Minggu, 24 April 2011

Surat untuk ‘Za… http://febridiansyah.wordpress.com/surat-untuk-za/#comment-712



“Za, kawanku yang baik…
Jika engkau baca surat ini, artinya telah 9 tahun berlalu sejak perbincangan kita di sebuah hiruk pikuk teriakan mahasiswa yang turun ke jalan…”


Karena itulah aku tuliskan surat ini untuk mu.
Kau pernah baca catatan harian John Perkins yang kemudian diterbitkan dalam ‘Confession of an Economic Hit Man’? Aku tidak meragukanmu, tapi semoga kau masih tetap bersedia menyediakan sedikit waktu untuk kemanusiaan dan keintelektualanmu dengan membaca ditengah jadwal-jadwal padat itu. Agenda-agenda pesanan tersebut. Terutama tentang hutang dan strategi pembangunan di dunia ketiga. Ini salah satunya yang kusebut semacam campur tangan organ-organ kapitalisme global. Ada dua istilah penting Za; coorporatocracy dan Manifest Destiny. Dua terminologi ini yang menjadi andil penting penjajahan pada banyak negara di dunia.
……
Lebih Lengkap, klik: “SURAT UNTUK ‘ZA”

§ 6 Responses to Surat untuk ‘Za…

  • mengejaperistiwa says:
    jujur, masih perlukah hal itu? jujur pada za, jujur pada negara?
    tetapi jujur pada Tuhan itu sepertinya tidak perlu! Dan lagi, ada yang mengatakan bahwa jujur itu berbahaya, sedangkan korupsi, ari ketidakjujurankah lahirnya, atau karena ada kesempatan, atau suatu tradisi turun-temurun pendahulu kita?? atau korupsi sebuah warisankah?
    persidangan ketidakjujuran disidangkan di mimbar takadanya kejujuran..
    ahh…jujur itu kuno!!
    dan perjuangna Anda bersama Za?
    menurutku, korupsi hanya bisa diberantas dengan sistem dan sikap yang tegas, sayangnya orang-ornag seperti Anda dan Za masih sedikit..
    Saya sendiri baru bisa menerapkanya pd lingkup paling sederhana, diri sendiri, keluarga, dan sahabat dekat!
    salam
    “jujur pada diri sendiri, mungkin :-) . Salam juga ya, bung Sutrisno…”
  • winars says:
    bung Sotrisno?
    dari mana Anda tau nama itu?
    saya tak mengerti, apa??
    apa?
    “Ada masalah dengan nama itu?” :-)
  • winars says:
    apa nama itu hanya kebetulan saja??
    ahh..mungkin iya..!
  • Donny Setiadi says:
    Ketika kita diberi pilihan ya dan tidak, apakah jika kita memilih ya kita kan jatuh, atau sebaliknya? pilihan bukan hanya suatu keputusan, tetapi takdir. Tuhan telah menentukan banyak pilihan untuk kita, itulah yang akan menjadi kehidupan. Munir telah memilih jujur dan mati ditangan subkorporasi korupsi. tapi matinya munir bukan kenginannya melainkan pilihan membunuh bagi pembunuh. Dan munir tahu bahwa ia akan mati seperti itu karena ia telah memilih iya terhadap kejujuran dan kebenaran. Tapi sayang bagi pembunuh, yang dikiranya matinya tokoh kejujuran akan mati pula kebenaran. Ketahuilah bahwa kejujuran dan kebenaran butuh jiwa pejuangnya sebagai tumbal. “Kuberikan jiwa untuk kebenaran itu”. Di dunia yang penuh pembohong ini, apakah masih perlu kita berbohong???
  • seseorang says:
    terimakasih..
  • arifin says:
    Saya tak terlalu memahami makna coorporatocracy dan Manifest Destiny. Kita memang masih mencari-cari hukum dan ketatanegaraan kita, makanya kita selalu diombang-ambing oleh kekuatan luar. Negara kita cukup luas, rakyat cukup banyak, sumber ekonomi dan alam cukup juga. Maka harus disempurnakan oleh manusianya yang berkepribadian dan beilmu..secara teguh dan konsisten… Apapun godaan datang dari luar ataupun dari dalam sepantasnya kita bisa mengatasai secara mandiri…dan seksama… Sayangnya sudah merdeka 66 tahun, dan lebih dari 50 tahun kita selalu cekcok… dan tidak jelas negara dan rakyat mau dibawa kemana… Para Founding fathers kita telah berupaya keras untuk memberikan arahan… Rancangan UUD 1945 tertanggal 22.6.1945 dalam mukaddimahnya menyuratkan… a.l. “kewajiban melaksanakan syariah Islam bagi pemeluknya”, dan ini tidak pernah menjadi bahan pertimbangan dalam aplikasi hukum kita secara nasional selama ini… Sampai hari ini…. seharusnya ada rujukan tertinggi yang harus diyakini dan dipercaya sebagai arahan dan pegangan hidup… Kuncinya adalah adanya niatan yang benar2 jujur dan tulus untuk kejayaan Rakyat, Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia Raya.. dan semua itu adalah tegaknya Kebenaran dan Keadilan bagi seluruh Rakyat Republik Indonesia Raya.. tanpa ada rekayasa…. Kita perlu tegaknya hukum yang benar.. dan terjaminnya keadilan yang tanpa tipu muslihat… Janganlah politik dijadikan acuan.. karena Politik menurut para pakarnya adalah seni permainan kekuasaan dan alat kekuasaan, dapat dimanipulasikan,dan tidak ada haram atau halal.. semua boleh2 sepanjang didukung legitimasi dan tidak melanggar UU yang disepakati. Lalu dimana frame work politik dan kontrol adanya kelayakan kebenaran politik… Sangatlah relatif… tergantung pada siapa, untuk siapa.. dan dalam kekuasaan siapa.. Firaunpun menganut ayat2 ini.. makanya dia tak salah tatkala mengaku sebagai keuasaannya menyamai Tuhan.. Hanya hukum Allah saja mendatangkan Nabi Musa AS..yang mengadilinya..secara diluar kekuasaan Musa AS. Juga Bush dan AS-NATO-Israel… mereka semua menganut “machiaveli”… Kebenaran Kekuasaan.. Dan menghalalkan segala cara… Cara2 tersebut adalah Kebenaran Syaithan.. Kebenaran Hawa Nafsu Belaka…Itulah Jahiliyah… Zaman modern??..
    Untuk itu marilah kita menggunakan hati nurani dan akal budi kemanusiaan yang luhur… Kembali kepada Allah SWT dan ajaranNya serta hukum2Nya secara benar, kaffah dan dengan keilkhlasan hati nurani….. Insya Allah kita akan segera mencapai adil dan makmur dan persatuan yang kuat dan jaya… Indonesia Raya yang Adil dan Makmur serta Aman sejahtera dan Jaya… Amin…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar