Jumat, 22 Juni 2012

......Tragedi Pembunuhan Syd.Usman RA..Dalam Tarikh Al Khulafa..>>...Kitab Tarikh Al Khulafa adalah salah satu dari kitab sejarah para khalifah yang sering diandalkan oleh para Salafiyun. Kitab ini merupakan karya seorang Ulama Sunni kenamaan yang tidak diragukan keilmuannya yaitu Al Hafiz Jalaludin As Suyuthi. Salah satu hal yang cukup mengherankan menarik adalah kitab ini tidak sedikitpun menyinggung Peran Abdullah bin Saba’ dalam pengepungan dan pembunuhan Usman. Hal ini sangat kontras sekali dengan para Salafiyun yang tidak henti-hentinya menebar dongeng Abdullah bin Saba’ sebagai faktor utama dalam tragedi pembunuhan Usman bin Affan. Begitulah memang dan Tulisan kali ini akan menunjukkan bahwa apa yang ada dalam kitab Tarikh Al Khulafa adalah serangan yang telak bagi para Salafiyun....>>..Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Abdurrahman As Sulami bahwa ketika Usman dikepung dia melihat kepada orang-orang yang mengepungnya kemudian berkata ”Aku meminta kalian bersumpah kepada Allah dan tidaklah aku meminta sumpah ini kecuali kepada Sahabat–sahabat Nabi SAW, Tidakkah kalian tahu bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda ’barang siapa yang mempersiapkan perbekalan bagi pasukan Usrah maka dia memperoleh surga’. Lalu saya mempersiapkannya. Bukankah kalian juga tahu bahwa Rasulullah SAW bersabda ’barang siapa yang menggali sumur Rumata maka dia akan masuk surga’. Lalu saya menggali sumur itu. Orang-orang yang mengepung Usman itu membenarkan apa yang ia katakan...>>....Surat Misterius Nah tibalah kita pada peristiwa yang memicu pengepungan dan pembunuhan Usman bin Affan RA yaitu setelah rombongan Muhammad bin Abu Bakar melakukan perjalanan ke Mesir mereka dikejutkan dengan adanya surat misterius dari pelayan Usman yang isinya sangat menggemparkan siapapun yang membacanya. Surat ini membuat rombongan Muhammad bin Abu Bakar kembali ke Madinah untuk meminta pertanggungjawaban Usman. Kalau sejarah versi Salafiyun mereka mengatakan bahwa surat tersebut adalah buatan orang-orang munafik pengikut Abdullah bin Saba’ sedangkan dalam Tarikh Al Khulafa 1/64 anda akan melihat versi yang benar-benar berbeda. Berikut kisah surat misterius tersebut...>>....Muhammad dan orang-orangnya pergi menuju Mesir. Setelah berjalan selama tiga hari mereka dikejutkan oleh seorang pelayan berkulit hitam yang menunggang Unta dan memukulnya dengan lecutan keras seolah-olah sedang dikejar atau mengejar seseorang. Sahabat-sahabat Muhammad bin Abu Bakar berkata ”ada apa denganmu seolah-olah engkau sedang dikejar atau mengejar seseorang?”. Orang itu berkata ”saya adalah pelayan amirul mukminin yang diperintahkan untuk menemui gubernur Mesir”. Salah seorang sahabat Muhammad bin Abu Bakar berkata”bukankah gubernur Mesir ada disini?”. Orang itu berkata ”bukan dia”. Muhammad bin Abu Bakar diberitahu kedatangan orang itu. Dia kemudian memanggilnya dan orang itupun dibawa menghadap Muhammad bin Abu Bakar. Dia berkata ”siapa engkau wahai pelayan”?. Orang itu menjawab ”saya adalah pelayan amirul mukminin” namun dia juga berkata ”saya adalah pelayan Marwan bin Hakam”. Kemudian orang-orang yang ada disitu memeriksanya dan akhirnya mereka mengetahui kalau dia adalah pelayan Usman....>>..Muhammad bin Abu Bakar berkata ”kepada siapa engkau diutus?”. Jawabnya ”saya diutus menemui gubernur Mesir”. Muhammad berkata ”dengan apa engkau diutus”. Jawabnya ”saya membawa sepucuk surat”. Muhammad bertanya ”Apakah kau membawa surat itu”. Orang itu menjawab ”tidak”. Mereka memeriksa orang itu, namun tidak ada surat yang dimaksud. Orang itu membawa kantong kulit kering yang di dalamnya ada sesuatu yang bergerak-gerak. Para sahabat Muhammad menggoncangkan kantong tersebut tetapi isinya tidak keluar juga. Akhirnya mereka menyobek kantong tersebut dan didalamnya ada surat yang dikirim Usman untuk Ibnu Abi Sarh. Muhammad bin Abu Bakar kemudian mengumpulkan orang anshar muhajirin dan beberapa orang lainnya. Lalu dia membuka surat tersebut di hadapan orang-orang dan di dalamnya tertulis...>>...Jika datang Muhammad bin Abu Bakar dan Fulan dan Fulan maka bunuhlah Mereka dan batalkan isi surat yang dia bawa. Dan tetaplah kamu bertugas pada jabatanmu sekarang hingga datang perintahku. Penjarakan orang-orang yang datang kepadaku yang mengatakan bahwa dia dizalimi olehmu, hingga aku perintahkan hal lain untukmu, insya Allah....>>...Setelah membaca surat tersebut, mereka sangat terkejut. Mereka bingung dan akhirnya kembali ke Madinah. Muhammad bin Abu Bakar menandai surat tersebut dengan tanda tangannya dan tanda tangan beberapa orang yang hadir bersamanya. Kemudian menyerahkan surat itu pada salah seorang diantara mereka. Di Madinah, mereka mengumpulkan Thalhah, Zubair, Ali, Sa’ad dan sahabat-sahabat Rasulullah yang lain. Kemudian mereka membuka surat itu serta menceritakan soal pelayan hitam tersebut. Mereka membacakan surat tersebut kepada orang yang hadir. Isi surat tersebut menjadikan tak ada seorangpun penduduk Madinah yang tidak membenci Usman. Hal ini juga menimbulkan kemarahan orang-orang yang mendukung Ibnu Mas;ud, Abu Dzar dan Ammar bin Yasir. Sahabat-sahabat Rasulullah kembali kerumahnya dan tidak ada seorangpun yang membaca surat tersebut yang tidak merasa jengkel...>>..Orang-orang kemudian mengepung Usman pada tahun 35 H. Muhammad bin Abu Bakar menarik dukungan dari bani Taim dan yang lainnya. Ketika melihat persitiwa itu Ali mengutus orang untuk menemui Thalhah, Zubair, Sa’ad dan Ammar serta sahabat-sahabat Rasulullah yang lain dari Ahlu Badar. Ali datang menemui Usman bersama surat dan pelayan hitam tersebut. Ali berkata ”apakah dia pelayanmu?”. Usman menjawab ”benar”. Ali berkata ”apakah ini untamu?”. Usman menjawab ”benar”. Ali bertanya ”Apakah engkau yang menulis surat ini” Usman menjawab ”tidak” . Dia bersumpah dengan nama Allah bahwa dia tidak menulis surat tersebut dan tidak pula menyuruh siapapun menulis surat itu serta dia sama sekali tidak tahu menahu tentang surat tersebut. Ali berkata ”Apakah ini stempelmu?”. Usman menjawab ”benar”. Ali berkata ”bagaimana bisa pelayanmu keluar dengan untamu dan dengan surat yang ada stempelmu namun kamu tidak mengetahuinya?”. Usman bersumpah dengan nama Allah bahwa dia tidak pernah menulis surat itu, tidak pula memerintahkan seorangpun untuk menuliskannya dan tidak pernah memerintahkan pelayan tersebut ke Mesir...>>...Kemudian Ali mendatangi istri Usman dan berkata kepadanya ”siapa yang membunuh Usman?”. Istri Usman berkata ”saya tidak tahu, ada dua orang yang masuk yang saya tidak tahu siapa , tapi Muhammad bin Abu Bakar masuk bersama kedua orang tersebut”. Dia menceritakan kepada Ali apa yang diperbuat Muhammad bin Abu Bakar. Kemudian Ali memanggil Muhammad dan menanyakan tentang yang diceritakan istri Usman. Muhammad bin Abu Bakar berkata ”dia tidak berdusta, demi Allah saya masuk ke kamarnya dan bermaksud membunuhnya. Tapi dia mengingatkanku dengan Ayahku. Maka saya berdiri dan bertobat kepada Allah. Demi Allah, saya tidak membunuhnya dan tidak pula menyentuhnya. Istri Usman berkata ”dia benar tapi dialah yang memasukkan mereka ke dalam rumah”...>>..Kitab Tarikh Al Khulafa ini sedikitpun tidak menyebutkan soal Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya yang munafik dalam tragedi pembunuhan Usman. Bahkan kitab ini memuat berbagai kekurangan Usman dalam pemerintahannya yang menjadi pemicu pengepungan dan pada akhirnya pembunuhan Usman. Jadi kita melihat sisi yang berimbang antara Usman yang terkepung dan mereka yang mengepungnya. Tentu saja versi Al Hafiz As Suyuthi dalam Tarikh Al Khulafa berbeda jauh dengan versi para Salafiyun yang hanya menampilkan posisi Usman sebagai orang tidak bercacat sedikitpun dan menampilkan para pengepung Usman sebagai pemberontak yang munafik pengikut Abdullah bin Saba’. Para salafiyun memang suka mendistorsi sejarah demi menutup-nutupi sejarah hitam bahkan para Salafiyun itu tidak segan-segan menuduh sejarah yang berbeda dengan versi mereka adalah sejarah buatan orientalis dan syiah yang sesat...>>...Siapakah yang bertanggung jawab dalam tragedi pembunuhan Usman?. Usmankah?, Muhammad bin Abu Bakar? Para pengepung yang diantaranya ada para Sahabat Nabi?. Mungkin kita tidak perlu mencari-cari siapa pastinya yang bertanggung-jawab. Yang perlu diingat adalah Membunuh seorang Muslim itu haram hukumnya sehingga siapapun yang membunuh Usman maka ialah yang akan menanggung dosanya tidak peduli siapapun dia. Selain itu tidak bisa pula seenaknya mengatakan kalau semua para pengepung Usman berniat membunuhnya, bisa jadi para sahabat yang ikut mengepung Usman hanya menginginkan Usman menindak tegas siapa si pengirim surat misterius, atau hanya ingin Usman bertindak tegas untuk mencopot para penjabat Usman yang bertindak zalim atau mungkin pengepung Usman yang lain hanya ingin Usman turun dari jabatannya.Yah Hanya Tuhan Yang Tahu ...>>.... Memang masih ada yang mengganjal... Sebab Syd Utsman RA tidak menulis Surat..dan tidak juga menyuruh hamba sahayanya... untuk mengantarkan Surat kepada... konon Gubernur Mesur yang seharusnya diganti itu.... >>> Ini masih ada kemungkinan .... pihak disekeliling Syd Utsman RA yang menyususp dan berkhianat....????....>>> Mungkin bilamana dibuka sejarah ini...misterius ini.... akan terbongkar benang merahnya.....>>>.. Sayangnya masih ada yang perlu diperjelas... Siapakah yang menulis Surat tersebut... dan atas izin atau perintah.. siapa...???? >>> Mungkin ada baiknya Sejarah dibuka... demi kemashlahatan Ummat... dan kita luruskan Sejarah Ummat ini agar perselisihan faham dan timbulnya berbagai fitnah dan tafsir yang mungkin ... salah... atau berakibat... kita berperasangka..salah...??? Semoga Allah menuntun kita dijalan yang lurus..dan dengan ridhaNya kita dibimbing dijalan Kebenaran Allah SWT dan Cahaya Islam yang Benar....>> aamiin


Tragedi Pembunuhan Usman Dalam Tarikh Al Khulafa

Tragedi Pembunuhan Usman Dalam Tarikh Al Khulafa

Kitab Tarikh Al Khulafa adalah salah satu dari kitab sejarah para khalifah yang sering diandalkan oleh para Salafiyun. Kitab ini merupakan karya seorang Ulama Sunni kenamaan yang tidak diragukan keilmuannya yaitu Al Hafiz Jalaludin As Suyuthi. Salah satu hal yang cukup mengherankan menarik adalah kitab ini tidak sedikitpun menyinggung Peran Abdullah bin Saba’ dalam pengepungan dan pembunuhan Usman. Hal ini sangat kontras sekali dengan para Salafiyun yang tidak henti-hentinya menebar dongeng Abdullah bin Saba’ sebagai faktor utama dalam tragedi pembunuhan Usman bin Affan. Begitulah memang dan Tulisan kali ini akan menunjukkan bahwa apa yang ada dalam kitab Tarikh Al Khulafa adalah serangan yang telak bagi para Salafiyun :mrgreen:
.
Sahabat Nabi Ikut Mengepung
Sebelumnya kami telah menuliskan bahwa Para sahabat Nabi ikut serta dalam pengepungan rumah Khalifah Usman RA. Hal ini ternyata juga dapat dilihat dalam kitab Tarikh Al Khulafa 1/61
وأخرج البخاري عن أبي عبد الرحمن السلمي أن عثمان حين حوصر أشرف عليهم فقال: أنشدكم بالله ولا أنشد إلا أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ألستم تعلمون أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: من جهز جيش العسرة فله الجنة فجهزتهم ألستم تعلمون أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: من حفر بئر رومة فله الجنة؟ فحفرتها فصدقوه بما قال.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Abdurrahman As Sulami bahwa ketika Usman dikepung dia melihat kepada orang-orang yang mengepungnya kemudian berkata ”Aku meminta kalian bersumpah kepada Allah dan tidaklah aku meminta sumpah ini kecuali kepada Sahabat–sahabat Nabi SAW, Tidakkah kalian tahu bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda ’barang siapa yang mempersiapkan perbekalan bagi pasukan Usrah maka dia memperoleh surga’. Lalu saya mempersiapkannya. Bukankah kalian juga tahu bahwa Rasulullah SAW bersabda ’barang siapa yang menggali sumur Rumata maka dia akan masuk surga’. Lalu saya menggali sumur itu. Orang-orang yang mengepung Usman itu membenarkan apa yang ia katakan.
Al Hafiz Jalaludin As Suyuthi mengutip hadis riwayat Bukhari dimana Usman RA meminta kesaksian mereka yang mengepungnya atas keutamaan-keutamaan yang ia miliki. Perhatikan kata-kata yang dicetak tebal, kata-kata itu dengan jelas menunjukkan bahwa Usman meminta kesaksian sahabat-sahabat Nabi yang ikut mengepungnya. Hadis di atas dapat dilihat dalam Shahih Bukhari 4/13 hadis no 2778.
Tentu saja riwayat ini menolak semua omong kosong yang menyatakan kalau dalang pengepungan Usman adalah Abdullah bin Saba’. Apakah para sahabat Nabi itu dengan mudahnya dipermainkan oleh seorang Abdullah bin Saba’. Sepertinya para Salafiyun itu harus berhenti untuk membodohi orang awam dengan menutup-nutupi sejarah yang sudah hitam. Cukup terima apa adanya dan tidak perlu mendistorsi sejarah demi melindungi doktrin generasi emas para Sahabat Nabi. :(
.
.
Pandangan Az Zuhri
Tidak perlu salah paham, saya tidak menjelek-jelekkan siapapun. Cukup kita menerima apa yang sudah terjadi. Apakah sulit untuk menerima kalau para Sahabat Nabi bisa melakukan kekeliruan yang terkadang berakibat fatal. Bukankah tidak ada satupun dalil yang menyatakan kalau para Sahabat Nabi itu selalu berada dalam kebenaran. Mari kita lihat apa yang dikatakan oleh Az Zuhri seorang Ulama hadis terkenal yang dikutip dalam Tarikh Al Khulafa 1/63
قال الزهري ولي عثمان الخلافة اثنتي عشرة سنة يعمل ست سنين لا ينقم الناس عليه شيئاً وإنه لأحب إلى قريش من عمر بن الخطاب لأن عمر كان شديداً عليهم فلما وليهم عثمان لان لهم ووصلهم ثم توانى في أمرهم واستعمل أقرباءه وأهل بيته في الست الأواخر وكتب لمروان بخمس إفريقية وأعطى أقرباءه وأهل بيته المال وتأول في ذلك الصلة التي أمر الله بها وقال إن أبا بكر وعمر تركا من ذلك ما هو لهما وإن أخذته فقسمته في أقربائي فأنكر الناس عليه ذلك أخرجه ابن سعد.
Az Zuhri berkata ”Usman memangku khilafah selama dua belas tahun. Selama enam tahun pemerintahannya tidak ada seorang pun yang menyatakan kebencian kepadanya. Sebab dia adalah orang yang lebih disenangi orang Quraisy daripada Umar bin Khattab  sebab Umar sangat keras dan tegas kepada mereka. Ketika Usman berkuasa, dia bersikap lunak kepada mereka dan menyambungkan semua hubungan dengan mereka. Namun kemudian setelah ia bersikap lamban dalam menyelesaikan perkara mereka. Lalu dia mengangkat kerabat-kerabat dekatnya dalam enam tahun terakhir. Dia memberi kekuasaan kepada Marwan seperlima dari wilayah Afrika. Dia juga memberikan harta kepada kerabat-kerabat dekatnya dari Baitul Mal. Dia menafsirkan ini sebagai hubungan tali silaturahmi seperti yang Allah perintahkan. Dia berkata ”sesungguhnya Abu Bakar dan Umar tidak mengambil hak mereka. Namun saya mengambil apa yang menjadi hak saya dan saya bagikan kepada saudara-saudara dekatku”. Orang-orang pada saat itu mengingkarinya, ini diriwayatkan oleh Ibnu Saad.
saya katakan : Az Zuhri seorang Ulama kebanggaan kaum Salafiyun tidak segan-segan mengatakan apa yang dilakukan Usman dalam pemerintahannya. Jika dilihat dengan baik, sebenarnya apa yang dilakukan oleh Usman yaitu mengangkat kerabat-kerabat dekatnya dalam kekuasaan agak bernuansa nepotisme, benarkah?. Silakan pikirkan sendiri
.
.
Pandangan Ibnu Musayyab
Sebelum Az Zuhri, seorang tabiin yang terkenal keilmuannya Said bin Al Musayyab juga mengatakan hal yang sama. Lebih tepatnya Az Zuhri hanya mengulang apa yang ia dapatkan dari Ibnu Musayyab. Lihat Tarikh Al Khulafa 1/64
وأخرج ابن عساكر من وجه آخر عن الزهري قال: قلت سعيد بن المسيب: هل أنت مخبري كيف كان قتل عثمان وما كان شأن الناس وشأنه؟ ولم خذله أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم؟
Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalur yang lain dari Az Zuhri yang berkata ”saya bertanya pada Said bin Al Musayyab ’apakah anda bisa menceritakan kepadaku bagaimana Usman dibunuh dan bagaimana sikap dia dan sikap manusia, serta mengapa Sahabat-sahabat Rasulullah tidak membelanya?.
Tanggapan saya : Sepertinya dalam pandangan Az Zuhri sahabat-sahabat Rasulullah SAW tidak membela Usman. Seandainya pandangan Az Zuhri ini salah, maka sudah tentu Ibnu Musayyab yang terkenal keilmuannya itu akan membantah Az Zuhri. Anehnya alih-alih menyalahkan Az Zuhri, Ibnu Musayyab malah memberikan alasan bahwa banyak sahabat Nabi yang tidak menyukai pemerintahan Usman. Sepertinya Ibnu Musayyab membenarkan anggapan Az Zuhri bahwa para sahabat tidak membela Usman. Berikut apa yang dikatakan Ibnu Musayyab
فقال ابن المسيب: قتل عثمان مظلوماً ومن قتله كان ظالماً ومن خذله كان معذوراً فقلت: كيف كان ذلك؟ قال إن عثمان لما ولي كره ولايته نفر من الصحابة لأن عثمان كان يحب قومه فولى الناس اثنتي عشرة سنة وكان كثيراً ما يولي بني أمية ممن لم يكن له مع رسول الله صلى الله عليه وسلم صحبة فكان يجيء من أمرائه ما ينكره أصحاب محمد وكان عثمان يستعتب فيهم فلا يعزلهم وذلك في سنة خمس وثلاثين فلما
Ibnu Musayyab berkata ”Sesungguhnya ketika Usman memerintah, ada sebagian sahabat yang tidak suka pemerintahannya sebab Usman lebih condong kepada kaumnya. Dia menjabat khalifah selama dua belas tahun. Yang diangkat sebagai pejabat pemerintahan kebanyakan berasal dari bani Umayyah yang tidak pernah hidup bersama Rasulullah SAW. Orang-orang yang menjabat itu tidak disenangi oleh para Sahabat Rasulullah. Usman dicela oleh para sahabat karena mengangkat mereka tetapi Usman tidak memecat mereka. Ini terjadi pada tahun 35 H.
Tanggapan saya : Tidak hanya itu, bahkan Ibnu Musayyab menceritakan sesuatu yang lebih berat yang terjadi pada pemerintahan Usman. Di antaranya pengangkatan Abdullah bin Abi Sarh dan percekcokan Usman dengan Ibnu Mas’ud, Abu Dzar dan Ammar bin Yasir. Percekcokan ini bukan masalah biasa dan sepertinya merupakan masalah besar sampai-sampai kabilah-kabilah Ibnu Mas’ud, Abu Dzar dan Ammar bin Yasir menyimpan dendam terhadap Usman. Inti dari pernyataan Ibnu Musayyab adalah Para sahabat memang berselisih dengan Usman tentang apa-apa yang ia lakukan dalam pemerintahannya. Anehnya para Salafiyun sering berakrobat kalau hal ini hanyalah sejarah rekaan orientalis dan distorsi orang-orang sesat. Padahal cerita-cerita ini terdapat dalam Tarikh Al Khulafa 1/64 dimana Al Hafiz As Suyuthi hanya mengutip perkataan Ibnu Musayyab. Jadi yang orientalis dan sesat itu sebenarnya siapa? As Suyuthi atau Ibnu Musayyab. Inilah kata-kata Ibnu Musayyab tersebut
كان في الست الأواخر استأثر بني عمه فولاهم وما أشرك معهم وأمرهم بتقوى الله فولى عبد الله ابن أبي سرح مصر فمكث عليها سنين فجاء أهل مصر يشكونه ويتظلمون منه وقد كان قبل ذلك من عثمان هنأة إلى عبد الله بن مسعود وأبي ذر وعمار بن ياسر فكانت بنو هذيل وبنو زهرة في قلوبهم ما فيها لحال ابن مسعود وكانت بنو غفار وأحلافها ومن غضب لأبي ذر في قلوبهم ما فيها وكانت بنو مخزوم قد حنقت على عثمان لحال عمار بن ياسر
Saat enam tahun terakhir Usman lebih mengutamakan anak-anak pamannya, banyak diantara mereka yang diangkat sebagai pejabat juga. Dia memerintahkan mereka untuk bertakwa kepada Allah SWT. Dia mengangkat Abdullah bin Abi Sarh menjadi gubernur Mesir. Dia menjabat selama dua tahun. Orang-orang Mesir datang mengadukan masalah yang mereka hadapi dan mereka merasa dizalimi oleh Abdullah bin Abi Sarh. Sedangkan sebelumnya telah terjadi percekcokan antara Usman dan Ibnu Mas’ud, Abu Dzar Al Ghiffari dan Ammar bin Yasir. Oleh sebab itu ada semacam bara yang menggumpal di kalangan bani Hudzail dan Bani Zuhrah terhadap Usman atas perlakuannya kepada Ibnu Mas’ud. Bani Ghifar dan sekutu-sekutunya serta mereka yang membela Abu Dzar juga menyimpan dendam kepada Usman. Bani Makhzum juga merasa tercekik melihat apa yang dilakukan Usman terhadap Ammar bin Yasir.
saya berkata : Selain itu Ibnu Musayyab juga mengatakan kalau para Sahabat besar seperti Thalhah, Aisyah dan Ali juga ikut mengkritik pemerintahan Usman.
فخرج من أهل مصر سبعمائة رجل فنزلوا المسجد وشكوا إلى الصحابة في مواقيت الصلاة ما صنع ابن أبي سرح بهم فقام طلحة بن عبيد الله فكلم عثمان بكلام شديد وأرسلت عائشة رضي الله عنها إليه فقالت: تقدم إليك أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم وسألوك عزل هذا الرجل فأبيت؟ فهذا قد قتل منهم رجلاً فأنصفهم من عاملك ودخل عليه على بن أبي طالب فقال إنما يسألونك رجلا مكان رجل وقد ادعوا قبله دماً فأعزله عنهم واقض بينهم فإن وجب عليه حق فأنصفهم منه
Sekitar 700 orang Mesir datang ke Madinah. Mereka memasuki Masjid Nabawi. Mereka mengadukan kepada para sahabat di waktu-waktu shalat mengenai perlakuan jahat Abdullah bin Abi Sarh. Thalhah bin Ubadillah berdiri dan mengucapkan perkataan yang sangat kasar kepada Usman. Aisyah kemudian mengirim surat kepada usman yang isinya ”Sahabat Rasulullah datang kepadamudan memintamu memecat orang itu, namun kamu tidak mau memecatnya. Padahal salah seorang diantara mereka telah dibunuh oleh pejabat yang kamu angkat, maka berlaku adillah kamu”. Ali juga datang kepada Usman dan berkata ”Sesungguhnya mereka memintamu untuk menggantikan orang itu dengan orang lain dan mereka mengatakan bahwa pejabatmu itu telah menumpahkan darah. Maka pecatlah orang itu dan putuskanlah diantara mereka. Jika ada hal yang wajib diberlakukan padanya maka berlaku adillah”.
Saya katakan : Semua keterangan ini sudah cukup untuk menggambarkan situasi pemerintahan Usman pada saat itu dimana terdapat perselisihan yang besar antara para Sahabat Nabi dengan sang khalifah Usman. Pada akhirnya Usman bersedia memecat Abdullah bin Abi Sarh dan memberikan pilihan bagi orang-orang Mesir untuk mengangkat gubernur bagi mereka. Merekapun mengusulkan Muhammad bin Abu Bakar sebagai gubernur dan Usman menyetujuinya.
.
.
Surat Misterius
Nah tibalah kita pada peristiwa yang memicu pengepungan dan pembunuhan Usman bin Affan RA yaitu setelah rombongan Muhammad bin Abu Bakar melakukan perjalanan ke Mesir mereka dikejutkan dengan adanya surat misterius dari pelayan Usman yang isinya sangat menggemparkan siapapun yang membacanya. Surat ini membuat rombongan Muhammad bin Abu Bakar kembali ke Madinah untuk meminta pertanggungjawaban Usman. Kalau sejarah versi Salafiyun mereka mengatakan bahwa surat tersebut adalah buatan orang-orang munafik pengikut Abdullah bin Saba’ sedangkan dalam Tarikh Al Khulafa 1/64 anda akan melihat versi yang benar-benar berbeda. Berikut kisah surat misterius tersebut
فقال لهم اختاروا رجلا أوليه عليكم مكانه فأشار الناس عليه بمحمد بن أبي بكر فقالوا استعمل علينا محمد بن أبي بكر فكتب عهده وولاه وخرج معهم عدد من المهاجرين والأنصار ينظرون فيما بين أهل مصر وابن أبي سرح
Usman kemudian berkata kepada mereka ”pilihlah orang yang kalian sukai dan akan saya jadikan ia pemimpin bagi kalian sebagai pengganti Abdullah bin Abi Sarh. Orang-orang itu meminta Muhammad bin Abu Bakar. Usman kemudian menulis keputusan untuk mengangkat Muhammad bin Abu Bakar sebagai gubernur. Di saat itu ada beberapa muhajirin dan anshar yang melihat apa yang terjadi antara penduduk Mesir dan Ibnu Abi Sarh.
فخرج محمد ومن معه فلما كان على مسيرة ثلاثة أيام من المدينة إذا هم بغلام أسود على بعير يخبط البعير خبطاً كأنه رجل يطلب أو يطلب فقال له أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم ما قصتك وما شأنك؟ كأنك هارب أو طالب فقال لهم أنا غلام أمير المؤمنين وجهني إلى عامل مصر فقال له رجل: هذا عامل مصر قال ليس هذا أريد وأخبر بأمره محمد بن أبي بكر فبعث في طلبه رجلا فأخذه فجاء به إليه فقال غلام من أنت فأقبل مرة يقول أنا غلام أمير المؤمنين ومرة يقول أنا غلام مروان حتى عرفه رجل أنه لعثمان
Muhammad dan orang-orangnya pergi menuju Mesir. Setelah berjalan selama tiga hari mereka dikejutkan oleh seorang pelayan berkulit hitam yang menunggang Unta dan memukulnya dengan lecutan keras seolah-olah sedang dikejar atau mengejar seseorang. Sahabat-sahabat Muhammad bin Abu Bakar berkata ”ada apa denganmu seolah-olah engkau sedang dikejar atau mengejar seseorang?”. Orang itu berkata ”saya adalah pelayan amirul mukminin yang diperintahkan untuk menemui gubernur Mesir”. Salah seorang sahabat Muhammad bin Abu Bakar berkata”bukankah gubernur Mesir ada disini?”. Orang itu berkata ”bukan dia”. Muhammad bin Abu Bakar diberitahu kedatangan orang itu. Dia kemudian memanggilnya dan orang itupun dibawa menghadap Muhammad bin Abu Bakar. Dia berkata ”siapa engkau wahai pelayan”?. Orang itu menjawab ”saya adalah pelayan amirul mukminin” namun dia juga berkata ”saya adalah pelayan Marwan bin Hakam”. Kemudian orang-orang yang ada disitu memeriksanya dan akhirnya mereka mengetahui kalau dia adalah pelayan Usman.
فقال له محمد إلى من أرسلت قال إلى عامل مصر قال بماذا قال برسالة قال معك كتاب قال لا ففتشوه فلم يجدوا معه كتاباً وكانت معه إداوة قد يبست فيها شيء يتقلقل فحركوه ليخرج فلم يخرج فشقوا الإداوة فإذا فيها كتاب من عثمان إلى ابن أبي سرح فجمع محمد من كان عنده من المهاجرين والأنصار وغيرهم ثم فك الكتاب بمحضر منهم فإذا فيه:
Muhammad bin Abu Bakar berkata ”kepada siapa engkau diutus?”. Jawabnya ”saya diutus menemui gubernur Mesir”. Muhammad berkata ”dengan apa engkau diutus”. Jawabnya ”saya membawa sepucuk surat”. Muhammad bertanya ”Apakah kau membawa surat itu”. Orang itu menjawab ”tidak”. Mereka memeriksa orang itu, namun tidak ada surat yang dimaksud. Orang itu membawa kantong kulit kering yang di dalamnya ada sesuatu yang bergerak-gerak. Para sahabat Muhammad menggoncangkan kantong tersebut tetapi isinya tidak keluar juga. Akhirnya mereka menyobek kantong tersebut dan didalamnya ada surat yang dikirim Usman untuk Ibnu Abi Sarh. Muhammad bin Abu Bakar kemudian mengumpulkan orang anshar muhajirin dan beberapa orang lainnya. Lalu dia membuka surat tersebut di hadapan orang-orang dan di dalamnya tertulis
إذا أتاك محمد وفلان وفلان فاحتل في قتلهم وأبطل كتابه وقر على عملك حتى يأتيك رأيي واحبس من يجيء إلى يتظلم منك ليأتيك رأيي في ذلك إن شاء الله تعالى
Jika datang Muhammad bin Abu Bakar dan Fulan dan Fulan maka bunuhlah Mereka dan batalkan isi surat yang dia bawa. Dan tetaplah kamu bertugas pada jabatanmu sekarang hingga datang perintahku. Penjarakan orang-orang yang datang kepadaku yang mengatakan bahwa dia dizalimi olehmu, hingga aku perintahkan hal lain untukmu, insya Allah.
فلما قرأوا الكتاب فزعوا وأزمعوا فرجعوا إلى المدينة وختم محمد الكتاب بخواتيم نفر كانوا معه ودفع الكتاب إلى رجل منهم وقدموا المدينة فجمعوا طلحة والزبير وعلياً وسعداً ومن كان من أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم ثم فضوا الكتاب بمحضر منهم وأخبروهم بقصة الغلام وأقرأوهم الكتاب فلم يبق أحد من أهل المدينة إلا حنق على عثمان وزاد ذلك من كان غضب لابن مسعود وأبي ذر وعمار بن ياسر حنقاً وغيظاً وقام أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم فلحقوا بمنازلهم ما منهم أحد إلا وهو مغتم لما قرأوا الكتاب
Setelah membaca surat tersebut, mereka sangat terkejut. Mereka bingung dan akhirnya kembali ke Madinah. Muhammad bin Abu Bakar menandai surat tersebut dengan tanda tangannya dan tanda tangan beberapa orang yang hadir bersamanya. Kemudian menyerahkan surat itu pada salah seorang diantara mereka. Di Madinah, mereka mengumpulkan Thalhah, Zubair, Ali, Sa’ad dan sahabat-sahabat Rasulullah yang lain. Kemudian mereka membuka surat itu serta menceritakan soal pelayan hitam tersebut. Mereka membacakan surat tersebut kepada orang yang hadir. Isi surat tersebut menjadikan tak ada seorangpun penduduk Madinah yang tidak membenci Usman. Hal ini juga menimbulkan kemarahan orang-orang yang mendukung Ibnu Mas;ud, Abu Dzar dan Ammar bin Yasir. Sahabat-sahabat Rasulullah kembali kerumahnya dan tidak ada seorangpun yang membaca surat tersebut yang tidak merasa jengkel.
وحاصر الناس عثمان سنة خمس وثلاثين وأجلب عليه محمد بن أبي بكر ببني تيم وغيرهم فلما رأى ذلك علي بعث إلى طلحة والزبير وسعد وعمار ونفر من الصحابة كلهم بدري ثم دخل على عثمان ومعه الكتاب والغلام والبعير فقال له علي هذا الغلام غلامك قال نعم قال والبعير بعيرك قال: نعم قال: فأنت كتبت هذا الكتاب قال: لا وحلف بالله ما كتبت هذا الكتاب ولا أمرت به ولا علم لي به قال له علي: فالخاتم خاتمك قال: نعم قال: فكيف يخرج غلامك ببعيرك وبكتاب عليه خاتمك لا تعلم به؟ فحلف بالله ما كتبت هذا الكتاب ولا أمرت به ولا وجهت هذا الغلام إلى مصر
Orang-orang kemudian mengepung Usman pada tahun 35 H. Muhammad bin Abu Bakar menarik dukungan dari bani Taim dan yang lainnya. Ketika melihat persitiwa itu Ali mengutus orang untuk menemui Thalhah, Zubair, Sa’ad dan Ammar serta sahabat-sahabat Rasulullah yang lain dari Ahlu Badar. Ali datang menemui Usman bersama surat dan pelayan hitam tersebut. Ali berkata ”apakah dia pelayanmu?”. Usman menjawab ”benar”. Ali berkata ”apakah ini untamu?”. Usman menjawab ”benar”. Ali bertanya ”Apakah engkau yang menulis surat ini” Usman menjawab ”tidak” . Dia bersumpah dengan nama Allah bahwa dia tidak menulis surat tersebut dan tidak pula menyuruh siapapun menulis surat itu serta dia sama sekali tidak tahu menahu tentang surat tersebut. Ali berkata ”Apakah ini stempelmu?”. Usman menjawab ”benar”. Ali berkata ”bagaimana bisa pelayanmu keluar dengan untamu dan dengan surat yang ada stempelmu namun kamu tidak mengetahuinya?”. Usman bersumpah dengan nama Allah bahwa dia tidak pernah menulis surat itu, tidak pula memerintahkan seorangpun untuk menuliskannya dan tidak pernah memerintahkan pelayan tersebut ke Mesir.
.
.
Cerita yang tertulis dalam Tarikh Al Khulafa ini justru memposisikan para pengepung Usman sebagai pihak yang tidak tahu menahu soal surat misterius tersebut. Mereka malah meminta pertanggungjawaban Usman mengenai surat tersebut. Tidak sedikitpun dalam cerita di atas dinyatakan kalau surat tersebut dibuat-buat oleh rombongan Muhammad bin Abu Bakar atau seperti kata Salafiyun orang munafik pengikut Abdullah bin Saba’. Lihat saja dalam cerita di atas, surat tersebut diperoleh dari pelayan Usman yang ternyata dibenarkan oleh Usman sendiri. Surat tersebut dibacakan di depan orang banyak dan disaksikan oleh para Sahabat Nabi. Bahkan dari cerita di atas Usman sendiri menyatakan kalau stempel dalam surat tersebut adalah stempelnya.
Walaupun begitu sepertinya terlalu terburu-buru jika langsung dinyatakan kalau Usman menulis surat tersebut. Usman sendiri bersumpah dengan nama Allah bahwa ia tidak menulis surat tersebut. Pelayan, Unta dan stempel adalah milik Usman tetapi Usman bersumpah bukan dia yang menulis maka tidak ada alternatif lain kecuali ada orang dekat Usman yang menulis surat tersebut, orang yang dengan leluasa bisa menggunakan pelayan, Unta dan stempel milik Usman. Atau justru ini menunjukkan kelemahan Usman sebagai khalifah dimana orang-orang dekatnya bisa leluasa memanfaatkan kekuasaan pemerintahan tanpa sepengetahuan Usman RA.
.
.
Peran Muhammad bin Abu Bakar
Tarikh Al Khulafa 1/65 juga menyebutkan kalau mereka para pembunuh Usman masuk ke rumah Usman bersama Muhammad bin Abu Bakar. Bahkan disebutkan kalau Muhammad bin Abu Bakar memang awalnya berniat membunuh Usman tetapi akhirnya ia mengurungkan niatnya.
وولده وجاء علي إلى امرأة عثمان فقال لها من قتل عثمان قالت لا أدري دخل عليه رجلان لا أعرفهما ومعهما محمد ابن أبي بكر وأخبرت علياً والناس بما صنع محمد فدعا علي محمداً فسأله عما ذكرت امرأة عثمان؟ فقال محمد: لم تكذب قد والله دخلت عليه وأنا أريد قتله فذكرني أبي فقمت عنه وأنا تائب إلى الله تعالى والله ما قتلته ولا أمسكته فقالت امرأته صدق ولكنه أدخلهما.
Kemudian Ali mendatangi istri Usman dan berkata kepadanya ”siapa yang membunuh Usman?”. Istri Usman berkata ”saya tidak tahu, ada dua orang yang masuk yang saya tidak tahu siapa , tapi Muhammad bin Abu Bakar masuk bersama kedua orang tersebut”. Dia menceritakan kepada Ali apa yang diperbuat Muhammad bin Abu Bakar. Kemudian Ali memanggil Muhammad dan menanyakan tentang yang diceritakan istri Usman. Muhammad bin Abu Bakar berkata ”dia tidak berdusta, demi Allah saya masuk ke kamarnya dan bermaksud membunuhnya. Tapi dia mengingatkanku dengan Ayahku. Maka saya berdiri dan bertobat kepada Allah. Demi Allah, saya tidak membunuhnya dan tidak pula menyentuhnya. Istri Usman berkata ”dia benar tapi dialah yang memasukkan mereka ke dalam rumah”.
.
.
Penutup
Kitab Tarikh Al Khulafa ini sedikitpun tidak menyebutkan soal Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya yang munafik dalam tragedi pembunuhan Usman. Bahkan kitab ini memuat berbagai kekurangan Usman dalam pemerintahannya yang menjadi pemicu pengepungan dan pada akhirnya pembunuhan Usman. Jadi kita melihat sisi yang berimbang antara Usman yang terkepung dan mereka yang mengepungnya. Tentu saja versi Al Hafiz As Suyuthi dalam Tarikh Al Khulafa berbeda jauh dengan versi para Salafiyun yang hanya menampilkan posisi Usman sebagai orang tidak bercacat sedikitpun dan menampilkan  para pengepung Usman sebagai pemberontak yang munafik pengikut Abdullah bin Saba’. Para salafiyun memang suka mendistorsi sejarah demi menutup-nutupi sejarah hitam bahkan para Salafiyun itu tidak segan-segan menuduh sejarah yang berbeda dengan versi mereka adalah sejarah buatan orientalis dan syiah yang sesat.
Siapakah yang bertanggung jawab dalam tragedi pembunuhan Usman?. Usmankah?, Muhammad bin Abu Bakar? Para pengepung yang diantaranya ada para Sahabat Nabi?. Mungkin kita tidak perlu mencari-cari siapa pastinya yang bertanggung-jawab. Yang perlu diingat adalah Membunuh seorang Muslim itu haram hukumnya sehingga siapapun yang membunuh Usman maka ialah yang akan menanggung dosanya tidak peduli siapapun dia. Selain itu tidak bisa pula seenaknya mengatakan kalau semua para pengepung Usman berniat membunuhnya, bisa jadi para sahabat yang ikut mengepung Usman hanya menginginkan Usman menindak tegas siapa si pengirim surat misterius, atau hanya ingin Usman bertindak tegas untuk mencopot para penjabat Usman yang bertindak zalim atau mungkin pengepung Usman yang lain hanya ingin Usman turun dari jabatannya.Yah Hanya Tuhan Yang Tahu :)
Salam Damai
.
.
Catatan :
  • Maaf kalau lumayan panjang ;)
  • Serial Kisah Usman ini masih akan terus berlanjut, jadi harap bersabar :mrgreen: kayaknya nggak ada yang nunggu deh Mas
  • Riwayat dalam Tarikh Al Khulafa itu yang dicetak biru :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar