Selasa, 12 Februari 2013

....Penyiksaan Global CIA, Bukti Hipokrasi Sistem Internasional...>>> ... ADA 54 NEGARA YANG BERKOLABORASI DENGAN CIA.... YANG MENYIKSA DAN MENINDAS UMMAT ISLAM ..SECARA TIDAK SAH DAN MENGGUNAKAN SEGALA CARA YANG TANPA DASAR HUKUM YANG ADIL.... >>>.... Afganistan, Albania, Aljazair, Australia, Austria, Azerbaijan, Belgia, Bosnia-Herzegovina, Kanada, Kroasia, Cyprus, Republik Ceko, Denmark, Djibouti, Mesir, Ethiopia, Finlandia, Gambia, Georgia, Jerman, Yunani, Hongkong, Islandia, Indonesia, Iran, Irlandia, Yordania, Kenya, Libya, Lithuania, Macedonia, Malawi, Malaysia, Mauritania, Moroko, Pakistan, Polandia, Portugal, Romania, Arab Saudi, Somalia, Afrika Selatan, Spanyol, Sri Lanka, Swedia, Suriah, Thailand, Turki, Uni Emirat Arab, Inggris, Uzbekistan, Yaman, dan Zimbabwe....>> .. Pengkhianatan penguasa negeri Islam yang berkerjasama dengan Amerika tampak dari laporan Open Society Foundation (OSF), Selasa, 5 Februari 2013. Lembaga itu meluncurkan hasil studi berjudul “Globalizing Torture: CIA Extraordinary Rendition and Secret Detention”. Studi ini menyoroti program rendition (pemindahan seseorang ke negara lain tanpa melalui proses hukum) dan penahanan rahasia yang dilakukan dinas rahasia Amerika Serikat, CIA, paska serangan teroris 11 September 2001 ke negara itu. Partner CIA dalam program rahasia ini 54 negara, termasuk Indonesia....>>>..... Negara-negara seperti Amerika, Inggris, Jerman, yang menjadi pemain utama dalam sistem internasional saat ini, di satu sisi membanggakan diri sebagai negara pendukung penegakan hukum dan HAM. Disisi lain mereka terlibat langsung dalam penyiksaan global terhadap umat Islam yang dituduh tanpa bukti terlibat terorisme. Bersama CIA , negara-negara ini terlibat dalam program program rendition...>>....PEMERINTAH Afghanistan telah membebaskan 129 tahanan Afghanistan yang sebelumnya ditahan oleh pasukan militer AS di penjara Bagram....>>.... Delegasi yang terdiri dari 10 pengacara, termasuk 7 dari Turki, 2 dari Mesir dan 1 dari Arab Saudi, akan mengadakan pembicaraan dan melakukan pengamatan di Gaza selama dua hari. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengacara Internasional, Necati Ceylan, ditunjuk menjadi ketua delegasi. Berbicara kepada Anadolu Agency (AA), Dekan Fakultas Hukum di Universitas Yeni Yuzyil dan anggota dari Dewan Eksekutif AA, Prof Dr Refik Korkusuz mengatakan pada hari Senin (13/1) bahwa delegasi hukum akan tiba di Gaza untuk mendokumentasikan kejahatan dan pelanggaran yang dilakukan Israel...>> ...Gugat Perang Israel-Palestina, Delegasi Pengacara Kumpulkan Bukti Peperangan..>>


Laporan Penyiksaan Global CIA, Bukti Hipokrasi Sistem Internasional

By on February 13, 2013
http://islampos.com/laporan-penyiksaan-global-cia-bukti-hipokrasi-sistem-internasional-43293/
 
farid-wadjdi

Oleh: Farid Wadjdi, Pengamat Hubungan Internasional

Pengkhianatan penguasa negeri Islam yang berkerjasama dengan Amerika tampak dari laporan Open Society Foundation (OSF), Selasa, 5 Februari 2013. Lembaga itu meluncurkan hasil studi berjudul “Globalizing Torture: CIA Extraordinary Rendition and Secret Detention”. Studi ini menyoroti program rendition (pemindahan seseorang ke negara lain tanpa melalui proses hukum) dan penahanan rahasia yang dilakukan dinas rahasia Amerika Serikat, CIA, paska serangan teroris 11 September 2001 ke negara itu. Partner CIA dalam program rahasia ini 54 negara, termasuk Indonesia.

Negara-negara yang menjadi partner CIA dalam program rahasia tersebut: Afganistan, Albania, Aljazair, Australia, Austria, Azerbaijan, Belgia, Bosnia-Herzegovina, Kanada, Kroasia, Cyprus, Republik Ceko, Denmark, Djibouti, Mesir, Ethiopia, Finlandia, Gambia, Georgia, Jerman, Yunani, Hongkong, Islandia, Indonesia, Iran, Irlandia, Yordania, Kenya, Libya, Lithuania, Macedonia, Malawi, Malaysia, Mauritania, Moroko, Pakistan, Polandia, Portugal, Romania, Arab Saudi, Somalia, Afrika Selatan, Spanyol, Sri Lanka, Swedia, Suriah, Thailand, Turki, Uni Emirat Arab, Inggris, Uzbekistan, Yaman, dan Zimbabwe.

Ada beberapa hal penting yang perlu kita catat berkaitan dengan laporan ini:  

Pertama, laporan yang sebenarnya bukan menjadi rahasia lagi, kembali mencerminkan hipokrasi sistem internasional di bawah kendali negara-negara imperialis.

Negara-negara seperti Amerika, Inggris, Jerman, yang menjadi pemain utama dalam sistem internasional saat ini, di satu sisi membanggakan diri sebagai negara pendukung penegakan hukum dan HAM. Disisi lain mereka terlibat langsung dalam penyiksaan global terhadap umat Islam yang dituduh tanpa bukti terlibat terorisme. Bersama CIA , negara-negara ini terlibat dalam program program rendition.

Hipokrasi negara-negara Barat tersebut tampak jelas, ketika mereka justru bekerjasama dengan penguasa-penguasa diktator di negeri-negeri Islam Mesir, Libya, Saudi Arabia, Suriah untuk melakukan penyiksaan terhadap pihak-pihak yang diklaim secara sepihak oleh Barat sebagai terorisme.

Umat Islam yang dituduh teroris kemudian disiksa secara keji di penjara-penjara negara-negara yang oleh Barat sendiri diakui memperlakukan para tahanan dengan sangat kejam dan di luar batas kemanusiaan.

Kedua, diamnya PBB dalam masalah ini juga menunjukkan organisasi internasional itu hanyalah alat politik negara-negara imperialis. PBB kerap kali melegitimasi penjajahan negara-negara Barat terhadap negeri-negeri Islam dengan tudingan melakukan terorisme dan melanggar HAM. Seperti yang dilakukan oleh PBB untuk melegitimasi pembunuhan terhadap umat Islam di Irak, Afghanistan, Pakistan, Yaman, dan Mali. Namun ketika lembaga intelijen Amerika seperti CIA melakukan tindakan melanggar HAM, PBB menjadi macan ompong.

Ketiga, laporan ini juga kembali menunjukkan bahwa penguasa-penguasa negeri Islam termasuk Indonesia adalah boneka negara-negara Barat. Mereka terlibat langsung dalam penyiksaan global ini dengan memberikan jalan bagi CIA menculik, memindahkan, dan menyiksa siapapun yang dituding terlibat terorisme oleh Barat. Penguasa negeri-negeri Islam telah menjadi pelayan setia dalam program global war on terrorism (GWOT) .

Perang global yang sejatinya merupakan perang untuk kepentingan penjajahan Amerika dengan menjadikan umat Islam sebagai obyek utamanya. Sebab teroris yang dimaksud oleh Barat adalah sangat jelas, siapapun yang melawan penjajahan Barat baik dengan senjata atau pemikiran. Dalam pandangan Barat, teroris adalah siapapun yang ingin menegakkan sistem Islam- syariah dan Khilafah- yang akan menggeser sistem kapitalisme Barat yang sudah rapuh dan membusuk.

Keterlibatan Indonesia bisa dilihat dari penangkapan oleh intelijen Indonesia yang disebut laporan OSF tersebut sebagai bagian dari kerjasama operasi rahasia ini, yaitu terhadap Muhammad Saad Iqbal Madni, Nasir Salim Ali Qaru, dan Omar al-Faruq. Madni ditangkap di Jakarta, sebelum dikirim ke Mesir. Nasir ditangkap di Indonesia tahun 2003 dan ditransfer ke Yordania, sebelum akhirnya ditemukan di Yaman. Faruq ditangkap di Bogor tahun 2002, lalu dipindahkan ke Bagram, Afganistan.

Turki yang juga merupakan sekutu NATO, membantu CIA dengan mengizinkan beroperasinya perusahaan penerbangan Richmor Aviation, yang telah dikaitkan dengan CIA. Mereka mengizinkan pesawat yang dioperasikan Richmor, mengisi bahan bakar di kota Adana pada tahun 2002. Rezim Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) ini juga terlibat dalam penyerahan tersangka teroris berkewarganegaraan Irak kepada CIA di tahun 2006.

Peran penting penguasa negeri Islam dalam membantu CIA tampak sebagaimana yang ditegaskan dalam laporan itu: “Namun, tanggung jawab atas pelanggaran-pelanggaran tidak berakhir pada Amerika Serikat. Penahanan rahasia dan operasi rendisi yang luar biasa, dirancang untuk dilakukan di luar Amerika Serikat dalam selubung kerahasiaan, yang tidak bisa dilaksanakan tanpa partisipasi aktif dari pemerintahan asing.. Pemerintahan itu juga harus ikut bertanggung jawab. ”

Keempat, laporan ini juga menunjukkan adanya kerjasama diam-diam antara CIA dengan negara-negara yang diposisikan sebagai anti Amerika. Sudah menjadi rahasia umum, meskipun dalam retorika globalnya negara-negara seperti Suriah, Libya, dan Iran diposisikan sebagai anti Amerika, dalam kenyataannya negara-negara itu justru bekerjasama dengan CIA untuk melakukan penyiksaan terhadap umat Islam dan memuluskan kepentingan penjajahan negara-negara Barat.

Iran, yang selama ini tidak memiliki hubungan diplomatik dengan AS, berpartisipasi dengan menyerahkan setidaknya 15 terduga teroris ke tangan pihak berwenang AS tanpa melalui kota Kabul, Afghanistan tanpa proses hukum yang berlaku.

Oleh karena itu, laporan yang sebenarnya sudah diketahui umum ini, sekali lagi menunjukkan kepada kita tentang kebutuhan umat Islam akan Khilafah Islam. Negara global yang akan menyatukan umat Islam di seluruh dunia. Khilafah akan menjadi negara adi daya yang melindungi umat Islam dari kerakusan politik imperialistis Barat.

Keberadaan Khilafah juga akan menyingkirkan penguasa-penguasa boneka dan pengkhianat di negeri Islam, yang selama ini telah dengan setia melayani kepentingan Barat. Meskipun mereka harus membunuh rakyat mereka sendiri dan menjual kekayaan alam mereka sendiri. Semua itu mereka lakukan untuk sekedar mempertahankan kekuasaan rapuh mereka lewat dukungan Amerika Serikat dan sekutunya. (Pizaro/Islampos)

Tim ‘Pencatat’ Kejahatan Israel Tiba Di Gaza

By on January 14, 2013
http://islampos.com/tim-pencatat-kejahatan-israel-tiba-di-gaza-38455/
 


SEBUAH delegasi hukum Turki, yang terdiri atas pengacara dari Asosiasi Pengacara Internasional, dilaporkan telah melakukan perjalanan ke Gaza pada hari Ahad (13/1), dalam rangka mengumpulkan bukti kejahatan Israel di Gaza, Palestina.

Delegasi yang terdiri dari 10 pengacara, termasuk 7 dari Turki, 2 dari Mesir dan 1 dari Arab Saudi, akan mengadakan pembicaraan dan melakukan pengamatan di Gaza selama dua hari.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengacara Internasional, Necati Ceylan, ditunjuk menjadi ketua delegasi.

Berbicara kepada Anadolu Agency (AA), Dekan Fakultas Hukum di Universitas Yeni Yuzyil dan anggota dari Dewan Eksekutif AA, Prof Dr Refik Korkusuz mengatakan pada hari Senin (13/1) bahwa delegasi hukum akan tiba di Gaza untuk mendokumentasikan kejahatan dan pelanggaran yang dilakukan Israel.

“Jika ditemukan bukti yang cukup dan meyakinkan, kita akan mulai prosedur hukum terhadap mereka yang telah melakukan kejahatan. Kami akan menyiapkan laporan rinci tentang Gaza dan akan mengirimkannya kepada para pejabat Turki yang relevan,” ujar Korkusuz. [sm/islampos/wb]

Gugat Perang Israel-Palestina, Delegasi Pengacara  Kumpulkan Bukti Peperangan

By on January 15, 2013
 http://islampos.com/gugat-perang-israel-palestina-delegasi-pengacara-kumpulkan-bukti-peperangan-38579/
 
israel palestina 
SEPULUH pengacara termasuk diantaranya adalah tujuh pengacara dari Turki, dua pengacara dari Mesir dan satu pengacara dari Arab Saudi tengah melakukan pejalanan ke Gaza, Senin (14/01/2013). Para pengacara yang di pimpin oleh Necati Ceylan, sekretaris jenderal Asosiasi Pengacara Internasional,  ini diutus untuk mengumpulkan bukti-bukti tentang perang Israel terhadap Palestina yang terjadi pada bulan November tahun lalu.

Refik Korkusuz, salah satu dari tim pengacara, menagatakan bahwa mereka berencana akan mengajukan gugatan terhadap rezim Tel Aviv jika bukti yang meyakinkan yang berkaitan dengan perang selama delapan hari di Gaza November tahun lalu telah ditemukan.

Selain itu menurut militer Israel, selama perang delapan hari di bulan November tahun lalu,  lebih dari 1.500 target di seluruh Gaza terkena serangan. Lebih dari 160 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas dan sekitar 1.200 lainnya luka-luka dalam serangan Israel.

Serangan Israel terhadap Palestina yang terjadi pada bulan November 2012 ini, merupakan serangan mematikan kedua dalam empat tahun. Sebelumnya, rezim Israel juga mengobarkan perang 22 hari di daerah kantung padat penduduk pada tahun 2008, yang menewaskan lebih dari 1.400 warga Palestina, termasuk  diantaranya adalaha 300 anak. [ns/islampos/pt]


Presiden Karzai Perintahkan Penyelidikan Terkait Penyiksaan Di Penjara Afghanistan

By on January 23, 2013
http://islampos.com/presiden-karzai-perintahkan-penyelidikan-terkait-penyiksaan-di-penjara-afghanistan-40046/
 
kar
PRESIDEN Afghanistan Hamid Karzai telah menunjuk sebuah tim untuk menyelidiki laporan PBB tentang adanya penyiksaan sistematis tahanan di fasilitas penahanan Afghanistan.

Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh kantor kepresidenan Afghanistan pada Selasa 22 Januari kemarin, delegasi akan sepenuhnya menyelidiki klaim penyiksaan, penganiayaan, ancaman pembunuhan, dan pelecehan seksual di penjara yang ada negara itu.

Para anggota delegasi diharapkan untuk menyiapkan laporan mengenai keadaan penyiksaan di penjara-penjara dan menyerahkannya kepada Presiden Karzai dalam waktu dua minggu sehingga tindak lanjut tindakan dapat segera diambil, tambah pernyataan tersebut.

Pada tanggal 20 Januari lalu, sebuah laporan terbaru oleh PBB menyatakan bahwa Afghanistan meng- gunakan penyiksaan dan penganiayaan terhadap tahanan, menjadikan hal ini taktik baru yang ditransfer ke pemerintah Afghanistan oleh pasukan asing pimpinan Amerika.

Menurut laporan setebal 139-halaman, lebih dari setengah dari tahanan yang diwawancarai antara Oktober 2011 hingga Oktober 2012 telah mengalami penyiksaan atau pelecehan.

“Upaya Pemerintah (Afghanistan) untuk mengatasi penyiksaan meskipun signifikan, namun belum menghasilkan perbaikan dan pengurangan dalam penggunaan penyiksaan terhadap para tahanan,” kata laporan itu.

Sejumlah pejabat Afghanistan mempertanyakan kredibilitas laporan tersebut, mengatakan laporan itu tidak didasarkan pada fakta-fakta tetapi pada klaim mantan tahanan.

Awal tahun ini, Kabul merilis lebih dari dua ratus tahanan Afghanistan yang sebelumnya ditahan oleh pasukan militer AS di penjara Bagram di Afghanistan.(fq/islampos/prtv)

Kabul Bebaskan 129 Warga Afghanistan Yang Ditahan Pasukan AS Di Bagram

By on January 6, 2013
 http://islampos.com/36888-36888/
 
tah
PEMERINTAH Afghanistan telah membebaskan 129 tahanan Afghanistan yang sebelumnya ditahan oleh pasukan militer AS di penjara Bagram.

“Sampai 129 tahanan, yang telah ditahan di penjara Bagram selama beberapa tahun terakhir, tetapi tidak ada bukti untuk membuktikan keterlibatan mereka dalam pemberontakan, telah dibebaskan dan akan bergabung dengan keluarga mereka hari ini (Sabtu kemarin 5 /1/2013),” Jenderal Mohammad Yar Barakzai, seorang pejabat Kementerian Pertahanan Afghanistan yang bertanggung jawab atas penjara, mengatakan pada hari Sabtu kemarin di Kandahar.

“Kami yakin pembebasan mereka lebih bisa membantu upaya pemerintah dalam mewujudkan perdamaian dan akan mendukung perdamaian serta proses rekonsiliasi di negara ini.”

Pada tanggal 4 Januari lalu, pemerintah juga membebaskan 80 tahanan Afghanistan yang ditahan di penjara AS tersebut.

Menurut pejabat militer AS, para tahanan telah ditangkap dalam operasi melawan kelompok pejuang Taliban dan lainnya di negara ini.

Militer AS sebelumnya menahan ribuan tahanan di penjara terkenal Bagram Afghanistan, yang terletak di dalam Pangkalan Udara Bagram di pinggiran kota Kabul.

Sejak Maret 2012, ketika Washington dan Kabul mencapai kesepakatan untuk sepenuhnya menyerahkan penjara Bagram kepada pemerintah Afghanistan, lebih dari 3.000 tahanan telah diserahkan kepada pihak berwenang Afghanistan atau dibebaskan.

Pada bulan November 2012, Presiden Hamid Karzai memerintahkan pasukan Afghanistan mengambil alih penjara dan menuduh para pejabat AS gagal untuk sepenuhnya mematuhi ketentuan Nota Kesepahaman pada Penahanan terkait masalah tahanan.(fq/islampos/prtv)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar