Sabtu, 12 April 2014

HEZBOLLAH..- LEBANON ARMY AND PEOPLE AGAINST ISRAEL .. ?? .. IN THE BEGINNING .. VERY DOUBTFUL .. ABILITY TO DO INTERVENTION IN SYRIA ...?? MANY PARTIES ..VIEWS...ABOUT HEZBULLAH THAT WILL BE VERY HARD TO BE JUDGED.. AND .. WAR AGAINST THE SUNNY REBEL FORCES WHICH ARE KNOWN SO VERY STRONG AND TRAINED BY CIA-MOSSAD AND GOT THE SO MODERN WEAPONS OF THE UNITED STATES AND ISRAEL WITH VERY STRONG ... EVEN BEEN SAID THAT MORE 80 FOREIGN STATES SUPPORTED BY THE NUMBER OF INTERNATIONAL FORCES HUNDREDS OF THOUSANDS AND MANY FUNDS-LED INTELLIGENCE CHIEF OF SAUDI THE PRINCE BANDAR BIN SULTAN .. VERY VERY FAMOUS HARSH AND SEVERE. ...SOME PARTIES TO ASSESS THAT ONLY A FEW WEEKS ONLY SYRIA WILL BE HELD BY THE FALL AND SUNNY FORCES AND ARE VERY STRONG REBELS, .. AND THEN HEZBULLAH .... THEREFORE VERY DANGEROUS FOR INVOLVEMENT IS ALSO PRONE LEBANON CONFLICT AND HELD BY A VERY SUNNY ARAB GROUP EXPERIENCED WAR...>>> ...HOWEVER.... IN FACT HEZBULLAH BECOME MORE STRONG AND CONFIDENCE....>>> "New ground rules according to the resistance," was the headline of an opinion piece written by Ibrahim Al-Amin, editor of Lebanon's heavily pro-Hezbollah newspaper Al-Akhbar, which was published several days after the attack on the Israel-Syria border in which four IDF soldiers were wounded. Al-Amin, who is considered Nasrallah's mouthpiece, linked Hezbollah to the recent incidents on the northern border and bragged that Israel did not assess Hezbollah's respond properly. ..>> ...Hezbollah recently threatened Israel, promising to retaliate in a time and place of its choosing to the attack on the Syrian-Lebanese border. Following reports of the strike and Hezbollah's threats, several incidents occurred on the northern border. Rockets were fired at an IDF outpost on Mount Hermon, and there were several incidents of explosive devices being planted in the Golan Heights area and on the Lebanese border. ...>> ...Nasrallah cautioned that the younger generation might be misled into thinking that the resistance has failed because of Hezbollah's involvement in the Syrian conflict, or because of the organization's stance on one issue or another. But, Nasrallah said, "the resistance is in Lebanon since 1948 and some people don't know that." He also used the speech as an opportunity to convince skeptics in Lebanon of the necessity of Hezbollah's involvement in the three-year-long war Syrian President Bashar Assad is waging against opposition militants. "Some in Lebanon say the resistance (Hezbollah) has nothing to do with Syria," Nasrallah told supporters. He justified sending his forces to a foreign war by saying that Sunni rebel groups would "eliminate everyone in Lebanon" if they won in Syria. "The problem in Lebanon is not that Hezbollah went to Syria, but that we were late in doing so," he said. "This resistance will remain solid, with its head hung high, protecting its people and its nation." Established nearly 30 years ago to confront Israel's occupation of south Lebanon, Hezbollah once won praise from Sunnis and Shi'ites across the Middle East. But its fight alongside Assad has lost it much domestic and international support...>>> ...Still, not all Shiites back Hezbollah’s intervention. A minority of Shiites openly oppose Hezbollah’s dominance of the community. One of them, Hashem Salman, a 27-year-old company manager from Adloun in south Lebanon, was among a group of anti-Hezbollah Shiites who attempted to hold a demonstration outside the Iranian embassy in Beirut two weeks ago. The demonstrators were attacked by suspected Hezbollah men wielding batons. Salman was shot three times in the scuffles and bled to death on the road. “Hashem died for freedom,” says his brother Hassan during a condolence session at the family home in Adloun. “They [Hezbollah] don’t fear weapons in the hands of their opponents, they fear open minds and freedom.” Hezbollah’s popularity within the Shiite community is unlikely to be seriously challenged in the foreseeable future. But loyalists may balk at a lengthy intervention in Syria, especially if the casualty toll remains high, anti-Shiite sentiment continues to flare across the region, and former supporters turn away from the party. Three weeks ago, Sheikh Youssef Qaradawi, an influential Sunni cleric who once defended Hezbollah, called for jihad against the party which he dubbed the “Party of Satan.” Hezbollah means the Party of God in Arabic....>>> ...Rumors of Hezbollah involvement in Syria began circulating soon after the uprising broke out in March 2011, but the early claims were generally unconvincing and lacked evidence. In October 2011, Sheikh Nasrallah said in a television interview that accusations that Hezbollah had deployed fighters into Syria were “absolutely untrue.” “There are no thousands or a thousand or even half a soldier [in Syria],” he said. However, by early 2012, it was becoming public knowledge within Lebanese Shiite circles that some Hezbollah fighters were being sent into Syria. That summer there were a flurry of reports in the Lebanese media of funerals for slain Hezbollah fighters. Hezbollah released statements saying that they had died “while performing their jihadi duty,” a possible allusion to combat-related deaths. Unusually, there was some quietly muttered dissent in Shiite circles, including within Hezbollah’s support base, about the morality of dispatching fighters to help the Assad regime’s brutal repression of the opposition...>>> ...Hezbollah has incurred its greatest casualties ever while fighting for the Assad regime in Syria. Emotional funerals for fallen 'martyrs' are a way to keep up morale....>>> ...The "Syrian Opposition" were in rush to get Hezbollah involved in their conflict with the regime since the first moments of their engagement. The rush was caused only - as subsequent events showed - by the firm belief among the opposition leaders in the West-Israeli-Gulf-Turkish axis, that the fall of the regime was only a matter of weeks, and that the fateful link between Hezbollah and the regime is fundamental. In addition, Hezbollah opponents in Lebanon were also in rush to materialize this link, for being convinced that they do not need to take Hezbollah into account as long as he will be toppled soon....>>>.... "Tujuan kami satu. Mereka adalah tentara bayaran yang didatangkan dari Chechnya, Yaman dan Libya yang ingin menggulingkan Bashar Assad, yang dulu pernah mendukung kami dan bahu membahu selama perang 2006 melawan Israel," tegas Mahmoud. "Ini adalah tugas kita untuk menolong mereka (Suriah)." Di Suriah, Hizbullah menunjukkan perannya sebagai pelindung semua komunitas, semua ras, semua bangsa dan semua Mazhab dari rongrongan elemen-elemen Takfiri berkedok Ahlu Sunnah...>> .... Ia menuturkan alasan mengapa ke Suriah, karena Sayyid Hassan Nasrullah memberikan perintah kepadanya untuk pergi ke Suriah, bukan hanya dia yang ingin ke Suriah, namun ribuan pejuang Hizbullah berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk dikirim ke Suriah. Namun, hanya beberapa ratus dari mereka yang dikirim ke Suriah, termasuk dirinya, katanya, dengan sorot mata tajam, namun penuh kelembutan. Ia juga menceritakan bagaimana Tentara Suriah meraih kemenangan di berbagai medan perang, yang menurutnya adalah andil dan peran penting Hizbullah. Seruan Sekjen Hizbullah untuk berperang di Suriah itu disambut oleh ribuan para buruh, petani, pemilik restoran, dokter, profesional medis dan bahkan para mahasiswa, semua sangat antusias ingin bergabung atas apa yang mereka sebut sebagai perang eksistensial melawan Takfiri berkedok Ahlu Sunnah.....>> ..Saat ia mendorong gerobak kecil penuh tomat dan mentimun di sebuah pasar dekat Bint Jbeil di Libanon selatan, sama sekali tidak menunjukkan bahwa Mahmoud adalah salah satu pejuang Hizbullah yang berpengalaman dalam berbagai medan perang. Pun, orang-orang sekitar tidak tahu kalau ia adalah seorang pejuang Hizbullah, orang-orang lebih mengenal Mahmoud adalah seorang penjual sayuran-sayuran di kampungnya dengan gerobak kecil yang sudah tua. Yah, meski orang-orang sekitar mengenalnya ia adalah penjual sayur-sayuran dengan tubuh gempal berusia kira-kira lima puluhan tahun, berjenggot merah dan ramah, ternyata ia adalah salah satu pejuang Hizbullah yang pernah berjuang dalam perang Israel pada tahun 2006...>>> .... Dalam berbagai kesempatan, Sekjen Hizbullah, Sayyid Hasan Nashrallah, mengajak seluruh pihak yang bertikai untuk menyelesaikan konflik di Suriah lewat negosiasi dan kompromi politik. Dengan berbagai pertimbangan matang, dia berpendapat tak ada solusi militer atas krisis politik di Suriah. Namun, tampaknya, ajakan bijak ini ditanggapi secara keliru kelompok teroris-takfiri didikan Arab Saudi dan para pendukungnya di kawasan (Arab dan Turki) dan Barat (AS, Israel dan Eropa). Mereka mengira ajakan perdamaian itu isyarat kelemahan dan ungkapan kekalahan...>>... Di Libanon, misalnya, blok politik pendukung teroris telah mengambil prakarsa agresif untuk mendukung aksi-aksi terorisme dengan sumber daya manusia dan logistik yang massif sejak hari-hari pertama krisis politik di Suriah. Sejumlah media massa nasional Libanon sejak awal mengumumkan perang atas rezim Bashar Assad. Media yang sama kemudian mulai membeber prediksi bahwa masa kekuasaan Assad akan berakhir dalam dua atau tiga bulan. Tidak lebih. Lalu para komentator dalam acara-acara itu mengumbar ancaman dan prediksi suram poros Iran-Suriah-Hizbullah pasca kejatuhan Assad, persis suara-suara sumbing pendukung mujahilin di Kompasiana ini. Dari sejak itu pula media massa pro teroris Suriah terus mencuci otak publik dunia dengan propaganda yang, seperti tombak bermatalamat dua, menyerang Hizbullah dengan harapan kelompok perlawanan tercekam dan menggigil ketakutan. Degungnya membesar di tengah aksi pengusiran, penculikan, pembantaian, dan pembakaran rumah-rumah warga Syiah simpatisan Hizbullah yang tinggal di wilayah perbatasan Suriah-Libanon, tepatnya di wilayah Qusair...>>..... Seiring berjalannya waktu, wilayah Qusair yang berbatasan dengan Bekaa dan Hermel yang dihuni oleh mayoritas Syiah justru dijadikan sebagai markas militer teroris al-Qaeda, Front An-Nusra. Tidak hanya itu, tiap hari kelompok takfiri ini tak henti-hentinya memprovokasi para penduduk Syiah di kota-kota perbatasan dengan berbagai ujaran kebencian dan aksi teror. Tiap pekan satu dua mortir ditembakkan oleh jaringan teroris ke salah satu kota di wilayah Bekaa yang menampung ribuan pengungsi Syiah yang terusir dari Qusair. Setelah provokasi yang bertubi-tubi, kembali Sayyid Nashrullah muncul di televisi memperingatkan kelompok teroris takfiri dan pendukungnya agar tidak mengganggu warga yang tidak bersenjata hanya karena perbedaan pandangan politik. Tapi, tampaknya, tiap kali Sekjen Hizbullah itu muncul mengemukakan pesan, media pendukung teroris selalu menemukan cara untuk memutarbalik fakta dan mengeskalasi ketegangan. Keadaan ini kemudian diperburuk dengan munculnya ustadz-ustadz karbitan yang tiap Jumat naik mimbar untuk mengobarkan semangat jihad melawan kaum “kafir Syiah” di Suriah, khususnya di wilayah Qusair dan menuduh Hizbullah ikut berperang di sana membela rezim Assad. Dan akhirnya, sejak akhir April silam, Tentara Arab Suriah (TAS) memutuskan untuk merebut kembali kota Qusair yang strategis tersebut...>>> .. Pernyataan transparan sekjen Hizbullah terkait transformasi Suriah dan kehadiran pejuang muqawama di sejumlah wilayah perbatasan Lebanon dan Suriah mengindikasikan bahwa Hizbullah selain mendukung militer negara ini dalam melawan teroris di front internal, dalam langkah preemtivnya memperluas operasinya hingga ke pusat-pusat kelompok teroris di sejumlah wilayah perbatasaan demi mencegah melebarnya pengaruh kulompok teroris takfiri. Selain itu Hizbullah juga mendapat dukungan penuh rakyat dan kelompok politik Lebanon. Sikap terbaru sekjen Hizbullah menunjukkan strategi jitu muqawama untuk melewati masa-masa sensitif dan penuh ancaman Lebanon saat ini di bidang keamanan dan pertahanan. Sebelumnya Hizbullah berulangkali menyatakan senantiasa siap mengorbankan nyawa demi menjamin kepentingan bangsa Lebanon dan keamanan mereka...>> .... 15 rahasia politik temuannya: 1. CIA memperalat Swedia untuk mencuci transferan kabel (data) yang telah diseleksi dan disunting Departemen Luar Negeri AS ke Wikileaks dan pengiriman kabel berikutnya sebagai pra-seleksi terhadap entitas perusahaan media berita. Swedia dipilih untuk menjadikan rilis kabel Wikileaks tidak terlihat berhubungan dengan program operasi psikologis terselubung CIA dan Pentagon yang dirancang mengontrol lebih lanjut dunia maya. Operasi Wikileaks dilakukan dengan bantuan dua pemimpin politik terkemuka Swedia yang telah mempertahankan hubungan lamanya dengan CIA dan badan pemerintah AS terkait. Salah satu konspiratornya adalah Perdana Menteri Swedia, Fredrik Reinfeldt yang ditemukan di sekolah tinggi Swedia oleh petugas Partai Republik AS Karl Rove. 2 . Obama seorang gay. Silahkan merujuk artikel "Obama Member of Gay Bath House" (http://beforeitsnews.com/alternative/2013/04/obama-member-of-gay-bath-house-2622992.html). Menurut sejumlah sumber dalam komunitas gay Chicago, serta kalangan veteran politik di sana, Presiden Obama dan kepala staf rumah tangganya, Rahm Emanuel, menjadi anggota seumur hidup rumah mandi gay di Chicago. 3. Serangan 9/11 adalah operasi yang dilakukan Mossad, intelijen Saudi dan unsur-unsur CIA. 4 . Ratusan ilmuwan Irak yang dibunuh atau meninggal dalam kecelakaan setelah invasi pada 2003 sebenarnya dibunuh tim pembunuh Mossad yang beroperasi di Irak (The Palestine Telegraph). 5. Pada 2010, Pakistan Daily melaporkan bahwa sumber tanpa nama menyebut perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai Blackwater, telah melancarkan operasi bendera-palsu di Pakistan yang tanggungjawabnya dibebankan pada Tehrik-i-Taliban Pakistan. 6. Anggota AIPAC dan Mossad Israel mendominasi manajemen CNN. "Lobi Israel menguasai Kongres, media, Hollywood, Wall Street, kedua partai politik (Republik dan Demokrat), serta Gedung Putih." 7. Beberapa pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) PBB tak dikenal dan para ilmuwan percaya bahwa ketegangan virus flu babi baru H1N1 yang menyebar pada tahun 2009 tampaknya merupakan produk militer yang mensponsori rekayasa genetika yang bertentangan dengan proses alamiah. 8. Tuntutan pidana terhadap Gubernur Negara Bagian New York Eliot Spitzer sebagian disebabkan oleh badan intelijen Mossad (Arabnews, 2008). 9. Pada Oktober 2005, "Mantan agen CIA tak dikenal" mengklaim bahwa kapal induk USS Cole benar-benar terkena rudal jelajah Popeye yang diluncurkan kapal selam Israel kelas Dolphin. 10. Pada 2005, AS diam-diam melancarkan perang sipil di Republik Demokratik Kongo. 11. Pada 2003, terbongkar informasi dalam laporan rahasia kongres yang menghubungkan serangan 11 September 2001 dengan penguasa Arab Saudi dan pemerintahan Bush lewat transaksi keuangan dengan para pembajak. 12. Pada 2002, Angkatan Laut AS membantu percobaan penggulingan Presiden Venezuela, Hugo Chavez (The Guardian). 13. Pada 2007, terbongkar jaringan diplomat pedofil yang melibatkan Kedutaan Besar AS di Bangkok. 14. Pada 2011, melalui penelitian untuk buku "Manufacturing of a President" di Jakarta, dilaoporkan tentang adanya hubungan antara ibu Barack Obama, Stanley Ann Dunham-Soetoro dan ayah tirinya yang berasal dari Indonesia Lolo Soetoro, dengan kudeta CIA terhadap presiden Sukarno pada 1965 dan setelahnya. 15. Pada 2012, ditemukan fakta pencucian uang (money laundering) kasino Sheldon Adelson di Makau yang digunakan untuk kampanye pemilihan presiden Mitt Romney. (IT/A/rj)..>>>

Ini Sosok Hizbullah 
Jika Anda Ingin Mengenalnya
Islam Times- http://www.islamtimes.org/vdceoz8xxjh8foi.rabj.html
"Tujuan kami satu. Mereka adalah tentara bayaran yang didatangkan dari Chechnya, Yaman dan Libya yang ingin menggulingkan Bashar Assad, yang dulu pernah mendukung kami dan bahu membahu selama perang 2006 melawan Israel," tegas Mahmoud.
Hizbullah
Hizbullah

Saat ia mendorong gerobak kecil penuh tomat dan mentimun di sebuah pasar dekat Bint Jbeil di Libanon selatan, sama sekali tidak menunjukkan bahwa Mahmoud adalah salah satu pejuang Hizbullah yang berpengalaman dalam berbagai medan perang. Pun, orang-orang sekitar tidak tahu kalau ia adalah seorang pejuang Hizbullah, orang-orang lebih mengenal Mahmoud adalah seorang penjual sayuran-sayuran di kampungnya dengan gerobak kecil yang sudah tua.

Yah, meski orang-orang sekitar mengenalnya ia adalah penjual sayur-sayuran dengan tubuh gempal berusia kira-kira lima puluhan tahun, berjenggot merah dan ramah, ternyata ia adalah salah satu pejuang Hizbullah yang pernah berjuang dalam perang Israel pada tahun 2006.


Ia baru saja kembali dari front lain, katanya membuka pembicaraan dengan suara santun, "di Suriah", katanya. Disana ia berjuang selama 25 hari melawan elemen-elemen Takfiri yang berusaha menggulingkan Presiden Bashar Assad selama tiga tahun terakhir.

Ia menuturkan alasan mengapa ke Suriah, karena Sayyid Hassan Nasrullah memberikan perintah kepadanya untuk pergi ke Suriah, bukan hanya dia yang ingin ke Suriah, namun ribuan pejuang Hizbullah berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk dikirim ke Suriah. Namun, hanya beberapa ratus dari mereka yang dikirim ke Suriah, termasuk dirinya, katanya, dengan sorot mata tajam, namun penuh kelembutan.

Ia juga menceritakan bagaimana Tentara Suriah meraih kemenangan di berbagai medan perang, yang menurutnya adalah andil dan peran penting Hizbullah.

Seruan Sekjen Hizbullah untuk berperang di Suriah itu disambut oleh ribuan para buruh, petani, pemilik restoran, dokter, profesional medis dan bahkan para mahasiswa, semua sangat antusias ingin bergabung atas apa yang mereka sebut sebagai perang eksistensial melawan Takfiri berkedok Ahlu Sunnah.

"Ketika Hizbullah meminta saya untuk pergi, saya dengan suka cita menjawab seruan itu. Saya meninggalkan pekerjaan saya, dan saya pergi untuk menghentikan Takfiri yang berusaha memasuki Libanon," kata Mahmoud.

"Saya berjuang di beberapa medan dan membebaskan beberapa pejuang lain dari daerah di mana mereka ditahan," tambahnya.

"Tujuan kami satu. Mereka adalah tentara bayaran yang didatangkan dari Chechnya, Yaman dan Libya yang ingin menggulingkan Bashar Assad, yang dulu pernah mendukung kami dan bahu membahu selama perang 2006 melawan Israel," tegas Mahmoud.

"Ini adalah tugas kita untuk menolong mereka (Suriah)."

Di Suriah, Hizbullah menunjukkan perannya sebagai pelindung semua komunitas, semua ras, semua bangsa dan semua Mazhab dari rongrongan elemen-elemen Takfiri berkedok Ahlu Sunnah.


Yah, Hizbullah datang ke Suriah tidak hanya ingin melindungi masyarakat Suriah dan Libanon, namun juga ingin mencegah brutalitas tentara-tentara bayaran terhadap umat manusia yang didatangkan dari berbagai negara oleh Arab-Arab Zionis berigal. Dan itulah Hizbullah, jika Anda ingin mengenalnya.

Ketika dunia membodohkan perlawanan batu bahkan senjata terhadap Israel, Hizbullah tampil maju di Palestina. Ketika negara-negara Arab minder, kecut, kerdil dan lugu, bersama rakyat Palestina Hizbullah juga bergerak sampai di garis terdepan. Ketika Arab ingin menghancurkan Suriah, Hizbullah bersama rakyat dan Tentara dengan gagah maju di garis terdepan. Karena perlawanan mereka di garis terdepan inilah, Arab-Arab berigal masih bisa tidur nyenyak dan beranak pinak. Tanpa mereka, adakah jaminan muslimin selamat dari kebrutalan Israel? Adalah jaminan selamat dari kebrutalan elemen-elemen takfiri binaan AS? Dan dunia Islam, seluruh muslim manapun yang hany hanya menonton batu dan katyuza dari jauh, sungguh berhutang pada mereka yang mau mengorbankan diri untuk berdiri dan menyusup di barisan musuh. Dan dunia Islam, berhutang budi pada tukang sayuran seperti Mahmoud yang maju di garis terdepan melawan penindasan elemen-elemen Takfiri bayaran Arab Zionis.

Sekali lagi, kepada dunia Islam, Hizbullah hendak mengatakan bahwa misinya di Suriah, Libanon dan Palestina bukanlah sekte, mazhab atau Arabisme. Mereka datang untuk dunia Islam. Kepada umat Islam, Hizbullah hendak mengatakan bahwa kemenangan selalu ada pada umat Islam dan bukan berpihak pada Israel.

Di sana, di antara garis seberang Barat dan Timur, masih ada harapan besar di atas petak tanah kecil, berdiri persis di tengah peta besar dunia Israel Raya. Hizbullah itu sama seperti manusia lain. Mereka besar bukan karena postur, suara menggelegar dan kaki menghentak dalam parade.

Manusia hanya akan menjadi besar dengan kekuatan hati dan harapan yang besar. "Tidak ada yang bisa menghujamkan kekuatan hati dan kebesaran harapan seperti yang dilakukan agama", begitu tutur Bagir Sadr.[IT/Onh/Ass]


Analis: Hizbullah Sukses Kembangkan Taktik Baru Perang Suriah
Islam Times- http://www.islamtimes.org/vdcg3x9wxak9ut4.1ira.html
"Hizbullah juga menyadari kapasitas sumberdayanya yang relatif terbatas," kata Charles Lister, seorang analis dari lembaga pemikiran AS yang berbasis di Qatar, Brookings Doha Center. "Jadi mengeksploitasi kemampuan untuk menimbulkan kerusakan pada musuh tanpa mengerahkan sumberdaya yang penting... merupakan pengembangan strategis yang alami."
Pendukung Hizbullah
Pendukung Hizbullah

Para prajurit komando berhasil menyusup ke wilayah yang dikuasai pemberontak Suriah dekat perbatasan Libanon, mengawasi para takfiri pemberontak datang dan pergi dari vila berlantai dua sebelum menyelinap untuk menanam sebuah bom berdaya ledak tinggi. Keesokan paginya, mereka meledakkan bom itu saat tiga ahli bahan peledak pemberontak dan empat asistennya bertemu di dalam vila itu, yang kemudian berubah menjadi puing-puing dalam hitungan detik.

Operasi akhir bulan lalu di wilayah Qalamoun, Suriah barat, dilakukan para pejuang Hizbullah Libanon, kata beberapa pejabat Libanon yang dekat dengan kelompok.perlawanan itu kepada The Associated Press. Kelompok pejuang Muslim Syiah itu telah mengirimkan ratusan prajurit handalnya ke Suriah untuk menyokong pasukan Presiden Bashar Assad merebut kembali sejumlah daerah di sekitar ibukota, Damaskus, dan di dekat perbatasan Libanon.

Tapi akibat banyaknya korban jatuh selama perang saudara yang, sebagaimana dikatakan para aktivis, telah menewaskan lebih dari 150.000 orang dalam tiga tahun, menurut para pejabat, Hizbullah telah beralih ke berbagai taktik baru--termasuk operasi komando yang rumit--untuk memburu pemberontak dan komandan oposisi.

Tujuan dari strategi baru, yang mencakup serangan pukul dan mundur (hit-and-run) serta misi pengintaian, adalah untuk membantu Assad, meminimalisasi jumlah korban dari pihak Hizbullah, dan menyerang kelompok yang bermaksud melancarkan serangan dalam Libanon sendiri.

"Hizbullah juga menyadari kapasitas sumberdayanya yang relatif terbatas," kata Charles Lister, seorang analis dari lembaga pemikiran AS yang berbasis di Qatar, Brookings Doha Center. "Jadi mengeksploitasi kemampuan untuk menimbulkan kerusakan pada musuh tanpa mengerahkan sumberdaya yang penting... merupakan pengembangan strategis yang alami."

Hizbullah memiliki sejarah panjang dalam serangan gerilya. Kelompok perlawanan Islam ini memerangi "Israel" sejak nenduduki Libanon selatan hingga menarik diri pada 2000, dengan mengandalkan serangan pukul-mundur.

Di Suriah, titik balik dalam strategi Hizbullah terjadi setelah kelompok itu membantu mengamankan kota perbatasan Suriah, Qusair, Juni lalu, kata para pejabat Libanon, yang mau berbicara dengan syarat anonim untuk membahas taktik militer Hizbullah. Selepas pertempuran itu, mereka mengatakan para pemberontak menyergap dan membunuh empat pejuang elit Hizbullah setelah pasukan Suriah mengatakan kepada mereka bahwa daerah itu aman.

Sekarang, Hizbullah mengirimkan kelompok-kelompok kecil pejuang untuk mengamati daerah-daerah sebelum memasukinya, kata para pejabat. Seorang pejabat mengatakan, Hizbullah juga menghubungkan wilayah Suriah di mana dirinya berada dengan pangkalannya di Libanon melalui jaringan telwkomunikasi kabel-tebal yang aman, yang telah digunakannya selama bertahun-tahun. Para pejuang menghindari penggunaan ponsel atau peralatan lain yang mudah untuk dimonitor, kata pejabat itu.

Serangan terhadap villa di Qalamoun juga menampilkan pertempuran gaya-komando. Media pemerintah Suriah mengatakan bahwa tentara Suriah-lah yang melakukan serangan itu. Namun, harian Libanon, al-Akhbar yang bersimpati pada Assad, mengatakan bahwa serangan itu dilancarkan tentara Suriah bersama pasukan khusus Hizbullah.

Pengamat kelompok tersebut dan para pakar mengatakan bahwa serangan Qalamoun konsisten dengan operasi serupa yang dilancarkan Hizbullah di masa lalu.

"Operasi Hizbullah yang terselubung dan membidik target lebih jauh ke ruang dalam Suriah atau 'wilayah musuh' bukan semacam perkembangan yang mengejutkan," kata Lister. "Setelah semua itu, pelatihan Hizbullah menggabungkan semua kemampuan yang diperlukan untuk operasi tersebut, dan ada preseden untuk evolusi taktis serupa, khususnya terhadap Israel."

Lister menambahkan bahwa serangan itu "membuka pasukannya hingga mampu memperluas kapasitas operasional mereka yang mencakup serangan kualitatif rahasia pada infrastruktur dan kepemimpinan senior pihak musuh."

Stasiun televisi al-Manar yang berafiliasi dengan Hizbullah memuji "operasi kualitatif" itu dan menayangkan foto hitam-putih vila itu sebelum dan setelah serangan. Al-Manar mengatakan bahwa operasi itu dilakukan 11 kilometer (7 mil) jauhnya dalam wilayah pemberontak dekat daerah Hawsh Arab.

Stasiun ini juga melaporkan bahwa tiga ahli bom yang tewas itu berada di balik serangan bunuh diri yang menargetkan Libanon. Kelompok pemberontak Suriah dan para pendukungnya semakin meningkatkan serangan bunuh diri dan serangan lainnya di lingkungan Syiah di Libanon sebagai balas dendam atas dukungan Hizbullah terhadap Assad. Puluhan orang tewas dalam beberapa bulan terakhir, di mana sebagian besar mereka adalah warga sipil biasa.

Sementara itu, pasukan Suriah terus menuai keuntungan dari pengalaman Hizbullah.

"Sejak krisis dimulai sampai sekarang telah terjadi perkembangan besar dalam kinerja pasukan Suriah," kata Qassim Qassir, seorang pakar Hizbullah yang menulis untuk surat kabar harian as-Safir, Libanon.

Salah satu operasi paling mematikan terhadap pemberontak di Suriah terjadi pada bulan Februari, ketika pasukan yang setia pada Assad menewaskan 175 pemberontak, yang kebanyakan adalah jihadis al-Qaida, dalam penyergapan dekat Damaskus. Serangan--yang difilmkan dan disiarkan secara eksklusif oleh al-Manar--itu digambarkan sebagai salah satu serangan paling mematikan oleh pasukan pemerintah terhadap para pemberontak dekat ibukota sejak krisis dimulai pada Maret 2011. Banyak yang percaya bahwa Hizbullah mengatur serangan itu karena al-Manar memiliki akses ke situ dan berdasarkan fakta bahwa para pejuang kelompok itu aktif di wilayah tersebut.

Para pejabat Libanon yang dekat dengan Hizbullah mengatakan, para pejuang kelompok itu menjadi ujung tombak operasi di dekat perbatasan Libanon, di mana mereka menghujani daerah itu dengan artileri, roket peluncur ganda, dan mortir sebelum menyerbunya. Setelah suatu daerah dikuasai, mereka akan menyerahkannya pada tentara Suriah atau milisi pro-pemerintah Suriah yang dikenal sebagai Tentara Nasional.

"Mereka tidak percaya pada siapa pun," kata seorang pejabat. "Mereka disergap beberapa kali dan kehilangan sejumlah pejuang elit." (IT/PS/rj)


Resistensi Militer Lebanon dan Hizbullah 

Hadapi Arogansi Israel

 


Rezim Zionis Israel rupanya terus berupaya membalas kekalahan delapan tahun lalu dalam perang 33 hari di Lebanon. Kepala Staf Militer Israel, Benny Gantz menandaskan perang di masa mendatang di Lebanon sangat sulit dan mengerikan.
 
Benny Gantzmengancam Gerakan Perlawanan Islam Lebanon (Hizbullah) dengan serangan darat di Beirut. Ia mengungkapkan, manuver darat militer Israel di perbatasan Lebanon adalah langkah penting dan diperlukan. Militer Israel menurutnya akan berusaha keras mencegah kemajuan kemampuan pasukan Hizbullah.
 
Sheikh Muhammad Rashid Qabbani, mufti besar Lebanon seraya memperingatkan dampak dari perang dan bentrokan bersenjata di negara ini mengatakan, kesepahaman dan interaksi konstruktif berbagai kubu Lebanon akan memperkokoh persatuan serta solidaritas rakyat dan menghapus ancaman rezim Zionis.
 
Statemen dan peringatan terbaru petinggi Lebanon kian memperkuat asumsi bahwa Rezim Zionis Israel tengah berusaha melakukan petualangan anti Hizbullah di Lebanon setelah perundingan damai dengan Otorita Ramallah gagal. Hal ini tak lain ditempuh Israel untuk mengalihkan opini publik. Khususnya saat ini setelah pemerintahan Tammam Salam yang memulai tugasnya dengan slogan tiga poros "Militer, Rakyat dan Muqawama" membuat petinggi Beirut menyadari kebersamaan militer dan Hizbullah sebagai faktor penting dalam melawan ancaman Tel Aviv.
 
Amerika Serikat dan Israel dengan memperkuat gerakan pro Barat di dalam negeri Lebanon, tengah berusaha menciptakan kekacauan dan instabilitas di negara ini. Muqawama merupakan solusi tunggal untuk membebaskan sejumlah wilayah Lebanon yang masih diduduki Israel. Wilayah Ladang Shebaa merupakan daerah penting dari wilayah jajahan yang masih menjadi lokasi konspirasi militer Israel terhadap rakyat Lebanon dalam beberapa dekade ini.
 
Di sisi lain, pelanggaran zona udara oleh jet-jet tempur Israel serta aksi bombardir wilayah perbatasan oleh rezim ilegal ini mengindikasikan upaya Tel Aviv menciptakan instabilitas di Lebanon. Khususnya kini Barat dan Israel gagal menggapai ambisinya dalam perang yang mereka kobarkan di Suriah. Oleh karena itu, mereka ingin mengobarkan perang serupa di wilayah perbatasan Lebanon.
 
Berbagai peristiwa seperti instabilitas di Tripoli, pengobaran kerusuhan di provinsi utara Lebanon serta operasi teroris beruntun di kawasan utara, selatan dan Beirut adalah gerakan terorganisir untuk merealisaikan tujuan busuk ini. Sementara pemerintahan Tammam Salam memulai kinerjanya dengan penuh kesulitan. Tak hanya itu, pemilu presiden dan parlemen kian menambah sensitifitas kondisi di Lebanon.
 
Mengingat rangkaian peristiwa dan transformasi di Lebanon saat ini, ancaman petinggi Israel untuk kembali mengobarkan perang di Lebanon meski lebih dicermati sebagai blunder politik, namun juga mencerminkan upaya jahat Israel di wialyah perbatasan Lebanon. (IRIB Indonesia/MF

KISAH LAIN DARI SEJARAH YANG HAMPIR SAMA DENGAN YANG TERJADI DI SURIAH...MAKKAH...BAGDAD...DAN HERZEGOVINA....??    DIMANA ORANG2 YANG TIDAK WARAS TELAH MERUSAK WARISAN BUDAYA DUNIA...  
ADA WATAK MANUSIA YANG MEMBENCI SEJARAH HINGGA KEAKAR DASARNYA...???  MEREKA2 ITU LAHIR DAN BERKUASA...DENGAN DENDAM DAN HASAD...YANG MEMBUTA.....???  
MUNGKIN INI MUSUH2 YANG AKAN DIHADAPI SURIAH DAN HEZBULLAH DIMASA YANG AKAN DATANG...?? 


Gerakan Takfiri
Amuk Penghapusan Ingatan
Islam Times-http://www.islamtimes.org/vdcd9x0sfyt0ko6.lp2y.html
 Jenderal Serbia Ratko Mladić atas nama supremasi etnis dan agama memerintahkan agar gedung itu dibakar dengan tembakan dan 25 bom api, meskipun gedung perpustakaan yang aslinya bernama Gedung Vijecnica itu sudah ditandai bendera biru yang berarti gedung berstatus warisan budaya.
Deklarasi organisasi Takfiri dukungan Saudi Arabia
Deklarasi organisasi Takfiri dukungan Saudi Arabia

Oleh Hertasning Ichlas

MATAHARI tertutup asap dari muntahan buku-buku yang dibombardir mesiu. Di sekujur kota lembaran-lembaran kertas yang terbakar, halaman-halaman abu yang rapuh, menari-nari beterbangan seperti salju hitam yang kotor. Kemal Bakaršić, Kepala Perpustakaan Museum Nasional Bosnia-Herzegovina dalam catatannya mengatakan serangan biadab itu berlangsung kurang dari setengah jam.

Pustakawan lain bernama Vjekoslav hanya bisa terdiam bersimpuh dengan tangan memegangi kepala. “Tak ada yang tersisa di sini,” ucapnya lirih. Dia melihat asap membumbung dan kertas-kertas beterbangan ke segala arah. “Saya ingin menangis, ingin berteriak. Selama sisa umur ini, saya harus menanggung beban ingatan bagaimana mereka membakar perpustakaan ini.”

Perpustakaan Nasional Bosnia-Herzegovina (berdiri tahun 1888), sebuah bangunan di tepi Sungai Miljacka di Sarajevo, berusia satu abad lebih yang tinggi menjulang bersalin tempias cahaya berwarna-warna indah, telah diberondong tembakan dan bom sejak pukul setengah sebelas malam pada 25 Agustus 1992.

Jenderal Serbia Ratko Mladić atas nama supremasi etnis dan agama memerintahkan agar gedung itu dibakar dengan tembakan dan 25 bom api, meskipun gedung perpustakaan yang aslinya bernama Gedung Vijecnica itu sudah ditandai bendera biru yang berarti gedung berstatus warisan budaya.

Perpustakaan itu menyimpan 1,5 juta buku, 155 ribu teks langka, 478 manuskrip, dan jutaan terbitan berkala dari seluruh dunia. Sebagian besarnya rontok terbakar bersama robohnya tiang-tiang perpustakaan bergaya Moor.

Penyair Bosnia bernama Goran Simić di tahun 1993 melukiskan situasi itu dalam “Ratapan Bagi Vijecnica” dengan potongan kata-kata:

…dan tiap hari makin banyak hantu dan kian sedikit orang yang hidup. Aku mengunci diri di rumah. Dan aku tidak beranjak sampai radio mengabarkan bagaimana mereka bisa mengambil sepuluh ton arang dari gudang bawah Perpustakaan Nasional yang dibakar.

Apa yang terjadi pada perpustakaan itu hanya sebagian kecil dari penghancuran di seluruh Bosnia-Herzegovina. Antara tahun 1992 hingga berakhirnya perang, 5 jutaan buku, manuskrip, foto, perkamen, inkunabula telah musnah. Ada 188 perpustakaan rusak dan 43 di antaranya musnah. 1200 masjid, 150 gereja Katolik, 10 gereja Ortodoks, 4 Sinagog, dan lebih 1000 monumen budaya rusak porak-poranda.

Dewan Eropa mengeluarkan pernyataan telah terjadinya aksi-aksi kekerasan paling radikal dalam sejarah Eropa serta bencana kebudayaan Eropa dalam kadar yang amat mengerikan. Dewan Keamanan PBB menyatakan “penghancuran secara sengaja atas benda-benda budaya yang tidak dapat dijustifikasi oleh kepentingan militer.”

Fernando Baez yang meneliti penghancuran buku dari masa ke masa dalam bukunya A Universal History of The Destruction of Books mengatakan “bahkan Nazi pun tak seefisien ini (Boznia-Herzegovina) dalam memusnahkan buku.”


***
Robert Fisk, jurnalis senior koran The Independent menyaksikan penjarahan dan pembakaran buku di Baghdad pada 10 April 2003. Dia menulis “…inilah bab terakhir pendudukan Baghdad. Perpustakaan Nasional dan arsip serta harta karun dokumen-dokumen bersejarah dari zaman Ottoman yang tak ternilai harganya, termasuk arsip kerajaan kuno di Irak berubah menjadi abu dalam panas 3.000 derajat…”

Fisk berpapasan langsung dengan pembakar dan penjarah serta tentara-tentara Amerika yang tidak berbuat apa-apa. Dia menjamah lembaran-lembaran berkas surat yang tertiup angin di udara. Dipegangnya sisa-sia terakhir sejarah tertulis Irak yang ada di Baghdad. Ada tulisan tangan Sharif Hussein di Mekah saat memulai revolusi Arab menentang Turki untuk Lawrence dari Arab bersama penguasa Ottoman di Baghdad.

Fisk menulis “bagi Irak ini adalah Tahun Nol; dengan dihancurkannya benda-benda antik di Museum Arkeologi pada hari Sabtu dan pembakaran Arsip Nasional kemudian perpustakaan Al-Quran. Identitas budaya Irak tengah dihapus. Mengapa? Siapa yang menyalakan api ini? Untuk tujuan gila macam apakah warisan ini dimusnahkan?”

Fernando Baez datang ke Baghdad pada 10 Mei 2003 sebagai anggota komisi internasional yang dikirim untuk meneliti seberapa besar kerusakan Perpustakaan Nasional Baghdad atau dalam bahasa Arab disebut Dar al-Kutub Wal-Watha’q. Rupanya tanggal 10 hari itu adalah hari yang fatal untuk kebudayaan Irak.


Dia melihat bagaimana gedung tiga lantai seluas 10.240 meter persegi yang dibangun pada 1977 rusak luluh-lantak terbakar. Ledakan mengoyak jendela-jendala perpustakaan. Ruang baca, kartu katalog dan buku-buku semuanya telah menjadi rata. Cahaya yang ditapis oleh jendela memperlihatkan ribuan kertas-kertas berhamburan di lantai.

Patung Saddam Hussein yang berdiri tegak di pintu masuk perpustakaan, dengan tangan kirinya terangkat memberi salam, sementara tangan kanannya mendekap buku di dadanya, membekaskan suasana melankolis sekaligus ironis yang sangat kuat. Dia telah tumbang bersamaan dengan seluruh warisan ingatan warga Irak. Betapa pun sulit dipercaya, menurut Baez, seperti penguasa lalim lainnya, Saddam adalah seorang kutu buku.

Penghancuran Perpustakaan Nasional, Museum Arkeologi dan tempat-tempat bersejarah lainnya di Irak adalah kiamat kecil bagi pelestarian ingatan warga Irak. Saat penjarahan dan pembakaran usai, secara harafiah sama sekali tak ada yang diperbuat oleh Amerika. Padahal sekelompok arkeolog Amerika melalui Martin Sullivan, penasihat kebudayaan presiden, telah memperingatkan Presiden George W. Bush untuk melindungi museum-museum dan situs-situs purbakala. Namun penjarahan tetap terjadi diikuti rasa frustasi Martin Sullivan yang kemudian mengundurkan diri.

Timbul perdebatan tentang besaran kerugian yang diderita atas musnahnya buku-buku di Perpustakaan Nasional dan tempat lain. Namun berdasarkan laporan kurator, pustakawan dan observasi Fernando Baez, terhitung hampir satu juta buku lenyap, ratusan ribu benda-benda bersejarah dijarah dan dimusnahkan begitu saja.

Yang paling menyakitkan adalah kepastian hilangnya edisi-edisi lawas Kisah 1001 Malam, risalah-risalah matematika Umar Khayyam, traktat filosofis Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Kindi dan Al Farabi, buku-buku sejarah peradaban Sumeria, Arab Encyclopedia, sebagian besar risalah sufi di Masjid Qadiriya serta Meshaf Resh (Kitab Hitam) yang mengupas kebudayaan kelompok keagamaan pra-Islam yang hidup di utara wilayah Irak. Begitu juga masjid-masijd dan situs-situs peninggalan lainnya seperti Patung Eros, Patung Shalmaneser, Patung Poseidon dan Apollo dimusnahkan begitu saja.

Mantan Direktur Perpustakaan Nasional Baghdad melukiskan petaka kebudayaan itu dalam komentarnya “saya tidak ingat kelakuan barbar macam ini pernah terjadi, selain pada zaman Mongol,” ucapnya. Yang dia maksud adalah peristiwa tahun 1258 ketika pasukan Hulagu, keturunan Gengis Khan, menaklukkan Baghdad dan menghancurkan semua buku dengan membuangnya ke Sungai Tigris.

Fernando Baez sendiri dalam laporannya menuliskan sebuah kesimpulan bahwa penghancuran kebudayaan di Irak tidak dilakukan oleh ketidaktahuan awam atau kurangnya pendidikan, melainkan oleh kaum terdidik dengan motif ideologis masing-masing. Laporan kesaksian matanya tentang efek Invasi Irak telah membuatnya di-persona non-grata-kan oleh Pemerintah Amerika.

***
Kali ini kita tidak menemukan perang atau invasi. Bahkan sebenarnya kita tengah berada di Mekah dan Madinah, dua kota suci umat Islam terletak di gugusan Kerajaan Arab Saudi. Di kota-kota ini penghormatan terhadap jejak orang-orang suci yang membuat dua kota ini ikutan menjadi suci sangatlah buruk. Orang-orang diajak larut dalam spiritualisme di tengah tanah-tanah yang didandani semakin mirip Las Vegas.

Sungguh mengherankan, di tengah jutaan umat Islam sibuk berhaji atau umrah menyembah Allah Swt dan menaati panggilan Rasulnya; pribadi agung yang di dalam ajaran Islam menjadi alasan Allah Swt menciptakan semesta dan segala isinya, justru jejak-jejaknya dan keluarganya bukan lagi sedang diabaikan, atau diumpat dengan kata-kata sirik dan bidah oleh penjaga yang kasar, namun di-buldozer dalam maknanya yang harafiah. Kejadian itu terjadi persis di depan mata umat Islam yang begitu khusuknya beribadah memuja Allah Swt dan Rasulnya sehingga memilih geming membatu melihat kejadian penghancuran demi penghancuran di pelupuk mata mereka.

Jerome Taylor, wartawan The Independent meliput hal ini dan melihat foto-foto penghancuran yang membuatnya terperangah. Wilayah Masjid al-Haram, situs suci Islam, dan tempat di bumi ini dimana semua Muslimin menurutnya seharusnya setara dan sejajar, sebagiannya telah digantikan Kompleks Jabal Omar yang mengkilap dan menor. Di situ terbangun apartemen pencakar langit, hotel super mewah, mall perbelanjaan, dan gedung-gedung tinggi.

Rezim kerajaan Arab Saudi menurut The Independent selama 10 tahun belakangan ini sangat aktif membuldozer kota suci Mekah dan Madinah, direstui oleh ulama-ulama Wahabi yang anti perlindungan dan penghormatan terhadap situs-situs bersejarah Islam terutama yang berkaitan dengan Nabi Muhammad, dengan berbekal tafsir keagamaan mereka: sirik!

Lihatlah sebuah pamflet yang diterbitkan Kementerian Urusan Agama Arab Saudi di tahun 2007. Di situ tertera pengumuman proyek penghancuran kubah, dan perataan makam Nabi Muhammad, Sahabat Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Tertera pula di pamflet itu Grand Mufti Arab Saudi Sheikh Abdul Aziz mengabsahkan proyek itu untuk dilakukan dibubuhi pendapat Ibnu Tayyimiyah, Bapak Wahabisme abad 20 yang juga menghendaki ide tersebut.


Raja Abdullah menunjuk langsung Imam Utama Masjid, Abdul Rahman al-Sudais yang sebagai penanggung jawab perluasan dan perombakan areal Mekah dan Madinah, ditemani Perusahaan Bin Ladin Grup, salah satu perusahaan terbesar di sana, sebagai kontraktornya.

Situs-situs peninggalan Ottoman dan Abbasiyah yang mengarah ke jejak Nabi Muhammad telah disingkirkan secara sistematis. Program penghapusan ingatan sejarah di Mekah dan Madinah itu diselimuti alasan untuk mencapai perluasan area guna menampung 1,6 juta peziarah di Masjid al-Haram dan Masjid Nabawi tempat Nabi Suci Muhammad dimakamkan.

Tapi, Dr. Irfan al-Alawi, Direktur Eksekutif Yayasan Penelitian Warisan Islam mengatakan alasan itu hanya omong kosong belaka. “Apa yang mereka inginkan adalah menjauhkan perhatian orang dari tempat di mana Nabi dikuburkan,” ucap Irfan. Penyingkiran situs-situs suci itu menurut Irfan al-Alawi akan meninggalkan ketidaktahuan generasi mendatang tentang kemuliaan tempat-tempat suci itu.

Coba tengoklah tempat kelahiran Nabi, jejak kelahiran manusia agung ini disapu dalam sekejab berubah menjadi perpustakaan dilatari gedung-gedung baja yang konkret dan memancarkan metropolitanisme. Jabal Nur dan jejak-jejak kenabian lainnya di sekitar Mekah dan Madinah pelan-pelan juga dilumat pembangunan yang didorong oleh paham Wahabisme.


Namun yang lebih mencekat kerongkongan dan meremas hati adalah rumah Siti Khadijah, istri Nabi dan perempuan yang sangat dihormati Nabi, telah berubah menjadi toilet umum. Seturut dengan makam-makam keluarga Nabi lainnya yang berjuang membela Islam telah dipreteli oleh rezim menjadi hanya gundukan-gundukan tanah seolah tanpa makna dan penghormatan.

Kota Mekah dan Madinah telah berubah dari tempat suci menjadi Las Vegas, tulis Jerome Taylor. Yang mengherankan, menurut Jerome, selain Turki dan Iran, umat Islam sedunia relatif diam melihat vandalisme budaya yang dilakukan rezim Arab Saudi. Sebagian alasannya karena otoriternya rezim yang didukung mutlak pandangan wahabisme ini. Alasan lain yang berbau hipokrit karena negara dunia Islam takut kehilangan jatah visa bagi peziarah haji dan umrah mereka.

Wahabisme, paham keagamaan yang cenderung ekstrim dan hitam putih ini, telah menjadi pendukung utama proyek penghapusan ingatan dan pembuldezoran terhadap sejarah kenabian. Paham ini telah melayani dan berjalin kelindan dengan kekuasaan keluarga al-Saud sejak pertama kali kerajaan ini terbentuk di sepanjang Semenanjung Arab sejak abad 19.

Di mata Wahabisme, situs historis dan makam-makam tergolong sirik dan harus dimusnahkan. Mereka juga menolak memperingati Maulid Nabi dan menganggapnya bukan ajaran Islam. Hal pertama ketika kekuasaan al-Saud merambah Kota Mekah di tahun 1920an adalah merontokkan makam-makam tokoh utama Islam.

Di kota Mekah, di mana Nabi Muhammad pernah mematri hati dan pikiran setiap Muslim tentang nilai kesetaraan dan persamaan, yang memandang manusia tanpa kelas sosial, kini telah berubah menjadi semacam playground bagi orang-orang kaya dan penikmat gaya hidup jet set.

Tengoklah di sekitar Kabah, tak jauh dari sekelebatan mata, terdapat Royal Mecca Clock Tower, sebuah superblok mewah dikelilingi gedung pencakar langit, hotel bintang lima dan pusat perbelanjaan yang dibangun melalui pembuldezoran jejak-jejak suci kota dan pribadi-pribadi agung yang bersemayam di kota-kota itu, sehingga 12 juta umat manusia sudi menziarahi kota gurun itu setiap tahun untuk Haji dan Umrah.

Kapitalisme yang telanjang telah menyihir spritualitas dan keegaliteran Mekah dan Madinah yang selamanya seharusnya menjadi raison d\\\'être kedua kota suci itu. Lihatlah bagaimana Mekah dan Madinah kini memprovokasi pertentangan kelas antara yang kaya dan miskin. Minoritas orang-orang kaya dimanjakan akses sedekat mungkin dengan Kabah dan Masjid Nabawi, sementara orang-orang kebanyakan diletakkan bermil-mil dari pusat peribadata
n.

Arab Saudi dan Wahabisme sedang aktif-aktifnya mengekspor pandangan keagamaan mereka yang pada banyak hal menolak dan menghancurkan ingatan agung terhadap pembawa Islam dan manusia-manusia agung yang ramah memberi sapaan spiritual kepada umat Islam sedunia.

Wahabisme memaksudkan sangat serius perlunya perubahan cara pandang umat Islam ke arah yang mereka kehendaki sebagai bagian dari ‘crusade’ mereka; pada banyak hal untuk melindungi kepentingan kekuasaan dan primordial kerajaan. Apa pun mereka lakukan untuk melakukan itu, termasuk politik penghancuran ingatan yang dikenal dengan istilah muram: Damnatio Memoriae.

Rebbeca Knuth dalam bukunya Libricide: The Regime-sponsored Destruction of Books and Libraries in the Twentieth Century. Wesport, Conn: Preager 2003, menunjukkan apa yang disebut sebagai \\"lubrisida\\" (penghancuran buku & perpustakaan) suatu praktik yang sistematis dari suatu rezim terhadap buku dan warisan budaya yang dilakukan demi pencapaian tujuan-tujuan ideologi jangka pendek maupun jangka panjang. Librisida juga mengindikasikan adanya kelompok di dalam masyarakat yang hendak mendominasi negara dan memiliki gagasan ekstrim mengenai masyarakat.[IT/Herta]

*Koordinator Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Universali


Gerakan Takfiri Internasional
Arab Saudi Biayai Mossad?
Islam Times- http://www.islamtimes.org/vdcgyy9wyak9ny4.1ira.html
"Pemimpin zionis 'Israel' dan Arab [Saudi] utamanya ketakutan kalau-kalau (berdasarkan tuduhan tak beralasan dan tanpa bukti bahwa) Iran mengembangkan senjata nuklir. Jadi, itu alamiah saja (bersama AS) mereka akan mendukung program terkoordinasi untuk setidaknya memperlambat , jika tidak mencacatkan secara permanen, program nuklir Iran."
Bandar dan Mossad
Bandar dan Mossad

Tulisan berikut disarikan dan diterjemahkan secara bebas dari artikel karya Barry Lando, "Saudis Bankrolling Israel’s Mossad: More Confirmation?" yang dimuat dalam situs myDFL.

*****

Pada 12 Oktober 2012, saya berspekulasi soal adanya kemungkinan kuat Arab Saudi mendanai Mossad "Israel". Dana tersebut dikeluarkan, antara lain, untuk membunuh beberapa pakar nuklir Iran selama beberapa tahun terakhir.
Kerjasama itu, sebagaimana saya tulis, merupakan perkembangan ganjil terbaru dalam aliansi rahasia antara rezim zionis "Israel" dengan Arab Saudi yang mengklaim dirinya sebagai penjaga situs Islam paling suci. Huffington Post menolak untuk menjalankan blog itu karena saya hanya punya satu sumber yang tidak mengizinkan untuk disebutkan namanya. Sebaliknya, saya mempostingnya dalam situs saya sendiri dan yang lain.

Blog itu terkena virus, terutama di Israel, Iran, dan Arab Saudi, yang dikutip beberapa kantor berita. Sekarang, klaim tersebut telah mendapat sokongan baru dari sumber "Isarel" yang punya reputasi. Tapi sebelum ke situ, inilah blog asli saya.

"Seorang teman, dengan sumber yang bagus dalam pemerintahan "Israel", mengklaim bahwa kepala Mossad "Israel" telah membuat beberapa perjalanan untuk berurusan dengan rekan-rekannya di Arab Saudi--salah satu hasilnya: terjalin kesepakatan bahwa Saudi akan membiayai serangkaian pembunuhan beberapa pakar nuklir Iran yang telah terjadi selama beberapa tahun terakhir. Jumlah [dana] yang dikucurkan, klaim sumber saya, sebesar 1 miliar dollar AS. Total biaya, katanya, yang dianggap cukup murah untuk kerusakan yang dilakukan terhadap program nuklir Iran."


"Sekilas, kisah tersebut terdengar tidak masuk akal. Di sisi lain, itu sangat masuk akal. Rawa keruh politik Timur Tengah tidak berhubungan dengan slogan-slogan sederhana dan 30 detik suara debat calon presiden.

Setelah semua itu, tak satupun tempat yang melebihi Timur Tengah yang memberlakukan pepatah: musuh dari musuh saya adalah teman saya. Keduanya, "Israel" dan Saudi, terus-terusan membenci pemimpin revolusioner Syiah Iran. Gayung pun bersambut. Teheran telah lama dituduh memicu kegelisahan warga Syiah Saudi.

"Pemimpin zionis 'Israel' dan Arab [Saudi] utamanya ketakutan kalau-kalau (berdasarkan tuduhan tak beralasan dan tanpa bukti bahwa) Iran mengembangkan senjata nuklir. Jadi, itu alamiah saja (bersama AS) mereka akan mendukung program terkoordinasi untuk setidaknya memperlambat , jika tidak mencacatkan secara permanen, program nuklir Iran."

"Juga masuk akal secara sempurna, jika sebagai pembalasan atas serangan cyber pada sentrifugalnya, Iran dikabarkan meluncurkan serangan cyber sendiri dengan target [situs-situs] milik Saudi: Saudi Aramco, perusahaan [minyak] dunia yang paling berharga. Terakhir, pada 15 Agustus 2013, seseorang dengan akses istimewa ke komputer Aramco mampu melepaskan virus yang mendatangkan malapetaka bagi sistem perusahaan. Pakar intelijen AS mengarahkan jari telunjuknya ke Teheran."

"Memang, laporan awal tahun Tel Aviv University itu menempatkan Arab Saudi sebagai harapan terakhir dan garis pertahanan 'Israel'. Bersama sebagian besar sekutu tradisional 'Israel' di wilayah tersebut yang menirimkan pake atau dirusak Musim Semi Arab (Kebangkitan Islam--red.), Saudi merupakan kesempatan terakhir Negara [fiktif zionis] Yahudi itu untuk melindungi kepentingan politiknya di dunia Arab."

*****

Sekarang muncul konfirmasi lebih lanjut terhadap aliansi ganjil tersebut, dari blog Tikun Olam milik Richard Silverstein yang sangat baik. Silverstein mendapatkan banyak masukan dari sejumlah wartawan "Israel" yang seringkali menyampaikan informasi yang tidak boleh dipublikasikan di "Israel". Silverstein juga terus memantau media "Israel".

Ia terus mengikuti kerjasama erat "Israel" dengan Arab Saudi dalam menarget Suriah dan Iran. Dalam log terbarunya, ia melaporkan,

"Shalom Yerushalmi yang menulis di Maariv, bahkan menjatuhkan bom yag lebih menakjubkan.

Arab Saudi tidak hanya mengkoordinasikan upaya intelijennya sendiri dengan 'Israel'. Ia (Aa Saudi) benar-benar membiayai banyak kampanye 'Israel' yang sangat mahal terhadap Iran. Seperti yang Anda tahu, semua itu telah melibatkan sabotase besar-besaran terhadap basis rudal IRGC, pembunuhan lima ilmuwan nuklir, penciptaan serangkaian senjata cyber komputer seperti Stuxnet dan Flame. Juga dapat dibayangkan, semua itu melibatkan seluruh kelas senjata elektronik dan konvensional yang dapat digunakan dalam serangan besar-besaran terhadap Iran Siapa tahu, ini mungkin termasuk melibatkan pelbagai jenis bom penghancur bunker yang hanya AS saat ini yang memiliki akses terhadapnya, yang dapat menembus fasilitas [nuklir] Fordo. Mungkin juga termasuk sejumlah besar super-tanker yang dapat menyediakan bahan bakar yang diperlukan untuk pesawat-pesawat 'Israel' untuk pulang-pergi Iran. Semua ini mahal. Sangat mahal."

Sebagai latar belakang dari ceritanya, Yerushalmi, seraya mengutip pidato terbaru Perdana Menteri "Israel" Bibi Nethanyahu, mengacu pada kemungkinan bahwa negara-negara Arab, yang secara pribadi menjaga hubungan lebih baik dengan "Israel" saat ini ketimbang dengan Uni Eropa, akan melakukannya secara terbuka jika upaya perdamaian gagal.

"Nethanyahu," tulis wartawan "Israel", "merujuk hampir pasti ke Arab Saudi yang mendanai biaya kampanye besar-besaran yang kami sedang lakukan terhadap Iran."

"Pertanyaan" yang dituliskan Silverstein dalam blognya, "adalah, seberapa jauh Arab Saudi mampu melakukannya. Jika Bibi pernah memutuskan untuk melancarkan serangan, akankah dana tersebut berasal dari negara Sunni itu juga? Jawabannya tampaknya jelas, ya.

"Pertanyaan selanjutnya adalah, mengingat adanya sensor militer serbaketat di 'Israel', mengapa sensor itu membolehkan Maariv mempublikasikannya? Entah seseorang terlelap saat ganti jaga atau IDF serta pejabat politik dan intelijen 'Israel' ingin dunia tahu tentang upaya Saudi-'Israel' itu. Siapa yang khususnya ingin mereka tahu? Obama tentu saja... 'Israel' tidak perlu lagi hanya mengandalkan AS jika memutuskan untuk berperang. Arab Saudi akan berdiri tepat di belakangnya...."

"Saya tidak berpikir bahwa berita ini secara substansial akan mengubah kalkulus militer. 'Israel', bahkan dengan dana tak terbatas, tetap tak dapat mengumpulkan senjata dan amunisi yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan dengan benar. Itu akan memakan waktu. Namun 'Israel' tidak akan perang esok hari. Berita yang dilaporkan Maariv ini agaknya [mengilustrasikan] Bibi sedang memainkan satu kartu di tangannya. Ini upaya memperingatkan presiden (Obama) bahwa AS bukan lagi satu-satunya pemain di kota...." (IT/FDL/rj).
Hegemoni Global
Imperialisme AS Paling Biadab Versus Dunia
Islam Times- http://www.islamtimes.org/vdcjxmethuqeiyz.bnfu.html
Menurut Kimberley, istilah imperialisme mungkin tak lagi digunakan dalam beberapa dekade terakhir. "Jika terlihat sedikit berbalik ke belakang," tulis Kimberley, "itu hanya karena tidak banyak warga Amerika yang berkomitmen untuk mengatakan kebenaran yang buruk ihwal pemerintahnya.
Tentara AS
Tentara AS

Presiden Obama telah menempatkan seluruh bangsa dalam Daftar Bunuh-nya. Suriah dan Venezuela bergabung dengan Libya dan Irak sebagai negara yang telah dibuat gagal, sementara Ukraina terbang ke dalam orbit NATO (Uni Eropa). Proyek neo-konservatif untuk abad Amerika baru telah mencapai hasil penuh di bawah presiden dari Partai Demokrat, yang kini memiliki banyak takik di bedilnya. Demikian ungkap analis Margaret Kimberley.

Menurut Kimberley, istilah imperialisme mungkin tak lagi digunakan dalam beberapa dekade terakhir. "Jika terlihat sedikit berbalik ke belakang," tulis Kimberley, "itu hanya karena tidak banyak warga Amerika yang berkomitmen untuk mengatakan kebenaran yang buruk ihwal pemerintahnya. "Selama era perang dingin, lanjutnya, tersebar kabar bahwa komunisme meningkat pengaruhnya melalui efek domino, merobohkan negara satu per satu dan memaksa mereka memasuki orbit Moskow atau Beijing. Pada abad ke-21, muncul teori domino baru yang menempatkan setiap bagian dari dunia ke jejaring Amerika.

Barack Obama, ujar Kimberley, telah berhasil memperluas pengaruh Amerika dengan cara yang bisa diimpikan George W. Bush dan Dick Cheney. "Proyek neo-konservatif untuk abad Amerika baru telah mencapai hasil penuh di bawah presiden dari Partai Demokrat itu, yang kini memiliki banyak takik di bedilnya. Ia dan seluruh pemimpin NATO memulai jejak kehancuran dengan Libya, merobek-robek negara itu di balik kedok 'menyelamatkannya'," imbuhnya.

Menurut Kimberley, dengan menggunakan kebohongan dan para pelayan di media korporasi, mereka membangun sebuah kisah tentang seorang tiran dan orang-orang yang mengharapkan perlindungan. "Kejahatan itu berhasil membuat mereka dan sekutu monarkinya di Teluk terlihat jauh lebih berani dan memutuskan bahwa Suriah akan menjadi domino berikutnya," katanya.

Namun, lanjut Kimberley, rencana itu tidak berjalan secepat yang dibayangkan Obama dan seluruh tim pembunuhnya. "Ketika parlemen Inggris menolak melakukan petualangan militer baru, tinggalah Obama menggerutu di televisi nasional. Ia dipaksa untuk mundur dari posisi bersikukuh yang baru diambilnya beberapa hari sebelumnya" tulisnya.

Kemunduran semi-komedi itu, kata Kimberle,y hanya sementara karena monster harus diberi makan dengan biaya apapun. "Sistem ini tidak dapat lagi menopang dirinya sendiri dan kekerasan pun menjadi satu-satunya jalan keluar. Tak ada yang kuno seputar imperialisme . Kekuatan jahat ini masih hidup dan afiat," tegasnya.


George W. Bush berupaya menggulingkan revolusioner Bolivarian yang terpilih secara demokratis di Venezuela ketika ia berkomplot dengan pihak oposisi melawan mendiang Hugo Chavez, papar Kimberley. "Obama jelas lebih berkomitmen terhadap kekerasan dibandingkan pendahulunya dan telah membantu menghidupkan sayap kanan Venezuela yang ingin membebaskan diri dari Nicolas Maduro," lanjutnya.

Kimberley menilai, warga Venezuela telah memilih revolusinya berkali-kali. "Namun AS, negara yang tidak pernah berhenti menyebut dirinya demokratis, telah menggagalkan keinginan mereka yang jelas-jelas terus diekspresikan dari waktu ke waktu. Tapi itulah esensi kekaisaran imperialis," tulisnya.

Saat memblokir untuk sementara pemberontak bersenjata Suriah, lanjut Kimberley, Barat beserta monarki Teluk Persia, "Israel", dan kelompok jihadis terus berupaya menggulingkan pemerintah Bashar al-Assad di Suriah. "Perang biadab itu telah mengakibatkan ribuan warga Suriah kehilangan tempat tinggal dan pengungsi kelaparan. Semua itu dikarenakan kekaisaran (imperialis) membutuhkan domino berikutnya," katanya.

AS tak hanya ikut campur di halaman belakang sendiri, tapi juga tanpa henti ikut campur di sisi lain dunia yang jauh, yaitu di Ukraina, terang Kimberley. "Ketidakpuasan rakyat terhadap presiden negara itu menjadikan usaha membawa negara itu ke dalam lingkup pengaruh ekonomi barat berhasil namun dengan memasang tali penghematan yang mengerikan. Ukraina menghadapi pilihan: bangkrut atau diselamatkan untuk kemudian mati perlahan ala Yunani," lanjutnya.

Sementara intrik terjadi, kata Kimberley, Presiden Obama memperingatkan Vladimir Putin untuk tidak ikut campur dengan ancaman sanksi. "Adegan sesekali protes kekerasan jalanan di Ukraina kebetulan memperjelas maksud klaim terkenal AS 'bertanggung jawab melindungi' sebagai tidak pernah melindungi siapa pun yang benar-benar membutuhkan bantuan dan telah membawa begitu banyak penderitaan bagi masyarakat di seluruh dunia," tegasnya.

Setiap invasi, pendudukan, dan gangguan dalam beberapa tahun terakhir, lanjut Kimberley, dapat diletakkan di telapak kaki AS dan sekutunya. "Irak telah dihancurkan secara harfiah, Iran dilumpuhkan secara ekonomi. Libya dirampas, dan Suriah berada di tepi jurang," katanya.

AS cukup terbuka untuk menjelaskan bahwa dirinya ingin memiliki jalan di dunia, tulis Kimberley. "Jika mencoba menggunakan pengaruhnya, maka Rusia akan difitnah dan dikarikatur sebagai diktator kejam yang dikendalikan seorang tiran. Tidak peduli berapa banyak pemilihan umum yang dimenangkan Chavez dan sekarang Maduro, mereka tetap disebut diktator oleh kepala perunding Amerika," lanjutnya.

Sebuah negara yang merasa dirinya adidaya itu (AS), ujar Kimberley, dapat menyulut konflik di mana pun dan kapan pun yang diinginkanya. "Venezuela harus menyerah kalah atau menghadapi masa depan yang lebih bergejolak dan penuh kekerasan. Ukraina harus meneken kebijakan ekonomi yang telah terbukti menjadi malapetaka. AS meninggalkan sidik jari pada semua itu dan di banyak tempat lain, dan itulah inti imperialisme. Ini semua berkenaan dengan pengendalian melalui kekuatan brutal paling biadab yang ada," paparnya.

AS, lanjut Kimberley, memang belum secara resmi menjadikan Venezuela atau negara lainnya sebagai koloni. "Namun AS merasa tidak perlu melakukan itu. Hanya, harus ditunjukkan bahwa itu (AS) adalah bos dan kartu domino akan jatuh di mana pun sesuai keinginannya," pungkasnya. (IT/GR/rj)


Gerakan Takfiri Internasional
Inilah Skenario dan Tren Terorisme 2014
Islam Times- http://www.islamtimes.org/vdcd9z0s5yt09n6.lp2y.html
Ancaman radikalisasi dan ekstremisme, papar Raj, sedang menjadi persoalan keamanan global di tengah masyarakat internasional. "Semua itu, bersama dukungan politik dari kalangan Muslim yang mendominasi kawasan, tidak membuatnya lebih baik," ujarnya.
Amerikaiswahabisme
Amerikaiswahabisme

Terorisme berwajah Islam dan militansi agama (baca: Wahhabi Takfiri) akan terus berkembang dan menyebar luas dalam waktu dekat. Ancaman ekstremisme di Timur Tengah telah terfragmentasi dan mulai bergerak ke Afrika, Eropa Timur, Asia Timur, dan kawasan Asia selama dekade terakhir.

Demikian ungkap pakar kontra-terorisme asal Malaysia, Andrin Raj. "Konflik Suriah telah memicu peluang perekrutan bagi penyebarluasan Muslim di Eropa dan global untuk bergabung dalam peperangan di Suriah," lanjutnya.

Menurut Henry Jackson Society di London, lanjut Raj, sekitar 400 orang warga Inggris telah teridentifikasi melakukan perjalanan ke Suriah. "Mereka telah bergabung dengan kelompok yang berafiliasi dengan al-Qaeda untuk berperang di sana," katanya.

Menurut Raj, Suriah akan mendominasi fokus seluruh Jihadis dalam menarik aliran dana dan pemberontak asing dalam jumlah besar. "Tampanya tidak terlalu menjanjikan bagi Afrika, Timur Tengah, dan Asia untuk membatasi derasnya kaum ekstrimis dan militansi agama," imbuhnya.

Asia Tenggara akan menjadi ajang bermain baru bagi kelompok ekstremis dan militansi agama untuk menguji pengaruh mereka, kata Raj. "Keseluruhan wilayah ini juga sangat retan dan ancaman tersebut akan mendominasi di masa depan," lanjutnya.

Ancaman radikalisasi dan ekstremisme, papar Raj, sedang menjadi persoalan keamanan global di tengah masyarakat internasional. "Semua itu, bersama dukungan politik dari kalangan Muslim yang mendominasi kawasan, tidak membuatnya lebih baik," ujarnya.

Timur Tengah, Afrika, dan Asia, lanjut Raj, akan terus menghadapi ekstremisme dan pemberontakan militansi agama. "Inti al-Qaeda bukan lagi mengenai siapa dirinya serta struktur operasionalnya juga telah berubah selama bertahun-tahun," katanya.

Kelompok ekstrimis dan militansi agama sekarang, ujar Raj, fokus pada kapasitasnya untuk bergerak maju. "Kami juga melihat serangan berskala kecil oleh pelaku tunggal dan kelompok agama berusaha melakukan tindakan terorisme global," lanjutnya.

Namun ancaman utama belum bergeser dan akan tetap menjadi operasional inti bagi al-Qaeda.

Sel-sel teroris yang memiliki hubungan dengan al- Qaeda di Pakistan tengah (AQP) dan Asia Tenggara, tutur Raj, akan tetap menjadi fokus pihak pemerintah di kawasan itu dalam melancarkan kontra-terorisme global. "Ancaman baru al-Qaeda sedang bergaung di cakrawala dan akan berlanjut menjadi 9/11 lain dalam waktu dekat," ujarnya mengingatkan.

Pengeboman di Rusia sebelum Olimpiade Musim Dingin di Sochi, kata Raj, merupakan bukti nyata bahwa kemampuan kelompok-kelompok teroris selangkah lebih maju dari pihak otoritas.

"Secara global, al-Qaeda di Jazirah Arab (AQAP) akan tetap menjadi ancaman bagi Barat yang akan diarahkan dari Yaman, al-Qaeda di kawasan Maghreb Islam (AQIM) akan bergerak menuju wilayah Africana, dan al-Qaeda di Pacific Rim (AQPR) akan meliputi wilayah Asia Pasifik," papar Raj. Panggung regional tersebut akan mendominasi perburuan al-Qaeda terhadap destabilisasi global, lanjutnya.

"Asia Tenggara akan mengalami dampak yang besar dari ancaman radikalisasi dan ekstremisme jika pemerintah Muslim gagal membatasi mereka," tegasnya. Ancaman kelompok-kelompok ini, lanutnya, akan berlangsung bersamaan dengan sengketa regional saat ini yang melibatkan beberapa negara Asia di Laut Cina Selatan.

"Meningkatnya ancaman kelompok militan agama yang mulai terbentuk di kawasan ini akan menciptakan lahan subur bagi kelompok teroris untuk beroperasi," terang Raj. Serangan terhadap Sabah dan Zamboanga oleh Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) tahun lalu bersama Kesultanan Sulu dan Kelompok Abu Sayyaf, ujarnya, dapat menggagalkan pembicaraan damai antara Pemerintah Filipina dengan Front Pembebasan Islam Moro (MILF).

"Ancaman itu belum berakhir dan kita akan melihat upaya terus menerus mengacaukan kesepakatan damai sebelum 2016, saat ketika perjanjian damai sepenuhnya ditetapkan dalam pembentukan wilayah Bangsa Moro," papar Raj. MNLF akan terus melancarkan serangan, dan dapat menyasar infrastruktur seperti pada kilang minyak dan gas, kapal pembawa gas cair..., ujarnya.

"Ancaman juga lebih jauh akan menciptakan gangguan perekonomian jika serangan terjadi di Selat Malaka atau bahkan menuju Cina Laut Selatan," kata Raj. Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Kelompok Abu Sayyaf, lanjutnya, telah bekerja sama dalam mendukung MNLF dan Kesultanan Sulu karena mereka cukup terlatih dalam operasi ini.

"Ketegangan agama di Myanmar akibat kekerasan terhadap suku Rohighya terus memburuk dan situasi kemanusiaan [di sana] cukup mengerikan," ujar Raj. Pengaruhnya telah menjalar ke Bangladesh, Thailand, dan terus ke selatan Thailand yang berbatasan dengan Malaysia, lanjutnya.

"Ancaman teroris Thailand selatan saat ini juga telah meluber ke Malaysia dengan pergerakan operatif keluar-masuk kedua negara itu dengan leluasa," katanya, seraya mengingatkan bahwa ancaman itu ters meningkat dan situasinya makin memburuk.

"Prospek 2014 cukup merisaukan, seperti yang kita saksikan, situasi memburuk di Republik Afrika Tengah, Kenya, dan Sudan, sementara situasi yang tidak berubah meliputi Timur Tengah, Asia, dan Asia Timur," papar Raj. Situasi berisiko konflik di Asia Tenggara, lanjutnya, akan mencakup daerah di wilayah Poso Indonesia dan Indonesia secara keseluruhan, serta Thailand Selatan dan Filipina Selatan.

"Dampak radikalisasi dan ekstremisme di daerah-daerah tersebut kemungkinan akan terasa tidak hanya selama tahun mendatang, melainkan malah sepanjang dekade berikutnya, dan bahkan lebih, sebagaimana diklaim para pakar keamanan," teramg Raj. Wilayah tersebut juga diidentifikasi sebagai struktur yang mendukung ekstremisme kekerasan dan fundamentalis agama, lanjutnya.

"Skenario ancaman itu sama sekali tidak boleh dianggap remeh," pungkas Raj. (IT/FZ/rj)
Hegemoni Global
Inilah 15 Skandal Politik Amerika, Saudi dan Israel
Islam Times - http://www.islamtimes.org/vdciruaprt1aqp2.k8ct.html
Berkat penyelidikan jurnalistik wartawan kawakan AS di bidang intelijen dan urusan internasional, Wayne Madsen, beberapa di antaranya yang sangat sensitif berhasil dibongar dan dipublikasikan.
Presiden AS dan Raja Abdullah (Press TV)
Presiden AS dan Raja Abdullah (Press TV)

Di balik sepak-terjang politiknya yang arogan dan jahat, AS dan Israel ternyata menutup rapat-rapat banyak rahasia dari jangkaun publik. Berkat penyelidikan jurnalistik wartawan kawakan AS di bidang intelijen dan urusan internasional, Wayne Madsen, beberapa di antaranya yang sangat sensitif berhasil dibongar dan dipublikasikan.

Berikut adalah 15 rahasia politik temuannya:

1. CIA memperalat Swedia untuk mencuci transferan kabel (data) yang telah diseleksi dan disunting Departemen Luar Negeri AS ke Wikileaks dan pengiriman kabel berikutnya sebagai pra-seleksi terhadap entitas perusahaan media berita. Swedia dipilih untuk menjadikan rilis kabel Wikileaks tidak terlihat berhubungan dengan program operasi psikologis terselubung CIA dan Pentagon yang dirancang mengontrol lebih lanjut dunia maya. Operasi Wikileaks dilakukan dengan bantuan dua pemimpin politik terkemuka Swedia yang telah mempertahankan hubungan lamanya dengan CIA dan badan pemerintah AS terkait. Salah satu konspiratornya adalah Perdana Menteri Swedia, Fredrik Reinfeldt yang ditemukan di sekolah tinggi Swedia oleh petugas Partai Republik AS Karl Rove.

2 . Obama seorang gay. Silahkan merujuk artikel "Obama Member of Gay Bath House" (http://beforeitsnews.com/alternative/2013/04/obama-member-of-gay-bath-house-2622992.html). Menurut sejumlah sumber dalam komunitas gay Chicago, serta kalangan veteran politik di sana, Presiden Obama dan kepala staf rumah tangganya, Rahm Emanuel, menjadi anggota seumur hidup rumah mandi gay di Chicago.

3. Serangan 9/11 adalah operasi yang dilakukan Mossad, intelijen Saudi dan unsur-unsur CIA.

4 . Ratusan ilmuwan Irak yang dibunuh atau meninggal dalam kecelakaan setelah invasi pada 2003 sebenarnya dibunuh tim pembunuh Mossad yang beroperasi di Irak (The Palestine Telegraph).

5. Pada 2010, Pakistan Daily melaporkan bahwa sumber tanpa nama menyebut perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai Blackwater, telah melancarkan operasi bendera-palsu di Pakistan yang tanggungjawabnya dibebankan pada Tehrik-i-Taliban Pakistan.

6. Anggota AIPAC dan Mossad Israel mendominasi manajemen CNN. "Lobi Israel menguasai Kongres, media, Hollywood, Wall Street, kedua partai politik (Republik dan Demokrat), serta Gedung Putih."

7. Beberapa pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) PBB tak dikenal dan para ilmuwan percaya bahwa ketegangan virus flu babi baru H1N1 yang menyebar pada tahun 2009 tampaknya merupakan produk militer yang mensponsori rekayasa genetika yang bertentangan dengan proses alamiah.

8. Tuntutan pidana terhadap Gubernur Negara Bagian New York Eliot Spitzer sebagian disebabkan oleh badan intelijen Mossad (Arabnews, 2008).

9. Pada Oktober 2005, "Mantan agen CIA tak dikenal" mengklaim bahwa kapal induk USS Cole benar-benar terkena rudal jelajah Popeye yang diluncurkan kapal selam Israel kelas Dolphin.

10. Pada 2005, AS diam-diam melancarkan perang sipil di Republik Demokratik Kongo.

11. Pada 2003, terbongkar informasi dalam laporan rahasia kongres yang menghubungkan serangan 11 September 2001 dengan penguasa Arab Saudi dan pemerintahan Bush lewat transaksi keuangan dengan para pembajak.

12. Pada 2002, Angkatan Laut AS membantu percobaan penggulingan Presiden Venezuela, Hugo Chavez (The Guardian).

13. Pada 2007, terbongkar jaringan diplomat pedofil yang melibatkan Kedutaan Besar AS di Bangkok.

14. Pada 2011, melalui penelitian untuk buku "Manufacturing of a President" di Jakarta, dilaporkan tentang adanya hubungan antara ibu Barack Obama, Stanley Ann Dunham-Soetoro dan ayah tirinya yang berasal dari Indonesia Lolo Soetoro, dengan kudeta CIA terhadap presiden Sukarno pada 1965 dan setelahnya.

15. Pada 2012, ditemukan fakta pencucian uang (money laundering) kasino Sheldon Adelson di Makau yang digunakan untuk kampanye pemilihan presiden Mitt Romney. (IT/A/rj)

Pecah Telur di Qusair: Peran Hizbullah di Suriah

OPINI | 20 June 2013 | 17:33
http://politik.kompasiana.com/2013/06/20/pecah-telur-di-qusair-peran-hizbullah-di-suriah-570666.html
 
1371724359277854562
Foto: Twitter/ @Jeanassy. Foto-foto serupa juga terpampang di bandara-bandara internasional Libanon dua bulan lalu, yang membuat Duta Besar Arab Saudi kebakaran djenggot dan mengajukan nota protes kepada pemerintah Libanon supaya mencabut foto-foto tersebut.

MASALAHNYA sederhana, cukup sederhana: jika para pendukung teroris Suriah mampu melakukan lebih dari yang sudah mereka lakukan selama ini, maka pasti mereka telah melakukannya di hari-hari yang lewat. Tapi, seperti kata pepatah, semua kekuatan ada batasnya. Dan kini giliran blok pendukung teroris Suriah yang sedang terbentur dinding tebal itu.

Teriakan ancaman yang nyaring mereka kumandangkan hari-hari ini lebih terdengar seperti rintihan sakaratul maut para tikus ketimbang sesuatu yang laten.

Di Libanon, misalnya, blok politik pendukung teroris telah mengambil prakarsa agresif untuk mendukung aksi-aksi terorisme dengan sumber daya manusia dan logistik yang massif sejak hari-hari pertama krisis politik di Suriah. Sejumlah media massa nasional Libanon sejak awal mengumumkan perang atas rezim Bashar Assad. Media yang sama kemudian mulai membeber prediksi bahwa masa kekuasaan Assad akan berakhir dalam dua atau tiga bulan. Tidak lebih. Lalu para komentator dalam acara-acara itu mengumbar ancaman dan prediksi suram poros Iran-Suriah-Hizbullah pasca kejatuhan Assad, persis suara-suara sumbing pendukung mujahilin di Kompasiana ini.

Dari sejak itu pula media massa pro teroris Suriah terus mencuci otak publik dunia dengan propaganda yang, seperti tombak bermatalamat dua, menyerang Hizbullah dengan harapan kelompok perlawanan tercekam dan menggigil ketakutan. Degungnya membesar di tengah aksi pengusiran, penculikan, pembantaian, dan pembakaran rumah-rumah warga Syiah simpatisan Hizbullah yang tinggal di wilayah perbatasan Suriah-Libanon, tepatnya di wilayah Qusair.

Dalam berbagai kesempatan, Sekjen Hizbullah, Sayyid Hasan Nashrallah, mengajak seluruh pihak yang bertikai untuk menyelesaikan konflik di Suriah lewat negosiasi dan kompromi politik.

Dengan berbagai pertimbangan matang, dia berpendapat tak ada solusi militer atas krisis politik di Suriah. Namun, tampaknya, ajakan bijak ini ditanggapi secara keliru kelompok teroris-takfiri didikan Arab Saudi dan para pendukungnya di kawasan (Arab dan Turki) dan Barat (AS, Israel dan Eropa). Mereka mengira ajakan perdamaian itu isyarat kelemahan dan ungkapan kekalahan.

Seiring berjalannya waktu, wilayah Qusair yang berbatasan dengan Bekaa dan Hermel yang dihuni oleh mayoritas Syiah justru dijadikan sebagai markas militer teroris al-Qaeda, Front An-Nusra. Tidak hanya itu, tiap hari kelompok takfiri ini tak henti-hentinya memprovokasi para penduduk Syiah di kota-kota perbatasan dengan berbagai ujaran kebencian dan aksi teror. Tiap pekan satu dua mortir ditembakkan oleh jaringan teroris ke salah satu kota di wilayah Bekaa yang menampung ribuan pengungsi Syiah yang terusir dari Qusair.

Setelah provokasi yang bertubi-tubi, kembali Sayyid Nashrullah muncul di televisi memperingatkan kelompok teroris takfiri dan pendukungnya agar tidak mengganggu warga yang tidak bersenjata hanya karena perbedaan pandangan politik.

Tapi, tampaknya, tiap kali Sekjen Hizbullah itu muncul mengemukakan pesan, media pendukung teroris selalu menemukan cara untuk memutarbalik fakta dan mengeskalasi ketegangan. Keadaan ini kemudian diperburuk dengan munculnya ustadz-ustadz karbitan yang tiap Jumat naik mimbar untuk mengobarkan semangat jihad melawan kaum “kafir Syiah” di Suriah, khususnya di wilayah Qusair dan menuduh Hizbullah ikut berperang di sana membela rezim Assad.

Dan akhirnya, sejak akhir April silam, Tentara Arab Suriah (TAS) memutuskan untuk merebut kembali kota Qusair yang strategis tersebut.

Nilai strategis kota ini terletak pada posisinya yang berbatasan dengan wilayah Libanon sehingga menjadi jalur suplai logistik dan senjata yang efektif bagi manuver pemberontak di Provinsi Homs.

Selain itu, kota ini juga merupakan jalur yang menghubungkan Damaskus dengan Laut Tengah. Setelah lebih dari setahun dikuasai pemberontak dan menjadi pusat penampungan, pelatihan dan penyaluran teroris anti Damaskus, jatuhnya kota ini dapat dianggap sebagai salah satu titik-balik dalam keseluruhan peta strategis peperangan selanjutnya.

Dalam beberapa pekan terakhir, TAS yang dibantu oleh kekuatan paramiliter yang disebut dengan Komite Pertahanan Sipil berhasil memukul para teroris didikan Arab Saudi, Qatar, Turki, AS dan Eropah dan mengepung mereka di Qusair. Kota strategis ini telah berhasil direbut kembali oleh pemerintah Damaskus.

Pembersihan kantong-kantong teroris di dalam kota tentu membutuhkan waktu yang lebih lama, mengingat watak perang kota yang berbeda dengan perang konvensional.

Tapi sejarah telah mencatat kesigapan TAS beradaptasi dan bermetamorfosa guna meredam dengus kebiadaban teroris Suriah yang kian hari kian memperlihatkan kebangkrutan moral. Untuk yang terakhir, bisa dilihat dari kebengisan mereka memakan jantung tentara Suriah yang mereka bunuh dengan keji dan mempertontonkannya via video di Youtube sebagai bukti “kejantanan”.

Sejarah juga bakal mencatat kalau dua tahun pertempuran absurd yang terjadi di Suriah mendatangkan berkah, berupa terbukanya mata banyak umat Islam akan sosok sejati di balik jubah Islam para pemberontak-cum-teroris di Suriah.

Menggambarkan diri dan digadang-gadang pers Barat sebagai “mujahidin”, mereka sejatinya sangat berbeda dengan “mujahidin” Afghanistan di era 80-an yang mendapat dukungan penuh dari seluruh umat Islam kala itu — meski untuk yang satu ini kemudian diketahui kalau mereka banyak dimanfaatkan oleh dinas intelijen Amerika Serikat.

Jika mau jeli, sebenarnya ada banyak faktor yang membedakan dua kelompok ini.
Pertama, mujahidin Afghanistan merupakan penduduk asli yang sedang melawan penjajah asing (Uni Soviet kala itu), sebagaimana pejuang Hizbullah melawan invasi Israel.

Kedua, mujahidin era 80-an itu tidak pernah mengumandangkan kebencian sektarian dan tidak membawa ideologi takfiri sebagaimana “mujahilin” Suriah saat ini.

Para komandan mujahidin Afghanistan waktu itu berasal dari berbagai mazhab dan aliran Islam yang hidup berdampingan dan saling membahu demi satu tujuan: mengusir penjajah. [Black Horse]


Iran VS Hegemoni Global
Sumbu Harapan: Dari Beijing Hingga Beirut via Moskow-Tehran-Damaskus (1)
Islam Times- 
 http://www.islamtimes.org/vdcip3apvt1awv2.k8ct.html
Sumbu ini berakar pada kebijakan politik Barat yang diperuntukkan bagi wilayah ini. AS, diikuti negara-negara besar Barat, telah menyatakan bagaimana kepentingan ekonomi harus dipertahankan dengan biaya apapun. Kebijakan bias ini telah menghasilkan ketegangan selama bertahun-tahun, sumber konflik bersenjata, dan perkelahian jalanan yang tak henti-hentinya memberi makan berita-berita televisi.
Labbaika Ya Khamenei
Labbaika Ya Khamenei

A. Skenario "Islam versus Islam"


Strategi AS rancangan Zbigniew Brzezinski yang memanfaatkan dukungan kaum obskurantis Islam untuk melawan kebijakan Muslim progresif maupun Rusia, memicu aliansi untuk melawannya. Kini China, Rusia, Iran, Suriah, dan Hizbullah berdiri bersama-sama untuk melawan.

Pada akhirnya, perangkap pun bermunculan untuk kalangan yang memang sengaja menyiapkannya.

Iran, Suriah dan Libanon berkat Hizbullah dan para sekutunya, yang dianggap Barat selama bertahun-tahun sebagai sumber kejahatan karena dukungannya terhadap apa yang mereka sebut "terorisme", belum selesai dibicarakan. Setelah perlakuan individual terhadap masing-masing mereka sesuai proyek perpecahan politik di wilayah tersebut, seutas sumbu telah terbangun dengan sendirinya, yang dimulai dari gerbang Rusia dan Cina dan berujung di Tel Aviv.


Sumbu ini berakar pada kebijakan politik Barat yang diperuntukkan bagi wilayah ini. AS, diikuti negara-negara besar Barat, telah menyatakan bagaimana kepentingan ekonomi harus dipertahankan dengan biaya apapun. Kebijakan bias ini telah menghasilkan ketegangan selama bertahun-tahun, sumber konflik bersenjata, dan perkelahian jalanan yang tak henti-hentinya memberi makan berita-berita televisi.

Kebijakan ini, yang diabadikan untuk beberapa waktu, dilaksanakan dengan dukungan pemangku kepentingan lokal. Namun, percepatan terjadi setelah runtuhnya Tembok Berlin, yang disaksikan sebagai peristiwa bersejarah, yang justru menandai munculnya strategi agresif dan menghina terhadap Timur Tengah.


Uni Soviet telah menghilang, negara-negara di wilayah ini tidak bisa berharap apapun selain mengandalkan kontrol Barat, terutama AS. Alih-alih mengambil keuntungan dari posisi istimewa sebagai penengah ini, AS dan beberapa negara Barat lainnya lebih mendukung benturan dan dominasi "Timur Tengah yang diperluas" melalui intervensi langsung di Irak dan Afghanistan, juga di Libanon, Yaman, dan Maghreb, termasuk niat yang telah diungkapkan, di Suriah dan Iran.

AS diketahui, sejak tahun 70-an, setelah guncangan minyak, harus mengendalikan sumber-sumber bahan baku, terutama minyak, serta rute untuk mengakses sumber daya tersebut. Karena, mereka memiliki pengalaman pahit dalam menemukan kebutuhan vital ini, baik untuk ekonomi mereka maupun untuk kenyamanan warganya.

Para ahli berbeda pendapat seputar penilaian terhadap cadangan gas dan hidrokarbon, namun gagasannya tetap konstan, yaitu sifat terbatas kekayaan tersebut yang terletak di tangan Badui (Arab Saudi) serakah yang tidak membutuhkan emas selama waktu luang dan kesenangan mereka dibiayai.

Saat "benturan peradaban" Samuel Huntington menggantikan Perang Dingin, bagi AS, Islam telah menjadi musuh baru yang berguna, semacam "sekutu", melawan Eropa. Secara pragmatis dan oportunistik, AS melihat dalam gerakan Islam terdapat "alasan yang tepat" dan memilih memainkan kartu Muslim untuk lebih mengontrol jalur emas hitam. Mereka telah merasakan manfaat dari sekutu berbahaya ini, jauh sebelum ledakan komunisme.

Diawali pula pada 1970-an, AS mendukung ekstremis Islam, dari Ikhwanul Muslimin Suriah hingga kelompok Islam Bosnia dan Albania, dari Taliban hingga Jamaah Islamiyyah Mesir. Bahkan terdapat pembicaraan tentang hubungan mereka dengan FIS (Front Penyelamat Islam) yang menjadi pelaku kekerasan "GIA" di Aljazair. Mereka memanjakan kaum Wahhabi yang dianut monarki Saudi pro-AS yang mendanai hampir semua jaringan Islam (dangkal dan takfiri) di seluruh dunia. Mereka memainkan... gerakan fundamentalis yang mereka percaya betul mampu ditangani, kendati kadang-kadang berbalik melawan "Setan Besar" untuk mencapai tujuannya sendiri.

Sebaliknya, AS mengabaikan atau ingin menetralisir negara-negara Muslim yang mungkin dimaksudkan untuk mendapatkan kekuasaan politik dan otonomi relatif. Lihat saja Presiden Jimmy Carter yang mengabaikan Syah (Pahlevi), sementara Iran menjadi tuan minyak. Sebagai tambahan, terdapat pula keinginan untuk menghancurkan tanda-tanda kemerdekaan intelektual, bahkan di negara-negara Arab sekuler seperti Suriah, Mesir, dan Irak.

Permainan dengan Islamisme menghasilkan kerugian pada gerakan sekuler yang mewakili alternatif politik Islam radikal.... Namun, "Islamisme" jelas tidak dapat divampuradukan dengan Republik Iran "Islam" yang memiliki asal-usul tidak lazim. Selain itu, beberapa penulis yang khusus mempelajari gerakan Islam terkadang membuat kesalahan dengan mencampuradukan Republik Islam Iran dengan kaum Islamis, kendati keduanya tidak memiliki kesamaan, kecuali fakta bahwa keduanya merujuk pada Islam dan Syariah. Perbedaan mendasarnya adalah definisi Islam politik yang diusung satu sama lain.

Setiap hal memisahkan keduanya secara mendasar dan jika memang AS tidak berbuat banyak untuk menyelamatkan Syah, sikap ini dibenarkan oleh mereka untuk alasan strategis, karena Iran bagi mereka sama sekali tidak boleh menjadi kekuatan regional yang besar. Ini dijelaskan beberapa waktu setelah jatuhnya Syah, di mana AS menginisatifkan perang yang dilancarkan Saddam Hussein terhadap tetangganya, yang menghancurkan kedua negara yang dapat memiliki pengaruh menentukan di kawasan Teluk.

Namun, perkembangan di Iran selepas perang dengan Irak memungkinkannya menjadi kekuatan regional nyata yang ditakuti monarki Teluk tertentu, yang lebih suka mempercayakan keamanan dirinya pada Barat, terutama AS. Sebagai imbalannya, mereka mempercayakan "sumberdaya"nya pada perekonomian Barat serta mendanai kegiatan dan gerakan yang didesain dinas rahasia Washington.

Monarki yang sama menutup mata terhadap pelbagai peristiwa saat ini di beberapa daerah, termasuk Palestina, meskipun mereka mengklaim mendukung aspirasi rakyat Palestina. Mereka menjadi negara Arab pertama yang menjalin kontak langsung atau rahasia dengan "Israel", yang kemudian memicu pemulihan hubungan antara gerakan perlawanan Palestina dengan Iran.

Iran saat ini tampil sebagai satu-satunya pihak yang bersedia membela tempat-tempat suci Islam dengan pasukan al-Quds, cabang dari Pengawal Revolusi, dan lewat dukungannya terhadap Hamas. Sihir AS telah berbalik melawan penyihirnya.

Bagi Amerika Utara, dunia Arab-Muslim tetap dipandang sebagai dunia kaya minyak, dapat dieksploitasi sesuka hati, namun secara abu-abu miskin dan dipatok dalam kondisi ketergantungan total terhadap teknologi (Barat), pasar dari miliaran konsumen yang tak berdaya secara politik, militer, dan ekonomi. (IT/GR/rj)

Iran VS Hegemoni Global
Sumbu Harapan: Dari Beijing Hingga Beirut via Moskow-Tehran-Damaskus
Islam Times- http://www.islamtimes.org/vdcjmyetvuqemvz.bnfu.html
Ini merupakan pekerjaan yang telah dipersiapkan selama bertahun-tahun dan telah diujicoba selama Perang Dingin. Contoh paling mencolok adalah Chile, yang terus berlanjut sampai hari ini dengan apa yang terkenal sebagai "revolusi berwarna" dan "Musim Semi Arab" (dalam perspektif Islam, "Kebangkitan Islam"--red.). Tindakan yang sama sedang dipersiapkan di negara-negara lain yang kita saksikan dalam sejumlah tajuk berita, terutama di Azerbaijan.
Teknologi Iran
Teknologi Iran

B. Aturan Main

Sumbu Teheran-Beirut melalui Baghdad dan Damaskus terwujud secara progresif dengan mengorbankan strategi Washington di kawasan tersebut. Secara esensial selama bertahun-tahun, sumbu ini mengadopsi sekutu dan mitra secara khusus akibat sanksi terhadap Iran dan Suriah.

Selain itu, secara historis, jalur Damaskus-Moskow belum pernah ditangguhkan kendati Uni Soviet menghilang dan munculnya periode penuh gejolak yang dialami Federasi Rusia. Namun kemunculan Presiden Vladimir Putin yang bercita-cita mengembalikan peran Rusia di kancah internasional dan melindungi kepentingan strategisnya, bukanlah yang diinginkan AS.

Di pihaknya, Iran akan mengembangkan hubungan dengan Rusia, menjadikannya sekutu objektifnya dalam bernegosiasi dengan Barat seputar program nuklirnya. Cina juga telah memperkuat hubungan dengan Tehran, terutama setelah diberlakukannya embargo terhadap perekonomian Iran (oleh Barat).

Kedua kekuatan besar itu telah menjadi basis strategis "Sumbu Harapan". Jelas bahwa setiap pihak pasti mengecap manfaat, namun Rusia dan Cina justru senang memiliki mitra yang memahkotai bidak-bidak lawan historisnya, seraya menikmati posisi minyak dan gas Iran serta dan posisi strategis yang muncul dari situasi Suriah ketimbang posisi yang diajukan AS.

Dalam bukunya, "The Grand Chessboard, America and the Rest of the World", yang diterbitkan pada 1997, Zbigniew Brzezinski, mantan penasehat keamanan nasional di masa Presiden Carter dan sangat berpengaruh di era kepresidenan AS (Bill) Clinton, mengungkapkan dengan keterbukaan yang sinis tentang alasan akar strategi keislaman negaranya. Menurutnya, tantangan utama AS adalah Eurasia, sebuah hamparan luas mulai dari Eropa Barat hingga China melalui Asia Tengah, "Dari sudut pandang Amerika, Rusia tampaknya ditakdirkan untuk menjadi masalah...."

Karena itu, AS menjadi lebih dan lebih tertarik lagi pada pengembangan sumberdaya di wilayah tersebut dan berusaha mencegah Rusia menggenggam supremasi. "Kebijakan AS bertujuan, baik untuk melemahkan Rusia maupun tak adanya otonomi militer Eropa. Karena itu perluasan NATO ke Eropa Tengah dan Timur, dalam rangka mempertahankan kehadiran AS, sementara rumus bagi pertahanan Eropa mampu melawan hegemoni Amerika di benua lama, akan melibatkan sumbu 'anti-hegemoni Paris-Berlin-Moskow'."

Faktanya, melalui pilihannya sendiri, AS justru telah gagal secara politik karena melakukan kekeliruan di semua lini yang digunakan sebagai basis untuk menaklukkan sumber minyak dan gas. Negara-negara Barat juga nyaris mengabaikan semua strateginya dan mempercayakan kebijakan luar negerinya pada AS. Bahkan jika mencoba menyelamatkan muka dengan beberapa penampilan, mereka tahu bahwa mereka bukan satu-satunya pihak yang menggelar pertunjukan. Contoh terbaru, François Hollande dan Laurent Fabius memainkan ayo-perang menjadi sebuah ilustrasi: mereka harus melipat dengan cepat, seraya memahami bahwa negosiasi antara Lavrov dan Kerry lebih utama didahulukan ketimbang keinginan mereka.

C. Tanggapan Sang Harimau

Menimbang kegagalan manuvernya, AS kemudian bermaksud meningkatkan ketegangan melawan otoritas Rusia yang bertekad melawan mereka; sementara Cina tetap berada dalam kehati-hatian untuk menilai situasi, terlebih sedikit cenderung mempercayai Washington....

Patut diingat bahwa Cina tertarik pada Timur Tengah sebesar ketertarikan Rusia: tanda pertamanya kembali ke tahun 1958 selama krisis Libanon yang menyebabkan pendaratan AS di pantai Libanon, di mana Beijing sangat keberatan, jauh sebelum Uni Soviet.

Manuver AS itu secara khusus sangat mapan, karena prosesnya relatif sederhana. Pertama, AS berpartisipasi dalam pembentukan LSM yang diharapkan mengadvokasi hak asasi manusia. Ini mendorong beberapa "whistleblower" (pembocor rahasia), dan menyediakan forum bagi lawan yang jelas tanpa lingkup yang besar untuk menciptakan pada waktu tertentu, seperangkat kondisi untuk mendestabilisasi negara.

Ini merupakan pekerjaan yang telah dipersiapkan selama bertahun-tahun dan telah diujicoba selama Perang Dingin. Contoh paling mencolok adalah Chile, yang terus berlanjut sampai hari ini dengan apa yang terkenal sebagai "revolusi berwarna" dan "Musim Semi Arab" (dalam perspektif Islam, "Kebangkitan Islam"--red.). Tindakan yang sama sedang dipersiapkan di negara-negara lain yang kita saksikan dalam sejumlah tajuk berita, terutama di Azerbaijan.

Dalam konteks inilah "sejumlah peristiwa" meletup di Iran pada Juni 2009, dengan dalih "kondisi penuh tantangan" bagi pemilihan Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Republik Islam harus menghadapinya selama hampir sembilan bulan. Hizbullah juga diutak-atik, selepas serangan "Israel" yang berlangsung selama 33 hari, oleh plot pemerintahan baru (Fuad Siniora cs yang pro Barat) yang berniat melucuti ala-alat yang berhubungan langsung dengan keamanannya, yaitu jaringan komunikasi. Hizbullah langsung memberi respon cepat dan efektif pada 7 Mei 2008 yang membuat komplotan itu terhina....

Negara (Arab) lain yang tetap berada dalam "Sumbu Harapan" hanyalah Suriah, yang telah dieringatkan AS, jika tidak memtus hubungan dengan Iran dan Hizbullah, akan menanggung nasib yang sama dengan negara-negara Arab lainnya yang terimbas "musim semi" yang seharusnya membawa camar demokrasi, namun yang dibawa justru hanya segerombolan gagak teror dan instabilitas.

Dalam konteks inilah, "revolusi berwarna" yang terkenal mengimbas Rusia melalui contoh Ukraina. Revolusi itu telah merampas sebagian besar lahan strategis Rusia. Uni Eropa (UE) diperalat, dengan menjadikannya tuan rumah bagi Ukraina dengan janji bantuan dan kondisi ekonomi yang lebih baik. Namun, kenyataannya, peristiwa ini justru memungkinkan AS mendirikan pangkalan militer di depan gerbang Moskow. Saat itu, Rusia, dilemahkan oleh kekuatan (Ukraina) yang tidak memiliki ambisi (ekspansi) atau tak punya kemampuan untuk merespon (ancaman Rusia).

Rusia hari ini tidak terima jika contoh ini berulang di seluruh Ukraina. Ini menjelaskan aksi langsungnya (terhadap rezim hasil kudeta Ukraina). Reaksinya adalah, tampilan ("revolusi")nya sama dengan yang terjadi di Timur Tengah, namun perlu ditegaskan bahwa "demokrasi tidak dilakukan di jalanan, melainkan lewa kemenangan dalam pemilu. Jika pihak oposisi bernafsu merebut kekuasaan, maka itu harus harus dilakukan lewat pemilihan umum.

Terlepas dari itu, Rusia, nyaris mengalami agresi dari milisi Chechnya yang membawa kematian dan teror di wilayahnya dengan dukungan keuangan dari beberapa monarki Teluk yang tentu saja bermaksud membela kepentingannya. Ini menjelaskan ancaman terselubung yang dilakukan Arab Saudi yang mengatakan, "Kami dapat membantu Anda menghindari ancaman terorisme di Sochi, jika Anda mengalah dalam urusan Suriah." Jelas, tawaran mereka (yakni, Arab Saudi melalui wakilnya, Pangeran Bandar bin Sultan--red.) yang sebenarnya merupakan ancaman, ditolak mentah-mentah.

Dalam peristiwa apapun, ini menunjukkan peran monarki Teluk dan pemanfaatan gerakan Islam untuk diam-diam mempromosikan kebijakan AS yang, melalui destabilisasi beberapa negara, percaya bahwa mereka menciptakan kondisi yang akan lebih menguntungkan AS di wilayah tersebut.

Poros atau Sumbu Beijing-Beirut melalui Moskow, Teheran, dan Damaskus, hanya akan tumbuh lebih kuat. Ini jelas-jelas merupakan persoalan "melawan". Menurut pepatah Timur, "Jangan kembalikan kucing ke sudut, karena berisiko menjumpainya berubah menjadi harimau." Tapi apa yang akan terjadi jika kita mencoba mengembalikan harimau ke sudut? Sudah pasti, tak seorang pun ingin mengetahui jawabannya. (IT/Vn/rj)

*Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari artikel karya analis sejarah internasional dan geopolitik André Chamy yang dimuat dalam situs Voltaire Networks (9/3/2014).


Hizbullah dan Konspirasi Asing di Suriah



Sekjen Hizbullah, Sayid Hasan Nasrullah seraya menekankan kegagalan konspirasi asing di Suriah dan Lebanon mengatakan, era disintegrasi dan peruntuhan pemerintah Damaskus telah berakhir serta kini pemerintah Suriah semakin pupular dan memiliki basis rakyat yang kokoh.
 
Sayid Hasan Nasrullah dalam wawancara eksklusifnya dengan Koran al Safir menjelaskan transformasi Suriah dan dampaknya bagi kondisi Lebanon. "Setelah tiga tahun berlalu konspirasi kolektif Barat, Arab dan Rezim Zionis Israel terhadap Suriah, pemerintah Damaskus dengan dukungan militer dan rakyat berhasil melewati masa-masa kejatuhan dan disintegrasi serta kini tengah mengambil alih wilayah yang diduduki para teroris," jelas sekjen Hizbullah.
 
Dalam kesempatan tersebut sekjen Hizbullah juga menjelaskan dukungan rakyat Lebanon terhadap peran pejuang muqawama di Suriah. "Dukungan ini semakin meningkat pasca pengeboman terbaru di berbagai wilayah Lebanon dan pengaruh kelompok teroris ke wilayah negara ini," tandas Sayid Hasan Nasrullah.
 
Sayid Hasan juga mengisyaratkan redanya aksi pengeboman di Lebanon pasca kehadiran pejuang Hizbullah di Suriah. Menurutnya bahkan sejumlah kubu pro 14 Maret  yang termasuk kelompok anti pemerintah Damaskus mendukung kehadiran pasukan Hizbullah di Suriah.
 
Pernyataan transparan sekjen Hizbullah terkait transformasi Suriah dan kehadiran pejuang muqawama di sejumlah wilayah perbatasan Lebanon dan Suriah mengindikasikan bahwa Hizbullah selain mendukung militer negara ini dalam melawan teroris di front internal, dalam langkah preemtivnya memperluas operasinya hingga ke pusat-pusat kelompok teroris di sejumlah wilayah perbatasaan demi mencegah melebarnya pengaruh kulompok teroris takfiri. Selain itu Hizbullah juga mendapat dukungan penuh rakyat dan kelompok politik Lebanon.

 
Sikap terbaru sekjen Hizbullah menunjukkan strategi jitu muqawama untuk melewati masa-masa sensitif dan penuh ancaman Lebanon saat ini di bidang keamanan dan pertahanan. Sebelumnya Hizbullah berulangkali menyatakan senantiasa siap mengorbankan nyawa demi menjamin kepentingan bangsa Lebanon dan keamanan mereka.
 
Mengingat kinerja dan pengalaman baru Hizbullah dalam menghadapi kelompok teroris takfiri yang aktif diberbagai wilayah perbatasan Suriah,dapat dikatakan bahwa kekuatan muqawama saat ini -dari berbagai sisi-lebih baik dari tahun-tahun lalu dan jika Israel berani mengulang petualangannya terhadap Lebanon,Hizbullah kali ini pasti membalasnya lebih berat dari sebelumnya.
 
Sementara itu aliansi,anti Suriah yang dimotori oleh Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Turki, Arab Saudi dan Qatar mulai terpecah dan kehilangan kepercayaan mereka untuk merealisasikan konspirasinya yang dimaksudkan untuk menumbangkan pemerintahan Bashar Al Asad dan memecah belah Suriah. Hal ini dikarenakan kelompok teroris yang aktif di Suriah dan menjadi senjata andalan mereka mulai terpecah dan saling serang. (IRIB Indonesia/MF)

Tags:


Hezbollah in Syria: 15 Months of Security and Military Achievements - 1/3

Ibrahim Al Amin, Hassan Olleiq - Al-Akhbar
http://www.almanar.com.lb/english/adetails.php?eid=145352&cid=31&fromval=1&frid=31&seccatid=71&s1=1

Hezbollah fighter in Rankous salutes a monument of Virgin Merry (s)The "Syrian Opposition" were in rush to get Hezbollah involved in their conflict with the regime since the first moments of their engagement.

 The rush was caused only - as subsequent events showed - by the firm belief among the opposition leaders in the West-Israeli-Gulf-Turkish axis, that the fall of the regime was only a matter of weeks, and that the fateful link between Hezbollah and the regime is fundamental. In addition, Hezbollah opponents in Lebanon were also in rush to materialize this link, for being convinced that they do not need to take Hezbollah into account as long as he will be toppled soon.


Hezbollah detected these data early, and was being able through different means, to get acquainted with how to handle opponents on the ground and in foreign communications. The party soon understood the strategic vision of those who quickly and effectively work to abduct and exploit the civil objections, towards a program that exceeds the demands of reform.

Hezbollah had a brief conclusion, although he postponed talking about it, or even to deal with it realistically, which facilitated his deep understanding of the conflict between the axis of resistance and the Israeli - regional - international axis. However, the red light was sparked by the state of hostility that emerged from the prominent powers in opposition. Yet, the party maintained a delicate and slow march in the Syrian minefield, observing at times and mediating between opponents and the regime many often.


Hezbollah is aware that the revitalization of Takfiri bases among the civilian and popular mediums - where opposition forces are strongly represented - has additional targets that serve the main goal itself against Hezbollah and the resistance. Sectarian vocabularies emerged in dealing with the Syrian and non-Syrian supporters of the regime. It was clear that the dragging everyone to doctrinal war has become a key demand of supporters of the militants in Syria, who considered that raising the slogan of «War of Sunnis» would increase fanaticism and create a offensive ground against Hezbollah in specific.

Trying to accuse Hezbollah of the murder and beating charges, pro-militants in Syria were looking for strategic trap for Hezbollah and his environment. From here, they moved towards targeting the Shiite sanctities, especially the shrine of Sayyeda Zeinab south of Damascus. Soon, Hezbollah sought the approval of the Syrian leadership to deploy groups of fighters to prevent the militants' control over the shrine. This was the first public reference to Hezbollah intervention. For a long time , Hezbollah fighters didn't carry out any offensive action, but many of them were killed while being stationed at points meant to protect the shrine.


Furthermore, Hezbollah was not unaware of the many people seeking to harm him immediately. He was astonished by the political shortcomings of the armed groups' sponsors and by those who work with them in Lebanon as well. But what happened is that, in a place not far from Syria and where the real operating room is established, a known party decided to escalate the direct threat against Hezbollah. It decided to keep up with the global media campaign against Hezbollah because he stands by the regime of President Bashar al-Assad via a Lebanese internal campaign to make his weapons a source of danger to the Lebanese. But the practical step was required in a sensitive point of Hezbollah. In this context, the armed opposition and those who stand behind them committed the "strategic mistake" by opening the battle of "cleansing" in border villages with Hermel district.

The Qussayr region imposed itself on Hezbollah's popular incubator and, consequently, on his leadership, where operations were a formal invitation and mandatory for Hezbollah to intervene militarily, and in a different way this time. At this moment, the Syrian opposition abandoned "linking the conflict" with Hezbollah and rushed towards direct military confrontation.

Expect in Part 2:
- Long Border a Year Ago
- Resistance Begin to Move







Fighting for Assad, Hezbollah buries its own ??

Hezbollah has incurred its greatest casualties ever while fighting for the Assad regime in Syria. Emotional funerals for fallen 'martyrs' are a way to keep up morale.


Christian Science Monitor
The coffin, draped in the bright yellow flag of Hezbollah, was surrounded by a noisy crowd of mourners. They had come to help bury Mohammed Jaber Jaber, the latest fighter from the Lebanese Shiite militant group killed in the Syrian war.
Standing on stage, beneath a large poster showing the faces of other fallen fighters, a teenage boy led the prayer chants, guiding the throng with a confident and steady voice. The men slapped their chests with their right hands in time to the chanting, a traditional Shiite gesture of mourning.

This scene is replayed on a near-daily basis in Shiite-populated areas of Lebanon, as relatives, friends, and Hezbollah supporters converge to pay their respects to the slain fighters who are lauded as “martyrs." Hezbollah says the sacrifices are necessary to prevent Syria falling to Sunni jihadist forces. 

“This is a danger that threatens all Lebanese,” said Sheikh Hassan Nasrallah, Hezbollah’s leader, at a speech last month. “If they [the jihadists] have the opportunity to control the border areas, their goal will be to transform Lebanon into a part of their Islamic state.”


More practically, Syria is a key component in a regional alliance that includes Hezbollah and its patron, Iran. If Syrian President Bashar al-Assad's regime were to collapse, Iran’s reach into the Arab world would be diminished and Hezbollah would become more isolated and vulnerable to its enemies, including Al Qaeda and Israel.

Still, Hezbollah’s intervention in Syria’s civil war has led to the group's most prolonged and intense accrual of casualties since its formation three decades ago. 

Mr. Jaber, a 21-year-old from Ghobayri in southern Beirut, was killed last week near the town of Yabroud in Syria's Qalamoun region. Hezbollah is spearheading an offensive against Syrian rebels to seize the strategic mountainous territory north of Damascus and adjacent to the Lebanese border.

Hezbollah is gradually tightening its grip around Yabroud while avoiding a full frontal assault that could incur significant casualties. But the more cautious approach has taken a toll. Two weeks ago, two dozen Hezbollah fighters were reportedly killed when their convoy of SUVs was ambushed while traveling to the frontline.

While the group's exact fatalities are hard to quantify, fresh “martyr” pictures are posted online most days. 

ON A RESCUE MISSION

Jaber was killed during a rescue mission for two missing fighters. Under covering fire, Jaber and a medic ran to a building where the two were located, according to one of his fellow unit members at his funeral. When the medic tried to open the front door, a booby-trapped bomb killed both men. 
Hezbollah fighters are taught to avoid doorways and windows in a combat zone because of the threat of such traps. Over the radio, Jaber’s comrades had heard him call out to the medic not to open the door. "He should have waited for the engineers to come first and clear the route. But his friends were in the house and he was an impulsive guy," says a fighter.  
Like most soldiers, Hezbollah fighters grow close through the rigors of hard training and the dangers of combat. When a team member dies in action, fighters often display both sorrow at their loss and pride in his "martyrdom."  

After Jaber’s death, his comrades held lengthy meetings with military commanders to discuss their friend and the meaning of his death. The purpose of this form of counseling, according to sources close to Hezbollah, is to maintain morale and focus, while reassuring fighters that their sacrifices are not taken for granted.

At the funeral, several of Jaber's comrades, wearing military uniforms, emerged from the hallway weeping and hugging each other. As prayers echoed from a loudspeaker, the mourners followed the coffin up a narrow street toward the “martyrs” cemetery. As the coffin approached, several men fired AK-47 rifles into the air, their guns tilted towards the adjacent neighborhood of Tariq Jdeide, a Sunni-populated rival to the Shiite Ghobayri.

To chants of “Labyakh Ya Hussein,” an exhortation of loyalty to a revered Shiite imam, Jaber’s shrouded body was removed from the coffin and lowered into an open grave alongside several other fresh plots.

On a Facebook page honoring Jaber, photos of him standing arm in arm with fellow fighters appear alongside praise for his sacrifice. 

“Congratulations to the martyr. Peace be upon you, Daeesh killer,” says one, referring to the Arabic acronym for the Al-Qaeda-inspired Islamic State of Iraq and the Levant (ISIS), a bitter enemy of Hezbollah.


Related stories


Become a part of the Monitor community


Why Hezbollah has openly joined the Syrian fight

The Lebanese Shiite militant organization once denied its involvement in Syria, but is now holding lavish public funerals for its fighters killed in action. 

By Correspondent / June 23, 2013 
http://www.csmonitor.com/World/Middle-East/2013/0623/Why-Hezbollah-has-openly-joined-the-Syrian-fight

Wounded Hezbollah fighters cheer during a televised address from their leader Sheik Hassan Nasrallah on June 14.
Bilal Hussein/AP

Enlarge
Arab Salim, Lebanon
The face of Abbas Farhat, a combatant with the Lebanese Shiite group Hezbollah killed recently in Syria, looms down from a banner outside his home in this winding hill village.

He is one of two Hezbollah men from the village to die during fierce fighting last month in the strategic Syrian town of Qusayr, which had been in rebel hands for a year before it was overrun on June 5 after a 17-day Hezbollah-led assault.

A male relative, who asked for anonymity because Hezbollah had instructed the family not to speak to reporters, admits that he and his other kin have been inspired by Abbas’ sacrifice.

“I want to talk about Abbas. We are very proud of him,” he says. “I would go and fight in Syria tomorrow if I could.”

Such comments echo across Shiite-populated areas of Lebanon today, even as dozens of dead Hezbollah men are brought back from the battlefields of Syria for lavish funerals in their towns and villages.

The continued support is the result of Hezbollah leader Sheikh Hassan Nasrallah’s successful efforts to persuade Hezbollah’s core constituency to embrace the party's radical and potentially dangerous new path of intervention in the Syrian civil war.

“The care and time [Sheikh] Nasrallah invested in crafting and marketing this narrative is indicative of Hezbollah’s assessment that their base needs convincing about the party’s involvement in Syria,” says Randa Slim, a scholar with the Middle East Institute in Washington who writes regularly on Hezbollah affairs.

Growing openness

Hezbollah’s decision to fully participate in Syria’s bloody two-year war on behalf of the regime of Bashar al-Assad is a dramatic development for an organization that has always been defined as a champion of anti-Israel resistance.

Yet today, Hezbollah finds itself fighting fellow Arab Muslims, albeit Sunnis, who make up the bulk of the Syrian armed opposition. Hezbollah and its patron, Iran, stand to be weakened if their ally, the Assad regime, falls and is replaced by a Sunni-dominated administration that moves closer to the West and Arab Gulf states.

Rumors of Hezbollah involvement in Syria began circulating soon after the uprising broke out in March 2011, but the early claims were generally unconvincing and lacked evidence. In October 2011, Sheikh Nasrallah said in a television interview that accusations that Hezbollah had deployed fighters into Syria were “absolutely untrue.”

“There are no thousands or a thousand or even half a soldier [in Syria],” he said.
However, by early 2012, it was becoming public knowledge within Lebanese Shiite circles that some Hezbollah fighters were being sent into Syria. That summer there were a flurry of reports in the Lebanese media of funerals for slain Hezbollah fighters. Hezbollah released statements saying that they had died “while performing their jihadi duty,” a possible allusion to combat-related deaths.

Unusually, there was some quietly muttered dissent in Shiite circles, including within Hezbollah’s support base, about the morality of dispatching fighters to help the Assad regime’s brutal repression of the opposition.

On Oct. 3, 2012, the rebel Free Syrian Army announced that it had killed Ali Nassif, a veteran Hezbollah commander, near Qusayr in Syria. Four days later, Nasrallah called continuing allegations that Hezbollah was fighting in Syria a “lie.” However, he conceded that Nassif and some other Hezbollah members were voluntarily fighting to defend their homes against rebel attacks in several Shiite-populated villages just inside Syria.

By December 2012, videos allegedly portraying Hezbollah fighters in southern Damascus, home to a shrine revered by Shiites, had emerged.

Meanwhile, any sympathy toward the Syrian opposition was beginning to fade amid increasing evidence of atrocities committed by the armed opposition and the escalation of anti-Shiite rhetoric from groups like the Al-Qaeda-linked Jabhat al-Nusra. Meanwhile, Hezbollah leaders emphasized the threat posed to Lebanon’s stability by “Takfiri” groups in Syria, a reference to extremist Sunnis who view as apostates anyone that does not share their austere interpretation of Islam.

In April, fighting flared near Qusayr as the Assad regime and Hezbollah fighters launched a campaign to drive rebels from nearby villages before staging an assault on the town. At the end of the month, Nasrallah came closer to admitting Hezbollah was in Syria, saying he was especially proud of the “martyrs who fell in the past few weeks" and warned that the Assad regime had “real friends” who would not allow Syria to fall into the hands of “American or Israel or Takfiri groups.”

On May 19, Hezbollah fighters spearheaded an attack on the rebel-held town of Qusayr. Six days later, Nasrallah finally admitted what by now was common knowledge that Hezbollah was operating in Syria. He said that “by taking this position, we believe we are defending Lebanon, Palestine, and Syria.”

Fractures

While Lebanon’s Shiites have generally accepted Hezbollah’s rationale for intervening in Syria, reactions have ranged from dismay to fury elsewhere in Lebanon and the region. Brief clashes have broken out in several areas of Lebanon between Shiite and Sunni gunmen. Michel Suleiman, the Lebanese president, has urged Hezbollah to withdraw its forces from Syria.

The Lebanese government, presently operating in a limited caretaker capacity, follows a policy of neutrality toward the conflict in Syria, but lacks the heft to force the powerful Hezbollah to retreat.

Still, not all Shiites back Hezbollah’s intervention. A minority of Shiites openly oppose Hezbollah’s dominance of the community. One of them, Hashem Salman, a 27-year-old company manager from Adloun in south Lebanon, was among a group of anti-Hezbollah Shiites who attempted to hold a demonstration outside the Iranian embassy in Beirut two weeks ago. The demonstrators were attacked by suspected Hezbollah men wielding batons. Salman was shot three times in the scuffles and bled to death on the road.

“Hashem died for freedom,” says his brother Hassan during a condolence session at the family home in Adloun. “They [Hezbollah] don’t fear weapons in the hands of their opponents, they fear open minds and freedom.”

Hezbollah’s popularity within the Shiite community is unlikely to be seriously challenged in the foreseeable future. But loyalists may balk at a lengthy intervention in Syria, especially if the casualty toll remains high, anti-Shiite sentiment continues to flare across the region, and former supporters turn away from the party.

Three weeks ago, Sheikh Youssef Qaradawi, an influential Sunni cleric who once defended Hezbollah, called for jihad against the party which he dubbed the “Party of Satan.” Hezbollah means the Party of God in Arabic.

There could be economic considerations too. Arab Gulf states have said they will expel Hezbollah members living in their countries. 

Hezbollah has given no indication that it intends to pull out of Syria soon. Since Qusayr fell on June 5, Hezbollah fighters reportedly have been engaged in battles around Damascus and are being sent to Aleppo ahead of an anticipated offensive against rebel forces in the northern city.
“I do not think there is a consensus inside Hezbollah’s constituency around a protracted never-ending involvement in Syria,” says Slim, the Hezbollah scholar. “The higher the death toll, especially as the party moves toward northern Syria, will raise concerns about the costs of this involvement.”

Related stories


 

'Resistance against Israel is the only option, but we are not seeking war'

 

In a typical boastful speech, Hezbollah leader Hassan Nasrallah says the resistance's detterrence caused Israel to carefully consider its moves against Lebanon.
Roi Kais
http://www.ynetnews.com/articles/0,7340,L-4504520,00.html 
Published: 03.29.14, 19:04 / Israel News 
The only option the people of the Middle East in general and the Lebanese people in particular have is the "resistance" against Israel "in all of its aspects: culturally, militarily, etc," Hezbollah leader Hassan Nasarallah said Saturday. Despite that, he stressed, "we are not seeking war."



Nasrallah made his speech at the launch of a cultural center and theater in southern Lebanon via a television link from a secret location in South Lebanon. This was his first speech since Israel's alleged strike in the Lebanese-Syrian border area a month ago, an attack that was acknowledged in an unusual move by Hezbollah, that admitted the strike targeted one of the organization's facilities in the Bekaa Valley.

According to Nasrallah, thanks to the resistance's deterrence, the villages in southern Lebanon are protected and Israel is carefully considering its moves.

"The Israeli enemy knows better than the Lebanese people how the resistance's ability of deterrence has developed, and this is a part of Israel's considerations," he boasted.

Related stories:


"The military's jihad activity, the firm stance and the willingness to sacrifice, are an expression of the culture of resistance," Nasrallah said, claiming that "the argument in Lebanon about the resistance is not about the involvement in Syria, the (2006 Second Lebanon War) or other events, it started with the formation of the Zionist entity."


Nasrallah cautioned that the younger generation might be misled into thinking that the resistance has failed because of Hezbollah's involvement in the Syrian conflict, or because of the organization's stance on one issue or another. But, Nasrallah said, "the resistance is in Lebanon since 1948 and some people don't know that."

He also used the speech as an opportunity to convince skeptics in Lebanon of the necessity of Hezbollah's involvement in the three-year-long war Syrian President Bashar Assad is waging against opposition militants.

"Some in Lebanon say the resistance (Hezbollah) has nothing to do with Syria," Nasrallah told supporters.

He justified sending his forces to a foreign war by saying that Sunni rebel groups would "eliminate everyone in Lebanon" if they won in Syria.

"The problem in Lebanon is not that Hezbollah went to Syria, but that we were late in doing so," he said. "This resistance will remain solid, with its head hung high, protecting its people and its nation."

Established nearly 30 years ago to confront Israel's occupation of south Lebanon, Hezbollah once won praise from Sunnis and Shi'ites across the Middle East. But its fight alongside Assad has lost it much domestic and international support.


Hezbollah threatens retaliation

Hezbollah recently threatened Israel, promising to retaliate in a time and place of its choosing to the attack on the Syrian-Lebanese border.

Following reports of the strike and Hezbollah's threats, several incidents occurred on the northern border. Rockets were fired at an IDF outpost on Mount Hermon, and there were several incidents of explosive devices being planted in the Golan Heights area and on the Lebanese border.


Israeli assessments are that Hezbollah was involved in these incidents in one way or another.

"New ground rules according to the resistance," was the headline of an opinion piece written by Ibrahim Al-Amin, editor of Lebanon's heavily pro-Hezbollah newspaper Al-Akhbar, which was published several days after the attack on the Israel-Syria border in which four IDF soldiers were wounded.

Al-Amin, who is considered Nasrallah's mouthpiece, linked Hezbollah to the recent incidents on the northern border and bragged that Israel did not assess Hezbollah's respond properly.

He further wrote that compared to the Syrian arena, where according to reports Israel had struck and calm was maintained, in Lebanon the situation is different. "Israel's problem is not only its wrongful speculation about the nature of the response of the Syrian regime or Hezbollah over the ongoing escalating tensions, but it thinks that things can be done while it chooses to act unilaterally," it was claimed.




"It is true that enemy forces attacked Syrian outposts in front of the occupied Golan, but Israel knows that an attack would not change a thing in the new reality."

Reuters contributed to this report.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar