Minggu, 24 Februari 2013

Iran merupakan satu-satunya negara Islam yang termasuk ke dalam negara memiliki ‘The scientific impact of nations’ tertinggi di dunia, kemajuan ilmu pengetahuan di Negara Iran sebelas kali lebih cepat dibandingkan Negara-negara lainnya didunia.......??? >> Sayang, hanya karena beda mazhab, di antara propaganda miring itu, juga disebar dan gencar dilakukan oleh sebagian kaum muslimin sendiri. Kalau hanya karena mazhabnya berbeda, Syiah dianggap agama lain, dan Iran keluar dari Dunia Islam, kebanggaan apa yang dimiliki Dunia Islam hari ini? Negeri mana-selain Iran-yang dianggap paling mewakili semangat keilmuan dan kedigdayaan Islam?. ...>> ...merasa terpanggil untuk menceritakannya, terutama karena banyaknya hal yang bisa menjadi pelajaran bagi bangsa kita. Iran, sebuah negeri fenomenal yang mendapat simpatik, pujian, pembelaan dan hujatan sekaligus. Negeri yang lewat CNN, Amerika menyebutnya sebagai bangsa yang keras kepala, yang oleh sebagian kaum muslimin menjadikan Iran sebagai kebanggaan baru, kiblat alternatif pergerakan dan perlawanan terhadap hegemoni Amerika namun sebagiannya lagi tetap juga memasang wajah permusuhan dan kecurigaan....>>> DIBANDINGKAN DENGAN SAUDI ARABIA-IRAQ-KUWAIT DAN NEGARA2 TELUK DAN AFRIKA UTARA ... NEGARA IRAN BUKAN APA2...DAN KETERGANTUNGAN TERHDAP PRODUKSI MINYAK JUGA TIDAK SEBERAPA DIBANDINGKAN NEGARA2 ARAB LAINNYA..>>> NAMUN DIBIDANG KEMANDIRIAN POLITIK DAN MEMBANGUN KEMANDIRIAN TEKNOLOGI..DAN ILMU PENGETAHUAN SELAIN MEMBANGUN MORAL KEAGAMAAN.... MAKA IRAN NAMPAKNYA MEMILKI KOMPETENSI YANG LEBIH BAIK...??? >>> KERJASAMA DENGAN LUAR NEGERI BAGI IRAN ADALAH PENGEMBANGAN TEKNOLOGI DAN JUGA PERDAGANGAN,,SERTA MEMABNGUN SIKAP KEMANDIRIAN BANGSANYA...DENGAN TERUS MENERUS MENGHORMATI PARA PAKAR2NYA DAN MEMBANGUN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN BANGSANYA SECARA KONSISTEN...???>> SEHARUSNYA INDONESIA MEMBANGUN KERJASAMA NYATA DIBIDANG TEKNOLOGI-DAN MEMBANGUN KEMAMPUAN PENYEDIAAN ENERGIYANG KUAT DAN MURAH SERTA LEBIH BERMUTU DENGAN IRAN SEBAGAI SESAMA NEGARA MUSLIM DAN SESAMA NEGARA BERKEMBANG...?? >> TETAPI ANEHNYA INDONESIA DENGAN POLA POLITIK DAN KEPEMIMPINAN SEPERTIYANG ADA SEKARANG SEPERTI MENJADI BODOH...DAN TERKESAN SIMBONG DAN ANGKUH...DAN SELALU MENJADI PENGEKOR POLITI AS...YANG MENISTA RAKYAT DAN BANGSANYA SENDIRI..??? >> kENAPA??..DAN ADA APA DENGAN INDONESIA DAN PEMIMPIN2NYA..YANG KONON HEBAT2..DAN PINTAR2...TETAPI KENYATAANNYA SANGAT TERPURUK DENGAN HUTANGAN2 YANG SEMAKIN BESAR..DAN SEMAKIN TAK MEMILIKI KOMPETENSI..BAIK DIBIDANG INDUSTRI-TEKNOLOGI-ILMU PENGETAHUAN-ATAUPUN PERDAGANGAN...??? ADA APA DENGAN POLITISI DAN PEMIMPIN BANGSA INDONESIA INI...??? >> PADAHAL INDONESIA BISA BELAJAR DENGAN IRAN-CINA-INDIA-BAHKAN DENGAN KOREA UTARA ATAUPUN KOREA SELATAN..ATAUPUN JEPANG...??? MENGAPA JADI ...MUNDUR DAN MENJADI LEMBEK TETAPI SOMBONG DAN ANGKUH...??? ADA APA YAH..DENGAN JIWA22 PEMIMPIN2 INDONESIA INI..???>> APAKAH MEREKA MEMANG ANAK JAJAHAN ATAU ORANG2 YANG SUDAH DIBELI DENGAN LOBY2 PARA KAPITALIS DAN MENJADI BUDAK2 JAJAHAN...DAN ANTEK2..PENJAJAH YANG MENISTA ANAK2 DAN BANGSA INDONESIA SENDIRI..???>>> SAYA YANG AWAM TIDAK HABIS PIKIR...MENGAPA..??? KEMANA AKAL SEHAT MEREKA2 YANG MENGAKU SEBAGAI JENDRAL2 PINTAR DAN DR DAN AHLI2...ITU...??? >>



Iran merupakan satu-satunya negara Islam yang termasuk ke dalam negara memiliki ‘The scientific impact of nations’ tertinggi di dunia, kemajuan ilmu pengetahuan di Negara Iran sebelas kali lebih cepat dibandingkan Negara-negara lainnya didunia.

 Kemajuan Iran dan Kebanggaan Sebagai Muslim
Sayang, hanya karena beda mazhab, di antara propaganda miring itu, juga disebar dan gencar dilakukan oleh sebagian kaum muslimin sendiri. Kalau hanya karena mazhabnya berbeda, Syiah dianggap agama lain, dan Iran keluar dari Dunia Islam, kebanggaan apa yang dimiliki Dunia Islam hari ini? Negeri mana-selain Iran-yang dianggap paling mewakili semangat keilmuan dan kedigdayaan Islam?. 

Ketika Doktrin Agama Memasuki Ranah Politik

 Kemajuan Iran dan Kebanggaan Sebagai Muslim
Menceritakan apapun tentang Iran, cenderung dicurigai membawa misi tertentu. Namun saya merasa terpanggil untuk menceritakannya, terutama karena banyaknya hal yang bisa menjadi pelajaran bagi bangsa kita. Iran, sebuah negeri fenomenal yang mendapat simpatik, pujian, pembelaan dan hujatan sekaligus. Negeri yang lewat CNN, Amerika menyebutnya sebagai bangsa yang keras kepala, yang oleh sebagian kaum muslimin menjadikan Iran sebagai kebanggaan baru, kiblat alternatif pergerakan dan perlawanan terhadap hegemoni Amerika namun sebagiannya lagi tetap juga memasang wajah permusuhan dan kecurigaan.
Iran dengan mazhab Syiah mayoritas rakyatnya, tetap dinilai sebagai musuh dan diluar Islam. Apapun yang berasal darinya dicurigai sebagai kedok semata untuk memberangus dan menghancurkan Islam dari dalam. Apapun yang berasal darinya, fiqh, hadits, tradisi, teologi, filsafat bahkan penemuan-penemuan mutakhirnya diisolasikan dan dipinggirkan dari dunia Islam. Syiah sering mendapat  tuduhan dan fitnah sebagai agama tersendiri dan bukan bagian dari Islam.
Namun, bagai pepatah, anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu, Iran dengan masyarakatnya yang mayoritas Syiah menjawab segala tuduhan-tuduhan dan berbagai tudingan miring dengan kerja-kerja positif yang nyata. Iran menjadi negara terdepan dan paling aktif memberikan pembelaan atas penindasan yang masih juga dirasakan rakyat Palestina. Tidak sekedar melalui diplomasi politik,Pemerintah Iran  juga memberikan bantuan secara nyata dengan menjadikan Palestina tidak ubahnya salah satu provinsi yang menjadi bagian negaranya,dengan menanggung gaji pegawai di tiga departemen. Menanggung hidup 1.000 pengangguran senilai 100 dolar setiap bulannya. Membiayai total pembangunan gedung kebudayaan, perpustakaan serta renovasi 1.000 rumah yang hancur dengan total biaya 20 juta dolar. Belum lagi bantuan lainnya yang diberikan tanpa persyaratan apapun. Pembelaan dan dukungan Iran atas perlawanan rakyat Gaza menghadapi agresi militer Israel akhir tahun 2012 kemarin, membuat pimpinan HAMAS mewakili rakyat Gaza menyampaikan rasa terimakasihnya secara terbuka kepada Iran.
Dengan keberhasilan meluncurkan roket pembawa satelit “Safir Omid” dan sebuah maket satelit percobaan di orbit bumi, Iran menjadi negara regional pertama yang mandiri tanpa bantuan asing, baik dalam membuat satelit maupun dalam meluncurkan dan mengontrolnya.
Semakin diserang dengan propaganda negatif dari berbagai arah, ulama-ulama, ilmuan-ilmuan, olahragawan, sampai seniman mereka seakan berlomba-lomba untuk menunjukkan prestasi dan menampakkan kecemerlangan Islam. Lihat saja apa yang dilakukan ilmuan mereka, hampir dalam hitungan hari, ada yang mematenkan penemuan-penemuan baru mereka. Perkembangan sains di Iran dapat dilihat dari perkembangan publikasi ilmiah yang mereka hasilkan. Dalam penelitian ‘string teory’, kimia dan matematika, Iran merupakan nomor 15 di dunia, bersaing ketat dengan Amerika Serikat dan negara-negara eropa.
Dalam artikel D. A. King yang dipublikasikan di Nature (15/7/2004) berjudul ‘The scientific impact of nations’ yang analisisnya menyatakan bahwa Iran merupakan satu-satunya negara Islam yang termasuk ke dalam negara memiliki ‘The scientific impact of nations’ tertinggi di dunia.
Bahkan Jurnal Newscientist terbitan Kanada menyebutkan kemajuan ilmu pengetahuan di Negara Iran sebelas kali lebih cepat dibandingkan Negara-negara lainnya didunia.  Daftar 100 orang jenius dunia yang masih hidup yang dikeluarkan oleh firma konsultan global Creators Synectics,  Ali Javan pakar teknik (penemu gas laser) dan Pardis Sabeti ahli biologi anthropologi yang keduanya berkebangsaan Iran termasuk di antaranya.
Kaum perempuan Iran tidak ketinggalan dari  saintis yang umumnya laki-laki. Dalam Festival Internasional Para Penemu Perempuan yang  pertama kali digelar di Korea Selatan tahun 2008, Republik Islam Iran ikut bersaing dalam ajang kompetisi tersebut dan berhasil menggondol 12 medali emas, lima perak dan enam perunggu.  Maryam Islami dari Iran menyandang gelar sebagai penemu perempuan terbaik tahun 2008, padahal saat itu Maryam Islami masih mahasiswa tingkat lima fakultas kedokteran. Lebih dari itu, kita juga mengenal Shirin Ebadi muslimah pertama peraih Nobel juga berasal dari Iran. Hal inilah yang ‘memaksa’ Rektor Universitas al Azhar Mesir, Syaikh Thantawi menyatakan, “Kemajuan ilmiah yang telah dicapai Republik Islam Iran merupakan kemajuan dunia Islam dan kebanggaan bagi seluruh umat muslim.”
Pada bidang seni kaligrafi, kaligrafer Iran Roin Abar Khanzadeh berhasil membuat Al-Qur’an terkecil yang memecahkan rekor dunia. Yang menarik Al Quran terkecil ini ditulis dengan mata telanjang oleh penulisnya dan bila dijejer hanya menempati ukuran kertas A3. Saat ini sudah ada 1000 pusat lembaga kegiatan berbasis Al Quran di seantero kota Iran yang sedang aktif dan ada seribu perpustakan dan Bank CD Qurani di pusat-pusat kegiatan AlQur’an di Iran. Telah berkali-kali Iran menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pameran Al-Qur’an Internasional. Dengan tingkat apresiasi yang tinggi terhadap Al-Qur’an wajar jika Iran menghasilkan banyak Mufassir terkemuka dalam dunia Islam, diantaranya Allamah Mohammad Husain Thabatabai, penulis tafsir Al Mizan.
Dalam dunia perbukuan dan penerbitan, dibanding negara-negara Islam lainnya, Republik Islam Iran bisa ditetapkan sebagai yang terdepan. Pameran Buku Internasional Teheran merupakan program pemerintah Iran setiap tahunnya yang mendapat posisi istimewa dalam kalender para penerbit internasional. Berdasarkan data yang dirilis, Pameran Buku Internasional Tehran adalah pameran buku terbesar dunia Islam dan menjadi fenomena budaya terbesar negara-negara di Timur Tengah.
Hasil-hasil karya dan apresiasi mereka menunjukkan minat mereka yang demikian tinggi terhadap ilmu pengetahuan, wajar jika kemudian Iran termasuk dalam deretan negara-negara maju. Inilah yang membuat Amerika gentar dan khawatir, lewat propaganda-propaganda negatif, melalui tekanan dan embargo ekonomi, mereka berusaha menghambat pertumbuhan dan kemajuan Iran.
Keyakinan pada Mahdawiyat, Rahasia Kemenangan Revolusi Islam
Sayang, hanya karena beda mazhab, di antara propaganda miring itu, juga disebar dan gencar dilakukan oleh sebagian kaum muslimin sendiri. Kalau hanya karena mazhabnya berbeda, Syiah dianggap agama lain, dan Iran keluar dari Dunia Islam, kebanggaan apa yang dimiliki Dunia Islam hari ini? Negeri mana-selain Iran-yang dianggap paling mewakili semangat keilmuan dan kedigdayaan Islam?. Selamat atas dirgahayu kemenangan Revolusi Islam Iran yang ke 34.


Syaikh Hasan Akhtari:
 Keyakinan pada Mahdawiyat, Rahasia Kemenangan Revolusi Islam
Rahasia dibalik kemenangan revolusi Islam Iran adalah adanya keyakinan yang kuat rakyat Iran akan kedatangan Imam Mahdi as. Rakyat Iran sedang mempersiapkan kondisi yang tepat untuk menyambut kehadiran sang Imam Zaman. Rakyat Iran percaya apa yang termaktub dalam Al-Qur’an bahwa bumi ini akan diwariskan kepada mereka yang sebelumnya mengalami penindasan dan keterzaliman (Qs. 28:5).” 
 Hujjatul Islam wa Muslimin Syaikh Muhammad Hasan Akhtari, Sekretaris Jenderal Majma Jahani Ahlul Bait as selasa (12/4) dalam seminar ilmiah “Peran Mahdawiyat dalam Kebangkitan Islam” yang diselenggarakan oleh Bidang Kajian Ilmaih Hauzah Ilmiyah Qom Iran menyatakan, “Saat ini kita hidup di bumi yang didiami lebih dari tujuh miliyar jiwa manusia, yang dapat dengan mudah bisa saling berinteraksi satu sama lain secara cepat dan mampu menyampaikan pemikiran-pemikirannya kepada banyak orang.”
“Saat ini kita tidak begitu butuh pertemuan secara fisik, ataupun harus mendatangi suatu tempat untuk dapat mengetahuinya, sebab cukup di satu tempat kita dapat mengetahui perkembangan dan kejadian apa yang sedang berlangsung di tempat lain. Kita seakan-akan bisa hadir diberbagai tempat dalam waktu yang sama dengan peralatan tekhnologi yang kita punya, dan kitapun harus memanfaatkan kemajuan tekhnologi ini untuk kepentingan dakwah dan penyebaran pesan-pesan Revolusi Islam.” Lanjutnya.
Ulama yang dipercaya sebagai Sekjen Majma Jahani Ahlul Bait tersebut selanjutnya menyatakan kebangkitan Islam adalah hal yang harus terus diupayakan dan dijaga. Beliau berkata, “Dengan segala tekanan dan halangan yang ada, kita saksikan kebangkitan Islam yang dipelopori Imam Khomaeni ini terus mengalami kemajuan dan peningkatan.”
“Tidak seorangpun ulama ataupun ilmuan sejak zaman kegaiban dimulai sampai sekarang berhasil mempelopori sebuah kebangkitan Islam sebagaimana yang dipimpin oleh Imam Khomeini. Imam menegaskan bahwa kemenangan revolusi Islam adalah karunia Ilahi. Barang siapa yang berupaya keras untuk menciptakan revolusi Islam sebagaimana mislanya yang saat ini terjadi di Afrika Utara dan negara-negara yang lain namun jika tidak mengikuti alur pemikiran Imam Khomeini mengenai kebangkitan Islam maka gerakan tersebut adalah gerakan tanpa makna dan tidak akan mencapai hasil yang diharapkan.”
Pada bagian lain ceramahnya, Syaikh Akhtari menjelaskan mengenai bagaimana mendakwahkan Islam ke seluruh dunia, “Kita harus mampu menyampaikan ilmu-ilmu Islam melalui media cetak dan elektronik. Melalui radio-radio dan televisi, dengan itu kita mampu berbicara langsung dengan dunia. Dengan memperhatikan segala penderitaan dan kesulitan hidup yang dihadapi masyarakat, kita menyampaikan bagaimana Islam itu mampu mengatasi problema kehidupan.”
“Beberapa tahun lalu, Paulus pemimpin kaum Kristiani menyampaikan kepada dunia akan pentingnya keadilan dan menuntut para pemimpin negara untuk berjuang menegakkan keadilan dunia, sehingga masyarakat duniapun mengetahui hal tersebut. Sementara Islam adalah agama yang tujuan utamanya adalah penegakan keadilan, namun lebih dikenal oleh masyarakat Barat sebagai agama teror yang menyebar permusuhan dan pertumpahan darah.” Lanjutnya.
Dibagian akhir ceramahnya, Syaikh Hasan Akhtari mengungkap rahasia dibalik kemenangan Revolusi Islam Iran, “Rahasia dibalik kemenangan revolusi Islam Iran adalah adanya keyakinan yang kuat rakyat Iran akan kedatangan Imam Mahdi as. Rakyat Iran sedang mempersiapkan kondisi yang tepat untuk menyambut kehadiran sang Imam Zaman. Rakyat Iran percaya apa yang termaktub dalam Al-Qur’an bahwa bumi ini akan diwariskan kepada mereka yang sebelumnya mengalami penindasan dan keterzaliman (Qs. 28:5).”

wali dan pemimpin umat hanyalah Allah, Rasul-Nya dan Imam Ali AS (tafsir Qs.QS. Maidah: 55) !!! Jangan bantah Al Quran

Ayat Wilayah, Ketika Imam Ali as Bersedekah Cincinnya Sambil Ruku

 
 
Menjelang Zuhur, suasana masjid Madinah dipenuhi dengan maknawiyah dan spiritual. Orang-orang sedang sibuk beribadah di dalam masjid. Sebagian ada yang membaca al-Quran dan sebagian lain ada yang berdoa. Sebagian dalam keadaan berdiri dan sebagian lain dalam keadaan sujud mengagungkan kebesaran ilahi. Alunan doa dan munajat kepada Allah menarik perhatian setiap orang yang baru masuk.
Pada hari itu Rasulullah Saw juga berada di dalam masjid untuk mengerjakan shalat.  Sejumlah orang duduk mengitari beliau dan beliau juga sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. tiba-tiba datang seorang lelaki di depan pintu masjid. Kelihatannya tidak ada seorangpun yang mengenalinya, namun ia kelihatan lelah dan sedih. Ketika mengetahui orang-orang ada di dalam masjid, ia masuk ke dalam dan melihat ke sana ke mari.
Kemudian dengan suara lantang dan gemetar menjelaskan keadaan dirinya dengan harapan semuanya mendengarkan dan meminta bantuan kepada orang-orang yang hadir dalam masjid. Suaranya menunjukkan kesedihan dan kesusahan yang melanda dirinya. Raut wajahnya menunjukkan keterpaksaannya untuk meminta bantuan karena kemiskinan yang melilitnya.
Sang lelaki itu kemudian diam berdiri di sudut masjid menunggu reaksi para hadirin. Namun tidak seorangpun menunjukkan reaksinya. Kembali ia berkata, “Berikan sesuatu untukku demi keridhaan Allah!”
Namun seakan-akan tidak ada seorang yang datang untuk menolong orang itu.
Dua orang sedang bercakap-cakap dan mengatakan, “Aduhai, seandainya saja kita bisa membantunya!”
Yang satunya lagi menjawab, “Benar. Tapi kamu sendiri tahu bahwa kami juga hidup dalam kesengsaraan.”
Dari jauh Rasulullah Saw memperhatikan, siapakah yang akan bergerak terlebih dahulu untuk membantu sang fakir ini.
Setelah beberapa saat, lelaki ini menengadah ke langit seraya berkata, “Ya Allah! Jadilah Engkau sebagai saksi! Aku datang ke masjid nabi-Mu dan meminta bantuan kepada kaum Muslimin, namun tidak seorangpun menyelesaikan masalahku!”
Pada saat itu Imam Ali as yang sedang mengerjakan shalat dan dalam keadaan ruku membaca tasbih  menjulurkan tangannya yang bercincin ke arah lelaki tersebut.
Dengan takjub orang-orang memperhatikan.
Seseorang berkata, “Apa maksud Ali dengan sikap ini?”
Yang lain berkata, “Tidakkah kau melihat dia mengisyaratkan cincinnya kepada lelaki itu?”
Lelaki miskin yang awalnya tidak percaya, datang mendekati Imam Ali as dan mengambil cincin tersebut dari tangan Imam dan tersenyum sambil menggenggam cincin di tangannya. Ia pergi dari tengah-tengah para hadirin dan keluar dari masjid. Melihat kejadian ini, Rasulullah Saw merasa gembira dan senang. Beliau mengahadap Allah seraya berkata, “Ya Allah! Saudaraku Musa telah meminta kepada-Mu agar memberikan kelapangan dada kepadanya, memudahkan segala urusannya, memberikan kefasihan berbicara kepadanya agar masyarakat memahami ucapannya dan menetapkan saudaranya Harun sebagai pendukung dan penolongnya dalam urusan risalahnya. Ya Allah! Engkau telah mengabulkan permintaan-permintaannya. Sekarang saya, Muhammad nabi dan utusan-Mu, berikan kepadaku kelapangan dada, mudahkan semua urusanku dan tetapkan dari keluargaku; Ali sebagai pengganti  dan penolongku sehingga dengannya aku memiliki pendukung yang kuat dan kokoh!”
Abu Dzar satu di antara hadirin yang ada di dalam masjid. Ia menukil peristiwa ini dan mengabarkannya kepada semua masyarakat seraya berkata, “Ketika doa Rasulullah Saw belum selesai, para hadirin melihat wajah beliau berubah. Beliau sedang menerima wahyu dari Allah dan malaikat Jibril membacakan ayat berikut ini:
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّـهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
Sesungguhnya wali dan pemimpin kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dalam keadaan ruku.” (QS. Maidah: 55)
Peristiwa ini dinukil oleh lebih dari tiga puluh ulama Ahli Sunnah dan seluruh ulama Syiah di dalam tafsirnya dan ayat ini mereka sebut sebagai ayat wilayah.

110 Keutamaan Imam Ali as: Cinta Ali!

Cinta Ali
Nabi Muhammad Saw bersabda, “Barangsiapa yang mencintai Ali as, maka di Hari Kiamat wajahnya bercahaya seperti bulan purnama.” (Atsar as-Shadiqin, jilid 1, hal 202-225, diringkas dari beberapa riwayat)
Ali dan Baitul Mal
Ketika Imam Ali as membagi Baitul Mal sampai habis, di tempat itu juga beliau berdiri dan melaksanakan shalat dua rakaat lalu berkata, “Bersaksilah di Hari Kiamat bahwa sesungguhnya aku telah membuatmu penuh dan benar-benar telah membuatmu kosong.” (Tafsir Nemouneh, jilid 27, hal 226)
Murtadha
Ibnu Abbas mengatakan, “Ali as dalam seluruh pekerjaannya dilakukan dengan niat mencari keridhaan Allah. Itulah mengapa beliau dipanggil “Murtadha”. (Sire-ye Alavi, hal 80)
Hari Raya Terbaik
Imam Ali as berkata, “Hari Raya Ghadir Khum lebih utama dari Idul Fitri, Idul Adha, hari Jumat dan hari Arafah. Hari Raya Ghadir Khum memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah Swt.” (Asrar Ghadir, hal 209)
Hari Ibadah dan Perbuatan Baik
Imam Shadiq as berkata, “Sudah selayaknya bagi kalian (pecinta Ahli Bait di hari Idul Ghadir) untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan melakukan perbuatan baik, berpuasa, mengerjakan shalat, bersilaturahmi, mengunjungi saudara seagamamu. Sesungguhnya ketika Nabi Muhammad Saw memperkenalkan penggantinya kepada masyarakat, beliau mengerjakan perbuatan-perbuatan baik yang telah disebutkan dan menasihati orang lain agar melakukannya.” (Mishbah al-Mutahajjid, hal 736)
Bila Tidak Khawatir
Muwaffaq bin Ahmad Kharazmi meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib as meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw di hari penaklukan Khaibar mengatakan, “Wahai Ali! Bila saya tidak khawatir ada yang mengatakan bahwa ada sekelompok orang dari umatku yang meyakinimu seperti apa yang dilakukan oleh pengikut Kristen terhadap Isa bin Maryam, maka aku akan berbicara tentang seluruh keutamaanmu. Dengan itu, bila engkau melewati sekelompok dari Muslimin, maka pasti mereka akan mengambil berkah dari tanah yang diinjak oleh sepatumu dan meminta air bekas wudhumu untuk meminta kesembuhan.
Bila tidak khawatir melubangi mutiara
Akan kusampaikan semua yang ada di hati
Tapi bagaimana dengan kaum yang buta dan tuli
Yang kumampu hanya mengatakan sifat bulan (al-Fushul al-‘Aliyah, hal 46)
Ali dalam Karya Tulis
Hingga kini hampir 5000 judul buku dan ada sekitar 4956 buku yang secara serius mengulas tentang pribadi dan keutamaan Ali bin Abi Thalib as dalam pelbagai bahasa, khususnya bahasa Arab dan Persia. (Fadhail Imam Ali as, hal 20)
Amirul Mukminin
Nabi Muhammad Saw bersabda, “Setiap ayat dalam al-Quran yang menyebutkan “Ya Ayyuhalladzina Amanu“, maka Ali as berada pada puncak orang-orang Mukmin dan pemimpin mereka (Amirul Mukminin) dan sebelum mengarah kepada orang-orang Mukmin, maka ayat itu terlebih dahulu ditujukan kepada Ali as.” (Athyab al-Bayan, jilid 2, hal 249)
Merasakan Kesulitan Masyarakat
Imam Ali as berkata, “Apakah aku merasa cukup dengan masyarakat menyebutku Amirul Mukminin dan tidak merasakan kesulitan yang dihadapi mereka? Ataukah aku menjadi teladan bagi mereka dalam kesulitan yang dihadapi mereka dalam kehidupannya? Allah Swt tidak menciptakan aku hanya untuk mencicipi makanan yang enak.” (Nahjul Balaghah, surat 45)
Balasan Menulis Buku Al-Ghadir
Anak Allamah Amini mengatakan, “Pada tahun 50-an, mereka ingin mengusir saya dari Irak. Saya kemudian menemui Ayatullah Sayid Muhammat Taqi, cucu Allamah Bahr al-Ulum untuk mengucapkan selamat tinggal. Beliau berkata, “Apa yang membuatmu datang ke sini?”
Saya menjawab, “Saya ingin pergi dari Irak, tapi ketika Anda melihatku, saya melihat air mata Anda menetes!”
Beliau berkata, “Setelah ayahmu wafat, saya senantiasa berpikir bahwa Allamah Amini telah mewakafkan dirinya untuk Imam Ali as. Apa yang akan dilakukan oleh Imam Ali as kepadanya di alam sana?”
Pikiran ini cukup lama menggangguku, sehingga di suatu malam saya tertidur dan bermimpi. Saya melihat seakan-akan kiamat terjadi dan kita berada di padang Mahsyar, gurun pasir yang penuh dengan manusia. Semuanya sedang memperhatikan sebuah bangunan. Waktu itu saya bertanya, “Ada apa di sana?”
Mereka menjawab, “Di sana tempat telaga al-Kautsar.”
Saya beranjak ke depan dan melihat sebuah telaga. Angin yang berhembus membuat air kolam beriak. Imam Ali as sedang berdiri di dekat telaga itu dan memenuhi gelas kristal dengan air dan memberikannya kepada orang-orang yang dikenalnya. Pada waktu itu terdengar suara riuh rendah. Saya kemudian bertanya, “Apa yang terjadi?”
Mereka menjawab, “Amini datang!”
Aku berkata dalam hati, “Aku harus tetap berdiri di sini untuk melihat bagaimana Imam Ali as memperlakukan Allamah Amini.”
Jarak antara Allamah Amini dengan telaga al-Kautsar tinggal sepuluh atau dua belas langkah lagi. Saya melihat Imam Ali as meletakkan gelas kristalnya dan mengambil air dengan kedua kepalan tangannya. Ketika Allamah Amini sampai di hadapan beliau, Imam Ali as memercikkan air ke arah Allamah dan berkata, “Semoga Allah membuat wajahmu bercahaya, karena telah membuat wajah kami bercahaya.”
Rakyat Iran Setia Kepada Wilayatul Faqih dan Cita-cita Revolusi
Setelah itu saya terbangun dan mengeri bahwa Imam Ali as telah memberikan balasan atas penulisan buku al-Ghadir yang dilakukan oleh Allamah Amini. (Qatreh-i az Darya, jilid 1, hal 17-18)
Khatib Jumat Tehran:
 Rakyat Iran Setia Kepada Wilayatul Faqih dan Cita-cita Revolusi
Kehadiran luas rakyat Iran dalam peringatan kemenangan Revolusi Islam menurut Khatami menunjukkan ikatan janji kepada Wilayatul Faqih, cita-cita Revolusi Islam dan para Syahid. Ditegaskannya, “Bangsa Iran kembali menekankan Wilayatul Faqih sebagai poros pemerintahan Republik Islam Iran dan melihat semua masalah berdasarkan pandangan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar.” 
 
 Khatib Jumat Tehran menganggap tekanan dan ancaman imperialis serta Zionis agar bangsa Iran berputus asa terhadap Republik Islam Iran telah gagal.
Ayatullah Sayid Ahmad Khatami, Khatib shalat Jumat Tehran, hari ini Jumat (15/2) mengatakan, “Bangsa Iran akan terus berjuang menghadapi semua tekanan dan ancaman untuk meraih hak-haknya termasuk penguasaan teknologi nuklir.”
“Perundingan nuklir Barat yang digelar dengan maksud untuk memalingkan perhatian bangsa Iran dari aktifitas nuklir damainya tidak akan pernah berhasil,” tandas Khatami.
Perundingan, katanya, hanyalah dalih Amerika Serikat untuk lebih menekan bangsa Iran.
Menurut Khatami Barat harus tahu bahwa bangsa Iran tidak akan pernah mundur dari hak-haknya, bahkan mereka akan mampu mengatasi semua masalah yang diakibatkan oleh tekanan. Mereka akan memberikan jawaban tegas kepada musuh.
Ayatullah Khatami di sela-sela khutbahnya memberikan apresiasi atas kehadiran luas masyarakat Iran dalam acara peringatan kemenangan Revolusi Islam Iran ke-34. Ia mengatakan, “Bahkan sebagian petinggi AS mengakui kemeriahan peringatan kemenangan Revolusi Islam Iran sekalipun di bawah tekanan dan konspirasi asing.”
Kehadiran luas rakyat Iran dalam peringatan kemenangan Revolusi Islam menurut Khatami menunjukkan ikatan janji kepada Wilayatul Faqih, cita-cita Revolusi Islam dan para Syahid. Ditegaskannya, “Bangsa Iran kembali menekankan Wilayatul Faqih sebagai poros pemerintahan Republik Islam Iran dan melihat semua masalah berdasarkan pandangan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar.”
Bangsa Iran hadir pada setiap kesempatan karena mereka menganggap itu sebagai kewajibannya. Rakyat Iran, kata Khatami, akan membuktikan kesetiaannya kepada Republik Islam dengan mengikuti pilpres empat bulan mendatang.
Terkait masalah sikap Republik Islam menanggapi transformasi terbaru di Bahrain, Khatami mengatakan, “Rakyat Bahrain harus menjadi penentu nasib negaranya dan ini adalah hak mereka untuk menentukan masa depan negara.”

10 indikasi bahwa kata MAWLA di Ghadir Kum merujuk pada arti “pemimpin” !! Wahabi patah arang hanya dengan 1 artikel ini..

Akidah Sunni sangat berbahaya karena mengi’tiqadkan juhud (pengingkaran) terhadap imamah Ali ! Kata “maula” jelas bermakna pemimpin karena Dalam kitab-kitab hadis, baik di kalangan Ahlusunnah maupun di kalangan Syiah, terdapat banyak riwayat dari Rasul SAW yang menuturkan dan mencatat bahwa Ali as merupakan Imam dan Khalifah setelah beliau.
Sekarang mari kita periksa lagi hadis ghadir kum :
 ”Barangsiapa saya mawlanya, maka Ali ini juga mawlanya. Ya Allah, jadilah teman siapa saja yang berteman dengan dia dan musuhilah siapa saja yang memusuhi dia. “
Kata “mawla” di sini menurut sunni tidak dapat merujuk pada arti “pemimpin”, tetapi terjemahan terbaik dari kata “mawla” tersebut adalah “seorang teman tercinta”. Versi sunni  bahwa “mawla” di sini bermakna mencintai/ menyayangi dan hubungan dekat, bukan Khilafah dan Imamah. Muwalat (cinta) adalah lawan dari kata Mu`adat (permusuhan).

bantahan :
Penafsiran sunni bertentangan dengan Al Quran.
Ghadir Khum: Sejarah Yang Mustahil Untuk Diingkari
ghadir khum

Allah Swt berfirman: “Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu), berarti kamu tidak menyampaikan risalah/agama-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah: 67)
Peristiwa pengangkatan Imam Ali sebagai pengganti dan penerus kepemimpinan Islam pasca Nabi saw, terjadi di tempat yang bernama Ghadir Khum, yang terletak di kawasan antara Mekkah dan Madinah di dekat Juhfah, sekitar 200 km dari Mekkah.
Peristiwa besar yang menggemparkan sejarah ini terjadi pada bulan terakhir tahun ke-10 Hijriah, setelah Rasul saw menjalankan Haji Perpisahan/Terakhir (Hajjatul Wada’). Semua sahabat sadar bahwa sebentar lagi wahyu akan terputus dari mereka. Ini adalah saat-saat terakhir kebersamaan mereka dengan Nabi Besar Muhammad saw.
Maka perdebatan berkaitan dengan Ghadir Khum bukan berkisar pada benar tidaknya Nabi saw mengangkat tangan Imam Ali tinggi-tinggi dan membacakan hadis: Man Kuntu Maula, namun perselisihan pendapat hanya mengacu pada makna dan pemahaman dari hadis tersebut. Syiah punya makna dan pemahaman tersendiri terhadap hadis tersohor tersebut, sedangkan Ahlu Sunah juga memiliki persepsi dan pemahaman tersendiri.
Dalam hadits Ghadir Khum, setelah haji wada (haji terakhir), Rasulullah menghentikan perjalanan para sahabatnya yang sudah hampir pulang ke rumahnya masing-masing di suatu tempat yang bernama Khum (antara Makah dan Madinah). Sebelumnya, dalam perjalanan dari Makah ke Madinah, Jibril turun dan mangatakan ”Hai Rasul, sampaikanlah!”.  Rasulullah tidak langsung menyampaikan, melainkan mencari situasi dan waktu yang tepat untuk menyampaikan perintah Allah tersebut. Tidak lama kemudian Jibril turun kembali dan mengatakan,”Hai Rasul, sampaikanlah!” dan Rasulullah tetap belum menyampaikannya. Kemudian Jibril turun untuk ketiga kalinya dengan membawa ayat sebagai berikut :Al Maaidah (QS5:67) “Wahai Rasul, sampaikanlah (balligh) apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak engkau lakukan maka engkau tidak menjalankan risalah-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir “
.
Apabila kita perhatikan bahasa Arab ayat di atas, Allah menggunakan kata balligh (sampaikan!), yang menunjukkan perintah Allah yang sifatnya memaksa. Apabila kita perhatikan ayat-ayat yang terdapat dalam Al Qur’an sebanyak 30 juz, kita tidak akan menemukan perintah Allah lain yang sifatnya memaksa Rasulullah sebagaimana yang terdapat di dalam ayat ini. Hal ini tentunya menunjukkan betapa pentingnya perintah “penyampaian” dalam ayat tersebut. Oleh karena itu ayat ini juga disebut ayat tabligh.Pentingnya hal yang perlu disampaikan tersebut juga tergambarkan pada bagian akhir ayat, di mana terdapat ancaman Allah jika Rasul tidak mengerjakan perintah tersebut. Dalam ancaman tersebut seolah-olah perjuangan Nabi selama 23 tahun tidak ada artinya, atau sia sia, jika tidak menyampaikan suatu “hal”.
.
Penundaan penyampaian yang dilakukan oleh Rasulullah tentulah didasari oleh adanya kekhawatiran dalam pikiran Rasulullah mengenai kemampuan ummatnya untuk menerima dan menjalankan perintah yang disampaikannya. Oleh karenanya Rasulullah mencari strategi bagaimana agar tidak ada alasan bagi ummat untuk menolak. Ayat di atas juga menyebutkan bahwa Allah, selain memberikan perintah kepada Rasulullah untuk menyampaikan suatu “hal” tersebut, juga memberikan jaminan berupa penjagaan kepada Rasulullah atas gangguan manusia.Dengan demikian, terdapat 3 hal penting pada ayat ini, yaitu:
  1. Nabi diperintahkan untuk menyampaikan sesuatu hal yang penting
  2. Allah menjaga Rasulullah dari gangguan manusia
  3. Dampak dari orang-orang yang tidak menerima apa yang disampaikan oleh Rasulullah
Beberapa Indikasi Yang Menunjukkan bahwa Maula berarti Pemimpin
Indikasi Pertama: Nabi saw menyampaikan hadis Man Kuntu Maula di hadapan ribuan sahabat, tua-muda, laki-perempuan di musim panas yang menyengat, dan di gurun pasir yang tandus selepas manasik haji, dan memerintahkan mereka yang meninggalkan kafilah untuk kembali bergabung bersama beliau, dan mereka yang tertinggal di belakang, untuk segera mempercepat langkahnya untuk menyusul beliau hanya untuk mengatakan bahwa:
“siapa yang menjadikan beliau sebagai sahabatnya maka dia pun harus menjadikan Ali sebagai sahabatnya”
atau
“siapa yang menjadikan beliau sebagai kekasihnya maka ia pun harus menjadikan Ali sebagai kekasihnya”?!
Bukankah mereka sudah tahu bahwa Ali adalah ahlul bait Rasul saw yang harus dicintai dan disayangi? Lalu mengapa Rasul saw perlu bersusah payah mengumpulkan mereka hanya untuk menyampaikan masalah ini menjelang akhir kehidupan beliau?!

Hadis Al-Ghadir disampaikan oleh Rasulullah saw di depan kurang-lebih 150.000 sahabat, sesudah haji wada’, dalam situasi yang sangat penting. Tentu missi ini bukan missi yang sederhana, tetapi missi yang paling besar, paling menentukan masa depan Risalah Nabi saw, dan nasib kaum muslimin dan mukminin pasca Rasulullah saw. Di sini jelas, tidak mungkin kata Mawla bermakna kekasih, penolong dan pelindung, tapi jelas bermakna pemimpin. Karena kepemimpinan adalah puncak segala persoalan dalam Islam. Gagalnya kepemimpinan adalah kegagalan segala aspek kehidupan
.
Dengan demikian jelaslah bahwa kata Mawla dalam hadis Al-Ghadir bermakna pemimpin, bukan kekasih, penolong atau pelindung. Kondisi kaum muslimin dewasa ini menunjukkan adanya kegagalan kepemimpinan Islam pasca Rasulullah saw. Kegagalan kepemimpinan Islam akan berdampak pada segala aspek kehidupan: Idiologi, politik, sosial, ekonomi, pendidikan; penyimpangan makna ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi saw, perselisihan, permusuhan, kezaliman, kesengsaraan kaum muslimin
.
Hadis Ghadir Khum yang menunjukkan kepemimpinan Imam Ali adalah salah satu hadis shahih yang sering dijadikan hujjah oleh kaum Syiah dan ditolak oleh kaum Sunni. Kebanyakan mereka yang mengingkari hadis ini membuat takwilan-takwilan agar bisa disesuaikan dengan keyakinan mahzabnya. Padahal Imam Ali sendiri mengakui kalau hadis ini adalah hujjah bagi kepemimpinan Beliau. Hal ini terbukti dalam riwayat-riwayat yang shahih dimana Imam Ali ketika menjadi khalifah mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berbicara meminta kesaksian soal hadis Ghadir Khum
.
Dari Sa’id bin Wahb dan Zaid bin Yutsai’ keduanya berkata “Ali pernah meminta kesaksian orang-orang di tanah lapang “Siapa yang telah mendengar Rasulullah SAW bersabda pada hari Ghadir Khum maka berdirilah?. Enam orang dari arah Sa’id pun berdiri dan enam orang lainnya dari arah Za’id juga berdiri. Mereka bersaksi bahwa sesungguhnya mereka pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada Ali di Ghadir Khum “Bukankah Allah lebih berhak terhadap kaum mukminin”. Mereka menjawab “benar”. Beliau bersabda “Ya Allah barangsiapa yang aku menjadi pemimpinnya maka Ali pun menjadi pemimpinnya, dukunglah orang yang mendukung Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya”. [Musnad Ahmad 1/118 no 950 dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir]


Indikasi Kedua:
Mengenai perkataan Rasulullah tersebut, ada kelompok yang mengatakan bahwa yang dikatakan Rasulullah adalah “Siapa yang menjadikan aku sebagai kekasihnya maka menjadikan Ali sebagai kekasihnya.” Bila kita kritisi pendapat tersebut, tentulah kita akan menganggap bahwa adalah suatu kesia-siaan bahwa Rasulullah mengumpulkan 120 ribu sahabatnya hanya untuk mengatakan “cintailah Ali”.  Kata “Maula” sendiri bukanlah berarti kekasih, melainkan “pemimpin”. Selain itu, dalam penyampaiannya, Rasulullah bukan hanya mengangkat tangan Imam Ali, tetapi juga memindahkan sorbannya ke kepala Ali. Hal ini didasari pada kedudukan Sorban sebagai lambang kepemimpinan, sehingga ummat yang bisu dan tuli, yang tidak dapat mendengar ceramah Rasulullah, dapat memahami maksud yang ingin disampaikan Rasulullah dengan isyarat tersebut
.
 “Allah tidak meninggalkan sedikit pun argumen (hujjah) dan bantahan bagi siapa pun setelah peristiwa Ghadir Khum.” (Sayyidah Fathimah AS, Dala’il al-Imamah, hlm. 38. Lihat juga, al-Khisal, Jil. 1, hlm. 173; Bihar al-Anwar, Jil. 30, hlm. 124.)
.
Sepanjang khotbah Rasulullah Saw di Ghadir Khum, beliau menekankan bahwa khotbahnya itu telah melengkapi hujjah (argumen) Allah atas seluruh manusia sampai Hari Kiamat. Itulah sebabnya Putri Tercinta Rasul, Sayyidah Fathimah As juga menekankan hal yang sama seperti yang saya kutip di atas
.
Fatimah Az-Zahrâ’ Menuju ke Alam Baka akibat luka keguguran pasca Penyerangan ke Rumah Fatimah As
Salah satu peristiwa yang sangat menyedihkan Imam Ali as. adalah kepergian buah hati Rasulullah saw., Fatimah Az-Zahrâ’ as. Ia jatuh sakit, sementara hatinya yang lembut tengah merasakan kesedihan yang mendalam. Rasa sakit telah menyerangnya. Dan kematian begitu cepat menghampirinya, sementara usianya masih begitu muda. Oh, betapa beratnya duka yang menimpa buah hati dan putri semata wayang Nabisaw. itu. Ia telah mengalami berbagai kekejaman dan kezaliman dalam masa yang sangat singkat setelah ayahandanya wafat. Mereka telah mengingkari kedudukannya yang mulia di sisi Rasulullah, merampas hak warisannya dan menyerang rumahnya.
Fatimah Az-Zahrâ’ telah menyampaikan wasiat terakhir yang maha penting kepada putra pamannya. Dalam wasiat itu ditegaskan agar orang-orang yang telah ikut serta merampas haknya tidak boleh menghadiri pemakaman, jenazahnya dikuburkan pada malam hari yang gelap gulita, dan kuburannya disembunyikan agar menjadi bukti betapa ia murka kepada mereka.
Imam Ali as. melaksanakan wasiat istrinya yang setia itu di pusara-nya yang terakhir. Ia berdiri di pinggir makamnya sambil menyiramnya dengan tetesan-tetesan air mata. Ia menyampaikan ucapan takziah, bela sungkawa dan pengaduan kepada Nabi saw. setelah menyampaikan salam kepada beliau:
Salam sejahtera untukmu dariku, ya Rasulullah, dan dari putrimu yang telah tiba di haribaanmu dan yang begitu cepatnya menyusulmu. Ya Rasulullah, betapa sedikitnya kesabaranku dengan kemangkatanmu dan betapa beratnya hati ini. Hanya saja, dalam perpisahan denganmu dan besarnya musibahmu ada tempat untuk berduka. Aku telah membaring-kanmu di liang kuburmu. Dan jiwamu telah pergi meninggalkanku ketika kepalamu berada di antara leher dan dadaku. Innâ lillâh wa innâ ilaihi râji‘ûn. Titipan telah dikembalikan dan gadai pun telah diambil kembali. Tetapi kesedihanku tetap abadi. Malam-malamkupun menjadi panjang, hingga Allah memilihkan untukku tempatmu yang kini engkau singgahi. Putrimu akan bercerita kepadamu tentang persekong-kolan umatmu untuk berbuat kejahatan. Tanyakanlah dan mintalah berita mengenai keadan mereka! Padahal perjanjian itu masih hangat dan namamu masih disebut-sebut. Salam sejahtera atasmu berdua, salam selamat tinggal, tanpa lalai dan jenuh! Jika aku berpaling, itu bukan karena bosan. Jika aku diam, itu bukan karena aku berburuk sangka terhadap apa yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang sabar.[Nahjul Balâghah, Jil. 2/ 182.]
Ungkapan-ungkapan Imam Ali as. di atas menunjukkan betapa ia menga-lami kesedihan yang mendalam atas kepergian titipan Rasulullah saw. itu. Ungkapan-ungkapan itu juga menunjukkan betapa dalamnya sakit hati dan duka yang dialaminya akibat perlakuan umat Islam. Imam Ali as. juga minta kepada Nabi saw. agar memaksa putrinya bercerita dan memberi-kan keterangan tentang seluruh kejahatan dan kezaliman yang telah dilakukan oleh umatnya itu.
Seusai menguburkan jenazah buah hati Nabi saw., Imam Ali as. kembali ke rumah dengan rasa duka dan kesedihan yang datang silih berganti. Para sahabat telah mengasingkannya. Imam Ali as. berpaling sebagaimana mereka juga berpaling darinya. Ia bertekad untuk menjauhi seluruh urusan politik dan tidak terlibat di dalamnya.
.
Berdasarkan riwayat Ghadir Khum, telah jelas bagi kita bahwa hal penting yang diperintahkan Allah untuk disampaikan oleh Rasulullah adalah mengenai wilayah (kepemimpinan) Imam Ali bin Abi Thalib. Apabila kita kembali kepada Al Qur’an, hal ini dijelaskan dalam surat Al Maaidah (5) : 55 sebagai berikut:
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
“Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang mendirikan salat dan membayar zakat dalam keadaan rukuk (rakiun) ”

Ayat Wilâyah

“Sesungguhnya wali kalian hanyalah AllahRasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dalam keadan ruku’”. (Al-Mâ`idah : 55).
Karena mengarti kan wali sebagai teman, akan muncul konsekuensi pelarangan untuk bersahabat dan berteman dengan selain Allah, Rasul, dan Ali as.
Selanjutnya, QS Al Maaidah (5):55 menyebutkan bahwa seseorang, ketika menjadikan Allah pemimpinnya, Rasul pemimpinnya, orang yang beriman tadi pemimpinnya maka masuk ke dalam golongan hizbollah (pengikut Allah). Jadi syarat untuk masuk sebagai pengikut Allah adalah menjadikan Allah, Rasul dan orang yang beriman tadi sebagai pemimpinnya (berwilayah kepada Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman). Yang tidak menjadikan Allah, Rasul dan orang beriman sebagai pemimpinnya dalam satu kesatuan adalah lawan dari pengikut Allah atau pengikut syaitan.
Berdasarkan pembahasan di atas jelaslah bahwa perintah yang harus disampaikan dalam ayat tabligh adalah wilayah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Isi dari QS Al Maaidah (5):55 menjelaskan bahwa wajib bagi ummat Islam untuk taat mutlak kepada wilayah tersebut. Hal ini juga dijelaskan dalam ayat QS An Nisa (4):59 sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah, Rasul dan ulim amri. Jika kamu berselisih dalam suatu urusan kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman terhadap Allah dan hari kemudian. Itulah yang lebih baik dan lebih bagus kesudahannya”

Ayat di atas menyebutkan bahwa orang-orang beriman (secara umum) diperintahkan untuk mentaati Allah, Rasul dan ulil amri. Apabila kalian (orang-orang beriman) berselisih mengenai siapa ulil amri tersebut, Allah mengatakan kembalikan lagi kepada Allah dan Rasul yang akan menjelaskan. Kalau memang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir maka harus taat kepada Allah, Rasul dan ulil amri. Hal ini sesuai dengan hadits yang terdapat dalam shahih Muslim yang mengatakan siapa yang mati tidak mengenal imam pada zamannya maka mati jahiliyah.
Rasulullah, ketika ditanya siapakah ulil amri, menjawab,”Mereka adalah imam imam dari ahlul baytku.” Hal ini tercantum dalam kitab:
  1. Yanabiul Mawaddah
  2. Faraidus Shimtain
  3. Syawahidu Tanzil.
.
Sebagian orang membuat takwilan batil bahwa kata mawla dalam hadis Ghadir Khum bukan menunjukkan kepemimpinan tetapi menunjukkan persahabatan atau yang dicintai, takwilan ini hanyalah dibuat-buat. Jika memang menunjukkan persahabatan atau yang dicintai maka mengapa ada sahabat Nabi yang merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika mendengar kata-kata Imam Ali di atas. Adanya keraguan di hati seorang sahabat Nabi menyiratkan bahwa Imam Ali mengakui hadis ini sebagai hujjah kepemimpinan. Maka dari itu sahabat tersebut merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya karena hujjah hadis tersebut memberatkan kepemimpinan ketiga khalifah sebelumnya. Sungguh tidak mungkin ada keraguan di hati sahabat Nabi kalau hadis tersebut menunjukkan persahabatan atau yang dicintai
Dari Abu Thufail yang berkata “Ali mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berkata “Aku meminta dengan nama Allah agar setiap muslim yang mendengar Rasulullah SAW bersabda di Ghadir khum terhadap apa yang telah didengarnya. Ketika ia berdiri maka berdirilah tigapuluh orang dari mereka. Abu Nu’aim berkata “kemudian berdirilah banyak orang dan memberi kesaksian yaitu ketika Rasulullah SAW memegang tangannya (Ali) dan bersabda kepada manusia “Bukankah kalian mengetahui bahwa saya lebih berhak atas kaum mu’min lebih dari diri mereka sendiri”. Para sahabat menjawab “benar ya Rasulullah”. Beliau bersabda “barang siapa yang menjadikan Aku sebagai pemimpinnya maka Ali pun adalah pemimpinnya dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Abu Thufail berkata “ketika itu muncul sesuatu yang mengganjal dalam hatiku maka aku pun menemui Zaid bin Arqam dan berkata kepadanya “sesungguhnya aku mendengar Ali RA berkata begini begitu, Zaid berkata “Apa yang patut diingkari, aku mendengar Rasulullah SAW berkata seperti itu tentangnya”.[Musnad Ahmad 4/370 no 19321 dengan sanad yang shahih seperti yang dikatakan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 88 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini]
Kata mawla dalam hadis ini sama halnya dengan kata waliy yang berarti pemimpin, kata waly biasa dipakai oleh sahabat untuk menunjukkan kepemimpinan seperti yang dikatakan Abu Bakar dalam khutbahnya. Inilah salah satu hadis Ghadir Khum dengan lafaz Waly.
Dari Sa’id bin Wahb yang berkata “Ali berkata di tanah lapang aku meminta dengan nama Allah siapa yang mendengar Rasulullah SAW pada hari Ghadir Khum berkata “Allah dan RasulNya adalah pemimpin bagi kaum mukminin dan siapa yang menganggap aku sebagai pemimpinnya maka ini (Ali) menjadi pemimpinnya dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya dan jayakanlah orang yang menjayakannya. [Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 93 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini].


Indikasi Ketiga: perhatikan khutbah Abu Bakar ketika ia selesai dibaiat, ia menggunakan kata Waly untuk menunjukkan kepemimpinannya. Inilah khutbah Abu Bakar
.
Ia berkata “Amma ba’du, wahai manusia sekalian sesungguhnya aku telah dipilih sebagai pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik diantara kalian maka jika berbuat kebaikan bantulah aku. Jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku, kejujuran adalah amanah dan kedustaan adalah khianat. Orang yang lemah diantara kalian ia kuanggap kuat hingga aku mengembalikan haknya kepadanya jika Allah menghendaki. Sebaliknya yang kuat diantara kalian aku anggap lemah hingga aku mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya jika Allah mengehendaki. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah timpakan kehinaan dan tidaklah kekejian tersebar di suatu kaum kecuali adzab Allah ditimpakan kepada kaum tersebut. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan RasulNya. Tetapi jika aku tidak mentaati Allah dan RasulNya maka tiada kewajiban untuk taat kepadaku. Sekarang berdirilah untuk melaksanakan shalat semoga Allah merahmati kalian. [Sirah Ibnu Hisyam 4/413-414 tahqiq Hammam Sa’id dan Muhammad Abu Suailik, dinukil Ibnu Katsir dalam Al Bidayah 5/269 dan 6/333 dimana beliau menshahihkannya].
.
Imam Ali As mengingatkan kaum Muhajirin dan kaum Anshar di Masjid Nabawi (setelah mereka berbaiat kepada Abu Bakar), akan hak eksklusif kepemimpinannya atas umat dan perjanjian mereka kepada Rasulullah Saw di Ghadir Khum. Beberapa orang Anshar berdalih kepada Imam Ali, “Wahai Abul Hasan! Andai saja kami, kaum Anshar, mendengar hujjah-hujjah Anda sebelum kami berbaiat kepada Abu Bakar, pastilah tak seorang pun dari kami yang tidak menyetujui perintah Anda.”
.
Dengan tegas Imam Ali As menjawab, “Apakah kalian menginginkan saya meninggalkan jasad suci Rasulullah yang sudah dikafani dibiarkan tidak dikuburkan, kemudian saya mendatangi kalian untuk berselisih demi kekuasaan? Demi Allah! Saya tak dapat memercayai siapa pun yang mendambakan kekuasaaan lalu menyelisihi kami, Ahlul Bait, lalu membuat alasan untuk membenarkan apa yang telah mereka lakukan. Saya tidak melihat Rasulullah Saw meninggalkan sedikit pun ruang untuk pembicaraan kontroversial, atau satu bantahan pun untuk khotbah beliau di Ghadir Khum.”
.
Dalam sejarah dunia Islam, muslimin tidak pernah menghadapi tragedi yang sangat berat sebagai cobaan dalam kehidupan mereka seberat peris-tiwa Tsaqîfah yang telah menyulut api fitnah di antara mereka sekaligus membuka pintu kehancuran bagi kehidupan mereka
.
Kaum Anshar telah melangsungkan muktamar di Tsaqîfah Bani Sâ‘idah pada hari Nabi saw. wafat. Muktamar itu dihadiri oleh dua kubu, suku Aus dan Khazraj. Mereka berusaha mengatur siasat supaya kekha-lifahan tidak keluar dari kalangan mereka. Mereka tidak ingin muktamar tersebut diikuti oleh kaum Muhajirin yang secara terus terang telah menolak untuk membaiat Imam Ali as. yang telah dikukuhkan oleh Nabi saw. sebagai khalifah dan pemimpin umat pada peristiwa Ghadir Khum. Mereka tidak ingin bila kenabian dan kekhalifahan berkumpul di satu rumah, sebagaimana sebagian pembesar mereka juga pernah menentang Nabi saw. untuk menulis wasiat berkenaan dengan hak Ali as. Ketika itu mereka melontarkan tuduhan bahwa Nabi saw. sedang mengigau sehing-ga mereka pun berhasil melakukan makar tersebut.
.
Indikasi Keempat: Khalifah Abu Bakar dan Umar, juga sahabat Usman, Thalhah dan Zubair dengan tanpa sungkan-sungkan mengucapkan selamat (tabrik) kepada Imam Ali atas terpilihnya ia sebagai pemimpin umat Islam pasca Nabi saw. Ucapan selamat dikatakan kepada seseorang bila seseorang mendapatkan maqam yang tinggi, bukan karena ia dikenal sebagai sahabat yang harus dicintai. (Perihal ucapan selamat sahabat-sahabat senior terhadap Imam Ali atas kedudukannya sebagai pemimpin umat pasca Nabi saw, dapat Anda temukan dalam tafsir at Tsa`labi berkaitan dengan ayat al Maidah 67, dimana Tsa`labi tegas-tegas menyatakan bahwa ayat tersebut terkait dengan Peristiwa Ghadir Khum. kita juga bisa lihat dalam Musnad Ibn Hanbal 6, hal. 401, al Bidayah wa an Nihayah juz 5 hal. 209).
Indikasi Kelima: Hasan bin Tsabit adalah penyair pertama Ghadir. Setelah Nabi saw menyampaikan hadis Man Kuntu Maula, ia memimta izin kepada Nabi saw untuk membacakan syair terkait peristiwa besar tersebut. Dalam salah satu baitnya, disebutkan: “Qum ya `alyyun fa innani radhitu min ba`di imaman wa hadiya” (bangkitlah wahai Ali, aku meridhai engkau sebagai imam dan pemberi petunjuk sesudahku). Maka sahabat Hasan bin Tsabit sebagai seorang yang hidup di zaman Nabi saw dan dekat dengan masa turunnya wahyu lebih mengetahui sastra Arab ketimbang mereka yang mengartikan kata “maula” dengan sahabat/penolong atau budak yang dibebaskan dll.
Indikasi keenam,
MAYORiTAS  SAHABAT  KHiANATi  Ali  PASCA  NABi  SAW WAFAT
Qs. Al An’am ayat 65-67
Qs. 6:65. Katakanlah (Muhammad), “Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain.” Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan berulang ulang tanda tanda (kekuasaan Kami) agar mereka memahami (nya)
Qs. 6:66. Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal (azab) itu benar adanya. Katakanlah (Muhammad), “Aku ini bukanlah penanggung jawab kamu”
Qs. 6:67. Setiap berita (yang dibawa oleh Rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui
Dikutip dari  “AL HiDAYAH ALQURAN TAFSiR PERKATA TAJWID KODE ANGKA PENERBIT KALiM”  yang disahkan DEPAG, halaman 136 :
Asbabun Nuzul Qs.6 : 65-67 : Zaid bin Aslam mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda  kepada para sahabat, “Setelah kepergianku, janganlah kalian kembali menjadi kafir dengan saling membunuh diantara kalian”. Mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya engkau adalah Rasul Nya. “Sebagian yang lain berkata, “ini tidak akan pernah terjadi untuk selamanya, yaitu saling membunuh diantara kita, sementara kita semua adalah muslim.” Maka turunlah ketiga ayat ini (HR. Ibnu Abi Hatim)
Wahai para pembaca…
Qs. Asy Syu’ara; ayat 205-207
Qs.26 : 205  : Maka bagaimana pendapatmu jika kepada mereka kami berikan kenikmatan hidup beberapa tahun,
Qs.26 : 206  : Kemudian datang kepada mereka azab yang diancamkan kepada mereka,
Qs.26 : 207  : Niscaya tidak berguna bagi mereka kenikmatan yang mereka rasakan
Dikutip dari  “AL HiDAYAH ALQURAN TAFSiR PERKATA TAJWID KODE ANGKA PENERBIT KALiM”  yang disahkan DEPAG, halaman  376 :
Asbabun Nuzul Qs.26 : 205-207 : Menurut Abu Jahdham, ketiga ayat ini diturunkan berkenaan dengan Rasulullah yang suatu ketika terlihat bingung dan gelisah. Para sahabat menanyakan hal itu. “Aku bermimpi, setelah aku wafat kelak, aku melihat musuhku yang ternyata adalah berasal dari umatku sendiri,” jawab Rasulullah (HR.ibnu Abi Hatim)
Hadis dari sahabat  Jarir bin ‘Abdillah Al Bajali dari Nabi SAW : “janganlah kalian kembali kafir sepeninggalku, sebagian kalian menebas leher yang lain” (HR. Bukhari no. 7080 dan HR. Muslim no.65)
Hadis Nabi SAW : “Mencaci seorang muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran” (Hr.Bukhari Muslim)
.
Kedudukan Hadis Umat Mengkhianati Ali Sepeninggal Nabi SAW
Rasulullah SAW telah mengabarkan kepada Imam Ali bahwa sepeninggal Beliau SAW, umat akan mengkhianati Imam Ali. Hal ini telah dinyatakan dalam hadis-hadis shahih. Salah satunya dalam hadis berikut

حدثنا أبو حفص عمر بن أحمد الجمحي بمكة ثنا علي بن عبد العزيز ثنا عمرو بن عون ثنا هشيم عن إسماعيل بن سالم عن أبي إدريس الأودي عن علي رضى الله تعالى عنه قال إن مما عهد إلي النبي صلى الله عليه وسلم أن الأمة ستغدر بي بعده

Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Umar bin Ahmad Al Jumahi di Makkah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin ‘Aun yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Ismail bin Salim dari Abi Idris Al Awdi dari Ali Radhiyallahu ‘anhu yang berkata “Diantara yang dijanjikan Nabi SAW kepadaku bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”. [Hadis riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak 3/150 no 4676 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi dalam At Talkhis]
Hadis ini adalah hadis yang shahih sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi. Selain itu hadis ini juga diriwayatkan oleh Ad Dulabi dalam Al Kuna Wal Asmaa’ 2/442 no 441

حدثنا يحيى بن غيلان ، عن أبي عوانة ، عن إسماعيل بن سالم ، وحدثنا فهد بن عوف ، قال ، ثنا أبو عوانة ، عن إسماعيل بن سالم ، عن أبي إدريس إبراهيم بن أبي حديد الأودي أن علي بن أبي طالب ، قال : عهد إلي النبي صلى الله عليه وسلم أن الأمة ستغدر بي من بعده

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ghailan dari Abu ‘Awanah dari Ismail bin Salim dan telah menceritakan kepada kami Fahd bin Auf yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Ismail bin Salim dari Abi Idris Ibrahim bin Abi Hadid Al Awdi bahwa Ali bin Abi Thalib berkata “telah dijanjikan oleh Nabi SAW bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”.
Hadis ini sanadnya shahih dan diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya yaitu sanad Yahya bin Ghailan dari Abu Awanah dari Ismail bin Salim dari Ibrahim bin Abi Hadid dari Ali. Ibrahim adalah seorang tabiin yang melihat atau bertemu dengan Ali.
  • Yahya bin Ghailan dia adalah perawi Muslim Nasa’i dan Tirmidzi. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 11 no 429 dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Sahl, Al Khatib, Ibnu Hibban, dan Ibnu Sa’ad. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/312 menyatakan ia tsiqat.
  • Abu ‘Awanah dia adalah Wadhdhah bin Abdullah Al Yasykuri perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 11 no 204 dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim, Abu Zar’ah, Ahmad, Ibnu Hibban, Ibnu Sa’ad dan Ibnu Abdil Bar. Dalam At Taqrib 2/283 ia dinyatakan tsiqat . Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 6049 juga mengatakan ia tsiqah.
  • Ismail bin Salim adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud dan An Nasa’i. Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 1 no 554 menyebutkan bahwa ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Sa’ad, Ahmad, Abu Hatim, Abu Zar’ah, Daruquthni, Yaqub Al Fasawi, Abu Ali Al Hafiz dan Ibnu Hibban. Dalam At Taqrib 1/94 ia dinyatakan tsiqat.
  • Ibrahim bin Abi Hadid dia adalah seorang tabiin yang tsiqah. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat juz 4 no 1613. Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 1 no 908 menyebutkan keterangan tentangnya bahwa telah meriwayatkan darinya Ismail bin Salim tanpa menyebutkan jarh terhadapnya. Sehingga Ibrahim bin Abi Hadid adalah tabiin yang tsiqah dan Al Bukhari juga menyebutkan kalau ia bertemu atau melihat Ali bin Abi Thalib RA.
Jadi hadis riwayat Ad Dulabi dalam Al Kuna adalah hadis yang shahih. Sebelum mengakhiri tulisan ini kami akan membantah syubhat kalau Ibrahim bin Abi Hadid itu majhul dan hadisnya dari Ali mursal.
.
Indikasi ke tujuh, hadis tsaqalain yang berulangkali diucapkan Nabi SAW yang mengindikasikan Nabi SAW cemas akan nasib ahlul baitnya kelak
حَدَّثَنَا يحيى قَال حَدَّثَنَا جرير عن الحسن بن عبيد الله عن أبي الضحى عن زيد بن أرقم قَال النبي صلى الله عليه وسلم إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا كتاب الله عز وجل وعترتي أهل بيتي وإنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض
Telah menceritakan kepada kami Yahya, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Jariir, dari Al-Hasan bin ‘Ubaidillah, dari Abudl-Dluhaa, dari Zaid bin Arqam, ia berkata : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku tinggalkan untuk kalian yang apabila kalian berpegang-teguh padanya maka kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah ‘azza wa jalla dan ‘itrahku ahlul-baitku. Dan keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaku di Al-Haudl” [Diriwayatkan oleh Ya’qub bin Sufyaan Al-Fasaawiy dalam Al-Ma’rifah wat-Taariikh, 1/536]
.
Yahya, menurut pen-tahqiq kitab Al-Ma’rifah (Dr. Akram Dliyaa’ Al-‘Umariy hafidhahullah) adalah Ibnu Yahyaa bin Bakiir, seorang perawi tsiqah. Sedangkan menurut jalan sanad Al-Haakim, ia adalah Ibnul-Mughiirah As-Sa’diy Ar-Raaziy. Abu Haatim mengatakan ia perawi shaduuq [Al-Jarh wat-Ta’diil, 9/191 no. 798]. Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat [9/no. 16357]. Adapun perawi lain adalah perawi Shahihain, kecuali Al-Hasan bin ‘Ubaidillah, ia hanya dipakai oleh Muslim saja
.
Al-Haakim (sebagaimana diisyaratkan sebelumnya) juga meriwayatkan dengan sanad dari Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain bin Mushlih Al-Faqiih, dari Muhammad bin Ayyub, dari Yahyaa bin Al-Mughiirah As-Sa’diy, dan seterusnya sama dengan sanad seperti di atas; akan tetapi dengan lafadh :

إني تارك فيكم الثقلين كتاب الله وأهل بيتي وإنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض هذا حديث صحيح الإسناد على شرط الشيخين ولم يخرجاه
 “Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian Ats-Tsaqalain, (yaitu) : Kitabullah dan ahlul-baitku. Dan keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaku di Al-Haudl” [Al-Mustadrak ­– bersama At-Tatabbu’ – 3/173-174 no. 4774. Al-Haakim berkata : “Hadits ini shahih sanadnya berdasarkan persyaratan Al-Bukhariy dan Muslim, namun keduanya tidak mengeluarkannya/meriwayatkannya”].
.
Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya aku telah meninggalkan buat kalian dua hal yang berharga; Kitab Allah dan Itrah; Ahlul Baitku. Selama berpegang pada keduanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Dan keduanya juga tidak akan berpisah hingga menjumpaiku di telaga Kautsar kelak di Hari Kiamat.”(H.R. Sahih Muslim : jilid 7, hal 122. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 432. Musnad Ahad, jilid 3, hal 14, 17, 26 dan jilid 4, hal 371 serta jilid 5, hal 182 dan 189. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal 109, 147 dan 533, juga terdapat di dalam kitab-kitab induk hadis yang lain)
.
ketika Rasul SAAW hendak meninggal dunia, Rasulullah memerintahkan pasukan Usamah bin Zaid untuk memerangi suatu kaum. Abu Bakar, Umar dan Usman diperintahkan menjadi prajurit dibawah komando Usamah. Apa tujuan Rasul SAAW melibatkan mereka (mengingat usia mereka tidak muda lagi)? Hal ini didasari kesadaran Rasulullah bahwa dirinya hendak meninggal dunia dan agar keberadaan ketiga orang tersebut akan mengganggu kelancaran peralihan kekhalifahan. Rasulullah kemudian juga meberikan ancaman, ”La’natullah orang yang keluar dari tentara Usamah.” Berangkatlah pasukan Usamah. Ketika dalam perjalanan, sampailah kabar bahwa Rasulullah meninggal dunia, dan Abu Bakar, Umar dan Usman keluar dari pasukan
.
Indikasi kedelapan,
Bersabda Nabi SAWW: “Siapa yang ingin hidup seperti hidupku, mati seperti matiku, tinggal di surga A’dn yang telah ditanam oleh Tuhanku maka jadikanlah Ali sebagai Walinya sepeninggalku dan me-wila’ walinya, serta ikut Ahlul Baitku yang datang setelahku. Mereka adalah itrah keluargaku, diciptakan dari bagian tanahku dan dilimpahkan kepahaman serta ilmuku. Maka celakalah orang-orang yang telah mendustakan keutamaan mereka dari ummatku, dan yang telah memutuskan tali silaturrahimnya dengan mereka. Kelak Allah tidak akan memberi mereka syafaatku kepadanya.”
sumber :

-Mustadrak al-Hakim jil. 3hal. 128; Jami’ al-Kabir oleh Thabarani; Al-Isabah Oleh Ibnu Hajar al-Asqalini;Kanzul Ummal jil. 6 hal. 155; Al-Manaqib oleh khawarizmi hal. 34; Yanabi al-Mawaddah hal. 149; Haliyah al-Auliya’jil. 1 hal. 86; Tarikh Ibnu Asakir jil. 2 hal. 95.Lihat seterusnya..

Indikasi kesembilan, hadis mutawatir tentang bahwa khalifah umat islam ada 12 khalifah, hadis ini disepakati sunni syi’ah

“Akan ada 12 khalifah” Berkata Jabir bin samurah (perawi hadis): “Dan kemudian beliau bersabda dengan kalimat yang tidak aku fahami. Ayahku berkata: “Semuanya dari orang Quraisy.” (HR Bukhari 329 dan Muslim 4477)

Indikasi kesepuluh, hadis khalifah umat islam adalah ahlulbait

Kedua Premis di atas masih mungkin terjadi dan tulisan ini belum akan mem-bahas secara rasional premis mana yang benar atau lebih benar.Tulisan kali ini hanya akan menunjukkan adanya suatu riwayat dimana Sang Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah Khalifah bagi Umat Islam. 
 Bagaimana sikap orang terhadap riwayat ini maka itu jelas bukan urusan penulis :mrgreen:


Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda“Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan olehAs Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam.Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan :mrgreen:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar