Rabu, 09 Juli 2014

ADA PESAN...YANG ANEH ....??? ...KONON....DARI SUATU SUDUT... PARA INTELEKTUAL..?? .... YANG KONON ADALAH BARISAN INTELEKTUAL... YANG MENGAKU PALING... TOP.... DAN MENYEBUT SEBAGAI AGEN PERUBAHAN KEPADA MASYARAKAT YANG LEBIH BAIK... DENGAN SEGALA AGENDA2... NYA...???......Oooooo....???? ..'Boleh Korupsi Asal Santun' ??>>> BENARKAH.. DEMIKIAN..?? >> INI SANGAT BERBAHAYA... !!! SANGAT ... SANGAT..... BERBAHAYA...!!! JIKA BENAR MEREKA ADALAH ... MEMBAWA AGENDA DAN MISI TERSELUBUNG.. YANG AKAN MENJERUMUSKAN BANGSA DAN ANAK2 BANGSA....??!! >>> Ooooo ??? ...Jurnalisme Kompas, Menyihir 'Boleh Korupsi Asal Santun'...>>> ...Ia menyitir Prof Dr Arief Budiman, Dosen di Melbourne University, dalam diskusi bertema "Media dan Kekuasaan" di Gedung Pers Semarang (23/3/2007) menegaskan, opini publik yang dibuat media massa sangat memberi andil besar menopang agenda politik kekuasan. Tak heran, para penguasa dan orang-orang kuat (cukong) berlomba menguasai media untuk menampilkan image dan melegitimasi kepentingan mereka di hadapan rakyat....>>> ...Tulisan tajam dan pisau analisa yang presisi kerap ditorehkan Faizal Assegaf, Ketua Progress 98 ini. Tulisan yang ia unggah di Visibaru.com ini berjudul "Jurnalisme Kompas dan Premanisme Ahok" hadir ditengah kepongahan media Kompas yang secara apik mengemas kenaifan dan kemunafikan secara sistematis berbalut humanisme dan kesantunan artificial. ..>>> ...Dengan kreasi tipu muslihat, Kompas bergerak tanpa halangan menyihir akal sehat publik. Tak mengherankan karena Kompas, dan juga Tempo dipromotori oleh Ivan Kats, Agen CIA pada tahun 1960an silam....>> .....Kompas adalah salah satu media yang dianggap paling mumpuni menyalurkan syahwat pencitraan penguasa dan para cukong (konglomerasi hitam). Dalam berbagai penampilan Jokowi - Ahok, penyajian berita oleh kompas sukses mengkelabui publik. ..>> Tak mengherankan karena Kompas, dan juga Tempo dipromotori oleh Ivan Kats, Agen CIA pada tahun 1960an silam....>> ...Bila di masa Orde Baru, Kompas sukses meraih keuntungan besar di bawah panji: "jurnalisme damai", maka pada era reformasi pendekatan itu berganti dengan doktrin: "jurnalisme santun". Beda di cara namun tetap mengais untung dengan menipu publik. Jurnalisme santun terkenal canggih lantaran sukses mendongkrak pengaruh pencitraan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam kurun waktu hampir 10 tahun. Dan di ujung kekuasaan SBY, Kompas perlahan bergerak mundur dan menjalin mitra barunya dengan PDIP guna menyokong proyek pencitraan Jokowi - Ahok. Tak heran, jurnalisme santun Kompas menuai sindiran dari berbagai kalangan dengan apa yang mereka sebut sebagai: "Distorsi menifestasi pers yang berpijak pada spirit dan ajaran Katolik"....>>> ..Munarman yang merupakan pengacara dan Juru Bicara FPI ini mengungkap sesuatu yang jarang di ungkap banyak pihak, soal dewan pers yang tak akan membela media-media Islam. Dengan gayanya yang berapi-api, lugas, cerdas dan tajam dalam ulasan yang membuka mata kita soal kenetralan sebuah media, "Jangan berharap ada media yang netral, kita lihat di Tempo Gunawan Mohamad menulis bahwa Pers tidak harus netral. Oh Jelas itu kenyataan, kita saja yang bodoh yang menganggap itu netral, seperti Kompas dan Tempo segala macam itu netral. Bodoh kita namanya" tegasnya. Munarman sedikit demi sedikit membongkar media-media mainstream yang sejatinya memusuhi umat Islam, "Jadi kalo ada yang berharap pers mau memuat apa yang kita (umat Islam) inginkan yang berbeda dengan kepentingan mereka, maka kita bodoh karena kita tidak tahu siapa musuh kita , kita buta dengan dunia, buta dengan fakta diluar kita, maka ini yang perlu dipahami," urainya lagi. ..>> ...Munarman menambahkan " misi ideologisnya adalah membangun sebuah tata peradaban, sistem dan tata nilai yang bertentangan dengan nilai Islam, yaitu Sepilis (Sekulerisme, Liberalisme, Pluralisme) atau yang mereka sebut dengan demokrasi sebetulnya." ...>>...Kompas & Tempo Itu Media Ideologis, Bisa Kita Duga CIA Terlibat Sejak 1960...>>> ..Misalnya saja untuk fungsi ekonomi itu adalah jelas ekonomi kapitalisme, selanjutnya fungsi informasi adalah propaganda bagaiman demokrasi, HAM adalah baik untuk semua manusia. Mereka bisa menyembunyikan di dalam poin-poin itu. Maka dari itu Munarman kembali meyakinkan, "kalo kita sudah masuk ke dunia pers, masuk ke dunia informasi ini adalah perang informasi, tidak lain dan tidak bukan hakikatnya adalah alat perang propaganda, kalo kita tak tahu caranya menjadi propagandis yang baik maka kita akan keteteran." ..>> di dalam undang-undang pers itu memang memiliki fungsi ada 5, yaitu fungsi informasi, hiburan, pendidikan, sosial kontrol, ekonomi. Tidak ada fungs-fungsi lainya, itulah mereka pandai menyembunyikan misi ideologisnya dalam kelima misi tersebut." imbuhnya..>> ...SIAPA CUKONG2... YANG SEBENARNYA PEWARIS DARI BLBI YANG MENDAPATKAN UANG DENGAN MENIPU NEGARA...?? .. KONON YUSUF KALA ADALAH ORANG MUNAFIK .... DI MATA MEGAWATI...?? >> BAHKAN KONON MEGAWATI.. SEBAGAI NEGARAWAN KARENA PERNAH SEBAGAI PRESIDEN.. TAPI MALAH SECARA TAK TAHU DIRI TELAH BERKHIANAT KEPADA PRABOWO..?? .... WALAUPUN TELAH ADA PERJANJIAN TERTULIS... SEBAGAI GENTLEMEN AGREEMENT... BAGI ORANG2 BERKELAS.. DAN SEBAGAI ELIT PENGGEDE.. DIPARTAI MASING2....??? ....BENARKAH...??..>>> ADALAH ANEH.. KALAU BENAR DEMIKIAN...??? IBU MEGAWATI.. YANG PERNAH SANGAT SAYA KAGUMI.. SEBAGAI TRAH SUKARNO...??? DIMANA BK.. ADALAH SALAH SATU YANG SAYA BANGGAKAN SEBAGAI RAKYAT AWAM... TERHADAP PUTERA NEGERI INI.. YANG SANGAT BRILIAN.. BERANI DAN MEMBERIKAN CONTOH KEPEMIMIPINAN YANG ...BERKELAS.. DAN BERJIWA LUHUR...??? ENTAHLAH... ??? MEMANG .. KONON ZAMAN SUDAH BERUBAH... DAN WATAK SERTA KARAKTER MANUSIAPUN BISA SAJA BERUBAH.... ??? ORA EDAN.. ORA KEDUMAN....??? KAPAN YAAA.. KITA BISA KEMBALI SEBAGAI ANAK BANGSA.. YANG MUMPUNI.. DAN BISA.. BERJIWA KSYATRIA... SEBAGAIMANA .. AJARAN LUHUR PARA LELUHUR DAN NENEK MOYANG KITA.. YANG SELALU KITA DOAKAN DAN MULIAKAN...??? JUGA AJARAN2 AGAMA YANG MURNI.. YANG MEMANDU KITA.. DARI LIDAH2 ULAMA... DAN TOKOH2.. YANG DIMULIAKAN KARENA KETINGGIAN ILMU.. YANG DIMILIKINYA....>>> AWAM.... SERING BINGUNG.. DAN TERKADANG MENGELUS DADA.. KARENA JAUH DARI CARA SIKAP AWAM.. YANG SELALU INGIN PUNYA PANUTAN...??? ... SUDAH HANCURKAH.. MANUSIA2 DINEGERI INI...?? LALU DENGAN SIAPA KITA BISA BERKACA...???>> KENAPA.. HARUS DENGAN ASING...ATAU ORANG2.. YANG MENGAKU PALING GETOL SEBAGAI AGEN PERUBAHAN...??? .. PADAHAL UJUNG2...NYA.. BERMAIN JAHAT JUGA.. TERHADAP ANAK2 NEGERI DAN UMMAT.. DAN RAKYAT SEMESTA... ??? >>> WASPADALAH.. DAN SELALU ELING.... !!!.... ALLAHU AKBAR...!!! >>



Melawan Lupa (17): Jurnalisme Kompas, Menyihir 'Boleh Korupsi Asal Santun'















Melawan Lupa (17): Jurnalisme Kompas, Menyihir 'Boleh Korupsi Asal Santun'

Berita Terkait

Selasa, 11 Ramadhan 1435 H / 8 Juli 2014 07:00 wib
http://www.voa-islam.com/read/liberalism/2014/07/08/31462/melawan-lupa-17-jurnalisme-kompas-menyihir-boleh-korupsi-asal-santun/#sthash.Rm1Muyey.dpbs

Melawan Lupa (17): Jurnalisme Kompas, Menyihir 'Boleh Korupsi Asal Santun'


JAKARTA (voa-islam.com) -dajal
Tulisan tajam dan pisau analisa yang presisi kerap ditorehkan Faizal Assegaf, Ketua Progress 98 ini. Tulisan yang ia unggah di Visibaru.com ini berjudul "Jurnalisme Kompas dan Premanisme Ahok" hadir ditengah kepongahan media Kompas yang secara apik mengemas kenaifan dan kemunafikan secara sistematis berbalut humanisme dan kesantunan artificial.

Ia menyitir Prof Dr Arief Budiman, Dosen di Melbourne University, dalam diskusi bertema "Media dan Kekuasaan" di Gedung Pers Semarang (23/3/2007) menegaskan, opini publik yang dibuat media massa sangat memberi andil besar menopang agenda politik kekuasan.


Tak heran, para penguasa dan orang-orang kuat (cukong) berlomba menguasai media untuk menampilkan image dan melegitimasi kepentingan mereka di hadapan rakyat.

Kompas adalah salah satu media yang dianggap paling mumpuni menyalurkan syahwat pencitraan penguasa dan para cukong (konglomerasi hitam). Dalam berbagai penampilan Jokowi - Ahok, penyajian berita oleh kompas sukses mengkelabui publik.

Dengan kreasi tipu muslihat, Kompas bergerak tanpa halangan menyihir akal sehat publik. Tak mengherankan karena Kompas, dan juga Tempo dipromotori oleh Ivan Kats, Agen CIA pada tahun 1960an silam.

Kehandalan Kompas meracik berita untuk melanggengkan kepentingan penguasa dan konglomerasi telah berlangsung puluhan tahun dan menjadi watak bawaan. Dengan kreasi tipu muslihat, Kompas bergerak tanpa halangan menyihir akal sehat publik. 

Tak mengherankan karena Kompas, dan juga Tempo dipromotori oleh Ivan Kats, Agen CIA pada tahun 1960an silam.

Di era kekuasaan Orde Baru, Kompas berdiri di garis terdepan membela berbagai kepentingan rezim Soeharto. Selama tiga puluh dua tahun hubungan Kompas dan rezim diktator berlangsung mesra di bawah slogan industri pers: "jurnalisme damai".

Kompromi Kompas dengan penguasa dan konglomerasi tidak terbangun gratis. Namun kolusi itu memberi keuntungan besar, baik sokongan finansial maupun politik. Walhasil, media jaringan Katolik tersebut, tumbuh sebagai industri pers dengan capaian keuntungan triliun rupiah dan memperlebar berbagai usahanya di sejumlah sektor.

Praktek industri pers ala Kompas, oleh para pakar jurnalisme menyebutnya sebagai "modus kejahatan bertopeng pers". Yakni, membela kepentingan penguasa dan cukong dengan cara menipu publik. Namun, di mata misionaris Katolik, pendekatan kompas dianggap halal dan efektif untuk membodohi ummat Islam.


Premanisme Kepemimpinan Ahok

Bila di masa Orde Baru, Kompas sukses meraih keuntungan besar di bawah panji: "jurnalisme damai", maka pada era reformasi pendekatan itu berganti dengan doktrin: "jurnalisme santun". Beda di cara namun tetap mengais untung dengan menipu publik.

Jurnalisme santun terkenal canggih lantaran sukses mendongkrak pengaruh pencitraan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam kurun waktu hampir 10 tahun. Dan di ujung kekuasaan SBY, Kompas perlahan bergerak mundur dan menjalin mitra barunya dengan PDIP guna menyokong proyek pencitraan Jokowi - Ahok.
Tak heran, jurnalisme santun Kompas menuai sindiran dari berbagai kalangan dengan apa yang mereka sebut sebagai: "Distorsi menifestasi pers yang berpijak pada spirit dan ajaran Katolik".

Kritikan yang menegaskan adanya kerancuan dari ajaran Katolik yang gencar menyerukan kejujuran dan kesantunan, tapi di balik semua itu hanyalah kepura-puraan semata.

Ihwal kerancuan itu oleh Ketua Pembina Partai Gerindra dengan lantang mengatakan: "boleh korupsi asal santun, boleh menipu asal santun, boleh maling uang rakyat tapi harus santun..."

Tudingan Prabowo menghantam perilaku penguasa dan figur-figur publik yang dicitrakan oleh Kompas dengan aneka berita yang dikemas dalam bahasa kesantunan namun tujuannya terbukti mengkelabui rakyat.
Tapi ada yang menarik. Dalam perilaku Ahok, jurnalisme santun rekayasa Kompas menjadi kontradiktif. Gaya premanisme Ahok justru dihadirkan oleh Kompas secara mencolok dan agresif menggilas nurani publik.

Ahok tampil bebas menggulir berbagai pernyataan yang kasar. Acap kali bersuara dengan kata-kata kotor, tapi justru oleh Kompas dianggap lumrah dan diklaim sebagai gaya kepemimpinan yang sejalan dengan kehendak rakyat banyak.

Premanisme kepemimpinan Ahok bebas menghias hampir semua halaman Kompas, lantaran sosok tersebut hadir sebagai keterwakilan minoritas dan mendapat sokongan dana besar dari jaringan cukong.

Publik pun khawatir, kelak nanti bila ada gembong Narkoba yang disokong oleh para cukong untuk merebut kekuasaan, maka Kompas pun memolesnya dalam aneka rekayasa pencitraan untuk menipu rakyat.

Munarman : Kompas pandai menyembunyikan misi ideologisnya

Munarman yang merupakan pengacara dan Juru Bicara FPI ini mengungkap sesuatu yang jarang di ungkap banyak pihak, soal dewan pers yang tak akan membela media-media Islam.

Dengan gayanya yang berapi-api, lugas, cerdas dan tajam dalam ulasan yang membuka mata kita soal kenetralan sebuah media, "Jangan berharap ada media yang netral, kita lihat di Tempo Gunawan Mohamad menulis bahwa Pers tidak harus netral. Oh Jelas itu kenyataan, kita saja yang bodoh yang menganggap itu netral, seperti Kompas dan Tempo segala macam itu netral. Bodoh kita namanya" tegasnya.

Munarman sedikit demi sedikit membongkar media-media mainstream yang sejatinya memusuhi umat Islam, "Jadi kalo ada yang berharap pers mau memuat apa yang kita (umat Islam) inginkan yang berbeda dengan kepentingan mereka, maka kita bodoh karena kita tidak tahu siapa musuh kita , kita buta dengan dunia, buta dengan fakta diluar kita, maka ini yang perlu dipahami," urainya lagi.

Ia uraikan fakta bahwa media mereka punya misi masing-masing yang merugikan umat Islam dalam kontek kekerasan budaya, dan misi mereka adalah anti Islam, dalam perspektif Islam tentunya. "Mereka memanfaatkan betul media-media besar itu adalah alat propaganda, propaganda anti Islam, mereka media-media besar itu. Maka media Islam wajib juga menjadi media propaganda Islam. Karena mereka propagandakan anti Islam." jelasnya lagi.

Mereka memanfaatkan betul media-media besar itu adalah alat propaganda, propaganda anti Islam, mereka media-media besar itu. Maka media Islam wajib juga menjadi media propaganda Islam." jelasnya lagi.

Media Kompas, Tempo Pintar Menyembunyikan Misi Ideologisnya

Tak bisa dipungkiri media besar adalah alat propaganda dan ideologis, "Media besar itu seperti Kompas, Tempo dan lainnya pintarnya mereka bisa  menyembunyikan misi ideologisnya, dan mereka hanya menampilkan aspek-aspek yang bersifat humanisnya, tetapi misi ideologisnya bisa mereka sembunyikan" imbuh Munarman.

Misi ideologis seperti apa?

Munarman menambahkan " misi ideologisnya adalah membangun sebuah tata peradaban, sistem dan tata nilai yang bertentangan dengan nilai Islam, yaitu Sepilis (Sekulerisme, Liberalisme, Pluralisme) atau yang mereka sebut dengan demokrasi sebetulnya."

Contohnya saja media Kompas, kita bisa lihat pada awal tahun 1960-an. Kita bisa cek dari buku 'Kekerasan Budaya Pasca 1965' karya Wijaya Herlambang.


Dalam buku yang ditulis yang aslinya adalah tesis Wijaya Herlambang yang merupakan aliran kiri itu kini seorang dosen, ia menelanjangi keterlibatan CIA dalam pendirian Kompas dan Tempo yang kini bagai gurita media di Indonesia.

"Dalam buku itu datanya lengkap, membuka siapa itu Gunawan Mohamad dan PK Ojong. Mereka berdua berhubungan erat dengan Ivan Kats, seeorang Agen CIA yang masuk ke dalam CCF (Congres For Cultural Freedom) berpusat di Prancis untuk menggalang anti komunis dan menyebarkan ide SEPILIS. Dan termasuk pendirian Kompas dan Tempo atas dorongan dari Ivan Kats. Maka jika mereka sudah berhubungan dengan intelijen begitu maka bisa kita duga, sekali lagi bisa kita duga ada campur tangan CIA dalam pendirian kedua media itu (Kompas dan Tempo), begitu cara melacaknya." urainya rinci.

Demikian halnya dengan media Islam, harus menjadi propaganda Islam, bukan hobi semata menurut Munarman, "Ini benar-benar pertempuran ideologis, bukan sentimen kita seneng dengan Islam, karena Islam itu bukan hobi, bukan untuk disenangi, Islam itu untuk dijalankan (dalam kehidupan kita sehari-hari)"

apa yang didukung Kompas dan Tempo itu pasti salah karena ada pesanan aseng dana asing, jadi patokan kebenaran adalah apa yang tidak di dukung atau dijelek-jelekan Kompas dan Tempo berarti itu yang benar. Coba saja perhatikan

Munarman menyatakan, "Pokoknya apa yang didukung Kompas dan Tempo itu pasti salah karena ada pesanan aseng dana asing, jadi patokan kebenaran adalah apa yang tidak di dukung atau dijelek-jelekan Kompas dan Tempo berarti itu yang benar. Coba saja perhatikan" tegasnya. 

Sesuai dengan misinya, Mashadi Pimred Voa-Islam ini menyatakan bahwa "Voa-Islam menjadi anti-tesa media-media mainstream yang memutar balikan fakta dan akal sehat, apa yang didukung jaringan Kompas dan Tempo biasanya ada kepentingan Sepilis dan asing, indikatornya adalah apa yang didukung mereka itu biasaanya merugikan umat Islam, nah kita dukung yang dibenci Kompas dan Tempo, tentu dalam konteks kebenaran dan kesahihan hakiki." ujarnya saat acara Silaturahim Nasional 5 Tahun Voa Islam dan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di Hotel Gren Alia Cikini 26 Juni silam.
Ingat kata Bung Karno : “Jika asing memuji-memuji pemimpin kita, itu tandanya pemimpin itu lemah, busuk, tidak layak jadi Pemimpin atau Presiden! demikian halnya dengan para media pendukungnya.”
Ga usah mikir copras capres, nanti otaknya bocal bacel demikian sindir Cak Lontong, hehehe. [dzarwatuSanam/voa-islam.com]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/liberalism/2014/07/08/31462/melawan-lupa-17-jurnalisme-kompas-menyihir-boleh-korupsi-asal-santun/#sthash.Rm1Muyey.dpuf

Munarman: Kompas & Tempo Itu Media Ideologis, Bisa Kita Duga CIA Terlibat Sejak 1960

Munarman: Kompas & Tempo Itu Media Ideologis, Bisa Kita Duga CIA Terlibat Sejak 1960

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Senin, 11 Ramadhan 1435 H / 7 Juli 2014 23:00 wib
http://www.voa-islam.com/read/liberalism/2014/07/07/31392/munarman-kompas-tempo-itu-media-ideologis-bisa-kita-duga-cia-terlibat-sejak-1960/#sthash.AVWGoRyy.dpbs

Munarman: Kompas & Tempo Itu Media Ideologis, Bisa Kita Duga CIA Terlibat Sejak 1960

JAKARTA (voa-islam.com) - Ada sekelumit fakta dan pernyataan yang menarik dari Munarman SH saat menjadi pembicara acara Silaturahim Nasional 5 Tahun Voa Islam di Hotel Gren Alia Cikini 26 Juni 2014 silam.

Poin pertama saat ia menjadi pembicara pada acara Voa-Islam dengan tema 'Jurnalistik dan Hukum'. Munarman mengungkap sesuatu yang jarang di ungkap banyak pihak, soal dewan pers yang tak akan membela media-media Islam.

Dengan gayanya yang khas dan tajam dalam membuka pembicaraan dengan ulasan yang membuka mata kita, bahwa jangan berharap ada media yang netral, "Jangan berharap ada media yang netral, kita lihat di Tempo Gunawan Mohamad menulis bahwa Pers tidak harus netral. Oh Jelas itu kenyataan, kita saja yang bodoh yang menganggap itu netral, seperti Kompas dan Tempo segala macam itu netral. Bodoh kita namanya" tegasnya.

Munarman sedikit demi sedikit membongkar media-media mainstream yang sejatinya memusuhi umat Islam, "Jadi kalo ada yang berharap pers mau memuat apa yang kita (umat Islam) inginkan yang berbeda dengan kepentingan mereka, maka kita bodoh karena kita tidak tahu siapa musuh kita , kita buta dengan dunia, buta dengan fakta diluar kita, maka ini yang perlu dipahami," urainya lagi.

Ia uraikan fakta bahwa media mereka punya misi masing-masing yang merugikan umat Islam dalam kontek kekerasan budaya, dan misi mereka adalah anti Islam, dalam perspektif Islam tentunya. "Mereka memanfaatkan betul media-media besar itu adalah alat propaganda, propaganda anti Islam, mereka media-media besar itu. Maka media Islam wajib juga menjadi media propaganda Islam. Karena mereka propagandakan anti Islam." jelasnya lagi.

Mereka memanfaatkan betul media-media besar itu adalah alat propaganda, propaganda anti Islam, mereka media-media besar itu. Maka media Islam wajib juga menjadi media propaganda Islam." jelasnya lagi.

Media Kompas, Tempo Pintar Menyembunyikan Misi Ideologisnya
Tak bisa dipungkiri media besar adalah alat propaganda dan ideologis, "Media besar itu seperti Kompas, Tempo dan lainnya pintarnya mereka bisa  menyembunyikan misi ideologisnya, dan mereka hanya menampilkan aspek-aspek yang bersifat humanisnya, tetapi misi ideologisnya bisa mereka sembunyikan" imbuh Munarman.

Misi ideologis seperti apa?

Munarman menambahkan " misi ideologisnya adalah membangun sebuah tata peradaban, sistem dan tata nilai yang bertentangan dengan nilai Islam, yaitu Sepilis (Sekulerisme, Liberalisme, Pluralisme) atau yang mereka sebut dengan demokrasi sebetulnya." 

Contohnya saja media Kompas, kita bisa lihat pada awal tahun 1960-an. Kita bisa cek dari buku 'Kekerasan Budaya Pasca 1965' karya Wijaya Herlambang.


Dalam buku yang ditulis yang aslinya adalah tesis Wijaya Herlambang yang merupakan aliran kiri itu kini seorang dosen, ia menelanjangi keterlibatan CIA dalam pendirian Kompas dan Tempo yang kini bagai gurita media di Indonesia.

"Dalam buku itu datanya lengkap, membuka siapa itu Gunawan Mohamad dan PK Ojong. Mereka berdua berhubungan erat dengan Ivan Kats, seeorang Agen CIA yang masuk ke dalam CCF (Congres For Cultural Freedom) berpusat di Prancis untuk menggalang anti komunis dan menyebarkan ide SEPILIS. Dan termasuk pendirian Kompas dan Tempo atas dorongan dari Ivan Kats. Maka jika mereka sudah berhubungan dengan intelijen begitu maka bisa kita duga, sekali lagi bisa kita duga ada campur tangan CIA dalam pendirian kedua media itu (Kompas dan Tempo), begitu cara melacaknya." urainya rinci.

Demikian halnya dengan media Islam, harus menjadi propaganda Islam, bukan hobi semata menurut Munarman, "Ini benar-benar pertempuran ideologis, bukan sentimen kita seneng dengan Islam, karena Islam itu bukan hobi, bukan untuk disenangi, Islam itu untuk dijalankan (dalam kehidupan kita sehari-hari)"

"Poin kedua, di dalam undang-undang pers itu memang memiliki fungsi ada 5, yaitu fungsi informasi, hiburan, pendidikan, sosial kontrol, ekonomi. Tidak ada fungs-fungsi lainya, itulah mereka pandai menyembunyikan misi ideologisnya dalam kelima misi tersebut." imbuhnya


Misalnya saja untuk fungsi ekonomi itu adalah jelas ekonomi kapitalisme, selanjutnya fungsi informasi adalah propaganda bagaiman demokrasi, HAM adalah baik untuk semua manusia. Mereka bisa menyembunyikan di dalam poin-poin itu.


Maka dari itu Munarman kembali meyakinkan, "kalo kita sudah masuk ke dunia pers, masuk ke dunia informasi ini adalah perang informasi, tidak lain dan tidak bukan hakikatnya adalah alat perang propaganda, kalo kita tak tahu caranya menjadi propagandis yang baik maka kita akan keteteran."

3 Jenis Kelompok Wartawan Sekuler

Maka dari itu banyak hal yang disembunyikan, Ia kembali mengurai kebohongan makna kode etik jurnalistik "wartawan-wartawan sekarang ini bull shit, omong kosong kalo masih berpegang pada kode etik jurnalistik."
Ia mengurai 3 jenis kelompok wartawan sekuler, "Karena wartawan itu ada tiga macam,

1) Kelompok pertama ada wartawan Ideologis.  "Dedengkotnya Tempo Gunawan Mohamad, dan mantan Dewan Pers Uni Lubis, mereka dedengkot dalam konteksnya menyebarkan SEPILIS (Sekulerisme, Liberalisme, Pluralisme) dan ANTI ISLAM." tegas Munarman. Kelompok Ideologis ini hanya menyebarkan saja namun mereka tak berani melakukan.

Contohnya saja saat Uni Lubis mempromosikan Majalah Playboy, Popular atau sejenisnya bukan pornografi, Uni Lubis menyebutnya sebagai produk pers. "Kalo foto dengan celana dalam disebut bukan sebuah pornografi maka coba Uni Lubis ke kantor hanya dengan pakai (*maaf) Bra dan CD saja. Berani ga? Nah Kan tidak berani Dia. Itu hanya menyebarkan liberalisme dana merusak orang saja. Nah dia tidak konsisten jadinya."

Mereka tergabung dalam The Editors Club, dedengkot yang punya kekuasaan pada media-media itu kerap bertemu di hotel-hotel berbintang dalam membahas dan menentukan serta menyepakati opini-opini apa saja yang akan disebarkan media-media mereka.

Wartawan Ideologis ini bagi yang masih muda, diberi beasiswa dan bekerjasama dengan Kedubes Amerika untuk dibentuk menjadi wartawan Ideologis alias misionaris dan propagandis.
"Mereka sudah bersatu, maka media Islam harus bersatu jangan ribut saja antara wartawan, bagaimana mau melawan mereka kalo tidak bersatu," demikian saran Munarman.

2) Kelompok kedua wartawan Pragmatis yang hanya datang pada undangan liputan, reportase dan konferensi pers saja.

Karena mereka bukan pemegang kebijakan redaksi, maka kalo kita kasih amplop atau uang pun tidak akan keluar di media massa, karena harus melewati kebijakan para kelompok Ideologis alias misionaris dan propagandis yang memberikan izin untuk tayangkan berita.

3) Ketiga wartawan Idealis yang cukup jarang saat ini. Cenderung menjadi minoritas di media.

Sistematis Cara Kerja Mereka & Bekerjasama Dengan AS, Inggris, Australia
Menurut Munarman, cara kerja mereka kerja sangat sistematis. Ketika LSM menggelar konferensi pers  dan mengundang mereka maka cepat sekali berita LSM masuk ke media mereka.
"Karena para wartawan ideologis sudah berteman dengan LSM dan kedubes Amerika, Inggris, Australia ketika diberikan melalui beasiswa dan secara spesifik ada kontrak-kontraknya. Jadi jangan heran jika ormas-ormas Islam mengundang mereka akan sulit tayang beritanya. Misalnya korban Densus 88 mengundang wartawan media maka tidak akan ada yang" urainya.

Bagi pemilik media Islam perlu memanfaatkan betul medianya sebagai alat propaganda Islam. Semoga Allah membela dan langkah kita meninggikan kalimat Allah agar semakin tinggi.


Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya : Wahai Rasulullah ! ada seseorang yang berperang karena keberaniannya, ada lagi karena fanatik (golongan), ada juga karena riya, mana diantara mereka yang termasuk berjihad di jalan Allah ? maka beliau menjawab : “Barangsiapa yang berperang di jalan Allah agar kalimat Allah tinggi maka dia di jalan Allah” [Hadits Riwayat Bukhari 7458 dan Muslim 1904]. [adivammar/voa-islam.com]

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/liberalism/2014/07/07/31392/munarman-kompas-tempo-itu-media-ideologis-bisa-kita-duga-cia-terlibat-sejak-1960/#sthash.AVWGoRyy.dpuf


Pater Beek, Kasbul dan Jokowi



Posted by in Politik
http://yudisamara.org/2014/06/22/pater-beek-kasbul-dan-jokowi/ 



image

M. Sembodo penulis buku ‘Pater Beek, Freemason dan CIA’ menulis tentang gerakan apa yang disebut Kasbul (Katholik Sebulan). Dalam sebuah situs ‘tikus merah’ Sembodo mengulas skenario gerakan Kasbul, termasuk pengkaitan gerakan rahasia ini dengan pencapresan Joko Widodo (Jokowi). Berikut tukilannya:


Kasbul merupakan ajang bagi Pater Beek untuk mendidik kader-kader Katolik yang militan. Awalnya, tempat kaderisasi terletak di Asrama Realiono, Yogyakarta. Letak asrama ini tak jauh dari kampus Universitas Sanata Dharma di Jalan Gejayan (sekarang bernama Jalan Afandi) Yogyakarta. Di tempat inilah para kader Katolik muda dididik untuk menghadapi kaum Komunis dan Islam.


Pater Beek memang dikenal sebagai rohoniawan yang anti Komunis. Sebelum peristiwa 1965 pecah, Pater Beek mendidik mahasiswa-mahasiswa Katolik dalam Kasbul untuk melawan kekuatan Komunis.
Richard Tanter (1991) menyatakan:

Bagi (Pater) Beek, ada dua musuh besar bagi Indonesia maupun bagi Gereja, yaitu Komunisme dan Islam, di mana ia melihat keduanya memiliki banyak keserupaan: sama-sama memiliki kualitas ancaman.”


Oleh sebab itu, Pater Beek mengkonsolidasi kekuatan untuk melawan Komunisme yang saat itu kuat di Indonesia. Ia kumpulkan mereka untuk diberi pendidikan. Terutama yang dihimpun adalah mahasiswa-mahasiswa Katolik dari berbagai daerah. Dalam buku berjudul “Bayang-bayang PKI” (1986) dijelaskan:


“Selama bertahun-tahun Pater Beek memang telah menghimpun dan membina anak-anak muda, terutama mahasiswa, untuk ditempa sebagi kekuatan anti-komunis. Basis utamanya adalah PMKRI (Pergerakan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), yang saat itu merupakan organisasi underbouw Partai Katolik.

Tokoh-tokoh PMKRI pula yang kemudian banyak terlibat dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Dengan pengaruh dan jaringan anti-komunis yang kuat itu, tak heran banyak dugaan bahwa Pater Beek memainkan peranan penting dalam gerakan anti-komunis. Antara lain, ia sering disebut-sebut sebagai penghubung antara AD dan CIA.”

image

Keterlibatan Pater Beek adalam gerakan anti Komunis juga ditulis oleh Oei Tjoe Tat (1995) dalam memoarnya. Ia memberikan kesaksian sebagai berikut:


“Pater Beek itu, saya lihat pertama kali setelah saya dibebaskan. Saya di dalam tahanan mendengar dari orang-orang PNI, BAPERKI, PKI, dan sebagainya bahwa Pater Beek ini adalah agen CIA. Dia membina pemuda-pemuda keturunan Katolik, terutama pemuda-pemuda keturunan Tionghoa-Katolik, untuk antara lain membakar gedung Kedubesan RRT, membakar gedung Universitas Res Publika dan menghancurkan semua gedung-gedung PKI atau rumah-rumah orang PKI. Ini dianggap ultra-kanan. Selama saya mendengarkan itu, saya di RTM. Bagaimanapun saya Katolik. Jadi, ada seorang pastur Katolik begitu, saya diam. Tapi pada waktu saya diperkenalkan dengan Pater Beek dan datang ke sini [RTM-red] kemudian, dia mengaku. Dia bilang begini pada saya, “Kalau pak Oei perlu sesuatu dari…, saya bisa. Ali Moertopo, semua jenderal.” Saya dengar dia ini membantu Liem Bian Koen dan Liem Bian Khie, Sumarlin. Semua ini di bawah dia. Dia juga kuat di PMKRI.”


Ketika PKI ditumpas pasca Peristiwa 1965, Pater Beek, lewat Ali Moertopo, menyerahkan 5.000 nama orang-orang PKI pada CIA. Hal ini terungkap ketika wartawati Amerika Serikat, Kathy Kadane yang mewawancarai mantan pejabat Kedubes Amerika Serikat di Jakarta, pejabat CIA dan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.


Ia mendapatkan pengakuan dari nara sumbernya itu. Salah satu yang diwawancarai adalah Lydman—mantan wakil kepala misi Kedubes Amerika Serikat di Jakarta. Dalam wawancara tersebut Lydman mengatakan pengumpulan nama-nama orang PKI selain dilakukan oleh stafnya juga dibantu oleh Ali Moertopo.


Lantas bagaimana nasib 5.000 nama orang-orang komunis tersebut? Robert J Martens yang saat Peristiwa 1965 pecah menjabat sebagai Sekretaris I Kedubes Amerika Serikat melakukan pengecekan terhadap 5.000 orang dalam daftar itu.


Dari hasil pengecekannya didapatkan semua orang yang terdapat dalam daftar itu ditangkap dan kemudian dibunuh. Menanggapi pembunuhan tersebut, Pater Beek dalam wawancaranya dengan Aaad van Heuvel (1993) dengan ringan mengatakan: “Masalahnya mereka atau kita (yang dibunuh).”


Setelah orang-orang Komunis ditumpas, entah apa alasannya, pada tahun 1967 tempat pendidikan Kasbul di pindahkan ke Klender, Jakarta Timur. Menurut Mujiburrahman (2006) tempat di Klender dikelola oleh seorang suster bernama Mathilda Maria Van Thienen. Dari wawancara dengan sang suster, Mujiburrahman mendapatkan keterangan bahwa asrama di Klender terdiri dari tiga blok dengan 72 ruangan dan 114 tempat tidur. Biasanya Pater Beek akan datang empat kali dalam setahun memimpin acara Kasbul.


Sistem Kaderisasi dalam Kasbul


Dalam setiap pelatihan Kasbul, biasanya diikuti oleh 100 orang, 10 di antaranya adalah perempuan. Mereka merupakan kader-kader Katolik terpilih dari berbagai daerah dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Supaya bisa mengikuti kaderisasi yang sifatnya rahasia ini, seseorang harus mendapatkan rekomendasi dari romo di tempatnya berasal. Pendanaan dari acara ini sebagian besar didapatkan dari luar negeri, terutama Belanda dan Jerman.


Aturan Kasbul memang cukup berat. Seseorang yang telah mengikuti Kasbul dilarang keras menceritakan keikutsertaannya pada orang lain, baik pada keluarga maupun teman. Sebelum pelatihan, mereka akan menjalani serangkaian test psikologi.


Test ini digunakan untuk mengatahui sifat dan keahlian seseorang yang kelak diperlukan sewaktu melakukan penugasan. Sedangkan untuk menyembunyikan identitas seseorang, maka selama pelatihan nama diubah sehingga antara satu peserta dengan peserta yang lain tidak saling mengenal identitas sebenarnya.

Metode pelatihan yang diterapkan Pater Beek dalam Kasbul merupakan kombinasi antara kaderisasi Katolik ala Jesuit dan Komunis. Oleh karena itu, tak mengherankan kalau selama kaderisasi dididik dengan disiplin yang keras. Menurut Mujiburrahman, selama pelatihan tak jarang mereka harus terlibat dalam adu fisik, direndahkan dan dilecehkan guna menggembleng mental. Apa yang diungkapkan Mujiburrahman juga dibenarkan oleh George J. Aditjondro:


“Dalam kegiatan Kasbul itu bukan cuma indoktrinasi yang dilakukan, bahkan latihan fisik yang mendekati latihan militer juga diberikan. Di sana para kader dilatih menghadapi situasi jika diintrograsi oleh lawan. Bagaimana meloloskan diri dari tahanan, bagaimana survive dan sebagainya.”

Sementara itu, Richard Tanter juga memberikan pendapat yang serupa:


“Dalam pratiknya, kursus-kursus tersebut mengambil metode campuran, perpaduan teknik-teknik pendidikan Jesuit dan Komunis, berbasiskan disiplin diri yang kuat. Kursus atau pelatihan-pelatihan ini diselenggarakan dengan pendekataan yang amat brutal atas para pesertanya: para calon kader bahkan kerap kali diharuskan saling menghajar atau memukul rekan-rekan sepelatihannya sendiri, dihina dengan keharusan merangkak di lantai yang penuh dengan kotoran, sesi-sesi harian yang panjang penuh dengan umpatan mengejutkan di tengah malam buta.”


Selain cara-cara yang telah diuraikan di atas, mereka juga diharuskan puasa sepanjang hari dan berdoa semalam suntuk. Hal seperti itu juga dilakukan oleh Pater Beek. Sementara itu, bagi peserta pelatihan yang melanggar disiplin yang telah ditetapkan akan dihukum, dan apabila sudah berulang-ulang melakukan kesalahan, maka akan dipulangkan.


Dalam Kasbul seseorang juga diuji kejujurannya. Sebagaimana dituturkan Mujiburrahman, cara pengujian ini dilakukan Pater Beek dengan cara meletakkan uang pada sebuah buku yang sering dibaca oleh peserta. Bila uang itu hilang, maka Pater Beek akan melakukan investigasi.

Ia akan mencoba mengidentifikasikan siapa yang mengambil uang tersebut. Pertama-tama ia akan menanyai penjual dikompleks pelatihan itu. Apabila uang tidak ditransaksikan di tempat itu, maka ia menanyai orang-orang yang dicurigai. Dan setelah uang ditemukan, ia akan menghukum orang tersebut.


Setelah Komunis berhasil dihancurkan oleh Orde Baru, sasaran Pater Beek pindah ke Islam. Teori Pater Beek tentang Islam sebagai ancaman dikenal sebagai teori “Lasser Evil Theory (Teori Setan Kecil).” Dalam teori itu dibabarkan bahwa setelah komunis berhasil dihancurkan oleh tentara, maka akan muncul dua ancaman. Tentang dua ancaman ini George J. Aditjondro memberikan uraian sebagai berikut:


“Setelah komunis dihancurkan oleh tentara, (Pater) Beek melihat ada dua ancaman (setan) yang dihadapi kaum Katolik di Indonesia. Kedua ancaman sama-sama berwarna hijau, Islam dan tentara. Tapi Beek yakin, tentara adalah ancaman yang lebih kecil (lasser evil) dibandingkan Islam yang dilihatnya sebagai setan besar. Berdasarkan pikiran itulah maka perintah Beek kepada kader-kadernya adalah rangkul tentara dan gunakan mereka untuk menindas Islam.”


Tentang pilihan Pater Beek memilih Orde Baru dan tentaram ditekankan Ricarad Tanter sebagai berikut:

“Pemilihan semacam ini dibenarkan (Peter) Beek, dengan dalih sungguh pun banyak kesalahan yang dilakukan yang dibuat oleh Soeharto, watak Komunis maupun Islam yang tidak dapat diterimanya, membuatnya tidak bisa memilih lain, selaian memberikan dukungan atas “the lesser evil (tentara).”


B. Suryasmoro Ispandrihari, salah satu narasumber Mujiburrahman dalam desertasinya yang pernah ikut Kasbul pada tahun 1988, mengungkapkan bahwa para peserta diajarkan untuk menjadikan Islam sebagai musuh yang menakutkan.

“Islam adalah musuh Katolik… Dan jika diperlukan lulusan Kasbul harus mengambil senjata untuk berjuang melawan Islam,” begitu penuturan B. Suryasmoro Ispandrihari menirukan ucapan salah seorang pengajarnya di Kasbul.

Pernyataan Suryasmoro Ispandrihari juga dibenarkan oleh Damai Pakpahan seorang peserta Kasbul tahun 1984 dan sekarang menjadi aktivis LSM di Yogyakarta. Karena doktrin dalam Kasbul yang Islamphobia, membuat Damai Pakpahan memilih keluar dari jaringan Kasbul. Apa yang dilakukan oleh Damai Pakpahan juga dilakukan George J. Aditjondro. Ia menuturkan sebagai berikut:


“Saya sendiri juga pernah menjadi kader Pater Beek dan dilatih melawan komunis. Tapi seperti juga Wangge, ketika CSIS sudah menjadikan Islam sasarannya, dan karena CSIS menjadi tanki pemikir rezim Suharto, juga karena ikut berdarahnya tangan CSIS di Timor Timur, saya tidak bisa lagi tetap berada dalam jaringan pengikut Pater Beek.


Epilog: Setelah Katolik Dipinggirkan Soeharto

Setelah selesai kaderisasi para lulusan Kasbul diharuskan setia pada Peter Beek. Bentuk kesetiaan ini selain taat menjalankan perintah juga diharuskan membuat laporan setiap bulan. Tentang hal di diungkapkan oleh Ricard Tanter:


“Setelah hari-hari yang melelahkan, dalam jam tidur yang mat pendek, dan lain sebagainya, hasil akhirnya adalah: menjadi seorang kader yang sepenuhnya setia, patuh kepada Beek secara personal; menjadi orangnya Beek seumur hidup, yang bersedia melakukan apa saja baginya.


Ketika para kader itu dipulangkan ke habitat asalnya, orang-orang muda ini kemudian diminta untuk menghasilkan laporan bulanan atas segala hal yang mereka dengar dan lihat di dalam organisasi masing-masing, yang dilakukan untuk Beek dan demi Beek seorang. Secara bertahap Beek membangun kepentingan dirinya, sebuah jaringan—kerja intelejen personal. Bagi pimpinan-pimpinan Gereja yang mendukung program Beek, maka hasilnya tentu akan memuaskan.”


Apa yang diungkapkan Richard Tanter memang benar. Para lulusan Kasbul kemudian dibuatkan jaringan yang dikembangkan dengan sistem sel. Masing-masing sel dipimpin oleh seorang koordinator yang berhubungan dengan koordinator sel-sel lainnya. Dengan sistem ini, selain organisasinya rapi, juga memungkinkan gerakan yang efektif. Sementara itu, para lulusan terbaik akan dikirim ke luar negeri.


Posisi politik Kasbul memang tidak konsisten. Setelah melawan Komunis, Islam, mereka kemudian bergeser melawan Soeharto. Ini terjadi ketika pada tahun 1990-an Soeharto mulai merangkul Islam dengan merestui berdirinya ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), dan posisi CSIS mulai disingkirkan.


Sejak kejadian itu, bandul politik Kasbul menjadi anti Soeharto. Tidak mengherankan kalau kemudian kader-kader Kasbul disebar masuk ke dalam gerakan prodemokrasi. Tentu saja sebagian dari kader-kader Kasbul masuk dalam PRD (Partai Rakyat Demokratik) yang pada waktu itu paling keras melawan orde baru.


Pencapresan Jokowi


Sekarang, setelah Soeharto jatuh, dalam demokrasi terbuka, kader-kader Kasbul menyebar lagi. Mereka tentu akan terus terlibat dalam politik. Menjelang Pemilu 2014, mereka tentu mempunyai kepentingan untuk mendukung calon presiden tertentu.

image

Ajianto Dwi Nugroho, misalnya, kader Kasbul lulusan Fisipol UGM, belakangan ikut terlibat menggalang kekuatan untuk memajukan Jokowi sebagai presiden. Lewat lembaga yang dimilikinya yang sebagian stafnya alumni Kasbul, dia ikut momoles pencitraan Jokowi dalam berbagai media.

Kerja Ajianto Dwi Nugroho bisa dijadikan contoh bagaimana kader-kader Kasbul bekerja. Sewaktu mahasiswa, ia masuk dalam lingkaran pers mahasiswa UGM, Balairung. Sembari di Balairung ia mendekat pada gerakan mahasiswa semacam SMID (Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi) Yogyakarta dan Dewan Mahasiswa UGM. Walaupun agak terlambat, ia kemudian masuk menjadi anggota PRD pada tahun 1999.

Untuk survive ia sempat berpacaran dengan mahasiswi beragama Islam dan berkerudung, guna membiayai hidupnya. Dengan pelatihan yang diperoleh ketika mengikuti Kasbul, ia bisa mengambil peran dalam setiap perubahan politik yang ada. Itulah salah satu kelebihan kader-kader Kasbul.

Yang terbaru adalah ketika Jacob Soetoyo melalui jasa lobi Paus Fransicus kepada Presiden Obama dalam pertemuan mereka di Vatikan pada 27 Maret 2014 lalu. Paus meminta kesediaan Obama untuk mendesak kelompok kristen Indonesia melonggarkan kendali mereka terhadap Jokowi. Kelompok kristen Indonesia itu selama ini berkuasa atas diri Jokowi melalui peran James Riady yang juga merupakan anggota Arkansas Connection yang memiliki kaitan erat dengan penguasa Gedung Putih.

Atas restu Paus dan izin Obama, Jacob Soetoyo mempertemukan Jokowi dengan sejumlah duta besar di kediamannya, di bilangan Jakarta Selatan. Tidak tanggung-tanggung, Jacob mempertemuan Jokowi beserta Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan dubes-dubes negara “hiu.” Meski demikian, sejatinya, Duta Besar Vatikan untuk Indonesia adalah sebagai tuan rumah pertemuan itu. Kediaman Dubes Vatikan tentu tidak mungkin digunakan menyambut para tamu agung itu karena akan merugikan posisi politik Jokowi di mata umat Islam Indonesia.

Jacob memang lebih dikenal sebagai pengusaha. Tapi, dalam konteks menjadi fasilitator pertemuan Jokowi-Mega dengan para duta besar tersebut, tentu kapasitasnya sebagai bagian dari CSIS (Centre for Strategic and International Studies).

Sudah banyak yang tahu bahwa CSIS merupakan lembaga pemikir orde baru yang memberikan masukan strategi ekonomi dan politik pada Soeharto. Tapi, yang belum banyak diketahui adalah hubungan CSIS dengan organisasi fundamentalis Katolik dengan Kasbul tadi.

Keberhasilan elit Katolik merebut kendali atas diri Jokowi, sayangnya ditumpangi oleh elit dan kader – kader eks partai komunis atau simpatisan PKI yang kebetulan di wilayah Surakarta, Klaten, Sragen, Sukoharjo dan Boyolali, banyak aktifis dan kader PKI yang menjadi penganut Katolik untuk menghindar dari penangkapan oleh aparat saat operasi pembersihan eks PKI dilancarkan di masa – masa awal orde baru. Mereka, para elit dan kader komunis ini kemudian menjadi penumpang gelap dalam tim sukses atau pendukung Jokowi di mana – mana terutama di Jawa Tengah dan Jakarta.

image

Meski kelompok Katolik berhasil mendobrak benteng pertahanan Faksi Kristen PDIP terhadap pengendalian atas diri Jokowi, Faksi Kristen tetap ngotot dan terus berusaha agar tetap mendapat ruang kendali atas diri Jokowi, walaupun tidak sepenuh dan sekuat saat Jokowi belum direbut Faksi Katolik dan Komunis.


Sejarah baru peta kekuatan politik di Indonesia sedang ditorehkan. Faksi Kristen, Katolik dan Komunis yang sebelumnya selalu bermusuhan, kini bersatu (untuk sementara) dalam rangka mendukung kemenangan capres Jokowi dalam pilpres 2014.


Bagaimana posisi umat Islam Indonesia ? Seperti biasa, meski Islam mayoritas di Indonesia (87%), namun tak berdaya dan tak mampu bersatu.

Seperti buih di lautan ….

Daftar Nama Cukong Joko Widodo



  1. Edward Soerjadjaja: dia adalah orang pertama yang mengakui mendukung Jokowi dan Ahok pada pilgub lalu dengan pendanaan. Ahok sempat membantah, akan tetapi kita lebih baik percaya kepada Edward karena dia adalah pengusaha yang tidak berkepentingan mengakui mendukung pasangan yang tidak terkenal. Dana dari Edward waktu itu adalah sebesar Rp. 30miliar, dan pada masa pemerintahan Jokowi-Ahok perusahaan Edward memperoleh proyek monorel dan M
  2. Prajogo Pangestu: dia hadir dalam rapat antara Jokowi-Ahok dan Megawati pada Desember 2013 untuk membahas perpindahan Ahok ke PDIP bila Jokowi menjadi presiden sehingga Jakarta tetap berada di bawah kendali PDIP.
  3. 60 pengusaha besar yang berkumpul di Kantor Pusat PDIP sehari menjelang pencapresan Jokowi dan tujuan mereka berkumpul sebagaimana diakui Tjahjo Kumolo adalah untuk memberikan sumbangan besar kepada PDIP.
  4. Jusuf Kalla: JK adalah orang yang pertama kali membawa Jokowi ke Jakarta dan juga membujuk Megawati untuk menunjuk Jokowi sebagai capres. JK juga mendanai Jokowi-Ahok pada pilgub kemarin.
  5. Stan Greenberg: awalnya saya tidak percaya bualan Triomacan2000 tentang keterlibatan Stan Greenberg, namun masuknya majalah The Foreign Policy dan Fortune yang memiliki hubungan erat dengan Stanley Greenberg dalam menulis tentang Jokowi adalah 50 besar pemimpin besar dunia membuat kita harus mencurigai bahwa orang ini memang terlibat.
  6. Goenawan Mohamad: mungkin Goenawan Mohamad atau GM tidak ikut saweran uang, tapi yang jelas dia menyediakan majalah miliknya, Tempo sebagai media pencitraan bagi Jokowi. Tempo adalah media pertama yang mempromosikan Jokowi secara masif.
  7. CIA/USAid: USAid adalah lembaga samaran CIA yang tugasnya memberi dana kepada para pemberontak. Salah satu penerima dana dari CIA di Indonesia adalah Goenawan Mohamad, misalnya untuk mendirikan lembaga perlawanan terhadap orde baru USAid memberikan dana sebesar US 300.000 kepada Goenawan Mohamad untuk mendirikan Institut Studi Arus Informasi. Uang di atas belum termasuk uang sebesar US 26juta yang diterima GM dan teman-temannya sebagai dana perang melawan Orde Baru. Jauh sebelumnya pada masa orde lama, sebagaimana temuan Widjaja Herlambang dalam disertasinya Kekerasan Budaya Pasca 1965, Goenawan Mohamad juga menerima uang dari Amerika untuk melawan Lekra/komunis/PKI dengan membentuk Manifes Kebudayaan.
    Keterlibatan Tempo dan GM dalam mempromosikan Jokowi membuktikan Amerika kemungkinan besar berada di belakang promosi gencar terhadap Jokowi, ditambah fakta Amerika Serikat telah begitu lancang menyatakan tidak suka melihat Prabowo menjadi presiden karena memilih Jokowi, memang mereka siapa berani menentukan pemimpin yang hendak dipilih bangsa ini?
  8. Koruptor BLBI? Menurut TM2000 koruptor BLBI ada di belakang Jokowi dan hal ini memang masuk akal mengingat mereka bisa melenggang bebas karena SKL yang diterbitkan pemerintahan Megawati.
  9. James Riady: belum ada bukti bahwa keluarga Riady membiayai Jokowi, namun fakta bahwa Jokowi telah dua kali hadir di SPH dan Rumah Sakit Siloam atas perintah James Riady menyebabkan kita patut curiga ada James Riady di belakang Jokowi. Apalagi faktanya penggusuran warga liar waduk pluit dan pembuatan taman waduk pluit “secara kebetulan” dilakukan pada saat Grup Usaha Lippo milik James Riady mau membangun sekolah mewah SPH, hotel bintang lima dan rumah sakit Siloam tepat di seberang Waduk Pluit, benar-benar tepat di seberang.
  10. Keluarga Salim: faktanya detik.com tidak pernah memberitakan satu hal negatifpun tentang Jokowi, sekalipun saat itu ada isu negatif tentang Jokowi. Pemilik detik adalah Chaerul Tanjung yang juga merupakan proxy atau bawahan dari keluarga Salim yng mengurus sebagian harta mereka.
    Adanya begitu banyak pihak di belakang Jokowi yang terkenal sebagai walikota Solo dan gubernur Jakarta boneka jelas mengkuatirkan, sebab kita tidak tahu apa kepentingan para cukong tersebut membiayai pencapresan Jokowi?

Home  |  Liberalism  |  The GodMother (3): Megawati, Batu Tulis Dan Tekanan Syahwat Budi Gunawan

The GodMother (3): Megawati, Batu Tulis Dan Tekanan Syahwat Budi Gunawan

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Senin, 11 Ramadhan 1435 H / 7 Juli 2014 09:02 wib

The GodMother (3): Megawati, Batu Tulis Dan Tekanan Syahwat Budi Gunawan

http://www.voa-islam.com/read/liberalism/2014/07/07/31423/the-godmother-3-megawati-batu-tulis-dan-tekanan-syahwat-budi-gunawan/#sthash.QXlH0qnk.dpbs

Sahabat Voa Islam,

Kita bahas episode The GodMother ke tiga, kita ungkap selaput yang menyelimuti syahwat para elite negara kit yang ternyata penipu dan memiliki moral yang tidam terpuji.
Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Pejuangan telah mengusung Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sebagai calon Presiden pada Pemilu 2014. Tak terima, Partai Gerindra pun mengusut perjanjian keduanya pada 2009 yang dikenal dengan batu tulis.



Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo memastikan  perjanjian Batu Tulis yang disepakati pada 2009 lalu menyebut, PDI Perjuangan akan memberikan dukungannya terhadap Prabowo Subianto sebagai calon presiden 2014.

Berikut isi keseluruhan perjanjian yang ditandatangani pada 16 Mei 2009 itu:

Kesepakatan Bersama PDI Perjuangan dan Partai Gerindra dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia 2009-2014

Megawati Soekarnopitri sebagai Calon Presiden, Prabowo Subianto sebagai Calon Wakil Presiden

1.      Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Partai Gerindra) sepakat mencalonkan Megawati Soekarnoputri sebagai Calon Presiden dan Prabowo Subianto sebgai calon Wakil Presiden dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2009.
2. Prabowo Subianto sebagai Calon Wakil Presiden, jika terpilih, mendapat penguasaan untuk mengendalikan program dan kebijakan kebangkitan ekonomi Indonesia yang berdasarkan asas berdiri di kaki sendiri, berdaulat di bidang politik, dan berkepribadian nasional di bidang kebudayaan dalam kerangka sistim presidensial. Esensi kesepakatan ini akan disampaikan Megawati Soekarnoputri pada saat pengumuman pencalonan Presiden dan calon Wakil Presiden serta akan dituangkan lebih lanjut dalam produk hukum yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
3.  Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto bersama-sama membentuk kabinet berdasarkan pada penugasan butir 2 di atas. Prabowo Subianto menentukan nama-nama menteri yang terkait, menteri-menteri tersebut adalah: Menteri Kehutanan, Menteri Pertanian, Menteri Keuangan, Menteri BUMN, Menteri ESDM, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Perindustrian, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Hukum dan HAM, dan Menteri Pertahanan.
4. Pemerintah yang terbentuk akan mendukung program kerakyatan PDI Perjuangan dan 8 (delapan) program aksi Partai Gerindra untuk kemakmuran rakyat.
5.    Pendanaan pemenangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 ditanggung secara bersama-sama dengan prosentase 50% dari pihak Megawati Soekarnoputri dan 50% dari pihak Prabowo Subianto.
6. Tim sukses pemenangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dibentuk bersama-sama melibatkan kader PDI Perjuangan dan Partai Gerindra serta unsur-unsur masyarakat.
7.  Megawati Soekarnoputri mendukung pencalonan Prabowo Subianto sebagai Calon Presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014.


Jakarta 16 Mei 2009

Megawati Soekarnoputri
Prabowo Subianto (keduanya tandatangan di atas materai)

Ada Hubungan "Mesra" apa antara Megawati dengan Budi Gunawan Hingga Megawati "Tunduk" dihadapan Budi gunawan?

Apakah JK punya Kartu Truff megawati-budi gunawan sehingga JK bisa mengalahkan cawapres pendampingi jokowi?

Atau JK menyimpan suatu hal yg maha besar lagi antara mega-budi gunawan?

Sebelum Selasa malam, nama Jusuf Kalla sebenarnya telah dicoret sebagai kandidat cawapres Jokowi oleh internal PDIP atas berbagai alasan. Secara personal, Megawati menilai Jusuf Kalla sebagai ‘lain di depan, lain lagi di belakang’. Megawati melihat Jusuf Kalla sebagai sosok yang munafik.

Belum lagi masukan dari beberapa orang kepecayaan Mega, yakni Muhammad Prananda, Hasto Kristianto, dan Rini Suwandi. Ketiga penasihat utama Megawati itu menilai Jusuf Kalla tak cocok mendampingi Jokowi karena pasti akan lebih mendominasi.

Kawan-kawan tentu tahu, Jusuf Kalla diajukan ke PDIP oleh tiga partai, yaitu Nasdem (6%), PKB (9%) dan PPP (7%). Megawati dan ketiga penasihatnya termasuk Jokowi sendiri tidak ingin ada Koalisi Gendut. Jika kita kalkulasikan, koalisi PDIP dan Nasdem saja sudah memperoleh sekitar 25-26% suara legislatif. Apabila ditambah dengan PKB dan PPP, koalisi akan memperoleh 41-42% suara.

Bagi PDIP, koalisi empat partai membentuk 42% suara, dimana PDIP hanya menguasai 19% (tidak mayoritas), tidak efektif. Terlebih, 23% suara tersebut merupakan buah gabungan tiga suara partai pengusung Jusuf Kalla.

Kekhawatiran Megawati, Jokowi, dan PDIP adalah kabinet akan dikuasai oleh orang-orang dari kelompok Jusuf Kalla. Nantinya, pemerintahan Jokowi rentan digulung oleh Jusuf Kalla. Itu sebabnya PDIP mencoret nama Jusuf Kalla sejak awal.

Kembali masuknya Jusuf Kalla atas lobi Budi Gunawan yang membawa kepentingan politik dari kepolisian menimbulkan tanda tanya besar bagi internal PDIP selama beberapa hari terakhir.

Mereka melihat ada gejala tidak wajar dari Megawati terkait perubahan besar, mendadak, dan sedikit memaksa ini. Megawati seperti disandera oleh sesuatu yang kita tidak bisa pahami.

Jusuf Kalla mengetahui hal itu; sesuatu yang tidak bisa kita pahami itu. Ia pun bersama mantan ajudannya, Irjen Syafruddin, mengajak Budi Gunawan yang memiliki ‘kuasa besar’ terhadap putri Presiden Sukarno ini, bermain dalam skenario ‘menyandera’ Megawati agar mau memasukkan kembali Jusuf Kalla sebagai calon terkuat pendamping Jokowi.

Pertanyaannya, apakah memang Megawati begitu ingin menguasai Polri atau jangan-jangan Budi Gunawan yang sebenarnya ingin mengembalikan pengaruh dalam korpsnya itu lewat ‘penyanderaan’-nya terhadap Megawati?

Pertanyaan berikutnya, bagaimana bisa Megawati sampai-sampai mengabaikan tiga penasihat utamanya hanya karena lobi Budi Gunawan untuk memasukkan nama Jusuf Kalla dalam bursa cawapres pendamping Jokowi?

Ada hutang budi apa Megawati pada Budi Gunawan ‘rekening gendut’? Atau jangan-jangan ada hubungan tertentu antara Megawati dengan Budi Gunawan?

Wallahualam bisahwab...
[RioBaretaz/wahid/voa-islam.com]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/liberalism/2014/07/07/31423/the-godmother-3-megawati-batu-tulis-dan-tekanan-syahwat-budi-gunawan/#sthash.QXlH0qnk.dpuf





9.760 views

Melawan Lupa (17): Jurnalisme Kompas, Menyihir 'Boleh Korupsi Asal Santun'

JAKARTA (voa-islam.com) -dajal
Tulisan tajam dan pisau analisa yang presisi kerap ditorehkan Faizal Assegaf, Ketua Progress 98 ini. Tulisan yang ia unggah di Visibaru.com ini berjudul "Jurnalisme Kompas dan Premanisme Ahok" hadir ditengah kepongahan media Kompas yang secara apik mengemas kenaifan dan kemunafikan secara sistematis berbalut humanisme dan kesantunan artificial.
Ia menyitir Prof Dr Arief Budiman, Dosen di Melbourne University, dalam diskusi bertema "Media dan Kekuasaan" di Gedung Pers Semarang (23/3/2007) menegaskan, opini publik yang dibuat media massa sangat memberi andil besar menopang agenda politik kekuasan.
Tak heran, para penguasa dan orang-orang kuat (cukong) berlomba menguasai media untuk menampilkan image dan melegitimasi kepentingan mereka di hadapan rakyat.
Kompas adalah salah satu media yang dianggap paling mumpuni menyalurkan syahwat pencitraan penguasa dan para cukong (konglomerasi hitam). Dalam berbagai penampilan Jokowi - Ahok, penyajian berita oleh kompas sukses mengkelabui publik.
Dengan kreasi tipu muslihat, Kompas bergerak tanpa halangan menyihir akal sehat publik. Tak mengherankan karena Kompas, dan juga Tempo dipromotori oleh Ivan Kats, Agen CIA pada tahun 1960an silam.
Kehandalan Kompas meracik berita untuk melanggengkan kepentingan penguasa dan konglomerasi telah berlangsung puluhan tahun dan menjadi watak bawaan. Dengan kreasi tipu muslihat, Kompas bergerak tanpa halangan menyihir akal sehat publik.
Tak mengherankan karena Kompas, dan juga Tempo dipromotori oleh Ivan Kats, Agen CIA pada tahun 1960an silam.
Di era kekuasaan Orde Baru, Kompas berdiri di garis terdepan membela berbagai kepentingan rezim Soeharto. Selama tiga puluh dua tahun hubungan Kompas dan rezim diktator berlangsung mesra di bawah slogan industri pers: "jurnalisme damai".
Kompromi Kompas dengan penguasa dan konglomerasi tidak terbangun gratis. Namun kolusi itu memberi keuntungan besar, baik sokongan finansial maupun politik. Walhasil, media jaringan Katolik tersebut, tumbuh sebagai industri pers dengan capaian keuntungan triliun rupiah dan memperlebar berbagai usahanya di sejumlah sektor.
Praktek industri pers ala Kompas, oleh para pakar jurnalisme menyebutnya sebagai "modus kejahatan bertopeng pers". Yakni, membela kepentingan penguasa dan cukong dengan cara menipu publik. Namun, di mata misionaris Katolik, pendekatan kompas dianggap halal dan efektif untuk membodohi ummat Islam.

Premanisme Kepemimpinan Ahok
Bila di masa Orde Baru, Kompas sukses meraih keuntungan besar di bawah panji: "jurnalisme damai", maka pada era reformasi pendekatan itu berganti dengan doktrin: "jurnalisme santun". Beda di cara namun tetap mengais untung dengan menipu publik.
Jurnalisme santun terkenal canggih lantaran sukses mendongkrak pengaruh pencitraan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam kurun waktu hampir 10 tahun. Dan di ujung kekuasaan SBY, Kompas perlahan bergerak mundur dan menjalin mitra barunya dengan PDIP guna menyokong proyek pencitraan Jokowi - Ahok.
Tak heran, jurnalisme santun Kompas menuai sindiran dari berbagai kalangan dengan apa yang mereka sebut sebagai: "Distorsi menifestasi pers yang berpijak pada spirit dan ajaran Katolik".
Kritikan yang menegaskan adanya kerancuan dari ajaran Katolik yang gencar menyerukan kejujuran dan kesantunan, tapi di balik semua itu hanyalah kepura-puraan semata.
Ihwal kerancuan itu oleh Ketua Pembina Partai Gerindra dengan lantang mengatakan: "boleh korupsi asal santun, boleh menipu asal santun, boleh maling uang rakyat tapi harus santun..."
Tudingan Prabowo menghantam perilaku penguasa dan figur-figur publik yang dicitrakan oleh Kompas dengan aneka berita yang dikemas dalam bahasa kesantunan namun tujuannya terbukti mengkelabui rakyat.
Tapi ada yang menarik. Dalam perilaku Ahok, jurnalisme santun rekayasa Kompas menjadi kontradiktif. Gaya premanisme Ahok justru dihadirkan oleh Kompas secara mencolok dan agresif menggilas nurani publik.
Ahok tampil bebas menggulir berbagai pernyataan yang kasar. Acap kali bersuara dengan kata-kata kotor, tapi justru oleh Kompas dianggap lumrah dan diklaim sebagai gaya kepemimpinan yang sejalan dengan kehendak rakyat banyak.
Premanisme kepemimpinan Ahok bebas menghias hampir semua halaman Kompas, lantaran sosok tersebut hadir sebagai keterwakilan minoritas dan mendapat sokongan dana besar dari jaringan cukong.
Publik pun khawatir, kelak nanti bila ada gembong Narkoba yang disokong oleh para cukong untuk merebut kekuasaan, maka Kompas pun memolesnya dalam aneka rekayasa pencitraan untuk menipu rakyat.
Munarman : Kompas pandai menyembunyikan misi ideologisnya
Munarman yang merupakan pengacara dan Juru Bicara FPI ini mengungkap sesuatu yang jarang di ungkap banyak pihak, soal dewan pers yang tak akan membela media-media Islam.
Dengan gayanya yang berapi-api, lugas, cerdas dan tajam dalam ulasan yang membuka mata kita soal kenetralan sebuah media, "Jangan berharap ada media yang netral, kita lihat di Tempo Gunawan Mohamad menulis bahwa Pers tidak harus netral. Oh Jelas itu kenyataan, kita saja yang bodoh yang menganggap itu netral, seperti Kompas dan Tempo segala macam itu netral. Bodoh kita namanya" tegasnya.
Munarman sedikit demi sedikit membongkar media-media mainstream yang sejatinya memusuhi umat Islam, "Jadi kalo ada yang berharap pers mau memuat apa yang kita (umat Islam) inginkan yang berbeda dengan kepentingan mereka, maka kita bodoh karena kita tidak tahu siapa musuh kita , kita buta dengan dunia, buta dengan fakta diluar kita, maka ini yang perlu dipahami," urainya lagi.
Ia uraikan fakta bahwa media mereka punya misi masing-masing yang merugikan umat Islam dalam kontek kekerasan budaya, dan misi mereka adalah anti Islam, dalam perspektif Islam tentunya. "Mereka memanfaatkan betul media-media besar itu adalah alat propaganda, propaganda anti Islam, mereka media-media besar itu. Maka media Islam wajib juga menjadi media propaganda Islam. Karena mereka propagandakan anti Islam." jelasnya lagi.
Mereka memanfaatkan betul media-media besar itu adalah alat propaganda, propaganda anti Islam, mereka media-media besar itu. Maka media Islam wajib juga menjadi media propaganda Islam." jelasnya lagi.

Media Kompas, Tempo Pintar Menyembunyikan Misi Ideologisnya
Tak bisa dipungkiri media besar adalah alat propaganda dan ideologis, "Media besar itu seperti Kompas, Tempo dan lainnya pintarnya mereka bisa  menyembunyikan misi ideologisnya, dan mereka hanya menampilkan aspek-aspek yang bersifat humanisnya, tetapi misi ideologisnya bisa mereka sembunyikan" imbuh Munarman.
Misi ideologis seperti apa?
Munarman menambahkan " misi ideologisnya adalah membangun sebuah tata peradaban, sistem dan tata nilai yang bertentangan dengan nilai Islam, yaitu Sepilis (Sekulerisme, Liberalisme, Pluralisme) atau yang mereka sebut dengan demokrasi sebetulnya."
Contohnya saja media Kompas, kita bisa lihat pada awal tahun 1960-an. Kita bisa cek dari buku 'Kekerasan Budaya Pasca 1965' karya Wijaya Herlambang.
Dalam buku yang ditulis yang aslinya adalah tesis Wijaya Herlambang yang merupakan aliran kiri itu kini seorang dosen, ia menelanjangi keterlibatan CIA dalam pendirian Kompas dan Tempo yang kini bagai gurita media di Indonesia.
"Dalam buku itu datanya lengkap, membuka siapa itu Gunawan Mohamad dan PK Ojong. Mereka berdua berhubungan erat dengan Ivan Kats, seeorang Agen CIA yang masuk ke dalam CCF (Congres For Cultural Freedom) berpusat di Prancis untuk menggalang anti komunis dan menyebarkan ide SEPILIS. Dan termasuk pendirian Kompas dan Tempo atas dorongan dari Ivan Kats. Maka jika mereka sudah berhubungan dengan intelijen begitu maka bisa kita duga, sekali lagi bisa kita duga ada campur tangan CIA dalam pendirian kedua media itu (Kompas dan Tempo), begitu cara melacaknya." urainya rinci.
Demikian halnya dengan media Islam, harus menjadi propaganda Islam, bukan hobi semata menurut Munarman, "Ini benar-benar pertempuran ideologis, bukan sentimen kita seneng dengan Islam, karena Islam itu bukan hobi, bukan untuk disenangi, Islam itu untuk dijalankan (dalam kehidupan kita sehari-hari)"
apa yang didukung Kompas dan Tempo itu pasti salah karena ada pesanan aseng dana asing, jadi patokan kebenaran adalah apa yang tidak di dukung atau dijelek-jelekan Kompas dan Tempo berarti itu yang benar. Coba saja perhatikan
Munarman menyatakan, "Pokoknya apa yang didukung Kompas dan Tempo itu pasti salah karena ada pesanan aseng dana asing, jadi patokan kebenaran adalah apa yang tidak di dukung atau dijelek-jelekan Kompas dan Tempo berarti itu yang benar. Coba saja perhatikan" tegasnya.
Sesuai dengan misinya, Mashadi Pimred Voa-Islam ini menyatakan bahwa "Voa-Islam menjadi anti-tesa media-media mainstream yang memutar balikan fakta dan akal sehat, apa yang didukung jaringan Kompas dan Tempo biasanya ada kepentingan Sepilis dan asing, indikatornya adalah apa yang didukung mereka itu biasaanya merugikan umat Islam, nah kita dukung yang dibenci Kompas dan Tempo, tentu dalam konteks kebenaran dan kesahihan hakiki." ujarnya saat acara Silaturahim Nasional 5 Tahun Voa Islam dan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di Hotel Gren Alia Cikini 26 Juni silam.
Ingat kata Bung Karno : “Jika asing memuji-memuji pemimpin kita, itu tandanya pemimpin itu lemah, busuk, tidak layak jadi Pemimpin atau Presiden! demikian halnya dengan para media pendukungnya.”
Ga usah mikir copras capres, nanti otaknya bocal bacel demikian sindir Cak Lontong, hehehe. [dzarwatuSanam/voa-islam.com]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/liberalism/2014/07/08/31462/melawan-lupa-17-jurnalisme-kompas-menyihir-boleh-korupsi-asal-santun/#sthash.Rm1Muyey.dpuf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar