Rabu, 06 November 2013

PRESIDEN YASER ARAFAT - RACUN POLONIUM 210 - FASILITAS NUKLIR - PEMBUNUHAN.......??? PEMBUNUHAN..??? SIAPA DIBELAKANG RACUN POLONIUM 210..??>> PRESIDEN YASER ARAFAT... WAFAT DI BUNUH DENGAN RACUN POLONIUM....?? HASIL PENYELIDIKAN TERBARU DARI JENAZAH ARAFAT YANG SUDAH DIKUBUR... DAN DILAKUKAN PENELITIAN FORENSIK... TERBUKTI ARAFAT DIRACUN DENGAN POLONIUM..??>> PEMERINTAHAN PERANCIS... HARUS BERTANGGUNG JAWAB...ATAS PERLAKUAN KEJAHATAN PEMBUNUHAN POLITIK TERSEBUT.. KARENA BISA JADI... KAKI TANGAN ISRAEL DAN MOSSAD.. BERADA DIBALIK PERBUATAN PENGECUT TERSEBUT...??>> DIKETAHUI YASER ARAFAT SEDANG SAKIT DAN BEROBAT DI RS FRANCIS.... DAN TIDAK TERLALU LAMA KEMUDIAN.. BELIAU DIKABARKAN WAFAT..?? >> PADA AWAL KEMATIAN SEPERTI WAJAR DAN TIDAK ADA MASALAH..>> NAMUN KELUARGA ARAFAT MERASA KURANG SREG DAN MEMINTA KEPADA LEMBAGA INDEPENDEN UNTUK MENELITI JENAZAH ARAFAT YANG SUDAH DIKUBUR .. TERSEBUT...>>> DAN HASILNYA MENUNJUKAN INDIKASI DIRACUN DENGAN POLONIUM..??>> .. MENGAPA HARUS MENUNGGU 2012... PADAHAL YASER ARAFAT WAFAT 2004... SEHINGGA 8 TAHUN KEMUDIAN BARU DIADAKAHN TEST FORENSIK...??>> ADA APA..??>> KONSPIRASI APA DI FRANCIS..DAN AHLI2 DUNIA..??>> INI KONSPIRASI BESAR... DAN MELIBATKAN ISRAEL DAN NEGARA2 LAIN SECARATERSELUBUNG..?? >> APA ITU POLONIUM 210..?? .."Presiden Arafat meninggal sebagai korban pembunuhan teroris terorganisir yang dilakukan oleh negara, yaitu Israel, yang berupaya untuk menyingkirkan dia," kata Wasel Abu Yousef, anggota komite eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina, dalam pernyataan pada hari Rabu. "Penerbitan hasil oleh lembaga Swiss menegaskan keracunan nya dengan polonium dan ini berarti bahwa Israel telah melakukannya."..>> .... Pemimpin Palestina Yasser Arafat tewas diracun pada tahun 2004 dengan radioaktif polonium, janda Arafat, Suha mengatakan pada hari Rabu (6/11/2013) setelah menerima hasil tes forensik Swiss pada mayat suaminya. "Kami mengungkapkan kejahatan yang nyata, pembunuhan politik," katanya kepada Reuters di Paris...>>> ...Banyak warga Palestina dan lainnya percaya bahwa Israel menaracuni Arafat. Sementara yang lain menduga bahwa kemaitan Arafat disebabkan oleh penyakit AIDS atau kanker....>>>...“Mereka mengatakan hipotesis yang mengatakan bahwa Arafat diracun dengan polonium-210 adalah valid dan teori ini belum bisa dipatahkan oleh data. Namun, mereka tidak mengatakan secara pasti jika dia dibunuh.”...>>> ...Sebuah tim ahli, termasuk dari Lausanne University Hospital's Institute of Radiation Physics, membuka makam Arafat di Tepi Barat kota Ramallah November tahun lalu, dan mengambil sampel dari tubuhnya untuk mencari bukti dugaan keracunan. "Ini telah mengkonfirmasi semua keraguan kami," kata Suha Arafat setelah tim forensik Swiss menyerahkan laporannya kepada pengacaranya dan para pejabat Palestina di Jenewa, Selasa. "Hal ini secara ilmiah telah membuktikan bahwa ia tidak mati secara alamiah dan kita memiliki bukti ilmiah bahwa pria ini tewas."..>>> Dia mengatakan kepada Reuters polonium telah diberikan oleh seseorang "dalam lingkaran dekatnya" karena para ahli telah mengatakan kepadanya racun akan dimasukkan ke dalam kopi, teh atau air minumnya. "Aku sangat marah pada apa yang terjadi dan saya merasa bahwa saya berkabung untuk nya sekali lagi. Ini merupakan tindakan oleh para pengecut." ..>>> ..Sebuah penyelidikan oleh televisi Al Jazeera saluran berita yang berbasis di Qatar pertama kali melaporkan tahun lalu bahwa jejak polonium-210 ditemukan di barang pribadi Arafat yang diberikan kepada jandanya oleh rumah sakit militer Prancis di mana ia meninggal. Laporan itu menyebabkan jaksa Prancis untuk membuka penyelidikan atas dugaan pembunuhan pada bulan Agustus 2012 atas permintaan Suha Arafat. Ahli forensik dari Swiss, Rusia dan Prancis semua mengambil sampel dari mayatnya untuk pengujian setelah Otoritas Palestina setuju untuk membuka makamnya...>>> Ternyata bukan hanya Litvinenko yang menjadi korban keracunan polonium. Menurut penulis Israel, Michal Karpin, banyak kematian beberapa ilmuwan Israel karena mengidap penyakit kanker disebabkan polonium. Saat itu, terjadi kebocoran di Institut Sains Weizmann pada 1957. Hanya, Israel tidak pernah mengakuinya. Selain itu, kematian Irene, putri penemu polonium Marie Curie, juga dianggap disebabkan keracunan polonium. ..>>> Polonium diberi nama sesuai tanah kelahiran Marie Curie, yakni Polandia (bhs latin: Polonia). Elemen kimia ini diberi simbol Po dengan nomor atom 84. Polonium dikenal zat radioaktif yang sangat berbahaya dan mematikan dibandingkan racun lainnya. Setiap satu gram benda yang mengeluarkan polonium bisa membunuh 1,5 juta orang. Jika polonium masuk tubuh manusia,itu dapat mengalir ke dalam aliran darah dan merusak organ tubuh...>> Siapa yang dapat mengakses polonium? Elemen berbahaya itu merupakan hasil produksi uranium. Biasanya dibuat di reaktor nuklir. Fasilitas nuklir yang memproduksi polonium itu dimonitor ketat dengan aturan internasional. Menurut John Croft, pakar radiasi Inggris, polonium didapatkan dari pemerintah atau warga sipil yang memiliki akses terhadap fasilitas nuklir pemerintah....>> ..Kematian Yasser Arafat awalnya dicurigai karena makanan yang dimakannya. Dua jam setelah makan malam, pada 11 Oktober 2004 pukul 11.30 malam, Arafat jatuh sakit. Pemimpin PLO berusia 75 tahun ini sempat mengalami muntah dua kali, lalu merasa lebih baikan. Ketika bangun tidur pada keesokan harinya, kondisi kesehatannya memburuk. Tim dokter mendiagnosa ia mengalami viral gastroenteritis yang lebih dikenal dengan flu perut, ia pun diberi obat. Sore harinya kondisi Arafat kelihatannya kembali membaik, sebuah sumber yang dapat dipercaya mengatakan Arafat kembali menjalankan aktivitas seperti biasanya di dalam komplek tempat tinggalnya di Ramallah, West Bank...>>> Pada kesempatan lain di Beirut, para penembak jitu israel diberitakan sudah mengunci target ke Arafat (tinggal tembak) namun kemudian Ariel Sharon memerintahkan untuk membatalkan misi. Mungkinkah racun Polonium-210 yang dioleskan pada sikat gigi Arafat bisa mengambil nyawanya? Mungkinkah racun tersebut bisa diserap oleh gusinya? Kedengarannya mustahil, namun jka melihat fakta agen Mossad sanggup membunuh orang dengan menyemprotkan racun melalui lubang telinga, bisa saja...>>>





BBC UK: Arafat "mungkin diracuni polonium"

Terbaru  7 November 2013 - 08:19 WIB 
http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/11/131107_yasser_arafat.shtml


Makam Arafat dibongkar November 2012 untuk meneliti penyebab kematiannya.

Mendiang pemimpin Palestina Yasser Arafat mungkin telah diracun dengan radioaktif polonium, kata laporan forensik Swiss yang diperoleh oleh al-Jazeera.

Catatan medis Araffat menunjukan bahwa dia meninggal pada 2004 karena serangan stroke yang disebabkan karena gangguan darah.

Namun, Klik jenazahnya diangkat tahun lalu karena adanya dugaan bahwa dia dibunuh.
Laporan forensik Swiss ini mengatakan tes yang dilakukan pada jenazah menunjukan "kandungan polonium-210 yang cukup tinggi", yang "cukup" untuk mendukung dugaan itu.

Para ilmuwan dari Vaudois University Hospital Centre (CHUV) mempelajari catatan medis Arafat dan meneliti sisa-sisa jenazah, termasuk tulang belulang dan contoh tanah di makamnya.

Mereka menegaskan bahwa mereka tidak bisa mencapai kesimpulan yang lebih pasti karena jangka waktu kematian yang cukup lama. Sampel yang terbatas juga menjadi penghambat. 

Polonium-210 adalah zat radioaktif yang secara alami diperoleh makanan dan tubuh dengan dosis rendah, namun senyawa ini bisa mematikan jika jika tertelan dalam dosis tinggi.

Menurut Prof Paddy Regan, seorang pakar deteksi dan pengukuran radiasi di University of Surrey, Inggris, mengatakan temuan merupakan "pernyataan yang sangat kuat".

"Mereka mengatakan hipotesis yang mengatakan bahwa Arafat diracun dengan polonium-210 adalah valid dan teori ini belum bisa dipatahkan oleh data. Namun, mereka tidak mengatakan secara pasti jika dia dibunuh."

Banyak warga Palestina dan lainnya percaya bahwa Israel menaracuni Arafat. Sementara yang lain menduga bahwa kemaitan Arafat disebabkan oleh penyakit AIDS atau kanker.

Israel sejauh ini konsisten Klik membantah keterlibatannya.
Juru bicara kementerian luar negeri Israel mengatakan penyelidikan yang dilakukan oleh Swiss ini tak ubahnya seperti "sinetron, daripada pembuktian ilmu pengetahuan".

Sementara itu, berbicara di Paris, janda Arafat, Suha, mengatakan temuan ini mengungkap "tindak kriminalitas, pembunuhan politis."

"Ini telah mengkonfirmasi keraguan kita. Telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan bahwa dia tidak meninggal secara alami dan kami memiliki bukti bahwa pria ini dibunuh."
Reuters mengatakan Suha tidak menyebut siapa yang mungkin membunuhnya tetapi menyadari bahwa suaminya memiliki banyak musuh.

Makam Yasser Arafat dibongkar Selasa

Terbaru  24 November 2012 - 17:50 WIB 
http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/11/121124_arafafbody.shtml

Makam Yasser Arafat
Makam Yasser Arafat di Ramallah akan dibongkar dan jenazah akan dikuburkan kembali.

Makam jenazah Pemimpin Palestina Yasser Arafat akan dibongkar pada Selasa (27/11), seperti disampaikan oleh pejabat Palestina.

Jenazahnya akan diteliti untuk mengetahui apakah penyebab kematiannya di Paris pada 2004 lalu, akibat diracun.
Catatan medis menyebutkan Arafat terserang stroke tetapi Prancis mulai kembali menyelidiki penyebab kematiannya pada Agustus lalu, setelah para ahli di Swiss yang disewa oleh kru pembuat dokumenter menemukan adanya zat radioaktif pada barang-barang pribadi Arafat.
Jenazahnya, yang berada di Ramallah di Tepi Barat, akan diteliti oleh para ahli yang berasal dari Prancis, Swiss dan Rusia.
Masing-masing ahli akan mengambil sample dari jenazah Arafat, seperti disampaikan oleh mantan kepala intelejen Palestina Tawfik Tirawi kepada para wartawan.
Setiap tim, masing-masing akan memberikan analisis independen dari sample yang diambil, kata dia, dan jenazah akan kembali dimakamkan di hari yang sama dengan penghormatan militer.
Arafat, yang memimpin Organisasi Pembebasan Palestina PLO selama 35 tahun dan menjadi presiden pertama Pemerintahan Palestina pada 1996, dan jatuh sakit pada 2004 lalu.

Penyelidikan

Yasser Arafat
Yasser Arafat meninggal pada 11 November 2004 di Paris pada usia 75 tahun.

Dua pekan kemudian dia diterbangkan ke rumah sakit militer Prancis di Paris, dan meninggal pada 11 November 2004 pada usia 75 tahun.

Istri mendiang Arafat, Suha, bermaksud melakukan uji post-mortem pada saat itu , tetapi kemudian meminta pertimbangan kepada Pemerintahan Palestina untuk mendapatkan ijin penggalian "untuk mengungkapkan kebenaran".

Banyak warga Palestina yang percaya bahwa Israel telah meracuni Arafat. Israel membantah keterlibatan mereka dalam kematian Arafat. 

Pada 2005 lalu, New York Times memberitakan salinan catatan medis Arafat, yang menyebutkan dia meninggal karena stroke akibat pendarahan yang disebabkan infekso yang tidak diketahui.

Para ahli independen yang meneliti kembali catatan itu mengatakan kepada koran tersebut bahwa kemungkinan Arafat tewas akibat Aids atau diracun.

Sebuah penyelidikan kasus pembunuhan Arafat dilakukan oleh jaksa Prancis pada Agustus lalu, setelah sebuah investigasi yang dilakukan oleh TV al-Jazeera, yang bekerja sama dengan para ahli dari Institute of Radiation Physics (IRA) di University of Lausanne Swiss, menemukan adanya jejak zat polonium radioaktif di barang-barang pribadi Arafat, termasuk penutup kepala yang menjadi ciri khasnya, keffiyeh.

Para ahli juga menyebutkan bahwa kadar poloniumnya 10 kali lebih tinggi, dan sebagian besar bukan berasal dari sumber alami.




Janda Arafat: Mantan Pemimpin Palestina Yaser Arafat Tewas Akibat Diracun

PARIS, PRANCIS (voa-islam.com) - http://www.voa-islam.com/news/world-world/2013/11/07/27468/janda-arafat-mantan-pemimpin-palestina-yaser-tewas-akibat-diracun/

Pemimpin Palestina Yasser Arafat tewas diracun pada tahun 2004 dengan radioaktif polonium, janda Arafat, Suha mengatakan pada hari Rabu (6/11/2013) setelah menerima hasil tes forensik Swiss pada mayat suaminya.

"Kami mengungkapkan kejahatan yang nyata, pembunuhan politik," katanya kepada Reuters di Paris.


Sebuah tim ahli, termasuk dari Lausanne University Hospital's Institute of Radiation Physics, membuka makam Arafat di Tepi Barat kota Ramallah November tahun lalu, dan mengambil sampel dari tubuhnya untuk mencari bukti dugaan keracunan.

"Ini telah mengkonfirmasi semua keraguan kami," kata Suha Arafat setelah tim forensik Swiss menyerahkan laporannya kepada pengacaranya dan para pejabat Palestina di Jenewa, Selasa. "Hal ini secara ilmiah telah membuktikan bahwa ia tidak mati secara alamiah dan kita memiliki bukti ilmiah bahwa pria ini tewas."

Dia tidak menuduh negara atau orang, dan mengakui bahwa pemimpin bersejarah Organisasi Pembebasan Palestina tersebut punya banyak musuh, meskipun ia mencatat bahwa Israel telah mencap dia sebagai hambatan bagi perdamaian.

Dia mengatakan kepada Reuters polonium telah diberikan oleh seseorang "dalam lingkaran dekatnya" karena para ahli telah mengatakan kepadanya racun akan dimasukkan ke dalam kopi, teh atau air minumnya.

"Aku sangat marah pada apa yang terjadi dan saya merasa bahwa saya berkabung untuk nya sekali lagi. Ini merupakan tindakan oleh para pengecut."

Suha Arafat menyerukan penyelidikan dalam markas pemerintah Palestina Muqata dan mengatakan ia dan putrinya, Zahwa, akan mengejar kasus ini melalui pengadilan di Prancis dan di tempat lain sampai para pelaku dibawa ke pengadilan.

Keterlibatan Israel
Arafat menandatangani perjanjian perdamaian interim Oslo tahun 1993 dengan Israel dan memimpin pemberontakan berikutnya setelah kegagalan pembicaraan di 2000 pada perjanjian komprehensif.

Dugaan kecurangan muncul segera. Arafat memiliki musuh di antara pengikutnnya sendiri, tetapi banyak orang Palestina menunjuk jari pada Israel, yang telah mengepung dia di markasnya di Ramallah untuk dua setengah tahun sisa hidupnya.

"Presiden Arafat meninggal sebagai korban pembunuhan teroris terorganisir yang dilakukan oleh negara, yaitu Israel, yang berupaya untuk menyingkirkan dia," kata Wasel Abu Yousef, anggota komite eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina, dalam pernyataan pada hari Rabu.

"Penerbitan hasil oleh lembaga Swiss menegaskan keracunan nya dengan polonium dan ini berarti bahwa Israel telah melakukannya."


Pemerintah Israel telah membantah terlibat dalam kematiannya, mencatat bahwa ia berusia 75 tahun dan memiliki gaya hidup tidak sehat.

"Ini adalah lebih dari sinetron dari pada pengetahuan, itu adalah episode terbaru dalam sinetron yang Suha menentang para penerus Arafat," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Yigal Palmor.

Penyelidikan terhadap kematiannya sebesar "upaya yang sangat dangkal untuk menentukan penyebab kematian."
Arafat jatuh sakit pada bulan Oktober 2004, menampilkan gejala gastroenteritis akut dengan diare dan muntah. Pada pejabat Palestina pertama mengatakan ia menderita influenza.

Dia diterbangkan ke Paris dengan pesawat pemerintah Prancis tapi kemudian dalam koma lama setelah kedatangannya di rumah sakit militer Percy di pinggiran Clamart, di mana ia meninggal pada tanggal 11 November.

Sebuah penyelidikan oleh televisi Al Jazeera saluran berita yang berbasis di Qatar pertama kali melaporkan tahun lalu bahwa jejak polonium-210 ditemukan di barang pribadi Arafat yang diberikan kepada jandanya oleh rumah sakit militer Prancis di mana ia meninggal.

Laporan itu menyebabkan jaksa Prancis untuk membuka penyelidikan atas dugaan pembunuhan pada bulan Agustus 2012 atas permintaan Suha Arafat. Ahli forensik dari Swiss, Rusia dan Prancis semua mengambil sampel dari mayatnya untuk pengujian setelah Otoritas Palestina setuju untuk membuka makamnya.(st/Reuters)

Mendiang Yasser Arafat Diduga Diracun dengan Polonium

Yasser Arafat-n3
SWISS – Mendiang pemimpin Palestina Yasser Arafat mungkin telah diracun dengan radioaktif polonium, kata laporan forensik Swiss yang diperoleh oleh al-Jazeera.
http://www.poskotanews.com/2013/11/07/mendiang-yasser-arafat-diduga-diracun-dengan-polonium/
 

Yasser Arafat - Suha
Mendiang Yasser Arafat dan isterinya, Suha
Catatan medis Araffat menunjukan bahwa dia meninggal pada 2004 karena serangan stroke yang disebabkan karena gangguan darah.

Namun, jenazahnya diangkat tahun lalu karena adanya dugaan bahwa dia dibunuh.

Laporan forensik Swiss ini mengatakan tes yang dilakukan pada jenazah menunjukan “kandungan polonium-210 yang cukup tinggi”, yang “cukup” untuk mendukung dugaan itu.

Para ilmuwan dari Vaudois University Hospital Centre (CHUV) mempelajari catatan medis Arafat dan meneliti sisa-sisa jenazah, termasuk tulang belulang dan contoh tanah di makamnya.

Mereka menegaskan bahwa mereka tidak bisa mencapai kesimpulan yang lebih pasti karena jangka waktu kematian yang cukup lama. Sampel yang terbatas juga menjadi penghambat.

Polonium-210 adalah zat radioaktif yang secara alami diperoleh makanan dan tubuh dengan dosis rendah, namun senyawa ini bisa mematikan jika jika tertelan dalam dosis tinggi.

Menurut Prof Paddy Regan, seorang pakar deteksi dan pengukuran radiasi di University of Surrey, Inggris, mengatakan temuan merupakan “pernyataan yang sangat kuat”.

“Mereka mengatakan hipotesis yang mengatakan bahwa Arafat diracun dengan polonium-210 adalah valid dan teori ini belum bisa dipatahkan oleh data. Namun, mereka tidak mengatakan secara pasti jika dia dibunuh.”

Banyak warga Palestina dan lainnya percaya bahwa Israel menaracuni Arafat. Sementara yang lain menduga bahwa kemaitan Arafat disebabkan oleh penyakit AIDS atau kanker.

Israel sejauh ini konsisten  membantah keterlibatannya.

Juru bicara kementerian luar negeri Israel mengatakan penyelidikan yang dilakukan oleh Swiss ini tak ubahnya seperti “sinetron, daripada pembuktian ilmu pengetahuan”.

Sementara itu, berbicara di Paris, janda Arafat, Suha, mengatakan temuan ini mengungkap “tindak kriminalitas, pembunuhan politis.”

“Ini telah mengkonfirmasi keraguan kita. Telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan bahwa dia tidak meninggal secara alami dan kami memiliki bukti bahwa pria ini dibunuh.”

Reuters mengatakan Suha tidak menyebut siapa yang mungkin membunuhnya tetapi menyadari bahwa suaminya memiliki banyak musuh. (bbc/d)

NOTE :
The topic polonium-210 is discussed in the following articles: 
http://global.britannica.com/EBchecked/topic/468191/polonium-210

alpha decay

  • TITLE: alpha decay (physics)
    ...and a mass of four units, their emission from nuclei produces daughter nuclei having a positive nuclear charge or atomic number two units less than their parents and a mass of four units less. Thus polonium-210 (mass number 210 and atomic number 84, i.e., a nucleus with 84 protons) decays by alpha emission to lead-206 (atomic number 82).

polonium

  • TITLE: polonium (Po) (chemical element)
    ...as a radioactive decay product of uranium, thorium, and actinium. The half-lives of its isotopes range from a fraction of a second up to 103 years; the most common natural isotope of polonium, polonium-210, has a half-life of 138.4 days.

Apa itu Polonium-210 dan bagaimanakah ia boleh membunuh

Posted: July 8, 2012 in Fizik
http://bmskskbsb.wordpress.com/2012/07/08/apa-itu-polonium-210-dan-bagaimanakah-ia-boleh-membunuh/
  
Assalamualaikum dan salam sejahtera
Salam 1 Malaysia

1. Bahan radioaktif merupakan bahan yang tidak stabil. Ia mempunyai nilai separuh hayat yang akan mereput separuh dari jumlah asalnya selepas genap tempoh separuh hayatnya. Radiasi tidak boleh dilihat, dirasa, didengar, dihidu, mahupun di sentuh. Kesan radioaktif boleh diklasifikasikan kepada 2 keadaan iaitu deterministic effect (kesan nyata)  dan stochastic effect (kesan kebarangkalian).

Image

2. Polonium-210 merupakan bahan nadir bumi (rare earth) yang ditemui oleh Marie dan Pierre Curie pada tahun 1898 dan namanya bersempena dengan negara asal iaitu Poland. Angka 210 pula merujuk kepada nombor jisim polonium iaitu 210 (Isotop notation) yang tidak stabil. Polonium ini terjadi secara semula jadi dan sangat kecil bilangannya di bumi. Selain itu ia juga boleh dijanakan melalui reaktor nuklear. Kebanyakkan digunakan dalam bidang industri dan peralatan elektrik.

3. Polonium-210 amat berbahaya jika tertelan ataupun memasuki tubuh manusia. Percaya atau tidak walaupun kurang dari 1 g memasuki tubuh manusia sekalipun ia boleh mengundang maut. Kajian oleh pakar radiasi pada 2007 mengesahkan bahawa sekiranya Polonium-210 ini memasuki salur darah manusia maka kesannya tidak dapat dihalang lagi. Maksudnya amat mustahil untuk mengubatinya. Keracunan radiasi ini boleh menyebabkan kerosakan pada organ kesan dari Alpha particle yang menyerang buah pinggang, sumsum tudang dan sebagainya. Kesan keracunan radiasi Litvinenko dapat kita perhatikan seperti pening, muntah-muntah, keguguran rambut dan banyak lagi.

4. Polonium-210 yang dihasilkan secara tiruan adalah hasil daripada proses kimia penguraian Uranium yang dilakukan pada reaktor nuklear. Oleh yang demikian badan antarabangsa sering mengetatkan aktiviti penguraian Uranium ini di seluruh dunia.

5. Polonium juga dijadikan sebagai alat senjata nuklear. Zarah Alpha yang besar tidak dapat menembusi kulit manusia dan tidak dapat dikesan pun oleh mana-mana alat pengesan (detector). Oleh sebab itu Polonium-210 mudah untuk diseledup di serata dunia. Polonium boleh memasuki badan manusia dengan melalui luka-luka kecil mahupun melalui salur pernafasan ataupun yang paling mudah melalui makanan dan minuman yang tercemar.

source : the associated press
Sekian terima kasih
En. Halimi Bin Muhamad Rusli,
MSc. Radiation Sciences (USM), BhSc. Medical Radiation (USM) 


Keganasan Polonium dan Para Korbannya

http://blognuklir.wordpress.com/2012/07/14/keganasan-polonium-dan-para-korbannya/


Polonium pertama kali menjadi berita hangat saat digunakan untuk membunuh Alexander Litvinenko di London pada 2006. Kini, polonium kembali menghebohkan karena diduga juga digunakan dalam pembunuhan mantan pemimpin Palestina, Yasser Arafat.

Ada indikasi penggunaan polonium dalam upaya pembunuhan terkait operasi intelijen. Tidak dapat disangkal bahwa polonium kerap digunakan dalam dunia intelijen untuk menghabisi targetnya. Itu sangat terlihat dalam pembunuhan Litvinenko. Di mana keterkaitan intelijen dengan kematian Litvinenko? Dia dikenal sebagai mantan agen rahasia Rusia, KGB.


Namun, dia kemudian membelot dan kerap mengkritik Kremlin, pusat pemerintahan Rusia. Akibatnya, dia pun menjadi target yang harus dihabisi karena terlalu vokal dan memiliki banyak informasi rahasia. Litvinenko dibunuh dengan racun polonium yang dimasukkan dalam teh yang dia minum di sebuah hotel di London,Inggris. Pada 2006, kepada beberapa media,dia menjelaskan bahwa bertemu dua mantan agen KGB. Dia juga mengaku pernah makan siang di Itsu, sebuah restoran sushi di Piccadilly di London, dengan seorang kenalan orang Italia, Mario Scaramella.

Litvinenko melaporkan penetrasi KGB terhadap politik Italia. Sejarah juga mencatat bahwa Oleg Gordievsky,seorang teman lama Litvinenko dan seorang bekas KGB lainnya yang telah membelot ke Inggris,mengatakan kepada BBC bahwa dia yakin Litvinenko diracuni di rumah seorang teman Rusia. Litvinenko diracun saat minum teh sebelum bersama Litvinenko, sebelum pergi ke restoran sushi.

Setelah insiden itu, dia mengalami sakit seperti diare berat, kehilangan berat badan,dan muntah-muntah. Keracunan Litvinenko kini dihubungkan dengan radionuklida polonium-,210 setelah Badan Perlindungan Kesehatan menemukan jumlah zat radioaktif yang cukup besar dari unsur yang jarang dan beracun ini dalam tubuhnya.Keracunan ini dilaporkan secara luas dalam media Britania sejak 18 November 2006, meskipun di negara-negara lain sudah dilaporkan selama beberapa hari sebelumnya.

Ternyata bukan hanya Litvinenko yang menjadi korban keracunan polonium. Menurut penulis Israel, Michal Karpin, banyak kematian beberapa ilmuwan Israel karena mengidap penyakit kanker disebabkan polonium. Saat itu, terjadi kebocoran di Institut Sains Weizmann pada 1957. Hanya, Israel tidak pernah mengakuinya. Selain itu, kematian Irene, putri penemu polonium Marie Curie, juga dianggap disebabkan keracunan polonium.

Dalam rekam medis,Irene disebutkan meninggal dunia karena leukemia.Tapi dalam penelitian lebih mendalam, ternyata dia keracunan polonium di laboratorium milik ibunya sendiri. Seperti apa polonium atau secara ilmiah dikenal dengan sebutan polonium-210? Polonium merupakan radioaktif yang kerap digunakan untuk tenaga pesawat luar angkasa. Marie Curie menemukannya pada 1898, dan anak perempuannya, Irene,adalah yang pertama terbunuh karena zat ini.

Polonium diberi nama sesuai tanah kelahiran Marie Curie, yakni Polandia (bhs latin: Polonia). Elemen kimia ini diberi simbol Po dengan nomor atom 84. Polonium dikenal zat radioaktif yang sangat berbahaya dan mematikan dibandingkan racun lainnya. Setiap satu gram benda yang mengeluarkan polonium bisa membunuh 1,5 juta orang. Jika polonium masuk tubuh manusia,itu dapat mengalir ke dalam aliran darah dan merusak organ tubuh.

Dengan hanya satu gram, bubuk perak itu dapat membunuh manusia. Sebuah kajian pada 2007 yang dilakukan pakar radiasi dari Badan Perlindungan Kesehatan Inggris menyimpulkan, polonium dapat merusak aliran darah dan dapat menghentikan aliran darah. Siapa pun yang keracunan polonium, maka orang itu antara lain dapat mengidap liver dan gangguan ginjal.

Siapa yang dapat mengakses polonium? Elemen berbahaya itu merupakan hasil produksi uranium. Biasanya dibuat di reaktor nuklir. Fasilitas nuklir yang memproduksi polonium itu dimonitor ketat dengan aturan internasional. Menurut John Croft, pakar radiasi Inggris, polonium didapatkan dari pemerintah atau warga sipil yang memiliki akses terhadap fasilitas nuklir pemerintah.

Tidak heran jika Rusia sebagai produser polonium,dapat dengan mudah memberikan bahan kimia berbahaya itu untuk membunuh musuh negara seperti Litvinenko.Demikian juga Israel yang memiliki fasilitas reaktor nuklir untuk memproduksi polonium.Banyak pakar yang menduga bahwa Israel menggunakan polonium produksinya untuk membunuh Arafat,meski Tel Aviv berulang kali membantahnya.

Polonium dianggap sebagai senjata paling aman dalam membunuh.Pasalnya, partikel alfa tidak dapat melakukan penetrasi ke kulit dan tidak terdeteksi alat pendeteksi radiasi. Jadi, polonium sangat mudah untuk diselundupkan ke berbagai belahan dunia. andika hendra m   Share

Pengakuan Mossad Terkait Operasi Rahasia Pembunuhan Wakil Yasser Arafat!

REP | 02 November 2012 | 21:39
http://luar-negeri.kompasiana.com/2012/11/02/pengakuan-mossad-terkait-operasi-rahasia-pembunuhan-wakil-yasser-arafat-506159.html
Setelah beberapa tahun lamanya salah satu harian terkemuka Israel,Yedioth Ahronoth meminta badan intelijen Zionis Israel,Mossad untuk membeberkan kesaksian dari pelaku pembunuhan terhadap Wakil Presiden Palestina,Yasser Arafat tahun 1988 di Tunisia.Kemudian kerja keras harian yang dekat dengan kalangan rejim Tel Aviv itu,Yedioth Ahronoth  membuahkan hasil dan terungkaplah bagaimana Mossad melakukan operasi pembunuhan terhadap Abu Jihad di Tunisia itu.

Menurut wawancara  Yedioth Ahronoth dengan anggota komando Nahun Lev, yang mengakui membunuh Abu Jihad, wakilPresiden Palestina Yasser Arafat tahun 1988  tersebut.Meskipun begitu pengakuannya tidak pernah diplublikasikan sampai Nahun Lev meninggal dunia  pada tahun 2000 lalu. Abu Jihad yang bernama aslinya Khalil Al-Wazir bersama Yasser Arafat mendirikan Organisasi Pembebasan Palestina(PLO) yang di tuduh oleh Zionis Israel bertanggung jawab dalam beberapa serangan berbahaya terhadap Zionis Israel.

Meskipun Zionis Israel tidak pernah menanggapi berbagai tuduhan bahwa Mossad sebagai pembunuh Abu Jihad ,akan tetapi semua orang di kawasan Timur Tengah meyakini bahwa pembunuh Abu Jihad itu Mossad, agen intelijen Zionis Israel.Para waaratawan harian Yedioth Ahronoth terus menerus minta untuk merilis berita tersebut.Dan jika tidak ,mungkin saja sesuai aturan Israel maka mereka bisa saja menggugatnya ke pengadilan negara yahudi tersebut.

Akhirnya Yedioth Ahronoth di ijinkan untuk merilis  operasi rahasia tersebut, yang dilakukan oleh Mossad namun dalam operasionalnya dilakukan oleh unit Komando Elit  Zionis Israel, Saveret Matkal tahun 1988 di Tunisia.  Beginilah  skenario operasi  yang mengerikan itu ,yang  menyebabkan  tewasnya  Abu Jihad  tokoh yang sangat  penting di kalnagan elite  PLO setelah Yasser Arafat,Presiden Palestina.

Nahum Lev mengatakan,bahwa pasukan Komando Israel tiba melalui laut dana bersama seorang anggota komando lain perempuan berpura-pura seakan sebagai pasangan berjalan di depan kediaman Abu Jihad. Lalu Nahum Lev  secepat kilat menembak dan melumpuhkan pengawal PLO dengan serentetan tembakan tepat di kepala dengan senjata yang disimpan di dalam kotak copklatnya.

Menurut harian Yedioth Ahronoth pula,bahwa setelah berhasi dilumpuhkan pengawal tokoh PLO itu, kedua anggota pasukan Komando itu segera memasuki villa seiring dengan itu pula salah satunya segera bergegas naik ke lantai dua  yang di ikuti oleh Nahum Lev dibelakangnya.Dalam pengakuannya  itu , Nahum Lev salah seorang anggota “Saveret Matkal” mengatakan ia menembak Abu Jihad lebih dahulu.

Kata Nahum Lev lagi,bahwa Abu Jihad memegang senjata makanya saya menembaknya, ujar Nahum Lev pula. Penembakan itu  saya lakukan dengan hati-hati sekali karena Abu Jihad bersama isterinya, ujar Nahum Lev selanjutnya. Nahum Lev melanjutkan penuturannya, bahwa ia kasihan kepada tukang kebun itu. Namun demikian dalam operasi seperti ini anda harus memastikan bahwa semua resistensi potensial dinetralkan.

Dan hal serupa yang terjadi terhadap Presiden Palestina ,Yasser Arafat juga demikian meskipun Zionis Israel tidak berkomentar apapun juga. Namun kawasan Timur Tengah sangat yakin bahwa kematian Yasser Arafat didalanagi oleh agen-agen Israel juga. Kematian Yasser Arafat di rumah sakit militer Paris tahun 2004 mulanya dianggap karena stroke akibat kelainan darah. Namun setelah diperiksa oleh pakar radiasi dari Swiss dterhadap  berbagai barang-barang milik pribadi peninggalan Yasser Arafat,dan diketemukan zat zat dari elemen radioaktif Polonium 210 .

Penemuan elemen zat radioaktif Polonium-210 di berbagai barang milik pribadi Presiden Yasser Arafat yang kadarnya sangat berbahaya itu, maka disimpulkan bahwa Yasser Arafat itu meninggalnya karena diracun dengan Polonium-210 .

Karenanya jaksa penuntut Perancis membuka kasus itu kepengadilan sesuai yang di kehendaki oleh keluarga Arafat.Dan Tim jaksa Perancis untuk mengusut masalah kematian Yasser Arafat itu juga akan dibantu oleh beberapa pakar radiasi Swiss dari Institute Radiasi Fisika Universitas Lausanne.

Kedatangan kedua tim itu ke Ramallah terkait dengan rencana pembongkaran kuburan Yasser Arafat pada hari Senin,26 November 2012.Mudahan saja semuanya akan terkuwak misteri dari kematian Yasser Arafat tersebut,apakah benar sebagaiamana anagaagaapan orang bahwa kematian Presiden Palestina itu tidak wajar tetapi merupakan hasil dari kerja kotor Mossad.Yasser Arafat diracun dengan Polonium -210 itu. Kita tunggu saja hari itu,semoga menjadi suatu pembelajaran bagi kita semua.


Arafat dibunuh oleh Mossad dengan racun radioaktif?

http://www.solucionesayc.com/arafat-dibunuh-oleh-mossad-dengan-racun-radioaktif/ 


Yasser Arafat diduga meninggal karena diracun
Foto Yasser Arafat

Arafat diketahui meninggal pada tahun 2004 diusia 75 tahun karena kondisi darahnya yang tidak wajar. Zat radioaktif ditemukan pada benda-benda yang digunakannya termasuk sikat giginya. Dinas rahasia Israel dicurigai keterlibatannya.

Kematian Yasser Arafat awalnya dicurigai karena makanan yang dimakannya. Dua jam setelah makan malam, pada 11 Oktober 2004 pukul 11.30 malam, Arafat jatuh sakit. Pemimpin PLO berusia 75 tahun ini sempat mengalami muntah dua kali, lalu merasa lebih baikan. Ketika bangun tidur pada keesokan harinya, kondisi kesehatannya memburuk. Tim dokter mendiagnosa ia mengalami viral gastroenteritis yang lebih dikenal dengan flu perut, ia pun diberi obat.

Sore harinya kondisi Arafat kelihatannya kembali membaik, sebuah sumber yang dapat dipercaya mengatakan Arafat kembali menjalankan aktivitas seperti biasanya di dalam komplek tempat tinggalnya di Ramallah, West Bank.

Selama beberapa hari berikutnya, kondisi Arafat terlihat stabil namun tidak membaik. Tim medis yang menanganinya pun terlihat bingung, akhirnya tim dokter Runisia didatangkan untuk menjalani pemeriksaan, kira-kira 2 minggu setelah ia menderita sakit. Disinilah terkuat, ia divonis menderita thrombocytopenia, suatu kondisi dimana berkurangnya jumlah trombosit di dalam darah.

Seperti yang diketahui trombosit memegang peranan penting dalam proses pembekuan darah, jumlah trombosit yang sedikit dapat menyebabkan pendarahan internal dengan cepat. Sampel sumsum tulang belakang Arafat diambil seiring dengan kondisinya yang semakin memburuk, Arafat pun diterbangkan ke Rumah sakit militer percy di Paris. Tanggal 3 November, Arafat jatuh koma, dini hari 11 November ia pun meinggal dalam kondisi pendarahan otak.

Selama hampir 1 dekade, fakta penyebab meninggalnya Arafat menjadi misteri ditengah tuduhan keluarga dan pendukungnya bahwa ia mati diracun. Minggu ini, dunia kembali dikejutkan dengan berita penyebab kematian Arafat yang sesungguhnya.

Arafat dicurigai diracun dengan zat radioaktif Polonium-210 melalui sikat gigi
Ilustrasi sikat gigi beracun

Dua tahun yang lalu, janda Arafat dan putrinya mengajukan permohonan penyelidikan kepada pihak otoritas Perancis mengenai penyebab kematiannya. Sejak saat itu, tim ilmuwan Swiss melakukan investigasi terhadap benda-benda milik Arfat yang dicurigai terkontaminasi racun. Merekalah yang kemudian mengumumkan hasilnya pada jurnal kesehatan The Lancet, mereka menemukan kandungan zat radioaktif yang sangat beracun , dinamakan Polonium-210 pada kain yang dikenakan Arafat di kepala, celana dalam dan sikat gigi.

Di dalam jurnal disebutkan, mereka mengambil sampel darah, keringat dan urin dari pakaian Arafat dan menemukan kandungan Polonium-210 dalam dosis sangat tinggi melebihi ambang wajar. Penemuan ini memperkuat dugaan Arafat diracun dengan Polonium-210. Meskipun hasil penemuan ini belum mutlak namun para peneliti ini menegaskan, arahnya adalah kepada pembunuhan.

Gejala kematian Arafat ini mirip dengan yang dialami seorang bekas agen rahasia Alexander Litvinenko pada tahun yang sama. Penelitian Post-Mortem menemukan ia meninggal karena diracun Polonium-210.

Yang menjadi pertanyaan, apakah Arafat mengalami nasib yang sama, lalu siapa yang membunuhnya?

Bagi kebanyakan orang, jawabannya pasti mengarah ke Israel, lebih spesifik lagi kepada agen rahasia Israel, Mossad. Sudah menjadi rahasia umum jika Arafat rajin menjalankan kampanye melawan Israel dan negara barat selama beberapa dekade semasa hidupnya, kelompok-kelompok dibawahnya; baik yang diperintah langsung maupun tidak, dianggap bertanggung jawab atas ratusan peristiwa pemboman, pembajakan, pembunuhan dan serangan lainnya.

Mossad dicurigai berada di belakang kematian Arafat.

Logo Mossad

Sejak dibentuk pada Desember 1949, Mossad sudah memperoleh ketenaran akibat prestasinya dalam menjalankan sejumlah operasi. Salah satunya adalah penculikan Adolf Eichmann, tokoh Nazi sewaktu yang bersangkutan sedang berada di sebuah jalan di Argentina pada tahun 1960. Eichmann pun dibawa ke Israel untuk diadili dan dieksekusi, penjahat perang Nazi lainnya juga mengalami nasib yang sama.

Foto Herberts Cukurs

Herberts Cukurs dibunuh oleh agen Mossad.

Pada tahun 1965, Herberts Cukurs (64) warga negara Latvia dipancing ke dalam sebuah rumah kecil di Montevideo, Uruguay oleh seorang pria gendut dan botak bernama Anton Kunzle. Begitu Cukurs masuk ke dalam aula rumah tersebut, ia langsung disergap sekelompok agen Mossad yang kemudian membunuhnya dengan menyarangkan dua butir peluru ke otaknya. Jasadnya dimasukkan ke dalam karung dengan meninggalkan tulisan “Mereka yang tidak akan pernah lupa” pada karungnya. Dipercaya serangan ini adalah balas dendam akibat pembunuhan kaum Yahudi oleh Cukurs di kota Riga, Latvia selama masa perang.

Mossad dikenal sangat efisien dalam menjalankan serangan yang brutal, ini bisa dilihat dari “Operation Wrath of God” pada tahun 1972 sebagai pembalasan atas pembantaian 11 orang atlet Olimpiade Israel oleh teroris Palestina. Operasi ini cukup lama, dijalankan selama hampir dua dekade, melibatkan sejumlah peristiwa penembakan dan pemboman.

Semua operasi pembunuhan yang dijalankan oleh Mossad direncanakan dengan matang. Ketika beberapa kelompok lebih memilih serangan tembakan terang-terangan, Mossad lebih memilih menjalankan operasi yang lebih rumit, salah satunya adalah peristiwa pembunuhan salah satu petinggi PLO Mahmoud Hamshari, di Perancis.
Mendekati akhir tahun 1972, sebuah tim kecil Mossad meletakkan bom di bawah telepon pada meja kerja Mahmoud. Seorang agen Mossad yang menyamar sebagai jurnalis meneleponnya. Ketika Mahmoud menjawab, agen tersebut meledakkan bom tersebut dengan mengandalkan sinyal telepon. Seorang sumber mengatakan, agen Mossad yang menjalankan operasi pembunuhan biasa disebut dengan Kidon (bayonet).
Peristiwa demi peristiwa tidak berhenti sampai disitu. Tahun 1997, Kidon diyakini berada dibelakang percobaan pembunuhan terhadap Khaled Meshaal, pemimpin Hamas. Rencana pembunuhan ini termasuk menyemprotkan racun khusus yang diciptakan secara rahasia di institut biologi Israel Nes Tziona. Rencananya racun akan disemprotkan ke telinga Khaled Meshaal ketika ia berada di Jordania.

Percobaan pembunuhan ini mengalami kegagalan, dua orang agen Mossad yang berhasil menyemprotkan racun ke dalam telinga target sasarannya, tertangkap tidak lama kemudian. Pihak Jordania yang geram bersikeras meminta Israel memberikan penawarnya untuk menyelamatkan jiwa Khaled. Kegagalan semacam ini sangat jarang terjadi.

Operasi pembunuhan spektakular Mossad lainnya adalah pembunuhan Mahmoud al-Mabhouh, komandan senior Hamas yang ditemukan tewas di Dubai pada bulan Januari 2010. Dengan cepat diketahui bahwa ia meninggal dengan tidak wajar, tuduhan pun mengarah kepada Mossad. Untuk memenuhi keingintahuan dunia, Dubai pun merilis foto dari para tersangka yang menggunakan paspor palsu. Mereka diketahui masuk ke Dubai dengan menyamar sebagai turis Inggris dan Amerika Serikat.

Sekarang, salah satu pekerjaan yang paling beresiko di dunia adalah menjadi ilmuwan nuklir Iran. 11 Januari 2011, Mostafa Ahmadi Roshan, kepala deputi pusat pengayaan uranium Natanz, Iran, tewas setelah mobil yang dikemudikannya diledakkan dengan bom magnet ketika ia sedang berangkat kerja. Kematiannya melengkapi kematian tiga ilmuwan lainnya pada 2010.

Pada awal bulan ini, Mojtaba Ahmadi, anggota pasukan garda revolusi Islam, diberondong peluru oleh sekelompok pengendara motor bertopeng dekat rumahnya di Karaj, di utara Tehran. Mossad dicurigai berada di belakang serangan ini.

Kembali kepada pertanyaan awal, apakah Mossad bertanggung jawab atas kematian Arafat? Israel jelas mempunyai kemampuan untuk menghabisi Arafat yang diketahui adalah sponsor utama atas sejumlah serangan teroris yang diarahkan kepada Israel.

Tahun 1995, angkatan udara Israel menyerang basis PLO di Tunisia, Israel mengakui serangan ini ditujukan terhadap bangunan tempat Arafat berkantor. Arafat selamat karena pada saat itu ia sedang keluar jogging.
Tahun 2003, setahun sebelum pemimpin PLO itu meninggal, penasehat keamanan Arafat, Hani al-Hassan mengklaim bahwa bosnya selamat dari setidaknya 13 kali percobaan pembunuhan, termasuk paket virus Anthrax yang dikirimkan kepadanya pada bulan Mei tahun lalu.

Percobaan pembunuhan terhadap Arafat sudah bermula sejak tahun 1960an. Pada Desember 1967 Arafat nyaris tewas terbunuh di villanya di Ramallah.Mendengar suara orang Israel, ia melompat dari lantai dua dan bersembunyi di dalam sebuah mobil yang sedang parkir.

Pada kesempatan lain di Beirut, para penembak jitu israel diberitakan sudah mengunci target ke Arafat (tinggal tembak) namun kemudian Ariel Sharon memerintahkan untuk membatalkan misi.

Mungkinkah racun Polonium-210 yang dioleskan pada sikat gigi Arafat bisa mengambil nyawanya? Mungkinkah racun tersebut bisa diserap oleh gusinya? Kedengarannya mustahil, namun jka melihat fakta agen Mossad sanggup membunuh orang dengan menyemprotkan racun melalui lubang telinga, bisa saja.

Pertanyaan lain adalah, apa keuntungan Israel mengambil nyawa Arafat? Beberapa pihak mencurigai, kandungan Polonium-210 yang begitu tinggi pada benda-benda peninggalan Arafat, bisa saja dilakukan oleh pihak Palestina dengan tujuan menyudutkan Israel.

Polonium-210: the hard-to-detect poison that killed Alexander Litvinenko

Just a few milligrams of the highly radioactive isotope found in Yasser Arafat's body is a lethal dose
http://www.theguardian.com/world/2013/nov/06/polonium-210-poison-alexander-litvinenko
Alexander Litvinenko
Alexander Litvinenko in hospital before his death from polonium-210 poisoning in 2006. Photograph: Natasja Weitsz/Getty Images
Seven years ago the Kremlin critic and ex-spy Alexander Litvinenko met two Russians in a London hotel. What happened next was one of the most brazen assassinations of modern times. According to British prosecutors, Litvinenko's companions, Andrei Lugovoi and Dmitry Kovtun, slipped a colourless, odourless substance into his tea. Litvinenko drank. Not much, but enough for him to die in agony three weeks later in University College hospital.

The substance was polonium-210, a rare and highly radioactive isotope that a Swiss team has discovered in Yasser Arafat's exhumed corpse. It is extremely hard to detect. Scientists only identified it in Litvinenko hours before his death. A former FSB officer, and teetotaller, Litvinenko was a fitness fanatic. Doctors say it was only because he was in such good shape that he lasted so long. If he had died sooner, the cause of death would probably never have been uncovered.

Polonium-210 occurs at very low levels naturally, but is manufactured for use by industrial plants to prevent the buildup of static electricity.

It is an effective and convenient poison. It emits pure alpha particles, which outside the body can be stopped by a sheet of tissue paper. But if ingested, it causes widespread damage as it passes into organs. The radiation releases energy that creates reactive particles called free radicals. These in turn form toxic compounds that are deadly to surrounding cells.

Because polonium emits only alpha particles, it can be safely carried in glass vials and will not set off radiation detectors at airports. Once ingested, it is hard to detect, because all the radiation remains in the body. A lethal dose could be as little as a few milligrams, which could be administered as a powder or dissolved in liquid.

Yasser Arafat may have been poisoned with polonium, tests show

Swiss scientists find levels of polonium 18 times higher than normal in first forensic tests on former Palestinian leader's body 
http://www.theguardian.com/world/2013/nov/06/yasser-arafat-poisoned-polonium-tests-scientists
Yasser Arafat
Yasser Arafat died in a French military hospital in 2004, four weeks after falling ill in the West Bank. Photograph: Lefteris Pitarakis/AP

The first forensic tests on samples taken from Yasser Arafat's corpse have shown unexpectedly high levels of radioactive polonium-210, suggesting the Palestinian leader could have been poisoned with the rare and lethal substance.

The Swiss scientists who tested Arafat's remains after the exhumation of his body in November 2012 discovered levels of polonium at least 18 times higher than usual in Arafat's ribs, pelvis and in soil that absorbed his bodily fluids.

The Swiss forensic report was handed to representatives of Arafat's widow, Suha Arafat, as well as representatives of the Palestinian Authority on Tuesday. A copy of the report was obtained exclusively by the al-Jazeera TV network, which shared it with the Guardian before publication.

The Swiss report said that even taking into account the eight years since Arafat's death and the quality of specimens taken from bone fragments and tissue scraped from his body and shroud, the results "moderately support the proposition that the death was the consequence of poisoning with polonium-210".

Suha Arafat said the evidence in the report suggested that her then healthy 75-year-old husband, who died in 2004 four weeks after he first fell ill following a meal, was almost certainly murdered by poisoning. She told al-Jazeera: "This is the crime of the century."

Speaking to the Guardian after receiving the report, she said she would press for answers on who was responsible. "It's shocking … I remember how Yasser was shrinking at the hospital, how in his eyes there were a lot of questions. Death is a fate in life, it is everybody's fate, but when it's poison it's terrible. We are mourning him again now."

With Zahwa, 18, her daughter by Arafat, she said she suspected a "conspiracy to get rid of him", adding: "My daughter and I have to know who did it. We will not stop in our quest to find out. I hope the Palestinian Authority goes further on it, searching every single aspect of it. It is of course a political crime." She said: "This is separate from the peace process or talks. Any judicial investigation is separate from the peace process."

David Barclay, a British forensic scientist who had studied the report, told al-Jazeera: "The report contains strong evidence, in my view conclusive evidence, that there's at least 18 times the level of polonium in Arafat's exhumed body than there should be."

He said the report represented "a smoking gun". Barclay said: "It's what killed him. Now we need to find out who was holding the gun at that time," adding: "I would point to him being given a fatal dose. I don't think there's any doubt at all."

The Israeli government, however, dismissed the report. "The Swiss findings are not conclusive," said Yigal Palmor, a foreign ministry spokesman.

"Even if they did find traces of polonium that could indicate poisoning, there's no evidence of how that poisoning occurred. Before the Palestinian Authority jumps to conclusions, there are many questions still to be answered.

"Israel is not involved in any way. There's no way the Palestinians can stick this on us. It's unreasonable and unsupported by facts. We will see yet another round of accusations, but there's no proof."

Dov Weissglass, a former aide to Ariel Sharon, the Israeli prime minister at the time of Arafat's death, also denied Israeli involvement. "To the best of my knowledge, we had no hand in this," he said, adding that neither the prime minister nor the Israeli security services had played any part in the Palestinian leader's demise.

"By the end of 2004, we had no interest in harming him. By then, Arafat was marginalised, his control over Palestinian life was minimal. So there was no logic, no reason."

Danny Rubinstein, a journalist and author of a book about Arafat, had a different memory of events. In the weeks and months before Arafat's death, he said, people in Sharon's inner circle talked constantly about how to get rid of him. "For me, it was very clear from the beginning. Every day this was the topic – should we expel him, or kill him, or bomb the Muqata [Arafat's HQ]. It was obvious to me that they would find a way."

Palmor said that among the scientists who tested Arafat's remains only the French team were independent. The Swiss were commissioned by Suha Arafat, and the Russians by the Palestinian Authority, he said. "These results should be taken with a few grains of salt. This story is still as mysterious as it was on day one."
Tawfik Tirawi, head of the Palestinian committee investigating Arafat's death, did not respond to a request from comment. But a senior Palestinian leader, Hanan Ashrawi, said: "This report confirms the suspicions that we've had all along. We know Arafat was killed, now we know how. And we know who had the means, the opportunity and the motive. Justice must now take its course."

Arafat died in a French military hospital on 11 November 2004,. He had been transferred there from his headquarters in the West Bank after his health deteriorated over weeks, beginning with severe nausea, vomiting, abdominal pain and diarrhoea around four hours after eating dinner on 12 October. French doctors have said he died of a massive stroke and had suffered from a blood condition known as disseminated intravascular coagulation, or DIC. But the records were inconclusive about what brought about the DIC. No autopsy was carried out.

Allegations that Arafat may have been poisoned emerged immediately after his death and the claim was raised again by al-Jazeera TV last summer, following a nine-month investigation culminating in the film What Killed Arafat?

Al-Jazeera said it was given access to a duffel bag of Arafat's personal effects by his widow, which it passed to a Swiss institute. Swiss toxicological tests on those samples including hair from a hat, saliva from a toothbrush, urine droplets on underpants and blood on a hospital hat found that the belongings had elevated traces of polonium-210, the lethal substance used to kill the Russian dissident Alexander Litvinenko.

The Swiss institute said Arafat's bones would have to be tested to get a clearer answer, warning that polonium decayed fast and an autopsy needed to be done quickly. In August last year, French prosecutors opened a murder inquiry into Arafat's death. In November, Arafat's corpse was exhumed from its mausoleum in Ramallah in the presence of three international teams of scientists: the Swiss team, a French team that was part of the Paris judicial investigation and a Russian team.

The Swiss team's report states that they carried out toxicological tests on Arafat's "almost skeletonised body along with residues from his shroud". The samples, including fragments of bones taken from his left ribs and pelvis as well as remnants of tissue from the abdominal cavity and grave soil, showed "unexpectedly high" activity of polonium-210.

Suha Arafat's lawyer, Saad Djebbar, told the Guardian the Swiss report was "evidence that there was a crime committed". He said he had handed the Swiss report to French investigators, whose inquiry is ongoing. French scientists conducted their own tests as part of the legal investigation but have not published findings as the inquiry continues.
Arafat's daughter, Zahwa, a student of international relations in Malta, told the Guardian: "I want to find out who did it and their motive for doing it." She said she trusted the French investigation to shed light on that.

Report: Tests 'moderately support' that Yasser Arafat poisoned by polonium

By CNN Staff
November 7, 2013 -- Updated 0446 GMT (1246 HKT)
Watch this video

Arafat death report issued

STORY HIGHLIGHTS
  • A dose "the size of a grain of salt, something like that" could be deadly, professor says
  • The Palestinian leader died in 2004 at age 75
  • Last year, his widow, suspecting he was poisoned, had the body exhumed for tests
  • Polonium-210 -- a radioactive substance -- had been detected on his clothing and toothbrush
(CNN) -- Swiss scientists say levels of polonium-210 measured in the personal effects and body tissues of Palestinian leader Yasser Arafat "moderately" support a proposition that he died of polonium poisoning.
The findings released by the University Center of Legal Medicine of Lausanne -- first reported Wednesday by Al Jazeera -- do not address how Arafat, who died in 2004 at age 75, might have been poisoned or who might have done it.

The report comes a year after Arafat's widow, suspecting he was poisoned, had the body exhumed for tests after the radioactive isotope polonium-210 was found on some of his personal belongings in 2012.

The Swiss center said it identified "significant quantities" of polonium in biological stains on those belongings. Some polonium also was found in samples of remains taken during last year's exhumation, it said.
 
Arafat death report issued
The scientists' findings may renew controversial allegations over how Arafat -- the most prominent face of Palestinian opposition to Israel for five decades -- died. The Palestinian Authority, which runs the West Bank, has said Israel would have been behind any poisoning of Arafat, who was regarded by many Palestinians as a father figure.

"I believe that all fingers are pointed at the Israeli occupation ... who have experience in such cases of poisoning," said Wasel Abu Yousef, a member of the executive committee of the Palestine Liberation Organization. Yousef called for a "criminal international committee" to be formed to investigate the report.

An Israeli Foreign Ministry spokesman said Wednesday that any such accusation would be "utter nonsense."
"This is nothing to do with us, and for the moment they refrained (from) making accusations," Israeli Foreign Ministry spokesman Yigal Palmor said. "They know why -- there's no strictly no connection to Israel."

The Swiss center pointed out some caveats:

-- The testing was based on "very small specimens." The center noted that blood, urine and other specimens were destroyed after Arafat's hospitalization.
-- Eight years passed between the death and the exhumation. Because polonium-210 has a half-life of just 138 days, its detection after eight years is "very difficult and subject to uncertainties."
-- The "chain of custody" of Arafat's personal effects -- from the time he died and when the center began to study them in 2012 -- is unclear, it said.

Paddy Regan, a professor of radionuclide metrology in the physics department at the University of Surrey in Guildford, England, agreed that the years that have elapsed since Arafat's death make it more difficult to estimate how much isotope was there originally.

"It's like a blindfolded man holding the tail of an elephant and using that to estimate the weight of the elephant," Regan told CNN in a telephone interview. "You can do it, but there is a huge amount of extrapolation involved."

And the mere presence of the isotope -- in amounts significantly higher than what occurs naturally -- does not necessarily mean that that is what killed Arafat, he added, citing the scientists' measurement of a urine stain on Arafat's underwear. "If you were being cynical about such a thing, if you wanted to put a false trail out there, you could put a tiny amount of polonium 210 on that urine stain," he said. "That doesn't mean that the urine stain came from inside him."


But the report expressed doubt that that could have occurred. It said that Arafat's widow had "certified that the measured personal effects have been stored in a secured room."

And biological samples -- including from bone -- also contained a higher concentration of the isotope, said Regan, who complimented the work of the Swiss experts.

"These are good forensic scientists," he said. "These results imply that, at the time of his death, Mr. Arafat had an amount of polonium-210 present in his system that would be significantly detrimental to his health."
How much would it take?

"It's a terrifyingly small amount," Regan said. "The size of a grain of salt, something like that."

Arafat, who first led the Palestine Liberation Organization and then the Palestinian Authority, died in a Paris military hospital in November 2004 after suffering a stroke after weeks of illness. Palestinian officials said in the days before his death that Arafat had a blood disorder -- though they ruled out leukemia -- and that he had digestive problems.

Rumors of poisoning circulated at the time, but the Palestinian Authority's then-foreign minister, Nabil Sha'ath, said he "totally" ruled them out.

French authorities -- responding to a request from Arafat's widow -- opened a murder inquiry into his death in 2012 after high levels of polonium-210 were detected on Arafat's toothbrush, clothing and his keffiyeh, the trademark black-and-white headscarf he often wore. France opened the investigation partly because Arafat died there.

Forensic experts from Switzerland and Russia took their own samples for independent analysis.

Radiation poisoning from polonium-210 looks like the end stage of cancer, according to medical experts. The radioactive substance can enter body by eating or drinking contaminated things, breathing contaminated air, or inhaling or ingesting bodily fluids from someone contaminated with it. A wound can also become contaminated.

CNN's Matthew Chance, Michael Schwartz, Kareem Khadder, Tom Watkins, Jason Hanna and Ashley Fantz contributed to this report.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar