Senin, 17 Oktober 2011

Kristen Ambon provokasi masyarakat Muslim, masih ada diskriminasi!...>>.Rusdi, nama alias, salah seorang saksi yang minta dirahasiakan namanya, kepada voa-islam.com menjelaskan bahwa 3 orang saksi itu diperlakukan seperti tersangka di kantor polisi. Mereka diperiksa oleh Vilki Sohuat, penyidik Polres Ambon yang beragama Kristen. Dalam pemeriksaan tersebut dibuat BAP saksi oleh penyidik yang dilengkapi dengan foto para saksi. Kata-kata kasar pun meluncur dari mulut penyidik. “Oh, ini ya, preman-preman dari Jakarta?” ujar Rusdi menirukan. Usai diperiksa, Rusdi bingung keheranan, kenapa dirinya yang membantu memadamkan api justru dicurigai sebagai preman pelaku pembakaran. “Sungguh aneh apa yang dilakukan aparat itu. Mereka bukannya mengejar dan mencari pelaku pembakaran rumah warga Muslim, malah memeriksa warga Muslim yang melakukan pemadaman api. Saya yang membantu memadamkan api kok saya yang dicurigai sebagai pelaku?” kesalnya. [taz/ahmed widad] ..Di TKP ditemukan bekas botol air mineral yang dipergunakan untuk membawa bensin oleh pelaku. Keterangan dari saksi yang diwawancarai oleh Koresponden Arrahmah.com mengatakan bahwa ketika terjadi pembakaran tersebut dirinya dan masyarakat Muslim sekitar langsung bergotong royong memadamkan api dengan air. Setelah api padam barulah aparat keamanan dari TNI dan polisi menyisir daerah sekitar kejadian. Anehnya, polisi justru membawa 3 orang Muslim ke Polres Pulau Ambon dengan alasan untuk dijadikan saksi. Mereka dibawa ke Polres dari jam 10 malam dan baru dipulangkan pukul 02.30 pagi..Ahad (16/10/2011), sekitar pukul 21.30 WIT, sebuah tempat kost di Jalan Mutiara Mardika di belakang Pusat Pendidikan Komputer) PUSDIKOM dibakar oleh orang yang tidak dikenal. Tempat kost milik Bapak Marjito terdiri dari 2 lantai yang terbuat dari papan. Lantai atas terdiri dari 8 kamar yang dikostkan, sedangkan lantai bawah dijadikan tempat tinggal keluarga Bapak Marjito. Tempat tersebut sudah sekitar 1 bulan ditinggal mengungsi penghuninya akibat kerusuhan Ambon, yang terjadi pada tanggal 11-13 September 2011 lalu. Penghuninya mengungsi dikarenakan tempat tersebut berada di perbatasan antara kawasan Muslim dan kawasan Kristen dan selalu menjadi sasaran penyerangan dari pihak Kristen...>>


Kristen Ambon provokasi masyarakat Muslim, masih ada diskriminasi!

M. Fachry
Senin, 17 Oktober 2011 09:54:54
Hits: 882

AMBON (Arrahmah.com) – 

Satu lagi bukti kondisi di Ambon masih mencekam, dan kaum Muslimin Ambon masih didiskriminasi. Kaum Muslimin Ambon diprovokasi oleh Kristen Ambon, dengan cara membakar sebuah tempat kost di Jalan Mutiara Mardika di belakang Pusat Pendidikan Komputer) PUSDIKOM, Ahad (16/10/2011) sekitar pukul 21.30. Berikut laporan lengkapnya sebagaimana dituturkan Koresponden Arrahmah.com langsung dari TKP
Tempat kost warga Muslim dibakar
Ahad (16/10/2011), sekitar pukul 21.30 WIT, sebuah tempat kost di Jalan Mutiara Mardika di belakang Pusat Pendidikan Komputer) PUSDIKOM dibakar oleh orang yang tidak dikenal. Tempat kost milik Bapak Marjito terdiri dari 2 lantai yang terbuat dari papan. Lantai atas terdiri dari 8 kamar yang dikostkan, sedangkan lantai bawah dijadikan tempat tinggal keluarga Bapak Marjito. Tempat tersebut sudah sekitar 1 bulan ditinggal mengungsi penghuninya akibat kerusuhan Ambon, yang terjadi pada tanggal 11-13 September 2011 lalu. Penghuninya mengungsi dikarenakan tempat tersebut berada di perbatasan antara kawasan Muslim dan kawasan Kristen dan selalu menjadi sasaran penyerangan dari pihak Kristen.
Dalam pembakaran tempat kost tersebut yang diduga keras dilakukan oleh massa Kristen, bangunan dapur habis terbakar. Di TKP ditemukan bekas botol air mineral yang dipergunakan untuk membawa bensin oleh pelaku. Keterangan dari  saksi yang diwawancarai oleh Koresponden Arrahmah.com mengatakan bahwa ketika terjadi pembakaran tersebut dirinya dan masyarakat Muslim sekitar langsung bergotong royong memadamkan api dengan air. Setelah api padam barulah aparat keamanan dari TNI dan polisi menyisir daerah sekitar kejadian. Anehnya, polisi justru membawa 3 orang Muslim ke Polres Pulau Ambon dengan alasan untuk dijadikan saksi. Mereka dibawa ke Polres dari jam 10 malam dan baru dipulangkan pukul 02.30 pagi.
Masih ada diskriminasi di Ambon
Salah satu dari 3 orang saksi yang juga berhasil diwawancarai oleh Koresponden Arrahmah.com dan meminta namanya dirahasiakan, mengatakan bahwa mereka diperlakukan seperti tersangka. Mereka dipersiksa oleh penyidik Polres Ambon yang bernama Vilki Sohuat yang beragama Kristen. Dalam pemeriksaan tersebut dibuat BAP saksi oleh penyidik dengan dilengkapi foto para saksi. Ada kalimat tidak sedap dari penyidik Kristen tersebut kepada para saksi dimana penyidik mengatakan “Oh ini ya preman-preman Jakarta”. Sungguh aneh apa yang dilakukan oleh aparat keamanan, mereka bukannya mengejar dan mencari pelaku justru malah para saksi yang memadamkan kebakaran dicurigai sebagai pelaku.
Ketika para saksi dibawa oleh polisi ke Polres Pulau Ambon, mereka dijanjikan akan diantar pulang jika pemeriksaan telah selesai. Namun kenyataannya tidak demikian. Para saksi pulang pukul 02.30 WIT tanpa diantar tapi pulang sendiri-sendiri. Mereka dipulangkan setelah teman-teman dari masyarakat Muslim menjemput mereka di Mapolres Pulau Ambon. Kejadian ini membuktikan bahwa Ambon belum kondusif dan aparat keamanan belum mampu menciptakan rasa aman dan rasa adil bagi masyarakat Muslim Ambon. Masih ada diskriminasi di Ambon!
(M Fachry/arrahmah.com)


Senin, 17 Oct 2011

Rumah Muslim Ambon Dibakar Lagi, Anehnya Warga Muslim Dicurigai Pelaku

AMBON (voa-islam.com) – 
Belum hilang trauma warga Muslim Ambon setelah ratusan rumah dibakar perusuh salibis, tadi malam terjadi lagi pembakaran rumah Muslim di perbatasan.
Meski berulangkali diberitakan sudah kondusif, kondisi Ambon masih panas, pasca insiden 11/9 yang menewaskan 8 warga Muslim dan membakar ratusan rumah Muslim. Salah satu pemicunya adalah provokasi warga Kristen.

Insiden provokasi terkini terjadi tadi Ahad malam (16/10/2011) sekitar pukul 21.30 WIT. Sebuah tempat kos milik warga Muslim di jalan Mutiara Mardika di belakang PUSDIKOM (Pusat Pendidikan Komputer) dibakar oleh orang tak dikenal. Tempat kos milik Marjianto yang terdiri dari 2 lantai itu habis dilalap api. Lantai atas rumah papan tersebut terdiri dari 8 kamar yang dijadikan tempat kost, sedangkan lantai bawah dijadikan tempat tinggal keluarga Marjianto.
Rumah tersebut sudah sebulan ditinggal mengungsi penghuninya akibat kerusuhan 11-13 September lalu. Marjiyanto dan keluarganya mengungsi karena tempat tersebut terletak di perbatasan antara kawasan Muslim dan Kristen, yang selalu menjadi sasaran penyerangan dari pihak Kristen.
Karenanya, warga menduka kuat bahwa pelaku pembakaran rumah dua lantai tersebut dilakukan oleh masa Kristen. Di TKP ditemukan bekas sebuah botol bekas bensin yang dipakai untuk membakar rumah oleh pelaku.
Menurut keterangan saksi mata yang diwawancara voa-islam.com, saat terjadi pembakaran tersebut masyarakat Muslim sekitar langsung bergotong-royong memadamkan api dengan alat seadanya.

Setelah api padam, barulah aparat keamanan dari TNI dan polisi datang menyisir TKP. Usai penyisiran, pukul 22.00, tiga orang warga Muslim sekitar digelendang ke kantor polisi dengan alasan sebagai saksi. Ketika digelendang polisi ke Polres Ambon, para saksi dijanjikan akan diantar pulang jika pemeriksaan sudah selesai. Kenyataannya, polisi berdusta. Para saksi disuruh pulang sendiri-sendiri pukul 02.30 dini hari tanpa diantar. Itu pun setelah warga Muslim menyambangi Mapolres Pulau Ambon untuk menjemput ketiga warga Muslim yang dipaksa menjadi saksi.

Rusdi, nama alias, salah seorang saksi yang minta dirahasiakan namanya, kepada voa-islam.com menjelaskan bahwa 3 orang saksi itu diperlakukan seperti tersangka di kantor polisi. Mereka diperiksa oleh Vilki Sohuat, penyidik Polres Ambon yang beragama Kristen.

Dalam pemeriksaan tersebut dibuat BAP saksi oleh penyidik yang dilengkapi dengan foto para saksi. Kata-kata kasar pun meluncur dari mulut penyidik. “Oh, ini ya, preman-preman dari Jakarta?” ujar Rusdi menirukan.
Usai diperiksa, Rusdi bingung keheranan, kenapa dirinya yang membantu memadamkan api justru dicurigai sebagai preman pelaku pembakaran. “Sungguh aneh apa yang dilakukan aparat itu. Mereka bukannya mengejar dan mencari pelaku pembakaran rumah warga Muslim, malah memeriksa warga Muslim yang melakukan pemadaman api.  Saya yang membantu memadamkan api kok saya yang dicurigai sebagai pelaku?” kesalnya. [taz/ahmed widad]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar