Jumat, 15 Februari 2013

..Renungan dan .... Kilas.....Balik Tragedi Karbala dan Terbunuhnya Husain ....>>> SYD HUSEIN BUKANLAH ORANG BODOH..DAN DEMIKIAN SAJA MAU PERGI KE KARBALA ATAU KUFFAH KALAU TIDAK ADA YANG BENAR2 MAU MENERIMA BELIAU DISANA..ATAU SEKURANG-KURANGNYA TENTU ADA YANG BERJANJI UNTUK MENDAPAT DUKUNGAN DAN PERLINDUNGAN SECARA FISIK..BILA ADA GANGGUAN DARI FIHAK2 YANG MEMUSUHI BELIAU...>>> TETAPI TERNYATA DALAM SEJARAH .... MALAHAN.... BELIAU BESERTA PENGIKUTNYA DAN KELUARGANYA HABIS DIBANTAI...OLEH TENTARA TERLATIH DALAM JUMLAH BANYAK DAN BERSENJATAKAN LENGKAP....???? ADA APA INI... ??? BENARKAH TIDAK ADA PENGKHIANAT DARI KELOMPOK YANG KONON MENGAKU SYIAH DAN MENGUNDANG BELIAU DATANG KE KUFFAH DAN ATAU MEMANG SEMATA-MATA HANYA KEPANDAIAN KEKUATAN MUSUH2 NYA YANG SANGAT KUAT DAN BERKUASA DISELURUH JAZIRAH ARAB DAN SYAM DAN IRAQ...YANG TELAH MEGUASAI SEMUA JARINGAN INTELIGEN DAN KELOMPOK2 PENYUSUP...YANG LIHAI...??? >> INI TENTU BISA DIDUGA DENGAN SANGAT BAHWA ADA KOLABORASI JAHAT DARI KELOMPOK2 YANG MEMANG TELAH MENGATUR ...RENCANA INI PENGKHIANATAN UNTUK MELAKSANAKAN...PEMBANTAIAN INI DENGAN RAPI DAN DENGAN KEKUATAN KOLABORASI DAN KEKUASAAN YANG KUAT....??? >> BENARKAH SYIAH2 KUFFAH IKUT DALAM KOLABORASI..DAN PENGKHIANATAN ITU...??? >>> ALANGKAH KEJI DAN JAHATNYA MEREKA...?? >> MAKA PERLU PENELITIAN SEJARAH YANG BENAR2 JUJUR DAN JELAS DAN TRANSPARAN SEHINGGA PERSATUAN UMMAT TIDAK LAGI SELALU DIADU DOMBA OLEH ORANG2 YANG MEMANG SEJAK DAHULU MEMUSUHI AHLUL BAYT..DAN KELOMPOK BANI HASYIM...YANG DALAM SEJARAH TERNYATA HAMPIR SEMUA KETURUNAN AHLULBAYT DAN BANI HASYIM INI OLEH KELOMPOK2 TERTENTU DENGAN MENGATAS-NAMAKAN ...MACAM2...KELOMPOK...DAN ALIRAN ATAU MAZHAB.... ??? FAKTA2 SEJARAH.... JELAS2 TELAH MEMBUNUHNYA SEPANJANG ZAMAN...HINGGA KINI..??? >>> DAN ADANYA ISUE KEBENCIAN DAN PERMAINAN POLITIK MEMCAH BELAH UMMATDAN MENIHILKAN AJARAN2... YANG KONON SALING MENGHUJAT ATAU SALING MENDESKREDITKAN.??? >> ... ADA APA DENGAN UPAYA2 MEMUSUHI AHLU BAYT DAN KETURUNAN BANI HASYIM..??? SEJAK BERDIRINYA KEKHAKILFAHAN AWAL..PASCA RASULULLAH SAW WAFAT....??? ... >> MEREKA MENGATAKAN INI MAZHAB...DAN PENDUSTAAN...??? TETAPI FAKTA ADANYA KELOMPOK2 YANG HINGGA KINI ENGGAN DAN MENENTANG AJARAN AHLULBAYT...??? >>> ADA APA DENGAN AJARAN AHLUL BAYT...DAN BANI HASYIM..??? >>> BENARKAH INI AJARAN YANG PALING KONSISTEN DENGAN TRAH NABI MUHAMMAD SAW..??? ..>> TETAPI DISISI LAIN BAHWA KELOMPOK2 LAIN YANG MENGATAKAN DIRI PALING KONSISTEN..?? AHLI SEJARAH DAN AHLI TEKNOLOGI ILMIYAH HARUS BERGABUNG UNTUK MENELITI SECARA JUJUR DAN LURUS...??? MENGAPA DAN ADA APA....??? ...>>> KITA RENUNGKAN ...SECARA BENAR... ADAKAH TUJUAN SYD HUSEIN KE IRAQ ATAU KUFFAH SEMATA-MATA UNTUK PERLINDUNGAN...??? BENARKAH ADA UPAYA JEBAKAN DAN PENGKHIANATAN.....KARENA KELOMPOK YANG MENJADI MUSUHNYA SANGATLAH KUAT DAN BERKUASA...???>>> MENGAPA UMAT ISLAM YANG KONON MASIH TERGOLONG TABIIN ITU MENJADI TIDAK PEDULI DENGAN AHLULBAYT../?? >> ADAKAH UAPAYA2 KEKUASAAN DARI MASA2 KHALIFAH SBELEUM2NYA BEGITU KUAT UNTUK MENENTANG AHLUL BAYT DAN BANI HASYIM../?? >> MENGAPA BANI HASYIM DAN AHLUL BAYT DIMSUSHI OLEH PENGUASA DAN PARA KHALIFAH...??? >>> ADA KESALAHAN APA DENGAN SYDN HUSIEN DAN AHLUL BAYT SERTA BANI HASYIM... SEHINGGA HARUS DIMUSUHI DAN DIBANTAI DAN TERUS-MENERUS SEPANJANG KEKHALIFAHAN TURUN TEMURUN ...DAN TERUS MENERUS DIMUSUHI...??? >>> COBALAH PARA AHLI SEJARAH BERBUAT JUJUR TERHADAP UMAT ISLAM...??? MENGAPA INI MENJADI POLEMIK YANG TIDAK PERNAH TUNTAS...DAN JELAS...??? >>> MENGAPA ADA SALING MENUTUPI DAN SALING MENIPU SESAMA UMMAT ISLAM..???....>>> ADA APA DENGAN AJARAN AHLULBAYT DAN BANI HASYIM...DALAM AGAMA ISLAM...??? >> ADAKAH YANG TIDAK SESUAI DENGAN APA YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN OLEH PARA MAZHAB DAN IMAM2.DAN ULAMA2 SALAFI DAN SALAF...PARA SAHABAT...DAN PENDUKUNG PARA KEKUASAAN KHALIFAH2...???? ..??? ..>>> .."Saudaraku semua, jangan biarkan Baginda Husin minum air sungai itu. Halanglah dia. Kiranya dia dapat meminum air itu tiada siapa lagi yang dapat menentangnya." Apabila didengar oleh askarnya dengan segera dipanahnya baginda. Baginda Husin yang dahaga dan letih itu tidak sempat mengelaknya. Anak panah itu akhirnya mengenai leher baginda. Segera dicabut oleh baginda anak panah itu dan dibuangkannya ke dalam sungai Furat. Baginda memekup lukanya dengan tangan kiri sambil terus mengamuk. Tentera Baginda Yazid datang dengan ramainya mengerumuni baginda. Setengah daripada aksar itu takut untuk menentang baginda. Manakala setengahnya pula malu hingga mereka berpaling - tidak sanggup menatap wajah cucu Rasulullah. Ketika itu muncullah Simirlain menyeru rakan-rakannya agar segera memancung Baginda Husin. Akan tetapi semuanya merasai suatu macam ketakutan untuk menentang baginda. "Bunuhlah baginda, kerana aku ada bersama-sama kamu. Apa yang telah kamu lakukan hanya memusuhinya saja. Kenapakah kamu tidak sanggup untuk membunuhnya?" kata Simirlain. "Kamu pun apa kurangnya dari kami? Kita berjuang adalah untuk mencari kekayaan. Mencari pangkat dan darjat!" jawab mereka. "Kamu semuanya tidak begitu percaya akan kebolehanku. Nanti aku tunjukkan padamu bahawa segala kata-kataku ini akan kukotakan." Simirlain pun segera mendapatkan Baginda Husin. Apabila dilihat oleh Baginda, teringatlah Baginda akan sabda Rasulullah bahawa orang yang akan membunuhnya keadaan mukanya hitam dan teteknya seperti tetek anjing. Dengan tidak bertangguh lagi Simirlain pun menikam Baginda Husin pada dadanya dan lehernya terus dipenggal. Syahidlah Baginda Husin pada 10 Muharam iaitu hari Jumaat....>> YANG MENGHERANKAN MUSLIM AWAM....MENGAPA HANYA GOLONGAN YANG MENGANUT SYIAH SAJA YANG MEMBERI PENGHORMATAN DAN PERINGATAN PERISTIWA KARBALA INI...??? SEDANG KONON DI ARAB SAUDI YANG SUNNY SALAFI TIDAK PERNAH MENGINDAHKAN PERISTIWA INI SEBAGAI PERISTIWA PENTING...DAN MENJADI PELAJARAN BETAPA JAHATNYA PIHAK2 YANG BERKOLABORASI DAN MEMBUNUH SYD HUSEIN..ITU...??? BAHKAN KONON KEPALA BELIAU DIBAWA KE ISTANA KHALIFAH YAZID...BIN MUAWIYYAH..??? >> UNTUK APA SEPERTI ITU...?? INI SUATU KEKEJAMAN YANG SANGAT TIDAK ISLAMI...DAN SANGAT MENGHINAKAN CUCUNDA RASULULLAH SAW...??? ADA APA DENGAN KAUM SUNNY-SALAFI..??? ...KOK SEPERTI MALAHAN GAK PEDULI ATAU SEPERTI MENUTUPI PERISTIWA JAHAT ITU...??? >>> ADA APA DENGAN KAUM SUNNY SALAFY ATAU WAHABI ITU..TERHADAP KELUARGA RASULULLAH SAW..?? >>>



Konspirasi Rahasia Di Balik Tragedi Karbala dan Terbunuhnya Husain











Al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, atau yang dikenal sebagai Husain Radhiyallahu ‘anhu, adalah cucu Rosululloh Shallalahu alaihi wa sallam, buah hati dan kecintaannya di dunia. Ia adalah saudara Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, penghulu pemuda penduduk surga. Kedudukan tinggi tersebut tidak ia peroleh, kecuali ia lakoni dengan ujian dan cobaan, dan sungguh Husain Radhiyallahu ‘anhu telah berhasil melewati ujian tersebut secara penuh dengan kesabaran dan keteguhan (tsabat) yang sempurna hingga menemui Alloh Subhanahu wa Ta'ala. Rosululloh Shallalahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu, “Sesungguhnya ini adalah malaikat yang belum pernah turun ke bumi sebelum ini, ia meminta izin kepada Robbnya untuk mengucapkan salam kepadaku dan menyampaikan kabar gembira bahwa Fathimah adalah penghulu kaum wanita penghuni surga dan bahwasanya Hasan serta Husain adalah penghulu para pemuda penghuni surga.” (HR.  Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani). 
Husain Radhiyallahu ‘anhu dan Kronologis Syahidnya

Setelah kekhilafahan dilimpahkan kaum Muslimin kepada Hasan bin ‘Ali Radhiyallahu 'anhu, kemudian ia turun (lengser) darinya untuk diberikan kepada Mu’awiyah Radhiyallahu 'anhu untuk memelihara darah kaum Muslimin, dengan syarat selanjutnya Mu’awiyah sendiri yang akan menyerahkan kembali kekhilafahan kepada Hasan Radhiyallahu 'anhu. Akan tetapi Hasan meninggal dunia sebelum Mu’awiyah meninggal. Maka ketika itu Mu’awiyah memberikan kekhilafahan kepada anaknya, Yazid. Tatkala Mu’awiyah meninggal, maka Yazid memegang perintah, dan Husain enggan memba’iatnya, lalu ia keluar dari Madinah menuju ke Mekkah dan menetap di sana.

Kemudian golongan pendukung ayahnya dari Syi’ah Kufah mengirim surat kepada Husain agar ia keluar bergabung menemui mereka. Mereka menjanjikan akan menolongnya jika ia telah bergabung. Maka Husain tertipu dengan janji mereka, dan mengira bahwa mereka akan merealisasikannya untuk memperbaiki kebijakan yang buruk dan untuk meluruskan penyelisihan yang diawali pada kekhilafahan Yazid bin Mu’awiyah.

Perbuatan Husain Radhiyallahu 'anhu untuk bergabung dengan penduduk Kufah sendiri dinilai salah oleh para penasehatnya. Di antara mereka adalah Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, ‘Abdulloh bin Ja’far Radhiyallahu 'anhum dan lainnya. Bahkan ‘Abdulloh bin ‘Umar Radhiyallahu 'anhu terus mendesak kepada Husain  agar tetap tinggal di Mekkah dan tidak keluar. Namun dengan dilandasi baik sangka, Husain menyelisihi permusyawarahan mereka dan keluar, lalu Ibnu ‘Umar Radhiyallahu 'anhu berkata kepadanya, “Aku menitipkanmu kepada Alloh dari pembunuhan!”.

Begitu Husain Radhiyallahu ‘anhu keluar, ia menemui Farozdaq di jalan yang berkata kepadanya, “Berhati-hatilah engkau, mereka bersamamu namun pedang-pedang mereka bersama Bani Umayyah. Mereka adalah Syi’ah yang mengirim surat kepadamu, dan mereka menginginkanmu untuk keluar (ke tempat mereka), tetapi hati-hati mereka tidak bersamamu. Secara hakiki mereka mencintaimu, akan tetapi pedang-pedang mereka terhunus bersama Bani Umayyah!”

Akhirnya, sangat jelas sekali tampaklah pengkhianatan Syi’ah ahli Kufah, walau mereka sendiri yang mengharapkan kedatangan Husain Radhiyallahu ‘anhu. Maka wakil penguasa Bani Umayyah, ‘Ubaidillah bin Ziyad yang mengetahui sepak terjang Muslim bin ‘Aqil yang telah membai’at Husain, segera mendatangi Muslim dan langsung membunuhnya sekaligus tuan rumah yang menjamunya, Hani bin Urwah al-Muradi.  
Dan kaum Syi’ah Kufah hanya diam seribu bahasa melihat pembantaian dan tidak memberikan bantuan apa-apa, bahkan mereka mengingkari janji mereka terhadap Husain Radhiyallahu ‘anhu. Hal itu mereka lakukan karena ‘Ubaidillah bin Ziyad telah memberikan segepok uang kepada mereka.

Maka ketika Husain Radhiyallahu ‘anhu keluar bersama keluarga dan pengikutnya, berangkat pula Ibnu Ziyad untuk menghancurkannya di medan peperangan, maka terbunuhlah Husain Radhiyallahu ‘anhu dan terbunuh pula semua sahabat yang mendampinginya secara terzhalimi dan dapat dianggap sebagai pembantaian sadis. Kepala mulianya terpotong, lalu diambil oleh para wanita dan anak-anak yang berada di antara pasukan dan diberikan paksa kepada Yazid di Damaskus. Ketika melihat kepala Husain dibawa ke hadapannya saat itu, Yazid pun sedih dan menangis. Kemudian para wanita dan anak-anak dikembalikan ke kota, sedangkan anak laki-laki ikut terbunuh, sehingga tidak tersisa dari anak-anak (Husain) kecuali ‘Ali Zainul Abidin yang ketika itu masih kecil.

Kemanakah Syi’ah Kufah Pendusta dan Pengkhianat?

Sejak pertama, Syi’ah Kufah sudah takut berperang dan telah “siap” menjual kehormatan mereka dengan harta. Mereka merencanakan pengkhianatan untuk mendapatkan kekayaan dan kedudukan semata, walaupun hal itu harus dibayar dengan menyerahkan salah seorang tokoh Ahlul Bait, Husain Radhiyallahu ‘anhu. Mereka tidak memberikan pertolongan kepada Muslim bin ‘Aqil, dan ternyata tidak pula ikut berperang membantu Husain Radhiyallahu ‘anhu.

Dalam tragedi mengenaskan ini, di antara Ahlul Bait lainnya yang gugur bersama Husain Radhiyallahu ‘anhu adalah putera ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu lainnya, yaitu Abu Bakar bin ‘Ali, ‘Umar bin ‘Ali, dan ‘Utsman bin ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu. Juga putera Hasan sendiri, Abu Bakar bin Hasan Radhiyallahu ‘anhu. Namun anehnya, ketika kita mendengar kaset-kaset, ataupun membaca buku-buku Syi’ah yang menceritakan kisah pembunuhan Husain Radhiyallahu ‘anhu, keempat Ahlul Bait tersebut tidak pernah diungkit. Lantas, apa tujuannya?

Tentu saja, agar para pengikut Syi’ah tidak memberi nama anak-anak mereka dengan tiga nama sahabat Rosululloh Shallalahualaihi wa sallam yang paling dibenci orang-orang Syi’ah, bahkan yang dilaknat oleh mereka setiap harinya.

Melihat kebusukan perangai dan pengkhinatan Syi’ah, Husain Radhiyallahu ‘anhu dalam doanya yang sangat terkenal sebelum wafat atas mereka adalah “Ya Alloh, apabila Engkau memberi mereka kenikmatan, maka cerai-beraikanlah mereka, jadikanlah mereka menempuh jalan yang berbeda-beda, dan janganlah restui para pemimpin mereka selamanya, karena mereka telah mengundang kami untuk menolong kami, namun ternyata malah memusuhi kami dan membunuh kami!”.

Konspirasi dibalik Terbunuhnya Husain Radhiyallahu ‘anhu

Di balik tragedi Karbala, yaitu terbunuhnya Husain Radhiyallahu ‘anhu dan banyak Ahlul Bait lainnya serta rombongan yang menyertainya, ada rahasia besar yang harus diketahui, yaitu:

1.    Ternyata yang membunuh Husain Radhiyallahu ‘anhu adalah ‘Ubaidillah bin Ziyad yang berkolaborasi dengan Syi’ah Husain.

Fakta ini bahkan diakui oleh sejarawan Syi’ah sendiri, Mulla Baqir al-Majlisi, Qadhi Nurullah Syustri dan lainnya, tentunya selain fakta sejarah yang jelas dan mengedepankan nilai ilmiah yang selama ini telah banyak beredar.

Mereka adalah para pengkhianat, musuh-musuh semua kaum Muslimin, bukan hanya bagi Ahlus Sunnah saja.

2.    Kecintaan Syi’ah terhadap Ahlul Bait hanyalah isapan jempol dan kebohongan yang dipropagandakan.
Bahkan yang Syi’ah da’wahkan tiada lain merupakan upaya untuk menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Majusi Saba’iyah (pengikut Abdulloh bin Saba’).

3.    Keadaan Syi’ah yang selalu diburu dan dihukum oleh kerajaan-kerajaan Islam di sepanjang masa dalam sejarah membuktikan dikabulkannya doa Husain Radhiyallahu ‘anhu di medan Karbala akan adzab Syi’ah.

4.    Upacara dan ritual Asyura’-an, seperti menyiksa badan dengan cara memukul-mukul tubuh dengan rantai, pisau dan pedang pada 10 Muharram dalam bentuk perkabungan yang dilakukan oleh Syi’ah sehingga mengalirkan darah, juga merupakan bukti diterimanya doa Husain Radhiyallahu ‘anhu, bahkan mereka terhina dengan tangan mereka sendiri.

Dari upaya menelusuri tragedi terbunuhnya Husain Rahimahullah dapat ditarik kesimpulan bahwa:

1.    Syi’ah bukanlah Ahlul Bait, dan Ahlul Bait berlepas diri dari Syi’ah, diantara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh, bagaikan timur dan barat, bahkan lebih jauh lagi.

2.    Barangsiapa yang mengaku-ngaku mencintai dan mengikuti jejak Ahlul Bait namun ternyata mereka berlepas diri dari orang-orang yang dicintai Ahlul Bait tersebut, maka yang ada hanyalah klaim kedustaan dan propaganda kesesatan.

[hsm/syiahindonesia.com]


Jelas pengikut Syi'ah imam 12 bertaqiyyah dan tdk mau mengakui pengkhianatannya disepanjang sejarah Islam, walau imam2 mereka sendiri telah mengakui dan mengutuk org2 shi'i sendiri karena sifat buruk secara turun temurun.

Sayyidina Husain ra telah mendoakan keburukan untuk mereka (Syi'ah Kuffah) dengan kata-katanya: "Binasalah kamu! Tuhan akan membalas bagi pihakku di dunia dan di akhirat……..Kamu akan menghukum diri kamu sendiri dengan memukul pedang-pedang di atas tubuhmu dan mukamu akan menumpahkan darah kamu sendiri. Kamu tidak akan mendapat keberuntungan di dunia dan kamu tidak akan sampai kepada hajatmu. Apabila mati nanti sudah tersedia azab Tuhan untukmu di akhirat. Kamu akan menerima azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir yang paling dahsyat kekufurannya". (Mulla Baqir Majlisi-Jilaau Al'Uyun, m.s. 409).

Ali Zainal Abidin anak Sayyidina Husain ra yang turut serta di dalam rombongan ke Kuffah dan terus hidup selepas terjadinya peristiwa itu pula berkata kepada orang-orang Kufah lelaki dan perempuan yang meratap dengan mengoyak-ngoyak baju mereka sambil menangis, dalam keadaan sakit beliau dengan suara yang lemah berkata kepada mereka, " Mereka ini menangisi kami. Tidakkah tidak ada orang lain yang membunuh kami selain mereka ?" (At Thabarsi-Al Ihtijaj, m.s. 156).
Pada halaman berikutnya Thabarsi menukilkan kata-kata Imam Ali Zainal Abidin kepada orang-orang Kuffah. Kata beliau, " Wahai manusia (orang-orang Kuffah)! Dengan Nama Allah aku bersumpah untuk bertanya kamu, ceritakanlah! Tidakkah kamu sadar bahawasanya kamu mengutuskan surat kepada ayahku (menjemputnya datang), kemudian kamu menipunya? Bukankah kamu telah memberikan perjanjian taat setia kamu kepadanya? Kemudian kamu membunuhnya, membiarkannya dihina. Celakalah kamu karena amalan buruk yang telah kamu dahulukan untuk dirimu".

Sayyidatina Zainab, saudara perempuan Sayyidina Husain yang terus hidup selepas peristiwa itu juga mendoakan keburukan untuk golongan Syiah Kufah. Katanya, " Wahai orang-orang Kufah yang khianat, penipu! Kenapa kamu menangisi kami sedangkan air mata kami belum lagi kering karena kezalimanmu itu. Keluhan kami belum lagi terputus oleh kekejamanmu. Keadaan kamu tidak ubah seperti perempuan yang memintal benang kemudian dirombaknya kembali. Kamu juga telah merombak ikatan iman dan telah berbalik kepada kekufuran...Adakah kamu meratapi kami padahal kamu sendirilah yang membunuh kami. Sekarang kamu pula menangisi kami. Demi Allah! Kamu akan banyak menangis dan sedikit ketawa. Kamu telah membeli keaiban dan kehinaan untuk kamu. Tumpukan kehinaan ini sama sekali tidak akan hilang walau dibasuh dengan air apapun". (Jilaau Al ' Uyun, ms 424).

Doa anak Sayyidatina Fatimah ini tetap menjadi kenyataan dan berlaku di kalangan Syiah hingga ke hari ini.
Ummu Kulthum anak Sayyidatina Fatimah ra juga berkata sambil menangis, " Wahai orang-oang Kufah! Buruklah hendaknya keadaanmu. Buruklah hendaklah rupamu. Kenapa kamu menjemput saudaraku Husain kemudian tidak membantunya bahkan membunuhnya, merampas harta bendanya dan menawan orang-orang perempuan dari ahli rumahnya. Laknat Allah ke atas kamu dan semoga kutukan Allah mengenai mukamu".

Beliau juga berkata, " Wahai orang-orang Kufah! Orang-orang lelaki dari kalangan kamu membunuh kami sementara orang-orang perempuan pula menangisi kami. Tuhan akan memutuskan di antara kami dan kamu di hari kiamat nanti". (Ibid, ms 426-42smilies/cool.gif

Sementara Fatimah anak perempuan Sayyidina Husain pula berkata, " Kamu telah membunuh kami dan merampas harta benda kami kemudian telah membunuh datukku Ali (Sayyidina Ali ra). Senantiasa darah-darah kami menetes dari ujung-ujung pedangmu……Tak lama lagi kamu akan menerima balasannya. Binasalah kamu! Tunggulah nanti azab dan kutukan Allah akan berterusan menghujani kamu. Siksaan dari langit akan memusnahkan kamu akibat perbuatan terkutukmu. Kamu akan memukul tubuhmu dengan pedang-pedang di dunia ini dan di akhirat nanti kamu akan terkepung dengan azab yang pedih ".

Ali Zainal Abidin Assajjad telah mengutuk orang2 Syi'ah Kuffah yg kelak hingga akhir zaman akan memukul-mukul dirinya dgn pedang. Terbuktilah seperti yg berlangsung hingga sekarang disaat peringatan hari asysyura yg dilakukan kaum zindiq pengikut agama Imamiyah Ithna Asysyariah 

http://106.10.137.112/search/srpcache?ei=UTF-8&p=kenapa+arab+saudi+-israel-turki+berkolaborasi+dengan+pemberontak+suriah&type=937811&fr=chr-greentree_ff&u=http://cc.bingj.com/cache.aspx?q=kenapa+arab+saudi+-israel-turki+berkolaborasi+dengan+pemberontak+suriah&d=4608406324381961&mkt=en-ww&setlang=en-ID&w=LZu6xu4spUQvqXMNkNk-mLZ87e8FaPHr&icp=1&.intl=id&sig=9ej.vJbw1aOtR_zUkc4YxA--

Peristiwa Karbala

Tujuan Imam Husayn A.S Bangkit Menentang Yazid:

 http://alraudahalridho.tripod.com/id16.html


Antara kandungan surat Imam Husein A.S kepada saudaranya Muhammad al-Hanafiyyah:

..." Aku keluar [mengangkat senjata menentang Yazid] bukan karena berasa iri hati dan tidak karena marah dan bukan karena mau melakukan kerusakan atau bukan juga karena mau melakukan kezaliman. Tetapi aku keluar untuk menentang [Yazid] hanya semata-mata untuk membawa islam kepada ummah datukku Rasulullah S.A.W. Aku mau menegakkan yang ma'aruf dan nahi mungkar dan memimpin ummah [ke jalan kebenaran] sebagaimana yang telah dilakukan oleh ayahku [Imam Ali A.S] dan datukku [Muhammad S.A.W]...."

Antara ucapan Imam Husayn A.S sebelum keluar dari Mekah bagi meneruskan perjalanan ke Iraq:

 

" ......Segala puji bagi Allah, barang yang dikehendaki oleh Allah dan tidak ada kekuatan yang lain melainkan Kekuasaan Allah, selawat dan salam kepada RasulNya. Garisan maut ke atas Bani Adam umpama garisan perjuangan bagi pemuda satria. Bermula keadaanku hingga akhirnya sebagaimana kepimpinan Ya'akub yang diwarisi oleh puteranya Yusuf. Sebaik-baiknya bagiku ialah perjuangan dan cahaya bumi Karbala bergemerlapan. Tidak dapat kalam menggambarkan apa yang telah terjadi pada hari ini...."

Dalam perjalanannya menuju Karbala Imam Husayn A.S mengungkapkan ucapan yang menggariskan pendiriannya untuk menegakkan Islam:

 

"Sesungguhnya dunia ini telah berubah dan mengingkari haq, kebenaran telah ditinggalkan, tidak ada lagi yang tinggal padanya melainkan semut-semut di bekas-bekas makanan. Demikiannya tandusnya kehidupan sebagai penggembala kehilangan ternakannya. Tidakkah anda melihat kebenaran dan kenapa tidak melaksanakannya? 

Akan tetapi kebatilan dan kejahatan mengapa tidak boleh dihentikan....untuk menggembirakan seorang beriman dalam pertemuan dengan Allah... ianya suatu kepastian. Sesungguhnya aku tidak melihat kematian dan maut yang mendatang melainkan dengan penuh kebahagiaan, hidupku bersama dengan si zalim bagaikan duri yang menikam serta api yang membakar. Sesungguhnya manusia telah menjadi hamba dunia dan agama hanya berputar di lidah-lidah mereka demikian jalan kehidupan yang dijalani oleh mereka, maka apabila mereka ditimpa dugaan lantas mereka berkata telah hampirnya kami kepada kematian."

 

Pendapat Abul A'la al-Maududi Tentang Peristiwa Karbala

 

...."Marilah kita tinggalkan sejenak persoalan tindakan Husein ini, apakah hal itu sah ditinjau dari segi pandangan Islam atau tidak, meskipun kami tidak pernah mengetahui seseorang pun dari para sahabat Nabi S.A.W atau tabi'in, baik di masa hidup Husein ataupun selepas wafatnya, ada yang berkata bahwa tindakan Husein adalah tindakan yang tidak sah menurut syariat, dan bahwa dengan itu ia telah melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Allah. Adapun yang diucapkan oleh beberapa orang sahabat Nabi S.A.W yang mencuba mencegah Husein meneruskan tindakannya itu maka sesungguhnya mereka tidak melakukannya melainkan atas dasar bahwa tindakannya itu bukan merupakan langkah yang tepat dari segi taktik semata-mata. Bahkan jika kita "mengadaikan" dapat menerima anggapan pemerintahan Yazid, namun apa yang terjadi dalam kenyataannya, sama sekali tidak dapat dikatakan bahwa Husein telah bergerak dengan pasukan tentara, tetapi hanya berangkat dari kota Madinah bersama keluarganya dan tiga puluh dua orang penunggang kuda serta empat puluh orang pejalan kaki, tidak lebih dari itu.
 
Hal tersebut tidak mungkin kita namakan sebagai serbuan perang dari seseorang pun. Di sisi lainnya, jumlah tentera yang dikirimkan dari kota Kufah di bawah pimpinan Umar bin Sa'd bin Abi Waqqash berjumlah empat ribu orang, tanpa adanya alasan yang mendesak pasukan tentera yang besar ini memerangi kelompok kecil tersebut dan membunuhnya. Tetapi sebenarnya mereka cukup mengepungnya dan menangkap orang-orangnya satu persatu dengan cara yang paling mudah. Sedangkan Husein sendiri hingga detik-detik terakhirnya, selalu berkata kepada mereka: “Biarkan aku pulang atau pergi ke perbatasan negeri untuk berjihad atau bawalah aku ke hadapan Yazid." Namun mereka tidak mau menerima sesuatu dari ucapannya ini, bahkan mereka berkeras untuk membawanya ke hadapan Ubaidullah bin Ziyad, gabenor Kufah. Dan Husein menolak menyerahkan dirinya kepada Ibnu Ziyad, sebab ia tahu benar apa yang dilakukan oleh Ibnu Ziyad ke atas diri Muslim bin Aqil, saudara sepupunya. Lalu mereka memeranginya, sehingga ketika semua kawannya telah gugur sebagai syuhada dan dia berdiri di tengah-tengah medan peperangan sendirian, mereka pun menyerbunya dan mengeroyoknya bersama-sama.
 
Dan ketika ia terluka dan kemudian jatuh, mereka menyembelihnya dan merompak apa saja yang ada di atas jasadnya, mengoyak-ngoyak baju yang menutup tubuhnya, kemudian menggilasnya dengan kuda-kuda dan menginjak-injaknya dengan kaki-kaki mereka. Setelah itu mereka beralih ke khemahnya, merompak isinya, mencabik-cabik pakaian para wanita, memenggal kepala-kepala setiap orang yang telah gugur di Karbala dan membawa semuanya ke Kufah. Ibnu Ziyad tidak cukup menjadikan itu semua sebagai barang tontonan di hadapan orang banyak tetapi ia naik ke atas mimbar Masjid Jami' dan berkata: " Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menampakkan kebenaran dan ahlinya, memenangkan Amirul Mukminin Yazid dan kelompoknya serta membunuh si pendusta putera si pendusta, Husein bin Ali dan pengikut-pengikutnya".....
 
Memang ada beberapa perbezaan dalam riwayat-riwayat yang menyebut menyebutkan tentang tindakan Yazid dan ucapan-ucapannya di Istana Damsyik, tetapi sekiranya kita meninggalkan semua riwayat ini dan mempercayai satu riwayat saja yang menyatakan bahwa Yazid telah menangis ketika menyaksikan penggalan kepada Husein dan kawan-kawannya lalu ia berkata: " Sesungguhnya aku sudah puas dengan ketaatan kalian tanpa membunuh Husein. Terkutuklah cucu Sumayyah. Demi Allah, sekiranya aku yang berhadapan dengannya, niscaya aku akan mengampuninya."
 
Dan bahwa ia juga berkata:" Demi Allah, wahai Husein, sekiranya aku berada di hadapanmu, niscaya aku tidak akan membunuhmu." Sekiranya riwayat itu kita percaya maka masih ada pertanyaan yang ingin kita tanyakan, hukuman apakah yang telah dilakukan oleh Yazid ke atas diri gabenornya yang durjana itu atas perbuatannya melakukan kezaliman yang besar ini?
 
Berkata Ibn Katsir bahwa Yazid tidak pernah menghukum Ibnu Ziyad, tidak memecatnya, bahkan tidak pernah mengirim sepucuk surat kecaman pun kepadanya." [Lihat S.Abul Ala Maududi; Khilafah dan Kerajaan, halaman 233-234]

Siapakah Yazid?

 

Abdullah bin Handhalah adalah seorang sahabat Nabi S.A.W. Setelah syahidnya Imam Husein A.S, ia mengumpulkan orang ramai di halaman Masjid Nabi di Madinah dan berkata mengenai Yazid:" Hai manusia kami datang kepada kalian karena seseorang yang meninggalkan solat dan mempunyai kegemaran minum minuman keras....dan gemar bermain dengan kera dan anjing. Maka apabila bai'ah kepadanya tidak dicabut, saya takut kita semua akan dihujani batu [oleh Allah] dari langit."
 
Hasan al-Basri ketika menyimpulkan perbuatan-perbuatan buruk Muawiyah:"Pertama, ia telah merampas kerusi khalifah tanpa permesyuaratan...... Kedua, dia berani menentukan anaknya [Yazid] yang pemabuk yang begelumang dengan khamar, mengenakan pakaian sutera dan menabuh gendang itu sebagai khalifah umat Islam setelah kematiannya.Ketiga, menasabkan Ziyad bin Sumayyah kepada Abu Sufian [ayahnya] sedangkan Rasulullah S.A.W telah bersabda:'Seorang anak dinasabkan kepada ayahnya yang sah, dan tiada hak bagi penzina'. Keempat, dia telah membunuh Hujr bin Adi dan sahabat-sahabatnya. [al-Isti'ab, Jilid 1, halaman 135; al-Tabari, Jilid 4, halaman 208]
 
Abdullah, putera kepada Ahmad bin Hanbal, pada suatu hari bertanya kepada ayahnya tentang hukum melaknat Yazid. Ia menjawab:" Bagaimana aku tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Allah?"Kemudian ia membaca ayat dari Surah Muhammad:22-23, yang bermaksud:"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan, mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan dituliskanNya telinga mereka dan dibutakanNya mata mereka." Kemudian dia berkata:"Kerusakan dan pemutus hubungan kekeluargaan yang bagaimanakah lebih besar daripada yang telah dilakukan oleh Yazid?" [Al-Bidayah, Jilid 8, halaman 223]

 

Apakah Penentangan Imam Husein A.S Terhadap Yazid Merupakan Satu Tindakan Membunuh Diri?

Persoalan semacam ini sering dikaitkan dengan ayat Qur'an Surah al-Baqarah: 195 yang bermaksud: " Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan..."
 
Al-Tahlukah berarti segala perkara yang mencelakakan dan membawa bencana bagi manusia. Biasanya sipelaku menjadi fakir, sakit, atau mati. Sedangkan ayat tersebut didahului dengan anjuran berinfaq di jalan Allah iaitu mengeluarkan apa saja yang diredhai Allah [seperti harta benda] agar dapat mendekatkan manusia padaNya. Kemudian dilanjutkan dengan larangan menjatuhkan diri ke dalam kerusakan dengan sebab meninggalkan infaq di jalan Allah.
 
Firman Allah dalam Surah al-Baqarah ayat 195 yang lengkap, bermaksud:
  
          
           "Dan keluarkan infaq [harta bendamu] pada jalan Allah, 
       
          dan janganlah menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan 
 
          dan berbuat baiklah, sesungguhnya 
                                    Allah menyukai kebajikan."
Ayat di atas tentunya tidak relevan untuk mendiskreditkan perjuangan Imam Husein A.S. Sebaliknya ia menguatkan lagi kebenaran perjuangan Imam Husein A.S karena beliau A.S telah mengorbankan harta benda, putra-putranya malahan jiwa raganya sendiri untuk menegakkan agama Allah.
 
Segelintir orang berpendapat perjuangan Imam Husein A.S satu tindakan bunuh diri karena bilangan tentera pasukannya amat kecil berbanding tentera Yazid yang akan menentangnya; maka itu satu pebuatan sia-sia. Tetapi pendapat ini juga tidak betul jika kita mengamati contoh-contoh perjuangan para Nabi terdahulu umpamanya Nabi Musa A.S menentang Fir'aun dan perjuangan Nabi Ibrahim A.S menentang Namrud.
 
Imam Husein A.S telah bertindak selaras dengan tuntutan Al-Qur'an dan Hadith Nabi S.A.W. Sebuah Hadith Nabi S.A.W yang kita ketahui menyatakan bahwa:
 
      "Barang siapa di antara kalian melihat
    kemungkaran,   maka hendaklah ia menghilangkannya  dengan tangan, 
    dan apabila tidak mampu, dengan lidahnya, dan apabila masih
    tidak mampu dengan hatinya.Dan inilah  selemah-lemahnya iman."   
Allah berfirman dalam al-Qur'an Surah Al-Imran:110, 
bermaksud: 
 "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma'ruf dan
                                    mencegah yang   
  mungkar serta beriman
                                    kepada Allah."
   
Dan ingatlah bahwa sesungguhnya Allah telah berfirman dalam Surah Al-Imran:169, 
yang bermaksud:
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, 
bahkan mereka itu  hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki."

 

Cinta Kepada Imam Husein A.S

Hadith Rasulullah S.A.W yang diriwayatkan dalam Sahih Al-Tirmidzi dari Ya'la bin Murrah
menegaskan kecintaan kepada Husein A.S akan mendapat cinta dari Allah SWT:
"Husein daripadaku dan aku pula daripada Husein, Allah mencintai sesiapa yang 
mencintai al-Husein,”
Rasulullah S.A.W mengajak kita semua mengasihi Husein A.S seperti yang 
dinyatakan dalam hadith yang diriwayatkan dari Barra' bin Azib:
"Aku telah melihat Rasulullah S.A.W mendokong al-Husein cucundanya yang
 masih kecil dan meletakkan di atas pangkuannya seraya berdo'a yang bermaksud:
 "Ya Allah sesungguhnya aku mengasihinya oleh itu kasihilah dia."
Dan Sesiapa yang memusuhinya telah memusuhi Allah SWT seperti maksud hadith
 yang dinyatakan di bawah:
"Dan sesiapa yang memusuhi kedua-duanya
 [Hasan A.S dan Husein A.S] maka ia telah
 memusuhi Allah, dan barang siapa memusuhi Allah maka ia akan di campakkan 
ke dalam api neraka mukanya akan terlempar dahulu."

Kesimpulannya, perjuangan Imam Husein A.S adalah berada di jalan yang benar
selaras dengan tuntutan ajaran Islam yang dibawa dan diajarkan oleh datuknya
sendiri Muhammad Rasulullah S.A.W.

 

Menangisi Kesyahidan Imam Husein A.S

 

Rasulullah S.A.W telah bersabda yang mengisyaratkan bahwa perjuangan 
al-Husein A.S adalah seperti perjuangan beliau S.A.W, yang bermaksud:
 
"Husein daripadaku dan aku daripada Husein [Husein minni wa-ana min Husein]...."
 
Sabda beliau SAWA yang lain yang bermaksud:
"Jika ada orang yang meninggal dunia seperti Hamzah 
hendaklah ada yang menangisinya..."
Allah SWT berfirman dalam al-Qur'an Surah al-Ahzab:21 yang bermaksud:
" Di dalam diri Rasulullah terdapat uswah hasanah [teladan yang baik] 
bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhirat serta dia selalu 
mengingati Allah."
 
Tidak diragukan lagi bahwa jika ada orang yang mengingati Peristiwa Karbala 
dan kemudian menangisi Imam Husein AS maka orang ini telah mengikuti saranan
 Rasulullah S.A.W.
Sabda Rasulullah S.A.W yang lain bermaksud:
 
"Keringnya air mata [terhadap sesuatu musibah] adalah tanda dari kerasnya hati. 
Itulah penyakit terparah yang menimpa anak cucu Adam."
 
Seorang sahabat Imam Ja'afar al-Sadiq A.S menemui beliau A.S pada 10 Muharram.
Pada ketika itu Imam Ja'afar al-Sadiq A.S sedang menangis tersedu-sedu. Sahabat ini 
mungkin terlupa bahwa hari itu adalah Hari Asyura. Ia pun bertanya kepada Imam 
Ja'afar al-Sadiq A.S sebab-sebab beliau A.S menangis. Imam Ja'afar A.S menjawab:
 
"Apakah engkau lupa ini adalah hari ketika datukku al-Husayn
dibunuh dengan kejam?
 Barang siapa menjadikan hari ini sebagai hari berkabungnya, maka Allah akan 
menjadikan Hari Qiamat kelak sebagai hari kegembiraan dan kebahagiaannya.Di
                                    syurga ia akan tinggal dengan penuh kebahagiaan."
Hari Karbala ialah pada 10 Muharram 61H....
Imam Husein A.S telah syahid pada hari Jumaat ketika berusia 57 tahun....
Andakah anda mengingatinya?
 
Imam Ja'afar al-Sadiq A.S berkata:
 
"Setiap hari adalah Asyura
 Dengan nama Allah, Maha  Pemurah, Maha Penyayang

                                    IMAM  Hussein (A.S.) dengan kebangkitannya menjamin ikhtiar 

hidup Islam yang tulen. 

Riwayat hidup Imam Al Hussein (A.S) yang rahmat dan revolusiner 
serta kebangkitan Islamnya adalah satu perkara yang 
amat penting untuk dipelajari dan diselidiki bagi mereka yang mahukan 
wujudnya keadilan llahi dan kemusnahan sistem 
penindasan di seluruh dunia di semua zaman. Untuk memperingati 
kesyahidan Hadhrat Al Hussein (AS), Imam ke Tiga dari keluarga 
Rasulullah (saw) dan juga 72 orang pembantunya yang setia serta saudara-
 maranya adalah juga penting dan ia memperkuatkan perjuangan yang
 sebenar bagi mereka yang beriman dan negara-negara tertindas terhadap 
para penzalim di merata-rata dalam apa zaman pun. la 
juga merupakan satu protes terhadap pelbagai dimensi dan 

punca kezaliman  di seluruh dunia.


                                    Sepuluh Muharram adalah hari kebangkitan Islam, 

satu hari tradisi untuk mengingati kesyahidan mereka dan juga

yang mereka lakukan ke jalan Allah, Maha Berkuasa. 

Di sini kami mengulas secara ringkas peristiwa kebangkitan

 Imam Al Hussein (A.S.).


                                    Setelah mengkaji akan kata-kata pepatah dan ajaran begitu juga 
dengan fikiran dan menumpukan perhatian pada apa 

yang dilakukannya, di Karbala pada tahun 61H.
telah membuatkan orang Islam dan yang tertindas berkumpul 

di purata dunia biarpun menentang kezaliman 
sistem pemerintahan dan juga penindasan yang telah 
dilakukan dan tidak akan berhenti sehingga kebenaran 

dan keadilan mengatasinya.


                                    Imam yang ketiga iaitu Hadhrat Seyyed Ash-Shohada (A.S.) telah 
menyelamatkan Islam dan boleh dikatakan telah mengajar 

para pengikutnya  supaya tidak tunduk
kepada kezaliman walau bagaimana 
kuat sekalipun pihak yang zalim itu.


                                    Imam Al-Hussein (A.S.) dan 72 orang teman dan saudara-saudaranya 
termasuk juga anaknya yang baru berumur 6 bulan

iaitu Alie Asghar (A.S.) telah terkorban di jalan Allah dalam

 mempertahankan Islam dan agamanya dalam peperangan 

di Karbala. Lebih daripada 30 ribu orang tentera musuh Islam telah berkumpul 

untuk melawan Imam kaum muslimin dan juga merupakan 

kaum keluarga Nabi Muhammad S.AW.


                                    Imam dan juga para pembantunya telah memilih jihad kerana Allah 
dalam menghadapi tentera Yazid daripada mengambil

sikap berdiam diri ataupun daripada mengangkat
sumpah taat setia kepada seorang 
penindas dan juga penjenayah seperti Yazid Ibnu Mua'-wiyah. Yazid 
merupakan seorang yang terkenal yang bemiat untuk 
membasmikan ajaran Islam yang sebenarnya.


                                    Enam  bulan terakhir Imam berbetulan
dengan 10 tahun pemerintahan Khalifah Yazid yang haram. 

Imam Al-Hussein dalam keadaan yang amat susah
 sekali dalam tertekan dan ditindas semasa di Madinah, 
Makkah dan juga semasa dalam perjalanan ke Kufah. 

Ini telah dijangkakan kerana undang-undang agama telah tidak diambil 

berat dan tidak dipraktikkan. 

Para elik kerajaan haram Umayyah telah beroleh kuasa sepenuhnya. 

Yang keduanya Mua'wiyah dan para pembantunya telah

 menggunakan apa cara  sekali untuk menolak ke tepi ajaran Islam 

dan keluarga Nabi Muhammad S.A.W dan dengan itu akan 

menghapuskan nama Amirul  Mukminin Imam Ali (A.S.) dan keluarganya. 

Yang paling penting Mua'wiyah mahu mengukuhkan akan jawatan khalifah anaknya

 yang didapati secara haram dan juga kerana Yazid yang begitu 
kekurangan prinsip dan ditentang oleh sebahagian besar orang Islam.


                                    Setelah menolak untuk mengangkat sumpah taat setia kepada Yazid, 

Imam Al Hussein (A.S.) telah meninggalkan bandar suci Madinah ke Makkah 
bersama dengan kaum keluarga Nabi Muhammad. Semasa di 
Makkah penduduk Kufah telah menulis kepadanya dan juga telah menghantar 
wakil berjumpa dengannya.


                                    Hadhrat Seyyed Ash-Shohada (A.S.) dengan kaum keluarganya dan 
rakan-rakannya telah meninggalkan Makkah menuju ke Kufah mengikut 
rakan-rakan-nya akan wakil dan juga saudaranya Hadhrat Muslim Ibue 
Aquel (A.S.). Mereka menuju ke Kufa hingga mereka berhadapan dengan 
tentera Yazid.


                                    Imam dan rakan-rakannya telah dikepung di sana.
 Pada 10 Muharam 61 A.H pada hari Ashura yang begitu panas dan

 di kawasan  padang pasir terpencil di Karbala, Imam (A.S.) 

berhadapan dengan 30 ribu  orang tentera Yazid yang

 bersedia untuk berperang dengan Imam Al-Hussein (A.S.) dan 

Juga dengan para keturunan Nabi Muhammad S.A.W 

dan dengan rakan-rakan dan saudara-mara Imam 
Al- Hussein.


                                    Pada hari Ashura tentera Yazid telah membunuh Imam ketua umat Islam
 dan perkara yang sama telah dilakukan terhadap abang, anak dan juga 
saudara maranya dan teman-temannya di Karbala


                                    Atas perintah Yazid, orang Kufah telah membunuh Imam ketua Umat Islam
 yang disayangi oleh datuknya Nabi Muhammad S.A.W. 

Nabi Muhammad pemah  berkata, "Al-Hussein ialah dari saya dan saya dari 
Al-Hussein".


                                    Pada  hari Ashura itu Imam Ali Ibnu Al-Hussein (A.S.) yang 
merupakan anak sulung Imam Al-Hussein 23 tahun telah

 dihinggapi dengan penyakit yang teruk. 

Dia merenung dalam-dalam akan masa 
hadapan iaitu perjuangan para pengikut 

ajaran Islam yang sebenamya 

dengan khalifah Dinasti Omanyad iaitu pemerintahan secara 
haram Yazid.


                                    Dia telah melihat di Medan peperangan Karbala
 bagaimana para pengikut setia ajaran yang setia 
telah berlawan dengan gagah dan mati Syahid.



 Seisi rumah Imam Al-Hussein  (A.S.) termasuk Imam Ali Zainal Abidin (A.S.) 

dan  juga Hadhrat Zainab, adik lmam',~kanak-kanak dan wanita telah 
dipenjarakan di Karbala dan kemudian ke Kufah dan terus 

ke Istana Yazid di Sha'am oleh tenteranya.


                                    Hadhrat Zainab 56 tahun, anak Imam Ali Amirul Mukminin A.S.

 dan  hadhrat Fatimah telah menjaga akan kesemua wanita dan kanak-kanak yang 
berada di pihak Imam  Al-Hussein selama syahidnya dia Imam  Hussein. 

Dia telah menjaga Imam Zainal-Abidin A.S. dan juga kanak-kanak
 dan wanita yang telah dipenjarakan sebagai tahanan perang.


                                    Tidak kira walaupun di mana kafilah itu berada dan pada setiap 
peluang, Hadhrat Zainab. Hadhrat Ummu Khalsom, 

adiknya dan Imam Zainal-Abidin telah memberikan
ucapan yang bersemangat dan berani 
dan mendedahkan akan kebenaran dan tujuan Imam Al-Hussein A.S. 

Dinasti  Umayyah telah secara salah mengumumkan yang para tahanan 
dan yang mati syahid di Karbala bukan pengikut agama Islam. 

Tapi Hadhrat  Zainab dan adiknya dan Imam Zainal Abidin A.S. 

telah menerangkan pada oang ramai keadaan sebenamya telah

membuatkan propaganda pihak kerajaan tidak berkesan. 

Mereka memberitahu kepada umum yang penjenayah Yazid 

dan ahli-ahli dinasti Umayyah membuat dosa, zaiim dan
merupakan pengikut kepada Syaitan yang telah membunuh 

ahli keluarga Nabi Muhammad S.A.W dan juga Imam 
Al-Hussein, rakan-rakan dan ahli keluarganya di Karbala.


                                    Keluarrga  Nabi Muhammad S.A.W
bila mereka telah menjadi tahanan 
dalam perjalanan ke Syam berikhtiar 

untuk mengingati para Syahid dalam 
usaha untuk menunjukkan akan kebenaran dan agar perjuangan 
Imam Al-Hussein terus berjalan.


                                    Pada  mulanya Imam Zainal-Abidin
                                    berhadapan dengan berbagai masalah 
dan kesusahan. Walau bagaimana pun Imam Zainal beijaya memenuhi akan 
tujuannya. Berdepan
                                    dengan Yazid, Imam Zainal telah 
memulakan akan misi dan tujuannya dengan memberikan ucapan yang 
mendedahkan akan jenayah Yazid
                                    dan rasuah kerajaannya, se-masa di 
tahanan dan sedang sakit teruk.


                                    Anak perempuan Amirul Mu'minin a.s. Hadhrat Zainab juga telah memberikan 

ucapan yang berani dan  bersemangat di 

kota  Kufah dan Syam dan juga di Istana Yazid.


                                    Dalam
 usaha untuk menghentikan
                                    akan ucapan-ucapan yang memburukkan 
dan merosakkan diri dan kerajaannya oleh kaum keluarga Nabi Muhammad 
S.A.W, Yazid yang
                                    kejam telah memerintahkan supaya 
para tahanan dibawa ke Madinah.


                                    Di Madinah, Hadhrat Zainab dan
                                    yang lain-lain meneruskan akan aktiviti-aktiviti Islamnya,

 Gabenor itu takut dan telah menulis surat kepada Yazid mengenai akan 

ketakutannya akan pemberontakan dan akan berlaku kekacauan


                                    Dalam
 tindakbalasnya Yazid menulis,
                                    "Kalau dia dari Madinah dan biar dia
 berpindah ke mana sahaja dia mahu". Gabenor itu telah bercakap dengan 
hadhrat Zainab
                                    tetapi dia menolak akan tawarannya 
dan berkata "Allah Maha Besar tahu apa yang Yazid lakukan terhadap kami.
 Dia telah membunuh
                                    kaum lelaki kami dan menghalang air 
yang mana tidakk ada orang akan menghalang walaupun pada binatang 
sekalipun dan membawa
                                    kami dari bandar ke bandar macam 
hamba. Saya bersumpah kepada Allah, jika mereka membakar kami, saya 
tidak akan meninggalkan
                                    makam datuk saya Nabi Muhammad 
S.A.W.


                                    Hadhrat
 Zainab telah memainkan
                                    peranannya dengan begitu baik 
sekali. Ceramah yang di lakukan dalam menge-cam akan penindasan oleh 
kerajaan Yazid tidak boleh
                                    dilupakan dan dia telah menjadi 
simbol kepada umat Islam lebih daripada 14 abad kerana pekerjaan suci 
yang telah dia lakukan
                                    dalam menegakkan keadilan dan Islam.


                                    Seperti
 apa yang telah kita
                                    lihat pemberontakan oleh Imam 
Al-Hussein mempunyai 2 aspek. Pertama, perjuangan jihad melawan musuh 
Allah. Kedua, untuk memberitahu
                                    sebab-sebab pemberontakan kepada 
rakyat jelata dan telah dijadikan satu sumber inspirasi untuk 
memberontak melawan kuasa yang
                                    zaiim selama sudah 14 abad.


                                    Di
 antara keputusannya ialah
                                    pemberontakan bersama-sama dengan 
peperangan yang telah berterusan selama 12 tahun. Di antara yang 
bertanggung-jawab akan
                                    kematian Imam dan 72 orang temannya,
 tidak seorang pun yang lepas daripada pembalasan dan hukuman.


                                    Sekarang,
 ianya telah menjadi
                                    begitu penting untuk menyebut dan 
berkabung atas Imam Al-Hussein dan 72 orang pembantunya. Berkaitan 
dengan ini arwah Imam
                                    Khomeini telah menyebut:


                                    "Berkabung untuk Imam a.s.
                                    terutamanya yang tertindas 
dan Syahid Hadhrat Abi-Abdullah Al-Hussein a.s. tidak boleh diabaikan."


                                    Dan
 ia sepatutnya diberitahu
                                    segala ajaran Imam adalah untuk 
kenangan dan sejarah Islam. Sumpahan kepada yang menzalimi Ahlul-Bayt 
iaitu keluarga Nabi
                                    Muhammad S.A.W merupakan tangisan 
keberanian oleh negara itu kepada yang menzalimi.


                                    Dan
 anda semua tahu yang segala
                                    sumpahan dan segala pengecaman 
terhadap Bani Umayyah maka biar sumpahan Allah terhadap mereka. Mereka 
telah dimusnahkan dan
                                    telah masuk ke dalam neraka."


                                    Imam Zainal-Abidin pernah berkata,"
                                    Tiap hari, Ashura, kesemua tanah Karbala,
 tiap bulan Muharram."
                                    Ianya diketahui dan difahami yang 
revolusi Islam menentang kafir dan syirik, kebenaran mengatasi 
kesalahan, dan tertindas
                                    terhadap penindas dan penzalim mesti
 diteruskan di mana-mana jua dan tiap bulan. Dan dalam menyimpan 
kenangan Hadhrat Imam
                                    Al-Hussein a.s. dan berkabung untuk 
dia dan para Syahid Islam yang lain yang telah memainkan peranan penting
 dalam menampakkan
                                    Islam. Kami harap agar ajaran Imam 
(A.S.) akan sentiasa menjadi panduan para Muslimin dan yang tertindas di
 seluruh dunia
                                    dan membantu mereka untuk menghalau 
penindas dan para penzalim." Insya-Allah.


"Saya tidak bermazhab Syiah, tetapi saya mencintai Husain!" - Hamka

24 December 2009

http://tehranifaisal.blogspot.com/2009/12/mengapa-ada-orang-islam-berani-dan.html


Mengapa Membunuh Cucunda Nabi Muhammad SAW?

Dalam sastera Melayu, tidak ramai yang mahu, atau "tergamak", menulis buku tentang peristiwa di medan Karbala. Menulis hal yang sangat tragis ini padahal adalah satu dedikasi penting buat Nabi Muhammad saw. Ini kerana yang terbunuh di medan berdarah itu adalah sekian cucu cicit dan kerabatnya.

Saya tidak dapat memikirkan pewajaran yang lain, bahawa tentu sahaja menulis untuk merakam kejadian keji dan jelek ke atas keturunan Rasullulah saw, terhadap penghulu pemuda di syurga itu; pasti, saya yakin pasti - akan membolehkan pertimbangan syafaat Nabi Muhammad saw buat sang penulisnya. Bahkan mereka yang mengkaji dan memanjangkan tragedi berdarah ini, saya yakini akan beroleh manfaat di akhirat kelak. Masakan Saidina Ali dan Saidatina Fatimah tidak memandang mereka yang membela peristiwa genosid dan cleansing terhadap ahlul bait Nabi ini?

Saya ingin memetik dua karya yang pernah saya baca, dan masih saya uliti setiap kali Muharam tiba, akan saya baca dan tatapi, bahkan ratapi isinya kulit ke kulit.

Peristiwa di Padang Karbala adalah buku cerita kanak-kanak tulisan Wan Yusof Hassan, bekas pegawai penyelidik dan editor Dewan Bahasa dan Pustaka. Novel ini adalah terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka di zaman belum munculnya ustaz-ustaz wahabi yang kembali dari Jordan dan Saudi. Saya masih ingat buku ini dibelikan oleh ayah saya, tuan Haji Musa bin Yahya sebagai upah kerana mendapat tempat ke sepuluh dalam kelas darjah dua pada tahun 1982. Saya membacanya dengan air mata bergenang dan bertanya 'Mengapa ada orang Islam berani dan sanggup membunuh cucu Nabi Muhammad saw setelah kewafatan baginda?'


"Saudaraku semua, jangan biarkan Baginda Husin minum air sungai itu. Halanglah dia. Kiranya dia dapat meminum air itu tiada siapa lagi yang dapat menentangnya."

Apabila didengar oleh askarnya dengan segera dipanahnya baginda. Baginda Husin yang dahaga dan letih itu tidak sempat mengelaknya. Anak panah itu akhirnya mengenai leher baginda. Segera dicabut oleh baginda anak panah itu dan dibuangkannya ke dalam sungai Furat.

Baginda memekup lukanya dengan tangan kiri sambil terus mengamuk. Tentera Baginda Yazid datang dengan ramainya mengerumuni baginda. Setengah daripada aksar itu takut untuk menentang baginda. Manakala setengahnya pula malu hingga mereka berpaling - tidak sanggup menatap wajah cucu Rasulullah. Ketika itu muncullah Simirlain menyeru rakan-rakannya agar segera memancung Baginda Husin. Akan tetapi semuanya merasai suatu macam ketakutan untuk menentang baginda.

"Bunuhlah baginda, kerana aku ada bersama-sama kamu. Apa yang telah kamu lakukan hanya memusuhinya saja. Kenapakah kamu tidak sanggup untuk membunuhnya?" kata Simirlain.

"Kamu pun apa kurangnya dari kami? Kita berjuang adalah untuk mencari kekayaan. Mencari pangkat dan darjat!" jawab mereka.

"Kamu semuanya tidak begitu percaya akan kebolehanku. Nanti aku tunjukkan padamu bahawa segala kata-kataku ini akan kukotakan."

Simirlain pun segera mendapatkan Baginda Husin. Apabila dilihat oleh Baginda, teringatlah Baginda akan sabda Rasulullah bahawa orang yang akan membunuhnya keadaan mukanya hitam dan teteknya seperti tetek anjing.

Dengan tidak bertangguh lagi Simirlain pun menikam Baginda Husin pada dadanya dan lehernya terus dipenggal. Syahidlah Baginda Husin pada 10 Muharam iaitu hari Jumaat.
Tentu, dalam sastera Melayu klasik, Hikayat Muhammad Hanafiyyah adalah karya ulung yang membicarakan kepahitan yang luar biasa dalam sejarah umat Islam. Pengungkapan peristiwa Karbala yang sungguh berdarah dan menyayat hati manusia dan setiap makhluk Tuhan ini menunjukkan masyarakat Melayu kita tidaklah asing dari bahagian mengenang kejahatan terhadap ahlul bait. Menurut L.F Brakel, Hikayat Muhammad Hanafiyyah yang memuatkan pembunuhan ngeri dan sadis cucunda Rasulullah saw adalah 'sebuah teks yang popular dan terkenal' (tentu, kenyataan Brakel ini sebelum munculnya gejala gerakan salafi yang sering merujuk secara intelektual kepada Ibnu Taimiyyah yang amat memusuhi Saidina Ali dan ahlul bait Rasulullah saw). Edisi Hikayat Muhammad Hanafiyyah yang paling tua tersimpan di Indonesia ialah edisi 1771 masehi. Sementara edisi asalnya yang dipercayai pada tahun 1604 masih tersimpan di Universiti Cambridge. Untuk mereka yang berminat membaca hikayat ini, adalah amat sukar untuk menemui versi yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka tahun 1988 ini. Mungkin (sekadar satu tanggapan), simptom 'menyahcinta' ahlul bait sudah kian mengukuh, sehingga mengatasi kewarasan dan keterbukaan wilayah akademik serta intelektualisme.

Saya masih ingat buku ini dibeli pada tahun 1990 di sebuah kedai buku di Kelang ketika saya menuntut di Kolej Islam Kelang. Saya membacanya dengan air mata bergenang dan bertanya 'Mengapa ada orang Islam berani dan sampai hati membunuh cucu Nabi Muhammad setelah kewafatan baginda?'

Saya hanya akan menurunkan beberapa perenggan dari Hikayat Muhammad Hanafiyyah (selain hikayat ini, Hikayat Perang Sabil turut dimanfaatkan) yang pernah dibaca oleh para pejuang Aceh untuk menjadi pembakar semangat mendepani soldadu penjajah Belanda.



"Wah kasihan kami! Wah kesakitan kami! Wah sesal kami! Wah Muhammad kami! Wah Ali kami! Wah Fatimah kami! Wah Hasan kami! Wah Husain kami! Wah Kasim kami! Wah Ali Akbar kami!" Maka isi rumah rasul Allah tiadalah menyadar diri. Pada ketika amir Husain syahid itu arasy Allah dan kursi gementar, bulan dan matahari pun redup, tujuh hari tujuh malam lamanya segala alampun kelam kabut, karena amir Husain terbunuhlah, peninggalan nabi Allah dan lihat-lihatan daripada rasul Allah: seorang cucunya, amir Hasan, dibunuhnya dengan racun, seorang lagi cucunya dibunuh segala kafir itu dengan senjata: kepalanya diperceraykan orang. Demikianlah halnya disembelih orang alim, supaya kita ketahui: hidup dalam dunia tiadakan kekal! Hay segala mereka itu yang Islam, sementaranya kita hidup dalam dunia, hendaklah ingat akan mati dan sedekala dengan air mata, karena isi rumah rasul Allah lagi dengan dukacitanya, supaya beroleh syafaat rasul Allah lagi dengan dukacitanya, supaya beroleh syafaat rasul Allah sallaLlahualayhi wa sallam! Ya Ilah l-alamin wa ya Xair an-nasirin! Bir-rahmatiKa ya Arham ar ahimin amin!

....

"Ya Fatimah Zahra, raja segala perempuan dunia akhirat! Hambalah memenggal tangan amir Husain! Halalkan dosa hambamu!" Maka ujar Fatimah: "Tiada aku menghalalkan dosamu! Bahwa Allah taalapun tiada mengampuni dosamu! Bahwa Allah taalapun tiada mengampuni dosamu! Karena bukan kerja kaukerjakan kepada isi rumah rasul Allah, sepertinya kaunista anakku! Tiada aku mau menengarkan katamu: tiada ada kasihanmu melihat anakku!" Maka Rasul Allah berbangkit menampar muka hamba (maka iramlah sebelah mukanya, barang siapa mlihat, mukanya iram sebelah, ialah yang memenggal tangan amir Husain anak Fatimah az Zahra, buah hati Ali Murtada, cucu Muhammad Mustafa s). Maka Fatimah berkata: "Hay celaka! Apa dikit dosa anakku amir Husain kepadamu, maka engkau menanggal tangannya? Berapa-berapa kalilah engkau daripada tangan anakku beroleh anugerah, dan karunianya akan dikau tiada kali, maka ngapa kaubalaskan akan tiap pekerjaan demikian ini? Tiada sekali engkau takut akan Allah taala dan tiada engkau takut akan Rasul Allah s dan tiada engkau takut akan segala sidang nabi sekalian dan tiada ada engkau malu akan segala malaikat dan tiada engkau malu akan daku dan tiada engkau takut akan kena la'nat Allah!"
Dua 'karya besar' ini mencetuskan soalan 'mengapa ada orang Islam berani dan betah membunuh cucu Nabi Muhammad saw setelah kewafatan baginda?'

Alhamdulillah soalan tersebut bergumul dalam benak dan dada saya membuatkan saya mengkaji dan menulis pula naskah mengenang Karbala nukilan saya sendiri pada tahun 2007.

Saya hanya mengharapkan Rasulullah saw menolong saya dan keluarga di akhirat nanti kerana waras sekali, menulis mengenang kesyahidan Saidina Husin kesayangan nabi pasti dipandang baginda. Insya-Allah. Saya hanya mahu menghidupkan kembali seorang manusia suci yang memang akan terus hidup abadi.

Ada manusia mengkritik saya kerana merujuk buku Taha Husain dalam entri sebelum ini. Mereka sangka Taha Husain menulis Fitnatul Kubra tanpa merujuk buku-buku sejarah klasik. Untuk mengangkat agenda mereka, segala sumber yang bersalahan dengan pegangan akan ditolak meski ia objektif. Jika mereka menolak Taha Husain, mungkin mereka tidak dapat menolak Maududi (atau kerana jahil mungkin mereka tidak mengenal siapa Maududi). Untuk budak-budak rumaja yang terbirit-birit membontot sekerat dua ulama salafi bermasalah yang mempertahankan penjenayah perang Karbala, eloklah diturunkan di sini petikan dari buku karangan tokoh gerakan Islam Pakistan, Maulana Abu Ala-Al Maududi yang saya baca dalam usrah sejak dari zaman di Kolej Islam Kelang lagi:

"Dan ketika ia terluka dan kemudian jatuh, mereka menyembelihnya dan merompak apa saja yang ada di atas jasadnya, mengoyak-ngoyak baju yang menutup tubuhnya, kemudian menggilasnya dengan kuda-kuda dan menginjak-injaknya dengan kaki-kaki mereka. Setelah itu mereka beralih ke khemahnya, merompak isinya, mencabik-cabik pakaian para wanita, memenggal kepala-kepala setiap orang yang telah gugur di Karbala dan membawa semuanya ke Kufah. Ibnu Ziyad tidak cukup menjadikan itu semua sebagai barang tontonan di hadapan orang banyak tetapi ia naik ke atas mimbar Masjid Jami' dan berkata: "Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menampakkan kebenaran dan ahlinya, memenangkan Amirul Mukminin Yazid dan kelompoknya serta membunuh si pendusta putera si pendusta, Husein bin Ali dan pengikut-pengikutnya"
.....
Memang ada beberapa perbezaan dalam riwayat-riwayat yang menyebut menyebutkan tentang tindakan Yazid dan ucapan-ucapannya di Istana Damsyik, tetapi sekiranya kita meninggalkan semua riwayat ini dan mempercayai satu riwayat saja yang menyatakan bahawa Yazid telah menangis ketika menyaksikan penggalan kepada Husein dan kawan-kawannya lalu ia berkata: "Sesungguhnya aku sudah puas dengan ketaatan kalian tanpa membunuh Husein. Terkutuklah cucu Sumayyah. Demi Allah, sekiranya aku yang berhadapan dengannya, nescaya aku akan mengampuninya."

Dan bahawa ia juga berkata: "Demi Allah, wahai Husein, sekiranya aku berada di hadapanmu, niscaya aku tidak akan membunuhmu." Sekiranya riwayat itu kita percaya maka masih ada pertanyaan yang ingin kita tanyakan, hukuman apakah yang telah dilakukan oleh Yazid ke atas diri gabenornya yang durjana itu atas perbuatannya melakukan kezaliman yang besar ini?

Berkata Ibnu Katsir bahawa Yazid tidak pernah menghukum Ibnu Ziyad, tidak memecatnya, bahkan tidak pernah mengirim sepucuk surat kecaman pun kepadanya."

[Lihat S.Abul Ala Maududi; Khilafah dan Kerajaan, jika cetakan Dewan Pustaka Fajar rujuk halaman 233-234]
Mempertahankan penjenayah perang Karbala adalah seperti mempertahankan George Bush, atau Ariel Sharon.

Saya ingin menutup entri tentang peristiwa sayu ini dengan soalan yang sama bergumul dalam jiwa saya sejak masih anak-anak dan remaja, ia masih bergema dalam kepala saya sehingga saat ini:

Mengapa ada orang Islam berani dan datang hati membunuh cucu Nabi Muhammad saw setelah kewafatan baginda? Dan mereka masih tidak segan silu mahukan syafaat baginda Rasul di hari masyhar kelak. Lebih menjengkelkan, mengapa ada agamawan sanggup berhempas pulas menutup sejarah dan mempertahankan pembunuh-pembunuh Saidina Husein dan keluarganya di medan Karbala? Tidakkah mereka tahu malu mengucapkan selawat buat Rasulullah saw dan keluarganya ketika dalam solat?

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar