Selasa, 19 Juni 2012

Quraish Shihab Tentang Sikapnya Terhadap Syiah......>>> SEYOGIAYANYA SEMUA UMAT ISLAM YANG MAMPU MENUNTUT ILMU DAN MENDALAMI ILMUL ISLAM-ILMUL QURÁN-ILMU SUNNAH DST... MENJADI PELURUS DAN PENGUAT TALI SILATURAHIM-PERSAUDARAAN-PERSAUDARAAN-SOLIDARITAS YANG SOLID DAN PERSATUAN UMMAT YANG KOKOH DAN SALING MENGUATKAN.... BUKAN UNTUK SALING MENCACI ATAU MERENDAHKAN SATU MAZHAB DENGAN MAZHAB LAINNYA.... SEKALIPUN ADA PERBEDAAN MEMAKNAI DAN MANFSIRKAN SITUASI KONDISI YANG ADA PADA SEJARAH ISLAM MASA LAMPAU.....ATAU REFERNSI... YANG DIYAKININYA.... KEKUATAN PERSTUAN DAN PERSAUDARAAN KAUM SUNNY-SYIAH... DENGAN TUJUAN MENJADI ISLAM DAN MUSLIM YANG KAFFAH... LURUS DAN MEMOHON KEAGUNGAN RAHMAT ALLAH SWT DAN MENDAPATKAN HIDAYAH-TAUFIQ-INAYAH-MAUNAH-DAN MA'RIFAH...KARIMAH SYARIFAH...NUR KEBENARAN ALLAH... DEMI UNTUK PENGAMALAN SEUTUHNYA DAN BERPERILAKU HALIM DAN AKHLAQULKARIEM... DALAM JALAN KEBENARAN ALLAH DAN SUNNATURASULULLAH SAW.... SELENGKAPNYA SEUTUHNYA... SEMOGA UMAT MENJADI INSANULKAMIL... YANG MULIA DAN PENUH MANFAAT BAGI SEBESAR-BESAR KEMULIAAN ISLAM-UMAT-DAN KEMANUSIAAN..... AAMIIN...>>>

SEYOGIAYANYA SEMUA UMAT ISLAM YANG MAMPU MENUNTUT ILMU DAN MENDALAMI ILMUL ISLAM-ILMUL QURÁN-ILMU SUNNAH DST... MENJADI PELURUS DAN PENGUAT TALI SILATURAHIM-PERSAUDARAAN-PERSAUDARAAN-SOLIDARITAS YANG SOLID DAN PERSATUAN UMMAT YANG KOKOH DAN SALING MENGUATKAN....

BUKAN UNTUK SALING MENCACI ATAU MERENDAHKAN SATU MAZHAB DENGAN MAZHAB LAINNYA.... SEKALIPUN ADA PERBEDAAN MEMAKNAI DAN MANFSIRKAN SITUASI KONDISI YANG ADA PADA SEJARAH ISLAM MASA LAMPAU.....ATAU REFERNSI... YANG DIYAKININYA....

KEKUATAN PERSTUAN DAN PERSAUDARAAN KAUM SUNNY-SYIAH... DENGAN TUJUAN MENJADI ISLAM DAN MUSLIM YANG KAFFAH... LURUS DAN MEMOHON KEAGUNGAN RAHMAT ALLAH SWT DAN MENDAPATKAN HIDAYAH-TAUFIQ-INAYAH-MAUNAH-DAN MA'RIFAH...KARIMAH SYARIFAH...NUR KEBENARAN ALLAH... DEMI UNTUK PENGAMALAN SEUTUHNYA DAN BERPERILAKU HALIM DAN AKHLAQULKARIEM...  DALAM JALAN KEBENARAN ALLAH DAN SUNNATURASULULLAH SAW.... SELENGKAPNYA SEUTUHNYA... 

SEMOGA UMAT MENJADI INSANULKAMIL... YANG MULIA DAN PENUH MANFAAT BAGI SEBESAR-BESAR KEMULIAAN ISLAM-UMAT-DAN KEMANUSIAAN..... AAMIIN...

Studi Kritis Riwayat Zaid bin Aliy Tentang Fadak : Bantahan Untuk Nashibi

Studi Kritis Riwayat Zaid bin Aliy Tentang Fadak : Bantahan Untuk Nashibi
Tulisan ini hanya sedikit tambahan dari tulisan sebelumnya yang membahas tentang riwayat Zaid bin Ali bin Husain dimana ia menyepakati Abu Bakar dalam masalah Fadak. Pada tulisan sebelumnya kami telah membahas illat [cacat] riwayat tersebut yaitu bahwa riwayat Zaid bin Aliy berasal dari seorang yang majhul. Nashibi yang tidak suka kalau hujjah mereka dipatahkan membuat bantahan ngawur untuk membela riwayat Zaid bin Aliy tersebut. Tulisan ini kami buat sebagai bantahan bagi Nashibi yang dimaksud.

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ حَمَّادٍ، قَالَنَا عَمِّي، قَالَ نَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ، قَالَ نَا ابْنُ دَاوُدَ، عَنْ فُضَيْلِ بْنِ مَرْزُوقٍ، قَالَ قَالَ زَيْدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ، أَمَّا أَنَا فَلَوْ كُنْتُ مَكَانَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَحَكَمْتُ بِمِثْلِ مَا حَكَمَ بِهِ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي فَدَكٍ

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Hammaad yang berkata telah menceritakan kepada kami pamanku yang berkata telah menceritakan kepada kami Nashr bin ‘Aliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Dawud dari Fudhail bin Marzuuq yang berkata Zaid bin Ali bin Husain berkata “adapun aku seandainya berada dalam posisi Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] maka aku akan memutuskan seperti keputusan Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] dalam masalah Fadak” [Fadhail Ash Shahabah Daruquthniy no 52]
Riwayat ini juga disebutkan Hammad bin Ishaq dalam Tirkatun Nabiy 1/86  oleh Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 6/302, Dalaail An Nubuwwah 7/281 dan Al I’tiqaad 1/279 semuanya dengan jalan sanad dari Ismail bin Ishaq Al Qadhiy [pamannya Ibrahim bin Hammaad] dari Nashr bin Ali dari ‘Abdullah bin Dawud dari Fudhail bin Marzuuq.
Atsar ini dhaif karena Fudhail bin Marzuq tidak meriwayatkan langsung dari Zaid bin Aliy bin Husain. Ia terbukti melakukan tadlis, atsar ini diambil Fudhail bin Marzuq dari An Numairy bin Hassaan dari Zaid bin Aliy bin Husain. An Numairiy bin Hassaan adalah seorang yang majhul. Inilah buktinya

 حدثنا محمد بن عبد الله بن الزبير قال حدثنا فضيل ابن مرزوق قال حدثني النميري بن حسان قال قلت لزيد بن علي رحمة الله عليه وأنا أريد أن أهجن أمر أبي بكر إن أبا بكر رضي الله عنه انتزع من فاطمة رضي الله عنها فدك فقال إن أبا بكر رضي الله عنه كان رجلا رحيما وكان يكره أن يغير شئيا تركه رسول الله صلى الله عليه وسلم فأتته فاطمة رضي الله عنها فقالت إن رسول الله صلى الله عليه وسلم أعطاني فدك فقال لها هل لك على هذا بينة ؟ فجاءت بعلي رضي الله عنه فشهد لها، ثم جاءت بأم أيمن فقالت أليس تشهد أني من أهل الجنة ؟ قال بلى قال أبو أحمد يعني أنها قالت ذاك لابي بكر وعمر رضي الله عنهما – قالت فأشهد أن النبي صلى الله عليه وسلم أعطاها فدك فقال أبو بكر رضي الله عنه: فبرجل وامرأة تستحقينها أو تستحقين بها القضية ؟ قال زيد بن علي وأيم الله لو رجع الامر إلى لقضيت فيها بقضاء أبي بكر رضي الله عنه

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Zubair yang berkata telah menceritakan kepada kami Fudhail bin Marzuuq yang berkata telah menceritakan kepadaku An Numairiy bin Hassaan yang berkata aku berkata kepada Zaid bin Aliy [rahmat Allah atasnya] dan aku ingin merendahkan Abu Bakar bahwa Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] merampas Fadak dari Fathimah [radiallahu ‘anha]. Maka Zaid berkata “Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] adalah seorang yang penyayang dan ia tidak menyukai mengubah sesuatu yang ditinggalkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], kemudian datanglah Fathimah [radiallahu ‘anha] dan berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah memberikan Fadak kepadaku”. Abu Bakar berkata kepadanya “apakah ada yang bisa membuktikannya?” maka datanglah Aliy [radiallahu ‘anhu] dan bersaksi untuknya kemudian datang Ummu Aiman yang berkata “tidakkah kalian bersaksi bahwa aku termasuk ahli surga?”. Abu Bakar menjawab “benar” [Abu Ahmad berkata bahwa Ummu Aiman mengatakan hal itu kepada Abu Bakar dan Umar]. Ummu Aiman berkata “maka aku bersaksi bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah memberikan fadak kepadanya”. Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] kemudian berkata “maka apakah dengan seorang laki-laki dan seorang perempuan bersaksi atasnya hal ini bisa diputuskan?”. Zaid bin Ali berkata “demi Allah seandainya perkara ini terjadi padaku maka aku akan memutuskan tentangnya dengan keputusan Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] [Tarikh Al Madinah Ibnu Syabbah 1/199-200]
Riwayat Ibnu Syabbah dalam Tarikh Madinah ini adalah riwayat yang shahih sanadnya hingga Fudhail bin Marzuq. Maka riwayat ini melengkapi riwayat Daruquthniy sebelumnya. Riwayat Daruquthni dkk memuat sanad dimana “Fudhail bin Marzuq berkata Zaid bin Aliy berkata” sedangkan riwayat Ibnu Syabbah memuat sanad yaitu “Fudhail bin Marzuq berkata telah mengabarkan kepadaku An Numairiy bin Hassaan bahwa Zaid bin Aliy berkata”. Maka ini menjadi bukti Fudhail bin Marzuq tidak meriwayatkan langsung dari Zaid bin Aliy melainkan melalui perantara yang majhul. Kesimpulannya riwayat tersebut dhaif.
Ada seorang nashibi yang berusaha membela riwayat ini dengan pembelaan yang mengada-ada. Ia seolah-olah menunjukkan bantahan ilmiah padahal bantahannya ngawur dan tidak sesuai dengan kaidah ilmu hadis. Pada pembahasannya ia mengatakan apakah tambahan Numairiy bin Hassaan itu mahfuudh?. Ia mengatakan bahwa riwayat Ibnu Syabbah tidak mahfuudh dan yang mahfuudh adalah riwayat tanpa tambahan sanad Numairiy bin Hassaan. Mari kita lihat satu persatu alasannya
Nashibi itu mengatakan bahwa riwayat Ibnu Syabbah sangat gharib karena hanya dibawakan Ibnu Syabbah dalam Tarikh Madinah dan dalam riwayat itu saja. Kami katakan ini alasan yang mengada-ada. Apa riwayat Daruquthni dkk yang ia bawakan itu adalah riwayat yang masyhur?. Jelas sekali bahwa semua riwayat yang ia nukil itu berujung pada Ismaail bin Ishaq Al Qadhiy dari Nashr bin Aliy dari Ibnu Dawud dari Fudhail bin Marzuq. Hanya sanad ini saja, tidak ada sanad lain. Jadi kedudukan riwayat Daruquthni dan riwayat Ibnu Syabbah dari sisi ini adalah sama yaitu sama-sama diriwayatkan dengan satu jalan sanad. Walaupun atsar Zaid bin Aliy ini diriwayatkan oleh Ibnu Syabbah saja, itu tidak menjadi alasan untuk melemahkan atau menyatakan riwayat tersebut gharib. Mengapa riwayat Ibnu Syabbah yang dikatakan gharib?. Mengapa bukan riwayat Ismail bin Ishaq Al Qadhiy yang dikatakan gharib?. Kalau riwayat Ibnu Syabbah dikatakan gharib maka riwayat Ismail bin Ishaq Al Qaadhiy pun bisa dikatakan gharib.
Sebenarnya jika kita teliti dengan baik riwayat Ibnu Syabbah itu sanadnya lebih tinggi dari riwayat Daruquthni, Baihaqi dan Hammad bin Ishaq karena sebelum mereka [Daruquthni, Baihaqi dan Hammad bin Ishaq] itu lahir, Ibnu Syabbah telah meriwayatkan atsar Zaid bin Aliy tersebut.
Kemudian nashibi yang dimaksud juga menyatakan riwayat Ibnu Syabbah tidak mahfuudh karena diriwayatkan oleh An Numairiy yang majhul. Ini jelas cara penarikan kesimpulan yang ngawur. An Numairiy itu terletak diantara Fudhail bin Marzuq dan Zaid bin Aliy, justru riwayat Ibnu Syabbah menunjukkan illat [cacat] riwayat Ismail bin Ishaaq Al Qaadhiy yaitu Fudhail bin Marzuq melakukan tadlis dalam riwayat tersebut. Lain halnya jika perawi majhul tersebut terletak diantara Ibnu Syabbah dan Fudhail bin Marzuq maka beralasan untuk menyatakan riwayat Ibnu Syabbah itu tidak mahfuudh karena sanadnya tidak shahih sampai Fudhail bin Marzuuq. Lha ini jelas-jelas riwayat Ibnu Syabbah tersebut sanadnya shahih hingga Fudhail bin Marzuq. Sungguh kami dibuat terheran-heran dengan ilmu hadis ala nashibi.
Nashibi itu menyebarkan Syubhat lain yaitu Ibnu Syabbah walaupun seorang tsiqat tetapi bukan dalam derajat ketsiqahan yang tinggi, Nashibi itu mengutip Ibnu Hajar yang mengkritik riwayatnya dan hal ini membuat Ibnu Hajar menurunkan kredibilitasnya kedalam derajat shaduq.
Kami katakan Ibnu Syabbah itu seorang yang tsiqat. Kritikan terhadapnya itu tidak beralasan alias hanya perkiraan yang tidak menafikan perkiraan lainnya. Daruquthni berkata “tsiqat”. Ibnu Abi Hatim berkata “shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “mustaqiim al hadits”. Al Khatib berkata “tsiqat”. Al Marzabaaniy berkata “shaduq tsiqat”. Maslamah bin Qasim berkata “tsiqat”. Muhammad bin Sahl berkata “shaduq cerdas”. [At Tahdzib juz 7 no 768]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/719] tetapi Ibnu Hajar dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib bahwa Ibnu Syabbah seorang yang tsiqat. Adz Dzahabi menyatakan “tsiqat” [Al Kasyf no 4071]
Nashibi itu mengutip Al Bazzar, Ibnu Asakir dan Ibnu Hajar yang mengkritik salah satu riwayat Ibnu Syabbah dimana ia meriwayatkan dari Hushain bin Hafsh dari Sufyan Ats Tsawriy dari Zubaid dari Murrah dari Ibnu Mas’ud secara marfu’. Ibnu Syabbah dikatakan keliru karena riwayat yang masyhur adalah dari Ats Tsawriy dari Mughhirah bin Nu’man dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas secara marfu’.
Kritikan terhadap Ibnu Syabbah ini perlu ditinjau kembali, Ibnu Hibban memasukkan hadis Ibnu Mas’ud tersebut dalam kitab Shahih-nya. Artinya Ibnu Hibban tidak sependapat dengan yang mengatakan riwayat tersebut khata’

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحٍسْيَنُ الْجَرَادِيُّ بِالْمَوْصِلِ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ شَبَّةَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ حَفْصٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ، عَنْ زُبَيْدٍ ، عَنْ مُرَّةَ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلا ، وَأَوَّلُ الْخَلائِقِ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Husain Al Jaraadiy di Maushulliy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Syabbah yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hafsh yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Zubaid dari Murrah dari ‘Abdullah yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “sesungguhnya kalian dikumpulkan menuju Allah dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan tidak dikhitan. Dan makhluk pertama yang diberi pakaian pada hari kiamat adalah Ibrahim [Shahih Ibnu Hibban no 7284]
Seandainya pun hadis Ibnu Mas’ud ini khata’ karena telah diriwayatkan banyak perawi tsiqat dari Ats Tsawriy dengan jalan sanad dari Mughirah bin Nu’man dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas secara marfu’ maka perawi yang patut dinyatakan melakukan kekeliruan adalah Husain bin Hafsh Al Ashbahaniy karena ia yang meriwayatkan dari Ats Tsawriy dan telah menyelisihi para perawi tsiqat.
Husain bin Hafsh Al Ashbahaniy biografinya disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam At Tahdzib. Abu Hatim berkata “mahallahu shidqu”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 2 no 597]. Melihat perkataan Abu Hatim tentangnya maka bisa dimpulkan bahwa Husain bin Hafsh bukan termasuk perawi yang kuat dhabitnya. Kedudukan Husain bin Hafsh jelas dibawah dari kedudukan Ibnu Syabbah dan Husain bin Hafsh adalah perawi yang menyelisihi perawi tsiqat dalam riwayatnya dari Ats Tsawriy. Kesimpulannya kritikan terhadap Ibnu Syabbah itu keliru.
Kemudian nashibi tersebut menyebarkan syubhat soal Abu Ahmad Az Zubairiy yang melakukan banyak kesalahan dari riwayat Ats Tsawriy.

وقال حنبل بن إسحاق عن أحمد بن حنبل كان كثير الخطأ في حديث سفيان

Hanbal bin Ishaq berkata dari Ahmad bin Hanbal “ia banyak melakukan kesalahan dalam hadis Sufyan” [At Tahdzib juz 9 no 422]

وقال أبو حاتم عابد مجتهد حافظ للحديث له أوهام

Abu Hatim berkata “ahli ibadah, mujtahid, hafiz dalam hadis, memiliki beberapa keraguan” [At Tahdzib juz 9 no 422]
Jika memang terdapat beberapa kesalahan yang dilakukan oleh Abu Ahmad Az Zubairiy maka itupun hanya terbatas pada sebagian riwayatnya dari Sufyan Ats Tsawriy. Pernyataan ini tidaklah mutlak melainkan hanya terbatas pada riwayatnya dari Tsawriy, itupun tidak mutlak untuk semua riwayatnya dari Ats Tsawriy melainkan hanya sebagian. Hal ini dikuatkan oleh beberapa petunjuk yang menguatkan
Riwayat Abu Ahmad Az Zubairiy dari Sufyan telah dishahihkan oleh Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih. Kemudian sebagian ulama justru menguatkan riwayatnya dari Sufyan

نا عبد الرحمن حدثنى ابى حدثنى أبو بكر بن ابى عتاب الاعين قال سمعت احمد بن حنبل وسألته عن اصحاب سفيان قلت له الزبيري ومعاوية بن هشام ايهما احب اليك ؟ قال الزبيري، قلت له زيد بن الحباب أو الزبيري ؟ قال الزبيري

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Abi Itaab Al A’yan yang berkata aku mendengar Ahmad bin Hanbal dan aku bertanya kepadanya tentang sahabat Sufyan. Aku berkata kepadanya “Az Zubairiy dan Muawiyah bin Hisyaam yang mana diantara keduanya yang lebih engkau sukai?”. Ia berkata Az Zubairiy. Aku berkata kepadanya “Zaid bin Hubab atau Az Zubairiy?”. Ia berkata “Az Zubairiy” [Al Jarh Wat Ta’dil 7/297 no 1211]

قال أبو نعيم في أصحاب سفيان: ليس منهم أحد مثل أبي أحمد الزبيري، واسمه محمد بن عبد الله بن الزبير

Abu Nu’aim berkata tentang para sahabat Sufyan “tidak ada diantara mereka seorangpun yang menyerupai Abu Ahmad Az Zubairiy, Muhammad bin ‘Abdullah bin Zubair” [Ats Tsiqat Ibnu Syahiin no 1262]

قال نصر بن علي سمعت أحمد الزبيري يقول لا أبالي أن يسرق مني كتاب سفيان أني أحفظه كله

Nashr bin ‘Aliy berkata aku mendengar Ahmad Az Zubairiy mengatakan “aku tidak peduli jika seseorang mencuri dariku Kitab Sufyan karena aku telah menghafal semuanya” [At Tahdzib juz 9 no 422]
Abu Ahmad Az Zubairiy adalah seorang yang tsiqat tsabit hanya saja ia dikatakan melakukan kesalahan dalam sebagian riwayatnya dari Ats Tsawriy. Tentu saja hal ini tidaklah melemahkan riwayatnya dari selain Ats Tsawriy. Para perawi sekaliber Malik bin Anas dan Syu’bah saja pernah melakukan beberapa kesalahan dalam meriwayatkan hadis dan tidaklah itu menjatuhkan kedudukan mereka dalam riwayatnya yang lain. Karena sebagai seorang manusia tidak peduli seberapa tinggi kedudukan tsiqat yang ia miliki tetap bisa saja melakukan kesalahan.
Nashibi itu menyatakan bahwa Ismail bin Ishaq, Nashr bin Aliy dan Ibnu Dawud adalah tiga orang perawi yang memiliki martabat ketsiqahan yang tinggi. Kami katakan setinggi apapun tingkat ketsiqatan mereka, hal itu tidak membuat riwayat Ibnu Syabbah itu menjadi lemah, gharib ataupun tidak mahfuudh. Ibnu Syabbah adalah seorang yang tsiqat dan Abu Ahmad Az Zubairiy adalah seorang yang tsiqat lagi tsabit. Bahkan riwayat Ibnu Syabbah lebih tinggi sanadnya dan matannya lebih lengkap dari riwayat Ismail bin Ishaq Al Qaadhiy.
Kedua riwayat, yaitu riwayat Ismail bin Ishaq Al Qaadhiy dan riwayat Ibnu Syabbah adalah benar. Tidak ada dari kedua riwayat tersebut sesuatu yang perlu ditarjih sehingga riwayat yang satu diterima dan riwayat yang lain harus ditolak. Kedua riwayat tersebut sanadnya shahih sampai Fudhail bin Marzuq dan menunjukkan bahwa Fudhail bin Marzuq melakukan tadlis dalam perkataan Zaid bin Aliy dimana sebenarnya ia mengambil perkataan tersebut dari An Numairiy bin Hassaan seorang yang majhul.
Aneh sekali jika nashibi tersebut mempermasalahkan tingkat ketsiqatan para perawi yang ia jadikan hujjah mengingat Fudhail bin Marzuq sendiri adalah seorang yang hadisnya hanya bertaraf hasan dan tidak mencapai derajat ketsiqatan tinggi seperti yang ia katakan pada tiga perawi lain.
Nashibi tersebut kemudian menyatakan bahwa matan riwayat Ibnu Syabbah kontradiktif dengan riwayat shahih. Kami katakan hal itu jika memang benar maka tidaklah berpengaruh sedikitpun pada kedudukan riwayat Zaid bin Aliy disisi kami. Bukankah dari pembahasan sebelumnya kami katakan kalau riwayat Zaid bin Aliy tersebut dhaif maka jika matannya dikatakan nashibi itu bertentangan dengan riwayat shahih, hal itu justru menguatkan kedhaifan riwayat Zaid bin Aliy.
Kemudian nashibi itu mengatakan perkataan Zaid bin Aliy seandainya ia dalam posisi Abu Bakar maka ia akan menetapkan keputusan seperti Abu Bakar dalam masalah Fadak, tidaklah cocok diterapkan dalam konteks riwayat Ibnu Syabbah. Alasan nashibi itu adalah jika memang Zaid bin Aliy tahu persaksian Ali dan Ummu Aiman maka apakah mungkin ia akan menahan tanah Fadak?. Kami katakan kalau melihat secara utuh matan riwayat Ibnu Syabbah maka Abu Bakar tidak menerima kesaksian satu orang laki-laki [Ali bin Abi Thalib] dan satu orang perempuan [Ummu Aiman] sehingga ia menolak bahwa tanah Fadak itu adalah milik Sayyidah Fathimah. Inilah yang disepakati oleh Zaid bin Aliy bahwa kesaksian satu orang laki-laki dan satu orang perempuan tidaklah cukup dan yang menjadi hujjah adalah kesaksian satu orang laki-laki dan dua orang perempuan atau kesaksian dua orang laki-laki.
Nashibi ini telah mencampuradukkan antara hujjah riwayat dengan asumsinya sendiri. Tidak ada keterangan dalam riwayat Ismail bin Ishaaq Al Qaadhiy bahwa yang disepakati oleh Zaid bin Aliy adalah hadis Abu Bakar bahwa Nabi tidak mewariskan. Ini adalah asumsi nashibi itu sendiri. Riwayat Ismaail bin Ishaaq Al Qaadhiy adalah ringkasan dari riwayat Ibnu Syabbah, hal ini terlihat dari sanadnya yang berujung pada Fudhail bin Marzuq dan matannya yang serupa sehingga penjelasannya pun harus merujuk pada riwayat Ibnu Syabbah yang lebih lengkap baik sanad maupun matannya.
Kami pribadi juga tidak yakin Zaid bin Aliy akan menyepakati hadis Abu Bakar bahwa Nabi tidak mewariskan mengingat Sayyidah Fathimah sendiri mengingkari hadis tersebut dan Imam Ali setelah Sayyidah Fathimah wafat tetap mengakui di hadapan kaum muslimin bahwa Ahlul bait berhak akan tanah Fadak. Bukankah atsar Zaid bin Aliy dari sisi ini kontradiktif dengan pendirian Ahlul Bait. Maka sederhananya bisa saja dikatakan riwayat tersebut tertolak, apalagi Fudhail bin Marzuuq [meminjam bahasa nashibi itu] bukan perawi yang memiliki derajat ketsiqatan yang tinggi. Aneh bin ajaib nashibi tersebut tidak mengambil kesimpulan seperti ini mungkin karena tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Ia lebih suka melemahkan riwayat lain yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Dan telah kami tunjukkan di atas betapa menyedihkannya hujjah nashibi. Kesimpulannya baik dari segi sanad maupun matan, riwayat Zaid bin Aliy itu tertolak.

 

Pembelaan Untuk Quraish Shihab Tentang Sikapnya Terhadap Syiah

Tulisan saya kali ini adalah sekedar tanggapan untuk tulisan dari situs INSISTS yang ditulis oleh Saudara Adian Husaini. Tulisannya adalah pemaparan kritik Pesantren Sidogiri dalam buku Mungkinkah Sunnah-Syiah Dalam Ukhuwah?
Buku Sidogiri tersebut adalah bantahan terhadap buku Quraish Shihab Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan Mungkinkah?. Saya hanya akan menanggapi singkat tulisan saudara Adian yang begitu memuji buku Pesantren Sidogiri tersebut. Tujuannya sederhana, supaya siapapun yang akan membaca buku Quraish Shihab dan Buku Sidogiri mendapatkan gambaran awal yang lebih objektif. (sebenarnya sih ada yang minta) :mrgreen:
Silakan lihat saja situs INSISTS untuk melihat tulisannya secara lengkap. Saya hanya akan mengutip bagian yang akan saya tanggapi saja :)
Sang Penulis menuliskan
Salah satu kesimpulan Quraish Shihab dalam bukunya ialah, bahwa Sunni dan Syiah adalah dua mazhab yang berbeda. ”Kesamaan-kesamaan yang terdapat pada kedua mazhab ini berlipat ganda dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan dan sebab-sebabnya. Perbedaan antara kedua mazhab – dimana pun ditemukan – adalah perbedaan cara pandang dan penafsiran, bukan perbedaan dalam ushul (prinsip-prinsip dasar) keimanan, tidak juga dan Rukun-rukun Islam.” (Cetakan II, hal. 265).
Tanggapan saya : Bisa dikatakan saya sangat setuju dengan pernyataan Quraish Shihab, hal ini pernah saya tulis dalam tulisan saya Telaah Perbedaan Sunni dan Syiah. Bagi pengkaji yang baik dan berpengalaman dalam masalah Sunni dan Syiah, maka kesimpulan Quraish Shihab ini sangat beralasan dan didukung oleh bukti yang kuat dari kalangan Ulama Syiah sendiri. Dalam buku beliau, Quraish Shihab telah memaparkan bagaimana pandangan Syiah seperti yang dikatakan dan dianut oleh Ulama Syiah sendiri. Hal ini jelas berbeda dengan buku-buku Salafy yang berkesan tendensius mengkafirkan dan menghujat di sana-sini, seperti Ihsan Ilahi Zahir, Abdul Mun’im An Namr, Mamduh Farhan Al Buhairi, atau karya ulama klasik seperti Minhaj As Sunnah Ibnu Taimiyyah dan karya Syaikh Wahabi Muhammad bin Abdul Wahab. Semua karya itu hanya menampilkan pandangan Syiah seperti yang mereka katakan tetapi Syiah berlepas diri dari itu, alasannya sederhana yaitu banyak sekali karya Ulama Syiah yang membantah karya-karya mereka dan mengungkapkan fitnah-fitnah yang mereka tujukan terhadap Syiah.
Sebagai sebuah contoh sederhana saya sudah pernah menuliskan kekeliruan fatal karya-karya mereka yang dengan soknya berkata ilmiah dari kitab-kitab Syiah sendiri. Kekeliruan tersebut adalah sebagian dari mereka seenaknya menyatakan bahwa Kedudukan Kitab hadis Syiah Al Kafi adalah sama seperti dengan kedudukan Shahih Bukhari di sisi Sunni. Padahal sudah jelas sekali perbedaannya bagi mereka yang benar-benar meneliti Al Kafi dan Shahih Bukhari.
Oleh karena itu setelah membaca buku Quraish Shihab saya sangat bersimpati kepada beliau, yang dengan tulus berusaha menunjukkan seobjektif mungkin dan tidak terpengaruh dengan Syiahpobhia Kelas Berat ;)
Kemudian Saudara penulis itu menuliskan
Berbeda dengan Quraish Shihab, pada bagian sampul belakang buku terbitan Pesantren Sidogiri, dikutip sambutan KH. A. Nawawi Abdul Djalil, pengasuh Pesantren Sidogiri yang menegaskan: ”Mungkin saja, Syiah tidak akan pernah habis sampai hari kiamat dan menjadi tantangan utama akidah Ahlusunnah. Oleh karena itu, kajian sungguh-sungguh yang dilakukan anak-anak muda seperti ananda Qusyairi dan kawan-kawannya ini, menurut saya merupakan langkah penting untuk membendung pengaruh aliran sesat semacam Syiah.”
Tanggapan saya : Jelas sekali kalau saudara itu juga mensesat-sesatkan Syiah, dan memuji buku Sidogiri yang katanya dapat membendung pengaruh aliran sesat semacam Syiah. Sayangnya buku Sidogiri itu sama saja kelasnya dengan karya-karya Mereka Syiahpobhia yang maaf tidak ada harganya sama sekali menurut saya. Silakan saja kalau mau mempersepsi, kualitas suatu buku atau karya dilihat dari Isinya dan Argumen yang ada di dalamnya. Banyak sekali masalah dalam Buku Sidogiri itu yang hanya pengulangan buku-buku Syiahpobhia Kelas berat yang saya katakan sebelumnya. Dan tentunya Masalah ini sudah menjadi kebosanan Ulama Syiah untuk menjawabnya berulang-ulang. Simple saja, seandainya Salafy Syiahpobhia itu punya telinga untuk mendengar, mata untuk melihat dan akal untuk berpikir sedikit kerendahan hati untuk mendengarkan kesaksian Ulama Syiah, maka sudah pasti jawabannya Sunnah Syiah Sudah Pasti Dalam Ukhuwah .
Mari kita lihat ringkasan Studi Komparatif Penulis terhadap kedua buku Quraish Shihab dan Sidogiri, untuk memudahkan saya akan mengikuti penulisan inisial QS untuk Quraish Shihab dan PS untuk Pesantren Sidogiri.
Abdullah bin Saba’ Tidak Ada Kaitannya Dengan Syiah
Sang Penulis menuliskan
QS: ”Ia adalah tokoh fiktif yang diciptakan para anti-Syiah. Ia (Abdullah bin Saba’) adalah sosok yang tidak pernah wujud dalam kenyataan. Thaha Husain – ilmuwan kenamaan Mesir – adalah salah seorang yang menegaskan ketiadaan Ibnu Saba’ itu dan bahwa ia adalah hasil rekayasa musuh-musuh Syiah.” (hal. 65).
PPS: Bukan hanya sejarawan Sunni yang mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’. Sejumlah tokoh Syiah yang diakui ke-tsiqah-annya oleh kaum Syiah juga mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’. Sa’ad al-Qummi, pakar fiqih Syiah abad ke-3, misalnya, malah menyebutkan dengan rinci para pengikut Abdullah bin Saba’, yang dikenal dengan sekte Saba’iyah. Dalam bukunya, al-Maqalat wa al-Firaq, (hal. 20), al-Qummi menyebutkan, bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang memunculkan ide untuk mencintai Sayyidina Ali secara berlebihan dan mencaci maki para sahabat Nabi lainnya, khususnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman r.a. Kisah tentang Abdullah bin Saba’ juga dikutip oleh guru besar Syiah, An-Nukhbati dan al-Kasyi, yang menyatakan, bahwa, para pakar ilmu menyebutkan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang Yahudi yang kemudian masuk Islam. Atas dasar keyahudiannya, ia menggambarkan Ali r.a. setelah wafatnya Rasulullah saw sebagai Yusya’ bin Nun yang mendapatkan wasiat dari Nabi Musa a.s. Kisah Abdullah bin Saba’ juga ditulis oleh Ibn Khaldun dalam bukunya, Tarikh Ibn Khaldun. (hal. 44-46).
Tanggapan saya : Dengan optimis saya katakan bahwa dalam hal ini QS yang benar dan PS telah keliru. Dengan alasan ilmiah yang sederhana
  • Kisah Abdullah bin Saba’ memang diriwayatkan oleh Sejarawan Sunni seperti dalam Tarikh Ath Thabari dan Tharikh Ibnu Asakir tetapi dalam sanad kisah Abdullah bin Saba’ terdapat perawi yang dhaif jiddan yaitu Saif bin Umar At Tamimi yang didhaifkan oleh jumhur ulama hadis.
  • Salafy NeoNashibi berapologia dalam membela sanad kisah Abdullah bin Saba’. Mereka membela Saif dengan menyatakan bahwa riwayat Saif tentang Tarikh bisa diterima sedangkan pendhaifan jumhur ulama adalah tentang periwayatan hadis bukan tentang Tarikh. Ini sih cuma berkelit, karena Jarh wat ta’dil oleh ulama selalu berkaitan dengan kredibilitas perawi dalam menyampaikan riwayat, apakah riwayatnya bisa diterima atau tidak. Tidak ada bedanya apakah riwayat itu berkaitan dengan Hadis atau Tarikh. Bukti dalam hal ini adalah justru dilakukan oleh kebanyakan kaum Salafy sendiri yang menilai shahih tidaknya cerita sejarah berdasarkan Jarh wat Tadil yang dilakukan Ulama hadis. Dan logikanya saja untuk orang yang berani berdusta atas Rasulullah SAW maka sudah jelas akan lebih berani berdusta untuk suatu kisah seorang Abdullah bin Saba’.
  • Neosalafy yang lain kembali berapologia dengan mengatakan bahwa terdapat riwayat lain dalam kitab sejarah Sunni tentang Abdullah bin Saba’ yang tidak diriwayatkan oleh Saif bin Umar. Menurut saya ini juga lucu, karena coba tunjukkan riwayat yang dimaksud. Dan jika memang riwayat itu shahih Anda akan lihat bahwa riwayat itu tidak ada sedikitpun yang menyebutkan kalau Abdullah bin Saba’ pendiri Syiah.
  • Soal jawaban PS bahwa Ulama Syiah meriwayatkan Abdullah bin Saba’ dalam kitab mereka. Maka saya katakan bagaimana kedudukan riwayat tersebut dari sisi keilmuan hadis Syiah? Shahihkan riwayat tersebut, atau jangan-jangan malah tidak ada sanadnya. Lagipula riwayat yang dimaksud itu apa benar merupakan dalil yang jelas bahwa Syiah didirikan oleh Abdullah bin Saba’. Just Fitnah semata, karena riwayat yang dimaksud tidak menyebutkan Syiah. Ulama Syiah selalu mengatakan bahwa mahzab mereka bersumber dari Rasulullah SAW dan Ahlul Bait Beliau dan, jadi bukan dari Abdullah bin Saba’.
Kedudukan Abu Hurairah RA
Sang penulis melanjutkan
QS: ”Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan. Disamping itu semua, harus diakui juga bahwa tingkat kecerdasan dan kemampuan ilmiah, demikian juga pengenalan Abu Hurairah r.a. menyangkut Nabi saw berada di bawah kemampuan sahabat-sahabat besar Nabi saw, atau istri Nabi, Aisyah r.a.” (hal. 160).
QS: “Ulama-ulama Syiah juga berkecil hati karena sementara pakar hadits Ahlusunnah tidak meriwayatkan dari imam-imam mereka. Imam Bukhari, misalnya, tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far ash-Shadiq, Imam ke-6 Syiah Imamiyah, padahal hadits-haditsnya cukup banyak diriwayatkan oleh kelompok Syiah.” (hal. 150).
PPS: “Sejatinya, melancarkan suara-suara miring terhadap sahabat pemuka hadits sekaliber Abu Hurairah r.a. dengan menggunakan pendekatan apa pun, tidak akan pernah bisa meruntuhkan reputasi dan kebesaran beliau, sebab sudah pasti akan bertentangan dengan dalil-dalil hadits, pengakuan para pemuka sahabat dan pemuka ulama serta realitas sejarah. Jawaban untuk secuil sentilan terhadap Abu Hurairah r.a. sejatinya telah dilakukan oleh para ulama secara ilmiah dan rasional. Banyak buku-buku yang ditulis oleh para ulama khusus untuk membantah tudingan miring terhadap sahabat senior Nabi saw tersebut, diantaranya adalah al-Burhan fi Tabri’at Abi Hurairah min al-Buhtan yang ditulis oleh Abdullah bin Abdul Aziz bin Ali an-Nash, Dr. Al-A’zhami dalam Abu Hurairah fi Dhau’i Marwiyatih, Muhammad Abu Shuhbah dalam Abu Hurairah fi al-Mizan, Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib dengan bukunya Abu Hurairah Riwayat al-Islam dan lain-lain.”
Untuk masalah ini saya tidak akan membenarkan baik kedua belah pihak QS dan PS. Untuk QS apa yang beliau katakan adalah pendapat beliau soal hadis Abu Hurairah, tetapi memang benar bahwa hadis riwayat Ahlul Bait sedikit sekali diriwayatkan jika dibandingkan dengan Abu Hurairah, ini adalah fakta. Untuk PS menurut saya cuma berapologia ketika mengagung-agungkan Abu Hurairah RA. Abu Hurairah RA adalah sama seperti sahabat Nabi SAW yang lain yang tentu sama-sama memiliki kemampuan meriwayatkan hadis. Hanya saja PS dan penulis hanya bersandar pada keterangan Ulama Sunni yang membela Abu Hurairah RA
Lihat tulisan ini
Karena kuatnya bukti-bukti keutamaan Abu Hurairah, maka PPS menegaskan: “Dengan demikian, maka keagungan, ketekunan, kecerdasan dan daya ingat Abu Hurairah tidak perlu disangsikan, dan karena itulah posisi beliau di bidang hadits demikian tinggi tak tertandingi. Yang perlu disangsikan justru kesangsian terhadap Abu Hurairah r.a. seperti ditulis Dr. Quraish Shihab: “Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan.” (hal. 322).
Anehnya dalam mata para pengkritik Abu Hurairah argumen ini tidak bernilai, karena keutamaan Abu Hurairah yang selangit itu justru diriwayatkan oleh Abu Hurairah sendiri. Bagaimana mungkin membenturkan argumen keraguan kredibilitas Abu Hurairah RA dengan hadis riwayat Abu Hurairah sendiri. Hadis tersebut justru diragukan oleh para pengkritik Abu Hurairah.
Yang jelas untuk masalah ini saya tidak terlalu peduli, adalah hak Syiah untuk tidak mengambil riwayat Abu Hurairah karena Mereka sudah cukup mengambil agama dari Ahlul Bait. Sedangkan Sunni adalah haknya juga mengambil riwayat Abu Hurairah karena riwayat Ahlul Bait saja tidak memadai sebagi landasan agama (karena sedikitnya) :mrgreen:
Penulis juga berasumsi ketika berkata
Pernyataan seperti yang dilontarkan oleh Dr. Quraish Shihab tersebut sebetulnya hanya muncul dari asumsi-asumsi tanpa dasar dan tidak memiliki landasan ilmiah sama sekali. Sebab jelas sekali jika beliau telah mengabaikan dalil-dalil tentang keutamaan Abu Hurairah dalam hadits-hadits Nabi saw, data-data sejarah dan penelitian sekaligus penilaian ulama yang mumpuni di bidangnya (hadits dan sejarah). Kekurangcakapan Dr. Quraish Shihab di bidang hadits semakin tampak, ketika beliau justru menjadikan buku Mahmud Abu Rayyah, Adhwa’ ‘ala Sunnah Muhammadiyah, sebagai rujukan dalam upaya menurunkan reputasi Abu Hurairah r.a. Padahal, semua pakar hadits kontemporer paham betul akan status dan pemikiran Abu Rayyah dalam hadits.” (hal. 322-323).
Buku Abu Rayyah tidak lebih rendah nilainya dari buku ulama-ulama yang membantahnya. Tentu tidak semua yang dikatakan oleh Abu Rayyah adalah salah, dan ternyata tidak semua yang dikatakan oleh Ulama pembela Abu Hurairah RA itu benar. Saya tidak akan membahas lebih lanjut masalah ini(terlalu panjang), bagi yang ingin meneliti silakan cari buku Abu Rayyah dan bantahannya kemudian bandingkan. Hmmm mungkin buku Abu Hurairah karya Syaikh Sarafudin Al Musawi juga bisa menjadi bahan pertimbangan. Jadi untuk hal ini QS dan PS adalah sama-sama menilai berdasarkan sudut pandang yang berlainan.
Adapun tentang kata-kata
PPS juga menjawab tuduhan bahwa Ahlusunnah diskriminatif, karena tidak mau meriwayatkan hadits dari Imam-imam Syiah. Pernyataan semacam itu hanyalah suatu prasangka belaka dan tidak didasari penelitian ilmiah apa pun. Dalam kitab-kitab Ahlusunnah, riwayat-riwayat Ahlul Bait begitu melimpah.
Dalam-dalam kitab Ahlussunnah riwayat Ahlulbait yaitu Imam Ali AS, Sayyidah Fatimah AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS adalah sangat sedikit dibanding riwayat Abu Hurairah(apalagi imam-imam yang lain). Jadi banyak dari mana tuh?
Pengkafiran Terhadap Ahlussunnah
Ini tuduhan yang menggelikan, tidak ada Syiah mengkafirkan Ahlussunnah, lihat tulisan saya Telaah Perbedaan Sunni dan Syiah disitu dinyatakan bahwa Imam Ahlul Bait sendiri menyatakan sahnya keislaman Ahlus Sunnah. Hal ini dinyatakan oleh Ulama Syiah berdasarkan riwayat shahih mereka dari para Imam Ahlul Bait.
Sang penulis berkata
Banyak sekali buku-buku referensi utama kaum Syiah yang dirujuk dalam buku terbitan PPS ini. Karena itu, mereka juga menolak pernyataan Dr. Quraish Shihab bahwa yang mengkafirkan Ahlusunnah hanyalah pernyataan orang awam kaum Syiah. PPS juga mengimbau agar umat Islam berhati-hati dalam menerima wacana ”Persatuan umat Islam” dari kaum Syiah. Sebab, mereka yang mengusung persatuan, ternyata dalam kajiannya justru memojokkan Ahlusunnah dan memposisikannya di posisi zalim, sementara Syiah diposisikan sebagai “yang terzalimi”.
Sudah jelas ketika Salafy yang mengaku Ahlus Sunnah atau siapa saja mengkafirkan Syiah maka sudah nyata kezalimannya. Tidak ada yang lebih berat dari itu. hal ini sudah pernah saya tekan kan dalam tulisan saya bahwa Syiah Itu Islam. jadi Mengkafirkan seorang Muslim besar sekali resikonya :(
Untuk bahasan lanjut atau bantahan terhadap Buku Sidogiri anda mungkin dapat melihat situs ini. Pengelola situs ini sudah menulis banyak kajian tentang buku tersebut dan yah nilai saja sendiri
Buat saudara penulis, Mohon maaf tidak ada niat sedikit pun saya untuk merendahkan, saya cuma memaparkan pandangan saya. Seandainya dalam tanggapan saya terdapat kata-kata yang kurang berkenan saya mohon maaf.
Buat saudara saya, ini dulu yang dapat saya sampaikan. Maafkan jika kurang memuaskan, saya benar-benar sibuk akhir-akhir ini :)
Salam Damai
http://secondprince.wordpress.com/2008/04/05/pembelaan-untuk-quraish-shihab-tentang-sikapnya-terhadap-syiah/ 

228 Tanggapan

  1. Maaf mas pernyataan anda ada yang salah, dlm kitab karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak ada pembahasan tentang ‘Kedudukan Kitab Hadits Al Kafi’. Sebaiknya anda membaca buku tersebut sebelum memberikan pernyataan (yang diterbitkan oleh Al-Imu Yogyakarta)
  2. Tambahan:
    Salafy tidak mengkafirkan semua Syiah tapi hanya sebagian tergantung dari kesesatannya. Seperti yang menganggap bahwa ‘Ali adalah Tuhan. Disini mas juga secara tendensius menganggap bahwa semua Salafy mengkafirkan Syiah. Salafy sendiri membagi Syiah dlm beberapa kelompok seperti anda ketahui sendiri. Hanya saja saat ini kebanyakan Syiah adalah Rafidlah. Apa alasannya? dikarenakan kebencian mereka terhadap para Sahabat yang Mulia yang ditunjukkan secara nyata baik lewat tulisan, ucapan, maupun amalan. Setahu saya (yg kini baru sedikit belajar Salafy) di kajian2 tidak pernah menyebut Syiah itu kafir, walaupun memang pembahasan tentang Syiah hanya 1% karena kebanyakan kajian membahas tentang Tauhid, Fiqih, dan Akhlak.
    Contoh pembahasan dalam kitab karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah pembahasan tentang nikah mut’ah, syiah yg menghalalkan menjimak istrinya dari dubur, Insya Allah akan saya tulis secara bertahap mas, semoga bisa sharing ilmu.
  3. @Anas
    Hmm saya nggak bilang bahwa dalam kitab Syaikh itu ada pembahasan khusus tentang kedudukan hadis Al Kafi
    Tapi itu juga yang saya tangkap dari membaca karyanya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hanya menampilkan riwayat Syiah tetapi tidak menguraikan kedudukan sanad riwayat tersebut disisi Syiah sendiri
    Ada yang begitu eksplisit menyebutkan seperti Ihsan Ilahi Zahir,Abdul Munim An Namr dan Mamduh Farhan Al Buhairi. Merekalah yang saya maksud dalam kata-kata saya
    Sebagai sebuah contoh sederhana saya sudah pernah menuliskan kekeliruan fatal karya-karya mereka yang dengan soknya berkata ilmiah dari kitab-kitab Syiah sendiri. Kekeliruan tersebut adalah sebagian dari mereka seenaknya menyatakan bahwa Kedudukan Kitab hadis Syiah Al Kafi adalah sama seperti dengan kedudukan Shahih Bukhari di sisi Sunni. Padahal sudah jelas sekali perbedaannya bagi mereka yang benar-benar meneliti Al Kafi dan Shahih Bukhari.
    Maaf kalau membuat anda mempersepsi begitu, setidaknya sudah saya jelaskan
    Tapi saya benar-benar sudah baca kok buku Syaikh Wahabi itu, buku yang cukup banyak memuat hadis dhaif yang seharusnya sebagai seorang Syaikh Salafy lebih bersikap kritis dalam masalah hadis
  4. @Anas
    Salafy tidak mengkafirkan semua Syiah tapi hanya sebagian tergantung dari kesesatannya.
    Hmm bisa jadi, tapi saya lebih berkesan begitu
    Seperti yang menganggap bahwa ‘Ali adalah Tuhan. Disini mas juga secara tendensius menganggap bahwa semua Salafy mengkafirkan Syiah.
    Kalau yang begitu sih cuma Salafy yang menyebut mereka Syiah, Syiah sendiri yang saya baca menyatakan berlepas diri dari keyakinan seperti itu.
    Salafy sendiri membagi Syiah dlm beberapa kelompok seperti anda ketahui sendiri. Hanya saja saat ini kebanyakan Syiah adalah Rafidlah. Apa alasannya? dikarenakan kebencian mereka terhadap para Sahabat yang Mulia yang ditunjukkan secara nyata baik lewat tulisan, ucapan, maupun amalan.
    Pengkategorian Syiah Rafidhah itu dengan alasan yang anda sebutkan adalah subjektif. Karena tergantung maksud kebencian dan penunjukkannya itu bagaimana
    Setahu saya Yang sekarang Syiah itu adalah Syiah Imamiyah. Menurut anda samakah Syiah Imamiyah dengan Syiah Rafidhah? Apakah Syiah yang dikatakan kafir oleh Syaikh Jibrin itu merujuk pada Syiah Rafidhah, Syiah Imamiyah atau Syiah yang menurut anda mentuhankan Ali?
    Setahu saya (yg kini baru sedikit belajar Salafy) di kajian2 tidak pernah menyebut Syiah itu kafir, walaupun memang pembahasan tentang Syiah hanya 1% karena kebanyakan kajian membahas tentang Tauhid, Fiqih, dan Akhlak.
    Sebenarnya saya juga tidak membicarakan kajian Salafy, masalah pengkafiran dapayt dibaca dari buku karya Syaikh Salafy yang mengkafirkan Syiah
    Contoh pembahasan dalam kitab karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah pembahasan tentang nikah mut’ah, syiah yg menghalalkan menjimak istrinya dari dubur, Insya Allah akan saya tulis secara bertahap mas, semoga bisa sharing ilmu.
    Silakan Mas, tapi kok saya mendapat kesan kalau buku Syaikh ini juga mengkafirkan Syiah
    Salam
  5. mas Anas pernyataan anda mengenai dibolehkannya menjima’ isteri lewat dubur oleh ulama Syiah menurut saya adalah cerminan keputus-asaan musuh2 Syiah yang dengan segala cara menghancurkan Syiah tetapi Syiah semakin hari semakin tegak dan tegar.
    Di rumah saya punya buku2 mengenai membangun rumah tangga muslim yang dikarang oleh ulama Syiah, tapi tidak ada satupun ada fatwa yang menghalalkan menjima’ istri lewat dubur. Bahkan di satu segi para ulama Syiah berdasarkan hadis yang diriwayatkan para Imam Ahlul Bait sangat menekankan teknik dan perilaku yang sangat Islami dan jauh dari perilaku binatang dan terkesan sangat ketat !
    Tapi ya memang tidak aneh karena sumbernya adalah buku yang ditulis oleh pendiri Wahabi muridnya Ibnu Taimiyyah yang Bani Umayah jelas saja membenci Syiah / Ahlul Bait yang Bani Hasyim.
    Mungkin sebenarnya anda sendiri yang senang teknik begitu ?
  6. Buku ini “Mungkinkah Sunnah-Syiah Dalam Ukhuwah?” Bisa saya dapatkan di mana ya? Mohon infonya…. thanx
  7. Yang sudah pasti ada, di ponpes sidogiri. hehehe…aku juga pingin dapet buku itu biar gak dibilang orang syi’ah itu gak mau baca buku ahlulsunnah.
  8. @ressay….
    jauuuuuuh kale kalo gw harus ke sana? maksud gw dijual di toko-toko buku popular gak? or harus order ke Sidogiri? gak bisa online belinya yak?
  9. @T Mulya
    Benar Mas, saya sependapat dengan anda
    Salafy cuma memaksakan pandangan mereka sendiri walaupun kenyataannya berbeda, tidak lain karena fanatisme mahzab
    Salam
    @hilda alexander
    Cari di toko-toko buku terdekat di kota anda
    Bila perlu toko yang khas Salafy atau yang khas Syiahpobhia :mrgreen:
    @ressay
    ah akhi berhati-hatilah membaca buku itu :mrgreen:
    @hilda alexander
    jauuuuuuh kale kalo gw harus ke sana?
    Kebenaran selalu butuh pengorbanan, Ukhti :mrgreen:
  10. wah…nanti abis mid semester mau jalan-jalan ke gramedia. dah berbulan-bulan gak berkunjung ke gramedia setelah memiliki planning lain penggunaan uang tabungan dan gajian.
    atau coba aja cari informasi di http://www.sidogiri.com
    dah lama gak diskusi di situ euy. eh salah, bukan diskusi. tapi debat kusir. kasian kudanya, orang-orang pada debat kusir terus.
  11. yang diperlukan memang dialog langsung, jadi orang-orang yang berprasangka terhadap syi’ah — yang cuma tau syiah dari buku-buku yang ditulis orang non-syiah atau baca buku syiah secara tidak adil– dan mereka yang berpaham syiah bertemu muka. dan hal ini sebenarnya sudah dilakukan! beberapa orang [termasuk bang adian yang cerewet itu] memang sepertinya kekurangan informasi. kayaknya ingin sekali mengatakan bahwa kursi itu lemari, padahal kursi yah kursi, bukan lemari.
  12. saudaraku yaser,, ada aliran islam baru namanya “Romiyah al-munawaroh”,, serius gw,, kita mengembangkan kajian “islam nusantara”,, ntar gw jelasin..
    sunni itu islam “arabisme”, gw heran kenapa di indonesia bisa berkembang islam arabisme itu?? padahal bangsa arab itu bangsa terkutuk setelah yahudi, tahu kenapa? karna banyak nabi yang di kirim ke mereka, lu tahu khan sebab – sebab turunya nabi… bandingkan dengan indonesia? tidak pernah ada nabi atau rosul disini, tapi umat muslimnya banyak, walaupun bego’.. kita membutuhkan islam dengan rasa “indonesia” ser, konflik sunni – syiah itu maenannya orang arab, kita jangan terjebak dengan konflik mereka,,, orang arab itu dari dulunya emang senang berantem,, dan lucunya ada aja orang – orang indonesia yang sok – sok ikutan cari perkara,,
    syiah dan sunni memang gak akan menyatu, namun bisa saja harmonis, dan itu hanya bisa terjadi di indonesia, kita sebagai bangsa indonesia haruslah sadar dengan segala kelebihan kita, sejarah islam di indonesia haruslah berdiri sendiri, jangan lagi – lagi terjebak dengan “pembodohan” zaman “kelam” ke Khalifahan,,, islam itu moderat, bukanya baduy, islam itu sosialis, bukanlah kapitalis ( baca umayah), islam itu untuk orang indonesia, ajaran dasar islam itu kebanyakan sama dengan sifat asli orang indonesia, coba aja lu pikirin sendiri, gw males nulisnya coy..
    sebenarnya masih banyak yang mau gw paparkan , cuman males ngetik gw, keybordnya gak asik,, intinya satu kunci agar bisa tercipta lingkungan sehat antara sunni – syiah, jadilah seorang bangsa indonesia yang utuh, bersifat ramah, gotong – royong, bhineka tunggal ika, dll. agama itu urusan individu, buat ustad – ustad yang cari perkara dengan menjadi provakasi, berhentilah.. jangan sok jadi sufi, ilmu anda memang tinggi, anda memang jago ngaji, tapi tolong, ini Indonesia!! bangsa yang bermoral… hidup bhineka tunggal ika!!!!
  13. @Romiyyah almunawwaroh
    kajian islam nusantara,……..Islam arbisme……sunni-syiah….kapitalis (baca: umayyah), …….keyboardnya ga asik,………..bhineka tunggal ika…….
    Ini mau ngomong atau apa sih? Ga jelas :)
  14. @romiyyah almunawwaroh
    Islam Nusantara yach? Kenapa harus ada Islam Nusantara? kenapa harus ada Islam Liberal? aneh-aneh aja.
    Ok, silakan dijelaskan tetapi jangan disini. Kirim email ke saya: cut_yasser@yahoo.com
    apa yang anda sampaikan baru sekedar informasi, belum berupa pengetahuan. jadi, maaf, kalau saya belum sependapat dengan Anda ketika Anda mengatakan bahwa Bangsa arab itu bangsa yang terkutuk setelah Yahudi. ya sekedar bertanya saja, kalau kita berbicara agama maka itu menyinggung skriptualis. maka dari itu, saya tanyakan Anda mendapatkan pengetahuan seperti itu dari teks mana?
    Konflik sunni syi’ah mainan orang arab? ini pun lagi-lagi aku tanya keilmiahannya.
    jangan-jangan Anda mau membuat kelompok ketiga setelah adanya sunni syi’ah. Jadi nanti konflik antara sunni, syi’ah dan romiyah almunawwaroh adalah maenan Anda. :D
    Anda mengatakan, “intinya satu kunci agar bisa tercipta lingkungan sehat antara sunni – syiah, jadilah seorang bangsa indonesia yang utuh, bersifat ramah, gotong – royong, bhineka tunggal ika, dll.”
    hehehe…muncul pertanyaan lagi nih. Kalau orang malaysia gimana? kasian donk disuruh jadi bangsa Indonesia yang utuh. Anda itu pingin buat menegakkan agama Islam atau agama Indonesia?
    ok, gitu aja dulu.
    Kalau berkenan, silakan kirimkan email. sudah menanti banyak orang dibelakang saya yang akan siap menanggapi pemikiran Anda.
  15. nanti muncul Islam Melayu, Islam Polinesia, Islam Kaukasia, or entah apa lagi. Kenapa sih seneng banget sama yang namanya atribut? heran deh
  16. @hilda alexander
    karena katanya sih fitrah manusia itu menyenangi hal-hal yang tampak kasat mata.
  17. @ressay
    kasat mata, menyilaukan tapi semu…. citra, atribut, imej, dan entah apa lagi , dan mungkin juga kekuasaan,…. halah kok jadi OOT ya
    @secondprince
    yang saya suka dari Quraish Shihab adalah dia transformer… ide bagus jika kedua buku sama-sama dibedah dan dikaji secara ilmiah melalui forum akademis….
  18. @ressay
    yah, semoga dapet bukunya :)
    @gentole
    benar Mas, sikap memaksakan pikiran sendiri itu benar-benar tidak baik :)
    @Romiyah Al-Munawwaroh
    Saya baru dengar aliran itu, wah ada-ada aja nih
    sunni itu islam “arabisme”, gw heran kenapa di indonesia bisa berkembang islam arabisme itu?? padahal bangsa arab itu bangsa terkutuk setelah yahudi, tahu kenapa? karna banyak nabi yang di kirim ke mereka, lu tahu khan sebab – sebab turunya nabi…
    Hmm saya rasa istilah arabisme itu subjektif Mas, dan gak ada hubungannya dengan siapa bangsa yang terkutuk, lagipula saya sangat tidak setuju bangsa arab itu bangsa terkutuk setelah Yahudi
    kita membutuhkan islam dengan rasa “indonesia” ser, konflik sunni – syiah itu maenannya orang arab, kita jangan terjebak dengan konflik mereka,,, orang arab itu dari dulunya emang senang berantem,, dan lucunya ada aja orang – orang indonesia yang sok – sok ikutan cari perkara,,
    Bukan mainan orang arab kok, karena perkara Sunni Syiah tidak terkhusus pada orang arab saja dan lagipula pernyataan anda itu benar-benar memerlukan bukti, kalau tidak , saya ragu sekali dengan premis itu. Perbedaan Sunni Syiah udah berusia lama sekali dan itu bukan buatan siapa-siapa :)
    syiah dan sunni memang gak akan menyatu, namun bisa saja harmonis, dan itu hanya bisa terjadi di indonesia,
    Maaf saya lagi-lagi tidak setuju dengan anda, hubungan yang harmonis tergantung dengan kesadaran keduabelah pihak untuk beritikad baik dan saling menghargai, bukan tergantung berasal dari bangsa mana :)
    islam itu untuk orang indonesia, ajaran dasar islam itu kebanyakan sama dengan sifat asli orang indonesia, coba aja lu pikirin sendiri,
    Maaf Mas, Islam itu untuk seluruh umat manusia
    Salam
    @armand
    he he he bingung kan itu arahnya kemana :mrgreen:
    @ressay
    kalau memang ada diskusi via email, saya juga ingin tahu hasil diskusinya :)
    @hilda
    Itu juga yang membuat saya heran, atribut terkadang menipu :)
    @ressay
    sukanya manusia bukan berarti itulah yang benar kan, terkadang kebenaran itu tidak begitu disukai
    @hilda
    yang saya suka dari Quraish Shihab adalah dia transformer… ide bagus jika kedua buku sama-sama dibedah dan dikaji secara ilmiah melalui forum akademis….
    Silakan saja, tetapi saya lebih suka mengkaji sendiri, setelah itu baru ikutan forum akademis :)
  19. Makanya kita harus belajar epistemologi Islam. yah…kok nyambungnya ke situ yach? hehehe…maklum, lagi seneng ngomongin masalah epistemologi Islam.
  20. kalo saya lagi gandrung baca tulisan-tulisan Gabriel Garcia Marquez… :) ini lebih gak nyambung lagi
    to blog’s owner, sorry nyampah
  21. @ressay
    ya bener sekali
    *pura-pura nyambung* :mrgreen:
    @hildalexander
    gapapa :)
    kalau bisa cerita ya, kalau sudah selesai baca bukunya sih
  22. @ yg punya blog
    maap, mo numpang nitip salam aja..
    @ Romiyah Almunawwaroh
    maap, sy baru denger nih. jadi pengen tau :) Jadi, prinsipnya ‘islam nusantara’ itu gmn? (tp jgn djwb disini, ntar digampar yg punya blog :mrgreen: mangga mampir di blog saya)
    maap lagi, yg anda maksud “ustad – ustad yang cari perkara dengan menjadi provakasi” itu sapa? bukan pak Quraisy atau pak Adian kan? Ah rasa2nya anda perlu membca postingan mas ini yg tentang tiranisme salafi deh (smoga mencerahkan) :)
    Ah tapi.., bagi sy.. yg terpenting adl gmn caranya agar umat islam senantiasa menjadi khayr ummah & berupaya mengajak manusia kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran.
    Nah, utk ini, kerangka keilmuannya haruslah benar & tidak dibiarkan berubah krn unsur-unsur sofis moderen dalam berbagai bentuk.
    Jika kerangka ini berubah, maka umat islam tidak akan dapat berupaya memahami ajaran-ajaran Al-Qur’an & Rasulullah, serta mendapat manfaat dari kewibawaan tradisi umat manusia lainnya.
  23. ccckk..ccckkk..pd salut dehh ama semuanya, terutama buat SP (bener2 tuan rumah yg baik)..hehe. Salut dg kemauannya utk menanggapi Romiyah Al-Munawwaroh.
  24. @nurma
    salam juga :)
    @nothing
    Selagi saya bisa kenapa tidak :mrgreen:
  25. Dari dulu gini mulu..!!! Kapan sih Islam akan bersatu? Org” diluar Islam sedang menyusun satu kesatuan. Didalam Islam justru sebaliknya. Saling menghujat dan menjatuhkan….
  26. Mengkritik bukan berarti menghujat. Jadi, mengkritiklah dengan santun.
  27. @ mutazanas
    8O apa? Jadi ibnu abdul Wahabi mengizinkan umatnya untuk melakukan SODOMI terhadap istri mereka ?
    8O buset !!!
    Serem bener kaum Wahabi itu ? Wah nggak heran mereka sering disebut kaum Bar-Bar tidak saja oleh agama / kaum lain tetapi juga umat islam pada umumnya
    :? masa SODOMI sich !!!
  28. Kalau kita lihat, Abu Hurayrah meriwayatkan lebih dari 5000-an hadits, padahal hanya hidup 3,5-6 tahun dengan Rasulullah. Sementara hadits yang diriwayatkan oleh keluarga Rasulullah SAAW kurang dari itu. Padahal, keluarga nabi jauh hidup lebih lama dibandingkan dengan Abu Hurayrah. Terlebih lagi, Imam ‘Ali ibn Abi Thalib a.s.
    Kita hitung dengan matematika deh maksimal hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah perhari:
    =5.000 : (3,5×365)
    =5.000 : 1277.5
    = 3,91 atau 4 hadits per hari.
    Sekarang kita hitung deh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah per hari minimal:
    =5.000 : (6×365)
    =5.000 : 2190
    = 2,83 atau dua hadits per hari.
    Jadi Abu Hurayrah setiap hari menghafal 3-4 hadits dari Rasulullah SAAW per hari.
    Padahal hadits yang diriwayatkan oleh Ali ibn Abi Thalib lewat jalur ahlus sunnah jauh lebih sedikit daripada Abu Hurayrah. Mungkinkah demikian? Sementara dalam sejarah Rasulullah SAAW hampir selalu bersama Ali ibn Abi Thalib, sampai ada sabda Rasulullah SAAW yang sangat termahsyur:
    “Ana madinatul ilmi wa aliyyun babuha” (Aku adalah pusatnya pengetahuan dan Ali adalah pintunya).
    Tanya kenapa?!?!?!
  29. @romiyah
    Islam Nusantara, wah ada aliran baru nih. Kl ada sintesa “Islam Nusantara”, itu artinya ada antitesa sebelumnya yaitu “Islam”. Dengan kata lain, Islam itu kontradiktif dengan Islam Nusantara. Ayo kita uji!
    Sekarang kita lihat tujuan nusantara ini, di lihat dari UUD 1945:
    * melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia;
    * mencerdaskan kehidupan bangsa;
    * memajukan kesejahteraan umum; dan
    * ikut melaksanakan ketertiban dunia.
    Apakah Islam dapat melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah manusia? Apakah Islam dapat mencerdaskan kehidupan bangsa? Apakah Islam dapat memajukan kesejahteraan umum? Apakah Islam dapat ikut melaksanakan ketertiban dunia?
    Jelas dapat! Lihat saja deh, antara lain:
    1-ayat ritual dengan sosial dalam Quran 1:100 (Ayatullah Khomeini);
    2-khayrunnaas anfa’ahum linnaas (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat buat manusia lain)
    3-dari sejarah, Rasulullah SAAW disebut dengan ‘abul yataama’ (Bapaknya anak yatim) dan ‘Abul masaakin’ (Bapaknya orang2 misin)
    4-de el el
    Dari sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia sendiri, Islam (ahlul bayt) telah membantu mengobarkan revolusi melepaskan dari belenggu penjajah.
    Misalnya, Sultan Hasanuddin bergelar Al-Baqir, sebuah sebutan yang hanya ada di tradisi Ahlul Bayt, merujuk pada salah seorang Imam. Juga peringatan Suro dalam Tradisi Jawa dengan bubur merah dan putih. Merah berarti darah dan putih artinya kesucian, yang dipengaruhi tradisi ahlul bayt (Tragedi Karbala). Ini menjadi simbol melawan kolonialisme.
    Wahabisme mulai masuk dengan adanya Kaum Paderi di ranah Minang sampai lahirnya organisasi Islam awal 1900an. Sebelumnya, Islam di Indonesia adalah Islam Ahlul Bayt yang memang disebarkan oleh saudagar-saudagar dari Persia.
    Kenapa? Doktrin melawan penindasan adalah bagian dari tradisi Ahlul Bayt. Doktrin mensejahterakan rakyat, khususnya kaum papa dan anak yatim, adalah bagian dari tradisi Ahlul Bayt. Buktinya? Lihat deh peran Hezbollah melawan pendudukan Israel di Lubnaan.
    Kalau begitu, kenapa tidak cukup comfort dengan sebutan ‘Islam’ saja?
  30. @Qqcakep
    Tidak baik itu menghujat dan menjatuhkan, cukup ditanggapi dengan santun :)
    Salam
    @ressay
    Setuju, mengkritik itu dihalalkan dan tentu dengan santun :)
    @Sahabat Retorika
    Waduh, saya jadi bingung :mrgreen:
    @doonukuneke
    wah soal Abu Hurairah ya, lumayan panjang itu bahasannya :) , Coba saja buat tulisan, biar lebih enak dibahas dan kasih tahu saya ya
    Salam
  31. Komplik…yu komplik ….terus komplik… ane geli lihat…tulisan yg saling menjatuhkan dengan dalil alquran dan hadis ..kalau lawannya belum sekarat kayanya belum puas.! semua lagu lama .. ajam lawan non ajam . Arab dan non arab. itu kan komplik anatomi kedengkian , kesombongan, ashobiyah.diteruskan syiah dan suni. Pantesan Rabiah al adawiyyah mau membakar surga karena diperebutkan dan mau memadamkan nereka karena umat islam saling mendorong supaya masuk nereka. Surga adalah milik Allah dan neraka milik Allah. Yang berhak adalah yg beriman dan beramal soleh. Hilangkan dendam karbala ,hilangkan keangkuhan dan kesombongan kearaban kalian, hilangkan karena merasa menjadi pengikut salaful shalih…! Seandainya Nabi Agung kita masih hidup menyaksikan tingkah laku kita yg konyol dan bodoh ini, yang telah merusak dengan ketajaman pedang hujatan dan fitnahan, merobek dengan pisau kedengkian , menyiram dengan noda najis keangkuhan. Agama ini diturunkan untuk melunakan hati yg keras membatu, meluruskan yg bengkok, menerangi yg gelap, mendamaikan yg bersengkata, mencerdaskan yg bodoh, mengangkat yg terjerumus, meyadarkan yg gila. Seandainya Agama ini tidak merubah kalian , bukannya agama ini yg salah , tapi…kalian yg jahiliyah..maka tempatnya yg paling pantas adalah “NERAKA”..karena kalian telah menjadi guru penyebar Fitnah, penyebar perpecahan, penyebar virus kebodohon. Bagi kalian hawa nafsu telah menjelma menjadi berhala ,karena sudah merasa menyampaikan kebenaran, merasa telah menjadi penerus nabi, menjadi penasihat. Padahal semua itu hanyalah kedok untuk membungkus kebusukan hati kalian. Karena di hati kalian hanya satu ” AKU SUNI” DAN KAMU SYIAH” kalian tidak pernah mengenal Kata ” KITA” Tahukah umur kalian akan di minta pertanggung jawaban di hadapan Allah karena waktu kalian hanya dipergunakan untuk membaca dan membuka kitab-kitab karangan ulama , syekh 2 kalian hanya untuk mencari dalil-dalil tentang keburukan-keburukan , dalil hujatan dan fitnahan untuk ditusukan bagi kelompok lawan.kalian ! Pergunakan waktu kalian untuk membangkitkan umat dari keterpurukan kebodohan dan keterbelakangan . Jangan ditambah lagi dengan beban perpecahan . Sadarkah kita ???? adakah universitas yg menghasilkan putra terbaik yg mampu mengangkat umat dari keterbelakangan, sampai hari tidak ada di negri islam manapun baik di Indonesia atau pun di jazirah arab. Sampai hari , jangankan membuat pesawat terbang seperti jambo/ apalagi jet tempur seperti F 16, membuat sepeda motorpun ngak becus. Apa ngak malu kita ? apa ngak sadar …kita hanya menjadi negri-negri konsumen negri kafir…apa ngak malu kita hanya mampu menjadi tukang impor komplik ?….. Seandainya ..tulisan ini bisa dijadikan renungan untuk memupuk kesadaran kita …maka pantas kita menjadi orang yg “BERAGAMA” tapi sebaliknya bila tidak …! sama saja dengan firman allah Dalam al quran ” Sesungguhnya yg memecah belah agama dan bangga dengan kelompoknya masing-masing , maka mereka bukan golongan kami dan kami tidak bertanggung jawab dengan mereka ”
    wassalam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar