Selasa, 23 Oktober 2012

...Anda Tahu Shalawat Badar?...>>> Abisyakir atau AMW nampaknya sangat memasalahkannya... karena diasumsikan sebagai bagian dari syirik kpd Allah??? !! Nah pemahaman seperti ini memang sangat disayangkan...>> padahal shalawat kepada Nabi itu sesuatu yang dianjurkan... >>> Innallaha wamalaaikatahu..yushalluuna ala nnabiy.... Yaa ayyuhallazdiena aamanu shallu alaihi wasallimu taslimaa....>>> Namun bagi abusyakir menjadi bagian yang sangat berat... seakan shalawat kepada nabiy dan konon tawassul kepada nabi itu dianggap suatu dosa besar.yakni syirik..??!! >>> Banyak ulama yang tidak sependapat dengan ustadz abusyakir ini...??!!..

Anda Tahu Shalawat Badar?

 http://abisyakir.wordpress.com/2008/10/16/anda-tahu-shalawat-badar/

Kemarin dari Cirebon ke Bandung sempat dengar pengamen menyanyikan lagu “Shalawat Badar”. Nah, sekalian saja kita bahas disini secara ringkas. Anda pasti akan takjub kalau menyadari isi dari Shalawat Badar itu. Sungguh, isinya tidak sesederhana alunan nada orang-orang yang menyanyikannya.

Saya tidak ingat secara lengkap bait-bait Shawalat Badar. Hanya tahu dua bait pertama saja. Kalau ada yang tahu lengkapnya, boleh diisampaikan. Berikut sebagian isi Shalawat Badar:

Bait pertama:
Shalatullah salamullah… ‘Ala Thaha Rasulillah.
Shalatullah salamullah… ‘Ala Yasin Habibillah.
Bait kedua:
Tawassalna bi bismillah… Wa bil hadi Rasulillah.
Wa kulli mujahidil lilla… Bi Ahli Badri ya Allah.

Disebut Shalawat Badar, karena di ujung bait itu ada kalimat Bi Ahli Badri ya Allah.
Selanjutnya, mari kita pahami maknanya:

Shalatullah salamullah… (semoga sentausa dan selamat dari Allah).
‘Ala Taha Rasulillah… (kepada “Taha” yaitu Rasulullah. Anda tahu darimana kata “Taha”? Taha adalah dari awal Surat Taha. Jadi huruf Taha disana diterjemahkan sebagai Rasulullah).
‘Ala Yasin Habibillah… (kepada “Yasin” yaitu kekasih Allah, yaitu Rasulullah. Yasin juga diambil dari awal Surat Yasin, dan ia diterjemahkan sebagai Rasulullah).
Tawassalna bi bismillah… (kami bertawasul dengan kalimat bismillah)
Wa bil hadi Rasulillah… (dan kami bertawasul dengan “sang hadi” [sang petunjuk] yaitu Rasulullah)
Wa kulli mujahidil lillah… (dan kami bertawasul dengan setiap Mujahidin di jalan Allah)
Bi Ahli Badri ya Allah… (Mujahidin di jalan Allah, dari kalangan peserta perang Badar ya Allah).

Jadi isi “Shalawat Badar” ini tidak sesuai dengan akidah tauhid. Tidak ada yang mengatakan bahwa “Taha” atau “Yasin” itu adalah Rasulullah Saw. Meskipun di kalangan kaum Muslimin, ada yang memberi anaknya nama Taha atau Yasin.

Kemudian tawasul dengan Nabi, tawasul dengan Mujahidin di jalan Allah, dengan peserta perang Badar, semua itu juga tidak boleh. Jangan mengadakan perantara di antara hamba dengan Allah. Hal itu termasuk kemusyrikan yang dilarang.

Tawasul boleh dengan cara meminta doa dari orang shalih, meminta didoakan oleh Ummat Islam, atau tawasul dengan amal-amal shalih yang pernah dilakukan. Untuk hal terakhir itu pernah dilakukan oleh 3 orang musafir yang terjebak dalam gua, lalu bisa keluar setelah tawasul dengan amal-amal mereka.

Saya sarankan, jangan lagi dikembangkan Shalawat Badar itu. Ia keliru dan tidak akan membawa berkah. Malah khawatir, kita akan mengalami banyak kesulitan dengan menyebarkan hal-hal yang keliru itu. Wallahu a’lam bisshawaab.

dani mengatakan:
@abisyakir
orang yang mengamalkan shalawat badar tidak pernah menyesatkan org yang yang melarangnya, namun sayang orang yang melarang shalawat badar menyesatkan orang yang mengamalkannya. Padahal shalawat adalah lantunan doa kepada Allah swt. yang tujuannya untuk memuliakan rasulullah SAW.

Sholawat Badar adalah rangkaian sholawat berisikan tawassul dengan nama Allah, dengan Junjungan Nabi s.a.w. serta para mujahidin teristimewanya para pejuang Badar. Sholawat ini adalah hasil karya Kiyai Ali Manshur, yang merupakan cucu Kiyai Haji Muhammad Shiddiq, Jember. Oleh itu, Kiyai ‘Ali Manshur adalah anak saudara/keponakan Kiyai Haji Ahmad Qusyairi, ulama besar dan pengarang kitab “”Tanwir al-Hija” yang telah disyarahkan oleh ulama terkemuka Haramain, Habib ‘Alawi bin ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani, dengan jodol “Inarat ad-Duja”.

Diceritakan bahawa karya ini ditulis oleh Kiyai ‘Ali Manshur sekitar tahun 1960, tatkala kegawatan umat Islam Indonesia menghadapi fitnah Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketika itu, Kiyai ‘Ali adalah Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, juga menjadi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di situ. Keadaan politik yang bercelaru saat itu dan kebejatan PKI yang bermaharajalela membunuh massa, bahkan ramai kiyai yang menjadi mangsa mereka, menyebabkan terlintas di hati Kiyai ‘Ali, yang memang mahir membuat syair ‘Arab sejak nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri lagi, untuk menulis satu karangan sebagai sarana bermunajat memohon bantuan Allah s.w.t.

Dalam keadaan sedemikian, Kiyai ‘Ali tertidur dan dalam tidurnya beliau bermimpi didatangi manusia-manusia berjubah putih – hijau, dan malam yang sama juga, isteri beliau bermimpikan Kanjeng Nabi s.a.w. Setelah siang, Kiyai ‘Ali langsung pergi berjumpa dengan Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi dan menceritakan kisah mimpinya tersebut. Habib Hadi menyatakan bahawa manusia-manusia berjubah tersebut adalah para ahli Badar. Mendengar penjelasan Habib yang mulia tersebut, Kiyai ‘Ali semakin bertekad untuk mengarang sebuah syair yang ada kaitan dengan para pejuang Badar tersebut. Lalu malamnya, Kiyai ‘Ali menjalankan penanya untuk menulis karya yang kemudiannya dikenali sebagai “Sholawat al-Badriyyah” atau “Sholawat Badar”.

Apa yang menghairankan ialah keesokan harinya, orang-orang kampung mendatangi rumah beliau dengan membawa beras dan lain-lain bahan makanan. Mereka menceritakan bahawa awal-awal pagi lagi mereka telah didatangi orang berjubah putih menyuruh mereka pergi ke rumah Kiyai ‘Ali untuk membantunya kerana satu kenduri akan diadakan di rumahnya. Itulah sebabnya mereka datang dengan membawa barangan tersebut menurut kemampuan masing-masing. Tambah pelik lagi apabila malamnya, hadir bersama untuk bekerja membuat persiapan kenduri orang-orang yang tidak dikenali siapa mereka.

Menjelang keesokan pagi, serombongan habaib yang diketuai oleh Habib ‘Ali bin ‘Abdur Rahman al-Habsyi @ Habib ‘Ali Kwitang tiba-tiba datang ke rumah Kiyai ‘Ali. Tidak tergambar kegembiraan Kiyai ‘Ali menerima tetamu istimewanya tersebut. Setelah memulakan perbicaraan bertanyakan khabar, tiba-tiba Habib ‘Ali Kwitang bertanya mengenai syair yang ditulis oleh Kiyai ‘Ali tersebut. Tentu sahaja Kiyai ‘Ali terkejut kerana hasil karyanya itu hanya diketahuinya dirinya seorang dan belum dimaklumkan kepada sesiapa pun.

Tapi beliau mengetahui, ini adalah satu kekeramatan Habib ‘Ali yang terkenal sebagai waliyullah itu. Lalu tanpa lengah, Kiyai ‘Ali Manshur mengambil helaian kertas karangannya tersebut lalu membacanya di hadapan para hadirin dengan suaranya yang lantang dan merdu. Para hadirin dan habaib mendengarnya dengan khusyuk sambil menitiskan air mata kerana terharu. Setelah selesai dibacakan Sholawat Badar oleh Kiyai ‘Ali, Habib ‘Ali menyeru agar Sholawat Badar dijadikan sarana bermunajat dalam menghadapi fitnah PKI.

Maka sejak saat itu masyhurlah karya Kiyai ‘Ali tersebut. Selanjutnya, Habib ‘Ali Kwitang telah menjemput ramai ulama dan habaib ke Kwitang untuk satu pertemuan, antara yang dijemput ialah Kiyai ‘Ali Manshur bersama pamannya Kiyai Ahmad Qusyairi. Dalam pertemuan tersebut, Kiyai ‘Ali sekali lagi diminta untuk mengumandangkan Sholawat al-Badriyyah gubahannya itu. Maka bertambah masyhur dan tersebar luas Sholawat Badar ini dalam masyarakat serta menjadi bacaan popular dalam majlis-majlis ta’lim dan pertemuan. Moga Allah memberikan sebaik-baik ganjaran dan balasan buat pengarang Sholawat Badar serta para habaib tersebut….. al-Fatihah.

Allahu … Allah, inilah kisah bagaimana terhasilnya penulisan Sholawat Badar oleh Kiyai ‘Ali Manshur. Cerita ini telah ambo dengar daripada beberapa kerabat Kiyai Haji Ahmad Qusyairi di Kota Pasuruan. Juga ianya dimuatkan dalam buku “Antologi NU : Sejarah – Istilah – Amaliah – Uswah ” karangan H. Soeleiman Fadeli & Mohammad Subhan dengan kata pengantar Kiyai Haji ‘Abdul Muchith Muzadi.

Benar atau tidak, percaya atau tidak, itu tidak penting, apa yang nyata ialah Sholawat Badriyyah ini adalah karyanya Kiyai ‘Ali Manshur dan telah diterima serta diamalkan oleh para ulama dan habaib yang menjadi pegangan dan panutan kita. Maka sempena memperingati peristiwa Perang Badar al-Kubra, marilah kita bermunajat memohon keselamatan dunia akhirat dengan bertawassulkan Junjungan Nabi s.a.w. dan para pejuang Badar radhiyAllahu ‘anhum ajma’in.

Mudah2an kita tidak termasuk orang yg mudah menyesat-nyesatkan orang lain hanya karena pikiran sempit kita.
Wallahu a’lam bish showab

1 komentar:

  1. Prinsip tawassul itu diperbolehkan. Tdk ada tuntunan yg menetapkan tawassul yg ini boleh dan itu tidak. Tawassul itu tdk Syirik krn tetap memohonkan permohonan kepada Allah

    BalasHapus