Rabu, 20 Juni 2012

AS dan Pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) telah menggulirkan perang di Suriah dengan mendanai dan melatih para teroris yang melakukan pembantaian massal Houla di negara Arab itu, demikian ungkap seorang analis kepada Press TV. "Ini adalah perang agresi. Hal ini tidak harus menggunakan instrumen perang konvensional yang berupa artileri, armada udara dan lain sebagainya, melain pasukan khusus sekutu yang terjun ke lapangan," kata Michel Chossudovsky, profesor di Pusat Penelitian Globalisasi di Montreal, Kanada.....>>...Ditambahkannya bahwa aliansi yang didukung AS tengah mementaskan "peristiwa-peristiwa dengan korban massal" di Suriah, yaitu pembunuhan warga sipil lalu melimpahkan tudingan kepada pihak musuh. Asal usul historis dari "persitiwa berkorban massal" itu kembali ke "Operasi Northwoods" pada tahun 1962 oleh Pentagon, dengan membunuh massal warga sipil di komunitas Kuba Miami, dengan maksud menjustifikasi perang terhadap Kuba.>>......Laporan tersebut mengungkapkan, pihak AS telah menyusun sejumlah komite untuk membantu mewujudkan rencana baru atas Suriah tersebut. Komite yang disusun, yakni komite politik, komite militer dan komite keamanan. Setiap komite beranggotakan pejabat-pejabat tinggi AS. Komite politik beranggotakan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton sebagai pengawas dan sejumlah mantan Duta Besar AS untuk Suriah, seperti Robert Ford, Fredrick Holf dan Jeffrey Feltman sebagai anggota dan koordinator. Mengenai Feltman, dia dinilai cukup berpengaruh karena menguasai kantor koordinasi keamanan di Suriah yang bermarkas di Doha, Qatar. Kantor tersebut diisi oleh sejumlah agen intelijen dari beberapa negara seperti AS, Arab Saudi, Qatar, Turki, Libya, dan NATO.>>...Komiter militer beranggotakan Komandan Pasukan Gabungan AS Jenderal Martin Dempsey sebagai kepala dan pejabat militer AS lainnya, seperti Mayor Jenderal Charles Cleveland dan Jenderal Frank Gibb, sebagai anggota. Komite ini bertanggung jawab dalam pemberian bantuan logistik dan bantuan intelijen bagi kelompok oposisi Suriah. Adapun komite keamanan beranggotakan perwakilan dari 7-10 agensi intelijen AS dan juga para pemimpinnya, seperti Penasihat Keamanan Nasional AS Tom Donilon, Ditrektur Intelijen Nasional James Clapper serta Direktur CIA Jenderal David Petraeus. Komite ini bertugas melaporkan situasi keamanan di Suriah secara berkala kepada pimpinan di AS dan merumuskan kebijakan strategi keamanan AS di Suriah. >>


'AS dan NATO Dalangi Pembantaian Suriah'

Jumat, 15 Juni 2012, 06:58 WIB

'AS dan NATO Dalangi Pembantaian Suriah'
Seorang ibu warga Suriah menggendong anaknya yang jadi korban penembakan di dekat perbatasan Suriah-Lebanon.



REPUBLIKA.CO.ID, 
AS dan Pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) telah menggulirkan perang di Suriah dengan mendanai dan melatih para teroris yang melakukan pembantaian massal Houla di negara Arab itu, demikian ungkap seorang analis kepada Press TV.
 "Ini adalah perang agresi. Hal ini tidak harus menggunakan instrumen perang konvensional yang berupa artileri, armada udara dan lain sebagainya, melain pasukan khusus sekutu yang terjun ke lapangan," kata Michel Chossudovsky, profesor di Pusat Penelitian Globalisasi di Montreal, Kanada.
Ditambahkannya bahwa aliansi yang didukung AS tengah mementaskan "peristiwa-peristiwa dengan korban massal" di Suriah, yaitu pembunuhan warga sipil lalu melimpahkan tudingan kepada pihak musuh.
Asal usul historis dari "persitiwa berkorban massal" itu kembali ke "Operasi Northwoods" pada tahun 1962 oleh Pentagon, dengan membunuh massal warga sipil di komunitas Kuba Miami, dengan maksud menjustifikasi perang terhadap Kuba.
Abcnews.com pada 1 Mei 2001 menulis, "Rencana itu dikembangkan sebagai sarana untuk mengelabui publik Amerika dan masyarakat internasional agar mendukung perang untuk menggulingkan pemimpin komunis Kuba, Fidel Castro."
Pada 25 Mei lalu, 108 orang tewas dalam pembantaian di kota Houla, di Provinsi Homs, Suriah. Kurang dari dua pekan, aksi pembantaian serupa juga terjadi di wilayah al-Qubeir di Provinsi Hama.
Chossudovsky menambahkan bahwa bukan kebetulan jika AS mengancam Cina di Laut Cina Selatan dan juga mengancam Rusia di perbatasan Eropa. "Ancaman-ancaman tersebut bernota-bene bahwa agar Rusia dan Cina harus patuh, ini adalah proses pemerasan," katanya.
"Tapi saya harus menekankan bahwa jika aksi militer yang lebih luas dilakukan terhadap Suriah maka hal itu dapat meluas dan menjadi perang regional, yang akan merambah hingga Mediterania Timur dan Asia Tengah," pungkas Chossudovsky.  Redaktur: Endah Hapsari. Sumber: IRIB/IRNA

Media Iran Tuding AS & Arab Saudi Berkonspirasi Hancurkan Suriah

Novi Christiastuti Adiputri - detikNews
Rabu, 16/05/2012 13:59 WIB.  
Ilustrasi (PressTV)-Perhatikan senjata yang digunakan.. made in USA?

Teheran, 
Media pemerintah Iran menuding Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi merancang rencana baru untuk menghancurkan Suriah dengan serangkaian konspirasi. Rencana baru ini dirancang karena rencana sebelumnya, yakni unjuk rasa untuk menggulingkan Presiden Bashar al-Assad, gagal dilakukan.

Menurut pemberitaan Press TV, Rabu (16/5/2012), pemerintah AS dan Arab Saudi merancang rencana baru untuk menundukkan rezim Presiden Assad di Suriah. Rencana baru ini dirancang setelah upaya pemecahbelahan militer Suriah dengan Presiden Assad tidak berhasil.

AS dan Arab Saudi menilai Assad masih dalam kendali penuh atas militer Suriah. Selain itu, militer Suriah juga dinilai mampu mengendalikan kondisi seluruh wilayah Suriah dengan baik, meskipun dipengaruhi oleh kelompok oposisi. Kemudian, kondisi ekonomi Suriah yang sempat menurun saat unjuk rasa, kini berangsur-angsur membaik.

Menurut Press TV, rencana baru ini memiliki 2 tujuan utama. Pertama, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa perdamaian tidak akan bisa terwujud di Suriah tanpa campur tangan AS. Kedua, untuk membuat para pendukung rezim Suriah berhenti mendukung Assad.

Laporan tersebut mengungkapkan, pihak AS telah menyusun sejumlah komite untuk membantu mewujudkan rencana baru atas Suriah tersebut. Komite yang disusun, yakni komite politik, komite militer dan komite keamanan. Setiap komite beranggotakan pejabat-pejabat tinggi AS.

Komite politik beranggotakan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton sebagai pengawas dan sejumlah mantan Duta Besar AS untuk Suriah, seperti Robert Ford, Fredrick Holf dan Jeffrey Feltman sebagai anggota dan koordinator. Mengenai Feltman, dia dinilai cukup berpengaruh karena menguasai kantor koordinasi keamanan di Suriah yang bermarkas di Doha, Qatar. Kantor tersebut diisi oleh sejumlah agen intelijen dari beberapa negara seperti AS, Arab Saudi, Qatar, Turki, Libya, dan NATO.

Komiter militer beranggotakan Komandan Pasukan Gabungan AS Jenderal Martin Dempsey sebagai kepala dan pejabat militer AS lainnya, seperti Mayor Jenderal Charles Cleveland dan Jenderal Frank Gibb, sebagai anggota. Komite ini bertanggung jawab dalam pemberian bantuan logistik dan bantuan intelijen bagi kelompok oposisi Suriah.

Adapun komite keamanan beranggotakan perwakilan dari 7-10 agensi intelijen AS dan juga para pemimpinnya, seperti Penasihat Keamanan Nasional AS Tom Donilon, Ditrektur Intelijen Nasional James Clapper serta Direktur CIA Jenderal David Petraeus. Komite ini bertugas melaporkan situasi keamanan di Suriah secara berkala kepada pimpinan di AS dan merumuskan kebijakan strategi keamanan AS di Suriah.


Pada intinya, rencana AS ini dimaksudkan untuk memaksa Suriah mengikuti kebijakan AS dan mencegah pengaruh kuat Rusia di Suriah, serta menghancurkan aliansi Suriah dengan Iran. Pihak AS berniat membuat Suriah memihak kepada AS dibanding bersekutu dengan Iran atau Rusia.

Masih menurut Press TV, pihak intelijen Arab Saudi dilaporkan telah mencapai kesepakatan dengan pihak AS dan Israel, untuk meningkatkan konflik bersenjata di Suriah. Upaya ini akan diwujudkan dengan memberi bantuan senjata bagi kelompok oposisi, meningkatkan serangan bom dan operasi militer sipil di Suriah untuk mendesak rezim Assad.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar