Selasa, 02 Oktober 2012

.....Quraish Shihab: Syiah dan Sunni Bersaudara...!!!...>>>...Mantan Menteri Agama Muhammad Quraish Shihab mendorong para ulama untuk mendidik masyarakat agar tidak terjebak isu aliran Syiah dan Sunni. Ulama seharusnya menginformasikan bahwa pengikut kedua aliran ini mempunyai ikatan persaudaraan dan persatuan....>>>...Menurutnya, selama ini penyebab utama perselisihan antara satu mazhab dengan yang lainnya dalam Islam karena kesalahpahaman dan kurangnya pengetahuan yang dimiliki masing penganut. "Kesalahpahaman orang-orang Syiah terhadap mazhabnya, dan kesalahpahaman orang-orang Sunni terhadap mazhabnya," tuturnya. >>>...Ahlul Sunnah Di Iran Sebahagian Dari Syiah..>>...syi’ah dan sunni di Iran bersaudara !!! ...>>>...Menteri Agama Suryadharma Ali mendiskusikan soal aliran Islam Sunni dan Syiah bersama Ketua Utama Alkhairaat Habib Saggaf Aljufri di Palu, Jumat sore. Keduanya terlibat diskusi ringan saat Suryadharma Ali berkunjung ke kediaman Habib Saggaf di Jalan Sis Aljufri Palu. Diskusi itu muncul terkait maraknya pertentangan Islam Sunni-Syiah pascaperistiwa bentrok yang menewaskan seorang warga di Sampang, Madura, Jawa Timur, beberapa waktu lalu....>>..Habib Saggaf mengatakan, sebetulnya Islam Sunni-Syiah itu tidak ada pertentangan antara keduanya. Di Timur Tengah, khususnya di Iran justru pengikut Syiah mayoritas...>>..“Di sana, Sunni-Syiah berjalan baik. Saling menghormati,” kata Saggaf. Cucu pendiri perguruan Islam Alkhairaat itu mengatakan, dirinya justru kagum mendengar berita di negara-negara mayoritas Syiah atas industri otomotifnya yang tinggi. “Dalam setahun mereka bisa memproduksi mobil hingga 1,5 juta unit,” katanya...>>


Quraish Shihab: Syiah dan Sunni Bersaudara
Penulis : Emir Chairullah|Selasa, 18 September 2012
http://m.mediaindonesia.com/index.php/read/2012/09/18/349315/284/1/Quraish_Shihab_Syiah_dan_Sunni_Bersaudara
 
MI/Panca Syurkani/fa
JAKARTA--MICOM: 
Mantan Menteri Agama Muhammad Quraish Shihab mendorong para ulama untuk mendidik masyarakat agar tidak terjebak isu aliran Syiah dan Sunni. Ulama seharusnya menginformasikan bahwa pengikut kedua aliran ini mempunyai ikatan persaudaraan dan persatuan.

"Kita bersaudara, tidak perlu saling tegang. Surga itu terlalu luas sehingga tidak perlu memonopoli surga hanya untuk diri sendiri. Jadi jangan saling menistakan," kata Quraish dalam acara peluncuran Buku Putih Mazhab Syiah, di Jakarta, Selasa (18/9).

Menurut Direktur Pusat Studi Alquran ini, buku yang diluncurkan Dewan Pimpinan Pusat AhlulBait Indonesia bisa menjadi alat untuk memperkaya khazanah pengetahuan masyarakat mengenai Islam. Quraish berharap buku tersebut dapat menciptakan kesepahaman dan persatuan di kalangan masyarakat, terutama umat Islam.

"Tidak bisa ada persatuan jika tidak ada kesepahaman. Tidak bisa ada kesepahaman jika tidak ada upaya untuk memahami diri kita sendiri dan memahami pihak lain," ujarnya.

Menurutnya, selama ini penyebab utama perselisihan antara satu mazhab dengan yang lainnya dalam Islam karena kesalahpahaman dan kurangnya pengetahuan yang dimiliki masing penganut.

"Kesalahpahaman orang-orang Syiah terhadap mazhabnya, dan kesalahpahaman orang-orang Sunni terhadap mazhabnya," tuturnya.

Padahal, tambahnya, setiap mazhab mengalami dinamika dan perkembangan dimana pemikiran tidak hanya berhenti pada pendapat tokoh besarnya.

"Pemikiran tokoh-tokoh besar mazhab itu juga mengalami perkembangan di kalangan pengikutnya. setiap pemikiran dipengaruhi banyak faktor," katanya.

Karena itu, adalah hal yang keliru apabila merujuk mazhab hanya pada pendapat lama tanpa pertimbangkan mazhab baru. Selain itu, rujukan pendapat pun harus kepada ulama yang diakui keilmuannya.

"Bedakan pendapat ulama dan pendapat awam. Seringkali kita ukur pendapat suatu kelompok tidak merujuk pada pendapat ulama. Jika begitu sangat mungkin kesalahpahaman terjadi," pungkasnya. (Che/OL-3) 
 

Habib Seggaf dan Menag : 

“Sunnah-Syi’ah Bersaudara dan Sesama Umat Islam”

1 September 2012 .

 http://satuislam.wordpress.com/2012/09/01/habib-seggaf-dan-menag-sunnah-syiah-bersaudara-dan-sesama-umat-islam/

 
 
 
Palu (ANTARA News) – Menteri Agama Suryadharma Ali mendiskusikan soal aliran Islam Sunni dan Syiah bersama Ketua Utama Alkhairaat Habib Saggaf Aljufri di Palu, Jumat sore. Keduanya terlibat diskusi ringan saat Suryadharma Ali berkunjung ke kediaman Habib Saggaf di Jalan Sis Aljufri Palu.

Diskusi itu muncul terkait maraknya pertentangan Islam Sunni-Syiah pascaperistiwa bentrok yang menewaskan seorang warga di Sampang, Madura, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

 

Menteri tampak serius mendengarkan sejumlah penjelasan dari Habib Saggaf, sambil menikmati makanan tradisional seperti pisang rebus, ubi rebus, jagung, dan sayuran daun pepaya tumis.

Habib Saggaf mengatakan, sebetulnya Islam Sunni-Syiah itu tidak ada pertentangan antara keduanya. Di Timur Tengah, khususnya di Iran justru pengikut Syiah mayoritas.

“Di sana, Sunni-Syiah berjalan baik. Saling menghormati,” kata Saggaf.
Cucu pendiri perguruan Islam Alkhairaat itu mengatakan, dirinya justru kagum mendengar berita di negara-negara mayoritas Syiah atas industri otomotifnya yang tinggi.
“Dalam setahun mereka bisa memproduksi mobil hingga 1,5 juta unit,” katanya.

 

Habib Saggaf mengatakan, dirinya beberapa kali menerima kunjungan tokoh-tokoh Syiah di kediamannya. Dia mengatakan dengan senang hati menerima dialog dan berdiskusi dengan para tokoh Syiah tersebut.
“Mereka datang ke saya. Saya setuju kita harus cinta pada `Ahlul Bait`,” katanya.
Namun Habib Saggaf tidak menjelaskan lebih jauh cakupan `Ahlul Bait` yang dimaksud.
Dalam beberapa referensi menyebutkan, pertentangan Sunni dan Syiah terjadi salah satunya atas pemahaman terhadap istilah “ahlul bait” atau keluarga Nabi Muhammad.
Menag Suryadharma Ali kerap menyela di tengah diskusi itu. Dirinya juga setuju bagaimana menumbuhkan kecintaan terhadap Ahlul Bait.
“Hanya saja cintanya harus benar. Tidak mengotori ajaran kecintaan terhadap `Ahlul Bait`,” katanya.
Di akhir perbincangan keduanya, Suryadharma Ali mengatakan, di Indonesia masih banyak masalah yang harus diselesaikan. “Sekarang bagaimana caranya agar kita bisa bersatu,” katanya.
Ia mengatakan, di Indonesia sendiri terdapat perbedaan terhadap aliran Syiah. Bahkan, ada pengamat yang menyebut aliran Syiah sebagai aliran yang keliru.
Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu berkunjung ke Palu guna menghadiri hari ulang tahun (Haul) wafatnya pendiri Alkhairaat Habib Sayied Idrus bin Salim Aljufri pada Sabtu (1/9) pagi.
Tradisi peringatan Haul yang dihadiri ribuan orang dari berbagai penjuru nusantara khususnya di kawasan timur Indonesia selama ini dipusatkan di Masjid Alkhairaat, Jalan Sis Aljufri, salah satu pusat kegiatan ke-Islaman terbesar di Sulawesi Tengah.
Pembiaran Pemerintah terhadap opini yang berkembang di tengah masyarakat bahwa mazhab Syi’ah sebagai aliran sesat dan menyesatkan adalah modal utama pemicu konflik dan kekerasan di tingkat akar rumput. Konflik ini harus diselesaikan dengan dialog yang berkesinambungan antara Ahlussunnah dan Syi’ah agar tumbuh saling pengertian dan kasih-sayang antar pemeluk dua mazhab besar dalam Islam ini. Kesan lambat dan tak tegas dalam bersikap menjadikan Negara gagal hadir dalam mengatasi berbagai ancaman konflik horisontal bernuansa sektarian ini. Sunnah-Syi’ah bersaudara dan wajib menjalin Ukhuwah Islamiyah.

Sumber : Antara News
Editor: Suryanto
http://www.antaranews.com/berita/330532/menag-diskusikan-sunni-syiah-bersama-habib-saggaf
 
 

syi’ah dan sunni di Iran bersaudara !!! 

Ahlul Sunnah Di Iran Sebahagian Dari Syiah

Ahlul Sunnah Di Iran Sebahagian Dari Syiah

Agensi Berita Ahlul Bait (ABNA.co) -Timbalan Urusan Forum Antarabangsa Pendekatan Mazhab Islam, Hujjatul Islam Hamid Allamul Huda menyatakan tentang toleransi dalam kehidupan beragama di Iran dan propaganda palsu musuh yang menentang perpaduan umat Islam. Beliau yang terlibat secara langsung dalam kegiatan pengikut Ahlu Sunnah Iran, mengatakan, “Oleh kerana revolusi Islam Iran merupakan sebuah revolusi budaya dan spiritual, ianya juga menaruh perhatian khusus kepada komuniti dan ulama Ahlu Sunnah di Iran.”

Dalam wawancaranya dengan pejabat Agensi Berita Taghrib (ABT), Hujjatul Islam Allamul Huda menjelaskan secara panjang lebar tentang keadaan semasa Ahlu Sunnah di Iran secara umum. Berikut ini petikan wawancaranya:

(Agensi Berita Taghrib): Kami tertarik untuk mendapatkan penjelasan anda tentang keadaan Ahlu Sunnah di Iran secara umumnya dari berbagai dimensi. Bolehkah anda menceritakannya kepada kami?

(Hujjatul Islam Allamul Huda): Meski pun adanya berbagai propaganda palsu dari negara-negara asing, Ahlu Sunnah Iran sama sekali bukanlah komuniti yang terpisah dengan saudara mereka, Syiah. Mereka sebagai warga negara Iran, memiliki hak-hak yang diakui dan diperuntukkan dengan jelas oleh undang-undang Iran. Majoriti Ahlu Sunnah Iran tinggal di wilayah Sistan-Baluchestan dan sebelum kemenangan revolusi Islam, jumlah sekolah di daerah itu sangat sedikit, namun kini lebih dari 200 sekolah dan madrasah melakukan kegiatannya di wilayah tersebut. Ini merupakan berkat dari revolusi Islam dan kegiatan itu diselaraskan oleh masyarakatnya sendiri melalui sokongan dan bantuan kerajaan. Jika tanpa sokongan itu, tentu saja sekolah-sekolah tersebut tidak pernah dibangunkan.

Di masa lalu, masyarakat di wilayah Sistan-Baluchestan pergi ke Pakistan untuk melanjutkan pendidikannya, tapi sekarang semua telah dipercukupkan bahkan pelajar-pelajar dari negara lain seperti Afghanistan dan Tajikistan datang untuk menimba ilmu agama di daerah itu. Di Kurdistan juga demikian, komuniti Ahlu Sunnah sebelum kemenangan revolusi Islam, juga berangkat ke Kurdistan Irak untuk menuntut ilmu pengetahuan. Namun kini keperluan mereka juga telah dipenuhi baik dari segi sarana mahupun tenaga pengajar. Pemerintah Republik Islam Iran menerapkan prinsip yang sama terhadap pengikut Syiah dan Ahlu Sunnah. Mereka sama-sama diberi anggaran untuk kegiatan pendidikan dan kami juga ikut serta dalam bidang ini.

Sebelum kemenangan revolusi Islam, perempuan tidak begitu diperhatikan dalam urusan agama dan mazhab. Di masjid-masjid bahkan tidak ada tempat khusus untuk perempuan mendirikan shalat. Akan tetapi, kini telah ada hawzah ilmiah khusus untuk perempuan di kalangan Ahlu Sunnah dan mereka memfokuskan diri untuk menimba ilmu berdasarkan ajaran mazhabnya. Fenomena terbuka dan kebebasan ini sepenuhnya ada dalam sistem Republik Islam Iran. Sebuah realiti yang dapat disaksikan dari dekat dan juga patut ditampilkan.

(Agensi Berita Taghrib): Menurut Anda, apa tujuan propaganda media-media asing yang menafikan kebebasan mazhab Ahlu Sunnah di Iran?

(Hujjatul Islam Allamul Huda): Isu-isu tersebut sengaja dihembuskan oleh musuh. Mereka kadang kala memperluaskan propagandanya dengan menyatakan bahwa Ahlu Sunnah di Iran berada di bawah kekangan dan tidak mempunyai kebebasan, namun perlu dicatat bahawa undang-undang dikuatkuasakan di Iran. Semua kegiatan harus dilakukan dalam rangka undang-undang dan semua warga negara mempunyai kedudukan yang sama di mata undang-undang. Misalnya, jika ingin membangunkan sebuah pusat kegiatan, maka sudah tentu perlu mendapatkan izin rasmi dari pihak berkuasa, dan ini juga berlaku di negara-negara lain.

Pemerintah tidak pernah melarang komuniti Ahlu Sunnah untuk melakukan kegiatan dan menjalankan mazhabnya. Mereka mempunyai kebebasan yang diakui oleh undang-undang. Media-media Barat hanya terdaya mengatakan bahawa pemerintah Iran tidak memberi kebebasan kepada kelompok Ahlu Sunnah dan tidak mengakui hak-hak mareka. Itu semua hanya propaganda Barat untuk mengadu domba dan memecah belah umat Islam. Pemerintah tidak pernah menghad atau mengekang mareka, melainkan menuntut semua pihak melakukan kegiatannya dalam kerangka undang-undang.

(Agensi Berita Taghrib): Sejauh mana Ahlu Sunnah Iran dapat terlibat dalam kancah budaya, sosial dan politik dalam negeri?

(Hujjatul Islam Allamul Huda): Mereka adalah Muslim dan juga warga negara Iran. Bancian rasmi tidak menanyakan mazhab mereka, sama seperti warga Iran yang lain. Mereka bebas memilih tempat untuk belajar dan melakukan aktiviti di pusat-pusat ilmiah di Iran. Kini 20 anggota parlimen Iran berasal dari kelompok Ahlu Sunnah. Mereka juga memegang sejumlah jawatan penting di berbagai kota. Oleh karena itu, sama sekali tidak ada larangan yang dapat menghalang kegiatan mereka. Pandangan negara, undang-undang dan Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei adalah, Ahlu Sunnah merupakan Muslim dan saudara kita. Mereka juga harus memiliki hak-hak yang sama di mata undang-undang.

(Agensi Berita Taghrib): Bagaimana hubungan universiti Ahlu Sunnah Iran dengan lembaga-lembaga pendidikan dunia Islam?

(Hujjatul Islam Allamul Huda): Hubungan politik antara berbagai pemerintah dan negara kadang-kadang menghadkan hubungan dan kerjasama di bidang budaya dan pendidikan. Batasan ini tidak hanya untuk Ahlu Sunnah, Hauzah Ilmiah Qom juga menginginkan adanya hubungan dan kerjasama dengan Universitas Al Azhar Kaherah. Kami ingin ada kelas yang dibuka untuk komuniti Syiah di universiti tersohor itu. Di Hawzah Ilmiah Qom, ada kelas yang diprioritikan untuk pengikut Ahlu Sunnah, sebagaimana juga terdapat di Universiti Mazhab Islam di Tehran dan Universitas Agama di Qom. Mereka menjadi tenaga pengajar di lembaga-lembaga tersebut.

Kita perlu memisahkan antara masalah budaya dan isu politik. Namun kita hidup di sebuah dunia di mana masalah ekonomi kadang kala mempengaruhi juga masalah politik, demikian pula dengan masalah budaya. Kami menilai positif hubungan dan kerjasama dunia Islam dalam bidang pendidikan dan universiti. Jika masalah ini diperhatikan, tentu kita dapat membangun hubungan yang lebih luas dan kukuh.

(Agensi Berita Taghrib): Bolehkah anda jelaskan tentang kegiatan Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam dalam mewujudkan pendekatan mazhab dan kesepahaman di antara para pengikutnya di Iran.

(Hujjatul Islam Allamul Huda): Kami telah menganjurkan sejumlah seminar dan latihan pendidikan untuk komuniti Ahlu Sunnah dan Syiah di berbagai daerah di Iran. Kegiatan ini sangat berkesan dalam mencipta kesepahaman satu sama lain dan juga membina interaksi. Kami juga menyelenggarakan program latihan untuk tenaga pengajar dan penggiat budaya baik Syiah maupun Ahlu Sunnah. Mereka mengikutinya secara bersama-sama dalam program-program tersebut. Kedua-dua pihak dapat lebih mengenal antara satu sama lain dan membangun kesefahaman.


Komen ;
Dari dahulu sampai sekarang, saya kerap mengatakan, yang terhegeh-hegeh nak mencari kesatuan, selalunya hanya dengar dari sebelah Syiah sahaja, buat forum itu ini, majma; dan sebagainya. Dalam masa yang sama, golongan Sunni di Malaysia yang tidak bertanggungjawab, masih tetap menabutkan fitnah terhadap Syiah dengan melupakan keadaan negara sendiri yang turut menindas minoriti Syiah. Buta
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar