhamdulillah, kesadaran kaum Muslimin akan bahaya deradikalisasi semakin terbentuk. Sosialisasi kepada ummat Islam pun gencar dilakukan, salah satunya oleh Majelis Ilmu Ar Royyan (MIAR) dengan menggelar Kuliah Umum bertema “Memerangi Syariat Islam dengan Deradikalisasi”, Ahad (9/10/2011) di Masjid Muhammad Ramadhan, Bekasi. Beberapa hal penting mencuat dalam acara tersebut, berikut diantaranya.
Deradikalisasi upaya padamkan syariat dan jihad
Seribuan jamaah memadati Masjid Muhammad Ramadhan, Bekasi, Ahad (9/10/2011) untuk mengikuti Kuliah Umum yang diadakan Majelis Ilmu Ar Royyan. Mereka sudah tidak sabar untuk mendengarkan paparan para pembicara dalam acara bertajuk “Memerangi Syariat Islam dengan Deradikalisasi”. Hadir sebagai pembicara Ustadz Abu Muhammad Jibriel AR, selaku Amir Majelis Ilmu Ar Royyan, Munarman, SH dari An Nashr Institute, dan juga Habib Rizieq Syihad, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI).


Dalam artikelnya berjudul “Deradikalisasi, Usaha Memadamkan Cahaya Syari’ah Dan Jihad Di Indonesia, Ustadz Abu Muhammad Jibriel AR menyampaikan bahwa ssaha memadamkan cahaya Islam bermula sejak dakwah Islam disampaikan oleh Rasulullah Saw. Tidak pernah berhenti dan berlanjut sampai sekarang di Indonesia. Sejak dimunculkannya isu teroris dan terorisme, pemerintah RI demikian bersemangat untuk mematikan semangat penegakan syari’ah dengan da’wah dan jihad fie sabilillah. Melalui institusi POLRI dan team pelaksana anti teror  Densus 88 buatan negara asing  dengan berutalnya menangkap para ulama Mujahidin dan para Mujahidin, bahkan membantai dan membunuh mereka secara membabi buta tiada prikemanusiaan.
Ustadz Abu Jibriel AR juga berpendapat bahwa deradikaliisasi tujuannya hanya untuk menghalangi syariat dan jihad di Indonesia, dan bukan penyelesaian masalah terorisme yang ilmiah dan bijak. Bahkan tindakan ini (deradikaliisasi) akan menimbulkan anti pati dan kebencian terhadap pemerintah yang sedang berkuasa.
Gories Mere DPO Mujahidin
Sementara itu, Munarman, SH dalam acara tersebut menyampaikan bahwa orang yang paling berbahaya bagi para mujahidin Indonesia adalah Gories Mere. Gories Mere adalah daftar DPO nomer satu bagi mujahidin ujarnya.  
“Jadi permainan-permainan ini sudah biasa, dan otak utamanya proyek-proyek ini sekarang adalah Gories Mere seorang polisi Nashara. Saya kira kalau polisi punya daftar DPO maka seharusnya mujahidin juga punya daftar DPO. The Most Wanted of Mujahidin  adalah Gories Mere,”
Bang Munarman, begitu beliau biasa disapa, juga menjelaskan posisi dan peta di tubuh densus 88, khususnya peranan Gories Mere dalam memusuhi Islam dan kaum Muslimin.
 “Di dalam Densus itu sebenarnya ada unit yang diistimewakan betul daripada unit lainnya, yaitu unit Tim Anti Bom. Tim Anti Bom ini dikomandani langsung oleh Gories Mere. Kuncinya itu merekrut polisi-polisi Kristen dan polisi-polisi kafir lainnya,”
Dikarenakan peranan dan kebencian Gories Mere yang begitu besar dalam memusuhi mujahidin, maka Munarman menjadikan mantan Kadensus ini sebagai DPO nomer satu bagi mujahidin.
Pernyataan Munarman ini diamini oleh Habib Rizieq Syihab, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), yang menjadi pembicara berikutnya. Menurut beliau, jika mujahidin ingin menyusun daftar list DPO terhadap orang-orang yang berbahaya bagi Islam, maka daftar list itu harus disusun oleh ulama yang berkompeten berdasarkan dalil-dalil Al Qur’an dan Sunnah.  
 “Saya sepakat dengan Pak Munarman. Para mujahidin itu saat ini seharusnya sudah membuat daftar list. Siapa sih sebetulnya musuh-musuh Islam? Siapa sih sebetulnya orang-orang yang darahnya untuk ditumpahkan? Siapa sih orang-orang yang harus dihabisi? Tapi tentunya kita tidak sembarangan membuat daftar itu, sesui dengan dalil-dalil Al-Qur’an maupun As-Sunnah,”
Menurut beliau, berdasarkan dalil-dalil shahih dalam Al-Qur’an dan Sunnah, orang-orang yang halal darahnya untuk ditumpahkan antara lain: para penghina Allah SWT, penghujat Nabi SAW, penghina Al-Qur’an, pembunuh ulama dan pembantai umat Islam. Menghadapi orang-orang berbahaya tersebut, Habib mengimbau agar umat Islam tidak tercerai-berai dan menyibukkan diri dengan permusuhan karena khilafiyah. Umat Islam harus merapatkan shaff ukhuwah Islamiyah dan fokus menghadapi musuh bersama umat Islam.
 “Jadi kita mestinya harus lebih fokus, betul-betul lebih fokus, kita bidikkan senjata dan amunisi kita kepada orang-orang yang betul-betul nyata sudah menjadi musuh Allah dan Rasul-Nya,”
Habib mengancam kepada para musuh Islam agar jangan semena-mena menzalimi dan memusuhi Islam. Bila musuh-musuh Islam itu bisa main culik, hantam dan bunuh terhadap aktivis Islam, maka mujahidin pun tidak pernah takut untuk berbuat sama.
“Jadi jangan pernah kita takut, kalau mereka bisa culik kita, kita juga bisa kok culik mereka. Mereka bisa bunuh kita, kita juga bisa kok bunuh mereka. Mereka bisa hantam kita, kita juga bisa kok hantam mereka. Mereka bisa angkat senjata, menodongkan senjata ke arah kita, kita juga bisa menodongkan senjata ke arah mereka. Bukan mereka saja yang bisa lakukan itu saudara,”
Wallahu’alam bis showab. Allahu Akbar!
(M Fachry/voa-islam/arrahmah.com)


   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar