Senin, 14 November 2011

Ketegangan itu dipicu oleh pelemparan batu yang kerap diarahkan terhadap rumah warga di RT 017 RW 07 yang mayoritas muslim dan RT 03 RW 02 yang mayoritas Nasrani. Hubungan dua komunitas yang dipisahkan oleh sebuah sungai yang lebarnya 5 meter itu pun memanas karena adanya sikap saling curiga. Di pemukiman Muslim, rumah yang kerap menjadi sasaran pelemparan adalah rumah milik Yusuf Tuny dan Jatmiko, keduanya adalah anggota TNI yang berdinas di Koramil 1504-01 Baguala. Sedangkan di pihak Kristen, rumah yang selalu menjadi sasaran pelemparan adalah rumah milik Kris Manusiwa, ketua RT 03 RW 02 dan rumah milik Richard. Aksi pelemparan batu itu, biasanya terjadi malam hari antara pukul 12.00 WIT, pukul 02. 00 sampai pukul 06. 00 WIT. Selama ini, warga Muslim yang bermukim di RT 017 RW 07 selalu dicurigai sebagai pelakunya. Tudingan ini semakin diperkeruh ketika ibu S, warga pemukiman Kristen terang-terangan menuduh umat Islam sebagai pelaku pelemparan batu. Padahal, menurut Husni Marasabessy, Ketua RW 07, warga RT 017 RW 07 setiap malam selalu berjaga akibat ulah provokator yang melempari permukiman mereka. Berbagai upaya dilakukan oleh warga bersama anggota TNI dari Batalyon 733 Pattimura dan Polsek Teluk Ambon Baguala untuk mengungkap siapa pelaku pelemparan batu yang mengadu domba dua komunitas tersebut.....>>>>... Upaya warga dan aparat keamanan selama hampir dua bulan akhirnya membuahkan hasil. Aparat keamanan dari Koramil 1504-01 yang melakukan pemantauan dari sore hari di tempat biasanya terjadi pelemparan. Sekitar pukul 01. 10 WIT keluarlah seorang pemuda warga RT 03 RW 02 dari rumahnya sepertinya hendak buang air kecil. Dalam posisi berdiri seperti hendak kencing, pemuda tersebut menengok ke kanan dan ke kiri seperti memantau situasi. Kemudian dia memungut batu dan melemparnya dengan sekuat tenaga ke arah rumah warga, aksi pelemparan tersebut diulangi lagi untuk kedua kalinya dengan memungut sebuah batu kurang lebih sebesar kepalan orang dewasa kemudian ia melempar lagi dengan kuat ke arah rumah warga lainnya. Ia melakukan aksi pelemparan secara bergantian ke arah permukiman Muslim dan Kristen. Namun naas ketika ia memungut batu yang ketiga hendak melempar lagi datanglah petugas TNI dari Koramil 1504-01 Baguala memergoki aksinya kemudian menangkapnya. Ternyata, pelakunya bernama Rony Kontor Mole yang berprofesi sebagai buruh bangunan. Pria Kristen berusia 25 tahun ini pun digelandang ke pos keamanan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dengan tertangkapnya Rony Kontor Mole terungkaplah siapakah sebenarnya provokator yang selama ini melakukan pelemparan kearah perumahan warga dua komunitas di Waiheru. Tuduhan bahwa pelaku pelemparan adalah dari pihak muslim ternyata tidak benar karena ternyata pelaku berasal dari komunitas Kristen...>>> Warga semakin heran setelah terungkap bahwa pelakunya memiliki hubungan keluarga dekat dengan Kris Manusiwa, Ketua RT 03 RW 02 yang juga pengurus Gereja. Pasalnya, selama ini rumah Kris juga selalu menjadi sasaran pelemparan batu oleh Rony. Hal tersebut menjadi pertanyaan besar bagi sebagian warga tentang motif dan tujuan pelaku dalam aksinya tersebut. Husni Marasabessy, Ketua RW yang juga dosen pada salah satu perguruan Tinggi Islam di Ambon menyatakan syukurnya atas penangkapan tersebut.

Sabtu, 12 Nov 2011

Provokator Salibis Biang Kerusuhan Antar Kampung di Ambon Tertangkap‏!

AMBON (voa-islam.com) – Dua kampung Islam dan Kristen di Ambon bersitegang dua bulan terakhir, karena kerapnya terjadi insiden pelemparan batu ke rumah warga. Ternyata, pelakunya adalah pemuda Kristen yang sengaja mengadudomba dan memprovokasi dua kampung Islam dan Kristen.
Pasca pecahnya insiden penyerangan massa Kristen terhadap Kampung Muslim Waringin pada tanggal 11 September lalu, terjadi ketegangan antara kampung Muslim dan kampung Kristen di Ambon. Salah satunya adalah Perumnas Waiheru kecamatan Teluk Ambon Baguala.
Ketegangan itu dipicu oleh pelemparan batu yang kerap diarahkan terhadap rumah warga di RT 017 RW 07 yang mayoritas muslim dan RT 03 RW 02 yang mayoritas Nasrani. Hubungan dua komunitas yang dipisahkan oleh sebuah sungai yang lebarnya 5 meter itu pun memanas karena adanya sikap saling curiga.
Di pemukiman Muslim, rumah yang kerap menjadi sasaran pelemparan adalah rumah milik Yusuf Tuny dan Jatmiko, keduanya adalah anggota TNI yang berdinas di Koramil 1504-01 Baguala. Sedangkan di pihak Kristen, rumah yang selalu menjadi sasaran pelemparan adalah rumah milik Kris Manusiwa, ketua RT 03 RW 02 dan rumah milik Richard. Aksi pelemparan batu itu, biasanya terjadi malam hari antara pukul 12.00 WIT, pukul 02. 00 sampai pukul 06. 00 WIT.
Selama ini, warga Muslim yang bermukim di RT 017 RW 07 selalu dicurigai sebagai pelakunya. Tudingan ini semakin diperkeruh ketika ibu S, warga pemukiman Kristen terang-terangan menuduh umat Islam sebagai pelaku pelemparan batu. Padahal, menurut Husni Marasabessy, Ketua RW 07, warga RT 017 RW 07 setiap malam selalu berjaga akibat ulah provokator yang melempari permukiman mereka.
Berbagai upaya dilakukan oleh warga bersama anggota TNI dari Batalyon 733 Pattimura dan Polsek Teluk Ambon Baguala untuk mengungkap siapa pelaku pelemparan batu yang mengadu domba dua komunitas tersebut.
Dan pelaku pelemparan tergolong nekad dalam menjalankan aksinya, pasalnya ketika suatu malam Kapolres Ambon bersama Danramil 1504-01 meninjau lokasi yang biasa terjadi pelemparan pelaku tanpa rasa takut melempar rombongan Kapolres dan Dan Ramil tersebut. Tentu saja hal tersebut membuat jengkel dan heran rombongan yang sedang melakukan investigasi lapangan tersebut.
Senin (7/11/2011), keresahan yang selama ini menghantui warga Muslim di Perumnas Waiheru kecamatan Teluk Ambon Baguala terjawab sudah.
Upaya warga dan aparat keamanan selama hampir dua bulan akhirnya membuahkan hasil. Aparat keamanan dari Koramil 1504-01 yang melakukan pemantauan dari sore hari di tempat biasanya terjadi pelemparan. Sekitar pukul 01. 10 WIT keluarlah seorang pemuda warga RT 03 RW 02 dari rumahnya sepertinya hendak buang air kecil. Dalam posisi berdiri seperti hendak kencing, pemuda tersebut menengok ke kanan dan ke kiri seperti memantau situasi. Kemudian dia memungut batu dan melemparnya dengan sekuat tenaga ke arah rumah warga, aksi pelemparan tersebut diulangi lagi untuk kedua kalinya dengan memungut sebuah batu kurang lebih sebesar kepalan orang dewasa kemudian ia melempar lagi dengan kuat ke arah rumah warga lainnya. Ia melakukan aksi pelemparan secara bergantian ke arah permukiman Muslim dan Kristen.
Namun naas ketika ia memungut batu yang ketiga hendak melempar lagi datanglah petugas TNI dari Koramil 1504-01 Baguala memergoki aksinya kemudian menangkapnya. Ternyata, pelakunya bernama Rony Kontor Mole yang berprofesi sebagai buruh bangunan. Pria Kristen berusia 25 tahun ini pun digelandang ke pos keamanan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Dengan tertangkapnya Rony Kontor Mole terungkaplah siapakah sebenarnya provokator yang selama ini melakukan pelemparan kearah perumahan warga dua komunitas di Waiheru. Tuduhan bahwa pelaku pelemparan adalah dari pihak muslim ternyata tidak benar karena ternyata pelaku berasal dari komunitas Kristen.
Warga semakin heran setelah terungkap bahwa pelakunya memiliki hubungan keluarga dekat dengan Kris Manusiwa, Ketua RT 03 RW 02 yang juga pengurus Gereja. Pasalnya, selama ini rumah Kris juga selalu menjadi sasaran pelemparan batu oleh Rony. Hal tersebut menjadi pertanyaan besar bagi sebagian warga tentang motif dan tujuan pelaku dalam aksinya tersebut.
Husni Marasabessy, Ketua RW yang juga dosen pada salah satu perguruan Tinggi Islam di Ambon menyatakan syukurnya atas penangkapan tersebut. Ia juga berharap agar pihak Kepolisian bisa mengungkap kasus ini dengan tuntas sampai ke akar-akarnya. Sebab ia meyakini bahwa dalam menjalankan aksinya Roni tidak bekerja sendirian akan tetapi ada tim dan aktor intelektual di belakang aksinya.
Meskipun provokator pelaku pelemparan telah tertangkap namun warga Muslim tetap melakukan jaga malam seperti hari-hari sebelumnya. Sebab mereka meyakini ada pelaku lain di belakang Roni sebab aksi pelemparan tersebut berjalan hampir dua bulan. Warga juga meyakini ada yang mendalangi dan mendanai dari aksi pelemparan yang dilakukan oleh Roni.
Karena itu tugas dari aparat keamanan belum selesai hanya dengan menangkap Roni seorang, namun harus bisa mengungkap tujuan, motif, aktor intelektual dan para pelaku lainnya? Mudah-mudahan bekerja secara profesional, tidak membonsai kasus dan tidak mengecewakan warga muslim seperti yang terjadi selama ini. [taz, af]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar