Rabu, 25 Januari 2012

Badai matahari adalah siklus rutin yang dijalani pusat tata surya Galaksi Bimasakti. Badai terjadi ketika matahari mengeluarkan gelombang elektromagnetiknya ke luar orbit yang dicirikan dalam aktivitas ledakan-ledakan. ....>>... Pada 2013, Badai Matahari Capai Puncaknya...????...“Aktivitas ledakan akan terus meningkat,” kata Phil Chamberlin, ahli matahari di Goddard Space Flight Center, NASA, di Greenbelt, salah satu ilmuwan dalam proyek Solar Dynamics Observatory, sebuah satelit pemantau matahari yang diluncurkan pada Februari 2010. “Dalam satu atau dua tahun ke depan, kita akan lebih banyak melihat pertistiwa seperti ini, bahkan mungkin lebih besar lagi.” ...>>.

RABU, 25 JANUARI 2012 | 13:55 WIB

foto
Mnn.com

Bagaimana Terjadinya Badai Matahari 2012?

TEMPO.CO, Jakarta - Badai matahari adalah siklus rutin yang dijalani pusat tata surya Galaksi Bimasakti. Badai terjadi ketika matahari mengeluarkan gelombang elektromagnetiknya ke luar orbit yang dicirikan dalam aktivitas ledakan-ledakan. 

Menurut dosen astronomi Institut Teknologi Bandung Dhani Herdiwijaya, ledakan matahari bisa terlihat dari Bumi melalui petunjuk adanya bintik matahari di permukaan sang surya. Bintik tersebut melambangkan dalam permukaan matahari yang membara akibat sedang terjadi letupan-letupan. "Seperti hubungan pendek arus listrik atau korsleting," ujar dia saat dihubungi Rabu, 25 Januari 2012.

Korsleting di pusat tata surya tentu berbeda dengan sekadar korsleting lampu. "Energi yang dipancarkan besar sekali," papar Dhani. Energi dalam bentuk gelombang inilah yang mengalir menembus aneka planet. Mulai dari yang terdekat dengan matahari, yaitu Merkurius, lalu ke Venus, dan Bumi hingga habis energinya.

Sepanjang perjalanan, gelombang ini diikuti oleh Ejeksi Massa Korona, yaitu lontaran massa dari korona matahari, terutama proton, dengan kecepatan tinggi. Karena mengandung proton berkecepatan tinggi, Dhani menuturkan, gelombang tersebut bisa merusak apa yang dilewatinya, termasuk satelit komunikasi hingga satelit Global Positioning System(GPS).

"Semakin tinggi posisi satelit, semakin riskan kena pengaruh gelombang," kata Dhani. Begitu pula sampah-sampah antariksa juga bisa berubah posisi karena sambaran Ejeksi Massa Korona. Pada kejadian badai matahari 23 Januari kemarin, khusus untuk Indonesia tidak terlalu terasa dampaknya. 

Tapi, Dhani mengingatkan, tahun depan kemungkinan terjadi puncak siklus badai matahari. "Artinya, frekuensi ledakan paling banyak karena bintik matahari juga semakin bertambah," ujar dia. Dampak dari badai matahari di 2013 bisa terasa pada puncak siklus ataupun setelah badai. "Biasanya terjadi pada kuartal awal tahun atau semester pertama," ucap dia.

DIANING SARI

foto
AP/NASA

Pada 2013, Badai Matahari Capai Puncaknya

TEMPO.COGreenbelt - Badai seperti ledakan besar yang terjadi di matahari pada 9 Agustus lalu akan menjadi semakin sering meletup ketika matahari mendekati tingkat aktivitas maksimumnya pada 2013. 

Badai matahari yang terjadi Selasa lalu adalahsolar flare terkuat sejak 2006 dan mencapai X6,9 berdasarkan tiga kelas skala badai surya. Kelas X adalah badai terkuat, Kelas M berada pada tingkat menengah, dan C adalah yang paling lemah. 

Badan Antariksa Amerika (NASA) memprediksi pijaran energi semacam itu akan menjadi hal biasa dalam waktu dekat ini ketika mendekati siklus aktivitas magnetik matahari 11 tahunan. Matahari mulai bangkit dari tidurnya dan para peneliti memperkirakan puncak aktivitas berikutnya akan terjadi pada 2013. Siklus yang terjadi saat ini, yaitu Siklus Matahari 24, dimulai pada 2008.

“Aktivitas ledakan akan terus meningkat,” kata Phil Chamberlin, ahli matahari di Goddard Space Flight Center, NASA, di Greenbelt, salah satu ilmuwan dalam proyek Solar Dynamics Observatory, sebuah satelit pemantau matahari yang diluncurkan pada Februari 2010. “Dalam satu atau dua tahun ke depan, kita akan lebih banyak melihat pertistiwa seperti ini, bahkan mungkin lebih besar lagi.” 

Bumi beruntung karena beberapa badai matahari yang terjadi belakangan ini tidak terarah langsung ke Bumi sehingga tidak mengirimkan lontaran partikel bermuatannya ke arah kita, melainkan ke antariksa. Di masa depan, Bumi mungkin tak seberuntung sekarang. 

“Kita tengah berada dalam siklus baru, aktivitasnya tengah terbangun dan kita akan melihat badai seperti itu lagi,” kata Joe Kunches, ahli antariksa di Pusat Perkiraan Cuaca Antariksa di National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). “Mereka akan lebih sering terjadi dan kita juga akan lebih terbiasa."

SPACE | TJANDRA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar