Kamis, 26 Januari 2012

Komentar ini datang setelah ia dan kepala militer AS lain mengunjungi Israel untuk bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, Menteri Pertahanan Ehud Barak, Presiden Shimon Peres, dan kepala staf militer Letnan Jenderal Benny Gantz. Terlihat perbedaan pendapat antara Washington dan Tel Aviv atas program nuklir Iran. Dempsey mencatat bahwa sekutu melihat program nuklir Iran berbeda. "Peran saya adalah tidak mencoba untuk membujuk Israel atau memungkinkan mereka untuk membujuk saya. Melainkan untuk mencari solusi yang kreatif, solusi tidak sederhana selain cara militer," tambahnya. ...>>

Jenderal AS: Perang Iran Prematur dan Bikin Dunia tak Stabil

Jumat, 27 Januari 2012 10:28 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - Ketua Gabungan Kepala Staf Jenderal Amerika Serikat (AS), Martin Dempsey mengatakan bahwa keputusan berkonflik militer dengan Iran adalah sebuah keputusan yang 'prematur' dan memiliki efek yang tidak stabil pada keamanan dan ekonomi dunia.

"Konflik dengan Iran akan sangat tidak stabil, dan aku tidak hanya berbicara dari perspektif keamanan. Ini akan mendestabilisasi ekonomi," kata Jenderal Dempsey dalam sebuah wawancara dengan National Jurnal, Kamis (26/1).

"Ia mengatakan bahwa pilihan itu terlalu dini untuk diputuskan, walaupun pendekatan ekonomi dan diplomatik tidak memungkinkan untuk dilaksanakan," katanya lagi.

Komentar ini datang setelah ia dan kepala militer AS lain mengunjungi Israel untuk bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, Menteri Pertahanan Ehud Barak, Presiden Shimon Peres, dan kepala staf militer Letnan Jenderal Benny Gantz. Terlihat perbedaan pendapat antara Washington dan Tel Aviv atas program nuklir Iran.

Dempsey mencatat bahwa sekutu melihat program nuklir Iran berbeda. "Peran saya adalah tidak mencoba untuk membujuk Israel atau memungkinkan mereka untuk membujuk saya. Melainkan untuk mencari solusi yang kreatif, solusi tidak sederhana selain cara militer," tambahnya.

Presiden AS Barack Obama, Menteri Pertahanan Leon Panetta dan pejabat lainnya telah memperingatkan para pemimpin Israel tentang konsekuensi mengerikan dari pemogokan minyak Iran. Dan untuk menghentikan serangan dari Tel Aviv terhadap Iran.

AS, Israel, dan sekutu mereka menuduh Iran mengejar program nuklir militer dan telah menggunakan tuduhan ini sebagai dalih untuk mempengaruhi Dewan Keamanan PBB untuk menjatuhkan empat putaran sanksi terhadap Iran.

Tekanan terhadap Teheran meningkat pada November 2011 setelah Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menuduh Iran melakukan kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan senjata nuklir sebelum 2003. Namun Iran telah berkali-kalu menolak keras tuduhan tersebut.
Redaktur: Djibril Muhammad
Reporter: Amri Amrullah
Sumber: presstv

Inilah Dampaknya Jika Iran Tutup Selat Hormuz

Senin, 16 Januari 2012 23:15 WIB
REPUBLIKA.CO.ID,  YOGYAKARTA -- Selat Hormuz merupakan jalur vital pengiriman minyak mentah dari Timur Tengah ke seluruh dunia. Hampir sepertiga pasokan minyak dunia yang dibawa melalui jalan laut melewati selat tersebut.
''Penutupan rute tersebut akan menimbulkan konsekuensi serius bagi perekonomian dunia," kata pakar kajian Timur Tengah dan politik luar negeri Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Siti Mut'iah Setiawati pada diskusi "Isu Selat Hormuz" yang diselenggarakan Institute of International Studies (IIS) Jurusan Hubungan Internasional (HI) Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin (16/1).

Menurut dia, jika Iran benar-benar menutup selat itu, maka perekonomian dunia akan terganggu. Penutupan Selat Hormuz akan mengurangi pasokan minyak mentah dan gas alam cair. "Jika ancaman tersebut dijalankan sangat dimungkinkan akan terjadi perang antara Iran dengan AS. AS akan berupaya mengamankan jalur minyak dunia," kata peneliti IIS Jurusan HI UGM itu.

Menurut dia, jika terjadi perang, Iran dipastikan bisa bertahan dari serangan AS, karena Iran adalah negara yang sangat mandiri dan perekonomiannya sangat mapan.
"Indonesia sebagai negara mitra Iran dalam ekspor impor minyak mentah tentunya juga akan terkena imbas jika meletus perang Iran-AS. Jika benar terjadi perang, maka kegiatan ekspor-impor minyak dengan Iran akan ikut terhambat," kata Siti.
Redaktur: Heri Ruslan
Sumber: antara

Barat Beri Peringatan Terakhir untuk Iran
REUTERSKapal induk AS USS John C. Stennis (kiri) dan USS Abraham Lincoln (kanan) difoto pada pekan lalu. Senin (23/1/2012) kapal itu melewati Selat Hormuz.
LONDON, KOMPAS.com — Para pemimpin Uni Eropa mengeluarkan peringatan bersama untuk Iran, Senin (23/1/2012) malam, yaitu bahwa republik Islam itu akan menghadapi isolasi ekonomi jika tidak segara meninggalkan ambisi nuklirnya.
Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan tidak akan menerima upaya Iran untuk mengembangkan senjata nuklir. Cameron menegaskan hal itu saat ketegangan militer antara Iran dan Barat terus meningkat. Dalam sebuah pernyataan bersama yang jarang terjadi dengan Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, Cameron memperingatkan Teheran bahwa Iran akan menghadapi isolasi ekonomi kecuali jika segera meninggalkan ambisi nuklirnya.
Bunyi pernyataan mereka menyatakan, "Kami tidak berselisih dengan rakyat Iran. Namun, kepemimpinan Iran telah gagal untuk memulihkan keyakinan internasional terkait tujuan damai program nuklirnya. Kami tidak akan bisa menerima Iran memperoleh senjata nuklir."

Pernyataan itu, yang merupakan kesimpulan dari aktivitas yang intens selama seharian, didukung oleh sebuah paket sanksi Uni Eropa yang "belum pernah terjadi sebelumnya", yang dirancang untuk menyedot darah rezim Iran. Paket sanksi itu termasuk larangan untuk mengimpor minyak Iran ke Eropa.

Teheran langsung menanggapi sanksi itu dengan tantangan. Sejumlah pihak dari rezim yang berkuasa memperingatkan, Iran akan menutup Selat Hormuz  yang strategis. Penutupan selat itu dilihat sebagai sebuah langkah yang akan efektif menutup Teluk yang selama ini menjadi jalur lalu lintas pengiriman minyak dan akan menyebabkan harga minyak dunia meroket.

Amerika Serikat telah memperingatkan Teheran bahwa penutupan selat itu, yang menyalurkan seperlima dari ekspor minyak dunia, akan memicu respons militer besar-besaran dari pihak Barat. Pesan itu semakin ditegaskan pada akhir pekan ketika Inggris, AS, dan Perancis mengirim enam kapal perang melalui selat itu.

Ketegangan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran yang bertambah bahwa Teheran semakin dekat untuk mengembangkan senjata nuklir.

Setelah perundingan untuk menyepakati sanksi baru Uni Eropa, Menteri Luar Negeri Inggris William Hague mengatakan, "Tidak ada penjelasan sipil yang masuk akal bagi program pengayaan uranium Iran."

Negara-negara anggota Uni Eropa mengimpor hampir 600.000 barrel minyak mentah per hari dari Iran. Larangan ekspor emas, logam mulia, dan berlian dari Iran juga telah diberlakukan bersama dengan larangan transaksi ekonomi dan perjalanan terhadap para anggota rezim garis keras itu.

Tokoh-tokoh terkemuka di Teheran menanggapi dengan marah sanksi baru itu. Mohammad Kossari, Wakil Kepala Urusan Luar Negeri dan Komite Keamanan Parlemen Iran, mengatakan, "Jika ada gangguan terkait penjualan minyak Iran, Selat Hormuz pasti akan ditutup." Politisi senior Heshmatollah Falahatpisheh menambahkan, "Dalam kasus ada ancaman, penutupan Selat Hormuz merupakan salah satu hak Iran."

Namun, sumber-sumber Inggris percaya penutupan penuh selat itu tetap tidak mungkin terjadi karena hal itu akan membawa "konsekuensi buruk yang sangat besar" bagi Teheran. 

Kemarin, kapal induk AS, USS Admiral Lincoln, yang mengangkut 90 pesawat, memimpin kelompok enam kapal melintasi Selat Hormuz. Kapal itu dikawal tiga kapal perang AS yang lain serta masing-masing satu kapal perang Inggris dan Perancis. Sebuah sumber di Departemen Pertahanan Inggris menolak anggapan bahwa itu merupakan langkah provokatif demi meningkatkan tekanan terhadap Iran. Sumber itu menambahkan, "Ini sebuah pernyataan yang membuat sangat jelas bahwa ini merupakan perairan internasional dan seluruh negara harus menghormati itu. Ini menunjukkan bahwa kami bekerja dalam kemitraan dan solidaritas."

Profesor Paul Stevens, peneliti senior di lembaga think-tank Chatham House, mengatakan, ia ragu Teheran akan melaksanakan ancamannya untuk memblokade selat itu karena takut memicu "perang" dengan AS. Sebaliknya, kata dia, blokade minyak akan mendorong kelompok garis keras di Iran untuk meluncurkan gelombang serangan teror.

Profesor Stevens mengatakan, sebuah blokade minyak tidak akan berhasil karena Teheran bisa mengapalkan minyaknya melalui pipa ke Turki dan Mesir. Dia menambahkan, "Sejarah dipenuhi kegagalan embargo minyak. Namun, pelajaran sejarah itu tampaknya telah diabaikan para pengambil keputusan di Uni Eropa."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar