Selasa, 16 Oktober 2012

...."GREEDY"...."SERAKAH"....POLITIKUS OPORTUNIS..DAN TANGAN2 MAFIA JARINGAN SEKULER-LIBERAL-BARBAR...??!! ....>> KESERAKAHAN SEMAKIN NYATA DIMATA ANALIS DAN PUBLIK..... ??!!! SIAPA YANG BERMAIN POLITIK-KEKUASAAN-HUKUM & UU-SERTA LIKU2 DAN STRATEGI MENGUASAI UANG DAN KEKUASAAN SERTA ....APALAGI KALAU BUKAN KENDALI IDEOLOGI...YANG SELALU MENJADI DASAR POLA MAIN DALAM ASPEK2 TERSEBUT..???!!!...>>>...Kasus Suap Wisma Atlet, Mungkinkah Anas Dijebak?..Anas adalah sasaran utama yang harus dihancurkan..???!!...http://ramalanintelijen.net/?p=4555...?? SASARAN UTAMA ADALAH ANAS URBANINGRUM...DAN KONON TOKOH2 EX HMI...YANG KONON...SECARA PRINSIP PEMIKIRAN ADALAH ANTI SEKULER DAN ANTI NEOLIBS...???!!! >>> BENARKAH ADA ...POLA DAN IDEOLOGI ITU...??? >>>TV ONE-METRO-JAK-TV-DAN TV2 DALAM JARINGAN KELOMPOK2 NON PRI-YANG TERKESAN NYATA DAN PROGRAM2...SANGAT ABSURD DAN TENDENSI... TIDAK SUKA TERHADAP IDEOLOGI ISLAM...??!!>>APAKAH INI BIG SKENARIO..DAN CARA2NYA....???!!! >>> ....Penggiringan opini oleh TV One agar Anas Urbaningrum dicopot jabatannya dari Ketua Umum Partai Demokrat kemungkinan adalah “pesan” dari pemegang saham TV One dalam hal ini adalah Abu Rizal Bakrie, Abu Rizal Bakrie juga merupakan Ketua Umum Partai Golkar. Mengapa? ..>>.Tujuan dari opini “gulingkan” Anas Urbaningrum adalah menghancurkan Partai Demokrat sebagai pesaing Golkar pada pemilu mendatang sekaligus menghancurkan kekuatan Demokrat di mata rakyat dengan harapan elektabilitas Partai Demokrat semakin hancur, sudah dipastikan kelompok Liberal Sekulerisme dalam hal ini Rizal Malaranggeng yang merupakan sahabat karibnya Abu Rizal Bakrie dan pernah menajdi kader Golkar akan mendorong Saudaranya Andi Malaranggeng untuk memimpin Partai Demokrat, jika Andi Malaranggeng akhirnya menjadi Ketua umum Demokrat maka kelompok liberal sekuler akan semakin kuat dan akan saling bersaudara baik Partai Golkar maupun Partai Demokrat.....>>..mengamati pemikiran-pemikiran Rizal Malaranggeng di Metro TV, Saya melihat Rizal Malaranggeng sangat kuat mengusung faham liberal sekuler di Indonesia, dan ini tidak hanya Rizal tetapi diikuti Andi Malaranggeng, di tubuh Demokrat sendiri kelompok ini sangat banyak dan menempati posisi sangat strategis terlebih ketika Ulil Abshar Abdalah menjadi kader demokrat selanjutnya setelah cape memperjuangkan pemikiran liberal sekuler di media maka satu-satunya cara kelompok ini menguasai Indonesia adalah membuat undang-undang. ...>> Jadi, menurut saya dalam kasus Wisma Atlet Sea Games lebih tepat masuk dalam “PERANGKAP” agar jatuh dalam kepemimpinanya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Mengapa kelompok liberal sekulerisme baik di tubuh demokrat maupun diluar demokrat dengan “TEGA” melakukan ini? karena satu-satunya jalan yang mungkin bisa menumbangkan Anas Urbaningrum adalah membuat Anas terjerat hukum. ...>>...Sebelumnya, Dewan Pembina Partai Demokrat melakukan rapat tertutup di kediaman Ketua Dewan Pembina Susilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas, Bogor. Rapat itu konon membahas penggantian Anas Urbaningrum dari kursi Ketua Umum Partai Demokrat. Anas disebut-sebut akan dilengserkan karena namanya terseret dalam kasus yang melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, M. Nazaruddin. Selain Anas, nama sejumlah kader Partai Demokrat seperti Angelina Sondakh dan Mirwan Amir juga terus disebut terlibat dalam kasus ini...>>.Kasus suap proyek Wisma Atlet Palembang yang melibatkan bendahara Partai Demokrat, Mohammad Nazaruddin rupannya masih terus berlanjut. Imbas dari kasus ini bagi partai penguasa di Indonesia kian besar. Kini ketua umum partai ini pun mulai terkena dampaknya. Terseret dalam pusaran kasus suap proyek Wisma Atlet Jakabaring, Palembang, posisi Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum kian terjepit....>>.Menonton Program KABAR PETANG TV One Kamis sore 26 Januari 2012, terlihat sekali Presenter TV One menggigiring opini bahwa Anas adalah orang yang paling bersalah terhadap turunnya elektabilitas Partai Demokrat hingga mencapai 15 % berdasarkan survey Lingkaran Survey Indonesia. Pada bulan Juni 2012 yang lalu Lingkaran Survey Indonesia mencatat Elektabilitas Partai Demokrat masih diangka 20 %, menurunya Kepercayaan Publik terhadap Partai Demokrat ini berdasarkan pengamatan Saya TV One berusaha menggiring pemirsa TV dengan menjadikan Anas kambing hitam dan pantas dilengserkan dari Ketua Umum Partai Demokrat. ..>>....Saya tidak terlalu peduli mau bagaimanapun kondisi Partai Demokrat kalau perlu dibubarkan saja sehingga tidak ada lagi Partai Demokrat di bumi Indonesia yang menurut saya lebih cendrung menjadi corong kelompok Liberal Sekulerisme, Kapitalisme. Saya hanya melihat apa yang buat TV One tidak wajar terhadap Anas Urbaningrum khususnya. ...>>>...Ketidakwajaran ini menimbulkan pertanyaan besar mungkinkah Anas Urbaningrum di jebak dan direncanakan dikanibalisasi dengan kasus Suap Sea Games Wisma Atlet? Saya mencoba mengajak Anda untuk mengupas sedikit demi sedikit soal ini. Ketika Kongress Partai Demokrat ada 3 kandidat kuat untuk terpilihnya menjadi Ketua Umum yaitu Marzuki Ali, Anas Urbaningrum dan Andi Malaranggeng. Ketika itu Saya sebagai pemerhati berharap memang Anas lah yang terpilih nantinya, alasan saya lebih kepada ideologis bahwa Anas masih tidak terlalu “berbahaya” ketimbang Marzkuki Ali dan Andi Malaranggeng yang dikenal sangat liberal dan sekuler dengan pemikiran-pemikiran mereka. Susilo Bambang Yudhoyonopun lebih memilih Anas untuk dijadikan Ketua Umum meneruskan Hadi Utomo. ..>>....Coba Anda tanyakan, mengapa Kasus Kemenpora yang ditukangi ANDI MALARANGGENG tidak diblow up media? Dan rasanya kisah KEMENPORA itu terasa tenggelam saja, tidak ada kabar beritanya, usaha-usaha menyeret Andi Malaranggeng dalam kasus suap Wisma Atlet Sea Games juga terasa dibuat berat, tetapi Anas yang menjadi bertubi-tubi dibantai ketimbang Andi Malaranggeng. ..>>....Rizal Malaranggeng adalah Sahabat Karib Abu Rizal Bakrie hal inipun terungkap ketika Gayus Tambunan “tertangkap” kamera saat menyaksikan pertandingan tenis di bali. Di Moment yang sama ada Abu Rizal Bakrie dan tentunya Rizal Malaranggeng, Rizal Malaranggeng menyatakan di media bahwa Abu Rizal Bakrie adalah sahabatnya. Semua orang pun tahu jika Abu Rizal Bakrie itu adalah pemilik TV One..>>....DILAIN PIHAK ADA YANG MENCURIGAI PERMAINAN TV-ONE ABU RIZAL BAKRIE-DAN RIZAL MALARANGENG DAN JUGA ULIL ABSHAR DAN DIDUKUNG KAUM NEOLIBS DAN KAUM SEKULER... INI SEBAGAI BAGIAN DARI MAFIA2 POLITIK YANG MENGUSUNG IDEOLOGI ASING..YANG TERKENAL SEPANJANG SEJARAH ADALAH PIHAK2 SANGAT SERAKAH-BENGIS-DAN KEJAM....DAN MEREKA ITU...YANG SESUNGGUHNYA BUKAN SAJA PARTAI BER-IDEOLOGI ISLAM...YANG JADI SASARAN... BAHKAN JUGA ORANG2 SUKARNO YANG SANGAT SOSIALIS DAN BERKETUHANAN ITU AKAN DIJADIKAN SASARAN2 BERIKUTNYA...??? SEMENTARA INI SEAKAN PIHAK GOLONGAN SUKARNOIS DIRANGKUL..DULU...DAN NANTINYA AKAN DICEBURKAN JUGA...???!!! BEGITUKAH...??!!!...>> Sementara itu, anggota Komisi X DPR dari Fraksi Partai Golkar, Zulfadly, meminta Menpora Andi Mallarangeng bertanggung jawab karena menyangkut uang negara yang begitu besar. "Yang namanya proyek di atas Rp 100 miliar, itu penanggung jawab utamanya menteri sebagai kuasa anggaran. Tidak ada alasan seorang menteri tidak tahu proyek-proyek yang nilainya triliunan ini karena dasarnya sudah cukup kuat," ujarnya. ..>>

SBY Dinilai Tunggangi Kasus Suap Wisma Atlet



Kasus suap proyek Wisma Atlet Palembang yang melibatkan bendahara Partai Demokrat, Mohammad Nazaruddin rupannya masih terus berlanjut. Imbas dari kasus ini bagi partai penguasa di Indonesia kian besar. Kini ketua umum partai ini pun mulai terkena dampaknya. Terseret dalam pusaran kasus suap proyek Wisma Atlet Jakabaring, Palembang, posisi Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum kian terjepit.
Pertemuan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dengan sekitar 10 anggota Dewan Pembina adalah isyarat kuat: ada upaya penyelamatan (citra) partai di tengah kasus yang tengah ditanggung Anas.
Popularitas dan tingkat keterpilihan partai memang tengah anjlok. Sejumlah survei menunjukkan hal itu. Gempuran mantan Bendahara Umum Demokrat Muhammad Nazaruddin terhadap Anas datang bertubi-tubi. Dari ruang pengadilan, kesaksian Mindo Rosalina Manulang dan Yulianis makin menguatkan dugaan keterlibatan Anas.
Sementara itu, terdakwa kasus proyek Wisma Atlet, Muhammad Nazarudin, sedang menyiapkan saksi-saksi untuk mengungkap keterlibatan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Agenda persidangan Nazarudin adalah mendengarkan keterangan sejumlah saksi dari perusahaan Nazarudin. Salah satunya adalah Yulianis, Wakil Direktur Keuangan Grup Permai. Yulianis diduga mengetahui aliran dana dan sejumlah proyek yang ditangani perusahaan Nazarudin itu. Misalnya mengetahui proyek perusahaan di sejumlah universitas atau aliran dana pada Kongres Partai Demokrat di Bandung.
Yulianis  melalui pengacaranya, Ignatius Supriadi, menyatakan dia adalah anak buah Nazarudin. Menurut Ignatius, Yulianis bertanggung jawab kepada Nazarudin. Dia menilai janggal jika kubu Nazarudin berkukuh bahwa Yulianis adalah anak buah Anas Urbaningrum di Grup Permai. Elza mempersilakan Yulianis mengatakan apa saja di persidangan. "Tapi kami punya saksi lain yang akan mengungkapkan siapa sebenarnya bos perusahaan," kata Elza.
Sementara Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Hayono Isman, menyatakan partainya telah menyiapkan antisipasi jika Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dijadikan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dalam kasus Wisma Atlet. Menurut dia, partai tak akan melengserkan Anas sebelum ada keputusan KPK menjadikannya tersangka.
Sebelumnya, Dewan Pembina Partai Demokrat melakukan rapat tertutup di kediaman Ketua Dewan Pembina Susilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas, Bogor. Rapat itu konon membahas penggantian Anas Urbaningrum dari kursi Ketua Umum Partai Demokrat. Anas disebut-sebut akan dilengserkan karena namanya terseret dalam kasus yang melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, M. Nazaruddin. Selain Anas, nama sejumlah kader Partai Demokrat seperti Angelina Sondakh dan Mirwan Amir juga terus disebut terlibat dalam kasus ini.
Desakan mundurnya Anas ini juga disebabkan terus menurunnya elektabilitas partai. Anas dianggap bertanggung jawab karena namanya ikut tersangkut dalam skandal itu.
Soal langkah strategis yang akan ditempuh partai, menurut Hayono, sudah disiapkan oleh Dewan Pembina Partai Demokrat. Namun Hayono mengatakan tak berharap Partai Demokrat langsung menggusur Anas maupun menggelar kongres luar biasa (KLB). "Saya tidak mendorong dan tidak berharap ada pencopotan Anas ataupun KLB karena tidak ada dasar hukumnya," ujarnya.
Ia menjelaskan, KLB bisa saja dilakukan jika didorong oleh dua pertiga DPD dan DPC, namun tidak ada dasar hukum untuk menggelar KLB ini. Hayono menambahkan, merosotnya tingkat elektabilitas Partai Demokrat bukan alasan untuk melakukan KLB. Saat ditanya apakah langkah antisipasi itu termasuk menyiapkan pengganti Anas Urbaningrum, Hayono tak membantah atau membenarkan. "Antisipasi itu urusan dapur, tidak bisa kami ungkapkan ke publik," ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum diminta tidak banyak bicara jika memang merasa tidak terlibat dalam sejumlah proyek pemerintah. salah satu pengacara Muhammad Nazaruddin, Junimart Girsang  menandaskan, kalau Anas merasa tidak ada hubungan apa-apa, no comment sajalah dia. Tidak perlu membela diri apalagi sewa pengacara. Junimart juga meminta sejumlah pihak yang tidak terkait langsung dengan perkara ini agar menahan komentar mereka, dan bersabar menunggu fakta terungkap di persidangan.
Wakil Direktur Grup Permai, Yulianis, bersaksi untuk Nazar bdi Pengadilan Tindak Pidana Korupsi DKI. Yulianis diharapkan kubu Nazar, bersedia blak-blakan soal sejumlah proyek yang digarap Grup Permai, dan siapa atasannya di perusahaan tersebut. Selama ini, pihak Nazar menuding Anaslah bos Grup Permai.
 
Nazaruddin dalam sidang pekan lalu mengatakan pernah menjadi petinggi Grup Permai. Namun, kata dia, pada 2007 ia menjual sebagian sahamnya ke Anas, sehingga kendali perusahaan berpindah tangan. Nazar juga menyebut ada aliran dana perusahaan ke Anas, yang salah satunya digunakan untuk membeli mobil Toyota Alphard.
Tudingan Nazar dibenarkan Direktur Marketing PT Anak Negeri, salah satu anak perusahaan Grup Permai, Mindo Rosalina Manulang. Saat bersaksi untuk Nazar pekan lalu, Rosa menyebut Anas sebagai salah satu pemilik Grup Permai. Buktinya, nama Anas tertulis di kertas pemberitahuan yang ditempel di gedung Permai Tower, Mampang, Jakarta Selatan.
Dalam persidangan, terpidana 2,5 tahun penjara kasus Wisma Atlet itu pun mengaku pernah melihat mobil Anas terparkir di depan Permai Tower. Rosa juga membenarkan adanya pembelian saham perusahaan oleh Anas dari Nazar. Jual-beli saham itu terjadi pada 2007, saat kantor Grup Permai masih berlokasi di Casablanca, Jaksel
Rosa juga menyebut Anas memiliki ruangan di lantai 4 kantor Grup Permai di Casablanca. Pernyataan Rosa diperkuat saksi lainnya, Mohammad El Idris. Manajer Pemasaran PT Duta Graha Indah, kontraktor proyek Wisma Atlet, itu mengaku pernah melihat Anas di kantor Casablanca, 2008 silam.
Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dinilai memanfaatkan kasus korupsi yang dilakukan keder partainya ini, Mohammad Nazaruddin. Pengamat politik Universitas Gajah Mada, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana menilai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sedang menunggangi kasus korupsi kader Partai Demokrat untuk kepentingan citranya.
Kegiatan presiden mengumpulkan sejumlah aktivis antikorupsi di Istana Negara merupakan bagian dari itu. Agung Ari melihat, Presiden Yudhoyono sudah melihat sinyal kuat tindakan Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap kader partainya. Dia menyatakan, Yudhoyono sudah memprediksi kasus ini akan meluas ke sejumlah pengurus partai yang disebut Nazaruddin. "Termasuk ketua umum," kata dia.
Pengumpulan aktivis antikorupsi, kata Agung Ari, seolah menjadi pesan kepada publik, Presiden serius memberantas korupsi. Termasuk membersihkan sejumlah kader partai yang dianggap bermasalah. Kasus korupsi yang membeli pengurus partai dinilai oleh presiden akan melemahkan citra.  Dia menilai, kasus ini digunakan oleh Yudhoyono untuk memperkuat patron dirinya di internal Partai Demokrat.
Agung Ari menilai, Partai Demokrat terlalu cepat menjadi partai besar. Partai ini mengambil kader dari siapa saja yang ingin masuk ke politik. Akibatnya, partai menjadi tempat penampungan berbagai macam orang dan kepentingan. Dia melihat Partai Demokrat menjadi tempat persembunyian orang-orang yang bermasalah. "Bukan karena kesamaan ideologi," kata dia. Yudhoyono ingin memakai momen kasus Nazaruddin termasuk kader lain yang diduga terkait serta pengumpulan aktivis antikorupsi untuk mendongkrak kembali citra partainya. (IRIB Indonesia/Tempo)


KORUPSI HAMBALANGTersangka: Menpora Harus Tanggung Jawab Andi Alifian Mallarangeng, Menpora Selasa, 16 Oktober 2012

JAKARTA (Suara Karya): 
 http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=313445
Tersangka kasus dugaan korupsi pada pembangunan Pusat Pelatihan Pendidikan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Bukit Sentul, Bogor, Dedy Kusdinar, menyebutkan, Andi Alifian Mallarangeng selaku Menpora harus ikut bertanggung jawab karena mengetahui pasti perubahan site plan proyek.





Dedy menyatakan itu saat hendak menemui penyidik KPK dalam rangka menjalani pemeriksaan perdana setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi proyek Hambalang, Senin, di Jakarta.
Sejak menjadi pejabat pembuat komitmen (PPK) pada tahun 2010, Dedy mengaku selalu berkoordinasi dengan pimpinannya di Kemenpora, termasuk Menpora Andi Mallarangeng. Dia menyebutkan tidak mengetahui apa-apa perihal perubahan rencana proyek pembangunan P3SON yang semula anggarannya hanya seratusan miliar rupiah hingga terakhir lebih dari Rp 2,5 triliun.
"Selama ini, seolah-olah saya yang mengatur penuntasan anggaran (proyek P3SON). Saya yang katanya mengatur itu, segala macam. Kenapa nggak diusulkan saja saya jadi menterinya atau pimpinan di sana oleh teman-teman," kata Dedy dengan nada tinggi.
Dedy mengaku tidak pernah mengubah site plan proyek. Selaku pejabat eselon dua, menurutnya, dia tidak mungkin melakukan itu. "Jadi, yang mengubah atau menyempurnakan site plan bukan saya. Saya hanya eselon dua, punya keterbatasan. Tidak mungkin saya mengubah site plan sekehendak saya," kata Dedy.
Dengan tegas, Dedy menyatakan atasannya langsung adalah Wafid Muharram selaku Sesmenpora. Sedangkan Wafid bertanggung jawab kepada Andi Mallarangeng selaku Menpora.
Meski begitu, Dedy menyatakan akan menghadapi semua proses peradilan. "Selaku warga negara yang baik, saya tidak akan menghindari pengadilan. Saya PPK tahun 2010. Jadi, kalau sekarang ada yang bilang 'tidak tahu, tidak tahu' nanti ketahuan," kata Dedy.
Dedy menuturkan, proyek pembangunan P3SON Hambalang dimulai pada tahun 2004. Saat itu PPK-nya bukan dia. Karena itu, dia mengaku tidak mengetahui soal pengurusan tanah dan proses pengadaan proyek. "Tapi, saya ditetapkan sebagai tersangka yang pertama," ujarnya.
Karena itu, Dedy mengaku tidak pernah melakukan tindak pidana korupsi pada proyek tersebut. Dia juga tidak pernah dijanjikan apa pun saat meneruskan pekerjaan PPK sebelumnya. "Yang pasti, saya tidak korupsi, tidak menikmati dan tidak pernah dijanjikan apa pun dalam proyek Hambalang," kata Dedy.
Dia menyatakan heran mengapa PPK sebelumnya tidak ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Dedy ditetapkan sebagai tersangka pada 20 Juli 2012. Selama melakukan penyelidikan hingga penyidikan, KPK telah memeriksa sekitar 70 saksi.
Nama Andi Mallarangeng terakhir juga disebut mantan anak buahnya, Wafid Muharram, pada pemeriksaan Kamis (11/10) lalu. Saat itu, dia ditanya penyidik perihal pengurusan sertifikat tanah Hambalang dan semua pengurusan proyek itu yang sudah dilaporkannya kepada Menpora Andi Mallarangeng. Wafid menyebut ada 50 anggota Komisi X DPR RI yang terlibat dalam pembahasan proyek itu.
Berkaitan dengan kemungkinan Andi Mallarangeng dimintai keterangan untuk kasus itu, Juru Bicara KPK Johan Budi menegaskan hal itu dimungkinkan. Bahkan, untuk meminta keterangan Anas Urbaningrum sekalipun. 



"Kalau ditanya apakah Pak Andi dan Pak Anas akan diperiksa terkait keterangan penyidikan kasus Hambalang, ya bisa saja, asal itu dibutuhkan penyidik," kata Johan. 



Sementara itu, anggota Komisi X DPR dari Fraksi Partai Golkar, Zulfadly, meminta Menpora Andi Mallarangeng bertanggung jawab karena menyangkut uang negara yang begitu besar. 



"Yang namanya proyek di atas Rp 100 miliar, itu penanggung jawab utamanya menteri sebagai kuasa anggaran. Tidak ada alasan seorang menteri tidak tahu proyek-proyek yang nilainya triliunan ini karena dasarnya sudah cukup kuat," ujarnya. 



Namun, ia mengaku belum mengetahui secara pasti besaran kerugian yang harus ditanggung oleh negara akibat dari adanya praktik dugaan korupsi dalam proyek itu. "Sampai sekarang BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) belum menyelesaikan proses audit," katanya. 



Pernyataan yang sama dikemukakan Koordinator Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Uchok Sky Khadafi.



Dia mengatakan, pertanggungjawaban menteri dalam kasus pembangunan proyek berdasarkan peraturan pemerintah atau Keppres Nomo 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa, di mana di sini yang bertanggung jawab adalah kuasa anggaran. 



"Jadi bukan pembuat komitmen yang harus disalahkan. Pembuat komitmen diangkat oleh kuasa anggaran. Jadi, kalau sudah jadi pejabat, jangan mau duit dan jabatan saja, tapi harus berani bertanggung jawab," ujarnya. 



Menanggapi hal itu, Andi Mallarangeng mengatakan bahwa pihaknya menyerahkan sepenuhnya pada proses hukum yang tengah ditangani KPK. Bahkan, ia menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama mengikuti proses hukum terkait kasus tersebut.



"Saya dan jajaran Kemenpora siap bekerja sama dalam proses hukum supaya semua permasalahannya menjadi jelas," ujar Andi kemarin. (Sugandi/Nefan Kristiono)

Anas Prominent Target ? [Anas adalah sasaran utama yang harus dihancurkan..???!!...http://ramalanintelijen.net/?p=4555]



 

Dalam sebuah taktik pertempuran, terlebih dalam  laporan intelijen, ada yang disebut prominent target. Arti harfiah dari  prominent adalah terkemuka, menyolok, menonjol. Dalam pengertiannya prominent target,  adalah  target terpenting, yang harus ditangkap, dihancurkan, dibersihkan atau di lebur. Nah, penulis melihat Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat kini namanya makin keras disebut oleh mantan bendahara Partai Demokrat ikut terlibat korupsi, bahkan sebagai handler proyek. Penulis membacanya, dan coba mengulas Anas sebagai prominent target.

Nazaruddin, Nunun Nurbaeti juga sempat menjadi prominent target KPK karena melarikan diri ke luar negeri saat dilakukannya dugaan korupsi yang melibatkan keduanya. Akhirnya keduanya tertangkap baik oleh aparat keamanan, Imigrasi, Kemlu dan KPK. Sulit bagi seseorang di Indonesia untuk melepaskan diri dari jeratan hukum, terlebih apabila dia sudah menjadi prominent target dari aparat pemerintah. Yang dihadapi adalah sebuah sistem kekuasaan dalam pengawasan publik yang lebih transparan, bebas dan berani.

Nazaruddin yang dahulu demikian gagah saaat menjadi bendahara partai penguasa, kini harus menjalani pengadilan sebagai terdakwa kasus suap Wisma Atlit. Didalam pengadilan, Nazar terus membeberkan data menyerang Ketua Umum Partai Demokrat tersebut. Dikatakannya Anas terlibat dalam proyek Hambalang, Bogor, sebesar Rp 1,2 Triliun,  menerima komisi dari PT Adhi Karya, kontraktor proyek tersebut. Selain itu Nazar juga menyebut beberapa bekas temannya yang terlibat  dalam proyek tersebut. Selain itu Nazar juga menyebut Anas juga berperan dalam beberapa proyek lain yang berkait dengan PT Adhi Karya.

Nazar sebenarnya juga sudah menyampaikan ke media tentang beberapa kasus keterlibatan   Anas sejak masa pelariannya dahulu. Diantaranya upaya untuk memenangkan pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat, dimana Anas  mempergunakan komisi proyek Hambalang sebedsar Rp 50 miliar. Juga dia menyebutkan kepemilikan 30 persen saham Anas di PT Anugerah Nusantara.

Yang menarik, Ketua DPP Partai Demokrat yang kabarnya akan mengundurkan diri menyatakan rela apabila Anas dan Angie (Angelina Sondah) diperiksa KPK. Dikatakan oleh Ruhut ""Siapapun jika setelah dilakukan pengembangan kasus ada sinyalemen kader kami terlibat, silahkan (diperiksa)" tegasnya. Bambang Wijoyanto, Wakil Ketua KPK mengatakan tidak tertutup  kemungkinan memanggil dan memeriksa Anas. Bukti-bukti Nazaruddin akan diselidiki olek KPK dan akan dikonfirmasikan sebagai petunjuk sebagai alat bukti. Ketua KPK Abraham Samad mengatakan akan melakukan penyelidikan, apabila didapat bukti akan menjadikannya sebagai tersangka. Semuanya sama dimata hukum, demikian tegas Samad.

Apa pendapat Anas sendiri? Pada tanggal 8 Desember 2011 Anas menyatakan " Saya tidak pernah berurusan dan meminta proyek. Saya tidak terlalu berminat menanggapi hal-hal yang tidak perlu." Kepada media, saat pengukuhan Pengurus Pusat Ikhwanul Mubalighin di Pesantren Kempek, Cirebon, Anas hanya menjawab pendek terhadap serangan Nazaruddin. Dikatakannya "Pertanyaannya, apakah pernyataan (Nazaruddin) itu layak dikutip?"

Nah, bagaimana kita melihat kasus ini? Penulis menyayangkan kemelut tidak dapat diselesaikan segera oleh elit Partai Demokrat, khususnya yang menyangkut celoteh Nazaruddin. Memang banyak pihak yang takut berbicara tentang Nazar, Hambalang, pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat serta beberapa proyek yang disebutkan oleh Nazar. Siapapun bisa dijadikan saksi, bahkan tersangka oleh KPK. Semua celoteh Nazar  kental dengan aroma korupsi yang demikian keras dicanangkan harus diberantas justru oleh Presiden SBY selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Lantas, apakah kasus akan dibiarkan bergulir terus?

Kerasnya teriakan Nazaruddin di Pengadilan jelas sangat menarik perhatian media dan publik, khususnya lawan politik SBY dan partainya. Inilah kesempatan emas menjatuhkan kredibilitas keduanya. Karena kasus menyentuh soal korupsi, berarti semuanya harus diselesaikan melalui jalur hukum agar terang benderang. Anas sebagai Ketua Umum ruling party sebaiknya segera menyelesaikannya apabila menginginkan nama dan citranya tidak semakin hancur. Kerusakan namanya langsung ataupun tidak akan menyeret partai yang dipimpinnya menuju ke jurang keruntuhan. Konstituennya, kader dan simpatisannya bisa pindah ke partai lain. Yang kadang dilupakan, walau bebas dalam jeratan hukum, memperbaiki citra jauh lebih sulit, karena publik masa kini mampu membaca kejadian apapun secara transparan.

Dilain sisi, inilah sebuah ujian dari Ketua KPK yang Baru Abraham Samad, yang tampil mengesankan sebagai sosok penggiat anti korupsi saat terpilih. Menghadapi kasus di partai besar di negara ini jelas bukan tugas  yang mudah, berat kalau boleh dikatakan demikian. Abraham pada awal pengabdiannya di KPK harus berani dan tegas melakukan langkah hukum. Jangan memandang enteng masalah pertentangan antara Nazar-Anas. Kejatuhan Ketua KPK, Antasari Azhar  yang justru kini mendekam di tahanan perlu menjadi pertimbangan kehati-hatian. Berani tetapi penuh dengan perhitungan. Waspada, itulah kira-kira terjemahannya.

Sebuah pertanyaan tersisa, kenapa Anas Urbaningrum kini nampaknya menjadi "prominent target?." Disatu sisi Nazaruddin jelas merasa sakit hati yang sangat mendalam terhadap Anas, mungkin merasa tidak diluindungi atau bahkan ada rasa dikorbankan. Nah dia kini melakukan upaya balas dendam. Serangan dari seorang kecil seperti Nazzar mungkin seperti duri yang mencocok kaki, tidak mematikan tetapi membuat tubuh meriang dan panas dingin. Kita tidak bisa memaksa terus tersenyum sementara tubuh panas dingin. Duri harus dicabut, dokter harus dikunjungi, apapun resikonya, tujuannya satu mengobati. Ataukah memang ada yang menggoreng kasus Nazaruddin untuk meremukkan atau menghancurkan Anas? Itulah teka-teki atau misteri dikalangan politik, yang sering menonjol kepentingan dan oportunisme didalamnya.

Semoga persoalan di tubuh Partai Demokrat bisa segera selesai. Walaupun bagaimana partai ini juga milik bangsa ini dalam sebuah sistem demokrasi. Apabila terus dibiarkan menggantung, kita sayang kepada Partai besar itu dan juga kepada KPK. Penulis selalu menyampaikan satu hal "Didalam hidup ini, hal yang paling sulit adalah mengambil keputusan." Publik akan melihat bagaimana keputusan yang akan diambil, baik para pimpinan dan  elit yang ada di Partai Demokrat maupun di KPK. Prayitno Ramelan ( http://ramalanintelijen.net )
Ilustrasi gambar : lensaindonesia.com



Soal Kasus Suap Wisma Atlet, Mungkinkah Anas Dijebak?

OPINI | 27 January 2012 | 08:56
http://politik.kompasiana.com/2012/01/27/soal-kasus-suap-wisma-atlet-mungkinkah-anas-dijebak/

1327628362600667550
Aktor Kasus Suap Wisma Atlet (duniapanas.blogspot.com)

Menonton Program KABAR PETANG TV One Kamis sore 26 Januari 2012, terlihat sekali Presenter TV One menggigiring opini bahwa Anas adalah orang yang paling bersalah terhadap turunnya elektabilitas Partai Demokrat hingga mencapai 15 % berdasarkan survey Lingkaran Survey Indonesia. Pada bulan Juni 2012 yang lalu Lingkaran Survey Indonesia mencatat Elektabilitas Partai Demokrat masih diangka 20 %, menurunya Kepercayaan Publik terhadap Partai Demokrat ini berdasarkan pengamatan Saya TV One berusaha menggiring pemirsa TV dengan menjadikan Anas kambing hitam dan pantas dilengserkan dari Ketua Umum Partai Demokrat. 

Saya tidak terlalu peduli mau bagaimanapun kondisi Partai Demokrat kalau perlu dibubarkan saja sehingga tidak ada lagi Partai Demokrat di bumi Indonesia yang menurut saya lebih cendrung menjadi corong kelompok Liberal Sekulerisme, Kapitalisme. Saya hanya melihat apa yang buat TV One tidak wajar terhadap Anas Urbaningrum khususnya. 

Ketidakwajaran ini menimbulkan pertanyaan besar mungkinkah Anas Urbaningrum di jebak dan direncanakan dikanibalisasi dengan kasus Suap Sea Games Wisma Atlet? Saya mencoba mengajak Anda untuk mengupas sedikit demi sedikit soal ini.

Ketika Kongress Partai Demokrat ada 3 kandidat kuat untuk terpilihnya menjadi Ketua Umum yaitu Marzuki Ali, Anas Urbaningrum dan Andi Malaranggeng. Ketika itu Saya sebagai pemerhati berharap memang Anas lah yang terpilih nantinya, alasan saya lebih kepada ideologis bahwa Anas masih tidak terlalu “berbahaya” ketimbang Marzkuki Ali dan Andi Malaranggeng yang dikenal sangat liberal dan sekuler dengan pemikiran-pemikiran mereka. Susilo Bambang Yudhoyonopun lebih memilih Anas untuk dijadikan Ketua Umum meneruskan Hadi Utomo.

13276288841265940831
Anas Urbaningrum (jppn.com)

Menariknya, Saya memprediksi memang Anas Urbaningrum akan “sulit” ketika mencapai posisi tersebut, dipastikan kelompok-kelompok Liberal Sekulerisme tidak akan tinggal diam terlebih para pakar Liberal Seklurisme mulai menjadi anggota seperti Ulil Abshar Abdalah yang kemudian membuat pencitraan dirinya melalui BOM BUKU beberapa waktu lalu.

Lalu Apa hubunganya dengan TV One dalam kajian Saya ini? Baiklah, Anas Urbaningrum saat ini menjadi sorotan media dan dicap bersalah oleh TV One khususnya dalam dau tiga hari terakhir, inilah target kelompok yang ingin Anas terguling dari posisinya baik dari tubuh Demokrat sendiri maupun dari kelompok Sekuler diluar tubuh Demokrat. 

Coba Anda tanyakan, mengapa Kasus Kemenpora yang ditukangi ANDI MALARANGGENG tidak diblow up media? Dan rasanya kisah KEMENPORA itu terasa tenggelam saja, tidak ada kabar beritanya, usaha-usaha menyeret Andi Malaranggeng dalam kasus suap Wisma Atlet Sea Games juga terasa dibuat berat, tetapi Anas yang menjadi bertubi-tubi dibantai ketimbang Andi Malaranggeng. 

13276289601197820194
Akbar Tanjung, HMI & Golkar

Saya pikir tidak ada yang tidak mengetahui jika Andi Malaranggeng merupakan saudaranya Rizal Malaranggeng, Siapa Rizal Malaranggeng? Rizal Malaranggeng adalah Sahabat Karib Abu Rizal Bakrie hal inipun terungkap ketika Gayus Tambunan “tertangkap” kamera saat menyaksikan pertandingan tenis di bali. Di Moment yang sama ada Abu Rizal Bakrie dan tentunya Rizal Malaranggeng, Rizal Malaranggeng menyatakan di media bahwa Abu Rizal Bakrie adalah sahabatnya. Semua orang pun tahu jika Abu Rizal Bakrie itu adalah pemilik TV One
.
Penggiringan opini oleh TV One agar Anas Urbaningrum dicopot jabatannya dari Ketua Umum Partai Demokrat kemungkinan adalah “pesan” dari pemegang saham TV One dalam hal ini adalah Abu Rizal Bakrie, Abu Rizal Bakrie juga merupakan Ketua Umum Partai Golkar. Mengapa? 

Karena Anas Urbaningrum mantan Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam, Sepengetahuan saya ketika Saya menjadi Ketua Karateker pendirian HMI dikampus saya periode 2008-2001, HMI selalu dikaitkan dengan GOLKAR sejak Akbar Tanjung yang juga Mantan Ketua Umum PB HMI “menguasai” Golkar seumur hidupnya, walau tidak bisa disebut Organisasi dibawah Golkar, Alumni HMI disarankan untuk selalu mengarah Ke Golkar, Kakak Senior Saya di HMI Kalimantan Barat saat ini sudah menjadi Anggota Dewan dari Partai Golkar sebagai bukti nyatanya. 

13276290021239537785
Demokrat Sekarat (kabarnet.com)

Ketika Anas Urbaningrum menjadi Ketua Umum Partai Demokrat dimana Anas Urbaningrum juga adalah mantan Ketua Umum PB HMI paling tidak “mengganggu” opini bahwa semua alumni HMI akan menjadi kader Golkar, Golkar dalam hal ini Akbar Tanjung masih sebagai dewan Pembina dipastikan melihat kondisi ini sangat tidak bagus untuk Golkar di masa mendatang, maka diupayakankalah agar Anas Urbaningrum tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

Sebagaimana publik ketahui bahwa Partai Golkar dan Partai Demokrat ini terjadi “perang dingin” dengan kisah ikan salmon beberapa waktu lalu sebagai contohnya. Mereka (Golkar-Demokrat) seperti akur padahal saling jegal dan saling menghancurkan. 

Tujuan dari opini “gulingkan” Anas Urbaningrum adalah menghancurkan Partai Demokrat sebagai pesaing Golkar pada pemilu mendatang sekaligus menghancurkan kekuatan Demokrat di mata rakyat dengan harapan elektabilitas Partai Demokrat semakin hancur, sudah dipastikan kelompok Liberal Sekulerisme dalam hal ini Rizal Malaranggeng yang merupakan sahabat karibnya Abu Rizal Bakrie dan pernah menajdi kader Golkar akan mendorong Saudaranya Andi Malaranggeng untuk memimpin Partai Demokrat, jika Andi Malaranggeng akhirnya menjadi Ketua umum Demokrat maka kelompok liberal sekuler akan semakin kuat dan akan saling bersaudara baik Partai Golkar maupun Partai Demokrat.

Saya sudah lama mengamati pemikiran-pemikiran Rizal Malaranggeng di Metro TV, Saya melihat Rizal Malaranggeng sangat kuat mengusung faham liberal sekuler di Indonesia, dan ini tidak hanya Rizal tetapi diikuti Andi Malaranggeng, di tubuh Demokrat sendiri kelompok ini sangat banyak dan menempati posisi sangat strategis terlebih ketika Ulil Abshar Abdalah menjadi kader demokrat selanjutnya setelah cape memperjuangkan pemikiran liberal sekuler di media maka satu-satunya cara kelompok ini menguasai Indonesia adalah membuat undang-undang. 

1327629053619328621
Andi Malaranggeng (antaranews.com)

Jadi, menurut saya dalam kasus Wisma Atlet Sea Games lebih tepat masuk dalam “PERANGKAP” agar jatuh dalam kepemimpinanya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Mengapa kelompok liberal sekulerisme baik di tubuh demokrat maupun diluar demokrat dengan “TEGA” melakukan ini? karena satu-satunya jalan yang mungkin bisa menumbangkan Anas Urbaningrum adalah membuat Anas terjerat hukum. 

Karena selama ini sebelum Anas Urbaningrum menjadi Ketua Umum Partai Demokrat, Anas sudah dikenal menjadi “Anak Emas” Dewan Pembina Demokrat yaitu Susilo Bambang Yushoyono. Bagaimana menghilangkan kekuatan SBY ditubuh Anas, satu-satunya cara adalah PENJARAKAN ANAS! maka kelompok lain diluar Anas bisa memimpin Partai Demokrat dengan leluasa.
 
1327629117862900846

Kisah Uang Haram Partai Demokrat

Dua Kelompok diuntungkan dengan penggulingan Anas yaitu Partai Golkar sendiri dengan mempertahankan hegemoni Alumni HMI “harus” masuk GOLKAR dan kelompok kedua yang diuntungkan adalah Kelompok Liberal Sekulerisme di tubuh Demokrat yang dikomandoi Marzuki Ali, Mubaroq, Andi Malaranggeng, Ulil Abshar Abdalah dan Soetan Batugana dan yang lainnya. Semoga Artikel sederhana ini bisa sedikit mengungkap Intrik Perpolitikan di Indonesia.

Bonus Gambar :1327629239586350597

Cinta SBY
Bandung, 26 Januari 2012
1326853246535879490
Adi Supriadi


Seorang Writer,Trainer,Public Speaker dan Entertainer. Punya Kakek Seorang Penulis, Ibu Seorang Penulis dan Istri Seorang Penulis. Pernah Menjadi Jurnalis Sekolah, Kampus, dan Radio. Tulisan baru terbit di KayongPost, Pontianakpost, Banjarmasinpost, Tanjungpurapost, Sriwijayapost, Balipost, Acehpost, Kompas, Republika, Sabili dll. Cita-cita ingin menjadi Jurnalis AlJazeera atau CNN dan bisa menulis jurnal di TIME dan Wartawan Washingtonpost. Anda dapat menghubungi via 085860616183 / YM: assyarkhan, adikalbar / FB: adikalbar@gmail.com / Twitter : @assyarkhan / GoogleTalk : adikalbar / Skype: adi.rabbani / PIN BB : 322235A9

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar