Jumat, 17 Juni 2011

Tanggal 21 Juni Hamas-Fatah Sepakat Bentuk Pemerintahan Persatuan>>"Hari ini terjadi pembicaraan antara delegasi Fatah dan Hamas, dan pertemuan lanjutan dijadwalkan hari Selasa mendatang antara Presiden Abbas dan Misyal untuk menyelesaikan pembentukan pemerintahan baru Palestina," kata Azzam al-Ahmad, yang memimpin delegasi Fatah dalam pembicaraan tersebut. "Mereka juga memutuskan bahwa pertemuan ini akan menjadi yang terakhir untuk menyelesaikan masalah pemerintahan persatuan," katanya menambahkan.>>>>Gerakan Sipil Palestina>>>Pawai oleh ribuan pengungsi Palestina yang mendekati perbatasan Israel, menyebabkan pasukan Israel membunuh lebih selusin pengungsi Palestina. Aksi tanpa senjata yang berlangsung hari Minggu lalu, menjadi ancaman eksistensi Israel di masa depan. Anak, cucu para pengungsi Palestina, membuat gerakan sipil, yang mengenang kembali pengusiran mereka, saat pembentukan negara Israel berdiri tahun 1948. Mereka memiliki kesadaran yang mendalam tentang pendudukan dan penjajahan Israel, sejak berdirinya negara Israel itu>>>Peristiwa hari Minggu, kenyataannya lebih menakutkan Israel, dibandingkan dengan ancaman militer yang pernah dihadapi negeri Zionis itu.>>bahwa Palestina sendiri memulai proses penyatuan kembali kepemimpinan politik mereka dalam bentuk rekonsiliasi antra Fatah-Hamas. Pemulihan dan revitalisasi lembaga-lembaga Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Ini akan membuat kepemimpinan nasional Palestina bersatu, yang mewakili semua warga Palestina di dunia.>>>Kampanye Eropa: Berlanjutnya Blokade Gaza Bukti Adanya Kolusi Internasional>>>bahwa Armada kebebasan 2 akan tetap berlayar sesuai jadwal pada akhir bulan ini dengan membawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, menambahkan bahwa setiap hambatan yang dihadapi satu atau lebih dari peserta dalam armada ini tidak akan mempengaruhi sisa peserta armada yang lain. Kampanye Eropa mengatakan dalam pernyataan yang dikeluarkan pada peringatan kelima pengepungan terhadap Gaza menyatakan bahwa blokade telah mengancam semua yang tersisa dari kehidupan yang bermartabat bagi penduduk Gaza.>>>.Israel Kembali Menahan Anggota Parlemen Hamas>>Legislator Hamas Samir al-Qadhi ditahan pada hari Kamis kemarin (16/6) setelah pasukan menyerbu rumahnya di desa Sorif, sumber-sumber keamanan Palestina mengatakan seperti dikutip oleh kantor berita Xinhua.>>> Netanyahu Ketakutan Akan Adanya Intifadah Ketiga>>>"Netanyahu khawatir ia tidak akan mampu menghentikan (apa yang akan terjadi) September mendatang," seorang pejabat tinggi mengatakan kepada Ynet. "Perdana menteri saat ini berupaya untuk meyakinkan negara-negara Eropa bahwa jika kerusuhan akan dimulai setelah deklarasi kenegaraan Palestina.">>>Benjamin Netanyahu mengatakan kepada presiden Uni Eropa hari Selasa kemarin (14/6) bahwa diplomat mereka berusaha untuk "mengamankan" 30 negara anggota PBB untuk memblokir rencana Palestina untuk pengakuan kenegaraan di lembaga dunia tersebut.>>


Ketakutan Israel Terhadap Gerakan Sipil Palestina

Jumat, 17/06/2011 14:22 WIB | email | print
Pawai oleh ribuan pengungsi Palestina yang mendekati perbatasan Israel, menyebabkan pasukan Israel membunuh lebih selusin pengungsi Palestina. Aksi tanpa senjata yang berlangsung hari Minggu lalu, menjadi ancaman eksistensi Israel di masa depan.
Anak, cucu para pengungsi Palestina, membuat gerakan sipil, yang mengenang kembali pengusiran mereka, saat pembentukan negara Israel berdiri tahun 1948. Mereka memiliki kesadaran yang mendalam tentang pendudukan dan penjajahan Israel, sejak berdirinya negara Israel itu.
Peristiwa hari Minggu, kenyataannya lebih menakutkan Israel, dibandingkan dengan ancaman militer yang pernah dihadapi negeri Zionis itu.
Ada faktor-faktor yang membuat Israel merasa takut dengan perkembangan di Palestina sekarang. Pertama, unsur waktu bekerja melawan strategi Zionis, menciptakan negara Israel yang kuat, yang terus mengintimidasi Palestina, dan kemudian melupakan hak mereka untuk kembali ke tanah kelahiran mereka di Israel, atau hanya menghasilkan keputusasaan para pengungsi, yang akhirnya membuat mereka menyerah untuk mendapatkan tanah air mereka.
Waktu Israel berdiri sebagai negara di tahun 1948, pengungsi Palestina jumlahnya 700.000, tetapi sekarang jumlah pengungsi Palestina berubah menjadi 4,5 juta pengungsi, semuanya menuntut hak-hak tanah kelahiran mereka. Kondisi baru yang dimiliki rakyat Palestina jauh lebih kuat dari sebelumnya. Jika gerakan sipil ini terus berlanjut dengan kesadaran baru, Israel sudah tidak ada gunanya lagi menggunakan senjata.
Paara Israel bisa mengambil waktu sejenak, merenungkan makna dari apa yang terjadi Minggu lalu. Penting para pemimpin Zionis-Israel merenungkan kembali ingatan mereka yang telah merampas tanah Palestina, yang selalu dikaitkan dengan sejarah penentuan orang Yahudi untuk kembali ke negeri leluhur mereka di Palestina, setelah ribuan tahun pengasingan.
Sekarang yang dihadapi Zionis-Israel adalah perjuangan rakyat Palestina yang mengkombinasikan antara memori historis, identitas nasionalis, dan aktivisme politik lebih kuat daripada cara-cara militer yang dapat digunakan untuk mendapatkan kembali hak-hak nasional mereka. Inilah sekarang yang dilakukan rakyat Palestina. Mereka bisa mengorganisir puluhan ribu, bahkan ratusan ribu ke perbatasan Israel. Israel harus tahu dari pengalaman mereka sendiri dan perjuangan nasional mereka sendiri.
Kedua, Palestina mengeksplorasi cara baru untuk melawan Israel yang melakukan pengingkaran atas hak-hak pengungsi Palestina, termasuk perlawanan tanpa kekerasan melalui pawai damai ke perbatasan Israel. Momok pengungsi berjalan ke perbatasan Israel dari empat negara yang berbeda - di Lebanon, Suriah, Tepi Barat dan Gaza - adalah mimpi buruk bagi Israel.
Ini menandakan masa depan Israel yang suram. Jika Palestina mengorganisir pawai protes tanpa kekerasan tersebut dengan terampil - yang lebih dari mungkin - mereka akan menciptakan situasi, pasti Israel tidak akan mampu mengendalikan. Misalnya, aksi protes terkoordinasi, dan tanpa kekerasan yang semua orang Palestina memobilisasi secara bersamaan melawan Israel dalam waktu bersamaan, maka ini akan menjadi gelombang besar, yang meredupkan masa depan Israel.
Peristiwa yang bakal terjadi di bulan-bulan berikutnya, adalah pengungsi Palestina akan terus berbaris dengan damai ke perbatasan Israel dari segala arah. Seperti rakyat Palestina yang hidup di bawah pendudukan Israel atau pengepungan di Tepi Barat, Gaza dan Jerusalem Timur akan melakukan protes tanpa kekerasan.
Warga negara Israel keturunan Palestina akan berbaris damai dalam solidaritas di Israel, dan, Palestina di seluruh dunia akan berbaris secara damai ke kedutaan dan konsulat Israel. Semua mereka membawa bendera Palestina dan lagu-lagu nyanyian nasionalisme mereka. Di mana-mana di dunia Israel akan dikepung oleh ratusan ribu demonstran Palestina yang damai, dan secara kolektif membuat titik, mereka tidak lupa atas hak-hak mereka untuk mengakhiri status mereka sebagia pengungsi. Sebagian besar masyarakat dunia akan pasti mendukung protes damai itu, dan memaksa Israel untuk merespon hak-hak sah rakyat Palestina, tanpa menembak dan membunuh mereka.
Ketiga, kekhawatiran Israel bahwa Palestina sendiri memulai proses penyatuan kembali kepemimpinan politik mereka dalam bentuk rekonsiliasi antra Fatah-Hamas. Pemulihan dan revitalisasi lembaga-lembaga Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Ini akan membuat kepemimpinan nasional Palestina bersatu, yang mewakili semua warga Palestina di dunia. Kondisi ini memungkinkan melakukan protes tanpa kekerasan sebagai cara yang paling efektif untuk melanjutkan perjuangan melawan Israel dan Zionisme - sampai resolusi politik yang adil tercapai, berdasarkan Inisiatif Perdamaian Arab 2002.
Perkembangan ini didukung oleh transformasi politik yang kini terjadi di seluruh dunia Arab, di mana pemerintah Arab lebih demokratis, representatif dan sah, yang mencerminkan pandangan publik, dan pasti mereka yang ingin menunjukkan solidaritas dengan dukungan untuk perjuangan Palestina, seperti Mesir.
Rezim Zionis-Israel yang sekarang ini masih "membatu", para pemimpin harus merenungkan perubahan di dunia Arab saat ini.
Palestina berada di ambang pergeseran sejarah, dan taktik Palestina dalam menghadapi ancaman Israel, dimana perlawanan tanpa kekerasan yang terkoordinasi dengan baik akan menetralisir kekuatan militer Israel. Sekarang Israel akan mempertimbangkan respon politik yang lebih realistis dan kredibel yang akan memungkinkan untuk dinegosiasikan mengakhiri konflik yang memenuhi aspirasi nasional kedua belah pihak dan hak-hak hukum mereka. (mh/tnm).

Kampanye Eropa: Berlanjutnya Blokade Gaza Bukti Adanya Kolusi Internasional

Jumat, 17/06/2011 08:06 WIB | email | print
Kebisuan dunia internasional terhadap pengepungan Israel di Gaza untuk tahun kelima berturut-turut menampilkan adanya kolusi masyarakat dunia, kampanye Eropa untuk mengangkat pengepungan di Gaza mengatakan dalam siaran pers mereka pada Rabu lalu.
Hal Ini menegaskan bahwa Armada kebebasan 2 akan tetap berlayar sesuai jadwal pada akhir bulan ini dengan membawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, menambahkan bahwa setiap hambatan yang dihadapi satu atau lebih dari peserta dalam armada ini tidak akan mempengaruhi sisa peserta armada yang lain.
Kampanye Eropa mengatakan dalam pernyataan yang dikeluarkan pada peringatan kelima pengepungan terhadap Gaza menyatakan bahwa blokade telah mengancam semua yang tersisa dari kehidupan yang bermartabat bagi penduduk Gaza.
Mereka juga menuduh bahwa meskipun Israel melakukan pelonggaran pengepungan namun bantuan medis, persediaan makanan, bahan bakar, dan bahan bangunan, bersama dengan barang-barang lain yang diperlukan masih ditolak aksesnya untuk masuk ke Gaza secara penuh.
Dikatakan bahwa pengepungan menyebabkan dampak negatif pada berbagai bidang termasuk kesehatan, pendidikan, gizi, dan bidang kemanusiaan selain melumpuhkan sektor industri serta menyebabkan tingkat pengangguran yang tinggi. (fq/pic)

Israel Kembali Menahan Anggota Parlemen Hamas

Jumat, 17/06/2011 07:44 WIB | email | print
Pasukan Israel telah menangkap seorang anggota parlemen yang berafiliasi dengan gerakan Palestina Hamas di rumahnya di Tepi Barat kota al-Khalil (Hebron).
Legislator Hamas Samir al-Qadhi ditahan pada hari Kamis kemarin (16/6) setelah pasukan menyerbu rumahnya di desa Sorif, sumber-sumber keamanan Palestina mengatakan seperti dikutip oleh kantor berita Xinhua.
Samir al-Qadhi telah menjadi anggota parlemen Hamas ke 15 yang telah dipenjarakan oleh pasukan Israel sejak Oktober 2010, dan menjadi anggota parlemen ke 6 yang ditangkap setelah Hamas menandatangani perjanjian rekonsiliasi dengan Fatah.
Menurut sumber keamanan Palestina, legislator Hamas sebelumnya menghabiskan tiga setengah tahun di penjara Israel sebelum dibebaskan pada November 2009 bersama dengan beberapa anggota parlemen Hamas yang lain di Tepi Barat termasuk pembicara dari parlemen Palestina Aziz Dweik.
Al-Qadhi ditangkap sebelumnya pada tahun 2006 di perbatasan sewaktu terjadi bentrokan antara pejuang Palestina dan pasukan Israel.
Fatah dan Hamas mengumumkan kesiapan mereka pada hari Selasa lalu untuk membentukp sebuah pemerintah persatuan nasional setelah selama ini mengalami sengketa.
Bertindak sebagai kepala Otoritas Palestina Mahmoud Abbas dan kepala biro politik Hamas Khalid Misyal telah menetapkan untuk menyelesaikan pembentukan pemerintahan persatuan baru di ibukota Mesir Kairo pada 21 Juni mendatang.(fq/prtv)

Netanyahu Ketakutan Akan Adanya Intifadah Ketiga

Kamis, 16/06/2011 13:23 WIB | email | print
Israel bersiap untuk skenario terburuk menjelang deklarasi negara Palestina, kata pejabat Israel, termasuk kehilangan legitimasi bagi Yahudi untuk tinggal di wilayah Yerusalem.
Pejabat Yerusalem mengatakan kepada Ynet Rabu kemarin (15/6) bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ketakutan akan adanya intifada ketiga musim panas ini menjelang deklarasi kenegaraan Palestina yang direncanakan pada bulan September.
"Netanyahu khawatir ia tidak akan mampu menghentikan (apa yang akan terjadi) September mendatang," seorang pejabat tinggi mengatakan kepada Ynet. "Perdana menteri saat ini berupaya untuk meyakinkan negara-negara Eropa bahwa jika kerusuhan akan dimulai setelah deklarasi kenegaraan Palestina."
Departemen pertahanan telah membuat keputusan dengan menyusun beberapa skenario yang mungkin terjadi pada musim panas mendatang. Para pejabat mengatakan bahwa bentrokan kekerasan mungkin terjadi antara pasukan keamanan dan warga Arab dan Palestina.
"Ada satu skenario di mana ribuan, atau mungkin puluhan ribu, memulai pawai yang menjadi kerusuhan dan konflik serius dengan pasukan IDF," kata pejabat itu.
"Yang ditakutkan adalah bahwa Israel-Arab juga akan bergabung dengan kerusuhan, menyebabkan ketidakstabilan internal dan eksternal saat ini sensitif."
Israel juga khawatir kemungkinan bahwa deklarasi Palestina akan menyebabkan 250.000 orang Yahudi yang tinggal di Yerusalem yang didefinisikan sebagai di luar garis 1967 - seperti Gilo, Ramot, dan Har Homa - akan kehilangan legitimasi mereka untuk tinggal di sana.
"Ini masalah yang sangat serius, dan masih belum jelas bagaimana kita akan menanganinya," kata pejabat itu, menambahkan bahwa armada yang akan menuju Gaza juga masalah sensitif yang harus ditangani dengan benar.
Sementara itu Netanyahu merencanakan perjalanan ke Eropa Timur segera, untuk mengunjungi Polandia, Rumania, dan Hungaria dalam upaya untuk meyakinkan para pemimpin untuk menentang deklarasi negara Palestina. (fq/ynet)

Netanyahu: Kami "Amankan" 30 Negara dalam Upaya Batalkan Negara Palestina

Rabu, 15/06/2011 15:37 WIB | email | print
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kepada presiden Uni Eropa hari Selasa kemarin (14/6) bahwa diplomat mereka berusaha untuk "mengamankan" 30 negara anggota PBB untuk memblokir rencana Palestina untuk pengakuan kenegaraan di lembaga dunia tersebut.
Dalam pertemuan dengan Presiden Parlemen Eropa Prof Jerzy Buzek di Yerusalem, situs berita harian Israel Ynet melaporkan, Netanyahu mengungkapkan bahwa dia berharap untuk bisa mengimbangi dukungan potensi tawaran itu."
Netanyahu mengatakan perdamaian bukan berarti mengorbankan tanah Israel," meskipun adanya seruan dari Palestina untuk menghentikan pembangunan pemukiman Yahudi dan seruan dari Amerika Serikat dan masyarakat internasional bahwa pembicaraan didasarkan pada perbatasan yang berada di tempat sebelum pendudukan Israel 1967. Dia melanjutkan, mengatakan perdamaian akan berarti bahwa warga Palestina mengorbankan dirinya untuk menghancurkan Israel.
Dia menyalahkan kegagalan sebelumnya atas tercapainya kesepakatan damai di Palestina baru-baru ini di mana ada penolakan untuk mengakui Israel sebagai negara Yahudi.(fq/mna)

Tanggal 21 Juni Hamas-Fatah Sepakat Bentuk Pemerintahan Persatuan

Rabu, 15/06/2011 07:58 WIB | email | print
Minggu depan dijadwalkan adanya pertemuan antara Presiden Palestina Mahmud Abbas dan pemimpin Hamas Khalid Misyal untuk membentuk pemerintahan persatuan Palestina.
Presiden Palestina Mahmud Abbas akan bertemu pimpinan Hamas Khalid Misyal di Kairo pada tanggal 21 Juni mendatang untuk menyelesaikan pemerintahan baru persatuan antara dua faksi, kata seorang pejabat tinggi gerakan Fatah Selasa kemarin (14/6).
"Hari ini terjadi pembicaraan antara delegasi Fatah dan Hamas, dan pertemuan lanjutan dijadwalkan hari Selasa mendatang antara Presiden Abbas dan Misyal untuk menyelesaikan pembentukan pemerintahan baru Palestina," kata Azzam al-Ahmad, yang memimpin delegasi Fatah dalam pembicaraan tersebut.
"Mereka juga memutuskan bahwa pertemuan ini akan menjadi yang terakhir untuk menyelesaikan masalah pemerintahan persatuan," katanya menambahkan.(fq/afp)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar