Jumat, 22 Juni 2012

Pangeran Salman, Putra Mahkota Arab Saudi....>>..Pangeran Salman Sekutu Dekat Amerika Serikat .>>..Kerajaan Arab Saudi berturut-turut kehilangan putera mahkota, yang digadang-gadang akan mengantikan Raja Abdullah, yang sudah berumur 89 tahun. Abdullah sudah sering keluar masuk rumah sakit Amerika Serikat. Tetapi, yang meninggal duluan adalah Putera Mahkota Pangeran Sultan. Tak lama posisi Sultan digantikan Pangeran Nayef, yang sebelumnya menjadi Menteri Dalam Negeri Kerajaan Saudi. Tetapi, Nayef belum lama dilantik menjadi Putera Mahkota, meninggal pula.>>>


Pangeran Salman Sekutu Dekat Amerika Serikat

Kerajaan Arab Saudi berturut-turut kehilangan putera mahkota, yang digadang-gadang akan mengantikan Raja Abdullah, yang sudah berumur 89 tahun. Abdullah sudah sering keluar masuk rumah sakit Amerika Serikat.
Tetapi, yang meninggal duluan adalah Putera Mahkota Pangeran Sultan. Tak lama posisi Sultan digantikan Pangeran Nayef, yang sebelumnya menjadi Menteri Dalam Negeri Kerajaan Saudi. Tetapi, Nayef belum lama dilantik menjadi Putera Mahkota,  meninggal pula.
Sekarang ini, Raja Abdullah menunjuk Pangeran Salman, yang menjadi Menteri Pertahanan, sebagai putera mahkota. Pengumuman penunjukkan Salman sebagai putera mahkota itu, diumumkan oleh pejabat Kerajaan Arab Saudi, Senin.
Pangeran Salman, 76, ditunjuk menteri pertahanan setelah meninggalnya Pangeran Sultan, kemudian putera mahkota yang  lama mengendalikan bidang  pertahanan dan penerbangan menteri, digantikan Nayef, dan kemudian Nayef meninggal  digantikan oleh  Pangeran Salman yang menjadi Gubernur Riyadh sejak tahun 1962.
Raja Saudi Abdullah menunjuk saudara tiri Pangeran Salman sebagai putra mahkota dan sebagai wakil perdana menteri,  sementara tetap mempertahankan Pangeran Salman sebagai menteri pertahanan.
Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz diangkat sebagai menteri dalam negeri, posisi yang dipegang oleh Putera Mahkota Pangeran Nayef,lebih dari 30 tahun, ungkap televisi pemerintah Al-Ekhbariyah.
Pangeran Salman secara luas diyakini sebagai pewaris baru, karena dinilai memiliki sikap yang lebih pragmatis dan pemahaman tentang situasi  politik di Kerajaan Saudi. Pangeran Salman  dipandang lebih moderat daripada kakaknya Pangeran Nayef.
Menurut kabel diplomatik yang dirilis oleh WikiLeaks, 2007,  Pangeran Salman menyarankan pendekatan hati-hati untuk reformasi sosial dan budaya. "Dia memiliki langkah-langkah strategis yang baik untuk mengubah perilaku  konservatif (masih kuat memegang nilai-nilai Islaml) kepada modernisme",  kata Robert Jordan, Dubes  Amerika Serikat  di Riyadh 2001-2003.
"Dia tidak begitu saja menerima segala sesuatu yang  berasal dari Amerika Serikat,  tetapi pada saat yang sama dia memahami pentingnya hubungan Kerajaan Saudi dengan Amerika Serikat", tambah Jordan.
Theodore Karasik, Direktur Institute Timur Dekat dan Analisis Militer di Teluk, sebuah lembaga penelitian yang berbasis di Dubai seperti dikutip oleh Bloomberg mengatakan bahwa Pangeran Salman memiliki hubungan yang sangat baik dengan Amerika Serikat dan kalangan militer Amerika Serikat. Sejak menjadi menteri pertahanan, ia sudah bertemu dengan sejumlah pejabat politik dan militer AS. Pangeran Salman sangat membantu menjaga hubungan Amerika Serikat-Saudi militer", ungkap Karasik.
Pangeran Salman adalah anak dari isteri pendiri Kerajaan Arab Saudi, Abdul Aziz al-Saud, yang Hassa binti Ahmed al-Sudairi, yang memiliki anak tujuh.  Saudara-saudaranya yang lain termasuk Raja Abdullah, dan  putra mahkota kedua Pangeran  Sultan,  dan Pangeran Nayef. Salman adalah saudara tiri Raja Abdullah.
Di bawah Pangeran Salman, nampaknya Arab Saudi akan semakin melanggengkan hubungannya dengan Amerika Serikat, yang selama ini telah menjadi penjaga utama dari kekuasaan para pangeran di Kerajaan Saudi.
Arab Saudi selalu menjadi sekutu Amerika Serikat, kecuali Raja Faisal, yang menentang Amerika Serikat dan sekutunya, yang membela Israel. Bahkan, Raja Faisal melakukan embargo minyak terhadap Amerika Serikat. Tetapi, kemudian Faisal dibunuh keponakannya sendiri, yang menjadi alat CIA, yang baru saja pulang dari Amerika, di tahun l974.
Arab Saudi membelanjakan kekayaannya triliun dollar, hanya untuk membeli mesin pembunuh dari Amerika Serikat, dan tidak digunakan membunuh musuh-musuh Allah, tetapi hanya digunakan untuk menghadapi rakyat yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, yang dituduh sebagai teroris.
Mei, Kerajaan Arab Saudi  menandatangani kontrak senilai $ 3-miliar dollar dengan Inggris untuk membeli jet tempur jenis Sea Harrier, yang baru. Sementara itu, surat kabar Jerman melaporkan bahwa Arab Saudi akan membeli 600-800 tank Leopard dari Jerman , setidaknya dua kali lipat dari jumlah perkiraan sebelumnya. 
Uang kerajaan hanya habis digunakan membeli peralatan militer, atau digunakan membeli klub sepak bola Eropa atau lainnya. Tidak dalam rangka membela agama Allah. af
 
 
Pangeran Salman (AFP)
Riyadh, Pangeran Salman bin Abdulaziz resmi ditunjuk sebagai putra mahkota Kerajaan Arab Saudi yang baru. Penunjukkan Salman ini dilakukan sehari setelah putra mahkota sebelumnya, Pangeran Nayef, dimakamkan.

Seperti dilansir oleh CNN dan Reuters, Senin (18/6/2012), pihak kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan titah yang menetapkan Pangeran Salman sebagai putra mahkota yang baru. Salman yang kini menjabat sebagai Menteri Pertahanan Arab Saudi ini, merupakan saudara tiri Raja Abdullah yang kini sudah berusia 89 tahun.

Penunjukkan ini dilakukan karena putra mahkota sebelumnya, Pangeran Nayef bin Abdulaziz meninggal dunia dalam usia 76 tahun, pada Sabtu (16/6) kemarin, di Jenewa, Swiss. Dikabarkan Nayef meninggal dunia karena sakit, namun tidak dijelaskan secara pasti penyakit apa yang dideritanya.

Menurut titah kerajaan yang dikutip oleh Saudi Press Agency, Salman akan tetap memegang jabatan Menteri Pertahanan meski telah menjadi putra mahkota. Selain itu, Salman juga ditunjuk sebagai Wakil Perdana Menteri untuk Raja Abdullah.

Sebagai seorang putra mahkota, Salman yang kini berusia 76 tahun ini dinilai akan melanjutkan reformasi ekonomi dan sosial yang kini tengah berjalan, serta mempertahankan kebijakan harga minyak moderat yang selama ini diterapkan Saudi.

Para pengamat juga memperkirakan bahwa, Salman akan menjaga aliansi dengan negara Barat dan negara-negara penganut Sunni, jika ia menjabat sebagai Raja Saudi kelak.

Sekadar informasi, pangeran Salman saat ini menjadi pengendali terbesar grup media di Arab Saudi. Dia juga dikenal lebih moderat dibandingkan dengan putra mahkota yang baru saja wafat, pangeran Nayef. Sejak tahun 1963 hingga tahun lalu, Salman mengabdi sebagai gubernur Riyadh, sebuah posisi yang mengharuskannya banyak berinteraksi dengan dunia pemerintahan asing.

Pangeran Salman, Putra Mahkota Arab Saudi  

TEMPO.CO , Riyadh -- Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz Al Saud, 86, telah menunjuk pangeran Salman bin Abdul Aziz, 76, sebagai putra mahkota menggantikan Pangeran Nayef bin Abdul Aziz yang meninggal pada Sabtu pekan lalu.
Stasiun televisi negara Al Ekhbariyah melaporkan Salman juga ditunjuk menjadi Wakil Perdana Menteri tetapi posisi Menteri Pertahanan tetap dipegangnya. Sedangkan pangeran Ahmed bin Abdul Aziz akan mengisi kursi Menteri Dalam Negeri.
Menurut pengamat Timur Tengah, Eleanor Gillespie, penunjukan Salman sebagai pewaris tahta sudah dapat ditebak. Namun, tantangan yang sesungguhnya yang sedang dihadapi keluarga kerajaan Arab Saudi adalah transisi menuju generasi berikutnya. Sebab, baik raja maupun putra mahkota sama-sama sudah berusia lanjut.
"Ini adalah hal yang paling penting, transisi pemimpin ke generasi berikutnya. Menunjuk putra mahkota dua kali dalam setahun menggambarkan kelemahan sistem gerontocratic (pemimpin didominasi orang lebih tua)," ujarnya.
Pangeran Nayef ditunjuk sebagai putra mahkota pada 27 October 2011. Sejak 27 Maret 2009, Raja Abdullah menunjuknya sebagai wakil kedua Perdana Menteri setelah jabatan itu lowong sejak 2005 karena ia menjadi raja.
Lima putra Raja Abdul Aziz, pendiri Arab Saudi, telah menyetujui agar takhta itu diserahkan bergiliran kepada semua anaknya pada 1953. Salman adalah satu dari empat putra Abdul Aziz dari istri favoritnya, Putri Hassa al-Sudairi, yang masih hidup. Tiga putra lainnya adalah Pangeran Abdul Rahman, Pangeran Turki, dan Pangeran Ahmad, wakil menteri dalam negeri dan kepala keamanan kerajaan menggantikan Nayef.
Raja mendirikan Dewan Kesetiaan dengan melibatkan 35 pangeran senior, sebagai mekanisme suksesi baru dengan tujuan jangka panjang untuk memilih putra mahkota.
Namun mekanisme ini tidak diaktifkan ketika Abdullah yang sakit masih hidup. Kolumnis Jamal Khashoggi berpendapat senioritas penting dalam keluarga kerajaan dalam urutan naik tahta. Dia mencontohkan bahwa beberapa cucuk Abdul Aziz, yang senior di antara generasi kedua, lebih tua dari paman-paman mereka, seperti Pangeran Khaled dari Mekah, putra mendiang Raja Faisal.
"Ada sekelompok kandidat lebih muda yang pamornya meningkat," kataGillespie said.
NEW STRAITS TIMES | EKO ARI

Presiden Obama Berduka Atas Wafatnya Pangeran Nayef

Liputan6.com, Washington: Presiden Amerika Serikat Barack Obama berduka atas wafatnya Putra Mahkota Arab Saudi, Nayef bin Abdulaziz as-Saud. "Saya sangat sedih saat mengetahui wafatnya Putra Mahkota Nayef bin Abdulaziz as-Saud dari Arab Saudi," kata Presiden Obama dalam satu pernyataan tertulis di Washington, AS, Sabtu (16/6).
Presiden Obama memuji peran Putra Mahkota Arab Saudi itu dalam membangun keamanan di negerinya. "Selama beberapa dasawarsa, Putra Mahkota Nayef menjadi Menteri Dalam Negeri dan mendedikasikan dirinya bagi keamanan Arab Saudi serta keamanan seluruh wilayah itu," ucap Obama sebagaimana dikutip Xinhua.
"Di bawah kepemimpinannya, Amerika Serikat dan Arab Saudi mengembangkan kemitraan yang efektif serta kuat dalam memerangi terorisme yang telah merenggut nyawa banyak warga Amerika dan Arab Saudi."
Presiden Obama menyampaikan belasungkawa terdalamnya kepada Raja Abdullah, keluarga kerajaan, dan rakyat Arab Saudi. Pangeran Nayef yang telah lama sakit dan menjalani pengobatan di Swiss meninggal di Jenewa, Sabtu kemarin, dalam usia 78 tahun [baca: Putra Mahkota Arab Saudi Meninggal Dunia].(ANT/BOG)

Sekjen PBB Sedih Atas Wafatnya Putra Mahkota Arab Saudi


PBB, New York (ANTARA/Xinhua-OANA) - Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, Sabtu (16/6), mengatakan ia "sedih saat mengetahui wafatnya hari ini Putra Mahkota Arab Saudi Nayef bin Abdulaziz as-Saud", yang juga adalah Menteri Dalam Negeri dan Wakil Perdana Menteri di Kerajaan tersebut.
"Putra Mahkota Nayef mengabdikan hidupnya untuk meningkatkan keamanan Arab Saudi," kata Ban di dalam satu pernyataan yang dikeluarkan di Markas PBB, New York, AS, oleh juru bicaranya. "Ia juga memberi sumbangan besar bagi pembentukan Pusat Kontra-Terorisme PBB di Arab Saudi baru-baru ini."

Pangeran Nayef dilaporkan meninggal Sabtu di satu rumah sakit Jenewa, Swiss. Putra Mahkota Arab Saudi itu, yang berusia 78 tahun, telah lama sakit dan menerima perawatan medis di Swiss.
"Sekretaris Jenderal menyampaikan belasungkawanya kepada Khadamul Haramain, Raja Abdullah bin Abdulaziz as-Saud, dan kepada rakyat Arab Saudi," demikian isi pernyataan tersebut sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Ahad pagi.
Pangeran Nayef diangkat sebagai putra mahkota baru oleh Raja Arab Saudi Abdullah pada Oktober lalu, setelah wafatnya putra mahkota sebelumnya Sultan bin Abdulaziz as-Saud.
Pangeran Nayef memiliki reputasi sebagai tokoh konservatif bertangan besi yang menentang pembaruan Raja Abdullah dan mengembangkan prasarana keamanan tangguh yang menggilas Al Qaida. Namun ia juga menjebloskan pegiat ke dalam bui.
Ia, Raja Abdullah dan Pangeran Salman termasuk di antara hampir 40 putra pendiri Arab Saudi, Raja Abdulaziz ibn Saud --yang mendirikan kerajaan itu pada 1935.
Meninggalnya Pangeran Nayef berarti Raja Abdullah (89) harus mengajukan calon pewaris baru dalam waktu sembilan bulan. Menteri Pertahanan Pangeran Salman (76) --yang dipandang sebagai orang yang mungkin jadi calon untuk melanjutkan pembaruan Raja Abdullah-- telah lama dipandang sebagai pangeran paling senior berikut dalam pergantian di Kerajaan itu.(ar)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar