Rabu, 02 Mei 2012

Syiah-Sunni Bersatu, Islam akan Menjadi Kekuatan Besar di Dunia....>>Alhamdulillah... akhirnya ada juga umat Islam yang sadar.... Bahwa Umat Islam Harus Bersatu... khususnya Sunny Shiah yang selama ini selalu diadu domba... oleh para antek2 Penjajah yang tidak suka dengan Persatuan Umat Islam...>>... Coba Renungkan RISALAH AMMAN.. YANG MENYATAKAN SYIAH DAN SUNNY TERMASUK SELRUHNYA 8 MAZHAB ADALAH SHAHIH... DAN HARUS BERSATU...>> risalah Amman dibuat dan difatwakan oleh Umat Islam seluruh dunia, dalam Forum Internasional..> > ...Wawancara Dubes RI untuk Iran dengn Situs IRIB..>> ...Dubes RI: Benar. Seperti yang sudah saya katakan tadi, people to people contact ini sangat luas mencakup sosial, budaya, pendidikan dan olahraga semua masuk dalam cakupan people to people contact. Saya melihat semua itu peluang. Coba sekarang kita melihat bidang pendidikan. Marilah kita belajar dari negara lain, khususnya negara tetangga kita. Kalau negara Malaysia bisa mendatangkan 140 ribu turis ke Malaysia, mengapa kita hanya 20 ribu, atau kurang dari itu? Bila Malaysia mampu mendatangkan 15 ribu mahasiswa Iran, mengapa kita hanya segelintir? Padahal Islam kita diakui sebagai Islam yang lebih berwarna, lebih beragam, lebih moderat dan Islam yang penuh senyum. Kenyataan ini sebenarnya menjadi tantangan buat kita mengapa mereka berhenti di Malaysia? Pasti ada sesuatu.>>

Bila Syiah-Sunni Bersatu, Islam akan Menjadi Kekuatan Besar di Dunia


Wawancara Dubes RI untuk Iran dengn Situs IRIB

IRIB Indonesia: Pak Dubes, sekarang kita akan coba mengulas tujuan kedua penugasan Bapak di Tehran tentang people to people. Untuk memperkenalkan Indonesia secara luas kepada rakyat Iran, tentu saja pihak KBRI Tehran tidak dapat melakukannya sendiri. KBRI Tehran membutuhkan bantuan dan sosialisasi dari warga Indonesia dari berbagai kalangan yang tinggal di Iran. Nah, kira-kira apa program dan harapan Bapak dari warga Indonesia yang ada ini untuk menyukseskan program ini, yang pada intinya merupakan amanat dari NKRI di pundak seluruh bangsa Indonesia di manapun saja berada?
Dubes RI: Benar. Seperti yang sudah saya katakan tadi, people to people contact ini sangat luas mencakup sosial, budaya, pendidikan dan olahraga semua masuk dalam cakupan people to people contact. Saya melihat semua itu peluang. Coba sekarang kita melihat bidang pendidikan. Marilah kita belajar dari negara lain, khususnya negara tetangga kita. Kalau negara Malaysia bisa mendatangkan 140 ribu turis ke Malaysia, mengapa kita hanya 20 ribu, atau kurang dari itu? Bila Malaysia mampu mendatangkan 15 ribu mahasiswa Iran, mengapa kita hanya segelintir? Padahal Islam kita diakui sebagai Islam yang lebih berwarna, lebih beragam, lebih moderat dan Islam yang penuh senyum.
Kenyataan ini sebenarnya menjadi tantangan buat kita mengapa mereka berhenti di Malaysia? Pasti ada sesuatu.
Beberapa waktu belakangan ini kami berusaha mencari tahu ketika saya ke Jakarta. Karena itu saya bertemu juga dengan pelbagai pihak di Jakarta, khususnya di kalangan pendidikan tinggi, termasuk universitas Islam kita. Dalam hal ini universitas Islam yang ada di Jakarta.
Sebetulnya kita bisa berbuat banyak juga. Coba perhatikan! Malaysia memberikan sarana yang lebih lengkap. Sebagai contoh, masalah visa. Malaysia berani memberikan visa yang multiple entry untuk jangka 10 tahun.
Masalah-masalah pengembangan budaya ini tidak hanya terkait dengan bidang bersangkutan, tapi terkait dengan bidang-bidang lainnya. Jadi kitapun harus mulai menyiapkan diri untuk melakukan koordinasi antarlembaga di Indonesia. Koordinasi ini harus ditingkatkan dan bukan hanya terfokus pada departemen pendidikan, tapi juga harus terkait dengan Bappenas. Terkait juga dengan bidang hukum, karena menyangkut masalah keimigrasian dan sebagainya.
Di bidang pendidikan juga masih bisa dikembangkan. Bila mahasiswa Indonesia diberi beasiswa dari pemerintah Iran atau kalangan non-pemerintah, kita juga punya program-program yang bisa dikembangkan untuk merangkul mahasiswa Iran datang ke Indonesia.
Tapi selama ini rupanya ada persepsi yang salah. Ada berbagai kasus yang sangat tidak kondusif untuk hubungan ini. Misalnya, masalah di Madura. Kelompok kecil Syiah yang katanya diserang oleh kelompok yang lebih besar. Nah, hal-hal yang seperti ini menciptakan persepsi yang salah dari masyarakat Iran untuk datang ke Indonesia. Padahal yang terjadi di lapangan adalah bukan pertentangan antara Syiah dan Sunni, tapi lebih ke masalah-masalah yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan pemerintah Iran dan Indonesia. Karena itu sebenarnya masalah keluarga yang kemudian dieksploitir dan dikembangkan sehingga memunculkan persepsi yang sala
Hal-hal yang seperti ini tidak dapat diselesaikan sendiri oleh KBRI atau departeman agama, tapi harus menyangkut bidang-bidang lain seperti departemen dalam negeri, pemerintah daerah dan sebagainya.
Selama persepsi-persepsi yang seperti ini masih ada memang akan menjadi ekstra sulit bagi kami untuk bisa mengembangkan people to people. Tapi bagaimanapun juga kita harus memulai langkah ini. Kalau tidak, kapan lagi akan kita lakukan? Oleh karena itu, ke depannya salah satu bentuk yang akan kita lakukan, program yang akan dilakukan oleh KBRI antara lain; memajukan upaya dialog antarkepercayaan dan antaragama. Buat saya, dialog semacam ini sangat penting. Karena untuk memberikan keyakinan di masyarakat kedua belah pihak, bahwa namanya Syiah-Sunni itu bukan satu pertentangan. Bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Apalagi yang bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain untuk dipertentangkan. Justru kalau kita bisa merangkul, saling berjabat tangan untuk bekerjasama, Islam akan menjadi kekuatan besar. Yang tadi saya katakan, bukan hanya secara bilateral, tapi di kawasan dan juga di dunia.
Banyak tantangan, termasuk juga olahraga. Indonesia adalah negara yang masih jauh tertinggal dalam cabang olahraga. Di lain pihak, Iran punya cabang olahraga yang dominan seperti bola voli, angkat besi dan gulat. Ketika saya di Jakarta, saya sudah bertemu dengan ketua KONI yang baru. Mereka sangat berminat untuk mengembangkan hubungan olahraga ini. Selama ini badminton sudah jalan. Tapi mengapa hanya badminton? Kita perlu mengembangkan cabang olahraga yang lain. Langkah ke arah sana sudah mulai kita lakukan.
Banyak hal yang bisa digarap.
IRIB Indonesia: Pak Dubes, Iran baru-baru ini menyelenggarakan Pekan Budaya di Indonesia pada 7-13 Maret. Masih dalam kerangka people to people contact, apakah ada rencana Indonesia akan menyelenggarakan Pekan Budaya di Iran, apa lagi Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran telah menawarkan bahwa Tehran siap menjadi tuan rumah bagi Pekan Budaya Indonesia di Tehran?
Dubes RI: Betul, betul sekali. Minggu lalu ada Iran Week di Indonesia. Kegiatannya kultur dan kebudayaan mencakup berbagai bidang termasuk film dan pameran yang dibuka secara resmi di Museum Nasional. Sebagai informasi, tahun ini kita juga akan mengadakan Pekan Budaya di Tehran sekitar bulan September. Kita akan mengadakan Indonesian Week dan dalam kaitan ini, saya sudah bicara dengan departemen pariwisata dan ekonomi kreatif dan mereka mendukung sepenuhnya acara ini yang akan diselenggarakan di bulan September nanti. Temanya Indonesian Week dan kita akan memperkenalkan kebudayaan Indonesia bukan hanya musik, tapi juga, insya Allah, tari-tarian dan juga kita akan coba seperti yang dilakukan Iran di Indonesia yaitu mengenalkan film-film Indonesia yang mulai berprestasi di tingkat internasional
Pekan Budaya ini sudah masuk dalam program kita dan akan dilaksanakan pada bulan September
IRIB Indonesia: Terima kasih atas kesediaan Bapak Dubes berbincang-bincang dengan kami. Sebagai penutup, karena Iran saat ini tengah memasuki tahun baru Hijriah Syamsiah yang dikenal dengan tradisi Nouruz. Mungkin Bapak Dubes punya pesan kepada bangsa Iran, ataukah punya kesan tersendiri mengenai tradisi Nouruz ini, silahkan
Dubes RI: Tadi pagi ketika saya menyerahkan Credential kepada Bapak Presiden Mahmoud Ahmadinejad, pesan pertama yang saya ucapkan adalah ucapan selamat tahun baru buat Presiden Iran, baik dari saya selaku Duta Besar yang baru dan ucapan yang sama dari Bapak Presiden Indonesia kepada Presiden Republik Islam Iran. Selamat Tahun Baru.
Harapan kami dan juga harapan Bapak Presiden Indonesia serta harapan KBRI Tehran, semoga tahun baru buat masyarakat Iran ini dapat menambah kesejahteraan dan kebahagiaan bagi rakyat Iran. Saya percaya bahwa tahun baru selalu membawa hal-hal yang baru. Mudah-mudahan dengan doa kita bersama, Iran juga akan menghadapi masa depan baru yang lebih baik dari yang sebelumnya. Kami bangsa Indonesia sebagaimana yang saya sampaikan kepada Bapak Mahmoud Ahmadinejad senantiasa akan bekerjasama bersama rakyat Iran membawa kemakmuran bersama bagi kedua negara. Itulah yang saya sampaikan kepada beliau dan lewat beliau kepada seluruh rakyat Iran. (DarutTaqrib/IRIB/adrikna!)

(Visited 57 times, 4 visits today)
Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsudin, mengatakan tak ada perbedaan besar antara dua mazhab besar dalam Islam, Sunni dan Syiah, kata sebuah berita, sebuah pernyataan sejuk yang menutup pintu perpecahan dan adu domba yang bisa menghancurkan harmoni Muslimin Indonesia.
Berbicara di Jakarta hari ini, Din berkata baik Sunni dan Syiah “mengakui Tuhan dan Rasul yang sama. “Soal itu perlu diluruskan agar tidak memecah persaudaraan umat Islam,” katanya ke Kantor Berita Antar.
Din mengutarakan pandangannya itu lepas menjamu Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh, di Kantor Pusat Muhammadiyah di bilangan Menteng.
Kata Din, pertemuan itu terkait kerja sama Iran dengan Muhammadiyah untuk “mempererat hubungan” di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. “Semuanya untuk memajukan umat,” kata Din.
Din mengatakan Muhammadiyah dan Kedutaan Iran akan menggelar seminar bertema “Islam, Perdamaian, dan Keadilan Global”.
Seminar untuk menanggapi ketidakadilan global yang sedang terjadi dan sebagai upaya menghilangkan Islamofobia, ketakutan dan kecurigaan tak beralasan pada Islam, katanya.
Muhammadiyah sebelumnya mengecam keputusan Prancis yang melarang Muslimin menggunakan Burqa dan cadar, mencapnya sebagai sebuah sikap yang tidak menghargai kebebasan beragama, elemen vital demokrasi.
Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar Mahmoud bilang masyarakat Muslim perlu bekerjasama untuk menunjukkan Islam sebagai “agama kedamaian”. “Sejumlah negara besar di dunia memandang Islam sebagai ancaman yang amat menakutkan dengan dugaan melakukan pengeboman, teror serta kekerasan di sejumlah negara,” katanya. (daruttaqrib/Islam Times/Antara/sa]
(Visited 118 times, 7 visits today)

Risalah Amman

Risalah Amman

PERNYATAAN SIKAP KONFERENSI ISLAM INTERNASIONAL

Konferensi ini diadakan di Amman, Yordania, dengan tema “Islam Hakiki dan Perannya dalam Masyarakat Modern” (27-29 Jumadil Ula 1426 H. / 4-6 Juli 2005 M.)

Bismillahir-Rahmanir-Rahim
SALAM DAN SALAWAT SEMOGA TERCURAH PADA BAGINDA NABI MUHAMMAD DAN KELUARGANYA YANG SUCI

Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa… (Al-Nisa’,4:1) Sesuai dengan fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh YTH Imam Besar Syaikh Al-Azhar, YTH Ayatollah Sayyid Ali Al-Sistani, YTH Mufti Besar Mesir, para ulama Syiah yang terhormat (baik dari kalangan Syiah Ja’fari maupun Zaidi), YTH Mufti Besar Kesultanan Oman, Akademi Fiqih Islam Kerajaan Saudi Arabia, Dewan Urusan Agama Turki, YTH Mufti Besar Kerajaan Yordania dan Para Anggota Komite Fatwa Nasional Yordania, dan YTH Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi; Sesuai dengan kandungan pidato Yang Mulia Raja Abdullah II bin Al-Hussein, Raja Yordania, pada acara pembukaan konferensi;

Sesuai dengan pengetahuan tulus ikhlas kita pada Allah SWT; Dan sesuai dengan seluruh makalah penelitian dan kajian yang tersaji dalam konferensi ini, serta seluruh diskusi yang timbul darinya; Kami, yang bertandatangan di bawah ini, dengan ini menyetujui dan menegaskan kebenaran butir-butir yang tertera di bawah ini:

(1) Siapa saja yang mengikuti dan menganut salah satu dari empat mazhab Ahlus Sunnah (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali), dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), mazhab Ibadi dan mazhab Zhahiri adalah Muslim. Tidak diperbolehkan mengkafirkan salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas. 
Darah, kehormatan dan harta benda salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas tidak boleh dihalalkan. 
Lebih lanjut, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti akidah Asy’ari atau siapa saja yang mengamalkan tasawuf (sufisme). 
Demikian pula, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti pemikiran Salafi yang sejati. Sejalan dengan itu, tidak diperbolehkan mengkafirkan kelompok Muslim manapun yang percaya pada Allah, mengagungkan dan mensucikan-Nya, meyakini Rasulullah (saw) dan rukun-rukun iman, mengakui lima rukun Islam, serta tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam.

(2) Ada jauh lebih banyak kesamaan dalam mazhab-mazhab Islam dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan di antara mereka. Para pengikut/penganut kedelapan mazhab Islam yang telah disebutkan di atas semuanya sepakat dalam prinsip prinsip utama Islam (Ushuluddin). 
Semua mazhab yang disebut di atas percaya pada satu Allah yang Mahaesa dan Makakuasa; percaya pada al-Qur’an sebagai wahyu Allah; dan bahwa Baginda Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul untuk seluruh manusia. Semua sepakat pada lima rukun Islam: dua kalimat syahadat(syahadatayn); kewajiban shalat; zakat; puasa di bulan Ramadhan, dan Haji ke Baitullah di Mekkah. Semua percaya pada dasar-dasar akidah Islam: kepercayaan pada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk dari sisi Allah. Perbedaan di antara ulama kedelapan mazhab Islam tersebut hanya menyangkut masalah-masalah cabang agama (furu’) dan tidak menyangkut prinsip-prinsip dasar (ushul) Islam.
Perbedaan pada masalah-masalah cabang agama tersebut adalah rahmat Ilahi. Sejak dahulu dikatakan bahwa keragaman pendapat di antara ‘ulama adalah hal yang baik.

(3) Mengakui kedelapan mazhab dalam Islam tersebut berarti bahwa mengikuti suatu metodologi dasar dalam mengeluarkan fatwa: tidak ada orang yang berhak mengeluarkan fatwa tanpa keahlihan pribadi khusus yang telah ditentukan oleh masing-masing mazhab bagi para pengikutnya. Tidak ada orang yang boleh mengeluarkan fatwa tanpa mengikuti metodologi yang telah ditentukan oleh mazhab-mazhab Islam tersebut di atas. Tidak ada orang yang boleh mengklaim untuk melakukan ijtihad mutlak dan menciptakan mazhab baru atau mengeluarkan fatwa-fatwa yang tidak bisa diterima hingga membawa umat Islam keluar dari prinsip-prinsip dan kepastian-kepastian Syariah sebagaimana yang telah ditetapkan oleh masing-masing mazhab yang telah disebut di atas.

(4) Esensi Risalah Amman, yang ditetapkan pada Malam Lailatul Qadar tahun 1425 H dan dideklarasikan dengan suara lantang di Masjid Al-Hasyimiyyin, adalah kepatuhan dan ketaatan pada mazhab-mazhab Islam dan metodologi utama yang telah ditetapkan oleh masing-masing mazhab tersebut. 
Mengikuti tiap-tiap mazhab tersebut di atas dan meneguhkan penyelenggaraan diskusi serta pertemuan di antara para penganutnya dapat memastikan sikap adil, moderat, saling memaafkan, saling menyayangi, dan mendorong dialog dengan umat-umat lain.

(5) Kami semua mengajak seluruh umat untuk membuang segenap perbedaan di antara sesama Muslim dan menyatukan kata dan sikap mereka; menegaskan kembali sikap saling menghargai; memperkuat sikap saling mendukung di antara bangsa-bangsa dan negara-negara umat Islam; memperkukuh tali persaudaraan yang menyatukan mereka dalam saling cinta di jalan Allah. Dan kita mengajak seluruh Muslim untuk tidak membiarkan pertikaian di antara sesama Muslim dan tidak membiarkan pihak-pihak asing mengganggu hubungan di antara mereka.

Allah berfirman: Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara. Maka itu islahkan hubungan di antara saudara-saudara kalian dan bertakwalah kepada Allah sehingga kalian mendapat rahmat-Nya. (Al-Hujurat, 49:10).

Amman, 27-29 Jumadil Ula 1426 H./ 4-6 Juli 2005 M.


Para penandatangan:
[1] AFGHANISTAN
1. YTH. Nusair Ahmad Nour
Dubes Afghanistan untuk Qatar

[2] Aljazair
1. YTH. Lakhdar Ibrahimi
Utusan Khusus Sekjen PBB; Mantan Menlu Aljazair
2. Prof. Dr. Abd Allah bin al-Hajj Muhammad Al Ghulam Allah
Menteri Agama
3. Dr. Mustafa Sharif
Menteri Pendidikan
4. Dr. Sa’id Shayban
Mantan Menteri Agama
5. Prof. Dr. Ammar Al-Talibi
Departemen Filsafat, University of Algeria
6. Mr. Abu Jara Al-Sultani
Ketua LSM Algerian Peace Society Movement

[3] AUSTRIA
1. Prof. Anas Al-Shaqfa
Ketua Komisi Islam
2. Mr. Tar afa Baghaj ati
Ketua LSM Initiative of Austrian Muslims

[4] AUSTRALIA
1. Shaykh Salim ‘Ulwan al-Hassani
Sekjen, Darulfatwa, Dewan Tinggi Islam

[5] AZERBAIJAN
1. Shaykh Al-Islam Allah-Shakur bin Hemmat Bashazada
Ketua Muslim Administration of the Caucasus

[6] BAHRAIN
1. Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Sutri
Menteri Kehakiman
2. Dr. Farid bin Ya’qub Al-Miftah
sekretaris Kementerian Agama

[7] BANGLADESH
1. Prof. Dr. Abu Al-Hasan Sadiq
Rektor Asian University of Bangladesh

[8] BOSNIA dan HERZEGOVINA
1. Prof. Dr. Syaikh Mustafa Ceric
Ketua Majlis ‘Ulama’dan Mufti Besar Bosnia dan Herzegovina
2. Prof. Hasan Makic
Mufti Bihac
3. Prof. Anes Lj evakovic
Peneliti dan Pengajar, Islamic Studies College

[9] BRAZIL
1. Syaikh Ali Muhmmad Abduni
Perwakilan International Islamic Youth Club di Amerika Latin

[10] KANADA
1. Shaykh Faraz Rabbani
Guru, Hanafijurisprudence, Sunnipath.com

[11] REPUBLIk CHAD
1. Shaykh Dr. Hussein Hasan Abkar
Presiden, Higher Council for Islamic Affair; Imam Muslim, Chad

[12] Mesir
1. Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq
Menteri Agama
2. Prof. Dr. Ali Jumu’a
Mufti Besar Mesir
3. Prof. Dr. Ahmad Muhammad Al-Tayyib
Rektor Universitas Al-Azhar University
4. Prof. Dr. Kamal Abu Al-Majd
Pemikir Islam; Mantan Menteri Informasi;
5. Dr. Muhammad Al-Ahmadi Abu Al-Nur
Mantan Menteri Agama Mesir; Profesor Fakultas Syariah, Yarmouk University, Jordan
6. Prof. Dr. Fawzi Al-Zifzaf
Ketua Masyayikh Al-Azhar; Anggota the Academy of Islamic Research
7. Prof. Dr. Hasan Hanafi
Peneliti dan Cendekiawan Muslim, Departemen Filsafat, Cairo University
8. Prof. Dr. Muhammad Muhammad Al-Kahlawi
Sekjen Perserikatan Arkeolog Islam; Dekan Fakultas Studi Kesejarahan Kuno, Cairo University
9. Prof. Dr. Ayman Fuad Sayyid
Mantan Sekjen, Dar al-Kutub Al-Misriyya
10. Syaikh Dr. Zaghlul Najjar
Anggota Dewan Tinggi Urusan Islam, Mesir
11. Syaikh Moez Masood
Dai Islam
12. Dr. Raged al-Sirjani
13. Dr. Muhammad Hidaya

[13] Perancis
1. Syaikh Prof. Dalil Abu Bakr
Ketua Dewan Tinggi Urusan Agama Islam dan Dekan Masjid Paris
2. Dr. Husayn Rais
Direktur Urusan Budaya, Masjid Jami’ Paris

[14] JERMAN
1. Prof. Dr. Murad Hofmann
Mantan Dubes Jerman untuk Maroko
2. Syaikh Salah Al-Din Al- Ja’farawi
Asisten Sekjen World Council for Islamic Propagation

[15] INDIA
1. H.E. Maulana Mahmood Madani
Anggota Parlemen
Sekjen Jamiat Ulema-i-Hind
2. Ja’far Al-Sadiq Mufaddal Sayf Al-Din
Cendikiawan Muslim
3. Taha Sayf Al-Din
Cendikiawan Muslim
4. Prof. Dr. Sayyid Awsaf Ali
Rektor Hamdard University
5. Prof. Dr. Akhtar Al-Wasi
Dekan College of Humanities and Languages

[16] INDONESIA
1. Dr. Tutty Alawiyah
Rektor Universitas Islam Al-Syafi’iyah
2. Rabhan Abd Al-Wahhab
Dubes RI untuk Yordania
3. KH Ahmad Hasyim Muzadi
Mantan Ketua PBNU
4. Rozy Munir
Mantan Wakil Ketua PBNU
5. Muhamad Iqbal Sullam
International Conference of Islamic Scholars, Indonesia

[17] IRAN
1. Ayatollah Syaikh Muhammad Ali Al-Taskhiri
Sekjen Majma Taqrib baynal Madzahib Al-Islamiyyah.
2. Ayatollah Muhammad Waez-zadeh Al-Khorasani
Mantan Sekjen Majma Taqrib baynal Madzahib Al-Islamiyyah
3. Prof. Dr. Mustafa Mohaghegh Damad
Direktur the Academy of Sciences; Jaksa; Irjen Kementerian Kehakiman
4. Dr. Mahmoud Mohammadi Iraqi
Ketua LSM Cultural League and Islamic Relations in the Islamic Republic of Iran
5. Dr. Mahmoud Mar’ashi Al-Najafi
Kepala Perpustakaan Nasional Ayatollah Mar’ashi Al-Najafi
6. Dr. Muhammad Ali Adharshah
Sekjen Masyarakat Persahabatan Arab-Iran
7. Shaykh Abbas Ali Sulaymani
Wakil Pemimpin Spiritual Iran di wilayah Timur Iran

[18] IRAK
1. Grand Ayatollah Shaykh Husayn Al-Mu’ayyad
Pengelola Knowledge Forum
2. Ayatollah Ahmad al-Bahadili
Dai Islam
3. Dr. Ahmad Abd Al-Ghaffur Al-Samara’i
Ketua Diwan Waqaf Sunni

[19] ITALiA
1. Mr. Yahya Sergio Pallavicini
Wakil Ketua, Islamic Religious Community of Italy (CO.RE.IS.)

[20] YORDANIA
1. Prof. Dr. Ghazi bin Muhammad
Utusan Khusus Raja Abdullah II bin Al-Hussein
2. Syaikh Izzedine Al-Khatib Al-Tamimi
Jaksa Agung
3. Prof. Dr. Abdul-Salam Al-Abbadi
Mantan Menteri Agama
4. Prof. Dr. Syaikh Ahmad Hlayyel
Penasehat Khusus Raja Abdullah dan Imam Istana Raja
5. Syaikh Said Al-Hijjawi
Mufti Besar Yordania
6. Akel Bultaji
Penasehat Raja
7. Prof. Dr. Khalid Touqan
Menteri Pendidikan dan Riset
8. Syaikh Salim Falahat
Ketua Umum Ikhwanul Muslimin Yordania
9. Syaikh Dr. Abd Al-Aziz Khayyat
Mantan Menteri Agama
10. Syaikh Nuh Al-Quda
Mantan Mufti Angkatan Bersenjata Yordania
11. Prof. Dr. Ishaq Al-Farhan
Mantan Menteri Pendidikan
12. Dr. Abd Al-Latif Arabiyyat
Mantan Ketua DPR Yordania;
Shaykh Abd Al-Karim Salim Sulayman Al-Khasawneh
Mufti Besar Angkatan Bersenjata Yordania
13. Prof. Dr. Adel Al-Toweisi
Menteri Kebudayaan
14. Mr.BilalAl-Tall
Pemimpin Redaksi Koran Liwa’
15. Dr. Rahid Sa’id Shahwan
Fakultas Ushuluddin, Balqa Applied University

[21] KUWAIT
1. Prof. Dr. Abdullah Yusuf Al-Ghoneim
Kepala Pusat Riset dan Studi Agama
2. Dr. Adel Abdullah Al-Fallah
Wakil Menteri Agama

[22] LEBANON
1. Prof. Dr. Hisham Nashabeh
Ketua Badan Pendidikan Tinggi
2. Prof. Dr. Sayyid Hani Fahs
Anggota Dewan Tinggi Syiah
3. Syaikh Abdullah al-Harari
Ketua Tarekat Habashi
4. Mr. Husam Mustafa Qaraqi
Anggota Tarekat Habashi
5. Prof. Dr. Ridwan Al-Sayyid
Fakultas Humaniora, Lebanese University; Pemred Majalah Al-Ijtihad
6. Syaikh Khalil Al-Mays
Mufti Zahleh and Beqa’ bagian Barat

[23] LIBYA
1. Prof. Ibrahim Al-Rabu
Sekretaris Dewan Dakwah Internasional
2. Dr. Al-Ujaili Farhat Al-Miri
Pengurus International Islamic Popular Leadership

[24] MALAYSIA
1. Dato’ Dr. Abdul Hamid Othman
Menteri Sekretariat Negara
2. Anwar Ibrahim
Mantan Perdana Menteri
3. Prof. Dr. Muhamad Hashem Kamaly
Dekan International Institute of Islamic Thought and Civilisation
4. Mr. Shahidan Kasem
Menteri Negara Bagian Perlis, Malaysia
5. Mr. Khayri Jamal Al-Din
Wakil Ketua Bidang Kepemudaan UMNO

[25] Maladewa
1. Dr. Mahmud Al-Shawqi
Menteri Pendidikan

[26] Maroko
1. Prof. Dr. Abbas Al-Jarari
Penasehat Raja
2. Prof. Dr. Mohammad Farouk Al-Nabhan
Mantan Kepala DarAl-Hadits Al-Hasaniyya
3. Prof. Dr. Ahmad Shawqi Benbin
Direktur Perpustakaan Hasaniyya
4. Prof. Dr. Najat Al-Marini
Departemen Bahasa Arab, Mohammed V University

[27] NIGERIA
1. H.H. Prince Haji Ado Bayero
Amir Kano
2. Mr. Sulayman Osho
Sekjen Konferensi Islam Afrika

[28] Kesultanan OMAN
1. Shaykh Ahmad bin Hamad Al-Khalili
Mufti Besar Kesultanan Oman
2. Shaykh Ahmad bin Sa’ud Al-Siyabi
Sekjen Kantor Mufti Besar

[29] PAKISTAN
1. Prof. Dr. Zafar Ishaq Ansari
Direktur Umum, Pusat Riset Islam, Islamabad
2. Dr. Reza Shah-Kazemi
Cendikiawan Muslim
3. Arif Kamal
Dubes Pakistan untuk Yordania
4. Prof. Dr. Mahmoud Ahmad Ghazi
Rektor Islamic University, Islamabad; Mantan Menteri Agama Pakistan

[30] PALESTINA
1. Shaykh Dr. Ikrimah Sabri
Mufti Besar Al-Quds dan Imam Besar Masjid Al-Aqsa
2. Shaykh Taysir Raj ab Al-Tamimi
Hakim Agung Palestina

[31] PORTUGAL
1. Mr. Abdool Magid Vakil
Ketua LSM Banco Efisa
2. Mr. Sohail Nakhooda
Pemred Islamica Magazine

[32] QATAR
1. Prof. Dr. Shaykh Yusuf Al-Qaradawi
Ketua Persatuan Internasional Ulama Islam
2. Prof. Dr. Aisha Al-Mana’i
Dekan Fakultas Hukum Islam, University of Qatar

[33] RUSIA
1. Shaykh Rawi Ayn Al-Din
Ketua Urusan Muslim
2. Prof. Dr. Said Hibatullah Kamilev
Direktur, Moscow Institute of Islamic Civilisation
3. Dr. Murad Murtazein
Rektor, Islamic University, Moskow

[34] ARAB SAUDI
1. Dr. Abd Al-Aziz bin Uthman Al-Touaijiri
Direktur Umum, The Islamic Educational, Scientific and Cultural
Organization (ISESCO)
2. Syaikh al-Habib Muhammad bin Abdurrahman al-Saqqaf

[35] SENEGAL
1. Al-Hajj Mustafa Sisi
Penasehat Khusus Presiden Senegal

[36] SINGAPORE
1. Dr. Yaqub Ibrahim
Menteri Lingkuhan Hidup dan Urusan Muslim

[37] AFRIKA SELATAN
1. Shaykh Ibrahim Gabriels
Ketua Majlis Ulama Afrika Utara South African ‘Ulama’

[38] SUDAN
1. Abd Al-Rahman Sawar Al-Dhahab
Mantan Presiden Sudan
2. Dr. Isam Ahmad Al-Bashir
Menteri Agama

 [39] SWISS
1. Prof. Tariq Ramadan
Cendikiawan Muslim

[40] SYRIA
1. Dr. Muhammad Sa’id Ramadan Al-Buti
Dai, Pemikir dan Penulis Islam
2. Prof. Dr. Syaikh Wahba Mustafa Al-Zuhayli
Ketua Departemen Fiqih, Damascus University
3. Syaikh Dr. Ahmad Badr Hasoun
Mufti Besar Syria

[41] THAILAND
1. Mr. Wan Muhammad Nur Matha
Penasehat Perdana Menteri
2. Wiboon Khusakul
Dubes Thailand untuk Irak

[42] TUNISIA
1. Prof. Dr. Al-Hadi Al-Bakkoush
Mantan Perdana Menteri Tunisia
2. Dr. Abu Baker Al-Akhzuri
Menteri Agama

[43] TURKI
1. Prof. Dr. Ekmeleddin I lis an og hi
Sekjen Organisasi Konferensi Islam (OKI)
2. Prof. Dr. Mualla Saljuq
Dekan Fakultas Hukum, University of Ankara
3. Prof. Dr. Mustafa Qag nci
Mufti Besar Istanbul
4. Prof. Ibrahim Kafi Donmez
Profesor Fiqih University of Marmara

[44] UKRAINA
1. Shaykh Dr. Ahmad Tamim
Mufti Ukraina

[45] Uni Emirat Arab
1. Mr. Ali bin Al-Sayyid Abd Al-Rahman Al-Hashim
Penasehat Menteri Agama
2. Syaikh Muhammad Al-Banani
Hakim Pengadilan Tinggi
3. Dr. Abd al-Salam Muhammad Darwish al-Marzuqi
Hakim Pengadilan Dubai

[46] Inggris
1. Syaikh Abdal Hakim Murad / Tim Winter
Dosen, University of Cambridge
2. Syaikh Yusuf Islam /Cat Steven
Dai Islam dan mantan penyanyi
3. Dr.FuadNahdi
Pemimpin Redaksi Q-News International
4. SamiYusuf
Penyanyi Lagu-lagu Islam

[47] Amerika Serikat
1. Prof. Dr. Seyyed Hossein Nasr
Penulis dan profesor Studi-studi Islam, George Washington University
2. Syaikh Hamza Yusuf
Ketua Zaytuna Institute
3. Syaikh Faisal Abdur Rauf
Imam Masjid Jami Kota New York
4. Prof. Dr. Ingrid Mattson
Profesor Studi-studi Islam, Hartford Seminary; Ketua Masyarakat Islam
Amerika Utara (ISNA)

[48] UZBEKISTAN
1. Syaikh Muhammad Al-Sadiq Muhammad Yusuf
Mufti Besar

[49] Yaman
1. Syaikh Habib ‘Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafiz
Ketua Madrasah Dar al-Mustafa, Tarim
2. Syaikh Habib Ali Al-Jufri
Dai Internasional
3. Prof. Dr. Husayn Al-Umari
Anggota UNESCO; Profesor Sejarah, Universitas Sana’a’

teks aslinya bisa dilihat di www.ammanmassage.com (Arab-Inggris); http://www.kingabdullah.jo/main2.php?page_id=464

UNDUH Amman Message

Kedamaian Sunni Dan Syiah Di Jepara (2)

Pesantren Syiah, Darut Taqrib, berdiri di tengah lingkungan Nahdlatul Ulama, yang merupakan penganut Sunni di Desa Candi Bangsri, Jepara. Meski beberapa praktek peribadatannya berbeda, warga Syiah dan warga NU hidup damai di wilayah ini. Menurut Miqdad Turkan, murid Abdul Ghadir Bafaqih, pendiri aliran Syiah di Jepara, ada beberapa faktor yang menyebabkan kaum Syiah dan Sunni di Jepara bisa hidup damai.
Ada faktor hubungan kekerabatan dan pertemanan sejak lama. “Banyak tokoh kiai di Jepara dan sekitarnya pernah menjadi murid Ghadir,” kata Miqdad. Karena itu, ketika Abdul Ghadir beralih ke Syiah, muridnya tahu bahwa Abdul Ghadir memang berbeda sejak awal, sehingga tak menimbulkan masalah.
Selain itu, para kiai muda di Jepara juga berteman baik sejak di bangku sekolah. Yang tak kalang penting, kata Miqdad, kaum Syiah di sana tak pernah bertindak ekstrem atau berambisi mengajak orang Sunni masuk ke Syiah. “Orang Syiah berkembang secara alamiah dan orang lain melihat Syiah juga secara alamiah pula,” katanya.
Bagi Miqdad, secara naluriah, orang terus berproses dalam pencarian akibat ketidakpuasan spiritual. “Silakan diskusi. Selanjutnya Anda jadi Syiah atau tidak, itu hak anda. Orang yang bijak adalah yang bisa memahami orang lain tanpa harus mengikuti,” kata Miqdad.
Muhammad Ali, salah satu pengasuh pondok Darut Taqrib, menyatakan menjadi penganut Syiah secara alamiah setelah banyak membaca buku. “Saat umur 16 tahun, saya banyak membaca buku tentang Islam dan masyarakat, serta tentang Islam dan tantangan zaman,” katanya. Setelah itu, dia mondok di Pekalongan.
Sebelumnya, Ali adalah penganut Sunni tulen. Keluarganya pun pengikut setia Sunni. Kini, Ali beralih ke Syiah, sedangkan keluarganya masih ikut Sunni. Keluarga Ali juga tak mempersoalkan pilihan keyakinan anaknya. “Perbedaaan dalam hal kehidupan adalah sesuatu yang biasa, yang penting saling menghargai,” katanya.
Miqdad menambahkan, silakan menjadi pengikut Syiah atau Sunni. “Yang penting jangan berhenti belajar dan selalu membela kaum mustad’afin (kaum lemah),” ujarnya. Miqdad mencontohkan, penganut Syiah dan Sunni di Jepara sering melakukan salat berjamaah. Miqdad mengatakan, dalam salat berjamaah itu, tangan penganut Sunni bersedekap, sedangkan tangan penganut Syiah tidak demikian. “Tidak ada masalah. Itu hanya perbedaan yang tak substansial,” katanya.
Miqdad memperkirakan bahwa konflik antara kaum Syiah dan Sunni yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia menunjukan ketidakpahaman mereka tentang Syiah. Dia menjamin hubungan Syiah-Sunni di Jepara akan tetap aman. “Kecuali kalau ada provokator dari luar daerah,” kata dia.
Menurut Miqdad, yang menarik perhatian masyarakat lain terhadap Syiah adalah kisah heroisme beberapa tokoh, misalnya pemimpin Hizbullah Lebanon, Syekh Hasan Nasrullah; Presiden Iran Mahmoud Ahmadinnejad, dan pemimpin Revolusi Iran, Ayatullah Khomeini.
Selain di Jepara, jemaah Ahlul Bait ada di Semarang. Sekitar 200 penganut Syiah terpencar di seantero Semarang. Berbeda dari sebelumnya, kini penganut Syiah tak lagi bersembunyi (taqiyah). Di Kampung Bulu, Stalan, misalnya, meski hanya ada tiga keluarga penganut Syiah, mereka sudah secara terbuka menunjukkan keyakinannya sebagai penganut Syiah.
Pengurus Yayasan Nuruts Tsaqalain, Nurkholishm menyatakan penyebaran Syiah tak dilakukan melalui doktrinasi. “Salah besar jika ada anggapan kalau Syiah berkembang di Indonesia karena mobilisasi,” katanya. Beralihnya seseorang menjadi Syiah lebih didasarkan pada pencarian kepuasan keilmuan. Salah satunya melalui buku. Pada 2009, buku tentang Syiah berjumlah sekitar 750 judul.
Pencarian kepuasan ilmu memang menjadi ciri khas penganut Syiah. Berbagai tema kehidupan juga menjadi bahan diskusi mereka. Namun kini komunitas Syiah juga mulai berkonsentrasi pada kegiatan sosial. “Dialog intelektual diminimalkan karena kebutuhan masyarakat luas adalah aksi nyata,” kata Nurkholis.
Jemaah Syiah di Jepara dan Semarang sering menyalurkan beasiswa, membedah rumah, melakukan bakti sosial, mendonorkan darah, dan membantu korban bencana alam. Mereka juga bekerja sama dengan berbagai kelompok penganut agama lain tanpa mengibarkan atribut apa pun.
Pengajar Institut Agama Islam Negeri Walisongo, Semarang, Muhksin Jamil, yang menyusun disertasi tentang Syiah di Jepara, menyatakan komunitas Syiah Jepara terbangun atas dasar persamaan proses pencarian kepuasan keilmuan dan peribadatan. Yang tak kalah penting, kata Muhksin, penganut Syiah tak menutup mata terhadap masalah sosial. “Mereka sering membela kaum mustad’afin (kaum lemah) dengan membedah rumah, memberi beasiswa, dan menyalurkan bantuan,” katanya. (DarutTaqrib/Koran Tempo/Adrikna!)

Kedamaian Sunni dan Syiah Di Jepara (1)


Liputan Rofiuddin, wartawan Tempo
Bacaan Kumail jemaah Syiah terdengar berdengung menerobos keheningan malam dari Masjid Al-Husain, Candi Bangsri, Jepara. Di masjid yang terletak di tepi sungai itu, para jemaah duduk bersila menghadap kiblat sembari melantunkan bacaan dengan pengeras suara. Isi bacaan itu memuja Kumail bin Ziyad Nakha’i, sahabat pilihan Imam Ali.
Di belakang masjid, terdengar pula lantunan pembacaan salawat Dibaiyyah dan Barzanji, ciri khas warga Nahdlatul Ulama, yang merupakan penganut Sunni. Suara itu berasal dari Masjid Al-Arif, yang terletak kurang dari 100 meter dari Masjid Al-Husaini. Suara bacaan ibadah dua kelompok itu sahut-menyahut pada Kamis malam, 1 Maret lalu. Masjid Al-Husaini adalah masjid Syiah, sementara Masjid Al-Arif merupakan masjid Sunni.
Di Desa Candi, penganut Syiah dan Sunni hidup damai berdampingan. Misalnya, saat pendirian Masjid Al-Husaini, kaum Sunni ikut membantu. Begitu juga sebaliknya, saat kaum Sunni mendirikan Masjid Al-Arif, kaum Syi’ah ikut membantu. Komposisi penduduk dukuh ini hampir merata antara penganut Sunni dan Syiah, yakni sekitar 70 keluarga penganut Syiah dan 70 keluarga Sunni.
Interaksi sosial berlangsung nyaris tanpa gesekan, termasuk soal peribadatan. Jika ada warga Sunni meninggal, warga Syiah ikut menyalatkan dengan cara Syiah. Begitu juga sebaliknya. Yang berbeda imamnya. Jika warga Sunni meninggal, imam salatnya penganut Sunni, begitu juga sebaliknya. Meski Jepara dikenal sebagai basis Sunni, terutama Nahdliyin, penganut Syiah tak lagi beribadah secara taqiyyah(sembunyi-sembunyi). Bahkan di rumah penganut Syiah juga terpampang lukisan tentang Syiah.
Sejarah perkembangan penganut Syiah di Jepara dan Jawa Tengah tak bisa lepas dari Desa Candi, Jepara. Awalnya, Ustaz Abdul Ghadir Bafaqih dari Tuban menikah dengan perempuan dari Desa Candi. Pada 1970-an, memang terjadi revolusi Iran, yang berpengaruh pada perkembangan Syiah, termasuk di Indonesia. Ghadir juga pernah belajar di Hadramaut, Yaman. Pada 1974, Ghadir banyak memperoleh kiriman buku dari Kuwait terbitan Darut Tauhid. Berbekal buku itu, Ghadir banyak bicara soal Syiah. Puncaknya, Syiah “dideklarasikan” pada 1982. Ghadir mendirikan Pesantren Al-Khairat.
Ahmad Badawi, generasi pertama murid Ghadir, menyatakan kala itu Al-Khairat hanya mengajarkan Bahasa Arab, yang bisa menjadi pintu masuk mempelajari kitab. Selain itu, Ghadir menelorkan beberapa karya, seperti Haqqul Mubin danMuhammadun wa Akhuhu. Kedua karya itu menjadi rujukan dan sumber ideologi Syiah. Karena pondok itu terus berkembang, pemberitaan ihwal ajaran Syiah yang dibawa Abdul Ghadir pun meluas. Masyarakat menanggapinya biasa saja. Namun ada beberapa murid Abdul Ghadir yang dilaporkan ke Komando Distrik Militer karena dianggap berbeda.
Miqdad Turkan, murid Ghadir lainnya, mengatakan gurunya adalah penganut Sunni. Para santrinya juga banyak dari kalangan Sunni, terutama Nahdlatul Ulama dan Muhamadiyyah. Belakangan, kata Mihdad, sebagian santrinya ada yang tetap beraliran Sunni dan ada pula yang beralih ke Syiah. “Sejak itulah Syiah di Candi berkembang. Santrinya meluas dari berbagai daerah. Kabar tentang adanya pesantren Syiah pun menyebar,” kata Miqdad.
Setelah 10 tahun mengelola pesantren itu, Ghadir memasuki usia sepuh. Dia sering sakit. Pesantren itu mulai berkurang aktivitasnya. Akhirnya Ghadir wafat pada 17 Agustus 1993. Dia dimakamkan di Kauman, Bangsri. Setelah itu, kegiatan pesantren mandek. Pesantren pun tutup karena tak ada yang mengurus. Makam Ghadir terletak berdampingan dengan makam istrinya. Berdiri di atas bangunan berbentuk panggung joglo seluas dua kali lapangan bulu tangkis, makam Ghadir selalu ramai dikunjungi peziarah.
Karena anak-anak Ghadir belum sempat melanjutkan perjuangan Syiah, pada 1999, murid Ghadir berinisiatif mendirikan Yayasan Islam Darut Taqrib di Krapyak, Jepara. Mereka tidak ingin melihat ajaran Syiah tinggal sejarah karena tak ada regenerasi. Selain itu, saat itu banyak Ahlul Bait–sebutan bagi penganut Syiah–sudah pulang menimba ilmu dari Qum University, Iran.
Setelah itu, didirikanlah Pondok Pesantren Darut Taqrib untuk menampung santri yang ingin mempelajari Syiah. Berdiri di atas lahan seluas kurang dari 1 hektare, bangunan pondok itu terdiri atas masjid, pendapa, dan kamar santri. Selain membawahi pesantren, penganut Syiah membentuk berbagai forum seperti Fatimiyyah (pengajian ibu-ibu), Zainabiyyah (pengajian remaja putri), Forum Ilmiah Remaja Ahlul Bait (Firab). Di bidang sosial, Syiah juga punya Himpunan Peduli Komunitas Masyarakat. Pesantren Darut Taqrib merupakan salah satu arena pendidikan Syiah. “Pendidikan ini adalah salah satu bentuk kaderisasi,” kata Miqdad, yang juga menjabat Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait Indonesia.
Kini, Darut Taqrib dihuni sekitar 40 santri. Tak hanya dari Jepara, santri juga datang dari berbagai provinsi di Indonesia seperti Lampung dan Jawa Timur. Ada yang hanya mondok dan ada pula yang sambil bersekolah di sekolah umum. Abdullah, misalnya, ia bersekolah di sekolah menengah kejuruan dan mondok untuk mempelajari Syiah. Miqdad menyatakan dana operasional Syiah berasal dari iuran anggota. “Tak benar jika ada yang menyebut kami dapat dana dari Timur Tengah,” katanya. (DarutTaqrib/koran Tempo/Adrikna!)
(Visited 64 times, 1 visits today)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar