Kamis, 14 Juli 2011

Jurnalis: Rupert Murdoch Dibalik 9/11, Perang Irak dan Afghanistan..... Konglomerat media Rupert Murdoch telah memainkan peran penting dalam pemilihan tiga presiden AS, serta beberapa peristiwa yang telah terjadi selama pemerintahan mereka termasuk serangan 9/11, perang di Irak dan Afghanistan, serta krisis ekonomi, kata Gordon Duff, editor senior dan penulis untuk Veteran Today..>>>

Jurnalis: Rupert Murdoch Dibalik 9/11, Perang Irak dan Afghanistan


Konglomerat media Rupert Murdoch telah memainkan peran penting dalam pemilihan tiga presiden AS, serta beberapa peristiwa yang telah terjadi selama pemerintahan mereka termasuk serangan 9/11, perang di Irak dan Afghanistan, serta krisis ekonomi, kata Gordon Duff, editor senior dan penulis untuk Veteran Today.
"Murdoch adalah rekan dekat sebuah konspirasi kriminal yang signifikan dari para industrialis, bankir dan lain-lainnya. Dia adalah orang terdepan bagi mereka .... Orang yang memberikan mereka kontrol pemerintahan melalui tindakan suap dan pemerasan," kata Duff kepada Press TV pada hari Kamis kemarin (14/7).
"Kami memiliki tiga presiden Amerika Serikat yang sebenarnya telah ditunjuk untuk menjabat dan dikendalikan sepenuhnya oleh Rupert Murdoch dan semua hal-hal yang terjadi selama pemerintahan mereka," tambahnya.
Rupert Murdoch sendiri saat ini sedang terlilit masalah terkait skandal penyadapan telepon yang dilakukan kerajaan medianya yang telah mencapai Negeri Paman Sam.(fq/prtv)

AJI Luncurkan Panduan Jurnalis Meliput Terorisme


Isu terorisme adalah salahsatu wilayah liputan media massa yang dinilai pelik. Narasumbernya terbatas dan seringkali tidak mau dikutip secara terbuka. Akses ke informasi tangan pertama pun jadi terkendala.
Untuk itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta bekerja sama dengan Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) menerbitkan buku “Panduan Jurnalis Meliput Terorisme”. Buku panduan ini disusun melalui serangkaian focus group discussions (FGD) bersama para jurnalis peliput isu terorisme, anggota Jamaah Islamiyah, pengamat media, akademisi, polisi dan masyarakat umum.
Hadir sebagai pembicara Boy Rafli (Humas Polri, Andi Widjajanto (pakar dibidang pertahanan dan keamanan/pengamat terorisme)dan Budi Setyarso (Jurnalis Peliput Terorisme).
Dalam buku ini juga digambarkan bagaimana meliput terorisme di lapangan. MZS

Dua Jurnalis Foto Barat Tewas di Libya

Kamis, 21/04/2011 08:18 WIB | Versi Cetak

Tim Hetherington
Dua jurnalis foto Barat, termasuk sutradara film yang mendapat nominasi Oscar, tewas Rabu kemarin (20/4) di kota yang terkepung Misrata ketika meliput pertempuran antara pasukan pemberontak dan pasukan pemerintah Libya. Dua orang jurnalis lainnya yang bekerja bersama mereka juga ikut terluka.
Kelahiran Inggris Tim Hetherington -wakil sutradara film dokumenter "Restrepo" yang bercerita tentang tentara Amerika di sebuah pos di Afghanistan - tewas di dalam kota yang dikuasai pemberontak di Libya barat, kata humasnya yang berbasis di AS, Johanna Ramos Boyer. Kota ini telah selama beberapa minggu tanpa henti dihujani tembakan oleh pasukan pemerintah.
Chris Hondros, seorang fotografer yang berbasis du New York untuk Getty Images, juga tewas. Karyanya banyak muncul di majalah dan surat kabar utama di seluruh dunia, dan ia pernah mendapat penghargaan Robert Capa Gold Medal, salah satu hadiah tertinggi dalam dunia fotografi perang.
Insiden kematian dua jurnalis foto tersebut masih belum jelas. Sebuah pernyataan dari keluarga Hetherington mengatakan dia terbunuh oleh sebuah granat-roket.
The Washington Post melaporkan bahwa para wartawan pergi dengan pejuang pemberontak ke Tripoli Street di pusat Misrata.
Setelah mobil ambulan bergegas menjemput Hetherington, seorang fotografer Amerika yang menggunakan rompi antipeluru sudah berlumuran darah memohon kepada supir mobil untuk kembali membawa korban yang lain, Washington Post melaporkan.
Hetherington mengalami pendarahan yang banyak dari kakinya dan meninggal sekitar 15 menit setelah dia mencapai fasilitas kesehatan, sedangkan Hondos meninggal setelah menderita cedera otak parah karena pecahan peluru, WPost melaporkan.
Dua fotografer lain - Guy Martin, seorang warga Inggris berafiliasi dengan agen foto Panos, dan Michael Christopher Brown - dirawat karena luka pecahan peluru, kata laporan dokter. (fq/ap)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar