Jumat, 08 April 2011

Kekuatan Militer Cina Bikin AS Miris>>>>Cina Kirim Kapal Patroli ke Laut Cina Timur>>>>Perang Mata Uang Cina dan AS>>>Presiden Cina Hu Jintao menolak seruan Amerika Serikat untuk meningkatkan nilai tukar yuan dan menyerukan pembicaraan lebih lanjut antara kedua belah pihak. "Pertama, kita harus meningkatkan dialog dan kontak serta membangun strategi saling percaya," kata Hu dalam wawancara tertulis dengan koran Washington Post, kemarin (Ahad,16/1). "Kedua, kita harus meninggalkan mentalitas Perang Dingin, melihat perkembangan masing-masing secara obyektif dan bijaksana, dan menghormati pilihan masing-masing dalam jalur pembangunannya," tambahnya. Washington berulang kali mendesak Beijing untuk menaikkan nilar tukar yuan terhadap dolar dan mengalihkan fokus ekonomi dari luar ke dalam. >>>Cina Sukses Ujicoba Pesawat Siluman Tandingan Amerika>>>Panglima PACOM: Cina dalam tahap menguji rudal anti kapal>>>Pesawat Siluman China Pernah ke Guam, AS........ Jadikan Renungan...kita... Bangsa Indonesia... yang selama ini hanya bisa mengekor bangsa Asing/ Barat.... Mari belajar dengan Bangsa Cina yang semakin mandiri... Hentikan hutang Asing.. Bangkitlah wahai bangsaku... Jangan suka..senang2 ..dan foya2... Tapi belajar... dan selalu nbelajar dan prihatin.. demi kejayaan bangsa... Hentikan Kebohongan2 terhadap rakyat sendiri.... Jujurlah wahai Pemimpin Bangsa... Jangan Berdusta..lagi... Hentikan.. bermewah-mewah...yah. Contoh kemajuan bangsa lain untuk tanah air dan anak negeri... hayoo. jangan berdusta lagi.........

Sunday, December 26, 2010

Kekuatan Militer Cina Bikin AS Miris

ttp://indonesiandefense.blogspot.com/2010/12/kekuatan-militer-cina-bikin-as-miris.html 

Washington mencemaskan persenjataan militer Cina dan pertumbuhan industri militer negara ini. Kenyataan itu membuat Amerika melihat Cina sebagai ancaman bagi kepentingannya di seluruh dunia. Menurut laporan televisi al-Alam, surat kabar Washington Post edisi Sabtu (25/12) dalam sebuah tulisannya menegaskan kekhawatiran Amerika atas kekuatan militer Cina. Disebutkan, pabrik-pabrik pembuat pesawat tempur di Rusia telah mencapai kemajuan luar biasa. Sebagian dari perusahaan-perusahaan Rusia membuka lowongan kerja bagi para ahli di Moskow mengingat banyaknya pembeli kaya dari Cina yang menginginkan senjata-senjata baru.
Sementara New York Times menyebut para teknisi Cina beberapa tahun lalu berusaha keras untuk memodernisasikan perlengkapan pembuatan pesawat militer berukuran raksasa, tapi usaha ini masih belum berhasil.
Berdasarkan laporan ini, Cina sangat bertumpu pada persenjataan strategisnya yang dibuat oleh Rusia. Para pejabat Cina menginformasikan kepada Anatoly Serdyukov, Menteri Pertahanan Rusia soal kesiapan mereka membeli senjata-senjata Rusia dan yang menjadi prioritas adalah pesawat SU-35 untuk mempersenjatai kapal induk Cina setelah beberapa waktu proyek ini dihentikan.
Cina juga menginginkan pesawat pengangkut militer Rusia jenis IL-476 dan pesawat tempur IL-478 guna melengkapi satuan pengisi bahan bakar di udara serta unit pertahanan udara jenis S-400.(IRIB/SL/PH)

IRIB 
 

Wednesday, November 17, 2010

Cina Kirim Kapal Patroli ke Laut Cina Timur

http://indonesiandefense.blogspot.com/2010/11/cina-kirim-kapal-patroli-ke-laut-cina.html


illustrasi

BEIJING, (PRLM).- Cina mengirim sebuah kapal patroli perikanan yang dilengkapi helikopter untuk mematroli Laut Cina Timur yang disengketakan. Demikian dilaporkan media Selasa (16/11), persis ketika ketegangan negara itu dan Jepang tampaknya mereda menyangkut perairan itu.

Kapal patroli perikanan itu yang pertama dilengkapi dengan helikopter, sudah meninggalkan kota pelabuhan selatan Guangzhou menuju Laut Cina Timur untuk satu misi yang bisa berlangsung selama 20 hari, kata kantor berita Xinhua.

Cina mengirim kapal-kapal ke perairan itu pada kesempatan-kesempatan terdahulu, kata media pemrintah itu, di tengah-tengah pertikaian dengan Jepang menyangkut satu tabrakan kapal yang menyebabkan hubungan kedua negara tegang.

Jepang menahan seorang nakoda kapal penangkap ikan Cina diperairan yang disengketakan setelah kapalnya menabrak sebuah kapal penjaga pantai Jepang awal September. Ia kemudian dibebaskan.

Di sela-sela KTT regional di Jepng akhir pekan lalu, kedua pihak tampaknya melakukan satu tindakan setelah sengketa itu ketika Presiden Cina Hu Jintao melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang Naoto Kan.

Hu berjanji Cina akan tetap melakukan kebijakan bertetangga baik, sementara kekhawatiran muncul akibat tindak tanduk yang agresif di Asia Pasifik.

Sumber : PIKIRAN RAKYAT

Sunday, January 2, 2011

Kilas Balik Perang Mata Uang Cina dan AS

http://indonesiandefense.blogspot.com/2011/01/kilas-balik-perang-mata-uang-cina-dan.html 

Kilas Balik Perang Mata Uang Cina dan AS
Istilah perang devisa tahun lalu menjadi buah bibir di media pemberitaan. Perang ini berlangsung antara dua kubu kekuatan ekonomi dunia yang kebetulan juga punya pengaruh kuat di tengah masyarakat internasional. Entah siapa yang pertama kali menggelindingkan istilah perang ini. Yang jelas perang ini menunjukkan iklim sebenarnya di tengah negara-negara yang disebut maju dan dipandang mapan. Negara-negara ini khawatir jika mata uang mereka kian menguat dan nilai tukarnya melambung. Sebab, hal itu akan berdampak buruk pada pendapatan mereka bahkan bisa melumpuhkan ekspor. Sebagian malah menyebut adanya kecurangan dan persaingan yang tidak adil di pasar perdagangan. Pasalnya, negara yang menekan nilai tukar mata uangnya berarti punya ongkos produksi yang lebih kecil dibanding nilai jual komoditas yang diekspornya ke luar. Persaingan dengan cara ini dipandang sebagai tindakan curang dan persaingan yang tak sehat. Perang mata uang tahun 2010 melibatkan AS dan Cina. Sejak masuk ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada Desember 2001. Awalnya AS berharap, masuknya Cina ke WTO bisa menguntungkan Washington. Karena dengan itu AS bisa mengendalikan Cina yang menjadi kekuatan besar dan baru di pentas pedagangan dunia dalam kemasan kerjasama. Namun nampaknya dewi fortuna berpihak kepada Cina. Sebab, tak lama setelah Cina jadi anggota WTO pembatasan eskpor di lembaga perdagangan ini dicabut. Ini berarti Cina bisa menjual produknya ke AS dalam jumlah berapapun. Tentunya barang komoditas buatan Cina diproduksi dengan harga kecil yang salah satu penyebabnya adalah rendahnya nilai mata uang Yuan.
Sebenarnya perselisihan antara Cina dan AS sudah ada sejak lama dan mengakar cukup dalam. Kedua negara punya sengketa terkait masalah militer dan hak asasi manusia (HAM). Ada pula sengketa yang bersumber pada persaingan keduanya dalam memperebutkan pengaruh di berbagai kawasan dunia. Saat ini Cina sudah melangkah jauh dengan menebar pengaruh di Afrika, Amerika Latin, juga ASEAN lewat kerjasama erat dengan asosiasi negara-negara Asia Tenggara ini. Cina sudah menormalisasi hubungan bilateralnya dengan India, dan menjalin kerjasama strategis dengan Rusia khususnya lewat Organisasi Kerjasama Shanghai. Semua itu jelas menumbuhkan kekhawatiran bagi AS. Dalam setahun terakhir, friksi antara AS dan Cina di bidang ekonomi, perdagangan dan tarif cukai cukup menarik dan memanaskan media pemberitaan dunia. Aksi saling balas diantara kedua negara juga mengundang perhatian.
Para ekonom AS menuduh Cina sengaja menekan nilai tukar mata uang Yuan supaya komoditas ekspornya bisa merajalela menguasai persaingan di pasar global. Jeffry Frieden, professor dari Universitas Harvard menjelaskan, tindakan Cina yang berusaha mempertahankan nilai Yuan tetap rendah, bukan hanya merusak ekonomi AS tetapi juga berimbas buruk pada perekonomian sebagian besar negara. Pakar masalah moneter dan finansial di banyak negara itu menambahkan, rekayasa devaluasi Yuan yang dilakukan Cina, sejatinya akan menyeret negara-negara dunia untuk berlomba-lomba menurunkan nilai mata uangnya. Di sisi lain, ia juga menilai bahwa pelemahan nilai Yuan juga menjadi biang utama yang membuat perbaikan ekonomi di Negeri Paman Sam tak juga membaik. Meski Jeffry tak mengingkari kelemahan internal ekonomi AS, namun kebijakan Cina itu dinilainya telah menyebabkan kebijakan ekonomi AS di kancah global terseok-seok.
Tahun 2009, Cina menduduki peringkat pertama di dunia dengan ekspor tertinggi yang mencapai nilai 1200 miliar USD. Selisih neraca perdagangan negara dengan jumlah populasi 1,3 miliar jiwa itu setiap tahunnya mencapai 250 miliar USD. Cadangan devisa Cina juga mengagumkan dengan mengukir angka spektakuler 2,422 triliun USD yang sekaligus mendudukkannya sebagai negara dengan cadangan devisa terbesar. Padahal, AS hanya menempati urutan ketujuh belas dunia dengan cadangan devisa sebesar 130 miliar USD dan bahkan berada di bawah Brazil, Aljazair dan Thailand.
Dalam perang ekonomi antara dua kutub kekuatan dunia, AS memang tertinggal jauh di belakang Cina. Tak heran jika AS menyalahkan Cina lantaran keengganan Beijing menaikkan nilai tukar mata uangnya. Cara itu, menurut AS, adalah trik Cina untuk meraih keuntungan dalam perdagangan kedua negara. Saat ini, setengah dari neraca defisit perdagangan AS terkait dengan hubungan dagangnya dengan Cina. Masih menurut AS, Beijing sengaja menahan kenaikan nilai tukar Yuan sehingga membuat barang-barang Cina yang murah membanjiri pasaran Amerika. Tahun 2009, nilai ekspor AS ke Cina hanya sebesar 70 miliar USD sementara nilai ekspor Cina ke negara itu mencapai 366 miliar USD.
Tentunya Cina tak tinggal diam menjadi sasaran tuduhan itu. Beijing menyatakan bahwa ketimpangan neraca perdagangan AS disebabkan oleh tradisi orang Amerika yang hobi belanja sementara harga barang-barang produk lokal cukup mahal. Kalah dalam perang dagang ini, AS mengancam hendak memberlakukan sanksi perdagangan atas negara itu. Cina pun balas menggertak dan menyatakan siap melakukan tindakan balas jika sanksi benar-benar dijatuhkan oleh AS. Yang jelas, dalam banyak hal AS sangat bergantung kepada Cina. Apalagi lebih dari 800 miliar USD obligasi AS ada di tangan Cina.
Rupanya, dalam perang mata uang ini, bukan hanya AS yang geram dengan ulah Cina. Negara-negara Eropa juga melayangkan kritik serupa. Mereka mengatakan, jika Cina melepaskan kendalinya atas Yuan dan membiarkan mata uang itu bergerak bebas di bursa devisa, maka nilai tukar Yuan akan meningkat minimal 40 persen dari nilai sekarang. Sampai saat ini, belum ada tanda-tanda Cina akan mengubah kebijakan keuangannya. Sebab, jika nilai tukar Yuan dibiarkan menanjak bebas, maka nasib para buruh yang terlibat dalam aktivitas produksi komoditas ekspor Cina ke luar negeri akan terancam, padahal jumlah mereka sangat besar. Alasan itulah yang diungkap oleh Zhao Xiaochuan, Gubernur Bank Central Cina saat mengumumkan sikap Beijing yang menolak membiarkan nilai tukar Yuan meningkat. Namun demikian, dia menjanjikan perimbangan nilai tukar Yuan secara bertahap.
Dalam kebijakan keuangannya, Cina memainkan peran seperti bank. Ketika rakyat di negara itu memerlukan jasa simpanan bagi uang mereka, pemerintah Cina mengeluarkan obligasi. Dari hasil penjualannya dana itu digunakan untuk membeli obligasi yang dikeluarkan negara lain, khususnya AS. Dengan cara ini cadangan kas negara Cina menjadi sangat besar. Ini berarti, pemilik sebenarnya dari dana itu adalah para pemain swasta. Poin terpenting adalah bahwa selisih keuntungan dari neraca perdagangan Cina dengan AS berikut cadangan devisa dijadikan dana simpanan oleh pemerintah Cina. 

IRIB 
 

Sunday, January 16, 2011

Presiden Cina: Dolar AS, Produk Masa Lalu

 http://indonesiandefense.blogspot.com/2011/01/presiden-cina-dolar-as-produk-masa-lalu.html

 

Presiden Cina Hu Jintao menolak seruan Amerika Serikat untuk meningkatkan nilai tukar yuan dan menyerukan pembicaraan lebih lanjut antara kedua belah pihak. "Pertama, kita harus meningkatkan dialog dan kontak serta membangun strategi saling percaya," kata Hu dalam wawancara tertulis dengan koran Washington Post, kemarin (Ahad,16/1).
"Kedua, kita harus meninggalkan mentalitas Perang Dingin, melihat perkembangan masing-masing secara obyektif dan bijaksana, dan menghormati pilihan masing-masing dalam jalur pembangunannya," tambahnya.
Washington berulang kali mendesak Beijing untuk menaikkan nilar tukar yuan terhadap dolar dan mengalihkan fokus ekonomi dari luar ke dalam. Kemudian meningkatkan permintaan domestik dan menjauhkan diri dari pertumbuhan ekonomi yang berbasis ekspor.
Pekan lalu, Menteri Keuangan AS Timothy Geithner mengatakan, Cina bisa lebih baik dalam mengendalikan inflasi, jika membiarkan nilai tukar yuan naik.
Hu menyatakan bahwa Cina menggunakan berbagai strategi dalam pertempuran, termasuk inflasi dan kenaikan suku bunga, dan inflasi tidak bisa menjadi faktor utama dalam menentukan kebijakan nilai tukar mata uang.
Presiden Cina menyebut sistem mata uang dolar AS yang mendominasi pasar internasional sebagai suatu "produk masa lalu." Ditambahkannya, hal itu akan menjadi proses yang cukup panjang untuk membuat mata uang Cina sebagai salah satu alat transaksi internasional.
Strategi mata uang dipercaya bahwa Cina secara bertahap akan menyerahkan kontrol atas perusahaan dan perdagangan dalam rangka internasionalisasi yuan dan strategi ini sangat penting untuk mengurangi kontrol modal dan reformasi mata uang asing.

Pernyataan ini dikeluarkan hanya beberapa hari sebelum kunjungan resmi Presiden Cina ke Washington, di mana isu-isu militer dan ekonomi akan dibahas oleh kedua negara. (IRIB/RM/AR)
 
 

 

Cina Sukses Ujicoba Pesawat Siluman Tandingan Amerika

http://indonesiandefense.blogspot.com/2011/01/cina-sukses-ujicoba-pesawat-siluman.html 

 Laporan terbaru menyebutkan bahwa Cina telah mengujicoba pesawat siluman pertamanya yang akan menandingi pesawat produksi Amerika Serikat.
Media massa Hongkong hari ini (6/1) mengutip sumber-sumber militer Cina melaporkan, pesawat siluman tipe J-20 itu sukses diujicoba dan foto-fotonya telah tersebar di internet.
Ujicoba pesawat tempur siluman J-20 itu dilakukan menjelang kunjungan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Robert Gates ke Cina, di saat pemerintah Beijing menentang keras penjualan persenjataan dari Washington kepada Taiwan.
Pekan depan Gates akan berkunjung ke Cina setelah ia beberapa kali membatalkan rencana kunjungannya tersebut.
Menurut para pengamat, pesawat tempur J-20 Cina itu akan masuk dalam armada angkata udara Cina sebelum tahun 2017. Konon, pesawat J-20 itu dapat menandingi pesawat sekelasnya produksi AS F-22. Dengan demikian, Cina berhasil mengakhir dominasi superioritas angkatan udara Amerika Serikat di kawasan Asia. (IRIB/IRNA/MZ/MF)

IRIB 

Wednesday, December 29, 2010

Panglima PACOM: Cina dalam tahap menguji rudal anti kapal

http://indonesiandefense.blogspot.com/2010/12/panglima-pacom-cina-dalam-tahap-menguji.html


29 Desember 2010 -- Cina diperkirakan akan mengoperasikan sistem rudal balistik anti kapal dalam beberapa tahun diungkapkan Panglima Komando Pasifik AS Laksamana Robert Willard saat diwawancarai harian Jepang Asahi Shimbun di Honolulu, Hawaii.

Para ahli militer AS memperingatkan bahwa Cina tengah mengembangkan rudal balistik anti kapal Dongfeng 21, mampu melumat kapal induk tenaga nuklir yang sedang bergerak.

Willard mengatakan Cina sedang melakukan pengujian ekstensif sistem rudal balistik anti kapal. Jika meminjam istilah Barat, dalam tahapan "initial operational capability". Pihak AS belum melihat rudal ini diuji coba di laut, uji terbang sesungguhnya ataupun pengujian menyerang kapal perang yang bergerak. Tetapi pihak AS yakin bagian komponen rudal telah dikembangkan dan diuji.

Sistem rudal ini dapat menyerang armada kapal induk dalam jarak jauh diluar garis teritorial Cina. Rusia telah mengembangkan sistem rudal balistik anti kapal tetapi dihentikan karena kesulitan teknis.

Cina tengah membangun kekuatan angkatan lautnya, kapal induk konvensional sedang dibangun berikut pengembangan jet tempur berpangkalan di kapal induk.

 Pesawat Siluman China Pernah ke Guam, AS

BEIJING - Pesawat tempur siluman China telah terbukti tidak tertangkap radar. Menurut laporan dalam sebuah uji cobanya, pesawat J-20 yang membawa misil pernah sampai ke wilayah Guam tanpa diketahui Amerika Serikat.

Foto-foto pesawat J-20 sudah banyak mengisi halaman-halaman di internet. Situs Aviation Week bahkan menyebut pesawat ini akan resmi beroperasi pada 2017. Namun, kabar ini dibantah oleh Menteri Pertahanan Robert Gates. Dia mengklaim China baru bisa mengoperasikan jet tempur siluman pada 2020.

Beberapa ahli pesawat mengatakan jet tempur siluman China memiliki bodi lebih besar dari jet siluman yang sudah ada. "J-20 dikemudikan satu orang, dua mesin, lebih berat dan besar dari Sukhoi T-50 dan F-22," kata seorang ahli di situs Aviation Week.

Sumber : METROTVNEWS.COM





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar