Rabu, 29 Juni 2011

Syariah Islam Wajib ditegakkan dengan Kaffah dan lurus, sebagai bukti syukur dan untuk kejayaan Bangsa Indinesia....>>> ” Hidup Sejahtera Di Bawah Naungan Khilafah”. “Konferensi Rajab adalah cara kami melakukan edukasi politik, dan sarana mencerdaskan dan mencerahkan umat,” kata Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Ismail Yusanto dalam jumpa persnya disela-sela konferensi, >>> Ismail mengungkapkan bahwa saat ini rakyat Indonesia tengah dirundung banyak masalah hampir di semua bidang, kemerdekaan Indonesia belum mampu mensejahterakan rakyat, dan impian masyarakat yang adil dan makmur semakin jauh dari harapan. saat ini masalah demi masalah masih menghinggapi rakyat Indonesia. Semua itu terjadi akibat penerapan sistem kapitalis-liberal. “Penegakan syariah secara kaffah di bawah maungan daulah khilafah mutlak diperlukan sebagai jalan penyelesaian atas berbagai persoalan di negeri ini. Penerapan syariat Islam akan mampu mensejahterakan rakyat Indonesia”, ungkapnya. >>> Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menggelar konferensi Rajab 1432 H pada Rabu (29/6/2011) di stadion Lebak Bulus Jakarta, yang dihadiri puluhan ribu orang peserta. Dan.... Konferensi Rajab yang gelar Dewan Pimpinan Daerah Hizbut Tahrir Riau. Mereka memenuhi Grand Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru, Minggu..>>> secara spektakuler Islam memimpin dunia. Kedamaian, keadilan, kesejahteraan benar-benar terwujud. Muhammadun mengutip pengakuan Will Durant dalam Story of Civilization. “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya dan meratakan kesejahteraan selama berabad-abad dalam luasan wilayah yang belum pernah tercatatkan lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka,”>>>> Pancasila perlu dijadikan spritualitas baru (?) ..... Hanif menilai, gejala pendangkalan nasionalisme kini terjadi di banyak tempat dan lapisan masyarakat. Mulai dari kalangan elit hingga ke kalangan masyarakat bawah. Ia mencontohkan problem korupsi dan birokratisasi yang makin akut, serta memudarnya solidaritas dan toleransi sosial dalam masyarakat. Dalam konteks global adalah kurang berdayanya bangsa Indonesia menghadapi dominasi dan hegemoni kekuasaan asing, terutama dalam soal penguasaan sumber daya alam nasional......>>> “Persoalan (Pancasila) besar itu, bukan pada masa reformasi saja. Pada masa Soeharto juga terjadi masalah, zaman Soekarno pun Pacasila terjadi kesulitan. Bisa dikatakan, sejak Pancasila lahir Juni 1945, Soekarno bingung menerapkan sila-sila yang dibuat sama teman-temannya itu sendiri,” ujar Radhar dikutip laman Liputan6.com. Selain itu, menurut Radhar, sebenarnya Pancasila itu tidak bisa dijadikan panduan hidup di negeri ini. “Pancasila belum mampu menjadi pegangan. Bukan perumusannya yang masalahnya, aplikasi itu yang masalahnya, kita hidup hanya memandang slogan. Apakah kita tahu arti setiap sila dalam Pancasila? katanya. Aktivis muda, Melki Lakalena, mengatakan hal senada. Menurutnya sejak Pancasila lahir pro dan kontra sudah terjadi. Tapi secara tidak langsung Pancasila bisa membuat persatuan di negeri ini, meski sedikit efeknya. ....>>> Masih saktikah Pancasila?.....Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan. Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhamad s.a.w, orang Budha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya Negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya “ber-Tuhan secara kebudayaan”, yakni dengan tiada “egoisme-agama”....>>> Ketuhanan adalah kata imbuhan dengan awalan “ke” dan akhiran “an.” Kata yang seperti itu ada dua arti. Pertama, berarti menderita. Seperti kedinginan ,menderita dingin; kepanasan, menderita panas. Kehausan, menderita haus, dan sebagainya. Kedua, berarti banyak. Ketumbuhan, banyak yang tumbuh, seperti penyakit campak atau cacar yang tumbuh di badan seseorang. Kepulauan, banyak pulau; Ketuhanan, berarti banyak Tuhan. Jadi kata Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Contradictio in Terminis (Pertentangan dalam tubuh kata-kata itu sendiri) Mana mungkin banyak Tuhan disebut yang maha esa. Dalam bahasa Arab, itu disebut “Tanaqudh” (pertentangan awal dan akhir). Logika ini jelas tidak sehat, bertentangan dengan kaidah ilmu bahasa. Jelaslah, kata Ketuhanan itu syirik. Dan kalau yang dituju itu memang Tauhid, maka rumusannya yang tepat adalah Pengabdian kepada Tuhan Allah Yang Maha Esa. Padahal Presiden Soeharto sendiri menegaskan: “Jangan masukkan nilai dari paham lain (Islam, Pen.) ke dalam Pancasila”...>>> Zionis Yahudi masuk ke Indonesia tentu saja seiring dengan masuknya penjajah belanda ke negeri ini. Kerajaan Belanda sejak dahulu telah dikenal sebagai tempat pertemuan Freemasonry se-Eropa. Pada November 1875, pusat gerakan Zionis di Inggris, Fremasonry, mengutus Madame Blavatsky—demikian Helena Balavatsky biasa disebut—ke New York. Sesampainya di sana, Blavatsky langsung mendirikan perhimpunan kaum Theosofi. Sejak awal, organisasi kepanjangan tangan Zionis-Yahudi ini, telah menjadi mesin pendulang dolar bagi gerakan Freemasonry....--- Tahun 1909, dalam Kongres Theosofi di Bandung, jumlah anggota Theosofi adalah 445 orang (271 Belanda, 157 Bumiputera, dan 17 Cina). Dalam Kongres itu juga disepakati terbitnya majalah Theosofi berbahasa Melayu “Pewarta Theosofi” yang salah satu tujuannya menyebarkan dan mewartakan perihal usaha meneguhkan persaudaraan. Pada tanggal 15 April 1912, berdirilah Nederlandsch Indische Theosofische Vereeniging (NITV), yang diakui secara sah sebagai cabang Theosofi ke-20, dengan Presidennya D. van Hinloopen Labberton. Tahun 1915, dalam Kongres Theosofi di Yogyakarta, jumlah anggotanya sudah mencapai 830 orang (477 Eropa), 286 bumiputera, 67 Cina. >>> Burung Garuda sejatinya tidak pernah ada di dunia ini, bahkan lambang burung garuda ini di duga kuat merupakan lambang paganis yang terinspirasi dari lambang dewa Horus sebagai kepercayaan rakyat mesir yang dipercaya hidup pada 3000 SM. Zionis Yahudi memang kerap menandai suatu Negara yang berada di bawah pengaruhnya dengan lambang burung, dan itu bisa kita lihat seperti Negara Amerika Serikat.>>> Dasar hukum Pancasila sebagai Dasar Negara adalah Pembukaan UUD 1945 alinea keempat, sedang dasar hukum Pancasila sebagai “sumber segala sumber hukum yang tertinggi” adalah Tap MPR No. III/MPR/2000. Ini merupakan bentuk “kufrun bawwah” kekufuran yang nyata. >>> Pancasila dalam Talmud ?? ... “Pada waktu saya berumur 16 tahun, saya dipengaruhi oleh seorang sosialis bernama A. Baars, yang memberi pelajaran pada saya, ‘jangan berpaham kebangsaan, tapi berpahamlah rasa kemanusiaan sedunia”. Tetapi pada tahun 1918, kata Bung Karno selanjutnya, alhamdulillah ada orang lain yang memperingatkan saya, yaitu Dr. Sun Yat Sen. Di dalam tulisannya San Min Chu I atau The Three People’s Principles, saya mendapat pelajaran yang membongkar kosmopolitisme yang diajarkan A. Baars itu. Sejak itu tertanamlah rasa kebangsaan di hati saya oleh pengaruh buku tersebut.”..>>> Semakin lama rezim SBY berkuasa, ancaman kemiskinan, dekadensi moral, kriminalitas, dan tentu saja korupsi, semakin keras mendera kehidupan rakyat Indonesia. Segala retorika apologis yang dikemukakan penguasa, menghadapi kritik rakyat, justru disikapi dengan rasa muak dan sumpah serapah masyarakat. Bahkan sejumlah tokoh lintas agama, menyerukan tahun 2011 sebagai tahun perlawanan terhadap kebohongan penguasa......terbukti pemerintahan SBY tidak efektif memberantas korupsi dan menyejahterakan kehidupan rakyatnya, bahkan sebaliknya memperpuruk kondisi negeri. Maka Indonesia sepanjang masa reformasi, seakan ditakdirkan nasib binasa dan nista. Dalam hal ini SBY telah menjadi penguasa dari rezim durjana yang digambarkan dalam Al-Qur’an: “Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru manusia ke neraka dan di hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan Kami ikutkanlah la’nat kepada mereka di dunia ini, dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orangyang dijauhkan dari rahmat Allah.” (Qs. Al-Qashas, 28:41-42).... >> pemimpin yang tidak becus mengurus negara, pejabat-pejabat yang rakus, tidak bermoral, mati rasa dan kesat hati, menjerumuskan rakyatnya kelembah nista dan teraniaya, merupakan tanggungjawab rakyat yang memilihnya. Dosa terbesar justru ditanggung oleh rakyat karena pemimpin durjana seperti itu lahir dari pilihan langsung oleh rakyat atas nama demokrasi. >>>.. Prilaku hedonistik, berfoya dalam kemewahan, gembira di atas penderitaan rakyat, adalah karakteristik pejabat negara RI, sehingga mereka tidak sungkan menjadi koruptor. Mereka diserahi amanah mengurus kepentingan rakyat, tapi malah menjarah harta rakyat. Benarlah mahfudzat yang menyatakan: “Hamiha haramiha, mereka penjaganya mereka pula malingnya.” >>> Perang 10 November 1945 dan Pancasila.. Perang 10 November 1945-- Tentara Sekutu terbaik dan terkuat... dibawah Komado para militer Inggris dan Jendral2nya yang terkenal sebagai singa2 PD-II, telah mencoba meletakan dasar2 penjajahan baru dibumi Indonesia yang baru beberapa bulan memproklamasikan Kemerdekaannya ... di Jakarta, 17-8-1945... dan para Kabinet daruratnya baru saja ingin menata negara... namun tiba2 mendaratlah Tentara Sekutu tersebut dengan maksud menawan dan melucuti tentara Jepang... Yang sangat diluar misinya itu yaitu... kenyataannya Tentara sekutu itu bukan untuk melucuti Jepang itu... malah meminta Tentara Rakyat RI untuk juga dilucuti..dan meyerah kepada mereka... Sungguh aneh kan... ??? Ada misi apa yang secara terselubung didalam kekuatan dahsyatnya Pasukan Elit Sekutu yang besar dan kuat itu... ??? Benarkah untuk misi melucuti tentara Jepang atau mau mengembalikan Penjajahan Belanda... yang berselubung dibalik misi mereka...??? >>> Ternyata .. dengan inisiatif sendiri... para Pejuang Kemerdekaan RI... siap menghadapi tentara Sekutu itu.. dengan segala tekad dan semangat Kemerdekaan dan jiwa2 takwa para pejuang ... Dengan teriakan Allahu Akbar .. Allahu Akbar...... bergema yang dikumandangakan Bung Tomo... di corong radio..dan disambut..di mesjid2... dan semua lapisan masyarakat... disurau2.. .. dimushala2... dan semua lapisan masyarakat.. bengkit dan berjuang dengan peralatan dan apapun yang ada... bahkan dengan tanpa senjata sekalipun ... terus maju... menghadapi kekuatan dahsyat tentara Sekutu... Akhirnya setelah berkecamuk perang selama lebih dari 3 minggu.. maka Tentara Inggris minta case-fire... dan korban rakyat tentu saja banyak.. karena seperti biasa.. para Penjajah itu tak bermoral.. Semua dibumi hangus... dan tanpa pilih2 semua dijadikan sasaran.. anak2-wanita2-orangtua2- dan fasilitas publik dan rumah2 rakyat pun dibom bardir... Namun dipihak sekutu pun juga korbannya cukup parah.. sehingga mereka mengakui kalah.. dan mau kembali meninggalkan Surabaya.... Itulah kisah sepenggal Perang 10 November di Surabaya pada tahun 1945... >>>... erkenal dengan Perang 10 November.. dan menjadi hari pahlawan... sebagai penghormatan kepada para syuhada dan pejuang Rakyat Surabaya dalam mempertahankan martabat dan kedaulatan Kemerdekaan Negara RI.. >>>Apakah rakyat sudah kenal pancasila...??? apakah rakyat awam itu yang berkorban untuk bangsa dan negara... itu adalah penganut pancasila...??? Pancasila itu baru dituangkan oleh BPUPKI pada sekitar bulan Me-Juni 1945.. dan dikenal hanya oleh para pemimpin2 yang intelektual... Mungkin... Bung Tomo itu tahu.. atau juga mungkin belum... apalagi para imam mesjid.. ulama2 didaerah.. dan santri2 di-kampung2... serta Rakyat awam lainnya yang buta huruf... yang secara fakta dan nyata bersama-sama menyabung nyawa mempertahankan kemerdekaan RI... Apakah itu karena ajaran pancasila...?? Buku atau kitab kuning mana yang mengajarkan pancasila...atau ulama2 mana..yang mengajarkannya.. NU-Muhammadyah-Kitab klasik-??? Bahwa ajaran Islam... mengatakan antara lain... Hubbul Wathan minal-ieman... [bahwa mencintai dan membela tanah air dan negara adalah bagian dari ieman.. itu benar .. dan selalu disampaikan oleh para ulama... di-mesjid2, sampai2 saya waktu kecil sekitar tahun 1955-1961..sekira umur2 5-9 tahun sering mendengar dikala ada hutbah2 jum'ah... atau dalam saresehan2.. Tetapi Pancasila...gak pernah dengar tuh...??? Baru setelah ditingkat SMP atau SMA-lah dikenalnya... melalui matapelajaran Civic... dan ketatanegaraan.. dengan lambang2 Negara dll... Jadi yang menjiwai kemerdekaan bangsa Indonesia itu adalah jiwa Kebangsaan yang dikaitkan dengan Jiwa Keislaman yang harus dan wajib membela Negara... Dimana pancasila...adanya..??? Entahlah...Belum ada dan belum dikenal..>>> Maka dari itu... dalam Rancangan Mukaddimah.. UUD 1945... disisipkanlah..." kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluknya"... karena inilah yang sesungguhnya yang menjiwai kemerdekaan dan perjuangan bangsa Indonesia.. itu.. Sadarlah.. hai bung...!!! Jiwa Keangsaan dan Jiwa Keislaman-lah yang membangkitkan perjuangan Kemerdekaan RI itu... Bukan Pancasila... Merdeka.... ...>>> Lalu dimanakah para Tokoh Muhammadiyah... Tokoh NU dan MUI saat ini...... Apakah mereka bersembunyi dibalik jubah2 keuasaan... tanpa berani menyarakan .. gerakan dan getaran hati Umat Islam sesungguhnya...???? .... Saatnya Bangsa Indonesia dan Umat Islam bangkit dan maju sebagai bangsa merdeka dan berdaulat...serta dapa memilih pemimpin2 yang benar2 lurus dan bertanggung jawab terhadap jiwa Kebangsaan dan Jiwa Ketuhanan yang benar dan lurus....>>> Sekarang kita berada di bulan Rajab... dan Isra dan Mi'raj kita peringati.... Tetapi Al Aqsha masih dibawah kekuasaan dan jajahan Israel Yahudi-Zionist-AS-Sekutu-PBB [UN] laknatullah...>>> hayyooo bebaskan Palestina dari cengkeraman Penjajah Kriminal Internasional itu yang penuh tipu muslihat jahat.... >>> Bangkitlah dan Bersatulah Umat Islam Indonesia dan Umat Islam Dunia.......!!!!

29 Rajab 1432 H / 29 Juni 2011

Konferensi Rajab, ingatkan pentingnya syariah dan khilafah

Rasul Arasy
http://arrahmah.com/read/2011/06/29/13644-konferensi-rajab-ingatkan-pentingnya-syariah-dan-khilafah.html
Rabu, 29 Juni 2011 14:52:36
Hits: 34

JAKARTA (Arrahmah.com) – Dalam rangka mengingatkan kaum Muslimin tentang pentingnya penegakan daulah Islam, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menggelar konferensi Rajab 1432 H pada Rabu (29/6/2011) di stadion Lebak Bulus Jakarta, yang dihadiri puluhan ribu orang peserta.
Acara tersebut merupakan puncak dari rangkaian konferensi yang sama yang berlangsung di 29 kota besar di Indonesia dengan tema ” Hidup Sejahtera Di Bawah Naungan Khilafah”.
“Konferensi Rajab adalah cara kami melakukan edukasi politik, dan sarana mencerdaskan dan mencerahkan umat,” kata Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Ismail Yusanto dalam jumpa persnya disela-sela konferensi, Rabu (29/6/2011).
Lebih lanjut Ismail mengatakan, konferensi ini diadakan untuk memompa semangat dan optimisme akan keberhasilan perjuangan penegakan kembali syariah dan khilafah. Acara tersebut juga merupakan momentum bagi HTI untuk menawarkan solusi syariah dan khilafah. Tawaran tersebut dinilai sebagai wujud keimanan kepada sang Kholiq dan kecintaan terhadap Indonesia.
Ismail mengungkapkan bahwa saat ini rakyat Indonesia tengah dirundung banyak masalah hampir di semua bidang, kemerdekaan Indonesia belum mampu mensejahterakan rakyat, dan impian masyarakat yang adil dan makmur semakin jauh dari harapan. saat ini masalah demi masalah masih menghinggapi rakyat Indonesia. Semua itu terjadi akibat penerapan sistem kapitalis-liberal.
“Penegakan syariah secara kaffah di bawah maungan daulah khilafah mutlak diperlukan sebagai jalan penyelesaian atas berbagai persoalan di negeri ini. Penerapan syariat Islam akan mampu mensejahterakan rakyat Indonesia”, ungkapnya.  (dbs/rasularasy/arrahmah.com)

29 Rajab 1432 H / 29 Juni 2011

Ribuan Warga Riau Hadiri Konfrensi Khilafah

Althaf
http://arrahmah.com/read/2011/06/20/13470-ribuan-warga-riau-hadiri-konfrensi-khilafah-.html
Senin, 20 Juni 2011 11:35:58
Hits: 1337
PEKANBARU (Arrahmah.com) – Lebih dari 2.700 orang hadir dalam Konferensi Rajab yang gelar Dewan Pimpinan Daerah Hizbut Tahrir Riau. Mereka memenuhi Grand Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru, Minggu (19/6/2011).
Hadir sebagai narasumber pada konfrensi tersebut Setiabudi Daryono, SPdi, Muhammad Ihsan STP, Drs Abrar, MSi.Ak (ekonom), Dr. Andang Widiharto, MT (UGM), Dr. Muhammad Rahmat Kurnia (Ketua DPP HTI), dan Dr. KH. Musthafa Umar, Lc, MA (Ulama Riau).
Berbagai kalangan pun hadir seperti mantan anggota DPR RI HM Dun Usul, Tokoh budayawan Melayu UU Hamidy, tokoh perempuan, pengusaha, pemuda, pelajar.
Dalam kata pembuka konferensi, ketua DPD I HTI Riau Ir. Muhammadun, MSi menyampaikan urgensi penyelenggaraan Konferensi di Bulan Rajab ini. pada bulan Rajab ada peristiwa dahsyat Isra’ Mi’raj, setahun setelahnya berdirilah Daulah Islamiyah di Madinah.
Kemudian secara spektakuler Islam memimpin dunia. Kedamaian, keadilan, kesejahteraan benar-benar terwujud. Muhammadun mengutip pengakuan Will Durant dalam Story of Civilization.
“Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya dan meratakan kesejahteraan selama berabad-abad dalam luasan wilayah yang belum pernah tercatatkan lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka,” ujarnya.
Namun pada tanggal 28 Rajab 1342/3 Maret 1924, Khilafah Utsmaniyah runtuh. Umat Islam kini tercerai berai. Ibarat anak ayam kehilangan induknya. Jutaan anak-anak kaum muslimin dibantai Amerika di Irak dan Aghanistan. Bumi. Kekayaan kaum muslimin dijarah para penjajah. Bahkan bumi Palestina, masjidil Aqsho tempat Isra’ Nabi, kini dalam cengkeraman zionis Israel.
“Dengan Khilafah Islamiyah Masjidil Aqsha akan kita bebaskan kembali sebagaimana dulu dengan izin Allah pada tanggal 27 Rajab 583 H/ 2 Oktober 1187 M, Sholahuddin Al-Ayubi membebaskan Baitul Baqdis yg diduduki pasukan salib selama 88 tahun,” demikian tegas Muhammadun.
Sementara itu Dr. Andang Widiharto menjelaskan dengan gamblang potensi Islam memimpin kembali dunia dalam naungan Khilafah Islamiyah. Baik potensi ekonomi, Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, geopolitik, maupun militer. “ Syariat Islam akan tegak dengan sempurna. Khilafah akan menjadi negara adidaya. Menebarkan rahmat atas segenap alam” ujar Dr. Andang.
Narasumber lainnya adalah Dr. KH. Musthafa Umar, Lc, MA. Ulama kharismatik Riau ini menguraikan kewajiban meraih janji Allah, yakni berjuang sungguh-sungguh untuk mewujudkan tegaknya Khilafah Islamiyah.
“Khilafah Islamiyah adalah janji Allah untuk orang-orang beriman dan beramal sholeh. Maka kita harus menjadi bagian dari orang-orang yang layak memperoleh nushrah Allah tersebut. Kita harus yakin khilafah akan wujud kembali. Dengan Khilafah kita akan selamatkan seluruh bangsa manusia, baik yang muslim maupun yang masih kafir ” tegas Dr Musthafa Umar.
Berikutnya tampil Ketua DPP HTI Dr Muhammad Rahmad Kurnia, MSi. Ia menggugah dan mengajak seluruh kalangan khususnya para perwira militer agar memberikan dukungan nyata pada perjuangan Hizbut Tahrir.
“Ini jika Anda semua wahai kaum muslimin khususnya para perwira militer menginginkan kemuliaan hakiki dunia dan akhirat. Karena kemuliaan itu hanyalah milik Allah semata. Maka jawablah seruan ini, karena seruan ini sejatinya adalah seruan Allah. Seruan untuk menegakkan hukum-hukum Allah. Seruan untuk menyelamatkan dunia ini dari malapetaka,” seru Dr Rahmat Kurnia.
Kemudian seorang tokoh nasional dalam testimoninya menjawab seruan hangat Hizbut Tahrir ini. Tampillah Prof Dr. Inu Kencana Syafi’ie, MSi, mantan dosen IPDN yang kini menjadi Rektor Universitas Pandanaran Semarang.
Sementara itu, Guru Besar Syariah Islam UIN SUSKA Riau Prof.Dr.Alaidin Koto mengemukakan Syariah tidak bisa tegak tanpa kekuasaan. ”Kekuasaan yang benar adalah Khilafah dan Hizbut Tahrir bersungguh-sungguh mewujudkannya,” ungkapnya.
Selanjutnya Ketua Komisi Fatwa MUI Riau.MUI pun memberikan pernyataan dukungannya.
“Kami dari Majelis Ulama menyeru kapada seluruh kaum muslimin untuk mendukung perjuangan Hizbut Tahrir menegakkan kembali Khilafah Islamiyah,” urai KH. Abdurrahman Qoharuddin
Di sela-sela acara ditampilkan teatrikal yang menggambarkan sejahtera di masa Khilafah dan suasana sengsara ketika ketiadaan Khilafah dan tim nasyid yang menggugah dan membangkitkan semangat para peserta yang tetap bertahan hingga acara berakhir.
Acara ditutup dengan doa yang dipimpin ustadz Usman As-syafi’I yang sangat menyentuh hingga sebagian besar peserta meneteskan air mata. (hdy/arrahmah.com)

29 Rajab 1432 H / 29 Juni 2011

Pancasila perlu dijadikan spritualitas baru (?)

Rasul Arasy
http://arrahmah.com/read/2011/06/19/13457-pancasila-perlu-dijadikan-spritualitas-baru-.html
Ahad, 19 Juni 2011 16:26:47
Hits: 1247
JAKARTA (Arrahmah.com) – Satu lagi konsep yang ‘mensaktikan” Pancasila. Yakni perlu dikembangkannya Pancasila menjadi spiritualitas baru bangsa Indonesia dalam rangka menghadapi tantangan dunia yang berubah cepat, baik tantangan domestik maupun internasional, demikian yang diungkapkan oleh Wakil Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) M. Hanif Dhakiri.
Hanif Dhakiri berpendapat, Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara berpotensi menjadi spiritualitas baru atau energi gerak karena ia merupakan kristalisasi dari nilai-nilai dan tradisi luhur bangsa yang digali oleh the founding fathers Indonesia.
“Pancasila saya kira bisa dikembangkan menjadi spiritualitas baru, energi gerak kolektif bangsa untuk perubahan yang lebih baik. Ia kan merupakan kristalisasi dari nilai-nilai dan tradisi luhur bangsa Indonesia,” katanya pada Minggu (19/6/2011).
Hanif menilai, gejala pendangkalan nasionalisme kini terjadi di banyak tempat dan lapisan masyarakat. Mulai dari kalangan elit hingga ke kalangan masyarakat bawah.
Ia mencontohkan problem korupsi dan birokratisasi yang makin akut, serta memudarnya solidaritas dan toleransi sosial dalam masyarakat. Dalam konteks global adalah kurang berdayanya bangsa Indonesia menghadapi dominasi dan hegemoni kekuasaan asing, terutama dalam soal penguasaan sumber daya alam nasional.
Hanif mengklaim bahwa menjadikan Pancasila sebagai spiritualitas baru atau energi gerak kolektif bangsa itu sangat penting dalam penataan seluruh kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Termasuk juga dalam hal relasi Indonesia dengan negara-negara lain maupun komunitas internasional.
Konsep Pancasila sebagai Spiritualitas baru bisa jadi menempatkan Pancasila lebih tinggi dari nilai keislaman (hukum Allah). Sehingga Pancasila merupakan harga mati yang di”layakkan” dan lebih diutamakan dibandingkan hukum Allah itu sendiri.  (ans/arrahmah.com)

9 Rajab 1432 H / 29 Juni 2011

Radar: Pancasila sudah bermasalah sejak lahir

Althaf
http://arrahmah.com/read/2011/06/04/13117-radar-pancasila-sudah-bermasalah-sejak-lahir-.html
Sabtu, 4 Juni 2011 22:10:45
Hits: 2491
JAKARTA (Arrahmah.com) - Masalah dasar negara Pancasila dinilai sudah bermasalah sejak Pancasila itu dilahirkan. Jangankan masyarakat, perumus Pancasila juga kebingungan. Demikian diungkapkan budayawan, Radhar Panca Dahana, dalam sebuah diskusi yang bertema Pancasila di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (4/6/2011).
“Persoalan (Pancasila) besar itu, bukan pada masa reformasi saja. Pada masa Soeharto juga terjadi masalah, zaman Soekarno pun Pacasila terjadi kesulitan. Bisa dikatakan, sejak Pancasila lahir Juni 1945, Soekarno bingung menerapkan sila-sila yang dibuat sama teman-temannya itu sendiri,” ujar Radhar   dikutip laman Liputan6.com.
Selain itu, menurut Radhar, sebenarnya Pancasila itu tidak bisa dijadikan panduan hidup di negeri ini. “Pancasila belum mampu menjadi pegangan. Bukan perumusannya yang masalahnya, aplikasi itu yang masalahnya, kita hidup hanya memandang slogan. Apakah kita tahu arti setiap sila dalam Pancasila? katanya.
Aktivis muda, Melki Lakalena, mengatakan hal senada. Menurutnya sejak Pancasila lahir pro dan kontra sudah terjadi. Tapi secara tidak langsung Pancasila bisa membuat persatuan di negeri ini, meski sedikit efeknya.
“Tanpa Pancasila itu kita sudah pecah, Pancasila menyelesaikan agama,” ungkap Melki Lakalena.
Demam Pancasila
Seperti diketahui, sejak beberapa tahun belakangan, bangsa Indonesia sedang demam Pancasila. Menurut Wakil Ketua MPR RI Ahmad Farhan Hamid, hal ini terjadi sebagai titik balik bagi perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Dalam masa transisi seperti ini kita tidak bisa bayangkan dalam dunia pendidikan kita. Kita berharap segala hal akan kembali kepada etika politik berbangsa sesuai dengan Pancasila. Penegakan hukum dan relasi sosial juga demikian, dan aspek lainnya,” katanya   di sela-sela pembukaan pelatihan untuk pelatih sosialisasi empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, di Sanur, Denpasar, Bali, Jumat (3/6) malam.  
Sementara itu Presiden RI Ketiga, Baharuddin Jusuf Habibie, dalam pidato kebangsaan memperingati Pidato Bung Karno 1 Juni di Gedung DPR/MPR, Rabu 1 Juni 2011 mengatakan, ada penyalahgunaan Pancasila di masa Orde Baru yang memicu trauma di masa reformasi. Hal itulah yang menyebabkan Pancasila absen dalam kehidupan berbangsa di Indonesia saat ini.
“Penolakan terhadap segala hal yang berhubungan dengan Orde Baru menjadi penyebab mengapa Pancasila kini absen,” kata Habibie.
Menurut Habibie, penolakan Pancasila di awal era reformasi memang akibat ketakutan indoktrinisasi Pancasilai pada masa Orde Baru. Habibie mengakui, di masa lalu terjadi mistifikasi dan ideologisasi Pancasila secara sistematis, terstruktur, dan masif. Pancasila dijadikan senjata ideologis untuk mengelompokkan kelompok yang tak sepaham dengan pemerintah.
Selain itu, ia juga mengajak semua pihak memperkuat empat pilar kebangsaan melalui aktualisasi nilai-nilai Pancasila  dan secara bersamaan menjauhkan stigma lama bahwa Pancasila penuh mistis, sakti dan sesuatu yang disakralakan.
“..kita perlu menyegarkan kembali pemahaman kita terhadap Pancasila dan dalam waktu yang bersamaan, kita melepaskan Pancasila dari stigma lama yang penuh mistis bahwa Pancasila itu sakti, keramat dan sakral, yang justru membuatnya teraleinasi dari keseharian hidup warga dalam berbangsa dan bernegara,” ujarnya. (hid/arrahmah.com)

29 Rajab 1432 H / 29 Juni 2011

Masih saktikah Pancasila? (Bagian-2)

M. Fachry
http://arrahmah.com/read/2011/06/02/13057-masih-saktikah-pancasila-bagian-2.html
Kamis, 2 Juni 2011 09:46:14
Hits: 2948

JAWABAN ATAS SYUBHAT SILA PERTAMA “KETUHANAN YANG MAHA ESA”
Di antara kaum muslimin ada yang menjadikan argumentasi sila pertama tersebut di atas sebagai dalil bahwa negeri ini adalah negeri muslim berasaskan tauhid, benarkah demikian?
1. Seseorang disebut sebagai muwahhid jika ia menjadikan Allah saja satu-satunya sebagai ilah. Dalilnya begitu banyak diantaranya:
Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, (Q.S. Al-Ikhlas : 1)
Adapun sila pertama di atas adalah bentuk monotheisme yang sungguh berbeda dengan tauhid karena tauhid secara definitive menjadikan Allah sebagai satu-satunya ilah. Sedangkan monotheisme tidak, ia menyadarkan ketuhanannya kepada siapa saja asalkan jumlah tuhannya satu/esa. Contoh bukankah Fir’aun juga menjadikan dirinya Tuhan satu-satunya yang mengharuskan penduduknya menyembah kepadanya? Maka ini bisa disebut sebagai monotheisme.
2. Pidato Soekarno berikut ini mempertegas argumentasi di atas:
Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan. Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhamad s.a.w, orang Budha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya Negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya “ber-Tuhan secara kebudayaan”, yakni dengan tiada “egoisme-agama”.
Perhatikan statement nyeleneh Soekarno pada kalimat yang bertanda kutip, untuk lebih memperjelas apa maksud sila ketuhanan tersebut yakni “ber-Tuhan secara kebudayaan”
3. KH. Firdaus AN salah seorang saksi sejarah menulis dalam bukunya, Dosa-dosa Politik Orde Lama dan Orde Baru sbb:
Ketuhanan adalah kata imbuhan dengan awalan “ke” dan akhiran “an.” Kata yang seperti itu ada dua arti.
Pertama, berarti menderita. Seperti kedinginan ,menderita dingin; kepanasan, menderita panas. Kehausan, menderita haus, dan sebagainya.
Kedua, berarti banyak. Ketumbuhan, banyak yang tumbuh, seperti penyakit campak atau cacar yang tumbuh di badan seseorang. Kepulauan, banyak pulau; Ketuhanan, berarti banyak Tuhan. Jadi kata Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Contradictio in Terminis (Pertentangan dalam tubuh kata-kata itu sendiri) Mana mungkin banyak Tuhan disebut yang maha esa. Dalam bahasa Arab, itu disebut “Tanaqudh” (pertentangan awal dan akhir). Logika ini jelas tidak sehat, bertentangan dengan kaidah ilmu bahasa. Jelaslah, kata Ketuhanan itu syirik. Dan kalau yang dituju itu memang Tauhid, maka rumusannya yang tepat adalah Pengabdian kepada Tuhan Allah Yang Maha Esa. Padahal Presiden Soeharto sendiri menegaskan: “Jangan masukkan nilai dari paham lain (Islam, Pen.) ke dalam Pancasila” (Kompas, 21 Mei 1991).

MASUKNYA DOKTRIN ZIONIS YAHUDI KE INDONESIA
Zionis Yahudi masuk ke Indonesia tentu saja seiring dengan masuknya penjajah belanda ke negeri ini. Kerajaan Belanda sejak dahulu telah dikenal sebagai tempat pertemuan Freemasonry se-Eropa.
Pada November 1875, pusat gerakan Zionis di Inggris, Fremasonry, mengutus Madame Blavatsky—demikian Helena Balavatsky biasa disebut—ke New York. Sesampainya di sana, Blavatsky langsung mendirikan perhimpunan kaum Theosofi. Sejak awal, organisasi kepanjangan tangan Zionis-Yahudi ini, telah menjadi mesin pendulang dolar bagi gerakan Freemasonry.
Di luar Amerika, sebut misalnya di Hindia Belanda, Blavatsky dikenal sebagai propagandis utama ajaran Theosofi. Pada tahun 1853, saat perjalanannya dari Tibet ke Inggris, Madame Blavatsky pernah mampir ke Jawa (Batavia). Selama satu tahun di Batavia, ia mengajarkan Theosofi kepada para elit kolonial dan masyarakat Hindia Belanda. Sejak itu, Theosofi menjadi salah satu ajaran yang berkembang di Indonesia dan tentu saja sambil mengajarkan doktrin-doktrin ajaran zionis/freemasonry.
Tahun 1909, dalam Kongres Theosofi di Bandung, jumlah anggota Theosofi adalah 445 orang (271 Belanda, 157 Bumiputera, dan 17 Cina). Dalam Kongres itu juga disepakati terbitnya majalah Theosofi berbahasa Melayu “Pewarta Theosofi” yang salah satu tujuannya menyebarkan dan mewartakan perihal usaha meneguhkan persaudaraan. Pada tanggal 15 April 1912, berdirilah Nederlandsch Indische Theosofische Vereeniging (NITV), yang diakui secara sah sebagai cabang Theosofi ke-20, dengan Presidennya D. van Hinloopen Labberton. Tahun 1915, dalam Kongres Theosofi di Yogyakarta, jumlah anggotanya sudah mencapai 830 orang (477 Eropa), 286 bumiputera, 67 Cina.
Sebuah buku yang ditulis oleh Iskandar P. Nugraha berjudul Mengikis Batas Timur dan Barat: “Gerakan Theosofi dan Nasionalisme Indonesia” (2001), memberikan gambaran besarnya pengaruh gerakan Theosofi pada tokoh-tokoh nasional di Indonesia. Misalnya, orang tua Soekarno (R. Soekemi) ternyata anggota Theosofi.
Hatta juga mendapat beasiswa dari Ir. Fournier dan van Leeuwen, anggota Theosofi. Tokoh-tokoh lain yang menjadi anggota atau dekat sekali hubungannya dengan Theosofi adalah Moh. Yamin, Abu Hanifah, Radjiman Widijodiningrat (aktivis Theosofi), Tjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker, Armijn Pane, Sanoesi Pane, dan sebagainya.
Selanjutnya Anggaran Dasar NITV kemudian disetujui Pemerintah Hindia Belanda tanggal 2 November 1912. Dengan demikian, NITV menjadi organisasi yang sah dan berdasar hukum. Pusatnya di Batavia. Cita-cita yang dicanangkan NITV adalah keinginan untuk memajukan kepintaran, kebaikan, dan keselamatan “saudara-saudara” pribumi, agar dengan bangsa Barat dapat saling berdekatan.
Kebangkitan theosofi di Indonesia saat ini pun semakin nyata dengan didirikannya Persatuan warga theosofi Indonesia (PERWATHIN) yang beralamat di jl. Anggrek Neli Murni Blok a-104.
Dan sebagai alat propagandanya mereka menerberbitkan majalah Theosofi Indonesia. Alamat redaksinya; Metro Permata I, blok I 3/7 Jl. Raden Saleh Karang Mulya Ciledug
Theosofi, seperti dijelaskan oleh Blavatsky : “Kearifan ilahi (Theosophia) atau kearifan para dewa, sebagai theogonia, asal-usul para dewa. Kata theos berarti seorang dewa dalam bahasa Yunani, salah satu dari makhluk-makhluk ilahi, yang pasti bukan ‘’Tuhan’’ dalam arti yang kita pakai sekarang. Karena itu, Theosofi bukanlah ‘Kebijaksanaan Tuhan’, seperti yang diterjemahkan sebagian orang, tetapi ‘Kebijaksanaan ilahi’ seperti yang dimiliki oleh para dewa.’’
Dengan pandangan dan misi seperti itu, Theosofi tampak bermaksud menjadi pelebur agama-agama atau menjadi kelompok ‘super-agama’ yang berada di atas atau di luar agama-agama yang ada. Hal ini sangat sejalan dengan gagasan Pluralisme Agama. Maka tidak heran pada pita yang di dipegang oleh kaki burung garuda mengutip ajaran Mpu Tantular dalam kitab sutasoma yang bertulis : “Bhinneka tunggal ika” yang jelas-jelas merupakan symbol sikretisme atau perpaduan seluruh agama maupun budaya menjadi satu sebagai dasar Negara ini. Dan konsep ini substansinya sangat mirip sekali dengan ilyasiq dasar hukum Mongol tar-tar sebagaimana yang nanti akan dijelaskan.

PAGANISME GARUDA PANCASILA SEBAGAI ILYASIQ MODERN DAN BAGAIMANA SIKAP KITA?
Lambang burung Garuda Pancasila diprakarsai oleh M. Yamin, Ki Hajar Dewantoro dan ditetapkan oleh Soekarno. Jelas ketiganya merupakan anggota theosofi.
Burung Garuda sejatinya tidak pernah ada di dunia ini, bahkan lambang burung garuda ini di duga kuat merupakan lambang paganis yang terinspirasi dari lambang dewa Horus sebagai kepercayaan rakyat mesir yang dipercaya hidup pada 3000 SM. Zionis Yahudi memang kerap menandai suatu Negara yang berada di bawah pengaruhnya dengan lambang burung, dan itu bisa kita lihat seperti Negara Amerika Serikat.
Selanjutnya bukan hanya sebagai pagan (berhala) thaghut secara fisik Garuda Pancasila juga menjadi thaghut dalam hal hukum.
Dasar hukum Pancasila sebagai Dasar Negara adalah Pembukaan UUD 1945 alinea keempat, sedang dasar hukum Pancasila sebagai “sumber segala sumber hukum yang tertinggi” adalah Tap MPR No. III/MPR/2000. Ini merupakan bentuk “kufrun bawwah” kekufuran yang nyata. Dan ada banyak dalil yang menerangkan kekufuran tersebut. Adapun yang dimuat dalam tulisan ini hanya beberapa diantaranya adalah dalil-dalil yang memiliki kaitan sebagaimana yang pernah terjadi di masa-masa kekuasaan Jengis Khan yang membuat konsep hukum positif di mana di dalamnya berisi aturan-aturan kompilasi dari berbagai ajaran, seperti; Nasrani, Yahudi, adat-istiadat, Islam dll persis seperti ajaran Pancasila yang berbunyi; “Bhinneka tunggal ika”.
Kemudian akibat diterapkannya sumber hukum Thaghut tersebut berapa banyak darah umat Islam tercecer?! Berapa banyak para ulama yang menjadi tumbalnya?! Dan berapa banyak kepentingan umat Islam untuk menegakkan syari’ahnya dikorbankan demi untuk membela apa yang disebut dengan “Pancasila Sakti”. Oleh sebab itu dalam pembahasan terakhir ini akan “sedikit” dijelaskan mengenai status bagaimana menjadikan Ilyasiq Moderen (Pancasila) sebagai dasar hukum negeri ini, dan juga fatwa-fatwa para ulama tentang bagaimana seharusnya umat Islam bersikap.
Firman Allah Ta’ala :
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka cari. Dan siapakah yang lebih baik hukumnya dari Allah bagi kaum yang yakin?” [QS. Al Maidah :50].
Allah Azza Wa Jalla menyebutkan hukum jahiliyah yaitu perundang-undangan dan sistem jahiliyah sebagai lawan dari hukum Allah, yaitu syari’at dan sistem Allah. Jika syari’at Allah adalah apa yang dibawa oleh Al Qur’an dan As Sunah, maka apalagi hukum jahiliyah itu kalau bukan perundang-undangan yang menyelisihi Al Qur’an dan As Sunah?.
Syaikh Muhammad bin Ibrahim mengatakan, “Perhatikanlah ayat yang mulia ini, bagaimana ia menunjukkan bahwa hukum itu hanya ada dua saja. Selain hukum Allah, yang ada hanyalah hukum Jahiliyah. Dengan demikian jelas, para penetap undang-undang merupakan kelompok orang-orang jahiliyah; baik mereka mau (mengakuinya) ataupun tidak. Bahkan mereka lebih jelek dan lebih berdusta dari pengikut jahillliyah. Orang-orang jahiliyah tidak melakukan kontradiksi dalam ucapan mereka, sementara para penetap undang-undang ini menyatakan beriman dengan apa yang dibawa Rasulullah namun mereka mau mencari celah. Allah telah berfirman mengenai orang-orang seperti mereka:
“Mereka itulah orang-orang kafir yang sebenarnya dan Kami siapkan bagi orang-orang kafir adzab yang menghinakan.” (Risalatu tahkimil qawanin hal. 11-12)
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini:
ينكر تعالى على من خرج عن حكم الله المُحْكَم المشتمل على كل خير، الناهي عن كل شر وعدل إلى ما سواه من الآراء والأهواء والاصطلاحات، التي وضعها الرجال بلا مستند من شريعة الله، كما كان أهل الجاهلية يحكمون به من الضلالات والجهالات، مما يضعونها بآرائهم وأهوائهم، وكما يحكم به التتار من السياسات الملكية المأخوذة عن ملكهم جنكزخان، الذي وضع لهم اليَساق وهو عبارة عن كتاب مجموع من أحكام قد اقتبسها عن شرائع شتى، من اليهودية والنصرانية والملة الإسلامية، وفيها كثير من الأحكام أخذها من مجرد نظره وهواه، فصارت في بنيه شرعًا متبعًا، يقدمونها على الحكم بكتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم. ومن فعل ذلك منهم فهو كافر يجب قتاله، حتى يرجع إلى حكم الله ورسوله [صلى الله عليه وسلم] فلا يحكم سواه في قليل ولا كثير
“Allah mengingkari orang yang keluar dari hukum Allah yang muhkam yang memuat segala kebaikan dan melarang segala kerusakan, kemudian malah berpaling kepada hukum lain yang berupa pendapat-pemdapat, hawa nafsu dan istilah-istilah yang dibuat oleh para tokoh penguasa tanpa bersandar kepada syariah Allah. Sebagaimana orang-orang pengikut jahiliyah bangsa Tartar memberlakukan hukum ini yang berasal dari sistem perundang-undangan raja mereka, Jengish Khan. Jengish Khan membuat undang-undang yang ia sebut Ilyasiq, yaitu sekumpulan peraturan perundang-undangan yang diambil dari banyak sumber, seperti sumber-sumber Yahudi, Nasrani, Islam dan lain sebagainya. Di dalamnya juga banyak terdapat hukum-hukum yang murni berasal dari pikiran dan hawa nafsunya semata. Hukum ini menjadi undang-undang yang diikuti oleh keturunan Jengis Khan, mereka mendahulukan undang-undang ini atas berhukum kepada Al Qur’an dan As Sunah . Barang siapa berbuat demikian maka ia telah kafir, wajib diperangi sampai ia kembali berhukum kepada hukum Allah dan Rasul-nya, sehingga tidak berhukum dengan selainnya baik dalam masalah yang banyak mau pun sedikit.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/131)
Tidak ada perbedaan antara Tartar dengan para penguasa kita hari ini, justru para penguasa kita hari ini lebih parah dari bangsa Tartar, sebagaimana disebutkan melalui komentar ‘Alamah Syaikh Ahmad Syakir atas perkataan Al Hafidz Ibnu Katsir di atas.
“Apakah kalian tidak melihat pensifatan yang kuat dari Al Hafidz Ibnu Katsir pada abad kedelapan hijriyah terhadap undang-undang postif yang ditetapkan oleh musuh Islam Jengish Khan? Bukankah kalian melihatnya mensifati kondisi umat Islam pada abad empat belas hijriyah? Kecuali satu perbedaan saja yang kami nyatakan tadi ; hukum Ilyasiq hanya terjadi pada sebuah generasi penguasa yang menyelusup dalam umat Islam dan segera hilang pengaruhnya. Namun kondisi kaum muslimin saat ini lebih buruk dan lebih dzalim dari mereka karena kebanyakan umat Islam hari ini telah masuk dalam hukum yang menyelisihi syariah Islam ini, sebuah hukum yang paling menyerupai Ilyasiq yang ditetapkan oleh seorang laki-laki kafir yang telah jelas kekafirannya….Sesungguhnya urusan hukum positif ini telah jelas layaknya matahari di siang bolong, yaitu kufur yang nyata tak ada yang tersembunyi di dalamnya dan tak ada yang membingungkan. Tidak ada udzur bagi siapa pun yang mengaku dirinya muslim dalam berbuat dengannya, atau tunduk kepadanya atau mengakuinya. Maka berhati-hatilah, setiap individu menjadi pengawas atas dirinya sendiri.” (Umdatu Tafsir IV/173-174)
Ketika berhukum dengan Ilyasiq bangsa Tatar sudah masuk Islam. Tetapi ketika mereka berhukum dengan Ilyasiq ini dan mendahulukannya atas kitabullah dan sunah Rasul-Nya, para ulama mengkafirkan mereka dan mewajibkan memerangi mereka. Dalam Al Bidayah wa Nihayah XIII/360, Ibnu Katsir berkata tentang peristiwa tahun 694 H, “Pada tahun itu kaisar Tartar Qazan bin Arghun bin Abgha Khan Tuli bin Jengis Khan masuk Islam dan menampakkan keislamannya melalui tangan amir Tuzon rahimahullah. Bangsa Tartar atau mayoritas rakyatnya masuk Islam, kaisar Qazan menaburkan emas, perak dan permata pada hari ia menyatakan masuk Islam. Ia berganti nama Mahmud…”
Beliau juga mengatakan dalam Bidayah wa Nihayah, “Terjadi perdebatan tentang mekanisme memerangi bangsa Tartar, karena mereka menampakkan keislaman dan tidak termasuk pemberontak. Mereka bukanlah orang-orang yang menyatakan tunduk kepada imam sebelum itu lalu berkhianat. Maka Syaikh Taqiyudin Ibnu Taimiyah berkata, “Mereka termasuk jenis Khawarij yang keluar dari Ali dan Mu’awiyah dan melihat diri mereka lebih berhak memimpin. Mereka mengira lebih berhak menegakkan dien dari kaum muslimin lainnya dan mereka mencela kaum muslimin yang terjatuh dalam kemaksiatan dan kedzaliman, padahal mereka sendiri melakukan suatu hal yang dosanya lebih besar berlipat kali dari kemaksiatan umat Islam lainnya.” Maka para ulama dan masyarakat memahami sebab harus memerangi bangsa Tartar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan kepada masyarakat, “Jika kalian melihatku bersama mereka sementara di atas kepalaku ada mushaf, maka bunuhlah aku.” (Al Bidayah wan Nihayah XIV/25, lihat juga Majmu’ Fatawa XXVIII/501-502, XXVIII/509 dst)
Maksud dari disebutkannya peringatan ini adalah menerangkan tidak benarnya alasan orang yang mengatakan para penguasa hari ini menampakkan Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat sehingga tidak boleh memerangi mereka. Bangsa Tartar juga demikian halnya, namun hal itu tidak menghalangi seluruh ulama untuk menyatakan kekafiran mereka dan wajibnya memerangi mereka, disebabkan karena mereka berhukum dengan Ilyasiq yang merupakan undang-undang yang paling mirip dengan undang-undang positif yang hari ini menguasai mayoritas negeri-negeri umat Islam. Karena itu, Syaikh Ahmad Syakir menyebut undang-undang ini dengan istilah Ilyasiq kontemporer, sebagaimana beliau sebutkan dalam Umdatu tafsir.
Telah menjadi ijma’ ulama bahwa menetapkan undang-undang selain hukum Allah dan berhukum kepada undang-undang tersebut merupakan kafir akbar yang mengeluarkan dari milah.
Ibnu Katsir berkata setelah menukil perkataan imam Al Juwaini tentang Ilyasiq yang menjadi undang-undang bangsa Tatar :
“Barang siapa meninggalkan syari’at yang telah muhkam yang diturunkan kepada Muhammad bin Abdullah penutup seluruh nabi dan berhukum kepada syari’at-syari’at lainnya yang telah mansukh (dihapus oleh Islam), maka ia telah kafir. Lantas bagaimana dengan orang yang berhukum kepada Alyasiq dan mendahulukannya atas syariat Allah? Siapa melakukan hal itu berarti telah kafir menurut ijma’ kaum muslimin.” (Al Bidayah wan Nihayah XIII/128).
Demikianlah risalah singkat ini, penulis memohon kepada Allah ta’ala Yang Maha Berkuasa, untuk menjadikan pembahasan ini semata-mata untuk mencari ridha-Nya. Semoga Allah mengampuni segala ketergelinciran dalam kajian ini, penulis tidak bermaksud selain mencari kebenaran.
Apabila dalam kajian ini ada kebenaran, maka itu dari Allah ta’ala semata. Dan apabila ada kesalahan, maka itu semua dari saya pribadi dan dari setan, Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam berlepas diri darinya.
Source : saveabb.com/ahsan

29 Rajab 1432 H / 29 Juni 2011

Masih saktikah Pancasila?

M. Fachry
http://arrahmah.com/read/2011/06/01/13034-masih-saktikah-pancasila.html
Rabu, 1 Juni 2011 10:22:01
Hits: 2712
Hari ini, 1 Juni biasanya diperingati sebagai hari Kesaktian Pancasila. Bagaimanakah muasal kelahiran Pancasila? Apakah Pancasila bersesuaian dengan Islam ? Masih saktikah Pancasila? Berikut sebuah artikel yang berjudul “Lahirnya Ilyasiq Modern Khams Qonun (Pancasila)” yang ditulis dalam dua bagian. Selamat menikmati!

AWAL MULA DIGAGASNYA PANCASILA
Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dibentuk pada tanggal 29 April 1945, bertepatan dengan hari ulang tahun Kaisar Jepang. Badan Penyelidik yang beranggotakan 62 orang ini, termasuk Dr. Rajiman Widyodiningrat dan R.P. Soeroso masing-masing sebagai Ketua dan Wakil Ketua, dilantik pada tanggal 28 Mei 1945 dan menyelesaikan tugasnya di Gedung Pejambon dalam dua kali sidang.
Sidang pertama berlangsung dari tanggal 29 Mei sampai dengan 1 Juni 1945. Dan yang kedua, berlangsung dari tanggal 10 sampai dengan 16 Juli 1945. Pada hari terakhir sidang pertama (1 Juni 1945) inilah Soekarno, salah seorang anggota Badan Penyelidik, menyampaikan gagasannya tentang dasar Negara Pancasila
Pidato Soekarno begitu panjang lebar, singkatnya Soekarno mengungkapkan beberapa prinsip dalam pidato tersebut:
“Saudara-saudara, apakah prinsip ke-5? Saya telah mengemukakan 4 prinsip:
  1. Kebangsaan Indonesia
  2. Internasionalisme,-atau peri-kemanusiaan
  3. Mufakat,-atau demokrasi
  4. Kesejahteraan sosial
Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan. Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhamad SAW, orang Budha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya Negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya “ber-Tuhan secara kebudayaan”, yakni dengan tiada “egoisme-agama”.
Selanjutnya Soekarno pun memberikan nama atas prinsip dasar-dasar Negara tersebut dalam pidatonya:
“Saudara-saudara! “Dasar-dasar Negara” telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat disini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Dari kita lima setangan. Kita mempunyai Panca Indera. Apa lagi yang lima bilangannya? (Seorang yang hadir: Pendawa Lima). Pendawa pun lima orangnya. Sekarang pun banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan, lima pula bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi -saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa- namanya Panca Sila. Sila artinya azas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan “Negara Indonesia, kekal dan abadi.”
Setidaknya itulah pidato Soekarno dalam sidang BPUPKI dengan mengemukakan gagasan tentang prinsip-prinsip bagi dasar Negara Indonesia yang dikemudian hari saat-saat tersebut (1 Juni) diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila.
PANCASILA DAN PENGARUH ZIONISME
‘Zionisme’ berasal dari kata Ibrani “zion” yang artinya karang. Maksudnya merujuk kepada batu bangunan Haykal Sulaiman yang didirikan di atas sebuah bukit karang bernama ‘Zion’, terletak di sebelah barat-daya Al-Quds (Jerusalem). Bukit Zion ini menempati kedudukan penting dalam agama Yahudi, karena menurut Taurat, “Al-Masih yang dijanjikan akan menuntun kaum Yahudi memasuki ‘Tanah yang Dijanjikan’. Dan Al-Masih akan memerintah dari atas puncak bukit Zion”. Zion dikemudian hari diidentikkan dengan kota suci Jerusalem itu sendiri.
Kata Zionis ini kemudian dipergunakan sebagai nama suatu ideologi yang diikuti oleh bangsa Yahudi di seluruh dunia, yaitu bahwa bangsa Yahudi akan mendirikan kerajaan Israel Raya dengan Al-Quds sebagai ibu kotanya.
Zionis dalam rangka mendirikan kerajaan Israel Raya membentuk organisasi bawah tanah Internasional yang diantaranya adalah Freemasonry. Freemasonry yang terkenal itu dinamakan Masuniyah dalam bahasa Arab, Masunik dalam bahasa Urdu, Freemasonry dalam bahasa Inggris, Vrijmetselarij dalam bahasa Belanda, France Masonerie dalam bahasa Perancis.
Freemasonry terdiri dari dua kata, yaitu “free” yang berarti bebas atau merdeka, dan “masonry” yang berarti tukang batu (bangunan). Freemasonry berarti tukang batu (bangunan) yang merdeka.
Namun Gerakan Freemasonry ini adalah organisasi Yahudi Internasional yang tidak ada hubungannya dengan tukang batu yang dahulu memang ada pada abad-abad pertengahan. Ia juga tidak ada hubungannya dengan kegiatan pembangunan kapal atau katedral besar seperti dugaan banyak orang. Yang sebenarnya, kiprah gerakan ini adalah bekerja untuk menghancurkan kesejahteraan manusia, merusak tatanan politik, ekonomi, dan sosial di negeri-negeri yang mereka tempati. Mereka memang hobi merusak bangsa dan pemerintahan “Goyim” (Non-Yahudi).
Tujuan akhir gerakan ini adalah membangun kembali Haikal Sulaiman yang terletak di Masjid Al-Aqsha (Al-Quds) yang sekarang diduduki Israel, mengibarkan bendera Israel, serta mendirikan pemerintahan Zionisme Internasional, seperti yang ingin diterapkan dalam protokolat, sebuah rencana busuk pemuka Yahudi.
Kita bisa merenungkan seorang Yahudi, pembela fanatik Freernasonry dan Zionisme, Seorang hakkom (pendeta Yahudi) bernama Ishaq Weis di dalam majalah Israel Amerika mengatakan:
“Freemasonry menurut sejarahnya, derajat dan pengajarannya adalah merupakan sebuah perkumpulan Yahudi. Kata-kata, sandi dan upacara ritualnya dari A sampai Z adalah berjiwa Yahudi”.
Gerakan Zionisme dan Freemasonry di seluruh dunia sesungguhnya memiliki asas yang sama. Asas dari dua gerakan ini disebut “Khams Qanun”, lima sila, atau Panca Sila. Dan asas ini tentu saja diajarkan kepada seluruh anggotanya yang kelak menjadi pemimpin di negaranya. Berikut ini “Khams Qanun” sebagaimana ditulis Abdullah Patani dalam bukunya Freemasonry di Asia Tenggara:
1. Nasionalisme-Kebangsaan
Artinya berbangsa satu Yahudi, berbahasa Yahudi, dan bertanah air satu Yahudi Raya (impian mewujudkan Israel raya). Bila kita cermati teks ini mirip dengan teks sumpah pemuda.
2. Monotheisme
Berarti “kesatuan tuhan,” yaitu hendaklah bangsa Yahudi bertujuan dengan Tuhannya masing-masing dalam sebuah gerak yang sama. Maka wahai orang-orang Atheis dan yang membebaskan dirinya dari kekangan agama yang ada di kalangan bangsa Yahudi, hendaklah kalian tetap bertuhan dengan tuhan-tuhanmu. Bukanlah alampun merupakan tuhanmu. Juga bukankah kudrat (kekuatan) alampun merupakan tuhanmu juga?Jika kalian berlainan agama, berlainan kepercayaan, atau berlainan keyakinan, maka hendaklah kalian tetap bersatu-padu. Sebab, Gunung Zion telah menanti kalian. Selain itu wahai Yahudi seluruh dunia, hendaklah kalian memiliki perasaan tenggang rasa dan saling hormat menghormati antara satu dengan lainnya.
3. Humanisme
Artinya adalah belakulah kemanusiaan yang adil dan beradab. Janganlah kalian meniru bangsa Babilonia yang dahulu telah mengusir kalian. Tetapi bagi bangsa di luar kalian dan yang hendak membinasakan kalian, dan ingatlah bahwa kalian adalah bangsa yang besar serta bila mendesak, maka berlakulah seperti anjuran YANG ADA PADA Syer Talmud, seperi nyanyian Qaballa:
“Taklukkanlah mereka. Binasakanlah mereka. Sebab, mereka akan mengambil hakmu. Ingatlah bahwa kalian adalah setinggi-tingginya bangsa, bak menara yang menjulang tinggi”.
“Gunakanlah hatimu ketika menghadapi saudaramu. Sebab, mereka adalah keturunan Ya`qub yang merupakan keturunan Israel. Buanglah hatimu ketika menghadapi lawanmu. Sebab, mereka itu bukanlah saudaramu. Mereka adalah kambing-kambing perahmu. Harta mereka adalah hartamu juga (rampaslah). Rumah mereka adalah rumahmu (rebutlah dengan paksa). Juga, tanah mereka adalah tanahmu (kuasailah).”
4. Sosialisme
Artinya adalah keadilan sosial yang merata bagi masyarakat Yahudi, sehingga setiap orang Yahudi hendaknya dapat menjadi kaya-raya dan menjadi pemimpin dimanapun ia berada, yaitu menjadi protocol pembuat program (kebijaksanaan). Dalam nyanyian Qaballa Talmud disebutkan :
“Dengan uang, kalian dapat kembali ke Yudea Israel. Sebab, agama itu tegak dengan uang. Juga agama itu sesungguhnya uang juga adanya. Bahkan, wajah Yahwe itu sendiri yang tampak olehmu sesungguhnya adalah uang”.
“Cintailah Zion, cintailah Hebron (Hebrew), cintailah Yudea, dan cintailah seluruh tanah permukiman Israel. Sebab, kalianlah bangsa yang memegang wasiat Hebron tertua yang berbunyi: “Cinta tanah air itu adalah sebagian daripada iman”. (teks ini ternyata juga diadopsi oleh sebagian umat islam bahkan dikenal sebagai hadits “hubbul wathan minal iman” padahal hadits tersebut maudhu’dan dari sinilah sumbernya)
5. Demokrasi
Artinya adalah dengan cahaya Talmud dan Masyna serta segala ucapan imam-imam agung (bangsa Yahudi), telah diundang-undangkan ketentuan tentang demokrasi ini, yaitu:
“Bermusyawaralah dan rapatlah serta bertetapkanlah terhadap pilihan yang berasal dari suara terbanyak. Sebab, suara terbanyak itu adalah suara Tuhan.” (Pas sekali dengan semboyan demokrasi, vox populi vox dei (suara rakyat suara tuhan). Jadi siapa bilang yang namanya demokrasi itu ada begitu saja tanpa ada konspirasi yang mengangkatnya?)
Di dalam Khams Qanun dari organisasi Qaballa Yahudi, mereka mempunyai asas sebagi berikut:
  1. Monotheisme
  2. Nasionalisme
  3. Humanisme
  4. Demokrasi
  5. Sosialisme
Zionis Israel
Zionis Israel yang merupakan rekayasa dan pembenaran yang diambil dari Talmud, memiliki asas sebagi berikut:
  1. Nasionalisme
  2. Monotheisme Kultural
  3. Demokrasi
Cina
Dasar negara Cina dengan nama San Ming Cu I juga memiliki kemiripan dengan dasar Zionis Israel, yaitu:
  1. Min Tsu (Nasionalisme)
  2. Min Chuan (Demokrasi)
  3. Min Sheng (Sosialisme)
Freemasonry Prancis
Ini adalah asas gerakan Freemasonry Prancis yang juga menjadi pemicu munculnya Revolusi Prancis yang terkenal itu, yaitu:
  1. Nasionalisme
  2. Sosialisme
  3. Humanisme
  4. Theologi Kultural
Freemasonry Italia
  1. Nasionalisme
  2. Trinitas
  3. Humanisme
  4. Sosialisme
  5. Demokrasi
Freemasonry Palestina
  1. Nasionalisme
  2. Monotheisme
  3. Humanisme
  4. Sosialisme
  5. Demokrasi
India
Pandit Jawarhal Nehru, seorang negarawan India, di dalam sebuah pertemuan Konggres India menyampaikan gagasan tentang asas negara India merdeka yang diberinya nama Panc(a) Silla, yaitu:
  1. Nasionalisme India
  2. Humanisme
  3. Demokrasi
  4. Religus &
  5. Sosialisme
Filipina
Orang mengenal asas negara Filipina berasal dari Aquinaldo, seorang tokoh nasionalisme di negeri tersebut. Ada lima asas negara Filipina yang sesungguhnya berasal dari Gerakan Katipunan yang disusun oleh Andreas Bonafacio pada tahun 1893, yaitu:
  1. Nasionalisme
  2. Demokrasi
  3. Ketuhanan
  4. Sosialisme
  5. Humanisme Filipina
Thailand
Ada empat asas negara Gajah Putih ini, yang asalnya berasal dari Ptidi Banomyong, yaitu:
  1. Nasionalisme
  2. Demokrasi
  3. Sosialisme
  4. Religius
Indonesia
Banyak versi asas-asas negara bagi Indonesia, pada awal pembuatannya. Kita mengenal asas-asas negara yang dikemukakan antara lain oleh:
a) Mr. Muhammad Yamin
  1. Peri Kebangsaan
  2. Peri Kemanusiaan
  3. Peri Ketuhanan
  4. Peri Kerakyatan
  5. Kesejahteraan Rakyat
b) Mr. Soepomo
  1. Persatuan
  2. Kekeluargaan
  3. Keseimbangan Lahir Batin
  4. Musyawarah
  5. Keadilan Rakyat
c) Ir. Soekarno
  1. Nasionalisme ( Kebangsaan)
  2. Internationalisme ( Kemanusiaan)
  3. Demokrasi ( Mufakat)
  4. Sosialisme
  5. Ketuhanan
Demikianlah bentuk-bentuk asas negara yang dipakai di kawasan Asia Tenggara. Kita menduga kuat bahwa sejak lama kawasan ini telah dipengaruhi oleh ide-ide Gerakan Freemasonry berbagai cara.
bersambung…
Source: saveabb.com

29 Rajab 1432 H / 29 Juni 2011

Pancasila dalam Talmud

Fadly
http://arrahmah.com/read/2011/05/23/12791-pancasila-dalam-talmud.html
Senin, 23 Mei 2011 10:58:59
Hits: 3981
Fenomena munculnya komunitas Yahudi secara terbuka di Indonesoa menarik dicermati, setidaknya karena dua alasan. Pertama, selain belum memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia, secara konstitusional Indonesia belum mengakui eksistensi negara Israel yang masih menjajah negara Palestina.
Kedua, merebaknya isu Negara Islam Indonesia (NII) KW 9, yang diklaim sebagai akibat ditinggalkannya ideologi Pancasila, yang ditengarai sejumlah pihak telah mengalami kropos dan ditinggalkan rakyat.
Kenyataan ini mendorong munculnya wacana 4 pilar kebangsaan. Yaitu NKRI, UUD 1945, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika. Lalu, apa relevansinya mengaitkan kitab suci Yahudi, NII dan semangat kembali ke Pancasila? Tulisan berikut ini akan mengurai, adakah benang merah Pancasila dan zionisme dalam Talmud Yahudi.

Pancasila dalam Talmud
Selama ini, Pancasila diyakini sebagai made in Indonesia asli, produk pemikiran yang digali dari rahim bumi pertiwi. Kemudian, berhasil dirumuskan sebagai ideologi dan falsafah bangsa oleh Bung Karno, hingga menjadi rumusan seperti yang kita kenal sekarang.
Sejauhmana klaim di atas memperoleh legitimasi historis serta validitas akademik? Adakah bangsa lain dan gerakan ideologi lain yang telah memiliki Pancasila sebelum Sukarno menyampaikan pidatonya di depan sidang BPUPKI, 1 Juni 1945?
Sebagai peletak dasar negara Pancasila, Bung Karno mengaku, dalam merumuskan ideologi kebangsaannya, banyak terpengaruh pemikiran dari luar. Di depan sidang BPUPKI, Bung Karno mendeskripsikan pengakuannya:
“Pada waktu saya berumur 16 tahun, saya dipengaruhi oleh seorang sosialis bernama A. Baars, yang memberi pelajaran pada saya, ‘jangan berpaham kebangsaan, tapi berpahamlah rasa kemanusiaan sedunia”.
Tetapi pada tahun 1918, kata Bung Karno selanjutnya, alhamdulillah ada orang lain yang memperingatkan saya, yaitu Dr. Sun Yat Sen. Di dalam tulisannya San Min Chu I atau The Three People’s Principles, saya mendapat pelajaran yang membongkar kosmopolitisme yang diajarkan A. Baars itu. Sejak itu tertanamlah rasa kebangsaan di hati saya oleh pengaruh buku tersebut.”
Pengakuan jujur Bung Karno ini membuktikan, sebenarnya Pancasila bukanlah produk domistik yang orisinal, melainkan intervensi ideologi transnasional yang dikemas dalam format domistik.
Sebagai derivasi gerakan zionisme internasional, freemasonry memiliki doktrin Khams Qanun yang diilhami Kitab Talmud. Yaitu, monoteisme (ketuhanan yang maha esa), nasionalisme (berbangsa, berbahasa, dan bertanah air satu Yahudi), humanisme (kemanusiaan yang adil dan beradab bagi Yahudi), demokrasi (dengan cahaya talmud suara terbanyak adalah suara tuhan), dan sosialisme (keadilan sosial bagi setiap orang Yahudi). (Syer Talmud Qaballa XI:45).
Tokoh-tokoh pergerakan di Asia Tenggara juga merujuk pada Khams Qanun dalam merumuskan dasar dan ideologi negaranya. Misalnya, tokoh China Dr. Sun Yat Sen, seperti disebut Bung Karno, dasar dan ideologi negaranya dikenal dengan San Min Chu I, terdiri dari: Mintsu, Min Chuan, Min Sheng, nasionalisme, demokrasi, dan sosialisme.
Asas Katipunan Filipina yang dirumuskan oleh Andreas Bonifacio, 1893, dengan sedikit penyesuaian terdiri dari : nasionalisme, demokrasi, ketuhanan, sosialisme, humanisme. Begitupun, Pridi Banoyong dari Thaeland, 1932, merumuskan dasar dan ideologi negaranya dengan prinsip: nasionalisme, demokrasi, sosialisme, dan religius.
Sedangkan Bung Karno, proklamator kemerdekaan Indonesia, pada mulanya merumuskan ideologi dan dasar negara Indonesia yang disebut Panca Sila terdiri dari: nasionalisme (kebangsaan), internasionalisme (kemanusiaan), demokrasi (mufakat), sosialisme, dan ketuhanan.
Prinsip indoktrinasi zionisme, memang cukup fleksibel. Dan fleksibilitasnya terletak pada kemampuannya beradaptasi dengan pola pikir pimpinan politik disetiap negara.
Pertanyaannya, adakah kesamaan ideologi dari tokoh  dan aktor politik di atas bersifat kebetulan, atau memang berasal dari sumber yang sama, tapi dimainkan oleh aktor-aktor politik yang berbeda?
Dalam kaedah mantiq, dikenal istilah tasalsul, yaitu rangkaian yang berkembang, mustahil kebetulan. Artinya, sesuatu yang berpengaruh pada yang sesudahnya, pastilah bukan kebetulan.
Rumusan Pancasila versi Bung Karno, memiliki kesamaan dengan doktrin zionisme yang dijiwai Talmud. Sehingga, klaim Pancasila sebagai produk domistik terbantahkan secara faktual.
Intervensi ideologi ini, berpengaruh besar terhadap perkembangan Indonesia pasca kemerdekaan. Di zaman demokrasi terpimpin, pengamalan Pancasila berwujud Nasakom (nasionalisme, agama, komunisme). Sedang di zaman orde baru, praktik Pancasila berbentuk asas tunggal. Kedua model amaliah Pancasila itu, telah melahirkan ideologi politik traumatis.
Melestarikan Pancasila seperti diwariskan kedua rezim di atas, berarti melestarikan doktrin Yahudi, yang bertentangan dengan konstitusi negara. Dan tidak konsisten dengan semangat kemerdekaan. Muqadimah UUD 1945, menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.
Dalam kaitan ini, pemerintah bertanggungjawab merealisasikan dasar dan ideologi negara, selaras dengan muqadimah UUD ’45. Seperti tertuang dalam pasal 29 ayat 1, bahwa negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Prof. Hazairin, SH menafsirkan negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah: pertama, di negara RI tidak boleh ada aturan yang bertentangan dengan agama. Kedua, negara RI wajib melaksanakan Syari’at Islam bagi umat Islam, syari’at Nasrani bagi umat Nasrani, dstnya sepanjang pelaksanaannya memerlukan bantuan kekuasaan negara. Ketiga, setiap pemeluk agama wajib menjalankan syariat agamanya secara pribadi. (Demokrasi Pancasila, 1975).
Oleh karena itu, hasrat membicarakan kembali Pancasila sekarang haruslah dalam semangat kemerdekaan dan kedaulatan NKRI. Tanpa intervensi ideologi asing, dan tanpa mendiskreditkan pihak lain dengan alasan antipancasila, anti NKRI, Bhineka Tunggal Ika dan slogan lainnya. Setiap warganegara berhak ikut merumuskan dasar dan ideologi negara yang benar, tanpa intimidasi dari pihak manapun.
Jogjakarta, 15 Mei 2011
Oleh Irfan S Awwas
Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin
Telah dimuat di majalah Gatra, 19 Mei 2011

29 Rajab 1432 H / 29 Juni 2011

Melawan kerakusan penguasa

Saif Al Battar
http://arrahmah.com/read/2011/01/28/10796-melawan-kerakusan-penguasa.html
Jum'at, 28 Januari 2011 05:42:44
Hits: 465
Oleh: Ustadz Irfan S. Awwas
Semakin lama rezim SBY berkuasa, ancaman kemiskinan, dekadensi moral, kriminalitas, dan tentu saja korupsi, semakin keras mendera kehidupan rakyat Indonesia. Segala retorika apologis yang dikemukakan penguasa, menghadapi kritik rakyat, justru disikapi dengan rasa muak dan sumpah serapah masyarakat. Bahkan sejumlah tokoh lintas agama, menyerukan tahun 2011 sebagai tahun perlawanan terhadap kebohongan penguasa.
Setelah terbukti pemerintahan SBY tidak efektif memberantas korupsi dan menyejahterakan kehidupan rakyatnya, bahkan sebaliknya memperpuruk kondisi negeri. Maka Indonesia sepanjang masa reformasi, seakan ditakdirkan nasib binasa dan nista. Dalam hal ini SBY telah menjadi penguasa dari rezim durjana yang digambarkan dalam Al-Qur’an:
“Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru manusia ke neraka dan di hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan Kami ikutkanlah la’nat kepada mereka di dunia ini, dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orangyang dijauhkan dari rahmat Allah.” (Qs. Al-Qashas, 28:41-42).
Lahirnya pemimpin yang tidak becus mengurus negara, pejabat-pejabat yang rakus, tidak bermoral, mati rasa dan kesat hati, menjerumuskan rakyatnya kelembah nista dan teraniaya, merupakan tanggungjawab rakyat yang memilihnya. Dosa terbesar justru ditanggung oleh rakyat karena pemimpin durjana seperti itu lahir dari pilihan langsung oleh rakyat atas nama demokrasi.
Jika sekarang, penguasa yang mereka pilih, ternyata tidak peduli dengan nasib pemilihnya, lalu apa yang akan diperbuat? Bayangkan, apa yang ada diotak SBY, jajaran eksekutif dan juga legislatif. Ketika rakyatnya dalam kondisi sengsara, menderita gizi buruk, ditimpa bencana, hidup ditenda darurat, kekurangan gizi, langka air bersih. Para nelayan berhenti melaut karena badai, petani berhenti bertani karena gempa, tsunami, maupun lahar dingin merapa. Eeh, tiba-tiba SBY curhat, sudah tujuh tahun gajinya tidak dinaikkan. Sebelumnya ketua DPR RI Marzuki Ali ngotot membangun gedung mewah. Bahkan zalimnya mereka, usulan pengadaan mobil mewah bagi tamu penting DPRD DKI, juga disetujui untuk anggaran 2011.
Masya Allah, apa yang ada di otak mereka anngota wakil rakyat, dan apa yang bersemayam di hati Presiden SBY? Tidak ada rasa malu dan tak ada pula kesedihan menyaksikan derita rakyatnya. Sabda Nabi Saw, agaknya tepat bagi mereka. ” Idza lam tastahi’ fashna’ ma syi’ta (Jika rasa malu sudah tidak ada, maka berbuatlah sesukamu).”
Prilaku hedonistik, berfoya dalam kemewahan, gembira di atas penderitaan rakyat, adalah karakteristik pejabat negara RI, sehingga mereka tidak sungkan menjadi koruptor. Mereka diserahi amanah mengurus kepentingan rakyat, tapi malah menjarah harta rakyat. Benarlah mahfudzat yang menyatakan: “Hamiha haramiha, mereka penjaganya mereka pula malingnya.”
Ancaman kehancuran menghadang Indonesia masa depan, yang lebih dahsyat dengan apa yang menimpa sekarang. Apabila tidak ada perbaikan serta kesadaran obyektif rakyat Indonesia, maka Nasib bangsa Indonesia seperti digambarkan dalam wahyu Ilahy:
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati perintah Allah). Tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadap mereka ketentuan Allah. Niscaya Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Qs. Al-A’raf, 17:16).
Hari ini SBY minta naik gaji, gedung DPR dibangun dengan biaya 300 trilyun, dan DPRD DKI bertekad beli mobil mewah. Sedang kaum agamawan, kaum intelektual dan rakyat mayoritas mengoreksi dan menasihati penguasa, agar hidup hemat, sederhana. Jangan biarkan terus menerus rakyat hidup melarat, ternyata tidak digubris juga. Lalu, apa yang akan terjadi nanti?.
(Gambar: ilustrasi)


ZA mengatakan... 
http://zadandunia.blogspot.com/2011/05/pancasila-sebagai-ideologi-gagal.html?showComment=1309252624657#c8208076148767557522
 
Perang 10 November 1945 dan Pancasila....[1] Perang 10 November 1945-- Tentara Sekutu terbaik dan terkuat... dibawah Komado para militer Inggris dan Jendral2nya yang terkenal sebagai singa2 PD-II, telah mencoba meletakan dasar2 penjajahan baru dibumi Indonesia yang baru beberapa bulan memproklamasikan Kemerdekaannya ... di Jakarta, 17-8-1945... dan para Kabinet daruratnya baru saja ingin menata negara... namun tiba2 mendaratlah Tentara Sekutu tersebut dengan maksud menawan dan melucuti tentara Jepang... Yang sangat diluar misinya itu yaitu... kenyataannya Tentara sekutu itu bukan untuk melucuti Jepang itu... malah meminta Tentara Rakyat RI untuk juga dilucuti..dan meyerah kepada mereka... Sungguh aneh kan... ??? Ada misi apa yang secara terselubung didalam kekuatan dahsyatnya Pasukan Elit Sekutu yang besar dan kuat itu... ??? Benarkah untuk misi melucuti tentara Jepang atau mau mengembalikan Penjajahan Belanda... yang berselubung dibalik misi mereka...??? Ternyata .. dengan inisiatif sendiri... para Pejuang Kemerdekaan RI... siap menghadapi tentara Sekutu itu.. dengan segala tekad dan semangat Kemerdekaan dan jiwa2 takwa para pejuang ... Dengan teriakan Allahu Akbar .. Allahu Akbar...... bergema yang dikumandangakan Bung Tomo... di corong radio..dan disambut..di mesjid2... dan semua lapisan masyarakat... disurau2.. .. dimushala2... dan semua lapisan masyarakat.. bengkit dan berjuang dengan peralatan dan apapun yang ada... bahkan dengan tanpa senjata sekalipun ... terus maju... menghadapi kekuatan dahsyat tentara Sekutu... Akhirnya setelah berkecamuk perang selama lebih dari 3 minggu.. maka Tentara Inggris minta case-fire... dan korban rakyat tentu saja banyak.. karena seperti biasa.. para Penjajah itu tak bermoral.. Semua dibumi hangus... dan tanpa pilih2 semua dijadikan sasaran.. anak2-wanita2-orangtua2- dan fasilitas publik dan rumah2 rakyat pun dibom bardir... Namun dipihak sekutu pun juga korbannya cukup parah.. sehingga mereka mengakui kalah.. dan mau kembali meninggalkan Surabaya.... Itulah kisah sepenggal Perang 10 November di Surabaya pada tahun 1945... Yang terkenal dengan Perang 10 November.. dan menjadi hari pahlawan... sebagai penghormatan kepada para syuhada dan pejuang Rakyat Surabaya dalam mempertahankan martabat dan kedaulatan Kemerdekaan Negara RI...
ZA mengatakan..
http://zadandunia.blogspot.com/2011/05/pancasila-sebagai-ideologi-gagal.html?showComment=1309252624657#c8208076148767557522
Perang 10 November 1945 dan Pancasila…. [2] Apakah rakyat sudah kenal pancasila...??? apakah rakyat awam itu yang berkorban untuk bangsa dan negara... itu adalah penganut pancasila...??? Pancasila itu baru dituangkan oleh BPUPKI pada sekitar bulan Me-Juni 1945.. dan dikenal hanya oleh para pemimpin2 yang intelektual... Mungkin... Bung Tomo itu tahu.. atau juga mungkin belum... apalagi para imam mesjid.. ulama2 didaerah.. dan santri2 di-kampung2... serta Rakyat awam lainnya yang buta huruf... yang secara fakta dan nyata bersama-sama menyabung nyawa mempertahankan kemerdekaan RI... Apakah itu karena ajaran pancasila...?? Buku atau kitab kuning mana yang mengajarkan pancasila...atau ulama2 mana..yang mengajarkannya.. NU-Muhammadyah-Kitab klasik-??? Bahwa ajaran Islam... mengatakan antara lain... Hubbul Wathan minal-ieman... [bahwa mencintai dan membela tanah air dan negara adalah bagian dari ieman.. itu benar .. dan selalu disampaikan oleh para ulama... di-mesjid2, sampai2 saya waktu kecil sekitar tahun 1955-1961..sekira umur2 5-9 tahun sering mendengar dikala ada hutbah2 jum'ah... atau dalam saresehan2.. Tetapi Pancasila...gak pernah dengar tuh...??? Baru setelah ditingkat SMP atau SMA-lah dikenalnya... melalui matapelajaran Civic... dan ketatanegaraan.. dengan lambang2 Negara dll... Jadi yang menjiwai kemerdekaan bangsa Indonesia itu adalah jiwa Kebangsaan yang dikaitkan dengan Jiwa Keislaman yang harus dan wajib membela Negara... Dimana pancasila...adanya..??? Entahlah...Belum ada dan belum dikenal... Maka dari itu... dalam Rancangan Mukaddimah.. UUD 1945... disisipkanlah..." kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluknya"... karena inilah yang sesungguhnya yang menjiwai kemerdekaan dan perjuangan bangsa Indonesia.. itu.. Sadarlah.. hai bung...!!! Jiwa Keangsaan dan Jiwa Keislaman-lah yang membangkitkan perjuangan Kemerdekaan RI itu... Bukan Pancasila... Merdeka....





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar