Kamis, 02 Juni 2011

Sejarah Singkat : Wahabi/Salafy >>> Sejarah adalah peristiwa yang menyebabkan sesuatu terjadi dengan memberikan pengaruh besar dan berakibat luas terhadap setiap perkembangan berikutnya.....>>> Semoga cuplikan ini menjadi pelajaran berharga bagi Umat Islam...untuk terus belajar dengan sejarah dan memperbaiki diri dan memperkuat diri dalam Silaturahim-Persaudaraan=Persatuan dan Keikhlasan dalam thaat kepada Allah SWT dan menggali Api Islam dan Cahaya Islam....>>> Sekarang saatnya Umat Islam sadar dan ikhlas dengan kecerdasan dan keilmuannya serta dengan jiwa yang merdeka...untuk terus thaat dan kaffah atas syariah Islam denga kajian Ilmu yang didasarkan Keimanan>> Mari bersatu kembali menjadi satu Umat dan mengusir Penjajahan yang telah dilakukan para Imperialis dan kolonialis Barat dengan berbagai tipu muslihat....>>> Hayyooolah Umat Isalam bangkit dan jauhkan dari perpecahan.....>>> Bersyukurlah bahwa para Petinggi Saudi telah menyadari bahwa adalah tidak ada gunanya kita berpecah belah... antar madzhab dan apapun kepentingan kita....>>> Bacalah sejarah.... dan belajarlah...serta ambil hikmanya...untuk menjadikan persatuan Umat Islam semakin kokoh dan kuat...serta dengan segala kekuatan dan persatuan usirlah kembali Yahudi Israel dan tentara Penajah dibumi Arab dab Dunia Islam. Usirlah tentara NATO-AS-Israel-PBB[UN] dari seluruh tumpah darah tanah air Umat Islam di Palestina-Iraq-Afghanistan-Sudan-Libya-Lebanon- Chesnya dlll.....>>> Hayyooo bangkitalah Sdrku... Belajarlah dengan hati yang bersih...dan Cinta Islam dan Umat Islam..... >> Allahu Akbar......Walillahilhamdu...

 
Sejarah Singkat : Wahabi/Salafy
http://www.scribd.com/doc/49681609/Sejarah-Singkat-Wahabi 
1701     :  Muhammad Bin Abdul Wahab dilahirkan di Uyainah Nejd.  
1713an keatas :  Pergi ke Basrah untuk menuntut ilmu, disana Muh. Bin Abdul Wahab bertemu Mr.HEMPHER   mata mata  Inggris yang mengaku sbg Muslim dari Turki yang punya misi mencari  kelemahan  untuk  menghancurkan Khilafah Turki Otoman dari dalam. Hempher menggunakan Muh Bin Abdul Wahab sebagai boneka penyebaran mazhab baru yang â bebasâ dengan dalih kebebasan IJTIHAD âmengkaji langsung dari Qurâan dan Hadisâ walaupun   menyelisihi pemahaman para sahabat, para imam mazhab yg 4 dan para ulama muktabar. Hempher  menjanjikan dukungan dana dan senjata dari Inggris bagi Imam Mujtahid yang baru muncul ini. Tujuan utama Hempher adalah agar Muh.Bin Abdul Wahab mencetuskan revolusi  pemberontakan melepaskan diri terhadap Khilafah Islam Turki Ottoman. Dengan agenda tersembunyi  akan melakukan pemberontakan, dibangunlah doktrin2 baru untuk melegeslasi tindakan kekerasan dan pembunuhan terhadap pejabat pemerintah Turki Ottoman dan semua orang yang tidak mendukung revolusi wahabi, yaitu : Membuat ajaran baru yang mudah meng KAFIR kan kaum Muslimin, sebagai alasan untuk menghalalkan darahnya apabila tidak mau bergabung dengan gerakan Wahabi. Di Basrah itulah dimulai ajaran-ajaran TAKFIR nya disebar luaskan. Tentu saja PERKARA BARU nya ituditentang oleh ulama-ulama setempat.  
1726 : Dakwah di Huraymilah dan menyebarkan Perkara Baru ajaran takfir nya, diusir oleh masyarakatsetempat.  
1728 : Dakwah di Uyainah, mendapat dukungan dari Amir Utsman penguasa Uyainah, mulai melakukanperusakan dan pembongkaran kubah makam orang orang soleh. Tindakan dan ajarannya yang ekstremmendapat kecaman dari penguasa wilayah yang lain. Belakangan akhirnya Amir Utsman menarikdukungannya dan mengusirnya. Hempher yang selalu mem-back up dari belakang layar, akhirnya mengatur pertemuan denganMuhammad Bin Suâud penguasa Diâriyah.
  1744 : Bergabung dengan Muhammad Bin Saud penguasa Diâriyah, semakin gencar menyebarkandoktrin2 WAHABI, dan mempraktekkan tindakan tindakan kekerasan dalam menerapkan danmemaksakan ajaran Wahabi
 
1765 : Muhammad Bin Saud peguasa Di'riyah meninggal dunia, digantikan oleh Abdul Azis binMuhammad Al Saud.  
1792 : Dengan dukungan senjata dan dana dari Inggris yang difasilitasi oleh Hempher, Revolusi Wahabidibawah pimpinan Abdul Azis Bin Suâud berhasil menguasi : Riyadh, Kharj, dan Qasim di wilayah Arabia Tengah  
1793 : Muhammad Bin Abdul Wahab wafat mereka melanjutkan ekspansi ke timur ke Hasa, dan menghancurkan kekuasaan Banu Khalid di wilayahitu. Para pengikut Syi`ah di kawasan ini, yang jumlahnya cukup banyak, dipaksa untuk menyerah danmengikuti Wahhabisme atau dibunuh.  
1797 : Menyerbu Teluk Persia, Oman, Qatar, Bahrain. 
 1802 : Menyerbu Thaif, dilanjutkan menyerbu Karbala Irak, membunuh 2.000-an pengikut Syi`ah yangsedang bersehbahyang sambil merayakan Muharram. Dengan kemarahan yang tak terkontrol, merekamenghancurkan makam-makam Ali, Husayn, imam-imam Syi`ah, dan khususnya kepada makam puteriNabi, Fatimah. 1803 : Menyerbu Mekkah  
1804 : Menyerbu Madinah Mereka membunuh syekh dan orang awam yang tidak bersedia masuk Wahabi. Perhiasan danperabotan yang mahal dan indah â" yang disumbangkan oleh banyak raja dan pangeran dari seluruhdunia Islam untuk memperindah banyak makam wali di seputar Mekkah dan Madinah, makam Nabi, danMasjidil Haram â" dicuri dan dibagi-bagi. Pada saat Mekkah jatuh ke tangah Wahabi. Dunia Islam guncang, lebih-lebih karena mendengar kabar bahwa makam nabi telah dinodai dan dijarah, rutejamaah haji ditutup, dan segala bentuk peribadatan yang tidak sejalan dengan praktik Wahabi dilarang.  
1806 : Abdul Azis Bin Suâud meninggal dunia digantikan Abdullah bin Sa'ud.  
1811 : Turki Ottoman mulai mengirimkan pasukan untuk memadamkan revolusi pemberontakan kaumWahabi. 1812 : Pasukan Turki Ottoman dari Mesir berhasil menguasai Madinah. 
 1815 : Kembali pasukan Turki Ottoman dari Mesir menyerbu : Riyadh, Mekkah dan Jeddah.  
1818 : Diâriyah, ibukota pusat gerakan Revolusi pemberontakan Wahabi berhasil dikuasai pasukan
Khilafah Islam Turki Ottoman. Pemimpin Wahabi saat itu Abdullah bin Saâud tertangkap, dibawa keIstambul dan dihukum  gantung disana sebagai  pimpinan pemberontakan.  
1821 : Tentara Khikafah Islam Turki Ottoman ditarik dari Arabia 1824 : Turki Bin Abdullah, yang bapaknya dihukum gantung di Turki mengambil alih kepemimpinankaum Wahabi menduduki Riyadh.  
1830 : Meluaskan penaklukan ke daerah `Aridh, Kharj, Hotah, Mahmal, Sudayr Aflaj dan Hasa.  
1834 : Turki bin Abdullah dibunuh oleh konspirasi internal keluarga Saud yang dipimpin oleh saudarasepupunya sendiri, yg diangkat sbg walikota Manfuhah yang bernama Mishari. Setelah mengalamikonflik antar sesama klan Saud, Faisal bin Turki berhasil naik menjadi Penguasa baru kaum Wahabi.  
1837 : Faisal bin Turki Al Saud, karena menolak membayar upeti ke Mesir, diringkus oleh Otoritas TurkiOttoman dan dibawa ke Mesir. 
 1863 : Faisal bin Turki Al Saud berhasil melarikan diri dari Mesir, kembali berkuasa di Riyadh tapi tetapmengakui kekuasaan Khilafah Islam Turki Ottoman dan rutin membayar upeti ke Mesir.  
1865 : Faisal bin Turki Al Saud meninggal, anak-anaknya dari isteri yang berbeda-beda terlibat perebutankekuasaan.  
1871 : Sa'ud bin Faisal keluar sebagai pemenang dan berkuasa memimpin teritorial kaum Wahabi.  
1875 : Sa'ud bin Faisal meninggal, kembali terjadi perebutan kekuasaan.  
1887 : Abdullah Al Saud meminta bantuan kepada Muhammad bin Rasyid penguasa Ha'il. Laskar KlanRasyid setelah membantu Abdullah dan berhasil menyingkirkan pesaing-pesaingnya akhirnya justerumenangkap Abdullah dan menguasai Riyadh dengan mengatasnamakan sebagai wali dari TurkiOttoman.  
1889 : Abdurrahman Al Saud, salah satu walikota dibawah kendali Al Rasyid memberontak tetap berhasilditumpas oleh Muhammad Bin Rasyid, Abdurrahman melarikan diri keluar dari Riyadh.  
1893 : Abdurrahman Al Saud menetap di Kuwait dibawah perlindungan kekuasaan Klan Al Sabahdibawah protektorat Inggris berdasarkan traktat tahun 1899. 1902 : Abdul Azis bin Abdurrahman Al Saud yang merengek minta bantuan Inggris berusaha merebutkekuasaan di Riyadh dari Klan Rasyid yang didukung Khilafah Turki Ottoman. Mulanya Inggris meragukankemampuan Abdul Azis, tapi Abdul Azis meyakinkan Inggris bahwa metodenya adalah murni gerakanpolitik-militer yang akan "membunuh semuanya" yang menentangnya, tidak perduli meskipun Moslem
1906 : Abdul Azis bin Abdurrahman Al Saud yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Saud dengandukungan penuh dari Inggris berhasil menguasai QASIM, yang mendekati pusat pemerintahan KlanRasyid di Nejd. 1913 : Hasa yang banyak penganut SYIAH dikuasai. Ibn Sa`ud mengadakan perjanjian dengan ulamaSyiah yang menetapkan bahwa Ibn Sa`ud akan memberikan mereka kebebasan menjalankan keyakinanmereka dengan syarat mereka patuh kepada Ibn Sa`ud. Pada saat yang sama, Syiah tetap dianggapsebagai kalangan Rafidlah yang KAFIR.  
1915 : Ditengah berkecamuknya perang dunia ke-I, Pada tanggal 26 Desember 1915, Ibn Sa`udmenyepakati traktat dengan Inggris. Berdasarkan traktat ini, pemerintah Inggris mengakui kekuasaanIbn Sa`ud atas Najd, Hasa, Qatif, Jubail, dan wilayah-wilayah yang tergabung di dalam keempat wilayahutama ini. Apabila wilayah-wilayah ini diserang, Inggris akan membantu Ibn Sa`ud. Traktat ini jugamendatangkan keuntungan material bagi Ibn Sa`ud. Ia mendapatkan 1000 senapan dan uang £20.000begitu traktat ditandatangani. Selain itu, Ibn Sa`ud menerima subsidi bulanan £5.000 dan bantuansenjata yang akan dikirim secara teratur sampai tahun 1924.   
   
(klik pada gambar untuk memperbesar)  
 
(klik pada gambar untuk memperbesar) Dokumen diatas menjelaskan : sebagai imbalan bantuan dan pengakuan Inggris akan kekuasaannya, Ibn Sa`ud menyatakan tidak akan mengadakan perundingan dan membuat traktat  dengan negara asinglainnya. Ibn Sa`ud juga tidak akan menyerang ke, atau campur tangan di, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Oman â " yang berada di bawah proteksi Inggris. Ibn Saud juga berjanji membiarkan  berdirinya negaraYahudi di Palestina yang dibidani Inggris. Traktat ini mengawali keterlibatan langsung Inggris di dalam politik Ibn Sa`ud. 
1916 : Perjanjian penentuan batas wilayah. Komisioner tinggi Inggris Sir Percy Cox dengan mengambil kertas dan pena menentukan  batas2 wilayah kerajaan2 di Timur Tengah sebagai kerajaan2 nasional yang  berdaulat lepas dari Khilafah Turki   Ottoman.  
(klik pada gambar untuk memperbesar)      Sementara itu, saingan Ibn Sa`ud di Najd, Ibn Rasyid, tetap bersekutu dengan Khilafah Usmaniah. KetikaKesultanan Usmani kalah dalam Perang-Dunia-I bersama-sama dengan Jerman, klan Rasyidi kehilangansekutu utama. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya, Rasyidi dilanda persaingan  internal  di bidang   suksesi. Perang antara Ibn Sa`ud dan Ibn Rasyid sendiri tetap berlangsung selama PD-I dan  sesudahnya

 
1916 : Perjanjian penentuan batas wilayah. Komisioner tinggi Inggris Sir Percy Cox dengan mengambilkertas dan pena menentukan batas2 wilayah kerajaan2 di Timur Tengah sebagai kerajaan2 nasional yangberdaulat lepas dari Komiaioner Inggris.......

klik pada gambar untuk memperbesar)  
Sementara itu, saingan Ibn Sa`ud di Najd, Ibn Rasyid, tetap bersekutu dengan Khilafah Usmaniah. KetikaKesultanan Usmani kalah dalam Perang Dunia I bersama-sama dengan Jerman, klan Rasyidi kehilangansekutu utama. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya, Rasyidi dilanda persaingan internal di bidangsuksesi. Perang antara Ibn Sa`ud dan Ibn Rasyid sendiri tetap berlangsung selama PD I dan sesudahnya.

1916 : Perjanjian penentuan batas wilayah. Komisioner tinggi Inggris Sir Percy Cox dengan mengambil kertas 
dan pena menentukan batas2 wilayah kerajaan2 di Timur Tengah sebagai kerajaan2 nasional yang  berdaulat 
lepas dari Khilafah Turki Ottoman.  (klik pada gambar untuk memperbesar) 
1917 : Menteri Luar Negeri Inggris Arthur Balfour menerbitkan deklarasi Balfour kepada Lord Rothschild
 seorang aristocrat dan miliuner Yahudi tgl. 2 Nopember 1917 yang menjanjikan berdirinya  negara Yahudi di Palestina.  
Pada tanggal 11 Desember 1917, Inggris dibawah pimpinan Jenderal Edward Allenby menduduki Palestina.
1921 : Setelah berbulan-bulan dikepung, pada tanggal 4 November 1921, Haâil, ibukota Klan Rasyidi,
 jatuh ke tangan Ibn Sa`ud yang dibantu Inggris melalui dana dan persenjataan. Penduduk oase subur
diutara itu pun mengucapkan bay`ah ketundukan kepada Ibn Sa`ud
1922 : Asir, wilayah di Hijaz selatan dikuasai Ibn Saud.  
1924 : Mekkah dan Madinah dikuasai.  
1925 : Jeddah dikuasai, di tahun ini Ibnu Saud memproklamirkan diri sebagai RAJA HIJAZ  
1926 : Ibnu Saud memproklamirkan diri sebagai RAJA HIJAZ dan SULTAN NEJD. Agen intelejen 
Inggris yang bernama Harry St. John Pilby tinggal di Jeddah sebagai penasehat dan penghubung dengan 
pemerintah Inggris. Pada tahun 1930 Philby resmi masuk menjadi anggota dewan penasihat pribadi Raja  
1927 : Perjanjian umum Inggris-Arab Saudi yang ditandatangani di Jeddah(20 Mei 1927). Perjanjian 
itu,yang dirundingkan oleh Clayton, mempertegas pengakuan Inggris atas âkemerdekaan lengkap 
dan mutlakâ Ibnu Saâud, hubungan non-agresi dan bersahabat, pengakuan Ibnu Saâud ataskedudukan
Inggris di Bahrain dan di keemiran Teluk, serta kerjasama dalam menghentikan perdaganganbudak. 
Dengan perlindungan Inggris ini, Abdul Aziz(yang dikenal dengan Ibnu Saâud) merasa amandari 
berbagai rongrongan.  
1928 : Suku Duwais yang tidak senang terhadap sikap politik Ibnu Saud yang terlalu pro 
Barat dan menyetujui berdirinya Israel di Palestina melakukan pemberontakan. Dengan 
bantuan angkatan udara Inggris dilakukan pengeboman dan  penumpasan  pemberontakan
suku  Duwaish  
1932 : Ibnu Saud memproklamrikan berdirinya Kerajaan Saudi Arabia
(Al-Mamlakah al-âArabiyah as-Suâudiyah) dengan wilayah kekuasaan yang sampai sekarang ini 
dikenal sebagai Kerajaan SAUDIARABIA
1933 : Ditemukan minyak di Wilayah Arab Saudi, Standart Oil Company dari California memperolehkonsesi selama 60 tahun. Perusahaan ini kemudian berubah nama menjadi Arabian Oil Company padatahun 
1934. Pada mulanya, pemerintah AS tidak begitu peduli dengan Saudi. Namun, setelah melihatpotensi besar minyak negara tersebut, AS dengan agresif berusaha merangkul Saudi. 
 1941 : Untuk kepentingan minyak, secara khusus wakil perusahaan Aramco, James A. Moffet,menjumpai Presiden Roosevelt (April 1941) untuk mendorong pemerintah AS memberikan pinjamanutang kepada Saudi. Utang inilah yang kemudian semakin menjerat negara tersebut menjadiâ budakâ AS. 
Pada tahun 1946, Bank Ekspor-Impor AS memberikan pinjaman kepada Saudi sebesar$10 juta dolar. Tidak hanya itu, AS juga terlibat langsung dalam â membangun â Saudi menjadi negara modern, antara lain dengan memberikan pinjaman sebesar $100 juta dolar untuk pembangunan jalan kereta api yang menghubungkan ibu kota dengan pantai timur dan barat. Tentu saja, utang ini kemudian semakin menjerat Saudi.  
1943 : Konsesi ijin bagi AS menempatkan pangkalan militer di Arab Saudi yang terus diperpanjang sampai sekarang.  
1948 : Deklarasi berdirinya Israel pada tanggal 14 Mei 1948 yang dibacakan oleh Perdana Menteri David Ben Gurion di Tel Aviv. Proklamasi Israel itu ditentang oleh 5 negara Arab : Arab Saudi, Suriah, Mesir, Trans-Yordania, Libanon dan Irak yang mengakitbatkan pecahnya perang Arab-Israel pertama sepanjang tahun 1948-1949. Namun perang ini adalah setengah hati, karena negara2 Arab sendiri sudah terikat traktat dengan Inggris melalui Perjanjian Penentuan Batas Wilayah yang ditentukan oleh Komisioner Tinggi Inggris Sir Percy Cox tahun 1916. Disamping itu juga telah adanya janji para penguasa negara Arab bentukan Inggris untuk membiarkan berdirinya Israel di Palestina sebagai imbalan atas jasa Inggris yang telah membantu berkuasanya paraRaja boneka Inggris di masing2 negara Arab.  
1953 : Raja Abdul Azis bin Abdurrahman Al Saud (Ibn Saud) meninggal digantikan oleh Raja Saud bin Abdul Azis.  
1956 : Perang Arab-Israel kedua, tentara Israel yang dibantu pasukan Inggris dan Perancis menyerbu Mesir dan menduduki Sinai. Perang ini dipicu karena Nasionalisasi Terusan SUEZ oleh pemerintahan Gamal Abdul Nasser, dimana saham terbesar terusan SUEZ dimiliki oleh Inggris dan Perancis.  
1964 : Raja Saud meninggal digantikan oleh Faisal Bin Abdul Azis. 

1967 : Perang â enam hari â  Arab-Israel ketiga, Israel menyerang Mesir, Suriah dan Yordania menyusul penarikan mundur pasukan PBB dari Sinai dan setelah Mesir menutup Teluk Aqoba. Dalamperang tersebut, Israel berhasil merebut Gurun Sinai, Tepi Barat, Yerusalem Timur, Jalur Gaza, dandataran tinggi Golan. Dengan jatuhnya wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza ke tangan Israel, berarti seluruh wilayah yang di sediakan bagi negara Arab Palestina sesuai dengan rencana PBB, sekarang sudah dikuasai oleh Israel seluruhnya. 
1973 : Perang âYomkhipurâ Mesir merebut Sinai dan Syria merebut Dataran Tinggi Golan namun Israel dapat memukul balik. Negara2 Arab melakukan embargo minyak untuk menekan Israel dan negara2 Barat yang mendukungnya.  
1975 : Raja Faisal meninggal digantikan oleh Khalid bin Abdul Azis. 
1978 : Perjanjian Camp David, Israel mengembalikan Sinai kepada Mesir. Timbul polemik dan pro-kontra diantara negara2 Arab terkait nasib bangsa Palestina yang tidak menentu.  
1982 : Raja Khalid meninggal digantikan oleh Raja Fahd bin Abdul Azis. Israel menyerang Libanon untuk mengamankan perbatasannya dengan Syria.
1987 : Gerakan Intifada, perlawanan bersenjata rakyat Palestina dibawah komando HAMAS salah satu faksi
1987 : Gerakan Intifada, perlawanan bersenjata rakyat Palestina dibawah komando HAMAS salah satu faksi dari PLO.  
1991 : Perang Teluk I, Amerika menyerang Irak yang menganeksasi Kuwait. Pasukan Amerika didatangkan ke Pangkalan militer AS di Dahran Arab Saudi. Keluarga Saud mulai menamkan investasi yang besar di AS, khususnya pada perusahaan-perusahaan keluarga BUSH.dana sebesar 1,4 Milliar Dollar AS per tahun diberikan kerajaan Arab Saudi untuk menyokong kepemimpinan George W. Bush. Investasi sebesar 860 Milyar Dollar ditanam pemerintahan Arab Saudi di Amerika dan sebesar 300 Trilyun Dollar AS (senilai dengan 2.805.000.000.000.000.000 rupiah) uang Arab Saudi disimpan di Bank AS 1996 : DR. Aidh Abdullah Al Qorni(penulis LA TAHZAN) dipenjara karena tulisannya yang mengkritik pemerintah.
2001 : Peristiwa 9/11 pengeboman WTC 
 2003 : Perang Teluk kedua, AS menyerbu dan menduduki Irak.  
2005 : Raja Fahd meninggal, digantikan oleh Abdullah bin Abdul Azis. Putra Mahkota Pangeran Sultan Bin Abdul Azis telah berumur 86 tahun dalam kondisi sakit-sakitan 
Bila Pangeran Sultan meninggal dunia lebih dahulu dari Raja, yang dipersiapkan sebagai penggantiputera mahkota adalah menantu Raja Abdullah yaitu : Pangeran Faisal Bin Abdullah. Raja Abdullah mengganti beberapa pejabat teras pemerintahannya yang berideologi Wahhabi denganorang-orang yang dianggap lebih toleran secara religi, berpikiran reformis dan dengan ikatan kerja yangdekat dengan raja. Penunjukkan Pangeran Faisal bin Abdullah sebagai Menteri Pendidikan Arab Saudi memang tepat.Karena kementerian ini sebelumnya kurikulum yang memberi doktrin pada pelajar tentang ideologikebencian dan  kekerasan terhadap agama lain (Wahhabi). Mereka mengajarkan sebagai bagian dariperintah agama penanaman kebencian terhadap selainnya bahkan kepada Ahlu Sunnah dan Syiah. Seperti yang ditunjukkan Laporan Juli 2008, budaya kebencian terhadap non-Wahhabi masih tetap ada dalam buku-buku bacaan kajian Islam terbitan pemerintah Arab Saudi. Buku-buku bacaan ini diwajibkan di seluruh sekolah umum Arab Saudi dan mendominasi kurikulum Saudi dalam kelas-kelas yang lebih tinggi. Kementerian memuat isi teks ini secara penuh dalam situsnya dan penguasa Wahhabi mengirimnya gratis ke masjid-masjid dan sekolah-sekolah dan perpustakaan muslim di seluruh dunia. Pangeran Faisal bin Abdullah yang dikenal pemikir dan moderat juga dikenal cakap dalam memeriksa kurikulum. Dan dikemudian hari kita akan menyaksikan di Arab Saudi yang lebih moderat (baca:sekuler). 
Raja Abdullah juga menggantikan Kepala Dewan Mahkamah Agung, Sheikh Saleh al-Luhaidan, yang selama ini dituding menghalangi upaya reformasi dengan Saleh bin Humaid. Sheikh Luhaidan telah menduduki pos ini selama lebih dari 40 tahun. Selama ini Luhaidan amat terkenal karena beberapa kebijakan âtegasâ yang berpijak pada ajaran konservatif. Salah satu pernyataan tegas pernah diutarakan Luhaidan, September lalu, untuk menanggapi program-program di stasiun TV satelit. Menurut Luhaidan, pemilik stasiun TV satelit yang menayangkan program â tidak bermoralâ harus dibunuh. Ia juga mengganti kepala polisi agama Muttawa, Sheikh Ibrahim Al-Ghaith, yang telah memimpin kampanye agresif di media massa bagi pelaksanaan keras adat-istiadar Islam dan menantang tokoh lain yang lebih liberal dalam pemerintah. Sheikh Ibrahim Al-Ghaith diganti dengan Abdul Azia bin Huamin yang lebih moderat. Perubahan lain yang dilakukan oleh Raja Abdullah dengan menambah jumlah anggota Dewan Ulama dari 120 menjadi 150 anggota. Untuk pertama kalinya, Raja Abdullah menunjuk utusan dari empat sekolah hukum agama Islam Sunni di dalam Dewan Ulama. Sebelumnya hanya tokoh atau perwakilandari sekolah-sekolah Hambali yang mendominasi di Dewan Ulama. Akibatnya, yang mendominasi didewan itu hanya ajaran Wahhabi, versi Arab Saudi konservatif. Raja Abdullah juga memerintahkan tiga tokoh Syiah Arab Saudi; Muhammad Al-Khanizi, Jamil Al-Khairi dan Said Al-Sheikh menjadi anggota di Dewan Ulama. Perintah ini dianalisa sebagai kemungkinan   dikeluarkannya  perintah Raja Abdullah kepada beberapa ulama Syiah untuk menjadi anggota Forum Ulama Islam negara Arab Saudi Di Home land Salafy sendiri sudah ada usaha dari Raja Abdullah untuk mereformasi kurikulum pendidikan Wahabi/salafy yang dianggap terlalu ekstrim dan menanamkan kebencian kepada kelompok lain. 
Salafy Centre Global dan Indonesia :
1. Komite Fatwa tinggi Saudi : Syeh Abdullah bin Baz, Al Utsaimin, dkk.
2. Yayasan Muntadha London : Salman Ibn Fahd Al-Audah, DR. Safar Al-Hiwali, DR. Iâed A-Qorni dkk
3. Yamani : Rabiâ Bin Hadi Al Madhkali, Muqbil Bin Hadi Al Wadiâi.
4. Yordani : Salim BIn Iâed Al-Hilali dkk., Ali Halabi Al-Atsari5. Kuwait : Abdurraman Abdul Khaliq (Yayasan Ihyaâ
Ats-Thuratsnya)
6. Mesir : Syarif Hazza.
7. Alumni LIPIA angkatan pertama8. Murid-murid Syeh Rabiâ Bin Hadi Al Madhk



 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar