Rabu, 27 Juli 2011

FUI kirim surat terbuka untuk SBY terkait Ramadhan.....>> Dalam Surat Kepada SBY.. tersebut seyogianya MUI juga Ikut serta sebagai imamnya umat dan duduknya para Ulama dan wakil2 Umat Islam serta para cendekia..... >> MUI harus bisa menjadi panutan Umat dan Pemimpin Umat Islam Indonesia.. berdasarkan Kaidah Al Qurán dan Sunnah Rasulullah SAW...secar utuh dan tegas....>> Hayyooo.. bangkitkan semangat Perstuan dan kuatkan silaturahim dan solidaritas Islam dan Umat Islam dalam semua segi- sektor dan lapisan sumberdaya Umat Islam...>> Bersatulah semua Umat Islam secara utuh-kaffah dan menyeluruh... Dan Kuatkan Perjuangan Umat Islam secara kokoh dan bersatu padu... Allahumma afrigh alaina shabran watsbbit aqdamana wanshurna alalqoumil kafirin..... Allahumma rabbana,,unshurna alalqoumilkafirin... Rabbana Unshurna mimmakazdabuun... Amin...> Di hadapan lebih dari seratus pelajar Indonesia yang belajar di Iran, Prof.Umar Shihab menyatakan, “Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat ini bersatu.”>>>..... Mufti Besar Saudi: Iran Itu Majusi, Republik Islam Hanya Buat Menipu..?? Mufti Wahabi Arab Saudi mengkritik dan mengklaim Iran telah ikut campur tangan atas konflik di Bahrain, namun sama sekali tidak menyinggung masuknya militer Saudi ke Bahrain yang menimbulkan banyak korban jiwa....

FUI kirim surat terbuka untuk SBY terkait Ramadhan

Rasul Arasy
Rabu, 27 Juli 2011 15:30:30
Hits: 499
JAKARTA (Arrahmah.com) -  Dalam menyambut bulan suci ramadhan, sejumlah organisasi masyarakat Islam melayangkan surat terbuka kepada Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY). Yang berisi terkait posisi SBY sebagai pemimpin yang hendaknya bertanggung jawab dan memastikan bahwa seluruh masyarakat Muslim di Indonesia menjalankan ibadah sesuai yang diperintahkan Allah SWT.
Selain itu, himbauan itu juga berisi tentang agar SBY mendukung syiar agama Islam yang lebih luas di bulan Ramadhan. Juga menutup tempat-tempat maksiat agar kaum Muslim lebih khusyuk menjalankan ibadah.
Tidak hanya itu, surat tersebut juga berisi tentang himbauan pengurangan jam kerja sebagai wujud penghormatan pada Muslim yang berpuasa. Sementara itu terkait isu “terorisme”, ormas Islam berharap agar penangkapan oleh aparat yang mengatasnamakan “isu terorisme” dihentikan karena cenderung mendeskreditkan umat islam dan memuncul terror jenis baru.
Untuk lebih lengkapnya surat terbuka tersebut bisa dibaca secara lengkap, sebagai berikut:

http://arrahmah.com/read/2011/07/27/14294-fui-kirim-surat-terbuka-untuk-sby-terkait-ramadhan.html

 http://arrahmah.com/read/2011/07/27/14294-fui-kirim-surat-terbuka-untuk-sby-terkait-ramadhan.html
Kepada Yth.
Presiden Republik Indonesia
Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
Di Jakarta
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Semoga saudara dalam karunia kesehatan serta naungan taufiq dan hidayah Allah SWT. 
Dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadhan 1432 H, dan dalam rangka memuliakan bulan ibadah puasa (syahrul shiyam) itu  para pimpinan Ormas dan lembaga-lembaga Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) memandang perlu untuk menyampaikan masukan-masukan kepada Saudara sebagai berikut:
Pertama, sebagai kepala negara yang bertanggung jawab atas seluruh rakyat hendaknya Saudara memastikan bahwa seluruh umat Islam di wilayah NKRI melaksanakan ibadah puasa (shiyam) dengan baik dan benar serta semarak dalam melaksanakan shalat tarawih (qiyam Ramadhan). 
Kedua, untuk itu hendaknya Saudara memberikan dorongan dan dukungan nyata kepada umat Islam dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan (Tarhib Ramadhan) dengan membesarkan syiarnya melalui acara tarhib Ramadhan secara kenegaraan dari pusat hingga ke daerah dengan menyampaikan pesan-pesan motivasi ibadah di bulan Ramadhan sebagaimana diriwayatkan bahwa Rasulullah saw menyampaikan pidato menyambut datangnya bulan Ramadhan.  
Ketiga, hendaknya Saudara memberikan dorongan dan dukungan nyata  kepada umat islam bagi pelaksanaan ibadah shiyam dan qiyam Ramadhan itu, seperti memberikan dukungan kepada penyelenggaraan kuliah dan penerangan  tentang ibadah Ramadhan yang benar sesuai tuntunan syariat Islam, baik melalui penyelenggaraan program-program penerangan melalui tatap muka langsung para muballigh dan ulama maupun melalui media massa cetak dan elektronik. Termasuk dalam dukungan nyata bagi pemuliaan ibadah Ramadhan adalah pemberian insentif kepada para imam yang dipilih dari para qurra’ wal huffazh untuk mengimami shalat tarawih dengan tilawah yang bagus sehingga menambah kekhusyu’an di dalam shalat qiyam Ramadhan
Keempat, hendaknya Saudara menjamin agar umat Islam bisa beribadah shiyam dan qiyam secara tuma’ninah dan penuh hikmat dengan cara menghentikan segala perkara yang dimungkinkan akan mengganggu pelaksanaan ibadah shiyam dan qiyam Ramadhan, seperti menutup secara total seluruh tempat hiburan yang berbau kemakshiyatan, melarang penjualan makanan dan minuman secara terbuka di siang hari, melarang serta memberikan sanksi ta’zir kepada kaum muslim yang tidak melaksanakan puasa tanpa udzur syar’i maupun pihak-pihak yang mendorong atau memaksa umat muslim tidak melaksanakan ibadah shiyam Ramadhan.
Kelima, hendaknya Saudara memberikan dukungan kepada umat Islam agar sukses dalam ibadah shiyam dan qiyam di bulan Ramadhan dengan mengurangi jam kerja, menerapkan libur sekolah pada bulan Ramadhan atau menggantinya dengan pesantren Ramadhan untuk anak sekolah, dan melarang tayangan-tayangan TV yang tidak mendidik serta menodai makna menghidupkan malam Ramadhan.
Keenam, hendaknya Saudara menghentikan kegiatan penangkapan-penangkapan terhadap anak bangsa atas nama pemberantasan terorisme oleh polisi/Densus 88 yang cenderung justru menimbulkan teror baru dan mendiskreditkan umat Islam dan institusi umat Islam serta memicu rasa curiga dan adu domba di antara umat Islam sebagaimana yang terjadi pada operasi kepada PP Umar bin Khatthab di Bima NTB yang memicu perusakan fasilitas milik Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) di Mojokerto baru-baru ini. Serta munculnya Densus 99 oleh GP Ansor pada Harlah NU yang memamerkan kekerasan sipil (tayangan dengan menggunakan senjata tajam dan barisan seperti militer) atas nama pemberantasan terorisme yang bisa memicu konflik horisontal.  
Ketujuh, hendaknya dalam mengambil kebijakan sesuai masukan-masukan kami di atas Saudara segera mengeluarkan Keppres tentang Pemuliaan Bulan Ramadhan dan menuntaskan masalah-masalah yang masih tertunda seperti perlunya segera dikeluarkan Keppres Pembubaran Ahmadiyah.  
Semoga langkah positif yang Saudara ambil menjadikan Saudara pemimpin bangsa dan negara yang selamat dunia dan akhirat dan akhirnya marilah kita mengingat sabda Baginda Rasulullah SAW:
Ketahuilah bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Maka seorang Imam yang memimpin masyarakat adalah laksana penggembala dan akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dari Ibnu Umar ra).
Wabillahit taufiq walhidayah.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Jakarta, 19 Sya’ban 1432 H / 21 Juli 2011 M
Atas Nama Umat Islam Indonesia
Forum Umat Islam (FUI)

KH. Muhammad Al-Khaththath
Sekretaris Jenderal
 
FORUM UMAT ISLAM: Perguruan As Syafi’iyyah, Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Hizb Dakwah Islam (HDI), Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI), Hidayatullah, Al Washliyyah, YPI Al Azhar, Majelis Mujahidin, Jamaah Anshorut Tauhid, Gerakan Reformis Islam (GARIS), MER-C, KISPA, Gerakan Pemuda Islam (GPI), Taruna Muslim, Al Ittihadiyah, Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam (KMKI), LPPD Khairu Ummah, Syarikat Islam (SI), Forum Betawi Rempug (FBR), Tim Pengacara Muslim (TPM), Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Dewan Masjid Indonesia (DMI), PERSIS, BKPRMI, Al Irsyad Al Islamiyyah, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Badan Kontak Majlis Taklim (BKMT), Front Perjuangan Islam Solo (FPIS), Majelis Tafsir Al Quran (MTA), Majelis Adz Zikra, PP Daarut Tauhid, Korps Ulama Betawi, KAHMI, PERTI, Ittihad Mubalighin, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Koalisi Anti Utang (KAU), PPMI, PUI, JATMI, PII, BMOIWI, Wanita Islam, Pesantren Missi Islam, Forum Silaturahmi Antar-Pengajian (FORSAP), Irena Center, Laskar Aswaja, Wahdah Islamiyah, Forum Ruju’ Ilal Haq, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Nahdlatul Umat Indonesia (PNUI), Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) dan organisasi-organisasi Islam lainnya. (voaI/arrahmah.com)

Prof. Umar Shihab menyampaikan nasehatnya, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Beberapa pelajar kemudian mengajukan pertanyaan. Diantara pertanyaan yang diajukan, bisakah MUI wilayah di daerah mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan fatwa yang dikeluarkan oleh MUI Pusat?. Prof Umar Shihab memberikan jawaban, MUI wilayah jika berkaitan khusus dengan persoalan umat di daerahnya dibenarkan untuk mengeluarkan fatwa sendiri, namun jika berkaitan dengan kepentingan nasional, maka yang berhak mengeluarkan fatwa hanya MUI Pusat yang harus diikuti oleh MUI-MUI di daerah. Dan MUI di daerah tidak memiliki wewenang untuk menganulir fatwa yang telah dikeluarkan MUI Pusat. “Misalnya ada MUI Daerah yang mengeluarkan fatwa Syiah itu sesat -namun Alhamdulillah syukurnya belum ada MUI Daerah yang mengeluarkan fatwa seperti itu- maka fatwa tersebut tidak sah secara konstitusi, sebab MUI Pusat menyatakan Syiah itu sah sebagai mazhab Islam dan tidak sesat. Jika ada petinggi MUI yang mengatakan seperti itu, itu adalah pendapat pribadi dan bukan keputusan MUI sebagai sebuah organisasi.”

“Syiah Itu Sah dan Benar sebagai Mazhab dalam Islam”… Pertemuan Ketua MUI dengan Pelajar Indonesia di Iran Tanggal 28 April 2011





“Syiah Itu Sah dan Benar sebagai Mazhab dalam Islam”…
Pertemuan Ketua MUI dengan Pelajar Indonesia di Iran  Tanggal  28  April  2011
.
Di hadapan lebih dari seratus pelajar Indonesia yang belajar di Iran, Prof.Umar Shihab menyatakan, “Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat ini bersatu.”
Menurut Kantor Berita ABNA, dalam kunjungannya ke Iran atas undangan  Majma Taghrib bainal Mazahib Ketua MUI Pusat Prof. DR. KH. Umar Shihab beserta beberapa anggota rombongan menyempatkan mengadakan tatap muka dan pertemuan dengan pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di kota suci Qom, Iran kamis (28/4) sore pukul 18.00 waktu setempat. Pertemuan yang dimediasi oleh Sayyid Farid, salah seorang ulama Iran yang sering berkunjung ke Indonesia bertempat di kediaman beliau di Mujtama Maskuni Ayatullah Sistani, Qom. Hadir lebih dari seratus pelajar Indonesia beserta keluarganya dalam pertemuan sederhana yang berlangsung kurang lebih dua jam tersebut.
DR. Khalid Walid, wakil ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI memberikan sambutan pengantarnya dengan menjelaskan kedatangan rombongan MUI ke Iran atas undangan  Majma Taghrib bainal Mazahib. Rombongan MUI terdiri dari ketua pusat, beberapa ketua harian dan ketua komisi, namun beberapa dari rombongan telah bertolak ke tanah air sehingga tidak sempat mengikuti pertemuan dengan para pelajar Indonesia tersebut. “Dalam kunjungan ini kami telah melakukan beberapa hal, diantaranya, atas nama ketua MUI. KH. Prof. DR. Umar Shihab dan atas nama Majma Taghrib bainal Mazahib Ayatullah Ali Tashkiri, telah dilakukan penandatanganan MOU kesepakatan bersama. Diantara poinnya adalah kesepakatan untuk melakukan kerjasama antara MUI dengan Majma Taghrib bainal Mazahib dan pengakuan bahwa Syiah adalah termasuk mazhab yang sah dan benar dalam Islam. ” Jelas DR. Khalid.
Lebih lanjut beliau menjelaskan,”Diantara bentuk kerjasama yang disepakati adalah pengiriman para peneliti dan ulama Indonesia ke Iran untuk mengikuti pertemuan dan pendidikan khusus mengenai beberapa hal yang beragam di Iran begitu juga sebaliknya, ulama-ulama dan peneliti Iran akan berkunjung ke Indonesia. Di samping itu juga kita telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Departemen Pengurusan Haji dan juga berkunjung ke Kamar Dagang Industri Iran untuk bekerjasama dalam produk halal. Insya Allah, jalinan kerjasama ini diharapkan dengan tujuan mengeratkan hubungan antara Republik Islam Iran dengan masyarakat muslim Indonesia.”
“Semoga dengan adanya kesepakatan dan kerjasama tersebut ukhuwah  Islamiyah dapat terjalin dengan baik dan kedua belah pihak bisa saling memahami.” Harapnya.
Perpecahan dan Kebodohan, Ujian bagi Umat Islam Saat Ini
Selanjutnya, KH. Prof. DR. Umar Shihab menyampaikan nasehatnya di hadapan seratus lebih pelajar Indonesia yang hadir. Beliau menyatakan bahwa hidup di dunia ini penuh dengan tantangan, ujian dan kesulitan-kesulitan. “Tidak ada seorangpun yang hidup ini di dunia ini tidak luput dari ujian, diantara ujian tersebut adalah fitnah, kekurangan harta, kelaparan dan kematian. Namun dalam konteks kehidupan kita sekarang kata para ulama, ujian terberat yang dihadapi kaum muslimin saat ini ada dua. Yang pertama, adalah ujian perpecahan. Betapa sulitnya kita menjalin persatuan. Perpecahan begitu mudah terjadi, antar keluarga, sesama pengikut agama, antar Negara dan sebagainya. Ujian yang kedua adalah kebodohan. Mayoritas umat Islam sulit untuk melepaskan diri dari belenggu kebodohan, karena pura-pura tidak tahu atau memang sama sekali tidak mau tahu.”
Lebih lanjut menjelaskan, “Masyarakat Indonesia saat ini diuji dengan perpecahan. Dalam internal umat Islam sendiri terdapat berbagai macam kelompok yang mengarah kepada perpecahan, ada yang menyatakan diri sebagai kelompok liberal, kelompok anti agama, kelompok anti Syiah dan lain-lain. Keberadaan kelompok-kelompok ini sangat mengancam persatuan umat Islam. Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan ada dua kelompok pemecah umat Islam. Yang pertama kelompok pemecah dari luar umat Islam, yakni dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Sebagaimana yang dijelaskan Al-Qur’an keduanya tidak akan senang sampai umat Islam mengikuti agama dan kelompok mereka. Mereka melakukan berbagai macam cara dengan giat utuk memecah belah umat, melalui buku-buku, selebaran dan memanfaatkan tekhnologi yang mereka miliki. Mereka menipu dan menghasut umat misalnya melalui pemahaman pluralisme yang menyatakan semua agama sama. Ini adalah pemahaman yang sesat bahkan mengarah kepada kekafiran. Karena itu MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa pernyataan dan keyakinan semua agama sama adalah pernyataan yang tidak bisa dibenarkan dan MUI telah mengharamkannya.”
“Yang kedua, kelompok pemecah dari kalangan umat Islam sendiri. Tidak sedikit dari kelompok umat Islam yang justru memecah belah umat. Mereka mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang memicu perpecahan umat, mereka misalnya menyebut maulid itu bid’ah, mengucapkan shalawat di setiap kegiatan itu bid’ah sehingga dengan pemahaman yang seperti itu mereka menyesatkan dan memusuhi kelompok Islam yang mengamalkannya. Kita harus waspada terhadap kelompok pemecah dari dalam ini, mereka bahkan sampai menggunakan banyak uang saking gigihnya untuk memecah belah umat ini.”
“Ujian yang kedua adalah kebodohan. Pelajari dan tuntutlah ilmu agama ini dengan benar dan dari sumbernya yang asli. Al-Qur’an menyebutkan, yang manakah lebih layak kamu ikuti, orang yang memiliki pengetahuan atau orang yang tidak memiliki pengetahuan?. Dan Nabi Muhammad saww dalam haditsnya menyebutkan, Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. Dari riwayat Nabi ini, jelas disebutkan bahwa Sayyidina Ali lebih layak diikuti setelah Nabi. Karenanya tuntutlah ilmu yang berasal langsung dari sumbernya. Sayangnya kebanyakan kaum muslimin menyingkirkan dan melupakan hadits-hadits yang bersumber dari Sayyidina Ali, keluarga, sahabat utama dan terdekat dengan Nabi, dan lebih banyak mengamalkan dan menerima hadits dari selain beliau.”
Lebih spesifik mengenai ujian kebodohan ini, Prof Umar Shihab menasehatkan kepada para hadirin, “Selama di Iran belajarlah dengan sungguh-sungguh, rauplah ilmu sebanyak-banyaknya disini, dan ketika kembali ke tanah air, sampaikanlah argumen-argumen yang benar mengenai Islam. Tanggung jawab menjaga Islam berada di pundak kalian, para penuntut ilmu. Jauhilah kebodohan! Karena kebodohan adalah musuh kita bersama. Salah seorang ulama terkemuka Sunni asal Kairo, Syaikh Mutalawid Sayhrawi pernah mengatakan, persatuan umat Islam tidak akan tercapai jika umat Islam masih terbelenggu dalam kebodohan. Persatuan umat Islam hanya bisa dicapai jika umat Islam ini pandai. Mereka yang berhak untuk memberikan kritik atas pemahaman orang lain adalah mereka yang pandai dan berilmu, yang memiliki argumen-argumen yang kuat. Namun bukan berarti harus menyalahkan pemahaman yang berbeda. Ketika kalian kembali ke tanah air, silahkan ingin bermazhab apa, selama mazhab tersebut mendapat pengakuan dan pembenaran dari Islam. Sebagaimana MUI telah menyatakan bahwa Sunni dan Syiah sebagai mazhab yang benar. Maka dibenarkan umat Islam di Indonesia untuk memeluk salah satunya. Dan tidak dibenarkan satu sama lain saling menyalahkan yang dapat memecah belah persatuan.”
 ”Satu hal yang mesti ditanamkan dalam benak pikiran saudara-saudara semua, adalah umat Islam hanya akan kuat dengan persatuan, dan menjadi lemah dengan perpecahan. Dan perintah Al-Qur’an umat Islam harus menjalin persatuan dan melarang kita untuk berpecah. Alhamdulillah, kita bersyukur dengan keberadaan Republik Islam Iran, yang sangat gigih bekerja keras untuk mewujudkan persatuan umat Islam ini dan diantara Negara yang menyatakan perlawanan terhadap imperialisme. Presiden SBY pernah berkata langsung kepada saya, Indonesia adalah Negara yang penduduknya umat Islam terbesar di dunia, namun mengapa tidak mampu memberi peranan terhadap terwujudnya persatuan umat Islam, khususnya persatuan antara Sunni dan Syiah?. Karenanya kami dari MUI menyambut baik ajakan dan undangan dari Republik Islam Iran untuk bekerjasama mewujudkan persatuan umat Islam.”
Dipenghujung ceramah beliau, Ketua MUI Pusat Prof. DR. Umar Shihab kembali mempertegas pesan beliau kepada para pelajar Indonesia yang hadir, “Pesan Al-Qur’an Innamal mu’minuna ikhwa, orang-orang yang beriman itu bersaudara. Saudara-saudara belajarlah yang bersungguh-sungguh, dan ketika kembali ke tanah air, sampaikanlah ajaran Islam yang benar. Saya tidak menyatakan yang benar itu Syiah atau Sunni, tetapi keduanya. Jadilah rahmat bagi umat sekembali kalian ke tanah air, jangan justru menjadi pemecah belah umat. Dalam Sunni dan Syiah memang ada sekte-sekte atau kelompok yang menyimpang, itu harus kalian jelaskan kepada umat, singkap kekeliruan-kekeliruan mereka dan sampaikan ajaran yang benar. Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat ini bersatu. Saya sudah tua, dan kiprah saya tidak lama lagi akan berakhir. Karenanya kalianlah yang saya harap untuk melanjutkan perjuangan untuk mempersatukan umat. Kembalilah ke tanah air, tunjukkan kiprah dan peran kalian. Semoga Allah swt mempersatukan umat Islam ini, sehingga bisa menjadi rahmat bagi sekalian alam.”
Prinsip MUI: Sunni dan Syiah Bersaudara
Setelah Prof. Umar Shihab menyampaikan nasehatnya, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Beberapa pelajar kemudian mengajukan pertanyaan. Diantara pertanyaan yang diajukan, bisakah MUI wilayah di daerah mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan fatwa yang dikeluarkan oleh MUI Pusat?. Prof Umar Shihab memberikan jawaban, MUI wilayah jika berkaitan khusus dengan persoalan umat di daerahnya dibenarkan untuk mengeluarkan fatwa sendiri, namun jika berkaitan dengan kepentingan nasional, maka yang berhak mengeluarkan fatwa hanya MUI Pusat yang harus diikuti oleh MUI-MUI di daerah. Dan MUI di daerah tidak memiliki wewenang untuk menganulir fatwa yang telah dikeluarkan MUI Pusat. “Misalnya ada MUI Daerah yang mengeluarkan fatwa Syiah itu sesat -namun Alhamdulillah syukurnya belum ada MUI Daerah yang mengeluarkan fatwa seperti itu- maka fatwa tersebut tidak sah secara konstitusi, sebab MUI Pusat menyatakan Syiah itu sah sebagai mazhab Islam dan tidak sesat. Jika ada petinggi MUI yang mengatakan seperti itu, itu adalah pendapat pribadi dan bukan keputusan MUI sebagai sebuah organisasi.” Jelas beliau.
Ketika ditanyakan langkah-langkah MUI Pusat yang akan dilakukan untuk mewujudkan persatuan umat dan menyelesaikan perselisihan Sunni-Syiah, Prof. Umar Shihab menjelaskan bahwa MUI akan menjadi penyelenggara seminar Internasional Persaudaraan umat Islam di bulan Desember akhir tahun ini. “MUI akan mengundang ulama-ulama dari berbagai Negara, dari Mesir, Iran bahkan dari Arab Saudi termasuk Syaikh Yusuf Qhardawi untuk hadir sebagai pembicara. Indonesia insya Allah akan menjadi perintis persatuan umat Islam khususnya antara Sunni dan Syiah, semoga Allah membantu usaha-usaha kita.” Jelas beliau.
Setelah memasuki waktu maghrib, dilakukan shalat maghrib berjama’ah. Yang diimami oleh Sayyid Farid, dan Prof. Umar Shihab menjadi jama’ah di shaf pertama. Acara pertemuan tersebut diakhiri dengan makan malam bersama, dan do’a bersama dipenghujung acara dipimpin oleh KH. Prof. DR. Umar Shihab.
Pertemuan Ketua MUI Pusat Prof. DR. Umar Shihab dengan pelajar Indonesia yang sedang berada di Qom Iran ini adalah pertemuan yang kedua kalinya, setelah sebelumnya dua tahun lalu diadakan pertemuan di tempat yang sama.
Sunday, 01 May 2011 13:49 PDF Print E-mail
Ketua MUI: Syiah Itu Sah dan Benar Sebagai Mazhab Dalam Islam
Prof. Umar Shihab Di hadapan lebih dari seratus pelajar Indonesia yang belajar di Iran, Prof.Umar Shihab menyatakan, “Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat ini bersatu.”Menurut Kantor Berita ABNA, dalam kunjungannya ke Iran atas undangan Majma Taghrib bainal Mazahib Ketua MUI Pusat Prof. DR. KH. Umar Shihab beserta beberapa anggota rombongan menyempatkan mengadakan tatap muka dan pertemuan dengan pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di kota suci Qom, Iran. Pertemuan yang dimediasi oleh Sayyid Farid, salah seorang ulama Iran yang sering berkunjung ke Indonesia bertempat di kediaman beliau di Mujtama Maskuni Ayatullah Sistani, Qom. Hadir lebih dari seratus pelajar Indonesia beserta keluarganya dalam pertemuan sederhana yang berlangsung kurang lebih dua jam tersebut.
DR. Khalid Walid, wakil ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI memberikan sambutan pengantarnya dengan menjelaskan kedatangan rombongan MUI ke Iran atas undangan Majma Taghrib bainal Mazahib. Rombongan MUI terdiri dari ketua pusat, beberapa ketua harian dan ketua komisi, namun beberapa dari rombongan telah bertolak ke tanah air sehingga tidak sempat mengikuti pertemuan dengan para pelajar Indonesia tersebut. “Dalam kunjungan ini kami telah melakukan beberapa hal, diantaranya, atas nama ketua MUI. KH. Prof. DR. Umar Shihab dan atas nama Majma Taghrib bainal Mazahib Ayatullah Ali Tashkiri, telah dilakukan penandatanganan MOU kesepakatan bersama. Diantara poinnya adalah kesepakatan untuk melakukan kerjasama antara MUI dengan Majma Taghrib bainal Mazahib dan pengakuan bahwa Syiah adalah termasuk mazhab yang sah dan benar dalam Islam. ” Jelas DR. Khalid.
Lebih lanjut beliau menjelaskan,”Diantara bentuk kerjasama yang disepakati adalah pengiriman para peneliti dan ulama Indonesia ke Iran untuk mengikuti pertemuan dan pendidikan khusus mengenai beberapa hal yang beragam di Iran begitu juga sebaliknya, ulama-ulama dan peneliti Iran akan berkunjung ke Indonesia. Di samping itu juga kita telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Departemen Pengurusan Haji dan juga berkunjung ke Kamar Dagang Industri Iran untuk bekerjasama dalam produk halal. Insya Allah, jalinan kerjasama ini diharapkan dengan tujuan mengeratkan hubungan antara Republik Islam Iran dengan masyarakat muslim Indonesia.”
“Semoga dengan adanya kesepakatan dan kerjasama tersebut ukhuwah Islamiyah dapat terjalin dengan baik dan kedua belah pihak bisa saling memahami.” Harapnya.
Perpecahan dan Kebodohan, Ujian bagi Umat Islam Saat Ini
Selanjutnya, KH. Prof. DR. Umar Shihab menyampaikan nasehatnya di hadapan seratus lebih pelajar Indonesia yang hadir. Beliau menyatakan bahwa hidup di dunia ini penuh dengan tantangan, ujian dan kesulitan-kesulitan. “Tidak ada seorangpun yang hidup ini di dunia ini tidak luput dari ujian, diantara ujian tersebut adalah fitnah, kekurangan harta, kelaparan dan kematian. Namun dalam konteks kehidupan kita sekarang kata para ulama, ujian terberat yang dihadapi kaum muslimin saat ini ada dua. Yang pertama, adalah ujian perpecahan. Betapa sulitnya kita menjalin persatuan. Perpecahan begitu mudah terjadi, antar keluarga, sesama pengikut agama, antar Negara dan sebagainya. Ujian yang kedua adalah kebodohan. Mayoritas umat Islam sulit untuk melepaskan diri dari belenggu kebodohan, karena pura-pura tidak tahu atau memang sama sekali tidak mau tahu.”
Lebih lanjut menjelaskan, “Masyarakat Indonesia saat ini diuji dengan perpecahan. Dalam internal umat Islam sendiri terdapat berbagai macam kelompok yang mengarah kepada perpecahan, ada yang menyatakan diri sebagai kelompok liberal, kelompok anti agama, kelompok anti Syiah dan lain-lain. Keberadaan kelompok-kelompok ini sangat mengancam persatuan umat Islam. Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan ada dua kelompok pemecah umat Islam. Yang pertama kelompok pemecah dari luar umat Islam, yakni dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Sebagaimana yang dijelaskan Al-Qur’an keduanya tidak akan senang sampai umat Islam mengikuti agama dan kelompok mereka. Mereka melakukan berbagai macam cara dengan giat utuk memecah belah umat, melalui buku-buku, selebaran dan memanfaatkan tekhnologi yang mereka miliki. Mereka menipu dan menghasut umat misalnya melalui pemahaman pluralisme yang menyatakan semua agama sama. Ini adalah pemahaman yang sesat bahkan mengarah kepada kekafiran. Karena itu MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa pernyataan dan keyakinan semua agama sama adalah pernyataan yang tidak bisa dibenarkan dan MUI telah mengharamkannya.”
“Yang kedua, kelompok pemecah dari kalangan umat Islam sendiri. Tidak sedikit dari kelompok umat Islam yang justru memecah belah umat. Mereka mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang memicu perpecahan umat, mereka misalnya menyebut maulid itu bid’ah, mengucapkan shalawat di setiap kegiatan itu bid’ah sehingga dengan pemahaman yang seperti itu mereka menyesatkan dan memusuhi kelompok Islam yang mengamalkannya. Kita harus waspada terhadap kelompok pemecah dari dalam ini, mereka bahkan sampai menggunakan banyak uang saking gigihnya untuk memecah belah umat ini.”
“Ujian yang kedua adalah kebodohan. Pelajari dan tuntutlah ilmu agama ini dengan benar dan dari sumbernya yang asli. Al-Qur’an menyebutkan, yang manakah lebih layak kamu ikuti, orang yang memiliki pengetahuan atau orang yang tidak memiliki pengetahuan?. Dan Nabi Muhammad saww dalam haditsnya menyebutkan, Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. Dari riwayat Nabi ini, jelas disebutkan bahwa Sayyidina Ali lebih layak diikuti setelah Nabi. Karenanya tuntutlah ilmu yang berasal langsung dari sumbernya. Sayangnya kebanyakan kaum muslimin menyingkirkan dan melupakan hadits-hadits yang bersumber dari Sayyidina Ali, keluarga, sahabat utama dan terdekat dengan Nabi, dan lebih banyak mengamalkan dan menerima hadits dari selain beliau.”
Lebih spesifik mengenai ujian kebodohan ini, Prof Umar Shihab menasehatkan kepada para hadirin, “Selama di Iran belajarlah dengan sungguh-sungguh, rauplah ilmu sebanyak-banyaknya disini, dan ketika kembali ke tanah air, sampaikanlah argumen-argumen yang benar mengenai Islam. Tanggung jawab menjaga Islam berada di pundak kalian, para penuntut ilmu. Jauhilah kebodohan! Karena kebodohan adalah musuh kita bersama. Salah seorang ulama terkemuka Sunni asal Kairo, Syaikh Mutalawid Sayhrawi pernah mengatakan, persatuan umat Islam tidak akan tercapai jika umat Islam masih terbelenggu dalam kebodohan. Persatuan umat Islam hanya bisa dicapai jika umat Islam ini pandai. Mereka yang berhak untuk memberikan kritik atas pemahaman orang lain adalah mereka yang pandai dan berilmu, yang memiliki argumen-argumen yang kuat. Namun bukan berarti harus menyalahkan pemahaman yang berbeda. Ketika kalian kembali ke tanah air, silahkan ingin bermazhab apa, selama mazhab tersebut mendapat pengakuan dan pembenaran dari Islam. Sebagaimana MUI telah menyatakan bahwa Sunni dan Syiah sebagai mazhab yang benar. Maka dibenarkan umat Islam di Indonesia untuk memeluk salah satunya. Dan tidak dibenarkan satu sama lain saling menyalahkan yang dapat memecah belah persatuan.”
“Satu hal yang mesti ditanamkan dalam benak pikiran saudara-saudara semua, adalah umat Islam hanya akan kuat dengan persatuan, dan menjadi lemah dengan perpecahan. Dan perintah Al-Qur’an umat Islam harus menjalin persatuan dan melarang kita untuk berpecah. Alhamdulillah, kita bersyukur dengan keberadaan Republik Islam Iran, yang sangat gigih bekerja keras untuk mewujudkan persatuan umat Islam ini dan diantara Negara yang menyatakan perlawanan terhadap imperialisme. Presiden SBY pernah berkata langsung kepada saya, Indonesia adalah Negara yang penduduknya umat Islam terbesar di dunia, namun mengapa tidak mampu memberi peranan terhadap terwujudnya persatuan umat Islam, khususnya persatuan antara Sunni dan Syiah?. Karenanya kami dari MUI menyambut baik ajakan dan undangan dari Republik Islam Iran untuk bekerjasama mewujudkan persatuan umat Islam.”
Dipenghujung ceramah beliau, Ketua MUI Pusat Prof. DR. Umar Shihab kembali mempertegas pesan beliau kepada para pelajar Indonesia yang hadir, “Pesan Al-Qur’an Innamal mu’minuna ikhwa, orang-orang yang beriman itu bersaudara. Saudara-saudara belajarlah yang bersungguh-sungguh, dan ketika kembali ke tanah air, sampaikanlah ajaran Islam yang benar. Saya tidak menyatakan yang benar itu Syiah atau Sunni, tetapi keduanya. Jadilah rahmat bagi umat sekembali kalian ke tanah air, jangan justru menjadi pemecah belah umat. Dalam Sunni dan Syiah memang ada sekte-sekte atau kelompok yang menyimpang, itu harus kalian jelaskan kepada umat, singkap kekeliruan-kekeliruan mereka dan sampaikan ajaran yang benar. Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat ini bersatu. Saya sudah tua, dan kiprah saya tidak lama lagi akan berakhir. Karenanya kalianlah yang saya harap untuk melanjutkan perjuangan untuk mempersatukan umat. Kembalilah ke tanah air, tunjukkan kiprah dan peran kalian. Semoga Allah swt mempersatukan umat Islam ini, sehingga bisa menjadi rahmat bagi sekalian alam.”
Prinsip MUI: Sunni dan Syiah Bersaudara
Setelah Prof. Umar Shihab menyampaikan nasehatnya, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Beberapa pelajar kemudian mengajukan pertanyaan. Diantara pertanyaan yang diajukan, bisakah MUI wilayah di daerah mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan fatwa yang dikeluarkan oleh MUI Pusat?. Prof Umar Shihab memberikan jawaban, MUI wilayah jika berkaitan khusus dengan persoalan umat di daerahnya dibenarkan untuk mengeluarkan fatwa sendiri, namun jika berkaitan dengan kepentingan nasional, maka yang berhak mengeluarkan fatwa hanya MUI Pusat yang harus diikuti oleh MUI-MUI di daerah. Dan MUI di daerah tidak memiliki wewenang untuk menganulir fatwa yang telah dikeluarkan MUI Pusat. “Misalnya ada MUI Daerah yang mengeluarkan fatwa Syiah itu sesat -namun Alhamdulillah syukurnya belum ada MUI Daerah yang mengeluarkan fatwa seperti itu- maka fatwa tersebut tidak sah secara konstitusi, sebab MUI Pusat menyatakan Syiah itu sah sebagai mazhab Islam dan tidak sesat. Jika ada petinggi MUI yang mengatakan seperti itu, itu adalah pendapat pribadi dan bukan keputusan MUI sebagai sebuah organisasi.” Jelas beliau.
Ketika ditanyakan langkah-langkah MUI Pusat yang akan dilakukan untuk mewujudkan persatuan umat dan menyelesaikan perselisihan Sunni-Syiah, Prof. Umar Shihab menjelaskan bahwa MUI akan menjadi penyelenggara seminar Internasional Persaudaraan umat Islam di bulan Desember akhir tahun ini. “MUI akan mengundang ulama-ulama dari berbagai Negara, dari Mesir, Iran bahkan dari Arab Saudi termasuk Syaikh Yusuf Qhardawi untuk hadir sebagai pembicara. Indonesia insya Allah akan menjadi perintis persatuan umat Islam khususnya antara Sunni dan Syiah, semoga Allah membantu usaha-usaha kita.” Jelas beliau.
Setelah memasuki waktu maghrib, dilakukan shalat maghrib berjama’ah. Yang diimami oleh Sayyid Farid, dan Prof. Umar Shihab menjadi jama’ah di shaf pertama. Acara pertemuan tersebut diakhiri dengan makan malam bersama, dan do’a bersama dipenghujung acara dipimpin oleh KH. Prof. DR. Umar Shihab.
Pertemuan Ketua MUI Pusat Prof. DR. Umar Shihab dengan pelajar Indonesia yang sedang berada di Qom Iran ini adalah pertemuan yang kedua kalinya, setelah sebelumnya dua tahun lalu diadakan pertemuan di tempat yang sama.(IRIB)( arridha.com) Dipetik dari ABNA.IR

Provokasi Ulama Saudi Menentang Iran: Mufti Besar Saudi: Iran Itu Majusi, Republik Islam Hanya Buat Menipu

Provokasi Ulama Saudi Menentang Iran:
Mufti Besar Saudi: Iran Itu Majusi, Republik Islam Hanya Buat Menipu
.
Mufti Wahabi Arab Saudi mengkritik dan mengklaim Iran telah ikut campur tangan atas konflik di Bahrain, namun sama sekali tidak menyinggung masuknya militer Saudi ke Bahrain yang menimbulkan banyak korban jiwa.

Mufti Besar Saudi: Iran Itu Majusi, Republik Islam Hanya Buat MenipuMenurut Kantor Berita ABNA, 
 
Mufti besar Arab Saudi, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Al Syaikh menuding orang Iran sebagai Majusi sambil menyatakan keprihatinannya terhadap campur tangan Iran dalam konflik dalam negeri Bahrain. 
Ketua persatuan Ulama kerajaan Saudi tersebut mengkritik politik Iran di kawasan ini sambil menuding, Iran sebagai Republik Islam hanyalah manipulasi dan konspirasi nyata bagi umat Islam. Beliau menegaskan, negara-negara teluk hendaklah waspada terhadap ambisi Negara Syiah Iran yang berhasrat mempengaruhi negara-negara Arab. Kata beliau, “Konspirasi Iran untuk menyebarkan Syiah beserta kedustaan-kedustaannya di kawasan telah dapat tercium”.
Namun sayangnya, syaikh besar ini lupa atau sama sekali sengaja untuk tidak mengungkit keterlibatan militer Saudi dan Emirat yang menimbulkan banyak korban jiwa warga sipil di Bahrain.
Komentar Pembaca
- Ya begitulah manusia kalau terhijab. Hilang akal dan argumentasi. Menuduh pihak lain tanpa mempertimbangkan bahwa tuduhan itu lebih cocok buat penuduh. SA tak berani berhadapan dengan Israel. SA cuma berani berhadapan dengan para demonstran yang tidak bersenjata. Dari sini saja sudah bisa dilihat nalar ketidakadilan mereka. [Rakyat]
- ulama kok begini ya? tidak menggambarkan ulama dalam kata”nya, bahkan dari wajah aja sptnya baru dikarbit dalam peti kerajaan jadi membual seenaknya…sebaiknya org-orang seperti ini dibungkus saja n dilempar ke laut…. provokasi agar umat islam terpecah belah, dia lebih baik berpelukan dengan amerika dari pada dengan kaum muslimin sendiri,,,,manusia di dunia ini tidak bodoh wahai Syaeikh!!!mreka baca n tahu siapa saudai arabia…. [rano]
- ERROR.com biarkan saja ulama bahlul ini, Insya Allah, Imam Mahdi ajf akan segera dimunculkan [jeffrey zain]
- man kaana fihadzihi dunyya ‘ama fahuwa fil ahiroti ‘ama
- dari tampangnya si ulama Saudi itu aja udah menyeramkan, apalagi tampang didalam hatinya pasti lebih seremm lagi, dasar antek kerajaan saudi-yahudi.
- itulah contoh ulama suu yang keberadaanya diangkat oleh kerajaan ,yg mana SA tdk lebih dari kaki tangan ZIONIS, kemana SA waktu Palestina digempur israel kemana para para ulamanya yg katanya memperjuangkan islam,kita tdk penah memndengar suara ulama saudi mengenai ISREAL kecuali diam membisu,karnabuat merka islam hanya tameng untuk melanggengkan kekuasaannya, [alwi asshofie]
- hanya ulama yg ilmu nya dangkal yg suka ngmong seenaknya.. Allahumma shali ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.. [rijalsw]
- sok tahu tentang wahabi, [SERVANT]
- ya sudah biasa lah, musuh musuh islam seperti itu,yang penting kita tetap belajar untuk memperkuat diri kita,,,,,,trus kapan ni indonesia, punya hizbullah sebagaimana lebanon, ini negara sudah keterlaluan [agus]
- Wahaboy Gilaaaaaaaa……………! begitulah kalo hatinya udah di beli sm dollar dan whisky-nya Amerika dan Yahudi! dia bukan Ulama, tapi Ubaru, Ubarunya musuh2 Islam….. Allahu Akbar! [Ibnu Ahmad Khan]
- IRAN negara yang berani dan berniat menghancurkn Israel & USA dengan menciptakan senjata-senjata & alat perang yang canggih. Saudi Arabia ????? hati2 dan waspadalah terhadap ucapan yg berkedok “ULAMA”. [habibi el-faqir]


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar