Selasa, 12 November 2013

NKRI MEMILIKI MASA DEPAN YANG CERAH..!!! INSYA ALLAH... AAMIIN....>>> ASALKAN RAKYAT DAN PEMIMPIN MENYATU... DAN MEMBANGUN KEMANDIRIAN KEKUATAN BANGSA....>>> JAUHKAN DARI UTANGAN.. DAN HARUS MENDIDIK ANAK2 BANGSA MENJADI BANGSA YANG MILITAN.. KUAT.. BERSEMANGAT.. DAN BERSATU DENGAN UTUH...>>> KUATKAN MORAL - AKHLAK - AGAMA - DAN JIWA PERSATUAN..SERTA SOLIDARITAS SESAMA ANAK2 BANGSA...>>> HENTIKAN CARA.. DAN PERLAKUAN ... MENJADI ANTEK2 ASING.. DAN BERBUAT CULAS... TERHADAP ANAK2 NEGERI... >> HAYYOOO ... KUATKAN KEMANDIRIAN... DAN ... JANGAN MENJADI BUDAK2... BANGSA ASING... >>> BANGUNKAN KEKUATAN DAN KEDAULATAN ANAK2 PRIBUMI... DAN PINTARKAN ANAK2 BANGSA INI .. DENGAN ILMU-TEKNOLOGI - MORAL - AKHLAK - BERDISIPLIN... DAN KERJA KERAS.. SERTA DIJAUHKAN DARI PERILAKU.... MOLIMO ATAW 5 M YAKNI... (MALING=MENCURI/KORUPSI - MADON=PELACURAN/PERZINAHAN - MABOK= MINUM2 YG MEMABUKAN - MADAT=NARKOBA - MAEN=JUDI) SERTA DIJAUHKAN DARI MAKANAN2 YANG HARAM-RIBAWI-HASIL PENIPU-PERBUATAN LINTAH DARAT-MEMALSUKAN KWALITAS- DAN KWANTITAS... UNTUK BERBISNIS DAN BERUSAHA APAPUN.. DALAM SEGALA SEGI KEHIDUPAN..>> HIDUP DENGAN CARA BERSIH.. BERBUDAYA LUHUR... DAN SEMANGAT BERSAUDARA.. SESAMA ANAK2 BANGSA.. DAN RAKYAT SEMESTA.. ..>> INSYA ALLAH.. INDONESIA NKRI SELURUHNYA.. AKAN ADIL MAKMUR.. DAN SEJAHTERA.. SERTA MAJU... DENGAN SANGAT GEMILANG...>>> INSYA ALLAH.. AAMIIN... >>> ...... untuk 3 milyar penduduk diperlukan 4.812 sistem bendungan dengan luas yang memakan 38,69 % dari luas daratan NKRI, ini adalah sinyal kita harus menekan angka pertumbuhan penduduk dibawah 0,51% pertahun. Dengan demikian dalam 300 tahun kedepan akan ada 1 Milyar penduduk Indonesia, dan kita memerlukan sistem bendungan yang menghabiskan 13,24 % wilayah daratan atau jika dibangun juga ditepian pantai akan menghabiskan 4 % dari wilayah total wilayah NKRI....>>> ...penduduk 1 Milyar, dengan dukungan energi pokok dan gizi yang menghabiskan lahan 20% wilayah daratan, dan energy listrik yang menghabiskan lahan 4% – 13,24% wilayah daratan, NKRI mampu menjadi Negara makmur bahkan untuk masa setidaknya 300 tahun...>>> ...sebaiknya Batubara dan uranium secara strategis tidak kita manfaatkan 100% untuk kebutuhan listrik Negara NKRI yang makmur dalam 59 tahun kedepan. Karena itu berarti segala hutan kita diatas lahan batubara akan gundul, dan setelah itu tak punya cadangan uranium lagi. Untuk mendukung kemakmuran selama 300 tahun, sumber-sumber energi ini harus di harmonisasikan dengan alternatif yang lain. Misalnya Batubara dan Uranium cukup untuk kebutuhan 30% dari kebutuhan ideal kemakmuran untuk mengantar menuju masyarakat makmur tahap 1 dalam jangka 50 tahun kedepan. Dan sisanya Batubara lebih baik digunakan untuk sumber gas untuk kebutuhan pupuk pertanian atau sumber BBM misalnya. Dan Nuklir setelah belajar pengembangan di BATAN dan mendirikan Reaktor Nuklir untuk listrik dalam waktu dekat, barulah 20 tahun lagi bisa memanfaatkannya untuk ‘bahan bakar’ kapal-kapal induk dan kapal selam NKRI untuk mengamankan wilayah dan perikanan NKRI....>>>


NKRI memiliki masa depan yang sangat cerah I:

http://yohans.wordpress.com/2008/03/24/nkri-memiliki-masa-depan-yang-sangat-cerah-i/#more-1
  

Dalam jangka panjang, lahan pertanian kita cukup untuk memenuhi kebutuhan energi dasar rakyat Indonesia.
Dalam waktu yang relative lama, seekor kuda bisa menghasilkan energi yang setara dengan daya 1 HP (Horse Power). Energi ini kira-kira setara dengan daya 746 watt. Berdasarkan hukum kekekalan energi, kuda juga membutuhkan energi dalam waktu yang relative lama setara daya sekitar 746 watt juga, kebutuhan ini kira-kira sebanding dengan berat tubuh kuda. Dengan asumsi berat kuda adalah 450 kg dan berat orang Indonesia rata-rata 60 kg, maka kebutuhan daya orang Indonesia dalam jangka waktu yang relative lama kira-kira setara dengan daya 100 watt saja.

Jadi untuk menggerakkan seluruh potensi kreativitas manusia NKRI hanya diperlukan daya sekitar 100 watt saja. Ini adalah kebutuhan energi dasar yang harus kita penuhi agar tumbuh segala imajinasi, apresiasi akan keindahan dan segala harmoni kehidupan. Dalam sehari tubuh kita memerlukan energi 2,4 kWh atau setara dengan 0,6 lt BBM saja. Angka ini didapat dari rata-rata genset untuk menghasilkan 4 kwh membutuhkan 1 lt BBM. Selama setahun, kebutuhan ini kira-kira setara dengan 872 kwh per orang per tahun atau total kebutuhan daya sekitar 22 GWe.

Sayangnya sampai saat ini belum ada teknologi yang memungkinkan mendistribusikan kebutuhan energi ke setiap sel penyusun tubuh selain menggunakan darah yang tentu saja lebih suka mengangkut glukosa. Tapi tidak perlu kuatir, karena Matahari dan tanaman semacam padilah yang akan mengerjakannya untuk kita. Kita tinggal menjaga lahan agar tetap bisa ditumbuh dengan segala kebutuhan unsur hara dan pengairan yang memadai.
Berapa Ha lahan yang dibutuhkan untuk memenuhi Energi ini? Apakah dalam jangka panjang, katakanlah dalam jangka waktu 300 tahun (seperti jangka waktu masa kejayaan dinasti Ming di Cina), lahan NKRI mampu memenuhi kebutuhan energi dasar 220 juta penduduk dan pertumbuhannya? Anggab saja kebutuhan energi dasar ini hanya dipenuhi oleh makanan beras dan umbi-umbian yang ditanam di 20% dari wilayah daratan yang luasnya mencapai 1,9 jt km2 atau setara dengan 5,7 % dari total 6,7 jt km2.

Mari kita tengok kembali kepada apa yang sudah Gusti Ingkang Murbeng Dumadi berikan melalui energi matahari yang menyinari wilayah NKRI, seperti dalam perhitungan kocak ala loedroek setahun yang lalu berikut :

Bagaimana mengukur daya yang disumbangkan oleh Matahari ke NKRI ? Alat yang paling efiesien untuk mengubah energi matahari ini adalah hasil engineering manusia yang berupa solar cell dengan kemampuan 4,6 kWh/m2/hari, atau setara dengan rata-rata daya 191,7 Watt (Jadi kalau mau ekstrim, 1 orang cukup dengan 1 m2 sudah bisa hidup he..he…) dalam jangka lama, secara rata-rata daya yang kita terima dari matahari yang bisa dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan setara dengan :
Daya(average long term) = 6,7 jt km2 x 191,7 W/m2
= 1.286.722 GWe

Potensi energi yang bisa dimanfaatkan tentu jauh lebih kecil dari angka tersebut, karena efisiensi alam lebih rendah dari pada mesin-mesin hasil rancang bangun anak manusia. Kenapa lebih rendah, karena memang kehidupan tidak melulu masalah efisiensi tinggi. Meskipun jika Tuhan mau, manusia tidak perlu makan sepanjang hayatnya, dengan pemanfaatan energi inti yang ditanam dalam tubuh manusia misalnya. Tapi toch inilah hidup, manusia mesti makan karbohidrat untuk memenuhi energinya, untuk mendapat itu dia musti menanam padi atau gandum, meskipun energinya sudah disumbangkan oleh Matahari. Malah Matahari seolah-olah buang-buang energi, dengan menyebarkan energinya kesegenap penjuru. Efisiensi 10% adalah angka yang masih optimis untuk mengukur total potensi energi terbarukan ini. Tapi biarlah, kita gunakan saja 10% ini agar nanti didapat angka potensi energi bumi yang membuat kita senang. Maka totalnya potensi energi yang bisa kita manfaatkan adalah 128.672 GWe.

Jadi dengan lahan 5,7% wilayah NKRI kita akan mendapatkan daya maksimum sebesar 7.928 GWe. Kita asumsikan berat beras hanyalah 10% dari total tumbuhan padi, maka angka maksimum daya yang dihasilkan tananam padi untuk luas lahan 38 juta Ha tersebut adalah 793 GWe. Angka ini jauh lebih besar daripada kebutuhan dasar tubuh rakyat NKRI yang saat ini mencapai 22 GWe saja dan tentu saja akan cukup bahkan untuk 300 tahun kedepan jika penduduk NKRI menjadi 3 Milyar jiwa.

Apakah angka ini cocok untuk hasil pertanian padi kita saat ini yang bisa menghasilkan beras 5 ton beras per Ha dengan masa produktif 2 kali setahun berarti menghasilkan 10 ton per Ha? Jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 220 juta kebutuhan energi rata-rata ideal adalah 2250 kkal/hari yang bisa dipenuhi dengan 250 gram beras dan tambahan lain-lain yang setara dengan 250 gram beras atau total menjadi setara dengan 0,5 kg beras ( Sebagai catatan ini mengindikasikan energi yang terkandung dalam 1 kg beras hampir setara dengan 1 lt BBM).

Untuk saat ini dengan hasil 10 ton beras per Ha per tahun, maka per m2 menghasilkan 1 kg beras per tahun. Untuk kebutuhan per orang setara dengan 0,5 kg beras maka dibutuhkan 183 m2 lahan per orang. Jadi untuk kebutuhan 220 juta penduduk, idealnya cukup dengan 4 juta Ha lahan. 4 juta Ha lahan ini akan menghasilkan daya sekitar 22 GWe, cukup untuk kebutuhan rakyat Indonesia.

Jika kita lihat perhitungan sebelumnya, 38 jt Ha akan menghasilkan maksimum 793 GWe, maka untuk 4 jt Ha bisa menghasilkan maksimum 76 GWe. Angka ini masih wajar, jadi kemungkinan besar 4 jt Ha lahan akan bisa menghasilkan lebih dari 10 ton beras pertahun per hektar, bahkan bisa jadi dengan teknologi pertanian yang mantap bisa dicapai hasil 30 ton beras per Ha per tahun. Jadi dengan kondisi saat ini, sebenarnya 4 juta Ha lahan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok NKRI.

Sebagai catatan saat ini kita memiliki luas lahan sawah 12 juta Ha yang 30% beralih peruntukan menjadi fungsi lain termasuk untuk perumahan. Jadi tinggal 8 juta Ha lahan sayah, yang sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan beras NKRI dan seharusnya bisa juga untuk memenuhi ekspor. Mungkin yang perlu diperbaiki adalah masalah pupuk, bibit, dan pengairannya saja.

Lebih jauh, idealnya saat ini petani per keluarga memiliki penghasilan 5 juta sebulan. Jika asumsi cost 50% dari revenue, berarti dibutuhkan revenue 10 juta sebulan atau 120 juta per tahun. Dengan asumsi harga beras 5000 per kg cukup, dibutuhkan rata-rata 2,4 Ha per KK. Artinya untuk memenuhi kebutuhan pokok NKRI cukup ditangani oleh 1,7 juta petani inti yang hidup layak yang bertanggung jawab menghidupi 8,4 juta jiwa keluarganya.

Dengan perluasan asumsi yang bergerak di bidang pertanian untuk sumber gizi sama dengan petani inti maka diperlukan juga 8,4 juta jiwa (termauk keluarganya) dan jumlah yang sama untuk nelayan 8,4 juta jiwa total 33,2 juta jiwa. Jika diperlukan jumlah yang sama untuk ke pengolahan produk pertanian 33,2 juta jiwa dan supportnya. Maka idealnya jumlah jiwa yang bergerak di bidang pertanian, perikanan dan produk turunannya cukup ditangani oleh 66,4 juta jiwa (Asumsi tiap KK ada 5 jiwa). Berarti komposisinya cukup 30 persen saja yang bergerak dibidang pertanian dan perikanan dari total 220 juta jiwa agar NKRI makmur.
Salam,
-yohan S-

NKRI memiliki masa depan yang sangat cerah II :

 
Yohan Suryanto
Dalam jangka panjang, sumber energi kita cukup untuk memenuhi kebutuhan energi listrik rakyat Indonesia yang makmur

Dalam pembahasan “NKRI memiliki masa depan yang sangat cerah I”, kita melihat bahwa kebutuhan energi dasar yang berupa bahan makanan, penggerak dasar kehidupan manusia Indonesia agar tumbuh segala imajinasi, apresiasi akan keindahan dan segala harmoni kehidupan, bisa tercukupi untuk mendukung kemakmuran NKRI dalam jangka panjang. Setidaknya untuk 300 tahun kedepan, sebuah durasi waktu yang setara dengan kejayaan dinasti Ming di Cina.

Kebutuhan tersebut bisa dipenuhi cukup dengan mengalokasikan maksimum 20% lahan daratan atau 5,7 % luas wilayah Indonesia keseluruhan. Dengan luas yang setara dengan 38 jt Ha lahan pertanian ini, akan didapat daya pokok yang berupa sumber makanan kira-kira sebesar 793 GWe. Dengan daya 100 watt per orang, sebenarnya luas lahan ini cukup untuk kebutuhan sampai 3 Milyar penduduk (Maksimum untuk 7,98 Milyar penduduk, tetapi sudah diperhitungkan juga untuk factor pengaman, gizi, dan realisasi kemajuan teknologi pertanian) penduduk NKRI dalam jangka waktu 300 tahun kedepan.

Jika kita berkaca pada Negara yang sudah maju seperti USA yang konsumsi energi listriknya tahun 2005 secara nasional mencapai 12.347 kWh perkapita pertahun, maka konsumsi energi listrik NKRI dalam jangka panjang harus ditingkatkan dari konsumsi saat ini yang mencapai 530 kWh per kapita pertahun menjadi setidaknya 12.347 kWh perkapita pertahun dalam jangka panjang agar tidak malu menyebut sebagai Negara makmur. Idealnya untuk saat ini, dengan penduduk sekitar 220 juta, diperlukan energi listrik sebesar 2.716.340 GWh pertahun. Dan untuk kebutuhan 3 Milyar penduduk dalam jangka panjang, diperlukan energi listrik sebesar 36.525.013 GWh pertahun

Jika kita lihat tulisan “Hitungan Energi Matahari”, potensi energi terbarukan untuk listrik di Indonesia dari potensi angin, bio diesel, ombak, dan air sungai yang realistis setara dengan daya 49 GWe. Energi panas bumi, berdasarkan data Menteri Energi Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro : Indonesia memiliki potensi energi panas bumi sebesar 27 GWe  atau 40 persen dari cadangan panas bumi dunia (11 Desember 2007,Antara). Dan berdasarkan tulisan “catatan stadium general on Nuclear Energi”, keseluruhan cadangan batubara dan uranium kita akan cukup untuk waktu kurang dari 100 tahun kedepan.  Maka dalam jangka panjang, sumber-sumber energi ini bahkan tidak akan mampu mendukung kemakmuran NKRI yang layak dengan jumlah penduduk seperti sekarang (220 juta orang) dalam 300 tahun kedepan seperti terlihat dalam tabel berikut.

Tabel 1 : Pemenuhan Energi jangka panjang ver 1.1


Kecuali berhasil mendaratkan orang-orang Indonesia di planet lain yang mengandung Uranium atau bisa menemukan energi fusi hidrogen, kita juga harus menemukan alternative solusi yang kira-kira realistis untuk dikembangkan dalam jangka panjang.

Melihat gambaran kenyataan tersebut, sebaiknya Batubara dan uranium secara strategis tidak kita manfaatkan 100% untuk kebutuhan listrik Negara NKRI yang makmur dalam 59 tahun kedepan. 

Karena itu berarti segala hutan kita diatas lahan batubara akan gundul, dan setelah itu tak punya cadangan uranium  lagi. Untuk mendukung kemakmuran selama 300 tahun, sumber-sumber energi ini harus di harmonisasikan dengan alternatif yang lain. 

Misalnya Batubara dan Uranium cukup untuk kebutuhan 30% dari kebutuhan ideal kemakmuran untuk mengantar menuju masyarakat makmur tahap 1 dalam jangka 50 tahun kedepan. Dan sisanya Batubara lebih baik digunakan untuk sumber gas untuk kebutuhan pupuk pertanian atau sumber BBM misalnya. 

Dan Nuklir setelah belajar pengembangan di BATAN dan mendirikan Reaktor Nuklir untuk listrik dalam waktu dekat, barulah 20 tahun lagi bisa  memanfaatkannya untuk ‘bahan bakar’ kapal-kapal induk dan kapal selam NKRI untuk mengamankan wilayah dan perikanan NKRI.

Lantas bagaimana jika kita belum berhasil menemukan energi fusi atau tidak bisa mencari uranium di planet lain, apakah kita masih bisa survive sebagai Negara makmur dalam 300 kedepan?

Matahari sudah dan terus menerus dengan tanpa perhitungan ekonomi memberikan pada kita daya sebesar 1.286.722 GWe yang mungkin bisa kita manfaatkan. Dengan pilihan teknologi yang efisien, kita bisa mengkonversinya menjadi sesuatu yang mencukupi dalam jangka panjang. Untuk kebutuhan masyarakat makmur, dengan jumlah penduduk 3 Milyar yang membutuhkan energi listrik sebesar  36.525.013 GWh per tahun akan cukup dipenuhi dengan minimum 4.170 GWe atau cukup 0,32% dari apa yang sudah diberikan oleh Matahari pada kita tersebut. Ini berarti, besar kemungkinan kita bisa memenuhi kembutuhan masyarakat NKRI makmur selama 300 tahun kedepan.

Berdasarkan masukan dari teman mailing list IA-ITB yang menyebutkan bahwa di Cina untuk reservasi energi digunakan bendungan, maka ini bisa dikombinasikan dengan apa yang sudah dikaruniakan oleh Gusti Ingkang Murbeng Dumadi tersebut. Saat ini PLTS masih relative mahal karena selain ketersedian Sel Surya dan juga kendala penyimpanan energi listrik yang berupa batere untuk kapasitas sangat tinggi. Dengan kombinasi ini diharapkan harga PLTSA (Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan Air) bisa ditekan sampai kira-kira setara dengan harga PLTA+Masif Sel Surya. Jadi kemungkinan mahalnya tidak akan berlipat-lipat, tetapi sekitar harga PLTA + Rp 275 per kWh.

Seandainya kita membangun PLTSA setelah 20 tahun kedepan untuk menunjang kemakmuran NKRI, kita memerlukan sistem bendungan untuk penyimpan energi surya. Karena kita hanya bisa mengambil energi surya disaat siang, tidak hujan, dan ada gradien dari saat matahari terbit sampai matahari tenggelam. Dengan asumsi 90 hari hujan per tahun, energi sel surya per m2 4,6 kWh perhari, maka untuk satu sistem PLTSA dengan energi 7.590 GWh per tahun (atau daya sekitar 1,15 GWe) dibutuhkan sel surya dengan luas 2×3 km2. Dengan system ini, dibutuhkan luas sel surya untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang sesuai dengan tabel 2 berikut.


Terlihat dari tabel 2 tersebut dari sisi sel surya, tidak ada masalah dan hanya akan menambah investasi sebesar Rp 275 per kWh dan dari sisi lahan masih realistis, masih bisa dicarikan lahan ditepi-tepi pantai yang gersang atau memiliki kontur yang agak terjal yang cocok untuk bendungan. Sel surya ini dibentangkan diatas bendungan yang dibangun yang berfungsi sebagai reservoir.
Tantangannya adalah untuk menyimpan energi matahari yang dihasilkan oleh sel surya tersebut agar distribusi listrik bisa dilakukan sesuai kebutuhan saat malam hari dan disaat hujan. Salah satu caranya adalah dengan membangun bendungan reservoir energi sebagai pengganti sistem batere yang sangat mahal untuk kapasitas raksasa ini. Berapa besar bendungan yang kita perlukan?  Dari rumus energi potensial :
E = mgh.

Jika kita ingin reservoir tersebut cukup untuk cadangan selama 2 hari dibutuhkan sistem yang mampu menampung 42 GWh. Dengan m= 1000 kg/m3, g= 9,8 m/s2 dan ketinggian bendungan 100 m, kaka dibutuhkan luas bendungan untuk satu sistem ini sebesar 153 km2 atau 10×15 km2 (sekitar 20% luas Jakarta). Kebutuhan bendungan ini memang sangat luas dibanding sistem utamanya, dan mungkin baru layak kita bangun setelah 20 tahun kedepan (Misalnya bendungan untuk melindungi pantai strategis dari kenaikan tinggi laut, seperti di Belanda). Tapi setidaknya kita memiliki solusi untuk kemakmuran NKRI dalam 300 kedepan.

Dengan sistem PLTSA tersebut, untuk mendukung kemakmuran NKRI dengan jumlah penduduk saat ini atau mengikuti pertumbuhan penduduk kedepan, dibutuhkan jumlah sistem seperti dalam tabel 3 berikut.


Melihat kenyataan tersebut, untuk 3 milyar penduduk diperlukan 4.812 sistem bendungan dengan luas yang memakan 38,69 % dari luas daratan NKRI, ini adalah sinyal kita harus menekan angka pertumbuhan penduduk dibawah 0,51% pertahun. Dengan demikian dalam 300 tahun kedepan akan ada 1 Milyar penduduk Indonesia, dan kita memerlukan sistem bendungan yang menghabiskan 13,24 % wilayah daratan atau jika dibangun juga ditepian pantai akan menghabiskan 4 % dari wilayah total wilayah NKRI.

Dengan penduduk 1 Milyar, dengan dukungan energi pokok dan gizi yang menghabiskan lahan 20% wilayah daratan, dan energy listrik yang menghabiskan lahan 4% – 13,24% wilayah daratan, NKRI mampu menjadi Negara makmur bahkan untuk masa setidaknya 300 tahun.
Salam,
-yohan S-

Uang dan Emas

Cibinong, 15 Agustus 2010
http://yohans.wordpress.com/2010/09/18/uang-dan-emas/

Menjadikan emas sebagai alat tukar dilingkungan kelompok tertentu atau region tertentu dewasa ini mungkin sah-sah saja. Ini seperti kembali kemasa ketika emas menjadi alat tukar dan juga sebagai backup uang sebelum tahun 1970. Dalam lingkungan yang lebih sempit nilai intrinksik emas mungkin saja bisa mewakili nilai intrinksik dari barang-barang yang diperlukan oleh sekelompok orang atau di region terbatas. 

Hal ini karena keberadaan emas yang melimpah disuatu region atau group menyebabkan total nilai intriksi emas disuatu lingkungan tertentu bisa jadi mencukupi untuk menilai nilai intriksi barang-barang yang diperdagangkan. Tetapi untuk kepentingan yang lebih luas apalagi kepentingan global, secara teknis saat ini emas tidak memungkinkan sebagai alat tukar.

Perdagangan dengan emas (uang real) secara teoritis tidak mungkin. Hal ini karena sejak jaman revolusi industri, kebutuhan manusia dengan 7 Milyar manusianya sudah sedemikian kompleksnya dibanding masyarakat awal yang berbasis pada pertanian. Barang-barang yang bernilai tidak lagi terbatas pada kebun tomat, kebun padi dan kelapa. Barang-barang yang bernilai bermunculan dan belum pernah disaksikan sebelum kelahiran revolusi industry. Sebut saja, pesawat udara, gedung megah yang menjulang ke langit setengah kilometer tingginya, komputer, chipset, smart phone dan lain-lain.

Total nilai intrinksik emas seluruh dunia hanyalah sebagian kecil dari total nilai intriksi barang-barang yang akan diwakilinya. Secara matematis saat ini saja katakanlah total nilai intrinksik emas (nilai real pasaran) katakanlan = A
Total kebutuhan energy dunia nilainya     = B
Total kebutuhan besi                              = C
Total kebutuhan bahan makanan             = D
Total kebutuhan tembaga                        = E
Total nilai intriksi bangunan                     = F Dst.
Secara matematis pasti nilai intriksi A < A+B+C+D+F dst.

Okelah kalau gitu. Memang tidak mungkin emas sebagai barang komoditas sekaligus sebagai alat tukar real. Karena pada dasarnya jika suatu barang dijadikan komoditas dan sekaligus sebagai alat tukar, maka kejadiannya pasti seperti itu.  Secara matematis, nilai komoditas dari barang itu tidak mungkin bisa mengcover nilai komoditas dari dirinya sendiri ditambah nilai komoditas dari total barang-barang lainnya. 

Kita bisa saja berargumen cobalah emas jangan dijadikan barang komoditas, tetapi jadikan ia hanya sebagai uang atau alat tukar.

Marilah kita lihat saat ini, anggab saja bank sentral mampu mengumpulkan semua emas ditangan pemilik swasta, berapa emas yang bisa dijadikan uang. Saat ini total emas yang bisa dijadikan uang adalah sekitar 157.000 ton. Nilai intriksi emas ini adalah hanya 51.967 Trilyun rupiah. Jelas jauh lebih kecil dari nilai intriksi total barang-barang yang akan diperdagangkan diantara umat manusia. Jangankan untuk perdagangan antara semua umat manusia yang mencapai 7 Milyar, untuk perdagangan antar negara saja nilai intriksi emas masih belum mencukupi.

Untuk saat ini nilai intriksi emas hanya bisa mengkover 46% volume perdagangan dunia, belum lagi ditahun-tahun yang akan datang. Praktis pertukaran uang real menjadi tidak memungkinkan. Yang terjadi paling-paling over value dari nilai emas saat ini, alias uang emas akan bernilai sekian kali lipat dari nilai intriksiknya. Dan over value ini akan terus naik, mengingat pertumbuhan cadangan emas merangkak seperti keong dibanding pertumbuhan penduduk dan kebutuhan perdagangan global.

Begitu juga untuk Indonesia, alat tukar emas bukanlah pilihan yang bijak. Hal ini mengingat cadangan emas Indonesia hanya sebagian kecil dari cadangan emas dunia, sementara kebutuhan penduduk Indonesia yang mencapai 238 juta jiwa bukan hanya melulu masalah emas. Jika mata uang emas diperlakukan, bagaimana Indonesia akan menilai cadangan emas yang dimilikinya dengan total nilai ekonomi dan segala kekayaan pendukuk dan alam yang belum digali itu. Karena nilai intriksik emas diharapkan sama disemua bagian di dunia, maka bandingkan dengan pihak swasta yang menimbun emas berton-ton diluar sana, tiba-tiba memiliki kekayaan yang lebih besar dari total nilai emas dus semua perekonomian Indonesia yang sebelumnya nggak.

Jadi untuk kebutuhan mata uang global dan mata uang Indonesia, akan lebih bijak jika mata uang ini dari sisi bahan tidak terbatas, tetapi dibatasi oleh kepentingan perdagangan antar manusia itu sendiri. Yaitu angka yang disepakati.
Salam,
-yohan-

Al-Quran dan Ilmu Nuklir

http://tsani-oke.blogspot.com/2011/01/al-quran-dan-ilmu-nuklir.html
 
Kawan pernahkan kalian pikirkan atau sudah pernahkan ada tersirat dalam pikiran kalian pertanyaan, hal apakah yang paling kecil di bumi ini? Nah, dalam postingan ini akan dibahas mengenai perkembangan teknologi dan hal yang di terdapat dalam Al-Quran mengenai teknologi yang akan dibahas nantinya.

Untuk mempersingkat basa-basinya, mari kita mulai saja materinya mengenai, Al-Quran dan Ilmu Nuklir.




"Tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatu seberat atom di langit dan di bumi dan tidak pula yang lebih kecil maupun yang lebih besar dari itu, kecuali tercatat dalam kitab secara jelas."

Dalam ayat ini kita dapat melihat bahwasannya telah terbukti dengan nyata kebenaran bahwa ada suatu benda kecil yang pada mulanya ditemukan sekitar permulaan abad ke-20, ialah atom. Berbagai atom pada saat itu ditemukan seperti atom uranium, atom radium dan sebagainya yang pada saat itu terpecah dengan sendirinya.
 
Apa itu Uranium? Bahwa uranium adalah suatu unsur kimia yakni zat kimia yang sudah tidak bisa dibagi lagi menjadi zat kimia lain dalam sebuah tabel periodik yang dilambangkan oleh U dan bernomor atom 92 (angka yang menunjukan jumlah proton dalam dalam inti atom). Uranium merupakan sebuah zat logam berat, beracun, memiliki warna putih keperakan dan memiliki radioaktif yang alami.

(Tabel Periodik)

Apa itu radium? Radium adalah sebuah unsur kimia yang memiliki simbol Ra dan juga memiliki nomor atom 88. Radium memiliki warna hampir putih bersih, bedanya dengan uranium adalah radium ini mudah teroksidasi jika terkena atau terekspos dengan udara dan akan menjadi hitam. Radium ini memiliki tingkat radioaktivitas yang tinggi dengan isotop paling stabil.

Atom adalah suatu satuan dasar yang memiliki 3 massa di dalamnya (Pada atom uranium). Yakni:
1. Sebuah massa atom yang didalamnya mengeluarkan dan membawa arus listrik positif disebut Alfa.
2. Sebuah massa atom yang membawa arus listrik negatif yang disebut Beta.
3. Sebuah sinar yang memancar yang selanjutnya disebut sinar Gama.

Pada suatu keterangan disebutkan bahwa telah ditemukan pecahan yang lebih kecil dari atom,  hal ini dilakukan oleh seorang sarjana dari Akademi Berlin bernama Hahen dan Eshtrasman, yang mampu memecahkan atom uranium menjadi dua bagianbesar dan bagian yang kecil.

Pada awal telah disebutkan bahwa dalam Al-Quran pada 14 abad lalu bahwa adanya sebuah unsur terkecil yakni atom.

Itulah mungkin sedikit yang dapat disampaikan. Terus saksikan Belajar, Bukan Main-Main Semoga bermanfaat. Terima kasih atas kunjungannya ^_^

Al-Quran dan Ilmu Nuklir Reviewed by Muhammad Tsani Abdul Hakim on Rating: 4.5
Share on: Twitter, Facebook, Delicious, Digg, Reddit

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar